Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2022

Adam Makrifat

Sumber gambar: www.goodreads.com


Pertama kali mengenal judul ini lewat sebuah pertanyaan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Indonesia zaman duduk di bangku sekolah. Sebagai siswa yang tidak pernah membaca buku ini tentu saja saat itu saya kebingungan karena tidak tahu isi ceritanya. Paling banter sampai kelas 1 SMA, hanya kumpulan cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku” saja yang pernah saya tamatkan.
 
Kekaguman pada karya Alm. Danarto muncul kembali ketika membaca buku “Kitab Omong Kosong” karya Seno Gumira Ajidarma, dimana sampul bukunya merupakan hasil karya gambar Alm. Danarto. Buku Alm. Danarto yang pernah saya baca sebelum Adam Makrifat adalah “Orang Jawa Naik Haji” dan saat ini sedang berusaha menamatkan “Godlob”.
 
Hasrat untuk membaca “Adam Makrifat” datang tiba-tiba saja pada suatu malam. Saya tertarik untuk memilih buku bekas dengan karakter gambar sampul aslinya. Rupanya, kondisinya masih acceptable dan merupakan edisi cetakan pertama. Pernah dijadikan koleksi sebuah kelompok teater juga. 
 
Rupanya, hanya ada enam cerpen dalam buku ini. Tidak banyak memang tetapi saya rasa ada maksudnya. Entah karena saat itu format kumpulan cerita pendek seperti ini memang punya daya tarik tersendiri bagi pembaca maupun penerbit atau memang penulisnya sengaja hanya memberikan enam cerita pendeknya saja untuk dibukukan. Saya kembali teringat pada buku “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” karya Umar Kayam yang hanya menampilkan cerita pendek dengan jumlah yang sama.
 
Ada banyak kejutan sepanjang pembacaan buku ini. Kejutan itu dimulai tidak saja ketika dalam pembacaan ceritanya. Tetapi juga, dalam kata pengantar dalam kolom. Alm. Danarto benar-benar membuat sastra meriah dan merangsang pembaca untuk ikut mengomentari hasil karya penulis. Saya merasa kagum pada Alm. Danarto karena pada tahun-tahun tersebut sudah berani merangsang pembacanya untuk benar-benar memberikan kritik yang pantas pada sastra.
 
Saya merasakan sebuah karya yang meriah. Penuh dengan sensasi, fantasi, dan kebebasan bercerita. Lepas dari pakem-pakem teoritis. Fantastis rasanya, mengingat karya ini ditulis pada rentang tahun 1975-1981, pada masa-masa pembangunan Orde Baru. Entah, saya sulit menemukan kaitan atau hubungan antara keenam cerita pendek itu dengan kejadian-kejadian selama Orde Baru. Rasanya, keenam cerita pendek ini adalah hasil cipta karya rasa dan karsa dari seorang Alm. Danarto yang membuat cerita-cerita itu tidak hanya hidup dalam sekedar teks belaka. Ada sebuah petualangan fantasi dan imajinatif dari kisah-kisah yang seakan nyata ini.
 
Adam Makrifat sendiri diambil dari satu judul cerpen dalam buku ini yang terbit pada tanggal 3 September 1975, sehari setelah ulang tahun Bapak saya yang ke-20. Judul-judul lainnya adalah “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” (11 Maret 1975), “Megatruh” (28 Maret 1978), “Lahirnya Sebuah Kota Suci” (17 September 1980), “Bedoyo Robot Membelot” (7 April 1981), dan sebuah cerpen yang sangat unik, tidak ada judulnya dan hanya diberi gambar not balok dengan tanda bunyi ‘ngung-ngung’ dan ‘cak-cak’cak’ mirip pada sebuah tarian dari Bali.

Judul           : Adam Makrifat
Penulis        : Danarto
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1982
Tebal           : 72 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek
 

Pajang, 1 Juli 2022

Senin, 28 Maret 2022

Si Juki #BeraniBeda

Buku ini adalah buku Si Juki kedua yang pernah saya baca. Nuansa humornya dapet banget. Mirip ketika menamatkan pembacaan buku lainnya, yaitu #BeraniGagal. 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Dalam cerita ini, Pembaca disuguhkan awal mula dan asal usul Si Juki. Agaknya hal inilah yang menjadi nilai tambah untuk dapat memasuki dunia Si Juki. Andaikan saya membaca buku ini lebih awal, mungkin saya juga akan terinspirasi untuk mengajukan diri menjadi Presiden hahaha.

Pada edisi ini juga, saya disadarkan bahwa jomblo pun dapat menjadi suatu hal yang harus diperjuangkan. Saya menemukan bahwa jomblo harus tetap dapat menjadi entitas yang membanggakan. Tidak salah rasanya bila Si Juki membuat "Front Pembela Jomblo". Suatu hal yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.

Akhirul kata, saya membaca buku ini jauh setelah terbitnya (medio Juni 2014). Namun, tidak mengurangi esensi dari keseruan dan kelucuan dari seorang Muhamad Marzuki a.k.a Si Juki.

Judul       : #BeraniBeda: Juki Untuk Indonesia Satu
Penulis    : Faza Meonk,Yahya Muhaimin, et. al.
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2014
Tebal       : 152 hal.
Genre     : Komik Indonesia
 


Pajang, 28 Maret 2022

Selasa, 04 Januari 2022

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Pertama kali membaca judul ini saya membayangkan bahwa benar ada seribu kupu-kupu yang bertebaran di sekitaran kota Manhattan di New York sana. Mungkin, mereka sedang menikmati malam dan sekalian bersedekah dengan turut menerangi Central Park. Entahlah, memang rasanya tidak mungkin karena saya belum pernah melihat kunang-kunang di Central Park pada sitkom “How I Met Your Mother”. Kemudian, bayang itu beralih menjadi nyala lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran disana. Nah, yang ini rasanya masuk akal. Barangkali, waktu buku ini diterbitkan pada tahun 1972 sudah banyak gedung-gedung tinggi di Manhattan.


Dengan ingatan yang terbatas, saya sudah pernah menawar buku ini dua kali pada kesempatan book fair di Istora. Harga yang ditawarkan penjualnya tidak tanggung-tanggung memang. Seratus ribu rupiah, dan tidak bisa nego turun harga. Saya anggap terlalu mahal sehingga saya urung membelinya. Padahal, memang buku ini sudah jarang untuk terbitan terbaru tahun 2007. Sesuatu yang saya sesali kemudian.

Baru-baru ini, saya mendapatkan buku ini lewat sebuah platform marketplace. Suatu hal yang membuat kesempatan untuk hunting buku-buku lama menjadi kembali terbuka setelah puasa book fair sekian lama, anyway. Kondisi buku yang saya terima masih dalam keadaan acceptable (according to Goodreads), kondisi kertas masih baik, softcover, terbitan Badan Penerbit Pustaka Jaya, cetakan pertama tahun 1972. Tahun dimana saya pun belum lahir.

Buku cetakan pertama ini masih menggunakan ejaan lama. Sesuatu yang sangat saya nikmati karena memberikan pengalaman pembacaan yang berbeda dari biasanya. Hal ini tidak berpengaruh banyak karena buku setebal 64 halaman ini hanya berisi 6 cerita pendek. Kalaupun ada yang lebih luar biasa adalah ukurannya. Buku ini serupa dengan buku saku seukuran 20 x 12 cm, tentu bisa dibayangkan sebesar apa huruf yang digunakannya. Agaknya, tentu dibutuhkan hal lebih agar membuatnya nyaman dibaca, seperti mulai menggunakan kacamata.

Cerpen pertama diberi judul sama dengan judul bukunya. Mengisahkan tentang kehidupan romansa sepasang kekasih di Manhattan. Saya menikmati cerpen ini karena bisa diimajinasikan sebagai sebuah rentetan scene dalam film. Diikuti oleh cerpen “Istriku, Madame Schlitz dan Sang-Raksasa” yang menceritakan kehidupan aku dan istrinya beserta tetangga yang bernama Madame Schlitz. Saya dikejutkan dengan punch line untuk ending yang menggantung. Saya suka.

Cerpen ketiga berjudul “Sybil” ini agaknya mencerminkan fragmen kehidupan keseharian di kota besar. Bagaimana seorang single mother berupaya sekuat tenaga untuk bisa membesarkan anak dengan tetap bekerja. Permasalahan kemudian muncul ketika Sybil bermain dengan Susan, tetangganya. Kalimat terakhir dalam cerpen ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma, dalam kumpulan “Atas Nama Malam”.

“Setjangkir Kopi dan Sepotong Donat” berkisah tentang kehidupan dalam sebuah kedai kopi, dimana orang-orang datang dan pergi untuk sarapan atau brunch menjelang siang, lengkap beserta gairah romansanya. “Chief Sitting Bull” menceritakan kehidupan para lansia yang mulai ketergantungan dengan jatah pemberian rutin dari anaknya dan menjalani rutinitas bersama kolega di taman kota. Saya suka detail dari cerpen ini karena sang tokoh utama dapat menaklukkan hati seorang anak kecil.

Sementara cerpen terakhir, “There Goes Tatum” mengisahkan seorang lelaki yang menjadi korban perampokan dalam usahanya menuju tempat tujuan. Cerpen ini menampilkan sisi lain dari wajah ‘The Big Apple’, satu hal yang umumnya terjadi di kota besar dimana ketimpangan antara the have dan kaum miskin sangat besar.

Kumpulan cerita pendek pertama dari Pak Umar Kayam ini adalah satu dari sekian tonggak karya sastra Indonesia yang patut dijadikan monumen. Betapa karyanya ini turut mewarnai khazanah kebudayaan modern Indonesia pasca tahun 1965. Dengan aktivitasnya dalam bidang kesenian sejak masih mahasiswa, ia mampu memberikan kesan filmis pada cerita-cerita pendeknya. Tema keseharian yang dipilihnya pun memberikan kesan bahwa banyak hal-hal yang menakjubkan dari sebuah kesederhanaan.

Judul           : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan: enam tjerita pendek oleh Umar Kayam
Penulis        : Umar Kayam
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun          : 1972
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Pajang, 4 Januari 2022
Pada ulang tahun Nenek yang ke-86

Senin, 22 November 2021

Kelakar a la Madura

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Agaknya, buku ini bisa menjadi pembuktian tentang mengapa Tuhan menciptakan Pulau Madura ketika sedang berkelakar. Disarikan dari guyonan-guyonan Cak Nun tentang per-Madura-an ketika sedang mengisi forum-forum Maiyahan di seantero jagat Nusantara.

Membaca buku ini secara langsung tanpa pernah mengetahui guyonan yang mana dan disampaikan pada forum yang mana, memang bisa jadi mengasyikkan. Seterbitnya buku ini, saya merasa bahwa ada satu hal yang hilang, missing link diantara ketiganya: buku ini, guyonan Maiyahan, dan buku lama Cak Nun berjudul "Folklore Madura".

Saya menyarankan agar setiap penikmat guyonan Cak Nun turut membaca juga buku lama terbitan Progress tersebut. Mudah-mudahan dengan cara tersebut didapati benang merah kenapa Madura bisa jadi sangat spesial dihadapan Cak Nun dan Allah SWT.

 

Judul           : Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat: Jiwamu Butuh Berkelakar
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Narasi
Tahun          : 2018
Tebal           : 141 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cengkareng, 22 November 2021

Senin, 01 November 2021

Dari Pojok Sejarah: Sebuah Catatan

Sumber gambar: www.goodreads.com

 
Awalnya, saya dibuat penasaran dengan buku-buku lama dari Emha. Salah satunya termasuk buku ini. Dari judulnya saja, rasanya sudah sangat serius. Apakah yang dimaksud dengan "pojok sejarah" itu? Memangnya ada yang tercecer atau atau tersisa dari "pojok sejarah"? Kalaupun betul begitu, "pojok sejarah"mana? Sejarah pra-kolonialisasi atau pasca-modernisme?
 
Agaknya, semua teka-teki dalam benak saya roboh seketika ketika buku ini benar-benar diterbitkan kembali. Buku berhalaman lebih dari 500 lembar ini memang membutuhkan stamina pembacaan yang prima. Buat saya, ini jadi satu pengalaman yang baru karena buku Emha inilah yang paling banyak halamannya yang pernah saya tamatkan.
 
Ada satu jurus yang saya lakukan sebelum dan selama pembacaan buku ini. Saya 'mengosongkan' diri saya dari segala asumsi dan pretensi sehingga saya bisa menerima dan mencerna isi buku ini bulat-bulat. Saya jadi tidak terpengaruh pertanyaan-pertanyaan saya sebelumnya diatas. Ditambah lagi, semua tulisan Cak Nun disini dibuat dengan gaya bahasa surat-menyurat. Tujuan utamanya adalah adiknya sendiri, Cak Dil.
 
Ini adalah suatu kenikmatan tersendiri karena dengan begitu menurut saya penulisnya akan mampu lepas dari jeratan formal penulisan esai atau artikel. Emha bisa bercerita apa saja tentang Eropa dan negeri asalnya sendiri dengan luwes. Mengingatkan saya pada buku "Surat dari Palmerah" karya Seno Gumira Ajidarma. Bedanya, seperti sudah saya catat sebelumnya: lebih tebal.
 
Banyak surat menarik yang menggambarkan keadaan kehidupan di tahun-tahun penulisannya. Personally, keadaannya pun masih tidak banyak berubah hingga saat ini. Mungkin, yang berubah hanya nama Presiden dari negeri asalnya Emha saja. Selebihnya, saya rasa para pembaca Emha sudah sangat paham.
 
Satu yang menarik adalah saya menemukan kembali sebuah tulisan Emha yang berjudul "Hidup Itu di Hati". Saya pernah membaca tulisan ini dari sebuah laman website tidak resmi yang memuat tulisan-tulisan Emha pada tahun 2009. Nama websitenya apa saya sudah lupa. Ternyata, asal-muasal tulisan itu bermula dari pengembaraan Cak Nun ke Eropa sana dan dimuat dalam buku ini. Kesan pembacaan "Hidup Itu di Hati" pada tahun 2009 dengan 12 tahun kemudian pun masih sama. Barangkali, pada lain kesempatan, hal ini bisa jadi satu bahan tulisan sendiri.
 
Saya menamatkan pembacaan buku ini lebih dari satu tahun sejak tanggal pembelian. Ada banyak waktu terlewati begitu saja. Saya pun jadi tertawa sendiri, mengapa baru mulai intens menamatkan pembacaan pada tiga bulan terakhir ini. Semoga bukan karena alasan work from home dan mendung yang sepertinya sengaja mewakili pikiran saya.


Judul           : Dari Pojok Sejarah
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2020
Tebal           : 508 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cipayung, 1 November 2021.


Senin, 23 Desember 2019

Helen dan Sukanta

Sumber: www.goodreads.com

Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

 
Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Judul            : Helen dan Sukanta
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit       : The Panasdalam Publishing
Tahun          : 2019
Tebal           : 364 hal.
Genre           : Novel-Sejarah
 
Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.

Sabtu, 06 Januari 2018

Selamat Jalan, Om Yon

Sumber gambar: musixmatch.com
Jum'at pagi ini saya seakan tidak percaya ketika membaca running text sebuah stasiun televisi. Isi berita nan singkat itu ibarat sebuah pesan telegram: Yon Koeswoyo meninggal dunia.

Tulisan ini dibuat pada Jum'at malam saat acara "Mengenang Yon Koeswoyo" disiarkan Lembaga Penyiaran Publik tercinta kita. Sebuah pentas kecil yang mengulang kembali kejayaan Koes Plus dengan menampilkan generasi kedua mereka. Acara yang juga menandai perjalanan 30 tahun Koes Plus berkarya. Om Yon terlihat masih segar.

Saya mulai akrab dengan karya Koes Plus lewat album 'Pantun Berkait' yang sering diputar Bapak selepas adzan Isya. Lirik lagu 'Perasaank begitu mengena pada saya. Pun, 'Tangis Dihatiku'. Suara Om Yon selalu terngiang-ngiang setiap ingat lagu-lagu itu.

Saya belum paham betul sebab meninggalnya Om Yon. Saya belum membaca berita apapun mengenai kabar duka ini. Apapun itu, Om Yon kini meninggalkan kita dan telah beristirahat bersama dengan Om Tonny dan Om Murry.

Om Yon telah pergi, entah dengan menitipkan tangis dihatinya atau tidak. Namun, beban hidupnya kini tak lagi berat karena betapa megah hidupnya kau bilang, dalam tidurmu semua akan hilang. 


Medan Merdeka Barat, 5 Januari 2018.



Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 Desember 2017

AKU: Sesudah

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Terus terang, saya tidak mengharapkan sebuah kejutan nan eksplosif dalam buku ini. Sebagai sebuah skenario mengenai (sebagian) perjalanan hidup Chairil Anwar tentulah ada beberapa hal yang bisa saja hilang karena pembermaknaan yang berbeda. Tentang bagaimana narasi dan teks skenario dipahami secara tekstual ataupun melalui imajinasi visual. Namun, saya tentulah merasa sangat bahagia karena melalui pemahaman tekstual pada buku ini saya dapat membuat imajinasi buatan saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Chairil yang tiba-tiba saja masuk ke rumah Oomnya, Syahrir, yang dulu Perdana Menteri itu semasa zaman Republik. Pun, ketika Chairil nyelonong begitu saja ketika ikut naik kereta rombongan Perdana Menteri ke Yogyakarta. 

Lewat buku ini, setidaknya pembaca bisa dibuat paham mengenai suasana apa yang membuat sajak-sajak Chairil Anwar menjadi begitu menggelora, kadang-kadang syahdu, dan tiba-tiba mengandung kepasrahan yang total pada Si Penciptanya.

Setidaknya saya mendapatkan jawaban tentang latar suasana yang mebuat sajak ‘Aku’ menjadi legenda sepanjang masa. Tentang mengapa ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ bisa menjadi begitu syahdu, ketika Chairil termenung di pinggir pantai. Juga, penggalan syair ‘...Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu...’ yang pernah saya baca dalam satu cerpen milik Seno Gumira Ajidarma, yang tercipta semasa Agresi Militer Belanda I.

Khusus untuk timeline Agresi Militer Belanda I, tercipta pula sebuah sajak perjuangan yang selalu dikenang warga Bekasi-Krawang, ‘Antara Krawang-Bekasi’. Maklum, Chairil diceritakan telah menikah dengan seorang gadis dari Karawang bernama Hapsah, Dari Hapsah pula Chairil memiliki seorang putri yang dinamainya, Evawani.

Memasuki bagian akhir, saya merasakan aroma kehilangan yang semakin menguat. Chairil agaknya tidak kuasa menahan penyakitnya hingga ia harus menyendiri di sebuah kamar yang dicarikan khusus untuknya. Perkawinannya dengan Hapsah pun harus berakhir, ia digugat cerai. Sebuah adegan yang membuat saya bergetar kala Chairil Anwar menggendong Evawani sebentar sebelum Ibunya datang. Ah, tokoh kita ini juga seorang manusia.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, rupanya Chairil Anwar sudah mampu meramal kematiannya sendiri. Ia sudah merasakan maut itu datang sebelum Malaikat Maut benar-benar melaksanakan tugasnya. Ia sudah menulis ‘...rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang)...’. Chairil Anwar sudah tahu ia akan berpulang kemana. Masalahnya hanya soal waktu saja, entah kapan.

Tidak diragukan lagi bahwa Chairil Anwar-terlepas dari segala kontroversinya soal sajak-sajak saduran dan terjemahan-adalah seorang pionir sastra Indonesia. Chairil Anwar menandai tonggak lini masa sastra Indonesia dengan menamai angkatannya sebagai ‘Angkatan 45’. Chairil masih berseru: “Revolusi!”, menjelang akhir-akhir masa hidupnya. Sebuah pernyataan yang tabah dan berani seakan-akan ia masih akan hidup seribu tahun lagi.

Judul           : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis        : Sjuman Djaya
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2017
Tebal           : 155 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Skenario

Cipayung, 29 Desember 2017.

Kamis, 28 Desember 2017

AKU: Sebelum

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi
Catatan Sebelum Tamat

AKU. Terpampang jelas dalam halaman judul sebuah buku berwarna abu-abu. Buku yang tiba-tiba menjadi hits dan bacaan wajib usai tampil di film AADC tahun 2002 silam. Buku kecil yang bercerita tentang Chairil Anwar. Sjuman Djaya, penulisnya, berusaha menulis skenario film berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar. Tentang ‘AKU’, adalah satu karya terpenting dari Sjuman Djaya sehingga menempatkannya di jajaran seniman besar Indonesia.

Keinginan membaca ‘AKU’ memang terlintas sejak zaman AADC. Rangga berhasil membuat suatu gebrakan sastra di kalangan anak muda. Ya, anak-anak muda zaman itu tiba-tiba penasaran dengan buku ini. Termasuk saya. Padahal, setiap lewat toko buku saya hanya mampu memegangnya saja. Tanpa membawanya ke meja kasir. Tidak ada trigger lain yang mampu menumbuhkan keinginan itu.

Chairil Anwar adalah pribadi yang meledak pada zamannya. Karya yang dihasilkannya menunjukkan gairah tinggi pada kehidupan yang dijalaninya. Barangkali, orang zaman sekarang menyebutnya sebagai progresif. Sjuman Djaya memotret perjalanan hidup Chairil Anwar frame by frame sehingga terlihat jelas rentang waktu kehidupannya.

Saya belum tiba pada halaman akhir buku ini. Saya masih terhenti pada halaman pertengahan. Namun, saya dapat merasakan gairah kehidupan Chairil Anwar yang menggelora. Pun, rasa kehilangan yang mendalam akibat duka yang dialami Ibunya dan meninggalnya Nenekda tercinta. Semua itu terangkum dalam skenario yang disusun apik (setidaknya sampai halaman pertengahan) dan benar-benar mampu menerjemahkan ‘Semangat’ yang diinginkan pada zaman itu. Chairil benar-benar ingin hidup seribu tahun lagi.

 
Meruya, 28 Desember 2017.

Selasa, 12 Desember 2017

Maknyus!

Sumber gambar: www.klikdokter.com
Siapa yang tidak kenal dengan istilah "Maknyus!" a la Bondan Winarno, saat membawakan acara kuliner di sebuah program televisi swasta. Tak heran, ungkapan kenikmatan itu menjadi trendsetter dan menandai dimulainya era acara perkulineran di layar kaca. Pria bernama lengkap Bondan Haryo Winarno ini menjadi sebuah ikon untuk cita rasa. Tidaklah berlebihan karena pemirsa selalu menunggu kemana ia akan pergi menyantap hidangan.

Perjalanan Bondan Winarno dimulai dengan menjadi seorang jurnalis. Naluri kewartawanannya menjadi bekal istimewa sehingga membuat penonton menggemari petualangan kuliner. Jauh sebelum terkenal sebagai pembawa acara, mendiang memang sudah merintis sebuah komunitas bernama Jalansutra sebuah wahana bagi penikmat wisata boga di Indonesia. Mendiang pun turut berkontribusi pada dunia sastra. Beberapa tulisannya muncul dalam kompilasi/kumpulan cerita dan novel.

Saya masih menjadi follower @PakBondan di Twitter dan saya melewatkan bagian-bagian terakhir hidupnya. Saya tidak tahu apa yang dicuitkannya. Berita duka yang tiba di penghujung November seakan menjadi penegas bagi 'November Rain' yang turun deras saat itu. Ikon kuliner itu meninggalkan kita semua karena penyakit vaskular (aneurisma) yang dideritanya. 

Selamat jalan, Pak Bondan. Terima kasih telah meninggalkan warisan kepada kami untuk terus mencintai kuliner lokal. 


Cipayung, 29 November 2017.


 

Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Daur I: Sebuah Pembukaan

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya patut bersyukur karena Alhamdulillah, atas izin Allah SWT Emha Ainun Nadjib masih diberikan nikmat sehat dan Islam sehingga mampu menulis kembali. Adapun, tulisan beliau yang benar-benar baru senantiasa saya peroleh lewat laman www.caknun.com. Saya mengamati bahwa laman tersebut pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Perubahan itu, setidaknya untuk saya pribadi, saya amati mulai dari rubrik-rubrik tambahan yang dihiasi catatan-catatan Cak Nun.

Begitupun dengan Daur. Saya sempat dibuat tidak paham maksudnya, namun hanya mampu turut memaknai pesan Cak Nun: "...untuk anak cucu..". Tulisan Cak Nun dalam Daur adalah sesuatu yang benar-benar baru tak terkecuali tokoh idola bernama Kiai Sudrun dan Cak Markesot.

Dilihat dari perspektif manfaat dan jariah ilmu, "Daur" sendiri adalah bentuk istikomah pemikiran, perenungan, dan analisis hingga formula-formula kultural lain dari Cak Nun yang mampu memberikan manfaat dalam konteks sosial.

"Daur" adalah sebuah bentuk tulisan Cak Nun yang sudah tidak lagi siap saji dan siap antap. Pembaca diajak untuk menelusuri pembelajaran hidup yang meningkat lagi levelnya. Bisa saja dari satu tulisan pembaca berhenti pada satu kesimpulan, namun tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk menelusuri kembali ketersambungan dengan tulisan lainnya.

Dengan jumlah pembaca mencapai kurang lebih 1.100-an pembaca setiap hari (lihat halaman xiv) tentu saja "Daur" menjadi sebuah ruang bagi pembaca Cak Nun maupun Jamaah Maiyah untuk senantiasa rehat sejenak dan menemukan jawaban atas clue pemahaman hidup. Sebagaimana dapat dijumpai pada rubrik 'Tadabbur Daur'.

Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisan "Daur" adalah upaya untuk mengembalikan "mata" kita dari keterjeratan pada materialisme dimana materi menjadi variabel dan faktor utama. Akibatnya, kita semua hanya melihat berdasarkan materi dan transaksi sehingga melihat dan membayangkan Tuhan dengan cara berpikir materi.

Semoga dengan dibukukannya "Daur" edisi pembuka hingga edisi ke-65 kita dapat menemukan mata air yang mengalirkan ilmu kehidupan. Semoga terus berlahiran generasi-generasi baru yang mau belajar agar kehidupan dapat berlanjut secara berkesinambungan pada masa depan dengan nilai peradaban yang lebih tinggi. Semoga.

Judul        : Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2017
Tebal        : 394 hal.
Genre       : Sosial Budaya

Cipayung, 29 Oktober 2017.


Senin, 30 Oktober 2017

Rekonstruksi Panglima Besar Soedirman

Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini hadir sebagai bentuk reproduksi edisi khusus Koran Tempo yang membahas tentang Bapak Pendiri TNI ini. Melalui kehadiran buku ini, pembaca disajikan beberapa keterangan yang "disembunyikan" oleh konstruksi sejarah orde baru. Dengan demikian, buku ini merupakan dekonstruksi atas konstruksi imajiner Jenderal Besar Soedirman versi Orde Baru. Pembaca dihadapkan pada satu sosok utuh seorang Panglima Besar Soedirman. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sejarah sebuah bangsa yang baru merdeka tergambar dalam buku ini. Batu landasan pendirian Tentara Nasional Indonesia diletakkan oleh seorang Soedirman muda yang berumur 29 tahun. Sudah tentu bukan hal yang mudah, integrasi laskar-laskar rakyat sebagai kekuatan sayap militer dengan tentara republik eks Peta-KNIL, seringkali menimbulkan gesekan bagai kerikil tajam dalam tubuh Republik muda,

Dengan kharisma yang dimilikinya, Panglima Besar Soedirman berhasil meredam konflik dan meletakkan dasar fondasi penting untuk Tentara Nasional Indonesia. Dalam kondisi sesulit apapun, ia tetap tunduk pada kepemimpinan sipil Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Usaha penerbitan kembali kisah sejarah bangsa semacam ini patut mendapatkan apresiasi. Penulisan profil para perwira militer penting Indonesia membutuhkan ketekunan. Militer tetap mempertahankan aura ketertutupan yang sulit ditembus. Alhasil, pembacaan kembali sejarah ke belakang, pembaca diharapkan mampu menilai sendiri dan melakukan rekonstruksi sendiri atas fakta sejarah negeri ini.

Judul        : Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir
Penulis     : Arif Zulkifli (ed.)
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun       : 2012
Tebal        : 160 hal.
Genre       : Sejarah-Indonesia

Cipayung, 21 Oktober 2017

Kamis, 19 Oktober 2017

Dalang Galau Ngetwit

Semua sekadar menjalani takdir. Ada yang ditakdirkan pasrah. Ada yang ditakdirkan berusaha. Ada juga yang ditakdirkan untuk tidak percaya bahwa semua sekadar menjalani takdir.

 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya termasuk satu dari sekian orang yang kagum dengan kekuatan Twitter. Sebuah cuitan kecil berbatas 140 karakter mampu menjelma menjadi satu narasi tulisan. Pun, ketika tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dan menjelma menjadi sebuah buku yang utuh. Maka ketika sang Rahvayana menuliskan kembali segenap kumpulan twit lengkap dengan narasinya, pembaca wajib bersyukur karena sang dalang tidak hanya menceritakan segenap kegalauannya.

Buku ini memang layak dibaca siapapun. Baik pemilik akun twitter yang rajib ngetwit ataupun hanya untuk sekedar stalking mantan (ups.) Sujiwo berhasil memainkan kata-kata serupa wayang andalannya. Sujiwo menyampaikan pesan-pesan yang humanis dan beberapa diantaranya anti-mainstream.

Subjek yang dibahas Sujiwo pun luas, seluas pemahamannya terhadap kausalitas dalam perjalanan hidupnya. Dari soal matematika yang ternyata tidak selalu pasti hingga urusan seni yang pemahaman atasnya ditentukan isi kepala masing-masing. Soal Rama-Shinta hingga Habibie-Ainun. Saya menikmati proses dialektika yang dikemukakannya. Setidaknya, untuk dipakai sebagai bahan refleksi.

Lebih luas, pemikiran Sujiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.

Oleh karena itu, pembaca pun harus menyediakan hati dan pikiran yang terbuka. Menerima curhatan soal kegalauan adalah persoalan tersendiri sebagaimana menerima segala keedanan. Oleh karena itu, dengan pikiran dan pemahaman yang terbuka pembaca tentu sudah lebih pintar untuk menemukan makna dibalik setiap twit Sang Dalang.

Judul     : Dalang Galau Ngetwit
Penulis  : Sujiwo Tejo
Penerbit : Imania
Tahun    : 2013
Tebal     : 219 hal.
Genre    : Sosial-Budaya

Cipayung, 4 Oktober 2017.

Sabtu, 30 September 2017

Sesobek Buku Harian Indonesia

Pemimpin kami amat pintar
membendung segala tidak
dari mulut kami
yang dibilang pengkhianat

 (Belajar Tidak - Hal. 23)

Sumber gambar: www.goodreads.com
Tidaklah salah bila catatan buku ini mengibaratkan Emha Ainun Nadjib sebagai seorang musafir yang telah menjelajahi seluruh Indonesia, mencicipi ribuan pengalaman didalamnya, dan memanggul ribuan beban dari apa yang telah dirasakannya. Emha memang menempuh jalan sunyinya sendiri dalam menemukan Indonesia. Indonesia hanyalah bagian dari desa semesta Emha. Maka, apabila Emha melakukan sesuatu untuk Indonesia itu hanya bagian dari sedekahnya untuk negeri yang telah ia tinggali untuk sekian lamanya.

Saya terkesan lewat kata pengantar yang ditulis untuk edisi dan cetakan baru ini. Bahwa di era 1970-an, Emha belajar memanggul beban. Era 1980-an gagah dan sombong memanggul beban. Tahun 1990-an mulai kewalahan menanggung beban. Tahun 2000-an hampir putus asa oleh beban. Tahun 2010-an mempertanyakan kenapa memanggul beban dan siapa sebenarnya petugas pemanggul beban.

Edisi pertama buku ini terbit medio 1993, tahun-tahun dimana perekonomian bangsa Indonesia disebut bakal menjadi Macan Asia. Puisi-puisi dalam buku ini setidaknya mengulang ingatan kita pada apa-apa yang terjadi di masa itu. Emha mengumpulkan segenap impresi dan ekspresinya terhadap Indonesia pada tahun-tahun dimana ia mulai kewalahan menanggung beban. Pembaca boleh menentukan sendiri pembermaknaan atas segenap puisi Emha didalamnya.

Relevansi? Jelas puisi-puisi Emha ini masih relevan dengan keadaan berbangsa dan bernegara belakangan ini. Dimana harapan hidup semakin tidak jelas namun dibuat seolah-olah menuju jalan terang. Absennya nilai-nilai keadilan, kemanusiaan yang semakin 'tidak' beradab, kesenjangan hak asasi, kesenjangan sosial yang semakin berjarak masih dapat kita jumpai di pinggir-pinggir jalan negeri tercinta ini.

Puisi-puisi Emha setidaknya hadir untuk membawa satu sudut pandang baru dimana puisi telah kehilangan eksistensinya pada zaman yang semakin serba cepat. Puisi-puisi Emha hadir untuk menemani kita-kaum yang dilemahkan untuk terus berjalan melalui jalan sunyi kita masing-masing. Puisi-puisi Emha yang disembunykan dalam sesobek buku harian Indonesia adalah sebuah catatan, tentang realitas, cita-cita, atau bahkan 'sobek'nya sebuah entitas bernama Indonesia.

Judul       : Sesobek Buku Harian Indonesia
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit  : Bentang Pustaka
Tahun      : 2017
Tebal       : 124 hal.
Genre      : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi


Cipayung, 20 September 2017.

Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Karena Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memberikan rezeki dan kesehatan kepada Emha Ainun Nadjib, sehingga dengan ridho-Nya pula Mbah Nun dapat menuliskan buku terbarunya ini. Teruntuk penerbit Noura Books saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih sedalam-dalamnya karena mau untuk menerbitkan segala pemikiran Emha Ainun Nadjib sehingga pembaca dapat membacanya berulang-ulang agar semakin paham.

Sebagaimana dikabarkan dalam catatan pembuka, buku Mbah Nun ini menyampaikan kabar langit dengan bahasa yang membumi. Memang benar begitu adanya. Mbah Nun membuka intisari yang lengkap tentang bagaimana kita harus menyikapi apa-apa yang terjadi belakangan ini dengan cara pikir yang berbeda. Mbah Nun mengantarkan sebuah dialektika berpikir yang sederhana namun tetap tidak terlepas dari pangkuan Ibu Al-Quran.

Terlalu banyak quotes yang bisa diambil dari buku ini. Kalaupun sempat, akan saya rangkumkan quotes versi saya dalam tulisan lain. Yang terpenting, saya menemukan kembali sebuah konsistensi. Saya tidak perlu menemukan kembali relasi antara konteks kekinian dengan relevansi materi buku ini. Saya perlu sebuah sikap dan pernyataan tegas bahwa apa yang disampaikan oleh Mbah Nun lewat forum lingkar Maiyah dapat ditemukan dan ditelusuri kembali dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sudah akrab dengan ceramah dan tulisan-tulisan Mbah Nun, tentu proses identifikasi keselarasan sikap dan ucapan itu akan menjadi sangat mudah. Lain halnya bagi pembaca yang baru berusaha memahami Emha. Akan berlangsung segenap pengalaman jiwa dan raga untuk melepaskan diri dari ikatan mainstream untuk kemudian menjernihkan hati dan pikiran untuk menerima rentetan pesan Mbah Nun.

InsyaAllah, buku ini akan menjadi media belajar bagi siapapun. Media pembelajaran bagi kita semua untuk selalu mawas diri, untuk selalu sadar bahwa ada kalanya hidup itu tidak selalu harus ngegas. Ada waktunya hidup mempersilakan kita untuk ngerem, untuk menahan. Supaya kita sampai tujuan dengan selamat. Selamat di dunia dan selamat di akhirat. InsyaAllah.

Judul        : Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Noura Books
Tahun       : 2016
Tebal        : 230 hal.
Genre       : Sosial Budaya


Cipayung, 21 September 2017.

Cahaya Maha Cahaya

Kumpulan puisi Emha yang terbit pada tahun 2004 silam ini barangkali menjadi kumpulan puisi tipis yang paling susah saya tamatkan. Mulai dari membaca di rumah, di mobil jemputan, di pesawat menuju Manado, dalam gerbong KA Parahyangan, tak kunjung selesai juga pembacaan.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri belakangan ini memang mengalami ‘kemunduran’ dalam membaca. Satu bulan paling habis satu atau dua judul saja. Lantas, saya tidak bisa menambah koleksi bacaan disebabkan kemajuan bacaan yang sangat lambat itu.

Terus terang, memahami ‘Cahaya Maha Cahaya’ lebih sulit dibandingkan dengan ’99 untuk Tuhanku’, misalnya. Kemesraan antara Emha dengan Tuhannya itu memang agak sulit untuk dijabarkan lewat cara pandang biasa. 

Kemesraan Emha dengan Tuhannya nampak dalam “Ajari Aku Tidur”. Emha bermesraan macam seorang anak yang minta dikeloni oleh ibunya. Lebih baik ia tidur saja usai didera segala urusan dunia.
Ajari Aku Tidur
 
tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik,
              dan kebodohan
bisaku cuma tertidur
tertidur


Emha tidak menulis kritik sosial yang tajam dalam setiap syairnya. Emha memposisikan diri sebagai seorang hamba yang berusaha menuju cahaya setelah dihampas gelombang kehidupan yang tak henti-hentinya membutakan mata, hati, jiwa, dan pikiran.

Saya mencatat beberapa syair yang rasanya perlu saya pahami. Adakah sebuah tendensi atau hanyalah sebuah imaji semata. Misal, pada bait puisi berjudul “Satu Kekasihku”.

Satu Kekasihku

mati hidup satu kekasihku
takkan kubikin ia cemburu
kurahasiakan dari anak istri
kulindungi dari politik dan kia
i

Siapakah politik dan kiai yang dimaksud Emha? Mengapa sesuatu itu takkan ia buat cemburu hingga mesti dirahasiakan dari anak istri hingga sangat perlu dilindungi dari politik dan kiai? Wallahu’alam. Mungkin perlu satu buku lagi untuk menjelaskan hubungan antara politik dan kiai sehingga jelaslah hubungan keduanya.

Emha sebagai subordinat dari mereka yang terkalahkan mengadu pada Tuhannya. Dalam “Lempari Aku”, Emha seakan menunjukkan pada Tuhan bahwa ia masih ada.

dengan sembahyang mungkin kau menerimaku
tapi dengan sakit tak bisa kau elakkan hadirku

Cahaya Maha Cahaya memang hanya sebuah buku kumpulan puisi yang tipis namun justru dalam ketipisannya itulah terkuak kebesaran dan keluasan dunia seorang Emha. Emha sebagai penyair menuliskan segala keresahannya; tentang manusia dan kepastian kuasa Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Cipayung, 18 September 2017.

Judul        : Cahaya Maha Cahaya
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Pustaka Firdaus
Tahun        : 2004
Tebal        : 71 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi

Kamis, 31 Agustus 2017

Negara 1/2 Gila

Sumber gambar: www.goodreads.com
Keseharian dan tingkah laku orang Indonesia memang terkadang patut ditertawakan. Sekaligus menjadi bahan perenungan bahwa bangsa yang katanya bangsa besar ini rakyatnya masih memiliki perilaku dan sikap tidak peduli. Kemunculan para seniman komik masa kini sebenarnya sudah sering mengangkat tema ini. Dengan ragam dan ciri khas keunikan visual masing-masing.

Agaknya, itu pula yang membuat Trio Komikus di Negara Setengah Gila ini turut hadir ‘menertawakan’ bangsanya sendiri. Rumrum, Dody, dan Mujix, merepresentasikan sebuah ide tentang perilaku-perilaku yang ‘Indonesia Banget’. Tentunya, menggiring tawa namun penuh makna, apakah hal ini akan terus kita biarkan sehingga menjadi sesuatu yang selalu melekat dan tak mungkin lepas?

Terlepas dari kenyataan itu dimana terjadi pertarungan wacana antara kenyataan dan imaji kreatif, komik ini sangat menghibur. Kita tidak bisa mengelak dari satu fungsi komik sebagai bahan bacaan rekreatif. Ketiga seniman komik berhasil melahirkan kembali ide lama menjadi sebuah karya dengan tampilan visual yang unik.

Judul       : Negara 1/2 Gila
Penulis    : Dody-Mujix-Rumrum
Penerbit  : MediaKita
Tahun      : 2013
Tebal      : 92 hal.
Genre      : Komik Indonesia


Cipayung, 28 Agustus 2017

Jumat, 28 Juli 2017

Saucy Crab and a Despacito

 
Sepengalaman saya berkunjung ke Balikpapan, baru kali ini saya makan di sebuah restoran kepiting khas setempat. Restoran Dandito namanya. Terletak di Jalan Marsma Iswahyudi, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Mahmud Sulaiman, Sepinggan, sekitar 2 KM ke arah kota. Kebetulan, kami tinggal di hotel yang berbatasan dengan tembok pembatas bandara. Sehingga, satu arah menuju kesana.

Well, saya bukan seorang penggemar seafood apalagi kepiting. Namun, saya semakin penasaran karena kini keipitng tidak hanya disajikan sebagai masakan seafood belaka. Kepiting kini memasuki era sejarah baru dengan adanya Bonting (Abon Kepiting) dan keripik kepiting. Saya juga tidak punya referensi kuliner yang cukup di Balikpapan jadi saya ikuti saja kemana angin berhembus. Kami berempat pun akhirnya sepakat kesana.

Suasana makan malam di restoran ini cukup meriah. Ada live band akustik membawakan lagu-lagu terkini, termasuk lagu 'Despacito' yang sangat mengganggu telinga saya. Tak lama, menu pesanan pun tiba. Kepiting Soka Asam Manis dan Kepiting Goreng Saus Lada Hitam.

Harga kepiting disini sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Kepitingnya besar dan kepiting gorengnya tidak amis dan empuk. Ada kesegaran didalamnya. Termasuk bumbu saus lada hitam dan saus asam manis yang disajikan. Sebagai pelengkap, kami menambah Cah Kangkung untuk menemani syahdunya Senin malam di Sepinggan. Lidah kami digoyang kenikmatan.

Keesokan harinya, saya jogging pagi lewat restoran itu lagi. Terlihat pemandangan karyawan yang sedang melakukan bongkar muat kepiting. Saya melihat sendiri bagaimana cara mereka menangani menu utama mereka yang paling kesohor. Setidaknya, ada alasan mengapa kita bersedia untuk memberi lebih demi sajian kepiting.

Saya merekomendasikan restoran ini untuk sebuah sajian kepiting yang mengesankan.Walaupun agak mahal, namun sebanding dengan kelezatannya.


Balikpapan-Tangerang Selatan,  24 Juli 2017.



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...