Tampilkan postingan dengan label story of a song. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story of a song. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2024

Satu Dekade KLa Project


 
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Album “Dekade: 1988-1998” adalah album Kla Project pertama yang saya dengarkan secara penuh full album. Alasannya mudah saja, dalam album ini ada banyak lagu-lagu popular Kla Project dan menjadi hits pada masanya. Jadi, rasanya sangat menyenangkan. Satu album penuh yang diisi dengan lagu-lagu hits dan bisa saya ikut nyanyikan. Saya meminjam album ini dalam bentuk kaset pita dari Paman. Saya tidak punya pretensi apa-apa, hanya saja saya butuh sesuatu untuk saya dengarkan selain radio dan kaset-kaset lainnya. Waktu itu, menjelang ujian SPMB. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Album ini menemani saya dalam menjalani hari-hari persiapan ujian.

Hari-hari itu adalah masa yang tak pernah mudah. Saya hanya punya waktu sebulan penuh untuk persiapan dan latihan soal. Saya mulai jam 07.00 di pagi hari dan selesai setiap jam 17.00. Istirahat hanya pada saat butuh ke kamar kecil dan waktu shalat saja. Selebihnya, saya berada di meja belajar berkutat dengan buku-buku persiapan ujian. Saya tidak melakukan kegiatan belajar di malam hari. Kalaupun ada hanyalah sekedar membaca-baca pelajaran yang bisa dibaca dalam rumpun Ilmu Sosial. Maklum, saya yang murid IPA ini mengikuti ujian SPMB IPS. Bukan IPC, agar saya fokus. Sebuah Keputusan yang saya anggap tidaklah terlalu salah.

Album ini menemani malam-malam saya. Semakin lama saya dengarkan, saya semakin menikmati musikalitas Kla Project. Ada beberapa lagu dari sesi KLakustik yang disisipkan dalam album ini. Kalau tidak salah, “Yogyakarta” yang selalu membuat rindu kembali ke Yogyakarta, “Waktu Tersisa”, “Salamku Sahabat”, “Tentang Kita”, dan “Semoga”. “Semoga” ini cukup baru untuk telinga saya. Sehingga lagu ini kemudian jadi favorit saya Bersama dengan “Belahan Jiwa”. Apalagi nuansa yang dihadirkannya adalah suasana konser KLakustik di Taman Ismail Marzuki tahun 1995 silam. Sebuah pertunjukan yang megah untuk sebuah band yang berumur 7 tahun.

Dulu, akses internet tidak semudah saat ini. Jadi, saya tidak pernah tahu seperti apa gambaran visual konsernya. Yang jelas, saya hanya bisa berharap untuk dapat memiliki kaset KLakustik yang terbagi jadi dua keping kaset. Saya baru bisa mendapatkan album KLakustik pada tahun 2023 lalu dalam bentuk CD di sebuah toko music terkenal di bilangan Sabang, Jakarta Pusat, dengan harga yang sangat menyenangkan pula.

Kembali ke Dekade. Album bersampul dominan warna hitam ini seperti menyimpan unsur magis yang dapat menyihir setiap pendengarnya. Apalagi bila sudah sampai pada “Takluk” di side B. Anyway, this album is fantastic. Sebuah pencapaian bagi sebuah band yang tidak pernah mudah. Seingat saya, pada tahun 1997, setahun sebelum album ini dirilis, Lilo mengeluarkan single pertama dari albumnya yang cukup viral juga saat itu dengan lagu andalan “Sandra”. Sandra oh Sandra, waktu merambat menjelang senja. Katon juga sempat merilis album “Harmoni Menyentuh” pada tahun yang sama dengan singlenya “Meniti Hutan Cemara”. Jenuhku adalah beban, yang tak boleh terulang. Seakan dua pertanda itu menegaskan terjadinya sesuatu dalam Kla Project. 

Anyway, saya kini menikmati kembali album ini dalam bentuk yang lain. Kalau dulu dalam bentuk kaset, sekarang saya bisa menikmatinya dalam bentuk digital music streaming yang mengharuskan kita berlangganan. Sebut saja Oknum “S” hahahaha. Juga, saya mendapatkan keping CD album ini yang berisi dua keping CD dan bonus sebuah booklet yang berisi lirik lagu-lagu dalam album serta ucapan salutation dari Kla Project.
Album ini dinaungi label Prosound dan hadir dalam dua keping CD serta kaset pita ini adalah bukti bahwa Kla Project belum usai pada usianya yang satu dekade itu. Setahun sesudah “Dekade”, kemudian lahir album “Sintesa” pada tahun 1998 dengan hits andalannya “Sudi Turun ke Bumi”. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai album “Sintesa”. Menyusul setahun sesudahnya, album bertajuk “Klasik” dengan hitsnya yang popular yaitu “Menjemput Impian”. Kekasih aku pulang, menjemput Impian. Lalu, “Kidung Mesra”. Ingin masuki puri dihatimu, hangatkan ruangnya dengan cinta. Aaahhh, cinta.

To conclude this post, album ini is simply amazing. Merangkum sepuluh tahun perjalanan band legendaris dengan lirik-lirik nan puitis. 

Meski tlah jauh, aku akan tetap menulis tentang kita
Walaupun aku bahagia tanpamu, aku akan selalu merindukan gerimis
Pada belahan jiwa, yang membuatku takluk
Aku takkan lepaskan, semoga 
Kita selalu satu kayuh berdua


Cipayung, 28 Agustus 2024

Selasa, 06 Oktober 2020

The Man Who Sold The World

Well, i don't know, how to say about this Nirvana thing. But, the title is always amaze me. The Man Who Sold The World. I never really know who is "The Man". Lately, this song really annoys my ears.

 

   

 

Cengkareng, 6 October 2020.



Senin, 19 November 2018

Untuk Bintang

Sumber gambar: id.wikipedia.org
Untuk Bintang sejatinya adalah judul album pertama Cokelat. Band yang terbentu di Bandung pada tahun 1996. Cokelat berhasil menembus label setelah lama bermain di jalur indie. Bersama Padi, Caffeine, dan Wong, mereka sempat bergabung dalam satu album kompilasi bertajuk “Indie Ten”. Sebuah album berisi sepuluh lagu terbaik dari band-band indie. Seingat saya, waktu itu album ini “Indie Ten” mengalami kesuksesan dari segi penjualan. Dari sisi komersial lainnya, beberapa alumni “Indie Ten” masih eksis bahkan ada yang sudah mengalami metamorfosa. 

Saya sendiri menjadi penikmat musik Indie pada tahun 90-an akhir. Waktu itu di Bandung masih ada Radio Fire 95,6 FM. Saya lupa tepatnya jam berapa indie music radioshow itu. Saya mendengarkannya malam hari sambil mengerjakan PR atau sekedar baca-baca komik dan buku pelajaran. Saya bersyukur ketika album “Indie Ten” dirilis. Ini merupakan sebuah langkah besar bagi musisi yang berada di jalur indie. Album indie terakhir saya adalah “Indie-Go” sebuah album kompilasi juga, dari i-Radio kalau tidak salah compilernya, dengan main hits dari Flush, “Gopek”. We'll talk about this later.

“Untuk Bintang” sendiri merupakan lagu kesembilan dari 10 lagu dalam album ini. Selain hits “Pergi”, album ini juga memuat kembali single Cokelat di “Indie Ten” yaitu “Bunga Tidur”. Lagu “Untuk Bintang” sendiri menurut saya agak mirip dengan “Soon” milik Moonpools and Caterpillar, band indie asal Filipina yang bermukim di USA. Saya tidak tahu bagaimana pastinya, yang jelas “Soon” dirilis pada  tahun 1995, merujuk pada laman Wikipedia.

Thanks to online music streaming platform, now i can easily stream the song. Sekarang tidak sulit rasanya untuk menemukan lagu dalam album yang ingin kita mainkan. Ya, saya bisa merasakan kembali ciri khas Cokelat. Cokelat manis dengan vokal khas Kikan dan dibalut semangat indie. Ada beberapa hal yang tidak tergantikan memang. Sebuah perasaan yang hadir beserta segenap memori tentang masa itu. Yeah, i miss my indie time.

Selamat Hari Pahlawan!
Cipayung, 10 November 2018

Rabu, 31 Oktober 2018

Kumerindu

Mumpung gairah menulis belum hilang, let me tell you something by this blog. Ini bukan tulisan tentang rindu. Judul diatas adalah satu judul lagu kolaborasi antara PAS Band dengan Bunga Citra Lestari atawa BCL. Lagunya bagus, musiknya enak, kedua entitas bermusik dengan gayanya masing-masing. PAS Band utuh sebagai sebuah band dan BCL memadu vokal.

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxASEhUSEBASEhUVFRUVFRUVFQ8VFxcVFRUWFhUXGBUYHSggGBolHRUVITEhJSkrLi4uFx8zODMtNygtLisBCgoKDg0OGg8QGi0dHR0rKy0tLS0rLi0tKy0rLi0tMC0tNy8vMC8tLS0tLy8rLysrLSstLSstLS0tMSstLS0tK//AABEIAKgBLAMBIgACEQEDEQH/xAAcAAABBQEBAQAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAUGBwj/xABFEAACAQIDBAYGCQIEBQUBAAABAgADEQQSIQUTMUEGFFFhkfAiUlNxgdEWIzJCkpOhscEHFXKi0vEzYoKy4URUZMLDJf/EABoBAQEBAQEBAQAAAAAAAAAAAAABAgMEBQb/xAAyEQEAAgECAwYCCQUAAAAAAAAAAQIRAxIEITETFEFRUmEFoRUyU4GRscHR4QYiI2Jx/9oADAMBAAIRAxEAPwDhN5DeSCkM1zcADmcx7TYBQSTYE8ORjkS/FlXWwvmN7WvbKDpqup09Ids+1OrWOsvlRpzPgl3kN5IzT4+muhCnSrxIJ19HQW1ubCxGsWnTsVzcyPRIe9swXjaw48L3trJ29MZy1GjaZiMdUtPM32QW9wJ/aSbh+Yy/4iinwYgzXfYWKeqlHMrZ6e+Vgx3Qp2vmvb0QLW4dkenROvlzmrh0TJTfM9Qqtqt8mpXjpPkW+K6s/Up+L9Vp/wBOcLXHa6/4Rj9/yY26HOovwDk/sB+sX6sc3b4Kvzm0nRDEkmz0MoRagqby6FWJAIYDXUQwfQ7FVahp0jSfKoLMr+iM17C9r307NLjtE81/iHF26cv+Q+hpfB/hFOczux52n9MMUunAIR35iT+1pDSuxCqLliAAOZOgEXaNJ6LNTqKVdTlIPLt/T9xKzYjd0XqA2Z70qfaLreqw9ysF99UHlPfwOtq9lbU1Jz5Ph/HtDha8RTS4esVxHPHv0+XP7zcftfISmGYC2jVx9pjzFI/cTsYekeNwDaYjuSSWJJJuSSSSe8niYkBON7zecy8NaxWMQICEBMtFk+GxTpfKdCLMDwI7xIIl5EXa1JWGakDa12XiV+YlUxaNUqbg288O+S1mDAtltry4SiGJFiQgi2iXklOrYEWBB7f37oDBFEdoe6LTTXu5yCMiDIRxBHwk719b2BPb55yOriGa1zw0HcOwQpVo94ki4UngbnzoJWvHK5HAySNPE7LNMKxP2gCBzII427L3jcJVpAHeAHTQfzeVa+PdwAxva1vhIVYc4wq5QyNYNoL6m3LvlfF0QreiwZeII7O/vipVAuJMuHVlvexHL+R2x0FKBjnWxtGSoIsIkAjWjo1jA1aWNKgZbAi5vrxNtbcOQ8O8wp43LlyqBl0HE8wed/VS3ZlEzd8O0eIhvh2jxE+nNaz4PNG6GmMdowyj0mzEm51sBa3C1ha3C0Trpta3MG5LE6W5njwA+Ezd8O0eIhvh2jxEmynkubO5TpHWGGOGUKUIZRUsS4pswYoGv9k2llOllTJu3w9GomSkmVhUsRSvlOjcdZ55vR2jxEN6vaPET5/0fPhf5fy/Q/TmnMc9COufrTHPz6PR6XTOsp9GjSC7taaou9UKqknQqwa+vbyk2D6b1UZ3tkzKosM7rcX9ItUckHgONtOXGeZisO0eIlrDYWrUF0Qso4ubBBbjeo1lX4mI4G0c5v8AJzv8X0bRMd3jn/tP7NTa+0HxeIzAZmchRYAZiTppf3DjwUXPOZm166s4VGzU6S5EI4NqS7j/ABMWP+HKOUkqV0pKVpMHqMCrVFvlRToy0idWJGhfQWuFvfNM2ddS8YilekPk5m151LdZEIQvOLQgIQhBCF4Qok+GqWNjqDoRIY+iNR4QibH4Y03Km3wNxY98ry1tCsWax+6At+ZsLaytIgtACKJewNAWZj90Xt38omcLhWahlALaX5c5CW7NB2QdiTcxsAhFELQEiwiwhIsIQCS0a5Xx0kMUwrc2rRpVKS16Qy2srrpo3K3d3zCtLOEr2zKeDC0rkSRGCSQheEqCMaPjWhYdH/ecV7d/ERf7zivbv4iVAvnzyikefPKbYWf7zivbv4iJ/esV7d/EeMq5YmWUWjtrFe3fxEvbKxONqtfe1Sin6wgj0V4kzGCzd2vto4fDLhqQ3bvc1rW0BGig9p4mZmWoZO1ekuIdzu6rInBQLDQczpqTxmRisTVqH62o9QjhnZmt7rnSRgxGN5GiQtAwgEIQgIYRYQCELRYCCOWIJawVDM2uiqMzH/lHm0khdoW3jW7jr7hK8lxFTMxbtN/lI5WQJq4EgUarMLAAKp7XJvYd9hMtFvOj6M7aeitakFR6TU2ZldVazKpCut/stc8ZmYWHM2iWj3NzGyoLQgIQAwhCARIsLQEjibwtEMABjqhBN42TUKBcHKLka27YVDEixIQkQiOjTCtwDz55RQJKqx2Tz55zoxKAiIafd5+csZfPnnL2zaFOzVK1xSSxLAkanQKvrE/pEyQbgtnU0pnEV2UIt7IbhmYfZUdtzOXxmJNR2drXY300A7gOyTbWxxqvcFsguEUm+VeQkWAwjVXCLz4nkB2znltPsjACqXZjZKaF346gWAAPK5IlGpxnZdI1oYKkMHRYl2CviW9YjVEtyGt/CcaxiFNMIQlBFiRBAWEIAwAQiwgKJeo+jRc+sVUfD0j/ABIdmYCrXqpRooXqObKotqfjLm1ENMLRZcrUswfgfTJ9LXmRYCRGdaLaLHWlQiia1TBPTwq1tAtdyi9pFPVh3C9pmU7X14c/dNvZ2KqpTrUEzVUqpZFCBxmuDcD7psDqIkc7COIjbyBIRYQEhCEBIohCAt4hhCAkt7Lr5Kim9hexPZfn75ViiRYS4ymVdgddTqP4kEtYy1l43/jlaVRBIjTHRplIdOg8+eckK+fPOIg8+ecsIvn+B3zbMwbhcLnYC9hza18o4mUOku2hWCUqTMUTmQFzN3KOU09t4wUcPu1WzVdCdb5BxHxnI0aTm7KpIFgSAbC+gueUzMtRyRstp1/9OsOBUqYmoo3WHQuxPN7egP58JzdbBvTUO66NmCnhcrxI7hwkj410oiglQ5GIqOo0BbgAe2wEnUQ7SxbVaj1HNyzFie8yrFMaZVBhCEAhFhCEhFhCgCLEEWEaezse1Ki4p+izsoLgekF4gK3FTfslQm/GWMDQzUareqaf+ZraSHLIkmhYuWLaLbT3zSGWk1PEPTvlYqSORINj+0fRS5JtoqliPd2yoxJuTMqYDAwtCUJaEBFB7pAkSOYxDKEgIQkBCBMSAogIkUQqWpew58v/ABI2tpbs189kkvdbebSIiAkaY6NaCHX0KRJsB/4+M06VqNJq5ytl0Ua/a4W93fK+DQBSztlTmb6e4DnMrHVzibhGFOjTH3ja/wAzLKsnHV61ctVe7C9ieQvwA7BLeyC9c0sIpVFapdm4Zud2PYADYStjceGRaVMWppcjtZjxZpUo1mQ5lNiOB94tMjf6b45KlfJSACUlFNbcCF4nx/ac5C8QmUBiGEWUJCFoQghFhAIQhICauEo4bKBVWrc650ZTx5ZCNfGMRbJlIFjZuV727YWlwmV6piaNOiaNDO2dleo7hVJyg5UUDlqSTMyPIiQhvnz3QJixJRNg8Q1Nsy24EEHUFToQR3zT2muFNFXp4c0Xcn0d4zgZCPTXML2NyLd0xbzdp7WbEU0w+KrolKhTqbomnmOY2IW663JHE6CZmFhzlohklcC5ym47bWkUqgGxiXgYkIVjCJCQLEixDKAwtCEgLQheEKlpjTu4RlRbRUblHgX05yCG0a0ey2NjGMJRrbZ2u1U5R6KDQKJlFjwjDVX1h4iJvF9YeIlU+JeN3q9o8RDeL6w8RAdAxu8XtHiIbxfWHiIDoRu8X1h4iG8X1h4iA6LGbxfWHiI5e6AsISzglQn6zNax1W1weR74Q3A4R6tRKVMZndgqgcyTYT0/an9MKeDwjV6xeo4KrlU2AJ0L3H3bzP8A6X1lw+Lpb0IqufQrWBGoN1zHgeXdN3p10xFZmWlvaZVt2yMVysBezDKbWvxBmY5yPOq63P6afsJAdR7vPhLDvc3/ANv9pA2nnzpOjKMr588ohOtwIpjTIGGJ5898cfPntiEwGTZ6PVqJz0K9EOtRTlqLpUpOoJUqeangwPKY5ml0bKdYRahyq+amTwALqQDfkL2kwrHaJLGLwrU3am4sykgjvH8REwjtwUn4GZysQrMIklNI66cOMjMpMEhFiQhIQjkAvr38O4QGxY+6djfiX/TFYKOKuPeQP/rAhhJbp2N+Jf8ATD0PVb8S/wCnjAYss0hbKwkSlPVb8S/6Y6keNuAklUmLo+iG53y2HZa4/mU2l7HAqRbgQCD2+bylUsTFVfV+6pezp/gT5Q3VL2dP8CfKec1U2khco1Qo28JArF39MOgKCoQAVzKwQMqjKLHlK7PtH6ndpiQcjIc1W4XM1Vc9TNWbUBkbhU+zYEWnDb7u2Xp26pezp/gT5Q3VL2dP8CfKeZ4p9qHIXFc6tpRqopSqKaIpJzDPRLrnsQT6TXXlJsVTxy1t4hrvnatlAq1N3TLFlQuprZcoBVhZG4cAdY2+5l6NuqXs6f4E+UN1S9nT/AnynnFZMaKNS/WjVZ6ZISszD0aZVjT+tSyl/SIBW45aWkLvtZlGU1lKUaVJw1Sl9Y61bvWQgmxy242uMwI4Rt9zL03dUvZ0/wACfKG6pezp/gT5TzzZ2I2jlYFKqpuqtNQ1RTVz3L06ly72JBK3Lmxy8pWfBYtgWpnGrr6KVcXUUgBKn2itRhfMKfM3vrpeNvuZembql7On+BPlMjavRPZuJB32CoEn76IKb+/Olj+s5pdoY9bs9Kq4NXOoptRzCm1GpTyEMygZWFNiLnV7gngMnB0MYdGGPAyj7Vd1Is6kqGGJfMSMx1HPiBZRYifMYPTv+mr4RWxGEZq1Bbl0axqUh61wPTQczoRzuLkcJRe09iRdpF1NTeHKyAkVvRZHd3f6vRWsGVNRcBRbNxPnfTzYQweKZaYtSqfWUu4E+kn/AEn9Cs6VnPKXO0Y5n9G9trh3K1aYrYep6Nakbaj1k9V143ku1cOlOoy02LpoUYqVzIRdTY8Bb9pzKVJ3fRl+vYZsI3pYmgC+FOgapS41KF+dvtKJqvJiebmifPnlGNLFanlOv6/yP4lepx0nRhG4jGHnzzj28+e2MMKRWIv36ee+NMDGkyBdPPONt8dLwtEkVoNtyuwAdlewADMql7Dh6XEgTrtl7XZ8HUqsVvSXKQQLk1BZW8VFpwE7PYOyGegxW9ko757C+tytJT2m5JtOWpjDpp5yyK1Ld0QGGrhahJ772nPsJ2/TPDKiZVBGV1pi/q06Sg27fSzTk6eUUmJtcsAO0Aam0tJ5JZRiRTEE2wWOpLc27b/sf0jLx9Dj8G/7TAc1a2iXA7eBbvJ7O6MFQ9p/jwjIoEKCYl4vCOGXnmHuAP8AIgPw1EubL589s0cBQBJXtVx2fZIPwlbBYkLmCroRqeZ+PIDsljZBu9uwVD8MszZqFTHsCwAPAW+IlNo+obkn4yNpY6I+huuj1B4v84ddHqDxf5zm+tnth1s9svaU9Ly934j7X5Ok68PUHi/zh14eoPF/nOb64e2HXD2x2lPSd34j7X5Ok68PUHi/zh14eoPF/nOb64e2HXD2x2lPSd34j7T5Ok68PUHi/wA4deHqDxf5zAp47kZPv52rXTtGYh4dXU4rSti1mx14eoPF/nDrw9QeL/OY+/hv5rs6eTl3rX9Utjrw9QeL/OZm3dn4bGKq16VwhzKVeopBIsdQeB7O4TqNh9FS6ipiCyg6hBobf8x5e7/abFXophSLBXU9odif81xM/wCOJ6PVWnF2rnc8m+hWzvZVPzqvzk+G6K4Km61KaVVdGDKwrVQQw4Eazo9v7IqYVhc5kb7L2tr2Ecj+8yd/NxWk+DzW1uIpO2bTku0dkYSvUaq9GzMczZWdQWPFst7XPH3yk3RbAnU0n/MqS5v4b+XbVnt9b1KJ6J4D2T/m1PnA9EsB7J/zanzl7fySsHTLnVlzDMtwRdTwI7RG2p2+t6mX9D9n+yf82r84n0O2f7J/zavzm7SwOIYBlo1CG1BCtY+7tlMV421WdbXjrMs8dD9njXdP+bV+cT6G7P8AZP8Am1fnNpsPWBcGm4NMZnBB9FTwJ7BI8OHqHLTUsbE2AvoOJk21O21+mZZP0O2f7J/zavznQ7ONKhSelTpLlcKGuXJsvDW8hw2Er1FzU6TuvC6qSL+8SQ7NxQtfD1dTYeg2psT+wPhJNKT1hqNbifCZUtr7Jw2JbNVpm+tgr1FAzG5sLzM+hmzrW3T/AJtX5zof7Xiv/b1fwN8pBRoVmvlpubMFNlOjE2APYbxFKeROtxPjMsP6FbO9lU/Oq/OL9C9neyqfnVfnNWq7KSrAqwNiDoQRLaYDEnhQqnQHRW4G9j7jY+Eu2vkzGtrz0mXPfQjZvsqn51X5xPoRs32VT86r85vYrDV6YzVKVRB2srAeMjxAemQKishIBAYEGx4H3aGNtSdbiI6zLF+g+zfYv+dV+cPoPs32NT86r85s2fJvMpyXy5rG2bja/bI9/G2vknb6/qllfQfZvsX/ADqvzh9B9m+xqfnVfnNXfw38u2vkd41vUzaPQzZym4ov8atQjwJj8P0RwCEstJ7kEa1ap0Isecv7+G/k2V8jvGv6mV9CNm+yqfnVvnD6D7N9lU/OrfOau/hv5dlfI7xrepzPWe8eMOs948Z5teE8ex+g3PSes9/6w6z3jxnm4iXjYbnpPWe/9YdZ7/1nm14t42LuekdZ7xLlDGXHHhPK5o7Bx26q6n0W9Fv4PwP7mb0/7ZebiadpT3h6P1iavRZFq4uijagvcjtygtb/ACzk+sS5sfa5w9enWAvu3DEDmvBgO8qSJ3meT5tKRFomX0HPHOgP9Qa6YjqWID10aoyUmUFqiamwIGroPEd40HrmBxdOtTWrSYOjgMrDgQfPCYfRPofhsCGZBnrOSXqsPSNzfKo+6vcOPO88totMxh+j0NTSrp3i8ZmcY+fNd6U4dXwlYH7tNnHcUGYftPHesT0r+pO3kw+FakGG9rgoq8wh/wCIx7rae8iePdYnop0fE4usTaGv1iHWJkdYh1iby8uxr9YnotTZtOotCvVBqLRwdN9ymr1Da407NOHP9/I+sTpdqdK7PhKmEdlehh0pvcEAsLZlI+8pt5Mzbm7aMVrE59nS9FNt1MVj89SwApVAiD7KL6Og7TwuefusJxuFxGqe9f4m39K8EleljaKPTqm4xFAL6DBhZmR+AbgeV7cje71x2wFqb8HEkhs4o5Xy5r3A1FrX5ZrSROG7U3xETaOU/m7ljTp1sQa3DEVaWHHfegCB8czCYnRDDDCtVavxauMJTvzN7kjuOh/6Zy/S3pimJShucyutRqzggjK+gpAH7xCk3PdF6XdMkxD4Y0LgUrVXBBH1xI0145QDrwOaZiJdrXpu3eXT73TUxWo4XdUq64duu1ae8chVCqtRhckG18o/SSbGfEjE0BVx9HEqWcZKdRGIO5qHMQFGmhHxEzdq9KNkYhGp1WxAVqoreijA5t2E4695+Mo7M2xsbDVqdai2Jupa+ZSRlam44W43KwcomMTyj3/Q9dr7WZr0ziWBY5fqrqddNclrfGdoSu9r5bX3uDz29clP4yzzDZnTXFUaikVWekrf8I5bFLn0eFwbcO+dFh+lmzqTVmp1KxFavRrENTclSrqaguTqNLjw7JZhNK0eM/j+i90ioJjBWq4cWr4d3p1aY4uiMyq47TZf3HITS2tjHpYWpUpsUYYbB2YWuLu4PHuJnm9LpK1HG1MVQJIatVbKbjPTeoWysOVwR7jadftDpnsyuKqVWrCnUp0V9FCCCju5Hwuovw4xJWazNp6TP88ydEtuVsTVbDYhzWp1UcEMFuCBe4IHk2lT+oFTLiKYv/6el/3VJWHSPZuERzs9Kz13UotSroKYPE6/A2A1sNYv9+2Xi6VIY816Vakgpl6YZg4XgdFb36jS5l8csTGabJtmUtSt/wDylP8A8v8A/NpzvWJd6S9IMK1GlhMEjijTY1Gd9GdyCBodfvHjblpYTm+sSxLhq0jMR5Q1+sQ6xMjrEOsTWXPY1+sQ6xMjrEOsRk2NfrEOsTI6xDrEZNjzu8M0ITzvtC8LwhALwvCEAvAmEIG5sza4sEqGxGgY8x3981N/CE3WXk1aRE5jxauwelWMwRPVqtlJu1Jxnpk9uW4KnvUi/O86DE/1Y2iy2RMNTPNglRj8Az2B994QlxDMXtEYiXH4vaFWq7Va1RqtRvtOxuT2DsA7ALAcpFvoQlYmMjfQ30IQYG+hvoQgwN9DfQhBgb6G+hCDA30N9CEGBvob6EIMDfQ30IQYG+hvoQgwN9DfQhBgb6G+hCDA30N9CEGBvob6EIMP/9k=
Sumber gambar: www.youtube.com
Saya tidak akan melakukan kritik terhadap mereka. Saya tidak akan memberi penilaian apapun karena saya tidak punya otoritas yang demikian. Saya mengapresiasi karya mereka yang dimuat dalam album THE BEAST OF PAS pada tahun 2006 silam. PAS Band membuka cakrawala musik mereka dengan tidak kehilangan ciri khas yang sudah terlanjur menjadi trademark. 

Saya kagum pada PAS Band, dalam satu wawancara mereka tidak berpikir panjang dan tanpa ragu untuk take vocal dengan BCL ketika ia menyatakan keinginannya untuk bernyanyi. It's not a mainstream anyway but they did it and it was a success. BCL sendiri dalam konser tunggalnya berterima kasih pada PAS Band karena sudah membuka jalannya untuk jadi penyanyi. 

Kadang, suatu hal yang terjadi begitu saja dengan sangat sederhana. You want to sing? OK, you can sing with us, let's go make a record. As simple as that.

 
Cipayung, 8 Oktober 2018.

Rabu, 30 November 2016

Dewa 19: Sebuah Flashback

Menonton video konser Dewa ini mengingatkan saya pada konser mereka bertajuk A Mild Live Dewa Live in Bandung, medio tahun 2000 lalu. Waktu itu mereka naik panggung di Dago Tea House. Harga tiket hanya IDR 15000 plus sebungkus rokok isi 12 batang. Ari Lasso memang sudah tidak ada di line-up. Pun, ada gitaris additional. Saya lupa namanya.


Malam itu begitu meriah. Album 'Bintang Lima' yang baru dirilis itu seakan menjadi penanda kebangkitan kembali Sang Dewa dari tidur panjangnya. Hanya saja, tidak adanya Ari Lasso cukup mengganggu kenangan-kenangan di lagu-lagu lama mereka.

Saya tidak mendapatkan lagi vokal khas Ari Lasso pada lagu 'Cukup Siti Nurbaya', 'Elang', 'Kirana', dan 'Kamulah Satu-satunya'. Selebihnya, untuk lagu-lagu di album baru itu sudah 'Once banget'.

Video yang diambil pada Soundrenaline 2015 Dewa feat. Ari Lasso ini menangkap sebuah set nostalgia yang mampu menghidupkan kembali kenangan tentang masa keemasan mereka. Ari Lasso kembali menjadi frontman yang memimpin dengan penuh energi.

Saya setuju dengan usul Felix Dass, sang narator dari SFTC. Janganlah membuat karya baru. Tetaplah jadi masa lalu yang bisa ditengok sekali-kali. Rasanya adil; penggemar dapat perjalanan ke belakang, dan Dewa mendapat kompensasi finansial yang baik. Win-win solution. Karya baru, hanya akan memberikan warna gelap yang merusak benang merah sejarah. Bukan apa-apa, Ahmad Dhani bukan lagi penulis lagu yang keren sekarang. And that's the problem.


Halim Perdanakusuma, 30 November 2016.

Jamrud: Sebuah Catatan Kecil

Biarlah Pak SBY punya versinya sendiri untuk 'Pelangi Dimatamu'. Tidak ada band rock lain seperti Jamrud, satu band yang jadi bayi dari Log Zhelebour dan punya catatan 2 platinum pada masa jayanya. Jamrud masih mempertahankan gaya rocker mereka, dan Azis MS masih ada disitu. Walau sempat vokalis berganti, kini Krisyanto telah kembali. Lengkap dengan 'TOA' di lagu 'Putri'.


Jamrud bisa dibilang sebagai The Most Original Rock Band in Indonesia. Ketika band-band rock lain menyanyikan musik yang sama, Jamrud sudah menyajikan hal-hal ekstrim (sex and other cheeky reality) khas 90-an. Pada saat itu, mereka berhasil menggaet animo penggemar musik rock.

Cara penulisan lagu mereka pun menyentuh berbagai selera berbau budaya nan sensitif dengan fun dan casual packaging. 'Surti dan Tejo' adalah satu buktinya. Jamrud berhasil menangkap fenomena, untuk kalangan tertentu. Tentu saja dengan cara mereka sendiri.

Jamrud punya energi kreativitas yang tinggi, konsistensi, dan integritas. Jadi, tidaklah salah untuk menempatkan Jamrud di line-up event semacam Soundrenaline ini.

Saya menikmati kembali masa-masa itu lewat video ini. Sebuah memori yang tidak pernah hilang ketika Krisyanto menyanyikan 'Putri' dengan khas berkupluk dan kacamata hitam, dan tak ketinggalan: TOA.


Halim Perdanakusuma, 30 November 2016.
Dengan kenangan pada 'Surti dan Tejo' di panggung perpisahan SMP 9 Bandung tahun 2001.

Catatan Kecil buat Sheila on 7

Apa yang tertinggal dari music Indonesia tahun 90-an? Setidaknya, masa itu mengajarkan bahwa music yang bagus itu benar adanya. Musik pop saat itu berkata dengan jujur, tegas, dan dengan market yang luas; bisa diterima siapa saja.


Sheila on 7 terbentuk pada tahun 1996 dan album pertama mereka dirilis pada akhir tahun 1999. Album self-titled ini menjadi satu penanda ketika industry music di tanah air masih berjalan sehat. Lagu-lagu diciptakan secara sederhana, berkarakter, dan penuh konsistensi. Lirik lagu menjadi komponen esensial yang penuh nuansa puitis.

Siapa yang tidak ingat dengan "...lupakanlah saja diriku...bila itu bisa membuatmu...kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala..." atau "Selamat tidur kekasih gelapku... Semoga cepat kau lupakan aku...".

Sheila on 7 yang kini berusia sweet seventeen sejak album pertamanya itu hamper tidak pernah mengubah arah music mereka. Tidak ada eksperimen besar-besaran atau gimmick yang berorientasi pada pendapatan belaka. Ini semua tentang good music dan good attitude. Seperti Azis MS, Eross adalah harta karun music Indonesia, penulis lagu berbakat, dan they were amazing guitarists.

Pada video ini, Sheila on 7 tampil sebagai diri mereka-sebagaimana biasanya. Mereka tidak menjadi latah untuk mengikuti arus music kekinian. Mereka jujur tentang diri dan music mereka sendiri. Sheila on 7 adalah bukti nyata dari sebuah good music yang mentahbiskan mereka menjadi satu dari sekian The Longest Running Pop Band in Indonesia. 


Halim Perdanakusuma, 30 November 2016.

Jumat, 28 Oktober 2016

Holding Back The Years (not the tears)

According to Youtube, "Holding Back the Years" is the 7th track on Simply Red's debut studio album Picture Book. The song was a huge success for the group and quickly rose to the top of charts across the world.


The single is one of two Simply Red songs (the other being their cover of "If You Don't Know Me by Now") to reach number one on the Billboard Hot 100, for the week ending July 12, 1986. It also reached #2 in the UK and was a worldwide hit. It had initially been released in the UK the year before, but only reached #51.

This single catched my ears two or three months before they arrive to Jakarta, for the concert. After quite some times, i found this single is really interesting. I don't know, or it's just a feeling. It's a throwback. Yes, to a memory that i can't speak of.


Medan Merdeka Barat, 28 Oktober 2016.

Jumat, 30 September 2016

Slowmotion: Third Eye Blind

Mrs. Jones taught me English, but i think i just shot her son...

 

Sejak menjadi fans dari Third Eye Blind gara-gara album 'Blue', ada semacam pertanyaan mengapa pada album ini hanya pada lagu 'Slowmotion' yang tidak diberi lirik. Hal ini menggiring saya ke warnet untuk segera menemukan liriknya. 

Memang liriknya banyak berseliweran di laman penyedia lirik. Waktu itu (2001) saya tidak begitu paham dengan liriknya. Namun, satu atau dua clue dari lirik itu sudah membuat saya mengambil kesimpulan bahwa alasan tidak adanya lirik pada cover kaset yang diedarkan di Indonesia adalah karena explicit content.

Lain halnya dengan ketika saya mengunduh (bajakan, tentunya) copy dari album yang sama namun ripped from US market CD. Kalau pada kaset edisi Indonesia, hanya tidak ada liriknya saja, pada versi digitalnya justru hanya ada instrument saja. Tidak ada lengking vokal Stephen Jenkins. Saya sungguh kecewa karena 'Slowmotion' memang easy listening. Dengan atau tanpa menghiraukan maksud dari liriknya.
 
Belakangan, saya masih penasaran dengan seperti apa video klip dari lagu ini. Thanks God, they have their own channel on Youtube. Pada laman tersebut, Stephen Jenkins dengan gagah membawakan lagu ini hanya bersenjatakan gitar elektrik dihadapan fans fanatik 3EB. Terlihat sekali bagaimana para fans ikut menyanyi bersama dan semakin membuat lagu ini menjadi soulful.
 
Saya masih belum tahu alasan dibalik perbedaan antara pasar Indonesia dengan Amerika sana. Apakah dengan alasan explicit content tadi 3EB urung atau dilarang untuk memainkan lagu ini. Atau malah pasar musik di Indonesia ini diasumsikan sebagai pasar yang "nrimo". Tentunya, kedua hal ini masih hipotesis sementara yang masih terbuka dan hanya bisa dibantah oleh penelitian yang intens dan mendalam.

Cipayung, 26 September 2016.

Kamis, 16 April 2015

Angels: Live in Berlin

When I'm feeling weak
And my pain walks down a one way street
I look above
And I know I'll always be blessed with love



Satu yang tidak bisa lepas dari Robbie Williams adalah penampilan panggungnya. Sejak penampilannya di MTV Live 2002 dimana ia membawakan hits “Feel”, saya selalu menikmati konser mantan personil boyband Take That ini. Live in Berlin membuktikan bahwa Robbie Williams is a true performer! Robbie tidak hanya menyanyi, ia juga mampu menguasai panggung dengan tariannya. Pun, pesonanya mampu membius penonton untuk ikut larut bernyanyi bersama.

Satu hal yang membuat saya yakin bahwa Live in Berlin jadi satu dari sekian konser terbaik Robbie Williams adalah nyanyian reff “Angels” dari penonton pada menu pembuka DVD. Tidak terdengar suara Robbie Williams. Hanya ada suara koor dari penonton yang memadati Velodrome, Berlin.

“Angels” ditulis oleh Robbie Williams dan Guy Chambers hanya dalam 30 menit saja. Lagu ini dirilis Desember 1997. Lagu ini juga sempat direcycle oleh beberapa penyanyi, diantaranya adalah Jessica Simpson, Beverley Knight, Moon Dust, dan David Archuleta. Di Italia, “Angels” menjelma sebagai “Un Angelo” dinyanyikan oleh Patrizio Buanne. Popularitas “Angels” terbukti dengan dua kali Platinum dan rekor penjualan sebanyak dua juta kopi di seluruh dunia.



Pada Oktober 2006, sebuah tayangan documenter RTE ‘This Note’s For You’ yang dipandu oleh Tom Dunne, mengatakan bahwa lagu “Angels” aslinya merupakan karya Robbie Williams dan penyanyi Irlandia, Ray Heffernan. Setelah lagu ini mengalami beberapa perubahan dari Guy Chambers, Ray Heffernan menerima tawaran untuk pembelian hak cipta sebesar 7.500 GBP.

“Angels” adalah single keempat dari debut album Robbie Williams, ‘Life Thru a Lens’. Lagu ini adalah penyelamat karir solo Robbie Williams dan selalu dibawakan dalam setiap konsernya.

Pada Brit Awards 2005, “Angels” dipilih publik Britania Raya sebagai ‘The Best Song in the Past Twenty-fve Years of British Music’, walaupun lagu ini hanya berada di nomor 4 chart. Disitu juga, Robbie Williams berduet dengan Joss Stone. Dalam satu survei dari stasiun televisi digital, Music Choice, lagu ini jadi lagu favorit pemirsa untuk lagu pemakaman mereka.

“Angels” dirilis tahun 1999 di Amerika Serikat, setelah debut single “Millennium”. “Angels” benar-benar membuat Robbie Williams melambung tinggi. “Angels” masuk kembali ke chart ARIA Top 100 di posisi ke 91 pada 5 Mei 2008. Juga, berdasarkan polling yang digelar Performing Right Society, “Angels” dipilih sebagai lagu karaoke paling popular.


Medan Merdeka Barat, 15 April 2015

Jumat, 20 Februari 2015

Mengenang Rinto Harahap

Bila kau seorang diri, jangan engkau bersedih...

Sebelum saya menyelesaikan memoar perjalanan tiga negeri bersama Istri, datang sebuah kabar duka. Rinto Harahap tutup usia. Beberapa tahun lalu ketika Robin Gibbs tutup usia, saya menulis obituari untuknya disini.  Agaknya, kehilangan yang sama juga saya rasakan. Dengan demikian, tak berlebihan rasanya bila saya mengapresiasi beberapa karya beliau yang melekat dalam ingatan. Saya berterima kasih pada Bapak karena telah mengenalkan saya pada hal yang demikian.



Penyanyi dan pencipta lagu legendaris ini meninggal di Singapura 9 Februari lalu pada usia ke-65. Legenda musik kelahiran Sibolga, 10 Maret 1949 ini adalah maestro jagad musik Indonesia. Kita semua tidak asing lagi dengan lagu-lagu ciptaanya yang tak lekang dimakan zaman. Sebagai legenda, Rinto Harahap telah mengalami pengalaman-pengalaman bermusik yang lengkap sepanjang hidupnya. Mulai dari menjadi pemain band bersama The Mercy’s, mendirikan perusahaan rekaman Lollypop Record, hingga menjadi pencipta lagu.
 
Lagu-lagu Kenangan

Banyak lagu Rinto Harahap yang juga melegenda. Lirik yang puitis dengan makna yang dalam serta mudah diingat menjadikan lagu-lagu tersebut tetap abadi di hati para penggemarnya. Thanks to Youtube. Mudah saja untuk kita untuk bernostalgia sejenak ke masa lalu, pada satu masa dimana lagu-lagu itu mencapai masa keemasannya.

Katakan Sejujurnya



Lagu ini dinyanyikan oleh Christine Panjaitan dan segera menjadi hits. Personally, saya suka liriknya. Bercerita tentang kisah dua manusia yang saling mencinta namun akhirnya terpisah juga karena satu perbedaan. Pada satu kolom komentar di Youtube, lagu ini seakan mengisahkan kandasnya kisah cinta Christine Panjaitan dengan Ikang Fawzi. Saya sendiri belum mengkonfirmasi kebenaran isu itu. Andai saja dulu sudah ada Cek & Ricek atau Silet, tentu jadi lebih mudah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian hal itu.

Hati Yang Luka

Siapa yang tak kenal lagu ini? Lagu Betharia Sonata ini terkenal di kalangan kami yang anak-anak dengan lirik ‘uo uo’-nya. Dulu..bersumpah janji di depan saksi..uo...uo... Tidak diragukan lagi bila lagu ini adalah masterpiece Rinto Harahap untuk yang kesekian kalinya.

Dingin

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia...
Kau janjikan sepatu baru dari kulit rusa...
 
Hetty Koes Endang pun turut merasakan sentuhan tangan dingin Rinto Harahap. Lagu ini juga sempat jadi hits. Entah karena liriknya atau karena memang dari dulu yang namanya galau itu sudah ada dan melanda beberapa orang dari generasi orang tua kita. Who knows? :D

Benci Tapi Rindu

Lagu ini tidak hanya membawa Diana Nasution pada pencapaian karir musiknya. Lagu ini juga kian abadi karena sering dijadikan pameo (tulisan) di balik bak truk pasir. Liriknya pun sederhana namun menghadirkan paradoks. Sakitnya hati ini....namun aku rindu....

Jangan Sakiti Hatinya
 
Masihkah kau ingat, sayang...
Gadis yang pernah kau sayang...

Lirik sederhana dan mudah diingat ini menjadi hits milik Iis Sugianto. Lagu mellow yang punya pesan sangat jelas ini bahkan dinyanyikan kembali dengan beat rock hasil recycle dari Andi /rif.

Gelas Gelas Kaca

Aroma kesedihan dalam penantian yang sendu adalah ciri khas yang melekat pada Nia Daniaty dengan hits miliknya ini.  Dulu, Bapak sering memutar lagu ini. Entah karena apa atau memang hanya ingin mengajari saya bahwa suara Nia Daniaty memang merdu.

Bila Kau Seorang Diri

Satu lagu yang jadi favorit terakhir dalam tulisan ini adalah lagu hits yang dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia. Liriknya romantis, serasa Rinto benar-benar mengeksplorasi perasaan seorang kekasih yang sedang dilanda sepi.
 
Konklusi

Seorang penulis mati ketika karyanya terbit. Dan seperti layaknya seorang musisi, karya mereka akan terus hidup dalam ingatan pembaca dan pendengarnya. Karyanya akan terus dikenang dan dinyanyikan kembali dengan partitur yang sama. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Selamat jalan, Rinto Harahap. Terima kasih telah mengenalkan kami pada cinta yang merdu.

 
Dharmawangsa, 15 Februari 2015.

Kamis, 20 Februari 2014

Irreplaceable Part 2: Aku, Kamu, dan Valentine.



Bandung selalu punya tempat tersendiri di hati Yovie Widianto. Bisa dibilang, Bandung adalah batu pijakan pertamanya sebelum tampil konsisten berkarya mewarnai dunia musik Indonesia. Alangkah bahagianya, Yovie dapat kembali ke Bandung dan memainkan komposisi terbaiknya bersama para sahabat. "Merupakan kehormatan dan kebahagiaan bagi saya untuk berada disini. Apalagi saya asli Bandung," katanya. Masih serupa dengan konser Irreplaceable yang pertama di Jakarta, momen 'Balik Bandung' yang bertepatan dengan hari Valentine ini dinamai: Irreplaceable Part 2: Aku, Kamu, dan Valentine. Sebuah perayaan di hari penuh cinta.

Konser ini menandai kiprah Yovie Widianto sebagai musisi papan atas Tanah Air.Yovie Widianto bisa disejajarkan dengan maestro sekelas David Foster. Konser yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha ini dibuat sebagai lanjutan konser pertama, September tahun lalu di Jakarta. Sayangnya, Yovie Widianto tidak membawa banyak line-up dari konser pertama yang turut dimeriahkan dengan penampilan Rick Price, The Heaven Knows Guy, dan Sharon Corr. Begitupun dengan Raisa yang kini sedang menuai sukses dari recycle lagu 'Mantan Terindah'. 

Walaupun demikian, kehadiran Lingua sebagai pengisi konser cukup menarik perhatian saya. Saya tidak sabar untuk segera menyaksikan penampilan Frans, Amara, dan Ari, one of the best part from 90's. Saya cukup penasaran dengan penampilan Lingua sejak nama mereka mengisi daftar line-up konser.

The Show

Yovie Widianto dan Hedy Yunus
Konser dibuka dengan video screening Yovie bersama 5 Romeo yang membawakan sepotong lirik lagu bertema Valentine, 'CintaTak Hanya Hari Ini'. Sebagai opening act, 5 Romeo sukses menggebrak mood dengan 'Merindu Lagi', ..sayang sayang dia ada yang punya... dan 'Katakan Saja'. Penonton yang sudah terbawa suasana romantis segera dihibur kembali dengan lagu 'Kekasih Sejati' yang dibawakan Hedy Yunus.

Penonton terus dibuai dengan jalinan lirik romantis dari 'Pada Satu Cinta'.Tak henti-henti nyanyian penonton di tribun festival mengiringi vokal Mario Ginanjar yang disambung penampilan RAN dengan lagu 'Andai Dia Tahu' dengan nada yang lebih pop.

RAN
Tensi konser mulai meninggi ketika Yovie mengeluarkan kejutan pertamanya di konser malam itu. Sita Nursanti didaulat naik panggung beraama Mario Ginanjar untuk menyanyikan lagu ciptaan Yovie yang lebih dahulu dipopulerkan oleh Hedy Yunus, 'Suratku'. Sita tampil prima dengan kualitas vokal yang tidak perlu diragukan lagi. Berkali-kali Sita mampu menguasai panggung dan mengajak penonton menyanyi bersama.

Sita Nursanti

Selain sebagai komposer dan arranger, Yovie Widianto juga tak henti-henti menelurkan bakat baru dalam musik Indonesia. Angel Pieters dan Alika Islamadina adalah contohnya. Yovie kembali menampilkan Angela, yang di konser pertama menyanyikan 'Sebatas Mimpi' di konser kedua ini membawakan lagu 'Together We Will Shine (Kita Bisa)' soundtrack SEA Games 2011. Pun dengan Chewy Dilmi yang berduet dengan Mario membawakan 'Cinta Kita Sama', satu lagu dalam album terbaru Yovie, 'Irreplaceable'.

Mario Ginanjar feat. Chewy Dilmy

Untuk menaikkan mood dan tensi, HiVi membawakan lagu lama The Groove ciptaan Yovie, 'Satu Mimpiku' dengan aransemen pop yang lebih segar. Akhirnya, penantian saya segera berbalas. Lingua naik panggung dengan membawakan lagu hits mereka 'Bintang'. Lagu ini juga direcycle oleh Kahitna dan masuk dalam daftar lagu di album '25 Tahun Kahitna'. Ini adalah sebuah peristiwa langka untuk dapat menyaksikan kembali Lingua setelah vakum sangat lama. Saya bersyukur dapat kembali mengenang hits pertama Lingua 'Bila Kuingat' lengkap bersama pencipta dan penyanyi lagunya.

LINGUA

Sebelum Lingua turun panggung, Yovie sempat bertanya pada mereka soal pengalaman cinta yang terbentur perbedaan keyakinan. Hal itu pun langsung ditanggapi senyuman oleh Amara yang menganggap itu sebagai curcol. Kontan, penonton pun kembali bersorak karena itu adalah pertanda bahwa lagu 'Peri Cintaku' akan segera dimainkan dengan iringan vokal Mario Ginanjar.

Fathur Java Jive

Kejutan lain dalam konser ini adalah tampiknya Fathur Java Jive yang membawakan lagu 'Bukan Untukku'. Di akhir lagu, Yovie menyinggung sedikit tentang awal persahabatan mereka hingga keterlibatannya dalam single milik Fathur, 'Selalu Untuk Selamanya'.

Kahitna
Konser malam tidak akan lengkap tanpa kemunculan Kahitna yang langsung mentas dengan lagu 'Bunga Jiwaku' disambung dengan 'Dia Milikku'. Kahitna membawakan lagi lagu 'Lajeungan' yang mengantarkan mereka meraih banyak penghargaan darinfestival yang pernah mereka ikuti di luar negeri. Penampilan Kahitna terasa semakin lengkap karena mereka tidak hanya menyanyi tetapi juga menampilkan koreografi panggung sebagai atraksi tersendiri yang dinikmati Soulmate Kahitna semua.

5 Romeo kembali ke atas pentas bersama Mario dan Dikta membawakan medley lagu-lagu hits seperti 'Janji Suci', 'Menikahimu', 'Tak Sebebas Merpati'. Seperti konser pertama yang sukses melahirkan hits dadakan 'Janda Melayang', Yovie menghadirkan lagi kejutan yang tidak akan pernah dilupakan penonton di Bandung. Yovie mengundang Mario dan Nino untuk membuat lagu dari nada dan clue yang dipilih penonton. Maka terpilihlah tiga kata clue untuk lirik lagu yaitu, jomblo, modus, jadian dengan nada si-la-sol.


Yovie hanya butuh 4 menit untuk menciptakan hits dadakan kedua sepanjang rangkaian konser Irreplaceable. Sembari menunggu, penonton dihibur dengan penampilan Carlo Saba yang berduet dengan Dikta. Waktu pun terus bergulir hingga Yovie selesai mencipta. Lagu ciptaan belum berjudul itu sukses dinyanyikan bersama Mario, Nino, dan penonton, sampai berulang tiga kali. 

Aku takkan bohong
Ini bukan modus
Namun aku harap nanti
Suatu saat kita jadian

Lagu dadakan a la Yovie Widianto

Maklum, fenomena para jomblo yang sering menggunakan modus untuk bisa jadian sedang jadi trending topic. FYI, clue kata jomblo diambil dari ide Kang Emil a.k.a Ridwan Kamil yang turut menonton bersama Agus Yudhoyono dan Annisa Pohan.

Kahitna feat. RAN
Konser terus berlanjut dengan PHI yang membawakan lagu 'Cinta Sudah Lewat'. Aransemen baru membuat lagu ini tidak terasa sendu lagi. Kahitna dan RAN berkolaborasi kemudian untuk membawakan lagu 'Cerita Cinta' dan 'Mantan Terindah'. Dikta dan Carlo Saba kembali berduet membawakan lagu 'Menjaga Hati'. Sita kembali lagi bersama Mario menyanyikan lagu 'Takkan Terganti'. Memasuki penghujung konser Kahitna kembali berduet kali ini dengan 5 Romeo menyanyikan lagu 'Cantik'.

Yovie and His Friends
Akhirnya, medley 'Juwita (Lebih Dekat Denganmu)' dan 'Kemenangan Hati' dari seluruh pengisi acara menutup rangkaian acara di malam penuh cinta. Yovie Widianto, sekali lagi telah membuktikan pada publik Bandung bahwa ia akan selalu kembali dengan karya-karya yang takkan terganti. 

Penutup

Kemeriahan konser Irreplaceable di Jakarta telah menular ke konser lanjutan di Bandung ini. Walau line-up artist di episode Bandung ini tidak semewah di Jakarta tetapi Yovie berhasil menghadirkan kenangan yang takkan terlupakan oleh publik musik Bandung. Kejutan-kejutan sepanjang konser adalah bukti kreativitasnya yang tak hanya sebatas musisi.
Tak heran bila konser Yovie and His Friends ini jadi satu catatan personal dalam kiprahnya selama lebih dari 30 tahun bermusik di Tanah Air. Berbagai apresiasi atas karyanya adalah bentuk penghargaan publik yang menandai eksistensinya. Untuk hal ini, kita rasanya perlu berterima kasih kepada Yovie Widianto karena telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam catatan sejarah musik Indonesia.


Pharmindo-Paninggilan, 20 Februari 2014.

Selasa, 11 Februari 2014

Sting: Live in Berlin (2010)

Album ini adalah album yang direkam secara live bersamaan pada saat Sting menggelar konser di Berlin. Konser bertanggal 21 September 2010 yang digelar di O2 World, Berlin, ini juga menampilkan The Royal Philharmonic Concert Orchestra. Dalam konser ini Sting membawakan lagu-lagu dari katalog albumnya sendiri dan hits-hits dari The Police.

Penampilan Sting di Berlin malam itu menyuguhkan 'reimagining' atau reimajinasi lagu-lagunya, artinya memainkan kembali lagu pilihan Sting dengan polesan orkestrasi. Termasuk lagu dari album 'Symphonicities' dan hits seperti “Every Little Thing She Does Is Magic,” “Russians,” “King of Pain,” dan “Every Breath You Take”.

Album ini dikemas dalam format CD/DVD, Blu-Ray, dan single CD. Edisi Indonesia hadir dalam bentuk dual disc, DVD yang berisi rekaman video konser dan sebuah CD berisi semua lagu yang dibawakan Sting. Beruntung, saya mendapatkan album ini dalam kondisi masih tersegel dan setengah harga aslinya. Cool!

Dibandingkan dengan album-album studionya, tambahan orkestrasi pada konser ini tidak lantas menjadi bagian luar biasa yang kemudian menjadi pengalih perhatian. Segala perhatian tetap tertuju pada Sting dan 'magic' dari lagu-lagunya. Ritme konser ini juga ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan timing yang tepat. Maka tak salah rasanya bila Live in Berlin ini jadi obat rindu bagi para fans Sting dimanapun.

Track Listing

DVD

    "A Thousand Years"
    "Every Little Thing She Does Is Magic"
    "Englishman in New York"
    "Roxanne"
    "When We Dance"
    "Russians"
    "I Hung My Head"
    "Why Should I Cry For You"
    "Whenever I Say Your Name"
    "This Cowboy Song"
    "Tomorrow We'll See"
    "Moon Over Bourbon Street"
    "End Of The Game"
    "You Will Be My Aint True Love"
    "All Would Envy"
    "Mad About You"
    "King of Pain"
    "Every Breath You Take"
    "Desert Rose"
    "She's Too Good for Me"
    "Fragile"
    "I Was Brought To My Senses"

CD

    "If I Ever Lose My Faith in You"
    "Englishman in New York"
    "Fields of Gold"
    "Why Should I Cry For You"
    "All Would Envy"
    "Tomorrow We'll See"
    "End Of The Game"
    "Whenever I Say Your Name"
    "Shape of My Heart"
    "Moon Over Bourbon Street"
    "Mad About You"
    "King of Pain"
    "Desert Rose"
    "Fragile"


Paninggilan, 11 Februari 2014.

Minggu, 26 Januari 2014

Dido: The Greatest Hits

I deserve nothing more than i get, 'cause nothing i have is truly mine...
(Life for Rent)

Agak sedikit emosional menulis tentang album terbaru Dido ini. Bukan karena cerita atau momen yang terlewati bersama lagu-lagu didalamnya. Album ini menandai album terakhir yang saya beli di Aquarius, tepatnya Aquarius Mahakam yang belum lama ini resmi ditutup. Sebuah toko musik legendaris yang sudah terlanjur menjadi satu brand tersendiri untuk penikmat musik.

Anyway, saya menemukan hal-hal emosional lainnya dalam album ini. Dido sepertinya sengaja membuat album ini sebagai sebuah jalinan cerita dari lagu ke lagu. Menyimak tracklist album ini, rasanya seperti membuka sebuah diary yang sarat emosi. Dido tidak segan membagi kisah pribadinya seperti dapat disimak pada booklet. Layaknya sebuah diary, Dido membiarkan dirinya tidak berjarak. 

Dido ingin merasa intim dengan penggemar dan penikmat musiknya. Dido menulis album kumpulan hits terbaiknya ini sebagai "A crazy diary of my life. Pretty emotional to listen to.". Ia leluasa bercerita mengenai berbagai kisah dibalik penciptaan lagu-lagunya. Dido membuka tabir yang melingkupi proses kreatifnya.



The Stories Behind

"Here With Me", dibuat ketika ia baru pulang dari rumah sakit karena ayahnya sakit dan membutuhkan perawatan. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, hingga membiarkan dirinya larut dalam suatu proses penciptaan. Dido menulis, "....staring at the keyboard all night somewhere between panic attack and exhausted and writing the song made me at peace.

"Thank You", hits yang langsung melejitkan namanya ini ditulis di dalam kamar mandi. Terinspirasi dari kisah cinta pertamanya. Lagu ini juga menyimpan banyak kenangan, mulai dari perform bersama Eminem hingga menyanyikannya di pernikahan seorang sahabat.

Sejak pertama, "Hunter" adalah lagu favorit saya. Lagu ini adalah penggalan puisi yang ditulis oleh Rollo (Dido's partner in crime). Tentang sahabatnya ini, Dido menulis "It feels like he's other half of my brain."

"White Flag", adalah lagu yang menyiksa Dido cukup lama, dalam penciptaannya. She had the chorus and the music written for a year with no verses. One day, at the piano in the rented old pub that she was living, the whole song was done in half an hour.

"Life for Rent" punya kesan lirik yang amat kuat. Lagu ini ditulis Dido  seraya duduk menatap pantai California dan menebak hal-hal yang dulu pernah ia impikan. "I still dont living by the sea but i wish i did.", katanya.

"Dont Leave Home" adalah lagu yang beberapa kali diminta dinyanyikan dalam sebuah pesta pernikahan, ini gila karena liriknya yang ditulis Rollo bercerita soal addiction (drugs and other addictives). Lagu ini juga sering dibawakan live dalam 'No Angel' Tour.

"Sand in My Shoes" ditulis dalam pesawat. Suatu hari, Dido mendapat kabar bahwa ayahnya dalam keadaan koma sedangkan ia masih dalam perjalanan keliling Amerika. Ia berlari dari beach house (tempat menulis Life For Rent) dan langsung terbang selama 11 jam untuk menjumpai ayahnya. 11 jam ia lalui tanpa kepastian apapun, menulis lagu ini membuatnya gila selama 11 jam itu. Ayah baru sadar kembali saat aku mendarat dan menemuinya.

"Dont Believe in Love" ditulis Dido bersama tiga orang lainnya dalam keadaan sedikit mabuk saat di LA. Dido terjaga sepanjang malam dan mengirim semua lagu pada mereka sebelum tidur dan bangun dengan sebuah 'massive hangover' seraya membayangkan apa yang telah ia lakukan.

"Quiet Times" adalah lagu yang Stanley paling sukai sehingga Dido selalu menyanyikannya sebelum ia tidur. Lagu ini juga adalah salah satu lagu favorit Dido, "The most honest and personal songs". Pada lagu ini pula Dido pertama kalinya memainkan drum secara live pada sesi rekaman.

Menurut Dido, "Grafton Street" bukan sebuah single tapi harus ada dalam album ini. Lagu ini masih jadi satu lagu favoritnya, salah satu yang paling emosional. Ditulis tak lama setelah ayahnya meninggal dan ia begitu merindukan saat-saat bersamanya.

"Everything To Lose" ditulis sebelum Dido melahirkan Stanley, "...but it sums up now how i feel since having a family. Lagu ini membuatnya berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang diluar kebiasaannya, terjun bebas misalnya. Dulu, ia sering ingin melakukannya. Sekarang, tidak lagi. Not anymore.

"Let Us Move On" adalah lagu yang ditulis dalam hitungan menit ketika Dido pertama kali bertemu Jeff Bhasker, seorang partner menulis (lagu) yang sangat menginspirasi.

Tentang "No Freedom", Dido menulis "No Freedom sums up a lot about love and death and God and the world, a small song about a lot of big things. Lewat lagu ini Dido mencoba lebih serius memaknai hidup ini.

"End of Night" adalah satu lagu yang bercerita soal seseorang yang Dido percaya dan sukses mengkhianatinya. It could happened to all of us. Even if you are a rockstar.

Tentang "One Step Too Far" Dido menulis "...faithless is  what gave me my start and my push out into this world of music so i couldnt have a greatest hits without a faithless track on there." Dido membuka proses kreatifnya dalam penciptaan sebuah karya.

"Stan" adalah hits Dido lainnya yang mendunia. Lagu ini cukup unik karena diawali potongan lirik dari "Thank You" dan Eminem memulai bagiannya. Lagu ini Dido dengarkan pertama kali mendengarkan di sebuah hotel di New York. Dido cukup terkejut karena Eminem berhasil membuat kombinasi lirik yang mengagumkan. Dido turut bangga jadi bagian kerjasama itu, membuat video klip bersama Dr. Dre sementara Phil Atwell menyutradarainya semua sangat berkesan dalam ruang kenangan memorinya.

"If I Rise" adalah lagu kolaborasi lainnya bersama A.R. Rahman dan Danny Boyle. Dido hampir saja terjatuh dari kursi ketika lagu ini dinominasikan untuk Oscar. Saya sedang makan eskrim ketika hamil. "I was very butted no to go as that had always been a childhood dream."

"NYC" adalah lagu baru yang ditulis bersama dengan "End Of Night" ketika Dido sedang berada  di studio bersama Greg Kurstin, bicara soal pengalaman berkeliling Amerika Serikat untuk pertama kalinya demi membuktikan arah menuju pulang (to the world back home).

Catatan Kolumnis Dadakan

Sebuah album bertajuk Greatest Hits adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi seorang musisi. Merilis album semacam ini bukan perkara yang mudah. Ia harus berjibaku dan berperang dengan dirinya sendiri untuk menentukan lagu-lagu yang layak menyandang status "Greatest Hits". Karena dibalik setiap lagu, terselip sebentuk cerita dalam lirik. Dengan begitu, ia menandai sendiri jejaknya di jagad musik.

Album ini adalah semacam refleksi bagi Dido untuk mengukuhkan eksistensinya. Pun, sebagai batu pijakan menuju karya terbarunya. Hidup telah menjadi bagian perjalanannya sendiri ketika ia mampu menceritakan semuanya. Agaknya, pesan dan makna dari album yang sarat muatan emosional ini tersampaikan. Apapun itu.


Paninggilan, 26 Januari 2014

Kamis, 09 Januari 2014

Heart To Heart

Long time no write here. After 2013 was closed with the hilarious Song of The Year, lets this 2014 starts with another good sounds. Last weekend, i just bought a new CD. It's Raisa's newest album, Heart To Heart.

First impression about this album is she did i great a the cover. I mean, look at her eyes, she looks into you. Unlike her first album where she put her eyes into something elsewhere. And like any normal guy, come step on it, you'll gonna love it.

Raisa put her voice into another level. If her first self-titled album consist of her exploration (on musical, voice, sounds, etc) this Heart To Heart is an improvement from what she did before. She brings her trademark. One song will remind you to Joss Stone, if i may add.

I love the music on 'Bersinar', easy listening song beside 'Pemeran Utama' which now airing in so many radios. Also, there's a bonus track inside. A previously famous 'Mantan Terindah' from Kahitna. She was involved in Yovie and Friends show last September and appointed to repackage this heartbreaking song.

Overall, now you have an option to enjoy how the music should make you feel. It will lead you to an unexpected journey, with Raisa of course.


Bogor, 9 Januari 2014

Selasa, 31 Desember 2013

Pengumuman Song Of The Year 2013

Tiba saat mengerti jerit suara hati...
Letih meski mencoba...
Melabuhkan rasa yang ada...

2013 menyisakan beberapa jam saja. Deretan daftar panjang resolusi dan pencapaian berseliweran. Entah di linimasamu, sesukamu menaruhnya saja.

Well, menjelang pergantian tahun baru ini saya masih disibukkan untuk memilih satu lagu untuk Song Of The Year 2013. Baiklah, saya sudah sebutkan semua nominasi tahun ini pada beberapa post sebelumnya. Tahun ini, saya menambah satu kategori tambahan, Outstanding Newcomer.

Memang tidak mudah untuk sampai pada kesimpulan satu lagu yang betul-betul mewakili segenap perjalanan dan pencapaian tahun ini. Satu sisi, saya ingin Song Of The Year tahun ini benar-benar mewakili suara hati saya tahun ini. Sedangkan, di sisi lain saya malah ingin lagu itu jadi satu remarkable note dari sekian highlights tahun ini. Agak membingungkan memang but that's how the story goes.

Tidak perlu bertele-tele, lagu tahun ini, Song Of The Year, tahun ini adalah .........

(Iklan minuman energi)
(Iklan pemutih kulit)
(Iklan Aburizal Bakrie) *lempar botol*

Donna Donna, Sita Nursanti, soundtrack film 'Gie'.

Lagu ini kembali saya sering mainkan sejak bulan Februari. Beberapa peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan tahun ini sudah saya kumpulkan di kuartal pertama ini. Ada satu momen ketika saya harus menerima kenyataan, membenci, dan memberontak sekaligus. Saya merasa saat itu adalah sedang berada di titik terbawah hidup saya. Saya akan ceritakan kalau nanti Tuhan sudah berikan saya penjelasan soal keputusanNya saat itu.

Stop complaining, said the farmer
Who told you a calf to be
But whoever treasures freedom
Like a swallow has learn to fly

Sekali lagi,

But whoever treasures freedom
Like a swallow has learn to fly

Kiranya, penggalan lirik diatas sudah cukup menjelaskan.

Anyway, Donna Donna terpilih karena dua lagu nominasi tiga besar, Just Give Me A Reason dan Stereo Love berada dalam satu garis linimasa yang sama. Singkatnya, mereka hanya mampu merepresentasikan satu waktu kejadian yang sama. Tahun ini, Song Of The Year kembali ke lagu Indonesia.

Outstanding Newcomer

Pilihan Outstanding Newcomer tahun ini sekaligus yang pertama sepanjang sejarah Song Of The Year adalah.....

Baby Baby Baby, JKT48.

I Love you baby baby baby, kau idola diriku
Kehadiranmu bersinar dengan terangnya
Keajaiban bertemu denganmu
Ku jadi tahu arti dari hidup

Saya langsung jatuh cinta pada lagu ini saat mendengarkan full album Heavy Rotation milik JKT48. Lagu ini punya nuansa ceria yang selalu bisa membuat mood naik lagi. Apalagi sambil membayangkan lari di pinggir pantai, berkeringat bersama @melodyJKT48.

That's a wrap for this year. See you in Song Of The Year 2014.


Paninggilan, 31 Desember 2014.


Sabtu, 21 Desember 2013

The Nominees: Prelude to Song of the Year

Setelah Java Jive (Menikah) dan Phil Collins (Do You Remember?) jadi Song of The Year 2011 dan 2012 berurutan, kini saatnya saya memilih lagu jawara musim 2013 ini. Kriteria lagu-lagu yang masuk daftar nominasi tahun ini diambil berdasarkan intensitas #nowplaying, entah di perjalanan kantor-rumah atau sambil menemani saya menghadapi setrikaan yang menumpuk. Yang jelas, mereka jadi pengingat saat saya menghadapi beberapa momen 'spesial' tahun ini. 

Kebanyakan mereka adalah lagu lama yang sering saya putar kembali. Beberapa tergolong lagu lama 'banget' yang hanya saya dengar di acara tengah malam radio. Sedang beberapa lainnya berasal dari soundtrack film. Mereka masuk nominasi bukan karena intensitas semata, mirip list Tangga Lagu populer di radio-radio. Konektivitas antara konteks dan konten lagu yang secara tidak langsung membuat sebuah ikatan memori ikut jadi kriteria penentu.

Khusus untuk tahun ini saya menambah kategori Outstanding Newcomers. Kategori ini belum pernah ada pada tahun-tahun sebelumnya. Kategori ini dibuat untuk artis/penyanyi/grup yang baru saya senangi dan belum pernah masuk list #nowplaying sebelumnya. Singkat kata, mereka baru ada di playlist mobile device/music player tahun ini. 

The Nominees Are...

1. Donna Donna (Sita Nursanti)


Repackaging lagu ini termasuk salah satu yang terbaik dari versi-versi sebelumnya. Sayang, hanya diedarkan di Indonesia. Lagu yang sejatinya berasal dari folksong Yahudi ini pernah juga dinyanyikan oleh Joan Baez. Perdebatan mengenainya, bisa disimak dalam beberapa forum diskusi di internet. Penggalan lirik yang saya suka dari lagu ini adalah: ...but whoever treasures freedom...like a swallow has learn to fly...

2. Kecewa (Bunga Citra Lestari @bclsinclair)

Lagu ini muncul di album kedua BCL, tahun 2009 silam. Saya sering mendengar ulang lagu ini di night show sebuah radio. Ada beberapa momen tahun ini dimana lagu ini seketika mengisi kepala saya. Personally, BCL mulai menemukan stepping yang bagus untuk kualitas vokalnya.

3. Stereo Love (Edward Maya feat. Vika Jigulina)

Saya belum pernah menyenangi lagu dugem semacam ini sebelumnya. Khusus untuk lagu ini, saya membuat pengecualian. Beberapa momen personal begitu lekat dengan lagu ini. Komposisi musik dan liriknya pun saya suka. Vika Jigulina, anyone? *asa teu nyambung euy*

4. Aku Ada (Dewi Lestari feat. Arina Mocca)

Barangkali, saya memang terlambat menggandrungi Recto Verso dari @deelestari. Saya ingat, tahun 2008 pun bukunya terbit bersama sebuah album musik. Anyhoo, dari semua soundtrack film RectoVerso yang dirilis tahun ini (akhirnya...) saya jatuh cinta pada lagu ini. Bukan berarti saya melewatkan 'Malaikat Juga Tahu' yang sejak 2008 selalu jadi favorit, namun untuk konteks tahun ini saya lebih memilih 'Aku Ada'. Satu atau dua momen saya lewati bersamanya.

5. Tahu Diri (Maudy Ayunda)

Saya baru tahu bahwa lagu ini jadi pengisi soundtrack film 'Perahu Kertas'. Mungkin, karena saya memang tidak menonton filmnya secara utuh. Belakangan, lagu ini juga jadi sering diputar di radio-radio favorit saya. Satu-dua malam di Kuala Lumpur saya habiskan memutar ulang lagu ini.

6. Just Give Me A Reason (Pink feat. Nate Ruess)

 
Kalau boleh kasih bocoran, lagu ini adalah kandidat kuat untuk menang tahun ini. Bukan karena awards untuk lagunya dan albumnya (The Truth About Love). Terlebih karena satu momen yang bisa dibilang jadi special remarks tahun ini. Ya, saya jatuh cinta dan lagu ini menemani perjalanan kisah saya waktu itu (*agak sedikit curcol*). IMHO, Pink has never been so great before this album released. Another excitement from her following succeeded 'Don't Let Me Get Me' and 'Just Like a Pill'.

7. The Man Who Cant Be Moved (The Script)

Siapa yang tidak lupa akan magic dibalik lagu ini. 'How can i move on when i'm still in love with you' terdengar seperti sebuah pembenaran bagi Komunitas Gagal Move-on. Yes, this song happened to me once. If she ever comeback to the place we first met, then she'd know that i'd be waiting for her.

8. Membaca Hati (Alika @alikaislamadina)

Lagu ini ada di album perdana Alika, My Secret Room, yang saya beli awal tahun 2012 lalu. Sebenarnya, lagu ini didedikasikan bagi siswa/i dan mahasiswa/i yang mencintai guru/dosen mereka. For me, the lyrics quite simple yet meaningful. Aku bingung...tak bisa membaca hati...

9. She (Charles Aznavour)

Ini adalah satu lagu lama yang berani-beraninya masuk daftar nominasi tahun ini. Konon, lagu ini sudah ada sejak 1974 silam. Tahun dimana Beckenbauer mengangkat trofi Piala Dunia untuk Jerman Barat. Lagu ini meninggalkan kesan yang begitu kuat usai saya menonton kembali film lama Julia Roberts dan Hugh Grant, Notting Hill.

10. Leonie (Arjan Brass)

Satu lagi lagu lama yang masuk daftar nominee. Ada satu momen ketika saya terbangun tengah malam dengan lagu ini. Some things makes me stay along the night with this song. Please, dont kill me softly with this song.

11. Payphone (Jayeslee cover version)

 
All those fairy tales are full of s*it, one more f*cking love i'll be sick. I think this explains all that matters. Hanya saja, versi cover dari Jayeslee ini terdengar lebih lembut, sweet, dan feminin.

12. Bisikan Hati (Andien)

Lagu ini menandai kiprah Andien di jagat musik Indonesia. Karakter vokal jazzy miliknya sudah terasa kuat sejak lagu ini dirilis untuk khalayak. Judulnya saja sudah mengingatkan saya untuk mendengar bisikan hati. Follow your heart, let your love make through the darkness, kata Il Divo. If i may add.

13. Firasat (Raisa @raisa6690)

Ada tingkat kegalauan yang berbeda sejak Raisa menyanyikan lagu ini. Barangkali, ikatan emosi antara lagu ini dengan filmnya (RectoVerso) punya pertalian rasa yang kuat. Saya tidak menolak seandainya Raisa mendedikasikan lagu ini untuk saya. Firastku ingin kau tuk cepat pulang...pulang...yeiyeh....
 
14. A Whiter Shade of Pale (Procol Harum)

Lagu ini melengkapi deretan lagu tua yang masuk nominasi. Kesan galau dari lagu ini terasa lebih kuat dibanding versi punya Annie Lennox. Walau begitu, lagu ini masuk juga dalam daftar playlist lagu rock di satu radio. Sama seperti Leonie, lagu ini pernah membuat saya melamun sampai dini hari.

15. Out of Reach (Gabrielle)

Saya sudah suka lagu ini sejak 2001 silam ketika jadi soundtrack film 'Bridget Jones's Diary'. Ingatan baru kembali dibuat ketika bulan April kemarin saya menonton ulang film itu. I was stupid for a while... Was i ever loved by you? I never have your heart.

16. Regret (New Order)
Entah lagu ini sejatinya bercerita soal apa. Yang jelas, lagu ini jadi soundtrack of the month dua kali berturut-turut. Wake up everyday, that would be a start. I would not complain with my wounded heart.

17. Beautiful in White (Shane Ward)

Yeap, lagu ini sepertinya jadi lagu wajib di setiap pernikahan yang saya datangi sepanjang tahun ini. 'You look so beautiful in white' sounds better than '..she looks so happy in her wedding dress..'. I guess...

18. InsyaAllah (Maher Zain feat. Fadly)

Lagu ini terasa menusuk betul saat Ramadhan lalu. Momen penyucian jiwa ini saya lewati sepanjang hari dengan lagu ini. Ada beberapa momen dimana saya merasa kehilangan harapan. Maher Zain dan Fadli setidaknya berhasil mengajari saya untuk tidak pernah kehilangan harapan. Don't despair and never lose hope. 'Cause Allah is always by your side.

19. Cinta Butuh Waktu (Vierratale)

Pernah punya pengalaman ditolak dengan alasan: kita baru kenalan satu minggu saja ? Couldn't tell you more. You tell me.

Oustanding newcomers

Give Your Heart a Break (Demi Lovato)

Saya tidak pernah tahu musik apa yang dimainkan Demi Lovato. Others may say pop but i never listen to her songs. Until one day i found this song, duet with Darren Criss or Nick Jonas (saya lupa) or neither both. Sometimes, you just need to give your heart a break if there were too many mistakes.

Baby Baby Baby (JKT48)


Jujur saja, lagu ini adalah lagu yang membuat saya jatuh cinta pada JKT48. Thanks to @rizkirr_kiki for introducing me to them. Lagu ini juga jadi iklan sebuah brand produk elektronik asal Jepang. Saya menangkap energi kegembiraan masa muda darinya.

Is This The Best It Gets (Budapest)

Lagu ini adalah lagu lama yang baru saya temukan judulnya medio Oktober lalu. Perlu 12 tahun lebih untuk mencarinya karena saya jarang dengar lagu ini di radio. Pun, saya kesulitan setiap mau mencatat potongan liriknya. Lagu ini mengingatkan saya pada masa-masa sekolah SMP dulu, menjelang ujian akhir nasional.

Father and Son (Cat Stevens/Yusuf Muslim)

Versi lain dari lagu ini pernah dibawakan pula oleh Boyzone. Ronan Keating cs. mencoba mengembalikan pesan lagu ini. Personally, lagu ini membuat saya berkaca tentang hubungan dengan Bapak. Ada beberapa alasan dimana seorang ayah mengambil keputusan terhadap anaknya. Find a girl, settle down. If you want you can marry. Look at me, i am old but i'm happy.

Epilog

Saya menerima masukan dari pembaca bila ingin ikut memilih. Bila memang ada satu lagu yang kebetulan pernah mewakili momen dan perasaan, sila tinggalkan komentar atau mention ke @anggihafiz. Song of The Year akan diumumkan sebelum malam pergantian tahun baru 2014. Let's have a good times then. Hasta la vista.


Paninggilan, 21 Desember 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...