Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2017

Saucy Crab and a Despacito

 
Sepengalaman saya berkunjung ke Balikpapan, baru kali ini saya makan di sebuah restoran kepiting khas setempat. Restoran Dandito namanya. Terletak di Jalan Marsma Iswahyudi, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Mahmud Sulaiman, Sepinggan, sekitar 2 KM ke arah kota. Kebetulan, kami tinggal di hotel yang berbatasan dengan tembok pembatas bandara. Sehingga, satu arah menuju kesana.

Well, saya bukan seorang penggemar seafood apalagi kepiting. Namun, saya semakin penasaran karena kini keipitng tidak hanya disajikan sebagai masakan seafood belaka. Kepiting kini memasuki era sejarah baru dengan adanya Bonting (Abon Kepiting) dan keripik kepiting. Saya juga tidak punya referensi kuliner yang cukup di Balikpapan jadi saya ikuti saja kemana angin berhembus. Kami berempat pun akhirnya sepakat kesana.

Suasana makan malam di restoran ini cukup meriah. Ada live band akustik membawakan lagu-lagu terkini, termasuk lagu 'Despacito' yang sangat mengganggu telinga saya. Tak lama, menu pesanan pun tiba. Kepiting Soka Asam Manis dan Kepiting Goreng Saus Lada Hitam.

Harga kepiting disini sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Kepitingnya besar dan kepiting gorengnya tidak amis dan empuk. Ada kesegaran didalamnya. Termasuk bumbu saus lada hitam dan saus asam manis yang disajikan. Sebagai pelengkap, kami menambah Cah Kangkung untuk menemani syahdunya Senin malam di Sepinggan. Lidah kami digoyang kenikmatan.

Keesokan harinya, saya jogging pagi lewat restoran itu lagi. Terlihat pemandangan karyawan yang sedang melakukan bongkar muat kepiting. Saya melihat sendiri bagaimana cara mereka menangani menu utama mereka yang paling kesohor. Setidaknya, ada alasan mengapa kita bersedia untuk memberi lebih demi sajian kepiting.

Saya merekomendasikan restoran ini untuk sebuah sajian kepiting yang mengesankan.Walaupun agak mahal, namun sebanding dengan kelezatannya.


Balikpapan-Tangerang Selatan,  24 Juli 2017.



Rabu, 28 Desember 2016

Stalking Indonesia with Margie!

"Mendidik satu desa penduduk tempat daerah wisata tentunya jauh lebih mudah dibandingkan mendidik 1.000 turis tengil sok tahu asal berbagai kota besar di Indonesia." 
("Tuh Lumba-lumba", hal. 79)

Courtesy: www.goodreads.com
  
Istilah "stalking" menjadi populer belakangan ini ketika media sosial semakin populer dan aksesibel pada semua lapisan masyarakat. Lengkap satu paket dengan pelakunya yang biasa disebut sebagai "stalker". Stalking bukan hanya berarti sekedar aktivitas melihat-lihat saja. Tetapi juga, mengetahui lebih banyak mengenai satu objek tertentu. Stalking Indonesia tentunya tidak lepas dari latar tersebut.

Stalking Indonesia bukanlah local guide semacam Lonely Planet dan buku-buku lain yang sejenisnya. Stalking Indonesia bukan juga buku panduan tentang bagaimana caranya berwisata di berbagai daerah tujuan wisata di Tanah Air. Stalking Indonesia bukan juga catatan perjalanan biasa. Ia adalah buku traveling eksepsional. Ia lahir dari keraguan penulisnya karena tulisan-tulisannya tidak seperti yang biasa dijumpai di travel blog. Ia justru mampu mengungkap lebih jauh secara mendalam tentang suatu objek wisata.

Ia ditulis oleh seorang penggila jalan-jalan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar dimana secara obsesif penulisnya selalu ingin ngulik, mengintip, dan melacak semua seluk beluk setiap objek atau tujuan wisata yang dikunjunginya. Akibatnya, informasi yang sampai pada pembaca tergali habis, mulai dari hal-hal yang sepele hingga yang lebay-lebay.

Agaknya, bila kita mau menarik benang merah dari semua catatan Margie dalam buku ini, kita dapat menemukan problem yang sama; repetitive problem di hampir semua objek wisata Tanah Air. Kita tentu menyayangkan mengapa biaya untuk menginap di Raja Ampat begitu mahal. Tetapi, kita juga mafhum bila ternyata harga yang dipatok terlalu mahal itu ternyata demi kelestarian alam sekitar Raja Ampat juga, misalnya. 

Margie yang bangga dengan kebiasaan stalkingnya ini setidaknya membuat kita para pembaca menjadi 'lebih tahu dari tahu'. Bukan hanya sekedar tahu cara ikut melihat pemandangan luar biasa di Bumi Ibu Pertiwi ini, tapi juga melihat sisi-sisi lain dibaliknya, tentang isu dan konflik yang terkadang ikut menyusunnnya. Sebagai bonus, Margie juga memberi kita pilihan. Mau pilih perjalanan pangkal kaya atau perjalanan penuh gengsi. It's up to you. Happy traveling and happy stalking!

Judul                   : Stalking Indonesia
Penulis               : Margareta Astaman
Penerbit             : Penerbit Buku Kompas
Tahun                 : 2014
Tebal                  : 198 hal.
Genre                 : Sosial-Budaya


Cipayung, 26 Desember 2016.

Kamis, 23 Juli 2015

Pizza Sambal Matah

The biggest lie i tell myself is i'm only going to eat one slice of pizza.
- Anonim

Sekali waktu, saya menikmati senja di Kuta, Bali. Entah sudah berapa kali senja pernah saya lewati di Bali, tepatnya di Sanur dan Tanah Lot. Tapi baru kali ini saya benar-benar mengalami senja di Kuta, Bali.

Saya dan seorang kawan sengaja menghabiskan waktu ngabuburit di pinggir pantai. Mataharinya sedang bagus, tidak tertutup awan. Senja yang semburat dengan jingga akan menjadi penutup hari yang indah. Kami pun duduk santai di sebuah resto bar and grill. Kata teman saya, pizza disini enak.

Kami langsung memesan pizza yang direkomendasikan itu. Namanya Pizza Mozzarella Sambal Matah. Dari namanya saja, langsung terbayang perpaduan antara sambal matah yang tradisional itu bersama pizza dan keju mozzarella.


Tak lama usai adzan Maghrib berkumandang di ponsel, kami segera menikmati pizza yang unik ini. Lapisan roti pizza dibuat tidak terlalu tebal sehingga menjaga kerenyahannya. Freshly from the oven, masih dengan lelehan keju mozzarella dan sambal matah yang mengelilingi topping pizza.

By the way, this is recommended one. Sesudahnya, saya merasa cukup kenyang. Barangkali, karena pizza ini hanya dinikmati berdua saja. Urusan harga, it's really worth your money. Mamamia!


Kuta, 8 Juli 2015.

Rabu, 22 Juli 2015

Ini Dia Kuliner Makassar!

Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan bila berkunjung ke Makassar. Makan enak, itu salah satunya. Selama ini, saya hanya tahu kuliner khas Makassar lewat televisi dan media cetak. Makanan semacam Pisang Ijo, Pallubutung, Konro dan Coto, belum pernah mendarat dengan mulus di lidah. Maka, ketika kesempatan itu tiba, saya tidak melewatkannya.

The Chronicles of Pisang Ijo & Jalangkote

Menu kuliner khas Makassar yang pertama saya coba adalah Pisang Ijo. Senang sekali bisa mencicipi penganan segar ini langsung di tempat Pisang Ijo dilahirkan. Pisang Ijo pertama saya di Makassar ini beralamat di Rumah Makan Muda Mudi, Jalan Rusa No. 45 Makassar. Usai menikmati kesegarannya, saya memesan Jalangkote. Jalangkote adalah penganan semacam pastel, namun yang ini khas Makassar.



Kedua menu tadi jadi penutup hari pertama saya di Makassar. Pilihan yang tidak terlalu salah untuk menikmati buka puasa pertama saya di Bumi Para Daeng. Saya dan teman-teman masih berencana untuk menikmati pengalaman kuliner khas Makassar lainnya. Esok hari, kami akan mencari Konro Bakar. Tentu saja, sepulang dari tugas di Kantor Otoritas Bandar Udara, dekat Bandara Sultan Hasanuddin sana.

Konro Bakar Karebosi

Senja masih lama turun. Terik matahari menemani sore yang panas pertanda kemarau. Usai menyimpan tas dan mengganti baju di hotel, kami segera bergegas menuju Lapangan Karebosi. Konon, dekat sana ada Rumah Makan spesial yang menyajikan konro bakar. 

Tak jauh dari Lapangan Karebosi, pengemudi mobil yang kami sewa membawa kami menuju Rumah Makan Konro Bakar Karebosi. Kami berusaha untuk tiba lebih awal karena khawatir tidak kebagian tempat. Maklum, tempat makan ini selalu penuh menjelang waktu berbuka puasa. 



Pesanan kami tiba 10 menit sebelum Adzan Maghrib. Sepuluh menit kemudian, kami sudah lahap dan menafsir pengalaman masing-masing dengan Konro Bakar ini. Daging konro ini dibakar dengan sempurna, well done. Diracik dengan bumbu tertentu yang membuatnya empuk dan memiliki cita rasa rempah yang khas, dipadu dengan bumbu kacang dan kuah. Barangkali, bila kami memakannya tepat setelah konro disajikan, tentu akan lebih mudah menaklukkan bagian lemak yang terlanjur mengeras. Overall, this is the best!

Aroma Coto Gagak

Perjalanan kami belum selesai. Kami masih ingin mencoba Coto Makassar. Sambil menunggu Konro Bakar dicerna dan memberi ruang untuk menu selanjutnya, kami pulang dulu ke hotel di Losari. Bang Azhar, pengemudi kami, merekomendasikan satu tempat makan Coto Makassar yang pernah dikunjungi Jokowi ketika kampanye tahun lalu.



Kami pun mengiyakan saja ketika ia membawa kami kesana. Aroma Coto Gagak sesuai namanya terletak di Jalan Gagak No. 27, Makassar. Banyak pilihan menu Coto yang menggugah selera. Pengunjung bisa memesan Coto daging, paru, jeroan, ataupun campur. Coto Makassar dinikmati dengan ketupat yang ukurannya tidak terlalu besar. Walaupun porsi Coto Makassar ini sama dengan Soto Kudus, saya tidak sanggup untuk menambah. Konro Bakar rupanya sudah cukup memakan ruang pencernaan saya.

Otak-Otak Ibu Elly

Sebelum pulang ke hotel, kami mampir ke tempat oleh-oleh khas Makassar yaitu Otak-Otak Ibu Elly di Jalan Kijang. Otak-Otak ini adalah menu oleh-oleh favorit dari Istri saya. Walaupun di Jakarta dapat dijumpai di Jalan Fatmawati, namun tetap saja rasanya beda, kata Istri saya.


Saya pun sependapat. Otak-otak yang dijual per paket berisi 10, 20, dan 50 ini tidak terlalu tahan lama. Maka jangan heran bila penjual bertanya lebih dahulu soal kapan kita mau pulang. Ini dilakukan untuk menjaga kesegaran dari Otak-Otak. Akhir kata, its taste is really something and worth your money.

Sebagai penutup, saya bersyukur dapat mencicipi kuliner khas Makassar seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Lain waktu kemari, saya masih penasaran dan ingin mencicipi Mie Titi dan Sop Saudara. Semoga masih ada kesempatan.


Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 15 Juli 2015.

Senin, 27 April 2015

Rumah adalah di Mana Pun

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti,
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah
 
(Soe Hok Gie, 1966)

Setiap selesai membaca buku kadang saya menulis juga review mengenai buku yang sudah dibaca itu. Terlepas dari kaidah-kaidah penulisan resensi yang dulu didapat dari mata kuliah Penulisan Artikel dan Resensi Buku. Ada kalanya saya benar-benar memberikan tinjauan atas satu buku. Nyatanya, seringkali saya hanya menulis apa yang terlintas di benak saya.

Tadinya, saya ingin menulis satu tinjauan lengkap atas buku ini. Namun, lagi-lagi, akibat satu-dua komentar di Goodreads, membuat saya batal menulis yang demikian itu. Saya ingin membandingkan pengalaman pembacaan saya dengan kritik-kritik yang buku ini terima di Goodreads.



Editing. Memang betul buku ini punya masalah serius dengan hal ini. Dari sisi penulisan dan penyajian teks, saya mengalami ketidaknyamanan sejak pembacaan halaman pertama. Barangkali, saya sudah terbisaa dengan tulisan teks yang rata kiri-kanan. Saya yakin buku ini telah lulus tahap-tahap editorial. Tidak mungkin buku ini mengcompile sedemikian banyak tulisan lalu diterbitkan ke publik begitu saja. Tetap disayangkan bahwa hal semacam ini masih luput dari perhatian Sang Editor. Justru, saya menaruh apresiasi pada desain tata letak sampul buku.

Sejak buku ini adalah kumpulan tulisan yang didokumentasikan dalam blog pribadi penulisnya maka maklum bila pembacanya menjumpai “selera” penulisan yang berbeda. Ada beberapa hal personal yang harus berhadapan dengan selera komersial. Artinya, ada bagian tulisan yang harus diubah. Itu kata komentator.

Menurut saya, tidak ada yang harus dirubah dari semua tulisan yang dimuat. Karena memang terbit pertama kali di blog penulisnya maka ketika buku ini mengusung tema kolektif semacam ini haruslah ditampilkan sebagaimana tulisan ini terbit pertama kalinya.

Otentisitas adalah harga mati untuk sebuah karya yang didokumentasikan secara personal dan kemudian diangkat menjadi sebuah karya kompilasi. Nilai-nilai yang bersifat dan personal itulah yang membuat tulisan ini hidup.

Pembaca boleh saja mempunyai seleranya sendiri, namun pembaca juga haru memahami apa yang jadi bacaannya. Pembaca harus paham latar belakang kontekstual yang melahirkan tulisan memoir perjalanan seperti yang ada dalam buku ini.

Saya tidak harus mengulangi lagi pernyataan saya sebelumnya bahwa semua tulisan dalam buku ini bersifat personal dan individual. Agak mengherankan ketika semua tulisan dalam buku ini harus berhadapan dengan makhluk yang bernama “pesan moral”. Tidak semua tulisan perlu disertai dengan pesan moral. Kecuali dalam beberapa tulisan yang memang mengharuskan isinya memiliki nilai yang bisa jadi pelajaran bagi pembaca.

Saya maklum saja karena mungkin saja komentar semacam ini muncul dari pembaca yang terlalu ‘serius’ dengan working paper atau jurnal. Tulisan mengenai perjalanan (travelogue) tidak hanya bercerita tentang bagaimana si penulis melakukan perjalanan. Pembaca dibebaskan sebebas-bebasnya untuk mengambil sendiri nilai moral dari yang sudah mereka baca. Saya kira ini hanya soal persepsi belaka karena sangat tidak mungkin untuk menyamakan persepsi, gaya tulis, dan tema dengan selera pembaca.

*

Judul buku ini sendiri sudah cukup menggugah dan membuat penasaran. Kita sudah lebih dari sering mendengar istilah: “Home is where your heart is.” Bagi para pengelana atau backpacker kelas jadi-jadian, hatinya bisa berada dimana saja. Hatinya mengembara sepanjang perjalanan. Hatinya bisa saja tertinggal di tempat tujuannya, tapi itu akan membawanya selalu kembali pada kesejatian cintanya.

Kabar baik dari buku ini adalah kita dihadirkan pengalaman masing-masing penulis dengan ceritanya masing-masing dalam membelah kekayaan dan keindahan bumi pertiwi. Ajaibnya, semua penulis kisah-kisah perjalanan ini adalah perempuan! Pembaca bisa tahu sekaligus merasakan patah hati di Mandalawangi, Bromo, dan Baluran. Kemudian, menyemai cinta dalam perjalanan menuju Kawah Ijen, Mahameru, dan Bali. Kenangan tentang sosok Ibu akan menyeruak kala perjalanan agak bergeser ke Lombok. Sabang dan Minangkabau menyuguhkan pengalaman pendewasaan diri. Kecintaan pada negeri ini akan semakin menebal kala Tana Toraja, Larantuka, dan Raja Ampat menghadirkan keunikannya.

Ada beberapa tulisan yang jadi favorit saya. Tulisan berjudul “Kabut Cinta Mandalawangi” dari Agita Violy dan “melarung Ingatan Tentangmu di Bromo”. Buku ini justru menjadi semakin unik dengan tema-tema individualnya. Ada cerita soal patah hati, menemukan cinta dalam perjalanan, hingga kenangan tentang Ibu. Maka, alangkah saya bersyukur bahwa Sang Editor tidak menempatkan tema-tema seragam menjadi bab yang sekuensial.

Judul        : Rumah adalah di Mana Pun
Penulis     : Adinto F. Susanto (ed.)
Penerbit   : Grasindo
Tebal        : 258 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Travelogue-Memoar


Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 27 April 2015.

Sabtu, 28 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (5)

Message in the Bottle

Sudah jadi kebiasaan saya mengoleksi botol minum sejak mulai aktif mengikuti berbagai lomba lari. Kebiasaan itu juga yang mendorong saya untuk mengoleksi botol minum dari sebuah jaringan kedai kopi internasional. Sebut saja Sbux! (you’re very fond of it!).

Cukup sederhana memang, botol minum mereka bentuknya masih begitu-begitu saja namun perbedaannya cukup signifikan dari satu negara ke negara lainnya. They put a name of their city (or country) on the bottle. Satu alasan yang cukup untuk sebuah eksistensi.

Saya belum punya tumbler dari negerinya Lee Kuan Yew ini, maka satu target saya sepanjang perjalanan ini adalah mendapatkan botol minum dari kedai di Singapura ini. Kebetulan, di Vivo City ada outletnya. Saya membeli satu botol berwarna oranye seharga SGD 20 yang sudah termasuk satu large chocolate/tea/coffee pilihan. Saya memilih coklat panas dan langsung berlari menuju area check-in ferry Batam Fast.

Bad luck for us. Kami tidak mendapatkan jadwal ferry jam 3 sehingga harus menunggu satu jam lagi untuk ferry selanjutnya. Oke, sampai disini kami belum panik. Bahkan kami masih bisa menyeruput habis coklat panas dan sebotol air mineral.

Jam empat lebih kami naik ferry. Kami berdoa supaya tidak ada aral melintang dalam penyeberangan kami. Pesawat Garuda ke Bandung akan take-off pukul 17.30 WIB. Tak lama, kami pun tertidur dan terbangun ketika ferry akan merapat ke Batam Center. Sudah pukul 17.00 ketika ferry bersandar. Kepanikan mulai terasa ketika kami mengantri lagi di lajur imigrasi kedatangan. Entah berapa menit yang kami habiskan, kami pun segera mencari taksi menuju Bandara Hang Nadim. Oh ya, itu pun sudah pukul 17.30.

Kami tidak menemukan taksi resmi menuju bandara. Sehingga kami mau saja ketika seorang supir menawari kami. Tak banyak pikir, kami pun segera mengiyakan tawarannya. Harga taksi dari pelabuhan Batam Center menuju bandara Hang Nadim adalah Rp. 90.000,-. Kami mencoba menawar namun si supir bilang kalau itu harga resmi dari Koperasi Taksi disana.

The Delay

Supir taksi memang tahu kami terlambat dan ia segera mengebut. Saya tidak tahu apa yang ada di benak Ella. Ada guratan lelah diwajahnya. Untuk saya sendiri, seandainya memang kami terlambat check-in, saya rela menghabiskan semalam lagi di Batam. Tiket pesawat tidak hangus dan mudah-mudahan bisa dapat flight. Walau tentunya hal itu akan berdampak pada jadwal kami keesokan harinya di Bandung.

17.50 WIB kami sampai di Hang Nadim. Selesai bayar taksi, kami bergegas menuju counter Garuda Indonesia. Petugas disana bilang kalau kami sudah terlambat. Itupun ditandai dengan anggukan teman di petugas tadi yang menandakan bahwa kami sudah tidak bisa check-in. Oke, saya tidak akan mengalah walau terlihat mengemis untuk kebaikan mereka. 

Akhirnya, saya tanya status pesawat tujuan Bandung itu, apa sudah pushback, taxi, atau take-off. Si petugas nampak terdiam dan rekannya yang tadi itu mengangguk. Saya diperingatkan untuk tidak terlambat lagi pada penerbangan-penerbangan saya selanjutnya. Who cares, now where is your airplane? Boarding pass pun issued, artinya pesawat memang masih belum berangkat ke Bandung. Alhamdulillah.

Setengah berlari menuju boarding room. Eng ing eng. Now, there’s the airplane. Standing still on the apron. Kami tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pertanda Yang Maha Kuasa masih mendengar doa kami. Belum sempat kami duduk di ruang tunggu, sudah ada panggilan naik ke pesawat. Yeah! We are going home!

Jam 18.15 pesawat masih tidak bergerak kendati penumpang sudah mulai duduk rapi dan permen sudah dibagikan oleh pramugari. Tak lama, mesin pesawat dinyalakan. Saya sempat bertanya pada seorang pramugari yang bertugas. Memang di musim liburan tahun baru ini semua jadwal penerbangan GA mengalami efek domino dari delay pada penerbangan sebelumnya. Pesawat yang kami naiki pun bernasib sama setelah sebelumnya menerbangi rute Denpasar-Bandung, Bandung-Batam, dan kini Batam-Bandung.

18.30 pesawat berhenti sempurna di ujung runway Hang Nadim. Menunggu clearance dari ATC Officer untuk mengangkasa. Saya cukup lega. Begitu pun Ella yang melamun menghadap jendela kabin.

Life is Very Long



Satu hari ini terasa sangat panjang bagi kami. Sejak sarapan nasi goreng di hotel, jalan-jalan ke Masjid Sultan Abu Bakar, mengantri di Woodlands, lunch di Bugis, ketinggalan ferry di Harbourfront, hingga telat check-in di Hang Nadim. Time management is a must on your travel line. Itu pelajaran utama kami. Selanjutnya, choose the option for your convenient. Tentukan kenyamananmu sendiri. Seperti ketika kami membeli daily pass dan tiket ferry pulang-pergi di Hang Nadim.

Kami melewati langit yang sama seperti kemarin sementara pencarian QZ8501 masih diteruskan. Guncangan terasa di beberapa titik. Perjalanan ini tak lama lagi segera berakhir. Ketika akhirnya kami landing di Husein Sastranegara, tak ada kata selain ucapan syukur. Kami pun sudah terlalu lelah untuk berfoto wefie. Keluar bandara, kami pun berjalan kaki santai menuju tempat pemberhentian angkot.

Saya bersyukur karena dengan selamat sentosa berhasil menyelesaikan perjalanan 'Satu Hari, Tiga Negeri' bersama Istri tercinta. Masih ada perjalanan lain yang akan kami tempuh. The story has to ends where it’s begins. Menyisakan cerita pada ingatan yang tak lekang. Au revoir.

Bandung, 2 Januari 2015.

Kisah Tiga Negeri (4)

Menikmati Johor

Ada banyak tujuan yang ingin kami nikmati selama di Johor ini. Sebut saja Lego Land atau Hello Kitty Town. Namun, karena memang lokasi keduanya sangat jauh dan waktu tinggal kami yang cuma semalam, saya dan Ella urung pergi kesana. Barangkali nanti kami harus menyediakan waktu lebih banyak.

Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru

Tujuan kami hari ini sebelum pulang adalah Masjid Sultan Abu Bakar. Kebetulan hari ini adalah hari Jum’at barangkali ada sedikit keramaian menjelang shalat Jum’at, perhaps. Selebihnya, karena memang tidak ada lagi objek wisata terdekat dari penginapan kami. Saya sendiri tidak mencari tahu lebih dahulu mengenai sejarah Masjid ini. Hanya beberapa review yang saya baca mensyaratkan kami supaya mampir kesana.

Kami pun segera melaju dengan taksi usai check-out. Suasana pagi yang saya kenal. Bedanya, disini lebih sepi sehingga menghadirkan perasaan tenteram. Tidak seperti di Kuala Lumpur dimana kita harus menyesuaikan diri dengan derap langkah khas ibukota. Kami membayar taksi seharga RM 7 untuk sampai ke Masjid.



Masjid Sultan Abu Bakar terletak tepat di tepi Selat Johor. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain. Diantaranya adalah Mahad dan sekolah. Pemandangan sekitarnya cukup menyenangkan dan melegakan. Hamparan lautan biru beradu dengan daratan Singapura di tapal batas horison.



Saya segera mencari posisi yang tepat untuk mengambil foto. Kebetulan matahari bersinar terik di langit Johor. Kami berfoto di sisi Masjid yang menghadap ke laut. Kami hanya punya waktu setengah jam disini. Kami tidak ingin terlalu lama lagi berada disini sehingga terlambat menyeberang ke Singapura dan Batam.



Sesi foto selesai. Kami telah mengemas kenangan di Masjid ini. Waktunya kembali ke JB Sentral di pusat kota. Rupanya, Johor tidak hanya memberi kenangan sebatas gambar. Kami masih harus menunggu 15 menit untuk dapat taksi yang mamu mengangkut kami ke JB Sentral. Kami menunggu di tepi jalan yang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas setiap lima menit. Beruntung, ada taksi yang searah dengan kami.



Setibanya di JB Sentral, kami segera naik bis tujuan Singapura. Kami menuju Bangunan Sultan Iskandar dimana terdapat kantor imigrasi Johor Bahru. Kami hanya perlu lima menit untuk urusan cap paspor. Saya dan Ella naik bis tujuan Kranji dengan tarif RM 1 atau SGD 1. Terserah mau pake mata uang yang mana.

Menuju Singapura

Menjelang pukul sepuluh pagi, rupanya jalan tol menuju Woodlands dilanda kemacetan. Mungkin saja, hal ini disebabkan usainya liburan tahun baru sehingga terjadi arus balik dari Johor menuju Singapura. Sebelum tiba di Woodlands, kami sudah turun dari bis dan berjalan kaki menuju kantor imigrasi Singapura.

Kejutan belum berhenti. Setelah mengisi form imigrasi, kami menghadapi antrian lagi. Antrian yang baru mencapai giliran kami satu jam kemudian. Masih ada lelah di wajah kami berdua. Kami memang ingin segera beristirahat. Maksudnya, segera tiba di Singapura, makan siang, lalu pergi menyeberang ke Batam. Well said, kami menghabiskan satu jam ini dengan mengantri sambil mengobrol.

Jam sebelas waktu kami naik bis ke Kranji. Tidak ada yang berubah disana. Warung nasi yang menjual makanan seharga SGD 2 masih tetap buka dan antrian penumpang KRT masih sama seperti kemarin-kemarin. Kami salah naik kereta. Kami naik ke arah Woodlands sehingga harus menunggu kereta selanjutnya. Perjalanan pun terasa lambat. Setengah satu siang kami tiba di Dhoby Ghaut. Kami Ella masuk antrian untuk menukarkan 2 kartu daily pass yang kami beli kemarin lusa demi mendapatkan deposit SGD 40. Lima belas menit saja dan itu cukup membuat kami kalang kabut menuju Stasiun MRT Bugis untuk membeli oleh-oleh di Bugis Market.

Lunch at Bugis

Dengan alasan waktu yang merambat, saya menganjurkan Ella untuk tidak mengelilingi pasar. Cukup beli di kios yang dulu pernah saya sambangi. Urusan oleh-oleh selesai. Sudah jam satu lebih dan kami harus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Perut kami sudah minta diisi sejak mengantri di Woodlands.



Kami makan di food court seberang Bugis Market. Kami memesan nasi rames ala Singapura. Menunya cukup lengkap untuk harga SGD 3. Untuk minum, saya membeli dua gelas jus buah yang segelasnya berharga SGD 1 di Pasar Bugis. Beberapa warga dan anak sekolahan duduk di meja sekeliling kami. Yang mengagetkan, tempat makan ini menyediakan menu tambahan yaitu petai!
Perjalanan berlanjut. Kami kembali ke stasiun MRT Bugis untuk segera meluncur ke Harbourfront MRT Station.


Bandung, 2 Januari 2015.

Minggu, 22 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (3)

1 Januari 2015 dimulai dengan sarapan pagi buatan istri tercinta. Sepasang roti bakar srikaya dan secangkir kopi hitam manis cukup untuk menghangatkan badan sehabis mandi. Awal yang bagus untuk memulai hari yang mendung ini. Diluar nampak gerimis. Belum banyak toko-toko yang buka di sekitar Hamilton Road. Kalaupun ada hanya sebuah pujasera di pojokan jalan. Itu pun sepi sekali, hanya ada dua orang tua yang nampak sedang mengobrol. 



Kami segera berkemas dan check-out dengan membayar sewa kamar seharga SGD 24, lebih murah sedikit dibandingkan Lofi Inn yang berharga SGD 28 per malam. Kami berjalan kaki menuju stasiun MRT Ferrer Park. Tujuan kami selanjutnya adalah Singapore Zoo yang berada di Mandai Lake Road. Kami segera menuju stasiun Ang Mo Kio untuk transit dan meneruskan ke Zoo naik bis 138.

Sarapan Cinta

Kami tiba di Ang Mo Kio dengan perut yang keroncongan minta diisi. Usai mencari loket pemberangkatan bis 138, kami pun mampir di Subway untuk membeli paket sandwich seharga SGD 5 sebagai bekal untuk nanti di Zoo. Kami juga membeli paket nasi lemak seharga SGD 2. Lumayan untuk sarapan. Isinya cukup lengkap. Nasi lemak plus sambal goreng ikan teri, sambal goreng kentang, dan sambal cabai.

Personally, sarapan nasi lemak ini adalah yang berkesan sepanjang usia pernikahan kami. Saya membagi dua sebungkus nasi ini dan kami saling menyuapi. Sebuah romantisme lokal dalam keramaian stasiun MRT. Kami sengaja membeli satu bungkus saja karena sudah punya bekal untuk di kebun binatang nanti.

Sepenggal Doa Nenek

Selesai sarapan datanglah sebuah keajaiban. Seorang nenek yang sedari tadi duduk disamping saya memberikan sebuah paket makanan. Katanya, ia sedang menunggu temannya namun teman yang ditunggu tidak datang. Paket makanan itu tadi sudah disiapkan untuk temannya. Daripada mubazir, ia memberikan paket itu kepada kami.

Kami terus terang kaget namun mengerti alasan Nenek itu. Ia juga seorang muslim dan tinggal di apartemen seberang stasiun Ang Mo Kio. Ia minta didoakan supaya panjang umur dan terus sehat. Kami pun minta didoakan supaya selamat sampai tujuan hingga kembali ke Bandung. Tidak ada hambatan dalam berkomunikasi karena kami berbicara dalam bahasa Melayu. Nenek tadi pun pergi.

Saya mengecek paket makanan itu. Kurang lebih seperti lumpia goreng berisi seafood (udang dan kerang). Lumayan, kalaupun tidak sempat kami makan bisa jadi untuk oleh-oleh saja sekalian, pikir saya. Saya dan Ella cukup menyadari bahwa paket pemberian Nenek tadi menambah beban dalam perjalanan kami. Kami berharap bisa menemukan solusi untuk paket makanan ini. Entah kami habiskan nanti di hotel setibanya di Johor atau malah kami bawa pulang.

Singapore Zoo

Kami pun segera naik bis 138 bertarif SGD 2,1 per penumpang. Perjalanan dari Ang Mo Kio menuju Singapore Zoo ditempuh selama 20 menit. Pemandangan sepanjang jalan pun cukup menyenangkan. Kita jadi tahu bagaimana Singapura begitu serius dalam mengurus perairan negaranya. Terbukti dari banyaknya dam dan reservoir penampung air. Singapore Zoo sendiri juga terletak di pinggir Mandai Road Lake, sebuah danau.

Gerimis menyambut kami di pelataran Singapore Zoo. Saya dan Ella heran mengapa kami begitu penasaran dengan kebun binatang di negeri orang sedangkan kami pun belum pernah lagi kembali mengunjungi kebun binatang Bandung sejak masuk kuliah.



Singapore Zoo menamai dirinya sebagai ‘The World’s Best Rainforest Zoo’. Oh cmon, you’re kidding me. Yes! Kebun binatang ini adalah taman buatan. Bedanya dengan kebun binatang Bandung yang lebih alami adalah bahwa Singapura sangat serius dalam menyiapkan kebun binatang miliknya. Sepintas, bisa dilihat dari bagaimana mereka mengorganisir paket perjalanan maupun pembelian tiket via laman web mereka. Belum soal desain landscape dan penempatan satwa.



Kami membeli tiket masuk  seharga SGD 37 plus tiket Parkhopper SGD 4 sehingga kami membayar masing-masing SGD 41. Saya jadi semakin penasaran dengan fasilitas Singapore Zoo dengan harga tiket sebesar itu.

Well, sisi artifisial dari kebun binatang ini ada di hampir tiap sudutnya. Saya kagum dengan desain kebun binatang disini. Saya yakin mereka juga pasti sangat serius dalam mengurus satwa-satwa yang mendiaminya. Jadwal feeding setiap satwa terlihat jelas di papan informasi sebelum kita masuk kandang mereka.



Cotton-top Tamarin adalah hewan pertama yang kami jumpai. Saya menyempatkan memotret hewan ini. Kami pun berjalan lagi menuju Rainforest Walk sebelum singgah sebentar di kandang Proboscis Monkey. Lima menit lagi adalah jadwal feeding mereka. Saya dan Ella pun menunggu waktu pembagian makan itu. Lima menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda feeding maka kami pun berjalan lagi menuju Tiger Trek untuk menjumpai seekor Harimau Putih yang sedang bersantai. Kami juga menjumpai Pygmy Hippo yang sedang berendam.



Australian Outback jadi tujuan selanjutnya. Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana Australia, saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi lokasi ini. Satwa liar khas Australia ada disini seperti Kangguru Abu-abu dan Wallaby. Satu yang aneh disini bagi saya adalah adanya Burung Kasuari disini. Barangkali, sebelum patahan benua Australia memisahkan diri dari pulau Irian memang habitat kasuari sudah lebih dulu ada disana.



Kami cukup menikmati perjalanan ini. Dari peta yang dibagikan, ada sebuah picnic site tak jauh dari lokasi kami sekarang, Great Rift Valley of Ethiopia dimana tinggal Hamadryas Baboon, Nubuan Ibex, dan Banded Mongoose. Jalanan yang menanjak membuat kami cukup kelelahan. Saya dan Ella pun bergegas menuju Pavilion by The Lake dimana terdapat zona istirahat (picnic site). 



Pemandangan disana cukup menyenangkan. Angin berhembus pelan dari danau yang mengelilingi kebun binatang. Danau itu adalah bagian dari Upper Seletar Reservoir. Sebuah dam yang dibuat pemerintah Singapura untuk urusan pengairan dalam negeri. Kami menikmati bekal kami disini.

Sepotong sandwich saya potong jadi dua bagian. Lumayan untuk mengisi perut kami hingga waktu makan siang nanti. Kami harus pandai menghemat air minum karena disini sangat mahal. Rata-rata SGD 1 per satu botol 500 ml. Ada beberapa tempat yang airnya bisa langsung diminum, namun saya tidak mau kompromi dengan urusan higienitas. Saya khawatir akan berpengaruh pada kesehatan selama kami di perjalanan.

Singapore Zoo's Parkhopper

Karena sudah membeli tiket Parkhopper, kami pun mengantri di stasiun 4 dekat tempat piknik. Kami akan menikmati lokasi-lokasi lain dengan kendaraan kereta tarik ini. Saya akui kalau kami sangat kelelahan bila harus mengelilingi kebun binatang dengan berjalan kaki. Kami pun harus menyimpan tenaga karena kami masih harus tiba di Johor sore ini. 



Dengan Parkhopper, kami melihat wahana-wahana lainnya. Ada Free Ranging Orang Utan Island yang dipenuhi sekelompok Orang Utan, Wild Africa; yang berisi satwa-satwa liar khas gurun Afrika, ada juga Cat Country, Snake House, Fragile Forest dan area main anak-anak Rainforest Kidzworld. Saya berniat mampir lagi kemari kelak bila anak kami lahir. 




Selepas turun dari Parkhopper, lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah Frozen Tundra yang jadi tempat tinggal Beruang Kutub, Racoon Dog, dan Wolverine. Yang jelas bukan Wolverine seperti yang diperankan Hugh Jackman. Kami menikmati kelakuan si Polar Bear yang menggemaskan. Ia menceburkan dirinya kedalam kolam yang temperaturnya dibuat sama dengan habitat aslinya di kutub selatan sana.



Puas dengan segala sajian Singapore Zoo,kami pun segera menuju pintu keluar dari menunggu bis 138 lagi yang akan membawa kami kembali ke Ang Mo Kio. Sebenarnya, ada shuttle bus gratis menuju ke Ang Mo Kio namun baru tersedia pukul 13.30. artinya, kami harus menunggu setengah jam lagi. Kami pun akhirnya naik bis 138 yang datang tak lama kemudian.



Kami kembali ke Ang Mo Kio saat waktu makan siang tiba. Saat kami masih bingung mau makan apa, rupanya kios nasi lemak tadi pagi masih buka. Kami pun membeli lagi dua bungkus nasi lemak dan dua botol air mineral. Walaupun kami makan makanan yang sama dengan sarapan, kami merasa lega karena mendapatkan menu dengan harga yang bersahabat.

Kami makan di halaman luar stasiun. Kami  tidak sendirian, ada beberapa orang juga yang makan sambil menunggu kereta. Ada juga yang merokok. Kami makan siang ditemani udara siang yang tidak begitu panas karena agak sedikit mendung. Kami menikmati sekali menu makan siang kami di hari pembuka 2015 ini.

Usai makan siang kami segera membeli tiket MRT menuju stasiun Kranji. Mirip dengan nama satu stasiun di daerah Bekasi Barat. Dari Kranji nanti kami akan naik bis tujuan Johor Bahru Sentral (JB Sentral), stasiun kereta antar kota di Johor sana.

Johor Bahru

Setibanya di Kranji, kami langsung menuju tempat pemberhentian bis ke Johor. Tiket bus menuju JB Sentral seharga SGD 1 atau RM 1. Terserah penumpang mau membayar menggunakan mata uang yang mana. Dari Kranji bis melewati Woodlands, yaitu gedung imigrasi Pemerintah Singapura.

Semua penumpang harus turun untuk urusan imigrasi ini. Kunjungan ke Woodlands ini menandai berakhirnya petualangan kami di Singapura hari ini. Kami pun resmi meninggalkan negeri yang telah membesarkan Lee Kuan Yew. Setelah beres urusan cap paspor, kami menunggu bis  di lajur pemberangkatan. Saran saya: Jangan lupa nomor trayek bis yang anda naiki. Agar tidak lupa, cek lagi tiket yang diberikan saat keberangkatan di Kranji. Pengemudi bis akan mengecek kembali tiket anda dan anda tidak akan membayar lagi hingga sampai ke JB Sentral.

Johor Bahru-Singapura dihubungan melalui sebuah jalan tol diatas Selat Johor. Perjalanan dari Woodlands menuju JB Sentral hanya memakan waktu 15 menit. Apabila macet, kadang bisa mencapai 1 jam. Johor menjadi salah satu alternatif bagi warga Singapura selain Batam.

Kami pun tiba dengan selamat sentosa di Johor Bahru Sentral. Saya merasakan suatu perbedaan yang cukup signifikan dengan di Singapura. Barangkali, itu cuma perasaan saja. Namun, saya mendapati perasaan yang sama seperti ketika berkunjung ke Kuala Lumpur dua kali tahun lalu.

Ella sudah membooking hotel di Johor ini. Kami sempat berdebat untuk memilih jalan menuju ke Zen Zeng Hotel. Perdebatan mereda di Starbucks JB Sentral (iya, kami perlu wifi gratis!) ketika kami menyimpulkan bahwa jalan dari JB Sentral menuju hotel lumayan jauh (3 km) dan agak ribet. Kami harus naik taksi.

Kami pun naik taksi dan membayar RM 7. Hari sudah mulai senja ketika kami check-in. Hotel yang kami tempati berada di wilayah perniagaan. Artinya, tetangga sebelah kami adalah ruko-ruko dan ada beberapa restoran. Letaknya juga di pinggir rel kereta antar kota. Mungkin, jika tadi kami berjalan kaki mengikuti rel dari JB Sentral, kami akan mudah menemukan hotel ini.

Kami mendapatkan kamar yang lumayan luas untuk ukuran hotel backpacker seharga RM 72 semalam ini (Rp. 250.000,-). Ada jendela mengarah ke bagian belakang hotel dimana terdapat rel kereta. Kamar mandinya pun lumayan, ada shower dan air panas. Tapi, pihak hotel tidak menyediakan air minum di dalam kamar. Pengunjung cukup membawa teko plastik yang disediakan di kamar untuk diisi di lantai 2. Not bad.

Setelah cukup mengistirahatkan diri dan shalat, saya dan Ella pun mencari makan malam. Ada dua restoran khas India di seberang hotel. Satu bernuansa masakan kambing dan satu lagi lebih variatif, Village Restaurant namanya. Ternyata satu grup dengan restoran kambing tadi. Kami memesan dua ayam tandoori berbumbu hijau dan satu lagi ayam spicy.



Kami menghabiskan RM 47 untuk makan malam ini. Artinya, makan malam tadi cukup mahal bila dibandingkan dengan restoran Nasi Kandar Penang langganan saya di Kuala Lumpur dulu. But, it’s absolutely acceptable. Sajian restoran india ini memang tasty. Mungkin itu juga sebabnya kenapa ada stiker Tripadvisor di pintu masuk restoran.

Malam kian meninggi. Suara kereta api terakhir terdengar di JB Sentral. Sementara acara televisi masih membahas soal kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami hanya bisa menunggu mata kami terpejam seraya membayangkan apa yang sudah kami lalui sejak di Singapura hingga tiba di Johor Bahru. Sometimes, life left us unanswered, but then life will lead you into something you never imagined before.

Bandung, 2 Januari 2015.

Sabtu, 21 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (2)

Menuju Negeri Lee Kuan Yeuw

31 Desember 2014. Hari terakhir tahun ini. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan mengalami perjalanan ini. Melakukan pergantian tahun di negeri orang. Memang tak jauh, hanya di negerinya Lee Kuan Yew. Namun, perjalanan memang selalu membawa kita pada sesuatu yang baru. Terlebih, saya ditemani istri tercinta kali ini.

Kami tidak punya agenda apapun untuk malam tahun baru ini. Pagi ini, kami harus segera berangkat menuju Batam Center. Agak sedikit terlambat karena kami terlalu menikmati kemalasan pagi hari. Kami baru check-out sekitar pukul 08.30 bersama pasangan asal Singapura yang mengajak kami untuk menyewa mobil (sharing) bersama. Ide yang bagus. Kami membayar bill hotel plus Rp. 80.000,- sebagai harga sewa mobil.

Laki-laki asal Singapura itu menebak tujuan kami adalah negerinya. Betul, kami memang akan kesana. Akhirnya, si perempuan ikut bicara dan memberi tahu kami spot-spot bagus untuk menikmati malam pergantian tahun disana. Vivo City Mall dan Marina Bay Sands sudah jelas masuk dalam daftar mereka.

Kami berpisah di Batam Center. Mereka boarding menuju antrian ferry Wave Master sedangkan kami menuju counter Batam Fast. Saya dan Ella sempat tertahan sepuluh menit disini karena antrian yang lumayan panjang. Tidak masalah karena masih ada setengah jam menuju keberangkatan walau sempat khawatir tidak kebagian jadwal penyeberangan jam 10.00 WIB. Kami lalu menuju area pengecekan imigrasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Saya menangkap senyum petugas yang tadi menyuruh kami untuk pergi ke counter Batam Fast untuk check-in. Maklum, kali ini saya tidak dibantu agen perjalanan :D .

Perjalanan menggunakan ferry ditempuh selama satu jam. 15 menit lebih lama karena kondisi ombak dan cuaca yang gerimis. Pada misi penyeberangan kali ini kapal ferry kami tidak didatangi petugas patroli perbatasan. Agak sedikit kaget ketika penyeberangan saya yang pertama sempat diperiksa oleh polisi.

Wilkommen en Singapore!



Cuaca agak sedikit cerah dan matahari mulai terlihat. Sisa-sisa gerimis masih membekas ketika Ella menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Harbourfront, Singapura. Kami segera menuju antrian imigrasi yang memang sudah padat oleh penumpang dari ferry sebelumnya. Seperti biasa, saya menjumpai lagi petugas imigrasi yang cekatan membuka jalur antrian. Kami menghabiskan waktu 15 menit untuk menyelesaikan urusan cap paspor.

Karena sudah dekat dengan Sentosa Island, Ella minta untuk segera menuju kesana. Ada beberapa pilihan untuk menyeberang ke Sentosa. Ada kereta gantung dan kereta shuttle dari Vivo City. Jalan kaki pun bisa. Namun, akhirnya kami urung pergi kesana. Kami tidak ingin kehabisan waktu disana. Maka kami pun hanya duduk-duduk santai di teras Vivo City Mall berteman angin laut sambil mencoba kamera DSLR pertama saya.

Selain liburan, pada perjalanan kali ini juga saya dibekali oleh perlengkapan baru. Sebuah kamera DSLR buatan Nikon dan tripod jadi teman seperjalanan. Selain kamera pocket Lumix FH-4 tercinta, tentunya. Saya belum banyak belajar fotografi digital sehingga perjalanan ini akan jadi momen latihan.

Saya segera memasang tripod dan mengambil beberapa foto di pinggir pantai. Saya juga mencoba beberapa fitur kamera. Saya akan menghabiskan banyak jepretan selama perjalanan ini karena saya ingin tahu sejauh mana penguasaan saya atas kamera DSLR. Usai puas berfoto dan rehat sejenak meredakan mabuk laut, kami beranjak lagi menuju stasiun MRT di underground Vivo City. Tujuan selanjutnya adalah Merlion Park. Saya akan mengajak Ella menuju Singapore’s trademark sekaligus mengesahkan perjalanan pertamanya kesini dengan berfoto latar Singa Merlion.



Kami membeli tiket daily pass seharga SGD 24. Jaminan SGD 20 akan didapatkan bila menukarkan daily pass pada saat habis masa berlakunya. Ini adalah satu cara yang bagus apabila kita puas jalan-jalan seharian di Singapura. Kita tidak perlu repot lagi untuk mengantri tiket. Tiket daily pass ini juga berlaku untuk semua moda transportasi, tidak hanya terbatas pada subway MRT.

Merlion is a Must!

Pada stasiun tujuan pertama, kami salah turun. Kami pun kembali ke Vivo City Mall dan mengambil rute menuju Raffles Place, dimana kami harus transit di stasiun Dhoby Ghaut. Kami pun akhirnya tiba di stasiun Raffles Place dan berjalan menuju Merlion Park.



Sudah menjadi keharusan bahwa berfoto dengan Merlion adalah semacam stempel yang mengesahkan kedatangan kita di negeri ini. Seakan tertulis dalam kitab suci bahwa Merlion adalah ritus khusus yang wajib didatangi. Ini terjadi lagi pada kami. 2013 lalu saya berfoto disini bersama kawan-kawan kantor. Kali ini, saya bersama dengan istri tercinta mengabadikan momen bersama Merlion dan Marina Bay Sands Hotel.


Hari pun beranjak menuju senja. Kami berjumpa dengan seorang perempuan dari Indonesia yang sedang menunggu temannya untuk menikmati tahun baru di Merlion Park. Ia hanya akan duduk-duduk saja disana seraya menunggu lalu kembali ke Indonesia pada pagi pertama di 2015. Kami pun pamit dan berjalan menuju Raffles Place.



Kami melepas lelah dengan menikmati es krim ala Orchard. Bedanya, yang ini tidak pakai roti tapi pakai kue waffel kering. Harganya pun masih SGD 1, dimana harga es krim ala Orchard mengalami kenaikan yang kini harganya menjadi SGD 1,2. Kami berdua pun tidak lupa untuk menghabiskan waktu berfoto bersama. Ada banyak spot bagus. Cukup pasang tripod, pasang timer, and smile!


Tak terasa sudah pukul 7 malam lebih, kami pun harus mengakhiri sesi foto outdoor hari ini. Seragam Merah Liverpool yang kami kenakan sepanjang hari ini sudah terekam dengan baik dalam kamera. Pertanda eksistensi ala couple yang sedang jadi trend belakangan ini. Ella memeriksa kembali booking hotel. Kami mendapat kamar di hostel backpacker, Lofi Inn Backpackers, yang berada di Hamilton Road. Batas check-in tertulis pukul 11 malam ini. Kami masih punya banyak waktu untuk menemukan alamat itu. Terlebih disaat kami benar-benar get lost tanpa handphone dan wifi.



Finding Hamilton

Keajaiban dimulai sejak kami naik MRT dari Raffles Place menuju Hamilton Road. Sebelum berangkat saya memang pernah mencari posisi hotel di Google Maps. Saya menandai patokan menuju ke hostel adalah dari Mustafa Center. Dengan demikian, berangkatlah kami menuju stasiun MRT Little India.

Setibanya di Little India, saya dilanda kebingungan karena tidak bisa menemukan posisi Mustafa Center walaupun sudah bertanya pada polisi yang berpatroli. Kami terus berjalan menyusuri jalan besar. Saya melihat Ella sudah lelah. Saya pun demikian. Tanpa disadari, kami mengalami adu argumen kami yang pertama disini. Kami sudah mulai lapar ketika menemukan sebuah warnet. Aha!
Kami mencoba mencari lokasi hotel dari tempat kami ngewarnet. Kami membayar sewa SGD 1 untuk 30 menit. Dari warnet, kami hanya perlu tinggal mengambil jalan lurus menuju Hamilton Road. Akhirnya, the problem solved! Waktunya cari makan.

Kami pun menjatuhkan pilihan pada restoran di perempatan jalan sekitar 800 meter dari warnet. Walaupun melabeli restorannya dengan masakan India, namun restoran ini menyediakan variasi yang cukup lengkap. Ada nasi goreng dan capcay, serta masakan khas Melayu dan Thailand. Kami pun memesan seporsi capcay yang cukup untuk berdua dan roti canai berkuah gulai. Kami menghabiskan SGD 12 untuk dinner yang cukup menyenangkan ini.



Kami berjalan kembali menuju Hamilton Road yang terletak di ujung jalan. Perasaan lega seketika menyeruak. Ah, betapa ingin kami segera merebahkan diri sebelum menyaksikan pesta kembang api yang katanya ada yang digelar di dekat lokasi hostel. Lofi Inn yang kami cari pun tak begitu susah ditemukan. And you know what, shit starts from here.

Sometimes, Life Left You Unanswered



Setibanya di Lofi Inn kami segera check-in, petugas resepsionis hostel sudah bersiap untuk pergi. Ia sudah ditunggu temannya, mereka akan merayakan tahun baru. Katanya, dua orang petugas pengganti shift sudah ada dan sedang bersiap-siap di belakang. Kami menunggu kembali. Beberapa tamu yang datang sebelum kami pun tampak kesal. Perasaan saya mulai tidak enak. Kami pun menunggu hingga menjelang pukul 11 malam. Tak terasa sudah satu jam lebih.

Pukul 11 malam, tidak ada petugas hostel yang dapat dihubungi. Lima belas menit kemudian ada dua orang petugas yang dengan gagahnya memberitahu para tamu bahwa Lofi Inn mengalami kerusakan sistem reservasi sehingga tamu yang membooking kamar via agoda.com dan booking.com tidak bisa mendapatkan kamar yang memang sudah penuh. Mereka meyakinkan kami untuk segera mencarikan hostel pengganti di sekitar lokasi yang berdekatan. Setahu saya, ketika kami tiba di Hamilton Road memang ada beberapa hostel lain. Mungkin juga mereka sudah penuh apalagi ini sekarang adalah malam tahun baru.

Menjelang menit-menit pergantian tahun, kami belum juga dapat kepastian. Sementara si petugas semakin kewalahan mencari hostel pengganti. Kami diperbolehkan menggunakan fasilitas kamar mandi hostel. Saya dan Ella bergantian cuci muka dan sholat. 

Akhirnya, kami menikmati kembang api dari kejauhan saja. Kami masih belum dapat kepastian tempat tinggal malam ini. Dari jendela yang mengarah keluar di lantai tiga Lofi Inn, saya melihat kembang api di kejauhan. Sementara Ella berada di bawah bersama tamu-tamu lain yang membaur. Beberapa tamu mengucapkan Happy New Year pada yang lainnya. Saya melihat harapan baru tumbuh di mata mereka.

Kami pun mendapatkan kamar, seorang petugas membawa saya dan Ella ke penginapan sebelah. Kira-kira 4 ruko bedanya dari Lofi Inn, sebuah hostel backpacker berjudul Pillow Talk. Saya meminta ranjang yang sama dengan Ella setelah meyakinkan di penjaga sekaligus owner Pillow Talk. Namun, karena ada seorang kawan perempuan lain dari Indonesia yang juga tidak kebagian kamar di Lofi Inn, saya harus rela tidur terpisah dari Ella.

Kamar hostel untuk backpacker termasuk unik. Satu kamar bisa diisi hingga 16 orang dengan tempat tidur ganda (atas-bawah). Saya kebagian di ranjang atas yang cukup nyaman. Saya harus rela menikmati malam pertama saya tanpa istri disamping. Namanya juga hostel backpacker. Kalau pengen enak ya kenapa nggak tinggal di Fullerton, ucap saya dalam hati.

Satu pelajaran telah kami alami soal booking hotel via external channel seperti agoda dan booking.com. Ella menduga kejadian yang kami alami ini adalah trik marketing dari sekumpulan pengusaha hotel agar mendapat kue yang sama sepanjang perayaan tahun baru.

Malam semakin meninggi. Pesta telah usai. Ledakan kembang api sayup-sayup masih terdengar dari kejauhan. Sementara itu, backpackers lain mulai berdatangan dan segera tidur. Perjalanan saya dan Ella belum akan berakhir. Kami masih akan menikmati Singapura seharian. Rencananya kami akan pergi ke Singapore Zoo lalu sorenya kami menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia.

Mata saya mulai berat. Barangkali, Ella pun begitu. Terima kasih Tuhan untuk perjalanan kami hari ini.

Johor Bahru, 1 Januari 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...