Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 November 2018

Mimpi

Semua bisa terjadi
di dalam mimpi
Benar kata puisi
Sekali berarti sudah itu mati


Jurangmangu, 15 November 2018.

Senin, 31 Oktober 2016

Episode Dibuang Sayang: Hari Untuk Niki


 
Courtesy: us.fotolia.com

Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul sepanjang hari, dengan tak jemu-jemu

Begitulah Nita mengiringi Niki menyanyi sepanjang jalan menuju ke sekolah. Hari ini, Niki akan memulai hari sekolah pertamanya. Niki sangat senang sekali. Itu bisa terlihat dari semangatnya untuk terus menyanyi bersama Nita. Niki boleh berbangga karena kedua orang tuanya, Aku dan Nita, ikut turut menemani hari pertamanya bersekolah. Aku dan Nita sengaja mengosongkan jadwal dan mengambil cuti untuk seminggu ini. Kami ingin melihat Niki melewati hari-hari pertamanya di sekolah.
Kemarin, Niki menghabiskan waktu seharian untuk membeli peralatan sekolah. Niki kelihatan tidak berselera untuk membeli mainan apapun. Niki memaksa aku dan Nita untuk menuruti keinginannya. Betapapun Nita telah mengingatkan Niki bahwa semua itu belum akan digunakan pada minggu pertama sekolah. Niki tetap pada pendiriannya. Ada pancaran semangat dari matanya. Kami pun mengalah.
Tidak berhenti sampai disitu, malamnya Niki bersemangat sekali untuk mempersiapkan peralatan sekolahnya. Buku tulis, pensil, kotak pensil, kotak makan, semuanya berwarna merah muda dan bercorak kartun kesayangan Niki, Hello Kitty. Niki seakan tidak sabar menunggu besok. Aku masih memperhatikan Niki menata semua alat sekolahnya itu dari ruang tengah. Begitu juga dengan Nita yang duduk menemani Niki dikamarnya.
Aku tahu Niki sebenarnya lebih menginginkan keakraban seperti biasanya. Aku, Niki, dan Nita jalan-jalan bersama. Sudah jadi kebiasaan kami seminggu sekali untuk mengajak Niki rekreasi ke luar rumah. Niki lebih membutuhkan waktu untuk bersama selalu dengan kedua orang tuanya. Aku dan Nita terus berusaha memenuhinya. Walau kenyataannya, aku sudah tidak bersama Niki dan Nita lagi. Aku dan Nita tidak ingin Niki kehilangan figur Papa dan Mama yang mampu jadi sosok teladan baginya.
Di dalam kamar,  Niki meminta Nita untuk menyanyi bersama. Rupanya, hadiah ulang tahun dariku tidak sia-sia. Niki menyenangi semua lagu yang ada di album kumpulan lagu anak itu. Aku juga senang melihatnya. Nita kelak tidak akan kerepotan mengajari Niki untuk menyanyikan lagu untuk anak-anak TK seusianya. Suatu hal yang sulit dilakukan karena saat ini anak-anak dengan mudahnya menyerap lagu-lagu yang tidak pantas dan sepatutnya mereka dengarkan. Aku dan Nita tidak akan pernah memaafkan diri kami sendiri bila hal ini sampai terjadi.
Niki masih menyanyi.
Kupandang langit penuh bintang bertaburan.
Berkelap-kelip seumpama bintang berlian.
Aku pergi keluar sebentar. Di meja teras, aku menemukan kertas-kertas berserakan penuh coretan tangan Niki. Aku perhatikan satu-satu. Lembar demi lembar. Aku tersenyum sendiri melihat coretan tangan Niki. Aku melihat Niki berusaha sangat keras untuk menuliskan kalimat yang dicontohkan Nita.
Niki naik sepeda.
Papa dan Mama naik mobil.
Niki sayang Mama dan Papa.
Ah, aku jadi merinding membayangkan bagaimana Nita mengajari Niki tulis menulis. Tidak hanya itu, aku pun hampir menangis mengingat Nita yang lebih dari sekedar sabar untuk mengajari Niki membaca alfabet dan angka.
Aku masuk lagi ke dalam rumah. Aku hendak menyalakan TV ketika aku mendengar Niki bertanya.
"Ma, Papa kapan nggak akan terbang lagi?"
"Lho kok Niki tanya gitu?"
"Habis Papa nggak pernah ada di rumah, Ma. Niki kan pengen sering jalan-jalan lagi sama Papa."
"Kan bisa sama Mama?"
"Iya, tapi Niki pengen sama Papa juga."
"Niki sayang, nanti kalo Papa lagi nggak terbang Papa pasti pulang."
Aku tahu saat seperti ini pasti amatlah sulit untuk  Nita hindari. Niki sudah sering bertanya seperti itu. Aku salut pada ketabahan Nita untuk menghadapi Niki dengan sejuta pertanyaan yang mungkin masih disimpannya. Aku tidak jadi menonton TV. Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku.
*
Kami bertiga sudah sampai di sekolah. Niki sudah tidak sabar ingin segera turun dan masuk kelas. Nita dengan senang hati menuntun tangan Niki sambil terus mengembangkan senyumnya seperti saat mengajar di depan kelas. Menyapa dan mengobrol sebentar dengan orang tua murid lainnya yang juga datang untuk menyambut hari pertama anak-anak mereka bersekolah. Sementara, aku membawakan tas sekolah Hello Kitty warna merah muda kesayangan Niki. Aku segera menyusul dan berjalan di samping Niki.
Sekolah Niki tidak begitu jauh dari rumah Nita. Nita sengaja memilih sekolah TK yang dekat dengan rumahnya supaya tidak kerepotan mengurus Niki. Apalagi, sekolah tempat Nita mengajar juga tidak jauh dari sana. Pagi-pagi Nita akan mengantar Niki sebelum masuk kerja dan saat makan siang Nita juga yang akan menjemput Niki. Pengalaman Nita sebagai guru di sekolah internasional juga ikut menentukan pemilihan sekolah untuk Niki. Aku tidak bisa memberikan pendapat apa-apa selama itu merupakan keputusan yang terbaik untuk Niki. Aku hanya bisa mengiyakan saja keputusan Nita itu.
Aku sudah berdiri di depan kelas Niki. Aku dapat merasakan nuansa ceria dan keriangan dalam ruang kelas ini. Suasana kelas juga memberikan kesan yang nyaman untuk murid-murid didalamnya. Gambar-gambar dengan warna-warna ceria yang menempel di dinding, deretan rak buku di sudut ruangan, belum lagi karpet warna-warni dan segala macam boneka ikut memeriahkan suasana kelas. Aku yakin Niki pasti betah dan kerasan untuk belajar disini.
Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya. Setiap pagi, Nita akan selalu menyempatkan diri untuk mengantar Niki sampai depan pintu kelasnya. Nita akan menggiring tas koper Hello Kitty warna merah muda kesayangan Niki sambil tetap menggenggam tangan Niki. Nita pun akan selalu memasang raut muka penuh senyum seperti ia selalu tampil di depan kelas. Di muka kelas, Ibu Guru Tati akan segera menyambut mereka. Persis seperti apa yang terjadi saat ini.
“Selamat pagi, Niki.” Sapa Ibu Guru Tati.
“Selamat pagi, Ibu Guru.” Tukas Niki.
“Ayo, pamit dulu sama Papa Mama.” Ajak Ibu Guru Tati.
“Papa, Mama, Niki mau sekolah dulu ya.” Ucap Niki seraya mengulurkan tangan.
Aku melihat Nita tersenyum, mengulurkan tangannya yang kemudian diciumi oleh Niki, lalu Nita mengecup kening Niki. Niki pun menghampiriku dan melakukan hal yang sama. Aku balas memeluk Niki. Sebuah perasaan yang telah lama hilang menyeruak kembali.
“Papa, Mama, nanti jemput Niki, kan?” tanya Niki sebelum masuk kelas.
“Ya, sayang. Mama sama Papa nanti jemput Niki. Sekarang, Niki belajar dulu sama Ibu Guru ya.” Ucap Nita sambil mengusap rambut Niki.
Hari pertama menjemput Niki, aku bisa melihat rona bahagia pada senyum Niki. Niki tak henti-hentinya bercerita pada Ibunya tentang pelajaran yang baru saja didapatnya. Niki juga bercerita tentang teman-teman barunya. Seperti tadi pagi, Niki mengajak Nita untuk menyanyi lagi, kali ini dengan manja. Aku tertawa dalam hati melihat kelakuan Niki. Niki seperti tidak kehabisan energi. Aku mencuri pandang ke jok belakang, Nita terlihat sangat senang sekali. Bisa jadi saat seperti itu adalah satu dari sekian banyak momen terindah bagi Nita.
Niki tidak tahu apa-apa tentang perpisahan orang tuanya. Niki hanya tahu kalau Papanya seorang penerbang dengan jadwal yang tidak tentu dan hanya menemuinya saat sedang libur terbang. Niki tidak pernah protes, hanya saja aku yang memang tidak tega untuk melihatnya seperti itu. Tentunya, Niki ingin seperti  anak-anak lainnya. Punya kehidupan normal dengan orang tua mereka. Bersenda gurau setiap hari dengan orang tua mereka, jalan-jalan ke Mall untuk makan es krim, bahkan hanya untuk sekedar bermain di taman sekitar komplek perumahan.
Aku mencoba untuk tetap menjadi figur Papa yang baik di depan Niki. Bagaimanapun, perpisahan antara Aku dan Nita kemarin itu bukan sesuatu kita inginkan. Terlebih lagi, masih ada si kecil Niki. Tetapi, kita tidak bisa meminta takdir seperti meminta segelas bir. Kenyataan mengharuskan demikian.
Niki selalu bangga terhadap Papanya. Suatu hari, ia pernah buktikan itu dihadapan teman-temannya. Obrolan anak kecil selalu menarik untuk disimak apalagi ketika mereka saling meyebutkan pekerjaan orang tuanya. Mirip seperti dalam iklan televisi. Kebetulan waktu itu, aku menjemput Niki dan secara tak sengaja mengetahui hal itu ketika anak-anak asuhan Ibu Guru Tati itu sedang menunggu dijemput orang tuanya masing-masing. Saat seperti itulah yang membuatku selalu ingin cepat selesai bertugas dan kembali bertemu dengan Niki.
Suatu kali, Niki pernah bertanya sendiri kepadaku kapan aku akan berhenti menerbangkan pesawat. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku hanya membalas pertanyaan Niki dengan senyum. Aku ciumi keningnya. Suatu saat, Niki akan tahu alasan kenapa aku melakukan semua itu.
Kadang-kadang, Niki memintaku untuk membawanya ke Bandara. Niki selalu ingin ikut terbang. Salahku sendiri yang memang belum pernah membawanya tamasya bersama naik pesawat terbang. Niki selalu bilang bahwa ia juga ingin jadi seorang pilot. “Niki pengen bisa terbang kaya Papa..” begitu katanya. Nita tidak pernah melarang ataupun meralat pernyataan Niki. Nita seakan paham bahwa Niki hanyalah seorang anak kecil yang baru mampu berfantasi tentang masa depan. Nita tidak merasa harus mengontrol masa depan Niki sejak dini.
Seminggu telah berlalu sejak hari sekolah Niki yang pertama. Aku dan Nita akan kembali pada kesibukan masing-masing. Urusan antar jemput Niki sudah jelas menjadi kewajiban Nita. Aku hanya akan menemui Niki setiap tengah minggu dan akhir pekan. Seminggu pertama ini adalah hari-hari yang membuatku sadar akan pentingnya sebuah kebersamaan dalam keluarga. Dengan perkembangan Niki yang sudah sampai pada tahap ini rasanya aku ingin selalu menemaninya. Bersama mengiringi setiap langkah bersamanya. Melihat Niki tumbuh besar tanpa kekurangan suatu apapun. Aku ingin Niki merasakan arti sebuah keluarga sejak kecil.
Cuaca pagi ini terasa begitu hangat dan cerah. Angin berhembus pelan. Matahari mulai keluar dari persembunyannya di ujung sebelah timur mata angin. Niki masih tidur ketika aku datang. Nita sedang menyiapkan seragam sekolah dan bekal makanan Niki. Aku meletakkan buku kumpulan dongeng itu dalam genggaman Niki. Nanti malam, usai bertugas aku akan membacakan dongeng-dongeng didalamnya hingga Niki lelap tertidur dipelukanku.
*
Tower, this is Selendang Air Flight ALH779, heading northwest, reporting emergency situation, one engine inoperative due to flame out, request clearance for emergency landing.
Aku masih membaca emergency procedures di FCOM usai mengontak ATC. Pesawat yang aku terbangkan mengalami masalah kebakaran mesin. Aku mengambil mikrofon dan mengumumkan situasi darurat pada penumpang. Aku akan segera mendaratkan pesawat ini. Kabut menutupi pandanganku. Aku melihat bayangan Niki yang semakin samar dan pudar. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku hanya melihat titik-titik berwarna putih. Perlahan semakin banyak dan menutupiku.

Jakarta, 10 Mei 2012.
Dibuat untuk kompilasi cerita pendek untuk menyambut Hari Anak Nasional Tahun 2012.


Rabu, 29 Juli 2015

FF7: O' Connor's Last Ride

It’s been a long night, without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again

Courtesy: YouTube
Finally, i came to this great movie. The magnificent seven, they said. ‘Furious 7’ serial teranyar ini menyuguhkan petualangan yang menegangkan sekaligus emosional. Ada aroma balas dendam dan nuansa kekeluargaan. Barangkali, ini berawal dari kejadian meninggalnya Paul Walker pada 2013 lalu. Tanpa Paul, memang ada yang hilang dan takkan terganti. Namun, film ini tetap memiliki jiwa Brian O’ Connor dengan segala ciri khasnya sejak seri The Fast and The Furious jilid pertama.

Saya menangkap pola alur yang sama antara film ini dengan serial The Ocean’s (Eleven, Twelve, and Thirteen). Mengapa? Pertama, ada aroma balas dendam. Deckard Shaw (Jason Statham) muncul untuk menuntut balas atas perlakuan Torreto kepada Owen Shaw, adiknya. Kedua, Torreto direkrut kembali untuk menjalankan sebuah misi. Mirip dengan Ocean’s Twelve, selain dituntut untuk menjalankan misi, mereka juga punya alasan tersendiri alias keuntungan ganda bila menerima tawaran itu.

Courtesy: www.imdb.com
‘Furious 7’ seharusnya menjadi serial Fast and Furious yang paling sukses, mengingat seri terakhir ini sarat muatan sentuhan emosional. Brian kini bukan lagi seorang mantan polisi yang jadi dipercaya Torreto. Ia kini sudah berkeluarga dan akan segera memiliki anak kedua dari pernikahannya dengan Mia. Torreto sendiri masih yakin bahwa suatu saat Letty akan kembali mengingat semuanya, semua yang pernah terjadi diantara mereka. Termasuk, pernikahan mereka di Puerto Rico.

Letty      : Why didn't you tell me we were married?
Dom      : You can't tell someone they love you.

Bila pada serial sebelumnya, FF6, ketegangan dimulai ketika berlangsung perkelahian antara Dom’s Team dengan Owen Shaw’s team, dimana Joe Taslim muncul menghajar Tyrese Gibson dengan mutlak. Kali ini, Dominic Torreto harus berhadapan dengan seorang Deckard Shaw, agen MI6 yang terlatih namun sudah dibebastugaskan dan bersekutu dengan tentara bayaran dari Somalia. 

Courtesy: www.imdb.com
Saya mencatat dua kali Dom dan Deckard berduel. Sementara, Brian dan rekan yang lain mengerjakan tugas mereka untuk mengamankan God’s Eye. Menurut saya, inilah pencapaian dan penghormatan tertinggi untuk seorang Dominic Torreto. Ia mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya. Ia menghadapi langsung seorang antagonis. That’s what leader did.

Courtesy: YouTube
Walau penonton sudah bakal tahu bagaimana ending dari film ini, setidaknya mereka harus menunggu dengan intensitas ketegangan yang tinggi untuk melihat Brian dan Dom melakukan “one last ride” mereka dan berpisah di jalur Nagreg Garut-Tasik (Just kidding :D). Jason Statham tampil memukau sebagaimana karakternya pada serial The Transporter. Dengan gayanya seperti itu, ia harus menghadapi Dominic Torreto sebagai ‘The Real Street Fighter’.

Anyway, rasanya tidak sia-sia menghabiskan waktu 137 menit hanya untuk menyaksikan sebuah happy ending. Alamat dedikasi pada screen penutup untuk Paul Walker mengisyaratkan semua alasan bagi penciptaan #FF7. Pemilihan lagu sebagai soundtrack utama dari Wiz Khalifa feat. Charlie Puth, See You Again, agaknya memang beralasan. Nuansa emosional kembali terasa kala soundtrack film ini diputar. The lyric tells you everything. How can we not talk about family when family's all that we got?


Judul           : Furious 7
Sutradara    : James Wan
Cast            :Vin Diesel, Paul Walker, Tyrese Gibson, Dwayne Johnson, Jordana Brewster,
                    Michelle Rodriguez, Ludacris, Gal Gadot
Durasi        : 137 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : Universal Pictures
Genre         : Action-Thriller


Dharmawangsa – Sentul, 29 Juli 2015.

Sabtu, 28 Februari 2015

Sepotong Hati Yang Baru

Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)


Awalnya

Sudah lama saya tahu bahwa Tere Liye adalah seorang penulis yang cukup produktif. Saya sendiri tidak begitu tahu persis kapan Tere Liye merilis karyanya yang pertama. Yang jelas, hingga saya menamatkan pembacaan buku ini, kesannya sebagai penulis produktif belum berubah dalam imaji saya.

“Sepotong Hati Yang Baru” adalah perkenalan saya yang pertama dengan sosok kepenulisan Tere Liye. Terima kasih kepada istri saya yang mengantarkan saya pada karya-karya Tere Liye. Ada beberapa buku yang judulnya saya cukup kenal menghiasi rak di kamarnya. Akhirnya, akhir bulan ini saya putuskan untuk mulai membaca buku-buku itu satu per satu. Dimulai dari yang paling tipis.

Edisi Perkenalan

Kumpulan cerpen ini berisi delapan cerita pendek yang lumayan panjang. Maksudnya, tanpa mengurangi takdir cerpen yang hanya habis dibaca sekali duduk, beberapa cerita didalamnya punya alur yang sangat detail dan dinamis. Saya kagum pada kekuatan penceritaan dan gaya bahasa sang penulis. Dengan begitu padu, menjadikan buku ini tidak sekedar kumpulan cerpen biasa.

Cerpen pertama “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” berkisah tentang kisah muda-mudi yang berada di ambang kegalauan masa mudanya. Tere Liye berhasil mengangkat sebuah fenomena kecil menjadi objek cerita yang ringan namun nyata dan ada dalam keseharian kita. Terlebih dengan boomingnya media sosial, terutama Facebook, membuat cerita ini begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang sebuah perasaan bernama GR alias gede rasa.

“Kisah Sie Sie”
adalah cerpen yang menurut saya cukup dinamis dan lugas dalam penceritaan. Dengan alurnya yang demikian, saya merasa seperti membaca sebuah kisah nyata di tabloid khusus perempuan. Penulis mengangkat satu fenomena yang telah terjadi berulang-ulang di Singkawang, Kalimantan Barat. Soal pernikahan WNI keturunan/peranakan Tionghoa dengan WNA yang sengaja datang kesana. Alasan ekonomi seringkali menjadi faktor yang menyebabkan para perempuan muda disana rela untuk diperistri orang asing dan dibawa ke negaranya. Saya kagum dengan tokoh Sie Sie yang menepati janjinya untuk mencintai suaminya apa adanya walau harus mengalami berbagai penolakan dan siksaan.

“Sepotong Hati Yang Baru” kiranya mewakili seluruh penjiwaan atas penulisan buku ini. Banyak alasan yang menyebabkan seseorang patah hati. Tak terkecuali, satu keputusan yang diambil menjelang hari pernikahan yang menghancurkan semua imaji tentang cinta dan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimanapun susahnya, si Aku dalam cerita ini berhasil menumbuhkan sepotong hati yang baru untuk mengganti sepotong lainnya yang terlanjur dibawa pergi sang mantan kekasih. Dengan potongan hatinya yang baru ini, ia berhasil menolak si mantan untuk kembali mengikat janji. Sebuah pembalasan yang setimpal. Siapa menabur, maka dia akan menuai.

Legenda Sam Pek dan Eng Tay yang tersohor itu kini diceritakan kembali dalam “Mimpi-Mimpi Sampek Engtay”. Tere Liye menulis kembali cerita ini dengan detail yang cukup istimewa. Saya teringat kembali sebuah yel yel wajib di kalangan mahasiswa, “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Khusus untuk Sam Pek dan Eng Tay berlaku “Dua Cinta Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” walau kadang maut akhirnya memisahkan. Moral dari cerita tentang ketulusan adalah hal yang selalu menarik untuk diceritakan kembali, apapun bentuknya.

“Itje Noerbaja & Kang Djalil” adalah cerpen yang unik. Saya kembali teringat pada kalimat-kalimat pengantar cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dimana terdapat kalimat dengan ejaan lama. Hal ini saya temukan kembali pada cerpen ini. Cerpen yang berkisah tentang usaha pergerakan dari para babu dan centeng di zaman kolonial Belanda. Kisah romantis dan heroik ini seakan mengingatkan kita kembali pada sejarah yang tak tercatat.

“Kalau Semua Wanita Jelek” adalah cerita yang berbau feminin. Seorang perempuan tentu mendambakan tubuh ideal yang diterjemahkan dalam bahasa umum sebagai langsing atau kurus. Terkadang, hal yang demikian itu menyesatkan. Bahwa sesungguhnya kecantikan itu relatif. Mungkin benar adanya pepatah lama itu, kecantikan sesungguhnya terpancar dari hati.

Seperti halnya legenda Sam Pek dan Eng Tay, kisah Sri Rama dan Shinta tidak pernah selalu kadaluwarsa untuk diceritakan kembali. “Percayakah Kau Padaku?” adalah gugatan untuk Rama. Ketulusan cinta rama pada Shinta diuji disini. Personally, kisah Rama-Shinta sejatinya adalah kisah romantis karena mereka saling mencintai. Namun, belakangan ini saya memang meragukan ketulusan Rama pada Shinta. Bisa jadi Rahwana lah yang benar-benar mencintai Shinta dengan tulus. Kalau Rama masih cinta pada Shinta , mengapa ia mesti meragu pada Shinta yang telah diculik dan diselamatkannya dari api cinta Rahwana?

“Buat Apa Disesali...”
adalah sebuah kisah cinta klasik (entah juga klise) yang menimpa Hesty dan Tigor. Bagian terbaik cerita ini adalah sisipan lirik lagu yang dinyanyikan sepenuh jiwa oleh Rita Effendy, ‘Selamat Jalan Kekasih”.

Konklusi

Secara keseluruhan, saya menikmati pembacaan perkenalan saya dengan Tere Liye. Buku ini adalah buku sekuel dari serial ‘Berjuta Rasanya’. Tak harus membaca edisi pertama untuk memahami edisi sekuel ini. Tulisannya tidak hanya mengalir dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis pun piawai dalam memainkan karakter sekaligus menyertakan beberapa pelajaran dan makna yang hidup ini sediakan.

Judul        : Sepotong Hati Yang Baru
Penulis     : Tere Liye
Penerbit    : Mahaka Publishing
Tahun       : 2012
Tebal        : 206 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen



Dharmawangsa, 28 Februari 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...