Sabtu, 30 Desember 2017

Selamat Tahun Baru 2018


Sumber gambar: saboronthebay.com

Ya Tuhan kami, jadikan tahun ini tahun yang kami isi penuh dengan kebaikan dan kami hias dengan penuh keindahan. 

Ya Tuhan kami, jadikan tahun ini sebagai tahun yang bertabur ilmu, utamanya bagi anak-anak kami, pemimpin-pemimpin kami.

Ya Tuhan kami, jadikan tahun ini senantiasa penuh keberkahan, kabulkan doa kami dan bimbinglah kami dalam hidayah-Mu.


Cipayung, 1 Januari 2018

Bola-Bola Nasib

Will be posted here soon.

AKU: Sesudah

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Terus terang, saya tidak mengharapkan sebuah kejutan nan eksplosif dalam buku ini. Sebagai sebuah skenario mengenai (sebagian) perjalanan hidup Chairil Anwar tentulah ada beberapa hal yang bisa saja hilang karena pembermaknaan yang berbeda. Tentang bagaimana narasi dan teks skenario dipahami secara tekstual ataupun melalui imajinasi visual. Namun, saya tentulah merasa sangat bahagia karena melalui pemahaman tekstual pada buku ini saya dapat membuat imajinasi buatan saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Chairil yang tiba-tiba saja masuk ke rumah Oomnya, Syahrir, yang dulu Perdana Menteri itu semasa zaman Republik. Pun, ketika Chairil nyelonong begitu saja ketika ikut naik kereta rombongan Perdana Menteri ke Yogyakarta. 

Lewat buku ini, setidaknya pembaca bisa dibuat paham mengenai suasana apa yang membuat sajak-sajak Chairil Anwar menjadi begitu menggelora, kadang-kadang syahdu, dan tiba-tiba mengandung kepasrahan yang total pada Si Penciptanya.

Setidaknya saya mendapatkan jawaban tentang latar suasana yang mebuat sajak ‘Aku’ menjadi legenda sepanjang masa. Tentang mengapa ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ bisa menjadi begitu syahdu, ketika Chairil termenung di pinggir pantai. Juga, penggalan syair ‘...Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu...’ yang pernah saya baca dalam satu cerpen milik Seno Gumira Ajidarma, yang tercipta semasa Agresi Militer Belanda I.

Khusus untuk timeline Agresi Militer Belanda I, tercipta pula sebuah sajak perjuangan yang selalu dikenang warga Bekasi-Krawang, ‘Antara Krawang-Bekasi’. Maklum, Chairil diceritakan telah menikah dengan seorang gadis dari Karawang bernama Hapsah, Dari Hapsah pula Chairil memiliki seorang putri yang dinamainya, Evawani.

Memasuki bagian akhir, saya merasakan aroma kehilangan yang semakin menguat. Chairil agaknya tidak kuasa menahan penyakitnya hingga ia harus menyendiri di sebuah kamar yang dicarikan khusus untuknya. Perkawinannya dengan Hapsah pun harus berakhir, ia digugat cerai. Sebuah adegan yang membuat saya bergetar kala Chairil Anwar menggendong Evawani sebentar sebelum Ibunya datang. Ah, tokoh kita ini juga seorang manusia.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, rupanya Chairil Anwar sudah mampu meramal kematiannya sendiri. Ia sudah merasakan maut itu datang sebelum Malaikat Maut benar-benar melaksanakan tugasnya. Ia sudah menulis ‘...rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang)...’. Chairil Anwar sudah tahu ia akan berpulang kemana. Masalahnya hanya soal waktu saja, entah kapan.

Tidak diragukan lagi bahwa Chairil Anwar-terlepas dari segala kontroversinya soal sajak-sajak saduran dan terjemahan-adalah seorang pionir sastra Indonesia. Chairil Anwar menandai tonggak lini masa sastra Indonesia dengan menamai angkatannya sebagai ‘Angkatan 45’. Chairil masih berseru: “Revolusi!”, menjelang akhir-akhir masa hidupnya. Sebuah pernyataan yang tabah dan berani seakan-akan ia masih akan hidup seribu tahun lagi.

Judul           : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis        : Sjuman Djaya
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2017
Tebal           : 155 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Skenario

Cipayung, 29 Desember 2017.

Semesta Emha, Sebuah Pendekatan Filosofis

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya agak terkejut ketika mendapati buku ‘Semesta Emha’ ini sebagai sebuah naskah akademik. Rupanya, Emha Ainun Nadjib sebagai individu telah jadi referensi beberapa karya akademik yang lulus untuk diujikan. Pun, ketika menjelma simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh Nusantara. Ada banyak sudut pandang yangbisa digunakan untuk membahas seorang Emha.

Buku ini dimulai dengan menguraikan potret seorang Emha Ainun Nadjib. Semacam biografi kecil yang tidak mencapai 1 bab. Pembahasan menjadi kian mendalam ketika menguraikan faset-faset perjalanan Emha Ainun Nadjib. Mulai dari masa kecilnya di Jombang, kemudian fase Malioboro dimana Emha mengenal Umbu, fase teatrikal bersama Dinasti, pementasan Lautan Jilbab, keterlibatan Emha dengan ICMI dan politik, Pak Kanjeng, Padhang Mbulan, fase reformasi hingga yang terkini adalah fase Maiyah. 

Yang terjadi pada bab-bab selanjutnya adalah sebuah filsafat dalam memandang objek berupa Emha Ainun Nadjib. Emha diuraikan dari sudut pandang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ontologi berbicara tentang kosmologi Emha, bagaimana filsafat dasar Emha sehingga kemudian menghasilkan sebuah eksistensialisme dan metafisika cinta. Epistemologi Emha mengetengahkan kesadaran dan pengetahuan sebagai sebuah kesatuan dalam mencapai kebenaran. Aksiologi Emha membahas etika dan estetika seni yang dijalani oleh Emha. Filsafat pendidikan ala Emha pun terpapar didalamnya.

Filsafat dasar Emha yang telah terbentuk sedemikian rupa kini diejawantahkan sebagai sebuah pemikiran kebudayaan. Sepak terjang Emha dalam bidang sastra, seni dan ideologi dikupas menjadi sebuah eksekusi dari filsafat dasar yang melingkupinya. Hal ini kemudian membawa pembaca pada sebuah teori relativisme kebudayaan dan kebudayaan Ilahiah dari seorang Emha Ainun Nadjib.

Semesta Emha yang multidimensi itu menghasilkan sebuah potensi besar terhadap kemanusiaan. Potensi pemikiran Emha yang humanis itu diteruskan oleh Emha untuk menemani bangsa Indonesia hingga saat ini. Emha dengan segenap perangkat kemaiyahannya terlihat berjalan di arus bawah masyarakat sekelilingnya. Jelas hal ini adalah bukan sesuatu yang populer, melainkan suatu  jalan yang sunyi. Gagasan-gagasan kemanusiaan Emha dari berbagai sumber nilai bersifat dialektis dan dinamis dengan dilandasi konsep kesadaran untuk membangun peradaban yang luhur.

Judul            : Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran
Penulis        : Sumasno Hadi
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2017
Tebal           : 216 hal.
Genre           : Filsafat-Sosial Budaya

Cipayung, 28 Desember 2017.

Matinya Seorang Penari Telanjang

Air Mata Bola

Sumber gambar: www.goodreads.com
Air Mata Bola adalah sekuel dari Trilogi Sepakbola Sindhunata. Judulnya seakan mewakili berbagai tragedi sepakbola yang tidak selalu memilukan namun menuai air mata. Betapa sepakbola bukan hanya sekedar olahraga belaka. Lebih dari itu, sepakbola adalah bagian panggung kecil kehidupan.

Bagian kedua ini mengambil rentang waktu pada menjelangnya Piala Eropa 1996 di Inggris. Waktu itu, Inggris kembali gegap gempita dengan semangat 'Football Coming Home'. Kemudian, beralih sedikit dengan kemenangan Dortmund atas Juventus pada final Piala Champions 1997.

Air mata bertebaran kala itu karena Juventus sedang berada dalam kondisi ideal untuk menguasai jagad sepakbola Eropa. Timeline ditutup dengan episode menjelang final Piala Champions musim 1998-1999 yang mempertemukan Bayern Muenchen dan Manchester United di Nou Camp, Barcelona.

Saya selalu merujuk buku ini bila butuh rekreasi sejenak untuk menemukan kembali inspirasi dari Predrag Mijatovic. Ia adalah seorang striker yang sangat percaya diri. Alasan yang tepat untuk keberadaannya di skuad Real Madrid kala itu. Kisahnya dapat dibaca dalam artikel berjudul 'Ambisi Sebuah Klub Superlatif'.

Tidak hanya soal itu saja, rasanya selalu menyenangkan kala membaca kembali kisah tidak terduga dari Kroasia dan Republik Ceko di gelaran Euro 96. Allen Boksic dan Davor Suker adalah label dari kejutan-kejutan itu. Munculnya Republik Ceko dalam final menghadapi Jerman adalah sebuah perlawanan dalam kemapanan.

Satu lagi, buku ini juga memuat kisah Eric Cantona dan Sir Alex Ferguson. Usai merekrutnya dari Leeds United, Sir Alex bertanya pada Cantona sebesar apakah dirinya untuk bermain di MU. Cantona balik bertanya sebesar apakah MU untuknya.

Kisah-kisah diatas adalah cerita yang selalu menarik untuk dibaca kembali. Sepakbola sebagai realitas kecil kehidupan mampu menyajikan tontonan yang tidak hanya melulu soal sportivitas teapi juga soal humanisme. Humanisme universal tentang bagaimana memaknai kehidupan yang kadang juga penuh dengan air mata.

Judul           : Air Mata Bola
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 276 hal.
Genre          : Sosial-Budaya


Cipayung, 30 Desember 2017.

Kamis, 28 Desember 2017

AKU: Sebelum

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi
Catatan Sebelum Tamat

AKU. Terpampang jelas dalam halaman judul sebuah buku berwarna abu-abu. Buku yang tiba-tiba menjadi hits dan bacaan wajib usai tampil di film AADC tahun 2002 silam. Buku kecil yang bercerita tentang Chairil Anwar. Sjuman Djaya, penulisnya, berusaha menulis skenario film berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar. Tentang ‘AKU’, adalah satu karya terpenting dari Sjuman Djaya sehingga menempatkannya di jajaran seniman besar Indonesia.

Keinginan membaca ‘AKU’ memang terlintas sejak zaman AADC. Rangga berhasil membuat suatu gebrakan sastra di kalangan anak muda. Ya, anak-anak muda zaman itu tiba-tiba penasaran dengan buku ini. Termasuk saya. Padahal, setiap lewat toko buku saya hanya mampu memegangnya saja. Tanpa membawanya ke meja kasir. Tidak ada trigger lain yang mampu menumbuhkan keinginan itu.

Chairil Anwar adalah pribadi yang meledak pada zamannya. Karya yang dihasilkannya menunjukkan gairah tinggi pada kehidupan yang dijalaninya. Barangkali, orang zaman sekarang menyebutnya sebagai progresif. Sjuman Djaya memotret perjalanan hidup Chairil Anwar frame by frame sehingga terlihat jelas rentang waktu kehidupannya.

Saya belum tiba pada halaman akhir buku ini. Saya masih terhenti pada halaman pertengahan. Namun, saya dapat merasakan gairah kehidupan Chairil Anwar yang menggelora. Pun, rasa kehilangan yang mendalam akibat duka yang dialami Ibunya dan meninggalnya Nenekda tercinta. Semua itu terangkum dalam skenario yang disusun apik (setidaknya sampai halaman pertengahan) dan benar-benar mampu menerjemahkan ‘Semangat’ yang diinginkan pada zaman itu. Chairil benar-benar ingin hidup seribu tahun lagi.

 
Meruya, 28 Desember 2017.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...