Tampilkan postingan dengan label komik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2025

Kisah Komikus Legendaris Dunia

Sumber gambar: Koleksi Pribadi

Awalnya, saya merasa harus ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Menagapa? Jarang sekali penulis Indonesia menulis tentang komik, baik mengenai profil komikusnya ataupun reviu atau telaah kritis terhadap karya komik. Buku ini, IMHO, menambah khazanah dunia perkomikan di Indonesia. Saya harus akui itu karena saya merasakan sendiri kesulitan ketika mencari referensi lokal menyangkut komik dan profil pembuat komik. Ya, skripsi saya juga tentang komik!

Menyenangkan rasanya membaca daftar isi buku yang tidak hanya melulu soal komikus dari mancanegara. Penulis menyisipkan dua nama legendaris dalam dunia perkomikan Indonesia. Ada R.A. Kosasih dan Ganes TH. Keduanya tampil namun mengapa ditempatkan di halaman belakang sesudah kita membaca bagaimana kelahiran kartun Popeye The Sailorman dan meriahnya komik Mickey Mouse karya Walt Disney.

Lainnya, saya harus menyampaikan bahwa pembacaan profil dari komikus mancanegara ini rasanya sama dengan membaca halaman Wikipedia yang diterjemahkan. Saya setuju bila penulisnya menyadur kemudian menuliskan kembali hal tersebut itu sah-sah saja. Penulisnya pun sudah menyampaikan bahwa buku ini disusun dengan menggali berbagai sumber daring maupun luring.

Andai saja, penulisnya dapat memberikan daftar pustaka untuk sumber rujukannya tentu buku ini akan lebih "garang". Ditambah lagi, tidak adanya keterangan hak cipta pada gambar-gambar yang disisipkan dalam setiap judul pembahasan. Walaupun, gambar-gambar itu adalah hasil karya komikusnya sendiri namun alangkah lebih baiknya bila sumber hak ciptanya disebutkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Anyway, apapun itu, saya turut menikmati buku ini sebagai satu karya yang turut mengisi dan memperkaya khazanah perkomikan di Indonesia. Harapannya, supaya siapapun yang ingin meneliti atau membuat telaahan mengenai komik tidak kesulitan lagi dalam mencari referensi. Semoga.

Judul        : Kisah Komikus Legendaris Dunia
Penulis     : Anton W.P.
Penerbit    : Penerbit Katta
Tahun        : 2010
Tebal        : 128 hal.
Genre        : Komik-Biografi

Ciputat, 2 September 2025
Hari Ulang Tahun Bapak. 

Senin, 09 September 2024

(Saya Tidak Pernah Bosan) Mengintip Jakarta

Saya membaca komik untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Tentunya, si komik ini haruslah pula bisa jadi bahan tertawaan buat diri kita sendiri. Seperti komik ini, komik kompilasi dari tiga orang seniman komik yang memiliki ciri khas masing-masing.

Courtesy: www.goodreads.com


Tidak ada yang baru dengan tema seputar Jakarta. Jakarta masih selalu seperti itu. Masih dengan hiruk-pikuknya di hari kerja dari hari-hari lainnya yang tidak pernah sepi. Agaknya, ketiga komikus ini dapat menangkap eh mengintip Jakarta dari sisi lain yang tentu saja seputar kehidupan yang mereka jalani. Di Jakarta, tentunya!

Komik ini terbit pertama kali pada tahun 2014, lalu naik cetak kembali pada tahun 2015 dan 2016. Tahun-tahun dimana Komik Indonesia banyak bermunculan dari beragam penerbit lokal juga yang berusaha memfasilitasi komikus-komikus berbakat untuk berkarya. Sebuah fenomena yang menarik karena mereka dapat mengangkat tema yang relate dengan kehidupan sehari-hari pada tahun-tahun mendatang.

Isu yang diangkat komik ini masih sangat relate dengan keseharian warga Jakarta. Saya sendiri sampai kadang tertawa sendiri setiap mengulang pembacaan. Maklum, beberapa tahun lalu saya sempat mengalami beberapa sketsa yang diintip oleh para komikus penulisnya. Tak heran, saya tidak pernah bosan.

Judul           : Mengintip Metropolitan
Penulis        : Haryadhi, Sheila Rooswitha, "Mice" Misrad
Penerbit       : Octopus Garden
Tahun          : 2014
Tebal           : 144 hal.
Genre          : Komik Urban

 

Cipayung, 8 September 2024

Senin, 04 Desember 2023

Why? Science Standards, Memahami Standar Lewat Komik

Sumber gambar: www.gramedia.com


Sejatinya, komik serial Why? ini adalah komik edukasi untuk anak-anak dengan rentang umur sekolah dasar. Tujuannya, agar mempermudah proses pembelajaran anak dalam pelajaran yang berkaitan dengan sains atau ilmu pengetahuan alam. Sepanjang pembacaan, andaikan buku ini ada saat saya masih sekolah dulu, mungkin hidup akan jadi lebih mudah. Halaah. Andaipun begitu, saya beleum tentu punya uang untuk membelinya.

Membaca komik ini membawa ingatan saya kembali pada masa awal sekolah menengah pertama. Saya kembali mengingat pelajaran Fisika, terutama tentang satuan-satuan yang digunakan dalam Sistem Internasional. Lewat pembacaan, saya merefresh kembali memori tentang beberapa satuan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya, dengan komik ini pembaca dibuat paham tentang mengapa harus ada satuan atau ukuran pengukuran yang sama melalui cerita Paman dan Komji yang kembali ke Zaman Babilonia dimana Kerajaan Assyria (Asiria) berusaha memperluas pengaruhnya.

Komik ini juga memberi penekanan bahwa standar adalah ‘akar dari sains’. Standardisasi  memiliki peranan yang besar terhadap kemajuan sains. Bagaimana pentingnya? Penjelasan dalam cerita petualangan Komji dapat membantu pembaca untuk setidaknya memahami mengapa asal mula keseragaman pengukuran dan bagaimana pengaruhnya terhadap kemajuan dunia dan ilmu pengetahuan.

Komik serial ini memiliki banyak judul yang tentu saja masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Buku ini lebih dulu saya tamatkan karena judulnya ‘agak saintifik’ untuk saya yang medioker ini. Saya masih ada dua buku Why? lagi untuk ditamatkan. Anyway, saya sangat menikmati pembacaan komik ini. Sedikit membuat dahi berkenyit tapi ya sudahlah...!

Judul           : Why? Science Standards, Standar Pengukuran
Penulis        : Yea Rim Dang
Penerbit       : Elex Media Komputindo
Tahun          : 2019
Tebal           : 160 hal.
Genre          : Komik Sains



Pajang, 4 Desember 2023


Senin, 27 November 2023

Kepiting Bercapit Emas: Membaca Kembali Tintin

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Membaca lagi Tintin berarti mengulang kembali kisah baca saya puluhan tahun yang lalu. Saya harus mampir ke rumah saudara untuk meminjamnya. Buku komik semacam serial Petualangan Tintin ini habis dibaca sekali duduk. Juga karena ini bukan kali pertama jadi saya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk menamatkannya.

Kisah rekaan dengan intrik-intrik spionase ini tentu sangat melatih pemahaman saya waktu kecil. Dulu, saya harus membaca berulang kali untuk dapat memahami cerita Tintin. Tentang bagaimana clue, kode, atau petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan alat investigasi yang menuntun pada pembuktian dan pemecahan sebuah kasus.

Anyway, saya menikmati sekali pembacaan kembali Tintin. Tentu saja terima kasih saya ucapkan pada Istri saya yang masih mau membeli komik Tintin. Barangkali, kami berdua sedang butuh jiwa petualang untuk kembali berlayar satu kayuh berdua. Semoga.
 
 
Judul           : Petualangan Tintin: Kepiting Bercapit Emas
Penulis        : Herge
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2015
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Komik-Petualangan


Pajang, 27 November 2023.


Senin, 28 Maret 2022

Si Juki #BeraniBeda

Buku ini adalah buku Si Juki kedua yang pernah saya baca. Nuansa humornya dapet banget. Mirip ketika menamatkan pembacaan buku lainnya, yaitu #BeraniGagal. 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Dalam cerita ini, Pembaca disuguhkan awal mula dan asal usul Si Juki. Agaknya hal inilah yang menjadi nilai tambah untuk dapat memasuki dunia Si Juki. Andaikan saya membaca buku ini lebih awal, mungkin saya juga akan terinspirasi untuk mengajukan diri menjadi Presiden hahaha.

Pada edisi ini juga, saya disadarkan bahwa jomblo pun dapat menjadi suatu hal yang harus diperjuangkan. Saya menemukan bahwa jomblo harus tetap dapat menjadi entitas yang membanggakan. Tidak salah rasanya bila Si Juki membuat "Front Pembela Jomblo". Suatu hal yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.

Akhirul kata, saya membaca buku ini jauh setelah terbitnya (medio Juni 2014). Namun, tidak mengurangi esensi dari keseruan dan kelucuan dari seorang Muhamad Marzuki a.k.a Si Juki.

Judul       : #BeraniBeda: Juki Untuk Indonesia Satu
Penulis    : Faza Meonk,Yahya Muhaimin, et. al.
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2014
Tebal       : 152 hal.
Genre     : Komik Indonesia
 


Pajang, 28 Maret 2022

Rabu, 17 November 2021

Rumah Mice, Rumah Kita Juga!

Sumber gambar: Mice Cartoon Official Facebook

Menyenangkan sekali rasanya dapat membaca kembali komik dari Mice. Terlepas dari judul ataupun subjeknya. Komik yang habis dibaca sekali duduk ini menampilkan sisi lain dari komik Mice lainnya yang saya punya dan pernah baca sebelumnya. Dalam posisi saya yang kini sama seperti Mice-berkeluarga K2, membaca komik ini memberikan perasaan "heartwarming". Adalah keseharian keluarga yang tentunya kebanyakan sudah kami rasakan di rumah kami yang mungil (dan tepat di Tangsel juga :)))) ).

Segala macam perasaan bercampur aduk kala Mice menyuguhkan komik strip dengan kejadian yang pernah saya alami. Sangat dekat rasanya, sehingga saya sering teringat kembali pada perasaan kala mengalah untuk menuruti keinginan putri kecil saya. Kadang, kalau diingat kembali jadi sering membuat saya nyengir sendiri.

Anyway, sebelum dibukukan komik ini tadinya pernah rutin terbit untuk Ciayo Comics. Alangkah tertinggalnya saya karena saya hampir kehilangan jejak karya dari Mice Misrad sebelum menemukan komik ini. 

Dilabeli Parenthood dan Semua Umur, tidak salah bila komik ini ditujukan untuk seluruh anggota keluarga. Plus, anak-anak pun dapat membaca komik ini karena tidak ada konten berbahaya atau explicit content (macam sampul album Slipknot dkk :D). Sedikit catatan, ada hal yang dapat jadi pertimbangan tentang bagaimana cara Mice Misrad menyikapi anak-anaknya dalam menggunakan Youtube. Kita memang tidak bisa menghindarinya, tetapi kita sebagai orang tua dapat mengaturnya.

Saya setuju bila Mice Misrad kembali membuat komik lanjutan dari volume 1 ini. Ataupun, menerbitkan komik baru dengan tema yang sama. Sometimes, we need a heartwarming stories to keep our heart warm.

 

Judul           : Rumah Mice: Home is Where Our Story Begins Vol. 1
Penulis        : Muhammad 'Mice' Misrad
Penerbit       : m&c
Tahun          : 2019
Tebal           : 80 hal.
Genre          : Komik-Keluarga

CGK, 17 November 2021.

Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 September 2017

Baracas

Saya tidak tahu bahwa Barisan Anti Cinta Asmara ini sempat difilmkan. Kalaupun memang begitu tentulah tampilan grafis visual tentu lebih memuaskan dari sisi cerita karena penonton bisa mengetahui jalan cerita secara utuh.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri lebih suka Baracas versi buku karena lebih sederhana dan to the point. Tampilan visual tokoh komik juga bagus, penempatan teks dan pemilihan huruf yang minimalis dan memudahkan pembacaan sehingga membuat perasaan nyaman, nyaman di mata dan nyaman di hati.

Buku ini merupakan adaptasi resmi dari film berjudul sama yang diproduksi oleh thepanasdalammovie dan Max Pictures. Buku ini semakin berkesan dengan penggalan lirik lagu The Panas Dalam, 'Tenang Saja'... Apabila setelahnya kita saling lupa.

Cipayung, 10 September 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Negara 1/2 Gila

Sumber gambar: www.goodreads.com
Keseharian dan tingkah laku orang Indonesia memang terkadang patut ditertawakan. Sekaligus menjadi bahan perenungan bahwa bangsa yang katanya bangsa besar ini rakyatnya masih memiliki perilaku dan sikap tidak peduli. Kemunculan para seniman komik masa kini sebenarnya sudah sering mengangkat tema ini. Dengan ragam dan ciri khas keunikan visual masing-masing.

Agaknya, itu pula yang membuat Trio Komikus di Negara Setengah Gila ini turut hadir ‘menertawakan’ bangsanya sendiri. Rumrum, Dody, dan Mujix, merepresentasikan sebuah ide tentang perilaku-perilaku yang ‘Indonesia Banget’. Tentunya, menggiring tawa namun penuh makna, apakah hal ini akan terus kita biarkan sehingga menjadi sesuatu yang selalu melekat dan tak mungkin lepas?

Terlepas dari kenyataan itu dimana terjadi pertarungan wacana antara kenyataan dan imaji kreatif, komik ini sangat menghibur. Kita tidak bisa mengelak dari satu fungsi komik sebagai bahan bacaan rekreatif. Ketiga seniman komik berhasil melahirkan kembali ide lama menjadi sebuah karya dengan tampilan visual yang unik.

Judul       : Negara 1/2 Gila
Penulis    : Dody-Mujix-Rumrum
Penerbit  : MediaKita
Tahun      : 2013
Tebal      : 92 hal.
Genre      : Komik Indonesia


Cipayung, 28 Agustus 2017

Minggu, 30 April 2017

The Tide Turns: Pendaratan Bersejarah di Normandia

Sumber gambar: www.amazon.com
Pada 6 Juni 1944, Operasi Overlord dimulai. Sekutu mengerahkan sejuta prajurit untuk merebut Pantai Normandia, Perancis dari cengkeraman NAZI Jerman. Serbuan sekutu ini menjadi titik balik medan laga di Perang Eropa selama masa Perang Dunia II karena sesudahnya mengubah posisi NAZI Jerman yang semula gigih menyerang menjadi bertahan, sebelum akhirnya berangsur-angsur mundur dan kalah usai Battlle of The Bulge.

Invasi ke Normandia menandai dibukanya garis depan pertempuran yang kedua di Eropa. Serangan ini merupakan bencana terbesar bagi Hitler dan Angkatan Bersenjata Jerman. Selain bertujuan menghadirkan tentara sekutu di wilayah Eropa daratan, serangan ini juga memutus akses Jerman dengan pelabuhan-pelabuhan Atlantik di Perancis. Dengan begitu, pertempuran yang dilakukan oleh kapal selam Jerman, U-Boat juga dipastikan dapat berakhir.

Lepasnya Normandia juga berpengaruh besar bagi sistem peringatan dini Angkatan Udara Jerman, Luftwaffe. Hilangnya sistem radar berarti Jerman menjadi vulnerable terhadap serangan udara dari Sekutu. Hilangnya Luftwaffe di langit Eropa menandai kesuksesan pesawat pembom Sekutu untuk melakukan pemboman dan mendukung pergerakan pasukan.

Komik ini berusaha menghimpun semua yang berserakan dari invasi yang lebih dikenal dengan istilah 'D-Day'. Doug Murray berhasil menampilkan episode-episode penting kejatuhan NAZI Jerman dalam ruang bingkai yang terbatas. Tentu, tidak perlu ada pergulatan wacana mengenai sudut pandang yang digunakan sang komikus dalam karyanya ini. Sudah tentu, sang pemenang peranglah yang berhak menentukan sejarah atas pencatatan tragedi runtuhnya Third Reich.

Judul           : The Tide Turns: D-Day Invasion
Penulis        : Doug Murray
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun          : 2008
Tebal           : 48 hal.
Genre          : Sejarah-Komik
 

Cipayung, 30 April 2017.

Biografi Grafis Che Guevara

Sumber gambar: www.goodreads.com
Memang belum ada batasan mengenai biografi grafis dengan komik. Apakah komik boleh mewakili sebuah bentuk biografi yang diulas secara grafis atau sebaliknya, biografi grafis yang dibuat menjadi sebuah komik. Yang jelas, apapun penjelasannya, sebuah biografi grafis berisi komik ini dapat dengan mudah mengisahkan kepada pembaca biografi singkat tokoh revolusioner, Ernesto 'Che' Guevara.

Siapa yang tidak kenal Che Guevara. Seorang ikon dan figur dengan citra yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak kematiannya, Che telah menjadi legenda abadi. Ia terpampang dimana-mana: kaos, topi, pin, spanduk, kotak rokok, sampul kaset, dan lain-lain. Lelaki kelahiran Rosario, Argentina tanggal 14 Juni 1948 ini tersohor sebagai ikon revolusi.

Buku ini menyoroti perjalanan kehidupan Che Guevara yang kemudian membentuk karakternya. Mulai dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, kelak difilmkan dengan judul "The Motorcycle Diaries"; saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalanannya ke Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.

Sebagai sebuah karya terjemahan, buku ini menjadi mewah dengan esai penutup dari Sarah Seidman dan Paul Buhle, yang mengangkat tema "Che Guevara, Antara Gambar dan Realita". Dalam esai disebutkan bahwa Che Guevara telak menjadi ikon bagi sebuah perubahan atau revolusi. Ikonisasi Che seperti itu dengan cepat mewabah dan menjadi kodifikasi dalam pergulatan wacana sebuah organisasi. Che dieksploitasi menjadi asosiasi dari wacana revolusioner. Namanya kerap digunakan anasir tertentu untuk mengidentikan dirinya dengan sesuatu atau hal yang berbau revolusioner.

Adanya esai pada buku biografi semacam ini turut berkontribusi memberikan wawasan bagi kaum muda yang lahir pasca Revolusi Kuba. Esai ini turut memperkaya khazanah pengetahuan mengenai sosok seorang pejuang humanis yang ditangkap rezim penguasa Bolivia pada 8 Oktober 1967. Dengan begitu, Che tidak hanya akan hidup bersama pembaca melalui gambar komik, tetapi pembaca akan mendapat gambaran utuh tentang pengaruh Che yang lebih jauh pasca kematiannya.

Judul           : Che: Sebuah Biografi Grafis
Penulis        : Spain Rodriguez
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2008
Tebal           : 108 hal.
Genre          : Biografi-Komik
 

Cipayung, 28 April 2017.

Jumat, 31 Maret 2017

Kosmik: Harapan Untuk Komik Indonesia

Sumber gambar: Captured from Kosmik.id

Perkembangan komik Indonesia (komik buatan komikus Indonesia) pasca terbitnya skripsi komik saya di tahun 2008 cukup mengagumkan. Kemajuan ini ditandai dengan munculnya berbagai media penerbitan, mulai dari konvensional dan digital. Macam ojek dan taksi saja. 

Saya tidak akan memberi penilaian khusus pada tampilan komik karya komikus Indonesia yang banyak dipengaruhi gaya manga asal Jepang. Saya juga tidak akan memberi judgement mengenai bagaimana seharusnya komik dikemas sebagai sebuah budaya dan produk ekonomi. 

Ada banyak cara di jaman information superhighway ini untuk membaca komik. Banyak website bermunculan yang menampilkan produk komik populer. Namun, khusus untuk komik Indonesia saya akan memberi catatan untuk Kosmik. Sebuah website untuk membaca komik secara online yang bisa diakses di www.kosmik.id. Kosmik juga hadir di platform Android.

Untuk membaca komik, pembaca bisa melakukan registrasi. Karena dikemas sebagai online marketplace juga, maka pembaca akan memiliki akun sebagaimana layaknya online shop untuk membeli produk-produk yang ada di Kosmik. OK, ada ekonomi yang berjalan disini. 

Kosmik hadir untuk menampilkan komik bagus kepada pembacanya. Kosmik juga berusaha  membantu penerbitan komik secara editorial, pemasaran, distribusi serta edukasi komik supaya lebih banyak lagi komik bagus yang lahir dan tersebar di bumi. 

Saya setuju. Kami pembaca komik memang butuh komik bagus. Tidak hanya bagus secara visual tetapi juga punya cerita yang bagus dan alangkah lebih bagus lagi bila cerita itu memang dekat dengan keseharian kita sehingga kita bisa lebih paham bila hidup ini dipandang dari sisi sebuah komik.

Serpong, 30 Maret 2017.


Jumat, 10 Maret 2017

Kaldu Ikan

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak tahu mengapa karya yang cukup bersejarah ini dinamai ‘kaldu ikan’. Entah karena memang dalam konteks perayaan setengah abad hubungan bilateral Indonesia-Jepang sehingga untuk menghormati kebiasaan makan ikan orang Jepang dipilihlah judul itu. Sejatinya, kaldu adalah hasil turunan dari produk protein hewani. Maka dari itu, untuk mengambil simpulan yang lebih sederhana kita anggap saja kalau kaldu ikan ini adalah hasil turunan dari dialog dan dialektika kebudayaan dua negara sahabat, Indonesia – Jepang. Ada pendapat lain? Silakan. 

Komik yang bertajuk ‘Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang’ adalah sebuah karya kolaboratif. Proyek ini digagas oleh Takahashi Mizuki dan Ade Darmawan untuk menerbitkan buku kompilasi komik di Indonesia yang merupakan karya seniman Indonesia dan Jepang. Komik ini diterbitkan sebagai bagian dari “KITA!!: Japanese Artists Meet Indonesia” yang diselenggarakan untuk merayakan 50 tahun hubungan diplomatic bilateral Indonesia-Jepang. Pameran itu juga diikuti oleh 50 seniman yang aktif dan giat berkespresi di berbagai bidang, mulai dari seni, desain, manga, hingga tata boga.

Menariknya, komik ini juga bisa didapatkan secara gratis di berbagai lokasi pameran di Jakarta (The Japan Foundation, ruangrupa), Bandung (Selasar Sunaryo Art Space), dan Yogyakarta (Museum Nasional Yogya, Rumah Seni Cemeti, Lembaga Indonesia Perancis, Ruang Mes 56). Selain itu, anda bisa mendapatkan komik ini langsung dari komikusnya. Walaupun gratis, komik ini hanya dicetak 3000 eksemplar saja. Saya beruntung jadi satu dari 3000 orang pemilik komik ini.

Ide komik ini digagas oleh Ade Darmawan (curator ruangrupa) dan Takahashi Mizuki yang seorang seniman asal Jepang. Takahashi, menyinggung soal komik Jepang yang tidak diimpor oleh Indonesia. Komik buatan seniman Jepang dalam ‘Kaldu Ikan’ ini bukan diciptakan atas dasar strategi untuk mengincar kesuksesan eksplosif secara komersial. Oleh karenanya, tidak mudah untuk diekspor dan impor. Selain itu, identitas gaya ekspresi yang khas dan tetap memiliki jalur akses pada sastra, kesenian, desain, dan sebagainya itulah yang menjadikan keempat komikus ini mendapat tempat di perayaan ulang tahun bilateral Indonesia-Jepang.

Sementara, Ade Darmawan menganggap terbitnya komik kolaborasi ini sebagai energy baru dari sebuah pertukaran gagasan interdisiplin yang intens sehingga pengkayaan gagasan dari disiplin lain terjadi. Komik harus mempunyai keluasan wawasan dan kontekstualitas. Kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya seperti sastra, social-politik, sejarah, arsitektur, filsafat dan lainnya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya komik yang kaya akan gagasan lain selain “menggambar”. 

Pilihan keempat komikus Indonesia dalam komik ini adalah karena masing-masing dari mereka memperlihatkan keberagaman pendekatan yang sangat kuat dalam bertutur melalui gambar yang telah secara intens mereka lakukan dalam waktu yang cukup lama. Gambar hanya sebuah pintu awal yang atraktif dalam mengundang kita ke lapisan-lapisan gagasan lainnya. Bila anda menginginkan sebuah nama besar, Beng Rahadian ada dalam deretan komikus “Kaldu Ikan”.

Untuk saya pribadi, komik ini justru terbit usai selesainya skripsi komik saya. Sehingga, saya tidak bisa menambahkan dimensi lain dari seni komik Jepang (manga) dan perkembangan komik yang lebih actual di Indonesia. Komik favorit saya adalah komik karya Dwinita Larasati yang berjudul “Prajab 12 Desember 2007”. Barangkali, ini terkesan subjektif karena saya mengalami juga yang namanya Diklat Prajab pada Maret 2011. Namun, jauh sebelum Diklat Prajab, saya sudah menyenangi bahasa gambar buatannya. Storyline yang berurut serta ilustrasi yang mengingatkan akan kenikmatan kuliner khas kota Bandung (yang ini alasan subjektif).


Judul           : Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang
Penulis        : Takahashi Mizuki, Ade Darmawan (ed.)
Penerbit       : The Japan Foundation
Tahun          : 2008
Tebal          : 126 hal.
Genre          : Komik

Medan Merdeka Barat, 9 Maret 2017.

Jumat, 30 Desember 2016

Komik Perang Gaya Amerika

Courtesy: www.goodreads.com
 
Saya pikir pada awalnya buku ini hanyalah komik biasa yang bercerita soal pertempuran-pertempuran yang sudah dilalui oleh militer Amerika Serikat (USA). Saya yakin akan ada banyak cerita tentang kejayaan negeri Paman Sam di setiap kancah pertempuran yang dihadapinya. Namun, saya ternyata salah. Komik ini menjadi semacam anti-hipotesis dan kritik bagi seluruh pembenaran militer USA dalam setiap keterlibatan mereka dalam beberapa konflik bersenjata.
 
Serangan 11 September 2001 hanyalah gerbang lain dari sifat kecanduan pemerintah USA terhadap perang. Sifat yang sudah bertahan sejak dua abad lebih, dimulai dari perang Indian hingga pendudukan terhadap Afghanistan. Buku ini diawali dengan pengungkapan tentang ‘Manifest Destiny’, sebuah paham yang menjadi dasar penaklukan dan penguasaan. 

Fakta-fakta lain kemudian bergulir. Militer USA turut berperan dalam konflik bersenjata di beberapa negara kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Perang Dingin dengan Rusia pun menjadi agenda besar yang mau tidak mau harus dimenangkan demi sebuah tatanan dunia baru. Terorisme adalah isu baru yang menjadi pembenaran bagi mereka untuk ‘mengamankan’ dunia. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah masih belum akan menemukan solusi. 

Kembali ke awal, sebenarnya keterlibatan militer dalam setiap urusan USA adalah tidak murni didorong oleh urusan militer itu sendiri. Umpamanya, ancaman dari pihak luar. Namun, kepentingan pemodal yang didorong modal besar dan nafsu kepemilikan pasar turut menjadi faktor utama yang jadi latar belakang utama keterlibatan militer. Belum lagi, kepemilikan pemodal atas media juga turut menentukan  wacana yang berkembang di seantero negeri. Propaganda militer menjadi lebih terarah seiring dengan opini yang berkembang di masyarakat mereka. Sempurna!

Komik ini setidaknya menjadi obat pelawan lupa bagi mereka yang masih ‘sadar’ akan kemanusiaan. Gejolak perlawanan muncul juga dalam masyarakat Amerika Serikat. Namun, gaungnya tidak sebesar propaganda penguasa. Melalui komik ini, kita sebagai warga negara Indonesia wajib merenungi imbas dari propaganda dan kampanye global tersebut. Apakah bangsa kita ini sedang dijadikan the next target atau malah sudah dan sedang menjalani ‘perang’ yang dimaksud?

Saya sendiri mencermati beberapa hal selain yang sudah disebutkan diatas. Bahwa, untuk USA cara mereka untuk menguasai satu wilayah; entah negara atau bangsa, adalah melalui perang. Tentu penguasaan satu wilayah tersebut akan relatif lebih mudah bila semua isinya sudah dihabisi. Kalau sudah begitu, tinggal menjalankan apa yang sudah digariskan dan jadi tujuan. Eksplorasi sumber daya alam, sebut saja minyak, misalnya. Sebuah pola pikir barbar yang sayangnya masih bertahan hingga saat ini.

Anyway, menarik juga untuk membaca beberapa testimoni yang menghiasi komik ini. Saya tidak menyangka bahwa Martin Sheen, aktor dalam film Hot Shot, parodi dari Top Gun, ikut berkomentar dalam testimoninya disini. Bagaimanapun, penolakan terhadap perang akan selalu ada. Sebagaimana desingan peluru di Timur Tengah. Hingga batu bicara, barangkali.

Judul           : Nafsu Perang: Sejarah Militerisme Amerika di Dunia
Penulis        : Joel Andreas
Penerbit      : Profetik
Tahun          : 2004
Tebal          : 82 hal.
Genre          : Sejarah-Amerika Serikat
 

Cipayung, 28 Desember 2016.

Jumat, 29 April 2016

Komik Perencanaan Keuangan

Courtesy: www.goodreads.com
Eksistensi komik sebagai media penyampai pesan yang efektif kembali diuji melalui komik ini. Setidaknya itu hipotesis yang saya ajukan usai pembacaan komik ini. Komik ini saya beli empat tahun yang lalu, dan baru beberapa hari kemarin ditemukan sehingga saya baru bisa tulis di blog sekarang. Padahal saya sempat membuat review singkat di Goodreads.

Perencanaan keuangan. Sesuatu yang selalu menjadi topik pembicaraan seputar masalah manajemen keuangan. Apalagi, booming kelas menengah yang sedang melanda negeri ini membuat segala tetek bengek soal perencanaan keuangan mendapat tempat sendiri dalam masyarakat. Peran perencana keuangan mulai dibutuhkan untuk menanggulangi kecemasan di masa depan.

Perencanaan keuangan yang baik tentu dimulai dari kesadaran yang timbul sebagai akibat dari ekspektasi. Pada suatu kondisi dimana uang menjadi barang yang langka, tentu dibutuhkan strategi khusus untuk tetap memilikinya. Masalahnya, hingga saat ini masyarakat belum memiliki suatu guidance/petunjuk yang jelas soal investasi dan instrumen keuangan lainnya agar uang yang mereka miliki dapat tumbuh dan berkembang. 

Media komik sebagai media komunikasi visual dapat membantu kesenjangan informasi mengenai hal tersebut. Penyampaian gagasan dari Financial Planner terkemuka di negeri ini menjadi satu nilai tambah tersendiri bagi muatan pesan yang ingin disampaikan. Saya pun harus kembali menguji hipotesis saya, apakah pembaca mampu menerapkan pelajaran manajemen keuangan setelah membaca komik ini? Saya kira nanti saja, di tulisan yang lain. Entah kapan.

Akhir kata, selamat belajar merencanakan keuangan.

Judul        : Komik Perencanaan Keuangan Mr. Edu
Penulis     : Mike Rini Sutikno
Penerbit   : PT. Elex Media Komputindo
Tahun       : 2010
Tebal        : 120 hal.
Genre       : Manajemen-Keuangan

Medan Merdeka Barat, 26 April 2016.

Kamis, 26 Maret 2015

Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu

“Tuhan, berikanlah zaman kala bendhu setiap hari, supaya besok pagi saya bisa tetap berkarya.”

Kira-kira begitulah bunyi doa seorang karikaturis setiap hari. Pengharapan setiap harinya adalah sebuah inspirasi baru dari suatu zaman atau masa yang ditinggali dan dijalaninya. Karya yang dibuatnya setiap hari adalah bukan hanya sebuah pesan belaka. Gambar yang dibuatnya menjadi sebuah saluran untuk menyuarakan pendapat dan menyebarluaskannya pada khalayak ramai.

Ketika saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik tersumbat, maka karikatur merupakan salah satu jawabannya. Satir yang dituangkan ke dalam gambar membuat daya kritik menjadi tidak langsung, sehingga tidak terlalu terasa menyakitkan. Sejak kemunculannya yang pertama, Panji Koming menjadi saluran untuk mengemukakan ketidakberdayaan. Saat zaman membuat sulit untuk menyampaikan pendapat atau kritik, karikatur menjadi penting dan bermakna.



Kritikan melalui karikatur tetap mempunyai tempatnya sendiri. Hanya, pengukuran kualitas menjadi lebih berat karena yang dituntut bukan hanya alur cerita yang mengalir ataupun komposisi gambar yang lebih mengena tetapi kualitas kritikan yang lebih cerdas.

Panji Koming membuat kita jadi semakin melek informasi. Panji Koming selalu cerdik dalam menemukan sudut pandang yang unik dalam menatap sebuah peristiwa sosial dan politik. Walaupun, mengambil rentetan peristiwa Zaman Majapahit, tetap saja dengan mudah kita mengaitkannya dengan fakta-fakta kontemporer.

Sejak Orde Baru masih bertahta, Panji Koming cenderung tampil serba tersamar dan cenderung tiarap. Ada kesengajaan adegan untuk dikaitkan kepada penguasa negara. Hingga masa orde reformasi dengan segala keterbukaan saat ini, Panji Koming tidak serta merta mengubah tutur ucapnya. Panji Koming tetap hadir dalam kemasan yang bijaksana, santun, nylekit, dan mengusung atmosfir budaya Jawa, guyon parikeno.

Kala Bendhu merupakan keberadaan dalam pemikiran masyarakat Jawa tentang zaman yang terkutuk dan sangat tidak menyenangkan. Kurang lebih, masyarakat secara umum dikuasai kebendaan. Dalam pandangan kartunal, zaman Kala Bendhu disebutkan sebagai zaman culun dan menyebalkan. Bagi kartunis, hal ini jadi lahan berkembangnya kreativitas yang sangat luas, aneh dan beragam. 

Pada edisi ini, Panji Koming mengambil plot Indonesia tahun 2003 hingga 2007. Zaman yang lebih memekik daripada Orde Baru, dimana peninggalan sisa-sisa Orde Baru belum sepenuhnya surut. Tahun-tahun yang penuh dengan tebaran peraturan dan tuaian pelanggaran. Penuh dengan lagu tanpa nada, penuh dengan nada tanpa suara. Penuh dengan penyanyi tanpa manusia. Ibarat telur diujung tanduk. Panji Koming menggiring kita untuk melihat keatas, bagiamana para pengatur negeri ini...membiarkan telur nangkring di ujung tanduk.

Judul        : Panji Koming: Kocaknya Zaman Kala Bendhu
Penulis     : Dwi Koendoro Br
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 144 Hal.
Tahun       : 2008
Genre       : Karikatur-Komedi


Dharmawangsa, 26 Maret 2015.

Rabu, 25 Maret 2015

Islam Hari Ini



Sejak pertama kali melihat sampul komik ini, saya menebak bahwa muatan isi dan gambarnya tidak jauh berbeda dari komik serupa karya vbi_djenggotten. Ternyata, saya salah. Komikusnya, Alisnaik bin  Kiansila, punya gaya gambar dan peceritaan sendiri.

Komik ini dibagi kedalam beberapa judul kecil. Jadi, terlihat seperti semacam sketsa pendek. Walau begitu, muatan isi komik ini penuh dengan pesan yang menohok.Sebagian pengalaman si komikus dituangkan sebagai refleksi. Alhasil, pengalaman tersebut terasa lebih kaya dan mengena.

Sketsa pendek berjudul "Berhala Modern" terasa begitu nyata karena ada dalam keseharian kita. Agaknya, yang dibahas dalam komik ini memang menyadarkan kta kembali untuk tidak melupakan hal-hal kecil dan mengabaikan hal-hal atau urusan yang lebih besar .

Dukung terus komik dan komikus Indonesia!

Judul        : Islam Hari Ini: Yang Kecil Terlupakan, Yang Besar Terabaikan
Penulis     : Alisnaik
Penerbit   : Qultummedia
Tebal        : 140 Hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Komik Islami


Dharmawangsa, 24 Maret 2015.

Senin, 09 Maret 2015

Asterix Series: Sang Penghasut

Asterix lagi-lagi berhasil menggagalkan penyerbuan Romawi ke Galia kendati Julius Caesar telah mengutus seorang penghasut. Si Penghasut ditugaskan untuk merusak tatanan masyarakat Galia dengan taktik adu domba. Si Penghasut berhasil menjalankan tugasnya. Bahkan Asterix dan Obelix sendiri hampir menjadi korbannya kalau bukan karena keakraban mereka.



Dengan keadaan kacau balau di Galia, pasukan Romawi akhirnya menyerbu. apalagi setelah Si Penghasut berhasil meyakinkan Panglima Romawi bahwa ia telah menemukan ramuan jamu ajaib buatan dukun Galia. Menyadari kelengahannya, Galia kembali bersatu. Mereka tidak akan membiarkan pasukan Romawi mengacak-acak mereka.

Benar saja, pasukan Romawi mengalami kekalahan telak. Kontra intelejen yang dilakukan Asterix dan Obelix ke kamp pasukan Romawi menghasilkan strategi pertahanan yang bagus. Setelah kalah telak, Si Penghasut kembali dipenjara. Kali ini, dengan kesalahan yang berlipat: menyebabkan kekalahan Romawi.

Catatan Kecil

It's funny how to see Asterix kickin' Caesar troops. Barangkali, seperti ini juga keadaan bangsa kita yang mudah terprovokasi hingga saling curiga sesama, melonggarkan persatuan hingga saling bermusuhan. Perbedaan pendapat bukan sekedar perbedaan belaka. Satu perbedaan kecil sudah seperti perbedaan ideologis yang mendasar. Saling hantam dengan sesama sudah biasa.

Sang Penghasut tidak hanya mampu menampakkan dirinya sebagai wujud utuh seorang manusia. Seringkali, hal-hal yang luput dari keseharian kita malah jadi penyebabnya.


Dharmawangsa, 8 Maret 2015.

Selasa, 28 Oktober 2014

Dua Komik Indonesia: Bengal & Chibi Attack

Seiring dengan perjalanan waktu, kini mulai bermunculan komikus lokal yang mampu menerbitkan karya mereka. Entah melalui penerbit lama yang sudah lebih dulu eksis ataupun lewat penerbit baru yang tengah mencari ceruk pasar. Apapun itu, kreativitas komikus lokal kini bisa lebih dinikmati khayalak luas. Situasinya jauh berbeda dengan 5-6 tahun lalu ketika saya membuat skripsi yang bertema komik Indonesia.

Kemunculan mereka membawa variasi kreatif terhadap visualisasi bentuk komik yang mereka buat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa adaptasi bentuk karakter masih mengikuti komik Jepang (manga). Manga asal Jepang ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap banyak komikus di Indonesia. Visualisasi objek yang lebih sederhana dibandingkan komik Amerika maupun Eropa adalah satu kelebihan tersendiri.


Seperti pada komik "Bengal", Bayu Indie, sang komikus, membuat visualisasi karakter tokohnya dengan detail mendekati sempurna (karena hanya Nabi yang bisa sempurna v^_^v). Dari segi cerita, adaptasi alur filmis dalam komik ini menarik. Pembaca digiring memasuki jalan cerita yang entah awalnya darimana menuju ending yang masih belum jelas. Komik semacam menandai kemunculan era baru komik Indonesia, in my opinion.

Overall, saya suka jalan cerita komik ini. Cara si komikus dalam mengungkapkan idenya dalam bentuk gambar perlu diberikan apresiasi tersendiri. Masih jarang komikus lokal yang mampu membuat komik penuh dan utuh semacam ini. Saya juga suka setiap kejutan dan insert-insert kecil yang cukup mampu membuat pembaca tersenyum kecil.

Chibi Attack


Komik ini merupakan kumpulan komik 4 kolom yang terdiri dari 4 judul dari 4 komikus, dengan judul:

- Eri-chan
- Chocopetoc
- Bocah-Bocah Bangor
- Valkreon

Kalau boleh berkomentar, saya tidak terlalu suka judul pertama. Saya suka bagian kedua, ketiga, dan keempat komik ini. To be honest, personally, saya tidak begitu suka dengan imaji tokoh komik pada bagian pertama. Bentuk karakternya seperti dalam komik Shinchan, in my opinion.

Pada bagian 2,3, dan 4, saya suka bagaimana komikusnya membuat sekuen cerita/storyline. Jadi, walaupun tiap panel berdiri sendiri, tetap membentuk satu kesatuan cerita yang utuh. Bagaimanapun itu, saya menaruh respek pada para komikus yang terlibat didalamnya. Patut dinanti karya-karya mereka selanjutnya.

Maju terus komik Indonesia!


Pharmindo-Grand Mercure Jakarta Kota, 28 Oktober 2014
disela-sela Flight Standards Rulemaking Meeting

Sabtu, 31 Mei 2014

The Person I Want To Eat

Belakangan ini, saya mulai membaca komik lagi. Bedanya, bukan lagi serial komik Jepang seperti waktu masih sekolah dulu. Industri komik tanah air yang sampai saat ini masih dijejali komoditas komik asing memberikan banyak pilihan pada pembaca. Termasuk saya, saya lebih memilih komik yang tamat dibaca sekali duduk. Artinya, tidak harus menunggu edisi selanjutnya dirilis.



Komik terbaru yang saya baca berjudul”The Person I Want To Eat” yang diadaptasi dari judul aslinya “Tabetai Hito”. Komik karya Shin Yumachi ini berisi empat cerita. Temanya sama, masih soal kisah cinta remaja. Overall, keempat cerita dalam komik ini punya benang merah yang sama. Kata cinta yang seringkali tak mampu terucapkan.

The Person I Want To Eat
bercerita tentang Yuu yang mendapat pernyataan cinta dari teman kelas sebelahnya. Kei-chan, sahabat dekat Yuu, yang selalu menganggap Yuu seperti anak kecil tiba-tiba berubah usai kejadian itu. Kei-chan tidak mampu lagi membendung perasaannya. Yuu pun akhirnya menerima Kei-chan.

Afterschool Honey
mengisahkan Satsuki-chan yang ditugaskan gurunya untuk memberi bimbingan pelajaran tambahan kepada Kiyoharu, playboy sekolah yang terkenal. Satsuki-chan menjalankan tugasnya itu dengan rasa terpaksa sebelum akhirnya ia mengakui dalam hati kecilnya bahwa Kiyoharu memang lelaki yang menarik. Seiring jalannya waktu, kedekatan mereka berujung pada pengakuan Satsuki-chan tentang perasaannya.

Let Her Go, mirip satu judul lagu sing-this-song-to-move-on. Yamashita masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya memutuskannya begitu saja demi lelaki lain. Kinoshita yang tahu kejadian itu berusaha untuk mendekati Yamashita. Kinoshita tahu bahwa ia bertindak bodoh. Namun, justru kebodohannya itu mengakhiri penantiannya selama 2 tahun 14 bulan dan 18 hari.

I Fall in Love Over the Window Sill
mengisahkan Fumika yang selalu mendapat kiriman pesawat kertas dari anak lelaki yang memperhatikannya ketika sedang membersihkan halaman sekolah. Lelaki itu selalu muncul setiap gilirannya tiba. Ia bahka menuliskan alamat email pada pesawat kertas kirimannya. Fumika yang begitu senang tidak sengaja mengirimkan pernyataan cinta pada Mibu-kun, anak paling populer di sekolah. Alhasil, Mibu-kun langsung mengajaknya pacaran sehingga membuat heboh satu sekolah.

At the end, kisah cinta yang ditampilkan dalam komik ini memang agak sedikit absurd. Wajar memang rasanya mengingat keterbatasan ruang cerita. Apapun itu, cinta adalah cerita abadi sepanjang masa.

Judul        : The Person I Want to Eat
Penulis    : Shin Yumachi
Penerbit   : PT. Tiga Lancar Semesta
Tahun      : 2013
Genre      : Komik-Romance

Pharmindo, 19 April 2014.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...