Tampilkan postingan dengan label surat cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2022

Surat Cinta dari Fuzhou (lagi)

Cintaku,

Hari ini aku kembali ke Fuzhou. Seharusnya aku sudah berada disampingmu, saat ini. Seharusnya aku sudah menghapus peluhmu, Mencium keningmu dengan segenap perasaan. Penuh cinta dan romansa. Sayang sekali, kita tidak pernah bisa memilih takdir. Seperti saat kita menuang segelas bir.

Aku kembali pada suara gemuruh ombak yang sama. Entah berapa juta hari yang lalu. Aku kembali pada angin yang sama. Angin yang terbawa topan Muifa dari arah ShangHai sana. Aku kembali pada aroma yang sama. Aroma perpisahan yang selalu tidak pernah menyenangkan.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi. Apakah kembalinya aku ini meninggalkan jejak pada dia dan dirinya. Aku tidak pernah tahu apakah ini adil untuk mereka. Siapa bilang hidup ini begitu "fair" soal asmara dan membagi hati.

Manisku,

Sudah terlalu banyak perasaan di dunia ini. Setiap saat, setiap waktu, kita menciptakannya. Aku, engkau, kita, mereka, dan entah siapa lagi. Aku kembali menatap lampu-lampu jembatan yang masih sama warnanya seperti saat kutinggalkan. Gemerlap, serupa kilau auramu yang takkan pernah mudah untuk kulupakan.

Sayangku,

Agaknya, kali ini perasaaanku sedikit lega. Aku tahu akan menuju kemana. Aku akan pulang padamu. Kembali lagi padamu. Kembali seperti dulu. Saat desah nafasmu begitu dekat, dan engkau kupeluk erat.

Terimalah salam sayangku yang kesekian juta kalinya. Entah engkau masih mau apa tidak. Aku hanya tahu satu hal. Aku mencintaimu.


dari tempat paling sepi di dunia.
Teluk Haiying, Fuzhou. 14 September 2022

Surat Cinta dari ShangHai

Cintaku,

Akhirnya, aku tiba juga di ShangHai. Sebuah kota yang hanya pernah kita bayangkan. Sebuah nama yang hanya kita kenal lewat film-film Jacky Chan dan Andy Lau. Sebuah nama yang tidak pernah terlintas akan menjadi goresan dalam catatan kecil perjalanan kita. Aku merasakan denyut kota yang sama. Denyut kota yang pernah kita rasakan ketika mengitari Bundaran HI kala itu. Saat senyummu masih selalu menumbuhkan keraguanku.

Begitulah, cintaku. Aku memulai perjalanan yang kesekian kalinya ini di Hari Kemerdekaan Republik tercinta. Aku terdampar di pinggiran kota, namanya Minhang District, mungkin daerahnya seluas kecamatan. Aku akan memulai hari-hariku yang hanya seperti ini untuk entah berapa lama.

Aku teringat pesan darimu dulu. Engkau selalu bilang padaku untuk tidak pernah mengacaukan hari pertama. Hari pertama apapun itu. Aku berusaha memenuhi janjiku padamu itu. Aku jalani hari-hariku dengan selancar-lancarnya.

Manisku,

Hari-hariku disini kemudian adalah hari-hari penuh rindu. Hari-hari dimana suara-suara gemuruh kota selalu membawa ingatan ini kepadamu. Aku titipkan rindu pada angin. Aku titipkan rindu pada gelombang. Namun, mereka semua tidak pernah sampai kepadamu. Katanya, mereka dihantam badai topan di Laut Cina Selatan.

Aku pernah mencoba hilangkan sepi. Aku pergi menuju keramaian kota. Aku menuju pusat cahaya. Aku hanya mampu terdiam dan takjub. Aku takjub pada takdir yang membawaku kemari. Hanya untuk mengingat namamu dan mendoakanmu seraya memohon pada Tuhan untuk jangan hilangkan perasaan ini kepadamu.

Aku berada di tepian sungai terbesar disini. Dengan segala temaram dan gemerlap cahaya kota. Aku hanya merasakan kesepian. Engkau tidak disini bersamaku.

Sayangku,

Sisa perjalananku selanjutnya adalah hari-hari berselimut rindu. Aku menghitung hari. Menit demi menit. Detik demi detik. Tanpa terasa ada satu dan dua hati mengisi hariku. Menemani hari-hari sepi tanpa dirimu. Melewati malam dengan lagu-lagu galau kesukaanmu hingga akhirnya merasukiku. Cukup dalam, namun belum sedalam perasaanku padamu.

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kesalahan. Semakin aku coba untuk sembunyi hasilnya percuma saja: Aku tersiksa lagi. Mungkin, kesalahan ini semakin terasa indahnya.

Pada suatu malam, ketika hujan badai telah reda dan malam semakin meninggi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup semua angin malam yang pernah ada dalam lirik lagu Broery Marantika. Aku hirup semuanya hanya untuk menyuruh mereka agar mau membuka kembali jala-jala kenangan bersamamu. Hasilnya sama saja: Aku galau!

 

Minhang, ShangHai. 10-12 Sept 2022

Surat Cinta dari Fuzhou

Cintaku,

Apakah perlu aku ceritakan tentang mimpi-mimpiku selama disini? Kadang-kadang aku mengalami mimpi yang buruk. Sampai malam tadi pun aku belum pernah bermimpi tentangmu, tentang kita. Tentang apple tree yang just grow for you and me.

Aku selalu bersyukur bahwa aku terbangun pada pagi hari buta disini. Lengkap dengan debur ombak yang berkejaran, di bawah bulan setengah, Teluk Haiying. Tiba-tiba aku rindu pada Bapakku. Entah, tiba-tiba aja. Setiba-tiba waktu aku katakan aku mencintaimu di depan lift itu.
 
Manisku, kau tahu apa yang selalu mengantarkanku pada Bapak ketika aku rindu? Motor tua warna merah itu? Tidak. Motor itu masih ada yang punya dan sudah lima tahun tidak bayar pajak. Apa kira-kira menurutmu? Bee Gees? Ya, kau benar, sayang. Aku selalu membayangkan Barry Gibbs tahun 70-an itu adalah Bapak. Entah kenapa, mungkin karena foto-foto Bapak tahun itu mengikuti gaya rambut 'The Last Bee Gees' itu.

Setelah makan siang, aku mencoba mengulang kembali konser "One Night Only" tahun 1997. Aku pernah menyaksikan konser itu lewat DVD yang dibeli di Pasar Kembang. Pasar bajakan terlengkap sedunia hahaha. Agak sedikit repot memang karena Youtube tidak ada disini. Untung saja, ada satu website yang cukup lengkap. Agaknya, orang-orang China mulai terbuka. Bagaimana tidak? Ada satu orang yang mengunggah video konser berdurasi 110 menit ini.

Aroma nostalgia mewabah dan mengisi ruangan kamarku. Ingatanku mengembara jauh. Jauh ke tahun-tahun dimana Bapak masih menyetel Bee Gees lewat pemutar kaset dan speaker besarnya. Engkau dimana waktu itu, sayang?

Aku jadi teringat kembali padamu. Pada janjiku yang tidak pernah bisa aku tepati. Janji yang tidak jadi bukti how deep is your love-ku padamu. Kau tentu ingat, bagaimana aku berjanji akan menuliskan lirik lagu itu untukmu dan mengirimkannya ke rumahmu. Itu adalah kesalahan. Kesalahan yang aku selalu kenang dan tidak akan pernah aku buat lagi.

Cintaku, manisku, sayangku.

Aroma musim panas disini sangat terasa. Malam begitu hangat. Kadang, kalau sedang melamun aku bicara sendiri pada rembulan yang menggantung di atas sana. Aku tanyakan kabarmu padanya. Aku tanyakan bagaimana harimu padanya. Padahal aku tahu, harusnya aku biarkan bulan bicara sendiri. Seperti kata Broery. Namun, begitulah hatiku. Aku hanya sanggup menelan kerinduan saja setiap malam.

Malam semakin meninggi. Bulan mulai naik perlahan. Deburan ombak berdesir tenang. Lampu kota berkilapan. Lampu suar warna hijau seperti dalam film 'The Great Gatsby' melirik dengan genit. Aku pendam rinduku padamu bersama kata-kata yang entah kapan akan sampai kepadamu dari tempat paling sunyi di dunia.

Peluk dan cium,
 
Teluk Haiying, Fuzhou. 8 Agustus 2022

Kamis, 17 Maret 2016

Kepada Cinta

Courtesy: www.bukukita.com

Tidak ada alasan lain bagi saya untuk membaca buku ini kecuali penasaran dengan surat cinta tulisan Adhitya Mulya. Itu saja. Lainnya saya anggap bonus. Termasuk surat cinta dari Raditya Dika. Maklum saja, buku ini memuat tulisan surat cinta dari para pemenang kontes surat cinta. Tidak melulu soal surat cinta sepasang kekasih. 'Kepada Cinta' menghadirkan cinta yang universal, kepada keluarga, teman, sahabat, bahkan cinta sejenis.

Sebagai seorang penulis musiman dan dadakan yang surat cintanya pernah dimuat dalam satu buku kompilasi, saya sangat menikmati pembacaan buku ini. Tata letak dan tipografi yang beragam membuat tidak mudah bosan dan jenuh. Kalaupun benar jenuh dan bosan, barangkali karena terlalu banyak cinta didalamnya.

Judul       : Kepada Cinta: True Love Keeps No Secret
Penulis    : Adhitya Mulya [et.al]
Penerbit   : Gagasmedia
Tahun      : 2009
Tebal       : 244 hal.
Genre      : Fiksi- Kumpulan Surat Cinta

Cipayung, 16 Maret 2016.

Kamis, 27 November 2014

Surat dari Sanur (3)




My Dearest Ella,

Today must be a long long day for you. Saya tidak tahu apakah engkau sudah sampai ke Jakarta ketika surat ini mulai ditulis. Sejak kereta rel listrik Jakarta - Bogor selalu menyanyikan lagu yang sama. Kereta tiba pukul berapa...

Saya terbangun pagi ini dengan kalender yang menunjukkan tanggal 27 November. Tidak ada apa-apa memang dengan tanggal ini. Hanya saja, ketika saya terduduk lesu penuh kantuk di kloset, tiba-tiba saya teringat pada rencana kita satu bulan lagi sejak hari ini. Hari pernikahan kita semakin menjelang. Bagai gelombang yang menghantam karang.

Siang tadi hujan deras mengguyur Bedugul. Saya tidak mendapatkan apa-apa disana selain basah. Kami hanya menemani rekan kami dari Bhutan itu. Mereka ingin pergi ke tempat eksotis seperti itu. Saya melihat rona bahagia dari pancaran sinar mata mereka. Mereka nampak berbahagia walau hujan deras enggan berhenti sejenak. Keindahan danau yang dikelilingi Pura ini tertutup kabut pula. Mirip Situ Patenggang di Ciwidey sana.

Menjelang sore, kami pergi lagi ke Tanah Lot. Tanah Lot jadi satu tempat lagi yang ingin mereka kunjungi. Dawa menunjukkan foto-foto Tanah Lot hasil Googling kemarin. Ia minta tolong agar saya dan Pak Bambang bicara pada panitia agar diberikan waktu untuk berkunjung kesana. Akhirnya, kami pun pergi kesana. Hujan sudah reda. Namun senja seperti di Sanur kemarin memang langka adanya. Awan tebal yang entah kumolonimbus atau stratokumulus menghalangi keindahan senja. 

Malam ini, bulan sabit bersinar terang. Seperti menggantung di atas lautan tenang. Saya tidak tahu apakah engkau disana memandangi bulan sabit yang sama di langit yang sudah terlalu tua. Saya berjalan-jalan sebentar di tepi pantai usai makan malam. Saya harus mengakui bahwa saya pun mengalami tekanan untuk menyiapkan hari pernikahan kita. 

Dolly Parton pernah bilang, "If you want the rainbow, you gotta put up with the rain." Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini kecuali lautan yang membelah ketika Musa menyeberanginya atas izin Tuhan. Jika kita ingin melihat pelangi di ujung sana, kita harus melalui dan membiarkan hujan berlalu terlebih dahulu. Saya berharap, apapun yang kita usahakan-dengan segala kekhawatiran-akan menjadi pengantar yang sempurna bagi pelangi di ujung senja. Nanti, satu putaran purnama lagi.

Seperti biasa, bersama surat ini juga saya kirimkan riak debur ombak yang menghantam karang di Tanah Lot. Rinduku, lebih dari itu.

Selamat malam kekasihku, semoga malam indah temani nyenyaknya tidurmu.

Penuh rindu,


Affectionately yours.


Tanah Lot-Sanur, 27 November 2014.
H-30

Rabu, 26 November 2014

Surat dari Sanur (2): Episode Senja



Selamat malam kekasihku,

Akhirnya, saya menjumpai senja pertama di Sanur. Tadi pagi hujan deras dan siang begitu panas. Usai kelas sore tadi, saya berlari seperti biasa. Kemudian, masih dengan keringat yang bercampur asin laut, senja tiba perlahan. Mendekatkan cahayanya yang selalu menimbulkan perasaan ajaib. 

Rasanya, saya tidak perlu jadi seorang Sukab. Menggunting sepotong senja untuk kemudian mengirimkannya pada satu yang terkasih, Alina. Saya rasa saya tidak akan melakukannya untukmu. Bahaya besar akan menimpa umat manusia bila sampai senja di Sanur saya gunting dan paketkan supaya engkau bisa memajangnya di meja kerjamu. 

Cintaku,

Hari ini semua modul sudah selesai disampaikan. Artinya, tugas instruktur sudah selesai walau masih harus memeriksa ujian Jum'at esok. Percayalah, bahwa aku pun sebenarnya ingin pulang saja dan segera menemuimu. Berbincang santai denganmu seraya menyelesaikan semua persiapan untuk pernikahan kita nanti yang tinggal menghitung satu purnama lagi. 

Senja ini menuntun pada lamunan tentangmu. Sejauh mana pun saya berlari, ia akan selalu menuntun kepadamu. Saya memang terlalu angkuh untuk mampu menuturkan kata lewat jaringan Indosat. Tapi jangan sekali-kali engkau pikir aku tidak pernah ingin berusaha ada di dekatmu. Membenarkan letak kerudungmu sambil menemanimu minum teh. Ya, kalimat itu tadi sengaja saya adaptasi dari puisi Soe Hok Gie. Beruntung kita masih diberkahi dua jemari yang sehat untuk memijat layar sentuh yang juga ajaib itu. 

Ella yang baik,

Sejenak saya termenung di hadapan laut yang membentang. Langit masih berwarna keunguan. Laut yang terhampar dan bergelora itu mengajari saya bercermin. Tubuh kita ini hanya perahu pada dunia dan angin waktu. Entah, suasana senja yang selalu menghadirkan perasaan menakjubkan ini membuat diri saya terkesiap dan tiba pada pikiran seperti itu. Entah apa maknanya, saya harap Ella mengerti, satu saat nanti. 

Disini, saya kirimkan juga potret senja sore tadi. Kiranya, engkau mampu menafsirkan sendiri senja macam apa yang mampu menenangkan dalam riak gelisah berulang. Apakah senja serupa dengan kesedihan yang sama, bila hanya untuk dinikmati sendirian?

Penuh cinta dan peluk hangat,


Afrectionately yours. 



Sanur, 26 November 2014. 
Teringat pada cerpen "Sepotong Senja Untuk Pacarku"

Selasa, 25 November 2014

Surat dari Sanur




Dear Ella,

Belahan jiwaku, apa kabarnya engkau disana? Apa ada bedanya satu purnama di langit Jakarta dengan di Sanur? Walaupun bulan belum purnama, bayangkan saja pertemuan Cinta dan Rangga yang ternyata tidak lagi shooting di Soekarno-Hatta. Seperti halnya demam Korea,  mereka juga shooting di Incheon Airport. Satu airport hebat di benua kita ini. Saya mengalaminya sendiri. Engkau pun tahu itu.

Denting waktu rupanya berjalan merambat cepat di Sanur. Matahari terbit lebih awal. The sunrise always reminds me of you. Merekah seolah senyum yang menyapa pagi saya disini. 

Saya belum mencoba lari pagi disini. Tapi kemarin sore, saya sudah berlari di sekitar pantai. Tak perlu repot, saya hanya perlu pergi berlari lewat belakang hotel. 

Perlu Ella tahu, keringat saya disini bercampur dengan angin laut. Radanya sedikit asin. Bila engkau disini, pasti tahu macam apa aroma badan saya ini. 

Hari ini saya dibuat percaya lagi bahwa hukum tabur tuai itu ada. Dua tahun lalu, saya dengan gagahnya menjadi seorang perwakilan untuk mengikuti training SMS di Medan. Tinggal di kamar deluxe hotel bintang lima selama seminggu. Saya tidak pernah menyangka bahwa setahun kemudian saya menjadi seorang fasilitator di training serupa. 

Tahun ini, saya dipercaya untuk menjadi instruktur. Saya diberi tanggung jawab untuk menyampaikan tiga modul materi. Hazards, SMS Introduction, dan SMS Regulations. Seorang rekan sekelas alumni Medan dua tahun lalu juga ikut jadi instruktur. Kami bertiga berusaha memberi apa yang kami tahu sekaligus menambah jam terbang. 

Malam ini, diiringi nyanyian desir lembut ombak di pantai, saya merenungi hal ini. Kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa nasib waktu. Kita tidak pernah tahu kemana angin berhembus. Persimpangan takdir telah membawa saya pada sebuah pengalaman. Seperti yang sedang saya alami saat ini. 

Ella yang baik,

Usai percakapan kita malam ini, ada sesuatu yang tidak pernah bisa saya bendung. Rindu. Rindu pada binar mata juga hangat senyummu. Kelak, itulah yang akan selalu membawa saya pulang. 

Seperti kata seorang penyair, rindu adalah belajar memeluk, sekalipun tak nampak di pelupuk. Izinkanlah saya mengakhiri surat ini dengan sebuah pelukan paling hangat. Semoga mampu menghangatkan malam di peraduanmu usai hujan di langit Jakarta yang tak pernah tua. 


Peluk rindu,



Affectionately yours. 



Sanur, 25 November 2014. 
dihujam rindu, di pinggir pantai. padamu

Selasa, 29 Juli 2014

Surat dari Gyeongbokgung

Annyeonghaseyo,
 
Dear Ella...
 
Hari-hari saya disini sebentar lagi usai. Ella mungkin membayangkan saya bertemu dengan artis macam Jun Yong Hwa atau Lee Min Ho. Jangankan mereka, saya pun gagal bertemu Shin Min Ah dan Lee Yo Won. Selebihnya, sisa waktu kami disini masih berkutat soal sejarah peradaban bangsa Korea.
 
Sejarah bagi saya adalah hal yang sangat penting untuk menandai keberadaan kita di dunia ini. Masa depan dibangun dari puing-puing sejarah. Sejarah selalu hadir untuk kebutuhan saling mengingatkan. Sejarah selalu ada untuk kita berkaca, berkontemplasi, dan menatap diri lebih dalam.

 
Kami mendatangi Istana Raja Korea Purba bernama Gyeongbokgung Palace. Aroma sejarah kian pekat dari angin yang berhembus menempa. Istana ini dibangun pada tahun 1395 pada masa Dinasti Joseon. Gyeongbokgung sendiri berarti “the palace greatly blessed by heaven” atau istana yang diberkahi. Istana Gyeongbokgung ini membantu saya melihat akar tradisional bangsa Korea dengan segala keasliannya.
 
Raja sengaja memilih lokasi Istana Gyeongbokgung tepat di jantung Seoul. Pemilihan tempat ini didasari penghitungan fengshui mereka yang meyakini bahwa Istana yang didepannya mengalir Sungai Han dan dilindungi oleh Gunung Bugaksan dan Gunung Namsan di bagian belakang.
Bentuk bangunan dan interior yang masih utuh nampak terawat.Saya membayangkan bagaimana raja duduk disana bersama dengan para pengawalnya. Lalu bagaimana Raja mendatangi kamar Sang Permaisuri demi mendapatkan buah cinta mereka.
 
Bangsa Korea memang niat sekali melindungi sejarahnya. Bangunan ini memang nyaris dibumihanguskan semasa pendudukan Jepang. Namun, Pemerintah Korea sengaja merevitalisasi bangunan ini agar mampu menghadirkan kembali bagian sejarah bangsa yang terancam musnah.


Sebelum beranjak menuju N Seoul Tower, kami mengunjungi ‘The Blue House’ (‘Cheonghwadae’ dalam bahasa Korea) tempat tinggal Presiden Korea. Suasananya agak mirip Istana Bogor. The Blue House sendiri terletak di bagian selatan Istana Gyeongbokgung. Saya menyimpan tanya, apakah penamaan bangunan itu mengikuti bangunan kepresidenan Amerika Serikat yang lebih dahulu masyhur dengan nama White House. Entahlah.
 
Kami pun menyinggahi sebuah museum bertajuk Cheonghwadae Sarangchae yang dari jauh terbaca oleh saya sebagai Cheonghwadae Saranghae. Seketika Gina membenarkan ucapan saya. saya tertawa kecil, karena mudahnya untuk mengucapkan ‘saranghae’ pengaruh dari Hallyu (Korean Wave) di negeri kita tercinta.


Cheonghwadae Sarangchae sendiri adalah sebuah tempat yang nyaman untuk mempelajari tata hidup dan pencapaian-pencapaian Presiden Korea terdahulu, dan juga untuk memahami tradisi kultural bangsa Korea. Layanan dalam bahasa non-Korea, seperti bahasa Jepang, Inggris, dan China bisa didapatkan bila kita melakukan reservasi terlebih dahulu.
 
Demikianlah, sejarah yang dipertahankan dan diurus dengan begitu serius punya andil dalam membentuk sebuah bangsa yang hebat. Kita perlu belajar bahwa sejarah selalu hadir sebagai bentuk perjuangan melawan lupa. 


 
Akhirnya, Gina dan Nick membawa kami ke N Seoul Tower dimana terdapat Pohon Gembok Cinta. Senja penutupan telah berakhir. Namun, waktu berbuka puasa masih lama. N Seoul Tower terletak di kaki gunung Namsan. Bila ditarik garis lurus, akan sejajar dengan Istana Gyeongbokgung yang agung itu. N Seoul Tower itu kurang lebih seperti KL Tower. Kita bisa mengunjungi souvenir shop yang ada di lantai bawah atau sekedar menikmati pemandangan kota Seoul dari observatorium. Jangan khawatir kelaparan, karena disini banyak sekali restoran yang bisa disinggahi di setiap level.
 
Menuju kesana perlu lima menit berjalan kaki dari pelataran parkir. Kami termasuk pengunjung yang beruntung karena dibolehkan menggunakan bis yang kami tumpangi hingga ke tempat parkir bis. Warga Korea sendiri tidak dibolehkan membawa kendaraan untuk menuju kesana. Sehingga, mereka memarkirkan kendaraannya dahulu sebelum berjalan menanjak yang ditempuh selama kurang lebih satu jam. Agaknya, KL Tower dalam hal ini sedikit lebih baik karena menyediakan shuttle bus dari pick up point di bawah menuju ke tower.


Saya mengalami overexcited sepanjang perjalanan lima menit yang menanjak itu. Beberapa tahun lalu, saya membaca cerita dalam surat seorang kawan @syarafmaulini kepada kekasihnya. Dia mengabadikan cintanya dengan menulis kedua nama mereka dalam gembok yang dikunci. Saya bersyukur bahwa saya tidak akan lama lagi akan mengalami pengalaman yang kurang lebih sama dengannya.

Saya lupa membawa gembok koper yang sudah saya siapkan sebelumnya. Beruntung, toko souvenir itu memang menjual gembok cinta lengkap dengan spidol khusus. Satu paket dijual seharga 8.000 KRW. Menurut catatan beberapa traveler dari negeri kita harga itu cukup mehong alias mahal.
 
Saya berhasil mengabadikan cinta kita disana. Saya menulis nama kita di gembok itu dan menguncinya. Saya tidak kesulitan mencari tempat untuk menggantungkan gembok harapan itu. Konon, ketika gembok itu terkunci, maka pasangan yang namanya ada di gembok tadi tidak akan terpisah untuk selamanya. Kedengarannya romantis bukan?
 
Ella yang baik, 

Begitulah, surat-surat ini pun telah jadi bagian dari sejarah kita. Sejarah yang akan menembus ruang dan waktu bagi anak cucu kita kelak. Sejarah yang akan menuliskan nama kita disana sebagai suatu kesatuan yang utuh, tak lekang oleh waktu.
 
Penuh rindu,
 

Gyeongbokgung-Namsan, 12 Juli 2014.
Sebentar lagi saya pulang, naik Garuda :)

Sabtu, 12 Juli 2014

Surat dari Seoul

Dear Ella,

Annyeonghaseyo,

Kabut turun perlahan di waktu sahur ini. Tadinya saya pikir saya sedang bermimpi. Perlahan, kabut bergerak menerpa kaca jendela meninggalkan embun. Seperti biasa, saya buka nasi instan yang saya beli sore kemarin di Emart. Tak lupa, rendang vacuum dari Indonesia. Waktu Shubuh segera tiba.

Sejak pukul 8 ini kami melakukan Excursion Day ke Seoul. Saya belum tahu kemana Nick (course leader) akan membawa kami. Kemarin, usai closing ceremony saya bertanya apakah ia akan membawa kami ke Seoul Tower. Ya, dia akan membawa kami kesana. Entah pagi, siang, atau sore nanti.

Konon, di Seoul Tower ada tempat yang penuh gembok cinta. Banyak pasangan mengikat janji mereka dan mengucinya pada gembok yang dipasangkan ke sebuah pagar disana. Mungkin, terinspirasi dari drama dan sinetron Korea yang syuting disana. Boys Before Flower salah satunya.

Saya menulis surat ini di sebuah restoran tradisional Korea yang terletak di Korean Folk Village. Korean Folk Village adalah tujuan pertama kami. Jina, tour guide kami sengaja membawa kami kemari sebagai tujuan pertama agar kami memahami tradisi kehidupan masyarakat Korea. Harga tiket masuk cukup mahal. 15.000 KRW untuk dewasa, 12.000 KRW untuk grup, sedangkan untuk anak-anak dan remaja berkisar antara 8.000-12.000 KRW.

Atraksi yang bisa dinikmati disini cukup banyak. Ada tarian dari sekelompok petani untuk merayakan panen. Kemudian, ada juga atraksi Tightrope Acrobatic. Bila sedang beruntung, Ella bisa menyaksikan prosesi pernikahan tradisional Korea juga. Menarik untuk mengetahui bagaimana orang Korea jaman baheula menjalani tata kehidupan bermasyarakat. Sejarah, sepertinya tidak benar-benar mereka lupakan.

Selanjutnya, kami berjalan-jalan menelusuri rumah-rumah tradisional. Seperti yang biasa Ella tonton di drama kolosal mereka. Sinetron Daejanggeum mengambil lokasi syuting disini. Kami pun menghabiskan waktu makan siang kami disini. Sajian menu tradisional bibimbab dan green radish kimchi jadi menu utama hari ini. Sayangnya, saya masih punya 8 jam sampai waktu shaum berakhir.


Usai berkeliling, saya menemukan sebuah kumpulan batu besar. Tertulis siapa saja boleh menuliskan harapannya pada kertas yang disediakan, lalu melipat dan mengikatkannya pada tali pengikat batu. Mirip ritual ‘Gembok Cinta’ di Seoul Tower. Hanya saja disini sedikit lebih unik. Karena Seoul Tower masih jauh. Saya menulis sebuah harapan dan merekatkannya pada tali jerami. Semoga harapan yang saya tulis tadi tidak lantas nyangkut di langit dan Tuhan segera membacanya. 

Waktu makan berakhir terlalu singkat. Saya tidak sempat menengok toko souvenir yang ada disana. Namun, saya menemukan Lee Yo Won dalam wujudnya sebagai poster The Great Queen Seondeok. What a coincidence. Rasanya ingin mampir sebentar ke toko didalamnya dan mencari posternya, barangkali si pemilik toko masih punya barang satu atau dua. Sayang sekali, Jina segera bergegas mengumpulkan kami untuk berangkat kembali ke Gyeongbokgung Palace.

Nanti disana saya tulis surat lagi. Konon, hari libur begini banyak turis dari banyak negara. Let’s see, apakah ada orang Indonesia juga disana.

Penuh rindu. Annyeonghigaseyo.


Gyeonggi-do, Seoul
12 Juli 2014
Haus... :(

Jumat, 11 Juli 2014

Surat dari Incheon

Dear Ella,

Annyeonghaseyo,

Surat ini ditulis ketika bulan purnama sedang rebah di langit barat Incheon. Dari kamar, rembulan nampak jelas menggantung tanpa tersapu awan mendung. Barangkali, saat ini Gumiho sedang mengibaskan 9 ekornya ketika Prabowo dan Jokowi masih sibuk menghitung perolehan jumlah suara mereka. 



Berada di daerah sub-urban yang menyerupai pedesaan seperti ini tentu sangat berbeda dengan keseharian yang selalu kita jalani di Jakarta. Disini, bisa melihat mobil yang melintas pada malam hari pun kami sudah senang. Jalanan sangat sepi, bahkan di siang hari. Kemarin, beberapa orang menyalakan kembang api. Entah untuk merayakan apa, mungkin mereka habis minum-minum saja. Biar begitu, tidak lantas menambah keramaian di kampung ini. Selebihnya, hanya deru pesawat dari Incheon Airport, nyanyian jangkrik, dan gonggongan anjing dari kampung sebelah.

Untuk mengusir rasa jenuh dan bosan, kami biasa pergi ke Incheon Airport. Sekedar melihat-lihat dan cuci mata. Kalau masih banyak waktu, saya mengajak beberapa teman pergi ke Seoul. Rabu kemarin, saya dan dua orang kawan dari Tunisia dan Yaman berbuka puasa di restoran Little India yang terletak di Itaewon. Itulah menu halal kami yang pertama selama berada di Korea. Kami menyantap nasi briyani, lamb vindaloo, dan aloo pratha (roti khas India). Plus, sajian tajil yang disiapkan khusus oleh sang pemilik restoran.

Selama disini, saya belum sekalipun berjumpa dengan artis-artis Korea yang selalu bertebaran di tabloid remaja tanah air. Seorang instruktur menyuruh saya untuk menunggu mereka di arrival gate Incheon Airport selama 7-10 jam. Biasanya, akan ada satu atau dua orang artis yang tiba disana. Saya tidak akan menghabiskan waktu saya hanya untuk hal seperti itu. Setidaknya, kalau itu Shin Min Ah atau Lee Yo Won, tentu saya tidak akan menolak dan dengan senang hati menunggu.

FYI, musim panas disini dibarengi dengan heat wave attack (serangan hawa panaas) yang menerpa beberapa wilayah di Korea. Demikian menurut beberapa ramalan berita pagi. Warga lokal dan wisatawan dihimbau untuk berhati-hati dan mempersiapkan diri. Kalau nanti Ella main kesini, sila rasakan sendiri bagaimana pemerintah mereka betul-betul peduli dan memperhatikan keselamatan warganya. Walau hawanya cukup panas, angin disini benar-benar kencang apabila sudah lewat tengah hari. Kadang, pagi turun hujan dan hawa dingin segera menyelinap ke kamar yang jendelanya tidak pernah saya tutup.

Fellowship course ini sudah sampai ke ujungnya. Farewell party sudah kami rayakan di The Sky Onn, sebuah restoran buffet mewah di Gimpo International Airport. Closing ceremony pun baru saja selesai. Selebihnya, fasilitator akan memberikan kami Excursion Day besok. Barangkali, kami akan pergi ke Seoul besok. Oh ya, kemarin di Gimpo juga, ada beberapa kumpulan remaja yang memenuhi pintu kedatangan domestik. Mereka adalah fans yang akan menyambut artis pujaannya. Siapa itu, saya pun tidak tahu. Yang jelas, situasinya sama dengan di negeri kita.

Malam begini, televisi banyak menyajikan pilihan acara. Drama? Sudah jelas. Tinggal pilih saja mau di channel yang mana. Hanya saja, segera persiapkan diri untuk mengalami penurunan kecerdasan seketika. Tidak banyak tayangan drama atau film yang menggunakan subtitel kecuali di KBS World. Sayang sekali memang, padahal drama terakhir yang sedang saya tonton ‘Emergency  Couple’ juga masih tayang disini.

Malam semakin sepi. Anjing-anjing di kampung sebelah sudah tidak lagi menggonggong, mungkin mereka sudah lelah. Waktunya untuk tidur. 

Penuh rindu. Have a nice weekend!

Annyeonghigaseyo.


Ulwang-dong, Jung-Gu, Incheon
11 Juli 2014

Jumat, 31 Mei 2013

Surat Kecil untuk Aninda

Aninda,

Apakah engkau tidak pernah menanyakan kapan kita akan bertemu? Tidakkah engkau ingin bertanya kepadaku tentang perasaanku usai menonton film yang kau sebutkan? Tidakkah mau engkau bercerita kembali tentang segala kegalauanmu?

Aku melihat bintang di langit malam. Satu bintang di langit kelam. Seketika itu pula, aku merindukanmu. Aku masih ingat betapa engkau menyukai lagu itu. Biarpun engkau memendam cintamu sendiri.

Kelak, bintang pun berguguran. Bintang yang nampak malam ini akan segera terganti. Namun, rindu untukmu malam ini takkan pernah terganti. Hanya saja ia berubah dalam untaian rasa dalam tulisan ini. Biarlah dia abadi disini. Ketika rasa telah ditasbihkan pada semesta. Berharap engkau mau mengerti keadaan ini.



Aninda,

No matter how deep you fall, how hurt you've been broken, let me be the one who cure you. Let me reach you to letting go of those painful memories.

Aku takkan janjikan apapun kecuali diriku ini yang akan selalu ada untukmu. Tak peduli seberapa deras hujan badai di hatimu, aku adalah orang pertama yang akan berlari dan memayungimu. Pastikan dirimu tidak ikut basah bersama derasnya.


Pharmindo, 31 Mei 2013.

Selasa, 16 Oktober 2012

Surat Cinta dari Medan #1


Aninda tercinta,

Aku memang tidak sempat melihat air matamu tadi pagi. Tapi, tak apa, bukankah kepergian seseorang seperti aku ini tidak perlu ditangisi? Air matamu terlalu mahal untuk melepas kepergianku. Dan, bukankah perpisahan selalu terjadi walau tanpa lambaian tangan?

Cuaca nampak bersahabat pagi ini. Entahlah untukmu. Banyak pertanyaanmu yang tak bisa kujawab semalam. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak mampu memikirkan apa-apa selain dirimu. Aku tidak pernah sanggup untuk meninggalkanmu barang sebentar saja. Medan sudah menantiku. 




Aku akan merangkai kisah disini tanpamu. Kita akan berpisah jarak dan waktu. Kau tahu Aninda, jarak dan waktu hanyalah penguji untuk cinta kita. Tanpanya, barangkali engkau dan aku tidak akan pernah tahu apa itu kesetiaan dalam harap penantian.

Aku baru saja mendarat di Polonia. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke hotel. Aku tulis surat ini dalam mobil yang mengantarku ke sebuah hotel bintang lima di tengah kota. Sudah kuduga engkau pasti akan menertawakanku. Sejak kapan aku mulai bersahabat dengan yang segala yang menyandang predikat “bintang lima”.

Begitulah, Aninda. Hidup membawa kita pada banyak kejutan tanpa harus kita minta. Aku tidak pernah membayangkan bakal mendapat fasilitas semewah ini. Semuanya lengkap disediakan. Full service, begitu mereka menamai layanan ini.

Aku lanjutkan menulis di kamarku yang terletak di lantai 20. Sebuah ruang yang cukup besar untuk menikmati panorama kota Medan. Semua nampak jelas membentang di depan mataku. Kelap kelip lampu di kota rmenambah semarak perasaan kagum. Hanya kabut di hatiku saja yang masih enggan mereda karena setiap kenangan yang kita ukir bersama.

Harusnya, malam ini aku berada disampingmu. Sama-sama menertawakan hidup kita yang harus kembali menjadi “robot-robot” industri keesokan harinya. Aku disini pun merindukanmu. Merindu pada bayanganmu yang melekat erat dalam pekat sunyi malam.

Yakinkan, Aninda. Aku akan kembali padamu. Hanya padamu. Untukmu, kan kujelang waktu. Hanya untuk bersamamu. Selalu denganmu.

Peluk erat dan cium mesra,


Medan, 14 Oktober 2012.

Kamis, 30 Agustus 2012

Tiga Surat Cinta untuk Aninda (3-habis)

Aninda cintaku, manisku, sayangku,

Hari-hariku disini sebentar lagi usai. Engkau tentu membayangkan aku mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita idamkan saat menonton bersama serial drama “Surgeon Bong Dal Hee” dan “Fashion 70’s”. Pengetahuan dan wawasanmu selalu bertambah usai menyaksikan bagaimana dr. Ahn mengoperasi pasiennya. Engkau pun tentunya makin paham tentang ego dan persaingan sesama dokter. Dari semua itu Aninda, aku selalu salut akan rasa penasaranmu pada sejarah perang Korea. Seperti engkau tahu, aku pun sama penikmat sejarah walau tidak pernah hafal tanggal berlangsungnya pemberontakan PRRI dan Permesta.

Sejarah bagiku adalah hal yang sangat penting untuk menandai keberadaan kita di dunia ini. Masa depan dibangun dari puing-puing sejarah. Sejarah selalu hadir untuk kebutuhan saling mengingatkan. Sejarah selalu ada untuk kita berkaca, berkontemplasi, dan menatap diri lebih dalam.

Aku selalu kebingungan menjawab pertanyaanmu soal Perang Korea. Perang yang berlangsung selama tiga tahun itu dimulai oleh serangan Korea Utara pada 25 Juni 1950. Perang baru reda pada 25 Juli 1953. Tidak lama memang, engkau tahu sendiri penjajahan Jepang di Indonesia pun hanya berlangsung empat tahun. Tetapi, dampak dan akibat yang dihasilkan dari invasi Jepang itu sendiri lebih kejam dan sporadis dari tiga setengah abad umur pendudukan Belanda.

Aninda, aku kini membayangkan wajahmu lengkap dengan kerutan dahi usai bertanya soal perang itu. Engkau masih tidak percaya bahwa perang yang singkat itu menimbulkan dampak yang begitu besar bagi keutuhan sebuah keluarga. Telah engkau saksikan sendiri Aninda, bagaimana perang membuat pertalian sebuah keluarga menjadi berserakan seperti yang dialami Kang Hee dan Deo Mi. Mungkin nanti, saat aku telah kembali, kita bisa membaca lagi sejarah Perang Korea ini bersama. Kata temanku, Majalah Horison bulan April kemarin menampilkan esai seorang Profesor asal Korea yang membahas soal Perang Korea dan hubungannya dengan perkembangan sastra di negerinya Ahn Jung Hwan* ini.

Sehari sebelum kepulanganku, Kim dan Lee mengajakku mampir ke sebuah tempat yang masih ada hubungannya dengan ketertarikanku soal sejarah. Kim dan Lee tahu itu sejak mereka menjadi tamu istimewaku dulu di Jakarta. Kami pernah bertukar pandangan soal dunia susastra yang dipengaruhi oleh gelombang sejarah masing-masing bangsa di belahan timur bumi ini.

Pagi tadi, aku berdiri dihadapan National Museum of Korea. Museum yang namanya serupa dengan Musium Nasional negeri kita, Aninda. Sayangku, museum ini besarnya luar biasa. Museum ini adalah museum keempat terbesar di dunia. Engkau bisa membayangkan sendiri bagaimana luasnya museum ini. Lee menjelaskan bahwa dibutuhkan delapan belas jam untuk mengelilingi seluruh museum ini. Bayangkan Aninda, delapan belas jam hanya untuk membaca peradaban yang dibentuk atas nama sejarah. Delapan belas jam dikotamu mungkin hanya jadi jumlah waktu kerja seharian belaka. Namun disini, bisa jadi delapan belas jam yang fantastis.

Aninda tercinta, suatu saat nanti bila kita datang ke museum ini bersama tentu engkau akan melihat sendiri bagaimana sejarah dikemas secara menarik. Penyajian artefak dan sistem penandaan koleksi museum sangat informatif. Dibalut dengan penerangan yang begitu anggun dan elegan. Seakan kita dibuat lupa bahwa sejarah itu tidak mengandung kebenaran. Kim dan Lee bergantian menjelaskan satu persatu peninggalan sejarah bangsanya disana. Aku jadi ingat Guru Sejarah kita, Ibu Guru Enny, yang selalu antusias membawakan pelajaran dan selalu tahu siapa yang menguap selama pelajaran berlangsung.

Tidak hanya sampai disitu. Kim dan Lee rupanya ingin memberiku kenangan tak terlupakan soal sejarah bangsanya. Aku bersyukur dalam hati karena aku membawa banyak hal untuk kuceritakan kembali padamu, Aninda. Kim dan Lee membawaku mengunjungi Istana Raja Korea Purba bernama Gyeongbokgung Palace. Aroma sejarah kian pekat dari angin yang berhembus menempa. Seperti di museum, aku serasa diundang untuk menjelajahi masa lalu suatu bangsa. Bedanya, di museum tadi kental dengan nuansa modern sedangkan di Istana ini aku melihat akar tradisional bangsa Korea dengan segala keasliannya.

Bentuk bangunan dan interior yang masih utuh nampak terawat. Aku membayangkan bagaimana raja duduk disana bersama dengan para pengawalnya. Bangsa Korea memang niat sekali melindungi sejarahnya. Bangunan ini memang nyaris dibumihanguskan oleh Jepang. Namun, Pemerintah Korea sengaja merevitalisasi bangunan ini agar mampu menghadirkan kembali bagian sejarah bangsa yang terancam musnah.

Demikianlah Anindaku, sejarah yang dipertahankan dan diurus dengan begitu serius punya andil dalam membentuk sebuah bangsa yang hebat. Kita perlu belajar bahwa sejarah selalu hadir sebagai bentuk perjuangan melawan lupa. Kita tidak perlu repot-repot menuntut Pemerintah untuk menambal dinding bangunan-bangunan bersejarah macam museum di negeri kita. Kita hanya perlu menatap sejenak ke belakang. Mengenang apa yang telah kita lalui dalam sejarah hidup kita masing-masing. Mengenang hari pertama aku jatuh cinta kepadamu, masa-masa pertengkaran yang selalu berakhir dengan kata maaf, pun hari-hari menjelang pernikahan kita yang segera menanti usai kepulanganku dari Korea ini.

Begitulah Aninda, surat-surat ini pun telah jadi bagian dari sejarah kita. Sejarah yang akan menembus ruang dan waktu bagi anak cucu kita kelak. Sejarah yang akan menuliskan nama kita disana sebagai suatu kesatuan yang utuh, tak lekang oleh waktu.

Peluk hangat dan cium mesra,

Kekasihmu yang akan segera pulang.


Paninggilan, 14 Mei 2012

*Ahn Jung Hwan, pemain sepakbola yang mencetak gol penentu kemenangan Korea Selatan atas Italia 2-1, di perempat final Piala Dunia 2002 lalu.

Selasa, 28 Agustus 2012

Tiga Surat Cinta untuk Aninda (2)

Anindaku, cintaku, 

Apa kabarmu hari ini? Aku harap matahari yang sama menerangi indah harimu disana. Aku ingin bercerita tentang keadaanku hari ini. Usai hari kedua seminar yang sangat melelahkan. Terlalu banyak hal yang tidak harus kita mengerti, Aninda. Terlalu banyak juga hal yang tidak perlu diungkapkan. Hanya saja, aku selalu merasakan kehadiranmu bersamaku disampingku setiap aku menuliskan kata-kata dalam surat ini. Engkau seakan menjelma dalam bayangan malam di sudut jendela kamar itu.

Apa yang aku ceritakan sekarang ini adalah cerita tentang perut kami yang dimanjakan dengan makanan disini. Untungnya, kami terlahir sebagai manusia yang mampu menilai suatu makanan layak disebut istimewa atau tidak. Sesuatu yang tidak dimiliki makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Sarapan kami disini tergolong istimewa. Kami makan pagi di sebuah restoran yang terletak di lobi hotel. Sajian makanan tersedia dalam buffet dan dihidangkan secara bebas merdeka. Kami bebas mengambil apa saja selama berjenis-jenis makanan itu ada disana. Engkau tentu tahu kebiasaan orang Indonesia kan? Seperti itulah kami disana. Menu sarapan yang jarang kami sentuh disini macam roti, kentang, sosis, buah, susu, jus, dan salad menjadi menu favorit kami.

Usai sarapan, kami kembali menghadiri seminar. Masing-masing perwakilan negara anggota ICAO menyampaikan hasil pemikiran mereka. Kami pun kebagian dan turut serta menyumbangkan pemikiran. Paparan itu sukses menuai kritik dan pujian. Aku tidak terlalu ambil pusing. Biar saja temanku itu yang menjelaskan. Aku percaya bahwa ia sudah lebih dari paham mengenai hal itu.

Malamnya, kami merasa segar untuk sekedar mencari angin di Negeri Ginseng ini. Kim dan Lee mengadakan semacam welcoming party kecil-kecilan. Kami disambut lagi oleh hidangan yang mewah dan gemerlap. Aku memang masih kenyang, begitupun kawan lainnya. Tetapi, rasa penasaran kami terlalu besar sehingga kami mencoba banyak makanan yang belum pernah kami kenal. Aku sudah lupa nama-nama makanan itu. Ingatan jangka pendekku agak bermasalah akhir-akhir ini. Aninda, engkau tahu sendiri bahwa makanan Korea yang aku kenal hanyalah kimchi dan bibimbap. Selebihnya, aku lupa. Padahal, Kim dan Lee sudah menerangkan dengan sangat jelas apa yang kami makan itu tadi.

Demikianlah Aninda, betapa makanan yang masuk perut kami ini sejatinya adalah faktor utama terwujudnya perdamaian dunia. Perang, apapun bentuknya, sejatinya disebabkan oleh sekelompok manusia yang selalu merasa lapar atau mereka yang sudah kenyang tetapi lupa untuk berhenti.

Aku tulis surat ini dengan perasaan yang sama seperti saat pertama kali jatuh cinta padamu, Aninda. Hanya kepadamu, Aninda. Perasaan yang sama seperti kemarin, esok, dan seterusnya.

Penuh cinta,


Kekasihmu si sudut kota Seoul.


Paninggilan, 14 Mei 2012.

*ICAO: International Civil Aviation Organization

Senin, 27 Agustus 2012

Tiga Surat Cinta untuk Aninda (1)

Aninda tercinta,

Sayangku, aku kirimkan surat ini dari sebuah bandara paling wahid di dunia. Aku tiba di Incheon International Airport setelah melalui dua belas jam perjalanan yang melelahkan. More than an Airport, beyond expectation. Tulisan itu seperti sengaja menyambut kedatanganku disini. Konon, bandara ini adalah bandara terbaik di dunia. Arsitektur modern yang diterapkan di bandara ini mewakili fungsionalitasnya sebagai ranah publik. Aku belum sempat menulusurinya karena aku sudah terlalu lelah. Transit di Kuala Lumpur yang memakan waktu hampir empat jam membuatku jenuh. Ditambah lagi makanan dan minuman kaleng yang dijual disana tidak membuat perutku puas. Engkau pun tahu, dalam hitunganku hanya ada dua makanan di dunia. Enak dan Enak Sekali. Tetapi, yang tadi itu diluar hitungan. Aku harus menambahkan kategori baru, Tidak Enak.

Sesampainya aku di Incheon ini, aku mencari tempat penyewaan ponsel. Aku mula-mula menyewa ponsel dengan harga yang lumayan mencekik. Bayangkan, aku harus membayar sewa sekitar 3000 won atau dua puluh lima ribu rupiah. Dengan uang sejumlah itu engkau pun tahu kita sudah bisa makan enak di warung Bu Nikmah. Belum lagi, biaya telepon 10 won per detik dan SMS 100 won per sekali kirim. SMS pun tidak bisa international coverage. Memang mahal, tapi aku lakukan juga demi menemukan dua orang sahabatku disini, Kim Min Suk dan Lee Yo Won. Sudah jelas aku tidak bisa menghubungi mereka lewat telepon umum disini. Engkau pun tentu tahu aku tidak seperti Olivia yang rajin belajar bahasa Korea hingga paham aksara Han Geul.

Aninda sayangku, tak lama kemudian Kim dan Lee membawaku ke Seoul. Aku dan empat orang kawan lainnya benar-benar kelelahan. Suasana mobil pun terasa sepi dan hening selama satu setengah jam perjalanan. Aku tidak sempat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari Incheon ke Seoul. Aku berharap Kim dan Lee mengerti keadaan kami yang sangat kelelahan ini. Aku terbangun ketika Lee membangunkanku tepat di depan hotel yang namanya sulit sekali untuk dibaca. Seoul KyoYuk MunHwa HoekWan Hotel. Barangkali nanti, engkau bisa tanyakan pada Olivia bagaimana membaca nama hotel itu dengan benar.

Hotel bintang tiga ini tidak terlalu mengecewakan untuk kami. Kira-kira 11 km jauhnya dari pusat kota Seoul. Hotel ini juga tidak jauh dari Seoul National University, tempat Kim dan Lee kuliah Sastra Timur. Besok, Kim dan Lee akan mengajak kami untuk jalan-jalan sebelum kami memulai seminar esok lusa.

Aninda, seperti engkau tahu, perjalanan ini berisi empat orang saja. Perlu aku jelaskan lagi, bahwa kami delegasi Indonesia ini punya misi dalam pertemuan ICAO Legal Seminar ini. Aku sengaja memilih orang-orang terbaik yang memang mengerti masalah legislasi internasional dan teknis operasional penerbangan. Dan yang penting, mereka bertiga bisa diajak kerjasama. Kami punya tujuan mensukseskan program Indonesia untuk kembali masuk dalam ICAO Council. Engkau tahu itu, Aninda. Sungguh tanggung jawab yang amat besar.

Malam ini adalah malam pertama kami di hotel. Apa lagi yang bisa diceritakan dari sebuah hotel, Aninda. Bukankah lebih baik kita bicara tentang mimpi-mimpi malam, tentang impian masa depan, atau malah tentang hidup kita di masa tua nanti. Oh ya, aku tadi lihat pengumuman event Digital Cherry Blossoms untuk menyemarakkan perayaan Festival Cherry Blossom. Sebuah panel berukuran 22 meter nanti akan ditempatkan sepanjang jalur yang menghubungkan area sentral bandara dengan terminal penumpang. Aku membayangkan engkau ada disini bersamaku untuk menikmati musim semi yang selalu menyenangkan.

Aninda, aku ingin mengucapkan terima kasih. Buku tulisan Claudia Kaunang itu sungguh berguna. Sulit membayangkan bagaimana berkeliling Korea dalam sembilan hari hanya dengan bekal uang tiga juta rupiah. Besok, aku akan meminta Kim dan Lee mengantarku ke area perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Kata Kim, aku harus menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut salah satu pihak bila nanti terjadi kontak senjata disana. Kedengarannya mengerikan memang, tetapi bukankah sensasi semacam itu yang kita cari dalam hidup yang semakin menjenuhkan ini.

Lalu, aku juga akan meminta mereka membawaku ke N Seoul Tower dimana terdapat Pohon Gembok Cinta. Aku akan mengabadikan cinta kita disana, Aninda. Aku akan menulis nama kita di gembok itu dan menguncinya. Konon, ketika gembok itu terkunci, maka pasangan yang namanya ada di gembok tadi tidak akan terpisah untuk selamanya. Kedengarannya romantis bukan, Aninda? Kelak, jika besok aku sampai kesana, akan kugembok tulisan untuk cinta kita:

“Aninda & Anggi, Insya Allah akan bersama kesini, nanti.”



From the corner of Seoul,
Peluk hangat dan cium,

Faithfully yours,


Paninggilan, 14 Mei 2012

Rabu, 13 Juni 2012

Surat Cinta dari Citarik

Aninda tercinta...

Hari pertama disini tidak akan pernah sama dengan hari lainnya yang telah kita lalui bersama. Entah itu dalam keheningan, keramaian, atau malah dengan sejumput tanya. Suara alam begitu kental disini Aninda. Aku bisa merasakannya. Aku melihat bukit-bukit curam di ujung barat sana. Deretan hijau masih mebentang sejauh mata memandang. Kicau burung yang meruang menandakan pesona alam asri.




Engkau tahu sendiri Aninda. Aku kini berada di Sukabumi. Tidak jauh dari satu tempat yang berminggu-minggu lalu mendadak jadi buah bibir. Aku kini berada tidak jauh dari lokasi jatuhnya Sukhoi.

Aninda, suatu saat akan ku ajak engkau kemari. Merayakan cinta kita agar menyatu erat lekat dengan harmoni alam. Bukankah engkau rindu pada kenangan kita di kampung. Saat kita duduk berdua diatas batu kali sambil sesekali memainkan kaki kita ke air sungai yang mengalir deras. Sederas rasa rinduku setiap hari padamu, Aninda.

Cintaku, manisku, sayangku. Aku disini tak lama. Hanya untuk habiskan waktu untuk sekedar mengisi kembali ruang-ruang kosong dalam jiwa dan raga ini. Aku perlu untuk mengendurkan otot barang sejenak. Seperti pesan Pak Sjoffa, aku harus merasakan pengalaman bertualang di alam liar supaya kelak kembali ke kotamu dengan pikiran dan mental yang siap ditimpa seribu satu masalah kosmopolis.

Sore ini, pelatih menyuruh kami memainkan permainan 'ice breaking'. Sudah jelas, supaya kami saling tahu, saling kenal, dan mewujudkan kekompakan. Sebelum hujan, kami memainkan lembar bola tutup mata. Ya, aku harus mencari bola untuk dilemparkan pada sesama pencari bola. Dengan mata yang ditututp aku merasa bagai A Dead Man Walking. Aku hanya mendengar sayup-sayup suara anggota kelompokku saja. Semakin lama, sayup itu semakin pudar. Hingga aku tersadar aku tinggal sendirian di lapangan permainan. Sementara, kawanku yang lain sudah meneduh karena hujan deras ikut menyambut kedatangan kami sore itu. Seakan alam pun bersuara, menandakan berkah bagi kami.

Sedang apakah engkau disana, Aninda? Apakah engkau masih sibuk dengan soal-soal persiapan ujian itu? Ya, muridmu akan segera melaksanakan ujian. Satu bagian kecil dari ujian kehidupan yang sesungguhnya. Aku bisa bayangkan kerut dikeningmu saat engkau memilih soal mana yang akan diteskan. Engkau tentu akan menyusun soal-soal latihan yang kualitasnya melebihi soal ujian itu sendiri. Engkau sepertinya masih memegang motto di kolam renang tempat kita biasa berolahraga sembari memadu rindu. Berlatihlah seperti bertanding, bertandinglah seperti berlatih. Begitu yang aku tahu. Bukankah hal itu juga yang membawa kau dan aku pada kehidupan yang sekarang?

Aku bisa rasakan segala gelisah dan resahmu disana. Rasa khawatir akan masa depan muridmu yang tentu saja tak bisa kau lepaskan begitu saja. Aku mengerti semua itu Aninda. Maka dari itu, relakan aku disini. Menjauh sejenak darimu, agar engkau lebih leluasa. Kerjakan yang terbaik. Aku tahu engkau lebih dari sekedar sanggup untuk melakukannya. Aku yakin itu, Aninda. Seyakin rasa sayangku kepadamu.



Malam pertama di Citarik, setengah rembulan menemani malam kami disini. Awan mendung membayangi tapi tak mampu menutup pesonanya. Rembulan seakan menahbiskan senyummu nan abadi dihatiku. Menghapus galau dihati. Malam ini bulan tersisa sepenggal kilau. Menyisakan rasa takjub yang tak penuh. Malam begitu dingin disini

Sebelum tidur malam ini, aku berdoa kepada Tuhan. Supaya engkau dan muridmu sanggup melewati semua rintangan esok hari. Seperti aku yang masih harus menaklukkan bermacam-macam tantangan besok. Percayalah, Aninda. Engkau akan selalu ada dalam doaku. Bahkan ketika kata tak mampu lagi mewujud dalam ruang, kelak ia akan menyublim dalam semilir angin yang membawa harapku menuju rasamu.

Hariku selanjutnya disini diisi dengan permainan-permainan ketangkasan. Engkau boleh membayangkan permainan macam apa yang kumainkan disini. Tujuannya, melatih kekompakan dan kerjasama kelompok. Begitulah Aninda, bukankah kehidupan mengajarkan kita untuk tidak jadi seorang egois?



Aku terlalu menikmati hari ini hingga tak terasa siang menjelang. Permainan usai. Aku bisa melihat wajah-wajah lelah diantara kami semua. Sebagai penutup, lomba terakhir pun dimainkan. Lomba joged. Engkau tahu sendiri kalau joged dangdut adalah kesenanganku. Seperti yang biasa aku lakukan di taman kampung setiap orkes dangdut itu tampil. Rasanya menyenangkan dan sejenak melepas kepenatan.

Selepas makan siang, kami semua harus bersiap untuk perang. Inilah yang selalu aku tunggu, Aninda. Aku menantikan permainan paintball ini. Aku sudah gatal ingin menembak teman-temanku disini. Aku bayangkan mereka menjelma menjadi sosok-sosok yang kubenci selama ini. Anggap saja aku ingin menuntaskan dendamku.

Ternyata begitulah rasanya, Aninda. Aku merasa bagai dalam situasi perang betulan. Sunyi bukan berarti damai. Maut mengintai dari setiap penjuru. Kebetulan, aku didaulat jadi kapten tim. Kemenangan adalah harga yang harus kami bayar untuk perjuangan ini. Aku tidak pernah punya pengalaman memimpin tim dalam ‘perang’ seperti ini. Aku beruntung karena tim kami berhasil memenangkan pertarungan ini. Tim kami sangat percaya diri dalam menyerang. Pun, ketika harus menghemat amunisi.

Kemenangan ini sangat berarti. Tidak hanya untuk tim kami tetapi juga untukku, Aninda. Aku rasakan kembali perasaan itu. Kurang lebih sama seperti Hakkinen yang berhasil menang balapan usai menyusul Schumacher di Spa-Francorchamps tahun 2000 lalu. Aku berhasil memimpin tim ini menuju kemenangan. Suatu kebanggaan pribadi yang kelak kami bawa dan ceritakan pada rekan-rekan sejawat di kantor. Kemenangan yang sama geloranya dengan memenangi cintamu, Aninda. Sekali lagi, cintamu Aninda. Ya, cintamu. Aku rayakan kemenangan ini seperti merayakan kemenangan atas cinta dan segenap perasaanmu. Aku putar lagu-lagu kenangan kita dari ponselku.

Untuk merayakan hari ini rupanya kami disuguhi orkes tunggal. Apalagi kalau bukan dangdutan, Aninda. Engkau tentu sudah dapat menebak apa yang terjadi selanjutnya. Aku sungguh malu untuk menceritakannya disini, Aninda. Tentu engkau dapat bayangkan bagaimana aku berjoged dengan biduan-biduan sewaan itu. Engkau juga tentu bisa merasakan perasaanku saat menyanyikan lagu-lagu jadul itu. Begitulah malam itu terjadi. Semuanya terjadi begitu saja tanpa kita bisa memintanya.

Senyuman mentari pagi menyapa hangat disini. Terang pagi ini mengingatkan kami bahwa ini hari terakhir kami disini. Ini hari terakhirku disini, Aninda. Tak lama lagi aku akan pulang. Aku akan pulang kembali padamu. Merangkai kisah kita kembali seperti sediakala.

Tidakkah engkau bertanya apa yang aku lakukan di hari terakhir ini? Sudah jelas, hari ini kami bermain arung jeram. Sesuatu yang belum pernah kita coba sebelumnya. Dulu, kita hanya menaiki rakit butut itu untuk menyeberangi sungai yang tak terlalu deras. Sangat jauh beda dengan perahu karet ini. Aku tidak perlu khawatir karena pendamping kami disini sudah tahu betul medan yang kami lalui ini. Aku bisa lihat kesigapannya setiap ada seekor buaya mendekati perahu kami. 




Seperti sudah aku bilang sebelumnya, semua permainan disini membutuhkan kerjasama dan kekompakan. Sekali kami melakukan kesalahan dan tidak menuruti komando, perahu kami bisa terbalik setiap menghempas deretan batu-batu kali itu. Engkau tentu tidak ingin terjadi sesuatu padaku hingga surat ini takkan pernah sampai kepadamu, kan? Rasa lelah memang masih aku rasakan usai berpesta semalaman. Namun, aliran adrenalin yang kian kencang membuatku tidak bisa menyianyiakan kesempatan ini barang sekejap saja. Aku menikmati semua petualangan ini. Aku menikmati setiap pemandangan yang alam ini sajikan. Sejak dari awal perahu ini berangkat hingga berakhir di tepi sungai yang landai, 9 km arah selatan perbukitan ini. Aku berjanji padamu, kelak kita akan mengarungi pengalaman serupa. Catat itu, Aninda.

Adzan dhuhur yang berkumandang di puncak bukit sebelah utara itu jadi penanda. Bahwa petualanganku disini sudah harus berakhir. Suka atau tidak suka. Aku akan kembali pada kenyataan. Aku akan kembali pada cintamu yang luas tak bertepi, Aninda. Tunggu aku disana. Aku akan datang. Aku pasti datang.

Peluk hangat dan cium,


Citarik, 1 Juni 2012.

Selasa, 31 Januari 2012

Surat Buat Lelly

Selamat malam, Lelly

Apa kabar? Rasanya baru kemarin kita saling menyapa di kandang burung virtual itu dan entah tiba-tiba semuanya berlalu begitu saja hingga tanpa terasa akhir pekan segera menjelang. Menyambut suka cita bagi para pekerja macam kita ini. Bukankah itu hanya satu hal terbaik yang selalu datang menghampiri kita dibandingkan dengan segala ketidakpastian yang telah kita jalani selama 5 hari terkutuk itu? Ah, lupakan saja. Beberapa menit lagi semua itu hanya tinggal sisa waktu belaka. Biar hanya waktu saja yang memiliki masa lalu.

Apa rencanamu untuk akhir pekan ini? Menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta sambil menamatkan Indonesia Mengajar dan Antologi Rasa sekaligus menumpuk segepok penasaran karena Manusia Setengah Salmon itu? Atau mungkin menghadiri undangan dari sahabat-sahabat lama untuk sekedar bertukar cerita bahagia. Entah nanti, aku mungkin juga akan mengajakmu ke toko buku itu suatu hari di akhir pekan yang entah kapan. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan tentang biografi atas namamu itu.

Aku dengar kemarin Lelly sempat kembali ke kampus dan merasakan suatu gairah luar biasa yang tiba-tiba hinggap. Barangkali, ritme kehidupan kampus memang merindukan tuannya yang telah lama hilang. Mungkin juga ia berharap suatu saat tuannya kan kembali. Meretas jarak, menempuh batas horison terasing hingga ujung waktu.

Lelly, tiba-tiba saja aku merasa harus menanyakan sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting namun terasa mengganggu. Terus terang saja, sekali lagi aku tegaskan bahwa itu pernah sangat mengganggu. Maaf, jangan dulu tersinggung. Tolong jangan salah menafsir makna. Sungguh pun betul bahwa sesuatu itu sangat mengganggu isi kepala ini yang mendadak dipenuhi satu pertanyaan: apakah perlu sepagi itu hanya untuk meyakinkanku untuk jadi seorang penulis hanya karena punya sebuah blog? 



Lelly, mungkin itu buatmu hanya sekedar pertanyaan belaka yang segera tergantikan dengan ribuan tanya lainnya tentang dunia yang semakin tua dan penuh kata-kata hingga Twitter pun tak mau menampung lebih dari 140 karakter alfabet. Tetapi, lain halnya bagiku. Perlu beberapa waktu untuk mencerna tanya yang terucap. Tentu itu tak seruwet menjawab pertanyaan kaum oposan di negeri autopilot ini. Namun tetap saja aku masih perlu memikirkannya barang sehari dua hari.

Aku masih tidak percaya bahwa pertanyaan itu terlontar di pagi buta. Kamu sudah bangun sepagi itu sedangkan aku tentu masih tenggelam dan terbuai alunan indah mimpi semalam. Sementara, Bella mungkin saja baru bersiap untuk pulang usai berpentas di lantai dansa. Aku hanya membayangkan apa yang telah terjadi didalam kepalamu pagi itu. Apakah ada gejolak diantara jutaan sambungan neuron yang mengharuskanmu menanyakan hal itu kepadaku? Atau mungkin saja, tanya itu terucap begitu saja saat kamu sedang asyiknya membaca tulisan-tulisan di blog selendang warna.

Andainya pun begitu, sungguh aku sangat bangga. Punya pengunjung tetap yang minimal mau baca tulisan yang selalu terbit menjelang deadline. Kadang penulisnya sendiri bingung karena tidak merasa maksimal dan belum sanggup menempatkan gairah rasa diantara rentetan kata-kata dalam tulisan itu. Pun, ketika kata-kata tak sanggup lagi menerjemahkan makna yang terselip diantara bahasa yang membentuk semacam kesunyian di ujung cerita.

Sungguhpun demikian, aku sangat merasa belum layak untuk jadi penulis kondang. Toh, setiap aku menuliskan sesuatu untuk @sajak_cinta dan @fiksimini, belum sekalipun twit punyaku itu di approve oleh si Admin. Padahal, seperti Hasan Aspahani (@haspahani) bilang, twitter itu cuma media dan kata-kata adalah esensinya. Dan aku semakin sadar bahwa aku belum punya kekuatan untuk merangkai barang satu dua kata untuk jadi kalimat pendek dengan makna yang dalam. Maka, jangan heran bila suatu saat nanti karya sastra yang terbit adalah hasil twit dari penulisnya. Suatu realita yang benar-benar terjadi dalam jagad sastra kita. Semoga membawa hasil yang positif bagi penikmatnya, macam aku dan kamu.

Perlu Lelly, tahu juga bahwa surat ini ditulis sambil memutar lagu Seasons in The Sun dari Westlife. Suatu lagu yang selalu mengingatkanku pada kenangan-kenangan masa SMP. Tentu Lelly masih ingat ruang OSIS tempat kita biasa berbagi cerita sambil sesekali menertawakan kebodohan kita sendiri karena tidak pernah berani mengungkapkan sesuatu yang kata orang itu namanya “Cinta”.

Apapun itu, izinkanlah aku mengucap terima kasih atas perhatian Lelly selama ini. Seorang penulis, amatiran sekalipun, sungguh akan merasakan suatu kenikmatan tersendiri bila ternyata tulisan-tulisan yang dibuatnya mampu menemukan pembacanya. Lelly, semoga harapan dalam tanya itu selalu mengingatkanku bahwa seseorang entah dimana akan  selalu menunggu tulisan-tulisan buah pikiran kepalaku ini. Sebelum imajinasi benar-benar mati. Sebelum dilarang bernyanyi di kamar mandi.


Peluk hangat,



Pharmindo-Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 2-18 Januari 2011.

Kamis, 22 Desember 2011

Surat Cinta untuk Aninda: Episode Hari Ibu


Aninda sayang, akhirnya aku bisa menyisihkan waktu sejenak untuk menarik nafas dan mengirim surat padamu. Ah, satu alasan klise yang sudah terlalu sering jadi alasan untuk segenap kebodohanku. Entah untuk keberapakalinya, maafkan aku, Aninda.


Aninda tercinta, Desember sudah mendekati akhir. Begitu juga setiap cerita, selalu memiliki akhir. Aku selalu ingat bulan Desember. Satu waktu dimana cinta kita mulai bersemi.

Aninda, tentu kau masih ingat saat itu. Kau pun pasti belum lupa lembutnya tiramisu di kedai coklat itu. Ah, rasanya itu seperti baru kemarin kita alami. Kau pun tahu selanjutnya ketika aku tutupi kedua daun kupingku usai kunyatakan cintaku padamu. Ada rona bahagia di wajahmu, Aninda. Wajahmu memerah. Aku tersipu. Biar bintang tak datang menerangi malam aku tahu kau terima cintaku.

Sambil menunjuk satu bintang di langit kelam kau bisikkan padaku cita dan harapmu. Berdua kita kan terbang menuju kesana walau hanya berkain cinta dan kita juga kan menyanyikan lagu itu. Lagu yang Kimberly selalu nyanyikan pada setiap Choir Grand Prix. A whole new world... A new horizon to pursue... Layaknya Aladdin dan Putri Jasmin.

Dalam diam aku pun membayangkan kita akan beranak pinak kelak. Aku akan selalu berada disisimu saat anak-anak kita lahir nanti. Mengumandangkan adzan ditelinga mereka seraya mengucap doa-doa yang terbaik. Aku juga bayangkan saat-saat mereka mulai sekolah. Kau akan menyiapkan bekal dan aku akan setia mengantar pergi ke sekolah. Tak lupa, dengan ciuman di kening  sebelum mereka masuk kelas. Ah, kebahagiaan itu sederhana rupanya.

Kau juga bisikkan padaku, apakah aku akan selalu mencintaimu. Tiba-tiba aku harus menatap dalam pada dua matamu. Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin engkau jauh dariku. Aku pun memelukmu sambil bisikkan janji untuk selalu menjaga bunga-bunga yang ada di ladang cinta kita.

Kau pun tersenyum waktu itu. Senyum yang selalu kurindukan dan selalu membuatku ingin pulang. Pulang kemana cinta kita kan beradu. Pada hati yang terpilih. Hatimu.

Selamat Hari Ibu. Aku yakin engkau lebih dari mampu untuk jadi seorang Ibu yang seutuhnya mengasihi.
 
Peluk hangat dan cium,

Kekasihmu di ujung dunia

 

Paninggilan, 21 Desember 2011.

Selasa, 29 November 2011

Surat Cinta buat Ninda

Saat bersamamu...
Sederhana dan indah tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata...
Perasaan yang ada...
Hilang lebur bersama...
Saat engkau menjelang bahagia... Dengannya...*)


Selamat pagi, siang, sore dan malam. Kapanpun engkau terima suratku ini, Ninda. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu. Sebelum waktu itu benar-benar datang dan kita akan segera berpisah jarak dan waktu. Mungkin nanti kau tidak akan mengenaliku lagi atau malah pura-pura tidak kenal. Seperti yang engkau tunjukkan saat ini. Setiap tatapan kita saling berpandangan. Aku tahu hari bahagiamu akan segera menjelang. Waktu kan segera menuai usia kita. Dan pula dalam hitungan hari engkau akan segera tidak berada disini lagi. Berkantor di ruangan pojok itu. Sebuah "ruang sakral" sebelum aku tahu engkau ada pemiliknya.

Engkau mungkin masih merasa terkejut kala tahu suratku ini benar-benar tertuju padamu. Suratku ini bukan lukisan luka di hati. Tak perlu kau hempas meski tak ingin kau sentuh. Entah, tiba-tiba saja aku ingin menulis surat untukmu. Kuterimakan kekalahanku untuk memenangi hatimu. Sebelum aku tahu engkau benar-benar tidak disini, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu. Bukan untuk meyakinkanmu seolah aku ini makhluk paling benar di kolong langit. Bukan juga karena aku meragukan keputusanmu. Hanya untuk mengingatkan saja.

Ninda, apakah calon suamimu itu mampu mengimami sholatmu? Apakah calon suamimu itu mampu mengeja ayat-ayat cinta dalam surat Al Fatihah? Apakah engkau akan menerima begitu saja ketika ia minta engkau membimbingnya membaca Al Fatihah sambil terbata? Apakah calon suamimu itu tahu makna Shirottal Mustaqqim didalamnya? Apakah engkau sudah siap dan sanggup untuk bersabar kala membangunkannya di subuh hari? Belum lagi ketika anak pertama kalian lahir kelak. Apakah calon suamimu itu sudah lebih dari mampu untuk mengumandangkan adzan ditelinganya?

Memang tidak ada larangan dalam Al Qur'an untuk menikahi seorang ekspatriat asal negerinya Hiroko. Selama calon suami yang kekasihmu itu mampu mengucap dua kalimat syahadat dan benar-benar bisa mengamalkannya. Aku hanya sekedar mengingatkan saja bahwa kadang kebahagiaan itu bisa datang dari mana saja. Bahkan dari hal-hal kecil sekalipun. Misalnya, saat suamimu itu mengimamimu dan kau mencium tangannya usai Attahiyat akhir dan engkau berdua mengucap doa penuh harap agar tidak menggantung di kaki langit sana. Betapa sederhananya hidup ini bila kita memang menginginkannya.


Aku tahu setiap pertemuan kita adalah luka. Luka yang hanya waktu saja yang mampu sembuhkan. Cepat atau lambat. Ingatlah oh Ninda, bahwa aku katakan ini bukan karena kebencianku setiap kau tak membalas senyumku. Bukan. Aku hanya ingin jadi temanmu saja, yang selalu mengingatkanmu pada hal-hal yang mungkin saja sempat tak terpikirkan olehmu.

Anggap aku ini termasuk dalam golongan kaum yang cemburu. Tapi aku tidak akan pernah rela bila harus melihatmu berjuang untuk sesuatu yang demikian. Walau aku tahu kau akan sanggup menghadapi seribu satu konsekuensi karenanya.

Ninda, aku pun tahu engkau mungkin tidak akan pernah menghiraukan suratku ini. Aku tahu engkau sudah muak dengan salam-salam yang sering kutitipkan. Aku tahu engkau selalu mengharapkan kenyataan bukan salam semata. Ninda, maafkanlah aku. Aku yang tak pernah bisa adil pada cinta kau dan dia. Padahal, ada kau dan dia itu pun bukan aku yang mau. Biar Tuhan saja yang menolongku. Membantuku untuk sedikit melupakanmu. Itu pun kalau Dia tidak keberatan.

Salam rindu penuh cinta,


diatas bis jemputan, 29 November 2011.


*) dari lirik lagu "Jatuh" dinyanyikan oleh She Band (formasi tahun 2000).

Selasa, 22 November 2011

Lagu untuk Cinta: The Power of Love

Selamat pagi Cinta,

Kalau ada inovasi yang paling menyenangkan dari dunia penerbangan nasional adalah in-flight entertainment. Satu hal yang menarik dari hal ini adalah mereka menyediakan musik untuk dimainkan via Jukebox. Sayangnya, semua album dalam sistem itu pre-loaded dan hanya menampilkan karya-karya terbaik atau yang sedang in saat ini.

Untungnya, selera maskapai penerbangan plat merah ini cukup lumayan. Ada beberapa kumpulan album terbaik dari Ella Fitzgerald hingga Rhoma Irama termasuk Celine Dion. Menghadirkan sejuta romansa apalagi di ketinggian 31.000 kaki tentu sangat berbeda dengan mendengarkan via radio di tengah malam buta. Betapa kesunyian dan kesepian begitu terasa kala menatap hamparan langit luas tak berbatas.

Saya sendiri cenderung lebih memilih versi The Power of Love dari Air Supply. Kenapa? Untuk alasan gender semata. Cause you're my lady, and i am your man. Tetapi, yang patut diperhatikan adalah karakter vokal dari Celine Dion. Walaupun dimainkan dalam tempo lambat lagu ini tetap mampu mengeksplorasi kekuatan vokal Celine Dion.

Putus cinta memang selalu tidak menyenangkan. Mengubur seribu harap sangatlah menyakitkan. The feeling that i can't go on, is let you someway. Entah kenapa Tuhan simpan lagu ini dalam playlist penyiar malam itu, Maret 2001. Hanya menambah kegalauan dan kerisauan pada jiwa meresah.

Peluk hangat dan cium mesra,
 

Biak Numfor, 19 November 2011

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...