Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2019

Menggugah Kesadaran Berpolitik



Prelude

Hingar bingar Pemilu 2019 belum atau mungkin sudah mencapai puncaknya. Yang jelas, pada perjalanan terakhir ke Tanah Air Bandung tercinta, nuansa itu sudah terlihat dari ramainya spanduk iklan caleg di setiap perempatan jalan. Ada banyak caleg muda yang belum pernah nyaleg sebelumnya. Masih terlihat binar-binar harapan dari tatapan mata mereka. Pun demikian dengan para caleg veteran. Senyum mereka menyiratkan sebuah optimisme untuk kembali menatap hari-hari di depan yang masih belum jelas.

Atas kesadaran itu, saya merasa bahwa regenerasi percalegan itu memang perlu adanya. Entah dengan dasar atau bekal ilmu politik macam apa seseorang berani mendeklarasikan dirinya sebagai wakil rakyat. Apakah cukup dengan kursus singkat atau cukup dengan mendengarkan pengalaman saja?

Keinginan membaca buku ini muncul saat pembacaan buku "Jokowi, Sengkuni, Machiavelli' dari Seno Gumira Ajidarma. Keinginan itu hanya jadi keinginan belaka hingga saya menginjakkan kaki kembali di Pasar Buku Palasari setelah dua juta tahun vakum belanja disitu. 

Sebuah pemahaman bisa diperoleh dengan membaca terlebih dahulu dasar-dasar objektivitas suatu hal. Bukankah perintah Tuhan yang pertama pada Muhammad SAW adalah "Bacalah". Dengan demikian, mudah-mudahan dapat memperkuat dasar-dasar dalam pemahaman ilmu politik, sebelum terjun nyata ke ranah habluminannaas.


Palasari, 14 Januari 2019

Jumat, 28 Oktober 2016

Mati Ketawa ala Refotnasi

Tiap hari saya bertemu dengan ribuan rakyat di berbagai daerah dan pulau. Hampir semua bertanya, “Kok, partai politik kita sekarang begitu banyak? Ini demokrasi ataukah perpecahan ataukah ketidakdewasaan? Kami harus memilih yang mana?”

Courtesy: www.goodreads.com




Catatan pembukaan untuk buku ini telah ditulis pada 30 Juli 2016 yang lalu. Disini, masih dalam blog ini. Bahwa kemudian baru tiga bulan kemudian buku ini ditamatkan, penulis mohon maaf. Sesungguhnya, dalam usaha menamatkan buku ini hanya diperlukan waktu. Cukup hanya waktu saja. Mengapa? Karena kita butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi pada Indonesia, seperti yang Emha tulis. Pun, ketika kita akhirnya harus menyediakan waktu untuk berpikir, apakah jalan yang ditempuh bangsa ini pasca kejatuhan Pak Harto dan mulainya reformasi sudah berada pada jalan yang lurus, shirottol mustaqiim?


Buku ini cukup ringan walaupun muatannya terkesan "berat". Apalagi menyangkut segala hal tentang periode reformasi yang sungguh cukup "menyiksa" kenangan lahir dan batin kita sebagai bangsa Indonesia. Emha agaknya sengaja ingin berpesan bahwa apapun kondisinya kita tetap harus bisa melihat jernih. Misalnya, tentang apa di balik siapa, atau malah siapa di balik apa. Celakanya, segala pemberitaan media massa justru malah memperkeruh situasi lahir dan batin bangsa Indonesia sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih. Lha wong arsitek jaman Orde Baru itu sama dengan arsitek Orde Reformasi. Tetapi adakah yang menggugat? Itu baru penggalan satu contoh kecil saja.

Saya tidak menyangka bahwa buku ini memuat satu frame dari sekian timeline kisah hidup Emha. Satu bagian yang paling humanis, ketika putri Emha meninggal dalam kandungan karena terlilit tali pusar. Saya membaca sebuah kisah penuh ketegaran dan keikhlasan karena bahwasanya si anak putri ini sudah menanti ibu dan bapakna di Surga kelak, InsyaAllah.

Selanjutnya, saya menemukan kembali satu titik konsistensi seorang Muhammad Ainun Nadjib. Pada bagian-bagian akhir, Emha menjawab berbagai pertanyaan yang dituduhkan kepadanya. Emha dengan tegas dan lugas memberikan gugatannya. Kenapa kalau Emha shalawatan kok banyak yang bilang menggalang massa, sedangkan MTV (Music Television) dibiarkan merajalela merusak mental anak bangsa? Bila memang anda rajin membaca buku-buku Cak Nun belakangan ini, saya yakin anda akan menemukan hal yang serupa. Konsistensi yang istiqomah.

After all, bila anda adalah generasi kekinian yang hanya mengerti sepenggal-sepenggal mengenai sejumlah hal, patut rasanya mendekonstruksi kembali alam pikiran anda. Buku ini bisa jadi pengantar yang baik ke arah sana. Minimal, mereformasi diri sendiri dengan pelajaran dari sebuah negeri yang kerepotan cari nasi. Ah, refotnasi.

Judul       : Mati Ketawa ala Refotnasi
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Bentang Pustaka
Tahun      : 2016
Tebal       : 200 hal.
Genre      : Sosial-Budaya


Medan Merdeka Barat, 28 Oktober 2016.

 

Selasa, 18 Oktober 2016

Wisanggeni Gugat: Sebuah Catatan untuk Wisanggeni Sang Buronan

Courtesy: www.goodreads.com

Wisanggeni Sang Buronan adalah satu dari sekian buku Seno Gumira AJidarma yang sangat saya nantikan untuk dicetak kembali. Saya bersyukur karena semester II 2016 ini Wisanggeni kembali hadir mengisi khazanah ruang sastra Indonesia. Sekaligus menambahi isi rak buku saya.

Entah mengapa, sejak mulai pembacaan pada halaman pembuka, saya tidak merasa cerita Wisanggeni Gugat ini sebagai sebuah cerita. Walaupun buku ini sejatinya memang hadir rentetan cerita bersambung, dikumpulkan, dan diberi ilustrasi oleh Haji Danarto. Iya, betul. Danarto tukang lukis itu yang juga turut membuat sampul buku "Kitab Omong Kosong".

Wisanggeni, Sang Buronan para Dewa ini menjadi tokoh antagonis yang harus ditiadakan demi satu tatanan takdir yang telah ditentukan. Eksistensi Wisanggeni hingga melahirkan lakon Sang Buronan ini telah merongrong kemapanan jalan sejarah. Namun, pertanyaannya kembali bergeser, bila memang hanya untuk memenuhi kemapanan takdir sejarah dunia, bukankah kelahiran Wisanggeni sendiri sudah merupakan takdir? Bila memang Wisanggeni adalah anak haram sejarah, mengapa lantas ia memiliki jalan takdirnya sendiri?

Betul ceritanya seperti cerita silat, bagaikan membaca kembali Kitab Nagabumi I dan II. Tetapi, yang lebih penting adalah muatan filosofis dibalik cerita sang anak Arjuna yang dibesarkan Antaboga ini. SGA berhasil memotret kisah Wisanggeni ini sebagai perumpamaan bagi sebagian kecil peristiwa sejarah yang pernah dijalani negeri ini. Betapa keberadaan suatu entitas bisa jadi merupakan ancaman besar bagi sebuah kemapanan-politik, kekuasaan, sejarah, atau budaya- walaupun entitas itu tadi punya jalan takdirnya sendiri.

Judul            : Wisanggeni Sang Buronan
Penulis         : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit       : Laksana
Tahun           : 2016
Tebal            : 108 hal.
Genre           : Cerita Pendek-Sastra Indonesia


Medan Merdeka Barat, 18 Oktober 2016.

Rabu, 31 Agustus 2016

Catatan Pembuka untuk Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.

Cipayung, 29 Agustus 2016.

Sabtu, 30 Juli 2016

Catatan untuk Buku Baru Emha: Refotnasi

Image Courtesy: www.goodreads.com
Belum selesai pembacaan buku kumpulan puisi Cak Nun, ‘Seribu Masjid, Satu Jumlahnya: Catatan Tahajud Cinta Seorang Hamba’, saya segera menghampiri toko buku langganan untuk mendapatkan edisi terbaru ‘Mati Ketawa ala Refotnasi: Menyorong Rembulan’. Terus terang, saya tidak ingin ketinggalan satu pun edisi terbaru dari buku-buku Emha. Saya tidak ingin menyesal dan terus penasaran dengan jalan pikiran Cak Nun yang selalu mendekonstruksi cara pikir saya sebelumnya.

To be honest, sebelum benar-benar bisa membaca buku ini, saya masih menduga bahwa buku ini adalah kelanjutan tulisan Emha setelah ‘2,5 Jam di Istana’. Benar saja, ada statement bahwa buku ini merupakan semacam lanjutan dari buku itu. Emha benar-benar turun dan menemani kaum yang dilemahkan dan terpinggirkan untuk senantiasa memperbarui segenap ikhtiar untuk menyikapi keadaan bangsa di era awal reformasi.

Saya jadi teringat pada syair dari lagu “Shalli Wassalim” yang ada di album Emha Ainun Nadjib berjudul “Berhijrah dari Kegelapan”.

Sayang, sayang, sayang, orang hebat tinggi hati...
Omong demokrasi, pidato berapi-api...
Ternyata karena menginginkan kursi...
Sementara rakyat, kerepotan cari nasi...

Entah ada hubungannya atau tidak, antara reformasi dan repot nasi, saya anggap buku ini adalah kesaksian Emha pada suatu masa di republik tercinta ini. Satu kesaksian agar kita mampu berkaca, untuk senantiasa istirahat sejenak, menatap ke dalam diri demi menjawab satu, ribuan, atau bahkan jutaan pertanyaan yang belum selesai. Tentang bagaimana reformasi melanda bangsa ini. Pun, kenapa bangsa yang katanya bangsa yang besar ini jadi kerepotan cari nasi.

*tulisan ini dibuat setelah membeli buku Cak Nun yang terbaru “Mati Ketawa ala Refotnasi” dan membaca artikel dengan judul sama di bagian akhir buku. 

Pharmindo, 30 Juli 2016.

Selasa, 31 Mei 2016

Argo: A Happy Ending for USA Hostages

Welcome to Iran. Courtesy: IMDB www.imdb.com
Saya pikir film ini bercerita tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia, terutama ketika PT. KAI mulai menggunakan kereta berlabel ‘Argo’. Saya kira juga film ini adalah biografi dari seorang teman SMP. Saya heran karena mengapa tiba-tiba Argo teman SMP saya jadi agak mirip Ruud van Nistelrooij, mantan pemain PSV, MU, dan Real Madrid. 

Saya baru yakin film ini adalah film keluaran Hollywood ketika beberapa teman di Twitter ramai membicarakan acting Ben Affleck dalam film ini, medio 2012 lalu. Beberapa bahkan sangat memuji penampilan Ben Affleck. Saya rasa, itu karena mereka gampang tergoda dengan sosok lelaki berjambang dan yang paling penting adalah: mereka masih jomblo. They expecting to have a good looking man like Affleck. Sorry, ladies. You’re not Jennifer Garner, though.

Well, ‘Argo’ sendiri adalah sebuah codename rahasia CIA untuk membebaskan 6 orang sandera yang berhasil lolos dari penyerbuan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, Iran, oleh Garda Revolusi Iran pada tahun 1979 silam. Keenam warga AS yang berhasil lolos itu lari ke rumah Duta Besar Kanada untuk Iran. Selanjutnya, mereka menunggu untuk dibebaskan dari Iran atau ditangkap oleh pasukan Garda Revolusi. CIA memang berusaha untuk membebaskan mereka namun masalahnya klise. CIA dihadapkan pada situasi dengan solusi terbatas.

Opsi untuk pembuatan film dari sebuah rumah produksi bisa membantu operasi pembebasan sandera. Skema ini beresiko besar karena seorang agen harus masuk ke Iran dan ‘mendidik’ keenam sandera menjadi kru film berjudul ‘Argo’. Tokoh superhero fiktif. Dengan bantuan beberapa kenalan produser, akhirnya CIA menyetujui operasi ini.

Crew Briefing. Courtesy: IMDB www.imdb.com
Seorang agen, Tony Mendez, diturunkan untuk menyamar sebagai co-produser untuk film ‘Argo’. Ia mengubah identitasnya menjadi orang Kanada untuk menghindari kecurigaan. Maklum, saat itu sentimen anti-USA sedang bergaung di Iran. Usai masuk Teheran dan bertemu keenam sandera, ia mulai melakukan misinya. Sebagian sandera menganggapnya hanya sebagai pembawa misi bunuh diri belaka, namun tetap ada harapan untuk sebagian sandera yang lain. The last option they had.

Ketegangan mulai meningkat ketika mereka survei untuk lokasi pengambilan gambar di satu pasar. Karena kurang berhati-hati, kehadiran mereka memicu kegaduhan sehingga mereka menyudahi survey hari itu. Di sisi lain, intelijen Garda Revolusi berhasil mengambil foto mereka untuk dicocokkan dengan data di Kedutaan Besar.

A Long Way Home. Courtesy: IMDB www.imdb.com
Klimaks tercapai ketika Tony Mendez menggiring para sandera untuk pulang. Ujian pertama mereka adalah perjalanan menuju Hyderabad International Airport. Penjagaan yang berlapis juga jadi batu halangan menuju kebebasan mereka. Panggilan boarding sudah last call sementara mereka bertujuh masih berhadapan dengan pasukan Garda Revolusi yang curiga. Setelah mendapat balasan telepon dari seberang yang meyakinkan mereka adalah kru film, pasukan penjaga segera mengizinkan mereka lewat dan naik pesawat. Selanjutnya, the road to freedom has just started.

Catatan Kolumnis Dadakan

Menikmati film ini dari ketinggian 37.000 kaki adalah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Dengan latar belakang sejarah hubungan Iran-USA yang terbatas, saya dapat menebak bahwa keenam orang ini bisa lolos keluar dari Iran. Saya juga dengan mudahnya menebak lagi bahwa urusan clearance untuk proyek pembebasan sandera ini mendapat ganjalan dari Pemerintah USA. Walaupun begitu, saya tetap duduk tenang menyaksikan bagaimana film ini berakhir. Sebuah happy ending, tentunya.

Ada beberapa catatan dari saya mengenai aspek produksi film ini. Karena waktu landing masih lama, saya menyempatkan waktu untuk menonton film ini sampai benar-benar habis. Makanya, saya baru tahu film ini diproduseri oleh George Clooney. Argo berhasil menjadi momentum bagi debut directorial Ben Affleck. Yes. Ben Affleck turut menyutradarai film ini, tidak hanya sebagai pemeran utama. 

Sebagai film Hollywood dengan pendapatan kotor sebesar 139 juta dolar (2013), ‘Argo’ masih menyisakan beberapa tanda tanya. Keakuratan sejarah menjadi faktor utama bagi para kritikus film. Adegan pasukan Garda Revolusi mengejar 747 Swiss Air dipertanyakan sebagai sebuah realita atau hanya imajinasi pembuat film belaka. Selain itu, sebagaimana layaknya film Amerika, isu patriotisme dan nasionalis penuh kemenangan menjadi unsur pelengkap bagi hegemoni Amerika Serikat. Film ini berhasil melengkapi hegemoni Amerika Serikat dalam ranah fiksi.

Judul           : Argo
Sutradara    : Ben Affleck
Cast            : Ben Affleck, Bryan Cranston, Alan Arkin, Clea DuVall, Kyle Chandler
Durasi        : 120 menit
Tahun         : 2012
Produksi     : Warner Bros
Genre         : Drama-Thriller

Cipayung, 28 Mei 2016

Rabu, 19 Agustus 2015

Islam di Mata Orang Jepang

Buku ini adalah buku kedua Hisanori Kato yang saya tamatkan. Sebagai seorang Indonesianis, Sato-san tidak hanya melibatkan dirinya hanya sebatas pengamat. Lebih dari itu, ia membaur dan merangkul banyak tokoh dalam penelitiannya ini. Perlu diketahui juga bahwa tokoh-tokoh yang ditulis dalam buku ini juga ditemuinya ketika menulis karyanya yang lain, "The Clash of Ijtihad".


Tulisannya tentang agama Islam di Indonesia menarik sekali untuk jadi bahan diskursus. Terlebih, ia mendatangi sendiri para narasumber dengan berbagai latar belakang yang beragam. Mulai dari tokoh Islam moderat, liberal, hingga fundamental. Perjumpaannya dengan Abu Bakar Baasyir adalah satu hal yang eksepsional dalam buku ini. 

Selain bertemu Abu Bakar Baasyir yang seringkali dituduh melakukan serangkaian kegiatan berbau makar, Kato juga menemui tokoh-tokoh lain yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Indonesia. Ia mendatangi Bismar Siregar, mantan Hakim Agung yang terkenal di zaman Orde Baru; dan Mohamad Sobary, peneliti LIPI. Bahan perbincangan dari keduanya, menjadi bahan pengantar memasuki khazanah Islam di Bumi Nusantara.

Selanjutnya, Kato-san menulis pengalamannya ketika berjumpa dengan para tokoh Organisasi Islam.  Sato-san menemui pemimpin FPI, Eka Jaya, untuk mencari alasan dibalik aksi-aksi yang dilakukan FPI. Ia juga mendatangi Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia yang berjuang  mengembalikan sistem kekhalifahan di Indonesia. Dari sisi lainnya, Kato juga bertemu dengan Ulil Abshar Abdalla yang mengibarkan bendera Islam Liberal.

Untuk menyeimbangkan segenap opini yang berkembang dalam buku ini, Kato-san juga memuat catatan pertemuannya dengan Lily Munir. Tentang bagaimana penafsirannya mengenai agama Islam untuk perempuan. Hubungan antara Islam dan Politik kemudian diungkapnya melalui pertemuan dengan Fadli Zon, aktivis mahasiswa yang saat ini bergabung dengan satu partai politik. Terakhir, dan agak panjang, adalah catatan kecilnya ketika bertemu dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI). Saat itu, ia berteman baik dengan Gus Dur dan bicara banyak soal agama islam lokal dan demokratisasi dalam Islam.

Menutup catatan sudut pandangnya ini, Sato-san juga menulis esai singkat tentang perjalanan panjang menuju Islam. Bahwa tokoh-tokoh yang dijumpainya berjuang dengan caranya masing-masing menemukan Islam sebagai jalan hidup menuju kebenaran. Perdebatan mengenai fundamentalisme, liberalisme, feminisme, sosialisme, hingga demokratisasi dalam buku ini adalah nilai-nilai keragaman pemahaman dan pemaknaan atas Islam di Indonesia. 

Dengan demikian, Sato-san telah memberi sumbangan yang amat berarti bagi khazanah Islam di Nusantara. Terutama sejak buku ini berangkat dari tujuan penelitian. Lebih jauh, buku ini merupakan cermin bagi masyarakat Islam di Indonesia. Cermin untuk melihat kembali nilai keislaman kita yang senantiasa kita jalani dan amalkan.

Judul           : Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur, sampai Ba'asyir
Penulis        : Hisanori Kato
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2014
Tebal          : 176 hal.
Genre         : Agama Islam


Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 19 Agustus 2015

Senin, 11 Mei 2015

Lupa Endonesa

"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." - Hal.138

Personally, ini adalah buku Sujiwo Tejo pertama yang saya tamatkan. Saya beli sepaket dengan dua buku lainnya yaitu dwicarita Rahvayana. Saya kira buku ini merupakan kumpulan artikel atau cerita soal lunturnya rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia dari Sang Dalang Edan yang rupanya pernah mengenyam hidup sebagai wartawan. Namun, saya menemukan satu bentuk pengalaman yang baru dalam mentafakuri kehidupan sejarah bangsa melalui buku ini. 



Lupa Endonesa menggugat kehidupan bangsa ini pada satu periode sejarah yang dilambangkan dengan sosok seorang Presiden dari tanah Pacitan. Segenap persoalan negeri kala itu digamblangkan sedemikian rupa. Sujiwo dengan gagah menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, dan tidak memalukan tentang persoalan kehidupan bangsa Indonesia. Semua ceritanya, menyiratkan bahwa kita ini memang lupa berbangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Sujiwo menggunakan banyak perumpamaan dalam menyampaikan kritiknya atas satu keadaan tertentu. Kemunculan tokoh-tokoh punakawan dan main cast Mahabharata-Ramayana adalah satu unsur penyeimbang cerita. Betapa kenyataan masih bisa bermain dengan fiksi. Lepas dari pakem pewayangan pada umumnya. Penulisnya juga tidak lupa melibatkan para tokoh pewayangan itu dengan unsur modernitas yang kekinian.

Sepintas, cerita-cerita dalam buku ini terlihat sebagai cerita pendek karena selain habis dibaca sekali duduk mereka juga mempunyai unsur fiksi yang kental. Andai pun tidak dianggap sebagai cerpen, tidak salah juga bila kisah-kisah tuturan Sujiwo ini masuk kategori memoar. Memoar bergerak, dari satu kisah ke kisah lain dalam titimangsa yang sama.

Ada dua cerita yang jadi favorit saya disini. “Lakone Hanuman Ambassador” sebagai tandingan dari lakon “Hanuman Duta” dan “Jajak Pendapat para Dewa”. Sujiwo menjadikan seluruh tulisannya sebagai kritik sosial atas segenap peristiwa dengan mengawinkan unsur hiburan dan politik. Tulisannya ini bisa jadi hiburan bagi rakyat yang memang sudah kekurangan bahan tertawaan sekaligus kritik bagi pemimpin bangsa ini kelak di masa mendatang, agar sejarah tidak kembali terulang.

Judul        : Lupa Endonesa
Penulis     : Sujiwo Tejo
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 218 hal.
Tahun       : 2012
Genre       : Cerita Pendek-Memoar


Dharmawangsa - Medan Merdeka Barat, 11 Mei 2015.

Minggu, 29 Maret 2015

Indonesia 1998: Penggalan Sejarah dalam Kartun

Pada satu wawancara di televisi, Muhammad “Mice” Misrad menyebutkan bahwa ia sudah mulai berkarya membuat kartun saat Indonesia mengalami periode runtuhnya Orde Baru. Ia juga menyebutkan satu judul karyanya ini yang terbit pada tahun 1998. Saya mulai penasaran dan mencari judul yang dimaksud. Maklum, selama ini saya secara terbatas mengenal Mice melalui kartun-kartunnya yang popular, seperti serial Lagak Jakarta dan Tiga Manula. Kartun Komentator Sepakbola kemudian masuk ke rak buku saya sebagai karya Mice pertama yang saya miliki.

 
Buku ini terbit kembali sebagai remake dari buku yang terbit tahun 1999 lalu dengan judul “Rony: Bagimu Mal-mu, Bagiku Pasar-ku”. Walaupun lahir kembali dengan kemasan yang baru namun muatan dan esensi yang dibawa pendahulunya tidak lantas luntur. Lihat saja bagaimana buku ini tampil dengan warna sampul merah dan teks putih serupa bendera kebangsaan Indonesia. 

Pergolakan yang terjadi selama periode kelahiran Orde Reformasi adalah taman bermain yang memacu kreativitas para kartunis. Lembaran-lembaran harian ibukota mulai ramai kembali dengan kolom-kolom gambar kartun. Mereka berbicara mengenai situasi dan isu-isu terkini yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Dengan demikian, kartun telah menjadi media yang memuat pesan masyarakat.



Mice mengangkat berbagai fenomena yang dialami masyarakat Indonesia saat itu. Mulai dari awal terjadinya krisis ekonomi hingga euforia kebebasan dimaknai sedemikian rupa oleh mereka yang lepas dari kekangan. Kebebasan berekspresi dan bermedia pun turut berperan besar dalam “mendidik” masyarakat dalam rangka pelajaran demokrasi reformasi. 

Masyarakat dihadapkan pada era keterbukaan, bahkan cenderung kebablasan. Mice menggambarkan situasi demonstrasi yang waktu itu menjadi trending topic. Pergerakan mahasiswa pun tak luput dari pandangan mata Mice. Apa saja yang tidak disetujui, maka masyarakat segera menggelar demonstrasi. Satu hal yang mustahil terjadi di masa Orde Baru.

Ada beberapa hal yang menggelitik saya dalam kumpulan kartun ini. Mice sangat jeli sekali menangkap hal-hal parsial yang tidak biasa. Mice mengingatkan kembali pada model bingkai kacamata yang tebal dan potongan rambut Ira Koesno yang juga jadi tren pada masa itu. Ingat, acara berita yang dibawakannya punya rating bagus saat itu.

Testimonial Seno Gumira Ajidarma dan Wimar Witoelar pada menambah nilai tersendiri dalam muatan dan kemasan pada edisi remake ini. SGA memberikan pandangan filosofis tentang bagaimana makna sejarah akan diterapkan dengan penerbitan kembali kartun ini. Sedangkan, Wimar Witoelar, yang memandu talkshow Perspektif Politik dan dibredel pada tahun 1995, berpesan bahwa kartun ini adalah cerita yang lucu dan efektif untuk menggambarkan kondisi Indonesia pada masa awal reformasi walaupun dibaca hari ini.

Picture fade away, but memory is forever. Satu gambar bisa bicara beribu makna. Agaknya, Mice telah membuat kesaksiannya tentang bagaimana roda sejarah bangsa berputar.
 

Judul        : Mice Cartoon: Indonesia 1998
Penulis     : Muhammad Misrad
Penerbit    : Octopus Garden
Tebal        : 125 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Kartun-Sejarah

Dharmawangsa, 29 Maret 2015.

Minggu, 20 April 2014

Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam Pusaran Sejarah

Buku jilid terakhir dari serial Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia dari Rosihan Anwar ini merupakan kelanjutan buku jilid 5 yang berjudul ‘Sang Pelopor: Tokoh-tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa'. Buku ini mengisahkan anak-anak bangsa yang turut mengisi sejarah perjalanan bangsa. Bisa dipahami bahwa mereka terdiri dari golongan aparatur birokrasi/pemerintahan, penggiat budaya, pengusaha, ilmuwan, dan pekerja pers. Khusus untuk yang disebut terakhir, dapat digolongkan sebagai pencerah pada zamannya dengan berbagai sisi kemanusiaannya.



Seperti jilid nomor sebelumnya, buku ini juga merupakan kelanjutan revisi dari buku 'In Memoriam: Mengenang yang Wafat', yang juga diterbitkan pada tahun 2002 oleh Penerbit Buku Kompas. Terdapat pula beberapa tambahan tulisan yang belum termuat pada edisi sebelumnya. Oleh karena itu, pembaca dapat mengenang kembali jasa dan peninggalan (legacy) tokoh-tokoh yang berdedikasi sesuai bidangnya masing-masing sepanjang sejarah Republik hingga meninggalnya mendiang Rosihan Anwar pada tahun 2011 lalu.

Beberapa nama yang ada dalam buku ini diantaranya sudah dikenal karena reputasinya. Sebut saja, Wiweko Supeno; Des Alwi; Sarbini Sumawinata; Sumitro Djojohadikusumo, bapak dan begawan ekonomi Indonesia; Buya HAMKA, ulama legendaris yang juga menghasilkan beberapa karya sastra monumental; Y. B. Mangunwijaya; A. H. Nasution; Maria Ulfah Soebadio, perintis perjuangan membela kaum perempuan; B.M Diah, politisi yang juga pelopor di bidang pers nasional; Hoegeng Iman Santoso yang selalu dikenang sebagai polisi yang jujur dan lurus; hingga Miriam Budiardjo, perempuan ilmuwan perintis disiplin ilmu politik Indonesia. Tak pelak, mereka pun dianugerahi titel ‘Sang Pencerah’ oleh editor.

Banyak nama yang mengisi buku ini. Tak semua nama bersinar terang meski jasa dan pengabdian pada nusa dan bangsa tidak lagi diragukan bahkan sebagian tidak lagi dikenal generasi muda. Lebih jauh, bila pembaca mengikuti serial Sejarah Kecil Indonesia ini sejak awal maka pembaca dapat menemukan keterkaitan antara beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah bangsa. Lebih jauh, pembaca dapat menilai sendiri konsistensi dari pernyataan Rosihan Anwar dari edisi yang satu ke edisi yang lain.

Personally, edisi jilid terakhir ini cukup berkesan. Rosihan Anwar menempatkan para tokoh penggiat budaya dalam satu bagian tersendiri. Budaya dalam hal ini tidak melulu sastra. Perlu diingat bahwa Rosihan Anwar juga menyukai film sehingga konteks budaya yang ditulisnya mempunyai arti budaya dalam konteks yang lebih luas. 

Cerita tentang para tokoh pelopor dalam sejarah pusaran bangsa ini ditulis apa adanya, dengan penekanan pada sisi-sisi kemanusiaan yang menyentuh dan tetap memukau khas gaya tulisan Rosihan Anwar. Lewat buku ini, penulisnya ingin menyampaikan pesan sekaligus menginspirasi khalayak untuk menebalkan kembali rasa kebangsaan yang tengah dilanda erosi dan distorsi.

Judul           : Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia, Jilid 6: Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam 
                      Pusaran Sejarah
Penulis        : Rosihan Anwar
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2012
Tebal            : x + 334 hal.
Genre           : Sejarah-Memoar

Pharmindo, 20 April 2014.

Rabu, 09 April 2014

Today, I Vote!

Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira


Seperti mars Pemilu masa orde baru, akhirnya hari Rabu, 9 April 2014 ini benar-benar tiba. Hari penentuan bagi kelanjutan fungsi legislatif sebagai bagian dari tias politica dianut Republik ini. Segala macam dan rupa pencitraan demi meraih dukungan dan menggaet suara pemilih telah tiba pada muaranya.  Suara anda menentukan masa depan bangsa. Kira-kira begitulah simpulan halus himbauan negara agar seluruh warga negara mau ikut berpartisipasi.


Sebagai warga negara yang bertanggungjawab, sudah menjadi kewajiban saya untuk memberikan suara pada hajatan rutin lima tahunan ini. Saya masih ingat pada hari Pemilu pertama saya tahun 2004 lalu ketika kami, para pemuda komplek, mencoblos partai yang kami yakini sebagai ‘Messiah’, juru selamat dari zaman kalabendhu, zaman penuh kekacauan dalam cerita Panji Koming. Saya cukup optimis dengan apa yang saya pilih walau kemudian saya dibuat kecewa juga.

Keadaan yang kurang lebih sama masih dialami hingga hari ini. Kekecewaan atas segala ketidakberesan di negeri ini menjadi hesitansi sendiri bagi pemilih, terutama dari kalangan menengah baru (growing middle class). Ancaman golput masih terus membayangi dan akan selalu ada dalam setiap Pemilu. Keengganan juga muncul kala pemilihan langsung caleg kali ini karena pemilih ‘dipaksa’ mengenali calon yang akan mewakilinya. Tidak jarang saya mendengar celoteh kawan-kawan yang memilih untuk tidak memilih karena tidak ingin bertanggungjawab atas tindakan caleg-caleg yang nantinya bobrok-bobrok juga saat duduk di kursi legislatif.

Saya pun sepenuhnya sadar, bahwa tidak ada jaminan bahwa partai atau caleg yang kita pilih hari ini akan membawa perubahan berarti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sama dengan tidak adanya jaminan atas sholat, puasa, dan ibadah lainnya yang saya lakukan diterima Allah SWT, jaminan apakah saya masih bernafas pada detik yang ke-75.241 hari ini. Tidak ada jaminan juga  apakah pilihan saya nanti membawa manfaat atau mudharat.

Bukankah dalam agama pun kita telah dididik untuk selalu berpikiran positif dan berprasangka baik. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, belum tentu seperti yang ada di pikiran kita. Tugas saya adalah memilih calon legislatif yang memang sudah siap lahir-batin untuk duduk mewakili konstituennya. Apabila nanti mereka bertindak diluar apa yang diamanahkan, itu sudah bukan urusan saya lagi. Biar itu jadi urusan mereka dengan Tuhannya saja.

Yang jelas, saya punya hak untuk ikut bersuara bila para wakil rakyat itu mulai bertingkah karena saya ikut memilih. Lebih baik mana, kecewa karena ikut memilih, atau sama-sama kecewa padahal tidak ikut memilih. Saya lebih memilih opsi pertama karena saya bertanggungjawab atas pilihan saya.


Pharmindo, 9 April 2014.

Minggu, 30 Maret 2014

Membaca Kembali Seno

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan membaca kembali fiksi tulisan Seno Gumira Ajidarma favoritnya, “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta”. Melalui akun twitter pribadinya lalu kawan tadi menceritakan kembali soal satu cerpen berjudul “Rahasia”. Satu cerpen yang saya perlu membacanya dua kali sebelum tahu bahwa cerpen itu bertema tentang jalinan sebuah kisah indah dalam perselingkuhan. Kawan saya tadi lantas membahas bagaimana SGA menuliskan cerita perselingkuhan dengan tabir yang amat menawan sehingga tidak perlu menohok pembaca bahwa ini adalah cerpen tentang perselingkuhan.

Saya selalu ingat kalimat pembuka cerpen itu. “Pada hari kematian Jose, seorang wanita menangis tersedu-sedu”. Satu prolog yang kemudian membuka sekian banyak pertanyaan. Siapakah dia yang ikut menangisi kematian Jose selain Dewi, istri Jose. Cerpen ini kemudian ditutup dengan kalimat, “Barangkali Dewi lupa, hidup ini memang penuh dengan rahasia.” Cerpen bertanggal 16 November 1991 ini mampu membuat pembaca awam seperti saya mereka-reka siapa perempuan itu tadi. Hingga akhirnya saya sepenuhnya paham, bahwa ada dua perempuan yang bersedih karena kematian Jose.


Tiga Drama Kekerasan Politik

Awal tahun 2013 lalu, saya menemukan seorang penjual buku bekas di sebuah forum jual beli. Kebetulan, buku yang dijual adalah kumpulan drama dari SGA yang berjudul “Mengapa Kau Culik Anak Kami?”. Perlu waktu lama dan ekstra kesabaran sebelum akhirnya saya bisa memuaskan rasa penasaran. Secara singkat, buku ini memuat lakon dari tiga naskah sandiwara: ‘Tumirah, Sang Mucikari’ ‘Mengapa Kau Culik Anak Kami?’ ; dan ‘Jakarta 2039’. 

Cerita pertama, mengisahkan soal kehidupan seorang mucikari yang diposisikan berada dalam situasi tidak menentu akibat konfrontasi antara gerilyawan dengan aparat. Cerita kedua, adalah drama tiga babak. Seorang ayah dan ibu terlibat dalam suatu percakapan yang berujung pada anak mereka yang hilang diculik. 

Cerita terakhir, seperti sudah pernah dimuat dalam cerpen berjudul sama dalam kumpulan cerpen “Iblis Tidak Akan Pernah Mati”, menceritakan dua babak peristiwa. Pertama, Mei 1998 pada saat Clara mengalami sendiri tragedi kemanusiaan paling kelam sepanjang sejarah Republik. Kedua, 40 tahun 9 bulan usai tragedi Mei 1998. Saat itu, Clara sudah melahirkan seorang anak hasil dari pemerkosaan yang dialaminya. Kemudian, anak itu bercerita. 

‘Ibuku diperkosa bapakku  pada malam penjarahan dan pembakaran tanggal 14 Mei 1998. Tepat sembilan bulan kemudian, aku lahir pada 14 Februari 1999. Kini tanggal 14 Februari 2039, umurku tepat 40 tahun. Aku tak tahu siapa ibuku dan aku tak tahu di mana bapakku.’ 

‘Aku hidup dengan penuh dendam kepada para pemerkosa. Namun, jika aku bunuh kedua orang itu karena mereka adalah pemerkosa, itu berarti aku telah membunuh bapakku dalam pikiranku. Aku tak tahu, manakah yang lebih jahat dan lebih salah, membunuh pemerkosa atau membunuh bapak sendiri?’

Ketiga lakon drama ini ditulis oleh SGA didasari oleh tindakan represif aparat semasa Orde Baru. Tak heran, bila kemudian ada banyak tragedi yang disebabkan olehnya. SGA berusaha menangkap fenomena-fenomena kecil dimana keberadaan mereka sangat mungkin terabaikan. SGA menangkap suara-suara yang demikian lalu menerjemahkannya dalam bentuk lakon teater yang pertama kali digelutinya sejak tahun 1975. Tiga lakon drama yang dibukukan ini adalah catatan rekam jejak historis kontekstual terhadap sebuah tragedi aktual yang dialami bangsa ini. Agaknya, SGA berhasil dalam membentuk suatu perlawanan untuk melawan lupa.

Pharmindo, 30 Maret 2013.

Selasa, 04 Februari 2014

Game Change


Listen, I too wish that the American people would choose the future Abraham Lincoln or Thomas Jefferson, but unfortunately, that's not the way it works anymore. Now it takes movie-star charisma to get elected President, and Obama and Palin, that's what they are - they're stars.
(Rick Davis)

Tidak ada yang menang atau kalah dalam politik. Begitupun ketika menyaksikan perjalanan sepasang kandidat capres-cawapres yang meyakini diri mereka sebagai pembawa misi 'American Dreams', yaitu wakil kaum Republikan, Senator John McCain dan Gubernur Sarah Palin serta Senator Barack Obama dan Senator Joe Biden yang mewakili kubu Demokrat.

Film ini mengajak kita kembali pada tahun 2008. Tahun dimana Amerika Serikat telah mengukir sejarah eksistensi mereka dengan memilih Presiden Afro-Amerika pertama sepanjang masa yang terkenal dengan tagline "Change We Believe In". Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika Serikat dengan kampanye model pencitraan yang kini jadi semacam mainstream bagi kebanyakan aktor-aktris politik di Indonesia.

Adalah suatu hal yang luar biasa untuk melihat bagaimana proses dialektika politik dari pasangan calon yang gagal terpilih. Penonton disuguhkan pada kejadian-kejadian faktual seputar Pemilu tahun 2008 lalu itu. Kita dapat menyaksikan bagaimana suatu entitas merepresentasikan dirinya dalam sepasang kandidat presidensial. John McCain dan Sarah Palin punya keyakinan luar biasa untuk bisa menjadi simbol Amerika. Masing-masing punya gaya tersendiri dalam meyakinkan pendukung mereka.

'Game Change' menceritakan perjalanan John McCain dan Satah Palin dalam mencari pendamping untuk mewakilinya di kursi kepresidenan hingga akhir masa pemilu. Ketegangan mulai intens ketika keduanya mulai turun dan berhadapan dengan masyarakat secara langsung. Perdebatan mengenai kapabilitas Sarah Palin serta hal-hal kontroversial seputar dirinya menjadi topik utama. Tentang bagaimana responnya terhadap isu-isu nasional dan internasional, kehamilan putri remajanya, hingga dana kampanye yang digunakan untuk membeli pakaian selama kampanye.

Sosok Sarah Palin menjadi dominan kala ia mulai kehilangan semangatnya. Ia mulai lelah dengan segala macam usaha yang Tim Sukses lakukan untuknya. Ia mulai menolak untuk berlatih menghadapi wawancara dan menambah wawasannya lalu hanya mengandalkan kemampuan retorisnya belaka yang celakanya tidak membuat situasi yang bagus untuk nilai elektabilitas mereka. Sebuah parodi wawancaranya bahkan muncul di televisi, diperankan apik oleh Tina Fey. Bila penasaran sila buka Youtube dan ketik "Sarah Palin Impersonator".

Melewati masa kritis itu, Sarah Palin kembali dipertemukan dengan keluarganya atas inisiatif John McCain. Ia kembali merengkuh rasa percaya diri yang sempat melemah. Sarah Palin kembali menjadi aktris podium yang mampu menyihir khalayak Amerika untuk mendukungnya. Kemenangan pada debat terakhir atas Joe Biden adalah satu bukti kemenangan retorika. Satu hal dimana Sarah Palin piawai memanfaatkannya. She totally change the game.

Apapun itu, film ini mengajarkan banyak hal tentang bagaimana mengorganisasi sebuah Tim Sukses. Juga bagaimana melewati masa-masa sulit untuk bangkit kembali. Pada akhirnya, kita semua tahu bahwa Barack Obama duduk sebagai Presiden ke-44. Namun, kita disuguhkan satu pertunjukan dimana terjadi perlawanan sengit untuk meraih kursi presiden. Sebuah pertarungan yang tidak melupakan 3 spirit/nilai utama hidup bangsa Amerika; Family, Faith, Flag. 

Menjelang Pemilu 2014, rasanya para pasangan kandidat capres-cawapres harus mau mengambil banyak hikmah serta belajar banyak hal dari film yang dirilis tahun 2012 ini. Utamanya, dalam memposisikan diri sebagai pelayan publik yang beraksi nyata dengan kampanye yang bersih.

Judul           : Game Change
Sutradara    : Jay Roach
Cast            : Julianne Moore, Ed Harris, Peter Macnicol, Sarah Paulson
Tahun         : 2012
Produksi     : HBO Films
Genre         : Drama-Biografi

Paninggilan, 4 Februari 2014.

Selasa, 21 Mei 2013

Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor

Menarik untuk mengetahui bahwa akhirnya Seno Gumira Ajidarma menulis lagi soal perkartunan. SGA nampaknya tidak hanya mencoba memberikan insight kepada pembaca mengenai pergulatan makna dan wacana serta ideologi dalam gambar kartun. SGA ingin juga membuka tabir bahwa kartun bisa menjadi sumber pengetahuan melalui pembacaan dan pembongkaran karya para kartunis.


Tokoh kartun yang dibahas cukup lengkap. Mulai dari Si John yang selalu muncul di halaman awal harian Pos Kota dan kemudian mulai tahun 2003 disimpan ke halaman dalam. SGA juga mencermati ideologi dalam kartun Benny & Mice, sejak mereka bersatu hingga perpisahan mereka. Tak lupa, ulasan tentang kartun karya GM Sudarta ikut menjadi bahan perbincangan.

Ada juga tokoh Pak Bei yang menjadi ikon harian Rakyat Merdeka, Pak Tuntung yang ikonik khas Medan versi harian Analisa. Tidak ketinggalan, kartun populer lainnya seperti Mang Ohle yang merepresentasikan kegelisahan dalam budaya tutur masyarakat Sunda. Panji Koming karya Dwi Koen yang kerap muncul di hariann Kompas Minggu, sebagai representasi budaya feodal di negeri kita. Konpopilan, sebagai sahabat yang menemani kartun Panji Koming muncul sebagai representasi kartun pintar bagi mereka yang mampu memahaminya secara kontekstual dan lebih kompleks dari sekedar pemaknaan visual.

Bicara tentang sejarah, SGA juga membahas soal tokoh Put On. Khusus yang ini, saya punya catatan sendiri karena pernah menyitir dari literatur lain tentang Put On sebagai bahas skripsi saya, 2008 lalu.

Beberapa artikel juga mendorong pembaca untuk berpikir bahwa dunia kartun tidak hanya sekedar gambar yang menghibur. Kembali, SGA ingin membawa pembaca kepada pergulatan antar wacana bahkan idelogi dari gambar kartun yang disajikan setiap hari. Lebih jauh, pembaca dapat mencermati sejarah dan hegemoni kartun sebagai representasi sisi lain kehidupan.


Judul        : Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun      : 2012
Tebal       : 429 hal.
Genre      : Sosial-Budaya


Curug, 21 Mei 2013.

Minggu, 13 Januari 2013

A Year in Blogging: The Unread 2012 (2-tamat)

postingan sebelumnya sila klik disini

 
Mei (lanjutan)

The Karamazov Brothers


Akhirnya,  saya menemukan sebuah karya legendaris Dostoevsky ini di sebuah toko buku impor di bilangan Senayan. Secara tidak sengaja usai sebuah diskusi buku yang menghadirkan beberapa penulis seperti Maggie Tiojakin @maggietiojakin, dan Okky Madasari @okkymadasari. Dipandu oleh Feby Indirani @febyindirani acara ini juga menghadirkan editor buku, Hetih Rusli @hetih, yang namanya saya kenal melalui beberapa karya Clara Ng @clara_ng.

Setelah Nagabumi, buku ini menjadi buku tertebal kedua tahun ini. Entah kapan saya punya waktu menamatkan buku berdurasi 870 halaman ini.


Juni

The Kite Runner


The Kite Runner karya Khaled Hossaini ini sudah pernah diangkat ke layar lebar. Seperti biasa, karena saya bukan banci bioskop, saya melewatkan filmnya. Impresi pertama tentang buku ini saya dapatkan dari murid saya dulu, Olivia. Waktu itu, Olivia dengan serius membaca buku ini di pojok perpustakaan. Tidak mungkin tidak ada sesuatu yang menarik dari buku ini.

Saya pun kemudian menemukan versi terjemahan bahasa. Sepintas, garis besar cerita sudah saya dapatkan. Pokoknya, seseorang harus berdiri diantara persahabatan dan pengkhianatan. Sampai saat ini, buku ini masih berdiri dengan tegak, bersebelahan dengan Rock n Roll Mom. Setia menunggu panggilan dari sang pemilik rak.

Rock n Roll Mom



Kisah seorang Ibu tidak akan pernah berhenti memancarkan kasih sayang. Begitu pun pada buku ini. Bunda Iffet, seperti sudah kita ketahui bersama, selalu berada disamping Slank, dalam keadaan apapun. Termasuk, saat personil Slank didera persoalan dengan narkotika.

Apapun alasan dibalik itu semua tadi, yang jelas buku ini belum sempat saya baca. Bahkan hanya untuk highlighting bagian peran Bunda Iffet dalam membantu Bimbim cs lepas dari jeratan narkoba.

Tales From The Road: Mencicip Keunikan Budaya Dari Yogyakarta Hingga Nepal

Keunikan budaya Indonesia kadang menjadi nilai tambah tersendiri bagi seorang pelancong. @matatita dalam buku ini bercerita kembali tentang perjalanan yang dilakukannya ke berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara tetangga.


Pembacaan saya berhenti di bagian pertengahan buku ini. Keburu tertawan oleh “Life Traveler” punya @windyariestanty. Cara penulisan cerita dan sudut pandang dari @matatita membuka cakrawala berpikir pada suatu dimensi lain. Inilah bagian yang paling menarik sepanjang pembacaan buku ini.

Turangga Gila Bola



Sebagai pecinta sepakbola, saya mencoba untuk membaca sebanyak mungkin interpretasi yang muncul atas entitas bernama sepakbola. Termasuk buku ini. Saya pikir buku ini adalah cerita komik. Namun, ternyata bukan. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari pengalaman awal membaca uku ini.

Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus

Buku ini adalah buku kedua dari Meiliana K. Tansri yang saya punya. Setelah sebelumnya dengan berhasil saya menamatkan novel “Konser”, menulis review di blog ini, hingga mendapatkan apresiasi dari penulisnya langsung. Seperti pernah saya tuliskan dalam satu postingan di tahun kemarin. Sila klik disini untuk membacanya.

Ternyata, buku ini adalah bagian kedua dari sebuah trilogi Darah Emas. Belakangan, bagian pertama dan bagian terakhir trilogi ini banyak muncul di bagian diskon beberapa toko buku. Namun, tak lantas hal itu membuat saya segera melengkapi kedua bagian trilogi yang hilang. Saya pun belum tahu kapan akan mulai membaca buku yang masih tersegel utuh ini.

The Bourne Objective

Pada suatu bookfair di Istora, tidak sengaja saya menemukan buku ini dalam tumpukan buku diskon. Ketika itu, saya sedang mencari komik Garfield terbitan Papercutz. Perkenalan dengan Jason Bourne sudah dimulai sejak film The Bourne Identity dirilis, menyusul kemudian The Bourne Supremacy, The Bourne Ultimatum, dan kemarin The Bourne Legacy. 


Image tentang Jason Bourne yang diperankan Matt Damon masih membekas dalam pembacaan awal. Saya tentu berharap buku ini difilmkan seperti buku One Shot yang diangkat ke layar lebar dengan judul Jack Reacher. Agaknya, saya masih harus menunggu lagi apakah masih ada kelanjutan serial Jason Bourne setelah The Bourne Legacy kemarin.

Madonna: Like an Icon

Dalam usaha saya mengumpulkan buku-buku tentang biografi musisi, saya merasa seakan dipertemukan dengan buku ini pada sebuah cuci gudang di Matraman. Saya sudah lupa harga aslinya berapa namun saya dapatkan buku ini for only setengah uang merah. Saya cek ulang lewat Barnes & Noble pada saat tulisan ini dibuat dan di web mereka tertera harga buku baru sebesar USD 9,95.


Buku ini menceritakan perjalanan karir seorang Madonna. Ditulis oleh jurnalis berpengalaman, Lucy O’Brien, buku ini bercerita soal popularitas dan kepribadian sang ‘Material Girl’. Didalamnya juga disajikan foto-foto sepanjang perjalanan hidup Madonna yang dalam buku ini didaulat sebagai  “one of our greatest living pop icons”. Tidak ketinggalan beberapa foto anaknya ikut ditampilkan pula.

Berikut adalah deskripsi singkat dari bagian belakang sampul buku:

"Madonna: Like an Icon" is a groundbreaking biography that finally solves the mystery at the heart of Madonna's chameleonlike existence. Extensively researched and perceptively written by journalist Lucy O'Brien, it explores the complex personality and legendary drive that has made Madonna the most famous female pop artist of our time. O'Brien draws upon scores of interviews with producers, musicians, collaborators, lovers, and friends--many of whom have never spoken so candidly--to examine Madonna's fascinating life. From her mother's premature death to her dynamic arrival on the New York club scene to her training for "Evita" and beyond, every stage of her life is illuminated.

O'Brien provides an incisive portrayal, from Madonna's early days dancing at gay clubs in Detroit to the producers and musicians she both alienated and amazed in her uncompromising quest to seize on the next cultural wave.

Madonna adalah sebuah fenomena. Rasanya, sulit untuk membahas sejarah musik pop dunia tanpa melibatkan diva yang satu ini.


Sedikit catatan singkat. Judul album Madonna, Something to Remember, yang dirilis tahun 1995 silam pernah dijadikan sebuah acara radio dengan judul yang sama di radio Paramuda 93.7 FM Bandung. personally, saya suka cover image album itu.

Juli

Outliers


Outliers menarik perhatian saya dalam sebuah wawancara di radio medio 2009 lalu. Acara itu dilangsungkan dalam rangka penerbitan buku sekaligus promosi. Banyak cerita yang menggugah kesadaran saya. Bahwa orang sukses itu memang sudah diciptakan dari sananya. Ada beberapa analisis yang bisa membuktikan hal itu. Pada bab-bab awal, Malcolm Gladwell menjelaskan pembuktian saintifiknya.

Buku ini menceritakan bagaimana para “Outliers” membentuk diri mereka. Malcolm Gladwell ingin pertanyaan inti dari buku ini: “what makes high-achievers different?”. Dia menjawab bahwa kita terlalu menyimpan perhatian penuh pada kebiasaan atau bagaimana menjadi orang yang sukses. Kita lupa untuk melihat hal-hal lain dibelakang kesuksesan dan keberhasilan para “Outliers”. Misalnya saja, pada darimana mereka berasal, bagaimana kultur dan kebiasaan mereka, keadaan keluarga mereka, soal keturunan, dan lain-lain. Sebagai contoh, Gladwell memberi penjelasan tentang bagaimana menjadi seorang pemain sepakbola terbaik, mengapa orang Asia hebat dalam bidang matematika, dan mengapa The Beatles menjadi band terbaik sepanjang masa.

Buku ini baru saya baca tiga tahun setelah acara radio itu tayang. Saya rasa tidak ada istilah terlambat. Karena bagaimanapun isi buku ini tidak berubah atau mengalami revisi. Gladwell menulis buku lainnya guna melengkapi Outliers, seperti The Tipping Point, Blink, What the Dog Saw. Gladwell mengajak pembacanya pada suatu pengalaman yang baru untuk melakukan self-motivation tanpa harus menggurui.


Oktober

Aku dan Marley


Lagi-lagi, saya membaca buku terjemahan yang sebelumnya diangkat ke layar lebar, diperankan oleh Owen Wilson dan Jennifer Aniston. Saya berhenti pada halaman-halaman awal karena beberapa kesibukan pekerjaan. Selain, menghabiskan waktu membaca The Indiana Chronicles: Lipstik dari Clara Ng @clara_ng , Namaku Hiroko dari Nh. Dini, Markesot Bertutur dari Emha Ainun Nadjib dan Anak Tanah Air karya Ajip Rosidi.  Dua judul terakhir saya selesaikan menjelang akhir tahun 2012.

Membaca kisah persahabatan manusia dengan binatang peliharaan adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Bahwa binatang pun bisa menjadi sahabat manusia. Hal ini seperti tercermin dalam film “Hachiko” yang dibintangi Richard Gere.

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin

Berawal dari sebuah promo di twitter, saya mendapatkan buku ini dengan harga yang lumayan murah. Diatas rata-rata diskon toko buku online. Sebagai bagian dari kelas menengah (cieee...)-mengacu pada kriteria yang disebutkan dalam buku ini- saya ingin tahu bagaimana perencanaan keuangan yang baik. Terlebih, penulisnya sendiri adalah seorang financial planner berpengalaman, Ligwina Hananto @mrshananto, yang juga mempunyai acara radio khusus untuk subjek financial planning. Belakangan, @mrshananto muncul juga di televisi membawakan acara serupa.


Saya rasa penting bagi kita untuk mulai “menyelamatkan” keuangan pribadi. Kondisi ekonomi di Indonesia yang akhir-akhir ini dinilai stabil. Didorong pula oleh “kekuatan” kelas menengah yang konsumtif, maka asumsi investasi bukan lagi hal yang tabu dan menakutkan untuk dijalani secara pribadi. Niscaya, buku ini menjadi panduan awal tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi. 

Saya tidak menganggap buku ini seperti novel yang harus dibaca tamat dari awal sampai akhir. Karena sifatnya yang guidance material, maka saya membaca subjek-subjek tertentu saja. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa buku ini belum saya pahami sepenuhnya . hahaha...

Talk-inc Points

Perkenalan dengan buku ini saya dapatkan dari sebuah radio di Bandung yang mengulas isi buku bersama ketiga penulisnya, Alexander Sriewijono, Rebecca “Becky” Tumewu, dan Erwin Parengkuan. Ketiganya sudah well-established sebagai public speaker yang kerap tampil mengisi acara on-air maupun off-air.


Dalam satu kesempatan training di ATKP Medan, medio Oktober, oleh Instruktur saya sempat disuruh maju untuk tampil membawakan presentasi singkat mengenai Program Keselamatan Penerbangan di Indonesia. Tidak ada masalah walaupun saya harus menghadapi audiens yang berasal dari ASEAN maupun negara lainnya seperti Bangladesh, Nepal, Mauritius, Ethiopia, dan Timor Leste. Saya hanya menambahkan satu hal pada point self-evaluation, yaitu harus mulai belajar jadi seorang presenter. Kelak, pelajaran itu akan saya bawa kemana-mana.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pada program CBD bulan ini, saya mendapati buku ini dalam bagian diskon. Sangat lumayan. Saya menggarisbawahi beberapa poin yang diperlukan untuk menjadi seorang presenter yang baik dan mampu menyampaikan pesan jelas. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti saya akan membawakan presentasi di hadapan Direktur atau Direktur Jenderal, misalnya. Saat ini, buku panduan ini berjejer dengan rapi di sebelah buku Soe Hok-Gie di meja kerja kantor.

Aerial

Dalam pembacaan buku “Skenario Dunia Hijau” Sitta Karina @sittakarina saya menemukan sebuah cerpen (lupa judulnya) yang menjadi awalan cerita bagi novel ini. Itulah kenapa saya kemudian lantas penasaran untuk mengetahui kelanjutan perang antara Negeri Cahaya dan Negeri Kegelapan.


Seperti biasa, buku ini kembali tersisih akibat jadwal pekerjaan rutin yang mengharuskan saya pergi memberikan training ke luar kota. Seterusnya, hingga kemudian menumpuk di bagian waiting list, menunggu untuk dibaca.

November

Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya: Seri 1: Politik Dalam Negeri dan Masalah Nasional

Mochtar Lubis adalah satu nama yang melekat sejak pembacaan pertama atas karyanya, Jalan Tak Ada Ujung, waktu saya masih duduk di SMA. Sebagai tokoh yang saya kagumi, saya selalu ingin tahu jalan pikiran yang menjadi dasar perjuangan Mochtar Lubis. Seorang wartawan yang juga seorang sastrawan. Hal ini dimungkinkan dengan pembacaan atas “Mochtar Lubis Bicara Lurus: Menjawab Pertanyaan Wartawan”. Sebuah buku berisi kumpulan wawacara Mochtar Lubis dengan beberapa wartawan dan disunting oleh Ramadhan KH.


Masalah dalam negeri hingga kondisi politik yang tidak kunjung usai selama masa-masa awal pemerintahan orde baru menjadi sorotan Mochtar Lubis. Kondisi ekonomi yang belum mapan sepenuhnya dan masih mengharapkan bantuan asing berkedok investasi mendapat kritik keras.

Buku ini berisi tajuk-tajuk yang ditulis Mochtar Lubis dalam harian Indonesia Raya yang dipimpinnya. Topiknya dibatasi mengenai politik dalam negeri dan masalah-masalah nasional. Rentang waktunya dimulai sejak tahun 1966 hingga saat harian Indonesia Raya dibredel pada tahun 1970-an. Menarik untuk mengamati sejarah Indonesia dari sisi lain sudut pandang seorang wartawan yang mengalami penahanan semasa orde lama dan orde baru. 


Desember

Sepanjang bulan Desember ini saya tidak banyak membeli buku baru. Saya mencoba menamatkan dan melanjutkan pembacaan atas beberapa buku yang tertunda. Seperti, Cerita dalam Keheningan karya Zara Zettira @ZaraZettiraZR, Markesot Bertutur, Mochtar Lubis Bicara Lurus, Anak Tanah Air, dan Setengah Pecah, Setengah Utuh dari Parlindungan Marpaung. Ditambah satu esai penafsiran saya tentang Markesot. Semua saya tuangkan dalam postingan bulan Desember 2012. 

Blogheader Image, 2009 - Desember 2012

Blogheader Image, Desember 2012 - sekarang


Kalaupun ada perubahan, saya mengganti gambar dari header blog ini. Tercatat pada tanggal 29 Desember 2012, gambar yang sudah terpasang selama tiga tahun diganti dengan sebuah gambar yang lain. Keduanya masih bertema sama: perjalanan. Blog ini selalu saya asumsikan sebagai media perjalanan saya. Baik itu dalam proses menulis atau pun melakukan hobi membaca. Sehingga, kedua gambar header itu menunjukkan keseragaman dengan misi yang saya lakukan disini. Saya serahkan kepada pembaca untuk menafsir sendiri makna dibalik kedua gambar itu.


Sebuah Konklusi

Semua buku yang dibaca maupun yang belum selesai tahun 2012 ini ibarat sebuah kaleidoskop berwarna. Tidak ada warna yang tampil dominan. Semua genre saya usahakan untuk dibaca. Mulai dari komik hingga politik. Semuanya saya harap membawa perubahan atau pembaruan dalam gaya membaca maupun penulisan saya.

Sebuah buku memiliki ceritanya sendiri. Perjalanan tidak akan berakhir ketika cerita itu usai. Lembaran baru akan terus mengisi cerita. Selamat membaca di tahun 2013.


Jakarta-Bandung-Paninggilan, 13 Januari 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...