Jumat, 30 Agustus 2024
Satu Dekade KLa Project
Rabu, 26 Juni 2024
Kenapa
Kenapa kita tidak pernah bisa setia pada satu hati saja?
Tapi,aku masih tetap merindumu...
Pegangsaan Dua, 21 Februari 2009
diedit pada 14 Maret 2021
Jumat, 22 Desember 2023
Titip Rindu buat Ibu*)
Rembulan merah mengambang
Langit Cikampek malam hari
Angin kemarau mengalun terbang
Hantarkan hasrat mimpi kembali
Debur rindu bawa kelam
Sejuta rindu bawa mimpi
Desiran ingin bakar malam
Jatiluhur terpatri sepi
Ibu... Si Anak meradang
Dalam sedu gemuruh hati
Ibu... anakmu pulang
Remuk redam hati terobati
Jakarta, 12 Agustus 2009
*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu
ditulis kembali mengenang perjalanan Jakarta-Bandung via Purwakarta sekaligus menyambut Hari Ibu 2010, diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk diterbitkan di blog ini.
Sesah Hilapna - A Commemorate to Unforgetfulness
Geuing beut sungkan papisah... Deuh... Sesah hilapna...
Kantenan urang teh nembean tepang aya nu eunteup gerets kadeudeuh sesah hilapna...
Nyanding asih dina ati... Deuh... sungkan patebih...*)
Rhein.. Carrarhein... Hanya itu saja yang ku tahu tentang dia. Hanya namanya saja. Pertemuan ini berlalu begitu saja. Tidak lebih cepat dari 1 lap balapan Formula 1. Juga, tidak lebih lambat dari Fastest Lap Kimi Raikonnen. Kau boleh bilang sepintas lalu saja. Ya, memang seperti itu. Untung saja, aku masih ingat namanya. Namanya yang selalu akan jadi bagian cerita hidupku ini.
Tidak perlu lagi kuceritakan bagaimana aku tahu namanya. Tidak juga kau perlu tahu mengapa sulit untuk melupakannya. Toh, pertemuan kami tidak disengaja. Aku tidak berkuasa apa-apa atas kejadian ini. Aku hanya tahu kalau aku sedang menjalani kemestian.
Aku sedang berada di dalam perjalanan. Perjalanan yang akan membawaku kepada diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa punya kekuatan dan harapan yang kuat untuk melakukan suatu perjalanan, sendirian. Perjalanan ini bukan dalam misi bisnis, dagang, bekerja, tapi lebih pada silaturahmi. Silaturahmi pada kenangan-kenangan yang berceceran di sepanjang jalan menuju tujuan. Silaturahmi dengan suasana baru yang kuharap dapat mengantarkanku pada diriku sendiri.
Whatever tomorrow brings i'll be there...**)
.
Aku masih berada dalam perjalanan sambil berpikir akan pergi kemana lagi setelah ini. Ada banyak kemungkinan. Aku masih bisa pergi lagi ke Magelang untuk mengambil kembali kenangan tentangnya. Kenangan yang tertinggal dalam kabut Merbabu. Belum lagi yang tercecer dan menyatu dalam butiran air di kolam renang Sukotjo. Benar-benar sebuah napak tilas yang mungkin bakal berkesan. Aku ingin sekali lagi ke Magelang atau, sekedar main ke Yogyakarta. Meretas mimpi yang mungkin terobati. Aku masih menatap gelap diluar jendela sana. Bus masih melaju kencang. Sepi. Sendirian melintas jalan sunyi. Sendiri. Seperti aku. Menuju kesana. Kesana.
Pegangsaan Dua, 19 Desember 2008
*)Sesah Hilapna, dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang
**) Drive, lagunya Incubus. Di Indonesia malah ditiru jadi nama Band.
diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini
Jumat, 16 September 2022
Surat Cinta dari Fuzhou (lagi)
Cintaku,
Hari ini aku kembali ke Fuzhou. Seharusnya aku sudah berada disampingmu, saat ini. Seharusnya aku sudah menghapus peluhmu, Mencium keningmu dengan segenap perasaan. Penuh cinta dan romansa. Sayang sekali, kita tidak pernah bisa memilih takdir. Seperti saat kita menuang segelas bir.
Aku kembali pada suara gemuruh ombak yang sama. Entah berapa juta hari yang lalu. Aku kembali pada angin yang sama. Angin yang terbawa topan Muifa dari arah ShangHai sana. Aku kembali pada aroma yang sama. Aroma perpisahan yang selalu tidak pernah menyenangkan.
Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi. Apakah kembalinya aku ini meninggalkan jejak pada dia dan dirinya. Aku tidak pernah tahu apakah ini adil untuk mereka. Siapa bilang hidup ini begitu "fair" soal asmara dan membagi hati.
Manisku,
Sudah terlalu banyak perasaan di dunia ini. Setiap saat, setiap waktu, kita menciptakannya. Aku, engkau, kita, mereka, dan entah siapa lagi. Aku kembali menatap lampu-lampu jembatan yang masih sama warnanya seperti saat kutinggalkan. Gemerlap, serupa kilau auramu yang takkan pernah mudah untuk kulupakan.
Sayangku,
Agaknya, kali ini perasaaanku sedikit lega. Aku tahu akan menuju kemana. Aku akan pulang padamu. Kembali lagi padamu. Kembali seperti dulu. Saat desah nafasmu begitu dekat, dan engkau kupeluk erat.
Terimalah salam sayangku yang kesekian juta kalinya. Entah engkau masih mau apa tidak. Aku hanya tahu satu hal. Aku mencintaimu.
dari tempat paling sepi di dunia.
Teluk Haiying, Fuzhou. 14 September 2022
Surat Cinta dari ShangHai
Cintaku,
Akhirnya, aku tiba juga di ShangHai. Sebuah kota yang hanya pernah kita bayangkan. Sebuah nama yang hanya kita kenal lewat film-film Jacky Chan dan Andy Lau. Sebuah nama yang tidak pernah terlintas akan menjadi goresan dalam catatan kecil perjalanan kita. Aku merasakan denyut kota yang sama. Denyut kota yang pernah kita rasakan ketika mengitari Bundaran HI kala itu. Saat senyummu masih selalu menumbuhkan keraguanku.
Begitulah, cintaku. Aku memulai perjalanan yang kesekian kalinya ini di Hari Kemerdekaan Republik tercinta. Aku terdampar di pinggiran kota, namanya Minhang District, mungkin daerahnya seluas kecamatan. Aku akan memulai hari-hariku yang hanya seperti ini untuk entah berapa lama.
Aku teringat pesan darimu dulu. Engkau selalu bilang padaku untuk tidak pernah mengacaukan hari pertama. Hari pertama apapun itu. Aku berusaha memenuhi janjiku padamu itu. Aku jalani hari-hariku dengan selancar-lancarnya.
Manisku,
Hari-hariku disini kemudian adalah hari-hari penuh rindu. Hari-hari dimana suara-suara gemuruh kota selalu membawa ingatan ini kepadamu. Aku titipkan rindu pada angin. Aku titipkan rindu pada gelombang. Namun, mereka semua tidak pernah sampai kepadamu. Katanya, mereka dihantam badai topan di Laut Cina Selatan.
Aku pernah mencoba hilangkan sepi. Aku pergi menuju keramaian kota. Aku menuju pusat cahaya. Aku hanya mampu terdiam dan takjub. Aku takjub pada takdir yang membawaku kemari. Hanya untuk mengingat namamu dan mendoakanmu seraya memohon pada Tuhan untuk jangan hilangkan perasaan ini kepadamu.
Aku berada di tepian sungai terbesar disini. Dengan segala temaram dan gemerlap cahaya kota. Aku hanya merasakan kesepian. Engkau tidak disini bersamaku.
Sayangku,
Sisa perjalananku selanjutnya adalah hari-hari berselimut rindu. Aku menghitung hari. Menit demi menit. Detik demi detik. Tanpa terasa ada satu dan dua hati mengisi hariku. Menemani hari-hari sepi tanpa dirimu. Melewati malam dengan lagu-lagu galau kesukaanmu hingga akhirnya merasukiku. Cukup dalam, namun belum sedalam perasaanku padamu.
Aku tidak tahu apakah ini sebuah kesalahan. Semakin aku coba untuk sembunyi hasilnya percuma saja: Aku tersiksa lagi. Mungkin, kesalahan ini semakin terasa indahnya.
Pada suatu malam, ketika hujan badai telah reda dan malam semakin meninggi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup semua angin malam yang pernah ada dalam lirik lagu Broery Marantika. Aku hirup semuanya hanya untuk menyuruh mereka agar mau membuka kembali jala-jala kenangan bersamamu. Hasilnya sama saja: Aku galau!
Minhang, ShangHai. 10-12 Sept 2022
Surat Cinta dari Fuzhou
Apakah perlu aku ceritakan tentang mimpi-mimpiku selama disini? Kadang-kadang aku mengalami mimpi yang buruk. Sampai malam tadi pun aku belum pernah bermimpi tentangmu, tentang kita. Tentang apple tree yang just grow for you and me.
Aku selalu bersyukur bahwa aku terbangun pada pagi hari buta disini. Lengkap dengan debur ombak yang berkejaran, di bawah bulan setengah, Teluk Haiying. Tiba-tiba aku rindu pada Bapakku. Entah, tiba-tiba aja. Setiba-tiba waktu aku katakan aku mencintaimu di depan lift itu.
Setelah makan siang, aku mencoba mengulang kembali konser "One Night Only" tahun 1997. Aku pernah menyaksikan konser itu lewat DVD yang dibeli di Pasar Kembang. Pasar bajakan terlengkap sedunia hahaha. Agak sedikit repot memang karena Youtube tidak ada disini. Untung saja, ada satu website yang cukup lengkap. Agaknya, orang-orang China mulai terbuka. Bagaimana tidak? Ada satu orang yang mengunggah video konser berdurasi 110 menit ini.
Aroma nostalgia mewabah dan mengisi ruangan kamarku. Ingatanku mengembara jauh. Jauh ke tahun-tahun dimana Bapak masih menyetel Bee Gees lewat pemutar kaset dan speaker besarnya. Engkau dimana waktu itu, sayang?
Aku jadi teringat kembali padamu. Pada janjiku yang tidak pernah bisa aku tepati. Janji yang tidak jadi bukti how deep is your love-ku padamu. Kau tentu ingat, bagaimana aku berjanji akan menuliskan lirik lagu itu untukmu dan mengirimkannya ke rumahmu. Itu adalah kesalahan. Kesalahan yang aku selalu kenang dan tidak akan pernah aku buat lagi.
Cintaku, manisku, sayangku.
Aroma musim panas disini sangat terasa. Malam begitu hangat. Kadang, kalau sedang melamun aku bicara sendiri pada rembulan yang menggantung di atas sana. Aku tanyakan kabarmu padanya. Aku tanyakan bagaimana harimu padanya. Padahal aku tahu, harusnya aku biarkan bulan bicara sendiri. Seperti kata Broery. Namun, begitulah hatiku. Aku hanya sanggup menelan kerinduan saja setiap malam.
Malam semakin meninggi. Bulan mulai naik perlahan. Deburan ombak berdesir tenang. Lampu kota berkilapan. Lampu suar warna hijau seperti dalam film 'The Great Gatsby' melirik dengan genit. Aku pendam rinduku padamu bersama kata-kata yang entah kapan akan sampai kepadamu dari tempat paling sunyi di dunia.
Peluk dan cium,
Minggu, 31 Juli 2022
Surat untuk Aldebaran
Aldebaran,
Akhirnya, sampai juga waktu Bapak untuk melihatmu masuk Sekolah Dasar setelah Akhirussanah TK yang sempat membuat air mata ini kembali mengalir. Akhirnya, Bapak dapat merasakan hal yang mungkin dirasakan oleh Akung dahulu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa haru, ada rasa bahagia, dan ada juga banyak kekhawatiran. Untuk yang terakhir ini, sering Bapak titipkan pada Allah saja. Mudah-mudahan, Ia mau membantu Bapak memanage segala macam rasa khawatir ini.
Bapak dan Ibu tentunya berharap Alde akan cepat beradaptasi dengan segala kegiatan di masa SD ini yang kami rasa sangat tidak mudah. Alde sudah mengalami masa sekolah di zaman pandemi, kemudian mulai tatap muka kembali-dengan segala pembatasan. Tiba-tiba, Alde harus menjalani sekolah hari penuh. Alde harus bangun pagi dan segera bersiap pergi ke sekolah, lalu pulang sebelum adzan Ashar berkumandang.
Ah, rasanya tidak adil bila membandingkan sekolah SD zaman Bapak dan Ibu dulu. Entah bagaimana Bapak harus menjelaskan padamu soal konsep merdeka belajar dari Pak Menteri yang sekarang ini. Pun, ketika Bapak menyadari bahwa buku-buku pelajaran sekolahmu ukurannya lebih besar dari zaman kami dulu. Semoga engkau memiliki tubuh dan badan yang kuat untuk menjalani hari-harimu nanti.
Aldebaran,
Selamat menjalani hari-hari ke depan, Nak. Bapak dan Ibu selalu mendoakan engkau dan adikmu agar kelak dapat mengamalkan setiap ilmu dan pelajaran yang telah didapat. Kiranya, Allah SWT membantu, memudahkan, dan mencurahkan berkah-Nya. Jadilah anak yang kuat dan berani. Menirukan Iwan Fals, "..tinjulah congkaknya dunia, Buah Hatiku. Doa kami di nadimu...".
Cipayung, 22 Juli 2022
Rabu, 12 Januari 2022
By The River Piedra, I Sat Down and Wept: Pembacaan Kedua
| Sumber gambar: www.goodreads.com |
Buku ini adalah buku kedua dari Paulo Coelho yang saya baca setelah 'The Alchemist' atau 'Sang Alkemis'. Pertama kali dibaca pada Oktober 2009 dan selesai sebulan setelahnya. Terus terang, buku ini punya judul yang menarik untuk dibaca. "By The River Piedra, I Sat Down and Wept", bisa dimaknai bermacam-macam. Entah itu menangis sedih atau tangis bahagia, rasanya membuat penasaran. Apalagi gambar sampulnya juga mendukung imaji atas pembacaan teks didalamnya.
Bertema cinta, buku ini menceritakan perjalanan cinta dua manusia, Pilar dan sang lelaki teman masa kecilnya yang akhirnya menyatakan cintanya setelah menjalani kehidupan spiritual yang mendalam. Mereka berdua akhirnya dipertemukan oleh takdir. Mereka pun mengadakan perjalanan dengan segala lika-likunya. Termasuk segenap perjalanan yang dipenuhi pergulatan dan karunia Tuhan.
Jujurly, saya sudah lupa dengan kesan pembacaan pertama atas buku ini setelah satu dekade lebih. Saya menghabiskan waktu sebulan untuk menamatkannya. Namun, pada pembacaan yang kedua ini rasanya lebih mengalir dan ringan saja. Mungkin karena pengalaman dan jam terbang saya dengan novel lain sehingga membuatnya lebih mudah.
Saya masih ingat bahwa saya mengharapkan sebuah kejutan pada buku ini, terutama karena judulnya. Saya harap pembaca maklum adanya, karena ternyata buku ini tidak memiliki banyak kejutan. Ada sedikit intens menjelang akhir cerita, ketika mereka berdua telah sampai pada Biara di sekitar Sungai Piedra. Namun, lagi-lagi disana hanya ada sebuah akhir yang bahagia. Cinta telah menemukan jalannya sendiri.
Judul : Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2005
Tebal : 224 hal.
Genre : Novel
Pajang, 12 Januari 2022
Senin, 03 Januari 2022
Daun dan Hati yang Jatuh
Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin.
Begitu pun hatiku, berkali kau buat jatuh, tak pernah sekalipun aku membencimu.
Cengkareng, 29 Desember 2021
Kamis, 31 Desember 2020
Sunatan
Selasa, 07 Juli 2020
Tiga Tahun
Senin, 23 Desember 2019
Helen dan Sukanta
![]() |
| Sumber: www.goodreads.com |
Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.
Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.
Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.
Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : The Panasdalam Publishing
Tahun : 2019
Tebal : 364 hal.
Genre : Novel-Sejarah
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.
Kamis, 28 November 2019
Selamat Ulang Tahun, Aldebaran
Selasa, 02 Juli 2019
Selamat Ulang Tahun (Kedua)
Bapak senang dan bersyukur bisa tiba sampai hari ini. Walau Bapak tidak bisa mendampingi bersama melewatinya. Selamat ulang tahun, Aisyah.
Hari ulang tahun keduamu ini membuat Bapak senang sekaligus bersedih. Bapak senang, itu sudah pasti. Aisyah sehat, riang, dan selalu menghibur Bapak dan Ibu. Namun, Bapak sedih karena Uti harus masuk Rumah Sakit. Uti harus dioperasi besok di RS Mata Nasional di Bandung.
Harusnya, Bapak ajak serta Ibu, Mas Alde dan Aisyah. Kita bersama mendampingi Uti. Tapi begitulah nasib berkata. Bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Sudah biar Bapak sendiri saja. Mas Alde sudah mulai senang mengaji kembali dan belajar di Bimba.
Aisyah sayangku,
Tidak ada perayaan untukmu hari ini. Tidak ada balon alfabet mengeja huruf demi huruf namamu. Namun, itu tidak mengurangi luapan kebahagiaan di hati Ibu dan Bapak beserta Uti, Nti, Kakek, dan Nenek. Adalah doa dan harapan yang selalu kami panjatkan ke Illahi Robbi. Kelak agar engkau tumbuh seperti yang sudah diamanatkan.
Aisyah manisku,
Terimalah catatan kecil ini. Sebagai penanda singkat bahwa Bapak kelak kan mengenang hari ini. Selamat ulang tahun. Teruslah menjadi surga kecil kami.
Bandung, 2 Juli 2019.
Rabu, 13 Desember 2017
Elegi Senja Pertama
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada
Tidak ada matahari pagi ini. Langit masih mendung sisa hujan semalam. Ibu masih terbaring diam di ranjang.
"Aku tinggal dulu. Kamu baik-baik ya. Jangan lupa makan."
Bagas membangunkanku pelan dengan kata-katanya. Aku tidak tahu kalau dia ikut menginap denganku disini, disamping Ibu. Ah, aku pasti lelah usai menempuh perjalanan panjang semalam. Amsterdam-Jakarta-Bandung ternyata tidak sejengkal jari manisku di bola dunia. Perjalanan pulang yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
![]() |
| Sumber gambar: www.hipwee.com |
*
"Kamu pergi sekolah sendirian bisa? Ibu nggak bisa antar kamu pagi ini. Ibu harus mengantar pesanan."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nita bisa pergi sendiri. Siapa tahu Selly masih di rumah, jadi bisa bareng ke sekolah."
"Ini uang jajan kamu. Kunci rumah Ibu simpan di tempat biasa."
Aku masih ingat percakapan dengan Ibu di satu pagi yang sudah lama sekali. Aku masih SD waktu itu. Entah kenapa ingatanku pagi ini kembali ke masa itu. Satu waktu dimana aku mulai menyadari bahwa Ibu adalah seorang Ibu yang luar biasa kuat, tabah, dan tegar. Satu titik dimana aku mulai merasakan ketulusan Ibu, yang takkan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini.
Aku terlahir tanpa mengenal siapa ayahku. Kata Nenek, ayah sudah lama meninggal sebelum aku lahir. Ayahku seorang ahli biologi molekuler yang juga seorang dosen. Determinasi dan ketekunannya membuat Ayah punya reputasi yang baik di kalangan akademisi dan peneliti. Sayang, hal itu pula yang perlahan menggerogoti tubuh Ayah. Ayah meninggal karena gangguan fungsi liver. Selebihnya, aku tidak tahu lagi soal Ayah. Tepatnya, belum mencari tahu.
Aku tumbuh dibimbing Ibu seorang diri. Kami tinggal berdua di rumah peninggalan Ayah. Sebenarnya, Ibu bisa saja menjual rumah itu dan kami tinggal bersama Nenek. Waktu aku tanya begitu, Ibu selalu bilang bahwa rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Ibu dan Ayah. Lagipula, ada campur tangan Kakek yang turut mendesain facade rumah itu, maklum ia seorang arsitek.
"Bukankah kenangan itu ada untuk dilupakan, Bu?"
"Begitu, ya. Kamu lagi baca buku apa?"
"Nggak sih. Tapi, banyak orang memilih kenangan mereka sendiri dan berusaha melupakannya."
"Sayang, suatu saat nanti kamu akan tahu, kenapa kenangan diciptakan dan mengapa beberapa dari mereka tinggal di hati kita."
Aku memang tidak pernah bisa sedekat itu dengan Ibu. Aku sangat jarang bisa bicara atau sekedar mengobrol ringan dengannya. Aku mulai mau dekat dengan Ibu usai menstruasi pertamaku. Aku terlalu takut menghadapi gerbang dimulainya masa remajaku. Kata orang, aku juga akan mengalami masa puber. Dari majalah remaja yang aku sering pinjam dari Kak Sheila, kakaknya Selly, aku menemukan banyak hal soal bagaimana menjadi seorang remaja. Termasuk tahapan-tahapan yang akan aku lalui nantinya. Kak Sheila sering berkata padaku bahwa tak lama lagi aku akan segera merayakan "Goodbye Miniset". Terus terang semua itumembuatku takut. Aku butuh seseorang untuk menguatkanku, mengantarku dengan perasaan gembira menuju gerbang itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi, selain Ibu tentunya.
Ibu dengan setia menemaniku, ketika aku memilih dan membeli pembalut wanita pertamaku. Aku melihat api cinta yang dahsyat dimatanya. Barangkali, Ibu tidak pernah menyangka bahwa ia benar-benar ada disisiku, selalu ada disampingku, hingga aku menjalani masa remajaku. Ibu juga yang membantu menjelaskan soal perubahan fisik yang terjadi pada tubuhku. Ibu juga tak henti-hentinya memperhatikanku. Mulai dari penampilan, gaya bahasa, tutur bicara, segalanya tak luput dari perhatian Ibu. Aku semakin sadar bahwa aku akan tumbuh jadi perempuan dewasa, tak lama lagi. Aku jadi semakin takut.
Satu kali, aku mulai tahu rasanya jatuh cinta. Seperti anak SMP lainnya, aku terkagum-kagum pada kakak kelas yang jago main basket. Setiap pulang sekolah hari Rabu, aku dan Selly selalu punya alasan untuk pulang telat. Aku biasa berkilah pada Ibu bahwa kami harus pergi ke rumah teman lain untuk kerja kelompok. Padahal, aku dan Selly hanya duduk di pinggir lapangan sekolah melihat Arya dan Bimo latihan basket.
Aku dan Selly berhadapan dengan seorang bintang lapangan yang tentunya juga idola semua perempuan di sekolah ini. Kami tidak pernah bisa mengalihkan atensi Arya dan Bimo. Sampai suatu saat, mereka mengajak kami minum jus di kantin sekolah usai latihan. Mereka heran karena kami selalu jadi penonton setia latihan mereka. Aku dan Selly tentu senang merasa diperhatikan seperti itu. Ternyata mereka tahu kehadiran kami setiap latihan. Namun, rasa senang yang terlanjur melambung itu hanya sesaat saja. Arya dan Bimo sudah punya pacar di sekolah lain. Damn!
Lain waktu, aku jatuh cinta lagi pada guru pelajaran Seni Musik. Aku tidak tahu apakah Ibu pernah mengalami hal yang sama denganku. Aku suka memanggilnya Mas Daniel, karena ia masih cukup muda dan juga jadi anggota The Symphony 8, sebuah grup orkestra klasik yang cukup terkenal di kotaku. Aku mulai rajin latihan biola, alat musik yang aku pilih dengan asal hanya karena ingin jadi seperti seorang Sharon Corrs. Aku memainkan melodi 'Toss The Feathers' saat pertunjukan yang jadi ujian akhir pelajaran. Aku berhasil mendapat nilai sempurna dan standing ovation dari Kepala Sekolah serta Mas Daniel. Lagi-lagi, aku dibuat kecewa ketika tiket spesial pertunjukan The Symphony 8 pemberian Mas Daniel hanya untuk sekedar melihatnya menerima pelukan mesra dari seseorang yang mengaku sebagai kekasihnya.
Seakan bisa membaca perasaanku, Ibu mulai mengajakku bicara sejak kejadian malam itu. Ibu melihat perubahan yang tidak biasa akhir-akhir ini. Aku tidak lagi bergairah memainkan biola ketika Ibu memintanya. Tiba-tiba aku tersadar saat aku sudah berada di pelukan Ibu, dengan derai mata yang masih hangat. Aku masih ingat kata Ibu.
"Gagal memiliki bukan berarti gagal mencintai, sayang."
*
Aku tidak pernah menyangka bahwa aku masih bersama Anita hingga saat ini. Menemaninya pergi membeli pembalut wanita pertamanya hingga menjelaskannya soal perubahan fisik yang terjadi padanya. Sepuluh tahun berlalu sejak ia bisa memanggilku Ibu dengan sempurna. Kini, malah aku yang tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak perempuanku yang belum pernah bertemu ayahnya itu kini sudah jadi gadis remaja. Tak lama lagi, seorang laki-laki akan jatuh cinta padanya. Atau malah ia yang jatuh hati duluan, pada Guru Musiknya barangkali. Seperti aku dulu.
Aku jadi malu bila mengingat lagi masa itu lagi. Aku tidak akan pernah lupa Bagus yang gila kerja itu berani bertemu Bapak dan mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Padahal, saat itu aku masih jadi kekasih Daniel, seorang guru piano yang sengaja Bapak pilih untuk mengajariku memainkan melodi lagu kesukaannya, "Memories Of Youth" dari Richard Clayderman.
Sayangnya, Daniel tidak punya cukup nyali untuk melamarku. Ia terlalu takut menghadapi Bapak karena tidak mau jadi orang yang tidak tahu diri. Aku berkali-kali meyakinkannya bahwa cinta kami tidak akan pernah gagal hanya karena ia 'berhutang' pada Bapak. Bapak sangat menghargai kejujuran dan keberanian. Bagus tahu itu, maka dengan sepeda kumbangnya ia datang ke rumahku dan menyampaikan niatnya.
Aku mendapat restu kedua orangtuaku untuk menikah dengan Bagus. Dia sudah jadi dosen muda waktu itu. Aku cukup realistis untuk memulai hidupku bersama Bagus karena gaji dosen waktu itu tidaklah terlalu besar. Banyak pria lain yang patah hati karena aku lebih memilih Bagus. Bahkan, Handi, arsitek handal tangan kanan Bapak pun ikut merasakannya.
Aku kaget ketika Bagus membawaku ke konservatorium milik sahabatnya. Tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan kami, Bagus memainkan lagu kesukaan Bapak "Memories of Youth" dan "Ballade pour Adeline" kesukaanku. Aku tidak menyangka bahwa Bagus bermain piano lebih baik daripada aku yang sengaja dikursuskan oleh Bapak. Sejak itu, Bagus tidak pernah berhenti memberiku kejutan.
Aku jadi anak perempuan pertama yang memberi cucu untuk Bapak dan Ibu. Anita Diandra Febrina, begitu kami menamainya. Lahir tanggal 14 Februari, dimana Bagus masih berada di Australia untuk hari seminar pertamanya. This mommy little girl will never see his father karena Bagus meninggal tak lama setelah kepulangannya. Kataku, sambil menggendong Anita di peristirahatan terakhir lelaki pemain melodi terindah sepanjang hidupku.
Aku masih menulis buku harianku ketika Anita menerima telepon pertama dari anak lelaki yang sedang mendekatinya. Anita mulai mengambil jarak denganku, aku bisa rasakan hal itu. Aku rasa inilah waktu untuk memberinya ruang privasi. Peranku berubah, aku harus menjadi seorang teman sekaligus sahabat untuknya.
Aku cukup tahu bagaimana Anita bermain dengan perasaannya. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Naluri Ibu manapun di dunia ini pasti bisa merasakan getarannya. Apapun itu, aku harus tetap bertahan dan selalu ada untuknya. Aku tahu ketakutan terbesarku. Akhirnya, aku harus akui kalau aku sangat takut untuk tidak selalu mampu menemaninya, selalu disisinya. Melewati prom night pertamanya, kelulusan SMA yang selalu penuh cerita, hari-harinya di universitas, hingga mendengarkan cerita soal wawancara kerja pertamanya.
*
Tanpamu... semua tak berarti... cinta sudah lewat...
Pada senja pertamaku di Tanah Air, aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Aku mendadak merasa jadi orang paling kejam di dunia. Aku meninggalkan Ibu seorang diri di rumah demi sebuah pekerjaan di Belanda sana. Aku meninggalkan Ibu beserta segenap cinta kasih yang pernah ia sematkan dalam setiap hela nafasku. Aku masih bisa merasakan semua kasih sayang yang telah Ibu berikan sepenuhnya. Aku yakin, cinta tidak pernah gagal membuat Ibu mengerti. Hingga saat ini, saat aku memandangi pusaranya.
Jakarta-Bandung, 14 Februari 2014.
Selasa, 31 Oktober 2017
Kitab Omong Kosong
![]() |
| Sumber gambar: www.goodreads.com |
Catatan pendek diatas dibuat usai menamatkan pembacaan Kitab Omong Kosong medio Juli 2008. Waktu itu saya baru saja membeli buku itu terbitan Bentang Pustaka, 2006. Sampulnya bukan lagi imaji kreatif dari Danarto melainkan agak lebih artistik berwarna kecoklatan.
Well, kalau harus menuliskan kembali apa yang saya dapat dari kitab rekaan Togog itu rasanya jadi agak sedikit-sedikit lupa, kalau saja bukan karena acara bersih-bersih buku kemarin. Barangkali, ‘Kitab Omong Kosong’ sendiri merupakan sebuah ungkapan filosofis untuk mengungkapkan sebuah ketiadaan, tentunya dalam konsep filsafat. Benarkah itu? Saya juga tidak pernah tahu.
Kitab ini membuat kita kembali membaca perjalanan dan kisah cinta Sri Rama dengan Dewi Shinta. Sebuah kisah epos yang terkenal soal cinta-cintaan. Sebuah kisah dimana cinta harus dibuktikan dengan sebuah pengorbanan. Sebagaimana Sri Rama yang menurunkan Hanoman untuk merebut Shinta dari cengkeraman Rahwana, Sang Penguasa Alengka.
Saya dibuat takjub betul akan sosok seorang Hanoman yang gagah berani. Pun dengan berbagai kesaktian yang dimilikinya. Hanoman yang ada di benak saya adalah seorang panglima yang mampu melakukan apa saja untuk memenangkan pertempuran dengan pasukan Rahwana. Saya yang tidak pernah akrab dengan dunia pewayangan jadi ingin tahu bagaimana kisah-kisah wayang diadaptasi. Bagaimana tokoh-tokohnya juga sekalian.
Anyway, ‘Kitab Omong Kosong’ sangat berhasil membuat saya mengidolakan seorang Hanoman. Saya bahkan berkhayal Sembilan Hanoman muncul di Bundaran HI dan mengacak-acak Jakarta karena negeri ini sudah tidak sanggup memberantas para koruptor. Pembaca setia SGA pasti tahu asal-usul munculnya imajinasi saya itu. Hahaha.
Kisah cinta antara Sri Rama dan Dewi Shinta yang saya tahu dan saya baca dengan tuntas adalah kisah yang ada dalam kitab ini. Itu jauh sebelum saya tahu lewat buku Sudjiwo Tejo, Rahvayana, bahwa sebenarnya yang mencintai Shinta dengan tulus dan ikhlas adalah Rahwana. Sekali lagi, Rahwana. Bukan Sri Rama. Mengapa? Kalau memang cinta itu tidak bersyarat mengapa Sri Rama masih meragukan kesucian Shinta selama dalam masa penyekapan di Alengka. Sri Rama yang meragu itu akhirnya membuat Shinta murka dan memutuskan untuk moksa.
Diluar perdebatan wacana antara Rama, Shinta, Rahwana, dan Sudjiwo Tedjo, saya sangat menikmati pembacaan ‘Kitab Omong Kosong’ ini. Rasanya seperti betul-betul membaca sebuah ‘kitab’ yang penuh cerita dan imajinasi.
Judul : Kitab Omong Kosong
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2006
Tebal : 524 hal.
Genre : Sastra Indonesia-Novel
Kamis, 31 Agustus 2017
Dilan 3
![]() |
| Sumber gambar: www.goodreads.com |
Prasangka, betul-betul bisa mempengaruhi keyakinan. Mempengaruhi persepsi dan menimbulkan pikiran negatif.
Jangan heran bila pembaca yang budiman sudah disuguhi quote pendek dari Dilan: “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.” Membuat angan-angan pembaca setidaknya lari ke arah pembayangan perpisahan antara Dilan dan Milea. Bukankah dalam buku kedua hal itu sudah ditengarai oleh Milea?
Saya setuju bila buku ini adalah sebuah klarifikasi dari Dilan, sang penutur utama. Dilan memberikan semua penjelasan mengenai semua yang sudah ia lakukan bersama Milea, termasuk semua yang sudah dituturkan Milea dalam buku terdahulu. Klarifikasi yang Dilan berikan dimaksudkan agar pembaca yang budiman sekalian dapat lebih memahami lebih dari apa yang telah Milea ungkapkan.
Kamu boleh bebas berpendapat tentang diriku, bahkan dengan penilaian yang terburuk sekalipun karena aku percaya, di dalam caranya masing-masing, setiap orang melakukan kesalahan. Dan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan.
Saya tidak mau memberi nilai bahwa serial ini adalah sebuah kisah romantis antara sepasang anak manusia yang dirundung cinta. Sekilas mungkin tidak salah bila pembaca berpendapat demikian. Namun, bila dipandang dari sisi biografis, trilogi Dilan-Milea ini tidaklah terlalu salah juga. Pun bila, penulisan yang dirangkai dengan ragam bahasa tutur seperti layaknya membaca sebuah buku harian.
Jalanilah hidupmu dengan mengacu kepada pikiranmu sendiri tanpa harus memaksa orang untuk berpikir yang sama dengan dirimu.
Saya tidak mengharapkan sebuah kejutan dari buku ini. Bila akhirnya difilmkan, itu urusan lain. Biar Dilan dan Milea hidup sebagai tokoh abstrak dalam khayal semata. Yang jelas, kehadiran sesosok Cika dalam hidup Dilan cukup membawa arah kisah ini ke arah yang seharusnya: Perpisahan.
Jumat, 31 Maret 2017
Excuse-Moi: Sebuah Pergulatan Identitas
![]() |
| Sumber gambar: www.goodreads.com |
Selasa, 31 Januari 2017
AADC #2: Kamu Jahat!
![]() |
| Sumber gambar: www.liputan6.com |
Sutradara : Riri Riza
Pemain : Nicolas Saputra, Dian Sastro, Dennis Adhiswara, Ario Bayu,
Produksi : Miles Productions
Tahun : 2016
Genre : Drama Romantis






