Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Maret 2017

Kaldu Ikan

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak tahu mengapa karya yang cukup bersejarah ini dinamai ‘kaldu ikan’. Entah karena memang dalam konteks perayaan setengah abad hubungan bilateral Indonesia-Jepang sehingga untuk menghormati kebiasaan makan ikan orang Jepang dipilihlah judul itu. Sejatinya, kaldu adalah hasil turunan dari produk protein hewani. Maka dari itu, untuk mengambil simpulan yang lebih sederhana kita anggap saja kalau kaldu ikan ini adalah hasil turunan dari dialog dan dialektika kebudayaan dua negara sahabat, Indonesia – Jepang. Ada pendapat lain? Silakan. 

Komik yang bertajuk ‘Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang’ adalah sebuah karya kolaboratif. Proyek ini digagas oleh Takahashi Mizuki dan Ade Darmawan untuk menerbitkan buku kompilasi komik di Indonesia yang merupakan karya seniman Indonesia dan Jepang. Komik ini diterbitkan sebagai bagian dari “KITA!!: Japanese Artists Meet Indonesia” yang diselenggarakan untuk merayakan 50 tahun hubungan diplomatic bilateral Indonesia-Jepang. Pameran itu juga diikuti oleh 50 seniman yang aktif dan giat berkespresi di berbagai bidang, mulai dari seni, desain, manga, hingga tata boga.

Menariknya, komik ini juga bisa didapatkan secara gratis di berbagai lokasi pameran di Jakarta (The Japan Foundation, ruangrupa), Bandung (Selasar Sunaryo Art Space), dan Yogyakarta (Museum Nasional Yogya, Rumah Seni Cemeti, Lembaga Indonesia Perancis, Ruang Mes 56). Selain itu, anda bisa mendapatkan komik ini langsung dari komikusnya. Walaupun gratis, komik ini hanya dicetak 3000 eksemplar saja. Saya beruntung jadi satu dari 3000 orang pemilik komik ini.

Ide komik ini digagas oleh Ade Darmawan (curator ruangrupa) dan Takahashi Mizuki yang seorang seniman asal Jepang. Takahashi, menyinggung soal komik Jepang yang tidak diimpor oleh Indonesia. Komik buatan seniman Jepang dalam ‘Kaldu Ikan’ ini bukan diciptakan atas dasar strategi untuk mengincar kesuksesan eksplosif secara komersial. Oleh karenanya, tidak mudah untuk diekspor dan impor. Selain itu, identitas gaya ekspresi yang khas dan tetap memiliki jalur akses pada sastra, kesenian, desain, dan sebagainya itulah yang menjadikan keempat komikus ini mendapat tempat di perayaan ulang tahun bilateral Indonesia-Jepang.

Sementara, Ade Darmawan menganggap terbitnya komik kolaborasi ini sebagai energy baru dari sebuah pertukaran gagasan interdisiplin yang intens sehingga pengkayaan gagasan dari disiplin lain terjadi. Komik harus mempunyai keluasan wawasan dan kontekstualitas. Kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya seperti sastra, social-politik, sejarah, arsitektur, filsafat dan lainnya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya komik yang kaya akan gagasan lain selain “menggambar”. 

Pilihan keempat komikus Indonesia dalam komik ini adalah karena masing-masing dari mereka memperlihatkan keberagaman pendekatan yang sangat kuat dalam bertutur melalui gambar yang telah secara intens mereka lakukan dalam waktu yang cukup lama. Gambar hanya sebuah pintu awal yang atraktif dalam mengundang kita ke lapisan-lapisan gagasan lainnya. Bila anda menginginkan sebuah nama besar, Beng Rahadian ada dalam deretan komikus “Kaldu Ikan”.

Untuk saya pribadi, komik ini justru terbit usai selesainya skripsi komik saya. Sehingga, saya tidak bisa menambahkan dimensi lain dari seni komik Jepang (manga) dan perkembangan komik yang lebih actual di Indonesia. Komik favorit saya adalah komik karya Dwinita Larasati yang berjudul “Prajab 12 Desember 2007”. Barangkali, ini terkesan subjektif karena saya mengalami juga yang namanya Diklat Prajab pada Maret 2011. Namun, jauh sebelum Diklat Prajab, saya sudah menyenangi bahasa gambar buatannya. Storyline yang berurut serta ilustrasi yang mengingatkan akan kenikmatan kuliner khas kota Bandung (yang ini alasan subjektif).


Judul           : Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang
Penulis        : Takahashi Mizuki, Ade Darmawan (ed.)
Penerbit       : The Japan Foundation
Tahun          : 2008
Tebal          : 126 hal.
Genre          : Komik

Medan Merdeka Barat, 9 Maret 2017.

Rabu, 19 Agustus 2015

Islam di Mata Orang Jepang

Buku ini adalah buku kedua Hisanori Kato yang saya tamatkan. Sebagai seorang Indonesianis, Sato-san tidak hanya melibatkan dirinya hanya sebatas pengamat. Lebih dari itu, ia membaur dan merangkul banyak tokoh dalam penelitiannya ini. Perlu diketahui juga bahwa tokoh-tokoh yang ditulis dalam buku ini juga ditemuinya ketika menulis karyanya yang lain, "The Clash of Ijtihad".


Tulisannya tentang agama Islam di Indonesia menarik sekali untuk jadi bahan diskursus. Terlebih, ia mendatangi sendiri para narasumber dengan berbagai latar belakang yang beragam. Mulai dari tokoh Islam moderat, liberal, hingga fundamental. Perjumpaannya dengan Abu Bakar Baasyir adalah satu hal yang eksepsional dalam buku ini. 

Selain bertemu Abu Bakar Baasyir yang seringkali dituduh melakukan serangkaian kegiatan berbau makar, Kato juga menemui tokoh-tokoh lain yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Indonesia. Ia mendatangi Bismar Siregar, mantan Hakim Agung yang terkenal di zaman Orde Baru; dan Mohamad Sobary, peneliti LIPI. Bahan perbincangan dari keduanya, menjadi bahan pengantar memasuki khazanah Islam di Bumi Nusantara.

Selanjutnya, Kato-san menulis pengalamannya ketika berjumpa dengan para tokoh Organisasi Islam.  Sato-san menemui pemimpin FPI, Eka Jaya, untuk mencari alasan dibalik aksi-aksi yang dilakukan FPI. Ia juga mendatangi Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia yang berjuang  mengembalikan sistem kekhalifahan di Indonesia. Dari sisi lainnya, Kato juga bertemu dengan Ulil Abshar Abdalla yang mengibarkan bendera Islam Liberal.

Untuk menyeimbangkan segenap opini yang berkembang dalam buku ini, Kato-san juga memuat catatan pertemuannya dengan Lily Munir. Tentang bagaimana penafsirannya mengenai agama Islam untuk perempuan. Hubungan antara Islam dan Politik kemudian diungkapnya melalui pertemuan dengan Fadli Zon, aktivis mahasiswa yang saat ini bergabung dengan satu partai politik. Terakhir, dan agak panjang, adalah catatan kecilnya ketika bertemu dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI). Saat itu, ia berteman baik dengan Gus Dur dan bicara banyak soal agama islam lokal dan demokratisasi dalam Islam.

Menutup catatan sudut pandangnya ini, Sato-san juga menulis esai singkat tentang perjalanan panjang menuju Islam. Bahwa tokoh-tokoh yang dijumpainya berjuang dengan caranya masing-masing menemukan Islam sebagai jalan hidup menuju kebenaran. Perdebatan mengenai fundamentalisme, liberalisme, feminisme, sosialisme, hingga demokratisasi dalam buku ini adalah nilai-nilai keragaman pemahaman dan pemaknaan atas Islam di Indonesia. 

Dengan demikian, Sato-san telah memberi sumbangan yang amat berarti bagi khazanah Islam di Nusantara. Terutama sejak buku ini berangkat dari tujuan penelitian. Lebih jauh, buku ini merupakan cermin bagi masyarakat Islam di Indonesia. Cermin untuk melihat kembali nilai keislaman kita yang senantiasa kita jalani dan amalkan.

Judul           : Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur, sampai Ba'asyir
Penulis        : Hisanori Kato
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2014
Tebal          : 176 hal.
Genre         : Agama Islam


Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 19 Agustus 2015

Rabu, 04 Juni 2014

Norwegian Wood

I sat on the rug, biding my time, drinking her wine
We talked until two and then she said, "It's time for bed"
The Beatles - Norwegian Wood



Mendengar lagu 'Norwegian Wood milik The Beatles mengalun kembali, Watanabe kembali teringat kepada sosok yang pernah dicintai dan diinginkannya, Naoko. Persahabatannya dengan Kizuki membawanya kepada perkenalan dengan Naoko. Selepas kematian Kizuki, Watanabe menjadi satu-satunya bagi Naoko. Hari demi hari, ikatan mereka bertambah kuat. Tanpa ada pernyataan cinta sekalipun dari Watanabe. Kedekatan mereka pula yang akhirnya mendorong mereka melakukan hubungan intim. Usai malam itu, watanabe kembali ke dunianya, kembali ke kehidupannya semula.

Watanabe bersahat dengan Nagasawa yang dipandangnya sebagai sosok lelaki yang memang punya banyak kesamaan dengannya. Mereka membaca buku dan memiliki selera yang sama. Ketertarikan mereka berpusat pada diri mereka tidak kepada dunia di luar diri mereka. Dari Nagasawa kelak Watanabe akan mengenal Hatsumi-san, kekasih Nagasawa yang dinilainya terlalu baik untuk Nagasawa.

Kehidupan kampus membawa Watanabe kepada sosok perempuan ceria bernama Midori, teman sekelas di kelas drama. Watanabe kemudian mulai dekat dengan Midori yang ternyata memendam perasaan kepadanya. Ketika Naoko menghilang untuk sebuah alasan, Watanabe menemukan sesuatu yang menarik dalam diri Midori.

Watanabe tidak bisa melepaskan kebiasaannya dengan Nagasawa. Bila ada waktu senggang, mereka akan keluar dari asrama dan tidur dengan perempuan yang dijumpainya di tempat minum. Kebiasaan Watanabe itu didasari rasa haus, kesepian, dan kegalauan atas perasaannya. Ia tidak mampu menjelaskan perasaanya sendiri untuk Naoko maupun Midori. Kebetulan, Nagasawa punya cara sendiri untuk melampiaskan itu semua sehingga Watanabe mengikutinya.

Watanabe tetap tidak bisa melupakan Naoko. Maka ketika surat dari Naoko tiba, Watanabe segera merencanakan perjalanan untuk menemuinya. Naoko sedang menjalani penyembuhan di sebuah tempat di daerah pegunungan. Bukan panti rehabilitasi biasa. Naoko berada dalam lingkungan yang menjaga penghuninya dari dunia luar. Sebuah tempat dengan lingkungan yang betul-betul aneh namun tidak bagi Watanabe. Pertemuan kembali dengan Naoko membuat roda gigi kehidupan Watanabe kembali melaju. Watanabe juga bertemu dengan Reiko-san teman sekamar Naoko. Dari Reiko, Watanabe dapat memahami apa yang terjadi pada Naoko. Kelak, Reiko akan menemui Watanabe kembali demi sebuah penjelasan.

Usai berpisah dengan Naoko, Watanabe menjalin kembali hubungannya dengan Midori. Midori semakin menunjukkan perasaan sukanya. Hanya saja ia tidak mampu memahami apa yang terjadi dengan Watanabe. Watanabe sendiri lebih bergairah mengingat ia telah menjanjikan Naoko untuk hidup bersama. Sekeluarnya dari asrama, Watanabe menyiapkan semuanya untuk menyambut kepindahan Naoko. Dan ketika hubungannya berjalan tidak lancar dengan Midori, terjadi sesuatu pada Naoko.

Pada kunjungannya yang kedua ke tempat Naoko, Watanabe tidak melihat sesuatu yang aneh pada Naoko. Melalui Reiko juga, Watanabe tahu bahwa Naoko sering mengalami gangguan bisikan yang dikaitkan dengan kesehatan jiwa. Watanabe mengerti dan memahami tindakan Naoko yang lebih banyak diam itu. Midori pun semakin menjauh dari Watanabe. Midori sadar bahwa ada perempuan lain dalam hidup Watanabe. Ia mengerti itu namun ia tidak dapat menahan perasaannya. Sehingga ketika bertemu kembali dengan Watanabe, ia memutuskan untuk menghilang saja dari kehidupan Watanabe.

Dua bulan Midori menghilang, sementara Watanabe sendiri makin bimbang dengan perasaannya. Ia segera mencari cara untuk dapat menghubungi Midori. Namun semua itu sia-sia belaka hingga akhirnya Naoko menjemput ajal dengan bunuh diri di hutan dalam tempat rehabilitasi. Reiko-san meminta Watanabe hadir dalam upacara kremasi Naoko yang sepi itu. Watanabe semakin dilanda kekalutan hingga ia pun menghilang sementara waktu. Watanabe melakukan perjalanan yang tak tentu arah. Ia naik kereta, menumpang truk, tiduran di tepi toko, berjalan tak tentu arah hingga terdampar di tepi pantai dan menerima belas kasihan dari seorang anak nelayan.

Watanabe sadar bahwa ia harus segera pulang. Kematian Naoko tidak ada hubungannya dengan kekalutan dunianya. Memang benar dunianya kini hampa dengan tiadanya Naoko dan harapan-harapan yang ia simpan bersamanya. Watanabe bergulat dengan dirinya sendiri dan ia memenangkannya. Kematian dan kehidupan adalah dua hal yang berbeda. Ia segera kembali ke Tokyo setelah sebulan menghilang. Ia mencoba menghubungi Midori namun belum berhasil. Watanabe melanjutkan hidupnya dan menerima surat dari Reiko-san yang memberitahunya bahwa ia akan menemuinya. Reiko-san telah memutuskan untuk keluar dari tempat rehabilitasi yang dulu ditinggalinya bersama Naoko.

Pertemuan dengan Reiko-san ini menyingkap banyak tabir seputar kematian tragis Naoko. Reiko-san bersama Watanabe bahkan melakukan upacara kematian Naoko dengan menyanyikan lagu-lagu Beatles yang dimainkan reiko-san dengan gitarnya. Lima puluh lebih lagu mereka mainkan malam itu hingga mereka sama-sama tersadar bahwa mereka saling menginginkan. Mereka menutup malam dengan tidur bersama untuk merayakan Naoko yang sudah tiada dan Reiko-san yang akan kembali mengajar di sekolah musik milik temannya.

Tiba waktunya Reiko-san untuk segera melanjutkan perjalanan ke kota tujuannya. Watanabe kembali berpisah dengan Reiko-san. Keduanya telah mengikat janji untuk saling bertukar kabar. Sementara Watanabe telah memutuskan untuk mencari Midori. Ia berhasil menghubungi Midori dan bercakap-cakap dengannya ketika ia benar-benar tidak sadar dimana ia berada.

Catatan Personal


Norwegian Wood milik Haruki Murakami adalah karya penulis Jepang kesekian yang pernah saya baca. Sebelumnya, saya lebih dulu menamatkan Botchan (Natsume Soseki), sebuah buku biografi Soseki dan Toson, Rashomon milik Ryunosuke Akutagawa, dan Snow Country dari Yasunari Kawabata. Rasa penasaran akan buku ini dimulai sejak saya mulai mengakrabi bacaan-bacaan itu tadi. Namun, saya terus menunda pembacaan karya Murakami ini hingga memasuki pertengahan tahun ini. Saya kembali dilanda rasa penasaran setelah berbincang ringan dengan seorang kawan.

Norwegian Wood saya rasa berhasil mendeskripsikan dengan detail keadaan kaum muda di Jepang pada satu linimasa, akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Kegalauan, harapan, pretensi, ekspektasi kamu muda negeri Sakura terlukis jelas dalam novel dewasa yang mengambil judul lagu dari The Beatles ini. Melalui cerita Watanabe, pembaca dapat menangkap dengan jelas segala gejolak dan gairah anak muda Jepang pada masa itu. Masa muda yang penuh dengan segala hasrat pencapaian dan nafsu pelampiasan. Tak pelak, seks pun ikut menjadi bumbu yang tidak hanya menjelaskan isi cerita namun terlebih sebagai simbol suatu fenomena yang terjadi saat itu.

Murakami memiliki cara yang cerdas untuk menempatkan tokoh Watanabe dalam cerita. Watanabe diposisikan sebagai sosok sentris yang memegang segala sesuatu untuk menentukan akhir cerita. Memang tidak salah bila kemudian pembaca menebak-nebak akhir cerita akan seperti apa. Murakami menempatkan kebingungan, kebimbangan, kegalauan, dan kekalutan sekaligus pada Watanabe. Sehingga, tidak mudah untuk menebak kepada siapa Watanabe akan menentukan pilihan.

Bila pembaca sedikit sensitif dengan beberapa 'clue' dalam cerita tentu akan mampu membuat tebakan yang jitu. Ambil contoh, Naoko kecil melihat sendiri kakaknya meninggal secara tragis dengan menggantung ddiri. Kemudian, apa yang terjadi pada Naoko seharusnya sudah bisa ditebak. Ia akan menggantung dirinya setelah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.

Apapun itu, kiranya Murakami seakan ingin berkata bahwa kebahagiaan itu dicari dengan pilihan. Pilihlah jalan kebahagiaanmu sendiri. Segenap konflik yang terjadi pada Watanabe, Naoko, Midori, Nagasawa-Hatsumi, dan Reiko adalah perjalanan menuju kebahagiaan itu sendiri.

Judul        : Norwegian Wood
Penulis      : Haruki Murakami
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun       : 2013
Tebal        : 426 hal.
Genre       : Sastra Jepang-Novel Dewasa
 
Medan Merdeka Barat, 4 Juni 2014.
Usai makan nasi bebek

Sabtu, 31 Mei 2014

The Person I Want To Eat

Belakangan ini, saya mulai membaca komik lagi. Bedanya, bukan lagi serial komik Jepang seperti waktu masih sekolah dulu. Industri komik tanah air yang sampai saat ini masih dijejali komoditas komik asing memberikan banyak pilihan pada pembaca. Termasuk saya, saya lebih memilih komik yang tamat dibaca sekali duduk. Artinya, tidak harus menunggu edisi selanjutnya dirilis.



Komik terbaru yang saya baca berjudul”The Person I Want To Eat” yang diadaptasi dari judul aslinya “Tabetai Hito”. Komik karya Shin Yumachi ini berisi empat cerita. Temanya sama, masih soal kisah cinta remaja. Overall, keempat cerita dalam komik ini punya benang merah yang sama. Kata cinta yang seringkali tak mampu terucapkan.

The Person I Want To Eat
bercerita tentang Yuu yang mendapat pernyataan cinta dari teman kelas sebelahnya. Kei-chan, sahabat dekat Yuu, yang selalu menganggap Yuu seperti anak kecil tiba-tiba berubah usai kejadian itu. Kei-chan tidak mampu lagi membendung perasaannya. Yuu pun akhirnya menerima Kei-chan.

Afterschool Honey
mengisahkan Satsuki-chan yang ditugaskan gurunya untuk memberi bimbingan pelajaran tambahan kepada Kiyoharu, playboy sekolah yang terkenal. Satsuki-chan menjalankan tugasnya itu dengan rasa terpaksa sebelum akhirnya ia mengakui dalam hati kecilnya bahwa Kiyoharu memang lelaki yang menarik. Seiring jalannya waktu, kedekatan mereka berujung pada pengakuan Satsuki-chan tentang perasaannya.

Let Her Go, mirip satu judul lagu sing-this-song-to-move-on. Yamashita masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya memutuskannya begitu saja demi lelaki lain. Kinoshita yang tahu kejadian itu berusaha untuk mendekati Yamashita. Kinoshita tahu bahwa ia bertindak bodoh. Namun, justru kebodohannya itu mengakhiri penantiannya selama 2 tahun 14 bulan dan 18 hari.

I Fall in Love Over the Window Sill
mengisahkan Fumika yang selalu mendapat kiriman pesawat kertas dari anak lelaki yang memperhatikannya ketika sedang membersihkan halaman sekolah. Lelaki itu selalu muncul setiap gilirannya tiba. Ia bahka menuliskan alamat email pada pesawat kertas kirimannya. Fumika yang begitu senang tidak sengaja mengirimkan pernyataan cinta pada Mibu-kun, anak paling populer di sekolah. Alhasil, Mibu-kun langsung mengajaknya pacaran sehingga membuat heboh satu sekolah.

At the end, kisah cinta yang ditampilkan dalam komik ini memang agak sedikit absurd. Wajar memang rasanya mengingat keterbatasan ruang cerita. Apapun itu, cinta adalah cerita abadi sepanjang masa.

Judul        : The Person I Want to Eat
Penulis    : Shin Yumachi
Penerbit   : PT. Tiga Lancar Semesta
Tahun      : 2013
Genre      : Komik-Romance

Pharmindo, 19 April 2014.

Minggu, 20 April 2014

Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam Pusaran Sejarah

Buku jilid terakhir dari serial Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia dari Rosihan Anwar ini merupakan kelanjutan buku jilid 5 yang berjudul ‘Sang Pelopor: Tokoh-tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa'. Buku ini mengisahkan anak-anak bangsa yang turut mengisi sejarah perjalanan bangsa. Bisa dipahami bahwa mereka terdiri dari golongan aparatur birokrasi/pemerintahan, penggiat budaya, pengusaha, ilmuwan, dan pekerja pers. Khusus untuk yang disebut terakhir, dapat digolongkan sebagai pencerah pada zamannya dengan berbagai sisi kemanusiaannya.



Seperti jilid nomor sebelumnya, buku ini juga merupakan kelanjutan revisi dari buku 'In Memoriam: Mengenang yang Wafat', yang juga diterbitkan pada tahun 2002 oleh Penerbit Buku Kompas. Terdapat pula beberapa tambahan tulisan yang belum termuat pada edisi sebelumnya. Oleh karena itu, pembaca dapat mengenang kembali jasa dan peninggalan (legacy) tokoh-tokoh yang berdedikasi sesuai bidangnya masing-masing sepanjang sejarah Republik hingga meninggalnya mendiang Rosihan Anwar pada tahun 2011 lalu.

Beberapa nama yang ada dalam buku ini diantaranya sudah dikenal karena reputasinya. Sebut saja, Wiweko Supeno; Des Alwi; Sarbini Sumawinata; Sumitro Djojohadikusumo, bapak dan begawan ekonomi Indonesia; Buya HAMKA, ulama legendaris yang juga menghasilkan beberapa karya sastra monumental; Y. B. Mangunwijaya; A. H. Nasution; Maria Ulfah Soebadio, perintis perjuangan membela kaum perempuan; B.M Diah, politisi yang juga pelopor di bidang pers nasional; Hoegeng Iman Santoso yang selalu dikenang sebagai polisi yang jujur dan lurus; hingga Miriam Budiardjo, perempuan ilmuwan perintis disiplin ilmu politik Indonesia. Tak pelak, mereka pun dianugerahi titel ‘Sang Pencerah’ oleh editor.

Banyak nama yang mengisi buku ini. Tak semua nama bersinar terang meski jasa dan pengabdian pada nusa dan bangsa tidak lagi diragukan bahkan sebagian tidak lagi dikenal generasi muda. Lebih jauh, bila pembaca mengikuti serial Sejarah Kecil Indonesia ini sejak awal maka pembaca dapat menemukan keterkaitan antara beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah bangsa. Lebih jauh, pembaca dapat menilai sendiri konsistensi dari pernyataan Rosihan Anwar dari edisi yang satu ke edisi yang lain.

Personally, edisi jilid terakhir ini cukup berkesan. Rosihan Anwar menempatkan para tokoh penggiat budaya dalam satu bagian tersendiri. Budaya dalam hal ini tidak melulu sastra. Perlu diingat bahwa Rosihan Anwar juga menyukai film sehingga konteks budaya yang ditulisnya mempunyai arti budaya dalam konteks yang lebih luas. 

Cerita tentang para tokoh pelopor dalam sejarah pusaran bangsa ini ditulis apa adanya, dengan penekanan pada sisi-sisi kemanusiaan yang menyentuh dan tetap memukau khas gaya tulisan Rosihan Anwar. Lewat buku ini, penulisnya ingin menyampaikan pesan sekaligus menginspirasi khalayak untuk menebalkan kembali rasa kebangsaan yang tengah dilanda erosi dan distorsi.

Judul           : Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia, Jilid 6: Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam 
                      Pusaran Sejarah
Penulis        : Rosihan Anwar
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2012
Tebal            : x + 334 hal.
Genre           : Sejarah-Memoar

Pharmindo, 20 April 2014.

Selasa, 19 Februari 2013

Dua Sastrawan Jepang

Menarik untuk mengetahui selayang pandang literatur Jepang melalui tulisan Edwin McClellan. Penulis secara khusus memang menempuh jalur studi di bidang literatur Jepang. Sehingga, penyampaian tentang kedua tokoh besar dalam sejarah perkembangan sastra Jepang dapat diulas dengan objektif.


Buku ini cenderung berkesan sebagai buku semi-biografi. Natsume Soseki dan Shimazaki Toson dihadirkan dalam fragmen-fragmen kecil mengenai sejarah kehidupan personal mereka. Pengalaman-pengalaman mereka disajikan kembali ke hadapan pembaca mulai pengaruh restorasi Meiji hingga kehidupan mereka selama menempuh pendidikan gaya barat di luar negeri. Beberapa karya mereka menampilkan muatan-muatan perasaan mereka selama periode tersebut. Tak heran bila kemudian Botchan karya Soseki meraih banyak penghargaan dan banyak diterjemahkan di berbagai negara.

Walaupun tulisan penulis tidak secara utuh menghadirkan imaji atas kedua sastrawan Jepang itu namun pembaca memperoleh gambaran penuh tentang kedua sosok sastrawan Jepang itu. Misal saja, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan karya-karya mereka. Menarik karena Edwin McClellan sepertinya sengaja membongkar semua hal yang berkaitan dengan cerita lain dibalik penciptaan karya mereka. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pembaca untuk memahami pribadi personal dan karya mereka secara lebih detil.

Judul        : Two Japanese Novelists: Soseki & Toson
Penulis     : Edwin McClellan
Penerbit   : Tuttle Publishing
Tahun      : 2004
Tebal       : 180 hal.
Genre      : Kesusasteraan Jepang

Bogor, 6 Februari 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...