Senin, 27 November 2023

Kepiting Bercapit Emas: Membaca Kembali Tintin

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Membaca lagi Tintin berarti mengulang kembali kisah baca saya puluhan tahun yang lalu. Saya harus mampir ke rumah saudara untuk meminjamnya. Buku komik semacam serial Petualangan Tintin ini habis dibaca sekali duduk. Juga karena ini bukan kali pertama jadi saya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk menamatkannya.

Kisah rekaan dengan intrik-intrik spionase ini tentu sangat melatih pemahaman saya waktu kecil. Dulu, saya harus membaca berulang kali untuk dapat memahami cerita Tintin. Tentang bagaimana clue, kode, atau petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan alat investigasi yang menuntun pada pembuktian dan pemecahan sebuah kasus.

Anyway, saya menikmati sekali pembacaan kembali Tintin. Tentu saja terima kasih saya ucapkan pada Istri saya yang masih mau membeli komik Tintin. Barangkali, kami berdua sedang butuh jiwa petualang untuk kembali berlayar satu kayuh berdua. Semoga.
 
 
Judul           : Petualangan Tintin: Kepiting Bercapit Emas
Penulis        : Herge
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2015
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Komik-Petualangan


Pajang, 27 November 2023.


Jumat, 04 Agustus 2023

Rest in Peace, My Beloved Script

 

Hari ini, saya nyatakan bahwa script ini telah dideaktivasi. Entah karena si burung kecil sudah berganti logo atau ada hal lainnya, saya tidak tahu.

Kamis, 03 Agustus 2023

Tough Choices: Sebuah Pembukaan

“... life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what makes us who we are...” hal. 85


Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya pertama kali berkenalan dengan buku ini di suatu perpustakaan sekolah medio 2009. Kebetulan, saat itu seorang siswi sedang membaca sekilas kemudian meminjamnya. Penasaran, akhirnya ketika buku itu dikembalikan, saya lantas mulai membaca sedikit halaman pembuka. Sampulnya menarik dan cukup simple. Sebuah potret seorang perempuan yang nampak masih “perkasa” dengan sisa-sisa kejayaannya. Judulnya pun langsung menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard (HP). Menarik untuk mengetahui cerita mengenai seorang perempuan yang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan besar berskala internasional. Untuk tahu bagaimana latar belakangnya sedari kecil, kisah-kisah dan pergolakan di masa beranjak dewasa, hingga berbagai keputusan yang diambil dalam menjalani serangkaian peristiwa dalam hidupnya.

2013 lalu, pernah sekali waktu saya menemukan buku ini di sebuah toko buku import di bilangan Senayan. Waktu itu, saya tidak punya cukup keinginan untuk menuntaskan pembacaan buku ini. Saya masih punya buku-buku yang belum dibaca dan itu banyak sekali. Keinginan itu muncul kembali ketika saya mulai mengumpulkan daftar wishlist buku yang ingin saya baca di Goodreads, pasca mereka menghapus My Stories di halaman mereka. Saya pun memberanikan diri untuk membeli buku-buku bekas di platform marketplace online shopping, dimulai dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ dan ‘Adam Makrifat’ yang pembaca tentu saja sudah lebih dulu membacanya sebelum tulisan ini.

Saya membeli memoar ini bersamaan dengan buku dari Tina Fey ‘Bossypants’, sebuah memoar yang penuh dengan humor. Saya sengaja menunda ‘Bossypants’ agar dapat fokus menamatkan ‘Tough Choices’ terlebih dahulu. Saya mendapatkan buku ini sebagai buku bekas yang pernah berada dalam rak toko buku yang tahun 2013 lalu saya kunjungi dan harganya tidak dalam kurs rupiah, merupakan pada harga aslinya USD 24,99. Warna kertasnya sudah menguning, kertas sampulnya masih dalam keadaan baik, tidak ada halaman yang rusan ataupun sobek, dan yang paling penting: tidak ada penanda apapun dari pemilik sebelumnya. Anggap saja ini buku baru yang halamannya sudah menua. Hahaha.

Saya selalu menyukai apa yang ditulis Carly Fiorina dalam halaman-halaman awal. I do what i thought was right... My soul still on my own... Kata-katanya seakan menguatkan dan memberi harapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil pertimbangan kita sendiri dengan segenap pengalaman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Sepanjang pembacaan sampai halaman 98, ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan motivasi. Tentang bagaimana menghadapi situasi penuh pilihan, tentang bagaimana mengambil resiko, juga tentang bagaimana berhadapan dengan banyak orang dalam konteks bisnis internasional. Saya merasa mendapatkan banyak insight dari perjalanan yang bahkan belum seperempat buku. Setidaknya, dalam hidup saya yang mulai membosankan ini ada sesuatu yang bisa membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal.

Anyway, saya masih harus menamatkan buku ini. Saya selalu merasa harus menamatkan buku ini sejak menemukannya kembali. Saya tidak terlalu tahu sepak terjang dan jejak karir dari si penulisnya. Namun, saya selalu punya alasan untuk belajar memahami kembali bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Pajang, 3 Agustus 2023.

Minggu, 27 November 2022

Nakamichi TWS1XS: A Review


Finally, pencarian saya untuk sebuah earphone TWS (true wireless stereo) berakhir pada Nakamichi TWS1XS. Padahal, ada banyak pilihan yang sudah masuk dalam keranjang belanja di marketplace Toko Ijo. Pilihan lainnya adalah beberapa seri dari Lenovo Thinkplus yang berada dalam range harga under 200ribuan.

Pengalaman sebelumnya dengan TWS KW berlabel JBL cukup membuat saya berhati-hati dalam spending budget, apalagi ini menyangkut soal kenyamanan telinga. Percayalah, produk KW dari sebuah brand besar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Kecuali, memang anda para pembaca yang budiman sengaja memilih produk KW tersebut agar tetap dilihat keren dan tidak ketinggalan zaman.

Saya juga pernah mencoba TWS dari brand lainnya yaitu Mi Fa, harganya diatas 200 ribu, tentu saja membuat saya urung membelinya walau kualitas suara yang dihasilkan sudah bagus untuk sekedar meeting di luar ruangan.

Pilihan jatuh ke Nakamichi karena ini adalah known brand untuk high-end audio di bidang otomotif. Saya jadi ingat waktu ganti head unit audio mobil, Sang Juragan Toko menawarkan head unit single din Nakamichi dengan harga yang reasonable, tidak sampai satu juta rupiah! Katanya, Nakamichi sedang reposisi market sehingga banyak pilihan harganya. Entah, mungkin karena hal itu pula Nakamichi menghadirkan banyak juga pilihan untuk TWS pada rentang harga di bawah 200 ribu.

Secara build quality, TWS1XS lumayan mewah, berbentuk bulat dengan ornamen transparan di bagian tutup flipnya. TWS ini dibekali baterai 200 mAh, dengan kekuatan 3.7 V, 0.74 Wh. Baterainya kuat dipakai lebih dari dua jam. Pastinya berapa? Belum saya coba karena saya belum menggunakan TWS1XS selama tiga jam lebih.

Saya sudah coba earphone ini  untuk menemani sepedaan selama 1 jam 20 menit dan tidak ada masalah berarti dalam penggunaannya, walau yang dipakai hanya yang sebelah kiri. Saya tetap harus waspada dalam berlalu lintas. Untuk dipakai online meeting, earphone ini masih bagus. Memang tidak terlalu kedap karena belum dibekali fitur pengedap suara dari luar. Tidak seperti saudaranya, TW110NC yang punya banyak fitur. Harganya pun tentu saja berbeda.

Yang paling berkesan dari earphone ini adalah suara yang dihasilkannya ketika menonton high quality video di Youtube atau mendengarkan high quality audio di Spotify. Suara bassnya bagus dan seimbang dengan treble yang dihasilkan. Pengalaman mendengarkan musik dengan TWS1XS menjadi lebih menyenangkan! Pun, ketika digunakan untuk mendengarkan pelajaran bahasa di Duolingo.

Akhirul kalam, saya tidak akan bercerita banyak lagi. Sila berselancar di Youtube untuk detail dan review-review lainnya. I would recommend this TWS earphone to you who love quality at a low price.
 

Cipayung, 27 November 2022.

Rabu, 26 Oktober 2022

This Notebook is My Bitch: 10 Tahun Kemudian

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Saya mendapatkan buku ini usai menamatkan pembacaan "Antologi Rasa" medio 2012, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Ika Natassa agaknya sengaja menerbitkan buku ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana menulis sebuah kisah, lebih jauh sebuah buku.

Bentuk buku ini juga tidak seperti buku tips penulisan praktis lainnya. Penulisnya memberi ruang yang cukup untuk menuliskan ide-ide cerita. Ini akan memudahkan siapapun yang ingin menulis karena diberikan panduan dan juga sekalian ruang tulisnya.

Pada saat buku ini diterbitkan, tidak ada banyak 'protes' tentang isinya yang bahasa Inggris semua. Saya, jujur saja, sangat menikmatinya. Pembaca Ika Natassa lainnya pun saya rasa setuju adanya. Berbeda dengan situasi belakangan ini, dimana pembaca baru Ika Natassa tidak banyak tahu atau membaca situasi sebelumnya, misalnya tentang mengapa Ika Natassa menulis cerita yang sedemikian rupa itu dalam karya-karyanya dan mengapa Ika Natassa menggunakan pilihan bahasa yang seperti itu. Alih-alih malah terdikotomi 'anak SCBD' dan "Bahasa Anak Selatan'. C'mon, wake up!

Saya selalu membaca buku ini ketika perlu inspirasi untuk menulis cerita pendek, terutama untuk mengingat kembali poin-poin dalam membangun konflik dan menguatkan karakter. Sudah lama sekali saya tidak menulis cerita dan membuat karakter tokoh pengisi cerita. Saya perlu membaca buku ini lagi!


Pajang, 26 Oktober 2022.

Jumat, 16 September 2022

Surat Cinta dari Fuzhou (lagi)

Cintaku,

Hari ini aku kembali ke Fuzhou. Seharusnya aku sudah berada disampingmu, saat ini. Seharusnya aku sudah menghapus peluhmu, Mencium keningmu dengan segenap perasaan. Penuh cinta dan romansa. Sayang sekali, kita tidak pernah bisa memilih takdir. Seperti saat kita menuang segelas bir.

Aku kembali pada suara gemuruh ombak yang sama. Entah berapa juta hari yang lalu. Aku kembali pada angin yang sama. Angin yang terbawa topan Muifa dari arah ShangHai sana. Aku kembali pada aroma yang sama. Aroma perpisahan yang selalu tidak pernah menyenangkan.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi. Apakah kembalinya aku ini meninggalkan jejak pada dia dan dirinya. Aku tidak pernah tahu apakah ini adil untuk mereka. Siapa bilang hidup ini begitu "fair" soal asmara dan membagi hati.

Manisku,

Sudah terlalu banyak perasaan di dunia ini. Setiap saat, setiap waktu, kita menciptakannya. Aku, engkau, kita, mereka, dan entah siapa lagi. Aku kembali menatap lampu-lampu jembatan yang masih sama warnanya seperti saat kutinggalkan. Gemerlap, serupa kilau auramu yang takkan pernah mudah untuk kulupakan.

Sayangku,

Agaknya, kali ini perasaaanku sedikit lega. Aku tahu akan menuju kemana. Aku akan pulang padamu. Kembali lagi padamu. Kembali seperti dulu. Saat desah nafasmu begitu dekat, dan engkau kupeluk erat.

Terimalah salam sayangku yang kesekian juta kalinya. Entah engkau masih mau apa tidak. Aku hanya tahu satu hal. Aku mencintaimu.


dari tempat paling sepi di dunia.
Teluk Haiying, Fuzhou. 14 September 2022

Surat Cinta dari ShangHai

Cintaku,

Akhirnya, aku tiba juga di ShangHai. Sebuah kota yang hanya pernah kita bayangkan. Sebuah nama yang hanya kita kenal lewat film-film Jacky Chan dan Andy Lau. Sebuah nama yang tidak pernah terlintas akan menjadi goresan dalam catatan kecil perjalanan kita. Aku merasakan denyut kota yang sama. Denyut kota yang pernah kita rasakan ketika mengitari Bundaran HI kala itu. Saat senyummu masih selalu menumbuhkan keraguanku.

Begitulah, cintaku. Aku memulai perjalanan yang kesekian kalinya ini di Hari Kemerdekaan Republik tercinta. Aku terdampar di pinggiran kota, namanya Minhang District, mungkin daerahnya seluas kecamatan. Aku akan memulai hari-hariku yang hanya seperti ini untuk entah berapa lama.

Aku teringat pesan darimu dulu. Engkau selalu bilang padaku untuk tidak pernah mengacaukan hari pertama. Hari pertama apapun itu. Aku berusaha memenuhi janjiku padamu itu. Aku jalani hari-hariku dengan selancar-lancarnya.

Manisku,

Hari-hariku disini kemudian adalah hari-hari penuh rindu. Hari-hari dimana suara-suara gemuruh kota selalu membawa ingatan ini kepadamu. Aku titipkan rindu pada angin. Aku titipkan rindu pada gelombang. Namun, mereka semua tidak pernah sampai kepadamu. Katanya, mereka dihantam badai topan di Laut Cina Selatan.

Aku pernah mencoba hilangkan sepi. Aku pergi menuju keramaian kota. Aku menuju pusat cahaya. Aku hanya mampu terdiam dan takjub. Aku takjub pada takdir yang membawaku kemari. Hanya untuk mengingat namamu dan mendoakanmu seraya memohon pada Tuhan untuk jangan hilangkan perasaan ini kepadamu.

Aku berada di tepian sungai terbesar disini. Dengan segala temaram dan gemerlap cahaya kota. Aku hanya merasakan kesepian. Engkau tidak disini bersamaku.

Sayangku,

Sisa perjalananku selanjutnya adalah hari-hari berselimut rindu. Aku menghitung hari. Menit demi menit. Detik demi detik. Tanpa terasa ada satu dan dua hati mengisi hariku. Menemani hari-hari sepi tanpa dirimu. Melewati malam dengan lagu-lagu galau kesukaanmu hingga akhirnya merasukiku. Cukup dalam, namun belum sedalam perasaanku padamu.

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kesalahan. Semakin aku coba untuk sembunyi hasilnya percuma saja: Aku tersiksa lagi. Mungkin, kesalahan ini semakin terasa indahnya.

Pada suatu malam, ketika hujan badai telah reda dan malam semakin meninggi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup semua angin malam yang pernah ada dalam lirik lagu Broery Marantika. Aku hirup semuanya hanya untuk menyuruh mereka agar mau membuka kembali jala-jala kenangan bersamamu. Hasilnya sama saja: Aku galau!

 

Minhang, ShangHai. 10-12 Sept 2022

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...