Kamis, 25 Desember 2014

H-2

It's getting closer. I didn't even remember  what really happened in past years. Come away with me. The best is yet to be. 


Pharmindo, 25 Desember 2014. 

Minggu, 14 Desember 2014

BAJAK JAKARTA 2014

Sudah hampir dua bulan ini saya tidak mengikuti lomba lari. Terakhir, lomba yang saya ikuti adalah Mandiri Run Bandung bulan Oktober lalu. November, saya tidak ada dalam barisan starter di lomba lari manapun. Desember ini, saya mengikuti Nike Indonesia #BAJAKJKT 2014 sebagai lomba pamungkas, at least untuk tahun ini. 

TIIS JAYA RUNNER VS JKT

Persiapan menuju #BAJAKJKT saya lalui dengan lari rutin mingguan, entah di Monas, Petojo, dan Pharmindo. Tidak hanya itu, #BAJAKJKT juga menyadarkan saya untuk mendiskusikan terlebih dahulu apa yang jadi keinginan saya ini bersama sang calon istri tercinta. Dua minggu lagi kami akan menikah, sehingga waktu mendaftar untuk menjadi Pembajak Jakarta saya kurang aware bahwa ia cukup khawatir dengan keputusan saya berlomba menjelang waktu pernikahan yang semakin dekat, kalau tidak mau dibilang menghitung hari.

Setelah melalui diskusi kecil di satu rumah makan di Bogor, saya mengambil satu keputusan. Saya berusaha untuk tidak memaksakan diri dengan latihan long run. Saya masih akan setia dengan usaha saya memperbaiki personal record dan menjaga pace di 5K run.

Courtesy: @IndoRunners

Raceday. Saya melintasi garis start #BAJAKJKT 10 menit setelah bendera start dikibarkan. Telat memang karena saya masih mengantri di toilet umum. Pengaruh dari badan yang kurang fit beberapa hari belakangan pun membuat saya lebih santai untuk tidak memaksa berlari kencang di 2,5 km pertama. Saya lebih santai dan berada di wave belakang. Barisan wave belakang ini diisi pelari kelas fun run sepertinya. Mereka masih bisa berfoto selfie, memakai tongsis sambil berlari, dan bahkan berfoto dengan bajaj yang ‘dihias’ YOU VS BAJAJ ala #BAJAKJKT.

Pengalaman berlari di wave seperti itu adalah yang pertama bagi saya. Terus terang saya kurang merasa nyaman. Saya khawatir terkena tongsis dan juga perlu gesa-gesi (geser sana, geser sini) untuk menyusul pelari di depan. Alhasil, karena saya memang tidak mau berlari dengan pace 6 saya harus berjuang menyesuaikan. Saya menyayangkan pelari yang tidak membaca dengan seksama prerace guide, dimana dinyatakan bahwa pelari yang lebih lambat harus berada di jalur kiri agar pelari yang lebih cepat bisa menyusul di jalur kanan. Imbasnya, banyak pelari yang lebih cepat perlu zig-zag untuk menyusul.

Courtesy: @IndoRunners

Saya cukup memaklumi bahwa saya memang berada di wave yang crowded. Berbeda dengan Panin 10K dimana saya berada di wave depan. Saya cenderung tidak memaksakan diri berlari cepat ketika memasuki 5+ km. Saya mencoba berlari santai saja, barangkali dengan berlari bisa menghangatkan badan dan melancarkan sirkulasi darah dan udara setelah didera meriang disko.
 


Menjelang finish, papan waktu menunjukkan 1 jam 20 menit, artinya ini adalah lari 10K terburuk saya. Apapun itu, saya tidak terlalu peduli. Yang jelas saya berhasil finish dengan kondisi badan yang tidak terlalu fit. Melintasi garis finish, saya melihat Ella sudah menunggu. Dari senyumnya saya tahu bahwa ia masih mengkhawatirkan kondisi saya. Setidaknya, setelah saya finish Ella tidak perlu lagi khawatir. I’ll be there for you, cause i know you’ll be there for me too.

RACE RESULT

1399/3523 runners in Male 25+ Category & 2213/5533 Male runners, lumayan masih setengah diatas.


Lapangan Banteng-Paninggilan, 13 Desember 2014.

Senin, 01 Desember 2014

Catatan Hati Pengantin

Barangkali benar, tidak ada yang bisa menyiapkan diri kita lahir batin sebelum memasuki gerbang pernikahan. Karena memang tidak pernah ada institusi pendidikan yang membekali seseorang untuk benar-benar siap mengarungi bahteranya.



Harus saya akui bahwa membaca buku bertema pernikahan adalah satu persiapan yang baik bagi calon pengantin. Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami gambaran perjalanan kehidupan pernikahan. Segenap jatuh bangun usaha, turun naik gelombang kehidupan, pasang surut kasih sayang, dalam keseharian pernikahan digambarkan disini.

Ada beberapa nama yang saya kenal yang berkontribusi dalam kumpulan cerita ini. Sebut saja, Novia Syahidah, penulis buku "Titip Rindu Buat Ibu" dan Sinta Yudisia yang juga penulis beberapa buku bestseller. 

Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata bila dibandingkan dengan buku bertema serupa "Sakinah Bersamamu", masih dari penulis yang sama. Ada sepuluh bab yang menghimpun keseharian kehidupan pernikahan. Dimulai dengan hal-hal yang utama dalam pernikahan, yaitu kesehatan dan perekonomian keluarga. Kemudian, perihal rindu terhadap pasangan dan pekerjaan rumah tangga pun jadi bab tersendiri. Selanjutnya, tidak kalah dalam penting adalah pentingnya memilih tempat tinggal serta adanya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan.

Memasuki bab-bab akhir, pembaca dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi situasional dalam pernikahan. Betapa komunikasi antar individu sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga pernikahan. Komunikasi yang terjalin pun tidak hanya dalam lingkup keluarga kecil saja, komunikasi dengan mertua dan kerabat juga menjadi fokus yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Hingga akhirnya, ditutup oleh bab mengenai kehilangan yang disebabkan oleh maut.

Pada setiap akhir bab, ada satu konklusi sebagai bahan renungan dari penulis. Perbandingan pengalaman penulis dan para pengisi cerita menjadi satu nilai plus tersendiri. Saya mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya jadi lebih sadar akan hal-hal yang akan saya hadapi dalam kehidupan pernikahan nanti. Terakhir, saya berterima kasih karena buku ini telah membantu saya menghadapi berbagai kekhawatiran menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 30 November 2014.

Kamis, 27 November 2014

Surat dari Sanur (3)




My Dearest Ella,

Today must be a long long day for you. Saya tidak tahu apakah engkau sudah sampai ke Jakarta ketika surat ini mulai ditulis. Sejak kereta rel listrik Jakarta - Bogor selalu menyanyikan lagu yang sama. Kereta tiba pukul berapa...

Saya terbangun pagi ini dengan kalender yang menunjukkan tanggal 27 November. Tidak ada apa-apa memang dengan tanggal ini. Hanya saja, ketika saya terduduk lesu penuh kantuk di kloset, tiba-tiba saya teringat pada rencana kita satu bulan lagi sejak hari ini. Hari pernikahan kita semakin menjelang. Bagai gelombang yang menghantam karang.

Siang tadi hujan deras mengguyur Bedugul. Saya tidak mendapatkan apa-apa disana selain basah. Kami hanya menemani rekan kami dari Bhutan itu. Mereka ingin pergi ke tempat eksotis seperti itu. Saya melihat rona bahagia dari pancaran sinar mata mereka. Mereka nampak berbahagia walau hujan deras enggan berhenti sejenak. Keindahan danau yang dikelilingi Pura ini tertutup kabut pula. Mirip Situ Patenggang di Ciwidey sana.

Menjelang sore, kami pergi lagi ke Tanah Lot. Tanah Lot jadi satu tempat lagi yang ingin mereka kunjungi. Dawa menunjukkan foto-foto Tanah Lot hasil Googling kemarin. Ia minta tolong agar saya dan Pak Bambang bicara pada panitia agar diberikan waktu untuk berkunjung kesana. Akhirnya, kami pun pergi kesana. Hujan sudah reda. Namun senja seperti di Sanur kemarin memang langka adanya. Awan tebal yang entah kumolonimbus atau stratokumulus menghalangi keindahan senja. 

Malam ini, bulan sabit bersinar terang. Seperti menggantung di atas lautan tenang. Saya tidak tahu apakah engkau disana memandangi bulan sabit yang sama di langit yang sudah terlalu tua. Saya berjalan-jalan sebentar di tepi pantai usai makan malam. Saya harus mengakui bahwa saya pun mengalami tekanan untuk menyiapkan hari pernikahan kita. 

Dolly Parton pernah bilang, "If you want the rainbow, you gotta put up with the rain." Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini kecuali lautan yang membelah ketika Musa menyeberanginya atas izin Tuhan. Jika kita ingin melihat pelangi di ujung sana, kita harus melalui dan membiarkan hujan berlalu terlebih dahulu. Saya berharap, apapun yang kita usahakan-dengan segala kekhawatiran-akan menjadi pengantar yang sempurna bagi pelangi di ujung senja. Nanti, satu putaran purnama lagi.

Seperti biasa, bersama surat ini juga saya kirimkan riak debur ombak yang menghantam karang di Tanah Lot. Rinduku, lebih dari itu.

Selamat malam kekasihku, semoga malam indah temani nyenyaknya tidurmu.

Penuh rindu,


Affectionately yours.


Tanah Lot-Sanur, 27 November 2014.
H-30

Rabu, 26 November 2014

Surat dari Sanur (2): Episode Senja



Selamat malam kekasihku,

Akhirnya, saya menjumpai senja pertama di Sanur. Tadi pagi hujan deras dan siang begitu panas. Usai kelas sore tadi, saya berlari seperti biasa. Kemudian, masih dengan keringat yang bercampur asin laut, senja tiba perlahan. Mendekatkan cahayanya yang selalu menimbulkan perasaan ajaib. 

Rasanya, saya tidak perlu jadi seorang Sukab. Menggunting sepotong senja untuk kemudian mengirimkannya pada satu yang terkasih, Alina. Saya rasa saya tidak akan melakukannya untukmu. Bahaya besar akan menimpa umat manusia bila sampai senja di Sanur saya gunting dan paketkan supaya engkau bisa memajangnya di meja kerjamu. 

Cintaku,

Hari ini semua modul sudah selesai disampaikan. Artinya, tugas instruktur sudah selesai walau masih harus memeriksa ujian Jum'at esok. Percayalah, bahwa aku pun sebenarnya ingin pulang saja dan segera menemuimu. Berbincang santai denganmu seraya menyelesaikan semua persiapan untuk pernikahan kita nanti yang tinggal menghitung satu purnama lagi. 

Senja ini menuntun pada lamunan tentangmu. Sejauh mana pun saya berlari, ia akan selalu menuntun kepadamu. Saya memang terlalu angkuh untuk mampu menuturkan kata lewat jaringan Indosat. Tapi jangan sekali-kali engkau pikir aku tidak pernah ingin berusaha ada di dekatmu. Membenarkan letak kerudungmu sambil menemanimu minum teh. Ya, kalimat itu tadi sengaja saya adaptasi dari puisi Soe Hok Gie. Beruntung kita masih diberkahi dua jemari yang sehat untuk memijat layar sentuh yang juga ajaib itu. 

Ella yang baik,

Sejenak saya termenung di hadapan laut yang membentang. Langit masih berwarna keunguan. Laut yang terhampar dan bergelora itu mengajari saya bercermin. Tubuh kita ini hanya perahu pada dunia dan angin waktu. Entah, suasana senja yang selalu menghadirkan perasaan menakjubkan ini membuat diri saya terkesiap dan tiba pada pikiran seperti itu. Entah apa maknanya, saya harap Ella mengerti, satu saat nanti. 

Disini, saya kirimkan juga potret senja sore tadi. Kiranya, engkau mampu menafsirkan sendiri senja macam apa yang mampu menenangkan dalam riak gelisah berulang. Apakah senja serupa dengan kesedihan yang sama, bila hanya untuk dinikmati sendirian?

Penuh cinta dan peluk hangat,


Afrectionately yours. 



Sanur, 26 November 2014. 
Teringat pada cerpen "Sepotong Senja Untuk Pacarku"

Selasa, 25 November 2014

Surat dari Sanur




Dear Ella,

Belahan jiwaku, apa kabarnya engkau disana? Apa ada bedanya satu purnama di langit Jakarta dengan di Sanur? Walaupun bulan belum purnama, bayangkan saja pertemuan Cinta dan Rangga yang ternyata tidak lagi shooting di Soekarno-Hatta. Seperti halnya demam Korea,  mereka juga shooting di Incheon Airport. Satu airport hebat di benua kita ini. Saya mengalaminya sendiri. Engkau pun tahu itu.

Denting waktu rupanya berjalan merambat cepat di Sanur. Matahari terbit lebih awal. The sunrise always reminds me of you. Merekah seolah senyum yang menyapa pagi saya disini. 

Saya belum mencoba lari pagi disini. Tapi kemarin sore, saya sudah berlari di sekitar pantai. Tak perlu repot, saya hanya perlu pergi berlari lewat belakang hotel. 

Perlu Ella tahu, keringat saya disini bercampur dengan angin laut. Radanya sedikit asin. Bila engkau disini, pasti tahu macam apa aroma badan saya ini. 

Hari ini saya dibuat percaya lagi bahwa hukum tabur tuai itu ada. Dua tahun lalu, saya dengan gagahnya menjadi seorang perwakilan untuk mengikuti training SMS di Medan. Tinggal di kamar deluxe hotel bintang lima selama seminggu. Saya tidak pernah menyangka bahwa setahun kemudian saya menjadi seorang fasilitator di training serupa. 

Tahun ini, saya dipercaya untuk menjadi instruktur. Saya diberi tanggung jawab untuk menyampaikan tiga modul materi. Hazards, SMS Introduction, dan SMS Regulations. Seorang rekan sekelas alumni Medan dua tahun lalu juga ikut jadi instruktur. Kami bertiga berusaha memberi apa yang kami tahu sekaligus menambah jam terbang. 

Malam ini, diiringi nyanyian desir lembut ombak di pantai, saya merenungi hal ini. Kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa nasib waktu. Kita tidak pernah tahu kemana angin berhembus. Persimpangan takdir telah membawa saya pada sebuah pengalaman. Seperti yang sedang saya alami saat ini. 

Ella yang baik,

Usai percakapan kita malam ini, ada sesuatu yang tidak pernah bisa saya bendung. Rindu. Rindu pada binar mata juga hangat senyummu. Kelak, itulah yang akan selalu membawa saya pulang. 

Seperti kata seorang penyair, rindu adalah belajar memeluk, sekalipun tak nampak di pelupuk. Izinkanlah saya mengakhiri surat ini dengan sebuah pelukan paling hangat. Semoga mampu menghangatkan malam di peraduanmu usai hujan di langit Jakarta yang tak pernah tua. 


Peluk rindu,



Affectionately yours. 



Sanur, 25 November 2014. 
dihujam rindu, di pinggir pantai. padamu

Kamis, 13 November 2014

The Joseon Shooter


Satu drama lagi setelah Emergency Couple yang menemani malam saya di Incheon adalah The Joseon Shooter. Drama ini juga dikenal dengan judul Gunman in Joseon. Selama di Incheon saya menghabiskan dua episode awal drama sepanjang 22 episode ini. Yang saya ingat pada akhir episode kedua, Park Yoon Kang tertembak pasukan kerajaan yang mengejarnya. Dari preview episode ketiga, Park Yoon Kang kembali ke tanah airnya dengan penampilan dan identitas yang berbeda. Ia terlihat mahir menggunakan pistol.

Park Yoon Kang diperankan oleh Lee Joon Ki, yang sebelumnya juga bermain dalam drama romantis bercorak kolosal “Ahrang and The Magistrate” bersama Shin Min Ah. Sedangkan, Nam Sang Mi yang jadi lawan main Lee Joon Ki, memerankan Jeong Soo In.

Pada konferensi pers saat drama ini dirilis, Lee Joon Ki mengaku tidak mengalami kesulitan berarti selama proses pengambilan gambar. Ia mengaku tidak dibebani karena harus mengenakan hanbok selama waktu shooting. Berbeda dengan Nam Sang Mi yang agak kesulitan karena harus menggunakan hanbok setiap saat. “Ahrang and The Magistrate” kiranya membuat Lee Joon Ki lebih mudah beradaptasi. Apalagi, tempat shooting yang sama dengan The Joseon Shooter semakin membuatnya leluasa.   


The Joseon Shooter mengangkat cerita pada satu linimasa di Korea (Joseon) dimana penggunaan pedang sebagai alat peperangan dan pertahanan diri sudah mulai ditinggalkan. Pengaruh masuknya Amerika Serikat ke Jepang turut mendorong penggunaan pistol dan senapan laras panjang sebagai senjata. Pengaruh penggunaan senjata di ketentaraan Dinasti Qing (China) juga turut mendorong Joseon untuk mulai meninggalkan pedang sebagai senjata utama.

Pada masa itu,  Joseon mengalami masa pancaroba dalam bidang pemerintahan dimana kaum reformis bersengketa dengan kaum konservatif yang berkuasa di parlemen. Hubungan kelompok konservatif juga mendapat dukungan dari para pedagang untuk melancarkan jalan mereka dalam menguasai perdagangan di seluruh negeri. Ketegangan ini menyebabkan terbunuhnya beberapa pemuka kaum reformis yang ditembak oleh penembak gelap. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kubu reformis. Kerajaan pun segera bertindak untuk menemukan pelaku penembakan.

Ayah Park Yoon Kang, Park Jin Ha sebagai Kepala Pengawal Kerajaan mendapatkan tugas dari Raja untuk memburu penembak misterius. Dalam perjalanannya, ia sempat berhadapan langsung dengan si penembak misterius. Ia juga mendapat beberapa kali kesempatan untuk membunuh si penembak. Karena jalan cerita drama ini masih panjang, maka Park Jin Ha terbunuh dalam duel dengan si penembak.

Kematian ayahnya membuat Park Yoon Kang ingin membalas dendam pada si penembak misterius. Belum sempat bertindak, kubu konservatif berhasil mempengaruhi Raja dan menganggap Park Jin Ha sebagai pengkhianat kerajaan. Hal itu menyebabkan Park Yoon Kang sekeluarga mendapat hukuman. Dalam pelariannya bersama Soo In, Yoon Kang tertembak ketika berusaha kabur melalui jalur laut.

Nam Sang Mi <3 br="">

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Soo In yang mulai menumbuhkan perasaan pada Yoon Kang. Begitu juga dengan Yoon Kang. Usai tertembak, tidak ada yang tahu kemana Yoon Kang pergi. Hingga suatu saat satu kapal Jepang berlabuh di Joseon. Nampak seorang yang mirip Yoon Kang menembak pelaku kerusuhan di pelabuhan. Sebuah comeback yang dramatis, IMO.

Yoon Kang kembali ke Joseon dengan identitas sebagai Hasegawa Hanjo, pedagang dari Jepang yang bertugas menjalin hubungan dengan pedagang dari Joseon. Kesempatan ini sengaja ia manfaatkan untuk mencari tahu siapa penembak yang membunuh ayahnya. Agenda lainnya, ia harus menemukan adiknya yang dijual menjadi budak.

Choi Won Sin VS Hasegawa Hanjo

Selama masa tinggal di Joseon, Hanjo banyak berinteraksi dengan kepala kelompok pedagang terkemuka, Choi Won Sin. Keduanya saling curiga. Hanjo menaruh curiga karena Choi Won Sin mempunyai luka di tangan kirinya seperti yang diceritakan ayahnya usai bertarung dengan si penembak. Choi Won Sin pun mencurigai Hanjo sebagai Yoon Kang yang menyamar.

Soo In dan adik Yoon Kang merasa kaget ketika menemui Hanjo. Keduanya menganggap Hanjo adalah Yoon Kang. Pergolakan dalam batin Yoon Kang tidak tertahankan. Tapi demi membalas dendam atas kematian ayahnya, ia menguatkan dirinya sendiri agar tidak terbawa emosi. Soo In pun meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu saat Yoon Kang akan kembali dan kelak mereka akan bisa hidup bersama tanpa ada rasa khawatir seperti saat ini.

Hanjo sendiri merancang beberapa skenario dalam usahanya untuk menemukan si penembak misterius yang tak lain adalah Choi Won Sin. Kubu konservatif yang berada di belakang Won Sin selalu mendesaknya untuk segera menghabisi siapa saja yang menghalangi langkah mereka. Namun, revolusi selalu menelan anaknya sendiri. Sang pemimpin konservatif akhirnya mati ditangan Won Sin karena ia sudah tidak tahan atas perintahnya.

Choi Won Sin & Choi Hye Won

Won Sin sendiri mendapat dukungan dari Wakil Perdana Menteri untuk membuat Departemen Perdagangan. Dengan begitu, ia dapat menguasai perdagangan di seluruh negeri. Intrik-intrik politik dan kekuasaan semakin merajalela karena Raja pun tidak mampu berbuat apa-apa. Raja sendiri merasa berhutang budi pada Won Sin dan anaknya, Choi Hye Won, yang menyelamatkan Raja ketika terjadi pemberontakan yang didalangi kaum reformis.

Setelah melalui berbagai usaha, akhirnya identitas Yoon Kang terungkap. Ia kembali jadi buronan kerajaan. Puncaknya, Yoon Kang berhadapan langsung dengan Won Sin, si pembunuh ayahnya. Keduanya sengaja bertemu untuk duel. Yoon Kang berhasil melumpuhkan Won Sin dan punya kesempatan untuk membunuhnya. Park Yoon Kang tidak membunuh Choi Won Sin. Ia merasa tidak ada gunanya. Ayahnya pun tidak akan kembali dengan kematian Choi Won Sin. Choi Won Sin pun bunuh diri. Seperti dapat ditebak, Park Yoon Kang dan Jeong Soo In kembali bersatu.

Catatan Seorang Penulis Dadakan



Drama sepanjang 22 episode ini berhasil dalam membangun karakter tokoh-tokoh pemerannya. Hanya saja, plot menjadi bercabang ketika intrik politik dan kekuasaan menjadi sentral jalan cerita. Walau begitu, benang merah yang terjalin antar konflik balas dendam dengan intrik-intrik tersebut kembali mewujud dalam rangkaian cerita yang happy ending, sebagaimana drama romantis pada umumnya.

Walaupun kecenderungan untuk menumbuhkan perasaan ‘heartwarming’ tidak begitu kuat kiranya pelajaran utama dari The Joseon Shooter adalah cinta kasih dan pengorbanan. Tak terhitung berapa kali sudah Yoon Kang membahayakan dirinya demi menyelamatkan orang-orang terdekatnya. Pun, Choi Won Sin yang sangat menyayangi Hye Won dan tidak ingin nasib buruk mereka di masa lalu terulang.

Sulit untuk memilih scene mana yang jadi pilihan favorit saya. Seperti Shin Min Ah, Nam Sang Mi berhasil merebut perhatian saya (karena sepenuh hati ini sudah jadi milik @farida_ella :D ). Aktris berusia 30 tahun ini mempunyai karakter yang kuat, terlihat pada adegan dimana Soo In dan ayahnya diinterogasi oleh Mahkamah Kerajaan. Soo In yang kesakitan terlihat tegar menghadapi dera dan siksa.

Personally, drama ini sukses membuat perasaan penonton seperti saya turun naik. Saya suka dengan intensitas cerita dalam drama yang saya tamatkan selama kurang lebih dua minggu. Naik turunnya cerita ini adalah buah dari pengembangan karakter masing-masing tokoh. Ceritanya pun tidak selalu bertutur tentang bagaimana sebuah revolusi berlangsung dan bagaimana dendam yang berhasil dibalaskan.

The Joseon Shooter punya ending yang tidak terlalu sulit ditebak. Pada akhirnya, kebaikan akan selalu menang. Revolusi selalu memakan anaknya sendiri, begitulah yang terjadi dengan kaum konservatif yang berusaha mempertahankan status quo. Dari sisi sejarah, drama kolosal ini memberikan wawasan tentang kondisi geopolitik di poros semenanjung China-Korea-Jepang saat itu serta implikasi masuknya pengaruh Barat dalam kehidupan masyarakat mereka.

Akhirul kalam, The Joseon Shooter layak dinikmati oleh kalangan remaja hingga dewasa. Banyak hikmah dan pelajaran tata negara yang bisa diambil dari drama ini. Tuntutlah ilmu walau hanya dari sepenggal drama Korea, kiranya tidak terlalu salah.

 
Judul         : The Joseon Shooter
Pemeran   : Lee Joon Ki – Park Yoon Kang; Nam Sang Mi – Jeong Soo In; 
                   Jeon Hye Bin – Choi Hye Won; Yoo Oh Seong – Choi Won Sin; 
                   Han Juwan – Kim Ho Kyeong
Durasi        : 22 Eps
Produksi    : KBS

 
Medan Merdeka Barat, 13 November 2014.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...