Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

@TentangAnak

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sudah berkali-kali menulis catatan, review, atau resensi soal twit yang dibukukan. Kali ini saya melakukannya lagi. Oops, I did it again.

Twitter bagi saya adalah sebuah old glory. Saya sudah jarang membuka Twitter sejak zaman Android mulai meraja menghapus kejayaan era Blackberry. Saya tidak sempat mengikuti twit-twit soal pengasuhan anak. Kalaupun ada, itu hanya soal pranikah. Saya lupa untuk menyiapkan episode setelah nikah.

Well, saya harus bersyukur karena ada seorang ayah yang mau berbagi. Tolong dicatat, bahwa sosok ayah ini bukan seorang ahli atau praktisi dalam pengasuhan anak. Untuk itu, adalah sebuah penghargaan baginya karena dapat memberi sedikit tetesan ilmu untuk para orang tua.

Buku ini adalah buku santai. Artinya, pembaca tidak usah harus terlalu serius. Namun, untuk informasi atau pengetahuan lebih lanjut pembaca bisa menelusurinya secara mandiri. Walaupun buku ini bersumber dari kicauan penulisnya, dalam bagian akhir buku disertakan pula referensi yang digunakan penulis.

Parenting should be fun. Buku ini mengajak pembaca untuk menikmati dan berproses sebagai orang tua yang dianugerahi sebuah amanah yang tidak terkira besarnya, yaitu anak. Tidak hanya seputar anak, penulis juga mengingatkan agar para suami juga fokus dengan para bu ebu (ibu-ibu). Ya, penulis berhasil membuat saya merasa bersalah pada istri saya.

Satu catatan lagi yaitu bahwa penulis tidak sungkan untuk mengangkat isu parents vs parents dalam bab Mertua vs Menantu. Setidaknya, ada hal-hal positif yang perlu kita amati dari sudut pandang orang tua kita. Sejalan anak yang tumbuh besar kita kadang lupa bahwa mereka pun ikut menua.

Anyway, buku ini sangat layak dibaca oleh para orang tua baru atau parents wannabe. Sebagai bahan belajar buku ini cukup variatif dan membahas isu-isu penting seputar pengasuhan anak di zaman now seperti sekarang ini. Semoga pembaca dapat menyiapkan bekal untuk menempuh perjalanan panjang tak terlupakan bersama anak-anak. Selamat menikmati.

Judul           : @TentangAnak
Penulis        : Joko Dwinanto
Penerbit      : Noura Books
Tahun          : 2014
Tebal          : 248 hal.
Genre         : Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 21 November 2017

Selasa, 31 Oktober 2017

Daur I: Sebuah Pembukaan

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya patut bersyukur karena Alhamdulillah, atas izin Allah SWT Emha Ainun Nadjib masih diberikan nikmat sehat dan Islam sehingga mampu menulis kembali. Adapun, tulisan beliau yang benar-benar baru senantiasa saya peroleh lewat laman www.caknun.com. Saya mengamati bahwa laman tersebut pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Perubahan itu, setidaknya untuk saya pribadi, saya amati mulai dari rubrik-rubrik tambahan yang dihiasi catatan-catatan Cak Nun.

Begitupun dengan Daur. Saya sempat dibuat tidak paham maksudnya, namun hanya mampu turut memaknai pesan Cak Nun: "...untuk anak cucu..". Tulisan Cak Nun dalam Daur adalah sesuatu yang benar-benar baru tak terkecuali tokoh idola bernama Kiai Sudrun dan Cak Markesot.

Dilihat dari perspektif manfaat dan jariah ilmu, "Daur" sendiri adalah bentuk istikomah pemikiran, perenungan, dan analisis hingga formula-formula kultural lain dari Cak Nun yang mampu memberikan manfaat dalam konteks sosial.

"Daur" adalah sebuah bentuk tulisan Cak Nun yang sudah tidak lagi siap saji dan siap antap. Pembaca diajak untuk menelusuri pembelajaran hidup yang meningkat lagi levelnya. Bisa saja dari satu tulisan pembaca berhenti pada satu kesimpulan, namun tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk menelusuri kembali ketersambungan dengan tulisan lainnya.

Dengan jumlah pembaca mencapai kurang lebih 1.100-an pembaca setiap hari (lihat halaman xiv) tentu saja "Daur" menjadi sebuah ruang bagi pembaca Cak Nun maupun Jamaah Maiyah untuk senantiasa rehat sejenak dan menemukan jawaban atas clue pemahaman hidup. Sebagaimana dapat dijumpai pada rubrik 'Tadabbur Daur'.

Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisan "Daur" adalah upaya untuk mengembalikan "mata" kita dari keterjeratan pada materialisme dimana materi menjadi variabel dan faktor utama. Akibatnya, kita semua hanya melihat berdasarkan materi dan transaksi sehingga melihat dan membayangkan Tuhan dengan cara berpikir materi.

Semoga dengan dibukukannya "Daur" edisi pembuka hingga edisi ke-65 kita dapat menemukan mata air yang mengalirkan ilmu kehidupan. Semoga terus berlahiran generasi-generasi baru yang mau belajar agar kehidupan dapat berlanjut secara berkesinambungan pada masa depan dengan nilai peradaban yang lebih tinggi. Semoga.

Judul        : Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2017
Tebal        : 394 hal.
Genre       : Sosial Budaya

Cipayung, 29 Oktober 2017.


Bola Di Balik Bulan

“We are red, we are white, we are Danish dynamit.”

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sepakbola secara filosofis dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Nasib itu sendiri, entah menang atau kalah tidak terbaca dalam suatu pergulatan dalam rentang waktu yang lama, tetapi tiba-tiba terjadi dalam peristiwa tidak terduga.

Sepakbola adalah hidup. Sepakbola tidak hanya berarti sebagai olahraga belaka. Setidaknya, kesimpulan yang demikian dapat diperoleh usai membaca tulisan-tulisan Sindhunata dalam buku ini. ‘Bola Di Balik Bulan’ adalah satu bagian dari trilogi sepakbola Sindhunata. Bersama ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’.

Tidak jelas memang mana buku yang pertama, kedua, dan ketiga. Namun, kalau boleh saya menempatkan ‘Bola Di Balik Bulan’ sebagai buku pertama disusul dengan ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’ sebagai pamungkas. Ini hanya hasil pengamatan sepintas dari pengalaman saya belaka. ‘Bola Di Balik Bulan’ menampilkan suatu suguhan bahwa sepakbola adalah sebuah gairah kehidupan, kemudian usai gairah itu hadirlah sebuah “Air Mata Bola” dimana sepakbola banyak menyajikan drama (yang tidak sedangkal opera sabun) yang menguras air mata. Sehingga kemudian kesemuanya bermuara pada satu keniscayaan bahwa sepakbola itu ibarat kehidupan yang memiliki nasibnya sendiri-sendiri.

‘Bola Di Balik Bulan’ sendiri merupakan sebuah pengandaian dari gegap gempita Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sebuah sajian sepakbola dunia di negeri yang hanya kenal permainan bola tangan. Namun demikian, Amerika Serikat saat itu mampu lolos dari fase grup dan berhadapan dengan Brazil di babak per delapan final. Tim Sepakbola Amerika Serikat pun ‘memakan’ korban bernama Andres Escobar yang membuat gol bunuh diri sehingga Kolombia harus kalah di tangan tuan rumah. Begitu besar harapan publik Amerika Serikat saat itu sehingga mereka dianggap telah berhasil menemukan bola di bulan. Ya, mereka memang telah menemukan bulan, namun sepakbola masih saja tetap tidak populer disana.

Lewat buku ini saya jadi tahu bahwa Seorang Rinus Michels tidak melatih dan memberi instruksi dengan menyebut nama pemainnya melainkan nomor punggung mereka. Bagi khalayak luas, Sindhunata seakan membawa kita pada gegap gempita jagad persepakbolaan dekade 80-90an. Nama-nama besar saat itu juga tidak lepas dari catatan Sindhunata. Sebut saja macam Van Basten, Gullit, Garrincha, Pele, Maradona, Platini, Papin, Roberto Baggio, Rinus Michels, dan Franz Beckenbauer. Tidak hanya sekedar nama, Sindhunata pun dengan piawai menuliskan kisah-kisah yang melingkupi nama-nama besar tersebut. Sehingga seluruh aspeknya terangkum utuh dalam sebuah kisah.

Catatan Sindhunata ini tadinya hanyalah sebuah tulisan kolom pada harian Kompas dan selalu terbit di halaman awal. Tidak heran bila kemudian banyak pembaca yang menginginkan agar catatan-catatan tersebut dibukukan agar tidak tercecer begitu saja. Saya turut menikmati setiap cerita dalam buku ini. Saya seakan dibuat turut mengalami sendiri kejadian-kejadian yang dicatat Sindhunata. Agaknya, Sindhunata telah berhasil mengangkat kisah dan refleksi sepakbola menjadi sebuah catatan humanis yang universal.

Judul           : Bola Di Balik Bulan
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 296 hal.
Genre          : Sosial-Budaya

 
Cipayung, 26 Oktober 2017

Kitab Omong Kosong

“Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?” 

Sumber gambar: www.goodreads.com

“Kitab tulisan Togog ini berkisah tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kisah Ramayana dari Walmiki. Bencana akibat persembahan kuda berlangsung hingga ke anak benua dan menghancurkan seluruh peradaban, kecuali Satya dan Maneka berhasil menemukan kelima bagian Kitab Omong Kosong itu yang keberadaannya tidak diketahui setelah berada di Perpustakaan Negeri Ayodya. Kelima bagian kitab ini memiliki arti dan penafsiran makna yang kental dengan unsur filsafat eksistensialis.”

Catatan pendek diatas dibuat usai menamatkan pembacaan Kitab Omong Kosong medio Juli 2008. Waktu itu saya baru saja membeli buku itu terbitan Bentang Pustaka, 2006. Sampulnya bukan lagi imaji kreatif dari Danarto melainkan agak lebih artistik berwarna kecoklatan.

Well, kalau harus menuliskan kembali apa yang saya dapat dari kitab rekaan Togog itu rasanya jadi agak sedikit-sedikit lupa, kalau saja bukan karena acara bersih-bersih buku kemarin. Barangkali, ‘Kitab Omong Kosong’ sendiri merupakan sebuah ungkapan filosofis untuk mengungkapkan sebuah ketiadaan, tentunya dalam konsep filsafat. Benarkah itu? Saya juga tidak pernah tahu.

Kitab ini membuat kita kembali membaca perjalanan dan kisah cinta Sri Rama dengan Dewi Shinta. Sebuah kisah epos yang terkenal soal cinta-cintaan. Sebuah kisah dimana cinta harus dibuktikan dengan sebuah pengorbanan. Sebagaimana Sri Rama yang menurunkan Hanoman untuk merebut Shinta dari cengkeraman Rahwana, Sang Penguasa Alengka.

Saya dibuat takjub betul akan sosok seorang Hanoman yang gagah berani. Pun dengan berbagai kesaktian yang dimilikinya. Hanoman yang ada di benak saya adalah seorang panglima yang mampu melakukan apa saja untuk memenangkan pertempuran dengan pasukan Rahwana. Saya yang tidak pernah akrab dengan dunia pewayangan jadi ingin tahu bagaimana kisah-kisah wayang diadaptasi. Bagaimana tokoh-tokohnya juga sekalian. 

Anyway, ‘Kitab Omong Kosong’ sangat berhasil membuat saya mengidolakan seorang Hanoman. Saya bahkan berkhayal Sembilan Hanoman muncul di Bundaran HI dan mengacak-acak Jakarta karena negeri ini sudah tidak sanggup memberantas para koruptor. Pembaca setia SGA pasti tahu asal-usul munculnya imajinasi saya itu. Hahaha.

Kisah cinta antara Sri Rama dan Dewi Shinta yang saya tahu dan saya baca dengan tuntas adalah kisah yang ada dalam kitab ini. Itu jauh sebelum saya tahu lewat buku Sudjiwo Tejo, Rahvayana, bahwa sebenarnya yang mencintai Shinta dengan tulus dan ikhlas adalah Rahwana. Sekali lagi, Rahwana. Bukan Sri Rama. Mengapa? Kalau memang cinta itu tidak bersyarat mengapa Sri Rama masih meragukan kesucian Shinta selama dalam masa penyekapan di Alengka. Sri Rama yang meragu itu akhirnya membuat Shinta murka dan memutuskan untuk moksa.

Diluar perdebatan wacana antara Rama, Shinta, Rahwana, dan Sudjiwo Tedjo, saya sangat menikmati pembacaan ‘Kitab Omong Kosong’ ini. Rasanya seperti betul-betul membaca sebuah ‘kitab’ yang penuh cerita dan imajinasi.

Judul           : Kitab Omong Kosong
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2006
Tebal           : 524 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Novel

 
Cipayung, 27 Oktober 2017.

Makuta (Biasa Aja)



Kota Bandung sudah lebih dahulu terkenal dengan berbagai sajian kuliner khasnya. Terlebih di zaman kekinian yang selalu menuntut keunikan. Maraknya produk kuliner yang diendorse oleh selebriti seakan menjadi tren baru. 

Anyway, saya tidak terlalu suka dengan ide semacam itu. Kalau suatu produk memang memberi pengalaman yang menyenangkan maka tidak perlu mesti diendorse oleh kalangan tertentu. Karena rasa akan menentukan segalanya. Akhirnya, tren semacam ini menjadi overrated. Bisa karena kualitas produknya ataupun sekedar pencitraan untuk produk yang biasa saja. 

Termasuk penganan kue berlabel Makuta ini yang diklaim rasanya membuat kangen. Omaigad, first impression saya tidak seperti ketika pertama kali mencicipi sepotong brownies Amanda. 

Saya bisa bilang kue ini punya kualitas bahan yang bagus sekaligus dengan taktik marketingnya. Namun, makanan adalah soal lidah. Dan saya tidak mendapatkan taste yang menyenangkan untuk sebuah kue yang dibandrol dengan harga diatas lima puluh ribu rupiah. 

Bila untuk sekedar menghabiskan rasa penasaran, itu sudah cukup. Selebihnya, saya sudah bilang: overrated. Padahal, dengan range harga yang W.O.W produk kue ini mampu memberi pengalaman rasa yang (seharusnya) tidak terlupakan. 

Cipayung, 23 Oktober 2017. 

Senin, 30 Oktober 2017

Rekonstruksi Panglima Besar Soedirman

Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini hadir sebagai bentuk reproduksi edisi khusus Koran Tempo yang membahas tentang Bapak Pendiri TNI ini. Melalui kehadiran buku ini, pembaca disajikan beberapa keterangan yang "disembunyikan" oleh konstruksi sejarah orde baru. Dengan demikian, buku ini merupakan dekonstruksi atas konstruksi imajiner Jenderal Besar Soedirman versi Orde Baru. Pembaca dihadapkan pada satu sosok utuh seorang Panglima Besar Soedirman. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sejarah sebuah bangsa yang baru merdeka tergambar dalam buku ini. Batu landasan pendirian Tentara Nasional Indonesia diletakkan oleh seorang Soedirman muda yang berumur 29 tahun. Sudah tentu bukan hal yang mudah, integrasi laskar-laskar rakyat sebagai kekuatan sayap militer dengan tentara republik eks Peta-KNIL, seringkali menimbulkan gesekan bagai kerikil tajam dalam tubuh Republik muda,

Dengan kharisma yang dimilikinya, Panglima Besar Soedirman berhasil meredam konflik dan meletakkan dasar fondasi penting untuk Tentara Nasional Indonesia. Dalam kondisi sesulit apapun, ia tetap tunduk pada kepemimpinan sipil Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Usaha penerbitan kembali kisah sejarah bangsa semacam ini patut mendapatkan apresiasi. Penulisan profil para perwira militer penting Indonesia membutuhkan ketekunan. Militer tetap mempertahankan aura ketertutupan yang sulit ditembus. Alhasil, pembacaan kembali sejarah ke belakang, pembaca diharapkan mampu menilai sendiri dan melakukan rekonstruksi sendiri atas fakta sejarah negeri ini.

Judul        : Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir
Penulis     : Arif Zulkifli (ed.)
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun       : 2012
Tebal        : 160 hal.
Genre       : Sejarah-Indonesia

Cipayung, 21 Oktober 2017

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...