Senin, 25 Mei 2009

Perlawanan dari Catalan

Selamat pagi. Apa kabar Anda hari ini , Bung? Semoga Tuhan selalu memberkati dan merahmati. Bagaimana akhir pekan Anda kemarin? APakah menyenangkan? Saya harap anda tidak hanya sekedar berdiam diri di rumah saja. Mengantri di buffet lines bersama istri bisa jadi suatu momen yang lebih menyenangkan dan membahagiakan bukan? Saya harap begitu.

Saya hanya menghabiskan akhir pekan kemarin dengan mengunyah habis preview Final Liga Champions Eropa yang akan berlangsung esok lusa di kandangnya para Gladiator, Roma, tepat pada tanggal Anda terima gaji. Tentunya Anda akan berada disana kan? Anda akan terbang ke Roma via Changi Airport, entah dengan Etihad, Emirates, atau malah Allitalia, karena maskapai penerbangan Indonesia masih kena cekal larangan terbang dari Uni Eropa. Jadi, sangat tidak mungkin Anda menaiki Garuda kesayangan itu. Saya sudah bisa membayangkan Anda dan istri duduk mesra di tribun utama dan larut bersama sekitar 70000 penonton yang lain. Anda akan mengenakan kostum berwarna merah sebagai simbol dukungan untuk Manchester United.

Begitupun saya, Bung. Saya tentu tidak akan hadir disana dan menyaksikan langsung bagaimana sepakbola indah ditampilkan oleh maestro dari masing-masing tim finalis. Saya cukup menonton lewat TV di rumah saja. Anda pun tahu, tak lama setelah Puyol atau Neville mengangkat trofi saya akan kembali bergulat dengan rutinitas pekerjaan yang masih begitu-begitu saja. Mungkin dengan mata yang masih pedas karena rasa kantuk yang masih tertahan di kepala.

Suguhan Final musim ini rasanya lebih menarik daripada musim kemarin. Anda tentu masih ingat bahwa musim kemarin terjadi All England Battle. Kalau saja bukan karena John Terry yang tergelincir mungkin ceritanya akan lain. Musim ini, raksasa dari Catalan, Spanyol kembali menantang Setan Merah dari Manchester di final. Musim kemarin, keduanya bertemu di semifinal. Satu gol dari Scholes sudah cukup untuk membungkam public Catalan dan melenggangkan jalan United ke final. Kini, El Azulgrana kembali untuk menghadang Setan Merah di final. Sebuah duel yang ideal sebagai pembuktian talenta-talenta hebat yang dimiliki keduanya.

Memang hebat si Kakek dari Skotlandia itu. Memulai debutnya dengan Setan Merah pada 6 November 1986, tanggal yang sama dengan debut saya di Ibukota ini. Walaupun tanggal debut kami sama, tentu prestasinya lebih membanggakan sekalipun saya terpilih sebagai Employer of the Year untuk 10 kali berturut-turut. Semenjak kedatangannya di Old Trafford, ia telah menghadirkan 33 trofi dari semua gelar yang mungkin diraih oleh United. Liga Premier, FA Cup, Charity Shield, Champions Cup, dan FIFA Club World.

Persaingan Liga Champions musim ini memang sangat ketat. Terbukti dengan adanya 3 dari The Big Four Premiership di semifinal. United, Arsenal, dan Chelsea. Anda tentu sudah tahu kalau diantara ketiganya saya lebih suka untuk pegang United namun kalau ada Liverpool tentu ceritanya akan lain. Awalnya, saya begitu yakin dan ikut mendukung United untuk jadi juara dua kali berurutan dan menyempurnakan raihan gelar sebelumnya, Premiership dan Piala Dunia Antar Klub.

Belakangan ini, saya memusatkan perhatian saya pada Barcelona. Saya pernah menyukai Barcelona, namun tidak sebesar kecintaan saya pada Real Madrid. Waktu itu, mereka masih punya Rivaldo. Kini, skuad mereka adalah yang terkuat di Primera Spanyol. Tanpa Ronaldinho dan Deco. Namun, ditangan Pep Guardiola, eks kapten yang kini jadi manajer, Barcelona menampilkan sebuah kekuatan baru yang menakutkan bagi setiap defender lawan. Mengandalkan kecepatan Henry, Eto’o dan Messi, Barcelona menjadi tim yang paling produktif di Eropa. Sampai saat ini, di musim ini, kombinasi mereka telah mencetak lebih dari 100 gol.

Barcelona, sebuah kota di semenanjung Catalan di selatan Spanyol. Barcelona adalah tempat yang indah. Bukan karena saya pernah buat tulisan yang judulnya, “Belok Kanan Barcelona, Belok Kiri Cirebon”. Bukan pula karena saya sekarang sedang belajar bahasa Spanyol. Bapak saya pernah berkata begitu. Kalau anda masih tidak percaya coba dengarkan lagu Barcelona dari Fariz RM. Untuk bangsa Indonesia sendiri, Barcelona pernah punya cerita tersendiri. Bukan dari sepakbola tapi dari cabang olahraga bulutangkis. Rasanya, tidak mungkin kita lupa pada prestasi Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti di Olimpiade Barcelona 1992. Mereka menyumbangkan medali emas untuk kontingen Indonesia. Sebuah pencapaian yang semakin menegaskan keunggulan Indonesia di jagad perbulutangkisan dunia.

Final musim ini bukan sekedar adu gengsi La Messias dari Argentina dengan CR7 Made in Portugal. Bukan sekedar pertarungan khas Kick and Rush versus Sepakbola Indah khas Matador. Bukan hanya adu pintar dua manajer, yang tua versus yang muda. Ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya dan rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan dan dibuang begitu saja.

Kalau anda buka lembaran sejarah Spanyol, maka anda akan menemukan fakta bahwa Kerajaan Spanyol pernah mengalami periode yang sama dengan Amerika Serikat dimana terjadi Perang Saudara. Itulah sebabnya kenapa setiap negara bagian di Spanyol punya bendera masing-masing. Jangan heran kalau anda lihat Fernando Alonso atau Jorge Lorenzo mengibarkan bendera yang coraknya sedikit mirip dengan bendera Spanyol. Itulah simbol mereka.

Bagi public Catalan, Barcelona adalah lambang perlawanan terhadap kemapanan. Ada ikatan ideologis dan historis antara Barcelona sebagai klub dengan public Catalan sebagai pendukungnya. Tidak semua public Catalan adalah pendukung Barcelona. Mereka terbagi menjadi dua kelompok karena Barcelona punya rivalitas dengan tim sekotanya, Espanyol. Persaingan yang tentunya mirip dengan Internazionale dengan A.C Milan di Italia sana atau Persib dengan Persikab untuk lebih gampangnya.

Layaknya di Italia. Setiap klub dari bagian selatan negeri adalah wakil dari kaum kelas pekerja dan proletarian. Sedangkan, klub yang berada di utara dianggap sebagai simbol kemapanan. Begitupun yang terjadi di Spanyol. Barcelona adalah lambang perlawanan terhadap kemapanan yang terjadi di ibukota negara kerajaan, Madrid dengan simbolnya Real Madrid. Tim sekota, Espanyol pun dianggap sebagai cerminan dari kaum penguasa yang bermodal. Dalam konteks keindonesiaan, musuhnya wong cilik.

Adanya ideologi tersebut konon terbentuk ketika Perang Saudara berlangsung. Pada akhirnya, setelah perang usai konteks ideologis-historis tetap melekat sebagai warisan dan budaya bagi public Catalan. Itulah mengapa, derby Catalan Barcelona VS Espanyol, dan El Classico Barcelona VS Real Madrid menjadi momen-momen yang ditunggu bagi public Catalan pendukung Barcelona. Pertandingan tersebut bukan hanya pertaruhan gengsi dan prestise, tetapi lebih kental dengan aroma idelogis-historis.

Sehingga menarik sekali bahwa yang terjadi bukan sekedar pertandingan sepakbola biasa. 11 lawan 11. Tapi juga ada unsur perjuangan kelas-meniru istilah dari Sosiologi. Anda tentu lebih paham hal itu, Bung. Anda tentu sudah pernah membuat penelitiannya. Perlawanan kelas yang direpresentasikan dalam sepakbola menghadirkan sensasi tersendiri dari berbagai esensi entitas yang terlibat didalamnya. Dan karena sepakbola ikut melibatkan pendukung fanatik dalam jumlahnya yang tidak sedikit maka itulah juga yang menyebabkan masih menarik untuk terus diikuti. Setidaknya hingga saat ini.

Kekuatan modal atau kapitalisme yang terjadi didalam olahraga termasuk sepakbola telah mengubah peta persaingan beberapa klub di Eropa. Beberapa kenalan Anda ikut membuat sepakbola menjadi tambang emas yang tak pernah henti berkilau. Sebut saja Abramovic, Tsar penguasa Chelsea, Malcolm Glazer, Koboi Milyuner di United, dan Duet Hicks-Gillette di Liverpool. Belum lagi, Syekh dari Timur Tengah yang bermimpi menyulap Manchester City menjadi Klub Terbesar di Inggris. Di Spanyol sendiri, Real Madrid masih belum puas dengan der Nederlands Soldier, Nistelrooy, Van der Vaart, Sneijder, dan Robben. Mereka masih ingin Ricardo Icezson Santos Leite atau yang lebih terkenal dengan Kaka’, pemain terbaik dunia 2007, berlabuh di Santiago Bernabeu. Sesumbar capres Real Madrid, Florentino Perez yang bernafsu menjabat Presiden Klub untuk menghadirkan Los Galacticos ver. 2.0.

Kekuatan modal ini juga lah yang menurut saya akan dan telah menimbulkan suatu bentuk perlawanan. Kita boleh bilang bahwa model perlawanan masih seputar perlawanan antara si miskin dan si kaya. Identiknya seperti itu. Namun, konteks historis dan ideologis itu tadi masih punya peranan penting. Begitu pun final esok lusa. Ada semangat perjuangan dan perlawanan kelas yang akan mewarnai pertandingan. Anda masih ingat gol Iniesta yang langsung menyentak publik Stamford Bridge. Chelsea menangis. Tim yang dibangun dengan semangat kejayaan dan modal yang luar biasa banyaknya. Chelsea dan United mewakili simbol dari kemapanan modern dalam sepakbola, terutama di Eropa. Tidak hanya membeli pemain bintang, kucuran dana yang tidak sedikit itu digunakan pula untuk ekspansi bisnis mereka. Liberalisasi dan kapitalisasi memang telah menjadi bagian yang integral dari sepakbola modern.

Final hari Rabu nanti akan menyajikan sebuah tontonan yang menarik dan berkualitas. Bukan karena aksi spektakuler Messi, Xavi, Iniesta, atau Rooney, CR7, dan Giggsy. Publik Catalan akan menyerahkan sepenuhnya perjuangan dan perlawanan mereka pada prajurit-prajurit Barca dengan komandannya, Carles Puyol dan Jenderal Guardiola. Maka dari itu, resmilah saya menyatakan dukungan saya untuk F.C Barcelona.


Salam hangat dari Kelapa Gading.

25 Mei 2009


NB: Kalau anda jadi capres di 2014 , mau deklarasi dimana?

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...