Jumat, 30 Agustus 2024
7, The Magnificent
Minggu, 31 Juli 2022
Surat untuk Aisyah
Aisyah,
Segala puji Bapak dan Ibu panjatkan pada Allah SWT karena pada bulan Juli ini engkau genap berusia lima tahun. Usia yang sudah bukan anak kecil lagi. Aisyah sekarang naik ke Kelas B. Tidak hanya itu saja, bulan ini juga Kakakmu, Alde, mulai sekolah SD. Betapa saat ini sejak Ais dan Alde mulai sekolah, WFH Bapak mulai terasa agak sepi saat pagi hingga siang.
Begitulah Aisyah, rasanya semuanya terjadi begitu saja. Waktu yang terlalui sudah jadi kenangan. Hari-hari di depan adalah tantangan.
Aisyah,
Semoga engkau selalu sehat, Nak. Bermainlah sepuasnya di sekolah. Puaskan dahaga ingin tahumu. Ada Ibu Guru yang siap membantumu di sekolah. Jadilah matahari kami, jadilah sinar pagi pembawa cahaya dari timur.
Cipayung, 2 Juli 2022
Surat untuk Aldebaran
Aldebaran,
Akhirnya, sampai juga waktu Bapak untuk melihatmu masuk Sekolah Dasar setelah Akhirussanah TK yang sempat membuat air mata ini kembali mengalir. Akhirnya, Bapak dapat merasakan hal yang mungkin dirasakan oleh Akung dahulu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa haru, ada rasa bahagia, dan ada juga banyak kekhawatiran. Untuk yang terakhir ini, sering Bapak titipkan pada Allah saja. Mudah-mudahan, Ia mau membantu Bapak memanage segala macam rasa khawatir ini.
Bapak dan Ibu tentunya berharap Alde akan cepat beradaptasi dengan segala kegiatan di masa SD ini yang kami rasa sangat tidak mudah. Alde sudah mengalami masa sekolah di zaman pandemi, kemudian mulai tatap muka kembali-dengan segala pembatasan. Tiba-tiba, Alde harus menjalani sekolah hari penuh. Alde harus bangun pagi dan segera bersiap pergi ke sekolah, lalu pulang sebelum adzan Ashar berkumandang.
Ah, rasanya tidak adil bila membandingkan sekolah SD zaman Bapak dan Ibu dulu. Entah bagaimana Bapak harus menjelaskan padamu soal konsep merdeka belajar dari Pak Menteri yang sekarang ini. Pun, ketika Bapak menyadari bahwa buku-buku pelajaran sekolahmu ukurannya lebih besar dari zaman kami dulu. Semoga engkau memiliki tubuh dan badan yang kuat untuk menjalani hari-harimu nanti.
Aldebaran,
Selamat menjalani hari-hari ke depan, Nak. Bapak dan Ibu selalu mendoakan engkau dan adikmu agar kelak dapat mengamalkan setiap ilmu dan pelajaran yang telah didapat. Kiranya, Allah SWT membantu, memudahkan, dan mencurahkan berkah-Nya. Jadilah anak yang kuat dan berani. Menirukan Iwan Fals, "..tinjulah congkaknya dunia, Buah Hatiku. Doa kami di nadimu...".
Cipayung, 22 Juli 2022
Selasa, 30 November 2021
6 Tahun
Aldebaran sayang,
Genap enam tahun usiamu kini. Engkau semakin beranjak dari masa kanak-kanak. Rasanya, Bapak terlalu lambat untuk menyadarinya. Sebentar lagi umurmu tujuh tahun. Sudah boleh 'dipukul' untuk mengingatkan sholat wajib.
Tapi ah, rasanya Bapakmu tidak tega kalau bukan karena kewajiban. Cita-cita kami ingin seperti Nabi Ibrahim dan Ismail putranya. Bapak sadar, Bapak bukan Nabi yang bisa sempurna. Mungkin ada banyak cara yang lain supaya Alde tetap patuh pada kewajiban.
Hari-hari ini Alde sudah semakin banyak ingin tahu. Entah itu lokasi negara, bahasanya, makanannya, dan segala yang ingin kau tahu. Teruskanlah Nak, semoga rasa ingin tahumu kelak membawamu pada sesuatu yang berarti untuk hidupmu.
Aldebaran,
Bapak harap kita bisa jadi teman. Teman main atau pun teman ngobrol. Engkau semakin tumbuh, dan dahagamu harus bisa Bapak penuhi. Engkau lelaki kelak sendiri, kata Iwan Fals.
Sehat selalu dan panjang umur, Nak. Peluk hangat dari ujung malam nan sunyi.
Cipayung, 6 November 2021
Kamis, 29 November 2018
3 Tahun Aldebaran
Bapak, Aldebaran sudah mulai masuk sekolah TPA menjelang genap 3 tahun umurnya. Anak sekecil itu yang masih senang berlari-lari di lapangan TPA sudah bisa membaca dua huruf awal rangkaian huruf hijaiyah. “a”, “ba”, begitu katanya di depan Ustadz pembimbing. Not bad lah Pak. Alde baru membiasakan lagi membaca huruf hijaiyah pasca fase Upin-Ipin.
Sekali pernah saya menemani Alde ke sekolah TPA. Saya adalah tipikal orang tua zaman sekarang yang sedikit-sedikit khawatir Aldebaran jatuh atau berebut bola dengan temannya. Padahal, zaman Bapak dulu tidak begitu. Bapak dan Ibu membiarkan saya begitu saja. Pulang dengan baju kotor penuh keringat itu sudah biasa. Malamnya, Bapak pasti marah. That’s all.
Saya jadi ingat masa-masa itu. Kelakukan saya nampaknya sama seperti apa yang saya lihat pada Aldebaran sekarang. Maklum saja Pak, TPA ini punya lapangan basket dan lapangan futsal berumput. Sama seperti TPA Al-Falaah yang punya lapangan bekas sawah. Sekarang sudah jadi rumah.
Pak, mungkin Bapak bisa tahu dan lihat sendiri. Aldebaran sekarang sudah bisa membaca surat Al-Fatihah. Agak sulit membiasakannya memang namun bila diingatkan untuk membacanya sambal mendoakan Akung, ia pasti mau dan agak “emosional”. Wajar ya Pak, Alde belum paham Akung pergi kemana.
Tidak hanya itu saja, Alde juga sudah bisa menghitung satu dua tiga sampai sepuluh, dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Catat, Pak. In English lho, Pak dan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan skor TOEIC saya yang jadi Pole Position di kantor. Mungkin pengaruh tab (iPad) Aki Ni dan video unduhan dari Youtube berpengaruh pada ingatannya.
Apapun itu, kami disini merasa sangat bersyukur bahwa di umurnya yang ketiga ini, ada banyak kemajuan. Walaupun di hari ulang tahunnya ini gejala radang belum juga mereda, kami tetap merayakannya dengan suka cita. Minimal di hati kami masing-masing.
Oh ya, Aisyah pun makin bertambah besar. Makannya banyak dan tidak susah. Aisyah juga mulai belajar ngomong dan semakin bisa berkomunikasi dengan kami. Ah, andai Bapak ada disini bersama kami.
Bapak, sampaikan salam saya pada Eyang Kung dan Eyang Tik disana. Kelak kita akan berjumpa kembali. Saya akhiri cerita saya ini. Wassalammualaikum.
Selasa, 03 Juli 2018
Selamat Ulang Tahun, Aisyah
Kamis, 31 Agustus 2017
The Fate of The Family #FF8
Tentunya penonton dibuat sangat kesal ketika Torreto bisa dibuat untuk berpaling from his old family. Pun, diperalat untuk tujuan tertentu seperti terorisme global.
![]() |
| www.imdb.com |
Memang dibutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan Torreto. Ketika mulai tersadar kembali, segala sesuatunya memang sulit untuk dirubah. Apalagi Torreto menemukan fakta bahwa ia telah memiliki seorang anak. Menurut saya, perjumpaan Torreto dengan anaknya ini adalah scene yang mengharukan dan mengaduk-aduk emosi. You are free to said that i was wrong.
Apa yang dilakukan Torreto untuk membalikan keadaan memang seperti yang sudah kita ketahui bersama. Ada banyak twist dalam film ini untuk mengecoh ending film yang ada dalam pikiran penonton. Saya sendiri sulit untuk menebak namun seperti pada episode-episode yang lalu, counter attack dari Torreto melibatkan banyak orang yang pernah terlibat dengannya, for example Deckard Shaw dan Owen Shaw.
Film ini sendiri buat saya adalah penegasan dari konsep keluarga yang selalu jadi nilai penting bagi Torreto. Bahwa keluarga tidak akan berpaling bila satu dari anggotanya berpaling meninggalkan. Rasanya tidak sia-sia menghabiskan dua jam lebih untuk menamatkan film ini. Ending yang masih menyisakan tanya pun akan jadi penentu apakah episode ke-9 akan dibuat atau akan hanya jadi sebuah wacana belaka yang akan segera menghilang seperti Cipher?
Sabtu, 29 April 2017
Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
![]() |
| Sumber gambar: www.goodreads.com |
Saya rasa penting bagi kita untuk mulai “menyelamatkan” keuangan pribadi. Kondisi ekonomi di Indonesia yang sering tidak menentu namun ddidorong pula oleh “kekuatan” kelas menengah yang konsumtif, maka asumsi investasi bukan lagi hal yang tabu dan menakutkan untuk dijalani secara pribadi. Niscaya, buku ini menjadi panduan awal tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi.
Kekuatan kelas menengah yang sanggup mempertahankan Indonesia dari goncangan krisis ekonomi adalah pertanda sebuah kekuatan lain yang muncul di Indonesia. Fenomena yang berdampak langsung pada sektor keuangan ini secara tidak langsung ikut mempengaruhi sisi kehidupan lainnya. Dengan demikian, bila golongan kelas menengah ini mampu mempertahankan dirinya sendiri maka secara tidak langsung juga berimbas pada sekala ekonomi yang lebih luas. Patut dibaca, oleh kita para kelas menengah ini, biar #kelasmenengahngehe sekalipun.
Saya tidak menganggap buku ini seperti novel yang harus dibaca tamat dari awal sampai akhir. Karena sifatnya yang guidance material, maka saya membaca subjek-subjek tertentu saja. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa buku ini belum saya pahami sepenuhnya. Oleh karena itu, hingga tulisan ini naik cetak saya masih terus membacanya, sekedar meyakinkan bahwa dari 100 hal itu ada satu atau beberapa hal yang benar-benar saya lakukan. Selamat belajar.
Judul : Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
Selasa, 31 Januari 2017
Jack Reacher: Never Go Back
![]() |
| Sumber gambar: www.imdb.com (reproduced) |
Judul : Jack Reacher: Never Go Back
Sutradara : Edward Zwick
Pemain : Tom Cruise, Cobie Smulders, Danika Yarosh, Patrick Heusinger
Produksi : Paramount Pictures
Tahun : 2016
Genre : Action Drama
Rabu, 28 Desember 2016
Cinta Miund, Kolom Curhat yang Well-documented
![]() |
| Courtesy: twicsy.com |
Penerbitan buku ini tentu sangat berguna bagi para penikmat kolom web. Dengan buku ini, anda tidak perlu akses internet untuk kembali memahami persoalan klasik sepanjang zaman. Entah itu pada diri anda, teman, pacar, kekasih, pasangan, selingkuhan, or whatever you may say. Artikel didalamnya tentu sudah melalui proses editing dimana ada penyesuaian untuk repetitive problem sehingga buku ini nantinya akan selalu jadi referensi pembaca.
Untuk menghilangkan kesan 'terlalu feminin' karena penulis dan pengasuh kolomnya adalah seorang perempuan, Miund punya cara jitu untuk mengatasi hal ini. Pada beberapa kolom, ia menambahkan komentar dari laki-laki dengan tajuk 'Kata Lelaki'. Selain sebagai pendapat penyeimbang, cara ini sangat baik untuk para perempuan dalam memahami isi otak lelaki.
Jangan bayangkan buku ini seperti buku serial 'Chicken Soup' yang fenomenal itu. Tulisan-tulisan Miund justru tampil dengan gaya santai nan elegan yang bisa habis dibaca sekali duduk. Cinta Miund bisa jadi penambah wawasan pembaca dengan segenap problema cinta mulai dari pendekatan alias PDKT, menanggapi curhat berujung sayang, HTS, Office Romance, #kapankawin, how to deal with jealousy, masa lalu dan CLBK, tips singkat menghadapi putus cinta, hingga menafsirkan lagu-lagu cengeng tahun 80-90an (bab favorit saya v^_^v).
Saya beruntung menamatkan buku ini setelah melalui periode Orde Twitter dimana saat itu belum populer istilah 'baper'. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya lika-liku problema hati dan perasaan saya bila saya membaca buku ini saat itu. Urusan soal hati mungkin bisa jadi tambah pelik. Thank God!
Judul : Cinta Miund
Penulis : Asmara Letizia Wreksono (Miund)
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2012
Tebal : 294 hal.
Genre : Humaniora-Romansa
Selasa, 29 November 2016
Setahun
Senin, 31 Oktober 2016
Para Priyayi
![]() |
| Courtesy: www.goodreads.com |
Another monumental works from Umar Kayam. Saya harus akui bahwa buku ini punya daya jangkau yang luas dan lintas generasi.
Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.
Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?
Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.
Para Priyayi
Membaca beberapa halaman pembukaan buku ini sama rasanya dengan membaca karya-karya Ahmad Tohari. Perasaan khas pedesaan yang timbul turut menjadi satu nuansa yang tidak terlupakan. Tidak hanya itu saja. Para penulis seperti mereka pandai mengolah rasa dalam tulisannya sehingga gairah pedesaan itu begitu hidup dan remarkable. Mereka menjadikan desa menjadi sebesar dunia-dengan segala permasalahannya.
Saya lebih senang menandai "Para Priyayi" ini sebagai sebuah roman, bukan novel. Umar Kayam berhasil meletakkan segala macam permasalahan priyayi, sejak awal mula trah keluarga dibangun hingga perjalanan melintas masa. Dengan berbagai sudut pandang yang dinamis, "Para Priyayi" tidak memandang priyayi sebagai satu hal yang statis. Ia menjelma bukan hanya sebagai kata benda, tetapi juga menjadi sebuah kata kerja.
Kehidupan Ndoro Seten diceritakan begitu gamblang; lengkap dengan segala permasalahan kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya berhasil menjadi priyayi seperti yang didambakannya. Sebuah penghargaan dan status sosial yang punya tempat tersendiri di lingkup sosiologis masyarakat pedesaan.
Konflik mulai meninggi ketika keturunan para priyayi ini berkembang sesuai zamannya. Bahkan hingga ada yang tersangkut kasus G30S/PKI. Cara Umar Kayam mengakhiri kemelut-kemelut ini terkesan tidak tergesa-gesa, melainkan berhasil memunculkan solusi dalam konteks kepriyayian. Pun, dengan demikian kepriyayian yang sedari awal sudah dibangun tidak lantas hilang begitu saja diretas zaman. Just like any romantic roman, the stories ends with happy ending.
Memang dibutuhkan stamina membaca yang tinggi untuk menyelesaikan roman ini. Namun, itu semua akan terbayar dengan permainan alur cerita dan konflik yang apik. Umar Kayam memadukan filosofi Jawa dan kepriyayian sesuai dengan zamannya. Nilai-nilai yang tidak lekang dimakan usia adalah satu nilai tambah untuk karya-karya semacam ini.
Selasa, 27 September 2016
Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita
![]() |
| Courtesy: www.kmediabookstore.com |
Meskipun sudah seringkali dinyatakan bahwa kecepatan perkembangan dan pertumbuhan setiap anak berbeda secara individual, ada yang rata-rata atau normal, ada yang lebih cepat, ada pula yang lebih lambat, para orang tua kerap dicemaskan dengan keterlambatan atau ketidaksamaan perkembangan buah hatinya.
Petunjuk-petunjuk dalam buku ini membantu memberikan saya wawasan yang cukup sebagai indikator pertumbuhan anak. Tentu saja, kita tidak perlu untuk memaksakan sesuatu yang belum mampu dicapai anak. Buku ini berfungsi sebagai alat deteksi dini apabila ada suatu kecenderungan pada anak, tentunya menurut hasil pengamatan orang tuanya. Dilengkapi dengan berbagai tips seputar tumbuh kembang anak, rasanya buku ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Judul : Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita
Penulis : Mayke S. Tedjasaputra
Penerbit : Penerbit Erlangga
Tahun : 2012
Tebal : 118 hal.
Genre : Keluarga-Pengasuhan Anak
Rabu, 31 Agustus 2016
Screaming-Free Parenting
![]() |
| Courtesy: www.goodreads.com |
Buku ini setidaknya memberikan gambaran pada setiap orang tua atau calon orang tua tentang metode atau cara-cara praktis dalam pengasuhan anak dengan menggunakan energi dan emosi yang positif. Peran orang tua menentukan bagaimana anak akan membangun masa depannya. Orang tua dituntut untuk lebih perhatian, lebih kreatif, penuh kasih sayang, tanpa teriakan dan memasang raut muka yang tidak menyenangkan.
Untuk mencapainya diperlukan segenap usaha. Mulai dari mengubah paradigma orang tua-anak, belajar memberikan pujian dan memuliakan anak, berlatih menjadi teman, hingga manajemen marah. Bab favorit saya. IMHO, buku ini lebih tepat diaplikasikan pada anak usia 5 tahun lebih, dalam rangka menanamkan sifat dan membangun karakter-karakter positif anak.
Judul : Screaming-Free Parenting
Penulis : Teguh Iman Perdana
Penerbit : Penerbit Kaifa
Tahun : 2012
Tebal : 148 hal.
Genre : Keluarga-Pengasuhan Anak
Cipayung, 26 Agustus 2016.
Selasa, 30 Agustus 2016
Parent's Stories: A Quick Guide for Parents
Saya menjadi fans Adhitya Mulya sejak membaca novel "Jomblo" dan berlanjut hingga mengikuti personal blognya. Dari sekedar membaca sebuah kisah fiksi hingga membaca serius cerpen-cerpen terbaru miliknya yang belum diterbitkan penerbit manapun. Dari membaca refleksi pengalaman kesehariannya hingga nasihat-nasihat dan anjurannya dalam menjadi orang tua.
![]() |
| Courtesy: www.goodreads.com |
Saya dapat membaca kekhawatiran dalam benak penulis, bahwa tantangan dalam membesarkan anak kini menjadi semakin besar. Tuntutan dan ekspektasi orang tua terhadap anak semakin tinggi. Hingga anak-anak masa kini tidak lagi tumbuh sebagaimana mereka harus tumbuh sesuai kemampuannya. Agaknya, hal inilah yang membuat banyak orang tua lupa bahwa anak-anak memiliki takdirnya sendiri.
Saya sendiri merasa sepaham dengan ide-ide parenting versi Adhitya Mulya dan Ninit Yunita karena pengalaman mereka di zaman hiperteknologi belakangan ini. Ada beberapa cara lama yang harus ditinggalkan untuk kemudian diganti dengan pendekatan yang lebih holistik terhadap anak. Referensi yang disertakan penulis dalam artikel-artikel dalam buku ini sangat membantu, apabila orang tua ingin membaca lebih lanjut. Implikasi lain, Adhitya Mulya tidak menawarkan sesuatu yang belum benar teruji keabsahannya. Adhitya Mulya berhasil memadukan teori pengasuhan anak dengan sintesa pengalamannya.
Semua orang tua pasti ingin punya akan dengan berbagai kualitas yang dapat membuat mereka berdaya di masa depan. Dengan buku ini, para orang tua dibantu dengan mendapatkan berbagai tips dan trik yang nyata dan menarik. A must read for all parents and parents wannabe.
Judul : Parent's Stories: Membesarkan Anak yang Berdaya
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Penerbit PandaMedia
Tahun : 2016
Tebal : 166 hal.
Genre : Keluarga-Pengasuhan Anak
Selasa, 08 Maret 2016
Stuka Model Kit Finishing: Painting and Decaling
Sepanjang sejarah pengerjaan model kit, mulai dari Apache AH64D 1/72, F16, MiG-29 Fulcrum, F15, dan F14 buatan Academy skala 1/144 belum sekalipun saya selesaikan hingga decaling. Saya tidak pernah menempelkan decal pada model yang telah selesai dirakit. Saya belum percaya diri untuk menempelkan decal pada model. Saya masih dirundung kegagalan merakit Mazda RX7 tahun 2002 silam. Saya sudah merasa cukup untuk merakit saja, tanpa pengecatan ulang (repainting), dan mengganti stiker decal dengan Rugos ® .
Anyway, pada Proyek Stuka ini saya merasa harus menghentikan kebiasaan saya. Selain karena pertimbangan faktor sejarah, Stuka ini juga saya dedikasikan untuk Aldebaran, putra saya. Maka mulailah saya mencari cat semprot warna hijau gelap khas Luftwaffe. Berhubung warna tersebut tidak ada di toko besi dekat rumah, maka saya mengganti dengan warna Fuji Green No. 162 dari varian cat Pylox ®. Mengikuti panduan, saya mengecat permukaan bagian atas pesawat dengan warna hijau tersebut. Warna hijau fuji membuat fuselage Stuka menjadi lebih terang, tidak gelap sebagaimana Stuka asli milik Luftwaffe. Saya rasa itu bukan masalah besar, lagipula dengan warna yang lebih terang membuat Stuka versi saya lebih bisa untuk dinikmati.
Selesai pengecatan, saya membiarkan Stuka polos semalaman. Baru keesokan harinya saya mulai proses lanjutan yaitu penempelan stiker decal. Saya paling tidak suka menunggu, begitu pun ketika harus menyisihkan waktu untuk proses decaling. Saya menonton dulu panduan pemasangan decal pada model kit yang ada di Youtube. Saya pun segera menyiapkan alat-alat dan bahan seperti air hangat untuk memisahkan decal dari stiker induknya, pinset, dan pembersih telinga untuk menyerap air. Saya tidak mungkin menuruti apa kata video Youtube karena memang tidak menyiapkan decal enamel sebagai pelapis dasar dan pelapis akhir di model kit.
Proses penempelan decal memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebagai faktor utama penentu keberhasilan detail. Saya pun berhasil memasang decal untuk pertama kalinya pada model kit Stuka 1/72 ini. Saya tidak memasang semua stiker yang diberikan. Alasannya, selain kebanyakan terlalu kecil, bila semua decal dipasang tangan saya akan mengalami kesulitan dalam mencari pegangan/patokan karena bagian fuselage belakang sudah kena decal.
Untuk mengeringkan decal, setelah menggunakan pembersih telinga, saya pun menjemur Stuka di bawah terik matahari selama kurang lebih 15 menit. Usai dijemur, Stuka yang sudah gagah ini saya pajang sambil sedikit dikenai terpaan kipas angin. Proyek Stuka ini menyisakan satu pekerjaan lagi. Pengecatan dengan menggunakan cat semprot warna clear alias bening untuk melapisi seluruh lapisan badan atas dan bawah. Pengecatan ini bermaksud agar menguatkan decal yang telah terpasang sehingga bila kena air tidak akan kembali memudar. CMIIW.
Satu pekerjaan tersisa ini akan saya selesaikan nanti usai paket Kyrios Gundam tiba. Saya akan melihat terlebih dahulu apakah model kit Gundam membutuhkan hal yang sama dengan Stuka. Ini sangat penting. Terutama soal budget, apalagi bagi modeler penghobi amatir seperti saya ini.
Cipayung, 7 Maret 2016.
Minggu, 27 Desember 2015
Selamat Ulang Tahun, Cinta!
27/12/2014 - 27/12/2015
It's been a year since the day we fall in love (again).
It's been a year of love, tears, and joy.
So with all my love, thank you for your fervent heart, for all those dreams and laughs we share together. ❤️😘👪
#Happy1stWeddingAnniversary #littlefamily
Pharmindo, 27 Desember 2015.
Selasa, 15 September 2015
Istriku Seribu: Sebuah Dialektika Poligami
Esai selanjutnya, 'Tuhan Mengajak Berdiskusi' berisi diskusi antara ayat Tuhan dengan akal pikiran manusia. Tuhan tidak hanya memberi perintah, tetapi juga mengajak manusia berdiskusi, agar manusia memproses pemikirannya kemudian mengambil keputusan sendiri dengan akalnya.
Pada kalimat yang sama, dengan radikalisasi ratusan istri menjadi empat istri, Tuhan memancing kedewasaan akal manusia: Kalau engkau takut tidak akan bisa berbuat adil, maka satu istri saja. Itu pun kalimat sebelumnya, yang menyebut istri satu atau dua atau tiga atau empat dimulai dengan kata 'maka'. Artinya, pasti ada anak kalimat sebelumnya. Ada latar belakangnya, ada pertimbangan-pertimbangannya, tidak bisa dipotong disitu.
Maka, kawin empat itu juga berangkat dari prasyarat-prasyarat sosial yang kita himpun disamping dari yang dipaparkan oleh Tuhan dan sejarah, juga kita cari melalui aktivitas akal kita sendiri. Kawin empat, menurut kematangan akal dan rasa kalbu kemanusiaan, tidak pantas dilakukan atas pertimbangan individu. Ia memiliki konteks sosial. Ia bukan merupakan hak individu, melainkan kewajiban sosial. Kewajiban adalah sesuatu yang 'terpaksa' atau wajib kita lakukan, senang atau tidak senang. Karena masalahnya tidak terletak pada selera, kenikmatan atau kemauan pribadi, melainkan pada kemaslahatan bersama.
Engkau menjadi manusia yang tidak tahu diri kalau Tuhan mengatakan, 'kalau engkau takut tak bisa berbuat adil...' lantas engkau bersombong menjawab kepada Tuhan, 'Aku bisa kok berbuat adil', kemudian ambil perempuan jadi istri keduamu. Bahkan engkau nyatakan 'Aku ingin memberi contoh poligami yang baik'-seolah-olah Tuhan tidak membekalimu dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan. (hal. 88-90)
Melalui "Istriku Seribu", Emha mengajak kita untuk senantiasa berijtihad dengan memproses pemikiran dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan. Emha tidak menafsirkan poligami menjadi sebuah polemik yang kaku dan tetap. Emha ingin berpesan bahwa banyak hal-hal yang harus dipahami terlebih dahulu dalam memaknai satu dan sekian banyak ayat-ayat Tuhan. Termasuk implikasi sosio-historisnya dalam konteks kehidupan berkeluarga. Emha tidak berkata tidak kepada poligami, tetapi ia menegaskan kembali satu persyaratan utama dari Allah SWT. Satu hal yang sering kita anggap remeh; bahwa kita bisa dan mampu berlaku adil. Sedang, Tuhan-yang menciptakan manusia-sangatlah paham, bahwa ciptaannya itu takkan mampu berbuat demikian.
Usai pembacaan buku ini selesai, saya tidak hanya mendapatkan penjelasan Emha mengenai poligami yang telah diuraikan diatas, buku ini juga mengantarkan saya kembali pada definisi Manajemen, dimana sebelumnya pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu pernah saya muat juga dalam blog ini. Bila pembaca penasaran, sila loncat ke halaman 39 atau klik link berikut.
Sungguh tegas pernyataan Emha diatas. Pernyataan yang lahir dari keteguhan hati dan kebesaran jiwa, yang hanya mendamba pada Allah SWT semata. Agaknya, mengenai sikap Ehma yang demikian itu tidaklah perlu diadakan penelitian tersendiri. Lintasan waktu sejarah telah menggembleng Emha untuk menempuh jalan sunyinya sendiri.
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Bentang
Tahun : 2015
Tebal : 98 hal.
Genre : Agama Islam-Sosial dan Budaya
Rabu, 02 September 2015
Bapak Ulang Tahun
Dulu, Bapak bekerja di Pabrik Pesawat terbesar se-ASEAN. Bapaklah yang mengenalkan saya pada makhluk ajaib ciptaan manusia yang bisa terbang itu. Kini, saya mengikuti jejak beliau. Bapak akan selalu jadi inspirasi saya. Kata orang, buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Saya mulai pahami maksud istilah itu ketika perlahan menyadari keadaan diri saya sekarang. Terlebih, ketika minggu lalu saya berada di satu tempat dimana Bapak menghabiskan dua dekade lebih masa kerjanya. Sungguh sebuah perasaan aneh menghinggapi saya. Namun, perasaan itu sirna dengan senyuman hangat dan jabat erat dari teman-teman Bapak semasa kerja dulu.
Rupanya, nostalgia seperti itu adalah semacam perjalanan sunyi bagi saya. Saya menerawang ke masa lalu dengan menempatkan sosok Bapak disitu. Saya menyadari bahwa tidak mudah baginya untuk menjalani hari demi hari. Supaya saya dan adik saya bisa terus sekolah, supaya dapur tetap ngebul, dan setahun sekali bisa berlebaran.
Anyway, selamat ulang tahun, Bapak. Saya (lagi-lagi) hanya bisa mengucapkannya dari jauh, tidak dengan sebuah pelukan hangat. Terima kasih, untuk berjuta pengalaman yang telah engkau ajarkan. Terima kasih, untuk setiap pengingat dan pelajaran yang tidak henti-hentinya engkau berikan. Tuhan memberkahi, selamat ulang tahun.
Medan Merdeka Barat, 2 September 2015.
Selasa, 25 Agustus 2015
Catatan #AyahASI: Bukan Sekedar Berbagi
Awalnya, saya tahu gerakan #AyahASI @ID_AyahASI ini di Twitter melalui retweetan beberapa orang yang saya follow. Saya belum cukup aware sampai akhirnya saya mengalami sendiri kebingungan dalam mempersiapkan masa kehamilan dan sesudahnya. Saya pun teringat kembali bahwa para dedengkot gerakan #AyahASI ini menerbitkan bukunya. Dengan demikian, saya berharap bahwa saya tidak terlalu terlambat untuk memahami dan mempersiapkan segala keperluan istri selama masa kehamilan maupun pasca hamil.
ASI atau Air Susu Ibu adalah bagian penting dari tumbuh kembang si buah hati. Betapa kandungannya memang sudah paling sesuai untuk kebutuhan bayi. Pemberian ASI Eksklusif adalah isu tersendiri mengingat saat ini gencar sekali promosi untuk menggantinya dengan susu formula. Di lain pihak, hal ini menimbulkan dilema ketika susu formula seringkali dijadikan 'senjata' pengganti ASI. Dengan berbagai alasan tentunya.
Masalah ASI bukan hanya urusan Kaum Ibu belaka. Perkara ini juga harus melibatkan peran serta yang seimbang dan setara dari Kaum Pria. Beruntung, ada delapan orang laki-laki keren yang berbuat sesuatu demi mencerdaskan kehidupan para Bapak yang justru sering kehilangan tingkat kecerdasan seketika kala berhadapan dengan urusan mengurus anak.
Saya percaya bahwa langkah kecil kedelapan suami yang membagi ceritanya dalam buku ini adalah sebuah wacana yang besar dalam memberikan pemahaman peran penting menyusui. Meski disajikan dalam bentuk bacaan ringan dalam cerita-cerita pengalaman keseharian para #AyahASI, tidak lantas membuat buku ini kehilangan tujuan utamanya untuk menjadi inspirasi sekaligus berbagi.
Mereka percaya bahwa semua orang tua menginginkan semua hal yang terbaik untuk buah hatinya. Maka tidaklah terlalu salah apabila pengalaman mereka menjadi buku pelajaran yang tidak terlalu text book. Dengan begitu, mereka juga menyertakan pendapat para ahli dan berbagai tips yang sangat berguna dan bermanfaat.
Tidak hanya itu saja, pengetahuan lain semisal soal penggunaan susu formula juga sangat membantu bagi para calon Ayah yang belum paham betul mengenainya. Plus, insert spesial dimana pembaca akan tahu apa yang bisa dibeli dengan uang untuk beli susu formula selama 6 bulan. Atau, simak juga tips untuk pembaca yang masih bingung bagaimana memilih rumah sakit yang pro menyusui dini (ASI) sekaligus memilih dokter spesialis anak.
Buku ini dapat dibaca tamat sekali duduk. Artinya, tidak terlalu membutuhkan effort lebih dalam memahaminya. Namun, buku ini juga tidak lantas membosankan bila dibaca berulang-ulang. Dapat dengan jelas dipahami bagaimana dan mengapa ASI mutlak diperlukan oleh buah hati kita. Pembaca juga dihadiahi komik yang menghibur di setiap akhir cerita. Barangkali saja, selama pembacaan mengalami satu ketegangan.
Buku ini layak jadi panduan atau sekedar bacaan santai sebagai sarana belajar bagi para calon orangtua yang sedang merencanakan pernikahan, kehamilan, dan persalinan. Cerita-cerita dalam buku ini memberikan wawasan yang lebih nyata, informatif, dan reflektif sehingga buku ini layak dijadikan ensiklopedia 'wajib' yang harus dibaca setiap calon Bapak. Buku ini menguatkan kesadaran Kaum Pria untuk mendukung dan mendampingi istri dalam pemberian ASI walau dengan pengetahuan seadanya.
Judul : Catatan AyahASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau Berbagi
Penulis : Sogi Indra Dhuaja (et.al); Tutut M. Lestari (ed.)
Penerbit : Penerbit Lentera Hati
Tahun : 2013
Tebal : 188 hal.
Genre : Keluarga-Parenting
















