Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

AADC #2: Kamu Jahat!

Musim berganti, tapi hati tetap sama rindu
 
Sumber gambar: www.liputan6.com

AADC. Ada Apa Dengan Cinta: (n); film yang hits pada medio 2002-an lalu, sekaligus menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. 

Akhirnya, sekuel hits itu dirilis juga. Semua pecinta film tentu senang dengan kembalinya Cinta dan Rangga. Ya, Cinta kembali diperankan oleh Dian Sastro dan Rangga masih oleh Nicolas Saputra. Yang jelas, kembalinya mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan selama ratusan purnama. Rangga ngapain aja sih di USA? Cinta udah pacaran lagi belum ya? Hah, sama siapa?
 
Well, harus diakui AADC #2 berhasil menuntaskan dendam dan rindu para penggemarnya. Kita jadi tahu apa saja yang dialami oleh Rangga dan Cinta. Kita juga menyaksikan penjelasan seorang Rangga kepada Cinta. Sekaligus, menikmati keindahan Yogyakarta yang tidak akan pernah usai. Jadi, semua ini adalah soal cinta lama yang bersemi kembali. CLBK.
 
Lupakan segala pertentangan kultur antara dua anak muda ini pada filmnya yang pertama. Tentang bagaimana puitisnya Rangga dan quote yang heboh itu: Salah gue? Salah temen-temen gue? AADC #2 sejatinya adalah kembalinya pertautan dua hati yang hanya milik Cinta dan Rangga saja. Entah karena dirilis pada zaman baper menjadi hits sehingga alur ceritanya pun seperti mengalir dan mudah ditebak: mereka kembali bersama setelah sekian lama berpisah. A truly madly happy ending for both.
 
Sayang sekali, saya tidak melihat adanya benang merah antara promosi prekuel AADC #2 yang disponsori oleh satu aplikasi media sosial itu dengan film sekuelnya. Kecuali, Rangga yang bekerja di USA dan Cinta yang masih berkumpul hangat dengan para sahabatnya termasuk Ladya Cheryl, karena Ladya Cheryl a.k.a Alya tidak ada di sekuel. Barangkali, dengan alasan tidak mau terbawa alur teaser itu Miles Production membuat AADC #2 menjadi sedemikian rupa sehingga dunia ini rasanya hanya milik Cinta dan Rangga. Halah. :D
 
Anyway, AADC #2 tidak dapat dipungkiri lagi sebagai penuntas rindu sekaligus mengobati rasa penasaran kita semua akan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Jangan lupakan juga Yogyakarta yang selalu menghadirkan perasaan ingin kembali kesana. Semua ramuan nostalgia itu diramu dengan apik sehingga penonton terbuai, baper, dan terbayang-bayang quote lain dari Cinta yang sama hebohnya: Yang kamu lakukan ke saya itu: JAHAT!
 
Judul           : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara    : Riri Riza
Pemain       : Nicolas Saputra, Dian Sastro, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, 
                     Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscilla
Produksi    : Miles Productions
Tahun        : 2016
Genre        : Drama Romantis
 

Bumi Asri, 1 Januari 2017.

Minggu, 29 November 2015

Emergency Couple (lagi)




Minggu lalu, saya menonton kembali kisah Oh Jin Hee dan Oh Chang Min. Tentu saja, masih di serial drama Korea, Emergency Couple. Saya mulai dari episode 13. Tepatnya dari keping DVD nomor 3. 

Tidak ada pilihan khusus mengapa harus memilih episode itu. Yang jelas, random saja karena saya juga tidak terlalu hafal alur cerita setiap episode. Saya pun tidak menonton dengan serius. Hanya sepintas lalu saja sembari menidurkan diri. 

For your information, Emergency Couple bulan Oktober lalu baru saja mendapatkan tiga penghargaan pada ajang DramaFever di New York sana. DramaFever adalah situs penyedia streaming drama dari USA. Penghargaan diterima untuk Drama Terbaik, Aktris Terbaik, dan Drama paling banyak distreaming sejagad USA. 

Dalam rentang episode 13 hingga 16 ini ada sesuatu yang menggelitik saya hingga harus menuliskan memori atas penontonan kembali serial itu. Oh Chang Min sudah membulatkan tekadnya untuk memulai kembali dari awal dengan Oh Jin Hee. Itulah masalahnya. Saat dimana Oh Jin Hee sudah melupakan semua yang telah terjadi diantara mereka. Satu waktu dimana Oh Jin Hee mulai merasa perlu membuka hatinya kembali pada orang baru. Bahkan, Oh Chang Min sempat merusak makan malam Jin Hee dengan Chief Chon Soo. 

Oh Chang Min rupanya menyenangi idenya sendiri untuk memulai kembali dengan Oh Jin Hee. He just like the idea of falling in love, again. Hal ini mengingatkan saya pada satu tokoh dalam buku 'Traveler's Tale: Belok Kanan Barcelona'. Francis Lim yang cintanya pada Retno terhalang jurang perbedaan yang amat dalam, masih tidak bisa membiarkan dirinya dalam tanda tanya besar. Francis mengejar Retno kemanapun ia pergi demi sebuah jawaban. Francis just like the idea of falling in love, pada orang yang sama. 

Anyway, tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang hubungan antara dua kisah fiksi diatas. Misalnya, tentang kenapa kisah Francis dan Retno tidak sedramatis drama-drama Korea. Lagipula, keduanya hanyalah hasil pembacaan dan penontonan kembali. Bukan atas hasil analisis yang tak terbantahkan. 

Bumi Asri, 28 November 2015. 

Kamis, 13 November 2014

The Joseon Shooter


Satu drama lagi setelah Emergency Couple yang menemani malam saya di Incheon adalah The Joseon Shooter. Drama ini juga dikenal dengan judul Gunman in Joseon. Selama di Incheon saya menghabiskan dua episode awal drama sepanjang 22 episode ini. Yang saya ingat pada akhir episode kedua, Park Yoon Kang tertembak pasukan kerajaan yang mengejarnya. Dari preview episode ketiga, Park Yoon Kang kembali ke tanah airnya dengan penampilan dan identitas yang berbeda. Ia terlihat mahir menggunakan pistol.

Park Yoon Kang diperankan oleh Lee Joon Ki, yang sebelumnya juga bermain dalam drama romantis bercorak kolosal “Ahrang and The Magistrate” bersama Shin Min Ah. Sedangkan, Nam Sang Mi yang jadi lawan main Lee Joon Ki, memerankan Jeong Soo In.

Pada konferensi pers saat drama ini dirilis, Lee Joon Ki mengaku tidak mengalami kesulitan berarti selama proses pengambilan gambar. Ia mengaku tidak dibebani karena harus mengenakan hanbok selama waktu shooting. Berbeda dengan Nam Sang Mi yang agak kesulitan karena harus menggunakan hanbok setiap saat. “Ahrang and The Magistrate” kiranya membuat Lee Joon Ki lebih mudah beradaptasi. Apalagi, tempat shooting yang sama dengan The Joseon Shooter semakin membuatnya leluasa.   


The Joseon Shooter mengangkat cerita pada satu linimasa di Korea (Joseon) dimana penggunaan pedang sebagai alat peperangan dan pertahanan diri sudah mulai ditinggalkan. Pengaruh masuknya Amerika Serikat ke Jepang turut mendorong penggunaan pistol dan senapan laras panjang sebagai senjata. Pengaruh penggunaan senjata di ketentaraan Dinasti Qing (China) juga turut mendorong Joseon untuk mulai meninggalkan pedang sebagai senjata utama.

Pada masa itu,  Joseon mengalami masa pancaroba dalam bidang pemerintahan dimana kaum reformis bersengketa dengan kaum konservatif yang berkuasa di parlemen. Hubungan kelompok konservatif juga mendapat dukungan dari para pedagang untuk melancarkan jalan mereka dalam menguasai perdagangan di seluruh negeri. Ketegangan ini menyebabkan terbunuhnya beberapa pemuka kaum reformis yang ditembak oleh penembak gelap. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kubu reformis. Kerajaan pun segera bertindak untuk menemukan pelaku penembakan.

Ayah Park Yoon Kang, Park Jin Ha sebagai Kepala Pengawal Kerajaan mendapatkan tugas dari Raja untuk memburu penembak misterius. Dalam perjalanannya, ia sempat berhadapan langsung dengan si penembak misterius. Ia juga mendapat beberapa kali kesempatan untuk membunuh si penembak. Karena jalan cerita drama ini masih panjang, maka Park Jin Ha terbunuh dalam duel dengan si penembak.

Kematian ayahnya membuat Park Yoon Kang ingin membalas dendam pada si penembak misterius. Belum sempat bertindak, kubu konservatif berhasil mempengaruhi Raja dan menganggap Park Jin Ha sebagai pengkhianat kerajaan. Hal itu menyebabkan Park Yoon Kang sekeluarga mendapat hukuman. Dalam pelariannya bersama Soo In, Yoon Kang tertembak ketika berusaha kabur melalui jalur laut.

Nam Sang Mi <3 br="">

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Soo In yang mulai menumbuhkan perasaan pada Yoon Kang. Begitu juga dengan Yoon Kang. Usai tertembak, tidak ada yang tahu kemana Yoon Kang pergi. Hingga suatu saat satu kapal Jepang berlabuh di Joseon. Nampak seorang yang mirip Yoon Kang menembak pelaku kerusuhan di pelabuhan. Sebuah comeback yang dramatis, IMO.

Yoon Kang kembali ke Joseon dengan identitas sebagai Hasegawa Hanjo, pedagang dari Jepang yang bertugas menjalin hubungan dengan pedagang dari Joseon. Kesempatan ini sengaja ia manfaatkan untuk mencari tahu siapa penembak yang membunuh ayahnya. Agenda lainnya, ia harus menemukan adiknya yang dijual menjadi budak.

Choi Won Sin VS Hasegawa Hanjo

Selama masa tinggal di Joseon, Hanjo banyak berinteraksi dengan kepala kelompok pedagang terkemuka, Choi Won Sin. Keduanya saling curiga. Hanjo menaruh curiga karena Choi Won Sin mempunyai luka di tangan kirinya seperti yang diceritakan ayahnya usai bertarung dengan si penembak. Choi Won Sin pun mencurigai Hanjo sebagai Yoon Kang yang menyamar.

Soo In dan adik Yoon Kang merasa kaget ketika menemui Hanjo. Keduanya menganggap Hanjo adalah Yoon Kang. Pergolakan dalam batin Yoon Kang tidak tertahankan. Tapi demi membalas dendam atas kematian ayahnya, ia menguatkan dirinya sendiri agar tidak terbawa emosi. Soo In pun meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu saat Yoon Kang akan kembali dan kelak mereka akan bisa hidup bersama tanpa ada rasa khawatir seperti saat ini.

Hanjo sendiri merancang beberapa skenario dalam usahanya untuk menemukan si penembak misterius yang tak lain adalah Choi Won Sin. Kubu konservatif yang berada di belakang Won Sin selalu mendesaknya untuk segera menghabisi siapa saja yang menghalangi langkah mereka. Namun, revolusi selalu menelan anaknya sendiri. Sang pemimpin konservatif akhirnya mati ditangan Won Sin karena ia sudah tidak tahan atas perintahnya.

Choi Won Sin & Choi Hye Won

Won Sin sendiri mendapat dukungan dari Wakil Perdana Menteri untuk membuat Departemen Perdagangan. Dengan begitu, ia dapat menguasai perdagangan di seluruh negeri. Intrik-intrik politik dan kekuasaan semakin merajalela karena Raja pun tidak mampu berbuat apa-apa. Raja sendiri merasa berhutang budi pada Won Sin dan anaknya, Choi Hye Won, yang menyelamatkan Raja ketika terjadi pemberontakan yang didalangi kaum reformis.

Setelah melalui berbagai usaha, akhirnya identitas Yoon Kang terungkap. Ia kembali jadi buronan kerajaan. Puncaknya, Yoon Kang berhadapan langsung dengan Won Sin, si pembunuh ayahnya. Keduanya sengaja bertemu untuk duel. Yoon Kang berhasil melumpuhkan Won Sin dan punya kesempatan untuk membunuhnya. Park Yoon Kang tidak membunuh Choi Won Sin. Ia merasa tidak ada gunanya. Ayahnya pun tidak akan kembali dengan kematian Choi Won Sin. Choi Won Sin pun bunuh diri. Seperti dapat ditebak, Park Yoon Kang dan Jeong Soo In kembali bersatu.

Catatan Seorang Penulis Dadakan



Drama sepanjang 22 episode ini berhasil dalam membangun karakter tokoh-tokoh pemerannya. Hanya saja, plot menjadi bercabang ketika intrik politik dan kekuasaan menjadi sentral jalan cerita. Walau begitu, benang merah yang terjalin antar konflik balas dendam dengan intrik-intrik tersebut kembali mewujud dalam rangkaian cerita yang happy ending, sebagaimana drama romantis pada umumnya.

Walaupun kecenderungan untuk menumbuhkan perasaan ‘heartwarming’ tidak begitu kuat kiranya pelajaran utama dari The Joseon Shooter adalah cinta kasih dan pengorbanan. Tak terhitung berapa kali sudah Yoon Kang membahayakan dirinya demi menyelamatkan orang-orang terdekatnya. Pun, Choi Won Sin yang sangat menyayangi Hye Won dan tidak ingin nasib buruk mereka di masa lalu terulang.

Sulit untuk memilih scene mana yang jadi pilihan favorit saya. Seperti Shin Min Ah, Nam Sang Mi berhasil merebut perhatian saya (karena sepenuh hati ini sudah jadi milik @farida_ella :D ). Aktris berusia 30 tahun ini mempunyai karakter yang kuat, terlihat pada adegan dimana Soo In dan ayahnya diinterogasi oleh Mahkamah Kerajaan. Soo In yang kesakitan terlihat tegar menghadapi dera dan siksa.

Personally, drama ini sukses membuat perasaan penonton seperti saya turun naik. Saya suka dengan intensitas cerita dalam drama yang saya tamatkan selama kurang lebih dua minggu. Naik turunnya cerita ini adalah buah dari pengembangan karakter masing-masing tokoh. Ceritanya pun tidak selalu bertutur tentang bagaimana sebuah revolusi berlangsung dan bagaimana dendam yang berhasil dibalaskan.

The Joseon Shooter punya ending yang tidak terlalu sulit ditebak. Pada akhirnya, kebaikan akan selalu menang. Revolusi selalu memakan anaknya sendiri, begitulah yang terjadi dengan kaum konservatif yang berusaha mempertahankan status quo. Dari sisi sejarah, drama kolosal ini memberikan wawasan tentang kondisi geopolitik di poros semenanjung China-Korea-Jepang saat itu serta implikasi masuknya pengaruh Barat dalam kehidupan masyarakat mereka.

Akhirul kalam, The Joseon Shooter layak dinikmati oleh kalangan remaja hingga dewasa. Banyak hikmah dan pelajaran tata negara yang bisa diambil dari drama ini. Tuntutlah ilmu walau hanya dari sepenggal drama Korea, kiranya tidak terlalu salah.

 
Judul         : The Joseon Shooter
Pemeran   : Lee Joon Ki – Park Yoon Kang; Nam Sang Mi – Jeong Soo In; 
                   Jeon Hye Bin – Choi Hye Won; Yoo Oh Seong – Choi Won Sin; 
                   Han Juwan – Kim Ho Kyeong
Durasi        : 22 Eps
Produksi    : KBS

 
Medan Merdeka Barat, 13 November 2014.

Jumat, 31 Oktober 2014

Sebelum Maghrib

Ketika Yoon Kang menatap dalam pada dua mata Soo In, percayalah.
Aku pun menatap dua matamu yang berbinar.
Rindu, adalah memeluk yang tak nampak di pelupuk. 
#sajaksebelumMaghrib




Medan Merdeka Barat, 30 Oktober 2014. 
usai tamat 22 episode The Joseon Shooter

Kamis, 30 Oktober 2014

Emergency Couple (Korean Drama)

Menjelang keberangkatan saya ke Incheon bulan Juli lalu, saya menonton satu dari 21 episode drama ini di Channel M. Saya sudah lupa episode ke berapa. Saya tidak terlalu ingat kecuali waktu tayangnya di akhir pekan. Setibanya saya di Incheon, lewat stasiun televisi tvN, saya kembali menonton Oh Chang Min yang berusaha merebut hati Oh Jin Hee, mantan istrinya. Saya juga lupa episodenya.



Rasa penasaran akibat serial drama yang tak tuntas ditonton akhirnya menuntun saya untuk pergi ke toko DVD langganan dan membeli copy bajakan drama ini. Saya memang lebih suka drama  Korea semacam ini. Temanya jelas. Masih berujar tentang cinta. Namun, kehidupan seputar para dokter yang bekerja di IGD rumah sakit tentu menjadi daya tarik sendiri.

Emergency Couple (EC) mengingatkan saya pada drama bertema sama sebelumnya, “Surgeon Bong Dal Hee” (SBDH). Seperti sudah disinggung sebelumnya, EC bercerita tentang kehidupan romantika para dokter dan pekerja di Instalasi Gawat Darurat, sedangkan SBDH mengangkat kisah para dokter magang dan dokter spesialis di Instalasi Bedah.

Yang menarik, Choi Yeo Jin, yang sempat berperan sebagai Cho Ah Ra di SBDH, kembali bermain di EC dan berperan sebagai dokter spesialis, Sim Ji Hye. Saya senang melihatnya kembali bermain dalam drama bertema sama. She’s growing up now and looks so mature.

Emergency Couple mengisahkan Oh Chang Min dan Oh Chang Hee, pasangan yang disatukan oleh takdir, lantas dipisahkan dan dipertemukan kembali. Pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Kematangan emosi mereka belum teruji kala menghadapi berbagai masalah dalam keseharian pernikahan mereka. Ketika sudah tak tertahankan makan perceraian menjadi pilihan mereka. Mereka berdua menjalani hidupnya masing-masing. Oh Jin Hee mendapat dukungan mantan ayah mertuanya untuk melanjutkan ke sekolah kedokteran. Begitu juga dengan Oh Chang Min.


Komplikasi cerita meninggi ketika Oh Chang Min dan Oh Jin Hee berada dalam kelompok yang sama dalam program dokter magang. Oh Chang Min jelas kaget dan tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mantan istrinya. Perasaan awkward diantara mereka berdua selalu menjadi bahan pertanyaan teman-teman sekelompok mereka. Terutama, Han Ah Reum yang menyimpan rasa pada Oh Chang Min.

Dalam menjalani program magang, kelompok mereka berada dalam pengawasan Dokter Kepala, Gook Cheon Soo. Dokter ini dikenal sebagai dokter bertangan dingin dengan attitude yang hampir sama, dingin. Semua berubah ketika Oh Jin Hee mulai terlibat beberapa urusan dengan Dokter Kepala. Oh Chang Min pun sempat dibuat cemburu. Namun, ketika Oh Jin Hee mendapat ancaman pemecatan, Oh Chang Min meminta tolong kepada Pamannya untuk membujuk Kepala Rumah Sakit tempatnya bekerja untuk membatalkan hukuman kepada Oh Jin Hee.

Konflik semakin meninggi ketika Oh Jin Hee yang sedang menikmati perasaannya bersama Dokter Cheon Soo, dihadang oleh Oh Chang Min. Ia bertekad untuk mendapatkan Oh Jin Hee kembali. Dokter Kepala menanggapinya biasa saja. Namun, ia harus akui bahwa ada beberapa hal yang berbeda. Terlebih, ketika Sim Ji Hye, mantan kekasihnya menjadi sesama dokter kepala partner di IGD. Kenangan masa lalu bersama Sim Ji Hye sempat membawa Gook Cheon Soo terhanyut. Sim Ji Hye sendiri cukup sadar bahwa ada sesuatu antara Cheon Soo dengan Jin Hee.


Personally, drama ini cukup memberi wawasan ringan seputar kehidupan pernikahan. Bahwa kedewasaan dan kematangan emosi adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki setiap pasangan. Saling mengerti dan memahami adalah sebuah perjalanan. It’s not just a destination, it’s more than a journey.

Melalui drama ini juga saya mendapat pemahaman bahwa perceraian masih menjadi satu ‘aib’ dalam tatanan kehidupan bermasyarakat di Korea sana. Setiap pasangan yang bercerai kelak akan mendapat judgement dari lingkungan di sekitarnya sebagai pasangan yang telah melakukan kesalahan. Khusus untuk hal ini, saya pernah mendapat pengalaman ketika berbicara soal mantan kekasih dengan seorang rekan peserta seminar di Kuala Lumpur setahun yang lalu. Esoknya, rekan saya itu tidak lagi seramah saat jumpa pertama.

Adegan yang saya suka dari Emergency Couple adalah ketika Cheon Soo mabuk dan sengaja pulang ke rumah Ji Hye lalu mereka berdebat sebentar. Belum lama tertidur, Ji Hye menyiram air Cheon Soo karena ia menganggap Cheon Soo tidak mengerti perasaannya. Kalau saya menonton lagi drama itu, scene ini pasti akan selalu saya putar ulang.

Ending dari drama ini juga dapat ditalar kemungkinannya. Apakah Oh Chang Min akan berhasil meyakinkan Oh Jin Hee untuk menikah kembali. Atau malah Oh Jin Hee yang berlabuh pada Gook Cheon Soo. Atau malahan tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menjalin tali cintanya.

Anyway, drama yang tayang sejak Januari hingga April 2014 ini menyajikan sebuah gambaran realita yang mungkin saja ada di sekitar kita. Jalinan takdir hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menampakkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak jarang ada berbagai macam kejutan dan keajaiban singgah. Waktu pula yang akan menguji sejauh mana kekuatan cinta akan bertahan. Catatan terakhir, main song “Scent of A Flower” yang dibawakan Lim Jeong Hee dalam Original Soundtracknya pun punya makna lirik yang sangat dalam.

Judul         : Emergency Couple
Pemeran   :  Song Ji Hyo – Oh Jin Hee; Choi Jin Hyeok – Oh Chang Min; 
                    Lee Pil Mo – Gook Cheon Soo; Choi Yeo Jin – Sim Ji Hye; Clara – Han Ah Reum
Tayang      : 21 Eps./ tvN


Pharmindo-Paninggilan, Agustus-Oktober 2014.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...