Semua bisa terjadi
di dalam mimpi
Benar kata puisi
Sekali berarti sudah itu mati
Jurangmangu, 15 November 2018.
Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 November 2018
Senin, 31 Oktober 2016
Episode Dibuang Sayang: Hari Untuk Niki
![]() |
| Courtesy: us.fotolia.com |
Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul
sepanjang hari, dengan tak jemu-jemu
Begitulah Nita
mengiringi Niki menyanyi sepanjang jalan menuju ke sekolah. Hari ini, Niki akan
memulai hari sekolah pertamanya. Niki sangat senang sekali. Itu bisa terlihat
dari semangatnya untuk terus menyanyi bersama Nita. Niki boleh berbangga karena
kedua orang tuanya, Aku dan Nita, ikut turut menemani hari pertamanya
bersekolah. Aku dan Nita sengaja mengosongkan jadwal dan mengambil cuti untuk
seminggu ini. Kami ingin melihat Niki melewati hari-hari pertamanya di sekolah.
Kemarin, Niki menghabiskan waktu seharian untuk membeli
peralatan sekolah. Niki kelihatan tidak berselera
untuk membeli mainan apapun. Niki memaksa
aku dan Nita untuk menuruti keinginannya. Betapapun
Nita telah mengingatkan Niki bahwa semua itu belum akan digunakan pada minggu
pertama sekolah. Niki tetap pada pendiriannya. Ada
pancaran semangat dari matanya. Kami
pun mengalah.
Tidak berhenti sampai
disitu, malamnya Niki
bersemangat sekali untuk mempersiapkan peralatan sekolahnya. Buku tulis,
pensil, kotak pensil, kotak makan, semuanya berwarna merah muda dan bercorak
kartun kesayangan Niki, Hello Kitty. Niki seakan tidak sabar menunggu besok. Aku
masih memperhatikan Niki menata semua alat sekolahnya itu dari ruang tengah.
Begitu juga dengan Nita yang duduk menemani Niki dikamarnya.
Aku
tahu Niki sebenarnya lebih menginginkan keakraban seperti biasanya. Aku, Niki,
dan Nita jalan-jalan bersama. Sudah jadi kebiasaan kami seminggu sekali untuk
mengajak Niki rekreasi ke luar rumah. Niki lebih membutuhkan waktu untuk
bersama selalu dengan kedua orang tuanya. Aku dan Nita terus berusaha
memenuhinya. Walau kenyataannya, aku sudah tidak
bersama Niki dan Nita lagi. Aku
dan Nita tidak ingin Niki kehilangan figur Papa dan Mama yang
mampu jadi sosok teladan baginya.
Di dalam kamar, Niki meminta
Nita untuk menyanyi bersama. Rupanya, hadiah ulang tahun dariku tidak sia-sia.
Niki menyenangi semua lagu yang ada di album kumpulan lagu anak itu. Aku juga
senang melihatnya. Nita kelak tidak akan kerepotan mengajari Niki untuk
menyanyikan lagu untuk anak-anak TK seusianya. Suatu hal yang sulit dilakukan
karena saat ini anak-anak dengan mudahnya menyerap lagu-lagu yang tidak pantas
dan sepatutnya mereka dengarkan. Aku dan Nita tidak akan
pernah memaafkan diri kami sendiri bila hal ini sampai terjadi.
Niki
masih menyanyi.
Kupandang langit penuh bintang bertaburan.
Berkelap-kelip
seumpama bintang berlian.
Aku
pergi keluar sebentar. Di meja teras, aku menemukan kertas-kertas berserakan
penuh coretan tangan Niki. Aku perhatikan satu-satu. Lembar demi lembar. Aku
tersenyum sendiri melihat coretan tangan Niki. Aku melihat Niki berusaha
sangat keras untuk menuliskan kalimat yang dicontohkan Nita.
Niki naik sepeda.
Papa dan Mama naik mobil.
Niki sayang Mama dan Papa.
Ah,
aku jadi merinding membayangkan bagaimana Nita mengajari Niki tulis menulis.
Tidak hanya itu, aku pun hampir menangis mengingat Nita yang lebih dari sekedar
sabar untuk mengajari Niki membaca alfabet dan angka.
Aku
masuk lagi ke dalam rumah. Aku hendak menyalakan TV ketika aku mendengar Niki
bertanya.
"Ma,
Papa kapan
nggak akan terbang lagi?"
"Lho
kok Niki tanya gitu?"
"Habis
Papa nggak pernah ada di rumah, Ma.
Niki kan pengen sering jalan-jalan
lagi sama Papa."
"Kan bisa sama Mama?"
"Iya,
tapi Niki pengen sama Papa
juga."
"Niki
sayang, nanti kalo Papa lagi nggak terbang Papa pasti pulang."
Aku
tahu saat seperti ini pasti amatlah sulit untuk Nita hindari.
Niki sudah sering bertanya seperti itu. Aku salut pada ketabahan Nita untuk
menghadapi Niki dengan sejuta pertanyaan yang mungkin masih disimpannya. Aku
tidak jadi menonton TV. Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku.
*
Kami bertiga sudah
sampai di sekolah. Niki sudah tidak sabar ingin segera turun dan masuk kelas.
Nita dengan senang hati menuntun tangan Niki sambil terus mengembangkan
senyumnya seperti saat mengajar di depan kelas. Menyapa dan mengobrol sebentar
dengan orang tua murid lainnya yang juga datang untuk menyambut hari pertama
anak-anak mereka bersekolah. Sementara, aku membawakan tas sekolah Hello Kitty
warna merah muda kesayangan Niki. Aku segera menyusul dan berjalan di samping
Niki.
Sekolah Niki tidak
begitu jauh dari rumah Nita. Nita sengaja memilih sekolah TK yang dekat dengan
rumahnya supaya tidak kerepotan mengurus Niki. Apalagi, sekolah tempat Nita
mengajar juga tidak jauh dari sana. Pagi-pagi Nita akan mengantar Niki sebelum
masuk kerja dan saat makan siang Nita juga yang akan menjemput Niki. Pengalaman
Nita sebagai guru di sekolah internasional juga ikut menentukan pemilihan
sekolah untuk Niki. Aku tidak bisa memberikan pendapat apa-apa selama itu
merupakan keputusan yang terbaik untuk Niki. Aku hanya bisa mengiyakan saja
keputusan Nita itu.
Aku sudah berdiri di
depan kelas Niki. Aku dapat merasakan nuansa ceria dan keriangan dalam ruang
kelas ini. Suasana kelas juga memberikan kesan yang nyaman untuk murid-murid
didalamnya. Gambar-gambar dengan warna-warna ceria yang menempel di dinding,
deretan rak buku di sudut ruangan, belum lagi karpet warna-warni dan segala
macam boneka ikut memeriahkan suasana kelas. Aku yakin Niki pasti betah dan
kerasan untuk belajar disini.
Aku bisa membayangkan
apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya. Setiap pagi, Nita akan selalu
menyempatkan diri untuk mengantar Niki sampai depan pintu kelasnya. Nita akan
menggiring tas koper Hello Kitty warna merah muda kesayangan Niki sambil tetap
menggenggam tangan Niki. Nita pun akan selalu memasang raut muka penuh senyum
seperti ia selalu tampil di depan kelas. Di muka kelas, Ibu Guru Tati akan
segera menyambut mereka. Persis seperti apa yang terjadi saat ini.
“Selamat pagi, Niki.”
Sapa Ibu Guru Tati.
“Selamat pagi, Ibu
Guru.” Tukas Niki.
“Ayo, pamit dulu sama
Papa Mama.” Ajak Ibu Guru Tati.
“Papa, Mama, Niki mau
sekolah dulu ya.” Ucap Niki seraya mengulurkan tangan.
Aku melihat Nita
tersenyum, mengulurkan tangannya yang kemudian diciumi oleh Niki, lalu Nita
mengecup kening Niki. Niki pun menghampiriku dan melakukan hal yang sama. Aku
balas memeluk Niki. Sebuah perasaan yang telah lama hilang menyeruak kembali.
“Papa, Mama, nanti
jemput Niki, kan?” tanya Niki sebelum
masuk kelas.
“Ya, sayang. Mama sama
Papa nanti jemput Niki. Sekarang, Niki belajar dulu sama Ibu Guru ya.” Ucap
Nita sambil mengusap rambut Niki.
Hari pertama menjemput
Niki, aku bisa melihat rona bahagia pada senyum Niki. Niki tak henti-hentinya
bercerita pada Ibunya tentang pelajaran yang baru saja didapatnya. Niki juga
bercerita tentang teman-teman barunya. Seperti tadi pagi, Niki mengajak Nita
untuk menyanyi lagi, kali ini dengan manja. Aku tertawa dalam hati melihat
kelakuan Niki. Niki seperti tidak kehabisan energi. Aku mencuri pandang ke jok belakang,
Nita terlihat sangat senang sekali. Bisa jadi saat seperti itu adalah satu dari
sekian banyak momen terindah bagi Nita.
Niki tidak tahu apa-apa
tentang perpisahan orang tuanya. Niki hanya tahu kalau Papanya seorang
penerbang dengan jadwal yang tidak tentu dan hanya menemuinya saat sedang libur
terbang. Niki tidak pernah protes, hanya saja aku yang memang tidak tega untuk
melihatnya seperti itu. Tentunya, Niki ingin seperti anak-anak lainnya. Punya kehidupan normal
dengan orang tua mereka. Bersenda gurau setiap hari dengan orang tua mereka,
jalan-jalan ke Mall untuk makan es krim, bahkan hanya untuk sekedar bermain di
taman sekitar komplek perumahan.
Aku mencoba untuk tetap
menjadi figur Papa yang baik di depan Niki. Bagaimanapun, perpisahan antara Aku
dan Nita kemarin itu bukan sesuatu kita inginkan. Terlebih lagi, masih ada si
kecil Niki. Tetapi, kita tidak bisa meminta takdir seperti meminta segelas bir.
Kenyataan mengharuskan demikian.
Niki selalu bangga
terhadap Papanya. Suatu hari, ia pernah buktikan itu dihadapan teman-temannya.
Obrolan anak kecil selalu menarik untuk disimak apalagi ketika mereka saling
meyebutkan pekerjaan orang tuanya. Mirip seperti dalam iklan televisi.
Kebetulan waktu itu, aku menjemput Niki dan secara tak sengaja mengetahui hal
itu ketika anak-anak asuhan Ibu Guru Tati itu sedang menunggu dijemput orang tuanya
masing-masing. Saat seperti itulah yang membuatku selalu ingin cepat selesai
bertugas dan kembali bertemu dengan Niki.
Suatu kali, Niki pernah
bertanya sendiri kepadaku kapan aku akan berhenti menerbangkan pesawat. Aku
sendiri tidak tahu jawabannya. Aku hanya membalas pertanyaan Niki dengan
senyum. Aku ciumi keningnya. Suatu saat, Niki akan tahu alasan kenapa aku
melakukan semua itu.
Kadang-kadang, Niki
memintaku untuk membawanya ke Bandara. Niki selalu ingin ikut terbang. Salahku
sendiri yang memang belum pernah membawanya tamasya bersama naik pesawat
terbang. Niki selalu bilang bahwa ia juga ingin jadi seorang pilot. “Niki pengen bisa terbang kaya Papa..” begitu
katanya. Nita tidak pernah melarang ataupun meralat pernyataan Niki. Nita
seakan paham bahwa Niki hanyalah seorang anak kecil yang baru mampu berfantasi
tentang masa depan. Nita tidak merasa harus mengontrol masa depan Niki sejak
dini.
Seminggu telah berlalu
sejak hari sekolah Niki yang pertama. Aku dan Nita akan kembali pada kesibukan
masing-masing. Urusan antar jemput Niki sudah jelas menjadi kewajiban Nita. Aku
hanya akan menemui Niki setiap tengah minggu dan akhir pekan. Seminggu pertama
ini adalah hari-hari yang membuatku sadar akan pentingnya sebuah kebersamaan
dalam keluarga. Dengan perkembangan Niki yang sudah sampai pada tahap ini
rasanya aku ingin selalu menemaninya. Bersama mengiringi setiap langkah
bersamanya. Melihat Niki tumbuh besar tanpa kekurangan suatu apapun. Aku ingin
Niki merasakan arti sebuah keluarga sejak kecil.
Cuaca pagi ini terasa
begitu hangat dan cerah. Angin berhembus pelan. Matahari mulai keluar dari
persembunyannya di ujung sebelah timur mata angin. Niki masih tidur ketika aku
datang. Nita sedang menyiapkan seragam sekolah dan bekal makanan Niki. Aku
meletakkan buku kumpulan dongeng itu dalam genggaman Niki. Nanti malam, usai
bertugas aku akan membacakan dongeng-dongeng didalamnya hingga Niki lelap
tertidur dipelukanku.
*
Tower,
this is Selendang Air Flight ALH779, heading northwest, reporting emergency
situation, one engine inoperative due to flame out, request clearance for
emergency landing.
Aku masih membaca emergency procedures di FCOM usai
mengontak ATC. Pesawat yang aku terbangkan mengalami masalah kebakaran mesin. Aku
mengambil mikrofon dan mengumumkan situasi darurat pada penumpang. Aku akan
segera mendaratkan pesawat ini. Kabut menutupi pandanganku. Aku melihat
bayangan Niki yang semakin samar dan pudar. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku
hanya melihat titik-titik berwarna putih. Perlahan semakin banyak dan
menutupiku.
Jakarta, 10 Mei 2012.
Dibuat untuk kompilasi cerita pendek untuk menyambut Hari Anak Nasional Tahun 2012.Rabu, 29 Juli 2015
FF7: O' Connor's Last Ride
It’s been a long night,
without you my friend
And I'll tell you all about it when I see
you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again
![]() |
| Courtesy: YouTube |
Finally, i came to this
great movie. The magnificent seven, they said. ‘Furious 7’ serial teranyar ini
menyuguhkan petualangan yang menegangkan sekaligus emosional. Ada aroma balas
dendam dan nuansa kekeluargaan. Barangkali, ini berawal dari kejadian
meninggalnya Paul Walker pada 2013 lalu. Tanpa Paul, memang ada yang hilang dan
takkan terganti. Namun, film ini tetap memiliki jiwa Brian O’ Connor dengan
segala ciri khasnya sejak seri The Fast and The Furious jilid pertama.
Saya menangkap pola alur
yang sama antara film ini dengan serial The Ocean’s (Eleven, Twelve, and
Thirteen). Mengapa? Pertama, ada aroma balas dendam. Deckard Shaw (Jason
Statham) muncul untuk menuntut balas atas perlakuan Torreto kepada Owen Shaw,
adiknya. Kedua, Torreto direkrut kembali untuk menjalankan sebuah misi. Mirip
dengan Ocean’s Twelve, selain dituntut untuk menjalankan misi, mereka juga
punya alasan tersendiri alias keuntungan ganda bila menerima tawaran itu.
![]() |
| Courtesy: www.imdb.com |
‘Furious 7’ seharusnya
menjadi serial Fast and Furious yang paling sukses, mengingat seri terakhir ini
sarat muatan sentuhan emosional. Brian kini bukan lagi seorang mantan polisi
yang jadi dipercaya Torreto. Ia kini sudah berkeluarga dan akan segera memiliki
anak kedua dari pernikahannya dengan Mia. Torreto sendiri masih yakin bahwa
suatu saat Letty akan kembali mengingat semuanya, semua yang pernah terjadi
diantara mereka. Termasuk, pernikahan mereka di Puerto Rico.
Letty : Why didn't you tell me we were married?
Dom : You can't tell someone they love you.
Bila pada serial sebelumnya,
FF6, ketegangan dimulai ketika berlangsung perkelahian antara Dom’s Team dengan
Owen Shaw’s team, dimana Joe Taslim muncul menghajar Tyrese Gibson dengan
mutlak. Kali ini, Dominic Torreto harus berhadapan dengan seorang Deckard Shaw,
agen MI6 yang terlatih namun sudah dibebastugaskan dan bersekutu dengan tentara
bayaran dari Somalia.
![]() |
| Courtesy: www.imdb.com |
Saya mencatat dua kali
Dom dan Deckard berduel. Sementara, Brian dan rekan yang lain mengerjakan tugas
mereka untuk mengamankan God’s Eye. Menurut saya, inilah pencapaian dan
penghormatan tertinggi untuk seorang Dominic Torreto. Ia mengerjakan tugas yang
menjadi bagiannya. Ia menghadapi langsung seorang antagonis. That’s what leader
did.
![]() |
| Courtesy: YouTube |
Walau penonton sudah
bakal tahu bagaimana ending dari film ini, setidaknya mereka harus menunggu
dengan intensitas ketegangan yang tinggi untuk melihat Brian dan Dom melakukan “one
last ride” mereka dan berpisah di jalur Nagreg Garut-Tasik (Just kidding :D).
Jason Statham tampil memukau sebagaimana karakternya pada serial The
Transporter. Dengan gayanya seperti itu, ia harus menghadapi Dominic Torreto
sebagai ‘The Real Street Fighter’.
Anyway, rasanya tidak
sia-sia menghabiskan waktu 137 menit hanya untuk menyaksikan sebuah happy
ending. Alamat dedikasi pada screen penutup untuk Paul Walker mengisyaratkan semua alasan bagi penciptaan #FF7. Pemilihan lagu sebagai soundtrack utama dari Wiz Khalifa feat. Charlie
Puth, See You Again, agaknya memang beralasan. Nuansa emosional kembali terasa
kala soundtrack film ini diputar. The lyric tells you everything. How can we not talk about family when family's all that we got?
Sutradara : James Wan
Cast :Vin Diesel, Paul Walker, Tyrese Gibson, Dwayne Johnson, Jordana Brewster,
Michelle Rodriguez, Ludacris, Gal Gadot
Durasi : 137 menit
Tahun : 2015
Produksi : Universal Pictures
Genre : Action-Thriller
Dharmawangsa – Sentul, 29
Juli 2015.
Sabtu, 28 Februari 2015
Sepotong Hati Yang Baru
Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)
Awalnya
Sudah lama saya tahu bahwa Tere Liye adalah seorang penulis yang cukup produktif. Saya sendiri tidak begitu tahu persis kapan Tere Liye merilis karyanya yang pertama. Yang jelas, hingga saya menamatkan pembacaan buku ini, kesannya sebagai penulis produktif belum berubah dalam imaji saya.
“Sepotong Hati Yang Baru” adalah perkenalan saya yang pertama dengan sosok kepenulisan Tere Liye. Terima kasih kepada istri saya yang mengantarkan saya pada karya-karya Tere Liye. Ada beberapa buku yang judulnya saya cukup kenal menghiasi rak di kamarnya. Akhirnya, akhir bulan ini saya putuskan untuk mulai membaca buku-buku itu satu per satu. Dimulai dari yang paling tipis.
Edisi Perkenalan
Kumpulan cerpen ini berisi delapan cerita pendek yang lumayan panjang. Maksudnya, tanpa mengurangi takdir cerpen yang hanya habis dibaca sekali duduk, beberapa cerita didalamnya punya alur yang sangat detail dan dinamis. Saya kagum pada kekuatan penceritaan dan gaya bahasa sang penulis. Dengan begitu padu, menjadikan buku ini tidak sekedar kumpulan cerpen biasa.
Cerpen pertama “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” berkisah tentang kisah muda-mudi yang berada di ambang kegalauan masa mudanya. Tere Liye berhasil mengangkat sebuah fenomena kecil menjadi objek cerita yang ringan namun nyata dan ada dalam keseharian kita. Terlebih dengan boomingnya media sosial, terutama Facebook, membuat cerita ini begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang sebuah perasaan bernama GR alias gede rasa.
“Kisah Sie Sie” adalah cerpen yang menurut saya cukup dinamis dan lugas dalam penceritaan. Dengan alurnya yang demikian, saya merasa seperti membaca sebuah kisah nyata di tabloid khusus perempuan. Penulis mengangkat satu fenomena yang telah terjadi berulang-ulang di Singkawang, Kalimantan Barat. Soal pernikahan WNI keturunan/peranakan Tionghoa dengan WNA yang sengaja datang kesana. Alasan ekonomi seringkali menjadi faktor yang menyebabkan para perempuan muda disana rela untuk diperistri orang asing dan dibawa ke negaranya. Saya kagum dengan tokoh Sie Sie yang menepati janjinya untuk mencintai suaminya apa adanya walau harus mengalami berbagai penolakan dan siksaan.
“Sepotong Hati Yang Baru” kiranya mewakili seluruh penjiwaan atas penulisan buku ini. Banyak alasan yang menyebabkan seseorang patah hati. Tak terkecuali, satu keputusan yang diambil menjelang hari pernikahan yang menghancurkan semua imaji tentang cinta dan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimanapun susahnya, si Aku dalam cerita ini berhasil menumbuhkan sepotong hati yang baru untuk mengganti sepotong lainnya yang terlanjur dibawa pergi sang mantan kekasih. Dengan potongan hatinya yang baru ini, ia berhasil menolak si mantan untuk kembali mengikat janji. Sebuah pembalasan yang setimpal. Siapa menabur, maka dia akan menuai.
Legenda Sam Pek dan Eng Tay yang tersohor itu kini diceritakan kembali dalam “Mimpi-Mimpi Sampek Engtay”. Tere Liye menulis kembali cerita ini dengan detail yang cukup istimewa. Saya teringat kembali sebuah yel yel wajib di kalangan mahasiswa, “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Khusus untuk Sam Pek dan Eng Tay berlaku “Dua Cinta Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” walau kadang maut akhirnya memisahkan. Moral dari cerita tentang ketulusan adalah hal yang selalu menarik untuk diceritakan kembali, apapun bentuknya.
“Itje Noerbaja & Kang Djalil” adalah cerpen yang unik. Saya kembali teringat pada kalimat-kalimat pengantar cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dimana terdapat kalimat dengan ejaan lama. Hal ini saya temukan kembali pada cerpen ini. Cerpen yang berkisah tentang usaha pergerakan dari para babu dan centeng di zaman kolonial Belanda. Kisah romantis dan heroik ini seakan mengingatkan kita kembali pada sejarah yang tak tercatat.
“Kalau Semua Wanita Jelek” adalah cerita yang berbau feminin. Seorang perempuan tentu mendambakan tubuh ideal yang diterjemahkan dalam bahasa umum sebagai langsing atau kurus. Terkadang, hal yang demikian itu menyesatkan. Bahwa sesungguhnya kecantikan itu relatif. Mungkin benar adanya pepatah lama itu, kecantikan sesungguhnya terpancar dari hati.
Seperti halnya legenda Sam Pek dan Eng Tay, kisah Sri Rama dan Shinta tidak pernah selalu kadaluwarsa untuk diceritakan kembali. “Percayakah Kau Padaku?” adalah gugatan untuk Rama. Ketulusan cinta rama pada Shinta diuji disini. Personally, kisah Rama-Shinta sejatinya adalah kisah romantis karena mereka saling mencintai. Namun, belakangan ini saya memang meragukan ketulusan Rama pada Shinta. Bisa jadi Rahwana lah yang benar-benar mencintai Shinta dengan tulus. Kalau Rama masih cinta pada Shinta , mengapa ia mesti meragu pada Shinta yang telah diculik dan diselamatkannya dari api cinta Rahwana?
“Buat Apa Disesali...” adalah sebuah kisah cinta klasik (entah juga klise) yang menimpa Hesty dan Tigor. Bagian terbaik cerita ini adalah sisipan lirik lagu yang dinyanyikan sepenuh jiwa oleh Rita Effendy, ‘Selamat Jalan Kekasih”.
Konklusi
Secara keseluruhan, saya menikmati pembacaan perkenalan saya dengan Tere Liye. Buku ini adalah buku sekuel dari serial ‘Berjuta Rasanya’. Tak harus membaca edisi pertama untuk memahami edisi sekuel ini. Tulisannya tidak hanya mengalir dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis pun piawai dalam memainkan karakter sekaligus menyertakan beberapa pelajaran dan makna yang hidup ini sediakan.
Judul : Sepotong Hati Yang Baru
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Mahaka Publishing
Tahun : 2012
Tebal : 206 hal.
Genre : Kumpulan Cerpen
Dharmawangsa, 28 Februari 2015.
Langganan:
Komentar (Atom)





