Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juli 2018

Selamat Ulang Tahun, Aisyah

Aisyah sayang,

Hari ini engkau tepat berusia satu tahun. Persis di tanggal dan hari yang sama dengan hari lahirmu setahun lalu. Hari yang juga penuh dengan ketidaknyaman di hati Bapak karena Ibumu harus menjalani operasi Sectio Caesaria-untuk yang kedua kalinya. Untuk engkau tahu, Ibu belum genap dua tahun setelah menjalani operasi yang pertama. Khawatir memang namun akhirnya dengan rasa sakit yang masih tertinggal, engkau lahir di Rumah Sakit yang sama dengan Mas Aldebaran.

Ini adalah tulisan pertama Bapak setelah Akung meninggal. Ya, Bapak belum sanggup mengetik apapun untuk menggugurkan kewajiban satu bulan enam posting di blog ini. Bahkan, tidak ada postingan atau hanya sekedar draft di bulan Maret. Ada banyak faktor tentang kenapa hal ini bisa terjadi. Biar nanti Bapak urai dulu satu per satu. Biar Bapak menata hati kembali usai Akung tidak ada.

Aisyah,

Memang disayangkan, Akung tidak sampai untuk melihat engkau berulang tahun. Bila Aldebaran adalah mahkota Akung, maka engkau adalah cahaya Akung, yang selalu menyinari langkah Akung. Begitulah kalau diandaikan. Seandainya Akung bisa melihat engkau sudah mulai belajar berdiri sendiri, Bapak berharap Akung sedang dalam pangkuan Rabb-Nya bersama kedua buyutmu, Eyang Kung dan Eyang Ti. Utimu pun sama, tidak sempat melihatmu beranjak setahun. Uti masih harus menjalani pengobatan usai opname di Malam Lebaran kemarin.

Apapun itu, Bapak dan Ibu selalu mendoakan agar engkau tumbuh sehat dan menjadi anak yang patuh dan berbudi bakti kepada Agama dan Orang Tua. Sungguh tiada hal lain yang membahagiakan Bapak dan Ibu selain doa anak-anaknya.

Ulang tahunmu ini memang tidak semeriah Aldebaran dahulu. Bapak pun hanya bisa pulang malam di hari istimewamu ini. Engkau sudah larut dalam tidurmu yang tenang. Bapak hanya bisa menciumimu dan memegangi tanganmu saja.

Aisyah manisku,

Selamat ulang tahun, sayang. Cepatlah besar dan bersinar, taklukkan congkaknya dunia. Doa kami selalu di nadimu.

Bogor, 2 Juli 2018.
 

Jumat, 30 Juni 2017

Catatan Hikmah (5)

Puasa yang dilakukan dengan benar dan intensif dalam dimensi badaniah, spiritual, intelektual dan mental, menghasilkan kemenangan-kemenangan kepribadian. Idul Fitri disebut Hari Raya Kemenangan karena sesudah 30 hari berjuang, manusia menemukan kemenang­an atas dirinya sendiri. Melalui pendadaran ibadah puasa, manusia dibina untuk sanggup mempang­limai dirinya sendiri, sanggup melakukan pilihan-pilihan terbaik menurut pandangan Allah, baik dalam dalam soal-soal konsumsi hidup, karier, atau apa pun.


Bandung, 26 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Idul Fitri: Kemenangan Personal di 'Tengah Kekalahan Struktural'" dalam buku "Tuhan Pun 'Berpuasa'", Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Catatan Hikmah (4)

Kalau menjalani Idulfitri dan mudik ke Tuhan, satu-satunya jalan ya memakai cara pandang Tuhan. Materi, kekayaan, tumpukan modal, citra, hamparan uang, pangkat, jabatan dua periode, semua yang tampak mata, adalah mata uang yang tidak laku di dalam pola berpikir Idulfitri, yakni di hadapan Allah. Kita ini hidup di hadapan Allah: emang ada tempat selain itu untuk hidup?”.


Bandung, 25 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Mudik ke Rumah Fitri", dipublikasikan di www.caknun.com, diakses pada 25 Juni 2017.

Jumat, 09 Juni 2017

Catatan Hikmah (3)

Kita semua perlu belajar kepada Cak Nun bagaimana seharusnya memahami semua itu menurut al-Quran
Sumber gambar: caknun.com
Yang membedakan Islam dengan kebudayaan, Islam dengan industri, Islam dengan selera pribadi, Islam dengan kepentingan politik, Islam dengan segala macam acual nilai ciptaan manusia adalah akar dan sumber pertimbangan dari kemaslahatan dan kemudaratan itu. Bagi Islam, maslahat dan mudarat itu didasarkan pada nilai Allah. Pada yang lain, dasarnya adalah sumber-sumber kepentingan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan sunnatullah dan iradatullah.
Jakarta, 9 Juni 2017

Penggalan artikel “Matriks-Lima dan Asas Maslahat-Mudarat” dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Senin, 05 Juni 2017

Catatan Hikmah (2): Perlunya Ilmu Kematian

Kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. Perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar; dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Sumber gambar: caknun.com

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bias mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi –katakanlah-kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.


Jakarta, 5 Juni 2017.

Potongan dari artikel "Perlunya Ilmu Kematian” dalam buku, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Jumat, 02 Juni 2017

Catatan Hikmah (1)

Karena tanda orang kaya adalah ‘merasa cukup’ dan tanda miskin adalah ‘merasa belum cukup’? Maka puasa hadir ke dalam kepalamu tatkala pikiranmu bertanya:

“Benarkah aku perlu makan di restoran semahal itu?”
“Benarkah ada sesuatu yang prinsipil yang mengharuskanku membeli barang ini?”
“Benarkah ada padaku kewajaran nilai yang mewajibkanku merebut pemilikan saham-saham itu?”

Sumber gambar: caknun.com
Maka puasa merasuk ke dalam dadamu ketika mulutmu berbisik ke telinga nuranimu sendiri.

“Apakah memang aku harus mengambil political decision yang sedahsyat ini, yang dampaknya adalah kesensaraan sekian banyak rakyatku sendiri?”
“Apakah aku memang wajib mempertahankan kekuasaan ini demi sesuatu yang mendasar dan berorientasi kepada kepentingan mayoritas rakyatku?”
“Sampai kapan aku akan mendalangi semua itu dengan keyakinan bahwa ini semua adalah yang terbaik bagi masa depanku sendiri serta masa depan keluargaku sendiri?”
 

Jakarta, 2 Juni 2017.
 
Potongan dari artikel ‘Puasa dan “Tarikat Wajib” dalam Kebudayaan’ dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.


Rabu, 10 Februari 2016

Top Words

Don’t tell me sky is the limit because there’s already foot steps on the moon 
– Calvin Kizana

Courtesy: www.goodreads.com

Katanya, pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, bila harus menunggu pengalaman pribadi, berapa lama kita akan mendapatkan pelajaran dan hikmah itu? Beruntung, Billy Boen mau menulis 21 kisah inspiratif dari orang-orang muda yang impactful serta berkontribusi positif dan nyata bagi lingkungan di sekitarnya. 

Billy Boen merangkum kisah sukses dan perjalanan karir mereka. Kontributor dalam buku ini adalah bintang tamu yang sengaja dipilih dan dihadirkan oleh Billy Boen dalam acara radionya dalam kurun waktu 2009-2011. Beberapa nama barangkali sudah tidak asing lagi bagi pembaca, sebut saja Andrew Darwis, founder Kaskus Network dan Yoris Sebastian, Chief Creative Officer OMG Creative Consulting. 

“Top Words” berisi kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana cara memimpin, cara berpikir, dan memiliki karakter-karakter pemenang. Maklum saja, mayoritas para kontributor ini adalah pemimpin di organisasinya masing-masing. Cakupan bidang industri mereka pun cukup luas, dari mulai industri fast-moving goods, media, dealership, digital creative media, food and beverages, hingga consulting firm. Dengan begitu, Billy Boen telah menyajikan hidangan ‘siap saji’ berbagai varian menu untuk kita nikmati.

 Membaca pengalaman orang lain dengan cara “Top Words” adalah bentuk pembelajaran yang paling cepat, murah, dan efektif. Kita dapat belajar dengan cepat bahwa orang-orang sukses memiliki determinasi tinggi pada tujuan yang ingin mereka capai. Selain itu, nilai-nilai yang bersifat personal seperti rendah hati, willingness to learn, dan kreativitas menjadi nilai tambah yang cukup kontributif.

Personally, saya suka sekali kutipan diatas dari Calvin Kizana, CEO PT. Elasitas Multi Kreasi. Seakan mengingatkan bahwa pencapaian itu harus selalu lebih tinggi. The sky is not the limit, karena sudah ada tapak jejak manusia di bulan. Itu pun kalau teori konspirasinya dilupakan sejenak, barangkali.

Judul    : Top Words
Penulis    : Billy Boen
Penerbit: B-First
Tahun    : 2013
Tebal    : 194 hal.
Genre    : Motivasi

Cipayung, 9 Februari 2016.

Kamis, 29 Oktober 2015

Tingkah Laku Juha

Orang yang menjual asap makanan, ia akan mendengarkan bunyi uang receh

Barangkali, pembaca sudah mafhum dengan Nasruddin. Dalam beberapa riwayat dinamai juga dengan Nashiruddin Juha atau Nasyruddin Hoya. Kisah-kisah tentangnya telah mengalami pembauran antara Juha yang berkebangsaan Arab dan Juha yang berkebangsaan Romawi sehingga ada sebagian kitab yang berpendapat bahwa Juha ini adalah kisah-kisah fiktif.


Nashiruddin Juha adalah seorang tokoh yang entah bagaimana dalam beberapa kisahnya selalu digelari sebagai seorang sufi. Syekh Nashiruddin sangat piawai dalam memerankan gurauan dan canda yang berguna. Didalamnya, seringkali terselip falsafah hidup yang kalau dapat kita renungkan, kita akan mampu berproses menjadi manusia yang baik dan sempurna.

Buku ini merupakan terjemahan dari "Nawaridu Juha Al-Kubra" karya Dr. Darwisy Juwaidy dan diterbitkan oleh Ad-Daarun Namudzajiyah Lit-Thiba'ah Wan-Nasyr pada 1432H/2011. Ada 388 kisah jenakan yang menyentil keseharian hidup kita. Humor yang disampaikan Syekh Nashiruddin adalah humor yang menyindir, menyadarkan, sekaligus mengibur. Ia seakan membuktikan bahwa nilai-nilai mulia dalam kehidupan dapat dibuat dengan sedemikian rupa sebagai sarana dakwah. Tanpa harus mengajari.

Catatan Singkat
 
Personally, saya sangat menyenangi tokoh yang di buku yang saya punya dinamai Nasyruddin ini. Saya sudah terbiasa dengan lawakan dan guyonan beliau dalam buku kecil itu-saya lupa judulnya. Kisah-kisah singkatnya selalu penuh makna dan falsafah hidup yang dalam. Bahwa dalam kesederhanaannya, Nasyruddin memiliki tingkat kesufian yang sudah sangat tinggi.

Saya menyadari betul bahwa buku ini merupakan buku terjemahan. Sehingga, saya tidak kesulitan menemukan alasan mengapa saya kesulitan memahami kisah-kisah jenaka Syekh Nashiruddin Juha. Apakah ada kaitannya dengan Nasyruddin yang ada di field of experience saya sebelumnya? Barangkali, benar adanya.

Anyway, "Tingkah Laku Juha" dapat menjadi alternatif bacaan hikmah. Sesekali pembaca mungkin saja dibuat maklum atau nyengir dengan kelakuan Syekh Nashiruddin. Agar lebih mengena, sediakan waktu sejenak usai membaca tiap kisah pendek beliau. Hal ini diperlukan agar pembaca dapat meresapi lebih mendalam pesan yang ingin disampaikannya. Sejalan dengan firman Tuhan: terdapat pelajaran (hikmah) untuk mereka yang berpikir.

Judul           : Tingkah Laku Juha
Penulis        : Dr. Darwisy Juwaidy
Penerbit      : Penerbit Salsabila
Tahun         : 2012
Tebal          : 376 hal.
Genre         : Agama Islam-Hikmah

Dharmawangsa, 29 Oktober 2015.
Pulang dari rumah Pak RT

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...