Tampilkan postingan dengan label karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2024

101 Creative Notes and The "3i"

Buku ini sudah lama masuk dalam wishlist saya. Apalagi pada saat Twitter sedang enak-enaknya dipakai di Blackberry device. Entah mengapa, buku ini terlupakan. Lama sekali. Hingga kemarin saya memutuskan untuk mulai membaca lagi. Pilihannya jatuh pada beberapa buku Yoris Sebastian yang sudah lama ingin saya tamatkan. Satu dari mereka ada lah 101 Creative Notes ini.

Courtesy: www.goodreads.com

Seperti kata Yoris, try to avoid your routine. Maka, saya memulai pembacaan buku ini dari notes nomor 55. Lanjut hingga notes paling akhir. Lalu memulai lagi pembacaan dari halaman pembuka hingga bertemu lagi dengan notes nomor 55. Circling. Ya, i am try to avoid reader's habit. Mencoba mengamalkan satu dari sekian jurus kreatif ala Yoris.

IMO, tidak terlalu banyak teks dalam buku ini. Pembacaan terasa ringan dan bisa tamat baca sekali duduk dalam perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya. Mungkin, Itulah mengapa judulnya hanya sebatas "notes" saja. Small message but the impact is huge! Memang penataan dan tata letaknya menampilkan sisi kreatif dari sang penulis dan rekan-rekannya yang berkolaborasi. Baik itu berupa gambar, quotes, ataupun screenshot yang dibuat dengan sebuah tablet keluaran well-known and reputable company.

At least, pada pembacaan kali ini, saya mendapatkan insight tentang "3i". Intuisi-Impact-Innovation. Yoris menekankan bahwa intuisi adalah ciptaan Tuhan sedangkan hitungan adalah ciptaan manusia, jadi rasanya tidak terlalu salah untuk percaya pada intuisi. Impact, adalah suatu efek yang diakibatkan dari segala tindakan kreatif kita. Ini perlu dipikirkan dalam ekonomi kreatif. Small efforts with big impacts. Terakhir, innovation. Barangkali saya masih terngiang-ngiang dengan pembacaan buku Yoris lainnya tentang Black Innovation Award (BIA). We have to innovate to embrace the unknown. Semuanya, adalah hal-hal yang perlu saya review kembali untuk menata ulang mindset saya yang sudah kadung rada kusut belakangan ini. #curhat

 

Judul           : 101 Creative Notes
Penulis        : Yoris Sebastian
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2013
Tebal           : 200 hal.
Genre          : Motivasi


Pajang, 20 September 2024

Rabu, 10 Februari 2016

Top Words

Don’t tell me sky is the limit because there’s already foot steps on the moon 
– Calvin Kizana

Courtesy: www.goodreads.com

Katanya, pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, bila harus menunggu pengalaman pribadi, berapa lama kita akan mendapatkan pelajaran dan hikmah itu? Beruntung, Billy Boen mau menulis 21 kisah inspiratif dari orang-orang muda yang impactful serta berkontribusi positif dan nyata bagi lingkungan di sekitarnya. 

Billy Boen merangkum kisah sukses dan perjalanan karir mereka. Kontributor dalam buku ini adalah bintang tamu yang sengaja dipilih dan dihadirkan oleh Billy Boen dalam acara radionya dalam kurun waktu 2009-2011. Beberapa nama barangkali sudah tidak asing lagi bagi pembaca, sebut saja Andrew Darwis, founder Kaskus Network dan Yoris Sebastian, Chief Creative Officer OMG Creative Consulting. 

“Top Words” berisi kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana cara memimpin, cara berpikir, dan memiliki karakter-karakter pemenang. Maklum saja, mayoritas para kontributor ini adalah pemimpin di organisasinya masing-masing. Cakupan bidang industri mereka pun cukup luas, dari mulai industri fast-moving goods, media, dealership, digital creative media, food and beverages, hingga consulting firm. Dengan begitu, Billy Boen telah menyajikan hidangan ‘siap saji’ berbagai varian menu untuk kita nikmati.

 Membaca pengalaman orang lain dengan cara “Top Words” adalah bentuk pembelajaran yang paling cepat, murah, dan efektif. Kita dapat belajar dengan cepat bahwa orang-orang sukses memiliki determinasi tinggi pada tujuan yang ingin mereka capai. Selain itu, nilai-nilai yang bersifat personal seperti rendah hati, willingness to learn, dan kreativitas menjadi nilai tambah yang cukup kontributif.

Personally, saya suka sekali kutipan diatas dari Calvin Kizana, CEO PT. Elasitas Multi Kreasi. Seakan mengingatkan bahwa pencapaian itu harus selalu lebih tinggi. The sky is not the limit, karena sudah ada tapak jejak manusia di bulan. Itu pun kalau teori konspirasinya dilupakan sejenak, barangkali.

Judul    : Top Words
Penulis    : Billy Boen
Penerbit: B-First
Tahun    : 2013
Tebal    : 194 hal.
Genre    : Motivasi

Cipayung, 9 Februari 2016.

Jumat, 26 September 2014

Sabtu Bersama Bapak

"Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orangtua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak."
Gunawan Garnida

Kalau ada satu karya Adhitya Mulya yang perlu mendapat bintang lima alias highest appreciation tidak salah bila jatuh ke buku terbarunya ini. Sabtu Bersama Bapak bukan sekedar novel biasa. Penulisnya sengaja memasukkan unsur-unsur parenting, bagaimana mendapatkan hati seorang perempuan, serta kehidupan pra dan pasca pernikahan. Tak lupa juga, pesan sisipan penulis: being jomblo is totally wrong :D.



Untuk pembaca yang sudah terbiasa dengan buku-buku lain yang ditulis Adhitya Mulya, pasti akan menemukan klik dengan Sabtu Bersama Bapak. Sebut saja, tokoh Bapak dinamakan Gunawan Garnida. Pembaca yang familiar dengan Gege Mencari Cinta pasti bertanya-tanya apa hubungannya dengan Geladi ‘Gege’ Garnida.

Saya pun menemukan korelasi antara tulisan-tulisan di blog pribadi Adhitya Mulya, suamigila.com dengan cerita Sabtu Bersama Bapak. Planning, planning, planning, dan what if. Jika dalam buku, Satya Garnida bersama ketiga anaknya diceritakan membuat kapal perang dengan menggunakan bahan seadanya dan juga ketika ia mulai menjaga kebugaran di offshore, maka dalam dunia nyata hal itu sudah lebih dulu dipraktekkan.

Komposisi ceritanya sendiri agak sedikit kompleks. Bab pembuka sudah seperti teka-teki. Oke, penulis berhasil membuat opening yang filmis. Baru pada bab selanjutnya permainan alur ini bisa terbaca.

Kakak beradik Satya Garnida dan Cakra Garnida menjalani dua episode kehidupan berbeda. Termasuk sang Ibu, Itje Garnida, yang menyembunyikan rahasian penyakitnya. Sang kakak tampil lebih impresif dibanding sang adik. Ibu Itje tampil lebih sebagai penyeimbang dan pengingat. Nilai-nilai yang ditinggalkan Bapak mereka agaknya meresap betul. Hanya saja, sang adik lebih inferior sehingga telat mendapat jodoh.

Cakra jatuh hati pada seorang Ayu, teman kantornya. Namun, tidak semulus yang dibayangkan. Cakra harus bersaing dengan seorang bandit asmara yang mendekati Ayu juga. Sampai disini, saya terngiang lagi Project P berjudul Goodbye Ayu :)))). Ketika asa hilang, maka dua terbilang. Atas usaha Ibu Itje, akhirnya Cakra mau dikenalkan dengan anak dari teman ibunya itu. Cakra sendiri kaget karena perempuan itu adalah Ayu. Begitu pun Ayu, ia mengizinkan hatinya untuk memberi satu hari penuh untuk Cakra agar mereka bisa saling mengenal. Mereka pun akhirnya berproses hingga satu hari Cakra melamar Ayu.

Satya sendiri mengalami kehidupan pernikahan yang turun naik. Dengan pekerjaannya di kilang minyak lepas pantai, Satya agak kesulitan membagi waktu bersama keluarga. Ia sempat menjadi momok yang menakutkan bagi ketiga anaknya. Setiap pulang ke rumah, semua selalu salah di mata Satya. Alhasil, sebuah email dari Rissa membuatnya tersadar. Saya kagum bagaimana Adhitya Mulya menggambarkan usaha Satya untuk berubah. Saya yakin bahwa dalam dunia nyata pun hal itu sudah dilakukannya.

Anyway, Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah heartwarming novel. Pembaca bisa merasakan airmata sekaligus berderai tawa dalam sekali baca. Satu kelebihan yang jarang dimiliki novel-novel bergenre sama. Ditambah lagi, nilai-nilai hubungan orang tua-anak dan yang patut dijadikan pelajaran terutama oleh pasangan-pasangan muda, baik yang menikah ataupun belum menikah.

Sabtu Bersama Bapak membuka cakrawala baru dalam menyikapi kehidupan secara lebih luas dengan segala kompleksitasnya. Bukan hanya bagaimana seorang Bapak meninggalkan ‘legacy’ berupa pesan kepada anak-anaknya, pelajaran dalam mencari cinta (dan pasangan hidup), bagaimana menjadi seorang Bapak dan Suami yang baik, dan bagaimana perjuangan seorang Ibu dalam membesarkan anak-anaknya dengan tetap menjaga proporsi badannya (if i may add ;) ).

Dengan Sabtu Bersama Bapak, kiranya peran sang penulis sebagai Bapak, Suami, dan Penulis kian paripurna. Semoga karya selanjutnya pun demikian.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 26 September 2014
sambil nunggu Jum’atan

Kamis, 26 Juli 2012

Fresh Graduate Boss: Cara Cepat Menuju Pensiun Dini

Write your own success story with job that you like, and be a boss in your life (hal. 89)


Membaca semua tulisan Margie dalam FGB ini sungguh menghadirkan suatu perasaan yang tak karuan. Kalau tidak mau dibilang galau. Saya rasa ini adalah reaksi yang wajar mengingat jarak umur saya dengan si penulis tidak jauh beda. Namun, perbedaan itu semakin jelas kala melihat pencapaian Margie. Dalam usianya yang kesekian itu, Margie telah mengalami suatu pengalaman yang tidak dirasakan oleh kebanyakan kita. Pekerja kelas menengah yang setiap hari setia berkutat dengan segala pelik kehidupan Jakarta.

FGB dibuka dengan sebuah tulisan tentang pensiun dini. Margie secara blak-blakan menceritakan bagaimana ia terinspirasi dari jawaban wawancara seorang temannya. Dengan visi yang jelas, Margie berusaha menguatkan mental pembaca bahwa tidak perlu menunggu tua terlebih dahulu untuk menjadi seorang bos. Margie menguraikan strategi untuk menakar kemampuan diri agar kita mampu menjadi bos sedini mungkin sehingga bisa pensiun dini lebih awal. Tentunya, di usia yang masih muda dan tidak terlalu tua.



Generally, FGB dibagi kedalam 3 bagian. Beat Yourself, Conquer The Office, dan If I Were A Boss. Gabungan ketiganya menghasilkan suatu runutan cerita yang memiliki benang merah satu sama lain. Dimulai dari bagaimana memaksimalkan potensi diri dengan lebih melihat kedalam diri sendiri. Lalu, mengembangkan segenap kemampuan dan attitude untuk ‘conquer the office’. Kemudian, bersiap-siap untuk menjadi seorang bos.

Penuturan Margie yang cerdas, lugas, dan jujur namun santai membuat pembacaan buku ini ibarat sebuah cerita perjalanan. Saya kagum  karena Margie tidak malu untuk menceritakan semua pengalamannya, sejak mulai jadi pejuang karir level bawah hingga menjadi seorang pekerja di level top management. Ditambah, ilustrasi yang mengingatkan pembaca pada desain khas komik menjadikan FGB tidak seperti buku-buku motivasional lainnya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari FGB. Niscaya, pembaca akan tahu mengapa anak-anak Laskar Pelangi bisa lebih sukses dibandingkan anak-anak lain yang hidup di kota besar, lengkap dengan segala akses dan fasilitas yang memadai. Margie juga menuliskan kegalauannya ketika harus memilih dalam sejarah perkariran miliknya. Bagaimana Margie memilih sebuah pekerjaan ketika dihadapkan dengan kebahagiaan yang muncul dari pekerjaannya itu.

For once in my life, can’t i make decision that pleases me? Although it’s not what everyone is expecting? Although it’s out of norm, out of mind, out of sanity? For once, just for this once, can i not care about how people feel and think more about what i feel? Can i not sacrifice my most happiness and negotiate for something lesser? Can’t i be selfish JUST FOR ONCE? (License To Be Selfish)

Untuk para fresh graduate, FGB sangat membantu. Setidaknya, untuk mereka yang belum paham apa itu ‘office politics’ atau ‘office romance’. Atau malah bagi mereka yang belum paham mengapa bos yang berasal dari Eropa tidak pernah datang terlalu pagi dan lembur usai jam kerja. Lalu, mengapa sistem ‘eropa’ yang demikian itu tidak berhasil di Asia yang memiliki gaya sendiri. Dengan gayanya yang lincah, Margie juga menuangkan pengalamannya dalam subjek tersebut.

Bagi mereka yang membaca buku ini saat kini sedang meniti karir, saya rasa FGB bukanlah pilihan yang salah untuk menghabiskan waktu anda. Kita bisa belajar untuk lebih cerdas dan bijak dalam bertindak. Terutama dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masa depan kita. Hal-hal kecil pun tidak luput dari perhatian Margie. Bagaimana memilih kolega yang benar-benar sevisi, tata cara berpakaian yang santun, hingga bercerita tentang sekelompok anak magang.

Yang tidak terlupakan, adalah Margie juga menuliskan aturan baku yang berlaku bagi setiap bos. Aturan pertama, The Boss is always right. Aturan kedua, If The Boss is wrong, please refer to rule #1. Ternyata, aturan ini juga dialami oleh sebagian besar kaum pekerja. Entah kebetulan atau tidak, kedua aturan itu juga akan kita gunakan seandainya kita sudah menjadi seorang bos.

Sebagai penutup, Margie juga menyarankan pembaca untuk mulai berinvestasi sedikit demi sedikit. Bagaimanapun, investasi adalah satu modal berharga agar kita bisa mencapai usia pensiun sedini mungkin.


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya tidak cukup kuat melanjutkan pembacaan FGB. Saya malu karena saya tidak memiliki semua kekuatan yang Margie ceritakan. Saya tidak punya visi yang jelas sehingga malah terombang-ambing dan pernah jadi pengangguran tetap. Katakan saya iri pada pencapaian Margie. Memang begitu adanya. Namun, setiap orang punya ceritanya masing-masing. Saya juga cukup bersyukur dengan segala pencapaian yang saya raih sampai saat ini.

Andaikan saya baca buku ini 8 tahun yang lalu atau setidaknya pada saat saya memulai perjalanan masa kuliah, saya mampu membuat visi yang jelas tentang apa yang saya inginkan dalam hidup yang cuma sekali ini. FGB mengajari saya untuk terus memacu diri, pushing through the limit. Sekalipun dalam environment yang tidak mendukung. Untuk hal ini, saya selalu terkenang cerita-cerita Margie di buku After Orchard. Saya masih terus berusaha untuk punya attitude kerja dan mental kiasu seperti the Singaporean.

Personally, 29 cerita dalam FGB membuat ingatan saya kembali pada masa-masa awal meniti karir. Saya telah mengalami hampir semua yang dituliskan Margie. Hanya tinggal bab Inverstor Relations saja yang belum saya praktekkan.

FGB menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan buku-buku motivasional lainnya. Tulisan-tulisan Margie berhasil memikat dengan pengalamannya serta kejadian-kejadian nyata yang terjadi di sekelilingnya. Kedekatan antara keseharian yang dialami Margie adalah contoh realitas sehari-hari yang mampu memberikan banyak pelajaran demi mencapai kesuksesan dalam memanjat tangga karir.

Sebagai penutup, berikut saya berikan contoh pencapaian Margie dengan seorang Anggi:

Versi Margie:
"Tapi di usia 25 gue bisa berbangga hati punya sebuah mobil keluaran terbaru, properti bergengsi, beberapa barang berharga, tabungan di atas angka rata-rata, tas berbungkus cokelat, dan mampu membeli beberapa tiket penerbangan terbaik ke Eropa."

Versi Gue:
"Tapi di usia 25 gue bisa berbangga hati untuk belum punya sebuah kendaraan bermotor, kontrakan di pinggiran Jakarta, beberapa barang berharga (baca: buku), tabungan (selalu) di bawah angka rata-rata, tas berbungkus raincoat, dan hanya mampu membeli beberapa tiket penerbangan kelas low cost carrier."

Sudah kelihatan bedanya?


Judul               : Fresh Graduate Boss: 29 Cerita Memanjat Tangga Karier
Penulis             : Margareta Astaman
Penerbit           : Penerbit Buku Kompas
Tahun              : 2012
Tebal               : 245 hal.
Genre              : Memoar-Motivasi


Medan Merdeka Barat, 26 Juli 2012.

Senin, 26 Maret 2012

I Don’t Know How She Does It, I Don’t Know How I Do It

Awalnya, saya secara tidak sengaja membeli buku I Dont Know How She Does It ini di sebuah bookfair. Dari awal, saya rasa tidak mungkin untuk menamatkan buku ini dalam waktu dekat. Dengan jumlah halaman setebal itu rasanya dibutuhkan lebih dari sebulan. Sekalipun, tiap hari saya menamatkan 10 halaman.

Alasan mengapa saya tertarik membaca buku ini adalah karena mengangkat isu yang umum diperbincangkan dan diperdebatkan di kota-kota besar. Jakarta kota besar bukan? Isu-isu mengenai working parents dan hubungan orang tua-anak yang semakin tergantikan dengan peran asisten rumah tangga adalah suatu hal yang umum dan mudah ditemui sehari-hari. Realita ini adalah gambaran sehari-hari masyarakat urban perkotaan. Tantangan pekerjaan, tuntutan kehidupan, dan beberapa alasan materialis lainnya menjadi latar utama dalam denyut nadi kehidupan masyarakat perkotaan.


I Dont Know How She Does It, menjabarkan kepada pembaca bagaimana seorang Ibu yang bekerja dan menjalankan dua fungsi: Ibu dan Wanita Karir, mampu secara sekaligus memantapkan eksistensinya. Baik di lingkungan keluarga dan pekerjaan. Isu gender sangat terkait dalam hal ini. Berbahagialah kaum feminis karena bertambah satu lagi refleksi kesuksesan kaum perempuan untuk memenuhi kodratnya dengan menjalani berbagai peran dalam kehidupan.

Mustahil. Satu kata yang sempat terucap. Bagaimana seorang perempuan melakukannya? Sendirian. Allison Pearson cukup cerdik dengan menggambarkan berbagai detail kejadian dari setiap hari yang dilaluinya. Mengasuh Ben, bocah berumur 2 tahun; menjadi Ibu sekaligus teman bagi Emily, termasuk mendapatkan kepercayaannya kembali, mengembalikan gairah kehidupan yang hilang bersama suaminya, Richard; menghadapi bos dan partner kerja di Edwin Morgan Forster (EMF), salah satu firma keuangan terbesar di Amerika, termasuk bekerjasama dengan pihak diluar EMF, Jack Abelhammer.

Detail alur cerita yang disajikan Allison Pearson adalah kekuatan dari buku ini. Allison secara jeli mengungkapkan bagaimana Kate Reddy menjalani hari demi hari. Berkutat dengan deadline yang semakin ketat, perjalanan bisnis kota ke kota yang tidak bisa ditebak kapan waktunya, catatan to-do list setiap sebelum tidur, hingga janji-janji yang terlewati untuk keluarganya. Semuanya terangkum dalam sebuah cerita yang utuh dan runut. Memudahkan kita untuk mengikuti setiap detail alur cerita sambil membayangkan seandainya kita mengalami hal yang demikian itu.

*

Personally, saya memang belum menyelesaikan buku ini. Kalau tidak salah, saya berhenti tak jauh dari halaman 98, dimana saya menemukan sebuah kalimat:

“Namun, masa kanak-kanak yang bahagia bukan modal yang baik untuk berjuang dan meraih sukses; hidup serba kekurangan, dikucilkan, dan harus berdiri dalam hujan di halte bus merupakan bahan bakar yang lebih terandal.” 

Sebuah kalimat yang membuat saya berhenti membaca saat itu juga.

Tiba-tiba fiksi seakan kehilangan esensinya dan menyublim dalam kenyataan. Ada suatu latar yang membuat cerita ini terkesan nyata. Saya membawa ingatan kembali ke masa-masa itu. Bersekolah dengan bekal seadanya yang akan habis begitu saja kalau saya tidak berjalan kaki melewati tanah perkuburan, hingga seringkali kehujanan setiap musim hujan tiba. Saya mengamini apa yang dikatakan Kate Reddy. Bahan bakar dari kenyataan masa lalu itu sangat teruji dan sangat dapat diandalkan. Tidak ada lagi batasan fiksi yang fiktif dengan kenyataan pengalaman yang paling nyata.

Setelahnya, tidak banyak halaman yang saya baca. Saya sudah lupa berhenti membaca di halaman berapa. Saya mencoba untuk membaca 2-3 halaman setiap pagi sebelum mulai bekerja, tapi tetap saja tidak berarti banyak dan buku ini tetap belum ditamatkan. Yang jelas, pengalaman membaca halaman 98 itu masih sangat terasa hingga saat ini. Setahun kemudian dimana saya belum juga menamatkan pembacaan buku tetapi sudah menamatkan versi filmnya.

Saya berharap bahwa apa yang dituliskan dalam catatan akhir buku ini benar-benar menjadi kenyataan. Bahwa, buku ini akan segera difilmkan. Kabar baik yang sangat saya tunggu karena seingat saya sudah setahun ini saya belum membuka lagi atau setidaknya mencoba menamatkan buku ini. Medio November 2011, ingatan saya tersentak karena saya melihat iklan film ini di sebuah harian ibukota. Dibintangi oleh Sarah Jessica Parker yang memerankan Kate Reddy dan Pierce Brosnan sebagai Jack Abelhammer, yang sudah terkenal duluan sebagai “Agent 007”.

Apa yang saya harapkan itu benar-benar menjadi kenyataan. Dan seperti biasa, atas nama alibi kesibukan, saya tidak bisa menyempatkan diri untuk sekedar mampir ke bioskop. Tiba-tiba, iklan film itu sudah tidak ada lagi. Artinya, film sudah tidak ditayangkan. Namun, apa yang telah tiada bukanlah sesuatu untuk disesali. Masih ada toko DVD di Bandung yang (mungkin) masih akan menjualnya. Ya, saya akan menonton via DVD saja.


Weekend kemarin, saya pun membeli film ini di toko DVD langganan. Tadinya, saya berharap menemukan film lain “The Vow” yang trailernya sudah direview di sebuah acara radio. Karena belum ada, saya pun membeli DVD konser David Foster: The Hitman Returns. DVD David Foster kedua setelah David Foster and Friends. Lagi-lagi, saya tidak punya waktu untuk sekedar menonton barang se-chapter-dua chapter film. Semalam, baru saya menamatkannya.

Memang ada sedikit perbedaan antara film dan buku. Ini adalah hal yang lumrah dan bukan pertama kalinya. Setiap buku yang difilmkan tentu memiliki karakteristik dan jalan ceritanya sendiri. Supaya lebih memahami perbedaan diantara keduanya, saya sarankan agar membaca dulu bukunya baru menonton filmnya.

Saya cukup puas dengan detail yang ditampilkan dalam film. Setidaknya, tidak terlalu banyak missing points dari cerita versi buku. Inti muatan pesan pun tersampaikan. Keluarga adalah segalanya. Bahkan, hanya dengan lima menit saja itu sudah cukup berarti. Problema kehidupan berumah tangga seperti ini bisa dijadikan pelajaran bagi kaum muda yang baru mulai berkeluarga. Dibutuhkan lebih dari sekedar komitmen dan kesabaran untuk tetap konsisten menjalani peran kehidupan yang memang tidak mudah dan kadang telalu banyak tuntutan.


Pharmindo, 25 Maret 2012.




Sumber bacaan dan tontonan:

I Don’t Know How She Does It (Sibuk Berat) by Allison Pearson. Diterbitkan pertama kali oleh Gramedia Pustaka Utama, Februari 2005.

I Don’t Know How She Does It, directed by Douglas McGrath. The Weinstein Company, 2011.

Minggu, 05 Februari 2012

Books That Have Shaped Your Life

Terinspirasi dari tulisan Rene Suhardono dalam pojok rubrik di sebuah harian nasional, ada beberapa buku yang secara tidak langsung ikut berpengaruh dan berkontribusi terhadap pembentukan kehidupan yang sekarang sedang saya jalani. Utamanya, dalam hal karir dan pekerjaan. Ada beberapa koleksi buku yang memang masuk dalam kriteria tersebut. Sebut saja, Komunikasi Organisasi misalnya. Buku wajib zaman kuliah di kampus Jatinangor tercinta, hanya untuk memahami bagaimana model dan implementasi komunikasi di lingkungan organisasi. Ada juga aneka buku manajemen ringkas yang membahas bagaimana memanage suatu pekerjaan di lingkungan lembaga/perusahaan. Misalkan, “Change!” karya Rhenald Kasali, Jack Welch on Management, What the Best CEOs Knows, Serial Buku Manajemen MarkPlus, dkk.
 
Buku lama berjudul “Manajemen Perusahaan” yang sudah lama sekali saya tidak sentuh lagi adalah buku pertama yang saya coba adopsi ke dalam manajemen diri, terutama dalam hal “leadership” atau kepemimpinan. Sampai kemudian saya menemukan buku lainnya, seperti “Setengah Isi, Setengah Kosong” dan “Kerja Oke, Hasil Santai”. Kedua buku itu, sejauh penilaian saya sampai saat ini cukup memberikan sudut pandang dalam membentuk perilaku kerja dalam karir pribadi.

Setengah Isi, Setengah Kosong
 

Terlepas dari pemaknaan judul, buku ini berisi kumpulan cerita (saya lebih suka menyebutnya hikmah) dimana pembaca diharapkan mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah yang dituturkan dalam buku. Ditulis oleh Parlindungan Marpaung, seorang psikolog yang telah berpengalaman dalam menangani berbagai macam kasus psikologi industri.

Buku ini dibaca pertama kali sekitar medio 2005, waktu masih berstatus mahasiswa sehingga dengan wawasan kemahasiswaan yang masih terbatas saya hanya mampu mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan dalam hubungan inter-relasi di pekerjaan. Pun ketika sempat bergabung dalam organisasi kecil (maksudnya tidak punya banyak staf) ada beberapa pengalaman dalam buku itu yang saya alami. Barulah ketika saya bergabung dengan sebuah company yang melibatkan banyak kepala untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan meraih tujuan bersama, hampir semua hikmah dalam buku itu saya alami.
 
Saya rasakan sendiri manfaat dari buku itu. Saya mempunyai langkah-langkah preventif guna mengantisipasi hambatan dan menyiapkan langkah panjang karir yang saya rintis perlahan.

Kerja Santai, Hasil Oke
 
Kerja Santai, Hasil Oke versi bahasa Inggris
Berawal dari hadiah suatu kuis di radio, saya memilih buku ini. Karena memang tidak ada pilihan lain. Lagipula, judulnya tidak terlalu mengecewakan. Kerja Santai, Hasil Oke. Sepintas terdengar seperti kicauan para dedengkot multi-level marketing dan cukup mendemotivasi pekerja yang masih merangkak dalam karirnya.
 
Buku ini saya dapat sekitar medio 2007 (lagi-lagi masih berstatus sebagai mahasiswa). Dengan bekal pengalaman seadanya di organisasi kecil diatas, saya mulai membandingkan antara isi buku dengan realita pengalaman yang telah saya alami. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan.
 
Ditulis oleh Corinne Maier, seorang ekonom di PLN-nya Perancis, buku ini berhasil mengungkap mengapa pekerjaan berubah menjadi suatu hal yang membosankan dan tidak ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan pribadi. Tentu, ini sangat bertentangan dengan buku-buku motivasi khas Amerika yang menekankan pada motivas untuk produktivitas. Sehingga, dianggap sebagai buku provokatif yang cukup menuai kontroversi.
 
Lebih jauh, diluar semua kontroversi, buku ini tetap mampu dijadikan acuan pengembangan diri karena menggambarkan realita yang sesungguhnya. Realita yang tak mampu diungkapkan secara gamblang oleh kaum pekerja yang selalu dituntut alasan produktivitas. Dengan begitu, kita dibuat mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda tanpa kehilangan esensi.
 
Quote yang selalu saya ingat dari buku ini adalah: “Anda Hanyalah Pion Kecil.” Jadi, bila anda adalah pendatang baru dalam dunia kerja, mohon berhati-hati. Tanpa keluasan hati, anda hanya akan menerima pesan yang tidak hanya dekonstruktif untuk karir tetapi juga efek demotivasi yang yang perlahan menggerogoti jiwa dan semangat anda. Be positive.


 
Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 5 Februari 2012.

Selasa, 02 Februari 2010

The Interview

“Bisa ceritakan awal perjalanan karir anda?”

“Saya merintis catatan karir saya dari seorang project officer di sebuah non-profit organization. Suatu pengalaman yang kelak memberikan saya pelajaran berharga untuk lebih menghargai hidup ini. Lalu, saya bergabung dalam satu organisasi internasional dalam bidang advokasi hukum dan hak azasi manusia.”

“Apakah anda pernah bertanya mengapa saya harus memilih pekerjaan itu?”

“Kadang-kadang saya melakukannya. Tapi, ada banyak hal yang kadang tidak perlu bertanya dua kali untuk melakukannya. It just came naturally.”

“Apakah anda sering menemui masalah dalam pekerjaan sebelumnya?”

“Semua orang punya masalahnya masing-masing. Entah yang berhubungan dengan pekerjaannya atau pun yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya. Saya juga punya masalah, namun saya harus tetap menghadapinya dan menyelesaikannya.”

“Bagaimana pendapat anda tentang masalah yang tidak dapat diselesaikan?”

“Semua ada jalan keluarnya. Lihat dan amati faktor penyebab masalah itu lalu segera tentukan solusinya. Bila belum bisa selesai juga berarti ada masalah dalam sistem.”

“Mengapa anda begitu yakin dengan hal tersebut?”

“Sebuah sistem yang berjalan baik tentu tidak akan menjadi penghalang bagi sistem pendukung lainnya maupun output dari sistem itu sendiri. Mereka bergerak sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan”

“Anda kelihatan selalu optimistis apapun yang terjadi. Apa rahasianya?”

“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Maka, lakukan saja yang terbaik semampunya, jaga komitmen, tetap fokus, dan selalu berdoa.”


**


“Apakah anda pernah mengalami suatu masa yang penuh kesulitan, dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, maupun secara sosial?”

“Ya, tentu saja. Saya rasa anda juga pernah mengalaminya. Semua itu tergantung pada sejauh mana kemampuan kita untuk mengatasi hal-hal tersebut. Tetap tenang itu kuncinya.”

“Bagaimana anda bisa tetap tenang di saat-saat sulit?”

“Itu adalah saat yang berat, tetapi jika kita mampu untuk tetap berpandangan positif dan yakin bahwa masa-masa sulit ini akan terlewati, maka anda akan bisa tenang sambil tetap melakukan perubahan-perubahan agar tidak menemui kesulitan seperti itu lagi.”

“Apakah anda cenderung membandingkan diri dengan kawan-kawan yang lain, untuk mengukur sejauh mana kesuksesan anda?”

“Tentunya definisi sukses itu relatif dan berbeda bagi setiap orang. Saya tidak membanding-bandingkan diri saya hanya untuk mengukur sesuatu yang ukurannya masih relatif walaupun kadang untuk beberapa hal tindakan seperti itu diperlukan. Lagipula, saya cukup puas dengan keadaan saya sekarang sehingga tidak perlu melihat orang lain lagi.”


**


“Apakah rasa optimisme anda masih dengan tahun-tahun sebelumnya?”

“Ya, tentu saja. Bila tahun 2009 kemarin kita semua dibayangi oleh resesi ekonomi global kini memasuki 2010 rasanya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak optimis apalagi dengan AFTA yang sudah didepan mata. Optimisme adalah sebuah perasaan yang patut dijaga agar mampu memotivasi diri.”

“Apakah anda terkejut dengan loncatan karir anda?”

“Saya memulai karir profesional sejak masih kuliah. Itupun kadang-kadang dengan bayaran yang tidak sebanding. Namun, pengalaman telah mengajarkan saya bahwa ada jenjang-jenjang atau tingkatan yang harus dilewati untuk mencapai suatu tujuan. Saya tidak pernah terkejut dengan hal itu. Pun, ketika saya harus jadi pengangguran.”

“Apakah anda pernah punya masalah dengan partner kerja?”

“Pernah, beberapa kali. Saya pernah dicap sebagai pembangkang oleh atasan saya hanya karena saya tidak mau mengikuti perintahnya untuk sesuatu yang tidak masuk akal. Kadang perintahnya hanya menyiratkan ketidakmampuan atasan saya untuk mencari solusi atas semua permasalahan yang dia hadapi.”

“Selanjutnya, apakah semua itu berpengaruh terhadap anda dan pekerjaan anda?”

“Tentunya itu berpengaruh seputar relasional dalam profesionalitas saja. Selebihnya tidak ada pengaruh yang berarti. Saya pikir lebih baik kita saling menghargai komitmen dan tanggung jawab masing-masing.”

“What is the biggest fear for your career?”

“I’m afraid if there would be no one to trust me anymore. So, I always do my best and keep reliable to rely on.”


***


Gadis yang mengenakan blazer merah dipadu dengan celana panjang Editor Series dari The Executive itu masih menatap pada lembaran-lembaran kertas kerjanya. Catatan-catatan yang ia kumpulkan untuk menganalisa setiap jawaban yang meluncur dari mulut si calon pegawai. Lembaran itu kini bertambah banyak. Maka, bertambah pulalah tugasnya. Satu per satu ia amati kembali lembaran yang dipenuhi coretan tinta merahnya. Ada banyak yang memberi kesan bagus untuknya. Namun, ia masih bingung untuk memutuskan.

Senja kemerahan telah mengisyaratkan untuk menutup hari. Sungguh hari yang melelahkan baginya. Tapi ia tidak dapat mengeluh karena itu memang sudah jadi pekerjaannya. Bergulat dengan kiasan-kiasan manis yang kadang terdengar begitu merdu memanjakan telinganya. Beberapa terdengar klise dan terkesan normatif baginya. Kadang ia terbayang pada kekasihnya yang telah memberikan suatu kenikmatan terindah seperti senja diluar sana. Sementara mega berarak menemani matahari yang cahayanya mulai pudar, ia masih duduk disitu memeriksa kembali setiap catatannya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.

Tidak ada waktu untuk menunda pekerjaannya. Ia tahu, esok hari akan lebih banyak lagi yang akan ia kerjakan. Ia pun belum merasa bosan. Secangkir espresso latte menemaninya dan telah membasahi kerongkongannya yang mulai terasa kering. Malam sudah turun menyibakkan layarnya. Ia telah tiba pada lembaran terakhirnya. Ia tuliskan sebuah catatan kecil di ujung kanan atas dengan tinta merahnya: They're all not recommended.



Cimahi, 2 Februari 2010

Rabu, 16 Desember 2009

Karir dan Kadal

Mbak,
Tadinya saya mau bahas ini semua di kantor saja, namun entah mengapa waktu saya main ke ruangan Mbak, saya tidak lihat Mbak disana. Mungkin saya yang kepagian. Salah saya juga tidak kasih kabar kalau mau mampir.

Beginilah Mbak kegiatan saya akhir-akhir ini. Kalaupun bukan karena telpon dari seorang kawan yang memberi tahu kalau di kampus kita itu sedang ada job fair mungkin saya lebih baik meneruskan tidur saja. Karena saya masih menganggur saya sedikit penasaran untuk sekedar tahu apa yang sedang terjadi disana.

Seperti biasa, Mbak. Disana penuh sama orang-orang yang kelihatannya serius benar untuk mencari kerja. Pakaian mereka rapih benar adanya. Mungkin untukl sekedar menutupi tampang mereka yang benar-benar bertampang pegawai. Seperti kita, saya dan anda.

Tidak ada salahnya memang berlaku seperti itu. Lagipula bukan untuk menghadiri acara resmi seperti undangan resepsi pernikahan. Seperti biasa, mereka nantinya akan menabur asa pada setiap lembar ijazah dan berkas surat lamaran yang akan segera disebar pada stan-stan pemberi kerja sambil berharap ada walk-in interview sehingga mereka pun langsung tanggap bahwa mereka akan mengeluarkan segenap kemampuan terbaiknya.

Kalau dilihat dari perusahaan-perusahaan yang tampil untuk mengaudisi calon pegawainya memang kelihatan bonafid. Mungkin itu tandanya imaging, branding, dan positioning yang mereka lakukan dalam setiap kampanye produk mereka telah berhasil mempengaruhi mindset kita semua. Sehingga kita tidak perlu repot-repot untuk menentukan perusahaan mana yang punya prospek bagus. Bukankah itu yang terjadi pada anda ketika memilih untuk berkarir di sebuah bank swasta berlevel internasional?

Pengalaman saya membuktikan demikian adanya. Bahwa ketika pilihan untuk berkarir telah diputuskan maka langkah selanjutnya adalah tinggal menentukan perusahaan tempat dimana kita akan berkarir dan mewujudkan segala impian professional. Beruntunglah kita hidup di zaman informasi yang mengalir bagai angin ini. Tidaklah terlalu sulit untuk mencari perusahaan yang akan mengakomodir semua kebutuhan kita untuk berkarir. Masalahnya tinggal apakah kita memenuhi kualifikasi yang mereka butuhkan. Kalau memang ya maka ada angin lalu berlayarlah kita mengarungi dunia karir.

Sejauh pengamatan saya, mereka memang membutuhkan orang yang benar-benar mau untuk bekerja. Lebih-lebih lagi kalau ternyata banyak kandidat yang masih muda dan baru lulus. Pengalaman bisa dinomorduakan melalui serangkaian program training dan upgrading. Jadi karena begitu, ada banyak hal yang menurut saya terlalu menguntungkan pihak perusahaan. Mereka selalu menuntut produktivitas yang lebih dari pegawainya dengan atau tanpa kompensasi tambahan yang dijargonkan sebagai “dedikasi dan profesionalisme”. Ibaratnya mereka terlalu mudah dan gampang sekali untuk dikadalin apalagi di masa ekonomi serba susah seperti sekarang. Maaf, ini tidak ada hubungannya dengan adu reptil versi POLRI VS KPK.


Salam dari Pharmindo
Cimahi, 15 Desember 2009

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...