Senin, 26 Agustus 2013

Metallica, Nothing Else Matters!


Awalnya

Perkenalan saya dengan Metallica berawal ketika Paman (adik bungsu Ibu) mengutarakan niatnya untuk nonton konser Metallica tahun 1993 silam. Saya yang masih berumur 7 tahun hanya bisa melamun saja saat Ibu dan Nenek mengkhawatirkan kepergian paman saya itu. Maklum, mereka takut kalau terjadi kerusuhan dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan disana. Waktu itu, belum terbersit sedikitpun punya keinginan untuk bermimpi bahwa 20 tahun lagi saya akan berada pada posisi yang sama dengan paman saya.

Kabar berita dari konser perdana Metallica di Jakarta berakhir rusuh. Tidak cukupnya kapasitas Stadion Lebak Bulus membuat penonton yang kurang lebih berjumlah 100.000 orang memaksa untukk masuk ke dalam stadion. Kekacauan pun tidak bisa dihindari. Alhasil, konser tidak berjalan lancar dan Metallica baru mau datang lagi kemari setelah 20 tahun kemudian.


Kepulangan Paman kami sambut dengan sukacita. Paman saya langsung bercerita bagaimana pengalamannya menghindari gebukan polisi dan petugas keamanan lainnya. Kelak, pengalaman seperti inilah yang terus akan dikenangnya dan selalu menjadi penanda romantika atas fanatisme terhadap entitas bernama Metallica.

Usai ‘Naik Haji’ di Konser Metallica 1993, Paman saya membeli drum set lengkap. Lalu, didandani supaya mirip dengan milik Lars Ulrich. Tak lupa, potongan kliping dari majalah Hai ikut ditempel di dinding dan bisa dibaca sambil bermain drum. Hal itulah yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Sering saya hanya duduk di bangku drum hanya untuk membaca kedahsyatan konser tahun 1993 itu. Perlahan, saya mulai tahu rasanya punya kesenangan. Disadari atau tidak, sejak itulah saya mulai punya keinginan untuk bisa main drum.

Saya benar-benar menjiwai Metallica pada saat booming DVD bajakan sekitar medio 2005-an. Setelah sebelumnya hanya akrab dengan beberapa lagu seperti “The Unforgiven” dan “Enter Sandman”. Ditambah lagi beberapa momen keakraban dengan Paman yang selalu memutar lagu Metallica dalam istilah ‘kesenian’ baginya.

Metallica is Back!

Kedatangan Metallica di Jakarta sempat diprediksi akan batal. Belum lagi, ditambah fakta kerusuhan tahun 1993 lalu. Namun, melalui akun resmi twitternya, Metallica menyatakan bahwa mereka sudah membuat keputusan resmi untuk datang ke Indonesia dalam rangkaian Metallica On Tour #MetOnTour 2013.


Mendengar berita itu, saya seakan dibuat tidak percaya untuk kesekiankalinya tahun ini. Setelah mengalami momen mendebarkan untuk menyambut kedatangan Liverpool FC dan menyanyi bersama Sixpence None The Richer, Metallica adalah satu keajaiban Tuhan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. This is it. This is your last chance! Belum tentu 10 atau 20 tahun lagi mereka akan kembali lagi ke Indonesia.

Tiket Metallica Live in Jakarta 2013


Tiket Metallica Tahun 1993


Saya tentu berharap bisa menonton Metallica Live in Jakarta ini bersama dengan Paman saya itu. Saya melihat sendiri bagaimana kecintaannya terhadap Metallica. Jadi, rasanya sayang sekali kalau kesempatan ini dilewatkan. Diam-diam, saya membeli tiket untuk saya berikan padanya usai lebaran kemarin. Namun, dengan malu-malu Paman saya hanya menjawab bahwa ini sudah bukan saatnya. “udah gak bisa gondrong lagi sekarang mah...” begitu katanya. Walau saya tahu dalam hatinya tetap menyimpan kerinduan untuk menonton band pujaan yang selalu jadi inspirasinya untuk jadi musisi.


Ibu saya pun sempat mengkhawatirkan saya karena jawaban Paman. Ibu khawatir suasana rusuh kembali. Maka dari itu, sehari sebelum Metallica menggelar konser 20 years after, saya pulang ke Bandung menemui Ibu. Mencoba meminta pengertian dan doa dari beliau supaya konser berjalan lancar. Bayangkan, berapa puluh ribu orang sudah menanti kedatangan Metallica sejak 20 tahun lalu. Doa ibu, nothing else matters!

The Show

Kalau kau percaya pada mimpi, inilah saatnya kau percaya!


Saya tidak pernah menyangka bahwa saya terbangun di hari Minggu pagi dengan tiket konser Metallica di tangan. Sampai saya tiba sendiri di depan kerumunan crowd yang sudah mengantri di pintu masuk Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Inilah waktunya. Saya benar berada disuatu tempat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dari hanya membaca klipingan Metallica dari majalah hingga bisa jadi penonton konser mereka. Dari hanya video konser di Youtube hingga kini menatap wajah James Hetfield langsung.

Band pembuka Seringai langsung Membakar Jakarta. Mereka adalah bagian dari pemimpi yang 20 tahun lalu sempat berdoa pada Tuhan agar mendatangkan Metallica kembali ke Indonesia. Bukan main, Tuhan bukan hanya datangkan Metallica saja. Tetapi, menjadikan mereka sebagai band pembuka! Sepanggung dengan Metallica, dibayar kontan lengkap dengan hits seperti Serigala Militia, Akselerasi Maksimal, dan Individu Merdeka. Sebagai pemanasan, Seringai sudah cukup membakar semangat para Metheads untuk menyambut Metallica.


Pukul 20.30, panggung gelap, backsound mati. The Ecstasy of Gold dan Hit The Lights langsung menggebrak GBK. Hetfield, Ulrich, Hammett, dan Trujillo semua terlihat sangat bersemangat. Tidak kalah dengan penonton yang terus menerus mengiringi lirik lagu yang dibawakan James Hetfield cs. Metallica semakin menghentak Jakarta dengan Master of Puppets. "Come crawling faster. Obey your master. Your life burns faster. Obey your master, master!”

“Hello Jakarta! You are so energetic tonight!”
tidak lupa Hetfield menyapa penonton yang langsung disambut gegap gempita. Mirip seperti pada konser-konser mereka di Youtube.

Selanjutnya, penonton dimanjakan dengan penampilan spektakuler lainnya. Paduan sound dan lighting turut menunjang suasana konser yang sampai hari ini adalah konser terbaik di Indonesia. In my opinion. 

Suasana syahdu usai high tension dengan rentetan Hit The Lights-Master of Puppets-Fuel, didapat dengan dimainkannya Fade To Black. "Kalian suka lagu itu? I love you too. Kita seperti keluarga," kata Hetfield usai lagu berakhir.

Tensi konser kembali dibuat naik dengan lagu-lagu hits lain seperti Welcome Home (Sanitarium), One, Nothing Else Matters, Ride The Lightning, dan Sad But True. Tidak ketinggalan Orion, For Whom The Bell Tolls, Blackened, Enter Sandman, Fight Fire With Fire, dan Creeping Death. 


Sepanjang konser saya dan kawan-kawan hanya bisa menebak kira-kira setelah ini lagu apa lagi. Sempat saya berteriak meminta The Unforgiven, yang langsung dibalas aneh penonton di depan saya. Tapi saya tetap bersemangat meminta Seek And Destroy. Sudah hampir 17 lagu namun Seek And Destroy belum dimainkan. Itu rasanya aneh sama sekali.

Sempat sekali Hetfield beraksi di panggung, ia memberitahu bahwa konser ini sudah selesai. Dari ekspresi wajahnya saya lihat ia mengatakan: “It’s going late. Go home, now. Get some sleep.” Namun, penonton semakin bergemuruh “We want more!!!” berulang-ulang. Saya sangat berharap bahwa lagu terakhir ini benar-benar Seek And Destroy.

Suatu keajaiban bahwa lampu panggung kembali dinyalakan dan Metallica langsung menggeber Seek And Destroy sebagai lagu penutup. Kontan kami semua dan penonton Jamaah Haji Metallicah langsung menghentak bumi Senayan. Sungguh suatu penampilan yang tidak akan pernah terlupakan. Metallica pun terkesan dengan penonton Indonesia yang sangat bersemangat dan tidak henti-hentinya ikut bernyanyi bersama mereka.

“Jakarta, we’ll be back fuckin* soon..” begitu kata Lars Ulrich di penghujung konser.

Sebelum membawakan Cyanide, Hetfield juga sempat bilang bahwa penonton Jakarta adalah anggota kelima Metallica. “You are our fifth members!”.

Robert Trujillo juga tak lupa memberikan sambutan, “Hello Jakarta! Makasih banyak!!!” yang langsung dibalas penonton seisi Stadion. Trujillo sempat melakukan beberapa encore termasuk aksi panggung rolling dengan bass. 


Sebelum meninggalkan panggung, Hetfield, Ulrich, Hammett, dan Trujillo membagikan beberapa gimmick untuk penonton. Entah darimana, Hetfield kembali naik panggung dengan membawa bendera Merah Putih. Mereka pun segera naik panggung kembali dan berfoto bersama sambil membentangkan bendera Merah Putih dengan tulisan “Metallica Solo – Indonesia”. 

Aftershow 

Saya tidak bisa membayangkan terbangun di hari Senin pagi, 26 Agustus 2013, dengan hanya membaca headline harian umum di seantero Jakarta Raya bahwa Metallica sukses menggelar konser di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan bahwa saya hanya akan menikmati kedahsyatan aksi panggung Metallica hanya dari page Youtube MetallicaTV saja tanpa pernah mengalami kenyataan yang sebenarnya. Semua kenyataan semalam bersama Metallica telah terjadi dalam satu periode kehidupan saya. Satu lagi mimpi yang jadi kenyataan.

Insya4JJI mabrur, Lur!!! #MetallicaJKT

Secara umum, penampilan Metallica semalam luar biasa. Tanpa harus menghadirkan banyak gimmick sisipan dalam show, Metallica sudah sukses mengembalikan perasaan rindu yang sempat tenggelam dan hilang selama 20 tahun. It’s all about the music. And, Metallica did that! Nothing else matters!

Saking bersemangatnya, pita warna ungu penanda tribun konser pun masih saya pakai ke kantor tadi pagi. Saya jadikan pita itu penanda bahwa saya telah menunaikan ‘ibadah suci’. Kalau mereka yang baru pulang umroh atau haji saja masih mengenakannya, kenapa saya yang pulang ‘naik haji’ dengan nonton Metallica tidak bisa? Mungkin saya yang salah atau terlalu butuh sensasi. Demi apa? Demi Metallica! Terima kasih, Metallica!


Paninggilan, 26 Agustus 2013.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...