Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2022

Rabu, 14 November 2018

6 November

6 November, setiap tahun selalu saya peringati sebagai hari “debut” saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai kontrak akan dimulai pada tanggal 6 November, satu dekade yang lalu. Tanggal yang sama dengan debut Alex Ferguson di Manchester United. Mengapa kemudian “debut” di Jakarta ini menjadi sesuatu yang spesial padahal saya sudah resmi bekerja dan dibayar sejak beberapa bulan sebelumnya di Bandung adalah satu hal yang setiap tahunnya selalu saya pikir ulang-untuk tidak menyebutnya sebagai renungan.

Image result for 6 november
Courtesy: clker.com
Saya tidak tahu kenapa “debut” di Jakarta adalah sesuatu yang spesial. Padahal seharusnya hari yang spesial itu adalah saat saya menerima gaji pertama saya sebesar Rp. 150.000,- medio 2006 silam. Saya sudah lupa kapan kejadian istimewa itu karena Bapak saya sempat kecewa pada saya. Menurut beliau, jumlahnya sangat tidak masuk akal untuk hidup sebulan namun bukankah kata Tuhan, kalau engkau bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmatmu?

Lagi-lagi saya tidak paham benar mengapa Jakarta itu selalu spesial? Apakah karena saya terlalu silau pada cahaya pantul matahari di segenap pencakar langit Jakarta? Atau itu hanya sebuah mimpi artifisial dari seorang anak kampung yang mengidamkan sebuah kehidupan megah di cakrawala metropolitan? Saya sendiri heran mengapa perasaan untuk pergi ke Jakarta selalu ada setelah lulus kuliah. Saya merasa harus “keluar” dari rumah.

Menjalani “debut” di Jakarta memberi saya banyak pelajaran. Tidak perlu saya sebut disini satu per satu. Yang jelas, saya jadi semakin tahu apa artinya pulang, pulang ke Bandung. Pulang pada sebuah perasaan nyaman, pulang pada sebuah keadaan tenteram, pulang pada kerinduan.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya sendiri masih mencari tahu mengapa pindahnya saya ke Jakarta menjadi sebuah tonggak yang selalu saya ingat. Saya masih mencari penjelasan tentang mengapa hal ini bisa menjadi sejarah. Saya tidak tahu pasti. Saya menjalani apa yang saya hadapi, ketika kemudian takdir mengantarkan saya kemana pun. Sebuah perjalanan dimulai karena sebuah alasan pencarian. Saya kira itu.


Cengkareng, 7 November 2018.

Selasa, 31 Oktober 2017

Makuta (Biasa Aja)



Kota Bandung sudah lebih dahulu terkenal dengan berbagai sajian kuliner khasnya. Terlebih di zaman kekinian yang selalu menuntut keunikan. Maraknya produk kuliner yang diendorse oleh selebriti seakan menjadi tren baru. 

Anyway, saya tidak terlalu suka dengan ide semacam itu. Kalau suatu produk memang memberi pengalaman yang menyenangkan maka tidak perlu mesti diendorse oleh kalangan tertentu. Karena rasa akan menentukan segalanya. Akhirnya, tren semacam ini menjadi overrated. Bisa karena kualitas produknya ataupun sekedar pencitraan untuk produk yang biasa saja. 

Termasuk penganan kue berlabel Makuta ini yang diklaim rasanya membuat kangen. Omaigad, first impression saya tidak seperti ketika pertama kali mencicipi sepotong brownies Amanda. 

Saya bisa bilang kue ini punya kualitas bahan yang bagus sekaligus dengan taktik marketingnya. Namun, makanan adalah soal lidah. Dan saya tidak mendapatkan taste yang menyenangkan untuk sebuah kue yang dibandrol dengan harga diatas lima puluh ribu rupiah. 

Bila untuk sekedar menghabiskan rasa penasaran, itu sudah cukup. Selebihnya, saya sudah bilang: overrated. Padahal, dengan range harga yang W.O.W produk kue ini mampu memberi pengalaman rasa yang (seharusnya) tidak terlupakan. 

Cipayung, 23 Oktober 2017. 

Sabtu, 30 September 2017

Baracas

Saya tidak tahu bahwa Barisan Anti Cinta Asmara ini sempat difilmkan. Kalaupun memang begitu tentulah tampilan grafis visual tentu lebih memuaskan dari sisi cerita karena penonton bisa mengetahui jalan cerita secara utuh.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri lebih suka Baracas versi buku karena lebih sederhana dan to the point. Tampilan visual tokoh komik juga bagus, penempatan teks dan pemilihan huruf yang minimalis dan memudahkan pembacaan sehingga membuat perasaan nyaman, nyaman di mata dan nyaman di hati.

Buku ini merupakan adaptasi resmi dari film berjudul sama yang diproduksi oleh thepanasdalammovie dan Max Pictures. Buku ini semakin berkesan dengan penggalan lirik lagu The Panas Dalam, 'Tenang Saja'... Apabila setelahnya kita saling lupa.

Cipayung, 10 September 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Dilan 3

Aku ingin bercerita kepadamu tentang diriku, karena aku adalah karakter utama di dalam cerita hidupku sendiri. Hidupku adalah ceritaku. Diriku adalah diriku.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku terakhir dari serial trilogi Dilan karya Pidi Baiq ini hadir dengan judul “Milea: Suara dari Dilan”. Seakan-akan buku ini ingin bicara bahwa isinya adalah sebuah ‘pembelaan’ dari Dilan. Ah, nampaknya terlalu berat bila dinamakan sebuah ‘pembelaan’. Let’s just say this is a clarification. Ya, sebuah klarifikasi dari Dilan. Untuk isi buku pertama dan kedua, sila tengok pranala luar yang ada dalam blog ini. 

Prasangka, betul-betul bisa mempengaruhi keyakinan. Mempengaruhi persepsi dan menimbulkan pikiran negatif.

Jangan heran bila pembaca yang budiman sudah disuguhi quote pendek dari Dilan: “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.” Membuat angan-angan pembaca setidaknya lari ke arah pembayangan perpisahan antara Dilan dan Milea. Bukankah dalam buku kedua hal itu sudah ditengarai oleh Milea?

Saya setuju bila buku ini adalah sebuah klarifikasi dari Dilan, sang penutur utama. Dilan memberikan semua penjelasan mengenai semua yang sudah ia lakukan bersama Milea, termasuk semua yang sudah dituturkan Milea dalam buku terdahulu. Klarifikasi yang Dilan berikan dimaksudkan agar pembaca yang budiman sekalian dapat lebih memahami lebih dari apa yang telah Milea ungkapkan.

Kamu boleh bebas berpendapat tentang diriku, bahkan dengan penilaian yang terburuk sekalipun karena aku percaya, di dalam caranya masing-masing, setiap orang melakukan kesalahan. Dan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan.

Saya tidak mau memberi nilai bahwa serial ini adalah sebuah kisah romantis antara sepasang anak manusia yang dirundung cinta. Sekilas mungkin tidak salah bila pembaca berpendapat demikian. Namun, bila dipandang dari sisi biografis, trilogi Dilan-Milea ini tidaklah terlalu salah juga. Pun bila, penulisan yang dirangkai dengan ragam bahasa tutur seperti layaknya membaca sebuah buku harian. 

Jalanilah hidupmu dengan mengacu kepada pikiranmu sendiri tanpa harus memaksa orang untuk berpikir yang sama dengan dirimu.

Saya tidak mengharapkan sebuah kejutan dari buku ini. Bila akhirnya difilmkan, itu urusan lain. Biar Dilan dan Milea hidup sebagai tokoh abstrak dalam khayal semata. Yang jelas, kehadiran sesosok Cika dalam hidup Dilan cukup membawa arah kisah ini ke arah yang seharusnya: Perpisahan.

Judul            : Milea: Suara dari Dilan
Penulis         : Pidi Baiq
Penerbit       : Pastel Books
Tahun           : 2016
Tebal           : 357 hal.
Genre          : Sastra Indonesia - Novel



Cipayung, 25 Agustus 2017

Jumat, 28 Juli 2017

Daging Asap 12 Jam

Saya tertarik untuk mendatangi Marty's Smokehouse sejak menyaksikan liputan mereka di sebuah saluran televisi. Dalam rubrik kuliner yang hanya tayang 5 menit itu, tidak terasa bahwa air liur mulai mengalir deras dan membuat saya penasaran untuk segera mencicipinya. Saya harus segera pulang ke Bandung. 


Keinginan itu baru terwujud awal bulan ini ketika saya dan istri benar-benar menyempatkan waktu untuk makan siang disana. Tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi restoran yang menyajikan menu daging yang telah diasapi selama 12 jam. Letaknya, tidak jauh dari Gedung Sate dan bersebelahan dengan sebuah hotel.

Saya awalnya berniat untuk memesan daging sapi asap, seperti apa yang ada dalam liputan lalu. Tetapi, saya menemukan pilihan lain yaitu Combo Platter yang berisikan Beef Brisket, Jerk Chicken, Cocktail Sausages dan Fries (kentang goreng). Disajikan dengan saus khas racikan mereka: Caramel Glaze, Peri Peri, dan Origin BBQ. IMHO, ini adalah pilihan terbaik untuk first comer. Anda akan punya pilihan untuk lebih menikmati daging sapi atau daging ayam. Satu menu ini masih cukup untuk 3 orang. 

Sensasi yang dihasilkan beef brisket memang luar biasa. A juicy taste filled our mouth. Kami menemukan sensasi yang berbeda ketika mencoba daging ayamnya. Crunchy! dan yang jelas: Enak! Ngeunah pisan, euy!

Saya suka ambien restoran yang buka jam 11.00 WIB dan tutup jam 23.00 WIB ini. Anda bisa memilih outdoor atau indoor. Ada berbagai macam menu pilihan lain untuk menemani santapan khas daging asap mereka. Pun dengan pilihan beverages yang beragam. Cocok untuk penyuka menu daging-dagingan. Harga menu-menu mereka tergolong middle-to-high, tetapi sebanding dengan pengalaman dan sensasi yang dirasakan.

Akhirul kalam, anda bisa makan apapun selama anda menyukainya, tetapi jangan lupa pesan Rasulullah Muhammad SAW: berhentilah sebelum kenyang. 


Bandung, 6 Juli 2017.

Selasa, 09 Februari 2016

Mikiran Yayat

Jangan langsung ditelan mentah-mentah jika menerima sebuah berita. Sebab, yang enak ditelan mentah-mentah itu cuman peuteuy jeung bonteng.

Courtesy: www.goodreads.com

Tampil layaknya sebuah harian kondang yang beredar luas di Jawa Barat, Mang Yayat rupanya cukup cerdik dalam menyajikan parodi mengenai berita-berita tidak serius. “Mikiran Yayat” memang menyajikan berita-berita yang tidak meragukan bagi pembacanya. “Mikiran Yayat” dengan semboyan “Beritanya Dapat Dicangcaya” membuat pembacanya tidak harus bimbang dan ragu dengan berita-berita yang dimuat. Semua berita yang dimuat “Mikiran Yayat” adalah berita yang jujur dengan isi berita sewadul-wadulnya.

“Mikiran Yayat” mengajak pembaca untuk bersantai sejenak, rileks, dan beristirahat sembari menikmati tajuk-tajuk penuh tawa. Dibuat sebagaimana layaknya rubrik-rubrik dalam koran harian, Harian “Mikiran Yayat” memang ditakdirkan untuk membuat pembacanya tertawa. Sebagai harian yang menampilkan humor lokal, buku ini membuktikan bahwa humor daerah layak sekali dibukukan dan dapat dinikmati semua kalangan pembaca dengan lawakan yang segar dan menghibur.

“Mikiran Yayat” layak dijadikan sebagai hiburan sejati buat penduduk bumi. “Mikiran Yayat” mengulas politik, acara gosip, kuis, reality show, mistik, klenik hingga Persib Bandung tercinta yang disambung-sambungkan dengan gaya komedik. Mulai dari berita-berita seputar pemain sepakbola, Lukas Podolski, politisi, artis, pelawak, hingga dukun ramal dan dukun beranak.

Saya sangat menikmati buku ini. Konteks kedekatan budaya yang digunakan Mang Yayat rupanya begitu terasa untuk saya. Saya tidak melewatkan satu tajuk pun tanpa tertawa lepas. Begitu pun pada cerpen berjudul "Banyak Jalan Menuju Romlah" yang jadi penutup. Ada beberapa hal sentimental yang terkenang kembali sembari tertawa menertawakan kelakuan si aku dalam mengejar Romlah.

Sebagai buku komedi, “Mikiran Yayat” masih membekali pembacanya dengan karikatur yang sama-sama cerdas dengan beritanya. Cukup dibaca dan dinikmati, tidak perlu dipikirkan! Seperti jargon diatas, tidak semua berita perlu ditelan. Maka, “Mikiran Yayat” pun demikian. Anggap saja anda seperti sedang membaca koran pagi. Sekali duduk, selesai.

Judul      : Mikiran Yayat
Penulis   : Mang Yayat
Penerbit  : B-First
Tahun     : 2013
Tebal      : 194 hal.
Genre     : Humor

Cipayung, 8 Februari 2016.

Selasa, 20 Oktober 2015

Magenta Run Bandung 2015

Set aside a time solely for running. Running is more fun if you don't have to rush through it
- Jim Fixx


Pertengahan Oktober tahun ini saya akhirnya memutuskan untuk kembali turun berlomba. Lomba lari pertama setelah Nike Run Bajak Jakarta 2014. Sekaligus lomba lari pertama tahun ini. Saya sengaja membatasi diri dari gemerlap godaan berbagai lomba tahun ini. Saya cukup menyadari bahwa saya mengalami degradasi. Pace lari saya turun pasca demam bulan Mei lalu. Akibatnya, saya kini dilanda kelebihan berat badan, yang jadi problem utama dalam berlari. Selain itu, saya sendiri sudah tidak mendapatkan lagi gairah dalam mengukuti lomba lari. Yang jelas, saya masih tetap berlari.

Atas ajakan kawan-kawan di Bandung, saya akhirnya turun aspal juga. Magenta Run Bandung 2015 resmi menjadi lomba pertama saya tahun ini. Namun, jadi yang pertama bagi Edy, Adit, dan Retno. Magenta Run ini merupakan event launching Magenta Brasserie, kepunyaan Aston Primera Hotel and Conference Bandung. Lomba ini juga menggaet komunitas Indorunners Bandung, yang menjadi marshall sepanjang rute lari.

Saya melewati garis start dengan memakai perlengkapan debutan seperti sepatu Adidas Climacool Aerate III yang dibeli di Korea tahun lalu dan belum pernah ikut lomba. Dipadu dengan kaos Indorunners Bandung yang baru dikirim sehari sebelumnya. Peserta lari yang tidak terlalu banyak (mungkin dibawah 200 orang) membuat event lari ini serasa lari bareng Indorunners Bandung.

Pada saat balapan, saya tidak bisa berlari dengan performa terbaik. Badan saya rasanya terlalu berat. Padahal udara di sekitaran Jalan Pasteur cukup sejuk dan cerah. Memasuki Jalan Cipaganti, benar-benar menguji ketahanan dan mental. Jalanan yang teduh dan menanjak menguras tenaga. Saya pun tetap berlari dengan pace santai, mungkin sekitar 6/7 menit/km. Memasuki Jalan Sukagalih, saya sudah kelelahan. Keadaan ini sedikit 'merusak' program latihan saya bulan ini untuk mempertahankan pace di kisaran 6 menit 30 detik - 6 menit 40 detik per kilometer. Alhasil, saya finish menembus 5K di kisaran 35 menit.
 

Hasil lomba Magenta Run memang jauh dari target finish di 33 menit. Tetapi, sudah cukup untuk melatih kembali mental lomba saya. Minimnya pengetahuan tentang rute lomba serta training plan yang masih fokus di track landai sedikit banyak ikut mempengaruhi performance lari hari ini. Anyway, diluar itu semua, Bandung is always a great place to run. Happy running.

Pharmindo, 18 Oktober 2015.

Senin, 06 Juli 2015

Dilan #2

“Kalau kamu ninggalin aku, itu hak kamu, asal jangan aku yang ninggalin kamu. Aku takut kamu kecewa."
Dilan, hal. 49

Setelah sukses dengan Dilan edisi perdana, Pidi Baiq belum lama ini meluncurkan sekuelnya. Ditandai dengan pre-order di beberapa toko buku online, penggemar setia Dilan yang setia menunggu mendapatkan tambahan bonus tanda tangan asli sang penulis.


Kembali, kedua buku ini adalah kisah romansa sederhana tentang dua orang muda yang saling mencintai. Berlatarkan kota Bandung pada medio awal dekade 90-an, ‘Dilan #2’ tak henti-hentinya menghembuskan gelombang nostalgia pada setiap pembacanya (baik yang tinggal di Bandung atau pun tidak).

Kisah cinta Dilan dan Milea mencapai puncaknya ketika mereka memproklamasikan cinta mereka di Warung Bi Eem. Setelah itu, pembaca harus bersabar menunggu kelanjutan ceritanya. Apakah Dilan berhasil mempertahankan Milea?

Mencintai seseorang memang tidak mudah. Berbagai rentetan peristiwa mengantarkan dua anak manusia ini pada sebuah keputusan. Kebersamaan bukan lagi sesuatu yang patut diraih ketika alasan hanya jadi pembenaran. Kendati, masih ada cinta diantara mereka, waktu menunjukkan kekuasaannya. Karena novel ini masih baru dirilis, saya biarkan imajinasi pembaca membayangkan nasib mereka berdua seperti apa.

"Bayangkan, disaat kita sedang mencintai seseorang, pasti kita akan cenderung untuk bisa memberikan perasaan kita sepenuhnya, dan manakala seseorang itu pergi, rasanya seperti bagian dari kita telah lenyap." 

Penulisan cerita dengan alur yang sederhana membuat novel ini (lagi-lagi) tidak lantas membosankan hingga halaman ke-343. Pidi Baiq melanjutkan kembali pembelahan dirinya menjadi dua bagian. Satu untuk jadi Dilan, satu lagi jadi Milea.

"Kukira itu normal. Itu adalah bagian dari proses berduka. Tetapi cepat atau lambat, aku harus bisa menerima sepenuhnya, meskipun sebagian dari diriku masih berharap akan bisa kembali bersama-sama."

Sebelum membaca sampai tamat, saya sendiri mencoba menerka-nerka akan jadi apa kisah Dilan dan Milea di buku kedua ini. Agaknya, clue yang saya dapat dari dua merchandise dalam buku ini cukup jadi petunjuk.

Memang tidak salah untuk berharap, tapi aku harus tahu kapan berhenti! Aku tidak bisa terus menjalani hidupku dengan terjebak di masa lalu."

Personally, buku kedua ini menjiwai peruntukan penciptaanya dengan kisah yang lebih dewasa. Jika ‘Dilan’ mengajarimu bagaimana meraih hati dan mencintai, maka ‘Dilan #2’ mengajarimu bagaimana mencintai dan melepaskan. Andai ‘Dilan’ dan ‘Dilan #2’ jadi difilmkan, saya tidak setuju. Film hanya akan merusak imajinasi saya tentang Dilan dan Milea. Biarkan Dilan dan Milea seperti begitu adanya. Tidak kurang, tidak lebih.

Judul           : Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit      : Pastel Books
Tahun          : 2015
Tebal          : 343 hal.
Genre         : Novel Remaja


Dharmawangsa – Medan Merdeka Barat, 6 Juli 2015.

Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Tiga Negeri (1)

If travel teach us how to see, why all I see is you? (Anonim)

Prolog

Konon, cara terbaik untuk mengetahui karakter seseorang adalah dengan melakukan perjalanan bersama. Beberapa hari menjelang hari pernikahan, kami memutuskan untuk tidak menikmati liburan dengan hanya berdiam diri ‘mager’ di rumah. Terlalu sayang bila kesempatan ini dibiarkan berlalu begitu saja. Dengan begitu, maka proses pengenalan kami sebagai suami-istri akan semakin intens. Untuk saya dan Ella hal ini tentu jadi satu pengalaman baru mengingat perjalanan kami ini melintasi beberapa negara. Tentu dengan beberapa kesulitannya sendiri. Let’s see how we solve those problems on the road.

Selasa, 23 Desember 2014, di sela-sela waktu training, saya mencoba mencari tiket penerbangan ke beberapa negara tetangga sambal berharap mendapat tiket promo atau harga yang pantas. Saya sendiri sangat paham bahwa merencanakan perjalanan untuk akhir tahun harus dibuat jauh hari sebelumnya. Saya berharap punya sedikit keberuntungan untuk mendapatkan tiket murah (dengan harga yang realistis tentunya) untuk ‘liburan dadakan’ kami.

Saya sempat sedikit patah harapan karena tidak ada penerbangan yang harganya sesuai dengan budget kami. Rencana pun kami rubah dengan melakukan perjalanan jarak dekat saja. Menatap senja di puncak Semeru jadi pilihan kami. Saya belum setuju dengan ide Ella itu sampai saya teringat sebuah iklan yang dipasang di satu perempatan jalan. Crash, boom, bang! Yeap, saya mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia tujuan Bandung-Batam PP untuk 2 orang. Let’s go abroad, darling!

Masih dengan jantung yang berdebar usai menuntaskan pembayaran lewat kartu kredit, saya segera mengirim copy email e-ticket ke Ella. Tak lupa seraya mengingatkan Ella untuk membooking hotel di kota-kota yang akan jadi tujuan kami. Saya bersyukur, Ella segera mendapatkan konfirmasi hotel via booking.com. Again, that’s how credit card saves your life! Itinerary sudah didapat dan kami masih harus bersabar karena hari pernikahan masih pada akhir pekan ini. At least, kami sudah punya kepastian kemana kami akan pergi menghabiskan sisa hari libur akhir tahun sekaligus merayakan tahun baru 2015.

30 Desember 2014: The Departure



Hari pernikahan kami, 27 Desember, telah berlalu. Beberapa kerabat sudah pulang kembali ke kampong halaman untuk memulai hari kembali. Sementara, kami juga masih harus membereskan beberapa hal seperti mengembalikan busana adat beserta perlengkapannya. Saya dan Ella sendiri cukup disibukkan dengan mengatur penyimpanan hadiah dari undangan yang hadir.

Persiapan keberangkatan pun kami buat sesederhana mungkin. Selain pakaian, saya membawa perlengkapan standar wajib traveling seperti kamera, tongsis, dan tripod. Saya pun tidak jadi membawa perlengkapan lari walaupun sebenarnya ingin membuat personal record lari di tiga negara berbeda.

Selasa ini kami menyelesaikan pengembalian beberapa perlengkapan busana adat ke satu alamat yang berada di dekat rumah nenek saya. Saya dan Ella langsung siap-siap membawa perlengkapan dan perbekalan untuk perjalanan kami. Kami minta diturunkan di Bandara Husein Sastranegara.

Usai pamit, kami segera menuju ke counter check-in dan menemukan pintu masuk kesana ramai oleh para pengantar yang ingin ikut masuk ke dalam area keberangkatan. Untuk yang satu ini, Indonesia Banget! Kami lantas pergi sholat dulu di mushola. Antrian masih memanjang ketika saya dan Ella akan masuk. Rupanya, masih banyak pengantar yang keukeuh ingin masuk walau sudah dihadang petugas.

Sesampainya didalam, kami menuju meja petugas check-in Garuda Indonesia. Pesawat kami belum tiba. GA336 yang akan membawa kami ke Batam masih dalam perjalanan menuju Bandung dari Denpasar. Selama menunggu, kami mampir ke Starbucks dan memesan Green Tea. Rasanya sangat special karena ini adalah pengalaman pertama istri saya dengan Starbucks :D.

Tak lama setelah minuman kami habis, pesawat Boeing 737-800 PK-GMN parkir di apron dan penumpang dipersilakan naik. Tepat pukul 14.55 pesawat mendaki langit ke arah barat, menuju horizon tanpa batas. Seperti biasa, saya segera menyalakan perangkat inflight entertainment dan memilih lagu-lagu pilihan untuk menemani perjalanan.

Perjalanan dengan Garuda Indonesia ini juga dari pengalaman pertama Ella. Maka, saya tidak keberatan untuk mengajarinya beberapa cara menggunakan perangkat hiburan. Ketika Ella mulai mahir kami pun sibuk dengan hiburan kami masing-masing. Kami sempat agak khawatir dengan penerbangan ini karena factor cuaca yang jadi satu contributing factor pada kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami pun makan siang diatas ketinggian 37.000 kaki dengan kabin yang bergoyang.

Batam!

Kami landing di Bandara Hang Nadim Batam pukul 16.40, tepat waktu sesuai jadwal. Sebelum menuju pintu keluar, kami mampir dulu di counter tiket Batam Fast untuk membeli tiket penyeberangan ferry ke Harbourfront, Singapura, esok hari. Sebagai catatan, saya menghemat Rp. 150.000,- dengan membeli tiket disini. Harga tiket di Sekupang atau Batam Center adalah Rp. 450.000,- pulang-pergi include tax. Saya membayar dua tiket dengan harga Rp. 600.000,- include pajak dengan pemilihan jadwal yang fleksibel pulang-pergi. Saya sarankan untuk membeli di counter bandara saja bila ingin menyeberang ke negerinya Lee Kuan Yew, praktis dan hemat.

Kami segera menuju hotel tempat kami akan menginap, Formosa Hotel. Pada kunjungan pertama saya ke Batam bersama rekan-rekan sepekerjaan, kami pun menginap di hotel ini. Letaknya yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan Nagoya memudahkan kami untuk membeli sekedar bekal untuk perjalanan besok sekalian jalan-jalan sebentar.

Kami menghemat tenaga untuk besok dengan harapan bisa menjelajahi Negeri Singa seharian penuh menjelang malam pergantian tahun masehi. Kami menikmati malam yang semarak di Batam. Suasana tahun baru sudah terasa. Semoga tahun baru membawa pengalaman baru bagi kami.


Batam, 30 Desember 2014.

Sabtu, 10 Januari 2015

The Day We Find Love (Once Again)

I finally found someone, someone to share my life...
I finally found the one, to be with every night...
My life has just began, i finally found someone...






Bandung, 27 Desember 2014.

Kamis, 25 September 2014

Sepuluh Tahun

Adakah waktu mendewasakan kita?
Kla Project - Semoga

Dalam sebuah perjalanan singkat untuk bersilaturahmi, saya mendapat sebuah pertanyaan. Satu pertanyaan yang agak mengganggu dan agak eksistensialis. Kali ini bukan pertanyaan “Kapan kamu nikah?” dan sejenisnya. Hanya sekedar “Sepuluh tahun yang lalu kamu dimana?”.



Bicara soal dekade, ingatan saya selalu tertuju pada album Kla Project dengan judul yang sama, Dekade (1989-1999). Satu album yang dibuat untuk memperingati umur mereka di pentas musik Indonesia. Album itu adalah teman saya melewati malam-malam yang penuh dengan angka. Bila sedang waktunya, jam belajar malam saya diiringi oleh musik mereka.

It’s always amazing to see how time flies. You may see all that you can’t leave behind or else.

Satu dekade lalu, tepatnya tahun 2004 adalah tahun yang penuh dengan keajaiban. Saya bisa berkata bahwa tahun itu adalah tahun penentuan. Tahun dimana saya hanya punya waktu kurang dari setengah semester untuk menyelesaikan pendidikan menengah di SMA. Saya juga dihadapkan oleh keinginan masuk kuliah di kampus plat merah (baca: negeri).

Setahun sebelumnya, secara ajaib saya bisa masuk kelas IPA. Kemudian, saya juga bisa lulus dengan hasil yang tidak terlalu mengecewakan alias nggak jelek-jelek amat. Tahun itu juga saya mengambil keputusan terbesar sepanjang hidup saya hingga saat itu. Kebetulan, sistem penerimaan mahasiswa baru masih menggunakan cara yang sama hanya saja namanya sudah berganti bukan lagi UMPTN dan berubah menjadi SPMB. Saya memutuskan untuk pindah haluan dari yang asalnya ujian IPA menjadi IPS. Keputusan itu tidak saya ambil atas pertimbangan seketika. Saya sadar dan cukup tahu diri.

Keputusan itu pula yang mengantarkan saya masuk ke Program Studi Ilmu Perpustakaan di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Ajaib rasanya untuk bisa mengalami sendiri sebuah keberuntungan. Nama saya ada di seluruh harian yang menayangkan hasil ujian SPMB. Feels like you fulfill your destiny. Saya masih ingat rasanya pertama berjalan kaki dari gerbang lama Unpad Jatinangor menuju kampus FIKOM pada waktu registrasi ulang. Saya juga masih ingat bahwa saya bersimbah keringat melewati jalan menanjak yang rindang dan agak gersang itu.

Selebihnya, setengah tahun kedua di dekade lalu saya lewati dengan segala macam ‘first thing’. Pertama kali merasakan kehidupan anak kost, agak mirip seperti yang dibilang Project P dalam lagu “Nasib Anak Kost”. Pertama kali menjadi Ketua Regu saat Ospek. Pertama kali terpilih menjadi Ketua Kelas. Pertama kali ikut organisasi pers kampus. Pertama kalinya memakai kameja untuk kuliah. Pertama kali jatuh cinta, barangkali :)))).

Anyway, saat itu saya tidak pernah membayangkan dimana saya sepuluh tahun yang akan datang. Dalam sebuah lomba menulis tahun 2012 lalu saya menulis imajinasi saya 20 tahun mendatang. Saya hanya bisa nyengir bila membaca lagi tulisan saya yang dimuat oleh sebuah penerbit independen. Padahal, saya tidak pernah bisa membayangkan akan jadi apa jadinya 10 atau 20 tahun lagi. Saya bukan Raffi Ahmad yang bisa bilang masih akan mencintai Yuni Shara selama 50 tahun lagi. Atau Christina Perri yang mampu mencintai kekasihnya selama beribu-ribu tahun lamanya.

Through the fire, through the limit, through the wall. Through the fire, through whatever come what may.

Ada banyak rasa syukur bila kemudian berkaca kembali pada keadaan saya sekarang. Agaknya, perjalanan waktu memang mampu mendewasakan. Saya percaya bahwa siapa menabur maka akan menuai. Tuhan tidak pernah tidur maka tangan Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Dengan segala kekurangan dan kelebihan saat ini, rasanya semakin pantas dan belum terlambat untuk menengadahkan tangan seraya berucap “Terima kasih, Tuhan.”


Paninggilan, 25 September 2014
selesai makan malam

Senin, 30 Juni 2014

Mari Lari

Kalau ada film yang saya tunggu rilis di bulan Juni ini adalah ‘Mari Lari’ dan ‘Transformers 4: Age of Extinction”. Berhubung Optimus Prime baru bisa mentas bareng Mark Wahlberg 27 Juni nanti maka saya menonton “Mari Lari” dulu. Tepat di hari ketika Cinema 21 memangkas jadwal film ini. 


Film ini bercerita tentang seorang Rio Kusumo (Dimas Aditya) yang tidak pernah menyelesaikan apapun sepanjang hidupnya. Let’s say him as an under-achiever. Pekerjaannya hanyalah seorang sales di dealer mobil yang juga berusaha menamatkan kuliahnya. Ayah Rio, Tio Kusumo (Donny Damara) adalah seorang mantan atlet yang sukses memiliki sebuah pabrik garmen. Tio tidak pernah yakin bahwa Rio suatu saat akan menyelesaikan apa yang dia mulai. Tio menganggap tidak ada yang pantas dibanggakan dari anak satu-satunya itu. Hal itu pula yang membuat Rio terpaksa angkat kaki dari rumah.

Hubungan Rio dengan ibunya, Fitri Kusumo (Ira Wibowo) cukup dekat. Rio bahkan mengajak sang Ibu menikmati gaji pertamanya. Malam itu pula Rio tidak menyadari bahwa Ibunya menyimpan sebuah rahasia.  Penyakitnya yang terlanjur parah mengantarkan sang Ibu kembali kepada Sang Pencipta. Sepeninggal ibunya, Tio mengajak Rio kembali ke rumah. Mereka tinggal bersama kembali namun tanpa hubungan ayah-anak yang normal.

Dari sebuah iklan di radio, Rio mendengar informasi tentang Bromo Marathon. Even lomba lari tahunan yang digelar di kawasan pegunungan Bromo. Rio punya niat untuk mengikutinya. Rio berhasil menemukan undangan dari pihak penyelenggara atas nama kedua orang tuanya, Tio Kusumo dan Fitri Kusumo. Berbekal kenangan dari sebuah album yang sudah lama hilang, Rio memberanikan diri untuk bicara pada ayahnya. Rio ingin menggantikan posisi ibunya di Bromo Marathon.

Sekali lagi, Tio menunjukkan ketidaksukaannya pada niat Rio. Rio dianggap belum mampu dan tidak pernah serius. Apalagi untuk mengikuti sebuah lomba lari jarak jauh pertama dalam hidupnya. Rio merasa tertantang untuk membuktikan pada ayahnya bahwa ia memang mampu. Rio termotivasi untuk berhasil finish demi sang Ibu.

Rio pun mulai berlatih. Ia mulai rajin berlatih. Perkenalannya dengan Annisa (Olivia Jensen) di dealer mobil tempanya bekerja tidak sia-sia. Suatu pagi, mereka bertemu dan berlari bersama. Sejak saat itu, Rio punya teman berlatih. Latihannya pun semakin bervariasi karena Rio berencana untuk lari Bromo Marathon yang memang butuh persiapan matang. Annisa ikut menjadi motivasi Rio. Rio berubah menjadi pribadi yang percaya diri. Terbukti dari pekerjaannya yang mulai menampakkan hasil.

Tio bukannya tidak tahu Rio mulai rajin berlatih. Tio memberi Rio tantangan untuk finish di satu event lari sebelum Bromo Marathon. Bila Rio bisa finish, Tio akan mengizinkan Rio ikut ke Bromo. Kesibukan kuliah serta semain padatnya jadwal pekerjaan membuat Rio kurang persiapan dalam mengahdapi tantangan pertamanya. Alhasil, Rio keteteran dan hampir menyerah andai saja tidak terlibat dalam suatu percakapan di mobil panitia lomba. Usai lomba, Rio menyusul ayahnya dan meninggalkan medali finishernya di kaca mobil. Sambil berharap itu bisa menjadi bukti kesungguhannya untuk mengikuti Bromo Marathon.

Persiapan Rio semakin matang untuk berangkat ke Bromo. Namun, disaat terakhir Annisa batal berangkat kesana. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya. Dalam hubungan mereka yang sudah dekat Rio sempat merasa kecewa namun ia tetap harus berangkat. Demi janji kepada dirinya sendiri sekaligus pembuktian pada ayahnya. Rio pun berangkat bersama ayahnya ke Bromo Marathon. Perlahan, hubungan ayah-anak ini mulai membaik. Tio mulai melihat kesungguhan dalam diri Rio.

Rio akhirnya berada pada tempat yang dia inginkan. Ia berlari di Bromo Marathon bersama ayahnya. Kilometer demi kilometer ia lalui. Semangatnya masih belum padam. Namun, akibat kelengahannya Rio terjatuh dan kakinya luka. Ayahnya yang sudah terlajur jauh berada di depan Rio mulai cemas. Tio pun segera menyusul ke belakang dan menemukan Rio yang berjuang untuk terus berlomba dengan lukanya. Rio merasa tidak enak karena perhatian ayahnya itu. Rio tahu ayahnya sedang mengejar catatan waktu terbaik untuk even Bromo Marathon kali ini.

“Waktu terbaik ayah, adalah sama kamu” adalah kalimat yang meluncur dari mulut ayahnya. Sebuah kalimat yang cukup meyakinkan Rio untuk terus berlari menggapai garis finish. Walau didera luka yang cukup mengganggu namun Rio berhasil menyelesaikan marathon pertamanya.

Catatan Singkat  

Sudah banyak film bertema olahraga yang lebih dahulu menghiasi layar bioskop. Termasuk film ini. Hanya saja, film bertema olahraga lari dalam dasawarsa terakhir, saya rasa baru mampu direpresentasikan oleh film ini. Film garapan Delon Tio yang ditulis oleh Ninit Yunita (pelari dan penulis buku) ini bercerita dengan jujur mengenai aspek-aspek humanisme yang berkaitan dengan olahraga lari.

Teh Ninit bahkan merilis film ini bersamaan dengan launching novel dengan judul yang sama. Teh Ninit pun bahkan muncul dalam film ini, bersama sang suami tercinta pemilik suamigila.com @adhityamulya. Saya menikmati ‘perkelahian’ mereka di dalam mobil yang ditumpangi bersama Rio. Kemunculan cameo semacam ini adalah satu sensasi tertentu yang menyenangkan.

Sebagai film keluarga, ‘Mari Lari’ mampu memberikan kesan hangat dan pentingnya arti sebuah keluarga. Pelajaran utama tentang motivasi, berani memulai, berproses, dan selesai, tidak ketinggalan. Elemen-elemen kunci dalam hidup tersebut menjadi nilai tambah tertentu bagi penonton. Entah bagi mereka yang sama berlari atau bagi mereka yang membutuhkan dukungan motivasional tertentu. Tidak berlebihan rasanya bila film ini saya nobatkan sebagai Film Keluarga Terbaik tahun ini.
Bagi saya pribadi, film ini punya pesan yang kuat. Berani memulai, berproses, kemudian selesai. Saya teringat pada pesan seorang senior di Kampus. Katanya, “Kalau mau, pasti bisa. Kalau bisa, belum tentu mau.” Satu hal yang akan terus terngiang dalam ingatan saya. Akhir kata, usai layar bioskop ditutup saya hanya mampu bergumam “Ya iya lah, kalau ditemenin Olivia mah saya juga bisa lari sampai Bromo mah..”

Judul           : Mari Lari
Sutradara    : Delon Tio
Cast            : Dimas Aditya, Olivia Jensen, Donny Damara, Ira Wibowo, Ibnu Jamil
Tahun         : 2014
Produksi     : Nation Pictures
Genre         : Drama-Olahraga 

Bandung, 14 Juni 2014
Usai nonton bersama @farida_ella

Sabtu, 28 Juni 2014

Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990

Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.



Dilan adalah sebuah kisah sederhana tentang dua orang muda yang saling mencinta. Lika-liku kisah romansa anak sekolah tahun 90-an membawa pembaca (terutama yang tinggal di Bandung) ikut merasakan kembali gelombang nostalgia.

Dilan bertemu Milea secara tidak sengaja. Walau begitu, Dilan tidak henti-hentinya membuat Milea penasaran. Berbagai macam cara yang Dilan lakukan selalu berhasil mengesankan Milea. Alhasil, Milea mencoba mencari lebih dalam siapa sosok Dilan. Milea tidak mau begitu saja percaya pada informasi yang beredar di lingkungan sekolahnya soal jatidiri Dilan.

Milea menemukan sesuatu yang menyenangkan dari Dilan dan mulai jatuh hati padanya. Milea pun memutuskan kekasihnya. Mencintai Dilan adalah sebuah labirin tersendiri bagi Milea yang pada akhirnya mempertemukannya dengan Bunda, Ibunda Dilan. Kedekatan mereka berlangsung cukup akrab hingga Milea menemukan beberapa potongan puisi yang ditulis Dilan untuknya.

Mencintai seseorang memang tidak mudah. Ketika Dilan menghilang, Milea mengalami pengalaman buruk dengan Anhar, teman Dilan. Anhar menuduh Milea mempengaruhi Dilan untuk membatalkan sebuah rencana penyerangan. Sebuah tamparan yang menerpa pipi Milea kemudian membuat Dilan lepas kendali. Dilan menghajar Anhar setelak-telaknya.

Usai kejadian itu adalah sebuah happy ending. Mengapa? Saya pun bertanya, apakah cinta masih butuh sebuah pengakuan untuk diucapkan? Kalau pembaca berpikir bahwa Dilan akan jadian dengan Milea, memang benar adanya. Ibarat teks proklamasi, Dilan dan Milea resmi berpacaran dengan sebuah ikrar bermaterai. Plus, lima buah kerupuk dan bala-bala.

Catatan Singkat

Pengalaman membaca Dilan adalah satu yang berbeda dari sekian banyak novel yang telah saya baca. Biasanya, sang penulis masih merahasiakan cerita novelnya seperti apa. Kalaupun mau memberi clue, beberapa hanya sebatas 140 karakter di Twitter. Beda dengan Dilan. Novel ini bahkan sudah dapat dibaca sebelum terbit versi cetaknya.

Sejak pertama membaca Dilan via blog, saya langsung menyukai cara Pidi Baiq bercerita. Seakan Pidi Baiq membelah dirinya menjadi dua, satu jadi Milea, dan satu lagi jadi Dilan. Jalan cerita yang mengalir membuat pembacaan novel sepanjang 330 halaman ini terasa menyenangkan.

Dilan sendiri adalah tokoh rekaan yang terasa nyata. Entah apa hubungannya dengan Bob Dylan, yang jelas Dilan memberi contoh dan pelajaran bagaimana memenangkan hati seorang perempuan. Dengan cara yang tidak biasa tentunya. Kalaupun sampai Dilan ini difilmkan, saya rasa tidak akan menyaingi si Boy. Namun, Dilan akan mencuri hati siapapun yang menontonnya.
 
Judul           : Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit      : DAR! Mizan
Tahun          : 2014
Tebal          : 330 hal.
Genre         : Novel Remaja

Pharmindo, 13 Juni 2014.

Minggu, 10 November 2013

SBM Fun Run Bandung 5K

Akhirnya saya kembali berlari di Bandung di gelaran SBM Fun Run Bandung: 5K Closer To Your Happiness. Tema gelaran lomba kali ini cukup unik. 5K Closer To Your Happiness. Barangkali, panitianya percaya bahwa dengan berlari kita akan lebih dekat dengan yang namanya bahagia. Terbukti, setiap papan petunjuk yang dibubuhi quotes soal kebahagiaan. Contoh saja: one minute you angry, you loss 60 seconds of your happiness.



Race hari ini mengambil lokasi di dalam kampus ITB. Lomba dibagi menjadi dua lap. Inilah perbedaan yang signifikan dari race yang penah saya ikuti sebelumnya. Saya belum pernah mengikuti race seperti ini. Saya merasa jadi seperti pembalap yang diberi checkboard “FINAL LAP” ketika memasuki Lap ke-2. Mungkin itu pula sebabnya saya tidak terlalu tertarik untuk berlari mengitari stadion atau lapangan olahraga. Saya lebih senang berlari mengikuti jalur jalan raya.

Selain itu, pengalaman lain yang saya dapat dalam race ini yaitu pelari harus menghadapi medan naik-turun mengitari sekitar kawasan kampus. Race track yang turun-naik membuat pelari harus pintar-pintar mengatur nafas. Pengalaman ini sangat jauh berbeda dengan excitement ketika menanjak dan menurun di Semanggi.



Anyway, kalau saya harus berbahagia hari ini adalah kehadiran dua orang sahabat yang ikut menyambut usai menyentuh garis finish. Pun, ketika bertemu kembali kawan-kawan relawan #BebersihBandungYuk untuk bertukar info soal Bandung Trail Run #YukNgetrel setiap hari Sabtu. 



Akhirul kalam, menyambut Hari Pahlawan, medali hari ini saya persembahkan untuk mereka yang gugur di Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Sejarah akan selalu mengenang anda semua. Selamat Hari Pahlawan 1435H. Jadikan dirimu pahlawan olehmu, untuk diri sendiri dan lingkungan terdekatmu.


Pharmindo, 10 November 2013.

Minggu, 27 Oktober 2013

#BebersihBandungYuk

Kebersihan adalah sebagian dari iman. (Al-Hadits)

Prolog

Mencintai adalah berbuat. Ketika saya bilang saya mencintai Bandung, artinya saya harus berbuat untuk kota yang saya cintai ini. Kebetulan, niat itu terlaksana hari Minggu. Outlive Outdoor Store, Batagor.net bersama National Geographic, menggelar acara ‘Bebersih Bandung Yuk: Sumpah Ga Nyampah Tuh Ga Susah’. Sebuah inisiatif komunitas dan participative involvement dari warga Bandung untuk mewujudkan Bandung sebagai kota yang layak untuk dihuni, ditinggali, dan dinikmati.

Keterlibatan komunitas dalam kegiatan ini bukan dimaksudkan untuk membuat Bandung bersih seketika. Melainkan, sebuah edukasi untuk melakukan hal kecil yang berdampak besar. Segala sesuatu yang besar tentu berawal dari hal-hal kecil yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten.

#BebersihBandungYuk

Relawan #BebersihBandungYuk
Sejak pukul 6 pagi, relawan dari berbagai komunitas maupun individual mulai berdatangan di Outlive Store, Jl. Setiabudi (sebelah Warung Sate Shinta). Usai melakukan registrasi dan memakai kaos yang dibagikan panitia, kami dikumpulkan untuk briefing singkat dan melakukan pemanasan. Pukul 6.30, kami mulai bergerak menuju Taman Ganesha yang dijadikan meeting point sebelum mulai beraksi di area Car Free Day Dago.

Setelah berkumpul dan membentuk kelompok, pukul 7.30 para relawan #BebersihBandungYuk  bergerak menyisir kawasan Jl. Ir. H. Djuanda (Dago). Mereka kemudian menyebar dan mulai memunguti sampah yang berada di sekitar area Car Free Day. Walaupun Pemkot Bandung sudah menyediakan ember-ember sebagai tong sampah di separator jalan, tetap saja masih ada warga yang iseng membuang sampah dimana saja.

Relawan #BebersihBandungYuk beraksi
Relawan #BebersihBandungYuk beraksi
Trotoar dan halaman parkir dari beberapa Factory Outlet pun tidak luput dari sasaran para relawan. Adanya beberapa stand pedagang makanan di tempat-tempat tersebut juga menghasilkan sampah yang lumayan banyak. Terlebih, ketika relawan menyisir wilayah Taman Cikapayang. Kesadaran warga soal sampah masih harus ditingkatkan.

Aksi relawan tidak luput dari perhatian pengunjung Car Free Day. Ketika sedang beraksi memunguti sampah, saya dan kawan sekelompok sempat ‘dihentikan’ oleh Pak Anton. Beliau adalah Bapak Camat dari Kecamatan Coblong. Beliau antusias menanyakan seputar kegiatan #BebersihBandungYuk. Bahkan, beliau pun ingin mengikuti live tweet dari kegiatan ini melalui akun twitter pribadinya.



Kami menyempatkan diri dan berhenti sejenak untuk memberikan penjelasan kepada beliau yang bersama jajarannya sedang meninjau beberapa pekerjaan proyek. Beliau sangat mendukung kegiatan ini demi mewujudkan Bandung yang bebas sampah dan menyukseskan program Bandung Juara. Kami pun berfoto bersama beliau dan beliau berpesan agar foto tersebut di twitpic ke akun twitter resmi milik Kecamatan Coblong, @CoblongJITU.

Relawan #BebersihBandungYuk membuang sampah ke TPS

Usai menyisir seluruh area Car Free Day, pukul 9.00 para relawan kembali berkumpul di Taman Ganesha untuk pembagian doorprize. Tak lupa juga berfoto bersama. Kemudian, sampah-sampah yang terkumpul dari masing-masing kelompok segera dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara yang terletak di Jalan Tamansari. Perjalanan sampah-sampah tadi pun selesai. Namun, usaha untuk mengembalikan kesadaran warga akan kebersihan kota Bandung tidak akan berhenti sampai disini.

Catatan Personal

Sebelum menjadi relawan pemungut sampah dalam kegiatan ini, saya pernah mengikuti acara serupa di Silang Monas Jakarta, sebagai sumbangsih bagi Hari Ulang Tahun Kota Jakarta. Bagi saya, pengalaman pertama sebagai relawan di tanah kelahiran ini sendiri menimbulkan rasa bangga tersendiri. Saya bangga karena telah berpartisipasi dalam gerakan kecil untuk mewujudkan Bandung sebagai kota yang layak dan ramah bagi warganya maupun penggemarnya.


#BebersihBandungYuk ini adalah perwujudan rasa cinta yang dijabarkan dalam aksi nyata. Walaupun banyak yang menyepelekan partisipasi kami sebagai relawan pemungut sampah namun saya bangga karena saya dapat melakukan sesuatu untuk Bandung. Saya tidak menyesal mengikuti kegiatan ini walaupun saya harus rela untuk tidak berlomba di Jakarta Marathon 2013.

Saya berharap kegiatan seperti ini akan terus berlangsung dan tidak terbatas di sekitar area Car Free Day saja. Saya yakin masih banyak relawan yang ingin berpartisipasi mengikuti kegiatan semacam ini di lingkungannya masing-masing. Semoga kegiatan ini menjadi virus positif yang menggugah kesadaran warga Bandung untuk senantiasa menjaga kebersihan kotanya.

Penutup

Bandung masih punya secercah harapan untuk menjadi tempat yang benar-benar layak bagi kehidupan warganya. Bandung kaya raya akan keragaman budaya dan penuh potensi. Atas dasar harapan itulah imajinasi tentang Bandung yang lebih baik dimungkinkan dan mampu diwujudkan.

Optimisme dalam membangun kembali Bandung melalui edukasi dan sosialisasi kepada warganya, lalu menempatkannya kembali dalam konteks sosio-budaya-spasial adalah satu keharusan. Bukan lagi satu pilihan jika ingin bertahan hidup didalamnya. Cepat atau lambat, harus ada langkah awal yang dibuat dalam kerangka imajinasi bersama. Imajinasi atas dasar kesadaran kolektif warga Bandung untuk mengembalikan Bandung yang genah merenah tur tumaninah.

Pharmindo, 27 Oktober 2013.

Minggu, 13 Oktober 2013

Car Free Day Bandung

Entah sudah berapa lama Car Free Day di Dago ini digelar, baru hari ini saya bisa menikmatinya langsung. Saya mengalami pengalaman ini tanpa harus melalui media sosial. Hal yang paling mudah untuk mengetahui keadaan/kondisi suatu objek tanpa harus mengalami objek itu sendiri adalah melalui media sosial. Dan hari ini, semua terhubung dalam lalu lintas jagad virtual tanpa batas. Everyone’s get connected.

Secara umum, yang namanya Car Free Day Dago tidak berbeda dengan di Jakarta. Warga kota bisa melakukan bermacam aktivitas. Dari mulai berjalan kaki, bersepeda, melihat-lihat dagangan, wisata kuliner, atau sekedar nongkrong asik. Kecuali untuk lari, agak susah karena terlalu crowded dengan pengunjung. Saya pun tidak berlari melalui rute ini.

Tak ketinggalan, terlihat mobil van dari beberapa stasiun radio. Ada bermacam acara hiburan ikut disajikan disini. Ini mengingatkan saya pada masa kejayaan Jalan Dago sekitar tahun 2003-2004. Waktu itu, setiap malam minggu sepanjang Jalan Dago adalah kawasan wajib bagi setiap stasiun radio di Bandung ini untuk lebih mendekat pada pendengarnya. Sepanjang jalan ini penuh dengan mobile stage mereka. Apalagi ketika Djarum Super Festival (belakangan namanya berubah menjadi Dago Festival) digelar. Saya merindukan kembali saat-saat itu. Bandung yang semarak jadi terlihat lebih ramah bagi penggemar dan warganya.

Tiis Jaya Runner at his 1st Car Free Day in Bandung
Impian tentang kota yang layak dan ramah selalu hidup dalam benak warganya. Saya tentu sangat berharap bahwa gelaran semacam Car Free Day seperti ini dapat menjadi media yang memfasilitasi warga Bandung dalam mewujudkan apa yang selama ini kita impikan. Bandung Berhiber Bermartabat. Semoga.


Pharmindo, 13 Oktober 2013.

Disclaimer Note: trademarks mentioned in this post belong their respective owners

Minggu, 30 Juni 2013

Halo Fit Run Bandung: The Edge of Reason

Running, running as fast as we can. Do you think we'll make it? (Do you think we'll make it?)
We're running. Keep holding my hand. It's so we don't get separated.
Running - No Doubt

A tweet from @ninityunita 's timeline
 
Berlari & Berbagi. Itulah satu alasan kuat bagi saya untuk mengikuti Halo Fit Run ini. Lomba lari yang diadakan oleh Telkomsel dengan brand KartuHalo ini turut menyumbangkan 1800 sepatu sekolah untuk anak yatim piatu. Sepintas, hal ini mengingatkan saya pada film ‘Children of Heaven’, dimana Ali mengikuti lomba lari demi mendapatkan hadiah sepasang sepatu. Jadi, sekalian saya mencoba endurance yang selama ini dilatih melalui Paninggilan Morning Run setiap akhir pekan, saya juga (minimal) turut berbagi untuk mereka yang tidak punya sepatu untuk pergi ke sekolah. I have posted something about this, please visit this link


Kebiasaan untuk berolahraga lari sudah saya jalani sejak satu setengah tahun ini. Kebetulan, saya menjadi follower @ninityunita (formerly @istribawel) yang aktif mengikuti berbagai kegiatan/event dan berbagi informasi seputar olahraga lari. Misalnya saja, dari blogpost di istribawel.com saya jadi tahu bagaimana caranya memilih sepatu lari. Lari kini telah menjadi trending lifestyle. Sebagai alternatif untuk tetap berolahraga, menjaga kesehatan, dengan cara yang paling murah. She keeps inspiring me, huge thanks for that. Also, @ninityunita participating in this 10K race.

Halo Fit Run yang digelar di Bandung ini menarik perhatian saya sama seperti ketika tahu bahwa Sixpence None The Richer akan manggung di JavaRockingland 2013. Saya pun langsung melakukan registrasi dan tekun menunggu hingga waktu penukaran race pack. Tak lupa, sambil melakukan early warming-up; berhenti merokok, berhenti minum kopi, dan tidur tepat waktu. Personally, event ini saya anggap sebagai satu cara untuk tetap menjaga kebugaran menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

The Edge of Reason


Mengambil judul yang sama dengan sekuel film ‘Bridget Jones’s Diary 2’, ada beberapa alasan lain yang cukup esensial dan membuat saya bersemangat untuk ambil bagian di Halo Fit Run Road Race Bandung 5K ini. Here you go:

Pertama. As i told you above, saya butuh sebuah pembuktian dari Paninggilan Morning Run yang selalu saya lakukan setiap akhir minggu (bila sedang tidak pulang ke Bandung). Saya ingin membuktikan bahwa apa yang sudah saya lakukan itu ada hasilnya. Minimal, saya tidak berhenti berlari dari garis start di Gasibu hingga dua kilometer pertama di sekitar Jalan Ir. H. Djuanda (Dago). And it happened! :D

Kedua. Hasil Tes Kebugaran di Lakespra Mabes TNI AU. Tes ini mengharuskan peserta diklat untuk melakukan lari sejauh 10 lap lapangan atau 4 km, dalam waktu sesingkatnya. Kebetulan, saya berhasil masuk 10 besar (10 out of 40) pada tes yang diadakan pada suatu sore di bulan April lalu. Sebuah catatan yang tidak terlalu mengecewakan.

Ketiga. Samsung Fun Run 5.7K 2002. Jauh sebelum Halo Fit Run ini digelar, saya sudah pernah mengikuti lomba lari semacam ini. Jarak dan rute yang ditempuh pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, umur saya sudah jauh beranjak.


Beranjak dari tiga alasan diatas, saya mulai menyemangati diri sendiri untuk berhasil masuk garis finish sejak selesai proses registrasi. Saya ingin membuktikan apakah saya mampu untuk mencapai tujuan akhir dari lomba ini. Apalagi, kini saya berlari di Bandung, dimana saya bisa menikmati kembali udara segar pagi hari yang khas. Alhamdulillah, saya berhasil finish. Entah di urutan keberapa dari berapa. Yang jelas, sebuah medali menjadi pengakuan sekaligus pembuktian bahwa keputusan yang saya ambil tidaklah terlalu salah.


Official Timing Result:



Pharmindo, 30 Juni 2013.


Note: all trademarks mentioned in this post belong to their respective owners.

Sabtu, 23 Maret 2013

Menjombang: Sebuah Napak Tilas (3-tamat)

Postingan sebelumnya:

Day 2: Destination Jombang

Senin – 11 Februari 2013

Makam Eyang Ti, Tulungrejo, Pare.

Pagi tiba begitu lambat. Saya tahu itu dari derap langkah anak-anak sekolah yang berderap pelan. Sepintas, pemandangan pelajar bersepeda menghiasi pagi di Tulungrejo. Alangkah indahnya hidup pagi ini. Belum genap pukul tujuh pagi. Masih ada waktu untuk segelas kopi sebatang rokok.




Lambat pagi mengalun, pun mentari yang nampak masih enggan muncul di ufuk timur. Jelang siang nanti, kami, saya dan Pak De, akan mengawali rangkaian ziarah makam leluhur ini. pagi diisi dengan sarapan nasi pecel khas kota Pare. Mirip nasi pecel Madiun. Penampakannya masih sama dengan ingatan terakhir saya ketika Eyang Ti masih ada dan selalu menyuguhkan nasi pecel untuk sarapan kami. Ada suatu nostalgia merambat dalam rasa.

Pukul 10.00, langit mulai cerah dan berawan. Saat yang tepat untuk memulai perjalanan. Setelah packing untuk bersiap melawat ke makam dan kembali ke Surabaya, kami berangkat menuju perhentian pertama hari ini: Makam Eyang Ti. Letaknya tidak jauh dari rumah Pak De, hanya 10 menit berjalan kaki ke arah timur, melewati gang kecil yang hanya muat selebar satu mobil saja. Ini hari senin dan kehidupan berjalan sangat lambat disini. Itulah kesan yang saya dapat sepanjang perjalanan menuju Makam Eyang Ti.


Kami pun tiba di makam. Saya mendapat kesan bahwa pekuburan disini tidak menimbulkan kesan horor atau menakutkan. Entah karena pemakaman ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk atau memang penduduk yang sudah biasa dengan kenyataan demikian. Pemakaman itu hanya sebuah tanah bidang persegi empat dengan sebuah gapura di bagian pintu masuk. Saya tercengang. Banyak makam disini menyatu begitu saja dengan tanah. Hanya ditandai dengan sebuah atau dua buah nisan penanda yang terbuat dari kayu. Banyak diantaranya sudah luntur. Saya pun khawatir itu terjadi pada makam Eyang Ti.

Untung saja, Pak De hafal lokasi makam Eyang. Usai melewati gapura, Pak De berhenti sebentar, mengelilingkan pandangannya, lalu menuntun saya menuju makam Eyang.




Makam itu hanyalah sebuah tanah biasa yang menyatu dengan sebidang tanah lainnya. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, Makam Eyang tidak terlihat seperti kuburan pada umumnya. Bentuknya bukan gunungan atau gundukan, melainkan datar saja. Dengan nisan terbuat dari tembok yang mulai lusuh dan luntur. Hanya sebuah papan nama terbuat dari seng yang menjadi penanda. Sebuah papan kecil bertulis: Hj. Muslichah.

Saya menghentikan diri sejenak. Mencoba melepaskan semuanya. Saya telah mencapai tujuan pertama saya. Makam Eyang Ti yang pertama kalinya saya kunjungi sejak beliau wafat tahun 2000 lalu. Saya tertegun dan hampir saja menangis. Perasaan melankolis yang entah darimana datangnya telah mengguncang segenap jiwa dan perasaan. Lama saya jongkok memperhatikan makam yang mulai kusam ini, sementara Pak De mulai bersiap untuk bertakziah.

Hari belum begitu siang tapi masih berawan. Cicit burung masih terdengar santai. Dibawah langit Pare kami membaca doa. Pak De memimpin doa. Berbagai doa dan pujian kami baca. Tak lupa, surat Yasin pun ikut dibacakan. Kami tentu berdoa semoga doa kami didengar dan diterima Allah SWT, semoga beliau diberikan ketenangan di alam kuburnya. Kelak, bila waktu telah tiba kami akan dipertemukan kembali. Sambil membaca Yasin, air mata saya mengucur lagi sedikit demi sedikit. Perasaan melankolis itu menguasai kembali. Saya jadi teringat saat-saat liburan di Pare, waktu Eyang masih ada.

Usai berdoa dan membaca surat Yasin, Pak De menunjukkan makam lainnya. Makam Mbah Abdul Manan, ayahanda dari Eyang Ti, yang juga dimakamkan disitu. Kami hanya mengunjunginya sebentar sambil membacakan Al Fatihah, lalu bersiap melanjutkan perjalanan. Sebelum itu, Pak De menyempatkan diri untuk mampir ke makam istrinya yang pertama dan kedua. Kedua istri Pak De itu dimakamkan bersebelahan. Bentuknya serupa dengan makam Eyang. Tidak ada komentar apa-apa dari Pak De, beliau hanya memberi isyarat untuk terus melanjutkan perjalanan. Barangkali Pak De tidak mau ada romantisme nan melankolik disitu.

Makam Eyang Kung, Peterongan, Jombang

Letak makam Eyang Ti tidak jauh dari jalan raya tempat kami menunggu angkutan antar kota yang menuju Jombang. Tak lama menunggu, mobil angkutan datang dan kami segera naik menyusuri jalan raya Pare-Jombang. Melewati Mojowarno dan Mojoagung.

Sepanjang perjalanan, saya menemui kehidupan masyarakat pedesaan yang tetap menggeliat walau terus didera berbagai ketidakpastian. Kehidupan terlihat berjalan normal. Sudah lama saya tidak mengamati hal yang demikian. Sebelum masuk kota Jombang, kami harus melewati daerah Tebuireng, dimana terdapat pesantren legendaris, Pondok Pesantren Tebuireng dan sebuah pabrik gula. Mungkin itu sebabnya daerah ini dinamakan Tebuireng.

Pondok Pesantre Tebuireng itu sendiri bukannya tanpa cerita. Seorang Gus Dur pernah belajar di tempat ini. Begitu pun Kakeknya, Hasyim Ashari, dan ayahnya, Wahid Hasyim, turut dimakamkan disini. Lihat saja penanda makam kedua tokoh perjuangan kemerdekaan itu yang dipasang di halaman Pondok Pesantren. Sayang, saya hanya sempat melintasi saja. Seakan sudah mengerti, supir pun ikut memperlambat laju kendaraan. Membiarkan saya menikmati Tebuireng.

Masuk ke Kota Jombang, kami melewati Stasiun Jombang. Stasiun ini juga bukan tanpa cerita. Stasiun ini selalu jadi perhentian kami sekeluarga bila mengunjungi Pare. Kereta Api Mutiara Selatan selalu tiba pagi hari disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Mobil yang kami tumpangi sempat berhenti sebentar di depan stasiun. Banyak penumpang yang turun disini dan juga ada yang naik menuju Terminal Jombang. Lama tak jumpa, sudah banyak yang berubah. Tak ada lagi yang benar-benar sama. Stasiun Jombang tetap punya cerita. Tempat ribuan butir air mata tidak lagi menemukan persembunyiannya.

Stasiun Jombang

Kami tiba di Jombang pukul 11.15, ketika itu hari mulai terik. Mobil yang berhenti di Terminal Jombang ini kami sewa untuk mengantarkan kami sampai ke Makam Eyang Kung di Peterongan. Sang supir pun setuju. Saya yang duduk di depan mengamati semua jalan yang dilalui. Saya ingin menangkap sebanyak-banyaknya memori tentang jalur menuju makam Eyang. Rasanya tidak jauh dari Terminal. Masuk sebuah jalan kecil dimana terdapat sebuah masjid. Kami pun segera turun usai membayar sewa.

Sebuah dusun yang sunyi. Itu kesan pertama saya. Walaupun terdapat sebuah sekolah SD namun kehidupan disini rasanya terlalu sunyi. Tidak banyak warga yang beraktivitas. Mungkin karena sebagian besar penduduk disini sudah berusia lanjut. Rumah-rumah dengan halaman yang besar menjadi pemandangan lazim sampai ke makam.


Kami tiba di sebuah masjid. Masjid Baitur Rohim namanya. Masjid yang selalu jadi penanda bagi siapapun yang akan berkunjung ke makam Eyang. Sewaktu Eyang Kung wafat terdapat beberapa pertentangan kecil. Antara keluarga yang menginginkan Eyang dimakamkan berdekatan dengan tempat tinggalnya di Pare, dan keinginan jamaah pengajian di Jombang yang ingin menguburkan Eyang di makam para pemimpin jamaah di Peterongan ini. Entah bagaimana sampai jadinya Eyang dimakamkan disini, saya rasa inilah hal selanjutnya yang perlu saya tahu. Namun, bukan untuk saat ini.

Tepat di sebelah Masjid, terdapat sebuah bangunan berwarna kuning cerah dengan jendela yang terbuat dari kawat. Seorang penduduk disana menyambut kami. Kami pun mengucapkan salam dan mengutarakan niat kedatangan kami. Setelah itu, kami masuk ke dalam bangunan makam.


Seingat saya, makam Eyang Kung dulu tidak seperti ini. Sudah dibuat bangunan semacam rumah seperti sekarang. Saya hanya ingat makam Eyang Kung ada dibawah sebuah bangunan yang lebih mirip saung namun sudah diberi genteng. Saya bersyukur bahwa makam Eyang sudah tidak seperti dulu lagi. Artinya, dengan perlakuan semacam ini, semoga menjadi jalan kebaikan bagi siapapun yang turut andil dalam membuatkan makam yang layak bagi Eyang Kung dan penghuni makam lainnya.




Saya mengamati daerah pemakaman ini sejenak. Hanya suara angin mendesir pelan dalam siang yang panas dan suara kambing yang mengembik di kandang yang letaknya tidak jauh dari makam. Saya perhatikan juga makam lainnya yang berada satu komplek dengan makam Eyang. Ada 10 makam lainnya disini. Tampak juga ada bunga-bunga tabur yang masih terlihat berwarna. Barangkali, ada peziarah lain yang berdoa disini sebelum saya datang.


Sejenak saya melamun. Saya telah sampai pada tujuan akhir pencarian saya. Pada sebuah ujung pencarian. Saya tidak kuasa menahan air mata ini lagi. Saya terus meyakinkan diri saya bahwa saya telah berada di makam Eyang Kung. Berada di sebuah tempat menuntun saya kembali kesini. Saya bersiap untuk berdoa. Pak De kembali membuka buku doanya dan memimpin doa. Kami pun membaca surat Yasin lagi. Tidak kurang, tiga kali kami membaca surat Yasin. Saya tidak pernah merasakan pengalaman seperti ini sebelumnya. Rasanya, doa yang dibacakan Pak De pun lebih panjang disini. Mata saya kembali dibasahi butiran air mata seraya terus membaca surat Yasin. Usai Pak De mengisyaratkan selesai, saya berkeliling lagi. Pak De meninggalkan saya sendirian di dalam bangunan ini. saya mencoba untuk lebih merasakan makam ini.

Saya tidak bisa berhenti memandangi makam Eyang Kung. Pengalaman mimpi di bulan Maret 2012 itu terus berlarian. Mimpi yang membawa saya untuk duduk bersimpuh disini. Saya masih merasakan hangatnya air mata di pipi ini. Saya harus menguasai diri saya kembali. Saya akan kembali lagi kesini, menjenguk Eyang, membacakan doa untuknya, sebagai bakti seorang cucu. Suatu hari nanti.

Adzan dzuhur berkumandang. Saya segera mengambil wudhu. Siang ini saya harus kembali ke Surabaya. Saya masih harus kembali ke Surabaya untuk menemui Pak De dan Bu De yang sudah menunggu disana. Kalaupun sempat, saya akan mampir juga ke rumah Eyang di Tanjung Perak.
Pak De Wid, tidak banyak bicara usai ziarah ini. Pak De mengucapkan banyak terima kasih kepada saya yang masih mau “kembali” menjenguk dan menengok orang tua disini. Saya pun berterima kasih karena Pak De mau meluangkan waktu untuk mengantar saya ke makam Eyang Kung. Ibarat lirik lagu Padi, “pencarianku pun usai sudah...”

Naar Surabaya

Hari masih panas ketika saya meninggalkan makam Eyang. Kami menyusuri Jalan Raya Jombang-Mojokerto sampai dekat pasar untuk mencari tempat makan. Kebetulan, di seberang pasar ada warung makan. Menu favorit disitu pecel lele. Menu khas Jawa Timuran. Pecel lele yang disajikan cukup unik. Ada empat lele berukuran kecil sebesar jari telunjuk saya. Ditambah dengan sambal terasi yang melimpah. Karena memang sudah lapar, kami makan sangat lahap. Walau saya masih menyimpan tanya mengapa ukuran ikan lele disini tidak mainstream.

Usai makam, saya tidak kuasa untuk menahan jalan takdir. Saya harus berpisah dengan Pak De. Saya akan terus ke Surabaya, sementara Pak De kembali ke Pare. Bis antar kota yang menuju Surabaya alu lalang di jalan raya ini. jadi, saya tidak perlu khawatir tidak kebagian angkutan.

Saya memeluk Pak De dan mencium tangannya. Sebuah perpisahan mesti terjadi untuk sebuah pertemuan kembali. Saya menyeberangi jalan lalu menyetop bis. Pak De terlihat semakin menjauh.
Perjalanan ke Surabaya ditempuh sekitar satu setengah jam dengan bis. Saya menaiki bis antar kota jurusan Yogyakarta-Surabaya yang sudah terkenal di jalur ini, Sumber Kencono. Akhirnya, satu cita-cita berhasil saya raih lagi. Saya berhasil naik bis Sumber Kencono. Tapi, berhubung tahun kemarin Sumber Kencono sering mengalami kecelakaan maka label nama bis diganti dengan ‘Sumber Selamat’. Livery bis sudah menggunakan label baru ini. Namun, pada lembaran tiket masih ditemukan nama Sumber Kencono. Ongkos dari Jombang ke Surabaya hanya Rp. 8.000,-.

Menjelang waktu Ashar, bis masuk Terminal Bungurasih. Saya masih harus naik bis kota untuk masuk ke kota Surabaya. Saya naik bis kota nomor 9 tujuan Jembatan Merah. Sebenarnya, tujuan saya adalah Terminal Joyoboyo karena harus naik angkot dari situ menuju rumah Bu De di Jalan Manyar Sambongan. Saya kembali merasakan kota Surabaya setelah pengalaman 20 hari di awal tahun 2007 lalu. Naik bis DAMRI di Surabaya, rasanya sama dengan naik bis DAMRI di Bandung. Bedanya, Surabaya tetap berkembang sebagai tiga besar metropolitan bersama Jakarta dan Medan.

Setelah tiba di Terminal Joyoboyo saya segera mencari ‘len’ (diambil dari bahasa Inggris, line) bahasa Surabaya untuk angkot. Sedangkan, tujuan dilambangkan dengan angka. Misal, Len 01 tujuan Jembatan Merah dan Len 07 tujuan Kertajaya. Saya tidak kunjung menemukan Len 07. Alih-alih menemukan taksi burung biru yang kosong. Segera saya stop dan minta diantar ke Jalan Manyar Sambongan. Ah, saya jumpai pemandangan yang seperti ini lagi. Surabaya selalu berarti buat saya.

Tiba di Manyar, saya segera beristirahat. Ngaso sebentar berteman secangkir teh hangat dan sebatang rokok. Saya pun lantas packing untuk kepulangan besok. Titipan Bu De sudah menanti untuk segera dibawa ke Bandung. Saya belum ada rencana apa-apa untuk malam ini. Masih ada waktu luang setidaknya malam ini saja. Kalau sempat, saya ingin menemui kakak sepupu, Mas Hilmy, putra Pak De Wid. Sampai SMS dari Bapak tiba, menanyakan apakah saya akan mengunjungi Eyang di Tanjung Perak.

Saya pikir saya tidak akan mampir ke Tanjung Perak karena saya masih harus menunggu putri Bu De yang sengaja ke Manyar untuk bertemu saya. Kangen, katanya. Sementara itu, saya merasa bersalah sekali apabila dalam waktu yang singkat ini saya tidak mampir ke Tanjung Perak. Saya pun memutuskan pergi ke Perak nanti setelah bertemu kakak sepupu, Mbak Ela.

Usai menuntaskan rindu dan saling bertukar cerita dengan si Mbak, saya segera berangkat ke Tanjung Perak. It feels like way back home. Dalam kunjungan tahun 2007 lalu, saya menghabiskan 20 hari itu di rumah Tante, adik dari Ibu, yang kebetulan tinggal di jalan yang sama dengan rumah Eyang. Saya hafal betul jalan dari Manyar menuju Tanjung Perak. Melewati Museum Kapal Selam, Jalan Gubernur Suryo, dan Tugu Pahlawan. Sayang  sekali, saya tidak bisa bernostalgia karena tidak menemukan tempat jajan nasi bebek di seberang Tugu Pahlawan.

Perasaan melankolis kembali menyeruak. Satu yang selalu saya ingat, Di komplek perumahan TNI AL itu, untuk pertama kalinya milis (mailing list) kelas K1D-A 2004 dibuat. Jadi, ini adalah tempat yang bersejarah. Sayangnya, warnet tempat saya membua milis sudah tidak ada disitu lagi. Sudah tutup, berganti dengan gerai waralaba swalayan.

Eyang yang tinggal di Perak ini adalah Kakak Ipar dari Eyang Kung. Jadi, sama saja rasanya dengan mengunjungi Eyang. Saya tidak pernah berkunjung kesini lagi sejak tahun 2007. Kini, giliran melepas rindu dengan keadaan yang sudah jauh berbeda. Eyang cukup kaget karen tidak ada kabar kedatangan saya dari Bapak. Untuk kesekian kalinya dan entah untuk keberapa kalinya, saya menceritakan hal ihwal kedatangan saya. Eyang sangat senang sekali dengan kedatangan saya. Walau cukup kaget, tapi Eyang sangat menghargai niat baik saya. Saya pun demikian. Eyang tidak banyak berubah sejak pertemuan terakhir dengannya. Tak lama, saya pun pamit usai berfoto sebagai barang bukti nanti.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat dibuat penasaran dengan Masjid Muhammad Cheng-ho. Apakah memang ada kaitannya dengan Laksamana Cheng-ho? Bukankah Vihara Sam Poo Ko di Semarang merupakan peninggalan Laksamana Cheng-ho juga? Kalau memang Cheng-ho sudah memeluk Islam dalam ekspedisinya di Nusantara, apakah Masjid Muhammad Cheng-ho adalah satu buktinya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ada dibenak saya.

Sedianya, saya diantar kesana. Namun, pilihan akhirnya jatuh ke Makam Sunan Ampel. Sebagai catatan, dalam kunjungan 2007 lalu, saya tidak sempat mampir ke Ampel. Jadi, daripada dilanda penasaran, saya lebih baik datang ke Ampel saja daripada ke Masjid Muhammad Cheng-ho. Konon, Ampel lebih ramai.

Gerbang Masuk Makam Sunan Ampel

Benar saja, saya menjumpai rombongan jamaah peziarah yang tak henti-hentinya mengalir berdatangan dari segala penjuru tanah air. Ketika saya masuk ke dalam kompleks makam Sunan Ampel, saya menemui sekelompok rombongan pengajian yang sedang membaca doa. Persis dengan apa yang saya baca sebelumnya ketika berziarah ke makam Eyang Ti dan Eyang Kung.


Suasana peziarah yang berdoa di makam Sunan Ampel

Usai membaca setengah surat Yasin, saya berkeliling  sekitar pemakaman ini. ada Masjid Ampel, yang sengaja ditutup. Kemudian, di sisi lain makam Sunan Ampel terdapat makam Pahlawan Nasional, K.H Mas Mansyur. Disekitar makam ini malah dijadikan tempat istirahat beberapa peziarah yang berkoloni. Banyak diantara mereka menginap dengan tidur di daerah sekitar makam.

Makam K.H Mas Mansyur, Ampeldenta, Surabaya

Nilai religiusitas masyarakat Jawa Timur pada umumnya masih dipengaruhi nilai-nilai ini. Bahwa, menziarahi Sunan yang jumlahnya sembilan itu menjadi semacam ‘kewajiban’ sebagai pelengkap ibadah. Tidak ada yang salah selama tetap bertawasul kepada Allah SWT dan tidak menjadikan makam para wali itu sebagai entitas yang menggirin pada nilai-nilai syirik. Inilah keragaman budaya yang hidup pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagai bukti, walau sudah lewat tengah malam, peziarah masih terus berdatangan dalam jumlah yang besar. Pemandangan ini menjadi pengalaman tersendiri bagi saya yang selama ini hanya mampu merencanakan ziarah wali ke Kudus tanpa pernah serius mengeksekusi rencana itu. Mungkin nanti.

Masjid Agung Ampel, Ampeldenta, Surabaya

Saya tiba kembali di Manyar tepat pukul satu dini hari. Saya tidak punya banyak waktu istirahat karena usai Shubuh, saya harus segera ke Bandara Juanda untuk mengejar first flight in the morning.

“Bandung, we have a problem”

QZ 7631 SUB-BDO - Selasa, 12 Februari 2013 


Good Morning from Juanda
Usai shalat shubuh, saya berangkat ke Bandara Juanda dengan menumpang mobil Pak De dan Bu De. Mereka turut mengantarkan saya kembali. Dari Manyar ke Juanda ditempuh selama setengah jam, dengan kecepatan normal dan lalu lintas yang masih sepi. Di sisi kota, pasar-pasar mulai menggeliat, pedagang mulai menggelar dagangannya. Matahari sebentar lagi naik.

Saya tiba di Juanda tepat waktu dan langsung menuju boarding room. Pukul 06.15, semua penumpang dipersilahkan naik ke pesawat terbang. Rupanya, saya akan terbang dengan pesawat yang sama dengan yang saya terbangi hari Minggu lalu. Airbus A320 PK-AXC QZ 7631 SUB-BDO.

06.30, sesuai jadwal pesawat akan diterbangkan menuju Bandung. Namun, saya merasa ada yang aneh, pesawat tidak kunjung pushback. Mungkin karena sedang traffic, jadi saya melanjutkan tidur dan terbangun kembali pukul 07.00 dengan posisi pesawat yang masih standing. Tak lama kemudian, PIC (Pilot In Command) mengumumkan bahwa bandara tujuan yaitu Bandara Husein Sastranegara Bandung ditutup karena alasan cuaca yang mengakibatkan terbatasnya jarak pandang. Keadaan seperti itu tentu sangat membahayakan keselamatan penerbangan. Penumpang kembali diturunkan dan dikembalikan ke boarding room. Bandung, we have a problem. Menirukan pesan kru Apollo 11 ketika menghadapi trouble dalam misi penerbangan antariksa ke bulan.

Karakteristik Bandara Husein Sastranegara sebagai special airport mengharuskan clearance jarak pandang 2000 meter. Bila tidak terpenuhi, sangat berbahaya bagi pesawat sekelas Airbus A320 dan Boeing 737 yang banyak beroperasi ke Bandung. Ditutupnya Bandara mengundang pertanyaan di benak saya. Apakah Bandung sedang dilanda heavy fog/cloud/kabut sisa hujan semalam? Mungkin saja. Yang jelas, setelah satu jam menunggu, kami dipersilakan kembali naik.

Pesawat segera lepas landas usai mendapat clearance dan warning bahwa Bandara Husein Sastranegara sudah dibuka kembali. Still a log way back home through the blue sky. Termasuk ketika pesawat kena holding, berputar-putar tiga kali sebelum clear to landing.

Konklusi


Apakah perjalanan ini selesai? Secara definitif, jawabannya tentu saja YA. Perjalanan menapaki jejak leluhur sudah selesai dengan selamat. Saya mengenang kembali jejak yang telah saya lalui sedari kemarin.

Bagaimanapun, perjalanan ini adalah bukan perjalanan biasa—dan sedikit absurd. Perjalanan dalam menemukan hakikat di balik makna. Perjalanan yang diawali sebuah mimpi untuk sebuah jawaban.

Saya kembali diuji untuk mencapai tujuan perjalanan itu sendiri. Baik secara definitif maupun konotatif. Saya berhasil mencapai tujuan saya menuju makam Eyang sekaligus bersilaturahmi dengan segenap keluarga besar yang ada disana.

Perjalanan kali ini sangat bermakna karena berhasil mengungkap hal-hal yang selama ini selalu jadi pertanyaan. Kadang menganggu namun kadang menghilang begitu saja, mengendap dalam keraguan. Terselip juga pesan, bahwa mengingat kematian itu perlu, karena saya tidak pernah tahu apa nasib waktu. Apapun itu, perjalanan ini merupakan awal dari sebuah perjalanan lain. Perjalanan panjang menuju diri sendiri.


Pare-Surabaya-Pharmindo-Paninggilan, Februari 2013


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...