Tampilkan postingan dengan label etika kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label etika kerja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2012

Books That Have Shaped Your Life

Terinspirasi dari tulisan Rene Suhardono dalam pojok rubrik di sebuah harian nasional, ada beberapa buku yang secara tidak langsung ikut berpengaruh dan berkontribusi terhadap pembentukan kehidupan yang sekarang sedang saya jalani. Utamanya, dalam hal karir dan pekerjaan. Ada beberapa koleksi buku yang memang masuk dalam kriteria tersebut. Sebut saja, Komunikasi Organisasi misalnya. Buku wajib zaman kuliah di kampus Jatinangor tercinta, hanya untuk memahami bagaimana model dan implementasi komunikasi di lingkungan organisasi. Ada juga aneka buku manajemen ringkas yang membahas bagaimana memanage suatu pekerjaan di lingkungan lembaga/perusahaan. Misalkan, “Change!” karya Rhenald Kasali, Jack Welch on Management, What the Best CEOs Knows, Serial Buku Manajemen MarkPlus, dkk.
 
Buku lama berjudul “Manajemen Perusahaan” yang sudah lama sekali saya tidak sentuh lagi adalah buku pertama yang saya coba adopsi ke dalam manajemen diri, terutama dalam hal “leadership” atau kepemimpinan. Sampai kemudian saya menemukan buku lainnya, seperti “Setengah Isi, Setengah Kosong” dan “Kerja Oke, Hasil Santai”. Kedua buku itu, sejauh penilaian saya sampai saat ini cukup memberikan sudut pandang dalam membentuk perilaku kerja dalam karir pribadi.

Setengah Isi, Setengah Kosong
 

Terlepas dari pemaknaan judul, buku ini berisi kumpulan cerita (saya lebih suka menyebutnya hikmah) dimana pembaca diharapkan mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah yang dituturkan dalam buku. Ditulis oleh Parlindungan Marpaung, seorang psikolog yang telah berpengalaman dalam menangani berbagai macam kasus psikologi industri.

Buku ini dibaca pertama kali sekitar medio 2005, waktu masih berstatus mahasiswa sehingga dengan wawasan kemahasiswaan yang masih terbatas saya hanya mampu mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan dalam hubungan inter-relasi di pekerjaan. Pun ketika sempat bergabung dalam organisasi kecil (maksudnya tidak punya banyak staf) ada beberapa pengalaman dalam buku itu yang saya alami. Barulah ketika saya bergabung dengan sebuah company yang melibatkan banyak kepala untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan meraih tujuan bersama, hampir semua hikmah dalam buku itu saya alami.
 
Saya rasakan sendiri manfaat dari buku itu. Saya mempunyai langkah-langkah preventif guna mengantisipasi hambatan dan menyiapkan langkah panjang karir yang saya rintis perlahan.

Kerja Santai, Hasil Oke
 
Kerja Santai, Hasil Oke versi bahasa Inggris
Berawal dari hadiah suatu kuis di radio, saya memilih buku ini. Karena memang tidak ada pilihan lain. Lagipula, judulnya tidak terlalu mengecewakan. Kerja Santai, Hasil Oke. Sepintas terdengar seperti kicauan para dedengkot multi-level marketing dan cukup mendemotivasi pekerja yang masih merangkak dalam karirnya.
 
Buku ini saya dapat sekitar medio 2007 (lagi-lagi masih berstatus sebagai mahasiswa). Dengan bekal pengalaman seadanya di organisasi kecil diatas, saya mulai membandingkan antara isi buku dengan realita pengalaman yang telah saya alami. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan.
 
Ditulis oleh Corinne Maier, seorang ekonom di PLN-nya Perancis, buku ini berhasil mengungkap mengapa pekerjaan berubah menjadi suatu hal yang membosankan dan tidak ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan pribadi. Tentu, ini sangat bertentangan dengan buku-buku motivasi khas Amerika yang menekankan pada motivas untuk produktivitas. Sehingga, dianggap sebagai buku provokatif yang cukup menuai kontroversi.
 
Lebih jauh, diluar semua kontroversi, buku ini tetap mampu dijadikan acuan pengembangan diri karena menggambarkan realita yang sesungguhnya. Realita yang tak mampu diungkapkan secara gamblang oleh kaum pekerja yang selalu dituntut alasan produktivitas. Dengan begitu, kita dibuat mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda tanpa kehilangan esensi.
 
Quote yang selalu saya ingat dari buku ini adalah: “Anda Hanyalah Pion Kecil.” Jadi, bila anda adalah pendatang baru dalam dunia kerja, mohon berhati-hati. Tanpa keluasan hati, anda hanya akan menerima pesan yang tidak hanya dekonstruktif untuk karir tetapi juga efek demotivasi yang yang perlahan menggerogoti jiwa dan semangat anda. Be positive.


 
Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 5 Februari 2012.

Kamis, 26 Mei 2011

Melihat Dari Dalam

Benar apa yang dibilang Pak Direktur. Bahwa kita harus bicara berdasarkan pada fakta di lapangan. Jadi, jangan bicara kalau belum ada faktanya. Itulah pesan beliau di briefing hari pertama sekaligus penyambutan kami. Waktu itu, kami belum paham kemana arah dan maksud pembicaraan beliau.

Namun, kejadian beberapa waktu lalu menjadi cermin bagi kami untuk menyikapi keadaan. Terutama dikaitkan dengan statement beliau tempo hari. Kami harus hati-hati dalam menyimpulkan sesuatu. Apalagi yang sumbernya berasal dari media. Bukan hasil rilis resmi temuan fakta.

Saya sadar bahwa saya tidak bisa lagi menelan bulat-bulat apa kata media. Pun, tidak bisa hanya melihat permasalahan dari luar. Konten dan pemberitaan media terkait dengan suatu tendensi entah apalah itu. Media berlaku seperti itu karena memang punya semacam 'tanggung jawab' (yang selalu) mengatasnamakan publik. Demi keingintahuan dan keterbukaan publik.

Kami pun belajar menganalisa dan membandingkan hasil analisa kami di dalam dengan segala macam pemberitaan di media. Baik itu statement dari otoritas yang berwenang maupun komentar para pahlawan kesiangan. Ada suatu missing context dimana terdapat suatu generalisasi yang tergesa-gesa. Menirukan istilah Pak Agus, pengajar mata kuliah Logika di kampus dulu. Imbasnya, publik dibuat semakin bertanya-tanya dan semakin laku pula komentar para pengamat bidang terkait.

Saya pun merasakan perubahan dalam diri saya. Saya tidak dapat lagi memberikan komentar seenaknya di zaman keterbukaan digital seperti sekarang. Saya memang terhubung dengan berbagai media jejaring sosial yang bisa menyuarakan pendapat saya hanya dengan sekali klik dan mendeklarasikannya secara utuh ke seluruh dunia. Tetapi, kalau yang disuarakan itu hanya pepesan kosong apa kata dunia, untuk apa pula? Saya harus mampu melihat dan menafsirkan konteks dan tendensi dari dua sisi, baik dari luar dan dari dalam supaya memiliki 2 sudut pandang yang berbeda dan objektivitas tetap terjaga.

Walaupun, pada kenyataannya ada saja teman yang mengajak debat tetapi saya harus bertahan dengan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Katakan saya bisa membantah apa kata media diluar sana, tetapi apakah bantahan itu berdasarkan fakta yang validitasnya tidak perlu diragukan lagi?

Saya masih harus tetap belajar agar tetap waspada. Supaya tidak membuat atau terkesan 'curhat' (meniru istilah petinggi negeri kita) atau status update yang semangkin (menirukan gaya mantan petinggi negeri kita-alm) mengacaukan isi hati publik yang memang selalu penasaran dan ingin tahu isu-isu sejelas-jelasnya.

Hanya Tuhan yang tahu dimana kebenaran itu berada, tetapi karena itu pula Tuhan menciptakan akal untuk manusia.



Wallahu'alam bis shawab.



Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 25 Mei 2011.

Kamis, 11 September 2008

Budaya Instan di Dunia Kita - Catatan Seorang Pegawai

Mbak, anda pasti tahu kan kenapa suasana di kantor setiap jam 8 pagi tiba-tiba langsung sepi. Kenapa tiba-tiba teman sebelah meja anda hanya terdiam dan terpaku begitu ketemu komputernya, jarinya terus mengetik sambil kadang tersenyum. Anda heran kalau tiba-tiba begitu? Waktu jalan sebelum masuk ruangan masing-masing rasanya semua masih mengobrol, entah membicarakan gosip yang ditambah resensi tempat buka puasa paling enak atau membahas soal pekerjaan? Saya yakin anda tidak melakukan itu, Mbak. Saya yakin itu.

Begitulah rupanya rutinitas di kantor anda, setidaknya dari yang saya perhatikan akhir-akhir ini. Seringkali saya melihat teman-teman Mbak kelihatan begitu sibuk. Seakan-akan memang banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya bisa lihat itu dari suara jari-jari yang mengetik keyboard Logitech itu. Belum lagi, wajah-wajah mereka yang tampak serius sekali sambil kadang-kadang sedikit tersungging senyumnya.

Saya begitu heran Mbak melihat semua itu. Masalah pekerjaan, pekerjaan macam apa sih yang menghabiskan banyak waktu untuk mengetik? Kantor anda bukan rental pengetikan dan bukan juga tempat orang mengantri untuk bikin surat kelakuan baik kan? Tapi mengapa kok ramai sekali oleh suara keyboard yang kalau saya boleh beri judul "simfoni keyboard #5".

Mbak, kalau bukan anda sendiri yang bilang sama saya, mungkin saya sekarang masih penasaran. Ternyata persoalannya ada pada software instant messaging buatan Yahoo itu ya. Masuk akal. Memang untuk beberapa alasan termasuk etika kerja di kantor, lebih baik menggunakan fasilitas instant messaging kalau hanya untuk sekedar bertanya pada rekan di ruangan sebelah. Lebih enak, feedbacknya langsung, dan yang penting tidak mengganggu orang lain. Bayangkan kalau anda menggunakan line telepon dan ada telepon dari klien untuk anda, bisa jadi masalah baru kan? Belum lagi kalau memang keluar pulsa, berapa uang yang harus dikeluarkan perusahaan untuk semua itu. E-mail. Itu juga memakan waktu, setidaknya ada feedback yang tertunda. Belum tentu juga semua rekan anda itu bisa menggunakan fasilitas e-mail.

Instant messaging. Instant messaging atas nama efisiensi, efektivitas, dan etika kerja. Rupanya, budaya instan masih enggan untuk pergi dari dunia kita, Mbak. Zaman sekarang apalagi untuk anda yang tinggal di ibukota yang katanya metropolitan itu semuanya kalau bisa harus serba instan. Semuanya. Tidak terkecuali. Mau apa tinggal pesan kalau perlu dibeli saja sekalian yang penting cepat dan praktis, begitu anda ucap kata kuncinya, abrakadabra semuanya tumplek blek ada dihadapan anda.

Memang dengan adanya fasilitas itu arus komunikasi bisa jadi lebih efektif dan efisien dengan catatan: selama yang berhubungan dengan pekerjaan. Masalahnya, dalam dunia kita yang serba instan ini apa saja bisa menjadi bahan pembicaraan. Apakah Mbak pernah berpikir bahwa suatu saat nanti blazer lengkap dengan selendang warna merahnya dan juga lipstik warna merah menyala yang selalu Mbak pakai bisa jadi bahan omongan teman-teman yang lain, tentu saja di IM mereka masing-masing. Masih ada lagi yang bisa mereka bicarakan tentang Mbak.

Tentang wangi parfum yang menggoda, tentang sepatu hak tinggi yang selalu bersuara tak tik tuk, tentang celana dalam buatan Victoria's Secret, tentang lingerie yang Mbak beli di La Senza, dan mungkin saja tentang bra yang anda kenakan hari ini yang tentu buatan dari Victoria's Secret juga, semua itu bisa saja tidak luput dari pembicaraan. Lalu, ketika salah seorang teman melihat Mbak sedang makan malam bersama teman Mbak yang pustakawan itu di sebuah restoran mewah dari daerah selatan ibukota dan tiba-tiba saja dengan cepat menjadi gosip di kantor hanya karena teman anda itu memotret anda lewat kamera handphonenya mirip paparazzi. Apakah itu kelakuan seorang teman? Masih layakkah dia disebut teman?

Mbak, anda bisa saja menyangkal semua itu, tapi ketika gosip itu menyebar sebegitu cepatnya dan menjadi pendapat umum, anda mau apa? Anda jawab Ya, berarti anda memang mengakui anda memiliki hubungan spesial dengan si pustakawan itu. Bilang Tidak, berarti anda di cap sebagai orang yang munafik, celakanya oleh rekan-rekan di kantor anda. Ini bisa berbahaya buat kredibilitas anda kan? Kalau saja tiba-tiba ada rekan anda yang ngegosip bareng klien, itu bisa jadi pukulan telak buat anda. Image, Mbak. Image anda akan rusak hanya karena isu-isu yang belum tentu jelas tapi terlanjur matang jadi gosip.

Apa yang mau anda buat kalau sudah sampai pada situasi seperti itu? Ah, rasanya itu tidak mungkin kan Mbak? Saya rasa kebijakan di kantor anda untuk mengembalikan semua pada fungsi dan tempatnya telah berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Sehingga, anda tidak perlu khawatir kalau ada kabar-kabar angin yang berseliweran mampir di IM anda. Saya hanya mengingatkan saja supaya anda selalu berhati-hati. Terutama dengan siapa lawan bicara anda. Bila ada obrolan yang sudah menjurus dan mulai mencurigakan, segera tinggalkan. Karena seperti perang di Kosovo, saya, anda, dan mereka, tidak pernah akan tahu siapa kawan dan siapa lawan kita yang sebenarnya-selain setan- di dunia yang serba instan ini.


Salam dari Bukit,


Bukit Pakar Timur 100, 11 September 2008, 16.35



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...