Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Tiga Negeri (1)

If travel teach us how to see, why all I see is you? (Anonim)

Prolog

Konon, cara terbaik untuk mengetahui karakter seseorang adalah dengan melakukan perjalanan bersama. Beberapa hari menjelang hari pernikahan, kami memutuskan untuk tidak menikmati liburan dengan hanya berdiam diri ‘mager’ di rumah. Terlalu sayang bila kesempatan ini dibiarkan berlalu begitu saja. Dengan begitu, maka proses pengenalan kami sebagai suami-istri akan semakin intens. Untuk saya dan Ella hal ini tentu jadi satu pengalaman baru mengingat perjalanan kami ini melintasi beberapa negara. Tentu dengan beberapa kesulitannya sendiri. Let’s see how we solve those problems on the road.

Selasa, 23 Desember 2014, di sela-sela waktu training, saya mencoba mencari tiket penerbangan ke beberapa negara tetangga sambal berharap mendapat tiket promo atau harga yang pantas. Saya sendiri sangat paham bahwa merencanakan perjalanan untuk akhir tahun harus dibuat jauh hari sebelumnya. Saya berharap punya sedikit keberuntungan untuk mendapatkan tiket murah (dengan harga yang realistis tentunya) untuk ‘liburan dadakan’ kami.

Saya sempat sedikit patah harapan karena tidak ada penerbangan yang harganya sesuai dengan budget kami. Rencana pun kami rubah dengan melakukan perjalanan jarak dekat saja. Menatap senja di puncak Semeru jadi pilihan kami. Saya belum setuju dengan ide Ella itu sampai saya teringat sebuah iklan yang dipasang di satu perempatan jalan. Crash, boom, bang! Yeap, saya mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia tujuan Bandung-Batam PP untuk 2 orang. Let’s go abroad, darling!

Masih dengan jantung yang berdebar usai menuntaskan pembayaran lewat kartu kredit, saya segera mengirim copy email e-ticket ke Ella. Tak lupa seraya mengingatkan Ella untuk membooking hotel di kota-kota yang akan jadi tujuan kami. Saya bersyukur, Ella segera mendapatkan konfirmasi hotel via booking.com. Again, that’s how credit card saves your life! Itinerary sudah didapat dan kami masih harus bersabar karena hari pernikahan masih pada akhir pekan ini. At least, kami sudah punya kepastian kemana kami akan pergi menghabiskan sisa hari libur akhir tahun sekaligus merayakan tahun baru 2015.

30 Desember 2014: The Departure



Hari pernikahan kami, 27 Desember, telah berlalu. Beberapa kerabat sudah pulang kembali ke kampong halaman untuk memulai hari kembali. Sementara, kami juga masih harus membereskan beberapa hal seperti mengembalikan busana adat beserta perlengkapannya. Saya dan Ella sendiri cukup disibukkan dengan mengatur penyimpanan hadiah dari undangan yang hadir.

Persiapan keberangkatan pun kami buat sesederhana mungkin. Selain pakaian, saya membawa perlengkapan standar wajib traveling seperti kamera, tongsis, dan tripod. Saya pun tidak jadi membawa perlengkapan lari walaupun sebenarnya ingin membuat personal record lari di tiga negara berbeda.

Selasa ini kami menyelesaikan pengembalian beberapa perlengkapan busana adat ke satu alamat yang berada di dekat rumah nenek saya. Saya dan Ella langsung siap-siap membawa perlengkapan dan perbekalan untuk perjalanan kami. Kami minta diturunkan di Bandara Husein Sastranegara.

Usai pamit, kami segera menuju ke counter check-in dan menemukan pintu masuk kesana ramai oleh para pengantar yang ingin ikut masuk ke dalam area keberangkatan. Untuk yang satu ini, Indonesia Banget! Kami lantas pergi sholat dulu di mushola. Antrian masih memanjang ketika saya dan Ella akan masuk. Rupanya, masih banyak pengantar yang keukeuh ingin masuk walau sudah dihadang petugas.

Sesampainya didalam, kami menuju meja petugas check-in Garuda Indonesia. Pesawat kami belum tiba. GA336 yang akan membawa kami ke Batam masih dalam perjalanan menuju Bandung dari Denpasar. Selama menunggu, kami mampir ke Starbucks dan memesan Green Tea. Rasanya sangat special karena ini adalah pengalaman pertama istri saya dengan Starbucks :D.

Tak lama setelah minuman kami habis, pesawat Boeing 737-800 PK-GMN parkir di apron dan penumpang dipersilakan naik. Tepat pukul 14.55 pesawat mendaki langit ke arah barat, menuju horizon tanpa batas. Seperti biasa, saya segera menyalakan perangkat inflight entertainment dan memilih lagu-lagu pilihan untuk menemani perjalanan.

Perjalanan dengan Garuda Indonesia ini juga dari pengalaman pertama Ella. Maka, saya tidak keberatan untuk mengajarinya beberapa cara menggunakan perangkat hiburan. Ketika Ella mulai mahir kami pun sibuk dengan hiburan kami masing-masing. Kami sempat agak khawatir dengan penerbangan ini karena factor cuaca yang jadi satu contributing factor pada kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami pun makan siang diatas ketinggian 37.000 kaki dengan kabin yang bergoyang.

Batam!

Kami landing di Bandara Hang Nadim Batam pukul 16.40, tepat waktu sesuai jadwal. Sebelum menuju pintu keluar, kami mampir dulu di counter tiket Batam Fast untuk membeli tiket penyeberangan ferry ke Harbourfront, Singapura, esok hari. Sebagai catatan, saya menghemat Rp. 150.000,- dengan membeli tiket disini. Harga tiket di Sekupang atau Batam Center adalah Rp. 450.000,- pulang-pergi include tax. Saya membayar dua tiket dengan harga Rp. 600.000,- include pajak dengan pemilihan jadwal yang fleksibel pulang-pergi. Saya sarankan untuk membeli di counter bandara saja bila ingin menyeberang ke negerinya Lee Kuan Yew, praktis dan hemat.

Kami segera menuju hotel tempat kami akan menginap, Formosa Hotel. Pada kunjungan pertama saya ke Batam bersama rekan-rekan sepekerjaan, kami pun menginap di hotel ini. Letaknya yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan Nagoya memudahkan kami untuk membeli sekedar bekal untuk perjalanan besok sekalian jalan-jalan sebentar.

Kami menghemat tenaga untuk besok dengan harapan bisa menjelajahi Negeri Singa seharian penuh menjelang malam pergantian tahun masehi. Kami menikmati malam yang semarak di Batam. Suasana tahun baru sudah terasa. Semoga tahun baru membawa pengalaman baru bagi kami.


Batam, 30 Desember 2014.

Sabtu, 10 Januari 2015

The Day We Find Love (Once Again)

I finally found someone, someone to share my life...
I finally found the one, to be with every night...
My life has just began, i finally found someone...






Bandung, 27 Desember 2014.

Kamis, 25 Desember 2014

H-2

It's getting closer. I didn't even remember  what really happened in past years. Come away with me. The best is yet to be. 


Pharmindo, 25 Desember 2014. 

Minggu, 14 Desember 2014

BAJAK JAKARTA 2014

Sudah hampir dua bulan ini saya tidak mengikuti lomba lari. Terakhir, lomba yang saya ikuti adalah Mandiri Run Bandung bulan Oktober lalu. November, saya tidak ada dalam barisan starter di lomba lari manapun. Desember ini, saya mengikuti Nike Indonesia #BAJAKJKT 2014 sebagai lomba pamungkas, at least untuk tahun ini. 

TIIS JAYA RUNNER VS JKT

Persiapan menuju #BAJAKJKT saya lalui dengan lari rutin mingguan, entah di Monas, Petojo, dan Pharmindo. Tidak hanya itu, #BAJAKJKT juga menyadarkan saya untuk mendiskusikan terlebih dahulu apa yang jadi keinginan saya ini bersama sang calon istri tercinta. Dua minggu lagi kami akan menikah, sehingga waktu mendaftar untuk menjadi Pembajak Jakarta saya kurang aware bahwa ia cukup khawatir dengan keputusan saya berlomba menjelang waktu pernikahan yang semakin dekat, kalau tidak mau dibilang menghitung hari.

Setelah melalui diskusi kecil di satu rumah makan di Bogor, saya mengambil satu keputusan. Saya berusaha untuk tidak memaksakan diri dengan latihan long run. Saya masih akan setia dengan usaha saya memperbaiki personal record dan menjaga pace di 5K run.

Courtesy: @IndoRunners

Raceday. Saya melintasi garis start #BAJAKJKT 10 menit setelah bendera start dikibarkan. Telat memang karena saya masih mengantri di toilet umum. Pengaruh dari badan yang kurang fit beberapa hari belakangan pun membuat saya lebih santai untuk tidak memaksa berlari kencang di 2,5 km pertama. Saya lebih santai dan berada di wave belakang. Barisan wave belakang ini diisi pelari kelas fun run sepertinya. Mereka masih bisa berfoto selfie, memakai tongsis sambil berlari, dan bahkan berfoto dengan bajaj yang ‘dihias’ YOU VS BAJAJ ala #BAJAKJKT.

Pengalaman berlari di wave seperti itu adalah yang pertama bagi saya. Terus terang saya kurang merasa nyaman. Saya khawatir terkena tongsis dan juga perlu gesa-gesi (geser sana, geser sini) untuk menyusul pelari di depan. Alhasil, karena saya memang tidak mau berlari dengan pace 6 saya harus berjuang menyesuaikan. Saya menyayangkan pelari yang tidak membaca dengan seksama prerace guide, dimana dinyatakan bahwa pelari yang lebih lambat harus berada di jalur kiri agar pelari yang lebih cepat bisa menyusul di jalur kanan. Imbasnya, banyak pelari yang lebih cepat perlu zig-zag untuk menyusul.

Courtesy: @IndoRunners

Saya cukup memaklumi bahwa saya memang berada di wave yang crowded. Berbeda dengan Panin 10K dimana saya berada di wave depan. Saya cenderung tidak memaksakan diri berlari cepat ketika memasuki 5+ km. Saya mencoba berlari santai saja, barangkali dengan berlari bisa menghangatkan badan dan melancarkan sirkulasi darah dan udara setelah didera meriang disko.
 


Menjelang finish, papan waktu menunjukkan 1 jam 20 menit, artinya ini adalah lari 10K terburuk saya. Apapun itu, saya tidak terlalu peduli. Yang jelas saya berhasil finish dengan kondisi badan yang tidak terlalu fit. Melintasi garis finish, saya melihat Ella sudah menunggu. Dari senyumnya saya tahu bahwa ia masih mengkhawatirkan kondisi saya. Setidaknya, setelah saya finish Ella tidak perlu lagi khawatir. I’ll be there for you, cause i know you’ll be there for me too.

RACE RESULT

1399/3523 runners in Male 25+ Category & 2213/5533 Male runners, lumayan masih setengah diatas.


Lapangan Banteng-Paninggilan, 13 Desember 2014.

Senin, 01 Desember 2014

Catatan Hati Pengantin

Barangkali benar, tidak ada yang bisa menyiapkan diri kita lahir batin sebelum memasuki gerbang pernikahan. Karena memang tidak pernah ada institusi pendidikan yang membekali seseorang untuk benar-benar siap mengarungi bahteranya.



Harus saya akui bahwa membaca buku bertema pernikahan adalah satu persiapan yang baik bagi calon pengantin. Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami gambaran perjalanan kehidupan pernikahan. Segenap jatuh bangun usaha, turun naik gelombang kehidupan, pasang surut kasih sayang, dalam keseharian pernikahan digambarkan disini.

Ada beberapa nama yang saya kenal yang berkontribusi dalam kumpulan cerita ini. Sebut saja, Novia Syahidah, penulis buku "Titip Rindu Buat Ibu" dan Sinta Yudisia yang juga penulis beberapa buku bestseller. 

Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata bila dibandingkan dengan buku bertema serupa "Sakinah Bersamamu", masih dari penulis yang sama. Ada sepuluh bab yang menghimpun keseharian kehidupan pernikahan. Dimulai dengan hal-hal yang utama dalam pernikahan, yaitu kesehatan dan perekonomian keluarga. Kemudian, perihal rindu terhadap pasangan dan pekerjaan rumah tangga pun jadi bab tersendiri. Selanjutnya, tidak kalah dalam penting adalah pentingnya memilih tempat tinggal serta adanya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan.

Memasuki bab-bab akhir, pembaca dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi situasional dalam pernikahan. Betapa komunikasi antar individu sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga pernikahan. Komunikasi yang terjalin pun tidak hanya dalam lingkup keluarga kecil saja, komunikasi dengan mertua dan kerabat juga menjadi fokus yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Hingga akhirnya, ditutup oleh bab mengenai kehilangan yang disebabkan oleh maut.

Pada setiap akhir bab, ada satu konklusi sebagai bahan renungan dari penulis. Perbandingan pengalaman penulis dan para pengisi cerita menjadi satu nilai plus tersendiri. Saya mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya jadi lebih sadar akan hal-hal yang akan saya hadapi dalam kehidupan pernikahan nanti. Terakhir, saya berterima kasih karena buku ini telah membantu saya menghadapi berbagai kekhawatiran menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 30 November 2014.

Kamis, 27 November 2014

Surat dari Sanur (3)




My Dearest Ella,

Today must be a long long day for you. Saya tidak tahu apakah engkau sudah sampai ke Jakarta ketika surat ini mulai ditulis. Sejak kereta rel listrik Jakarta - Bogor selalu menyanyikan lagu yang sama. Kereta tiba pukul berapa...

Saya terbangun pagi ini dengan kalender yang menunjukkan tanggal 27 November. Tidak ada apa-apa memang dengan tanggal ini. Hanya saja, ketika saya terduduk lesu penuh kantuk di kloset, tiba-tiba saya teringat pada rencana kita satu bulan lagi sejak hari ini. Hari pernikahan kita semakin menjelang. Bagai gelombang yang menghantam karang.

Siang tadi hujan deras mengguyur Bedugul. Saya tidak mendapatkan apa-apa disana selain basah. Kami hanya menemani rekan kami dari Bhutan itu. Mereka ingin pergi ke tempat eksotis seperti itu. Saya melihat rona bahagia dari pancaran sinar mata mereka. Mereka nampak berbahagia walau hujan deras enggan berhenti sejenak. Keindahan danau yang dikelilingi Pura ini tertutup kabut pula. Mirip Situ Patenggang di Ciwidey sana.

Menjelang sore, kami pergi lagi ke Tanah Lot. Tanah Lot jadi satu tempat lagi yang ingin mereka kunjungi. Dawa menunjukkan foto-foto Tanah Lot hasil Googling kemarin. Ia minta tolong agar saya dan Pak Bambang bicara pada panitia agar diberikan waktu untuk berkunjung kesana. Akhirnya, kami pun pergi kesana. Hujan sudah reda. Namun senja seperti di Sanur kemarin memang langka adanya. Awan tebal yang entah kumolonimbus atau stratokumulus menghalangi keindahan senja. 

Malam ini, bulan sabit bersinar terang. Seperti menggantung di atas lautan tenang. Saya tidak tahu apakah engkau disana memandangi bulan sabit yang sama di langit yang sudah terlalu tua. Saya berjalan-jalan sebentar di tepi pantai usai makan malam. Saya harus mengakui bahwa saya pun mengalami tekanan untuk menyiapkan hari pernikahan kita. 

Dolly Parton pernah bilang, "If you want the rainbow, you gotta put up with the rain." Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini kecuali lautan yang membelah ketika Musa menyeberanginya atas izin Tuhan. Jika kita ingin melihat pelangi di ujung sana, kita harus melalui dan membiarkan hujan berlalu terlebih dahulu. Saya berharap, apapun yang kita usahakan-dengan segala kekhawatiran-akan menjadi pengantar yang sempurna bagi pelangi di ujung senja. Nanti, satu putaran purnama lagi.

Seperti biasa, bersama surat ini juga saya kirimkan riak debur ombak yang menghantam karang di Tanah Lot. Rinduku, lebih dari itu.

Selamat malam kekasihku, semoga malam indah temani nyenyaknya tidurmu.

Penuh rindu,


Affectionately yours.


Tanah Lot-Sanur, 27 November 2014.
H-30

Rabu, 26 November 2014

Surat dari Sanur (2): Episode Senja



Selamat malam kekasihku,

Akhirnya, saya menjumpai senja pertama di Sanur. Tadi pagi hujan deras dan siang begitu panas. Usai kelas sore tadi, saya berlari seperti biasa. Kemudian, masih dengan keringat yang bercampur asin laut, senja tiba perlahan. Mendekatkan cahayanya yang selalu menimbulkan perasaan ajaib. 

Rasanya, saya tidak perlu jadi seorang Sukab. Menggunting sepotong senja untuk kemudian mengirimkannya pada satu yang terkasih, Alina. Saya rasa saya tidak akan melakukannya untukmu. Bahaya besar akan menimpa umat manusia bila sampai senja di Sanur saya gunting dan paketkan supaya engkau bisa memajangnya di meja kerjamu. 

Cintaku,

Hari ini semua modul sudah selesai disampaikan. Artinya, tugas instruktur sudah selesai walau masih harus memeriksa ujian Jum'at esok. Percayalah, bahwa aku pun sebenarnya ingin pulang saja dan segera menemuimu. Berbincang santai denganmu seraya menyelesaikan semua persiapan untuk pernikahan kita nanti yang tinggal menghitung satu purnama lagi. 

Senja ini menuntun pada lamunan tentangmu. Sejauh mana pun saya berlari, ia akan selalu menuntun kepadamu. Saya memang terlalu angkuh untuk mampu menuturkan kata lewat jaringan Indosat. Tapi jangan sekali-kali engkau pikir aku tidak pernah ingin berusaha ada di dekatmu. Membenarkan letak kerudungmu sambil menemanimu minum teh. Ya, kalimat itu tadi sengaja saya adaptasi dari puisi Soe Hok Gie. Beruntung kita masih diberkahi dua jemari yang sehat untuk memijat layar sentuh yang juga ajaib itu. 

Ella yang baik,

Sejenak saya termenung di hadapan laut yang membentang. Langit masih berwarna keunguan. Laut yang terhampar dan bergelora itu mengajari saya bercermin. Tubuh kita ini hanya perahu pada dunia dan angin waktu. Entah, suasana senja yang selalu menghadirkan perasaan menakjubkan ini membuat diri saya terkesiap dan tiba pada pikiran seperti itu. Entah apa maknanya, saya harap Ella mengerti, satu saat nanti. 

Disini, saya kirimkan juga potret senja sore tadi. Kiranya, engkau mampu menafsirkan sendiri senja macam apa yang mampu menenangkan dalam riak gelisah berulang. Apakah senja serupa dengan kesedihan yang sama, bila hanya untuk dinikmati sendirian?

Penuh cinta dan peluk hangat,


Afrectionately yours. 



Sanur, 26 November 2014. 
Teringat pada cerpen "Sepotong Senja Untuk Pacarku"

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...