Tampilkan postingan dengan label Golkar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Golkar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Februari 2010

Jawaban untuk Sahabat

Dear Sahabatku yang Budiman, (ini juga bukan karena saya teringat Bis Cepat jurusan Tasik itu)

Entah kenapa saya merasa ingin dan harus membalas catatan yang sengaja kamu buat ini. Terima kasih karena telah menghadiri pernikahan saya. Terus terang, saya merasa terusik dengan beberapa pernyataan dan pertanyaan yang ada di catatanmu itu. Tadinya saya pikir kamu Cuma ingin bernostalgia mengingat catatan sejarah kita yang mengagumkan itu. Tapi, setelah saya coba pikirkan kembali, ternyata bukan itu maksudnya. Saya kagum karena kamu menulis catatan tentang saya dan menempatkannya di blog pribadimu.

Saya memang sedikit merasa tidak nyaman karena siapa tahu ada kawan kita yang tahu tendensi dari catatan yang kamu buat ini ditujukan kepada saya. Kalau sudah begitu rasanya saya cukup tega untuk melaporkan kamu ke Mabes Polri atau Polres Cimahi atas perilaku tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik. Kamu akan saya jerat dengan UU ITE. Syukur pada Tuhan, Presiden kita belum sempat mengkaji dan akhirnya membatalkan RPM UU Konten Multimedia. Kalau ternyata RPM itu benar telah jadi UU maka bertambah banyak pula tuduhan yang dikenakan padamu. Beruntung juga Menkominfo kita itu orangnya plin-plan walau kadang suka sembarangan buka-tutup blog punya orang. Sudah tentu kamu akan saya jadikan The Next Prita Mulyasari to be defamed by internet behavior karena saya tahu kamu tidak punya modal apa-apa untuk meraih simpati publik.

Jangankan mengumpulkan koin, rasanya kalau sampai ada Cause di Facebook yang mendukungmu, saya rasa tidak akan banyak facebookers yang peduli dan menggalang dukungan yang lebih besar buat kamu. Kalaupun sampai ada yang peduli pasti hanya kuli tinta dari koran sokpas dan koran-koran medioker lainnya walau mungkin bisa juga jadi santapan reporter TV untuk kumpulan berita-berita kriminal.

Tapi, kalau teringat lagi lagu-lagu yang pernah jadi soundtrack zaman kita masih kuliah dulu rasanya saya tidak tega untuk membiarkan kamu menderita. Tapi atas nama harga diri saya tentunya ingin agar kamu mendapat pelajaran bahwa bermain-main dengan orang politik itu memang tidak menyenangkan dan sebaiknya tidak pernah dilakukan. Salah-salah saya bisa membunuh karaktermu dan sengaja menjebakmu terlibat dalam sebuah konspirasi besar untuk menjatuhkan parlemen dengan mosi tidak percaya.

Jadi, tolong lupakan saja momen-momen yang pernah kita lewati bersama. Lupakan pula setiap memori tentang saya. Lupakan pula tentang Dji Sam Soe yang dulu sering kita nikmati sambil cengengesan di bis kota. Apapun pretensi anda tentang saya bisa jadi salah terhitung mulai detik ini. Things are never be the same again. Semua tak sama, tak pernah sama.* Saya memang terlalu sibuk dengan diri saya sendiri. Sibuk dengan proyek-proyek yang mengalir tanpa henti. Terlalu banyak kalau saya ceritakan. Lagipula, kamu belum tentu mengerti tentang semua itu, tentang kenapa Negara ini masih bobrok. Karenanya, saya memang tidak punya waktu untuk sekedar menjawab SMS darimu. Untuk apa? Rasanya tidak ada artinya. Pun ketika saya lihat corat-coret di wall, saya tidak pernah mau membalasnya karena kalau saya tanggapi saya hanya akan terlihat sebagai seorang politisi asongan. Kau tahu maksudku kan?

Begini, bangsa kita ini masih belajar berpolitik. Bangsa kita ini terlalu dipaksakan untuk menenggak banyak-banyak pil dan racun paham-paham politik dalam waktu yang singkat. Akibatnya, bangsa kita juga mabuk politik berkepanjangan. Indikasinya bisa dilihat dari kekuasaan. Kekuasaan telah menjadi racun yang mendarah daging di kehidupan bangsa kita ini. Kamu tentu paham dengan feodalisme peninggalan kerajaan-kerajaan di Nusantara ini yang kemudian dimanfaatkan oleh Penjajah Belanda untuk bekerjasama dengan pribumi dan priyayi lokal.

Demokrasi bukan lagi jadi suatu cara untuk menggapai kekuasaan yang adil dan bermartabat. Demokrasi hanya jadi alat saja sebagai legitimasi kekuasaan. Pemilu, pilkada dan apapun namanya hanyalah rekayasa segilintir pihak atas nama demokrasi untuk mencapai kekuasaan. Padahal esensinya tetap saja perebutan kekuasaan. Ada yang kalah ada yang menang. Supaya menang butuh modal. Untuk itulah kenapa politik harus dipelajari.

Demokrasi kita itu sedikit banyak dipengaruhi ilmuwan-ilmuwan dan doktor-doktor politik made in USA. Pada suatu masa yang disebut era lepas landas banyak dari mereka menimba ilmu di negerinya Ford itu dan setelah pulang atas dasar perjanjian beasiswanya harus mengaplikasikan ilmu dan pemikirannya di ranah perpolitikan negeri ini. Jadi tidak heran bila kemudian demokrasi yang kita anut mengarah pada demokrasi liberal. Demokrasi liberal telah mendahului kelahiran demokrasi parlementer sebelum akhirnya demokrasi terpimpin bercokol di tampuk kekuasaan.

Untuk menelaah lebih jauh tentang demokrasi saya sarankan kamu membaca jurnal-jurnal penelitian terbaru keluaran universitas-universitas top dunia. Selain kamu bisa membaca perkembangan demokrasi dan politik di berbagai belahan dunia pasti kamu juga dapat pemahaman yang menyeluruh tentang makna demokrasi dalam Negara yang berdaulat serta bagaimana demokrasi turut berperan dalam pembentukan karakter bangsa. Perhatikan, ini sekedar saran saja.

Hubungan antara korupsi, politik dan kekuasaan katamu, memang ada kaitannya terutama setelah beberapa peristiwa menghebohkan yang banyak diliput media. Korupsi sudah tentu harus dijauhi karena perilaku korupsi yang terlanjur membudaya akan membawa kehancuran dalam setiap sendi kehidupan bangsa ini. Sedangkan, politik dan kekuasaan adalah hal yang bisa jadi mendatangkan manfaat asal tidak terkontaminasi dengan pemikiran yang korup.

Hubungannya, karena dengan kekuasaan kamu bisa mendapatkan semua yang mungkin kamu dapatkan maka dengan sedikit bantuan dari elit politik demi sebuah kepentingan bersama. Nah, korupsi digunakan apabila dalam mencapai kekuasaan itu diperlukan juga suatu konvensi dan kompromi untuk membagi bersama semua atau beberapa keuntungan dari kekuasaan. Sebenarnya korupsi bisa masuk dimana saja. Intinya, kalau ada yang mengganggu kekuasaan, maka penguasa harus berpolitik dengan sedikit kompromi supaya sama-sama untung tidak peduli siapa yang dirugikan. Biasanya yang dirugikan ya rakyat. Rakyat seperti kamu.

Kalau benar Golkar jadi mundur dari koalisi tentu ini adalah sebuah langkah baru dalam kehidupan berpolitik Golkar. Sepert pendapatmu yang menyebutkan bahwa Golkar memang identik dengan kekuasaan dan tidak pernah lepas daripadanya. Keluarnya Golkar dari koalisi tentu akan menjadikan kekuatan politik yang semula berimbang akan berubah walaupun tidak terlalu signifikan. Terlepas dari isu re-shuffle yang memungkinkan presiden mencabut mandate menteri-menteri dari Golkar. Masalahnya, akankah Golkar jadi oposisi? Kalau Golkar jadi oposisi, Pemerintah dalam hal ini Koalisi akan mendapatkan tekanan berat. Namun, menurut saya menilai kondisi ini saya tidak yakin bila Golkar benar-benar keluar dari koalisi. Titik berat masalahnya selama ini ada di Pansus Century dan Golkar termasuk fraksi yang vokal dalam menyuarakan dugaan pelanggaran oleh pemerintah. Setelah badai Pansus ini berlalu saya kira semua akan kembali pada tempat yang semestinya selama tidak ada isu-isu yang menggoyang pemerintah.

Sistem kabinet parlementer yang masih banyak digunakan oleh beberapa Negara di Eropa sana membuktikan bahwa setiap region punya kekhasan masing-masing dalam menafsirkan dan mengimplementasikan demokrasi. Dengan sistem yang menggunakan banyak partai (tapi tidak terlalu banyak seperti disini) tentu kekuatan politiknya masih berimbang antara koalisi pro pemerintah atau sayap kanan dengan opisisi atau sayap kiri. Biasanya ada juga yang disebut garis keras yang netral dan punya suara, pandangan, dan sikapnya sendiri.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya suatu kabinet. Seperti yang dulu kita pelajari waktu SMP, biasanya faktor-faktor itu adalah menyangkut hak-hak dasar manusia yang tidak terpenuhi. Adanya kesenjangan antara pemerintahan pusat dan daerah masih jadi isu yang sangat kuat saat itu. Biasanya, adalah masalah kesejahteraan yang berhubungan langsung dengan stabilitas ekonomi. Dalam bahasa orang awam, kalau cari nasi saja sulit lebih baik turunkan pemimpinnya. Itu dulu di Indonesia.

Belanda dituntut untuk menarik mundur pasukannya dari Afghanistan karena masyarakatnya mulai sadar bahwa adalah suatu kesalahan untuk mengirim pasukan tambahan atau sekedar memperpanjang misi militer di Afghanistan. Sudah banyak korban berjatuhan akibat perjuangan gerilya dan teror-teror dari Taliban Inc. (biar keren aja nyebutnya) Pasukan koalisi pimpinan AS pun sekarang sudah Nampak kelelahan dengan perang yang tak kunjung usai. Dengan kondisi semacam itu maka sebagai sesama manusia yang seharusnya berpartisipasi dalam perdamaian dunia maka mereka menggoyang pemerintahan untuk menyuarakan pendapatnya. Dan bahwa kemudian kabinet jatuh sudah tentu menjadi titik terang akan keinginan masyarakat.

Faktor lainnya menyangkut krisis politik negerinya Van Basten itu saya rasa masih seputar isu ekonomi dimana dampak krisis 2008 semakin terasa tahun 2010 ini di Eropa. Kemudian, perdagangan juga ikut berperan dalam ini terutama setelah AS lebih condong melakukan banyak pendekatan ke Negara-negara di Asia dan Uni Eropa mulai merasa terancam atau lebih halusnya terusik karena hubungan mereka yang selalu eksklusif dengan AS. Itu secara globalnya.

Kita ini belajar pemakzulan sejak zaman demokrasi parlementer dan sempat vakum saat Soeharto menjabat presiden dengan Demokrasi Pancasilanya. Rasanya terlalu jauh kalau kita memang belajar pemakzulan dari zamannya penjajahan kompeni. Lagipula, masyarakat kita kan tidak peduli sejarah bangsanya jadi mana mau mereka belajar dari kompeni. Contoh yang paling dekat adalah waktu Gus Dur dikasih kado impeachment oleh DPR akibat Bruneigate dan Buloggate. Untung waktu itu DPR bertindak cepat sebelum mereka dibubarkan. Kamu juga tahu waktu itu Gus Dur mengancam untuk membubarkan DPR. Celakanya, sekarang ini yang demikian itu diasosiasikan lagi pada SBY yang tersandung Centurygate. Pokoknya, makzul tak gentar, membela yang bayar. Itu hanya gurauan saja. Jangan anggap serius apalagi dijadikan status facebook.

Saya rasa terlalu jauh bagi kita bila harus kembali lagi ke sistem parlementer. Lha wong konstitusi kita ini kan presidensial jadi tidak mungkin untuk mengulang kembali. Kecuali terjadi sesuatu dengan konstitusi kita. Misalnya, UUD 1945 dicederai oleh Mahyadi Panggabean, stopper Persik Kediri kebanggaanmu itu. Kalau sudah begitu maka lain soal. MPR lah yang nantinya memutuskan.

Masuk ke topik Obama. Saya tidak rela kedatangannya kemari disangkutpautkan dengan perayaan hari kelulusanmu. Tidak ada hubungannya sama sekali jadi jangan merasa ge-er dulu. Lagipula anggota CIA mana yang mau membeberkan rahasia negaranya. Jangan kira CIA sama dengan intel kita yang intel melayu itu: intel teriak intel.

Secara fundamental mungkin tidak akan ada yang berubah dalam struktur kehidupan masyarakat kita hanya saja Obama ini lebih meningkatkan pemahaman antara dunia barat dengan Islam yang sempat ternoda pada masa pemerintahan George W. Bush. Intinya kembali lagi pada pencitraan. Ingat, Obama menang pemilu karena politik pencitraannya yang berhasil. Itu juga yang kemudian berhasil ditiru oleh Presiden kita saat ini. Kembali lagi, budaya politik dan demokrasi kita sedikit banyak mengadopsi tata kelola yang sudah berjalan mantap di AS. Niatan Obama untuk merevitalisasi hubungan AS dengan Islam perlu kita hargai dan kita jadikan sebagai langkah awal untuk membersihkan citra Islam sendiri. Bahwa Islam bukan teroris. Yang teroris itu adalah penjahat yang kebetulan entah sengaja atau tidak mengatasnamakan atau malah beragama islam. Peran OKI tentu akan lebih dituntut karena ini menyangkut isu global. Mungkin, Obama menurunkan Hillary Clinton untuk menangani hal ini.

Masalah patung memang perlu dikaji kembali. Saya juga heran kenapa gugatan Class Action terhadap patung Obama dicabut. Saya belum dapat informasi apakah ada campur tangan Advance Team atau CIA disana, karena semua ini terjadi kurang lebih sebulan sebelum Obama landing di Halim. Memang bangsa ini juga mengalami krisis identitas. Bangsa kita baru merasa punya identitas kalau batik diklaim sama Malaysia. Tapi untuk menghargai pahlawannya sendiri bangsa kita kerap kehilangan identitasnya. Memalukan memang. Tapi begitulah faktanya. Kita terlanjur bangga dengan apa yang tidak ada pada diri kita sehingga kita kehilangan identitas sendiri.

Kamu bisa saja bergurau. Dapat ide darimana kalau POLRI diminta membantu FBI, CIA, Kepolisian AS untuk menangkap Osama? Belum lagi Obama yang bakal dolanan ke tempat batik, Kotagede, dan makan lesehan di Malioboro. Ngawur. Tidak ada hubungannya dan sangat tidak relevan sekali. Tapi kalau untuk misi dagang saya rasa ada benarnya bahwa AS merasa marketnya terusik dengan C-AFTA. Obama sepertinya hanya ingin mempertanyakan kembali komitmen perdagangan Indonesia dengan AS, dan pendapat saya barangkali ini ada hubungannya dengan TNI yang berencana untuk memodernisasi Alutsistanya dan inilah santapan besar AS: bisnis senjata. Legal pastinya. Kalau kamu masih penasaran kenapa bisnis senjata adalah bisnis yang menggiurkan dan sangat menguntungkan tonton lagi filmnya Nicholas Cage yang judulnya “Lord of War”.

Demikianlah yang mampu saya sampaikan. Untuk diingat ini belum semua. Saya rasa pertanyaan-pertanyaanmu cukup menantang dan layak dijadikan script siaran atau wawancara. Masih ada beberapa penjelasan detail yang akan saya simpan sebagai “senjata” saya sendiri nantinya. Sayang sekali kamu belum boleh tahu. Tapi saya yakin suatu saat nanti kau akan tahu, kau akan mengerti, dan kau akan pahami.

Pesan saya, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan kamu di media atau channel yang tepat. Kamu kan lulusan komunikasi, setidaknya belajar paradigma Lasswell, jadi jangan sampai melakukan tindakkan yang memalukan. Perlu diingat juga, saya tidak memberikan ataupun membuat jawaban ini atas asumsi-asumsi. Ini murni output pikiran saya.

Saya harap ini cukup membantu kamu untuk menanggulangi segala keresahan atas semua pertanyaan yang ada di kepalamu. Saya tentu sangat berharap agar kamu tidak kehilangan daya imaji dan kritismu. Tidak banyak orang di dunia ini yang sepertimu. Setidaknya, dari yang pernah saya temui. Teruslah hidup dalam kebahagiaan. Takdir tidak dipilih, tetapi ia memilih.



Ciledug, 21 Feb 2010


*dengan ingatan kepada lirik lagu “Semua Tak Sama”, dinyanyikan oleh Padi

Senin, 12 Oktober 2009

Golkar dan Kekuasaan

"Bargaining Golkar Sudah Lemah." - Tifatul Sembiring, Harian Republika 9 Oktober 2009

Kemenangan Aburizal Bakrie (AB) dalam memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Golkar adalah satu pertanda bahwa Gokar masih akan berada dalam lingkaran kekuasaan negeri ini. Golkar adalah bagian dari sejarah kekuasaan sehingga sulit sekali bagi mereka untuk melihat Golkar yang berada diluar kekuasaan.

Golkar selalu berada dalam kekuasaan dan para elitenya pun menghendaki pula hal yang demikian. Terlepas dari perdebatan siapa yang jadi presidennya. Alasannya sederhana, partai ini dibuat dan dikembangbiakkan untuk meraih, mendapatkan, dan mempertahankan kekuasaan.Situasi sekarang tidaklah mudah. Golkar bukan lagi partai pemenang pemilu yang menguasai kursi di DPR. Terpilihnya Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR pun ikut melemahkan power Golkar.

Maka, ketika muncul wacana untuk jadi oposisi beberapa kadernya mulai bereaksi dengan menggulirkan isu munas dengan tujuan untuk mengambil langkah nyata dan sikap Golkar dalam pemerintahan SBY 2.0. Opsi untuk jadi oposisi hanya akan semakin menjauhkan Golkar dari kekuasaan.

Pernyataan sikap Golkar yang menegaskan bahwa Golkar tidak koalisi dan tidak oposisi mengindikasikan keinginan Golkar untuk masih berada dibawah ketiak kekuasaan negeri ini. "Jika kebijakan pemerintah memperbaiki rakyat, kita dukung. Bila tidak, Golkar akan mengkritik.", begitu kata Aburizal Bakrie. Dan bila Presiden meminta kader Golkar masuk kabinet, Golkar tidak keberatan, tambahnya.

Sikap yang demikian adalah wajar untuk negara dengan sistem kabinet presidensial seperti Indonesia. Partai politik tidak perlu untuk menampakkan wajahnya secara terang-terangan. Punya dua muka pun bukan hal yang salah. Tentu akan berbeda bila sistem kabinet yang digunakan adalah kabinet parlementer. Disitu diperlukan adanya dua sisi yang berbeda. Hitam dan putih. Koalisi dan oposisi. Moderat dan konservatif.

Yang perlu diwaspadai oleh Golkar adalah pelaksanaan dari pernyataan sikapnya itu tadi. Jangan sampai apapun keputusan pemerintah baik yang mensejahterakan rakyat atau yang mengebiri hak-hak hidup rakyat diamini begitu saja tanpa ada perlawanan. Seolah Golkar lupa janjinya untuk jadi tukang kritik. Lantas, jangan juga Golkar hanya bisa cuci tangan bila keputusan pemerintah tersebut tidak berimplikasi apa-apa pada kualitas hidup rakyat.

Sebelum Golkar kembali ke puncak kekuasaan negeri ini alagkah baiknya bila Golkar terlebih dahulu mengambil langkah retrospektif dalam menganalisa dirinya sendiri. Golkar perlu menguatkan dirinya dahulu dari dalam sebelum comeback ke arena. Perseteruan antar faksi yang menyeruak dalam Munas kemarin mutlak perlu diselesaikan demi membangun Golkar yang dewasa dan solid.

Bila Golkar benar-benar menginginkan kembali pada puncak kekuasaan hendaknya Golkar melaksanakan sikapnya dengan penuh tanggung jawab. Golkar harus memperjuangkan sikapnya ini untuk menghargai konstituen yang mereka wakili sebagai satu instrumen politik di negeri ini. Golkar juga harus mengoptimalkan fungsi kontrol serta check and balance agar kekuasaan yang sedang dilangsungkan oleh pemerintahan saat ini berjalan dengan baik, lancar, dan semestinya. Golkar harus tetap kritis atau hanya akan jadi penggembira saja.


Kelapa Gading, 12 Oktober 2009


Senin, 05 Oktober 2009

Golkar dan AC Milan


Golkar adalah sebuah sejarah yang sedang berlangsung. Satu partai yang masa kejayaannya dimulai sejak Pemilu 1971 hingga Pemilu 1997 dengan pendapatan jumlah suara sebesar 74,5 persen. Kemerosotan Golkar dimulai sejak Pemilu 1999, Pemilu 2004 hingga anti-klimaksnya di Pemilu 2009 kemarin. Berturut-turut Golkar hanya mendapatkan 22,4 %, 21,6 %, dan 14 %.

Semakin menurunnya perolehan suara Golkar telah menjadi isu yang semakin meruncing dalam perdebatan untuk menentukan siapa yang layak, mampu, dan bisa menegakkan beringin yang telah rapuh setelah lama berkuasa. Membangun kembali Golkar adalah membangun kembali susunan akar rumput penyangga kehidupan partai. Tanpa hal itu, takkan ada Golkar yang kuat. Yang selalu jadi pemenang Pemilu hingga disegani.

Tidak adanya figur pemimpin dinilai sebagai penyebab kekalahan Golkar. Oleh lawannya Golkar pun kini bukan lagi suatu entitas besar yang patut diwaspadai manuvernya atau dicurigai gerak-geriknya. Beringin telah rubuh tanpa meninggalkan suara. Pemilu 2009 meninggalkan luka yang sangat dalam dalam tubuh partai beringin. Partai yang dikenal lewat jargonnya "Luber" alias "Lubangi Beringin" zaman orde baru ini seakan tak kuasa menampik takdir.

Kenyataannya sekarang ini Munas Golkar di Pekanbaru yang bertujuan mencari pemimpin ideal yang bisa membangun dan menegakkan kembali beringin yang telah rubuh hanya jadi ajang pamer belaka. Semua kandidat saling berlomba mengumpulkan dukungan. Ada yang berkelas dengan menyelenggarakan turnamen Golf. Satu budaya peninggalan kaum pebisnis, yang memiliki motto "di atas padang golf segala urusan dibicarakan, dari politik hingga bisnis". Ada lagi yang datang dengan 5 pesawat carteran untuk mengangkut para pendukungnya. Ada lagi yang datang hanya bermodal kekuatan intelektualnya. Sedang, yang terakhir datang membawa keyakinan semu yang dibalut kekuatan modal dengan gaya main seorang Mafia.

Adalah baik bila sebuah organisasi memiliki banyak calon pemimpin potensial yang mampu membawa angin perubahan pada organisasinya kelak. Kapabilitas kepemimpinan, integritas dan loyalitas mutlak dibutuhkan untuk melawan rintangan yang tidak semakin mudah. Namun, semua itu menjadi tidak berarti ketika modal dalam bentuk uang mulai turun tangan. Melalui kekuatan uang setiap calon pemimpin Golkar beradu. Bukankah JK yang akan digantikan itu juga seorang pengusaha penghasil uang dan kebetulan sedang naik daun hingga terpilih jadi wakilnya SBY di Pemilu 2004 kemarin?

Pengaruh uang pada kekuasaan masih jadi perdebatan terutama mengenai efeknya terhadap integritas organisasi. Tesis seorang doktor politik harus membuktikannya bahwa uang adalah cara yang mudah untuk mencapai pucuk kekuasaan. Sederhana saja, uang bisa membeli apapun termasuk kekuasaan.

*****


AC Milan. Siapa yang tidak kenal klub sepakbola dari pusat mode di Italia ini yang juga klub sekota rival Internazionale Milan. Sejarah telah menuliskan Ruud Gullit, Van Basten, Frank Rijkaard, Franco Baresi, hingga Paolo Maldini meraih puncak karirnya sebagai pemain di klub yang bermarkas di San Siro. AC Milan telah menjadi suatu kekuatan yang pernah merajalela di Italia maupun di Eropa. Pada saat itu, semua klub berusaha sebisa mungkin mengalahkannya. Tak apa tak jadi juara. Asalkan bisa mengalahkan AC Milan itu sama rasanya dengan jadi juara.

AC Milan telah mengalami suatu masa kejayaan di medio 90-an ketika masih dilatih Don Fabio Capello. Di negerinya sendiri, waktu itu AC Milan adalah raja kompetisi. Siapapun sangat bernafsu untuk mengalahkannya. Tidak perlu sampai harus menjuarai seluruh kompetisi. Mengalahkan Milan dalam satu matchday pun sudah merupakan kemenangan besar.

AC Milan juga adalah satu dari 10 klub paling kaya di dunia. Klub yang dimiliki oleh politisi partai Forza Italia merangkap Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi tak hentinya membuat sensasi. Siapa yang kenal Ricardo Icezson Santos Leite de Kaka medio 2003? Tidak banyak orang yang tahu siapa dan bagaimana sepak terjangnya. Namun, final Liga Champions 2003 jadi bukti bahwa membeli Kaka bukanlah keputusan yang terlalu salah. Milan juara Champions 2003. Setelah kalah tragis di Final Liga Champions 2005 oleh Liverpool, 2 tahun kemudian mereka membalasnya. Nama Kaka pun masuk daftar buruan Real Madrid. Semuanya terjadi di masa kepelatihan Carlo Ancelotti.

Setelah kepergian Kaka dan Ancelotti sebenarnya Milan punya modal yang kuat untuk membangun dan membentuk skuad yang benar-benar kuat untuk kembali berjaya di Eropa. dengan tidak hanya mengandalkan skuad mesin tua mereka. Skuad saat ini sudah tergolong uzur secara usia menurut beberapa pengamat. Uang hasil penjualan Kaka rasanya cukup untuk mendatangkan playmaker idaman mereka sejak 2002 silam, Rafael van Der Vaart. Nasib van der Vaart yang tidak menentu di Madrid harusnya jadi pertimbangan bagi Berlusconi supaya Milan kembali pada kejayaannya. Namun, rupanya Sang Perdana Menteri lebih percaya bahwa skuad yang ada sudah cukup mengingat rencana comebacknya Beckham ke San Siro dan juga datangnya Milos Krasic, winger CSKA Moskow di musim Dingin nanti.

*****

Nah, apa hubungannya Golkar dengan AC Milan. Keduanya sama-sama punya modal (uang) yang banyak. Namun, keduanya juga masih terlihat sangat hati-hati sekali dan terlalu pelit dalam menghamburkan uangnya. Bukankah uang yang habis untuk kekuasaan akan mudah diperoleh kembali ketika nanti berkuasa? Bila memang kekuasaan sudah mantap kejayaan itu akan datang dengan sendirinya bukan?

Keduanya kini berada dalam persimpangan jalannya masing-masing. Golkar sedang beradu dengan takdirnya. Akankah Munas di Riau nanti membawa hasil yang tidak sekedar menjadikan Golkar sebagai entitas politik biasa yang selalu meramaikan pemilu seperti biasanya. Golkar diharapkan mampu keluar dari krisisnya dengan menguatkan basis pendukung (akar rumput). Soliditas mutlak diperlukan agar Golkar mampu meraih suara maksimal di Pemilu 2014 nanti.

Sedangkan, AC Milan juga harus segera melakukan perubahan besar (kalau perlu dengan cara yang radikal) untuk mengembalikan Milan pada peta persaingan juara di Italia dan Eropa. Leonardo, Ronaldinho dkk, harus berjuang keras untuk meyakinkan publik San Siro bahwa mereka masih layak diperhitungkan. Entah dengan penyempurnaan skuad yang ada, perubahan gaya dan taktik permainan, bahkan kalau perlu hingga mengganti pelatih yang sekarang. Jangan jadikan modal yang sudah ada jadi sia-sia. Kecuali bila memang si Perdana Menteri lagi butuh uang buat kegiatan politiknya. Ingat, politik juga butuh uang dan itu tidak sedikit.

Sepeninggal masa kejayaannya, baik Golkar ataupun AC Milan keduanya tidak punya lagi figur yang bisa memimpin dan mendikte mereka jalan menuju kejayaan. Selepas Orde Baru, Golkar tidak punya pemimpin kharismatik yang benar-benar mencerminkan figur dari rakyat. Golkar selalu terjebak dalam paradigma bahwa yang memimpin Golkar adalah harus dari kalangan birokrat dan politisi.

Akibatnya, ketika birokrasi mengalami reformasi dan politisi digoyang dari kabinet Golkar tidak mampu jadi beringin yang kuat yang mampu menahan segala desakan itu. Maka, Golkar mengalami kemunduran. Ditambah lagi dengan tidak lagi solidnya Golkar dari pucuk pimpinan hingga akar rumputnya. Ini terlihat dari pecahnya dukungan untuk pasangan JK-Win di Pemilu 2009. Basis suara Golkar yang diperkirakan dapat menembus kisaran 20% secara nasional ternyata gagal. Suara Golkar pecah, tidak utuh. Mesin politik Golkar mogok.

AC Milan pun demikian. Sepeninggal Ancelotti, Milan belum punya pengganti yang (minimal) bisa menggantikan sosok Ancelotti. Adapun keberadaan Leonardo di jajaran bangku cadangan Milan hanya dianggap sebagai pelengkap formalitas semata mengingat berbagai hasil buruk yang menimpa mereka. Dihajar habis oleh rekan sekota dan baru-baru ini dipermalukan oleh tamu dari Zurich. AC Milan butuh sosok pemimpin yang bisa membuat ide-ide dan terobosan baru dalam cara bermain. Tidak hanya sebagai pelatih tapi juga sebagai pemain. Pelatih yang membuat kodenya, lalu pemain yang menerjemahkannya.

*****

Yang terjadi pada Golkar dan AC Milan adalah juga cerminan bangsa ini. Bangsa yang sejatinya bangsa yang besar namun masih dianggap bangsa yang kerdil oleh tetangganya sendiri. Indonesia belum punya sosok yang mampu menyatukan kehendak rakyat yang diwakilinya dalam suatu bentuk pemerintahan yang benar-benar menjunjung tinggi UUD 1945. Indonesia masih terjebak dalam permainan politis-birokratif karangan para politisi busuk yang menghuni gedung MPR-DPR di Senayan sana.

Jangan sampai Indonesia terjebak dalam permainan kekuasaan seperti yang dicontohkan Golkar. Jangan pula Indonesia kehilangan kejayaannya karena rakyatnya cuma bisa main bola seperti yang diperagakan AC Milan. Karena bagaimana pun politik dan sepakbola juga persamaan. Dua-duanya butuh pendukung. Tidak ada pendukung, tidak ada persaingan menuju kejayaan. Kalau kata iklan rokok, "Gak ada loe, gak rame..."


Kelapa Gading, 5 Oktober 2009

Jumat, 14 Agustus 2009

We Hate It When Our Friends Become Successful*)

Mungkin kalimat judul diatas sanggup merepresentasikan perasaan JK saat ini. Siapa yang tidak merasa iri kalau ternyata hasil membuktikan bahwa teman dan kawan kita lebih berhasil dibandingkan dengan kita sendiri. Terlebih lagi bila kawan kita ini terpilih (lagi) untuk jadi presiden. Sedangkan, kita hanya bisa menjadi rival sesaat saja yang menunda-nunda waktu untuk kemudian dinyatakan kalah.

Mungkin juga, saat tulisan ini ditulis, JK sedang menggumamkan lagu itu sambil berkemas untuk meninggalkan rumah dinasnya dan kembali ke kampung halamannya di Makassar sana. Sambil mendendangkan lagu itu juga, bisa saja JK sedang duduk di kursi malasnya sambil membaca berita dari harian-harian ibukota yang headlinenya dipenuhi polemik setelah usainya pemilu presiden. JK tentu sedang fokus pada gugatan yang diajukannya pada MK dan itu pula yang akan menjadi pusat perhatiannya.

Sebagai manusia, sudah fitrahnya untuk merasakan yang demikian itu. Wajar sekali perasaan itu muncul sebagai reaksi atas kegagalan dan kekalahan dalam persaingan. Apalagi, kalau ternyata kita baru tersadar bahwa yang mengalahkan kita adalah kawan seperjuangan. Kawan yang selalu menemani sejak zamannya kabinet Persatuan Indonesia dibawah kepemimpinan Gus Dur dan Megawati hingga bersama berdua membentuk Kabinet Indonesia Bersatu, yang akan segera expired sebentar lagi.

Adalah kawan kita juga yang mengalahkan kita, kawan yang pernah bersama-sama menuntaskan kasus Balibo Five lalu membujuk Hassan Tiro untuk menandatangani perjanjian perdamaian. Kawan kita juga yang menemani di ruangan siding untuk bertukar pendapat mengenai masalah rakyat. Mulai dari bagaimana caranya membagi subsidi minyak pada rakyat hingga menutup semburan lumpur Lapindo.

Banyak pula pencapaian yang diraih semenjak kita memutuskan untuk menjadi partner dan teammate. Sebagai contoh saja, swasembada beras yang kembali dicapai sejak 1985. Kemudian, ternyata kawan kita juga menyetujui penyaluran BLT sebagai satu cara mengurangi beban rakyat miskin padahal banyak kalangan menganggap bahwa BLT hanya menjadikan rakyat sebagai pengemis. Belum lagi, kawan kita ini juga mendukung program pendidikan BOP-BOS yang sekarang ngetop dengan sebutan “Sekolah Gratis”. Di sisi lain, partnership yang terjalin juga menjanjikan bagi stabilitas ekonomi makro maupun mikro. Indikator pertumbuhan ekonomi terlihat membaik. Itu hanya beberapa gambaran saja bahwa kawan kita ini tidak salah pilih kawan untuk menemaninya duduk di singgasana tertinggi negeri ini.

*****

Kalau bukan karena mesin politik yang mogok dan sedang turun mesin di bengkel sebelah tentu akan jadi lain ceritanya. Sebab musabab mogoknya mesin politik JK ini masih menjadi pertanyaan besar yang perlahan mulai terkuak. Padahal, perolehan jumlah suara Partai Golkar di Pemilu Legislatif kemarin cukup besar. Dengan menjadi runner-up dibelakang Partai Demokrat dan sedikit diatas PDI-P, seharusnya jumlah perolehan suara JK di Pilpres tidak anjlok secara drastis.

Kemungkinan terbesar sebagai penyebab mogoknya mesin politik Golkar di Pilpres 2009 adalah hilangnya suara kader-kader Golkar di daerah. Ini adalah dugaan yang paling masuk akal mengingat partai peninggalan Orde Baru ini masih mempunyai basis pendukung yang loyal di beberapa daerah. Terbukti ketika Pemilu Legislatif 2004, partai ini mendominasi perolehan suara baik di pusat maupun di daerah. Namun, politik tidak butuh masa lalu. Kejayaan masa lalu seketika akan menjadi omong kosong belaka karena kenyataan hari ini. Kenyataan saat ini, Golkar kehilangan banyak suara. Suara Golkar pecah. Diduga pecahan suara ini mengalir pada kubu Demokrat yang menusung SBY-Boediono. Akar rumput Golkar ditebas habis oleh Demokrat.

Dengan kata lain, JK dan Golkar dikompori dan digembosi oleh kadernya sendiri. Ketika hasil pemilu legislatif melalui quickcount merebak diberbagai media, muncul isu dan wacana bahwa Golkar harus mengusung calon presiden sendiri bila perolehan suaranya mampu melewati 20% electoral threshold. JK sebagai Pemimpin Partai tentu saat itu sedang bingung. Jalan manakah yang harus ditempuh. JK mungkin masih ingin menjadi pendamping SBY dengan ikut berkoalisi ke Demokrat tetapi suara-suara dari daerah menyatakan bahwa sebagai partai yang eksistensinya telah diakui (secara politis) harus mampu mengusung calon presiden sendiri. Tidak asal sekedar berkoalisi. Dalam hatinya mengisyaratkan bahwa ia masih ingin punya kuasa atas negeri ini.

Banyaknya desakan yang demikian kemudian membuat Partai Golkar harus membuat pertemuan dengan mengumpulkan DPD-DPD se Indonesia di markas besarnya di Slipi. Tentunya, perdebatan alot terjadi. Antara mereka yang mendukung JK untuk naik sebagai capres dari Golkar dan mereka yang mendukung koalisi dengan Demokrat. Hasilnya, sudah kita tahu sendiri. Golkar merestui JK untuk naik sebagai capres ditemani dengan “pesakitan” Golkar yang membentuk Partai Hanura, Wiranto.

Sebagai partai yang punya harga diri, Golkar telah memutuskan untuk menceraikan JK dari SBY dan jadi the real contender for next presidential bid (mengikuti istilah The Jakarta Post). JK pun menerima keputusan tersebut dan maju jadi capres yang diusung koalisi Golkar dan Hanura. Saat itu, saya yakin JK telah bersiap untuk menerima hasil yang terburuk sekalipun, yaitu kekalahan. Kekalahan yang dimaksud adalah tidak lagi menjadi wakil presiden bersama SBY lalu tidak kebagian posisi sentral dalam tata pemerintahan Kabinet mendatang. Agaknya, inilah yang sempat membuat JK kelihatan ragu untuk maju sebagai capres. Sebagian bisnis JK memang berurusan dengan negara. Pemilihan Sofyan Jalil sebagai Meneg BUMN pun tidak lepas dari peran JK untuk mengamankan bisnisnya.

Kini, hasil pemilu presiden dengan berbagai sengketanya sudah tinggal memantapkan kemenangan SBY-Boediono. Tidak banyak pilihan bagi JK. Pulang kampung, sebagaimana yang JK bilang kemarin adalah opsi yang paling realistis saat ini.

*****

Putusan MK telah jatuh. MK menolak gugatan pasca pemilu. Dengan demikian, SBY semakin memantapkan kemenangannya. Adapun JK yang memang sudah siap untuk pulang kampung tidak perlu lagi pusing dengan urusan partai: Golkar oposisi atau merapat ke Demokrat? Dimana mau diadakan Munas? Sulsel atau Riau, siapa calon kuat Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Yuddy Chrisnandi, atau Ferry Mursyidan Baldan. JK tidak perlu repot lagi mengurusi yang demikian. JK cukup datang pada acara Munas nanti, memberikan pertanggungjawabannya dan selesai urusan. Pulang kampung, seperti yang JK bilang waktu debat capres.

Beberapa suara yang menahan kepulangannya dengan alasan figur JK terlanjur melekat pada bangsa ini saya harap tidak jadi alasan menunda atau bahkan menahan kepulangan JK ke kampung halamannya. Suara-suara itu hanyalah bentuk ewuh pakewuh bangsa ini. Dan terlebih lagi dengan berbagai tawaran posisi fungsional dan struktural bagi JK yang sudah menyatakan pensiun sangat tidak layak karena hanya jadi simbolisasi belaka. Biarkan JK pulang membangun Indonesia Timur yang lebih baik karena tidak aneh buat pebisnis seperti JK bila harus sarapan Coto Makassar dan Es Palubutung, lalu makan siang nasi timbel di Kampung Daun, Lembang, dan makan malam di J.W Marriot Medan.



Kelapa Gading, 14 Agustus 2009


*) We hate it when our friends become successful, dinyanyikan oleh Morissey


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...