Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Minggu, 31 Juli 2022

Surat untuk Aldebaran

Aldebaran,

Akhirnya, sampai juga waktu Bapak untuk melihatmu masuk Sekolah Dasar setelah Akhirussanah TK yang sempat membuat air mata ini kembali mengalir. Akhirnya, Bapak dapat merasakan hal yang mungkin dirasakan oleh Akung dahulu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa haru, ada rasa bahagia, dan ada juga banyak kekhawatiran. Untuk yang terakhir ini, sering Bapak titipkan pada Allah saja. Mudah-mudahan, Ia mau membantu Bapak memanage segala macam rasa khawatir ini.

Bapak dan Ibu tentunya berharap Alde akan cepat beradaptasi dengan segala kegiatan di masa SD ini yang kami rasa sangat tidak mudah. Alde sudah mengalami masa sekolah di zaman pandemi, kemudian mulai tatap muka kembali-dengan segala pembatasan. Tiba-tiba, Alde harus menjalani sekolah hari penuh. Alde harus bangun pagi dan segera bersiap pergi ke sekolah, lalu pulang sebelum adzan Ashar berkumandang. 

Ah, rasanya tidak adil bila membandingkan sekolah SD zaman Bapak dan Ibu dulu. Entah bagaimana Bapak harus menjelaskan padamu soal konsep merdeka belajar dari Pak Menteri yang sekarang ini. Pun, ketika Bapak menyadari bahwa buku-buku pelajaran sekolahmu ukurannya lebih besar dari zaman kami dulu. Semoga engkau memiliki tubuh dan badan yang kuat untuk menjalani hari-harimu nanti.

Aldebaran,

Selamat menjalani hari-hari ke depan, Nak. Bapak dan Ibu selalu mendoakan engkau dan adikmu agar kelak dapat mengamalkan setiap ilmu dan pelajaran yang telah didapat. Kiranya, Allah SWT membantu, memudahkan, dan mencurahkan berkah-Nya. Jadilah anak yang kuat dan berani. Menirukan Iwan Fals, "..tinjulah congkaknya dunia, Buah Hatiku. Doa kami di nadimu...".

 

Cipayung, 22 Juli 2022

Kamis, 26 Mei 2016

Indonesia Jungkir Balik: Jungkir Balik Indonesia

Sebetulnya saya sudah tidak mau lagi membaca artikel atau buku yang bicara soal Indonesia harus begini, harus begitu, harus jungkir balik, dan seterusnya. I don't know what really happened with this country. 

Courtesy: www.goodreads.com
Satu alasan untuk buku ini adalah karena Adhitya Mulya ikut berkontribusi, dan saya ingin tahu tulisannya seperti apa. Apakah Kang Adit akan menulis dengan gaya komedinya atau malah dengan gayanya yang serius. Anyhoo, Kang Adit menulis dengan serius. Tapi, inti dari tulisannya sangat sederhana. Kita yang beragama ini justru malah menjadi manusia yang tidak beragama ketika dilibatkan pada satu negeri bernama Indonesia.

Kontribusi penulis lainnya pun cukup menggambarkan kondisi Indonesia belakangan ini. Dan itu belum berubah sejak penerbitan buku ini yang sudah lebih dahulu empat tahun yang lalu. Isu mengenai korban kekerasan tahun 1965, kebobrokan sistem pendidikan, pergulatan antar wacana dalam membasmi kemacetan di Jakarta, hingga kebohongan yang kita telan sehari-hari lewat media televisi.

Ada banyak kalimat bernada pesimis. Namun, para kontributor lewat tulisan mereka tentu saja punya cara agar pembaca tidak kehilangan harapan. Perubahan-perubahan kecil usai pembacaan buku ini, sepanjang itu berdampak positif, bisa dilakukan dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan dimulai saat ini. Meniru tips perubahan ala Aa Gym.

Judul        : Indonesia Jungkir Balik
Penulis     : Adhitya Mulya, [et.al]
Penerbit    : Mizan
Tahun       : 2012
Tebal        :  204 hal.
Genre       : Sosial-Budaya


Cipayung, 18 Mei 2016.



Senin, 04 April 2016

Leaving Microsoft Like a John Wood

Courtesy: www.goodreads.com

“Setelah manusia menghasilkan banyak uang, dia biasanya menjadi pendengar yang buruk.”
- John Wood

Membaca buku ini bagaikan menjalani sebuah petualangan. Petualangan tentang semua kemungkinan yang dimungkinkan oleh hidup ini sendiri. John Wood telah meninggalkan semua yang ia punya; harta; karir yang fantastis; yang ternyata tidak kunjung membuatnya bahagia. Sebuah lompatan kecil dalam hidupnya telah menjungkirbalikkan semua dunianya.

John Wood adalah seorang pekerja kerah putih yang memiliki karir cemerlang di Microsoft. Lewat sebuah email dari temannya dan perjalanan ke Nepal telah membukakan matanya sehingga ia melakukan apa yang ingin dan harus ia lakukan. Meninggalkan Microsoft adalah hanya satu fase yang harus dilaluinya. Selanjutnya, ia merangkai impian dari satu hal yang kecil untuk banyak hal besar.

John Wood mendirikan 'Room to Read' sebagai non-governmental organization/lembaga non-pemerintah yang tadinya bertujual untuk membantu sebuah sekolah di Nepal. Dari satu sekolah, 'Room to Read' semakin mendapatkan kepercayaan dari para donatur dan berhasil memberikan dampak nyata bagi lebih dari 1,3 juta anak-anak yang tersebar di belahan Asia dan Afrika. 'Room to Read' berperan nyata dengan membangun sekolah, laboratorium komputer, dan perpustakaan; menerbitkan judul bahasa lokal untuk buku anak dan memberikan beasiswa bagi anak-anak perempuan.

Inilah satu dari sekian kisah filantropis sejati yang inspiratif.


Judul        : Leaving Microsoft to Change The World
Penulis     : John Wood
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2007
Tebal        : 368 hal.
Genre       : Memoar


Medan Merdeka Barat, 4 April 2016.

Senin, 22 Juli 2013

Kitab Komik Sufi

Sufisme atau tasawuf adalah satu jalan penyucian jiwa berdasarkan ajaran Islam, yang mengutamakan kecintaan pada Allah SWT, kasih sayang, dan toleransi. Tasawuf sendiri sebagai jalan menuju sufisme seringkali dianggap sebagai hal yang sulit untuk dicapai. Sufisme dikaitkan dengan penyucian jiwa dan pengabdian seutuhnya kepada Allah SWT. Dengan konsekuensi, pencapaian tersebut harus meninggalkan segala hal yang berbau duniawi.


Kitab Komik Sufi ini berisi kumpulan kisah penuh hikmah dalam tradisi sufi. Sebagian bersumber dari beberapa kitab sufi klasik seperti Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan Tadzkirat al-Auliya karya Fariduddin Atthar. Lainnya, adalah hikayat yang disampaikan turun temurun sejak zaman umat terdahulu sampai sekarang.

Kisah-kisah sufi tersebut disajikan dalam bentuk komik yang menghibur pembaca. Tentunya, tanpa mengurangi tujuan aslinya, yaitu untuk menyampaikan pesan kebijaksanaan. Konsep-konsep dasar sufisme seperti kebersihan hati, kasih sayang, dan toleransi, hadir sebagai nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh setiap kalangan dari berbagai latar belakang etnis, bangsa, bahkan agama. Hal ini didukung oleh pengalaman penulisnya sendiri sebagai pengikut/jamaah satu tarekat asal Maroko ketika menempuh pendidikan di Ecole D'art Maryse Eloy Paris, Prancis.

Cerita dalam komik ini menampilkan kisah hikmah dari seorang Syaikh dan muridnya, riwayat para Darwis (sufi pengelana), juga permasalahan sehari-hari yang biasa dihadapi manusia. Ada yang lucu, ada yang seru, bahkan ada beberapa ironi, semuanya mengetuk pintu kesadaran kita dalam menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.


Sepintas, buku ini mirip dengan kumpulan kisah hikmah dari Nasruddin Hoja. Komik yang habis dibaca sekali duduk ini menampilkan wajah sufisme sebagai subjek yang tidak selalu serius dan berat untuk dipahami. Melalui kisah-kisah didalamnya, kita tidak hanya diajari hakikat kebenaran dimana yang ini benar dan yang itu salah. Tetapi, lebih jauh dari itu setiap kisah akan membawa kita pada perenungan untuk berkaca dan mengambil jarak sejenak dengan diri kita. Sementara, pada kisah-kisah lainnya, pembaca senantiasa diingatkan untuk selalu memiliki hati yang sibuk kepada Allah SWT tanpa harus meninggalkan hal keduniawian seutuhnya.

Judul         : Kitab Komik Sufi: Kumpulan Kisah Sufi dalam Komik
Penulis      : Ibod (Bayu Priyambodo)
Penerbit     : Penerbit Muara
Tahun        : 2013
Tebal         : 152 hal.
Genre        : Komik – Agama Islam


Pharmindo, 22 Juli 2013.

Senin, 03 Juni 2013

Memoir of June

3 Juni 2008:
Jadi 1 dari 10 wisudawan/wisudawati terbaik Wisuda Universitas Padjadjaran Gelombang 3 Tahun 2007/2008



3 Juni 2013:
Baru terima gaji.



Time flies, isn't it?



Medan Merdeka Barat, 3 June 2013.

Selasa, 26 Februari 2013

Dance With My Father

Gus Dur adalah seorang Bapak yang amat santun kepada tetangganya, tetapi sangat keras mendidik disiplin mental anak-anaknya sendiri dengan hajaran dan gemblengan sedemikian rupa. Kalau pakai budaya Jombang, agar anak-anak menjadi tangguh mentalnya, ia perlu diancup-ancupno ndik jeding (kepalanya dibenam-benamkan ke air kamar mandi), dibatek ilate (ditarik lidahnya keluar mulut sehingga tak bisa omong), atau disambleki mbarek sabuk lulang (dicambuki pakai ikat pinggang kulit).
                                                      

Emha Ainun Nadjib, dalam Kompas, Senin, 25 Februari 2013.

Baiklah, kita mulai penulisan malam ini. Sebelum beranjak ke materi lainnya. Entah itu review film terbaru Rain, R2B:Soar Into The Sun atau sebuah catatan iseng usai membaca bagian awal buku Doorstoot Naar Djokja (Julius Pour, 2009) yang membuat saya teringat kembali pada waktu memimpin Kompi Kuning melawan Kompi Merah dalam perang paintball di Citarik. *abaikan

Mungkin, saya terbawa perasaan sentimental mengingat penulis artikel itu adalah Emha Ainun Nadjib, budayawan asal Jombang yang bermukim di Yogyakarta. Sedikit cerita tentang Jombang, medio bulan ini saya sempatkan untuk mengambil cuti demi tetirah sejenak dan napak tilas ke makam Eyang di Jombang. Barangkali, untuk urusan sentimentil sebuah tulisan ini dibuat. Mencoba mengkaitkan perasaan yang tertinggal disana dengan sebuah tanda tanya soal asal usul demi menyusun kepingan makna eksistensialitas diri.

Membaca kembali paragraf pembuka diatas, saya jadi ingat kembali bagaimana cara Bapak memperlakukan saya, dengan segala caranya yang kemudian membentuk pribadi saya. Saya mengalami suatu pengalaman yang akan terus saya kenang. Beberapa diantaranya tidak ingin saya ingat dan bahas lagi, apalagi untuk diceritakan. Bagaimanapun, ingatan tentang hal ini tetap hidup dalam benak saya.




Waktu kecil saya tumbuh sebagai anak-anak normal yang bergaul di lingkungan komunal. Maksudnya, selalu bermain dengan teman sepermainan yang sama, maklum anak komplek. Dari situ, kemudian muncul banyak “pertentangan” antara keinginan saya sebagai anak yang ingin bermain dengan kehendak. Tak pelak, karena hal itulah kemudian saya membuat masalah yang membuat orang tua (utamanya Bapak) mengambil sebuah tindakan.

Saya pernah dihukum dengan dibanjur (disiram) dengan air sumur. Bapak dan Ibu pernah melakukannya kepada saya hanya karena saya menolak untuk segera pulang ke rumah setelah dipanggil berkali-kali. Setibanya di rumah, saya disuruh membuka baju kemudian jongkok dekat sumur. Lalu, Bapak segera menarik tali timba. Seketika, tubuh saya sudah basah. Sambil menangis saya berteriak “udah...udaaaahh” , tetapi sebelum tiga kali guyuran Bapak atau Ibu tidak akan berhenti. Efek dari aksi polisionil (halah bahasanya) itu lumayan membuat kapok.

Lain waktu, saya pernah dihajar habis-habisan dengan sapu lidi. Saya tidak ingat lagi apa sebabnya. Yang saya ingat, Bapak begitu marah sehingga menarik saya ke kamar tidur sambil menenteng sapu lidi dan memukul punggung saya berkali-kali. Rasa benci terhadap Bapak muncul semakin kuat. Saya benci, benci sekali sama Bapak. Saya tidak bisa menghindari perasaan semacam itu. Entah saya memang salah atau tidak yang jelas efek jera dari setiap pukulan Bapak sudah cukup untuk membuat saya mengaku salah.

Untung saja saya tidak mengalami hal yang dilakukan Gus Dur, seperti pada paragraf yang ditulis Emha. Tetapi, entah karena sama-sama orang Jawa Timur seperti Gus Dur, Bapak memang santun dengan tetangga tetapi keras terhadap anak-anaknya sendiri. Bila saya sedang main dengan anak tetangga, dan terjadi sesuatu pada anak itu yang bukan disebabkan oleh kesalahan saya, maka saya lah yang kemudian jadi sasaran amukan Bapak. Saya bingung karena saya merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Namun, saya tetap terima konsekuensinya. Kadang, tidak boleh main keluar rumah selama 3 hari atau terpaksa menerima hukuman fisik seperti dipukul sapu lidi.

Kalau dulu sudah ada yang namanya Komnas Perlindungan Anak, saya pasti sudah melaporkan kejadian itu. Zaman telah berubah. Keterbukaan pandangan orang tua dalam cara mengasuh dan membimbing anak mulai berkembang pesat. Cara-cara lama telah ditinggalkan. Hukuman fisik dianggap sudah tidak pantas. Berhubung Generasi DHA masa kini memiliki way of life sendiri yang berbeda dengan zaman saya.

Itulah bayangan yang ada di benak saya selagi membaca artikel Emha diatas. Ingatan saya kembali ke masa-masa itu. Kata orang bijak, selalu ada hikmah di balik peristiwa. Mungkin, Bapak ingin mengajarkan saya bahwa hidup ini kadang tidak bersahabat. Hidup ini keras, Bung! Jadi, beliau mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk membuat anaknya ini kuat dan tegar. Sekalipun, saya mengalami kekerasan fisik semacam itu, saya tetap merasa selalu rindu akan sosok seorang Bapak. Sosok yang selalu membuat saya menundukkan kepala ketika meminta uang Rp. 100,- untuk jajan.

Butuh waktu lama untuk tahu apa makna dibalik semua itu. Januari 2007, saya tinggal di Surabaya selama 21 hari. Kesempatan itu saya gunakan untuk bersilaturahmi dengan keluarga dari nasab Bapak. Saya bertemu dengan Bu De yang sepesusuan dengan Bapak. Dari Bu De, saya berhasil memperoleh keterangan mengenai cerita dan jalan hidup Bapak. Keterangan yang mengantarkan pada sebuah kesimpulan bahwa Bapak menghendaki saya untuk bisa memilih jalan sendiri. Sama dengan yang beliau alami.

Seringkali saya mendapatkan cerita bahwa keinginan Bapak tidak sejalan dengan pilihan saya. Bagi beliau, itu adalah konsekuensi dari sebuah sikap yang ingin ditanamkannya dulu. Saya kemudian mentafakkuri diri sendiri dengan membuka kembali jalan memori. Ketika memilih jurusan untuk kuliah, misalnya. Saya sempat mendapat keterangan bahwa beliau tidak menghendaki pilihan saya. Tetapi, karena saya punya pilihan sendiri yang saya yakini maka beliau tidak banyak komentar dan setuju-setuju saja.

Kini, saat tulisan ini dibuat, saya sampai pada sebuah konklusi. Kalau dulu nggak gitu, ya sekarang nggak gini.


Paninggilan, 26 Februari 2013




Kamis, 20 September 2012

Guru-Guru Kehidupan

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

(Hymne Guru)


Sebagaimana telah kita ketahui, masyarakat Jepang termasuk golongan yang konsumtif terhadap produk hasil laut terutama ikan. Nilai konsumsi ikan masyarakat Jepang termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Pada suatu masa, nelayan Jepang seringkali mengalami kerugian akibat ikan-ikan hasil tangkapan yang tidak segar saat tiba di pelelangan ikan. Hanya sedikit ikan yang bisa ditangkap di perairan dekat pantai sehingga nelayan harus pergi melaut ke tempat yang agak jauh. Akibatnya semakin jauhnya jarak tempuh, ikan yang tiba di pantai diterima pelanggan dalam keadaan yang sudah tidak segar lagi. Keadaan tersebut berlangsung lama sehingga mereka kehilangan pelanggan. Masyarakat semakin kesulitan mendapatkan ikan segar hingga harga ikan pun jatuh.

Untuk mengatasi hal ini, perkumpulan nelayan disana mengupayakan untuk membawa freezer (lemari pendingin) dalam perahu yang mereka gunakan. Cara ini dimaksudkan agar sekalipun ikan yang ditangkap telah mati, namun tetap beku dan tidak membusuk. Upaya ini ternyata tidak juga memuaskan pelanggan penikmat ikan segar. Mereka mengeluhkan cita rasa ikan yang telah berkurang karena sudah mati dan dibekukan. Harga ikan pun tetap merosot tajam karena tidak dalam keadaan hidup.

Mengetahui sebab kegagalan sebelumnya, para nelayan pun mencoba mengakali kembali dengan membawa tangki-tangki penampungan ikan yang agak besar ketika melaut. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka dimasukkan ke dalam tangki-tangki tersebut. Mereka dijejalkan ke dalam tangki sehingga saling berdesak-desakkan dan saling bertabrakan. Setelah melaut, ikan-ikan yang berada di dalam tangki tetap hidup namun berada dalam keadaan lemas. Masyarakat Jepang tetap tidak suka menikmati ikan lemas karena cita rasanya tetap saja berbeda dibandingkan dengan ikan segar yang tetap hidup.

Untuk mensiasati keadaan tersebut, mereka mencoba suatu cara baru agar ikan hasil tangkapan mereka di laut lepas bisa tetap segar sekembalinya ke daratan. Mereka tetap membawa tangki penampungan dan mengisinya dengan jumlah ikan yang lebih sedikit. Uniknya, mereka juga memasukkan ikan hiu kecil dalam tangki-tangki penampungan ikan di kapalnya tersebut. Ikan hiu kecil itu memang memakan ikan-ikan yang ada di dalam tangki, namun tidak banyak. Sementara, ikan-ikan lain berlarian dikejar ikan hiu kecil yang ada di dalam tangki-tangki tersebut. Dengan upaya tersebut, ikan-ikan hasil tangkapan mereka tetap berada dalam keadaan siaga setibanya di pantai. Pelanggan pun akhirnya kembali terpuaskan dengan ikan yang tetap hidup dan segar. Mereka bisa menikmati kembali cita rasa yang telah lama hilang.

Kisah ikan hiu dan keberhasilan nelayan itu dengan cepat menyebar pada nelayan lainnya. Mengetahui hal tersebut ternyata membawa manfaat maka para nelayan di  Jepang memanfaatkan trik tersebut untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapannya. Sejak saat itu, para konsumen langganan nelayan pun tidak lagi kesulitan dalam memperoleh ikan segar.

Kisah diatas hanyalah sebuah cerita tentang bagaimana mensiasati kehidupan. Manusia dengan segala yang ada pada dirinya selalu berusaha untuk mencari jalan keluar atas segala permasalahan yang menimpanya. Tantangan dan masalah membuat seseorang semakin matang dan dewasa dalam perkembangan mentalnya. Perpaduan kedua hal tersebut merupakan pembelajaran yang paling berharga dari kehidupan ini.

Dalam hidup sendiri dibutuhkan figur-figur semacam ikan hiu kecil seperti dalam cerita diatas. Kita membutuhkan figur yang bisa membuat kita terus bergerak untuk menimba ilmu pengetahuan yang terejawantahkan dalam bermacam pelajaran hidup. Kita membutuhkan figur yang mampu membuat kita tetap waspada untuk mengantisipasi setiap kemungkinan yang menghambat segala daya dan upaya dalam usaha pencarian pengetahuan.

Figur semacam itu tak pelak lagi dapat kita temukan dalam lingkungan pergaulan kita sehari-hari. Baik itu di rumah, di sekolah, atau pun di lingkungan pekerjaan. Bila di rumah, orang tua adalah guru utama dalam kehidupan anak-anaknya. Orang tua menjadi guru pertama yang membuka wawasan seorang anak terhadap dunia yang akan dijalaninya. Orang tua memberikan beberapa pelajaran dasar tentang bagaimana menjalani hidup dalam relasinya dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

Pelajaran-pelajaran dasar kehidupan tersebut adalah faktor utama yang membentuk kepribadian seorang anak. Dari lingkungan keluarga, seorang anak akan mempelajari fondasi dan nilai-nilai kehidupan. Pelajaran yang didapat seorang anak dari orang tua di rumah pun lantas tidak mutlak menentukan tingkat keberhasilan dalam babak-babak kehidupan selanjutnya. Faktor-faktor lain seperti lingkungan sekolah juga ikut berpengaruh dalam proses pendidikan seorang anak.

Melalui lingkungan sekolah, seorang anak akan belajar untuk menerapkan apa yang telah didapatnya di rumah. Ia akan belajar untuk mempraktekkan sendiri pengetahuan yang telah diajarkan oleh orang tuanya dalam konteks yang lebih luas. Seorang anak akan belajar memahami tentang proses-proses kehidupan yang lebih beragam dan kompleks dalam kaitannya dengan proses belajar.

Kemunculan program-program sekolah yang mengadaptasi nilai modernitas dan standar kompetensi tertentu menjadi faktor lain yang berkontribusi dalam pembentukan karakter. Kurikulum yang lebih adaptif dengan bakat dan kemampuan anak terus dikembangkan demi terciptanya long-life learning generation.

Terlepas dari semua itu, figur utama dalam suatu proses pendidikan adalah guru. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengesampingkan peran guru dalam siklus pembelajaran. Guru adalah faktor utama yang menajdi peluru sekaligus cambuk bagi muridnya untuk terus menimba sumur pengetahuan. Guru sebagai elemen penting dalam sistem pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam penyampaian materi belajar. Guru merupakan subyek utama yang menghubungkan murid dengan sesuatu diluar mereka, yaitu ilmu pengetahuan.
Guru adalah entitas yang mendorong terwujudnya rasa ingin tahu sehingga setiap pembelajar merasakan kebutuhan untuk menggali berbagai pengetahuan itu lebih dalam.

Sebagai figur dalam pembentukan karakter seorang pembelajar, guru juga tampil sebagai figur “biji kopi” yang memberi keharuman dan mewarnai lingkungan sekitarnya. Guru direpresentasikan tidak sebagai wortel atau telur yang cenderung lembek dan mengeras ketika dipanaskan. Guru mewakili karakter biji kopi yang mampu memberikan perubahan tanpa harus kehilangan wujud aslinya.



Lebih jauh, guru adalah figur pembawa perubahan. Kita semua tentu masih ingat pertanyaan pertama Kaisar Jepang usai negerinya dibom atom oleh Sekutu pada Perang Dunia II, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Pertanyaan Kaisar itu menunjukkan bahwa guru adalah elemen utama yang dibutuhkan oleh bangsa Jepang untuk membangun kembali bangsanya. Kemajuan di segala bidang akan lebih mudah diraih bila masyarakat mendapatkan pendidikan yang cukup. Dalam kasus tersebut, guru berperan sebagai tokoh sentral dalam kemajuan pesat yang diraih oleh Jepang.

Cerita Saya


Selama bersekolah, ada beberapa figur guru yang melekat dalam ingatan. Kesan tersebut timbul bukan karena apa yang mereka ajarkan tetapi lebih kepada bagaimana mereka memberikan dan menyajikan pelajaran. Betapa menyenangkannya bila wujud pengetahuan yang implisit itu disajikan dalam bentuk yang berbeda dengan analogi-analogi sederhana sehingga lebih mudah untuk dipahami dan dipelajari.

Terlebih lagi, mereka mampu menjadi sosok ikan hiu kecil dan biji kopi seperti dalam ilustrasi diatas. Mereka menjelma menjadi ikan hiu kecil yang tetap mendorong para murid untuk terus belajar tanpa harus bersikap menggurui.

Masa SD, ada beberapa figur guru yang berkesan. Keduanya merupakan guru yang berpengalaman. Pertama, Ibu Dedeh Djubaedah. Kedua, Pak Wahyu Amijaya. Pengalaman dengan Ibu Dedeh berlangsung di kelas V. Untuk teman-teman di kelas, Ibu Dedeh ini dianggap sebagai guru yang judes dan tidak bisa diajak ngobrol. Waktu itu, kami belum bisa membedakan apa itu tegas dan apa itu judes. Kebetulan juga, Ibu Dedeh ini adalah guru yang baru dipindahkan ke sekolah kami. Jadi, kami harus beradaptasi dengan guru yang baru ini.

Buat saya, adanya Ibu Dedeh ini memberikan suatu nuansa baru dalam suasana belajar di kelas. Dengan ketegasan dan disiplin yang tinggi Ibu Dedeh mendorong kami agar lebih berani tampil untuk berpendapat. Kami dibekali untuk tidak menjadi pribadi yang pemalu. Kami juga diajarkan untuk berani berbuat dan tidak takut salah. Suatu hal yang baru saya rasakan sejak awal bersekolah di SD ini.

Begitupun dengan Pak Wahyu. Seperti Ibu Dedeh, beliau juga guru baru sekaligus wali kelas VI. Baru di kelas VI ini kami diberi seorang guru pria. Pak Wahyu sudah cukup berumur waktu bergabung dan menangani kami, murid kelas VI. Pak Wahyu menjadi sosok inspiratif karena beliau mampu menghadirkan suasana belajar yang fun dan berbeda. Beliau benar-benar memancing kami untuk lebih aktif. Kami dirangsang untuk selalu penasaran.

Contohnya, kami sering disuruh untuk membuat pertanyaan mengenai mata pelajaran tertentu untuk saling ditukar di kelas. Mungkin, waktu itu beliau punya definisi sendiri mengenai pengertian CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Sehingga, kami menjadi lebih terpacu untuk bersaing. Pun dengan reward and punishment yang beliau terapkan secara adil, semua itu membuat kami lebih kerasan dalam mempersiapkan ujian EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional).

Memasuki masa SMP, beberapa nama muncul sebagai sosok guru yang tak hanya inspiratif namun juga berdedikasi. Sebut saja Pak Karsa Sudirman, guru olahraga yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip kedisiplinan. Beliau tidak segan-segan menampar muridnya bila melakukan kesalahan, utamanya melanggar peraturan sekolah. Memang tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan begitu saja, namun bila dilihat dari sisi yang berbeda tindakan Pak Karsa itu ada benarnya-untuk mendisiplinkan kami. Suatu bekal yang kelak dibutuhkan dalam setiap fase kehidupan kami selanjutnya. Kami sangat berduka ketika mengetahui kabar wafatnya beliau medio 2007 lalu.

Sosok lainnya adalah duet guru Bahasa Sunda, Ibu Yos dan Ibu Sylvani. Ibu Yos, belakangan lebih dikenal sebagai guru Bahasa Sunda walaupun waktu saya masih duduk di kelas I beliau mengajar Bahasa Inggris. Waktu itu, Ibu Yos mengajar dengan cara yang sama sekali berbeda. Metode belajar yang beliau berikan lebih banyak bersifat interaktif. Tidak jarang beliau memberikan pertanyaan dalam bentuk kuis atau tes singkat yang justru harus diselesaikan dengan berbicara. Maksudnya, kami harus berlomba untuk mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan. Untuk itu, beliau punya catatan tersendiri untuk nilai kami. Untuk saya pribadi, hal itu menjadi suatu tonggak bersejarah karena tampil sebagai juara selama tiga caturwulan berturut-turut. Sebuah rekognisi yang kemudian menjadikan saya mendapat julukan baru sebagai “Kamus Berjalan”.

Ibu Sylvani, guru kelas III yang lebih dari mampu untuk menebak isi hati muridnya. Metode belajar yang beliau terapkan tidaklah berbeda dengan guru kebanyakan. Justru, yang membedakannya adalah sisipan dalam setiap jam pelajaran. Usai memberikan tugas untuk dikerjakan, Ibu Sylvani akan memanggil nama kami satu per satu untuk menghadap ke meja guru. Beliau kemudian menanyakan masalah yang sedang kami hadapi. Saya selalu heran karena beliau bisa mendapatkan informasi yang benar-benar akurat. Beliau seakan menjadi Guru Konseling yang mengerti semua masalah kami dan memberikan solusi untuk mengatasinya. Terutama, masalah klasik khas remaja: percintaan, dan hambatan selama persiapan EBTANAS tingkat SLTP.

Keadaan menjadi lebih semarak di SMA. Sebut saja, Pak Wuryanta yang tidak pernah lelah memberikan kami visualisasi dari aplikasi Fisika dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Nina Dewi, guru bahasa Inggris yang kebetulan “meneruskan” kebiasaan Ibu Yos untuk melatih dan menambah vocabulary. Lalu, Ibu Sri Lelly, guru Matematika yang lebih dari sabar untuk menghadapi kebengalan kami selama Kelas Pemantapan untuk persiapan Ujian Nasional. Untuk saya pribadi, Ibu Enny Suartini dan Pak Hartono adalah dua figur yang berpengaruh besar dalam “karir” saya di SMA.

Sebagai bagian dari Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Pelajaran Sejarah kami harus membuat film mengenai persiapan kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengacu pada sumber-sumber sejarah yang reliable. Ibu Enny mempercayakan saya sebagai sutradara. Suatu keputusan yang tidak akan pernah saya sesali karena selain belajar tentang Sejarah itu sendiri, saya mendapatkan pelajaran tentang banyak hal lainnya. Mulai dari bagaimana memimpin 20 orang yang punya banyak ide, menjembatani setiap perbedaan tafsiran atas teks dalam Buku Sejarah, proses shooting, editing, hingga presentasi di hadapan Bapak Kepala Sekolah. Suatu pengalaman tak ternilai yang tidak akan pernah saya lupakan.

Selama duduk di bangku SMA, saya tidak pernah punya pengalaman apa-apa dengan Pak Hartono. Saya belum pernah mengalami rasanya belajar Matematika dengan beliau. Hanya saja, pesan beliau itu benar-benar saya alami. Menjelang kepindahannya, beliau berpesan “Kalau pengen lulus SPMB, gak usah ikut bimbel (bimbingan belajar), beli buku kumpulan soal lima tahun terakhir, pelajari sendiri di rumah!”. Pesan yang saya yakini betul dan saya lakukan. Hingga akhirnya, saya melihat nama saya sendiri di pengumuman kelulusan SPMB dalam koran pagi itu.

Sebuah Konklusi


Berbekal pengalaman-pengalaman diatas, saya semakin memahami peran sentral seorang guru dalam proses pendidikan. Mereka tidak hanya dituntut untuk memberikan pengetahuan kepada muridnya namun terlebih lagi harus mampu menjadi panutan. Semua guru yang telah saya ceritakan mewakili karakter seorang guru yang mampu jadi sosok teladan, inspiratif, sekaligus berdedikasi terhadap pekerjaannya. Maka benarlah ketika Ki Hajar Dewantara berkata, “Ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru.


Paninggilan, 21 Mei 2012.

Selasa, 11 September 2012

The Battle for Skripsi: Sebuah Kontemplasi

Awal Desember 2007. Saya heran kenapa saya selalu pulang dari kampus sendirian. Biasanya, ada saja kawan yang menemani. Saya selalu ingin cepat pulang. Padahal, tidak ada yang saya kerjakan di rumah. Tugas kuliah pun sudah tidak terlalu banyak di ujung semester 7. Seminggu itu rasa heran saya akhirnya terjawab. Beberapa sahabat mencoba mengingatkan saya bahwa kami harus segera menyiapkan bahan penelitian untuk mata kuliah Seminar. Tidak sampai disitu saja, bahan untuk mata kuliah itu juga nanti akan dijadikan bahasan untuk skripsi.

Saya sangat kanget mendengar kabar itu. Saya bertanya pada diri sendiri, “Halo, kemana aja sih?” Saya tambah kaget ketika menemui sahabat-sahabat saya itu sedang serius mencari dan menuliskan materi yang akan mereka tampilkan di seminar nanti. Akhir Desember ini, paling lambat semua mahasiswa di kelas kami harus sudah selesai seminar semua. Begitu yang saya dengar dari pihak Jurusan.

Saya tidak menyangka bahwa teman-teman saya ini tiba-tiba menjadi lebih aware dan rajin-tidak seperti biasanya. Mereka lebih serius untuk menggarap mata kuliah yang satu ini. Buat mereka yang punya niat lulus cepat tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyiapkan bahan sebanyak-banyaknya dan tak lupa rajin berkonsultasi pada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Seminar.

Saya terus terang tidak punya ide mengenai hal yang akan saya tampilkan nanti. Saya buka kembali catatan-catatan semester yang lalu. Ada beberapa hal menarik yang bisa saya ajukan kembali. Masing-masing berasal dari mata kuliah Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kualitatif. Namun, rasanya tidak kreatif kalau masih mengangkat isu lama menjadi sesuatu yang baru dan hanya berbeda kemasannya saja. Saya jadikan keduanya sebagai cadangan saja, bila nanti tidak juga mendapatkan ide.

Hari-hari berjalan semakin cepat menjelang Seminar. Setiap harinya saya hanya bisa langsung pulang ke rumah setiap selesai kuliah. Sampai di rumah, bukannya buka buku mencari bahan, saya malah tidur. Saya menjuluki diri saya “Kupu-kupu” untuk pertama kalinya. Artinya, “kuliah pulang, kuliah pulang.” Itulah julukan saya pada diri sendiri waktu itu. Saya mencoba lari dari kenyataan. Saya menutupi ketidakmampuan saya dengan melarikan diri dari kenyataan yang saya hadapi.

Sampai suatu hari di tengah bulan Desember, saat akan berjalan pulang, saya melihat kerumunan teman-teman keluar dari Perpustakaan Skripsi. Mereka tampak puas karena persiapan bahan penelitian untuk diajukan di seminar nanti sudah selesai. Sedangkan saya? Oh My God. Where have you been, Nggi?

Saya mengunjungi pondokan kost tempat kami biasa berkumpul. Untuk kesekian kalinya saya kaget lagi. Ternyata, dari semua orang disitu hanya saya yang masih belum menyelesaikan tugas ini. Saya pulang dengan perasaan gondok karena tidak menyangka mereka berhasil mengalahkan saya, dan saya tidak suka itu. Kenyataan memang sulit untuk diterima.

Malamnya, entah dapat ide darimana, saya mengajukan sebuah judul sederhana. Judul yang saya coba hubung-hubungkan dengan contoh skripsi Paman saya. Saya buat outline lalu saya mulai menyusun kerangka usulan penelitian. Lengkap seperti BAB I skripsi betulan.

Saya memang ketinggalan jadwal seminar yang pertama. Sungguh malu sekali rasanya. Nilai A yang bertebaran di transkrip semua jadi omong kosong belaka. Hanya karena saya tidak sanggup memenuhi batas akhir seminar yang pertama ini. Saya merasakan beban dan tekanan yang semakin meningkat.

Dengan sedikit usaha “pendekatan” kepada Dosen akhirnya saya dan lima orang kawan lainnya diizinkan untuk ikut seminar tambahan jilid dua. Seminar yang khusus diadakan untuk kami itu berlangsung menjelang liburan Natal 2007. Saya menjadi peserta terakhir seminar karena saya juga harus menyelesaikan presentasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan Dosen Penguji yang sama. Untuk yang terakhir disebutkan tadi, saya juga jadi peserta terakhir. Saya mahasiswa terakhir di kelas yang melaporkan hasil PKL.



Setelah mendapatkan “ACC” dari seminar kemarin, Dosen Penguji menyarankan kami agar bahan seminar itu dijadikan embrio skripsi. Dengan demikian, terhitung sejak Januari 2008 kami mulai penyusunan skripsi. Awal tahun yang dibuka dengan optimisme untuk tidak mengulangi kesalahan kemarin. Pelajaran dari mata kuliah Seminar kemarin sudah cukup membuat saya belajar untuk tidak lagi menganggap enteng tugas apapun.

Ternyata, meraih kesempatan itu tidak semudah yang saya duga. Dua minggu pertama bulan Januari itu saya tidak mendapat kemajuan apa-apa untuk pengerjaan skripsi ini. Saya memang bertemu dan berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing. Kadang-kadang juga dengan Dosen Wali. Tapi tetap saja tidak ada hasilnya karena saya sendiri tidak tahu apa yang harus saya tuliskan.

Dua minggu itu jadi minggu yang paling memuakkan sepanjang perjalanan kuliah saya. Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saya dilanda frustasi dan kejenuhan. Saya tahu bahwa saya tidak bisa berhenti karena hal itu. Tetapi, saya juga harus segera menemukan solusi agar masalah ini tidak kian larut dan jadi masalah yang baru.

Mau tak mau ku harus
Melanjutkan yang tersisa*

Pada suatu malam, lagu itu mengalun pelan di radio. Saya yang sedang melamun jadi tersentak. Lagu itu membuka hati, jiwa, dan pikiran saya untuk kembali fokus pada apa yang telah saya kerjakan: skripsi. Saya tidak bisa mundur begitu saja. Mau tak mau saya memang harus melanjutkan yang tersisa. Saya akan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. For the love of the game, for the love of my life.

Dengan rasa percaya diri level 10, saya temui lagi Dosen Pembimbing. Paparan saya untuk penelitian ditolak lagi. Ini sudah penolakan ketiga. Artinya, sebenarnya saya sudah kehabisan kesempatan. Tetapi, saya rasa Dosen Pembimbing pun punya pertimbangan sendiri untuk tidak meloloskan usulan saya. Saya masih terus berusaha walau memang tidak menyenangkan sekali rasanya.

Tidak terasa, Februari tiba-tiba datang begitu saja. 14 Februari, hari dimana tiga sahabat saya dinyatakan lulus membuat saya tergugah untuk tidak menyerah. Seminggu kemudian, setelah mengalami lima kali ganti judul, usulan penelitian saya diterima untuk dilanjutkan ke Bab selanjutnya.

Saya terpacu untuk menyelesaikan bab-bab selanjutnya. Saya jadi tidak takut lagi akan kegagalan. Skripsi hanyalah sebuah proses belajar agar kita tahu dimana letak kesalahan kita. Saya tidak perlu takut lagi menghadapi segala macam kritikan, justru itulah yang akan membangun skripsi ini menjadi lebih baik. Seminggu sejak itu, saya berhasil meloloskan dua bab sekaligus. Jam 11, saya ajukan Bab II: ACC. Jam 12, saya ajukan lagi Bab III: ACC. Saya juga tambah heran karena Dosen Pembimbing tidak memberikan argumen apa-apa.

Saya mengulangi hal yang sama tiga minggu kemudian. Agak sedikit lebih lama karena saya harus menganalisa hasil penelitian dan menuliskan kesimpulannya. Entah karena keberuntungan atau memang karena kasihan, kedua Dosen Pembimbing tidak berkomentar apa-apa ketika menyetujui nama saya untuk ikut sidang.

Hari itu, Kamis 27 Maret 2008, saya dinyatakan lulus dengan nilai IPK yang tidak terlalu mengecewakan. Hal ini menjadi pertanda bahwa apa yang telah saya lakukan kemarin itu tidaklah terlalu salah. Saya berhasil mendahului kawan-kawan yang lebih dulu punya ide soal seminar kemarin. Saya berhasil mempertahankan determinasi untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai.

Setelah apa yang saya lalui kemarin, saya belajar banyak hal. Skripsi bukanlah sesuatu yang harus dijadikan beban. Skripsi hanyalah sarana latihan sejauh mana pemahaman seorang mahasiswa dalam menempuh masa perkuliahan. Skripsi pun tidak perlu dianggap jadi momok yang menakutkan karena masih bisa direvisi usai dibantai habis di dalam ruang sidang oleh para Dosen Penguji. Bukankah kesalahan diciptakan agar kita tahu dimana letak kekurangan kita?

Dalam kasus ini, setidaknya saya sedikit belajar juga dari kisah-kisah kebangkitan para CEO dalam memimpin bisnisnya dalam buku “Change”. Ada gunanya juga buku “Change” yang ditulis begawan manajemen kita, Rhenald Kasali. Dari buku itu, saya tahu bagaimana menciptakan perubahan dari dalam diri sendiri. Plus, sedikit wawasan tambahan dari Jack Welch yang berhasil mentransformasikan General Electric untuk kembali ke bisnis inti mereka. Pun, turnaround management yang dilakukan oleh Robby Djohan untuk meletakkan dasar-dasar fondasi manajemen korporasi yang lebih tangguh bagi Garuda Indonesia. Pengalaman memang guru yang paling baik.

Kegagalan bukanlah suatu tragedi kecuali bila memang kita masih terjebak dalam penyangkalan semu. Menerima kegagalan memang tidak pernah menyenangkan. Sama halnya dengan mengakui sebuah kegagalan. Dibutuhkan lebih dari sekedar keluasan jiwa dan hati yang lapang untuk melakukannya. Apalagi mengingat harga yang ditimbulkan dari suatu kegagalan yang sama mahalnya dengan harga sebuah pengalaman. Bangkit dari kegagalan adalah sebuah cermin jujur yang menampakkan kekuatan sejati untuk tetap bertahan dan berjalan. It’s not about the failure but it’s all about how you manage the corrective action and move on after all that happened.


Jakarta, 14 Mei 2012.

* lirik lagu "Mau Tak Mau" dari Jagostu

Sabtu, 11 Agustus 2012

#KotbahTimeline: Ketika Mimbar Jum'at Pindah ke Twitter

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Ramadhan, bulan dimana karakter kebanyakan orang berubah 180 derajat, entah itu pencintaan atau sekedar pencitraan.

Pernahkah kamu melihat seorang Imam shalat Jum'at membawakan ceramahnya dalam bentuk timeline di Twitter? Kalau belum pernah, barangkali buku Kotbah Timeline ini akan mewakili rasa penasaran itu.


Saya pikir #KotbahTimeline ini sengaja dibuat untuk menangkap fenomena trending topic. Dimana, menjelang waktu Jum'atan lelaki yang entah itu memang berniat untuk Jum'atan atau hanya sekedar pasang status Jum'atan sering dikategorikan sebagai 'orang ganteng'.

Jangan heran bila pada waktu menjelang Jum'at tengah hari orang yang Jum'atan itu dielu-elukan karena kadar kegantengan mereka dipastikan naik setelah menunaikan shalat Jum'at. Agaknya, mengenai hal ini masih diperlukan suatu penelitian dan ukuran yang jelas serta bisa dipertanggungjawabkan. Ini adalah soal lain.



Didorong oleh rasa kagum dan takjub memiliki sosok kakek dan ayah yang penceramah, akhirnya pemilik akun @pergijauh ini memutuskan untuk menjadi seorang penceramah. Bukan sembarang penceramah. Perceramah orisinil dengan pemikiran sendiri. Begitu katanya di pembukaan.

Twit ringan yang ditulis @pergijauh ini dibagi menjadi ke dalam 52 bagian. Mengikuti tanggalan kalender. Niscaya, jika #KotbahTimeline ini dibaca seminggu sekali setiap hari Jum'at pun tidaklah terlalu salah. Karena memang diisyaratkan demikian.

Walaupun terkesan ringan dan penuh humor, ada beberapa pesan yang mengandung kedalaman makna namun tidak menghilangkan kesan populis. Seperti penggalan khotbah berikut:
"Jangan terlalu sering mengumbar doa di Twitter, karena sesungguhnya Gusti Allah benci kepada tweeps yang riya' dan suka pamer" (Khotbah Minggu 1)

atau yang ini:
"Jikalau kau berdoa untuk orang lain, sertakanlah namanya dalam doa-mu, janganlah memakai hashtag #nomention lagi." (Khotbah Minggu 3)

"Bahwa sesungguhnya menghargai Tuhan-mu jauh lebih penting daripada memberhalakan agamamu" (Khotbah Minggu 3)

Membaca #KotbahTimeline di bulan Ramadhan seperti ini memang memberikan sensasi tersendiri. Ramadhan memberikan kita kesempatan untuk berintrospeksi diri. Melihat lebih dalam kepada diri sendiri demi mencapai derajat ketakwaan. #KotbahTimeline setidaknya mengingatkan kembali dasar-dasar pemaknaan suatu ritual ibadah yang biasa kita jalani.



Tidak ada salahnya untuk memilih #KotbahTimeline sebagai bacaan seru yang dibaca ketika Jum'at tiba. Seperti halnya memilih agama, dalam membaca buku ini pun tidak ada paksaan atasnya.

Sebuah bacaan alternatif yang lagi-lagi dihasilkan dari fitur sebuah media sosial bernama Twitter. #KotbahTimeline berhasil menangkap fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini di kalangan Twitteriyah dan menuliskannya kembali sebagai 'sindiran' halus.

Demi kebutuhan untuk saling mengingatkan dalam konteks hubungan antara manusia dengan Tuhannya maupun atara sesama manusia yang kian hari semakin renggang dan mudah retak. Hanya karena perbedaan kecil dalam memaknai suatu sudut pandang.

Sebelum tulisan ini ditutup, si penulis buku ini @pergijauh pun tidak lupa memberikan tata cara memakai sarung yang baik dan benar untuk Jum'atan. Pesan saya, jangan sampai mengikuti cara yang salah. Ingat, anda mau Jum'atan!

Judul               : Kotbah Timeline
Penulis             : Abdul Gofar Hilman
Penerbit           : Plotpoint Kreatif Publishing
Tahun              : Juni 2012
Tebal               : 232 hal.
Genre              : Komedi

Pharmindo, 11 Agustus 2012.

Rabu, 30 November 2011

Catatan Mahasiswa Gila: Bacaan Wajib Menuju Indonesia Cerdas 2020

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca catatan mahasiswa seganteng Adhitya Mulya rasanya Seperti membaca kembali buku Kejar Jakarta (2005) dan Travelers Tale (2007). Nuansa komedi dramatis mulai terasa dari cover buku yang cukup konyol. Sepertinya mudah saja untuk menebak isi buku ini. Namun, jangan salah. Don't judge a book by its cover sangat berlaku untuk Catatan bapaknya Aldebaran dan Arzachel ini.


Diambil dari catatan blog dalam rentang waktu 2002-2005 yang sebagian masih bisa dibaca kembali di situs aslinya, www.suamigila.com. Walaupun terkesan ringan tetapi buku yang habis dibaca sekali duduk ini menyimpan banyak hikmah. Belum lagi, semua tulisan didalamnya dibuat berseri dengan judul Seri Penelitian Ilmiah dari seorang Profesor yang nampak tidak bersahabat dengan nasib.

Yang mengesankan adalah fakta bahwa mahasiswa ganteng (baca: gila) ini mampu menghadirkan suasana santai penuh kelucuan sambil memberi kita banyak pelajaran. Misalnya, pada saat akan membuat tiang pancang untuk domba kurban. Sungguh suatu pelajaran hidup yang sepele namun kadang terlupakan.

Simak cerita tentang pertemuan si ganteng dengan kawan lamanya, Hendar. Apakah pembaca setuju bila si ganteng ini berhasil membantu Hendar maka akan menambah kegantengannya? Belum lagi kisah dengan Wiwin, Titin, Mimin, Dimsen, cerita PKL di Batam dan masih banyak kejanggalan semasa kuliah yang berkorelasi dengan menurunnya IP (indeks prestasi).

Favorit saya adalah catatan yang berjudul "Life Happens". Saya sempat membacanya di suamigila.com. Bahkan sampai mengulang beberapa kali. Kalau boleh, dari sekian catatan, saya nobatkan tulisan ini sebagai tulisan paling bermakna untuk saya.

Momen favorit lainnya adalah ketika pemeran Jusuf di Travelers Tale ini bertualang seharian hanya untuk mencari Majalah Pria terbitan Maret 1999 dengan Nyla Bernadette sebagai covernya. Untung saja, Adithya* masih waras untuk tidak meniru gaya Nyla dalam bukunya ini. Salut untuk Dimsen yang rela meninggalkan kelas kuliah demi menemani sahabat gilanya ini.

Masa kuliah adalah masa pengukuhan jati diri. Masa dimana hidup akan ditentukan. Saya rasa, tidak ada salahnya untuk tidak terlalu serius dalam menggarap kuliah. Toh, mahasiswa semacam Aditya* dan Dimsen mampu melakukan reverse engineering untuk meyakinkan dosen pembimbing mereka bahwa mereka layak mendapatkan nilai A tanpa presentasi. Ada momen-momen tertentu yang mengharuskan kita untuk fokus. Namun, ada kalanya hidup tidak melulu serius. Toh, mereka juga akhirnya bisa lulus.

Memasuki akhir buku ini, penulis mengajarkan kita bahwa kuliah itu tidak hanya untuk sekedar kuliah. Ada sesuatu yang harus kita pelajari ditempat lain dengan cara yang lain pula. Ada pergeseran dari nuansa komedi ke nuansa yang lebih kontemplatif. Life is so fantastic. Fortunes available anywhere and it's inevitable.

Judul: Catatan Mahasiswa Gila
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Mahaka Publishing
Tahun: 2011
Tebal: x + 181 hal.
Genre: Memoar

 
 Paninggilan, 29 November 2011.

* Sengaja disalah-salahin, pengen tau kenapa? Baca aja bukunya. Tapi harus beli lho ya supaya bisa jadi Best Seller lagi.

Senin, 05 September 2011

Komik Anak Sekolah Gokil - Bacaan Wajib Menuju Indonesia Cerdas 2015

Rutinitas keseharian dunia pendidikan memang selalu mengasyikkan untuk dijadikan bahan ejekan. Selalu ada saja yang bisa ditertawakan. Mulai dari kelakuan murid dan guru yang tidak pernah bisa akur hingga tindak-tanduk sesama murid yang punya keunikan masing-masing.


Lihat saja aktor utama dalam komik ini, Vannes & Aditas, duet maut geng iseng yang selalu ribut di sekolah. Mereka berdua selalu punya sejuta jurus ampuh buat mengakali Pak Kepsek dan Pak Noodle, Sang Guru Killer yang sangat menyebalkan. Nggak ketinggalan anggota geng lainnya. Si Kosong, yang didiagnosis berpenyakit selalu-dapat-nilai-nol. Si Bebop, gudang jerawat yang bermimpi punya pacar cantik kayak Miss Universe. Xena, si Cewek Kuda Nil--gebetan Anthony si Superkeren, tapi dia malah mupeng dan superngebet sama Vannes.

Komik karya komikus Malaysia ini mengadopsi bentuk komik strip empat panel dengan dua cerita pada satu muka halaman. Bentuk seperti ini mengingatkan kita pada komik strip Garfield yang tampil dengan tiga panel.

Walaupun komik ini diterbitkan pertama kali di Malaysia, tetapi tidak mengurangi esensi dari humor khas anak sekolah. Tidak terlalu berlebihan pula bila kita pada akhirnya bisa menyimpulkan bahwa selera humor orang Malaysia itu tidak jauh berbeda dengan kita orang Indonesia.

Judul : Komik Sekolah Anak Gokil
Penulis : Michael C. Keith
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun : 2010
Tebal : 116 hal.
Genre : Komik


Medan Merdeka Barat, 5 September 2011.

Kamis, 25 Agustus 2011

Beasiswa Erasmus Mundus: The Stories Behind

Mampu menyelesaikan sekolah hingga perguruan tinggi adalah salah satu dari sekian pencapaian yang luar biasa. Namun, bagaimana bila semua itu terjadi justru bukan di negeri sendiri. Eropa, benua yang selalu menebar kekaguman para penikmat sepakbola di seantero jagad. Benua yang pernah mengalami periode pasang surut dalam sejarah keilmuan. Disana pula masih terdapat peninggalan sisa-sisa kejayaan abad pertengahan.

Pendidikan adalah satu faktor utama dalam kehidupan masyarakat Eropa. Maka tak berlebihan bila beberapa negara mampu memberi peluang beasiswa untuk mahasiswa asing dengan jumlah yang cukup besar. Peluang untuk mendapatkan beasiswa di Eropa dapat diperoleh dengan menghubungi perwakilan negara tersebut. Selain itu, ada juga konsorsium dari beberapa negara anggota Uni-Eropa yang mengurusi masalah beasiswa ini yaitu Erasmus Mundus.

Erasmus Mundus diluncurkan pada tahun 2004 dengan cakupan yang lebih luas, termasuk mahasiswa dan akademisi di seluruh dunia. Tujuannya, agar mereka dapat berpartisipasi untuk menempuh studi dan melakukan kegiatan akademis di benua Eropa. Program ini merupakan salah satu kerjasama pendidikan yang digagas Uni Eropa untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di benua Eropa dan mempromosikannya ke berbagai negara di luar Eropa-termasuk Indonesia. Yang menarik dari program ini adalah setiap peserta berkesempatan untuk setidaknya merasakan perkuliahan di dua negara yang berbeda.

Melalui buku ini, pembaca tidak hanya disuguhkan pengalaman-pengalaman alumni Erasmus Mundus dalam menjalani masa-masa perkuliahan saja. Pembaca juga dapat menyimak cerita-cerita lainnya tentang bagaimana perjuangan mencari peluang-peluang beasiswa ke luar negeri, beradaptasi dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat di negara-negara Eropa merasakan pengalaman kuliner di Eropa, lalu tentang tercapainya keinginan seorang ‘wong ndeso’ untuk bertemu bule, perasaan cemburu untuk mendapat beasiswa, kemudian pengalaman menjelajah Eropa seperti Ferdinand Magellan, hingga menemukan filosofi kehidupan dalam segelas jus jeruk.

Semua itu terangkum menjadi satu dalam buku ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari suka-duka masa perkuliahan di Eropa. Cara-cara untuk beradaptasi dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat yang selalu berbeda di setiap negara. Buku ini sangat bermanfaat bagi mereka yang berniat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Buku ini akan mengajarkan beberapa hal penting yang akan membantu mewujudkan impian. Utamanya, impian besar hanya dapat diraih hanya dengan ketekunan dan semangat tidak pernah menyerah.


Judul : Beasiswa Erasmus Mundus: The Stories Behind
Penulis : Dina Mardiana (ed.)
Penerbit : Kurniesa Publishing
Tahun : 2011
Tebal : 193 hal.
Genre : Memoar, Pendidikan


Medan Merdeka Barat, 25 Agustus 2011.

Kamis, 11 Agustus 2011

Manajemen adalah……..

Manajemen bukanlah kita punya sayur-sayuran lantas kita memasaknya. Manajemen adalah tidak punya apa-apa tapi sanggup menyuguhkan sayur kepada orang yang memerlukan.

Manajemen adalah ditiadakan namun mampu menjadi lebih ada dibanding pihak yang meniadakan.

Manajemen adalah kaki diborgol kemudian memenangkan lomba lari melawan orang yang memborgol.

Manajemen adalah sayapmu dipangkas namun mampu terbang lebih cepat, tinggi, dan jauh dibanding mereka yang memangkas sayapmu.

Manajemen adalah hampir tak ada air tapi bisa mandi dan menjadi lebih bersih dibanding pencuri airmu.

Manajemen adalah engkau tak boleh bicara, tak ditampilkan, tak ditayangkan, tak dianggap ada, namun mampu hadir lebih mendalam dan evergreen didalam kalbu orang banyak dibanding mereka yang membunuh eksistensimu atau mereka yang diunggul-unggulkan dimuan-muat ditayang-tayangkan dibesar-besarkan siang malam oleh penindasmu.


Emha Ainun Nadjib – 28 Juli 2010
dikutip dari Kenduri Cinta Official Website

Selasa, 30 November 2010

Membaca Kembali Aki Melalui Manifest

Mengacu kepada judul diatas, rasanya kita tidak akan pernah berpaling lagi pada sosok lain selain Achdiat K. Mihardja (alm). Begawan sastra Indonesia yang menghabiskan sebagian banyak umurnya di Negeri Kangguru sana. Penulis yang juga menghasilkan karya-karya besar lainnya seperti Atheis (Novel, 1949) dan Debu Cinta Bertebaran (Novel, 1973) memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikannya sebagai saksi zaman.

Aki, begitu beliau biasa dipanggil, berumur panjang, sempat menyaksikan epos pasang-surut perkembangan perjalanan bangsa sepanjang penggalan abad ke-20 dan 21. Beliau adalah legenda yang menjelmakan suka-derita Indonesia. Pada kalbunya mengendap falsafah hidup tentang arti kemanusiaan yang mudah beralih menjadi adi-kegetiran jika ketamakan dan kepongahan melalaikan manusia dari misi kemanusiaan.


Beliau terlahir dari generasi yang dipersatukan oleh pengalaman yang sama dengan genersi Intelektual zaman Soekarno. Sama-sama produk awal pendidikan Politik Etis, sama-sama tumbuh dalam gelombang pasang kemunculan dan pertentangan ragam ideologi-politik, sama-sama menciptakan tanda "indonesia" sebagai komunitas impian baru, sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan kelak sama-sama dikecewakan oleh rezim Orde Baru.

Proses pencarian beliau tertuang dalam manifest yang beliau beri nama sebagai "Manifesto Khalifatullah". Melihat kepada penamaan tersebut, menandakan pada proses pencarian untuk menemukan tugas penciptaan. Semua makhluk memiliki tugas penciptaan. Suatu tugas dalam bentuk pendelegasian kasih sayang Tuhan dengan menjadi Khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sayangnya, tidak semua manusia menyadari tugas penciptaan tersebut. karena iblis tidak pernah diam dan tidak pernah mati untuk senantiasa menggagalkan terwujudnya pencapaian tugas tersebut. Begitulah, yang ingin Aki sampaikan melalui manifestnya ini.

Walaupun lebih berbentuk novel, Aki enggan menyebutnya demikian. Aki lebih suka menyebutnya "kispan" alias Kisah Panjang. Ini mungkin disebabkan karena Aki ingin membagi rekaman perjalanan intelektual dan spiritual yang dialaminya. Karena memang tidak mudah untuk menghadapi berbagai pertemuan dan pertentangan dengan aliran-aliran pemikiran yang dianut orang-orang macam Karl Marx, Engles, Siddharta, Adam Smith, dan Nietzsche.

Satu lagi yang membuat manifest ini sungguh berarti adalah bahwa Manifesto Khalifatullah ini ditulisa dalam keadaan mata Aki yang hampir buta. Proses penulisannya pun harus diselesaikan oleh seorang typist komputer. Maka rasanya tidak salah bila dalam testimoninya, Taufiq Ismail mendeskripsikan Manifesto Khalifatullah sebagai semacam rangkaian kuliah penutup tentang makna kehidupan dari seorang Dosen Sastra Emeritus.

Judul: Manifesto Khalifatullah
Penulis: Achdiat K. Mihardja (1911-2010)
Penerbit: Arasy Mizan, 2005
Tebal: 215 hal.
Genre: Memoar


Blok M-Paninggilan, 30 November 2010. 21.05



Minggu, 03 Oktober 2010

Catatan di Minggu Pagi

Menikmati hari Minggu dengan bangun siang tentu sangat menyenangkan. Tetapi, bila dibangunkan oleh raungan mesin dan klakson dari loper koran bisa jadi sesuatu yang mengganggu. Bisa jadi juga satu hal yang tidak menyenangkan. Dan itu terjadi pada saya.

Tentu banyak alasan mengapa banyak orang membaca koran di pagi hari. Ada yang memang karena hanya punya waktu di pagi hari. Ada yang memang kebiasaan baca di pagi hari. Ada juga yang mengikuti formalitas semata, seperti yang Pak Edwin pernah bilang waktu belajar Komunikasi Massa.

Saya tidak pernah punya kolom favorit yang selalu saya tunggu setiap minggunya. Saya tidak mengidolakan satu kolom bagaikan subscribed threads di forum-forum yang saya ikuti. Walaupun begitu saya selalu punya kolom yang setidaknya harus sempat dibaca atau disimak biar kata itu cuma kolom Teka Teki Silang atau pun komik strip seperti Panji Koming.

Saya juga tidak perlu tahu mengapa kolom Sastra, Kesenian, dan Kebudayaan ditempatkan pada hari Minggu. Apakah untuk memanjakan para penikmat sastra, seni, dan budaya yang hanya punya waktu luang di hari Minggu, saya rasa saya tidak perlu tahu juga. Yang saya tahu, dengan mata yang masih pedas saya membaca liputan wawancara tentang kebudayaan bersama Ajip Rosidi. Sosok seorang tokoh dalam ranah sastra daerah dan nasional yang semakin saya akrabi semenjak membaca karya beliau yang berjudul, “Orang dan Bambu Jepang”.

Beliau juga yang semenjak tahun 1999 ikut menggagas Hadiah Sastra Rancage, yang kini tidak hanya terbatas pada penulis Sunda saja, tetapi juga penulis dari Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Perlu dicatat, itu dilakukan beliau tanpa (berharap) dukungan dari Pemerintah.


Beberapa Catatan


"Budaya Tak Pernah Diperhatikan..."

Sejak negara Indonesia didirikan, budaya tak pernah diperhatikan, itu kalau kebetulan pejabatnya mempunyai perhatian.

Kebudayaan hanya embel-embel apalagi sekarang kebudayaan dimasukkan dalam pariwisata, artinya kebudayaan hanya dimasukkan sebagai komoditas yang bisa dijual.

Mereka tidak pernah memikirkan bahwa kebudayaan itu merupakan salah satu bagian dari pembangunan bangsa. Mereka merasa cukup dengan memberikan hadiah pada seniman atau lembaga yang bergerak di bidang kesenian. Hanya itu saja.

Membaca petikan diatas, saya teringat akan sesuatu. Saya cukup miris dengan kenyataan bahwa masalah kebudayaan bangsa yang sejatinya menjadi urusan pemerintah ternyata tidak pernah mendapat perhatian serius dan seringkali terpinggirkan. Zaman Orde Baru, Kebudayaan menjadi satu dengan Pendidikan dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rasanya masuk akal bila masalah pendidikan dan kebudayaan berada satu atap dibawah lembaga yang menaunginya. Setidaknya, pendidikan akan membuat orang tersadar akan masalah khazanah kebudayaan bangsanya. Itu menurut logika sederhanacsaya yang masih perlu diuji keabsahannya.

Sedangkan kini, masalah kebudayaan kembali dipisahkan dengan masalah pendidikan dan dilebur ke dalam urusan pariwisata. Bergabung dalam Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Dari kedua-duanya, kebudayaan tidak pernah mendapat tempat pertama. Selalu berada setelah subjek yang pertama. Hal itu mengindikasikan (lagi-lagi) Pemerintah memang tidak pernah serius mengenai urusan kebudayaan ini. Barangkali, Pemerintah hanya peduli dengan Visit Indonesia Year yang jelas-jelas demi usaha meningkatkan bisnis pariwisata dengan menjual kebudayaan-kebudayaan masyarakat yang layak dijual (menurut hitung-hitungan dagang). Bisa saja, keresahan yang diungkapkan oleh Ajip Rosidi itu benar adanya. Sekali lagi, itu menurut logika sederhana saya yang masih bisa terbantahkan, maklum saya hanya rakyat biasa.

Dari sekian petikan wawancara dalam kolom ini, rasanya saya sependapat lagi dengan beliau mengenai masa depan Indonesia. Saya pesimis? Tidak. Realistis? Ya. Seperti bisa disimak pada petikan berikut:

Bagaimana Anda melihat negeri ini ke depan?
Saya sudah putus asa. Dalam otobiografi saya katakan saya tidak melihat masa depan Indonesia. (Dalam otobiografi Hidup Tanpa Ijazah, Ajip menulis "Aku tidak melihat ada fajar yang akan merekah di sebelah depan yang dekat...")

Apakah itu tidak pesimistis?
Banyak orang mengatakan begitu. Saya kira, saya tidak pesimistis, tapi realistis. Saya tidak mengharapkan yang muda akan mengubah kultur politik kita. Sudah berapa generasi dari '66, '98 yang muda masuk, tapi kalau sudah masuk mereka ikut juga. Saya lakukan saja apa yang dapat saya lakukan, dan saya tidak pernah meminta pada Pemerintah.



Paninggilan, 3 Oktober 2010. 21.15

Sumber Bacaan: Ajip Rosidi dalam kolom Persona, harian Kompas, Minggu 3 Oktober 2010.

Minggu, 30 Mei 2010

Examination 1977 (Haiyang Jiang, 2009)

maka benarlah ketika Muhammad SAW berseru “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”


Ujian Masuk Perguruan Tinggi di China (Semacam SPMB atau UMPTN) dikenal sebagai Gaokao adalah suatu tes yang paling kompetitif bagi seluruh pelajar. Gaokao dinilai sebagai suatu hal yang telah merubah nasib para pelajar yang ingin meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini terjadi lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1977, dimana China memutuskan untuk membuka kembali sistem ujian masuk Gaokao setelah 10 tahun lamanya mengalami Cultural Revolution (Revolusi Budaya). Berdasarkan catatan, lebih dari 5,7 juta rakyat China berusia 15 sampai 36 tahun mengikuti Gaokao pada tahun itu. Kelak, Gaokao 1977 akan mengubah kehidupan mereka (peserta ujian) dengan pencapaian yang mengagumkan di banyak bidang.

Poster Film

Cerita dimulai dengan datangnya berita tentang akan dibukanya kembali Ujian Negara (Gaokao) dimana telah menimbulkan dan memicu ketegangan diantara kelompok pelajar (yang terbuang) yang berasal dari beberapa daerah seperti Beijing dan Shanghai. Mereka ditugaskan untuk bekerja pada ladang perkebunan di Provinsi Heilongjiang, China bagian utara, selama 8 tahun. Beberapa diantara mereka ada yang telah menikah dengan penduduk lokal, dan ada juga yang kehilangan hidupnya karena menghabiskan waktu mudanya di tanah yang begitu asing sementara beberapa orang lainnya begitu ambisius dan berusaha keras untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.

Provinsi Heilongjiang, RRC

Persahabatan yang kuat, cinta dan kebencian antara anak dan orang tua dengan latar belakang politik kontra revolusi, benturan ideologi antara pekerja dan otoritas perkebunan, pilihan yang sulit antara cinta dan kesetiaan, adalah elemen-elemen lain yang disajikan dalam film ini. Pesan lain yang ingin disampaikan film ini adalah bahwa bukan hanya usaha pribadi semata untuk mengubah kehidupannya melalui pendidikan tetapi juga peran Pemerintah ikut mencerminkan penghargaan bangsa terhadap pendidikan dan keinginan kuat untuk memperoleh pengetahuan setelah periode yang chaotic selama satu dekade terakhir. Walaupun menampilkan periode sejarah yang traumatis, film ini cenderung memberikan inspirasi, dorongan serta membangkitkan semangat seiring dengan berakhirnya konflik dan elemen-elemen kemanusiaan yang muncul dari karakter pemain film ini cukup bisa dinikmati.

Potongan Scene dalam Film

China memiliki banyak acara TV atau juga film yang bercerita tentang kelompok pelajar yang terbuang (atau sengaja dibuang, untuk kerja paksa ataupun proyek padat karya) oleh pemerintah pada kurun waktu 1960-1970an. Tetapi, tidak satu pun yang membawa masyarakat China lebih dekat pada kenyataan yang mereka alami. Hal ini tentu saja menimbulkan suatu keresahan terutama pada anggota masyarakat yang turut mengikuti ujian tahun 1977 itu karena barangkali ada fakta-fakta yang kini baru terkuak dan mungkin saja dulu sempat ditutupi oleh Pemerintah China sendiri. Teknik penceritaan yang menggunakan sudut pandang/perspektif realistis dan sangat individual memberikan kontribusi yang besar dalam kesuksesan film mainstream seperti ini.

Cover Film versi DVD

Dengan menyandang nama sebagai film epik rakyat, Examination 1977 merupakan film drama yang sentimental dan telah menghasilkan pendapatan kurang lebih lima juta yuan dalam empat hari pertama penayangannya sejak 3 April 2009 di seluruh China. Film ini diproduksi oleh Shanghai Film Group Corp dan dibintangi aktor veteran seperti Wang Xuebing, Sun Haiying, Zhou Xianxin, dan Zhao Youliang. Film ini adalah film pertama yang jadi pembuka diantara seri-seri film lainnya sebagai bentuk penghargaan terhadap Perayaan Ulang Tahun Negara China yang ke-60 pada bulan Oktober 2009 kemarin.


Selayang Pandang Sejarah China


The Cultural Revolution

The Great Proletarian Cultural Revolution adalah sebuah pergerakan radikal dimana banyak sekolah ditutup, produksi pabrik diperlambat, dan secara kasat mata telah memisahkan China dengan dunia luar. Disebut proletarian karena merupakan revolusi perlawanan kelas pekerja terhadap pemimpin partai komunis yang berkuasa saat itu. Sedangkan, dinamakan cultural, karena dimaksudkan untuk mengangkat nilai-nilai kemasyarakatan komunis. Pergerakan ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan dalam skala yang besar-besaran. Setidaknya, hal ini berlangsung selama dua tahun secara terus menerus dan tidak dinyatakan selesai sampai 1977.

The Cultural Revolution berakar dari perjuangan kekuasaan diantara Mao (Mao Zedong) dan pendukungnya, termasuk istrinya, Jiang Qing, Lin Biao-yang percaya bahwa revolusi telah kehilangan intensitasnya-, orang-orang yang konservatif dan berbagai elemen birokrasi dalam Pemerintahan. Satu isu dalam hal ini adalah Sistem Pendidikan Nasional dan terlebih lagi fakta bahwa anak-anak yang berada di daerah yang maju berkembang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari daerah pinggiran yang jauh dari pusat keramaian. Mao khawatir masyarakat China akan menjadi rigid society maka untuk mencegah hal itu Mao percaya untuk memberikan dukungan penuh terhadap bidang militer dan bidang kepemudaan.

The Four Modernizations

Four Modernizations (4 Butir Modernisasi China) pertama kali disampaikan oleh Zhou Enlai pada Kongres Partai Komunis yang ke 10 tahun 1973, ketika China mulai mengalami pertumbuhan yang lamban dari Cultural Revolution. Kepemimpinan baru dibawah Deng Xiaoping mendapat tekanan besar dengan misi untuk membawa China sejajar dengan Negara-negara maju lainnya. Pemerintahan yang baru terbentuk bertujuan untuk membangun ekonomi China dengan berpegang pada butir-butir dari Four Modernizations, yang tertuang dalam empat bidang utama: pertanian (agrikultur), industri, pertahanan dan ketahanan nasional, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.


Sebuah Perbandingan

Bila dalam film “An Education” (Lone Scherfig, 2009) memotret realitas yang berkembang dalam kehidupan pendidikan ala Barat, pendidikan dianggap sebagai hal yang utama sekaligus juga umum karena beberapa Negara maju di Eropa telah mengalami perkembangan sistem pendidikan yang mapan. Benturan-benturan yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gaya hidup, dimana Perancis sebagai sentral antusiasme di Eropa saat itu menawarkan impian-impian semu bagi kehidupan remaja Inggris di masa itu pasca perang dunia II (1960-an).

Poster Film An Education (2009)

China sendiri, setelah mengalami gejolak politik yang akhirnya berpengaruh dengan adanya Revolusi Budaya dan Four Modernizations, dengan tegas menyatakan kesungguhannya untuk membangun bangsanya melalui pemantapan diempat bidang fundamental. Bidang pendidikan hanyalah salah satu terjemahan dari 4 poin yang termasuk kedalam dalam prioritas Four Modernizations tersebut, yaitu bidang Pertanian, Industri, dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sistem pendidikan yang baru diperkenalkan dan mengikis kesenjangan pendidikan antara penduduk kota dengan penduduk desa.

Semangat itu tercermin dalam film epik sejarah ini dimana setelah Pemerintah komunis China mengumumkan kembali dibukanya ujian masuk bersama perguruan tinggi, banyak pemudi-pemuda yang tadinya hanya pekerja tanpa masa depan di perkebunan-perkebunan yang dikelola Pemerintah Komunis China, akhirnya berhasil untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Realitas ini tidak jauh berbeda dengan situasi pendidikan di Indonesia. Pasca kemerdekaan, sekolah-sekolah negeri menjadi pilihan utama sebagian masyarakat karena biayanya yang tidak terlalu mahal. Namun, setelah diberlakukannya otonomi pendidikan terutama pada Perguruan Tinggi, malah menjadikan ironi bagi negeri ini. Pendidikan bukan lagi barang murah walaupun menyedot anggaran Negara paling besar dalam sejarah APBN. 20% alokasi APBN memang ditujukan untuk bidang pendidikan, namun masalah tidak hanya selesai sampai disitu.

Ujian Nasional tingkat SD, SMP, dan SMA kembali menjadi sorotan terutama karena penilaiannya yang cenderung kuantitatif tanpa memperhitungkan proses belajar. Pun sama halnya dengan Ujian Masuk Perguruan Tinggi, yang cenderung menampilkan keangkuhan dari Perguruan Tinggi yang bersangkutan dengan berlomba menjaring mahasiswa baru melalui Ujian Masuk yang dirancang sendiri. Sungguh ironis, karena Pemerintah hanya bisa membiarkan semua ini terjadi tanpa satu pun intervensi dan kontrol agar kualitas tujuan pendidikan nasional mencapai sasarannya: Membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Tanpa peran aktif dari Pemerintah, pendidikan nasional hanya akan menjadi carut marut yang tak terselesaikan.


Konklusi

Pendidikan adalah satu cara untuk menaikkan taraf hidup masyarakat. Setidaknya, itulah yang menjad dasar bagi pemerintah China saat itu untuk mempercepat kemajuan pembangunan Negara. Peranan pemerintah yang aktif dalam memberikan kesempatan bagi warganya untuk memperoleh pendidikan dasar telah menjadi kekuatan utama dalam pesatnya pembangunan dan kemajuan ekonomi China. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan telah dengan sangat berhasil menerjemahkan semangat Four Modernizations yang dikumandangkan oleh Zhou Enlai.

Agaknya, bila Indonesia mau berkaca pada pengalaman tetangganya dan mau melaksanakan Hadis Nabi yang konon mayoritas pengikutnya tersebar di seantero Nusantara ini, bukanlah suatu keajaiban bila suatu saat pendidikan benar-benar memainkan perannya sebagai elemen dasar dalam kehidupan untuk memanusiakan manusia sesuai dengan fitrahnya.



Paninggilan, 30 Mei 2010. 15.50


* Peta Provinsi Heilongjiang (c) Microsoft Encarta 2009


Minggu, 14 Maret 2010

An Education



Judul : An Education (2009)
Sutradara : Lone Scherfig
Pemain : Carey Mulligan (Jenny), Peter Sarsgaard (David), Emma Thompson, Olivia Williams,
Produksi : BBC


Pada tahun 1960-an, London bisa dibilang sebagai kota yang membosankan, konservatif, dan terlihat sangat ketinggalan dibandingkan dengan kota lainnya di Eropa, sebut saja Paris misalnya. Pada waktu itu, kebetulan sedang berkembang suatu tren yang menyiratkan antusiasme terhadap semua yang berbau Perancis: sastra, musik, literature, film, fashion, bahkan rokok sekalipun. Hal ini tentu jadi fenomena yang cukup berpengaruh pada masanya.

Berlatarbelakang suasana kehidupan masyarakat London periode awal 60-an, An Education sebuah film adaptasi dari novel karya Nick Hornby, bercerita tentang kehidupan seorang gadis remaja yang cantik, pintar,dan juga cerdas dalam usahanya untuk bisa mencapai pendidikan tinggi di Oxford University. Layaknya, anak yang seumuran dengannya yang juga bisa kita temui di Indonesia ini, adalah bahwa keinginan dan dorongan untuk masuk kuliah di perguruan tinggi seringkali dipengaruhi oleh ekspektasi dan harapan orang tua. Begitu pula dengan Jenny, dimana orang tuanya sangat berharap agar ia bisa masuk Oxford dan menemukan calon suaminya disana. Seorang calon suami yang diharapkan tentu saja mapan, kaya, dan hidupnya sejahtera.

Kehidupan Jenny mulai berubah saat ia mengenal David, seorang pria tampan dan mempesona. Mereka kemudian menjadi teman dekat dan mulai berkencan. Dari penampilannya, David terlihat sangat mapan sebagai art dealer dan pengembang properti. Untuk Jenny, David lebih dari sekedar itu. Jenny menaruh perhatian pada pengetahuan David tentang seni dan budaya. David sangat paham dan akrab dengan karya-karya terbaru literatur Perancis dan fashion. Terlebih lagi ketika David mengajak Jenny ke klub jazz hingga akhirnya David benar-benar mewujudkan keinginan Jenny untuk pergi ke Paris. Tak lama kemudian, David melamar Jenny. Jenny menerima lamaran David dan keluar dari sekolah tanpa mengikuti ujian A-level, yang membuat Jenny semakin melupakan Oxford.

Banyak orangtua yang seharusnya khawatir dengan putrinya yang belum dewasa dan baru berumur 17 tahun, tetapi sudah berani memutuskan untuk menikah dengan pria umur 30-an. Apalagi bila sampai harus mengorbankan pendidikannya. Orang tua Jenny nampaknya biasa saja dengan hal itu karena menganggap Jenny telah menemukan pasangan hidupnya yang sudah mapan dan menganggap Jenny tidak perlu lagi untuk masuk Oxford*. Satu-satunya hal yang membuat ayah Jenny keberatan adalah David seorang Yahudi.

Makna judul film ini “An Education” bisa dipahami dari dua sisi. Sebagai karya drama, film ini menceritakan kisah Jenny yang dapat diartikan dalam arti luas sebagai pembelajaran pelajaran-pelajaran hidup. Yang kedua, bisa juga diartikan secara literal sebagai pendidikan formal yang harus ditempuh seseorang melalui sekolah untuk mendapatkan bekal ilmu pengetahuan.

Kepala sekolah dan Guru Jenny tentu menyayangkan keputusannya. Namun, Jenny bersikeras untuk tetap keluar sekolah karena sama seperti yang pernah kita rasakan juga kalau sekolah itu membosankan. Lagipula, Jenny sudah punya calon suami yang mapan sehingga ia semakin yakin kalau ilmu dan pelajaran yang didapatkan dari sekolahnya tidak akan berguna untuk kehidupannya kelak. Jenny keluar dari sekolah karena dirinya menganggap akan mendapatkan pengetahuan yang lebih setelah hidup bersama David nantinya. Jenny memimpikan kehidupannya dengan David di Paris, di tepi sungai Gauche, membaca tulisan Sartre, merokok Gauloises, dan menonton film terbaru keluaran Nouvelle Vague.

Sampai akhirnya petaka itu tiba. David yang Jenny kenal tiba-tiba berubah menjadi “socially awkward” karena ketidakjujurannya. Seketika impian itu hilang dan Jenny sudah terlanjur meninggalkan sekolahnya. Jenny kemudian mencoba untuk membuka kembali hubungan dengan kepala sekolah dan gurunya. Mereka memberikan kesempatan kedua agar Jenny bisa mengikuti ujian A-level sebagai syarat masuk ke Oxford. Akhirnya, Jenny diterima di Oxford dan pergi ke Paris bersama kekasihnya yang lain.

***

Film ini mengangkat isu-isu yang lekat dengan keseharian kita. Utamanya, adalah mengenai pendidikan dan kodrat seorang perempuan. Saya teringat satu judul bab dalam buku “Leaving Microsoft to Change the World” tulisan John Wood: Mengembalikan Anak Perempuan Pada Tempatnya, Sekolah. Seringkali pendidikan untuk anak perempuan tidak dijadikan prioritas melainkan hanya jadi satu pelengkap dan formalitas belaka karena kelak ia akan bersuami sehingga tidak perlu lagi untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.

Inggris dikenal dengan tradisi dramanya yang sangat baik dan sebagai drama Inggris, An Education termasuk kedalamnya. An Education tidak hanya bercerita tentang seorang gadis yang beranjak dewasa dan mencoba memahami pilihan-pilihan dalam hidupnya. An Education juga mengangkat isu-isu lainnya yang berhubungan dengan kehidupan dan gaya hidup kelas-kelas sosial dalam masyarakat modern Inggris pasca perang dunia II, rasisme (anti semitisme, yang bisa dilihat dalam beberapa dialog) serta nilai-nilai dan makna dari pendidikan yang membuat film ini menjadi semakin kaya dan layak untuk ditonton berulang kali.


Paninggilan, Tangerang, 14 Maret 2010, 00.23


* Ini mengingatkan saya pada Nia Ramadhani yang akan resmi sebagai menantu Aburizal Bakrie tanggal 1 April nanti


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...