Tampilkan postingan dengan label pustakawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pustakawan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2016

The Card Catalog Is Officially Dead

Membaca artikel dibawah ini saya menjadi sadar bahwa the world is getting changed second by second. Divergensi media ditambah aksesibilitas dan penetrasi internet yang masif hingga ke genggaman tangan adalah satu faktor yang memberi kontribusi terhadap perkembangan dunia perpustakaan akhir-akhir ini. Kartu Katalog, sebagai salah satu media temu balik dalam penelusuran informasi telah menemui ajalnya. Setidaknya, menurut OCLC.

In my opinion, di dalam negeri sendiri,  sebentar lagi banyak Perpustakaan yang akan segera meninggalkan katalog kartu. Selain menambah beban storage (penyimpanan) efektivitasnya akan kembali dipertanyakan ditengah menjamurnya sistem otomasi perpustakaan dengan berbagai macam jenisnya.

Kematian katalog kartu ini setidaknya menghasilkan satu tantangan baru bagi para Pustakawan. Apakah mereka akan mampu mengintegrasikan katalog kartu ini ke dalam sistem otomasi? Tidak berhenti disitu saja, proses indexing katalog ini pun akan turut terintegrasi dalam sistem.

Dominasi katalog kartu selama kurang lebih seabad ini sebentar lagi hanya tinggal kepingan sejarah. Dalam dunia kepustakawanan, para pustakawan akan mengenangnya sebagai tool paling legendaris dalam perpustakaan mereka.

Medan Merdeka Barat, 28 November 2016.

________________________________________

The Card Catalog Is Officially Dead
Long live the card catalog

By Erin Blakemore

It’s been a long time since most libraries were filled with card catalogs — drawers upon drawers of paper cards with information about books. But now, the final toll of the old-fashioned reference system’s death knell has rung for good: The library cooperative that printed and provided catalog cards has officially called it quits on the old-fashioned technology.

Courtesy: pustakawan.club
The news comes via the The Online Computer Library Center (OCLC). The cooperative, which created the world’s first shared, online catalog system back in 1971, allowed libraries to order custom-printed cards that could then be put in their own analog cataloging systems. Now, says OCLC, it’s time to lay a “largely symbolic” system that’s well past its prime to rest.

“Print library catalogs served a useful purpose for more than 100 years, making resources easy to find within the walls of the physical library,” Skip Prichard, CEO of OCLC, said in a blog post. Now, with comprehensive, cloud-based catalogs like OCLC’s WorldCat available to libraries, there’s just no need for cards any longer.

Catalog cards haven’t always been printed: In fact, good handwriting used to be a key skill for librarians. In an 1898 card catalog handbook, Melvil Dewey even gave instructions on what types of cursive should be used by catalogers on handwritten cards. “Legibility is the main consideration,” he wrote. “Skilful writers acquire reasonable speed without sacrificing legibility. The time of the writer is, however, of small importance compared with that of the reader.”

The official death of the catalog card was observed at OCLC’s headquarters by about a dozen workers, writes Dan Gearino for The Columbus Dispatch. The organization, which has printed a whopping 1.9 billion cards, sent its final shipment to a library in Concordia College in Bronxville, New York. But don’t think the college is the last holdout in an analog library world — in fact, writes Gearino, the school’s library only uses its card catalog as a backup for its computerized one.

Jumat, 27 Maret 2015

99 Cahaya di Langit Eropa: Sebuah Kesan

Akhirnya, saya tidak pernah jadi untuk membeli buku ini. Satu dan lain hal membuat saya mengesampingkan buku ini untuk dibaca. Walau memang buku yang judulnya selalu saya plesetkan menjadi ’99 Kastangel di Langit Eropa’ ini terus membuat saya penasaran. Satu waktu, ketika sedang membereskan buku-buku bacaan, saya menemukan buku dari Harum Rais dan suaminya ini. Rupanya, istri saya sudah lebih duluan tamat. Alhasil, seminggu yang lalu, saya berhasil menamatkan buku ini.

Tadinya, saya akan menuliskan kesan pembacaan serupa resensi yang biasa saya tulis disini. Namun, saya lebih tergelitik untuk membuat satu “sikap” saya atas segenap ‘pro dan kontra’ atas buku ini yang dimulai dari sebuah komentar di Goodreads. Saya tidak akan memberi pembelaan maupun penilaian apapun karena buku sebagai produk sastra akan mati begitu terbit dan dibaca khalayak.

Ada pembaca 99 Cahaya di Langit Eropa yang menganggap buku ini sebagai buku yang tidak jelas karena termasuk buku yang tanggung. Tanggung kenapa? Buku ini bukan buku traveling pun bukan buku catatan perjalanan. Lantas, ada juga pendapat yang menyebutkan buku ini ‘agak lebay’ dan terlalu drama, terutama pada adegan si penulis di Granada. Tindakannya meminta izin untuk shalat dua rakaat di Masjid peninggalan masa kejayaan Islam yang kini berwujud gereja itu dianggap berlebihan.

Personally, saya hanya menganggap buku ini sebagai memoir dari penulisnya. Memoir yang sengaja ditulis sebagai monument kesaksian atas segenap perjalanannya menapaki sisa-sisa pecahan sejarah kejayaan Islam di Austria, Paris, Spanyol, dan Turki. Sejak memoir adalah kesan pribadi penulisnya maka sah-sah saja bila apa yang ditulis si penulis memang terkesan personal. Mau kisah yang dimuat itu lebay selebay-lebaynya drama pun terserah si penulis, karena memoir mengangkat isu yang personal. Saya sendiri pun agak terganggu dengan penggunaan pilihan kata “Jemaah” untuk “Jamaah” di sepertiga bagian akhir buku.

Tolong jangan lupakan juga peran editor dalam proses penerbitan buku ini. Editing buku ini dibuat sedemikian rupa hingga sampai ke mata pembaca dan menimbulkan beragam kesan pembacaan. Bagaimanapun, buku ini berhasil diangkat ke layar lebar dan menuai kesuksesan (untuk ukuran box office di Indonesia). Artinya, kisah yang terangkum dalam memoir memiliki muatan nilai dan pesan yang patut jadi cermin untuk kyalayak.

Terlepas dari paragraf-paragraf sebelumnya, buku ini memang layak dibaca oleh mereka yang mengagumi sejarah kisah kejayaan Islam dan berusaha menggali nilai-nilai maupun pelajaran dari sana. Tidaklah terlalu salah bila kemudian buku ini mengajak pembacanya untuk kembali mentafakuri diri, mengetahui dari mana kita berasal, hingga bersiap pada hari dimana kita semua kembali kepadaNya.

Judul        : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis     : Hanum Salsabila Rais
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tebal        : 340 hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Memoar-Sejarah Islam


Medan Merdeka Barat, 27 Maret 2015.

Minggu, 07 September 2008

Tentang Seorang Kawan yang Pustakawan

Membaca satu blog dari seorang rekan yang pustakawan dari bukit itu rasanya ada yang bisa dijadikan sebagai sebuah perenungan. Dalam blognya itu, ada beberapa tag yang memang menjadi pilihan hidupnya. Hidup, pustakawan, perpustakaan, dan Seno Gumira Ajidarma. Sejauh saya mengenalnya semua itu memang menjadi pilihannya. Entah kebetulan atau memang karena takdir, dia sampai juga pada fase hidupnya yang sekarang. Dia memang menikmati keadaanya itu. Sampai kami terakhir bertemu, dia masih terlihat menikmatinya.

Aku mengenalnya dari seorang teman yang mengirim e-mail. Teman itu menyuruhku untuk membuka sebuah alamat blog, persis seperti yang sedang kau baca saat ini. Sejak itulah perkenalanku dimulai. Rupanya memang benar. Hidup, pustakawan, perpustakaan dan Seno Gumira Ajidarma telah menjadi satu dari sekian kepingan yang menyusun hidupnya. Dia hidup di dalam dunia dengan profesi sebagai pustakawan yang tentu saja mengurus sebuah perpustakaan khusus di Bukit itu. Adapun Seno Gumira Ajidarma (mungkin) hanyalah seorang penulis yang sering dibacanya. Dalam setiap tulisannya, aku banyak sekali membaca catatan kaki yang merujuk pada buku-buku penulis itu. Apakah memang hidupnya hanya berkutat diseputaran tag-tag itu?

Memang, kuakui penulis itu setidaknya telah membentuk suatu sikap dalam berpikir padanya. Aku mengakuinya karena aku pernah sekali berdiskusi dengannya tentang dunia ini dilihat dari sisi filsafat. Kemampuan filsafat kami terbatas. Kami mengenal filsafat hanya karena waktu kuliah dulu mengikuti mata kuliah "Filsafat Komunikasi". Dia memang mendapatkan nilai "A" untuk kuliahnya itu, sedangkan aku sudah lupa apa nilaiku waktu itu.

Ketika kutanyakan apakah dunia ini memang ada? Dia hanya menjawab, "dunia ini tidak ada, yang ada hanyalah nama*)". Begitu seterusnya.

"Yang ada hanyalah nama. ketika kamu melihat pohon apakah itu benar-benar pohon? atau karena namanya saja pohon maka disebut sebagai pohon?"

Aku ingat kata-katanya itu memang mengutip dari sebuah kitab yang ditulis oleh Togog. Aku terdiam mendengar jawabannya. Aku tidak penasaran lagi. Memang benar, ada yang berubah padanya dan itu bukan saja tidak terlihat namun juga harus dirasakan sendiri ketika kau bersamanya.

Dia memang baru-baru ini membaca tentang filsafat tetapi bukan bukunya Sartre, Kafka, atau Nietzsche. Ia hanya mengenal filsafat dari buku kumpulan cerpen saja-dan juga buku Filsafat Komunikasi. Sepertinya ia masih dalam tahapan belajar. Maka aku tak heran bila ia memang masih menjadi seorang eksistensialis yang menganggap eksistensi mendahului esensi. Aku juga sama sepertinya, aku belum tahu banyak tentang filsafat. Maka aku tidak akan bicara lagi soal filsafat.

Aku tidak akan banyak bercerita lagi tentangnya. Kecuali, kalau engkau mau memintaku kembali untuk menuliskan apa saja yang belum tertulis tentangnya dengan memberikan komentar pada tulisan ini. Aku tidak akan keberatan menuliskan dirinya dalam setiap catatanku bila memang ada yang ingin kau tahu tentangnya dariku.


Bukit Pakar Timur 100, 7 September 2008, 16.46


*) dalam Kitab Omong Kosong, Seno Gumira Ajidarma, Bentang, 2004

Minggu, 31 Agustus 2008

BLA (bukan Bandung Lautan Api) - Catatan Seorang Pustakawan

Di suatu pagi yang sepi, aku membaca Headline koran harian Selendang Post pagi ini. Hmm. tidak ada yang menarik kecuali sepenggal catatan kecil di rubrik "Literasi dan Edukasi". Beginilah isi catatan itu.

Bandung Librarian Alliance Workshop for School Library

Bandung, (selendangpost, 31/08)
Seiring dengan bertambahnya tuntutan dan peran pustakawan sekolah dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja dan optimalisasi fungsi otomasi perpustakaan kemarin (30/08) Bandung Librarian Alliance (BIS-SD Gagasceria-KALI) bekerjasama dengan NCI-BookMan salah satu vendor perangkat otomasi perpustakaan mengadakan Athenaeum Light 8.5 & NCI-BookMan Workshop for School Library. Workshop yang bertempat di SD Gagasceria ini mengundang trainer berpengalaman dari Bandung International School, Any S. Fauzianie dan Komunitas Athenaeum Light Indonesia, Anggi Hafiz Al Hakam.

Acara yang berlangsung selama 6 jam tersebut dihadiri oleh para guru dan pustakawan dari berbagai sekolah dan komunitas literasi di Bandung. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta workshop dapat menerapkan penggunaan perangkat lunak otomasi perpustakaan di sekolahnya masing-masing. Demikian diungkapkan oleh penanggung jawab acara yang juga bertindak sebagai trainer, Any S Fauzianie "Kegiatan ini tentunya akan semakin menambah wawasan dan sebagai wahana untuk berbagi antar sesama rekan pustakawan untuk menerapkan penggunaan perangkat lunak otomasi perpustakaan yang berlisensi bebas dan open-script.".

Lain lagi yang diungkapkan oleh trainer dari KALI, Anggi Hafiz Al Hakam, bahwa KALI merasa terdorong untuk menyebarkan seluas-luasnya software athenaeum light ini sebagai satu solusi bagi penerapan otomasi perpustakaan, terutama perpustakaan sekolah. Kami juga terus berusaha untuk menjadi supporting group yang concern terhadap development dari athenaeum light sendiri.

Otomasi perpustakaan merupakan satu hal yang masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pustakawan terutama saat ini dengan fenomena hadirnya digital library. selain hal-hal tersebut yang masih menjadi current issue adalah literasi informasi. semua hal ini saling berkaitan sehingga diperlukan kerjasama dan pembinaan yang terus berlanjut. Rencananya, setelah workshop yang telah diadakan keempat kalinya ini akan dilaksanakan pula workshop selanjutnya dengan tema katalogisasi dan klasifikasi.(AH)

***

Aku terkejut. Hwaduh. Rupanya si pustakawan seni dari Bukit itu berulah lagi.


Bandung-Bukit Pakar Timur 100, 30-31 Agustus 2008, 11.45

Rabu, 27 Agustus 2008

Dicari: Wali Songo - Catatan Seorang Pustakawan

Bung, siang ini ada kebetulan ada seorang tak dikenal dari Malaysia yang mengontak saya. Saya sudah tanyakan dia tahu saya dari mana namun tetap dia tak mau menjawab. Saya tidak kenal dia. Dia hanya bilang kalau dia tertarik untuk mempelajari sejarah Indonesia terutama tentang Wali Songo yang dia duga sebagai nenek moyangnya. Dari obrolan tadi saya tahu dia keturunan bangsa kita, Banjar-Aceh-Malaysia.

Sepanjang percakapan saya bisa tahu bagaimana interestnya terhadap sejarah bangsa kita. Ingat Bung, dia ini orang Malaysia, Negeri Jiran yang kebetulan satu rumpun dengan kita. Namun, saya heran kenapa dia memiliki ketertarikan terhadap Wali Songo sebagai bagian dari sejarah Indonesia (kalau memang ada). Apakah karena ia mempunyai rasa keterikatan dengan tanah leluhur nenek moyangnya? Saya kira itu benar adanya. Karena, dia minta berbagai referensi mengenai wali songo dan kalau perlu dipertemukan juga dengan ahli sejarah Indonesia. Alamak. Tidak salah? Sejarawan. Siapa sejarawan kita, Bung? Anhar Gonggong? Yang ini saya kenal karena ia cukup sering tampil di TV untuk acara film dokumenter sejarah. Selebihnya , siapa Bung? Tapi, karena saya seorang pustakawan, saya tidak terlalu khawatir. Saya yakin bisa membantu dia. Minimal mencarikan alamat kontaknya Sejarawan dari UI itu.

Sebagai pustakawan, yang pernah dapat nilai "A" untuk mata kuliah References & Resources Services tentu ini sebuah tantangan tersendiri untuk saya. Apakah terbayang oleh Bung apa yang selanjutnya saya lakukan? Googling. Ya, Drs. Google rupanya sudah cukup pintar untuk sekedar mencarikan referensi tentang Wali Songo. Disitu saya temukan link yang merujuk pada sebuah resources di Center for Southeast Asian Studies, Northern Illinois University, di negeri yang sedang diperebutkan oleh Obama dan McCain. Oh ya, karena saya pembaca Seno Gumira Ajidarma dan masih menjadi anggota milisnya, maka petunjuk pertama saya beri tahu dia tentang buku SGA yang judulnya "Wali Songo & Siti Jenar". Saya belum pernah baca bukunya, mudah-mudahan saja buku itu bertutur jelas tentang sedikit kisah Wali Songo. Yang lebih membuat saya menjadi lebih berarti adalah ketika saya berhasil menemukan alamat e-mail dari Anhar Gonggong yang langsung saya forward ke Orang Melayu itu. Rupanya, dia senang sekali dan tak terhitung berapa banyak terima kasih yang telah dia ucapkan. Kalau kita memang sedang berhadapan mungkin ekspresinya bakal mirip teman kita itu lho Pustakawan dari Sarang Perawat waktu dia lihat saya datang sambil membawa kamera digital.

Begitulah Bung, cerita kejadian siang ini. Sejarah, telah menjadi tema hari ini. Sejarah, sudah berapa jauh kita belajar tentangnya?


Salam dari Bukit,



Bukit Pakar Timur 100, 27 Agustus 2008, 13.35

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...