Jumat, 08 Januari 2010

Pahlawan

Jadilah bandit berkedok jagoan, agar semua sangka engkau seorang pahlawan*)

Ternyata, lebih cepat untuk mengurus gelar pahlawan daripada menemukan siapa-siapa yang ikut menikmati aliran dana Century. Ternyata, masih lebih cepat melakukan pembahasan untuk gelar pahlawan ketimbang menetapkan Anggodo sebagai tersangka. Entah atas kehendak massa atau karena memang dianggap berjasa seseorang dipermudah urusannya untuk dihadiahi gelar pahlawan.

Seorang pahlawan tentu saja punya jasa yang besar bagi bangsanya. Bisa saja mereka yang gugur di medan laga peperangan demi melepaskan diri dari belenggu penjajahan sampai pada mereka yang tanpa tanda jasa. Segenap pencapaian bangsa Indonesia hingga detik ini dibiayai oleh setiap tetesan darah, keringat, dan air mata serta doa mereka yang gugur di taman bakti.

Semua bisa jadi pahlawan. Untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia. Semua bisa jadi pahlawan menurut versinya masing-masing. Hanya saja, yang membedakan adalah status pengakuan atas gelar pahlawan tersebut. Kalau Negara suatu saat menghadiahi gelar pahlawan untuk kita itu bukan hanya berarti nama kita ada di daftar pahlawan yang fotonya dipajang di poster, atlas, buku pintar, dan jadi bahan pertanyaan ujian anak SD. Tak hanya itu saja, nama kita akan disejajarkan dengan mereka yang terlebih dahulu membangun peradaban dan meletakkan batu pertama fondasi bangsa ini. Itu juga berarti bahwa setelah melalui berbagai tahapan pertimbangan kita dianggap memiliki kontribusi yang berarti dalam sejarah perjalanan bangsa-dalam bidang apapun.

Perdebatan tentang layak atau tidaknya seseorang untuk mendapatkan gelar pahlawan seperti yang menyeruak saat ini adalah suatu kemestian bagi bangsa yang telah paham betul apa itu demokrasi. Lebih dari 6 dekade sudah Indonesia mengenal macam-macam demokrasi dan belajar banyak darinya. Mulai dari yang benar-benar demokratis sampai demokrasi semu. Sudah berapa banyak orang-orang yang pulang ke Indonesia sambil membawa oleh-oleh pemikiran demokrasi? Agaknya dalam situasi berbangsa saat ini hal itu maklum adanya. Termasuk ketika pluralisme, produk turunan demokrasi mulai diperkenalkan.

Menyimak kembali isu pemberian gelar pahlawan, kiranya hal itu bisa dijadikan satu referensi pembelajaran politik bangsa yang konon demokratis ini. Tidak selamanya politik memberikan pengaruh buruk bagi kehidupan kita. Ada nilai-nilai dari kehidupan politik yang patut ditiru. Yaitu, budaya untuk tidak lupa mengucapkan terima kasih. Secara politis, bisa jadi FPKB mengikuti ide FPDIP untuk mengangkat Gus Dur jadi pahlawan nasional itu sebagai etika politik belaka, karena tidak bisa dipungkiri bahwa PDIP harus berterimakasih kepada Gus Dur, karena sepeninggalnya, Megawati dan PDIP mendapat jatah untuk ikut berkuasa dan menikmati setiap impian yang hanya boleh dimiliki penguasa.

***

Apa yang telah diperbuat oleh sang (calon) pahlawan? Membangun peradaban pasca kolonialisme dan revolusi sambil menanamkan mental kere selama lebih dari 3 dekade atau jalan-jalan ke 80 negara selama 20 bulan masa jabatan sambil meninggalkan korban gempa Bengkulu tahun 2000 untuk melawat ke luar negeri dan hanya mengirim wakil presiden untuk sekedar menyampaikan rasa duka cita. Apakah itu perbuatan yang patut ditiru dan diteladani dari sang (calon) pahlawan?

Mana ada (calon) pahlawan yang menganggap sesama koleganya di DPR sebagai kumpulan anak TK. Mana ada (calon) pahlawan yang terlibat skandal pengadaan sapi impor sampai menelan sendiri dana hibah dari tetangga di Brunei sana. Mana ada pahlawan yang dapat mosi tidak percaya dari DPR sehingga MPR menjungkalkannya dari kursi presiden. Kalau memang itu bakal terjadi, hebat betul Negara ini. Seperti Mantan Menhub Jusman Syafei saja yang sudah dimosi tidak percaya semua karyawan PT.DI tapi dijadikan Menhub oleh SBY. Ada-ada saja.

Agaknya, sekarang bukan saat yang tepat untuk larut dalam euforia untuk mejadikan seseorang yang telah dan baru meninggal dunia sebagai seorang pahlawan. Terlalu dini untuk membahas hal itu. Masih ada pertimbangan-pertimbangan lainnya yang bukan sekedar menjadi corong demokrasi dan pluralisme.

Mari lihat kembali Tugu Pahlawan di Surabaya sana supaya orang bisa berkaca kalau dirinya pantas atau tidak untuk mendapat gelar pahlawan. Berapa banyak orang yang mati berjuang pada peristiwa 10 November 1945 bersama Bung Tomo? Mereka itulah sebenar-benarnya pahlawan yang gugur untuk kehormatan tertinggi dan kedaulatan bangsanya tanpa harus merasa pantas untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Bila Gus Dur dan Pak Harto tidak lepas dari kontroversi semasa jabatannya hingga kini saat mau diberi gelar pahlawan, Chairil Anwar, si Binatang Jalang yang masih mau hidup seribu tahun lagi ini pun tidak kalah kontroversialnya. Penyair yang hadir pada suatu situasi bangsa terjajah menuju semangat untuk merdeka itu menjadi polemik ketika bersamaan dengan rekan-rekannya mencetus “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada tahun 1950. Pun ketika ia dinilai hanya menjadi plagiator bagi karya-karya penyair Barat seperti Schopenhouer, Nietzsche, Slauerhoff, Andre Gide, dan Albert Camus.**)

Kalau mau, sekalian saja Chairil Anwar, diusulkan untuk jadi pahlawan. Setidaknya di bidang sastra karena hakikat Chairil Anwar bagi dunia sastra Indonesia adalah sastrawan pendobrak zaman. Sastrawan yang mampu bersuara lantang kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi dengan puisi mimbarnya***) sekaligus bercerita tentang indahnya waktu senja hari di suatu pelabuhan dengan puisi kamarnya***).



Cimahi, 8 Januari 2010


*) Lirik lagu “Nak”, dinyanyikan oleh Iwan Fals, album “1910”.
**) dikutip dari buku “Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air: Esai-esai Iwan Simatupang”, Penerbit Kompas, 2004. Hal.17
***) Sastra Mimbar adalah sastra yang secara tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal itu dapat berupa tanggapan atau jawaban dari persoalan-persoalan besar zaman itu. Sedangkan, Sastra Kamar adalah sastra yang menggarap tema keseharian serta berlatarkan situasi keseharian. Dikutip dari Majalah “Sastra”. No. 01 Tahun 1 Mei 2000. Hal.1

Selasa, 05 Januari 2010

Catenaccio Gus Dur (Alm) dan SBY

Konon katanya yang membuat seseorang tidak mudah dilupakan adalah kebaikan-kebaikannya yang ditinggalkan termasuk segala macam kontroversi yang melingkupinya. Begitupun dengan Gus Dur, yang tidak pernah lepas dari kontroversi terlebih lagi sejak menjabat Presiden RI masa bakti 1999-2001. Perdebatan mengenai keputusan-keputusannya semasa menjabat menjadi bukti bahwa bangsa ini sedang menjalani dinamika demokrasi yang terombang-ambing.

Beragam keputusan seperti penghapusan TAP MPR mengenai Tahanan Politik, Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional, dilarang bersekolah di bulan Ramadhan, dan yang tak kalah tentunya adalah agenda perjalanan ke luar negeri, 80 negara dalam 20 bulan masa jabatan, adalah bukti dari sekian banyak isu-isu kontroversial dalam masa pemerintahannya. Skandal terbesar dalam masa pemerintahannya adalah kasus Buloggate yang pengusutannya mirip kasus Century, memaksa DPR untuk membuat Pansus (Panitia Khusus) demi mencari titik terang dari masalah-masalah tersebut.

Dalam menghadapi serangan dari Pansus Buloggate konon Gus Dur menggunakan strategi catenaccio*) Made In Italia, untuk bertahan dari serangan pers dan Pansus Buloggate DPR. Catenaccio yang sempat jadi momok menakutkan dan membosankan bagi Johann Cruyff dan Beckenbauer tidak berkutik menghadapi serangan gencar kaum oposan waktu itu. Pertahanan Gus Dur kedodoran sehingga tidak ada celah untuk melakukan serangan balik.

Pada akhirnya, setelah melewati masa kritis dengan kasus Buloggate tahun 2001 akhirnya MPR mengadakan Sidang Umum Tahunan yang terselip di agendanya untuk membahas pelengseran Gus Dur dari tahta kepresidenan. Kemudian, Gus Dur pun dipaksa menyerah melalui mekanisme konstitusional dan untuk hal ini rasanya Gus Dur pantas menuding Megawati dan Amien Rais sebagai pihak yang paling bertanggungjawab yang ikut menjungkalkannya dari empuknya kursi presiden.

***

Catenaccio adalah sistem yang tidak disukai di dunia sepakbola karena watak defensifnya yang ekstrem. Berkaca dari pengalaman, SBY mampu dan bisa saja mengikuti Gus Dur untuk menggunakan strategi catenaccio yang sama, mengingat pertahanan SBY kini juga digempur dari segala arah. Kemelut pencurangan hasil pemilu serta alur dana kampanye yang disinyalir berasal dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan kekuasaan menguap begitu saja dengan analogi Daud vs Goliath versi binatang-cicak dan buaya yang melibatkan dua institusi penegak hokum negera, KPK vs POLRI. Setelah cicak dan buaya kembali ke alamnya masing-masing, Badai Century melanda pemberitaan pers dan media massa. Mencoba jadi senjata kaum oposan Pansus DPR dengan menohok SBY dan jajaran kabinetnya sebagai orang yang juga harus ikut bertanggungjawab atas bocornya uang Negara. Belum juga reda badai Century, kini si Gurita dari Cikeas ikut menampakkan dirinya untuk mendapatkan sensasi popularitas dan tentunya keuntungan finansial yang berlipat.

Dengan kondisi dan kenyataan seperti itu, SBY harus pandai-pandai menggunakan skill manajerialnya agar catenaccio yang digunakannya berjalan dengan efektif sesuai dengan prinsip dasar catenaccio: bertahan dengan menggerendel lawan, lalu mencari sela-sela untuk secepat mungkin menggebuk gawang lawan. SBY harus menemukan pemain yang kreatif untuk menerjemahkan taktik bertahan yang sangat defensif agar penyerang lawan kehabisan akal untuk tetap menyerang. Lalu, SBY juga harus jeli melihat pemain yang mampu mencari sela-sela dan keluar dari penjagaan pemain bertahan lawan untuk mengatur sebuah serangan balik yang dahsyat.

Namun, untuk sekedar mengingatkan bahwa kabinet SBY 2.0 saat ini diniliai tidak begitu tangguh dibandingkan dengan komposisi jilid 1 kemarin yang memang sesuai dan proporsional walau harus terus-terusan direshuffle. Komposisi kabinet saat ini hanya dipenuhi oleh kompromi politik yang berjuang atas nama kepentingan. Tidak ada persahabatan dan permusuhan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Tinggal bagaimana SBY menemukan cara lagi untuk bersama-sama mengandalkan taktik catenaccio yang selaras dengan kepentingan untuk kemenangan bersama.

Selamat bermain.




Pharmindo, 4 Januari 2009


*) lihat Kompas, Sabtu, 16 Desember 2000. Salinannya juga terdapat dalam buku “Bola-bola Nasib: Catatan Sepakbola Sindhunata”, Sindhunata, Penerbit Kompas, 2002



Pansus

Bedul sedang pusing ketika senja sudah mendekati akhirnya. Ini bukan awal bulan, bukan pula akhir bulan. Tapi tengah bulan saat tensi kerja tepat ada di titik zenitnya. Kalau sudah begitu ia cuma bisa ngobrol sama Ngadul.

“Pansus itu ngawur. Lha wong kerjanya cuma kayak Topan dan Lesus, Ngelawak. Bikin orang ketawa. Mending kalo pelawak, bikin kita ketawa puas sampai keluar air mata. Lha, pansus DPR itu Cuma bikin orang tambah geregetan, tambah bikin pusing. Mbuang-buang waktu untuk sesuatu yang kurang pada esensinya. Panggil sana, panggil sini hanya untuk mencari-cari dan mengorek kesalahan-kesalahan yang tentu saja berlawanan dengan pelajaran Logika: Serang pendapatnya, bukan serang orangnya.”

“Dimana pula keberpihakan Pansus pada rakyat yang tercermin pada solusi konkrit penyelesaian Kasus Century: Telusuri uangnya lari kemana, bukan cari siapa yang buat kebijakannya. Kalo buat nyari siapa yang salah bikin kebijakan, itu sih gampang ditelusuri, sudah ada alurnya kalau memang pejabatnya jujur dan mau ngaku.”

“Nah, Dul. Sekarang pakai logikamu. Coba kalau setiap anggota DPR yang sekarang nyemplung di Pansus itu kemarin dikasih Alphard satu-satu, apa masih mau protes? Lalu, teriakan mereka saat ini itu untuk kepentingan siapa? Apakah ada pihak yang merasa nggak kebagian lalu mengajak dan mengobarkan semangat perlawanan yang lagi-lagi berdalih atas nama rakyat?”

“Pansus itu produk kompromi politik. Pansus bisa saja dipolitisasi untuk menggoyang eksistensi kekuasaan dengan mengorbankan Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani sebagai martir akibat porsi pembagian jatah kekuasaan dan kewenangan dirasa kurang berimbang bagi beberapa pihak.”

“Kamu pernah dengar nama Aviliani toh? Si Pengamat Ekonomi yang juga pernah ikut terlibat di Debat Capres kemarin. Katanya di radio DW (Deutsche-Welle) yang markasnya di Bonn, Jerman sana, tidak ada masalah yang berarti dengan bail-out Century ini. Kerusakan dan kehancuran sistemik bisa dihindari karena Century tetap memiliki kewajiban membayar dana itu selama 3 tahun. Asal mekanisme kontrolnya tetap berjalan maka masalah itu tidaklah mengkhawatirkan. Tapi buat saya, dana bail-out sebesar itu kurang pantas untuk Century yang ternyata tidak lebih besar dari BPR-BPR.”

*****

Ngadul yang dari tadi diam saja tiba-tiba berkata

“Kembali saya mengingatkan anda, segera cari orang yang gondol duit 6,7T itu, kalau perlu ajaklah detektif-detektif dari Interpol atau SAS (Special Air Service) Inggris. Mudah-mudahan anda bisa ketemu sama malingnya. Jangan kaget juga kalau ternyata malingnya nggak jauh-jauh di luar negeri. Mungkin saja, malingnya itu sedang duduk sambil merokok Dji Sam Soe di sebelah anda, lalu minum kopi sambil baca Koran, terus kakinya ngangkat di meja.”



Pharmindo, 4 Januari 2009

Rabu, 16 Desember 2009

Patung dan Eksistensi

Tentu anda semua sudah mendengar dan menyaksikan kabar tentang Patung Barack Obama di Taman Menteng. Konon, patung itu dibuat untuk mengenang masa kecil Barack Hussain Obama yang menghabiskan masa 4 tahun sekolah dasarnya di Menteng sana. Bahkan ada semacam joke yang bilang kalau semua sekolah internasional di Jakarta hampir kehilangan muridnya karena mereka semua ingin pindah ke SD Asisi Menteng tempat Obama bersekolah dulu.

Menurut hemat saya, patung ini menandai semakin eratnya hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat. Patung itu tidak hanya menjadi simbol eksistensi Obama semata. Lebih jauh, patung itu menjadi semacam monumen bagi pengakuan atas keberhasilan Amerika Serikat dalam menanamkan benih-benih demokrasi dan HAM di Indonesia. Bisa juga patung itu merupakan hadiah dari petinggi Kecamatan Menteng dan Gubernur DKI untuk Obama yang sukses membuat nama Menteng dan Jakarta mendunia sehingga memudahkan promosi pariwisata Enjoy Jakarta-nya DKI. Siapa tahu.

Rupanya bangsa ini telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang besar, dilihat dari bagaimana bangsa ini memperlakukan sejarah bangsanya sendiri. Memang, para tokoh pengisi sejarah bangsa ini punya monumennya masing-masing. Bung Karno dan Bung Hatta dibuatkan patungnya di Monumen Proklamasi dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Korban G30S PKI dibuatkan Monumen Lubang Buaya.

Namun, mengapa patung Panglima Besar Jenderal Sudirman ditempatkan di Jalan Sudirman sambil menghormat pada gedung-gedung pencakar langit simbol keberhasilan kapitalisme? Tidakkah mereka peduli pada hal ini? Kenapa bukan pahlawan asli Betawi macam Si Pitung itu atau malah Ali Sadikin, sang gubernur yang benar-benar membangun Jakarta dengan penuh kontroversi dibuatkan patungnya lalu ditempatkan di Taman Menteng sebagai landmark Jakarta.

Tidak ada muatan dan esensi lokal dari patung Obama itu. Sehingga kalau kini terdengar gugatan atasnya mudah-mudahan itu jadi tanda bahwa nurani kita masih hidup untuk menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa kita bukan sebagai penanda eksistensi belaka.

Siapakah Obama itu bagi Indonesia? Obama hanyalah Presiden Amerika Serikat yang belum pernah sekalipun mengunjungi Indonesia. Obama juga adalah seorang penerima Nobel Perdamaian yang penuh kontroversi karena ia juga yang menyetujui penambahan 30.000 pasukan NATO di Afghanistan. Mungkin karena itu juga ia menilai dirinya B+ untuk performancenya sejak mengambil alih jabatan dari Bush Jr tahun lalu. Pada KTT Asean yang berlangsung tahun ini di Singapura pun Obama tidak menyempatkan singgah di Indonesia.

Kalau ia nanti jadi singgah apalagi yang akan Negara ini buat? Masih ingat waktu Bush Jr mampir ke Istana Bogor sambil naik helikopter? Obama sempat bilang bahwa ia akan berkunjung ke Indonesia tahun depan pada saat anak-anaknya liburan sekolah. What a nice Daddy!

Kalau sekali nanti anda mampir ke kota Firenze di Italia sana yang ada patungnya Gabriel Omar Batistuta anda bisa lihat bahwa patung itu dibuat bukan karena alasan keberadaan dan eksistensi Batistuta yang melegenda di klub Fiorentina tetapi lebih sebagai simbol penghargaan dan penghormatan kepada Batigol (julukan Batistuta) yang telah membuat semarak kehidupan kota itu. Semarak kehidupan yang berasal dari euphoria sepakbola yang menembus celah-celah dan lorong-lorong gang kecil di setiap sudut kota Firenze.

Bahkan, Batistuta bisa dianggap sama sucinya dengan orang-orang macam Macchiavelli dan Dante yang juga lulusan Firenze. Maka, ketika Batistuta meninggalkan Fiorentina untuk bergabung dengan AS Roma tahun 2001, seluruh Firenze bersedih karena ditinggal pahlawannya. Sempat muncul wacana untuk menghancurkan patung tersebut namun batal karena mereka menghargai sejarah-terlebih kehidupan sejarah sepakbola mereka.

Saya kira, begitu juga yang terjadi dengan patung-patung lainnya yang ada di belahan dunia yang lain. Patung-patung itu dibuat dengan berbagai latar belakang dan sejarah yang menghiasinya. Patung Lenin di Leningrad, Patung Stalin di Stalingrad untuk memperingati aksi heroik Pasukan Merah Rusia ketika mengusir Tentara Jermannya Hitler, Patung Kim Jung Il di Korea Utara sana, Patung Napoleon, hingga Patung Pemain Sepakbola di Jalan Tamblong Bandung, bukannya patung seorang yang menunggu kekasihnya*) buatan Seno Gumira Ajidarma.


Pharmindo, Cimahi, 15 Desember 2009


*) Cerita tentang patung ini bisa dibaca pada kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Iblis Tidak Pernah Mati”, Galang Press, 2005.

Karir dan Kadal

Mbak,
Tadinya saya mau bahas ini semua di kantor saja, namun entah mengapa waktu saya main ke ruangan Mbak, saya tidak lihat Mbak disana. Mungkin saya yang kepagian. Salah saya juga tidak kasih kabar kalau mau mampir.

Beginilah Mbak kegiatan saya akhir-akhir ini. Kalaupun bukan karena telpon dari seorang kawan yang memberi tahu kalau di kampus kita itu sedang ada job fair mungkin saya lebih baik meneruskan tidur saja. Karena saya masih menganggur saya sedikit penasaran untuk sekedar tahu apa yang sedang terjadi disana.

Seperti biasa, Mbak. Disana penuh sama orang-orang yang kelihatannya serius benar untuk mencari kerja. Pakaian mereka rapih benar adanya. Mungkin untukl sekedar menutupi tampang mereka yang benar-benar bertampang pegawai. Seperti kita, saya dan anda.

Tidak ada salahnya memang berlaku seperti itu. Lagipula bukan untuk menghadiri acara resmi seperti undangan resepsi pernikahan. Seperti biasa, mereka nantinya akan menabur asa pada setiap lembar ijazah dan berkas surat lamaran yang akan segera disebar pada stan-stan pemberi kerja sambil berharap ada walk-in interview sehingga mereka pun langsung tanggap bahwa mereka akan mengeluarkan segenap kemampuan terbaiknya.

Kalau dilihat dari perusahaan-perusahaan yang tampil untuk mengaudisi calon pegawainya memang kelihatan bonafid. Mungkin itu tandanya imaging, branding, dan positioning yang mereka lakukan dalam setiap kampanye produk mereka telah berhasil mempengaruhi mindset kita semua. Sehingga kita tidak perlu repot-repot untuk menentukan perusahaan mana yang punya prospek bagus. Bukankah itu yang terjadi pada anda ketika memilih untuk berkarir di sebuah bank swasta berlevel internasional?

Pengalaman saya membuktikan demikian adanya. Bahwa ketika pilihan untuk berkarir telah diputuskan maka langkah selanjutnya adalah tinggal menentukan perusahaan tempat dimana kita akan berkarir dan mewujudkan segala impian professional. Beruntunglah kita hidup di zaman informasi yang mengalir bagai angin ini. Tidaklah terlalu sulit untuk mencari perusahaan yang akan mengakomodir semua kebutuhan kita untuk berkarir. Masalahnya tinggal apakah kita memenuhi kualifikasi yang mereka butuhkan. Kalau memang ya maka ada angin lalu berlayarlah kita mengarungi dunia karir.

Sejauh pengamatan saya, mereka memang membutuhkan orang yang benar-benar mau untuk bekerja. Lebih-lebih lagi kalau ternyata banyak kandidat yang masih muda dan baru lulus. Pengalaman bisa dinomorduakan melalui serangkaian program training dan upgrading. Jadi karena begitu, ada banyak hal yang menurut saya terlalu menguntungkan pihak perusahaan. Mereka selalu menuntut produktivitas yang lebih dari pegawainya dengan atau tanpa kompensasi tambahan yang dijargonkan sebagai “dedikasi dan profesionalisme”. Ibaratnya mereka terlalu mudah dan gampang sekali untuk dikadalin apalagi di masa ekonomi serba susah seperti sekarang. Maaf, ini tidak ada hubungannya dengan adu reptil versi POLRI VS KPK.


Salam dari Pharmindo
Cimahi, 15 Desember 2009

Kamis, 26 November 2009

Kemenangan Guru, Kemenangan Pendidikan?

Selamat malam, Bung? Apa kabar anda hari ini? Apakah kopi yang anda hirup pagi ini masih sama dengan ketika di warung kopi dulu? Saya harap anda dapat menikmati bagian-bagian hidup anda bahkan yang terkecil sekalipun. Sudah lama sekali saya tidak menjumpai anda lewat tulisan saya. Anda tentu menganggap itu ada hubungannya dengan pensiunnya saya dari sekolah sialan itu kan? Ada benarnya namun itu kita bahas nanti saja di warung kopi langganan kita di pojok jalan itu.

Begini, Bung. Menjelang malam tadi sebuah berita masuk ke ruang dengar saya. Satu berita tentang dimenangkannya gugatan terhadao Ujian Nasional (UN) oleh Persatuan Guru Independen Indonesia (PGII) dan Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI). Saya tahu itu karena yang diwawancara adalah gembongnya yang ternyata guru SMA saya. Namanya Pak Iwan. Kami dulu mengenalnya sebagai sosok Guru Sosiologi yang paling sensasional dan revolusioner. Saat perhatian semua guru masih berkutat pada masalah kesejahteraan Pak Iwan sudah melepaskan semua hal itu dengan berpartisipasi di FAGI yang kurang lebih seperti KAMI-nya gerakan mahasiswa.

Dulu, kami selalu melihatnya mengenakan topi hitam bertuliskan FAGI lengkap dengan kacamata hitam mirip Don Johnson di Miami Vice, kumis mirip Antasari Azhar dan motor Honda Supercup 700. Sayang, saya belum pernah diajar olehnya. Saya hanya sering mendengar ceritanya dari kawan-kawan di kelas IPS. Beberapa dari kami sempat bercanda dengan menambahkan dua huruf “N” dan “A” pada topi kebanggaannya itu.

*****

Saya belum paham detail dari berita itu. Saya hanya mendengar berita sepintas saja. Diberitakan bahwa mereka mengadakan syukuran untuk kemenangan yang disahkan melalui putusan Mahkamah Agung. Bisa saya bayangkan bahwa sorak-sorai perasaan gembira para guru yang menggugat sama riuhnya dengan nyanyian kawan-kawan Imparsial pasca Pidato Presiden SBY menanggapi kasus kriminalisasi KPK dan aliran dana Century.

Agaknya, keadaan sistem pendidikan nasional masih (dan selalu) mengalami transformasi tanpa hasil akhir yang maksimal, rasional, dan memuaskan. Tujuan pendidikan nasional pun yang bermuara pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya belum dapat dicapai. Ibarat kata masih amburadul. Belum ada satu sistem pendidikan nasional yang ajeg dan menyeluruh. Amanat UUD 1945 belum tunai.

Ajeg berarti statis, tegak. Artinya sistem pendidikan nasional harus mampu berdiri tegak sebagai satu sistem yang padu dan tidak mudah untuk dibongkar pasang oleh kekuatan apapun-termasuk kekuatan ekonomi. Menyeluruh artinya sistem itu juga harus mampu memberikan esensi-esensi dari pendidikan secara merata dan mendalam pada setiap jenjang pendidikan.

Sistem pendidikan nasional itu harus tercermin melalui penyelenggaraan ujian yang lebih menekankan pada kemampuan dan kompetensi peserta didik. Saya kurang setuju kalau UN dihapuskan. Bukan karena rasanya tidak pantas kalau Negara menguji calon generasi penerusnya tetapi lebih kepada pertimbangan kuantitatif terhadap kompetensi peserta didik.

Saya melihat dengan dihapuskannya UN maka penilaian terhadap kemampuan dan kompetensi akan mempertimbangkan pada hal-hal yang bersifat kualitatif. Penilaian tersebut tentu akan melibatkan semua hal yang berbau subyektif. Kalau ada murid yang selalu dapat ranking 1 dengan nilai-nilai yang memuaskan setiap ujian sumatif/formatif lalu kemudian ia gagal di UN maka jangan lantas menyalahkan UN sebagai biang keroknya. Perlu dilihat pula faktor-faktor lainnya. Faktor mental, psikis, dan kognitif bisa menjadi sumber masalah lainnya yang belum sempat terdeteksi. Dalam kasus yang demikian banyaknya, terdapat banyak hal yang bersifat emosional dalam pengambilan keputusan. UN hanyalah satu tolak ukur sejauh mana pemahaman peserta didik melalui ujian dengan kualitas soal standar kurikulum yang berlaku.

Perlu diakui juga bahwa masih terdapat kesenjangan yang sangat jauh antara proses pendidikan di kota-kota besar dengan di daerah-daerah terpencil. Itu bukan alasan untuk sebuah penolakan atas satu grand design bernama UN. Kesenjangan itu dapat diatasi dengan semakin banyaknya forum-forum dan media sosialisasi guru. Sehingga aksesibilitas seharusnya tidak lagi jadi alasan untuk sebuah kegagalan.

Jadi jangan heran generasi mendatang akan semakin menganggap enteng gampang proses pendidikan. Asalkan nilai rata-rata harian tidak terlalu jelek dan selalu berperilaku menyenangkan maka sudah cukup kriteria untuk dinyatakan lulus. Malu rasanya mendengar setiap berita dari kondisi pendidikan bangsa ini yang tak kunjung habisnya bagai perkara korupsi yang masih melilit negeri ini. Pendidikan bagaikan permainan politik kaum birokrat yang selalu berubah dalam jangka waktu tertentu. Pendidikan hanya jadi prioritas yang kesekian saja walau dengan alokasi penyerap anggaran Negara terbesar.

Serius sekali ya, Bung. Lagi-lagi saya berpikir bahwa anda sedang membaca tulisan saya ini sambil tersenyum. Entah tersenyum kagum atau sinis karena tulisan ini ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi objek pendidikan dalam karir kependidikannya dan kebetulan pernah bekerja di satu institusi pendidikan swasta penganut mazhab Cambridge aliran Singapura. Apapun reaksi dari anda saya hargai itu dan saya anggap sebagai partisipasi anda dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.



Salam dari Pharmindo,


Cimahi, 25 November 2009


NB: Kalau Bung nanti buka sekolah internasional, masih mau ngikutin sistemnya Diknas?

Pembangunan dan Perubahan

“Time goes on, people touch and they’re gone…” *)

Bung, masih sadarkah anda bahwa zaman pembangunan masih berlangsung kendati sudah bukan zaman orde baru? Masih sadarkah anda bahwa proses pembangunan secara fisik masih berlangsung di depan mata kita sehari-hari? Masih sadarkah anda bahwa kita tidak bisa lepas dari makhluk yang namanya pembangunan?

Saya baru sadar kemarin, ketika melihat truk molen pengaduk pasir beton hilir mudik keluar masuk komplek. Oh ya, saya lupa kasih tahu Bung kalau saya tinggal di sebuah komplek perumahan di pinggiran kota. Kebetulan dibelakang komplek ini telah dibangun sebuah megaproyek untuk ukuran kota Cimahi. Lahan yang dulunya adalah persawahan dengan hasil yang lumayan kini telah berganti dengan deretan gedung. Tentu bukan deretan gedung seperti di ruas Jalan Thamrin-Sudirman, Jakarta.

Entah sebuah proyek ambisius atau memang program pemerintah proyek ini dinamakan Rusunami. Kurang lebih singkatan dari Rumah Susun untuk Warga Miskin. Walaupun begitu, saya lebih suka menyebutnya dengan sebutan apartemen bukan rusun atawa rumah susun. Saya masih belum bisa membedakan antara rumah susun dengan apartemen seperti yang sedang anda tempati saat ini. Apa karena status peruntukannya lantas rusunami versi pemerintah tidak boleh disejajarkan minimal disamakan penamaannya dengan apartemen megah buatan Agung Podomoro Group? Lain kali kita bahas.

Begitulah Bung. Setiap harinya 3-4 unit truk molen mengantri menunggu giliran untuk melaksanakann tugasnya: menumpahkan adukan semen dan pasir. Pemandangan serupa tentu bukan yang pertama kali saya lihat. Sudah ratusan mungkin ribuan kali saya berpapasan dengan truk molen dengan label perusahaan yang berbeda. Yang membuatnya terasa berbeda kali ini adalah bahwa truk-truk itu kini beroperasi di dekat rumah saya tinggal lalu saya merasa bahwa telah terjadi banyak perubahan. Terutama dalam waktu setahun terakhir ini.

Saya melihat bahwa pembangunan yang kini semakin mendekat dan nampak jelas di mata saya telah membawa dampak yang besar bagi sebagian penduduk di komplek saya. Saya bisa merasakan gairah perekonomian yang akan segera menggeliat dan menuju klimaksnya. Semua terasa lebih dinamis. Berbeda jauh dengan kondisi beberapa tahun ke belakang dimana suasana komplek cenderung lebih statis dan monoton. Pembangunan rusunami itu akan membuka akses yang lebih luas dengan komplek kami sebagai sentral dari pertumbuhannya.

Sementara pembangunan masih terus berlangsung saya mengamati perubahan-perubahan lainnya. Orang tua kami mulai memasuki masa pensiunnya. Sebagian dari mereka ada yang menghabiskan uang pensiunnya dengan naik haji ke Tanah Haram. Ada yang membeli mobil untuk disewakan kembali. Ada yang membeli rumah untuk dikontrakkan kembali. Ada yang membuka warung di teras rumahnya. Ada yang mencari aktivitas rutin di Masjid. Ada yang senang di rumah saja barangkali sambil menghitung jumlah uang pensiun yang masih tersisa.

Kemudian, kami yang seumuran dengan saya dan dengan Bung juga mulai memasuki usia produktif menurut angkatan kerja. Beragam pekerjaan kami jalani. Ada yang jadi kru event organizer, ada yang merantau ke luar kota, ada yang jadi pekerja part-time, ada yang kerja di bank dan gajian setiap tanggal 25, ada yang jadi guru olahraga, ada yang jadi guru TK, ada yang jadi staf marketing dealer motor, ada yang kerjanya di rumah saja-seperti saya ini.

Perubahan lainnya yang bisa dibilang cukup drastis adalah kaum remajanya. Entah karena pengaruh zaman yang semakin maju dengan pembangunannya kini mereka tidak seperti kami ketika remaja dulu. Dengan arus information superhighway membuat mereka lebih cepat belajar dan terbuka terhadap suatu hal. Jangan heran bila Bung menemukan anak SD yang bertanya siapa Miyabi itu. Semuanya jadi antitesis kami dahulu.

Begitulah, generasi-generasi baru terus dilahirkan dan membuat semarak dunia ini. Sama halnya dengan pembangunan yang akan terus jadi tanda perubahan. Tidak ada yang abadi. Perubahan itulah yang abadi.


Salam dari Pharmindo,

Cimahi, 25 November 2009


*) David Foster & Olivia Newton John, “For Just a Moment”, OST. St. Elmo’s Fire

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...