Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2024

7, The Magnificent


Aisyah sayang,

Beranjak tujuh tahun umurmu kini. 7 tahun, beberapa dari mereka sering bilang Magnificent 7. Mungkin karena mereka hanya tahu bahwa banyak keajaiban dari pemilik nomor 7. Entah David Beckham, Ronaldo Portugal, atau tujuh yang lainnya. Apapun itu, selamat! Bapak senang bisa melihat Aisyah tumbuh menjadi anak yang riang dan bersemangat.
 
Aisyah harus jadi lebih baik lagi, Nak. Semakin rajin sholatnya, semakin rajin belajarnya, dan semakin berbakti pada orang tua. Doa kami selalu menyertaimu, Nak. Masih terbayang di benak Bapak, waktu Aisyah baru belajar jalan. Masih tertatih namun selalu ingin terus berjalan walau kadang jauh. Namun, selalu bangkit lagi. 
 
Aisyah sekarang sudah bisa naik sepeda ke sekolah. Bapak salut dengan keberanian Ais. Pertahankan itu, Nak. Dunia butuh orang yang berani. Berani berbuat baik dan benar serta berani mengakui kesalahan. Aisyah, harus lebih baik lagi ya, Nak.
 
Peluk sayang dari Bapak dan Ibu.
 
 
Cipayung, 2 Juli 2024.

Minggu, 31 Juli 2022

Surat untuk Aisyah

Aisyah,

Segala puji Bapak dan Ibu panjatkan pada Allah SWT karena pada bulan Juli ini engkau genap berusia lima tahun. Usia yang sudah bukan anak kecil lagi. Aisyah sekarang naik ke Kelas B. Tidak hanya itu saja, bulan ini juga Kakakmu, Alde, mulai sekolah SD. Betapa saat ini sejak Ais dan Alde mulai sekolah, WFH Bapak mulai terasa agak sepi saat pagi hingga siang.

Begitulah Aisyah, rasanya semuanya terjadi begitu saja. Waktu yang terlalui sudah jadi kenangan. Hari-hari di depan adalah tantangan.

Aisyah,

Semoga engkau selalu sehat, Nak. Bermainlah sepuasnya di sekolah. Puaskan dahaga ingin tahumu. Ada Ibu Guru yang siap membantumu di sekolah. Jadilah matahari kami, jadilah sinar pagi pembawa cahaya dari timur. 

 

Cipayung, 2 Juli 2022

Surat untuk Aldebaran

Aldebaran,

Akhirnya, sampai juga waktu Bapak untuk melihatmu masuk Sekolah Dasar setelah Akhirussanah TK yang sempat membuat air mata ini kembali mengalir. Akhirnya, Bapak dapat merasakan hal yang mungkin dirasakan oleh Akung dahulu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa haru, ada rasa bahagia, dan ada juga banyak kekhawatiran. Untuk yang terakhir ini, sering Bapak titipkan pada Allah saja. Mudah-mudahan, Ia mau membantu Bapak memanage segala macam rasa khawatir ini.

Bapak dan Ibu tentunya berharap Alde akan cepat beradaptasi dengan segala kegiatan di masa SD ini yang kami rasa sangat tidak mudah. Alde sudah mengalami masa sekolah di zaman pandemi, kemudian mulai tatap muka kembali-dengan segala pembatasan. Tiba-tiba, Alde harus menjalani sekolah hari penuh. Alde harus bangun pagi dan segera bersiap pergi ke sekolah, lalu pulang sebelum adzan Ashar berkumandang. 

Ah, rasanya tidak adil bila membandingkan sekolah SD zaman Bapak dan Ibu dulu. Entah bagaimana Bapak harus menjelaskan padamu soal konsep merdeka belajar dari Pak Menteri yang sekarang ini. Pun, ketika Bapak menyadari bahwa buku-buku pelajaran sekolahmu ukurannya lebih besar dari zaman kami dulu. Semoga engkau memiliki tubuh dan badan yang kuat untuk menjalani hari-harimu nanti.

Aldebaran,

Selamat menjalani hari-hari ke depan, Nak. Bapak dan Ibu selalu mendoakan engkau dan adikmu agar kelak dapat mengamalkan setiap ilmu dan pelajaran yang telah didapat. Kiranya, Allah SWT membantu, memudahkan, dan mencurahkan berkah-Nya. Jadilah anak yang kuat dan berani. Menirukan Iwan Fals, "..tinjulah congkaknya dunia, Buah Hatiku. Doa kami di nadimu...".

 

Cipayung, 22 Juli 2022

Selasa, 30 November 2021

6 Tahun

 Aldebaran sayang,

Genap enam tahun usiamu kini. Engkau semakin beranjak dari masa kanak-kanak. Rasanya, Bapak terlalu lambat untuk menyadarinya. Sebentar lagi umurmu tujuh tahun. Sudah boleh 'dipukul' untuk mengingatkan sholat wajib.

Tapi ah, rasanya Bapakmu tidak tega kalau bukan karena kewajiban. Cita-cita kami ingin seperti Nabi Ibrahim dan Ismail putranya. Bapak sadar, Bapak bukan Nabi yang bisa sempurna. Mungkin ada banyak cara yang lain supaya Alde tetap patuh pada kewajiban.

Hari-hari ini Alde sudah semakin banyak ingin tahu. Entah itu lokasi negara, bahasanya, makanannya, dan segala yang ingin kau tahu. Teruskanlah Nak, semoga rasa ingin tahumu kelak membawamu pada sesuatu yang berarti untuk hidupmu.

Aldebaran,

Bapak harap kita bisa jadi teman. Teman main atau pun teman ngobrol. Engkau semakin tumbuh, dan dahagamu harus bisa Bapak penuhi. Engkau lelaki kelak sendiri, kata Iwan Fals.

Sehat selalu dan panjang umur, Nak. Peluk hangat dari ujung malam nan sunyi.



Cipayung, 6 November 2021

Kamis, 29 November 2018

3 Tahun Aldebaran

Bapak, Assalammualaikum. 
Kami tahu engkau tidak lagi disini. Duduk bersama cucu pertamamu, mencium pipi dan memeluknya seraya berkata “Selamat ulang tahun, cucu Akung…”. Kami tahu dan paham bahwasanya tugas Bapak sudah selesai. Bapak rupanya tidak ditugaskan oleh Allah SWT untuk sampai mengantarkan Aldebaran ke Taman Pendidikan Al-Qurán di komplek sebelah. Memang sudah cita-cita Bapak untuk mengantar Aldebaran sekolah sambal naik motor Nmax. Kadang, takdir Tuhan memang tidak boleh dipilih, kita tidak bisa memilih takdir sebagaimana kita memilih shaf untuk shalat di Masjid.

Bapak, Aldebaran sudah mulai masuk sekolah TPA menjelang genap 3 tahun umurnya. Anak sekecil itu yang masih senang berlari-lari di lapangan TPA sudah bisa membaca dua huruf awal rangkaian huruf hijaiyah. “a”, “ba”, begitu katanya di depan Ustadz pembimbing. Not bad lah Pak. Alde baru membiasakan lagi membaca huruf hijaiyah pasca fase Upin-Ipin. 

Sekali pernah saya menemani Alde ke sekolah TPA. Saya adalah tipikal orang tua zaman sekarang yang sedikit-sedikit khawatir Aldebaran jatuh atau berebut bola dengan temannya. Padahal, zaman Bapak dulu tidak begitu. Bapak dan Ibu membiarkan saya begitu saja. Pulang dengan baju kotor penuh keringat itu sudah biasa. Malamnya, Bapak pasti marah. That’s all. 

Saya jadi ingat masa-masa itu. Kelakukan saya nampaknya sama seperti apa yang saya lihat pada Aldebaran sekarang. Maklum saja Pak, TPA ini punya lapangan basket dan lapangan futsal berumput. Sama seperti TPA Al-Falaah yang punya lapangan bekas sawah. Sekarang sudah jadi rumah.

Pak, mungkin Bapak bisa tahu dan lihat sendiri. Aldebaran sekarang sudah bisa membaca surat Al-Fatihah. Agak sulit membiasakannya memang namun bila diingatkan untuk membacanya sambal mendoakan Akung, ia pasti mau dan agak “emosional”. Wajar ya Pak, Alde belum paham Akung pergi kemana.

Tidak hanya itu saja, Alde juga sudah bisa menghitung satu dua tiga sampai sepuluh, dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Catat, Pak. In English lho, Pak dan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan skor TOEIC saya yang jadi Pole Position di kantor. Mungkin pengaruh tab (iPad) Aki Ni dan video unduhan dari Youtube berpengaruh pada ingatannya.

Apapun itu, kami disini merasa sangat bersyukur bahwa di umurnya yang ketiga ini, ada banyak kemajuan. Walaupun di hari ulang tahunnya ini gejala radang belum juga mereda, kami tetap merayakannya dengan suka cita. Minimal di hati kami masing-masing.

Oh ya, Aisyah pun makin bertambah besar. Makannya banyak dan tidak susah. Aisyah juga mulai belajar ngomong dan semakin bisa berkomunikasi dengan kami. Ah, andai Bapak ada disini bersama kami.

Bapak, sampaikan salam saya pada Eyang Kung dan Eyang Tik disana. Kelak kita akan berjumpa kembali. Saya akhiri cerita saya ini. Wassalammualaikum.

Cipayung, 9 November 2018.

Selasa, 03 Juli 2018

Selamat Ulang Tahun, Aisyah

Aisyah sayang,

Hari ini engkau tepat berusia satu tahun. Persis di tanggal dan hari yang sama dengan hari lahirmu setahun lalu. Hari yang juga penuh dengan ketidaknyaman di hati Bapak karena Ibumu harus menjalani operasi Sectio Caesaria-untuk yang kedua kalinya. Untuk engkau tahu, Ibu belum genap dua tahun setelah menjalani operasi yang pertama. Khawatir memang namun akhirnya dengan rasa sakit yang masih tertinggal, engkau lahir di Rumah Sakit yang sama dengan Mas Aldebaran.

Ini adalah tulisan pertama Bapak setelah Akung meninggal. Ya, Bapak belum sanggup mengetik apapun untuk menggugurkan kewajiban satu bulan enam posting di blog ini. Bahkan, tidak ada postingan atau hanya sekedar draft di bulan Maret. Ada banyak faktor tentang kenapa hal ini bisa terjadi. Biar nanti Bapak urai dulu satu per satu. Biar Bapak menata hati kembali usai Akung tidak ada.

Aisyah,

Memang disayangkan, Akung tidak sampai untuk melihat engkau berulang tahun. Bila Aldebaran adalah mahkota Akung, maka engkau adalah cahaya Akung, yang selalu menyinari langkah Akung. Begitulah kalau diandaikan. Seandainya Akung bisa melihat engkau sudah mulai belajar berdiri sendiri, Bapak berharap Akung sedang dalam pangkuan Rabb-Nya bersama kedua buyutmu, Eyang Kung dan Eyang Ti. Utimu pun sama, tidak sempat melihatmu beranjak setahun. Uti masih harus menjalani pengobatan usai opname di Malam Lebaran kemarin.

Apapun itu, Bapak dan Ibu selalu mendoakan agar engkau tumbuh sehat dan menjadi anak yang patuh dan berbudi bakti kepada Agama dan Orang Tua. Sungguh tiada hal lain yang membahagiakan Bapak dan Ibu selain doa anak-anaknya.

Ulang tahunmu ini memang tidak semeriah Aldebaran dahulu. Bapak pun hanya bisa pulang malam di hari istimewamu ini. Engkau sudah larut dalam tidurmu yang tenang. Bapak hanya bisa menciumimu dan memegangi tanganmu saja.

Aisyah manisku,

Selamat ulang tahun, sayang. Cepatlah besar dan bersinar, taklukkan congkaknya dunia. Doa kami selalu di nadimu.

Bogor, 2 Juli 2018.
 

Kamis, 31 Agustus 2017

The Fate of The Family #FF8

The Fate of the Furious. Tema besar dari edisi kedelapan film yang masih dibintangi Vin Diesel dan kawan-kawan seperjuangan eks FF7 sepeninggal Bryan O’Connor ditambah kemunculan Charlize Theron sebagai Cipher dan kembalinya Owen Shaw dan Deckard Shaw adalah statement bagi mereka. This is our fate!
Tentunya penonton dibuat sangat kesal ketika Torreto bisa dibuat untuk berpaling from his old family. Pun, diperalat untuk tujuan tertentu seperti terorisme global. 

www.imdb.com
Well, film ini kini tidak lagi bicara soal mobil-mobil yang kencang di trek balap. Itu hanyalah pembukaan belaka. Permasalahan besarnya adalah Torreto dibuat tidak berdaya oleh Cipher dengan segenap pernyataan psikologis yang tentu saja menyerang alam bawah sadar Torreto.

Memang dibutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan Torreto. Ketika mulai tersadar kembali, segala sesuatunya memang sulit untuk dirubah. Apalagi Torreto menemukan fakta bahwa ia telah memiliki seorang anak. Menurut saya, perjumpaan Torreto dengan anaknya ini adalah scene yang mengharukan dan mengaduk-aduk emosi. You are free to said that i was wrong.

Apa yang dilakukan Torreto untuk membalikan keadaan memang seperti yang sudah kita ketahui bersama. Ada banyak twist dalam film ini untuk mengecoh ending film yang ada dalam pikiran penonton. Saya sendiri sulit untuk menebak namun seperti pada episode-episode yang lalu, counter attack dari Torreto melibatkan banyak orang yang pernah terlibat dengannya, for example Deckard Shaw dan Owen Shaw. 

Film ini sendiri buat saya adalah penegasan dari konsep keluarga yang selalu jadi nilai penting bagi Torreto. Bahwa keluarga tidak akan berpaling bila satu dari anggotanya berpaling meninggalkan. Rasanya tidak sia-sia menghabiskan dua jam lebih untuk menamatkan film ini. Ending yang masih menyisakan tanya pun akan jadi penentu apakah episode ke-9 akan dibuat atau akan hanya jadi sebuah wacana belaka yang akan segera menghilang seperti Cipher?

 
Cipayung, 25 Agustus 2017.

Sabtu, 29 April 2017

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin


Sumber gambar: www.goodreads.com

Berawal dari sebuah promo di twitter, saya mendapatkan buku ini dengan harga yang lumayan murah. Diatas rata-rata diskon toko buku online. Sebagai bagian dari kelas menengah (cieee...)-mengacu pada kriteria yang disebutkan dalam buku ini- saya ingin tahu bagaimana perencanaan keuangan yang baik. Terlebih, penulisnya sendiri adalah seorang financial planner berpengalaman, Ligwina Hananto @mrshananto, yang pernah mempunyai acara radio khusus untuk subjek financial planning. Belakangan, @mrshananto juga pernah muncul juga di televisi membawakan acara dengan tema serupa.

Saya rasa penting bagi kita untuk mulai “menyelamatkan” keuangan pribadi. Kondisi ekonomi di Indonesia yang sering tidak menentu namun ddidorong pula oleh “kekuatan” kelas menengah yang konsumtif, maka asumsi investasi bukan lagi hal yang tabu dan menakutkan untuk dijalani secara pribadi. Niscaya, buku ini menjadi panduan awal tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi. 

@mrshananto menyediakan guidance atau clue dengan tajuk 100 hal yang perlu dilakukan untuk tidak miskin. Dengan kata lain, petunjuk-petunjuk itu adalah bagaimana menjadi kelas menengah yang berdaya. Terutama dari sisi finansial. Dimuat dalam flipcard yang mudah untuk dibawa, memudahkan siapapun untuk membawanya kemana saja untuk jadi pengingat tentang 100 hal tersebut.

Walaupun penghasilan pas-pasan, tapi yang namanya perencanaan keuangan itu tetap diperlukan. Somehow, refer to term 'kelas menengah' or middle-class, buku ini adalah guidance material untuk melakukan perencanaan keuangan sebaik mungkin. Termasuk cara menjalani siklus keuangan seperti yang telah direncanakan.

Kekuatan kelas menengah yang sanggup mempertahankan Indonesia dari goncangan krisis ekonomi adalah pertanda sebuah kekuatan lain yang muncul di Indonesia. Fenomena yang berdampak langsung pada sektor keuangan ini secara tidak langsung ikut mempengaruhi sisi kehidupan lainnya. Dengan demikian, bila golongan kelas menengah ini mampu mempertahankan dirinya sendiri maka secara tidak langsung juga berimbas pada sekala ekonomi yang lebih luas. Patut dibaca, oleh kita para kelas menengah ini, biar #kelasmenengahngehe sekalipun.

Saya tidak menganggap buku ini seperti novel yang harus dibaca tamat dari awal sampai akhir. Karena sifatnya yang guidance material, maka saya membaca subjek-subjek tertentu saja. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa buku ini belum saya pahami sepenuhnya. Oleh karena itu, hingga tulisan ini naik cetak saya masih terus membacanya, sekedar meyakinkan bahwa dari 100 hal itu ada satu atau beberapa hal yang benar-benar saya lakukan. Selamat belajar.

Judul          : Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
Penulis       : Ligwina Hananto
Penerbit     : Literati
Tahun        : 2010
Tebal         : 240 hal.
Genre        : Perencanaan Keuangan


Cipayung, 19 April 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

Jack Reacher: Never Go Back

Sumber gambar: www.imdb.com (reproduced)
  
Yeah. Jack Reacher is back. Tom Cruise still playing as him. Film ini masih mengangkat kisah Jack Reacher, dengan cerita baru tentunya. Seperti film-film James Bond dan filmnya yang pertama, Tom Cruise kini ditemani oleh seorang aktris, Cobie Smulders. Yeap. She’s the one from that romcom “How I Met Your Mother”. Bedanya, disini ia tampil dengan lebih maskulin. Tidak seperti dalam HIMYM. Skip.
 
Lagi-lagi, Jack dihadapkan pada situasi sulit. Ada kasus yang harus ia pecahkan hingga ia harus bergabung kembali ke korps Polisi Militer hanya untuk dipenjara. Jack harus mengungkap kebenaran atas fitnah yang menimpa Mayor Susan Turner (Cobie Smulders). Untuk itu, Jack harus melepaskan Susan dari penjara dan melarikan diri bersama. Dalam pelariannya, Jack mendapati fakta bahwa seseorang telah menuntutnya dan mengakui telah memiliki seorang anak darinya, Samantha. Khawatir Samantha akan menjadi umpan baginya, Jack dan Susan pun akhirnya melarikan diri bersama Samantha.
 
Dalam pelarian, mereka terus diikuti oleh pembunuh bayaran yang juga bekas Polisi Militer. Jack dan Turner harus dilenyapkan agar operasi mereka tidak diketahui Pemerintah. Kerugian akibat kontrak perjanjian dengan militer USA harus mereka tutupi dengan operasi penjualan senjata di pasar gelap. Seperti layaknya film Hollywood, akhir cerita sudah bisa ditebak. Apalagi untuk pembaca yang mengikuti karya-karya Lee Child.
 
Sebagai sebuah film action, ‘Never Go Back’ punya aksi laga yang lumayan menghibur. Kita bisa nikmati aksi Jack Reacher menghabisi musuh-musuhnya dengan one-to-one fight. Banyak adegan-adegan perkelahian sederhana tanpa menggunakan senjata. Tidak selalu melulu dar-der-dor yang selalu dianggap petasan oleh Sugali. Ups.

Judul        : Jack Reacher: Never Go Back
Sutradara    : Edward Zwick
Pemain        : Tom Cruise, Cobie Smulders, Danika Yarosh, Patrick Heusinger
Produksi    : Paramount Pictures
Tahun        : 2016
Genre        : Action Drama
 

Cipayung, 17 Januari 2017.

Rabu, 28 Desember 2016

Cinta Miund, Kolom Curhat yang Well-documented

Courtesy: twicsy.com

Bukan tanpa alasan bila sebuah kolom curhat dikompilasikan kembali menjadi sebuah buku. Seperti layaknya talkshow 'Kick Andy' atau 'Just Alvin', kolom Cinta Miund yang tayang di kanal Kompas Female pada portal kompas.com turut meramaikan remake ini. Bedanya, Miund a.k.a Asmara Letizia Wreksono ini mengangkat kisah klasik yang tidak akan pernah ada habisnya: Cinta.

Penerbitan buku ini tentu sangat berguna bagi para penikmat kolom web. Dengan buku ini, anda tidak perlu akses internet untuk kembali memahami persoalan klasik sepanjang zaman. Entah itu pada diri anda, teman, pacar, kekasih, pasangan, selingkuhan, or whatever you may say. Artikel didalamnya tentu sudah melalui proses editing dimana ada penyesuaian untuk repetitive problem sehingga buku ini nantinya akan selalu jadi referensi pembaca.

Untuk menghilangkan kesan 'terlalu feminin' karena penulis dan pengasuh kolomnya adalah seorang perempuan, Miund punya cara jitu untuk mengatasi hal ini. Pada beberapa kolom, ia menambahkan komentar dari laki-laki dengan tajuk 'Kata Lelaki'. Selain sebagai pendapat penyeimbang, cara ini sangat baik untuk para perempuan dalam memahami isi otak lelaki.

Jangan bayangkan buku ini seperti buku serial 'Chicken Soup' yang fenomenal itu. Tulisan-tulisan Miund justru tampil dengan gaya santai nan elegan yang bisa habis dibaca sekali duduk. Cinta Miund bisa jadi penambah wawasan pembaca dengan segenap problema cinta mulai dari pendekatan alias PDKT, menanggapi curhat berujung sayang, HTS, Office Romance, #kapankawin, how to deal with jealousy, masa lalu dan CLBK, tips singkat menghadapi putus cinta, hingga menafsirkan lagu-lagu cengeng tahun 80-90an (bab favorit saya v^_^v).

Saya beruntung menamatkan buku ini setelah melalui periode Orde Twitter dimana saat itu belum populer istilah 'baper'. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya lika-liku problema hati dan perasaan saya bila saya membaca buku ini saat itu. Urusan soal hati mungkin bisa jadi tambah pelik. Thank God!

Judul        : Cinta Miund
Penulis        : Asmara Letizia Wreksono (Miund)
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2012
Tebal        : 294 hal.
Genre        : Humaniora-Romansa
 

Cipayung, 25 Desember 2016.

Selasa, 29 November 2016

Setahun

Nak,

Setahun juga umurmu. Genap setahun usiamu. Banyak doa dalam harap terucap untukmu. Tidak ada pesta, tiup lilin dan juga rangkaian balon di hari bahagiamu. 

Setahun bersamamu adalah setahun yang paling mengagumkan yang pernah terjadi pada Bapak dan Ibu. Engkau adalah satu alasan untuk selalu kembali dari rutinitas yang membosankan dan menjenuhkan.

Setahun ini, Bapak dan Ibu minta maaf kalau kami masih terlalu bergantung pada Kakung dan Uti dalam mengurusmu. 

Selamat ulang tahun, Aldebaran. Doa kami di nadimu.



Cipayung, 9 November 2016.

Senin, 31 Oktober 2016

Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Catatan Pembuka

Another monumental works from Umar Kayam. Saya harus akui bahwa buku ini punya daya jangkau yang luas dan lintas generasi.

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.

Para Priyayi

Membaca beberapa halaman pembukaan buku ini sama rasanya dengan membaca karya-karya Ahmad Tohari. Perasaan khas pedesaan yang timbul turut menjadi satu nuansa yang tidak terlupakan. Tidak hanya itu saja. Para penulis seperti mereka pandai mengolah rasa dalam tulisannya sehingga gairah pedesaan itu begitu hidup dan remarkable. Mereka menjadikan desa menjadi sebesar dunia-dengan segala permasalahannya.

Saya lebih senang menandai "Para Priyayi" ini sebagai sebuah roman, bukan novel. Umar Kayam berhasil meletakkan segala macam permasalahan priyayi, sejak awal mula trah keluarga dibangun hingga perjalanan melintas masa. Dengan berbagai sudut pandang yang dinamis, "Para Priyayi" tidak memandang priyayi sebagai satu hal yang statis. Ia menjelma bukan hanya sebagai kata benda, tetapi juga menjadi sebuah kata kerja.

Kehidupan Ndoro Seten diceritakan begitu gamblang; lengkap dengan segala permasalahan kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya berhasil menjadi priyayi seperti yang didambakannya. Sebuah penghargaan dan status sosial yang punya tempat tersendiri di lingkup sosiologis masyarakat pedesaan.

Konflik mulai meninggi ketika keturunan para priyayi ini berkembang sesuai zamannya. Bahkan hingga ada yang tersangkut kasus G30S/PKI. Cara Umar Kayam mengakhiri kemelut-kemelut ini terkesan tidak tergesa-gesa, melainkan berhasil memunculkan solusi dalam konteks kepriyayian. Pun, dengan demikian kepriyayian yang sedari awal sudah dibangun tidak lantas hilang begitu saja diretas zaman. Just like any romantic roman, the stories ends with happy ending.

Memang dibutuhkan stamina membaca yang tinggi untuk menyelesaikan roman ini. Namun, itu semua akan terbayar dengan permainan alur cerita dan konflik yang apik. Umar Kayam memadukan filosofi Jawa dan kepriyayian sesuai dengan zamannya. Nilai-nilai yang tidak lekang dimakan usia adalah satu nilai tambah untuk karya-karya semacam ini. 

Judul       : Para Priyayi
Penulis    : Umar Kayam
Penerbit   : Pustaka Utama Grafiti
Tahun      : 2008
Tebal       : 337 hal.
Genre      : Roman Klasik-Sastra Indonesia 
 

Medan Merdeka Barat-Cipayung, 30 Oktober 2016.

Selasa, 27 September 2016

Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita

Courtesy: www.kmediabookstore.com

Usia 1-3 tahun adalah masa keemasan ketika seorang anak mengalami proses tumbuh-kembang yang sangat pesat. Berbagai tingkat kepandaian fisik dan psikologis dicapai dalam kurun waktu tersebut. Selama rentang waktu tersebut, orang tua disarankan untuk mendampingi anak, guna mengamati perkembangan si buah hati. 

Para orang tua pun kerap bertanya mengenai kondisi-kondisi ideal terhadap perkembangan si buah hatinya. Buku ini merangkum 100 pertanyaan tersebut, mungkin tidak semua tetapi jawaban-jawaban buku bermodel FAQ (Frequently Asked Question) ini bersumber dari seorang pakar dibidangnya.

Meskipun sudah seringkali dinyatakan bahwa kecepatan perkembangan dan pertumbuhan setiap anak berbeda secara individual, ada yang rata-rata atau normal, ada yang lebih cepat, ada pula yang lebih lambat, para orang tua kerap dicemaskan dengan keterlambatan atau ketidaksamaan perkembangan buah hatinya. 

Memang ada baiknya untuk para orang tua agar mengetahui tahap-tahap perkembangan normal anak yang berlaku secara umum. Dengan patokan normal ini, para orang tua diharapkan mampu menilai seberapa jauh perkembangan buah hatinya. Lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Petunjuk-petunjuk dalam buku ini membantu memberikan saya wawasan yang cukup sebagai indikator pertumbuhan anak. Tentu saja, kita tidak perlu untuk memaksakan sesuatu yang belum mampu dicapai anak. Buku ini berfungsi sebagai alat deteksi dini apabila ada suatu kecenderungan pada anak, tentunya menurut hasil pengamatan orang tuanya. Dilengkapi dengan berbagai tips seputar tumbuh kembang anak, rasanya buku ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Judul        : Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita
Penulis     : Mayke S. Tedjasaputra
Penerbit    : Penerbit Erlangga
Tahun       : 2012
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

Cipayung, 27 Agustus 2016.

Rabu, 31 Agustus 2016

Screaming-Free Parenting

Courtesy: www.goodreads.com
  
Terus terang, saya kagum pada judul buku ini. Catchy dan membuat penasaran. Saya berharap buku ini dapat menjawab keluhan dan tantangan para orang tua yang membesarkan anakanya ditengah pusaran zaman yang kian cepat ini.

Buku ini setidaknya memberikan gambaran pada setiap orang tua atau calon orang tua tentang metode atau cara-cara praktis dalam pengasuhan anak dengan menggunakan energi dan emosi yang positif. Peran orang tua menentukan bagaimana anak akan membangun masa depannya. Orang tua dituntut untuk lebih perhatian, lebih kreatif, penuh kasih sayang, tanpa teriakan dan memasang raut muka yang tidak menyenangkan.

Untuk mencapainya diperlukan segenap usaha. Mulai dari mengubah paradigma orang tua-anak, belajar memberikan pujian dan memuliakan anak, berlatih menjadi teman, hingga manajemen marah. Bab favorit saya. IMHO, buku ini lebih tepat diaplikasikan pada anak usia 5 tahun lebih, dalam rangka menanamkan sifat dan membangun karakter-karakter positif anak.

Judul        : Screaming-Free Parenting
Penulis      : Teguh Iman Perdana
Penerbit    : Penerbit Kaifa
Tahun        : 2012
Tebal        : 148 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

Cipayung, 26 Agustus 2016.

Selasa, 30 Agustus 2016

Parent's Stories: A Quick Guide for Parents

"Kita ingin anak kita berdaya dalam menghadapi dan mengatasi sendiri rintangan di zamannya. Dan masa lalu kita, bisa jadi tidak selalu sama dengan masa depan mereka."

Saya menjadi fans Adhitya Mulya sejak membaca novel "Jomblo" dan berlanjut hingga mengikuti personal blognya. Dari sekedar membaca sebuah kisah fiksi hingga membaca serius cerpen-cerpen terbaru miliknya yang belum diterbitkan penerbit manapun. Dari membaca refleksi pengalaman kesehariannya hingga nasihat-nasihat dan anjurannya dalam menjadi orang tua. 

Courtesy: www.goodreads.com
Beberapa tulisan dalam blog suamigila.com memang sempat naik cetak menjadi sebuah buku bercover kuning "Catatan Mahasiswa Ganteng Gila". Saya bersyukur bahwa ada penerbit yang kembali mau menerbitkan tulisan-tulisan beliau (lagi-lagi) yang bersumber dari pengalamannya dan dibagikan ke blog. Dengan demikian, ide-ide seputar pengasuhan anak versi Adhitya Mulya telah menjadi resmi setingkat dengan buku-buku parenting lainnya.

Saya dapat membaca kekhawatiran dalam benak penulis, bahwa tantangan dalam membesarkan anak kini menjadi semakin besar. Tuntutan dan ekspektasi orang tua terhadap anak semakin tinggi. Hingga anak-anak masa kini tidak lagi tumbuh sebagaimana mereka harus tumbuh sesuai kemampuannya. Agaknya, hal inilah yang membuat banyak orang tua lupa bahwa anak-anak memiliki takdirnya sendiri.

Saya sendiri merasa sepaham dengan ide-ide parenting versi Adhitya Mulya dan Ninit Yunita karena pengalaman mereka di zaman hiperteknologi belakangan ini. Ada beberapa cara lama yang harus ditinggalkan untuk kemudian diganti dengan pendekatan yang lebih holistik terhadap anak. Referensi yang disertakan penulis dalam artikel-artikel dalam buku ini sangat membantu, apabila orang tua ingin membaca lebih lanjut. Implikasi lain, Adhitya Mulya tidak menawarkan sesuatu yang belum benar teruji keabsahannya. Adhitya Mulya berhasil memadukan teori pengasuhan anak dengan sintesa pengalamannya.

Semua orang tua pasti ingin punya akan dengan berbagai kualitas yang dapat membuat mereka berdaya di masa depan. Dengan buku ini, para orang tua dibantu dengan mendapatkan berbagai tips dan trik yang nyata dan menarik. A must read for all parents and parents wannabe.

Judul        : Parent's Stories: Membesarkan Anak yang Berdaya
Penulis        : Adhitya Mulya
Penerbit    : Penerbit PandaMedia
Tahun        : 2016
Tebal        : 166 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 25 Agustus 2016.

Selasa, 08 Maret 2016

Stuka Model Kit Finishing: Painting and Decaling

Tulisan ini didasari oleh ketidakmampuan saya untuk segera move-on dari Stuka. Proses pengerjaan Stuka, mulai dari assembling (perakitan), painting (pengecatan), hingga finishing (decaling) masih melekat dan membuat perhatian saya belum beralih walaupun saya sudah memesan model kit lain, yaitu Kyrios Gundam.



Sepanjang sejarah pengerjaan model kit, mulai dari Apache AH64D 1/72, F16, MiG-29 Fulcrum, F15, dan F14 buatan Academy skala 1/144 belum sekalipun saya selesaikan hingga decaling. Saya tidak pernah menempelkan decal pada model yang telah selesai dirakit. Saya belum percaya diri untuk menempelkan decal pada model. Saya masih dirundung kegagalan merakit Mazda RX7 tahun 2002 silam. Saya sudah merasa cukup untuk merakit saja, tanpa pengecatan ulang (repainting), dan mengganti stiker decal dengan Rugos ® .


Anyway, pada Proyek Stuka ini saya merasa harus menghentikan kebiasaan saya. Selain karena pertimbangan faktor sejarah, Stuka ini juga saya dedikasikan untuk Aldebaran, putra saya. Maka mulailah saya mencari cat semprot warna hijau gelap khas Luftwaffe. Berhubung warna tersebut tidak ada di toko besi dekat rumah, maka saya mengganti dengan warna Fuji Green No. 162 dari varian cat Pylox ®. Mengikuti panduan, saya mengecat permukaan bagian atas pesawat dengan warna hijau tersebut. Warna hijau fuji membuat fuselage Stuka menjadi lebih terang, tidak gelap sebagaimana Stuka asli milik Luftwaffe. Saya rasa itu bukan masalah besar, lagipula dengan warna yang lebih terang membuat Stuka versi saya lebih bisa untuk dinikmati.


Selesai pengecatan, saya membiarkan Stuka polos semalaman. Baru keesokan harinya saya mulai proses lanjutan yaitu penempelan stiker decal. Saya paling tidak suka menunggu, begitu pun ketika harus menyisihkan waktu untuk proses decaling. Saya menonton dulu panduan pemasangan decal pada model kit yang ada di Youtube. Saya pun segera menyiapkan alat-alat dan bahan seperti air hangat untuk memisahkan decal dari stiker induknya, pinset, dan pembersih telinga untuk menyerap air. Saya tidak mungkin menuruti apa kata video Youtube karena memang tidak menyiapkan decal enamel sebagai pelapis dasar dan pelapis akhir di model kit.


Proses penempelan decal memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebagai faktor utama penentu keberhasilan detail. Saya pun berhasil memasang decal untuk pertama kalinya pada model kit Stuka 1/72 ini. Saya tidak memasang semua stiker yang diberikan. Alasannya, selain kebanyakan terlalu kecil, bila semua decal dipasang tangan saya akan mengalami kesulitan dalam mencari pegangan/patokan karena bagian fuselage belakang sudah kena decal. 


Untuk mengeringkan decal, setelah menggunakan pembersih telinga, saya pun menjemur Stuka di bawah terik matahari selama kurang lebih 15 menit. Usai dijemur, Stuka yang sudah gagah ini saya pajang sambil sedikit dikenai terpaan kipas angin. Proyek Stuka ini menyisakan satu pekerjaan lagi. Pengecatan dengan menggunakan cat semprot warna clear alias bening untuk melapisi seluruh lapisan badan atas dan bawah. Pengecatan ini bermaksud agar menguatkan decal yang telah terpasang sehingga bila kena air tidak akan kembali memudar. CMIIW.

Satu pekerjaan tersisa ini akan saya selesaikan nanti usai paket Kyrios Gundam tiba. Saya akan melihat terlebih dahulu apakah model kit Gundam membutuhkan hal yang sama dengan Stuka. Ini sangat penting. Terutama soal budget, apalagi bagi modeler penghobi amatir seperti saya ini.


Cipayung, 7 Maret 2016.

Minggu, 27 Desember 2015

Selamat Ulang Tahun, Cinta!



27/12/2014 - 27/12/2015


It's been a year since the day we fall in love (again).


It's been a year of love, tears, and joy. 


So with all my love, thank you for your fervent heart, for all those dreams and laughs we share together. ❤️😘👪


#Happy1stWeddingAnniversary #littlefamily


Pharmindo, 27 Desember 2015. 

Selasa, 15 September 2015

Istriku Seribu: Sebuah Dialektika Poligami

Rahman dulu, baru Rahim. Beres cinta sosial dulu, barulah ketenteraman cinta pribadi. 
 Emha Ainun Nadjib (hal. 64)




Alhamdulillahirabbil'alamin. Lagi-lagi saya harus mengucapkan syukur ke hadirat Illahi Rabbi atas terbitnya kembali buku ini yang saya beli berbarengan dengan buku Emha lainnya, yaitu "99 Untuk Tuhanku". "Istriku Seribu" rupanya menempuh perjalanan yang lumayan panjang untuk hadir kembali ditengah-tengah masyarakat.
 
"Istriku Seribu" merupakan kumpulan esai Emha Ainun Nadjib yang mengangkat isu poligami dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Mulai dari asal mula turunnya ayat yang mengatur poligami, kewajiban manusia terhadap sesamanya, prasangka manusia yang membutakan, hingga konsep cinta dalam berbagai bentuk. Emha kali ini tidak tampil sendirian. Ia ditemani oleh Yai (Kiai) Sudrun, barangkali pembaca Emha sudah kenal sebelumnya.
 
Sebagian pembaca pasti kaget bila menyadari bahwa buku ini tidaklah cukup tebal untuk membahas isu semacam poligami. Pembaca mungkin tidak akan percaya bahwa Emha mampu menguraikan hal-hal yang demikian itu dalam buku yang tebalnya tak sampai 100 halaman. Pun, dimensi buku ini pun cenderung lebih kecil dari buku komik Jepang terjemahan.
 
Perlu dipahami juga bahwa walaupun esai-esai didalamnya berdiri dengan judul masing-masing, sesungguhnya semuanya itu adalah satu jua adanya. Emha dengan cerdik menempatkan esai-esainya sedemikian rupa agar pembaca mampu mencerna pelajaran dari setiap kisah, cerita, dan segenap dialektikanya bersama Yai Sudrun. Memang telah disinggung di bagian awal bahwa sedianya judul asli tulisan dalam "Istriku Seribu" ini adalah "Poligami Monopoligami Nopomimogali", yang lantas membuat Yai Sudrun langsung naik pitam.
 
Dalam memahami "Istriku Seribu", pembaca harus membaca esai dengan urut mulai dari awal. Harus ada kesepahaman nilai terlebih dahulu dengan penulisnya sebelum menafsirkan isi buku ini. Mungkin hal itu diperlukan pengulangan beberapa kali demi tercapainya satu konsensus bersama dan juga sebagai ijtihad agar tidak salah mengartikan.
 
Untuk mulai proses memahami tersebut, bisa dimulai pada esai 'Sudrun dan Tuhan Tak Mau Diduakan', Emha mengajak kita untuk memahami Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang baginya Aisyah itu adalah istri utama namun menjelang dicabutnya nyawa Beliau, yang disebut-sebut justru bukanlah Aisyah R.A, melainkan "Ummatiii... Ummatiii..". Kemudian, pada konteks sifat Allah SWT Ar-Rahim (cinta ke dalam, cinta vertikal, cinta personal) istri kita adalah ibunya anak-anak kita. Persuami-istrian lelaki-perempuan adalah suami-istri dengan skala ar-Rahim, meskipun berposisi dialektis dengan ar-Rahman: suami-istri sosial (cinta meluas, horizontal, keluar). Pada Kanjeng Nabi, istri ar-Rahim-nya adalah Khadijah, yang bersamanya justru beliau berdua memberi kontribusi-kontribusi sangat besar secara ar-Rahman.
 
Setelah Khadijah R.A wafat, istri ar-Rahim Beliau adalah Aisyah. Istri beliau yang lain pada masa sepuhnya adalah istri-istri dalam konteks ar-Rahman: istri sosial, istri yang diambil karena dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosial: banyaknya janda-janda peperangan, sejumlah wanita teraniaya, jumlah tak seimbang antara lelaki dan perempuan.
 
Kaum Muslim bersemayam di kandungan kalbu Kanjeng Nabi, terkadang bagai salju yang sejuk, terkadang bagai api yang membakar dada beliau. Kanjeng Nabi tidak punya masalah pribadi dengan manusia, dunia, atau Tuhan. Beliau sudah dijamin masuk surga. Namun, setiap malam, Kanjeng Nabi bersujud, tahajud, menangis, menangis, menangis. Dan yang Beliau tangisi bukan diri Beliau sendiri, bukan istrinya yang ar-Rahim, Khadijah almarhumah atau Aisyah, melainkan istri ar-Rahman: yakni Umat Islam.
 
Mungkin salah satu hal yang Kanjeng Nabi tangisi adalah karena Kaum Muslim yang istri utamanya tidak pernah benar-benar meletakkan Beliau sebagai istri atau suami Beliau yang utama. Dalam hampir semua bagian dari sejarahnya, Kaum Muslim memperistrikan-atau lebih akurat: mempermaisurikan-harta benda, kekuasaan, kepentingan pribadi, dan keserakahan dunia. Allah dan Muhammad seringkali disebut-sebut dalam konteks kepentingan untuk mendapatkan kekayaan atau kekuasaan. Allah dan Kanjeng Nabi hanya instrumen bagi Kaum Muslim  yang dipakai untuk memperbanyak perolehan modal, deposit materi, kekuasaan, atau popularitas.(Hal. 47-49)
 
Emha mulai bicara lugas soal poligami sejak asal-usul hingga pedoman pelaksanaannya sejak esai berjudul 'Satu Suami Ratusan Istri'. Pada zaman sebelum Kanjeng Nabi mengantarkan ajaran Allah, lelaki di masyarakat meletakkan kaum wanita sebagai barang atau aksesori berlian atau budak. Lelaki waktu itu, kalau kaya, bisa mengawini ratusan wanita. Kaum wanita dianiaya, direndahkan derajatnya, dianggap barang, diambil dan dibuang semaunya oleh lelaki.
 
Dalam keadaan itu, Allah SWT melakukan revolusi: dari fakta ratusan istri diradikalkan menjadi hanya paling banyak empat istri, dengan peringatan keras jangan mengeksploitasi mereka dalam hal apapun. Dari ratusan istri diradikalkan menjadi empat istri merupakan sebuah tahap, Dan, tahap inilah yang dipergunakan oleh sebagian besar pelaku pernikahan dalam Islam untuk dipakai sebagai dasar hukum bahwa lelaki boleh beristri empat. Segala sesuatunya disetop disini dan dilegitimasi bahwa syariat Islam memperkenankan hal itu, seolah-olah tidak ada dimensi lain yang perlu dipertimbangkan. Maka, seluruh dunia pada abad 21 ini beranggapan seperti itu, stagnan dalam justifikasi bahwa Islam memperbolehkan lelaki kawin empat. (hal. 84-86)

Esai selanjutnya, 'Tuhan Mengajak Berdiskusi' berisi diskusi antara ayat Tuhan dengan akal pikiran manusia. Tuhan tidak hanya memberi perintah, tetapi juga mengajak manusia berdiskusi, agar manusia memproses pemikirannya kemudian mengambil keputusan sendiri dengan akalnya.

Pada kalimat yang sama, dengan radikalisasi ratusan istri menjadi empat istri, Tuhan memancing kedewasaan akal manusia: Kalau engkau takut tidak akan bisa berbuat adil, maka satu istri saja. Itu pun kalimat sebelumnya, yang menyebut istri satu atau dua atau tiga atau empat dimulai dengan kata 'maka'. Artinya,  pasti ada anak kalimat sebelumnya. Ada latar belakangnya, ada pertimbangan-pertimbangannya, tidak bisa dipotong disitu.

Maka, kawin empat itu juga berangkat dari prasyarat-prasyarat sosial yang kita himpun  disamping dari yang dipaparkan oleh Tuhan dan sejarah, juga kita cari melalui aktivitas akal kita sendiri. Kawin empat, menurut kematangan akal dan rasa kalbu kemanusiaan, tidak pantas dilakukan atas pertimbangan individu. Ia memiliki konteks sosial. Ia bukan merupakan hak individu, melainkan kewajiban sosial. Kewajiban adalah sesuatu yang 'terpaksa' atau wajib kita lakukan, senang atau tidak senang. Karena masalahnya tidak terletak pada selera, kenikmatan atau kemauan pribadi, melainkan pada kemaslahatan bersama.

Engkau menjadi manusia yang tidak tahu diri kalau Tuhan mengatakan, 'kalau engkau takut tak bisa berbuat adil...' lantas engkau bersombong menjawab kepada Tuhan, 'Aku bisa kok berbuat adil', kemudian ambil perempuan jadi istri keduamu. Bahkan engkau nyatakan 'Aku ingin memberi contoh poligami yang baik'-seolah-olah Tuhan tidak membekalimu dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan. (hal. 88-90)

Melalui "Istriku Seribu", Emha mengajak kita untuk senantiasa berijtihad dengan memproses pemikiran dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan. Emha tidak menafsirkan poligami menjadi sebuah polemik yang kaku dan tetap. Emha ingin berpesan bahwa banyak hal-hal yang harus dipahami terlebih dahulu dalam memaknai satu dan sekian banyak ayat-ayat Tuhan. Termasuk implikasi sosio-historisnya dalam konteks kehidupan berkeluarga. Emha tidak berkata tidak kepada poligami, tetapi ia menegaskan kembali satu persyaratan utama dari Allah SWT. Satu hal yang sering kita anggap remeh; bahwa kita bisa dan mampu berlaku adil. Sedang, Tuhan-yang menciptakan manusia-sangatlah paham, bahwa ciptaannya itu takkan mampu berbuat demikian.
 
Catatan Singkat

Usai pembacaan buku ini selesai, saya tidak hanya mendapatkan penjelasan Emha mengenai poligami yang telah diuraikan diatas, buku ini juga mengantarkan saya kembali pada definisi Manajemen, dimana sebelumnya pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu pernah saya muat juga dalam blog ini. Bila pembaca penasaran, sila loncat ke halaman 39 atau klik link berikut.

Selain definisi manajemen versi Emha Ainun Nadjib, saya juga menemukan keteguhan sikap Emha atas dunia. Seperti yang pernah saya saksikan pada satu sesi pengajian Maiyahan.
 
"Silakan menertawakanku, melecehkanku, membuangku. Namun, engkau wahai dunia, tidak akan sedikit pun pernah mampu mengubah sejengkal saja kakiku dari pijakan cinta yang kupilih."
 
"Kalian tidak akan pernah bisa memusnahkanku, karena aku sudah merdeka dari kemusnahan, sudah merdeka dari yang kalian pahami sebagai kehidupan dan kematian." (hal. 58)

Sungguh tegas pernyataan Emha diatas. Pernyataan yang lahir dari keteguhan hati dan kebesaran jiwa, yang hanya mendamba pada Allah SWT semata. Agaknya, mengenai sikap Ehma yang demikian itu tidaklah perlu diadakan penelitian tersendiri. Lintasan waktu sejarah telah menggembleng Emha untuk menempuh jalan sunyinya sendiri.

Judul           : Istriku Seribu
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Bentang
Tahun         : 2015
Tebal          : 98 hal.
Genre         : Agama Islam-Sosial dan Budaya 


Dharmawangsa, 15 September 2015.

Rabu, 02 September 2015

Bapak Ulang Tahun

Dad, you were there for me from the day I was born, always having my best interests in mind. You are one of the most important people in my life and I love you with my whole heart. I  may not be the perfect child, but you are the perfect papa. Happy birthday, Dad!



Tepat hari ini Bapak saya genap berusia 60 tahun. Sebuah pencapaian yang sarat akan pengalaman. Bagaimanapun, perjalanan hidupnya pernah mengalami banyak tanjakan dan turunan. Bahkan, tak jarang kakinya ditembus kerikil tajam yang berserakan diantara debu cinta yang bertebaran. 

Dulu, Bapak bekerja di Pabrik Pesawat terbesar se-ASEAN. Bapaklah yang mengenalkan saya pada makhluk ajaib ciptaan manusia yang bisa terbang itu. Kini, saya mengikuti jejak beliau. Bapak akan selalu jadi inspirasi saya. Kata orang, buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Saya mulai pahami maksud istilah itu ketika perlahan menyadari keadaan diri saya sekarang. Terlebih, ketika minggu lalu saya berada di satu tempat dimana Bapak menghabiskan dua dekade lebih masa kerjanya. Sungguh sebuah perasaan aneh menghinggapi saya. Namun, perasaan itu sirna dengan senyuman hangat dan jabat erat dari teman-teman Bapak semasa kerja dulu.

Rupanya, nostalgia seperti itu adalah semacam perjalanan sunyi bagi saya. Saya menerawang ke masa lalu dengan menempatkan sosok Bapak disitu. Saya menyadari bahwa tidak mudah baginya untuk menjalani hari demi hari. Supaya saya dan adik saya bisa terus sekolah, supaya dapur tetap ngebul, dan setahun sekali bisa berlebaran.

Anyway, selamat ulang tahun, Bapak. Saya (lagi-lagi) hanya bisa mengucapkannya dari jauh, tidak dengan sebuah pelukan hangat. Terima kasih, untuk berjuta pengalaman yang telah engkau ajarkan. Terima kasih, untuk setiap pengingat dan pelajaran yang tidak henti-hentinya engkau berikan. Tuhan memberkahi, selamat ulang tahun.


Medan Merdeka Barat, 2 September 2015.

Selasa, 25 Agustus 2015

Catatan #AyahASI: Bukan Sekedar Berbagi

...bahwa proses pemberian ASI is the best thing happen in the life of a family.
- (hal. 13)


Awalnya, saya tahu gerakan #AyahASI @ID_AyahASI ini di Twitter melalui retweetan beberapa orang yang saya follow. Saya belum cukup aware sampai akhirnya saya mengalami sendiri kebingungan dalam mempersiapkan masa kehamilan dan sesudahnya. Saya pun teringat kembali bahwa para dedengkot gerakan #AyahASI ini menerbitkan bukunya. Dengan demikian, saya berharap bahwa saya tidak terlalu terlambat untuk memahami dan mempersiapkan segala keperluan istri selama masa kehamilan maupun pasca hamil.
 
 

ASI atau Air Susu Ibu adalah bagian penting dari tumbuh kembang si buah hati. Betapa kandungannya memang sudah paling sesuai untuk kebutuhan bayi. Pemberian ASI Eksklusif adalah isu tersendiri mengingat saat ini gencar sekali promosi untuk menggantinya dengan susu formula. Di lain pihak, hal ini menimbulkan dilema ketika susu formula seringkali dijadikan 'senjata' pengganti ASI. Dengan berbagai alasan tentunya.

Masalah ASI bukan hanya urusan Kaum Ibu belaka. Perkara ini juga harus melibatkan peran serta yang seimbang dan setara dari Kaum Pria. Beruntung, ada delapan orang laki-laki keren yang berbuat sesuatu demi mencerdaskan kehidupan para Bapak yang justru sering kehilangan tingkat kecerdasan seketika kala berhadapan dengan urusan mengurus anak.

Saya percaya bahwa langkah kecil kedelapan suami yang membagi ceritanya dalam buku ini adalah sebuah wacana yang besar dalam memberikan pemahaman peran penting menyusui. Meski disajikan dalam bentuk bacaan ringan dalam cerita-cerita pengalaman keseharian para #AyahASI, tidak lantas membuat buku ini kehilangan tujuan utamanya untuk menjadi inspirasi sekaligus berbagi.

Mereka percaya bahwa semua orang tua menginginkan semua hal yang terbaik untuk buah hatinya. Maka tidaklah terlalu salah apabila pengalaman mereka menjadi buku pelajaran yang tidak terlalu text book. Dengan begitu, mereka juga menyertakan pendapat para ahli dan berbagai tips yang sangat berguna dan bermanfaat.

Tidak hanya itu saja, pengetahuan lain semisal soal penggunaan susu formula juga sangat membantu bagi para calon Ayah yang belum paham betul mengenainya. Plus, insert spesial dimana pembaca akan tahu apa yang bisa dibeli dengan uang untuk beli susu formula selama 6 bulan. Atau, simak juga tips untuk pembaca yang masih bingung bagaimana memilih rumah sakit yang pro menyusui dini (ASI) sekaligus memilih dokter spesialis anak.

Buku ini dapat dibaca tamat sekali duduk. Artinya, tidak terlalu membutuhkan effort lebih dalam memahaminya. Namun, buku ini juga tidak lantas membosankan bila dibaca berulang-ulang. Dapat dengan jelas dipahami bagaimana dan mengapa ASI mutlak diperlukan oleh buah hati kita. Pembaca juga dihadiahi komik yang menghibur di setiap akhir cerita. Barangkali saja, selama pembacaan mengalami satu ketegangan.

Buku ini layak jadi panduan atau sekedar bacaan santai sebagai sarana belajar bagi para calon orangtua yang sedang merencanakan pernikahan, kehamilan, dan persalinan. Cerita-cerita dalam buku ini memberikan wawasan yang lebih nyata, informatif, dan reflektif sehingga buku ini layak dijadikan ensiklopedia 'wajib' yang harus dibaca setiap calon Bapak. Buku ini menguatkan kesadaran Kaum Pria untuk mendukung dan mendampingi istri dalam pemberian ASI walau dengan pengetahuan seadanya.

Judul           : Catatan AyahASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau Berbagi
Penulis        : Sogi Indra Dhuaja (et.al); Tutut M. Lestari (ed.)
Penerbit      : Penerbit Lentera Hati
Tahun         : 2013
Tebal          : 188 hal.
Genre         : Keluarga-Parenting
 
 
Dharmawangsa, 25 Agustus 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...