Jumat, 02 Oktober 2009

Batik, Identitas, dan Bencana

“Merenungkan Indonesia adalah juga merenungkan identitas kebangsaan kita.” *)

Sekilas Sejarah Batik

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi, kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX.

Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Zaman Majapahit, Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit.

Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.



Identitas Bangsa

Batik menjadi tema hari ini, 2 Oktober 2009, dimana UNESCO sepakat untuk menamakan batik sebagai world heritage kepunyaan Indonesia. Siapa yang menyangka bahwa hari ini batik akan mendapatkan rekognisi dari UNESCO? Kita sebagai bangsa Indonesia tentunya berbangga bahwa (akhirnya) batik secara resmi telah mendapatkan klaim dari dunia internasional sebagai warisan budaya nusantara. Hari ini juga seruan untuk mengenakan batik merebak dimana-mana dan menjadi satu tren yang happening. Entah untuk menghargai niat baik UNESCO atau kita memang masih menghargai warisan budaya nenek moyang sendiri.

Pengukuhan ini juga membuat lega perasaan kita dari ancaman dan rongrongan Malaysia yang selalu tanpa malu mengklaim beberapa dari budaya Indonesia sebagai kepunyaannya. Perdebatan pun selalu meruncing dan tiba pada satu guyonan bahwa Malaysia adalah Truly Maling Asia.Kita ini bangsa Indonesia, bangsa yang punya identitas kuat baik secara sosiologis, historis, dan kultural walau memang masih ada keterkaitan hubungan dengan bangsa Melayu.

Budaya kita direpresentasikan dalam berbagai bentuk kesenian di tiap daerah. Batik, hanyalah satu representasi dari sekian banyak elemen yang menyusun dan membentuk identitas kebangsaan. Batik kini telah mengalami pergeseran dalam nilai utilisasi atau penggunaannya. Terutama setelah cekcok dengan Malaysia yang terang-terangan mengklaim batik sebagai milik mereka. Bak anak kecil merebut mainan temannya sendiri.

Batik tidak hanya digunakan dalam acara yang sifatnya resmi saja seperti undangan pernikahan maupun jamuan resmi lainnya. Bahkan sejak lama pun anak-anak sekolah sudah menggunakan batik setiap hari Jum’at. Kini, giliran orang-orang kantoran pun mengikuti tren tersebut yang dimulai dengan PNS yang selalu mengenakan batik KORPRI.

Bagaimana seandainya bila kemarin itu Malaysia tidak mengutak-atik batik? Bagaimana bila kemarin itu Malaysia tidak melakukan self-recognition atas segala sesuatu yang jadi milik kita bangsa Indonesia? Mengapa kita harus menunggu saat dimana identitas kita terancam oleh bangsa yang terjebak di persimpangan jalan dalam proses pencarian identitasnya?

Nasionalisme

Dalam pengamatan yang masih terbatas dan masih dapat terbantahkan oleh tesis doktoral studi kebudayaan, kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa kita masih terjebak dalam nasionalisme semu (pseudo-nationalism). Rasa nasionalisme kita bukan lagi dibangun dan dipelihara dari peringatan Sumpah Pemuda dan hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Nasionalisme kita kita ini terbentuk dari perasaan khawatir. Khawatir akan meledaknya bom akibat teroris keparat pelarian dari Negeri Jiran. Khawatir akan dicaploknya Reog Ponorogo, Tari Pendet, dan Ambalat oleh negeri yang merasa jadi pusatnya peradaban bangsa Melayu (dengan Kerajaan Melayu sebagai basisnya). Karena perasaan khawatir itu terus menggelora dan dikhawatirkan bila dibiarkan akan merusak sendi-sendi identitas kebangsaan maka kita pun mulai sadar bahwa kita itu cenderung memandang remeh dan lengah pada apa yang telah kita miliki dalam hal yang berhubungan dengan konteks sosiologis-historis-kultural.

Berapa banyak dari kita yang mendukung gerakan Indonesiaunite? Sebuah gerakan yang membawa pesan moral bahwa kita tidak takut dengan segala ancaman yang mengancam bangsa ini. Sebuah gerakan yang menggema setelah aksi The Last Bombing di Mega Kuningan yang menyebabkan batalnya Timnas PSSI All Star untuk belajar sepakbola dari murid-murid Sir Alex Ferguson.

Gerakan ini disebut-sebut sebagai Sumpah Pemuda 2.0 yang mencoba membangkitkan semangat kita sebagai bangsa yang berdaulat dan mau melakukan apa saja yang terbaik untuk negeri ini termasuk pemulihan citra sebagai negara teror. Tersisa satu pertanyaan, bila Indonesiaunite dianggap sumpah pemuda jilid 2 dan menjadi suatu semangat nasionalisme baru mengapa judulnya harus menggunakan bahasa asing? Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja? Indonesia bersatu misalnya, walau sudah keduluan sama SBY untuk menamai kabinetnya.

Identitas dan Nasionalisme

Nasionalisme yang berangkat dari kekhawatiran ini tentu akan sangat berbahaya bagi identitas bangsa sebesar Indonesia. Perlahan hal ini akan menggerogoti makna eksistensial dari identitas bangsa itu sendiri. Padahal, identitas memberikan makna eksistensial bagi suatu komunitas sekaligus menyadarkannya akan keberadaan komunitas lain di sisi mereka.

Bencana

Lupakan sejenak perdebatan tentang batik yang telah mendapatkan pengakuan internasionalnya. Jelas itu bukan hal yang mudah untuk mempertahankan dan mempertanggungjawabkannya. Berapa banyak dari kita yang tahu jumlah motif dan corak batik di setiap daerah? Apa bedanya batik Pekalongan, batik Madura, dan batik Trusmi. Lalu, adakah hubungan pola batik dari batik Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan Kuningan? Mari kita lupakan sejenak yang demikian itu.

Negeri kita ini masih dirundung duka akibat bencana. 5 tahun yang lalu saat SBY mengawali kepemimpinannya negeri ini dilanda Tsunami yang menghanyutkan ribuan rakyat Aceh. 5 tahun kemudian bom dan gempa silih berganti mewarnai kedukaan negeri ini. Gempa menjalar dari selatan Jawa Barat hingga ke Pariaman dan Jambi lalu ke Manado.

Apakah Tuhan sedang menuntut kita untuk sama-sama membangkitkan rasa nasionalisme dan menguji identitas bangsa dengan menolong sesama saudara kita yang tertimpa musibah? Adalah hal yang logis bila Tuhan menginginkannya. Mungkin juga Tuhan inginkan kita tunjukkan identitas kita yang senang untuk berbagi dengan sesama dan saling bergotong royong serta bahu membahu dalam membangun negeri ini. Tuhan tidak ingin kita terjebak dalam hal-hal yang palsu dan semua karena semua itu tidaklah nyata adanya.

Penutup

Batik telah menjadi identitas satu bangsa yang kini sedang dilipur lara akibat bencana. Mari kita berdoa kepada Tuhan secara vertikal, tidak tanggung-tanggung, supaya doa kita tidak menggantung di langit dan diterima oleh Tuhan. Mintakan agar bangsa ini tidak kehilangan identitas, rasa nasionalisme, dan semangat dalam membangun negeri yang sedang ditimpa banyak ujian ini.


Kelapa Gading, 2 Oktober 2009


*) Jamal D. Rahman, dalam kolom Catatan Kebudayaaan Majalah Horison, Edisi September 2009
**) Sekilas tentang sejarah batik dikutip dari http://pesonabatik.site40.net/Sejarah_Batik.html


Rabu, 16 September 2009

Mudik



Lebaran sekarang ku hanya titip salam, karena ku tak mampu pulang, ke kampung halaman
*)

Sayup terdengar kembali lagu itu menggelayuti pikiranku yang memang sedang meradang. Meradang ingin pulang katanya. Entah kenapa, menjelang lebaran seperti ini semua perhatian manusia Indonesia sedang tertuju pada suatu kebiasaan yang terlanjur dianggap jadi ritual tahunan. Mudik. Pulang kampung. Aku tidak tahu pastinya darimana kata "mudik" itu berasal. Yang aku tahu, kalau lebaran tahun ini tidak diundur, diralat, atau dibatalkan sama sekali besok akan jadi pengalaman mudik yang pertama.

Aku telah rasakan sendiri bagaimana kini kota yang tidak pernah sepi ini tiba-tiba jadi sepi gara-gara ditinggal penggemarnya. Deru kota yang selalu berseru kini hilang bingarnya. Perlahan seakan pasti kota ini semakin sepi. Jutaan pemudik meretas mimpi untuk kembali. Aku lihat juga wajah-wajah penuh semangat dan kerinduan pada kampung halaman. Lihat pula senyuman mereka yang tidak ada beban sama sekali tersirat sekalipun beban hidup ini barangkali sudah terlalu berat.

Aku telah lihat pula kegembiraan dan suka cita dalam menyambut hari raya. Semuanya adalah hal yang biasa. Namun, kebiasaan itu juga adalah sesuatu yang luar biasa setiap tahunnya sehingga selalu menimbulkan kewajiban untuk melakukannya. Pekerja yang punya THR, bagi-bagi jatah. Yang ini untuk mudik, yang ini untuk belanja, yang ini buat ngasih, selesai. Tidak sampai disitu saja.

Aku masih belum akan berangkat mudik. Aku masih akan menyelesaikan beberapa hal yang belum selesai. Urusan pekerjaan tentunya. Kau tahu sendiri rasanya menahan rasa ingin pulang. Kurang lebih begitulah yang kurasakan. Aku juga masih belum tahu mudik naik apa. Semuanya masih memungkinkan. Entah dengan bis, kereta, pesawat terbang, atau sepeda motor.

*****

Hei, kau! Apa yang sudah kau siapkan untuk mudikmu yang sekarang? Ingin sekali aku berteriak seperti itu supaya setiap orang sadar. Sadar bahwa mereka sedang ada dalam balutan penuh kerinduan dan bisa jadi semu. Kalau mudikmu cuma buat pamer tentang hidupmu di kota tolong buang saja niat mudikmu itu. Entah siapa yang berteriak dalam kepalaku yang masih meradang ini.

Sampai disini aku tidak tahu apa yang harus kutulis lagi. Pahala Kencana jurusan Jakarta-Madura melintasi didepanku. Ia bagaikan kereta kencana yang akan mengantarkan mereka yang telah membenamkan mimpinya. Sementara, Sinar Jaya masih jadi primadona untuk pemudik tujuan Jawa Tengah. Sebutan Antar Kota Antar Kecamatan membuatnya tidak pernah kehilangan penggemar setia.

Sedang apa kau disitu, Aninda? Sedangkah engkau menantikan kedatanganku sambil berharap aku membawa uang yang banyak untuk modal kita nikah nanti? Atau malah sibuk membantu ibumu membuat kue untuk lebaran nanti? Ah, kau memang tahu saja kalau aku akan pulang dan tentu kau akan sajikan kue-kue itu untukku kan? Bilang Ibumu, aku suka kue coklat seperti yang lebaran kemarin.

*****

Sementara, untuk mereka yang masih sibuk dengan ibadahnya hari-hari seperti ini adalah hari-hari kerinduan. Kerinduan untuk kembali berjumpa dengan Ramadhan tahun depannya. Tidak ada yang pernah tahu kapan ajal memisah jiwa sehingga selalu ada bintik-bintik penyesalan setiap menjelang Ramadhan usai. Memudikkan hati untuk kembali pada jiwa yang fitri.


Kelapa Gading, 16 September 2009


*) P Project, "Mudik" , Album "O Lea... O Leo...."

Jumat, 11 September 2009

Tentang Ia yang Ternyata Itu Aku

Dia sudah sampai disitu setiap jam setengah tujuh pagi. Ia lalu berjalan menuju gedung berlantai lima. Kemudian ia mengisi buku tamu yang untuk sebulan mendatang bakal jadi kartu absennya. Setibanya di ruangan, ia akan menyalakan komputernya. Lalu mengklik ikon kecil di sebelah tombol start. menunggu sebentar, dan kemudian muncullah aplikasi yang selalu ia jumpai setiap harinya. Ia ambil majalah satu persatu, ia buka dan kemudian ia mulai mengetik apa yang dibacanya dari majalah tadi.

Entah berapa hari telah ia lalui, ia sendiri tak tahu pasti karena selama itu pula ia tidak pernah mengisi lagi buku hariannya. Yang ia tahu hanya bangun pagi, membukakan pintu garasi, nebeng mobil karyawan di gedung sate, turun di kantor gubernur, kemudian berjalan menuju kantor perusahaan telekomunikasi tempat ia melakukan Praktek Kerja Lapangan.

...how many hours and how many days....(MLTR-How Many Hours)

Alunan lagu itu terngiang di kepalanya. ia ingat betul karena tepat saat ini ia sedang menulis kisah yang dialaminya setiap hari setidaknya sampai akhir bulan ini. Banyak yang ia lewatkan setiap harinya, mulai dari highlights sepakbola, berita pagi hingga breaking news bahkan gosip-gosip yang selalu sama setiap harinya. Tak terkecuali waktu kumpul bersama keluarga, dan jadwal rutin bermain futsal bersama teman sepermainannya. Ia tidak pedulikan itu semua, karena untuknya, hari ini adalah apa yang akan terjadi semua ini sudah terkehendak atas namanya sehingga ia anggap semua ini adalah kemestian.

Yang ia jalani sekarang adalah sebuah kemestian. Hari-hari yang telah dilalui dan disebut sebagai masa PKL tidaklah lebih dari sebuah perjalanan yang harus ditempuh. Maka tidaklah terlalu penting dimana dia sekarang. Orang lain menganggapnya hebat karena ia diterima di sebuah perusahaan telekomunikasi nasional.

Kadangkala ia jadi teringat pada sebuah buku yang didapatnya dari sebuah kuis di radio. Buku itu berjudul "Kerja Santai, Hasil Oke" sebuah buku terjemahan yang aslinya berbahasa Perancis dan menjadi best seller di beberapa negara di Eropa sana. Kalau teringat pada buku itu, tentu ia akan sangat terganggu pikirannya. Baginya, kesimpulan dari seluruh buku itu adalah benar dimana seorang pegawai cuma jadi kacung dari sebuah permainan besar/global. Dan atas hasil kerjanya ia mendapat upah yang 'layak' padahal mengingat luasnya samudera bisnis upahnya itu sangat tidak layak.

At the otherside, ia tidak menampik kemungkinan bahwa ia akan menjadi aktor dalam lakon buku itu. Ia masih ingin menerima uang bonus setiap bulannya, menyetir sendiri mobil dinas yang diberikan kantornya, dan juga menikmati beberapa fasilitas perusahaan lainnya. Itu semua cuma mimpi. Mimpi yang diharapkan akan terlaksana tidak hanya olehnya tetapi oleh setiap 'calon pengangguran' tentunya.

Dalam buku lainnya ia pernah menganggap benar pernyataan seorang penulis yang sangat benci bangun pagi, bukan karena apa-apa tetapi karena kesibukan orang-orang di pagi hari. Mereka bangun pagi kemudian mencari sarapan, bila tak sempat, sarapan di mobil pun jadi, lalu jalanan pagi yang macet menjadi rutinitas yang sudah pasti. Ia tahu bahwa ia memang pernah menjalani rutinitas bangun pagi semasa sekolah di SMP dan SMA dulu, dan kini saat kuliah, kadang-kadang ia menjalaninya walau tak setiap hari.

Banyak sekali pengaruh penulis itu terhadap dirinya. Awal tahun kemarin, sekembalinya dari Surabaya, ia mau menjalani hidup dengan tidak peduli seperti robot. Persis seperti pada buku yang ia biasa baca. Buku berjudul "Atas Nama Malam" yang ia beli di sebuah toko buku besar di Bandung. Selama kurang lebih 3 bulan ia menjalani hidup yang seperti itu akhirnya ia bosan juga, karena pada dasarnya ia tidak mendambakan hidup yang seperti itu.

Maka kembalilah ia pada kehidupan yang biasa, dimana ia biasa mengisi buku hariannya pada jam 10 malam usai membereskan urusan transaksi dagang pulsa. Didalam buku hariannya ia leluasa bercerita tentang apa yang telah ia alami hari ini.

*****

Hari beranjak sore ditempat ia menulis kisah ini. Ruangan yang tadinya sempat sepi sudah mulai ramai lagi dengan suara speaker komputer, maupun tuts-tuts keyboard. Ia masih duduk disitu memikirkan apa lagi yang harus ia ceritakan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ia tulis. Tentang kisah-kisahnya yang lalu, tentang kelulusan SPMB yang membuatnya menangis sepanjang 6 km, tentang bagaimana mewujudkan keinginan agar bisa terwujud, tentang nasibnya yang pernah seperti pemain sepakbola pinjaman, tentang kekecewaan yang pernah ia alami hingga membuatnya kebal dan tak tahu rasanya kecewa, setidaknya hingga saat ini

Banyak lagi yang ingin ia ceritakan padamu, entah hari ini, nanti, esok, ia tak tahu. Yang ia tahu sekarang, ia harus segera turun ke masjid, solat ashar, lalu bersiap pulang.


Jl. W.R. Supratman, 21 Agustus 2007

Originally writtenin Bandung, 21 Agustus 2007, 3.58 pm diedit kembali di Kelapa Gading, 11 September 2009.

Selasa, 08 September 2009

Puasa di Jakarta (dan sedikit cerita lainnya)

Bulan Ramadhan semakin beranjak melewati setengah rembulan. Masih rembulan yang sama. Rembulan yang kadang berwarna kemerahan kala menggantung di langit Cikampek bagaikan bola lampu raksasa di tengah jamuan makan malam. Puasa di Jakarta adalah kerinduan. Kerinduan pada suasana Ramadhan di kampung halaman. Rindu pada mushaf yang selalu dibaca menjelang maghrib. Rindu pada suara muadzin-muadzin yang selalu diagungkan menjelang waktu berbuka puasa. Rindu pada ceramah seusai Subuh yang menambah kantuk semakin menjadi.

Seperti biasanya, tidak banyak yang terjadi padaku selama Ramadhan kali ini. Aku masih sama seperti muslim lainnya yang sahur menjelang waktu imsak dan berbuka puasa kala maghrib menjelang. Masalah kesehatan terutama berat badan bukan lagi masalah serius yang harus diperhatikan. Sudah tentu Ramadhan kali ini aku tidak makan tiga kali sehari. Paling banyak dua kali sehari. Sahur dan buka. Sudah itu saja. Jadi, kemungkinan berat badan akan turun bukan khayalan semata.

Ramadhan kali ini rasanya berlalu begitu saja. Sama seperti yang telah kulalui pada tahun-tahun sebelumnya. Tiba-tiba sudah tengah bulan. Harus kuakui kualitas ibadahku masih sama-sama saja. Aku masih menjalankan shalat lima waktu, kadang-kadang ditambah shalat sunat rawatib. Tilawah qur’an kadang-kadang sehabis maghrib. Itu pun melanjutkan bacaan yang tidak selesai sejak Ramadhan-Ramadhan kemarin, bukan dimulai dari potongan ayat pertama Al Fatihah. Disaat kawan yang lain berlomba mengkhattamkan Qur’an, aku malah asyik menamatkan Plan of Attack dari Dale Brown yang tebalnya 510 halaman itu.

Rupanya, aku terbawa alur cerita buku itu yang bercerita tentang proliferasi nuklir Rusia yang berimplikasi pada serangan udara pesawat bomber Rusia ke target-target anti serangan di wilayah Amerika Utara, USA dan Canada. Membaca buku itu ibarat menonton film perang buatan Hollywood. Kurang lebih sama dengan ketika kau menonton Tom Cruise di film “Top Gun”. Mungkin itu sebabnya, ada buku yang diangkat kisahnya untuk dijadikan film atau film yang dibuat berdasarkan pelebaran jalan cerita pada suatu buku tertentu. Kisah seorang pilot ternyata bisa lebih menarik dari tenggelamnya Fir’aun ditelan Laut Merah.

Aku lihat status facebook dan ternyata telah banyak terjadi perubahan. Status kawan-kawan kini lebih banyak dihiasi dengan ucapan syukur atau minimal ucapan-ucapan lainnya yang menyertakan nama Tuhan disana. Ada yang bahagia dan mengucap syukur. Ada yang kecewa sambil tetap optimis bahwa Tuhan tidak akan pernah salah dalam member ujian. Ada yang tidak tahu harus berbuat apalagi sehingga “memaksa” Tuhan untuk memberikan petunjuknya. Ada juga yang cukup menulis juz yang sedang dibacanya sehingga semua Jamaah Al Fasbukiyah mengetahui dan menulis komentar bernada semangat untuk mengkhattamkan Qur’an. Aku rasa hal seperti itulah yang tidak perlu. Soal ibadah biar diri sendiri dan Tuhan saja yang tahu. Khawatir menjadi riya’. Bila sudah begitu percuma saja pahala yang sudah terkumpul lenyap begitu saja bagai api memakan kayu bakar. Begitulah yang kupahami dari Guru Agama waktu sekolah di SMA.

Cerita selanjutnya masih sama saja. Konsumerisme dan konsumtivisme masih menjadi isu yang menarik untuk diangkat menjadi tema bulanan. Lihat saja, banyak pusat perbelanjaan yang mengadakan special offer hingga sale gila-gilaan. Bahkan, ada yang sampai mengklaim bahwa ditempatnya itulah konsumen akan benar-benar menikmati shopping experience yang berbeda untuk pertama kalinya di Indonesia. Sebagai implikasi menjelang lebaran hal ini terlihat sangat lumrah. Selumrah kita meninggalkan kekhusyukan sepuluh hari terakhir untuk saling berlomba memadati pasar-pasar dan tempat perbelanjaan.

Untuk yang masih muda, nongkrong dan belanja di distro masih akan jadi budaya setidaknya 10 tahun lagi. Untuk yang beranjak dewasa, belanja barang branded dengan harga sale bisa jadi pilihan utama ketika THR telah dibayarkan. Untuk kaum dewasa menjelang tua dimana belanja bukan lagi kebutuhan utama mereka hanya cukup menerima pemberian saja dari anak-anak atau keluarga terdekat. Toh, dengan begitu lebaran masih akan tetap semarak.

Kalau ada yang sampai membuatku sibuk menjelang lebaran ini adalah persiapan mudik. Aku akan bersama jutaan warga kota ini akan terlibat bersama dalam sebuah ritual tahunan. Tujuanku tidak jauh, hanya sampai ke Bandung saja. Namun, esensinya masih akan tetap sama. Mudik ya pulang ke kampung halaman. Kira-kira begitu tafsirnya walau tentu berbeda dengan ketika pulang pas bukan waktunya mudik. Kalau lebaran tahun ini tidak diundur dan di suspend, Insya Allah ini akan jadi mudik pertama. Jadi aku belum akan terlalu banyak cerita karena aku belum mengalaminya.

***

Mestinya kau tak perlu buka buku harianku
Hanya akan membuat dirimu tersiksa dalam rasa curiga *)

Pelan lagu mengalun dari speaker. Sebuah lagu lama dari Krisdayanti zaman dulu dia belum terkenal dan seheboh sekarang. Dulu lagu itu memang hits. Aku masih ingat cuplikan video klipnya. Ternyata, dari zaman dulu selingkuh itu memang sudah ada dan tercipta. Maka, aku tidak heran apabila sekarang cerita dalam lagu itu menimpa si penyanyinya. Aku memang tidak mengikuti berita perceraian Krisdayanti. Aku hanya baru tahu kejelasan ceritanya dari tulisan di kolom kecil The Jakarta Post hari ini. Anang mengaku kehilangan separuh jiwanya. What a sad story. But that’s reality. Once you get betrayed, you’ll get another betrayal. Kadang cinta dan pengkhianatan menjadi sebuah ikatan yang utuh tanpa harus saling melepaskan. Dan inilah waktu yang tepat untuk berkata "I'm sorry goodbye***)"

Lagu lainnya yang keluar dari speaker yang bermerek sama dengan nama atasanku terdengar sedikit aneh.

Waktu aing datang ka imah sia
Ku indung sia dipareuman lampuna
kagok edan ku aing sagala dipacok
sihorengteh indung sia kabagean **)

Aku jadi teringat kisah seorang anak kecil. Ia selalu tidur bersama ibunya setiap malam. Pada suatu purnama yang sempurna, ia terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati sang ibu disampingnya. Mungkin karena sudah menyimpan rasa curiga ia pergi mengambil sebilah pisau di dapur. Kemudian, ia berjalan keluar rumah diterangi purnama yang bagaikan bola lampu neon besar.Entah bagaimana, dalam kegelapan kamar, ia kini mendapati ibunya sedang hanyut dalam pelukan seorang lelaki yang tidak ia kenal. Keduanya tidak bangun dan tidak tahu bahwa ada seorang anak kecil dengan sebilah pisau tengah menanti mereka untuk memberi izin pada Izrail untuk mencabut nyawa keduanya. Singkat cerita, si anak kembali pulang ke rumah dengan pisau berlumuran darah. Ia tidak tahu apa-apa. Tidak ada pula teriakan kesakitan ketika akhirnya Izrail melaksanakan tugasnya.

Mengerikan memang. Tapi, apapun masih bisa terjadi dalam hidup ini. Semuanya kadang bisa jadi kejutan tanpa harus menunggu keajaiban.

***

Senja telah turun di Jakarta. Matahari kini bagaikan bola merah membara. Sinarnya kini menembus jendela ruanganku. Gemuruh terdengar tandanya pekerja pulang ke rumah. Semua saling berlomba. Mengejhar adzan maghrib katanya. Aku tahu maghrib pun akan segera menghampiriku tepat dalam macetnya Jakarta. Debu, cinta, dan rindu berkejaran menghiasi kota yang tidak pernah diam sepi.


Kelapa Gading, 8 September 2009


*) Krisdayanti, “Terserah (buku harian)”. Ngetop pada zamannya.
**) The Panas Dalam, “Maklum Poek”. Penampilan liriknya dalam bahasa sunda tergolong cukup ekstrim tapi menghibur.
***) Krisdayanti, "I'm Sorry Goodbye".

Jumat, 14 Agustus 2009

We Hate It When Our Friends Become Successful*)

Mungkin kalimat judul diatas sanggup merepresentasikan perasaan JK saat ini. Siapa yang tidak merasa iri kalau ternyata hasil membuktikan bahwa teman dan kawan kita lebih berhasil dibandingkan dengan kita sendiri. Terlebih lagi bila kawan kita ini terpilih (lagi) untuk jadi presiden. Sedangkan, kita hanya bisa menjadi rival sesaat saja yang menunda-nunda waktu untuk kemudian dinyatakan kalah.

Mungkin juga, saat tulisan ini ditulis, JK sedang menggumamkan lagu itu sambil berkemas untuk meninggalkan rumah dinasnya dan kembali ke kampung halamannya di Makassar sana. Sambil mendendangkan lagu itu juga, bisa saja JK sedang duduk di kursi malasnya sambil membaca berita dari harian-harian ibukota yang headlinenya dipenuhi polemik setelah usainya pemilu presiden. JK tentu sedang fokus pada gugatan yang diajukannya pada MK dan itu pula yang akan menjadi pusat perhatiannya.

Sebagai manusia, sudah fitrahnya untuk merasakan yang demikian itu. Wajar sekali perasaan itu muncul sebagai reaksi atas kegagalan dan kekalahan dalam persaingan. Apalagi, kalau ternyata kita baru tersadar bahwa yang mengalahkan kita adalah kawan seperjuangan. Kawan yang selalu menemani sejak zamannya kabinet Persatuan Indonesia dibawah kepemimpinan Gus Dur dan Megawati hingga bersama berdua membentuk Kabinet Indonesia Bersatu, yang akan segera expired sebentar lagi.

Adalah kawan kita juga yang mengalahkan kita, kawan yang pernah bersama-sama menuntaskan kasus Balibo Five lalu membujuk Hassan Tiro untuk menandatangani perjanjian perdamaian. Kawan kita juga yang menemani di ruangan siding untuk bertukar pendapat mengenai masalah rakyat. Mulai dari bagaimana caranya membagi subsidi minyak pada rakyat hingga menutup semburan lumpur Lapindo.

Banyak pula pencapaian yang diraih semenjak kita memutuskan untuk menjadi partner dan teammate. Sebagai contoh saja, swasembada beras yang kembali dicapai sejak 1985. Kemudian, ternyata kawan kita juga menyetujui penyaluran BLT sebagai satu cara mengurangi beban rakyat miskin padahal banyak kalangan menganggap bahwa BLT hanya menjadikan rakyat sebagai pengemis. Belum lagi, kawan kita ini juga mendukung program pendidikan BOP-BOS yang sekarang ngetop dengan sebutan “Sekolah Gratis”. Di sisi lain, partnership yang terjalin juga menjanjikan bagi stabilitas ekonomi makro maupun mikro. Indikator pertumbuhan ekonomi terlihat membaik. Itu hanya beberapa gambaran saja bahwa kawan kita ini tidak salah pilih kawan untuk menemaninya duduk di singgasana tertinggi negeri ini.

*****

Kalau bukan karena mesin politik yang mogok dan sedang turun mesin di bengkel sebelah tentu akan jadi lain ceritanya. Sebab musabab mogoknya mesin politik JK ini masih menjadi pertanyaan besar yang perlahan mulai terkuak. Padahal, perolehan jumlah suara Partai Golkar di Pemilu Legislatif kemarin cukup besar. Dengan menjadi runner-up dibelakang Partai Demokrat dan sedikit diatas PDI-P, seharusnya jumlah perolehan suara JK di Pilpres tidak anjlok secara drastis.

Kemungkinan terbesar sebagai penyebab mogoknya mesin politik Golkar di Pilpres 2009 adalah hilangnya suara kader-kader Golkar di daerah. Ini adalah dugaan yang paling masuk akal mengingat partai peninggalan Orde Baru ini masih mempunyai basis pendukung yang loyal di beberapa daerah. Terbukti ketika Pemilu Legislatif 2004, partai ini mendominasi perolehan suara baik di pusat maupun di daerah. Namun, politik tidak butuh masa lalu. Kejayaan masa lalu seketika akan menjadi omong kosong belaka karena kenyataan hari ini. Kenyataan saat ini, Golkar kehilangan banyak suara. Suara Golkar pecah. Diduga pecahan suara ini mengalir pada kubu Demokrat yang menusung SBY-Boediono. Akar rumput Golkar ditebas habis oleh Demokrat.

Dengan kata lain, JK dan Golkar dikompori dan digembosi oleh kadernya sendiri. Ketika hasil pemilu legislatif melalui quickcount merebak diberbagai media, muncul isu dan wacana bahwa Golkar harus mengusung calon presiden sendiri bila perolehan suaranya mampu melewati 20% electoral threshold. JK sebagai Pemimpin Partai tentu saat itu sedang bingung. Jalan manakah yang harus ditempuh. JK mungkin masih ingin menjadi pendamping SBY dengan ikut berkoalisi ke Demokrat tetapi suara-suara dari daerah menyatakan bahwa sebagai partai yang eksistensinya telah diakui (secara politis) harus mampu mengusung calon presiden sendiri. Tidak asal sekedar berkoalisi. Dalam hatinya mengisyaratkan bahwa ia masih ingin punya kuasa atas negeri ini.

Banyaknya desakan yang demikian kemudian membuat Partai Golkar harus membuat pertemuan dengan mengumpulkan DPD-DPD se Indonesia di markas besarnya di Slipi. Tentunya, perdebatan alot terjadi. Antara mereka yang mendukung JK untuk naik sebagai capres dari Golkar dan mereka yang mendukung koalisi dengan Demokrat. Hasilnya, sudah kita tahu sendiri. Golkar merestui JK untuk naik sebagai capres ditemani dengan “pesakitan” Golkar yang membentuk Partai Hanura, Wiranto.

Sebagai partai yang punya harga diri, Golkar telah memutuskan untuk menceraikan JK dari SBY dan jadi the real contender for next presidential bid (mengikuti istilah The Jakarta Post). JK pun menerima keputusan tersebut dan maju jadi capres yang diusung koalisi Golkar dan Hanura. Saat itu, saya yakin JK telah bersiap untuk menerima hasil yang terburuk sekalipun, yaitu kekalahan. Kekalahan yang dimaksud adalah tidak lagi menjadi wakil presiden bersama SBY lalu tidak kebagian posisi sentral dalam tata pemerintahan Kabinet mendatang. Agaknya, inilah yang sempat membuat JK kelihatan ragu untuk maju sebagai capres. Sebagian bisnis JK memang berurusan dengan negara. Pemilihan Sofyan Jalil sebagai Meneg BUMN pun tidak lepas dari peran JK untuk mengamankan bisnisnya.

Kini, hasil pemilu presiden dengan berbagai sengketanya sudah tinggal memantapkan kemenangan SBY-Boediono. Tidak banyak pilihan bagi JK. Pulang kampung, sebagaimana yang JK bilang kemarin adalah opsi yang paling realistis saat ini.

*****

Putusan MK telah jatuh. MK menolak gugatan pasca pemilu. Dengan demikian, SBY semakin memantapkan kemenangannya. Adapun JK yang memang sudah siap untuk pulang kampung tidak perlu lagi pusing dengan urusan partai: Golkar oposisi atau merapat ke Demokrat? Dimana mau diadakan Munas? Sulsel atau Riau, siapa calon kuat Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Yuddy Chrisnandi, atau Ferry Mursyidan Baldan. JK tidak perlu repot lagi mengurusi yang demikian. JK cukup datang pada acara Munas nanti, memberikan pertanggungjawabannya dan selesai urusan. Pulang kampung, seperti yang JK bilang waktu debat capres.

Beberapa suara yang menahan kepulangannya dengan alasan figur JK terlanjur melekat pada bangsa ini saya harap tidak jadi alasan menunda atau bahkan menahan kepulangan JK ke kampung halamannya. Suara-suara itu hanyalah bentuk ewuh pakewuh bangsa ini. Dan terlebih lagi dengan berbagai tawaran posisi fungsional dan struktural bagi JK yang sudah menyatakan pensiun sangat tidak layak karena hanya jadi simbolisasi belaka. Biarkan JK pulang membangun Indonesia Timur yang lebih baik karena tidak aneh buat pebisnis seperti JK bila harus sarapan Coto Makassar dan Es Palubutung, lalu makan siang nasi timbel di Kampung Daun, Lembang, dan makan malam di J.W Marriot Medan.



Kelapa Gading, 14 Agustus 2009


*) We hate it when our friends become successful, dinyanyikan oleh Morissey


Kita Adalah Teroris

Bom meledak lagi. Kemudian meledak lagi. Dan tetap meledak lagi. Bom meledak, teroris tertawa. Bom kembali berjoget. Menebar ketakutan, menakar kewaspadaan. Bom terlanjur jadi momok melebihi setan dan narkoba. Sudah cukup bangsa ini melihat bom sebagai wujud teror. Teror yang dilakukan segelintir manusia yang pikirannya ngawur.

Siapa yang tak kenal Amrozi, santri dari Pesantren yang tidak terkenal di Lamongan itu telah tiada. Pun begitu dengan kompatriotnya, Imam Samudra dan Doktor Azahari. Tapi bom masih juga meledak. Konon katanya, Noordin M Top lah dalangnya. Detasemen khusus telah dibentuk untuk menanggulangi setiap peristiwa yang berkaitan dengan teror bom. Interpol juga turun tangan untuk membekuk manusia pengebom itu.

Akhir pekan lalu ketika Temanggung, kota kecil di Jawa Tengah tiba-tiba jadi pusat perhatian dunia. Untuk masyarakat di Indonesia, mereka semua penasaran bagaimana caranya Polisi untuk menangkap buronan paling dicari di seantero jagad perIndonesiaan. Belum lagi, masyarakat internasional yang juga ikut menaruh perhatian karena Noordin sudah terlanjur mereka nilai sebagai pejuang penebar teror.

Sayang, sayang, sayang. Belakangan, ternyata bukan Noordin yang mati di Temanggung, tapi Ibrohim. Sayang sekali. Mudah rasanya bagi kita dan Polisi untuk terkecoh. Noordin atau bukan Noordin masalahnya akan tetap masih sama saja. Teror adalah penyakit yang harus segera disembuhkan supaya kelak jiwa kita tidak ikut rusak karenanya.

Teror ada dimana-mana. Ia hadir didalam hati, pikiran, dan tingkah laku kita. Maka, kita pun bisa dengan mudah menjadi Noordin-Noordin yang baru. Kita bisa dengan mudah menjadi seperti Noordin tanpa harus berilmu pada eks mujahidin Afghanistan yang pernah merakit high explosive bomb dan C4 untuk meledakkan tank-tank Rusia. Tidak perlu kita belajar teknologi bom nuklir di MIT sana karena ternyata seorang Amrozi pun bisa membuat ledakan yang tak kalah dahsyat dengan yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Dengan apa yang ada pada diri kita saja sudah mudah bagi kita untuk menjadi teroris.

Fenomena teror muncul akibat pola resistensi kultural dan psikologis dari mereka-kaum yang terbuang dan terpinggirkan dari arus zaman. Karena mereka harus bertahan hidup maka masalah ideologis yang kental menjadi solusi pemecahan masalah. Dalam perasaan terbuang dan terpinggirkan itu mereka menanam dendam dalam hati dan jiwa mereka. Tubuh mereka terlanjur jadi bom waktu yang bisa meledak seenaknya mereka. Kalau sudah begitu, tinggal mencari pembenaran yang bisa melegalkan pikiran macam mereka sehingga mereka tidak ragu lagi bahwa teror adalah semacam jalan perjuangan.

Tetapi, kita pun tidak perlu menunggu atau bahkan harus merasa terbuang dan terpinggirkan lebih dahulu kalau mau jadi seperti mereka. Dalam kondisi normal pun kita sudah bisa jadi pelaku teror. Mau naik jabatan, teror saja saingan. Mau naik gaji, merongrong atasan dengan segenap alasan produktivitas dan kinerja. Mau korupsi, teror saja polisi.

***

Kita adalah teroris. Dimanapun kita berada kita dapat merubah diri secepat mungkin. Berbagai jerat lingkungan yang menghiasi hidup kita bisa menjadi penunjuk jalan kea rah sana. Berhati-hatilah, karena setiap ketidakpuasan yang anda alami akan menggoyahkan jiwa dan pikiran anda. Lebih parah, hati anda tergerak untuk melakukan sesuatu yang radikal seperti teror itu tadi. Teror tidak selalu harus teror bom. Masih ada teror lainnya. Teror psikologis, teror sosial, ataupun teror budaya.

Kita adalah teroris. Teroris pada diri sendiri. Selalu menolak pada kemapanan sistem birokrasi yang terlanjur membudaya dan mengontrol tata kosmos kehidupan ini. Jiwa-jiwa teroris dalam diri terbentuk dari keengganan untuk beradaptasi. Jiwa-jiwa teroris ini tetap hidup dalam jiwa yang selalu memberontak. Jiwa-jiwa teroris adalah jiwa yang melawan segala sistem yang bobrok yang tidak lagi menjadikan manusia sebagai manusia. Bila Tuhan bisa diteror, tentu akan kita teror juga. Sayangnya, Tuhan punya sistem peringatan teror yang canggih dibanding dengan CIA sekalipun. Sebelum kita meneror Tuhan, kita sudah keok duluan.

Kesatuan jiwa-jiwa teroris akan mengundang manfaat ketika digunakan benar-benar pada hal yang sesuai pada tempatnya. Manfaatkan jiwa-jiwa teroris untuk melawan segala sesuatu yang tidak memanusiakan manusia. Lawanlah segala bentuk penindasan di era neoliberal ini hingga tegaknya keadilan bagi si kaya dan si miskin. Jadikan manusia kembali pada fitrahnya. Jadikan, jiwa-jiwa teroris sebagai kekuatan. Bersatu padu untuk melawan pembodohan-pembodohan di sekitar kita.


Kelapa Gading, 14 Agustus 2009


*) Terinspirasi dari tulisan berjudul “Santri Teror” dalam buku “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” Penerbit Buku Kompas, 2007. Hal. 91

Kamis, 13 Agustus 2009

3 Malam, 3 Cerita

Bird Song

I remember everything
Every joy and pain
Every hurts and tears
Every rain spots on the window

They're watching us
Walking down to easy winter evening
That's all going wet

We always love the moment
Just sat and watching the sun goes down
Surrounded by cludy and foggy air
Just both of us

Where are you now?
I'm just an empty glass spilled nowhere
I could only hear birds singing
A sad song, that everlasted, unselfish, and endless

March 16, 2009, Jakarta

*****

Another Kind of You

Everyone can go
Everything will leave
Only desire still remain
Keeping silences in reminiscing place
Where do i find you?

Is that you blinking with the stars?
Or just blended away by the wind?
I cound only hear a whisper
Saying, i'll always be with you, by breathing your name

March 16, 2009, Jakarta

*****

Titip Rindu buat Ibu*)

Rembulan merah mengambang
Langit Cikampek malam hari
Angin kemarau mengalun terbang
Hantarkan hasrat mimpi kembali

Debur rindu bawa kelam
Sejuta rindu bawa mimpi
Desiran ingin bakar malam
Jatiluhur terpatri sepi

Ibu... Si Anak meradang
Dalam sedu gemuruh hati
Ibu... anakmu pulang
Remuk redam hati terobati

Jakarta, 12 Agustus 2009

*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...