Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2026

Saya Tidak Menyangka Bahwa Andrea Pirlo Bisa Menulis Buku!

Saya sangat senang mendapati buku dari pemain sepakbola favorit saya. Andrea Pirlo pemilik nomor punggung 21 yang begitu masyhur di masanya bersama AC Milan. Seorang maestro yang bermain di lini tengah, yang selalu membuat pertandingan menjadi begitu hidup dan menarik. Seolah taktik Ancelotti hanya berlaku pada saat team talk saja.


 
Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Ada banyak momen yang diceritakan Pirlo dalam buku ini. Kesehariannya, tentu saja tanding Playstation bersama Nesta, bermain untuk Brescia, Internazionale, AC Milan, dan Juventus. Tak kelewatan ketika merasakan trofi Piala Dunia pada tahun 2006 serta bagaimana  mendukung seorang Balotelli yang ucap kali terkena sindiran rasis dari penonton. 

Buku ini merangkum  Andrea Pirlo sebagai sebuah pribadi yang utuh. Seorang manusia yang tidak hanya piawai mengolah bola di lapangan hijau. Memoar pribadinya mengangkat kisah-kisah unik sepanjang perjalanan kariernya. Tentang tawaran-tawaran dari berbagai klub yang menginginkannya hingga rasa sedih yang sering dirasakannya.

Melalui memoar semacam ini, kita harus pandai menempatkan diri. Entah menjadi seorang penonton sepakbola dan fans yang baik atau sekedar menjadi pembaca yang mencoba memahami isi buku. Barangkali, saya harus membaca buku aslinya (dalam bahasa Italia) supaya saya benar-benar paham kalau memoar singkat ini tidak hanya selalu tentang sepakbola-utamanya hidup.

Judul        : I Think Therefore I Play (Penso Quindi Gioco)
Penulis     : Andrea Pirlo, Alessandro Alciato
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun        : 2016
Tebal        : 173 hal.
Genre        : Biografi-Memoar
 
Ciputat, 8 Mei 2026 




Selasa, 12 Desember 2023

Thinkplus T50: Masih Bagus Buat Lari

Saat ini, ada banyak perlengkapan olahraga lari. Mulai dari yang utama dan berpengaruh pada performa, seperti sepatu dan outfit. Hingga, secondary items yang bisa menambah kegantengan atau sekedar untuk mengikuti tren biar bisa dibilang eksis. Untuk alasan yang kedua ini barangkali sering menjadi alasan para pelari untuk melengkapi eksistensinya di dunia perlarian.

Rasanya tidak lengkap berlari tanpa mendengarkan musik. Saya jadi ingat sepuluh tahun lalu, saya masih rutin berlari keliling Monas dengan mendengarkan musik dari lagu-lagu yang ada di ponsel melalui headset berkabel. Saat itu, sudah mulai ada device headset dengan koneksi bluetooth, namun saya tidak mampu membelinya, Hehehe. Saat ini, sudah banyak sekali wireless bluetooth headset dengan berbagai rentang harga di marketplace daring. Mulai dari yang klasik on-ear hingga yang paling kekinian open-ear/air  conduction yang sama-sama menggunakan koneksi bluetooth.

Saya belum tahu rasanya seperti apa headset open ear itu namun saya mulai merasa perlu untuk mengganti headset yang selama ini saya pakai untuk berlari. Headset TWS on-ear harus selalu rutin ditekan agar posisinya tidak mudah goyang karena getaran dari gerakan lari. Sementara, yang bermodel mengalungi leher cukup membuat lecet kulit leher, imbas gesekan karet dengan kulit leher.


Akhirnya, saya menjatuhkan pilihan pada Thinkplus T50 earphone. TWS ini memiliki gantungan yang melingkar untuk menggantung pada daun telinga. Ini mengingatkan saya pada medio 2010 dimana banyak juga model headset dari brand besar yang dipalsukan menggunakaan dudukan semacam ini. Old school never dies, Baby!

Kualitas suara yang saya dapatkan dari TWS ini pun saya bisa beri nilai 80 dari 100. Suara musik dari jasa penyedia musik streaming atau podcast di Youtube selalu bisa saya nikmati. Mid-range dan bassnya lumayan walaupun tidak sekuat TWS yang pernah saya review sebelumnya, Nakamichi TWS1XS. Kapasitas baterainya pun lebih besar dari TWS1XS, 300 mAh dan bisa saya gunakan lebih dari 5 jam berturut untuk sekedar mendengarkan musik.

So far, penggunaannya cukup nyaman baik untuk kerja (online meeting), telepon, berolahraga (sepeda, lari, dan gym). Bahan gantungannya cukup lembut dan terbuat dari karet lentur sehingga mengurangi resiko lecet saat berkeringat. Karet telinganya juga empuk serta diberi pilihan 3 ukuran dalam paket pembeliannya. Koneksi charger sudah menggunakan USB Type-C, jangan khawatir karena Thinkplus juga menyertakan kabel charging dalam paket bawaannya.

Anyway, sebagai alternatif dari TWS headset open-ear yang harganya fantastis itu, rasanya Thinkplus T50 masih dapat diandalkan. Perbandingannya tidak head-to-head memang, tapi bila mungkin ada pembaca disini yang juga pelari, T50 bukanlah gadget/device yang dapat memberi kepuasan serupa, namun tidaklah salah bila T50 bisa jadi satu 'obat ganteng' anda saat berlari. Barangkali, kalau satu waktu anda perlu naik MRT, T50 masih boleh lah...!

Brand : Thinkplus Lenovo
Model : T50 True Wireless Bluetooth Earphone Sport TWS 5.2
Sensitivity : 105 dB +/- 3 dB
Play time : 5 hours
Harga  : Rp. 108.000 (Oktober 2023)


Cipayung, 10 Desember 2023

Minggu, 03 Januari 2021

Goodbye, Endomondo!

Ini adalah catatan singkat saya untuk Endomondo. Lebih tepatnya mungkin jadi sebuah kesan dari pengguna.

Bila harus menulis soal Endomondo, berarti saya harus menembus jala memori kembali ke tahun 2013-an. Saya tidak tahu kapan detailnya, namun saya menggunakan aplikasi olahraga ini sejak menggunakan Blackberry. Sebagai pelari pemula saat itu, saya menginstall aplikasi ini karena Teh Ninit Yunita yang saya follow akun Twitternya. Lumayan, sebagai pencatat hasil lari keliling yang selalu berakhir di Warung Nasi Uduk.

 


Saya cenderung menikmati Endomondo berdampingan dengan aplikasi Nike Running. Walaupun, Nike Running tetap menjadi yang utama. Endomondo hanya sebagai pendukung cadangan untuk menyamakan data saja. Ada beberapa momen dimana Endomondo membuat saya kecewa. Mungkin karena saya sempat berganti-ganti device sehingga akurasinya bermasalah.

Saya agak kaget ketika membuka aplikasi ini beberapa bulan yang lalu dengan sebuah notifikasi bahwa Endomondo akan menghentikan layanannya di tanggal 31 Desember 2020. What?!!! Sekecewa apapun dengan Endomondo namun bila perpisahan itu tiba tetap saja jadi sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan.

Endomondo cukup membuat nyaman dengan beberapa fitur seperti personal best dan records. Endomondo mencatat beberapa kemajuan yang cukup menyemangati saya. Saya masih ingat rasa senang dan bahagianya ketika mendapatkan badge Personal Best untuk lari sejauh 1 mil. Saya tidak menyangkan bahwa aplikasi ini menghitung hingga sedetail ini. Sesuatu yang belum saya rasakan di aplikasi lanjutannya: MapMyRun.

Anyway, everything must come to an end. Perubahan itu niscaya adanya. Adios, Endomondo. Please be nice, MapMyRun.


Cipayung, 3 Januari 2021


Sabtu, 30 Desember 2017

Air Mata Bola

Sumber gambar: www.goodreads.com
Air Mata Bola adalah sekuel dari Trilogi Sepakbola Sindhunata. Judulnya seakan mewakili berbagai tragedi sepakbola yang tidak selalu memilukan namun menuai air mata. Betapa sepakbola bukan hanya sekedar olahraga belaka. Lebih dari itu, sepakbola adalah bagian panggung kecil kehidupan.

Bagian kedua ini mengambil rentang waktu pada menjelangnya Piala Eropa 1996 di Inggris. Waktu itu, Inggris kembali gegap gempita dengan semangat 'Football Coming Home'. Kemudian, beralih sedikit dengan kemenangan Dortmund atas Juventus pada final Piala Champions 1997.

Air mata bertebaran kala itu karena Juventus sedang berada dalam kondisi ideal untuk menguasai jagad sepakbola Eropa. Timeline ditutup dengan episode menjelang final Piala Champions musim 1998-1999 yang mempertemukan Bayern Muenchen dan Manchester United di Nou Camp, Barcelona.

Saya selalu merujuk buku ini bila butuh rekreasi sejenak untuk menemukan kembali inspirasi dari Predrag Mijatovic. Ia adalah seorang striker yang sangat percaya diri. Alasan yang tepat untuk keberadaannya di skuad Real Madrid kala itu. Kisahnya dapat dibaca dalam artikel berjudul 'Ambisi Sebuah Klub Superlatif'.

Tidak hanya soal itu saja, rasanya selalu menyenangkan kala membaca kembali kisah tidak terduga dari Kroasia dan Republik Ceko di gelaran Euro 96. Allen Boksic dan Davor Suker adalah label dari kejutan-kejutan itu. Munculnya Republik Ceko dalam final menghadapi Jerman adalah sebuah perlawanan dalam kemapanan.

Satu lagi, buku ini juga memuat kisah Eric Cantona dan Sir Alex Ferguson. Usai merekrutnya dari Leeds United, Sir Alex bertanya pada Cantona sebesar apakah dirinya untuk bermain di MU. Cantona balik bertanya sebesar apakah MU untuknya.

Kisah-kisah diatas adalah cerita yang selalu menarik untuk dibaca kembali. Sepakbola sebagai realitas kecil kehidupan mampu menyajikan tontonan yang tidak hanya melulu soal sportivitas teapi juga soal humanisme. Humanisme universal tentang bagaimana memaknai kehidupan yang kadang juga penuh dengan air mata.

Judul           : Air Mata Bola
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 276 hal.
Genre          : Sosial-Budaya


Cipayung, 30 Desember 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Bola Di Balik Bulan

“We are red, we are white, we are Danish dynamit.”

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sepakbola secara filosofis dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Nasib itu sendiri, entah menang atau kalah tidak terbaca dalam suatu pergulatan dalam rentang waktu yang lama, tetapi tiba-tiba terjadi dalam peristiwa tidak terduga.

Sepakbola adalah hidup. Sepakbola tidak hanya berarti sebagai olahraga belaka. Setidaknya, kesimpulan yang demikian dapat diperoleh usai membaca tulisan-tulisan Sindhunata dalam buku ini. ‘Bola Di Balik Bulan’ adalah satu bagian dari trilogi sepakbola Sindhunata. Bersama ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’.

Tidak jelas memang mana buku yang pertama, kedua, dan ketiga. Namun, kalau boleh saya menempatkan ‘Bola Di Balik Bulan’ sebagai buku pertama disusul dengan ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’ sebagai pamungkas. Ini hanya hasil pengamatan sepintas dari pengalaman saya belaka. ‘Bola Di Balik Bulan’ menampilkan suatu suguhan bahwa sepakbola adalah sebuah gairah kehidupan, kemudian usai gairah itu hadirlah sebuah “Air Mata Bola” dimana sepakbola banyak menyajikan drama (yang tidak sedangkal opera sabun) yang menguras air mata. Sehingga kemudian kesemuanya bermuara pada satu keniscayaan bahwa sepakbola itu ibarat kehidupan yang memiliki nasibnya sendiri-sendiri.

‘Bola Di Balik Bulan’ sendiri merupakan sebuah pengandaian dari gegap gempita Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sebuah sajian sepakbola dunia di negeri yang hanya kenal permainan bola tangan. Namun demikian, Amerika Serikat saat itu mampu lolos dari fase grup dan berhadapan dengan Brazil di babak per delapan final. Tim Sepakbola Amerika Serikat pun ‘memakan’ korban bernama Andres Escobar yang membuat gol bunuh diri sehingga Kolombia harus kalah di tangan tuan rumah. Begitu besar harapan publik Amerika Serikat saat itu sehingga mereka dianggap telah berhasil menemukan bola di bulan. Ya, mereka memang telah menemukan bulan, namun sepakbola masih saja tetap tidak populer disana.

Lewat buku ini saya jadi tahu bahwa Seorang Rinus Michels tidak melatih dan memberi instruksi dengan menyebut nama pemainnya melainkan nomor punggung mereka. Bagi khalayak luas, Sindhunata seakan membawa kita pada gegap gempita jagad persepakbolaan dekade 80-90an. Nama-nama besar saat itu juga tidak lepas dari catatan Sindhunata. Sebut saja macam Van Basten, Gullit, Garrincha, Pele, Maradona, Platini, Papin, Roberto Baggio, Rinus Michels, dan Franz Beckenbauer. Tidak hanya sekedar nama, Sindhunata pun dengan piawai menuliskan kisah-kisah yang melingkupi nama-nama besar tersebut. Sehingga seluruh aspeknya terangkum utuh dalam sebuah kisah.

Catatan Sindhunata ini tadinya hanyalah sebuah tulisan kolom pada harian Kompas dan selalu terbit di halaman awal. Tidak heran bila kemudian banyak pembaca yang menginginkan agar catatan-catatan tersebut dibukukan agar tidak tercecer begitu saja. Saya turut menikmati setiap cerita dalam buku ini. Saya seakan dibuat turut mengalami sendiri kejadian-kejadian yang dicatat Sindhunata. Agaknya, Sindhunata telah berhasil mengangkat kisah dan refleksi sepakbola menjadi sebuah catatan humanis yang universal.

Judul           : Bola Di Balik Bulan
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 296 hal.
Genre          : Sosial-Budaya

 
Cipayung, 26 Oktober 2017

Selasa, 30 Mei 2017

RIP Nicky Hayden

Sumber gambar: theguardian.com
Saya mengenal Nicky Hayden dari sebuah ulasan rubrik Otomotif. Nicky hayden digadang-gadang akan menjadi The Next Valentino Rossi setelah bergabung dengan tim MotoGP Repsol Honda dan diproyeksikan akan menggantikan Valentino Rossi yang pindah ke Yamaha.

Pembalap yang dikenal sebagai The Kentucky Kid ini berhasil menjadi juara dunia MotoGP pada tahun 2006. Saya ingat betul saat itu, Nicky Hayden tidak memenangkan banyak race namun ia cukup konsisten untuk finish di podium sehingga perolehan poinnya mampu mendongkrak namanya ke urutan teratas di kelas para raja.

Nicky Hayden yang menggunakan nomor 69 di motornya itu pindah ke Superbike sejak tahun 2016 lalu. Pembalap berusia 35 tahun itu tertabrak sebuah mobil pada saat sedang berlatih dan menggunakan sepeda. Ia menderita beberapa cedera di kepala dan dada. Pembalap bernama lengkap Nicholas Patrick Hayden ini menjalani perawatan medis sejak 17 Mei dan dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2017 di Italia.

You reached the chequered flag in finish line, Nicky. Rest in peace.

 
Jakarta, 24 Mei 2017.

Senin, 27 Februari 2017

Worldcupedia 1930-2022

Sumber gambar: buku.kompas.com

Saya tidak pernah tahu bahwa ada  sebuah kumpulan tulisan bersifat dokumentatif yang mengulas soal Piala Dunia. Piala Dunia sepakbola dibawah asuhan FIFA, tentunya. Mengagumkan, memang. Apalagi, didukung oleh berbagai sumber dari Tabloid Bola. Tabloidnya penggemar sepakbola. Dari sisi Tabloid Bola sendiri, saya hanya tahu publikasi mereka berupa komik serial 'Sepakbolaria' kemudian komik 'Si Gundul' yang mewakili narasi komik di berbagai bidang olahraga.
 
Buku berukuran 14 inci ini mengulas banyak hal mulai dari latar belakang penyelenggaraan piala dunia hingga update terakhir mengenai terpilinya Qatar sebagai tuan rumah kejuaraan untuk tahun 2022. Menarik sekali untuk mengetahui mengapa Piala Dunia pertama diselenggarakan jauh-jauh di Uruguay. Bukan di tanah kelahirannya di Eropa sana.
 
Sepakbola dunia juga ikut merasakan gegap-gempita perang dunia yang mengubah konstelasi geopolitik dunia. Perang Dunia I dan Perang Dunia II tidak membawa sebab yang sedikit bagi perkembangan sejarah Piala Dunia. Simaklah bagaimana Italia berhasil menjadi Juara Dunia dibawah diktator Mussolini, hingga empat tahun kemudian berhasil menjadi jawara kembali.
 
Modernitas sepakbola makin terasa kala Inggris menjadi tuan rumah sekaligus menjuarai PIala Dunia tahun 1966. Sejaka saat itu, selalu ada saja drama di lapangan hijau yang menjadi kenangan setiap piala dunia. Rivalitas Jerman Barat-Belanda yang tidak pernah berakhir; Legenda bernama Pele, Mario Kempes, Maradona, Beckenbauer, Romario, Zinedine Zidane, Ahn Jung Hwan, dan Phillip Lahm lahir di pentas dunia; Drama gol Geoff Hurst yang dibayar Jerman di Piala Dunia 2010, Kegagalan penalti Roberto Baggio, Sundulan Materazzi ke dada ZIdane, Kedigdayaan Spanyol, dan ganasnya Der PAnzer di Brazil 2014 adalah suguhan yang tidak mungkin mudah dilupakan.
 
Ensiklopedia ini tampil dengan sampul tebal dan halaman berkertas glossy. Seakan ingin menampilkan glamoritas gelaran Piala Dunia. Bagaimanapun, sepakbola tidak hanya soal kemenangan. Lebih dari itu, sepakbola adalah gairah. Gairah menuju pencapaian jiwa, menang kalah soal biasa.
 
Judul        : Worldcupedia: Ensiklopedia Piala Dunia 1930-2022
Penulis        : Adi Prinantyo [et.al]
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2014Tebal        : 216 hal.
Genre        : Sejarah-Sepakbola
 

Cipayung, 10 Februari 2017.

Selasa, 20 Oktober 2015

Magenta Run Bandung 2015

Set aside a time solely for running. Running is more fun if you don't have to rush through it
- Jim Fixx


Pertengahan Oktober tahun ini saya akhirnya memutuskan untuk kembali turun berlomba. Lomba lari pertama setelah Nike Run Bajak Jakarta 2014. Sekaligus lomba lari pertama tahun ini. Saya sengaja membatasi diri dari gemerlap godaan berbagai lomba tahun ini. Saya cukup menyadari bahwa saya mengalami degradasi. Pace lari saya turun pasca demam bulan Mei lalu. Akibatnya, saya kini dilanda kelebihan berat badan, yang jadi problem utama dalam berlari. Selain itu, saya sendiri sudah tidak mendapatkan lagi gairah dalam mengukuti lomba lari. Yang jelas, saya masih tetap berlari.

Atas ajakan kawan-kawan di Bandung, saya akhirnya turun aspal juga. Magenta Run Bandung 2015 resmi menjadi lomba pertama saya tahun ini. Namun, jadi yang pertama bagi Edy, Adit, dan Retno. Magenta Run ini merupakan event launching Magenta Brasserie, kepunyaan Aston Primera Hotel and Conference Bandung. Lomba ini juga menggaet komunitas Indorunners Bandung, yang menjadi marshall sepanjang rute lari.

Saya melewati garis start dengan memakai perlengkapan debutan seperti sepatu Adidas Climacool Aerate III yang dibeli di Korea tahun lalu dan belum pernah ikut lomba. Dipadu dengan kaos Indorunners Bandung yang baru dikirim sehari sebelumnya. Peserta lari yang tidak terlalu banyak (mungkin dibawah 200 orang) membuat event lari ini serasa lari bareng Indorunners Bandung.

Pada saat balapan, saya tidak bisa berlari dengan performa terbaik. Badan saya rasanya terlalu berat. Padahal udara di sekitaran Jalan Pasteur cukup sejuk dan cerah. Memasuki Jalan Cipaganti, benar-benar menguji ketahanan dan mental. Jalanan yang teduh dan menanjak menguras tenaga. Saya pun tetap berlari dengan pace santai, mungkin sekitar 6/7 menit/km. Memasuki Jalan Sukagalih, saya sudah kelelahan. Keadaan ini sedikit 'merusak' program latihan saya bulan ini untuk mempertahankan pace di kisaran 6 menit 30 detik - 6 menit 40 detik per kilometer. Alhasil, saya finish menembus 5K di kisaran 35 menit.
 

Hasil lomba Magenta Run memang jauh dari target finish di 33 menit. Tetapi, sudah cukup untuk melatih kembali mental lomba saya. Minimnya pengetahuan tentang rute lomba serta training plan yang masih fokus di track landai sedikit banyak ikut mempengaruhi performance lari hari ini. Anyway, diluar itu semua, Bandung is always a great place to run. Happy running.

Pharmindo, 18 Oktober 2015.

Minggu, 14 Desember 2014

BAJAK JAKARTA 2014

Sudah hampir dua bulan ini saya tidak mengikuti lomba lari. Terakhir, lomba yang saya ikuti adalah Mandiri Run Bandung bulan Oktober lalu. November, saya tidak ada dalam barisan starter di lomba lari manapun. Desember ini, saya mengikuti Nike Indonesia #BAJAKJKT 2014 sebagai lomba pamungkas, at least untuk tahun ini. 

TIIS JAYA RUNNER VS JKT

Persiapan menuju #BAJAKJKT saya lalui dengan lari rutin mingguan, entah di Monas, Petojo, dan Pharmindo. Tidak hanya itu, #BAJAKJKT juga menyadarkan saya untuk mendiskusikan terlebih dahulu apa yang jadi keinginan saya ini bersama sang calon istri tercinta. Dua minggu lagi kami akan menikah, sehingga waktu mendaftar untuk menjadi Pembajak Jakarta saya kurang aware bahwa ia cukup khawatir dengan keputusan saya berlomba menjelang waktu pernikahan yang semakin dekat, kalau tidak mau dibilang menghitung hari.

Setelah melalui diskusi kecil di satu rumah makan di Bogor, saya mengambil satu keputusan. Saya berusaha untuk tidak memaksakan diri dengan latihan long run. Saya masih akan setia dengan usaha saya memperbaiki personal record dan menjaga pace di 5K run.

Courtesy: @IndoRunners

Raceday. Saya melintasi garis start #BAJAKJKT 10 menit setelah bendera start dikibarkan. Telat memang karena saya masih mengantri di toilet umum. Pengaruh dari badan yang kurang fit beberapa hari belakangan pun membuat saya lebih santai untuk tidak memaksa berlari kencang di 2,5 km pertama. Saya lebih santai dan berada di wave belakang. Barisan wave belakang ini diisi pelari kelas fun run sepertinya. Mereka masih bisa berfoto selfie, memakai tongsis sambil berlari, dan bahkan berfoto dengan bajaj yang ‘dihias’ YOU VS BAJAJ ala #BAJAKJKT.

Pengalaman berlari di wave seperti itu adalah yang pertama bagi saya. Terus terang saya kurang merasa nyaman. Saya khawatir terkena tongsis dan juga perlu gesa-gesi (geser sana, geser sini) untuk menyusul pelari di depan. Alhasil, karena saya memang tidak mau berlari dengan pace 6 saya harus berjuang menyesuaikan. Saya menyayangkan pelari yang tidak membaca dengan seksama prerace guide, dimana dinyatakan bahwa pelari yang lebih lambat harus berada di jalur kiri agar pelari yang lebih cepat bisa menyusul di jalur kanan. Imbasnya, banyak pelari yang lebih cepat perlu zig-zag untuk menyusul.

Courtesy: @IndoRunners

Saya cukup memaklumi bahwa saya memang berada di wave yang crowded. Berbeda dengan Panin 10K dimana saya berada di wave depan. Saya cenderung tidak memaksakan diri berlari cepat ketika memasuki 5+ km. Saya mencoba berlari santai saja, barangkali dengan berlari bisa menghangatkan badan dan melancarkan sirkulasi darah dan udara setelah didera meriang disko.
 


Menjelang finish, papan waktu menunjukkan 1 jam 20 menit, artinya ini adalah lari 10K terburuk saya. Apapun itu, saya tidak terlalu peduli. Yang jelas saya berhasil finish dengan kondisi badan yang tidak terlalu fit. Melintasi garis finish, saya melihat Ella sudah menunggu. Dari senyumnya saya tahu bahwa ia masih mengkhawatirkan kondisi saya. Setidaknya, setelah saya finish Ella tidak perlu lagi khawatir. I’ll be there for you, cause i know you’ll be there for me too.

RACE RESULT

1399/3523 runners in Male 25+ Category & 2213/5533 Male runners, lumayan masih setengah diatas.


Lapangan Banteng-Paninggilan, 13 Desember 2014.

Senin, 30 Juni 2014

Mari Lari

Kalau ada film yang saya tunggu rilis di bulan Juni ini adalah ‘Mari Lari’ dan ‘Transformers 4: Age of Extinction”. Berhubung Optimus Prime baru bisa mentas bareng Mark Wahlberg 27 Juni nanti maka saya menonton “Mari Lari” dulu. Tepat di hari ketika Cinema 21 memangkas jadwal film ini. 


Film ini bercerita tentang seorang Rio Kusumo (Dimas Aditya) yang tidak pernah menyelesaikan apapun sepanjang hidupnya. Let’s say him as an under-achiever. Pekerjaannya hanyalah seorang sales di dealer mobil yang juga berusaha menamatkan kuliahnya. Ayah Rio, Tio Kusumo (Donny Damara) adalah seorang mantan atlet yang sukses memiliki sebuah pabrik garmen. Tio tidak pernah yakin bahwa Rio suatu saat akan menyelesaikan apa yang dia mulai. Tio menganggap tidak ada yang pantas dibanggakan dari anak satu-satunya itu. Hal itu pula yang membuat Rio terpaksa angkat kaki dari rumah.

Hubungan Rio dengan ibunya, Fitri Kusumo (Ira Wibowo) cukup dekat. Rio bahkan mengajak sang Ibu menikmati gaji pertamanya. Malam itu pula Rio tidak menyadari bahwa Ibunya menyimpan sebuah rahasia.  Penyakitnya yang terlanjur parah mengantarkan sang Ibu kembali kepada Sang Pencipta. Sepeninggal ibunya, Tio mengajak Rio kembali ke rumah. Mereka tinggal bersama kembali namun tanpa hubungan ayah-anak yang normal.

Dari sebuah iklan di radio, Rio mendengar informasi tentang Bromo Marathon. Even lomba lari tahunan yang digelar di kawasan pegunungan Bromo. Rio punya niat untuk mengikutinya. Rio berhasil menemukan undangan dari pihak penyelenggara atas nama kedua orang tuanya, Tio Kusumo dan Fitri Kusumo. Berbekal kenangan dari sebuah album yang sudah lama hilang, Rio memberanikan diri untuk bicara pada ayahnya. Rio ingin menggantikan posisi ibunya di Bromo Marathon.

Sekali lagi, Tio menunjukkan ketidaksukaannya pada niat Rio. Rio dianggap belum mampu dan tidak pernah serius. Apalagi untuk mengikuti sebuah lomba lari jarak jauh pertama dalam hidupnya. Rio merasa tertantang untuk membuktikan pada ayahnya bahwa ia memang mampu. Rio termotivasi untuk berhasil finish demi sang Ibu.

Rio pun mulai berlatih. Ia mulai rajin berlatih. Perkenalannya dengan Annisa (Olivia Jensen) di dealer mobil tempanya bekerja tidak sia-sia. Suatu pagi, mereka bertemu dan berlari bersama. Sejak saat itu, Rio punya teman berlatih. Latihannya pun semakin bervariasi karena Rio berencana untuk lari Bromo Marathon yang memang butuh persiapan matang. Annisa ikut menjadi motivasi Rio. Rio berubah menjadi pribadi yang percaya diri. Terbukti dari pekerjaannya yang mulai menampakkan hasil.

Tio bukannya tidak tahu Rio mulai rajin berlatih. Tio memberi Rio tantangan untuk finish di satu event lari sebelum Bromo Marathon. Bila Rio bisa finish, Tio akan mengizinkan Rio ikut ke Bromo. Kesibukan kuliah serta semain padatnya jadwal pekerjaan membuat Rio kurang persiapan dalam mengahdapi tantangan pertamanya. Alhasil, Rio keteteran dan hampir menyerah andai saja tidak terlibat dalam suatu percakapan di mobil panitia lomba. Usai lomba, Rio menyusul ayahnya dan meninggalkan medali finishernya di kaca mobil. Sambil berharap itu bisa menjadi bukti kesungguhannya untuk mengikuti Bromo Marathon.

Persiapan Rio semakin matang untuk berangkat ke Bromo. Namun, disaat terakhir Annisa batal berangkat kesana. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya. Dalam hubungan mereka yang sudah dekat Rio sempat merasa kecewa namun ia tetap harus berangkat. Demi janji kepada dirinya sendiri sekaligus pembuktian pada ayahnya. Rio pun berangkat bersama ayahnya ke Bromo Marathon. Perlahan, hubungan ayah-anak ini mulai membaik. Tio mulai melihat kesungguhan dalam diri Rio.

Rio akhirnya berada pada tempat yang dia inginkan. Ia berlari di Bromo Marathon bersama ayahnya. Kilometer demi kilometer ia lalui. Semangatnya masih belum padam. Namun, akibat kelengahannya Rio terjatuh dan kakinya luka. Ayahnya yang sudah terlajur jauh berada di depan Rio mulai cemas. Tio pun segera menyusul ke belakang dan menemukan Rio yang berjuang untuk terus berlomba dengan lukanya. Rio merasa tidak enak karena perhatian ayahnya itu. Rio tahu ayahnya sedang mengejar catatan waktu terbaik untuk even Bromo Marathon kali ini.

“Waktu terbaik ayah, adalah sama kamu” adalah kalimat yang meluncur dari mulut ayahnya. Sebuah kalimat yang cukup meyakinkan Rio untuk terus berlari menggapai garis finish. Walau didera luka yang cukup mengganggu namun Rio berhasil menyelesaikan marathon pertamanya.

Catatan Singkat  

Sudah banyak film bertema olahraga yang lebih dahulu menghiasi layar bioskop. Termasuk film ini. Hanya saja, film bertema olahraga lari dalam dasawarsa terakhir, saya rasa baru mampu direpresentasikan oleh film ini. Film garapan Delon Tio yang ditulis oleh Ninit Yunita (pelari dan penulis buku) ini bercerita dengan jujur mengenai aspek-aspek humanisme yang berkaitan dengan olahraga lari.

Teh Ninit bahkan merilis film ini bersamaan dengan launching novel dengan judul yang sama. Teh Ninit pun bahkan muncul dalam film ini, bersama sang suami tercinta pemilik suamigila.com @adhityamulya. Saya menikmati ‘perkelahian’ mereka di dalam mobil yang ditumpangi bersama Rio. Kemunculan cameo semacam ini adalah satu sensasi tertentu yang menyenangkan.

Sebagai film keluarga, ‘Mari Lari’ mampu memberikan kesan hangat dan pentingnya arti sebuah keluarga. Pelajaran utama tentang motivasi, berani memulai, berproses, dan selesai, tidak ketinggalan. Elemen-elemen kunci dalam hidup tersebut menjadi nilai tambah tertentu bagi penonton. Entah bagi mereka yang sama berlari atau bagi mereka yang membutuhkan dukungan motivasional tertentu. Tidak berlebihan rasanya bila film ini saya nobatkan sebagai Film Keluarga Terbaik tahun ini.
Bagi saya pribadi, film ini punya pesan yang kuat. Berani memulai, berproses, kemudian selesai. Saya teringat pada pesan seorang senior di Kampus. Katanya, “Kalau mau, pasti bisa. Kalau bisa, belum tentu mau.” Satu hal yang akan terus terngiang dalam ingatan saya. Akhir kata, usai layar bioskop ditutup saya hanya mampu bergumam “Ya iya lah, kalau ditemenin Olivia mah saya juga bisa lari sampai Bromo mah..”

Judul           : Mari Lari
Sutradara    : Delon Tio
Cast            : Dimas Aditya, Olivia Jensen, Donny Damara, Ira Wibowo, Ibnu Jamil
Tahun         : 2014
Produksi     : Nation Pictures
Genre         : Drama-Olahraga 

Bandung, 14 Juni 2014
Usai nonton bersama @farida_ella

Minggu, 25 Mei 2014

La Decima

Beginilah tradisi Real: Ia harus menang, tetapi menang saja tidak cukup, ia harus menang dengan gol banyak, menang dengan gol banyak juga tidak cukup, ia harus bermain dengan super ofensif dan indah. *
Bernd Krauss

Courtesy: uefa.com

Minggu dini hari, Madridista di seluruh Republik ini bersorak. Untuk sementara, mereka tidak perlu peduli soal siapa Jokowi, siapa Prabowo, koalisi merah putih atau koalisi kembang gula. Pagi ini adalah milik mereka. Real Madrid berhasil menghancurkan rival sekota mereka, Atletico Madrid, dalam final Liga Champions Eropa yang digelar di Lisabon, Portugal. Real Madrid membayar kontan gelar ke-10 mereka ini dengan skor meyakinkan, 4-1.

Atletico Madrid berhasil menjadi kejutan musim ini dengan berhasil menyisihkan Chelsea dan Barcelona. Gairah mereka semakin menjadi ketika berhasil meraih gelar Juara Liga Spanyol dua minggu sebelumnya. Diego Simeone berharap momentum itu bisa membuat Atletico tetap berada pada jalur juara. Simeone pun paham betul bahwa lawannya itu adalah teman sekota mereka, yang punya keinginan besar untuk menggenapi gelar trofi Liga Champions mereka.

Courtesy: uefa.com
Real Madrid pun punya alasan yang kuat kenapa mereka harus juara. Selain target piala ke-10, skuad mereka pun terhitung sangat ideal untuk menghentikan perlawanan Atletico. Pun, Real Madrid punya Carlo Ancelotti yang sudah sangat paham betul membaca situasi dalam pentas final Liga Champions. Deretan nama bintang dalam skuad Real Madrid seharusnya jadi jaminan gelar ke-10 mereka.

Situasi seperti ini agaknya pernah terjadi di El Real. Tahun 1998, El Real punya skuad Galacticos 90’an yang dihuni nama besar seperti Predrag Mijatovic, Raul Gonzalez, Davor Suker, Fernando Hierro, Clarence Seedorf, dan Roberto Carlos. Medio 2002, Los Galacticos kedatangan Zinedine Zidane, David Beckham, dan Michael Owen.

Jadi, bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi seorang Ancelotti untuk menangani pemain kaliber-kaliber individualis besar ini. Ancelotti seakan tidak perlu membentuk mereka lagi. Tugas utamanya hanya perlu membimbing karakter-karakter semacam Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Karim Benzema, Angel Di Maria, Xabi Alonso, dan Sergio Ramos menjadi sebuah kesebelasan yang padu.

Bagaimanapun, semalam tadi Ancelotti rupanya paham untuk segera mengandaskan Atletico meski harus bermain hingga babak perpanjangan waktu. Ancelotti tidak ingin final ini selesai dengan adu penalti. Mungkin, dalam benak Ancelotti masih terbayang kegagalan AC Milan dalam adu penalti menghadapi Liverpool di Istanbul, 2005 lalu. 

Courtesy: uefa.com
Maka, ketika Sergio Ramos melesakkan gol penyeimbang, semua pemain Real tahu apa yang harus dilakukan: segera menyelesaikan pertandingan. Gol-gol dari Gareth Bale, Marcelo, dan penalti Cristiano Ronaldo menyudahi perlawanan tim sekota. Antiklimaks untuk sebuah drama anti-mainstream. Atletico memang gagal membuat kaya petaruh-petaruh besar, namun ia sanggup menegaskan eksistensi atas sebuah entitas dalam sepakbola modern.

Hala Madrid!

Pharmindo, 25 Mei 2014 
 
* Dari artikel berjudul “Ambisi Sebuah Klub Superlatif” dalam “Air Mata Bola: Trilogi Sepakbola Sindhunata” hal. 112

Senin, 28 April 2014

Capital Market Run 2014

Good things come slow - especially in distance running
Bill Dellinger

Akhirnya, saya dapat menamatkan lari 10K pertama sepanjang mulai aktif mengikuti lomba lari. Capital Market Run ini saya jadikan benchmark menguji kemampuan saya. Keputusan ini saya ambil dengan sadar dan sengaja. Maksudnya, saya memang ingin tahu apakah saya cukup mampu untuk finish di kategori 10K dan tidak berpuas diri hanya race di kelas 5K saja.
 
Persiapan yang saya lakukan adalah terus memacu dan memotivasi diri sendiri untuk terus berlari. Selain 5K rutin setiap Jum’at-Sabtu-Minggu, saya juga melakukan test drive pre-race sepanjang 9 dan 10 km awal bulan April ini. Tujuannya jelas, saya ingin melihat sejauh mana kemampuan saya untuk race 10K. Target utama saya adalah finish dengan catatan waktu tidak lebih dari 1 jam 12 menit, seperti catatan waktu Susan Bachtiar di 10K Jakarta Heart Run.

Long run sepanjang masa latihan ini cukup menjadi patokan awal. Saya jadi tahu berapa pace rata-rata per kilometer dan juga obstacle/hambatan apa saja yang jadi faktor x dalam berlari. Saya terus menerus meyakinkan diri bahwa your body is stronger than you think. Lalu, saya mengubah mindset dari ‘wah, baru sekian kilometer nih, kurang sekian’ menjadi “Alhamdulillah, sudah sekian kilometer, mari lanjut” seperti saran dari @akiniaki. Dari catatan waktu selama masa persiapan, saya cukup yakin bahwa saya bisa menembus catatan waktu dibawah 1 jam 12 menit.



The Race

Melintasi garis start, saya merasakan sebuah sensasi yang lain, tidak seperti lari 5K yang sudah biasa saya ikuti. Sesuatu menahan saya untuk memacu kecepatan. It’s all about endurance dan saya tidak akan menghabiskan tenaga di awal lomba. Kilometer demi kilometer crowd sekitar Sudirman-Thamrin mulai terlihat. Pengendara sepeda juga mulai memadati area Car Free Day. Pelari harus lebih berhati-hati memilih jalur. Marshal yang berada di lintasan pun masih kurang sigap dalam mengamankan jalur pelari.

Personally, rute lari 10K ini agak sedikit membosankan karena pelari mengambil start dari SCBD mengikuti rute menuju Bunderan Senayan untuk kemudian mengambil jalur lurus menuju Bunderan HI kemudian berputar kembali menuju SCBD. Satu tantangan tersendiri memang. Sayangnya, sepanjang rute lari 10K tidak disediakan minuman isotonik di water station. Tapi, beberapa penyelenggara acara yang bertempat di sekitar area Car Free Day ada yang membagikan air mineral botol secara gratis.

Dalam lari 10K pertama ini saya juga mengalami sebuah pengalaman yang takkan pernah saya lupakan. Pada kilometer 8 menuju kilometer 9 saya mulai merasa kebelet. Fokus saya kini tidak lagi soal endurance, tapi cepat-cepat finish dan cari toilet. Alhasil, saya harus terus berlari walaupun sudah mulai kelelahan, berhenti sebentar-sebentar hingga akhirnya finish dengan catatan waktu dibawah target semula \^_^/. Usai menerima medali, saya langsung menuju toilet.

Overall, dengan segala kekurangannya (mulai dari race pack collecting hingga tertukarnya peserta 5K dan 10K), Capital Market Run adalah satu milestone bagi saya pribadi. Bukan hanya 10K race pertama sejak mulai aktif berlomba Juni 2013, tetapi juga sebuah pencapaian dari life stepping. Medali 10K hari ini pun adalah pembuktian bahwa apa yang saya lakukan tidaklah terlalu salah.

FINAL RESULT



Paninggilan, 27 April 2014.

* Trademarks mentioned on this post belong to their respective owners

Senin, 10 Maret 2014

Run With Heart, Run To Share

Remember, the feeling you get from a good run is far better than the feeling you get from sitting around wishing you were running.
Sarah Condor

Here comes another shot for this March. Glad to be back running on the street. Oh, i never forget the feeling of excitements to circling Semanggi bridge. Yeah, it's Run With Heart, proudly presented by MNC Channels.


Gelaran lomba ini cukup unik karena sejak pendaftaran online, peserta diharuskan mengisi kolom dedikasi. Artinya, setiap pelari harus mencantumkan alasan mereka untuk berlari di lomba berjarak 5 KM ini. Saya sempat dibuat bingung dengan hal ini. Biar begitu, saya tidak menemui banyak masalah soal registrasi dan administrasi.

Berhubung belum lewat sebulan dari tanggal ulang tahun Ibu, maka saya dedikasikan "pelarian" saya untuk Ibu. Lalu, dengan percaya diri saya mengisi kolom "I Run For: IBU" dan "Reason: Because I Love Her So Much". Mudah-mudahan, doa Ibu yang katanya sepanjang jalan itu mampu membantu saya mendapatkan medali finisher.

Afterhour Treadmill

Untuk lomba ini, saya harus melakukan persiapan yang lebih dari 'Bandung Love Run'. Saya menambah porsi jarak lari latihan weekend plus masuk ke Gym. Untung saja, kantor saya menyediakan fasilitas yang berguna untuk menjaga kebugaran pikiran setelah urusan rutinitas pekerjaan. Saya mulai menjajal treadmill dan beberapa latihan beban. Namun tetap fokus pada latihan berlari secara konsisten plus sedikit usaha untuk mengurangi lingkar perut. If i may add.

Saya berhasil mencapai target di Run With Heart ini. Saya mendapatkan medali finisher sekaligus mencatat beberapa improvement dari workouts sebelumnya. Saya berhasil mencatat waktu terbaik (personal best) untuk lari 5 KM, versi Endomondo. Saya finish dengan waktu 29.01 menit, sedikit di depan Pak Harry Tanoe, CEO MNC, yang juga turut berlari.

Mari Lari, Mari Berbagi

Sedikit catatan lainnya, adalah bahwa Run With Heart ini tidak hanya mendedikasikan kasih sayang sepenuh hati melalui berlari. Event ini juga ikut berpartisipasi dalam aksi sosial untuk masyarakat. MNC Channels turut menyumbang dan memberikan bantuan bagi penanganan bencana yang menimpa negeri kita belakangan ini, yaitu bagi para korban letusan Gunung Sinabung dan Gunung Kelud. Pada satu stand sponsor juga terdapat sebuah wahana photobooth untuk ikut peduli dan berbagi dengan saudara kita yang kurang beruntung.

Penyerahan Hadiah Best Reason dan Donasi

Stand up. It's time for you to act. Mari lari, mari berbagi.

OFFICIAL TIMING RESULT:

Overall: 261/1429


Paninggilan, 9 Maret 2014.

Selasa, 18 Februari 2014

Bandung Love Run

"If I seem free, it's because I'm always running."
Jimi Hendrix


It feels good to be back running in Bandung. Seperti tahun kemarin, medali finisher pertama saya tahun ini saya raih di Bandung. Bandung Love Run jadi race pertama saya tahun ini setelah sebulan kemarin berhibernasi. Saya senang bisa kembali turun berlari di jalanan bersama peserta lainnya. Ada atlet PON dari berbagai, anggota TNI, komunitas pelari, bahkan Mas Agus Yudhoyono dan Kang Ridwan Kamil, Walikota Bandung, pun ikut berpartisipasi.

Sedikit catatan tentang Bandung Love Run ini adalah terlambatnya email konfirmasi pembayaran dari panitia ke email saya dan tidak adanya water station bagi 5K racers. Butiran debu akibat letusan Gunung Kelud yang sudah mencapai wilayah Bandung dan sekitarnya pun sempat menjadi kekhawatiran tersendiri. Walau begitu, tidak lantas mengendurkan semangat cinta dan kebahagiaan para pelari yang merayakan cinta. Entah cinta begini atau cinta sendiri. Abaikan.




Pharmindo, 17 Februari 2014.

Minggu, 10 November 2013

SBM Fun Run Bandung 5K

Akhirnya saya kembali berlari di Bandung di gelaran SBM Fun Run Bandung: 5K Closer To Your Happiness. Tema gelaran lomba kali ini cukup unik. 5K Closer To Your Happiness. Barangkali, panitianya percaya bahwa dengan berlari kita akan lebih dekat dengan yang namanya bahagia. Terbukti, setiap papan petunjuk yang dibubuhi quotes soal kebahagiaan. Contoh saja: one minute you angry, you loss 60 seconds of your happiness.



Race hari ini mengambil lokasi di dalam kampus ITB. Lomba dibagi menjadi dua lap. Inilah perbedaan yang signifikan dari race yang penah saya ikuti sebelumnya. Saya belum pernah mengikuti race seperti ini. Saya merasa jadi seperti pembalap yang diberi checkboard “FINAL LAP” ketika memasuki Lap ke-2. Mungkin itu pula sebabnya saya tidak terlalu tertarik untuk berlari mengitari stadion atau lapangan olahraga. Saya lebih senang berlari mengikuti jalur jalan raya.

Selain itu, pengalaman lain yang saya dapat dalam race ini yaitu pelari harus menghadapi medan naik-turun mengitari sekitar kawasan kampus. Race track yang turun-naik membuat pelari harus pintar-pintar mengatur nafas. Pengalaman ini sangat jauh berbeda dengan excitement ketika menanjak dan menurun di Semanggi.



Anyway, kalau saya harus berbahagia hari ini adalah kehadiran dua orang sahabat yang ikut menyambut usai menyentuh garis finish. Pun, ketika bertemu kembali kawan-kawan relawan #BebersihBandungYuk untuk bertukar info soal Bandung Trail Run #YukNgetrel setiap hari Sabtu. 



Akhirul kalam, menyambut Hari Pahlawan, medali hari ini saya persembahkan untuk mereka yang gugur di Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Sejarah akan selalu mengenang anda semua. Selamat Hari Pahlawan 1435H. Jadikan dirimu pahlawan olehmu, untuk diri sendiri dan lingkungan terdekatmu.


Pharmindo, 10 November 2013.

Rabu, 06 November 2013

Juara Sejati Bernama King


Luar biasa! Kesan pertama yang saya tangkap dari beberapa bab awal. Biografi memoar perjalanan seorang maestro bulutangkis ini ditulis dengan apa adanya. Kesan setiap cerita didalamnya tidak hanya berkisah soal kesuksesan. Berbagai kisah kegagalan Liem Swie King diceritakan dengan jujur. Termasuk, cerita soal kekalahannya yang dianggap sebagai 'pemberi jalan' untuk gelar ke-8 All England bagi Rudy Hartono.

Cerita perjalanan Liem Swie King di dunia bulu tangkis tidak selalu penuh dengan kesuksesan. Terutama setelah kekalahan pertamanya usai 33 bulan tak terkalahkan di berbagai kejuaraan. Kekalahan tersebut didapatnya usai skorsing 3 bulan dari PB PBSI akibat kelalaiannya pada SEA Games X tahun 1979 di Jakarta. Akibatnya, King dinyatakan kalah WO. King tampil sebagai pribadi yang sportif yang dengan jujur mau mengakui kesalahannya. Satu hal yang tidak mudah, mengingat status King sebagai Juara All England. King dengan mudah bertutur soal  satu fase proses perjalanan dimana ia mencoba untuk bangkit dan meraih kembali percaya dirinya.

Lintasan memori soal kedigdayaan bangsa Indonesia di kancah perbulutangkisan dunia juga menyisakan setangkup haru. Beberapa kali saya hampir menitikkan air mata dan merinding membayangkan betapa gempitanya kejayaan Indonesia waktu itu. All England, Piala Thomas, Piala Uber, dan Kejuaraan Dunia adalah menu utama santapan khusus bagi atlit bulu tangkis Indonesia. Sayangnya, atlit bulu tangkis Indonesia masa kini belum mengambil pelajaran dari kisah Liem Swie King. Indonesia kini jauh tertinggal dari negara-negara pesaingnya.

King's Smash. Courtesy: www.badmintoncentral.com
Buku ini menghadirkan sosok Liem Swie King sebagai pribadi yang utuh. Mulai dari kisah perjalanan hidupnya, bagaimana hubungan King dengan keluarga, perkenalan pertamanya dengan bulu tangkis, jatuh bangun King di arena, hingga alasan-asalan dibalik pengunduran dirinya dari dunia yang telah diidamkannya sejak kecil.

King juga menuturkan kisahnya bersama Robert Budi Hartono, pemilik perusahaan rokok Djarum yang cukup berpengaruh dalam karir profesionalnya. Sebagai penyeimbang, testimoni dari rekan, kawan, pelatih, dan wartawan olahraga ikut mengisi cerita sehingga pembaca dengan mudah memahami sisi lain dari King.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mengakrabi pribadi King yang cenderung pendiam dan dingin. Beberapa testimonial dan catatan dokumentasi media turut dihadirkan sebagai panduan bagi pembaca untuk lebih objektif dalam 'membaca' King. Selebihnya, pembaca diajak kilas balik sejenak ke masa-masa keemasan bulu tangkis nasional. Catatan emas yang diraih putra-putri terbaik bangsa itu kini menanti untuk diulang kembali. King mengajarkan pada kita bahwa juara sejati selalu bersedia berbuat lebih.

Judul       : Panggil Aku King
Penulis     : Robert Adhi Ksp
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2009
Tebal       : 456 hal.
Genre      : Biografi-Memoar

Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 6 November 2013.

Minggu, 06 Oktober 2013

Mandiri Run Oktober 2013

"Running is the greatest metaphor for life, because you get out of it what you put into it."
- Oprah Winfrey -

Awal Oktober ini saya kembali turun ke jalanan Car Free Day untuk mencoba memperbaiki catatan waktu Sunday Fun Run bulan lalu. Dari rute yang dicantumkan pada web, saya optimis mampu memperbaikinya. Namun, perkiraan saya salah. Rute lari 5K kurang lebih masih sama dengan S4 Run Series #1, dan Sunday Fun Run. Masih melintasi Jl. Sudirman dan berputar di Semanggi. Ah, saya selalu kangen pada sensasi lari menanjak dan menurun di Semanggi.


Persiapan untuk lari kali ini terbilang cukup lumayan. Setelah didera hasil tes asam urat yang kembali tinggi pekan lalu, saya mencoba mengalihkan perhatian saya pada pemanasan jelang Mandiri Run. Saya berenang untuk melatih pernafasan di kolam renang hotel yang saya tempati. Tidak terlalu lama, asal sepuluh kali balikan lebar kolam sudah cukup. Saya berlari dua kali. Pertama, mengenang rute lari semasa SMA. Melewati jalanan Pasteur-Sukaraja-Benghar sejauh 4,17 km. Kedua, rute Pasteur-Rajiman-Otten-Pasirkaliki-Pamoyanan-Pasteur sejauh 4,45 km. Dari catatan waktu yang diperoleh, saya dapat menyatakan siap untuk turun dan menjajal rute Mandiri Run.



Lomba hari ini juga adalah debut saya menggunakan ‘ban’ baru. Saya menggunakan sepatu Reebok Crossfit Nano 2.0 yang sebelumnya sudah pernah dites di Kuta Morning Run (17 September 2013) sejauh 3,37 melintasi jalanan Kuta yang masih sepi. Berikut dengan kaos kaki bertuliskan Dri-Fit (huge thanks to Adit for recommending this) dan shorts dari Umbro. Sepatu ini memang lebih ringan dibanding seri Speedstep yang biasa saya gunakan. Saya juga sekaligus ingin mencoba apakah perpaduan Crossfit dengan Dri-Fit ini berpengaruh dalam lomba, karena sirkulasi panas dari sepatu dan kaos kaki ikut berpengaruh pada performa lari keseluruhan. 

Crossfit Goes to Bali
Selepas bendera start dikibarkan, saya merasakan perbedaan yang cukup signifikan dari lomba sebelumnya. Langkah kaki menjadi lebih ringan dengan sepatu baru ini. Sirkulasi panas berjalan dengan baik. Saya pun tidak merasakan panas yang berlebih di bagian telapak kaki. Singkat kata, saya menemukan paduan/kombinasi yang tepat untuk hari ini. 



Kegembiraan saya hari ini bertambah dengan catatan personal best versi Endomondo. Saya agaknya lumayan berhasil dalam memperbaiki catatan waktu walau dengan jarak tempuh yang lebih jauh dibanding sebelumnya. Rasanya, segala persiapan kemarin terbayar lunas hari ini.

Tiis Jaya Runner
OFFICIAL TIMING RESULT powered by MYLAPS

 
Gender: 274/1643 (Male 5K)


Paninggilan, 6 Oktober 2013.

Catatan: Trademarks mentioned in this post belong to their respective owners

Minggu, 22 September 2013

Sunday Fun Run 2013

"In running, it doesn't matter whether you come in first, in the middle of the pack, or last. 
You can say, 'I have finished.' There is a lot of satisfaction in that."
Fred Lebow, New York City Marathon co-founder

Setelah menamatkan seri pertama sekaligus edisi perdana dari S4 Run Series, saya kembali mencoba melihat sejauh mana progres latihan lari. Kali ini, bertepatan dengan Jakarta Sports Week dan 5th Anniversary fX Plaza, digelar Sunday Fun Run 2013. Rute yang diambil untuk peserta lari 5K tidak jauh berbeda dengan S4 Run Series sebelumnya. Hanya, untuk lari 10K ada sedikit perbedaan rute yang harus ditempuh.

Tiis Jaya Runner
Sedari awal, saya sudah berniat untuk mampu mengalahkan catatan waktu di S4 Run Series sebelumnya. Kalau saja saya tidak lupa mematikan Endomondo tracking system setelah finish Sunday Fun Run 5K tentu saya bisa melihat sejauh mana progres yang saya buat. Walaupun begitu, bila melihat catatan waktu lap per lap tidak ditemukan perbedaan yang signifikan. Imbang antara hasil hari ini dengan S4 Run Series. Saya tidak mencatat sebuah personal best di lari hari ini.

Saya masih menemukan excitement yang sama dengan S4 Run Series. Berlari dan berbaur dengan pelari lain yang sama-sama menikmati Car Free Day. Tak lupa, saya selalu menikmati momen ketika berlari naik-turun jembatan tol Semanggi. 


Diluar itu semua, hari ini adalah debut pertama saya berlari dengan Tiis Jaya Running Club. Klub lari yang terbentuk ketika mendaftar Sunday Fun Run ini. Tiis Jaya diambil dari nama klub sepakbola virtual yang saya gunakan di Fantasy Manager Premier League. Tidak berlebih kiranya bila hari ini saya jadikan debut perdana sekaligus hari berdirinya Tiis Jaya Running Club. Wanna join me?

OFFICIAL TIMING RESULT FROM www.indorace.com

 


Paninggilan, 22 September 2013
Disclaimer Note: Trademarks mentioned in this post belong to their respective owners.

Minggu, 01 September 2013

Samsung S4 Run Series #1

Have I got a long way to run?
Run - Collective Soul

Akhirnya, setelah one week off saya bisa berlari kembali. Kekhawatiran sempat merundung semasa penyembuhan cedera soal bisa tidaknya mengikuti race ini. Maklum, seminggu kemarin itu saya benar-benar tidak melakukan latihan sama sekali. Segala puji bagi Tuhan, pada latihan lari Jum'at dan Sabtu kemarin saya tidak mengalami masalah berarti pasca cedera. Hanya sedikit beban akibat kenaikan berat bedan pasca bulan Ramadhan.

Courtesy: @ninityunita
Event #S4RunSeries ini mengingatkan saya pada gelaran Bandung 5,7 K Fun Run 2002, lomba lari yang juga sama-sama disponsori Samsung. Waktu itu, Samsung masih melakukan penetrasi di kancah pasar elektronik Indonesia dengan jargon Samsung DigitAll, everyone's invited. Kini, setelah memiliki pangsa pasar yang jauh lebih besar dibanding 11 tahun lalu mereka kembali mengadakan gelaran serupa. Tidak hanya satu, tetapi tiga seri race di venue yang berbeda. 

Sangat menyenangkan bisa kembali memacu langkah dan melawan tantangan terberat: diri sendiri. Saya yang baru pertama kali turun ke Car Free Day sepanjang ruas Thamrin-Sudirman ini memulai cerita pertama dengan lomba S4 Run Series ini. Kejutan yang saya dapat hari ini adalah trek lari yang memutar di Semanggi. Artinya, pelari harus melewati tanjakan dan turunan penghubung Sudirman-Gatot Subroto. Itu adalah sebuah excitement tersendiri karena membutuhkan efforts yang tidak mudah buat saya yang biasa dengan trek yang datar-datar saja.

Happy Runner at his comeback.

Tidak ada perasaan lain yang bisa menggantikan kegembiraan ketika mencapai garis finish. Walau catatan waktu di Endomondo menunjukkan 34 menit 53 detik, jauh dibandingkan Halo Fit Night Run Juli kemarin dimana saya mencatat 24 menit 38 detik untuk jarak yang sama (5K). Anyway, it's not about how fast your pace, but it's all about challenge and pushing yourself to reach the finish line. I may not made my greatest time here but i did some personal best record (based on Endomondo tracking system). 
 

I know it's not much but this is more than i can spent (Sherina banget :D ) I'm happy. That's all.

OFFICIAL TIMING RESULT

Overall : 131/734
Gender : 109/389 (Male 5K)



Paninggilan, 1 September 2013.
Disclaimer Note: Trademarks mentioned in this post belong to their respective owners.

Jumat, 30 Agustus 2013

Monas Morning Run #2: The Comeback

Senang rasanya bisa kembali berlari di sekitar area Monas. Sebuah tempat yang sempat terlewatkan, padahal area Monas sudah lumrah dijadikan lokasi olahraga pagi setiap hari Jum'at. Banyak pegawai dari kalangan instansi pemerintah maupun swasta yang berkantor di bilangan Jalan Medan Merdeka memilih kawasan Monas sebagai tempat olahraga. Tidak terkecuali saya.



Setelah sukses dengan edisi perdana Monas Morning Run seminggu setelah Lebaran, saya tidak bisa melanjutkan lari pada minggu selanjutnya. Sebuah kesalahan ketika bangun tidur membuat gangguan di sekitar pinggul. Imbasnya, sendi-sendi kaki tidak bisa berfungsi secara normal. Setelah diperiksa, ternyata saya mengalami gangguan kaku sendi, yang mengakibatkan saya sangat sulit dan kesusahan untuk berjalan. Belum lagi ketika harus turun naik tangga. Seminggu kemarin itu jadi minggu paling tidak menyenangkan. Saya jadi tahu bahwa nikmat Tuhan itu tidak terletak pada hal-hal besar, justru malah ada pada hal-hal kecil. Seperti kemampuan untuk berjalan kaki, misalnya.

Hari ini, saya bisa kembali memulai latihan rutin yang terhenti akibat cedera kemarin. Saya tidak memaksakan diri untuk berlari jarak jauh. Saya berlari untuk membuktikan bahwa persendian di bagian kaki saya sudah kembali pulih. Sekaligus pula memastikan kondisi badan untuk persiapan mengikuti Samsung S4 Run Series #1 hari Minggu besok di fX.



Anyway, i just made my comeback. Thank God it's Friday and it feels great to be back running!

Paninggilan, 30 Agustus 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...