Tampilkan postingan dengan label Koes Plus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koes Plus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Januari 2018

Selamat Jalan, Om Yon

Sumber gambar: musixmatch.com
Jum'at pagi ini saya seakan tidak percaya ketika membaca running text sebuah stasiun televisi. Isi berita nan singkat itu ibarat sebuah pesan telegram: Yon Koeswoyo meninggal dunia.

Tulisan ini dibuat pada Jum'at malam saat acara "Mengenang Yon Koeswoyo" disiarkan Lembaga Penyiaran Publik tercinta kita. Sebuah pentas kecil yang mengulang kembali kejayaan Koes Plus dengan menampilkan generasi kedua mereka. Acara yang juga menandai perjalanan 30 tahun Koes Plus berkarya. Om Yon terlihat masih segar.

Saya mulai akrab dengan karya Koes Plus lewat album 'Pantun Berkait' yang sering diputar Bapak selepas adzan Isya. Lirik lagu 'Perasaank begitu mengena pada saya. Pun, 'Tangis Dihatiku'. Suara Om Yon selalu terngiang-ngiang setiap ingat lagu-lagu itu.

Saya belum paham betul sebab meninggalnya Om Yon. Saya belum membaca berita apapun mengenai kabar duka ini. Apapun itu, Om Yon kini meninggalkan kita dan telah beristirahat bersama dengan Om Tonny dan Om Murry.

Om Yon telah pergi, entah dengan menitipkan tangis dihatinya atau tidak. Namun, beban hidupnya kini tak lagi berat karena betapa megah hidupnya kau bilang, dalam tidurmu semua akan hilang. 


Medan Merdeka Barat, 5 Januari 2018.



Selasa, 02 September 2008

Selamat Ulang Tahun, Bapak - Catatan Seorang Anak


Hari ini seorang Ayah yang biasa dipanggil Bapak oleh anak-anaknya berulang tahun tepat di hari kedua di bulan Ramadhan 1429 H.
Dalam hidupnya yang sekarang ini ia hanya menjadi seorang penyuka ikan dan penjual pulsa. Ia sendiri mungkin tidak terlalu berharap akan terjadi sesuatu yang istimewa hari ini. Atau malah anak-anaknya yang menyiapkan segala sesuatunya. Ah, ia tidak perlu semua itu. Ia hanya ingin kedua anaknya itu selalu menaati dan menghormatinya saja. Tidak lebih. Apalagi, kini setelah pensiun dan menjalani hidupnya sebagai seorang pensiunan.

Kalau Tuhan mendengar do'anya, semoga Tuhan dapat mengabulkan permintaannya yang ingin hidup sampai menjadi wali nikah anak-anaknya hingga menimang cucu. Artinya, ia meminta umur yang lebih panjang. Agar bisa melihat cucu-cucunya tumbuh besar dan bisa menyebutnya "kakek", "mbah" atau "aki".

Hanya berbeda 10 tahun dari usia negara ini. Dalam usianya yang kesekian itu, ia telah merasakan semuanya.

Aku masih mengenang tangis haru Bapak dan Ibu di hari wisuda itu. Itu hanya sebagian kecil saja dari yang bisa aku berikan. Selebihnya, aku usahakan. Betapa sudah begitu banyak kebaikan yang engkau berikan dan aku masih saja membalasnya dengan perlakuan kasar yang sangat mungkin membuatmu begitu kecewa. Tapi engkau tidak begitu, engkau masih tetap menyapaku dan memperbaiki segala kesalahanku.

Bapak, aku anakmu ini hanya bisa berharap Bapak bisa menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Aku yakin Bapak pernah kecewa dengan anakmu ini, tapi itu semua cuma satu bagian kecil saja dari seluruh pelajaran kehidupan yang engkau berikan.

Bapak, saya tutup tulisan ini dengan lirik lagu yang sering Bapak putar di Windows Media Player. Lagu kesukaan Bapak dari Koes Plus, Ayah. Mungkin Bapak terkenang Eyang juga bila mendengar lagu ini. Tapi untuk kali ini, lagu ini hanya untuk Bapak saja. Dan hanya Bapak saja.


Ayah ...
Betapa kuagungkan
Betapa kuharapkan

Ayah ...
Betapa kau berpesan
Betapa kau doa kan

Ayah
Betapa pengalaman
Dahulu dan sekarang

Ayah
Rambutmu t'lah memutih
Cermin suka dan sedih

Ayah ...
Ceritakan kembali
Riwayat yang indah waktu dahulu

Ayah ...
Ku takkan bosan mendengar
Riwayat waktu kau muda perkasa

Ayah...
Kau dapat merindukan
Kau dapat mengenangkan

Ayah...
Waktu terus berlalu
Sampai ke anak cucu


*) hanya sebuah catatan kecil untuk Bapak

Bukit Pakar Timur 100, 2 September 2008, 12.31

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...