Tampilkan postingan dengan label Garut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garut. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

Obituari 2 Maestro

Belum usai menuliskan isi kepala tentang Abdullah Totong Mahmud, baru saja saya mendapat kabar bahwa Achdiat Karta Mihardja meninggal dunia.

*

Ambilkan Bulan, Bu.


Beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan Mei entah apa yang merasuki saya waktu itu, saya menjadi sangat ingin sekali mendengarkan lagu Ambilkan Bulan. Thanks God it’s 4shared. Menjelang tidur, saya selalu memutar lagu itu sebagai pengantar. Pertama kali mendengar tahu ada lagu anak-anak seperti itu kira-kira sekitar medio 1997. Entah Tasya atau siapa yang menyanyikannya, kalau tidak salah ingatan yang tersisa di kepala saya adalah model yang jadi Ibu si anak di video klipnya adalah Maudy Koesnaedi.


Adalah suatu perasaan yang mengagumkan untuk mengenang sang pencipta lewat karya-karyanya. Apalagi kalau ternyata karyanya abadi dan selalu menjadi pertanda zaman. Mengenai lagu itu juga ada alasan emosional sehingga saya tidak pernah bosan memaksa si Ngipod untuk memutarbalik playlist. Menurut saya, kekuatan lirik yang sangat dahsyat tercermin dari lagu ini. Saya sendiri tidak pernah punya pengalaman untuk sekedar memintakan bulan pada Ibu. Barangkali karena saya anak laki-laki jadi Ibu tidak pernah menjadi Ibu yang diperankan dalam video klip lagu ini.

Saya tidak menyangka bahwa ditengah guyuran hujan dan gemuruh dari langit pada siang 8 Juli kemarin bangsa Indonesia telah kehilangan seorang maestro lagu anak-anak. Mendengar kabar wafatnya Pak A.T. Mahmud saya hanya bisa diam sambil memutar lagu itu dikepala saya, berulang-ulang. Semoga bulan pun ikut menerangi jalan keabadian Pak Abdullah.

Lelaki kelahiran Palembang, 3 Februari 1930 yang juga sahabat Prof. Emil Salim semasa SMP itu kini telah tiada untuk selamanya. Namun, karyanya akan tetap abadi. Selalu dikenang sepanjang masa oleh mereka yang tak pernah lupa akar rumput bangsanya.

Achdiat K. Mihardja


Perkenalan saya dengan Begawan sastra yang satu ini dimulai dengan cerpen beliau yang dimuat dalam Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia hasil kompilasi Korrie Layun Rampan sekitar tahun 2005. Judul cerpennya saya lupa. Tetapi dari biografi singkat penulisnya sudah barang tentu beliau ini adalah satu dari sekian banyak maestro sastra Indonesia. Buktinya, beliau menjadi Guru Besar yang mengajar Kesusasteraan Indonesia di Australia National University (ANU). Biografi singkat itu juga yang selalu menyemangati saya supaya suatu saat nanti harus bisa berlabuh di ANU, Canberra atau Monash di Melbourne. Saya mengenal lebih dekat sosok beliau melalui Majalah Horison edisi bulan April 2010.

Beliau lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat pada tanggal 6 Maret 1911 dan wafat pada usia 99 tahun di Australia sana. Ia pernah mengenyam pendidikan AMS-A Solo dan Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Semasa mudanya, beliau pernah bekerja sebagai guru di perguruan Taman Siswa, Redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1956-1961), dan sejak 1961 hingga pensiun sebagai dosen kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra, Australia.


Hingga hari ini belum ada satu pun karya beliau yang saya baca secara penuh. Kecuali tulisan cerpennya di buku Korrie Layun Rampan tadi. Awal-awal menulis di blog saya sering mengutip judul novel beliau lainnya, Debu Cinta Bertebaran, untuk dimasukkan kedalam tulisan. Keduanya adalah karya fenomenal yang mengalami cetak ulang di dalam negeri dan luar negeri. Akan tetapi, barangkali Atheis lah yang merupakan karya terpenting dari beliau. Waktu di SMA, penggalan novel Atheis seringkali jadi bahan soal dan pertanyaan di LKS (Lembar Kerja Siswa) Bahasa Indonesia.

Pada masanya, Atheis yang ditulis sekitar tahun 1940-an mengemukakan masalah baru yang belum pernah dikemukakan sastrawan-sastrawan lain. Terlebih lagi pada masa itu atheisme mulai di kenal di Indonesia. Pemikiran Karl Marx dan Frederick Nietzsche merasuki ranah pembicaraan kaum intelektual. Atheis menjadi satu bukti respon dan keterlibatan beliau dalam diskusi tentang atheisme.

Satu lagi yang membuat Atheis akan selalu dikenang dan melegenda dalam sejarah sastra Indonesia adalah isinya yang membahas benturan nilai-nilai antara theisme dengan atheisme dalam tatanan masyarakat tradisional Indonesia. Ada konteks ikatan pertentangan budaya antara nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern serapan dari Barat. Implikasinya terlihat langsung pada benturan antara nilai-nilai kepercayaan pada Tuhan di satu sisi dan nilai-nilai penolakan terhadap Tuhan di sisi lain*).

Selamat jalan, Aki. Doa kami bersamamu. Terima kasih untuk telah jadi pembeda, antara mereka yang memilih jalan Tuhannya dan mereka yang mencoba membuat jalan sendiri menuju keabadian yang kekal.


Paninggilan, 8 Juli 2010. 23.35


*) dikutip dari Majalah Horison, April 2010

NB: Profil A. T. Mahmud dapat dibaca di website Tokoh Indonesia

Jumat, 22 Agustus 2008

BDG - GARUT via D'Cost - Catatan Seorang Navigator

Pada suatu hari Jum'at yang cerah seorang navigator yang suntuk menulis semacam catatan perjalanan


Seperti biasa, hari ini dimulai dengan sebuah pagi. Ada sebuah acara yang harus aku hadiri hari ini. Kalau dia tidak bilang "khitbah" malam itu, aku lebih memilih untuk duduk saja didepan laptop NEC itu dan melakukan yang selalu kulakukan. Baca email. Menulis blog. Melihat-lihat Friendster. Download lagu jadul. Namun, akhirnya aku tiba pada keputusan untuk pergi ke Garut saja sambil bertanya "apa kabar ijazah & transkrip?..." pada pegawai SBA yang mengurusnya. Seorang sahabat mengundang kami teman sekelasnya untuk datang mendoakannya dalam acara "khitbah-an" hari ini.


Misi kita hari ini adalah sebuah episode perjalanan: Bandung - Garut with Avanza & Karimun feat. Djarum Super. Seperti biasa, aku duduk di depan di samping Pak Supir yang sedang bekerja mengendarai Avanza supaya baik jalannya. Lho, kok mirip lagu anak-anak. Sepertinya, perjalanan hari ini akan diiringi lantunan lagu-lagu The Corrs. Memang, hanya itu satu-satunya CD yang ada di mobil sewaan ini.

Say it's true... There's nothing like me and you... 1)

Kami berangkat dengan santai. Aku hanya bisa mengenang sepanjang perjalanan ini sebagai komemorasi untuk skripsi yang membawaku naik diatas Primajasa ke Garut, bulan Maret kemarin. Aku juga teringat pada perjalanan lainnya ke Cilegon. Bandung-Surabaya, ah tentu masih.

..it's late at night...and i'm feeling down... 2)

Perjalanan seperti ini, masih seperti yang dulu. Bedanya cuma antara Avanza dan Primajasa saja. Dan sekarang aku bersama para sahabat yang tentu membuat semuanya berbeda. Aku tidak mengisi lembaran absen di kantor hari ini. This is my time. And this is special.

..what can i do to make you love me... 3)

Entah bagaimana perasaan sahabat kami Waluyo. Sentak terkejut dengan kami yang akhirnya tiba di kediaman calon Mertuanya. Suara hingar bingar dangdut sudah mulai terdengar. Dentuman irama kendang. Suara penyanyong sewaan.

..sebagai kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa.... 4)

Siomay ditusuk garpu. Bumbu kacang diaduk. Jeruk nipis diperas. Kecap mengucur. Mie kocok disiram air panas. Nasi panas mengepul. Perut lapar isi angin. Sambal Goreng Daging merah menyala. Omelet menyapa. Jus sirsak Jus Melon, makanan banyak jangan ditonton. Puding disiram fla. Lemper dikuliti terus dimakan. Djarum Super mengepul. Samsu dihisap. Garfit menyeruak.

...air mata bahagia... jangan menjadi duka...5)

Penyanyong menyanyi dapat saweran. Anak kecil nyawer Rp.1000,-. Speaker berdentum. Blitz kamera berkilatan. Jarot dangdutan nyanyi Rhoma Irama. Ketua Kelas menggumam, lagunya Deddy Damhudi. Supir Karimun SMS-an. Ada pustakawan nyanyi Kris Dayanti.

..so thank you so much.. i'm sorry goodbye...6)
***

Sang Juru Cerita belum sampai pada akhir cerita. Ia sadar karena tulisannya hari ini tak seperti biasanya. Matanya lelah. Sebagai navigator, ia belum pernah menulis catatan seperti ini.


Bukit Pakar Timur 100, 22 Agustus 2008, 17.30


1) The Corrs, Runaway
2) The Corrs, Radio
3) The Corrs, What can i do
4) Pinkan Mambo, Kekasih yang tak dianggap
5) Ikke Nurjanah, Terlena
6) Kris Dayanti, I'm Sorry Goodbye


Cerita (Kemarin) dari Garut













Ada pustakawan seneng dangdutan
Ada navigator seneng Ikke Nurjanah
Ada kontraktor nyanyi I'm Sorry Goodbye *)
Ada tukang nulis blog seneng joged
Ada calon bupati nggak mau joged
Ada tukang entri data seneng nanyain cewek
Ada Karimun ngebut dikejar setan
Ada Avanza hampir nyerempet Primajasa
Ada perempuan senengnya difotoin
Ada yang lagi nyusun skripsi dengerin Afgan
Ada yang lagi diet makan baby kailan
Ada yang lagi ngirit makan Gurame Goreng
Ada yang lagi kenyang makan Kerang Bambu
Ada pustakawan TV nelpon ke Bandung


Garut-Bandung, 21 Agustus 2008, 23.32

*) Sebuah lagu dari Kris Dayanti, I'm Sorry Goodbye

Sabtu, 16 Agustus 2008

Selendang Air Terbang Lagi - Catatan Seorang Pilot v.2


Di satu pagi yang indah sekali*) aku bangun tak biasanya. Aku terbangun karena mendengar suara orang banyak berkerumun di depan rumahku yang cuma tipe 36 itu. Oh rupanya mereka sedang beramai-ramai bekerjasama untuk memasang umbul-umbul dan bendera untuk memeriahkan kemerdekaan negara ini. Karena kamarku di lantai atas aku bisa melihat mereka semua. Anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bendera pada sebatang lidi, ibu-ibu yang tiba-tiba lupa memberhentikan tukang sayur dan lupa membuatkan sarapan, bapak-bapak yang masih mengenakan sarung sambil merokok. Semuanya berkumpul. Aku juga lihat pemuda dan remaja sedang memasang gawang di lapangan.

Maka ketika mereka melihat ke arahku. Mereka hanya tersenyum. Mereka maklum. Karena pekerjaanku seorang pilot. Seorang pilot dengan jadwal terbang yang tak tentu. Kadang sebulan aku tidak pulang, kadang pula hanya dirumah saja. Semuanya terjadi begitu saja. Tetapi, mereka masih menunjukkan rasa hormatnya padaku. Toh, aku bukan siapa-siapa, jadi aku tidak terlalu terbebani ketika mengeluarkan 5 lembar uang 100ribu untuk sekedar konsumsi mereka pagi ini.

Ketika aku sedang melamun di teras sambil merokok dan minum kopi, tiba-tiba saja henponku bernyanyi "...masihkah kau ingat... sayang...."**) lagu itu lagi. Artinya, ada telepon masuk. Hmmm. Selendang Merah menelponku. Ada apa ya, apa karena aku melanggar larangan terbang dari Uni Eropa kemarin, yang melibatkanku pada sebuah pertarungan hebat hingga akhirnya Departemen Luar Negeri dan Departemen Perhubungan turun tangan. Aduh, sial pikirku.

"Siapkan pesawat sekarang!"
"Tapi masih di GMF^), Pak."
"Siapkan sekarang. Kamu terbang hari ini. Temui saya dengan pesawat dan seluruh armada darat jam 10 tepat."
"Segera, Pak"
"Jangan lupa helikopter yang selalu kita pakai ke sawah dan ladang itu"
"Siap, Pak"

Aku tidak pernah bisa menolak panggilan sekaligus perintah Selendang Merah. Aku hanya bisa menurutinya itu saja. Aku tidak peduli apakah perintahnya benar atau salah. Itu bukan urusanku. Urusanku hanya menerbangkan pesawat, titik. Tapi, aku juga heran kenapa ia menyuruhku juga untuk menyiapkan seluruh armada. Bukannya si Sarman yang mantan reserse itu. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa mengikuti perintahnya. Hari ini pasti ada yang terjadi. Sesuatu yang besar untuk Selendang Merah. Ah, lagi-lagi-lagi itu bukan urusanku. Tapi, mungkin saja. Logis.

Aku menemuinya di base Selendang Corporation. Ia tidak banyak berkata. Ia hanya bilang, "hari ini semua armada akan digunakan ke Garut. Batalkan seluruh jadwal terbang dan perjalanan." Untungnya, hari ini semua armada sedang off karena tidak ada jadwal.

"Sarman, pimpin seluruh armada darat ke Jatinangor, Cirebon, dan Jakarta, Siapkan juga 1 bus di dekat gerbang tol Pasteur. Midun, kau bawa 737."
Tinggal aku yang belum disuruhnya.
"Kau denganku di heli"
Sudah kuduga.
"Ada pertanyaan?"
Semua diam
"Hari ini sahabatku akan tunangan. Saya minta anda semua menjemput semua teman saya yang di Bandung, Jatinangor, atau bahkan yang luar kota sekalipun, ini alamat dan kontak mereka. 737 disiapkan untuk mengangkut rombongan dari keluarga teman saya. Saya minta ba'da dzuhur semua sudah tiba di Jl. Patriot Dalam 1 No. 12. Tarogong. Tidak ada yang telat."
Semua mengangguk. Tanpa aba-aba semua bubar.

Memang semua armada darat kami adalah yang terbaik dan berbeda dari kebanyakan perusahaan travel. Kami punya Toyota Land Rover untuk angkutan reguler, Nissan Elgrand yang entah sama rasanya dengan Toyota Alphard, dan puluhan Toyota New Camry, serta 10 unit bus SAAB-SCANIA dari Swedia. Rasanya, kalo kami masih telat kami pasti malu.

Selendang Merah masih berada di kantor denganku. Rupanya ia sibuk mengatur teman-temannya agar mau datang ke Garut. Aku hanya mempersiapkan helikopter. Membuka tudungnya dan membuka kotak peralatan untuk membuka peralatan tempur yang menempel. Aku hanya menyesuaikan saja dengan tema hari ini: Pertunangan. Tidak lucu kalau kami datang ke pertunangan sahabatnya dengan peralatan tempur yang fully-loaded. Kita sudah merdeka Bung!.

"Siap-siap, kita terbang 30 menit sebelum Dzuhur. Kita shalat dulu di Masjid Raya Tarogong. Lalu, pulangnya kita makan dan berendam di Sumber Alam***)"
"Siap, Pak."
Sekarang aku yang bingung, helikopter Apache seperti yang kau lihat ini mau diparkir dimana?

Bukit Pakat Timur 100, 16 Agustus 2008, 17.49

****)dibuat untuk 2 sahabat yang akan segera bertunangan, Vita-Waluyo. Anda Inspirasinya.

^) GMF, Garuda Maintenance Facility, fasilitas maintenance pesawat maskapai Garuda Indonesia Airlines

*)Koes Plus, Pagi Yang Indah
**) Iis Sugianto - Jangan Sakiti Hatinya
***) Sebuah resort di Cipanas, Garut

Selasa, 12 Agustus 2008

Hanya Sebuah Cerita Tentang Skripsi

Setelah postingan kemarin hanya berisi lagu-lagu lama yang menemani beberapa scene episode dalam perjalanan saya. Mulai dari perjalanan skripsi yang dimulai bulan November 2007 dengan target Januari 2008 selesai namun harus tertunda hingga Maret 2008.

Dan efektifnya skripsi berjudul "Faktor-faktor Pendorong dalam Pemilihan Bacaan Komik" itu hanya dikerjakan dalam waktu hanya sebulan saja. Artinya pada bulan Januari telah terjadi pembuangan dan kesia-siaan waktu secara besar-besaran. Namun, justru disitulah saya menemukan jalan saya. Setelah berlalu begitu saja tanpa perubahaan apa-apa akhirnya pada tanggak 14 Februari saya terpacu karena sudah ada teman saya yang lulus duluan. Ironisnya, BAB I baru di acc seminggu kemudian (tgl 21).

Perjalanan dengan skripsi ini telah membawa saya juga pada sebuah perjalanan ke Garut untuk mewawancarai narasumber. Banyak sekali kisah dalam pembuatan skripsi ini. Singkat cerita, saya tidak punya waktu untuk mereview kembali karena begitu hari ini saya simpan draft, besoknya langsung disidang dan ternyata saya lulus.

Life is a road that i want to keep going
Love is a river i want to keep flowing
Wonderful journey *)

*) Richard Marx & Donna Lewis - At The Beginning

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...