Minggu, 31 Agustus 2008

BLA (bukan Bandung Lautan Api) - Catatan Seorang Pustakawan

Di suatu pagi yang sepi, aku membaca Headline koran harian Selendang Post pagi ini. Hmm. tidak ada yang menarik kecuali sepenggal catatan kecil di rubrik "Literasi dan Edukasi". Beginilah isi catatan itu.

Bandung Librarian Alliance Workshop for School Library

Bandung, (selendangpost, 31/08)
Seiring dengan bertambahnya tuntutan dan peran pustakawan sekolah dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja dan optimalisasi fungsi otomasi perpustakaan kemarin (30/08) Bandung Librarian Alliance (BIS-SD Gagasceria-KALI) bekerjasama dengan NCI-BookMan salah satu vendor perangkat otomasi perpustakaan mengadakan Athenaeum Light 8.5 & NCI-BookMan Workshop for School Library. Workshop yang bertempat di SD Gagasceria ini mengundang trainer berpengalaman dari Bandung International School, Any S. Fauzianie dan Komunitas Athenaeum Light Indonesia, Anggi Hafiz Al Hakam.

Acara yang berlangsung selama 6 jam tersebut dihadiri oleh para guru dan pustakawan dari berbagai sekolah dan komunitas literasi di Bandung. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta workshop dapat menerapkan penggunaan perangkat lunak otomasi perpustakaan di sekolahnya masing-masing. Demikian diungkapkan oleh penanggung jawab acara yang juga bertindak sebagai trainer, Any S Fauzianie "Kegiatan ini tentunya akan semakin menambah wawasan dan sebagai wahana untuk berbagi antar sesama rekan pustakawan untuk menerapkan penggunaan perangkat lunak otomasi perpustakaan yang berlisensi bebas dan open-script.".

Lain lagi yang diungkapkan oleh trainer dari KALI, Anggi Hafiz Al Hakam, bahwa KALI merasa terdorong untuk menyebarkan seluas-luasnya software athenaeum light ini sebagai satu solusi bagi penerapan otomasi perpustakaan, terutama perpustakaan sekolah. Kami juga terus berusaha untuk menjadi supporting group yang concern terhadap development dari athenaeum light sendiri.

Otomasi perpustakaan merupakan satu hal yang masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pustakawan terutama saat ini dengan fenomena hadirnya digital library. selain hal-hal tersebut yang masih menjadi current issue adalah literasi informasi. semua hal ini saling berkaitan sehingga diperlukan kerjasama dan pembinaan yang terus berlanjut. Rencananya, setelah workshop yang telah diadakan keempat kalinya ini akan dilaksanakan pula workshop selanjutnya dengan tema katalogisasi dan klasifikasi.(AH)

***

Aku terkejut. Hwaduh. Rupanya si pustakawan seni dari Bukit itu berulah lagi.


Bandung-Bukit Pakar Timur 100, 30-31 Agustus 2008, 11.45

Jumat, 29 Agustus 2008

Nyanyian Tentang Kenangan

Tak ada yang berbeda dengan sebelumnya. Itulah yang perempuan itu katakan pada dirinya. Ia menyadari semuanya. Semua yang telah ia lalui bersama. Entah dengan dirinya, teman, sahabat, bahkan dengan dia yang pernah mengisi hari-harinya. Mulanya biasa saja hingga hari yang mendung itu tiba dan mengandaskan semuanya. Adalah suatu kewajaran bila ia memilih pilihannya sendiri walau harus meninggalkan semuanya. Semuanya. Tak terkecuali. Ia harus kehilangan cinta, keluarga, dan semua yang ia punya hingga tersisa hanya dirinya saja dan Tuhan. Ia tidak banyak berharap akan sesuatu. Ia tidak ingin lagi memiliki harapan. Harapan yang bercampur perasaan. Perasaan yang bisa menipu.

There a times when i believe in you... (Michael Learns To Rock, Nothing to Lose)

Ia masih berada dalam bis yang membawanya pada sebuah babak baru petualangan hidupnya. Telah ia tinggalkan semuanya. Kota kelahiran, warung makan paling enak, peristirahatan terindah, dan mimpi-mimpi masa kecil. Ia menuju suatu dunia baru. Dunia yang tentu akan dirangkainya bagai untaian kata-kata terindah dalam puisi Shakespeare. Ia masih disitu, menatap jendela dengan perasaan yang rawan kala melintasi pepohonan di jalan yang membentang ke arah timur.

Adakah yang salah dengan diriku? Apakah Tuhan sedang murka dan menunjukkan amarahnya padaku? Atau ini hanya ujian saja? Kalau memang begitu berarti Tuhan masih sayang padaku. Perempuan itu terus berkata pada dirinya. Andaikan ia bisa bertatap muka pada sosok yang dianggap sebagai Tuhan itu, tentu ia akan menanyakan itu semua. Ia hanya menjalani hidup saja. Tuhan mungkin terlibat dalam setiap kisahnya dan mungkin perempuan itu telah menyadarinya.

Ia masih bertanya, siapakah dia? Dia yang merindukanku di hadapan Merbabu. Tuhan, kalau memang engkau tahu, tolong beri tahu aku? Aku juga merindunya. Aku merindukannya. Aku memang belum tahu siapa dia. Aku hanya pernah mengenal yang sepertinya. Yang pernah menungguku, dan hanya menungguku dengan hamparan ladang kerinduan yang ia tanami dengan benih-benih kerinduannya.

What i’m gonna do, if we lost this fire... (Bee Gees, Love You Inside Out)

Dalam hidupnya perempuan itu telah merasakan banyak kehilangan hingga lupa rasanya kecewa karena kehilangan. I’m nothing that comes from nothing and will become nothing. Hanya itu yang ia catat dalam diarynya pada suatu malam yang sunyi setelah semuanya hilang. Ia hampir tidak tahu lagi rasanya kecewa. Ia hanya bisa pasrah. Lelaki terindah itu yang meninggalkan serpihan kenangan bersama pun tidak bisa membawanya kembali. Perempuan itu teringat kembali pada lelaki itu. Lelaki yang senang bersenandung "...i started a joke.." (Bee Gees, I Started a Joke). Lelaki itu memang melankolis tapi tidak cengeng. Perlahan ia mulai membuka dan menyapu debu-debu dalam kenangannya. Ia teringat pada lelaki itu, yang sengaja berlari dan menunggunya di halte bis itu. Ia ingat bagaimana lelaki itu meyakinkannya. Ia ingat ketika lelaki itu menemaninya dalam sore yang gerimis itu. Ia masih ingat pada bubur yang ia bawa. Ia ingat semuanya

Kalau sudah begini biasanya perempuan itu merasa tenang kembali. Ia memang masih terkenang pada lelaki itu. Ia pun tahu tidak sulit untuk menemuinya. Lelaki itu masih ada di kota yang ditinggalkannya. Ia hanya ingin mengenangnya saja tidak lebih. Dalam heningnya malam dan deru mesin bis, terlintas dalam benaknya, " ...ada yang ingin kusampaikan padanya.. tapi biarlah angin malam ini yang membawanya.."

*****

Kuharap kau disisiku bila hatiku merindu.. Tapi.. kau takkan pernah tiba jua... (Atiek CB, Kau Ada Di Mana)

Seorang lelaki menatap kosong pada layar laptopnya. Ia tidak menatap apa-apa kecuali kenangan tentangnya. Tentang perempuan yang menghilang kala rindu menghadang. Perempuan yang membangunkan mimpi panjangnya. Perempuan yang membuatnya mendengarkan lagu itu lagi. Ia tidak menyalahkan keadaan yang membuatnya demikian. Hanya, gerimis yang turun di balik tirai ruang kerjanya yang membangkitkan lagi kenangan padanya.

Oh my heart, wont believe that you have left me... (Bee Gees, Don’t Forget to Remember)

Lagu itu mengalun pelan seakan berbisik pada telinganya. Ia tidak menyalahkan perempuan itu. Perempuan itu pergi dengan impiannya sendiri dan akan membangun hidupnya sendiri. Lelaki itu merindukan perempuan itu yang selalu bertanya padanya tentang pilihan. Lelaki itu bukan siapa-siapa tetapi mungkin ia berharga bagi perempuan itu. Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan itu pergi. Setiap orang adalah untuk dirinya sendiri. Begitulah katanya, sehingga ketika perempuan itu pergi ia hanya bisa membiarkannya. Dalam harapnya, mungkin perempuan itu kembali walau sekedar hanya untuk bertanya padanya.

Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan sampai juga pada tahap hidupnya yang sekarang ini. Ia berhasil membunuh perasaan yang tumbuh kala mimpi panjangnya berakhir. Walau perasaan itu terus tumbuh dan berkembang ia terus memaksa untuk membunuhnya. Namun, ketika ia rasa percuma, ia serahkan supaya waktu saja yang membunuhnya.

Sepanjang perjalanan pulang, lelaki itu sudah bisa melupakan kenangan yang dibawa gerimis itu. Malam terasa mencekam. Ia berjalan ditemani temaram lampu malam. Angin malam mulai berhembus. Ia hanya tersenyum sambil terus berjalan.

Oh angin malam, bawalah daku, kepadanya... (Broery Marantika, Angin Malam)


Bukit Pakar Timur 100, 29 Agustus 2008, 16.01

Kamis, 28 Agustus 2008

Menulis Resensi - Catatan Seorang Penganggur

Dalam hidupku yang cuma pengangguran ini tidak pernah ada sesuatu yang spesial terjadi pada hidupku. Tidak juga dia yang telah mengisi kisah-kisah kemarin. Aku hanyalah penganggur yang pernah jadi kontraktor (tukang kontrak). Aku hanya dikontrak tiga bulan saja. Kadang, aku tidak mengerti jalan pikiran para supervisor itu yang cuma memeras tenaga seseorang cuma untuk jangka pendek saja walau dengan hasil dan target pekerjaan yang semaksimal mungkin. Aku sedang tidak ingin berpikir tentang itu.


Perasaanku sekarang sama seperti perasaan Hector Raul Cuper ketika dipaksa meninggalkan Internazionale Milan atau malah ketika Jose Mourinho harus meninggalkan Chelsea. Begitulah perasaanku sekarang. Yang membedakannya hanya mereka masih punya dana yang cukup untuk sekedar berjalan santai dan merokok dalam sebuah pertandingan sepakbola amatir. Aku hanyalah pengangguran yang punya sedikit modal dari tabungan gaji tiga bulan kemarin. Itupun belum dibagi dengan uang sekolah untuk adikku.

Apa yang tersisa hari ini? Kuota internet yang tinggal 9 MB lagi. Tagihan hutang ke Tukang Pulsa itu. Ahh, aku sedang tidak ingin membahasnya. Pada suatu hari yang biasa entah kenapa aku ingin sekali membeli buku. Aku sedang malas keluar rumah. Aku hanya diam saja di kamarku sambil menonton TV. Tapi, pikiranku selalu mengajakku ke toko buku itu. Akhirnya, dengan sedikit semangat aku bangkit menyambangi gablegzone.com. Aku ingin membeli buku tanpa harus pergi ke toko buku. Aku mau belanja online. Setelah mencari-cari buku, aku bosan. Aku tidak menemukan buku yang aku cari. Namun, pertemuan dengan sebuah situs belanja ini memberi kesan yang lain. Situs ini cukup bagus, boekoepedia.co.id, adminnya punya fasilitas untuk menulis resensi. Aku memang seorang pengangguran tapi aku senang membaca, bahkan aku mengkoleksi buku dari si penulis yang senang sekali senja itu.

Aku tuliskan semua kesan yang aku dapat dari semua buku yang pernah kubaca yang kebetulan ada di situs itu. Tidak banyak, tapi lumayan untuk memberikan kesan kalau situs ini ada yang menanggapinya sampai mungkin si Adminnya bilang "Thanks God, ada penulis resensi gratisan". Kau tidak mau bertanya padaku kenapa aku bisa menulis sebuah resensi? Aku pernah dapat nilai "A" untuk mata kuliah "Penulisan Artikel & Resensi Buku" dan aku juga punya buku bagaimana menulis sebuah resensi. Tapi apa pernah aku mengirim resensi itu ke media massa? Belum. Aku belum pernah mengirimkannya. Jadi, ketika ada kesempatan seperti saat ini maka aku menuliskan saja apa yang aku tahu.

*****

Aku sudah lupa kapan terakhir kalinya aku menulis resensi. Aku hanya ingin menghabiskan kuota internet ketika aku menyambangi situsnya Drs. Google dan menuliskan namaku. Well, that’s me. Congratulations.


Bukit Pakar Timur 100, 28 Agustus 2008, 18.27

Ada Lagi Yang Jatuh - Catatan Seorang Pilot

bangka pos


Satu hari dalam hidupku aku bisa tertawa lepas. Tertawa bukan karena sesuatu yang lucu. Tetapi karena peristiwa yang bodoh. Sore itu aku hanya diam di rumah dan membuka gablegzone.com, situs news & entertainment milik rekanan Selendang Corporation, ScarfMedia. Aku tertawa karena news update hari ini dipenuhi dengan headline yang seperti ini: 1) Sriwijaya Air yang Tergelincir Sudah Berusia Tua (Pesawat tua kok masih dipake, terus jatuh nyalahin umur, Aneh), 2) Gerimis, Sriwijaya Air Tergelincir di Jambi (Cuaca ikut disalahin! Aneh), 3) Pesawat Sriwijaya Tergelincir karena Rem Rusak (Nyalahin mekanik? Aneh). Aneh. Ada banyak sesuatu yang aneh.

Setelah dibaca, ternyata memang beritanya tidak cukup komprehensif, namun itulah sifat media sekarang apa lagi untuk media online dimana ketepatan dan kecepatan wartawan dalam menulis memang dituntut. Aku hanya tertawa, namun kemudian cukup tersenyum-senyum saja sendirian berteman segelas kopi aceh, biskuit, dan mantapnya Garfit. Aku membayangkan bahwa tidak hanya aku saja yang tertawa, tetapi juga para Bapak-bapak yang terhormat yang berada di Uni Eropa terutama itu tuh si Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso. Aku seakan-akan bisa mendengar tawa dan obrolan mereka yang membahana di ruangan kerja mereka masing-masing dan saling mengirim pesan melalui YM.

***

presiden : lihat tuh pesawat indonesia jatuh lagi.. ha ha ha

wapres : iya tuh masih sering jatuh, minta larangan dicabut,

presiden : iya, mana SBY sampe ngajak ketemuan di Istananya, udah liat beritanya? baca aja disini: http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/11/23/brk,20071123-112176,id.html

wapres : belum tuh, saya baca sekarang

ketua komisi transportasi eropa : pak presiden komisi, lihat 737 kissing the sawah lagi hwahahahaha

presiden : hahaha ini lagi dibahas juga

ketua komisi transportasi eropa : saya tambah lagi saja banned time nya ya ;)

presiden : setuju :-D

wapres : silakan, biar kapok sekalian, udah tau pesawat tua, masih dipake, punya Boeing pula, beli Airbus donk

ketua komisi transportasi eropa : iyah, biar kita nggak jadi PHK karyawan kaya Indonesian Aerospace a.k.a PT.DI itu, btw situ kenal menteri perhubungan Indonesia itu?

wapres : kenal deket sih nggak, cuma trek rekord nya saya tau

presiden : iyah, dia kan mantan direktur utamanya PT.DI yang lengser gara-gara didemo semua karyawannya

ketua komisi transportasi eropa : oh ya,?

wapres : emang bener Bos, kita udah ngintelin dia dari dulu, eh sekarang jadi menteri, apa kita mau percaya sama dia?

presiden : mimpin perusahaan aja didemo semua karyawannya, lha kok dipercaya mimpin departemen?

presiden : kalo ada yang jatuh selalu aja nyalahin cuaca, nggak mikir apa pilotnya yang salah

ketua komisi transportasi eropa : iyah, itu mahh pilotnya yang salah, kelebihan, nggak bisa liat titik tolak untuk landing, ya pasti mbreset gitu kan...

wapres : ho oh

presiden : iyah, pilotnya juga geblek, terus nyalahin pesawat tua, pesawat spain air yang kemaren kobong di madrid juga pesawat tua kan? tapi itu murni accident. at least, di eropa kita percaya deh maintenancenya, di indonesia? ntar dulu deh, eh diberita yang di geblegzone.com mereka nyalahin rem pula, emang landing ngerem ya, kalo gitumah remnya ngelock terus mbreset ya wajar toh...

ketua komisi transportasi eropa : lho.. pak presiden sudah diceritain sama si eks mekanik adam air itu toh?

presiden : sudah

*****

Kira-kira begitulah yang mereka bicarakan. Mereka bisa dengan puas melihat berita itu. Bahkan, salah satu dari mereka mungkin sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memperpanjang larangan terbang ke sana, ke Eropa. Harusnya aku ikut berduka, karena Selendang Air juga berbendera Indonesia dengan kode PK, yang tentu kena imbas larangan itu. Tapi, aku tidak ikut pusing. Aku sudah pernah melewati hadangan barikade Uni Eropa dengan pesawat yang kurang lebih sama dan tidak terjadi apa-apa dengan pesawatku. Aku masih bisa selamat. Buktinya kini aku masih bisa menulis catatan ini sambil menunggu Boeing 777-228ER yang baru itu selesai di maintenance di GMF.

Aku belum tahu bagaimana reaksi Selendang Merah bila membaca berita ini. Aku kira itu tidak penting. Tapi sebagai pemimpin perusahaan bolehlah dia berpikir sekali-kali tentang keselamatan penerbangan maskapainya. Hari ini hujan turun deras sekali, apakah sederas dengan yang kemarin turun di Jambi? Aku tidak tahu. Bukan urusanku. Sekarang aku hanya ingin duduk santai menikmati hujan,masih dengan kopi yang mengepul sambil menamatkan buku itu, "Negeri Kabut".


Bukit Pakar Timur 100, 28 Agustus 2008, 13.16


NB: Tadinya judul tulisan ini Ksatria dan Pesawat Jatuh, nah siapa ksatrianya?
*) Gambar diambil dari okezone.com courtesy of Bangka Pos

Rabu, 27 Agustus 2008

Dicari: Wali Songo - Catatan Seorang Pustakawan

Bung, siang ini ada kebetulan ada seorang tak dikenal dari Malaysia yang mengontak saya. Saya sudah tanyakan dia tahu saya dari mana namun tetap dia tak mau menjawab. Saya tidak kenal dia. Dia hanya bilang kalau dia tertarik untuk mempelajari sejarah Indonesia terutama tentang Wali Songo yang dia duga sebagai nenek moyangnya. Dari obrolan tadi saya tahu dia keturunan bangsa kita, Banjar-Aceh-Malaysia.

Sepanjang percakapan saya bisa tahu bagaimana interestnya terhadap sejarah bangsa kita. Ingat Bung, dia ini orang Malaysia, Negeri Jiran yang kebetulan satu rumpun dengan kita. Namun, saya heran kenapa dia memiliki ketertarikan terhadap Wali Songo sebagai bagian dari sejarah Indonesia (kalau memang ada). Apakah karena ia mempunyai rasa keterikatan dengan tanah leluhur nenek moyangnya? Saya kira itu benar adanya. Karena, dia minta berbagai referensi mengenai wali songo dan kalau perlu dipertemukan juga dengan ahli sejarah Indonesia. Alamak. Tidak salah? Sejarawan. Siapa sejarawan kita, Bung? Anhar Gonggong? Yang ini saya kenal karena ia cukup sering tampil di TV untuk acara film dokumenter sejarah. Selebihnya , siapa Bung? Tapi, karena saya seorang pustakawan, saya tidak terlalu khawatir. Saya yakin bisa membantu dia. Minimal mencarikan alamat kontaknya Sejarawan dari UI itu.

Sebagai pustakawan, yang pernah dapat nilai "A" untuk mata kuliah References & Resources Services tentu ini sebuah tantangan tersendiri untuk saya. Apakah terbayang oleh Bung apa yang selanjutnya saya lakukan? Googling. Ya, Drs. Google rupanya sudah cukup pintar untuk sekedar mencarikan referensi tentang Wali Songo. Disitu saya temukan link yang merujuk pada sebuah resources di Center for Southeast Asian Studies, Northern Illinois University, di negeri yang sedang diperebutkan oleh Obama dan McCain. Oh ya, karena saya pembaca Seno Gumira Ajidarma dan masih menjadi anggota milisnya, maka petunjuk pertama saya beri tahu dia tentang buku SGA yang judulnya "Wali Songo & Siti Jenar". Saya belum pernah baca bukunya, mudah-mudahan saja buku itu bertutur jelas tentang sedikit kisah Wali Songo. Yang lebih membuat saya menjadi lebih berarti adalah ketika saya berhasil menemukan alamat e-mail dari Anhar Gonggong yang langsung saya forward ke Orang Melayu itu. Rupanya, dia senang sekali dan tak terhitung berapa banyak terima kasih yang telah dia ucapkan. Kalau kita memang sedang berhadapan mungkin ekspresinya bakal mirip teman kita itu lho Pustakawan dari Sarang Perawat waktu dia lihat saya datang sambil membawa kamera digital.

Begitulah Bung, cerita kejadian siang ini. Sejarah, telah menjadi tema hari ini. Sejarah, sudah berapa jauh kita belajar tentangnya?


Salam dari Bukit,



Bukit Pakar Timur 100, 27 Agustus 2008, 13.35

Selasa, 26 Agustus 2008

Seorang Lelaki dan Pantai

Bung, pagi ini rasanya tidak ada yang berbeda kecuali koleksi akuarium saya yang bertambah. Bagaimana Bung, apakah koleksi perpustakaan anda bertambah juga? Punya buku tentang merawat ikan arwana? Kalau ada, barangkali setelah saya gajian, saya mampir ke perpustakaan anda. Semuanya terlihat biasa saja sampai saya membaca surat dari anda di e-mail saya. Sebuah surat yang mirip catatan anda untuk melangkah pasti setelah setengah dasawarsa mengenal dia.

Bung, masih ingat kan sama kawan kita yang minggu kemarin merayakan dirinya sebagai belut jantan yang akan segera menjelma menjadi ular kobra dengan menyunting seorang mojang Garut yang senang sama lagu dangdut "Wakuncar" itu. Rasanya, belum lama setelah dia melakukannya di Garut anda pun melakukan hal yang sama pada seorang perempuan yang berumah di tepi pantai. Sebuah pantai yang pernah porak-poranda karena Tsunami beberapa waktu yang lalu.

Tulisan anda benar-benar membuat saya kagum atas keberanian atas pilihan yang anda ambil. Bukan tanpa resiko tetapi benar-benar membuktikan suatu kesungguhan atas pilihan untuk menggenapkan setengah dari Agama-Nya. Saya hampir tidak bisa berkata-kata. Kalau boleh menangis saya tentu akan menangis bahagia dengan air mata bahagia pula yang takkan berlanjut jadi duka.

Saya kagum pada anda. Anda tidak banyak berkata-kata. Anda mungkin punya rencana, tapi anda hanya bisa berkata menjelang keberangkatan dengan kaus kaki yang belang itu. Anda mungkin hanya menunggangi bus kencana ke arah pantai itu. Anda tidak berangkat dengan keangkuhan dari sebuah Mercy, Camry, Innova atau bahkan Avanza sekalipun. Anda berangkat dengan niat yang tulus untuk sebuah pengharapan yang akan anda labuhkan di pantai itu.

Membaca tulisan anda membuat saya tidak bisa berharap apa-apa lagi tentangnya. Semua yang pernah saya ceritakan pada anda dan dia tentu sejak saat ini hanya akan menjadi omong kosong belaka. Omong kosong yang membuat saya malu karena saya tidak (baca:belum) bisa membuktikannya. Omong kosong itu mungkin layaknya semua omong kosong yang ditulis oleh Togog dalam buku Seno Gumira Ajidarma yang sempat saya ceritakan kemarin.

Mungkin waktu saja yang belum berpihak pada saya. Apapun itu, saya rela dan saya terimakan. Tetapi khusus untuk Bung, tentu saya berharap yang terbaik untuk anda dan dia. Semuanya. Semoga apa yang telah anda rencanakan berjalan lancar dan berada di bawah naungan Ridho-Nya. Semoga anda berhasil menemukan senja yang tidak pernah pudar di pantai tanah suci anda itu.

Salam dari Bukit,


Bukit Pakar Timur 100, 26 Agustus 2008, 15.27

NB: Semua armada darat & pesawat Selendang Air sedang dimaintenance jadi maaf tidak bisa ikut mengantar


*) teruntuk seorang sahabat, Acep & Ima, anda inspirasinya


Minggu, 24 Agustus 2008

Surat untuk Tuan

Tuan, apakah Tuan tahu yang membuat hidup Tuan jadi lebih berarti?

Adalah ketika ide dalam tulisan Tuan dibaca seseorang dalam bentuk apapun, entah buku, atau blog sekalian
Adalah ketika pengalaman Tuan dijadikan guru oleh orang lain tanpa sepengetahuan Tuan
Adalah ketika seseorang bertanya tentang pilihannya pada Tuan, dan Tuan memberikannya pilihan yang terbaik untuknya
Adalah ketika passing yang Tuan sodorkan menjadi sebuah gol
Adalah ketika seseorang mempercayakan sesuatu kepada Tuan untuk ditunaikan dengan baik hingga selesai
Adalah ketika seseorang menaruh rahasianya pada Tuan dan Tuan tetap menyimpannya dalam palung hati terdalam sehingga tak ada seorang pun yang tahu-Kecuali Tuhan dan Tuan saja
Adalah ketika seseorang menangis dan bersandar di bahu Tuan, dan Tuan berkata, "berceritalah, semua akan baik-baik saja.."
Adalah ketika seorang pengemis yang menengadahkan tangannya pada Tuan, lalu berlalu dengan untaian do'a
Adalah ketika setiap seratus yang Tuan berikan menjelma menjadi sepuluh ribu kebaikan
Adalah ketika perut-perut yang lapar itu terisi kembali
Adalah ketika mulut-mulut yang haus kembali terisi air lembah Sungai Nil
Adalah ketika setiap untaian kata mengalir menjadi rangkaian nada pujian syukur
Adalah ketika derai air mata yang mengalir kala sepertiga malam sunyi
Adalah ketika kening bersujud di bawah matahari Dhuha
Adalah ketika semua yang Tuan miliki kembali pada-Nya

Tuan, sudah saatnya Tuan lebih memaknai hidup Tuan sendiri.


Bukit Pakar Timur 100, 24 Agustus 2008, 14.10



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...