Sabtu, 21 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (2)

Menuju Negeri Lee Kuan Yeuw

31 Desember 2014. Hari terakhir tahun ini. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan mengalami perjalanan ini. Melakukan pergantian tahun di negeri orang. Memang tak jauh, hanya di negerinya Lee Kuan Yew. Namun, perjalanan memang selalu membawa kita pada sesuatu yang baru. Terlebih, saya ditemani istri tercinta kali ini.

Kami tidak punya agenda apapun untuk malam tahun baru ini. Pagi ini, kami harus segera berangkat menuju Batam Center. Agak sedikit terlambat karena kami terlalu menikmati kemalasan pagi hari. Kami baru check-out sekitar pukul 08.30 bersama pasangan asal Singapura yang mengajak kami untuk menyewa mobil (sharing) bersama. Ide yang bagus. Kami membayar bill hotel plus Rp. 80.000,- sebagai harga sewa mobil.

Laki-laki asal Singapura itu menebak tujuan kami adalah negerinya. Betul, kami memang akan kesana. Akhirnya, si perempuan ikut bicara dan memberi tahu kami spot-spot bagus untuk menikmati malam pergantian tahun disana. Vivo City Mall dan Marina Bay Sands sudah jelas masuk dalam daftar mereka.

Kami berpisah di Batam Center. Mereka boarding menuju antrian ferry Wave Master sedangkan kami menuju counter Batam Fast. Saya dan Ella sempat tertahan sepuluh menit disini karena antrian yang lumayan panjang. Tidak masalah karena masih ada setengah jam menuju keberangkatan walau sempat khawatir tidak kebagian jadwal penyeberangan jam 10.00 WIB. Kami lalu menuju area pengecekan imigrasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Saya menangkap senyum petugas yang tadi menyuruh kami untuk pergi ke counter Batam Fast untuk check-in. Maklum, kali ini saya tidak dibantu agen perjalanan :D .

Perjalanan menggunakan ferry ditempuh selama satu jam. 15 menit lebih lama karena kondisi ombak dan cuaca yang gerimis. Pada misi penyeberangan kali ini kapal ferry kami tidak didatangi petugas patroli perbatasan. Agak sedikit kaget ketika penyeberangan saya yang pertama sempat diperiksa oleh polisi.

Wilkommen en Singapore!



Cuaca agak sedikit cerah dan matahari mulai terlihat. Sisa-sisa gerimis masih membekas ketika Ella menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Harbourfront, Singapura. Kami segera menuju antrian imigrasi yang memang sudah padat oleh penumpang dari ferry sebelumnya. Seperti biasa, saya menjumpai lagi petugas imigrasi yang cekatan membuka jalur antrian. Kami menghabiskan waktu 15 menit untuk menyelesaikan urusan cap paspor.

Karena sudah dekat dengan Sentosa Island, Ella minta untuk segera menuju kesana. Ada beberapa pilihan untuk menyeberang ke Sentosa. Ada kereta gantung dan kereta shuttle dari Vivo City. Jalan kaki pun bisa. Namun, akhirnya kami urung pergi kesana. Kami tidak ingin kehabisan waktu disana. Maka kami pun hanya duduk-duduk santai di teras Vivo City Mall berteman angin laut sambil mencoba kamera DSLR pertama saya.

Selain liburan, pada perjalanan kali ini juga saya dibekali oleh perlengkapan baru. Sebuah kamera DSLR buatan Nikon dan tripod jadi teman seperjalanan. Selain kamera pocket Lumix FH-4 tercinta, tentunya. Saya belum banyak belajar fotografi digital sehingga perjalanan ini akan jadi momen latihan.

Saya segera memasang tripod dan mengambil beberapa foto di pinggir pantai. Saya juga mencoba beberapa fitur kamera. Saya akan menghabiskan banyak jepretan selama perjalanan ini karena saya ingin tahu sejauh mana penguasaan saya atas kamera DSLR. Usai puas berfoto dan rehat sejenak meredakan mabuk laut, kami beranjak lagi menuju stasiun MRT di underground Vivo City. Tujuan selanjutnya adalah Merlion Park. Saya akan mengajak Ella menuju Singapore’s trademark sekaligus mengesahkan perjalanan pertamanya kesini dengan berfoto latar Singa Merlion.



Kami membeli tiket daily pass seharga SGD 24. Jaminan SGD 20 akan didapatkan bila menukarkan daily pass pada saat habis masa berlakunya. Ini adalah satu cara yang bagus apabila kita puas jalan-jalan seharian di Singapura. Kita tidak perlu repot lagi untuk mengantri tiket. Tiket daily pass ini juga berlaku untuk semua moda transportasi, tidak hanya terbatas pada subway MRT.

Merlion is a Must!

Pada stasiun tujuan pertama, kami salah turun. Kami pun kembali ke Vivo City Mall dan mengambil rute menuju Raffles Place, dimana kami harus transit di stasiun Dhoby Ghaut. Kami pun akhirnya tiba di stasiun Raffles Place dan berjalan menuju Merlion Park.



Sudah menjadi keharusan bahwa berfoto dengan Merlion adalah semacam stempel yang mengesahkan kedatangan kita di negeri ini. Seakan tertulis dalam kitab suci bahwa Merlion adalah ritus khusus yang wajib didatangi. Ini terjadi lagi pada kami. 2013 lalu saya berfoto disini bersama kawan-kawan kantor. Kali ini, saya bersama dengan istri tercinta mengabadikan momen bersama Merlion dan Marina Bay Sands Hotel.


Hari pun beranjak menuju senja. Kami berjumpa dengan seorang perempuan dari Indonesia yang sedang menunggu temannya untuk menikmati tahun baru di Merlion Park. Ia hanya akan duduk-duduk saja disana seraya menunggu lalu kembali ke Indonesia pada pagi pertama di 2015. Kami pun pamit dan berjalan menuju Raffles Place.



Kami melepas lelah dengan menikmati es krim ala Orchard. Bedanya, yang ini tidak pakai roti tapi pakai kue waffel kering. Harganya pun masih SGD 1, dimana harga es krim ala Orchard mengalami kenaikan yang kini harganya menjadi SGD 1,2. Kami berdua pun tidak lupa untuk menghabiskan waktu berfoto bersama. Ada banyak spot bagus. Cukup pasang tripod, pasang timer, and smile!


Tak terasa sudah pukul 7 malam lebih, kami pun harus mengakhiri sesi foto outdoor hari ini. Seragam Merah Liverpool yang kami kenakan sepanjang hari ini sudah terekam dengan baik dalam kamera. Pertanda eksistensi ala couple yang sedang jadi trend belakangan ini. Ella memeriksa kembali booking hotel. Kami mendapat kamar di hostel backpacker, Lofi Inn Backpackers, yang berada di Hamilton Road. Batas check-in tertulis pukul 11 malam ini. Kami masih punya banyak waktu untuk menemukan alamat itu. Terlebih disaat kami benar-benar get lost tanpa handphone dan wifi.



Finding Hamilton

Keajaiban dimulai sejak kami naik MRT dari Raffles Place menuju Hamilton Road. Sebelum berangkat saya memang pernah mencari posisi hotel di Google Maps. Saya menandai patokan menuju ke hostel adalah dari Mustafa Center. Dengan demikian, berangkatlah kami menuju stasiun MRT Little India.

Setibanya di Little India, saya dilanda kebingungan karena tidak bisa menemukan posisi Mustafa Center walaupun sudah bertanya pada polisi yang berpatroli. Kami terus berjalan menyusuri jalan besar. Saya melihat Ella sudah lelah. Saya pun demikian. Tanpa disadari, kami mengalami adu argumen kami yang pertama disini. Kami sudah mulai lapar ketika menemukan sebuah warnet. Aha!
Kami mencoba mencari lokasi hotel dari tempat kami ngewarnet. Kami membayar sewa SGD 1 untuk 30 menit. Dari warnet, kami hanya perlu tinggal mengambil jalan lurus menuju Hamilton Road. Akhirnya, the problem solved! Waktunya cari makan.

Kami pun menjatuhkan pilihan pada restoran di perempatan jalan sekitar 800 meter dari warnet. Walaupun melabeli restorannya dengan masakan India, namun restoran ini menyediakan variasi yang cukup lengkap. Ada nasi goreng dan capcay, serta masakan khas Melayu dan Thailand. Kami pun memesan seporsi capcay yang cukup untuk berdua dan roti canai berkuah gulai. Kami menghabiskan SGD 12 untuk dinner yang cukup menyenangkan ini.



Kami berjalan kembali menuju Hamilton Road yang terletak di ujung jalan. Perasaan lega seketika menyeruak. Ah, betapa ingin kami segera merebahkan diri sebelum menyaksikan pesta kembang api yang katanya ada yang digelar di dekat lokasi hostel. Lofi Inn yang kami cari pun tak begitu susah ditemukan. And you know what, shit starts from here.

Sometimes, Life Left You Unanswered



Setibanya di Lofi Inn kami segera check-in, petugas resepsionis hostel sudah bersiap untuk pergi. Ia sudah ditunggu temannya, mereka akan merayakan tahun baru. Katanya, dua orang petugas pengganti shift sudah ada dan sedang bersiap-siap di belakang. Kami menunggu kembali. Beberapa tamu yang datang sebelum kami pun tampak kesal. Perasaan saya mulai tidak enak. Kami pun menunggu hingga menjelang pukul 11 malam. Tak terasa sudah satu jam lebih.

Pukul 11 malam, tidak ada petugas hostel yang dapat dihubungi. Lima belas menit kemudian ada dua orang petugas yang dengan gagahnya memberitahu para tamu bahwa Lofi Inn mengalami kerusakan sistem reservasi sehingga tamu yang membooking kamar via agoda.com dan booking.com tidak bisa mendapatkan kamar yang memang sudah penuh. Mereka meyakinkan kami untuk segera mencarikan hostel pengganti di sekitar lokasi yang berdekatan. Setahu saya, ketika kami tiba di Hamilton Road memang ada beberapa hostel lain. Mungkin juga mereka sudah penuh apalagi ini sekarang adalah malam tahun baru.

Menjelang menit-menit pergantian tahun, kami belum juga dapat kepastian. Sementara si petugas semakin kewalahan mencari hostel pengganti. Kami diperbolehkan menggunakan fasilitas kamar mandi hostel. Saya dan Ella bergantian cuci muka dan sholat. 

Akhirnya, kami menikmati kembang api dari kejauhan saja. Kami masih belum dapat kepastian tempat tinggal malam ini. Dari jendela yang mengarah keluar di lantai tiga Lofi Inn, saya melihat kembang api di kejauhan. Sementara Ella berada di bawah bersama tamu-tamu lain yang membaur. Beberapa tamu mengucapkan Happy New Year pada yang lainnya. Saya melihat harapan baru tumbuh di mata mereka.

Kami pun mendapatkan kamar, seorang petugas membawa saya dan Ella ke penginapan sebelah. Kira-kira 4 ruko bedanya dari Lofi Inn, sebuah hostel backpacker berjudul Pillow Talk. Saya meminta ranjang yang sama dengan Ella setelah meyakinkan di penjaga sekaligus owner Pillow Talk. Namun, karena ada seorang kawan perempuan lain dari Indonesia yang juga tidak kebagian kamar di Lofi Inn, saya harus rela tidur terpisah dari Ella.

Kamar hostel untuk backpacker termasuk unik. Satu kamar bisa diisi hingga 16 orang dengan tempat tidur ganda (atas-bawah). Saya kebagian di ranjang atas yang cukup nyaman. Saya harus rela menikmati malam pertama saya tanpa istri disamping. Namanya juga hostel backpacker. Kalau pengen enak ya kenapa nggak tinggal di Fullerton, ucap saya dalam hati.

Satu pelajaran telah kami alami soal booking hotel via external channel seperti agoda dan booking.com. Ella menduga kejadian yang kami alami ini adalah trik marketing dari sekumpulan pengusaha hotel agar mendapat kue yang sama sepanjang perayaan tahun baru.

Malam semakin meninggi. Pesta telah usai. Ledakan kembang api sayup-sayup masih terdengar dari kejauhan. Sementara itu, backpackers lain mulai berdatangan dan segera tidur. Perjalanan saya dan Ella belum akan berakhir. Kami masih akan menikmati Singapura seharian. Rencananya kami akan pergi ke Singapore Zoo lalu sorenya kami menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia.

Mata saya mulai berat. Barangkali, Ella pun begitu. Terima kasih Tuhan untuk perjalanan kami hari ini.

Johor Bahru, 1 Januari 2015.

Jumat, 20 Februari 2015

Mengenang Rinto Harahap

Bila kau seorang diri, jangan engkau bersedih...

Sebelum saya menyelesaikan memoar perjalanan tiga negeri bersama Istri, datang sebuah kabar duka. Rinto Harahap tutup usia. Beberapa tahun lalu ketika Robin Gibbs tutup usia, saya menulis obituari untuknya disini.  Agaknya, kehilangan yang sama juga saya rasakan. Dengan demikian, tak berlebihan rasanya bila saya mengapresiasi beberapa karya beliau yang melekat dalam ingatan. Saya berterima kasih pada Bapak karena telah mengenalkan saya pada hal yang demikian.



Penyanyi dan pencipta lagu legendaris ini meninggal di Singapura 9 Februari lalu pada usia ke-65. Legenda musik kelahiran Sibolga, 10 Maret 1949 ini adalah maestro jagad musik Indonesia. Kita semua tidak asing lagi dengan lagu-lagu ciptaanya yang tak lekang dimakan zaman. Sebagai legenda, Rinto Harahap telah mengalami pengalaman-pengalaman bermusik yang lengkap sepanjang hidupnya. Mulai dari menjadi pemain band bersama The Mercy’s, mendirikan perusahaan rekaman Lollypop Record, hingga menjadi pencipta lagu.
 
Lagu-lagu Kenangan

Banyak lagu Rinto Harahap yang juga melegenda. Lirik yang puitis dengan makna yang dalam serta mudah diingat menjadikan lagu-lagu tersebut tetap abadi di hati para penggemarnya. Thanks to Youtube. Mudah saja untuk kita untuk bernostalgia sejenak ke masa lalu, pada satu masa dimana lagu-lagu itu mencapai masa keemasannya.

Katakan Sejujurnya



Lagu ini dinyanyikan oleh Christine Panjaitan dan segera menjadi hits. Personally, saya suka liriknya. Bercerita tentang kisah dua manusia yang saling mencinta namun akhirnya terpisah juga karena satu perbedaan. Pada satu kolom komentar di Youtube, lagu ini seakan mengisahkan kandasnya kisah cinta Christine Panjaitan dengan Ikang Fawzi. Saya sendiri belum mengkonfirmasi kebenaran isu itu. Andai saja dulu sudah ada Cek & Ricek atau Silet, tentu jadi lebih mudah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian hal itu.

Hati Yang Luka

Siapa yang tak kenal lagu ini? Lagu Betharia Sonata ini terkenal di kalangan kami yang anak-anak dengan lirik ‘uo uo’-nya. Dulu..bersumpah janji di depan saksi..uo...uo... Tidak diragukan lagi bila lagu ini adalah masterpiece Rinto Harahap untuk yang kesekian kalinya.

Dingin

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia...
Kau janjikan sepatu baru dari kulit rusa...
 
Hetty Koes Endang pun turut merasakan sentuhan tangan dingin Rinto Harahap. Lagu ini juga sempat jadi hits. Entah karena liriknya atau karena memang dari dulu yang namanya galau itu sudah ada dan melanda beberapa orang dari generasi orang tua kita. Who knows? :D

Benci Tapi Rindu

Lagu ini tidak hanya membawa Diana Nasution pada pencapaian karir musiknya. Lagu ini juga kian abadi karena sering dijadikan pameo (tulisan) di balik bak truk pasir. Liriknya pun sederhana namun menghadirkan paradoks. Sakitnya hati ini....namun aku rindu....

Jangan Sakiti Hatinya
 
Masihkah kau ingat, sayang...
Gadis yang pernah kau sayang...

Lirik sederhana dan mudah diingat ini menjadi hits milik Iis Sugianto. Lagu mellow yang punya pesan sangat jelas ini bahkan dinyanyikan kembali dengan beat rock hasil recycle dari Andi /rif.

Gelas Gelas Kaca

Aroma kesedihan dalam penantian yang sendu adalah ciri khas yang melekat pada Nia Daniaty dengan hits miliknya ini.  Dulu, Bapak sering memutar lagu ini. Entah karena apa atau memang hanya ingin mengajari saya bahwa suara Nia Daniaty memang merdu.

Bila Kau Seorang Diri

Satu lagu yang jadi favorit terakhir dalam tulisan ini adalah lagu hits yang dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia. Liriknya romantis, serasa Rinto benar-benar mengeksplorasi perasaan seorang kekasih yang sedang dilanda sepi.
 
Konklusi

Seorang penulis mati ketika karyanya terbit. Dan seperti layaknya seorang musisi, karya mereka akan terus hidup dalam ingatan pembaca dan pendengarnya. Karyanya akan terus dikenang dan dinyanyikan kembali dengan partitur yang sama. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Selamat jalan, Rinto Harahap. Terima kasih telah mengenalkan kami pada cinta yang merdu.

 
Dharmawangsa, 15 Februari 2015.

Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Tiga Negeri (1)

If travel teach us how to see, why all I see is you? (Anonim)

Prolog

Konon, cara terbaik untuk mengetahui karakter seseorang adalah dengan melakukan perjalanan bersama. Beberapa hari menjelang hari pernikahan, kami memutuskan untuk tidak menikmati liburan dengan hanya berdiam diri ‘mager’ di rumah. Terlalu sayang bila kesempatan ini dibiarkan berlalu begitu saja. Dengan begitu, maka proses pengenalan kami sebagai suami-istri akan semakin intens. Untuk saya dan Ella hal ini tentu jadi satu pengalaman baru mengingat perjalanan kami ini melintasi beberapa negara. Tentu dengan beberapa kesulitannya sendiri. Let’s see how we solve those problems on the road.

Selasa, 23 Desember 2014, di sela-sela waktu training, saya mencoba mencari tiket penerbangan ke beberapa negara tetangga sambal berharap mendapat tiket promo atau harga yang pantas. Saya sendiri sangat paham bahwa merencanakan perjalanan untuk akhir tahun harus dibuat jauh hari sebelumnya. Saya berharap punya sedikit keberuntungan untuk mendapatkan tiket murah (dengan harga yang realistis tentunya) untuk ‘liburan dadakan’ kami.

Saya sempat sedikit patah harapan karena tidak ada penerbangan yang harganya sesuai dengan budget kami. Rencana pun kami rubah dengan melakukan perjalanan jarak dekat saja. Menatap senja di puncak Semeru jadi pilihan kami. Saya belum setuju dengan ide Ella itu sampai saya teringat sebuah iklan yang dipasang di satu perempatan jalan. Crash, boom, bang! Yeap, saya mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia tujuan Bandung-Batam PP untuk 2 orang. Let’s go abroad, darling!

Masih dengan jantung yang berdebar usai menuntaskan pembayaran lewat kartu kredit, saya segera mengirim copy email e-ticket ke Ella. Tak lupa seraya mengingatkan Ella untuk membooking hotel di kota-kota yang akan jadi tujuan kami. Saya bersyukur, Ella segera mendapatkan konfirmasi hotel via booking.com. Again, that’s how credit card saves your life! Itinerary sudah didapat dan kami masih harus bersabar karena hari pernikahan masih pada akhir pekan ini. At least, kami sudah punya kepastian kemana kami akan pergi menghabiskan sisa hari libur akhir tahun sekaligus merayakan tahun baru 2015.

30 Desember 2014: The Departure



Hari pernikahan kami, 27 Desember, telah berlalu. Beberapa kerabat sudah pulang kembali ke kampong halaman untuk memulai hari kembali. Sementara, kami juga masih harus membereskan beberapa hal seperti mengembalikan busana adat beserta perlengkapannya. Saya dan Ella sendiri cukup disibukkan dengan mengatur penyimpanan hadiah dari undangan yang hadir.

Persiapan keberangkatan pun kami buat sesederhana mungkin. Selain pakaian, saya membawa perlengkapan standar wajib traveling seperti kamera, tongsis, dan tripod. Saya pun tidak jadi membawa perlengkapan lari walaupun sebenarnya ingin membuat personal record lari di tiga negara berbeda.

Selasa ini kami menyelesaikan pengembalian beberapa perlengkapan busana adat ke satu alamat yang berada di dekat rumah nenek saya. Saya dan Ella langsung siap-siap membawa perlengkapan dan perbekalan untuk perjalanan kami. Kami minta diturunkan di Bandara Husein Sastranegara.

Usai pamit, kami segera menuju ke counter check-in dan menemukan pintu masuk kesana ramai oleh para pengantar yang ingin ikut masuk ke dalam area keberangkatan. Untuk yang satu ini, Indonesia Banget! Kami lantas pergi sholat dulu di mushola. Antrian masih memanjang ketika saya dan Ella akan masuk. Rupanya, masih banyak pengantar yang keukeuh ingin masuk walau sudah dihadang petugas.

Sesampainya didalam, kami menuju meja petugas check-in Garuda Indonesia. Pesawat kami belum tiba. GA336 yang akan membawa kami ke Batam masih dalam perjalanan menuju Bandung dari Denpasar. Selama menunggu, kami mampir ke Starbucks dan memesan Green Tea. Rasanya sangat special karena ini adalah pengalaman pertama istri saya dengan Starbucks :D.

Tak lama setelah minuman kami habis, pesawat Boeing 737-800 PK-GMN parkir di apron dan penumpang dipersilakan naik. Tepat pukul 14.55 pesawat mendaki langit ke arah barat, menuju horizon tanpa batas. Seperti biasa, saya segera menyalakan perangkat inflight entertainment dan memilih lagu-lagu pilihan untuk menemani perjalanan.

Perjalanan dengan Garuda Indonesia ini juga dari pengalaman pertama Ella. Maka, saya tidak keberatan untuk mengajarinya beberapa cara menggunakan perangkat hiburan. Ketika Ella mulai mahir kami pun sibuk dengan hiburan kami masing-masing. Kami sempat agak khawatir dengan penerbangan ini karena factor cuaca yang jadi satu contributing factor pada kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami pun makan siang diatas ketinggian 37.000 kaki dengan kabin yang bergoyang.

Batam!

Kami landing di Bandara Hang Nadim Batam pukul 16.40, tepat waktu sesuai jadwal. Sebelum menuju pintu keluar, kami mampir dulu di counter tiket Batam Fast untuk membeli tiket penyeberangan ferry ke Harbourfront, Singapura, esok hari. Sebagai catatan, saya menghemat Rp. 150.000,- dengan membeli tiket disini. Harga tiket di Sekupang atau Batam Center adalah Rp. 450.000,- pulang-pergi include tax. Saya membayar dua tiket dengan harga Rp. 600.000,- include pajak dengan pemilihan jadwal yang fleksibel pulang-pergi. Saya sarankan untuk membeli di counter bandara saja bila ingin menyeberang ke negerinya Lee Kuan Yew, praktis dan hemat.

Kami segera menuju hotel tempat kami akan menginap, Formosa Hotel. Pada kunjungan pertama saya ke Batam bersama rekan-rekan sepekerjaan, kami pun menginap di hotel ini. Letaknya yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan Nagoya memudahkan kami untuk membeli sekedar bekal untuk perjalanan besok sekalian jalan-jalan sebentar.

Kami menghemat tenaga untuk besok dengan harapan bisa menjelajahi Negeri Singa seharian penuh menjelang malam pergantian tahun masehi. Kami menikmati malam yang semarak di Batam. Suasana tahun baru sudah terasa. Semoga tahun baru membawa pengalaman baru bagi kami.


Batam, 30 Desember 2014.

Sabtu, 10 Januari 2015

The Day We Find Love (Once Again)

I finally found someone, someone to share my life...
I finally found the one, to be with every night...
My life has just began, i finally found someone...






Bandung, 27 Desember 2014.

Kamis, 25 Desember 2014

H-2

It's getting closer. I didn't even remember  what really happened in past years. Come away with me. The best is yet to be. 


Pharmindo, 25 Desember 2014. 

Minggu, 14 Desember 2014

BAJAK JAKARTA 2014

Sudah hampir dua bulan ini saya tidak mengikuti lomba lari. Terakhir, lomba yang saya ikuti adalah Mandiri Run Bandung bulan Oktober lalu. November, saya tidak ada dalam barisan starter di lomba lari manapun. Desember ini, saya mengikuti Nike Indonesia #BAJAKJKT 2014 sebagai lomba pamungkas, at least untuk tahun ini. 

TIIS JAYA RUNNER VS JKT

Persiapan menuju #BAJAKJKT saya lalui dengan lari rutin mingguan, entah di Monas, Petojo, dan Pharmindo. Tidak hanya itu, #BAJAKJKT juga menyadarkan saya untuk mendiskusikan terlebih dahulu apa yang jadi keinginan saya ini bersama sang calon istri tercinta. Dua minggu lagi kami akan menikah, sehingga waktu mendaftar untuk menjadi Pembajak Jakarta saya kurang aware bahwa ia cukup khawatir dengan keputusan saya berlomba menjelang waktu pernikahan yang semakin dekat, kalau tidak mau dibilang menghitung hari.

Setelah melalui diskusi kecil di satu rumah makan di Bogor, saya mengambil satu keputusan. Saya berusaha untuk tidak memaksakan diri dengan latihan long run. Saya masih akan setia dengan usaha saya memperbaiki personal record dan menjaga pace di 5K run.

Courtesy: @IndoRunners

Raceday. Saya melintasi garis start #BAJAKJKT 10 menit setelah bendera start dikibarkan. Telat memang karena saya masih mengantri di toilet umum. Pengaruh dari badan yang kurang fit beberapa hari belakangan pun membuat saya lebih santai untuk tidak memaksa berlari kencang di 2,5 km pertama. Saya lebih santai dan berada di wave belakang. Barisan wave belakang ini diisi pelari kelas fun run sepertinya. Mereka masih bisa berfoto selfie, memakai tongsis sambil berlari, dan bahkan berfoto dengan bajaj yang ‘dihias’ YOU VS BAJAJ ala #BAJAKJKT.

Pengalaman berlari di wave seperti itu adalah yang pertama bagi saya. Terus terang saya kurang merasa nyaman. Saya khawatir terkena tongsis dan juga perlu gesa-gesi (geser sana, geser sini) untuk menyusul pelari di depan. Alhasil, karena saya memang tidak mau berlari dengan pace 6 saya harus berjuang menyesuaikan. Saya menyayangkan pelari yang tidak membaca dengan seksama prerace guide, dimana dinyatakan bahwa pelari yang lebih lambat harus berada di jalur kiri agar pelari yang lebih cepat bisa menyusul di jalur kanan. Imbasnya, banyak pelari yang lebih cepat perlu zig-zag untuk menyusul.

Courtesy: @IndoRunners

Saya cukup memaklumi bahwa saya memang berada di wave yang crowded. Berbeda dengan Panin 10K dimana saya berada di wave depan. Saya cenderung tidak memaksakan diri berlari cepat ketika memasuki 5+ km. Saya mencoba berlari santai saja, barangkali dengan berlari bisa menghangatkan badan dan melancarkan sirkulasi darah dan udara setelah didera meriang disko.
 


Menjelang finish, papan waktu menunjukkan 1 jam 20 menit, artinya ini adalah lari 10K terburuk saya. Apapun itu, saya tidak terlalu peduli. Yang jelas saya berhasil finish dengan kondisi badan yang tidak terlalu fit. Melintasi garis finish, saya melihat Ella sudah menunggu. Dari senyumnya saya tahu bahwa ia masih mengkhawatirkan kondisi saya. Setidaknya, setelah saya finish Ella tidak perlu lagi khawatir. I’ll be there for you, cause i know you’ll be there for me too.

RACE RESULT

1399/3523 runners in Male 25+ Category & 2213/5533 Male runners, lumayan masih setengah diatas.


Lapangan Banteng-Paninggilan, 13 Desember 2014.

Senin, 01 Desember 2014

Catatan Hati Pengantin

Barangkali benar, tidak ada yang bisa menyiapkan diri kita lahir batin sebelum memasuki gerbang pernikahan. Karena memang tidak pernah ada institusi pendidikan yang membekali seseorang untuk benar-benar siap mengarungi bahteranya.



Harus saya akui bahwa membaca buku bertema pernikahan adalah satu persiapan yang baik bagi calon pengantin. Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami gambaran perjalanan kehidupan pernikahan. Segenap jatuh bangun usaha, turun naik gelombang kehidupan, pasang surut kasih sayang, dalam keseharian pernikahan digambarkan disini.

Ada beberapa nama yang saya kenal yang berkontribusi dalam kumpulan cerita ini. Sebut saja, Novia Syahidah, penulis buku "Titip Rindu Buat Ibu" dan Sinta Yudisia yang juga penulis beberapa buku bestseller. 

Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata bila dibandingkan dengan buku bertema serupa "Sakinah Bersamamu", masih dari penulis yang sama. Ada sepuluh bab yang menghimpun keseharian kehidupan pernikahan. Dimulai dengan hal-hal yang utama dalam pernikahan, yaitu kesehatan dan perekonomian keluarga. Kemudian, perihal rindu terhadap pasangan dan pekerjaan rumah tangga pun jadi bab tersendiri. Selanjutnya, tidak kalah dalam penting adalah pentingnya memilih tempat tinggal serta adanya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan.

Memasuki bab-bab akhir, pembaca dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi situasional dalam pernikahan. Betapa komunikasi antar individu sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga pernikahan. Komunikasi yang terjalin pun tidak hanya dalam lingkup keluarga kecil saja, komunikasi dengan mertua dan kerabat juga menjadi fokus yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Hingga akhirnya, ditutup oleh bab mengenai kehilangan yang disebabkan oleh maut.

Pada setiap akhir bab, ada satu konklusi sebagai bahan renungan dari penulis. Perbandingan pengalaman penulis dan para pengisi cerita menjadi satu nilai plus tersendiri. Saya mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya jadi lebih sadar akan hal-hal yang akan saya hadapi dalam kehidupan pernikahan nanti. Terakhir, saya berterima kasih karena buku ini telah membantu saya menghadapi berbagai kekhawatiran menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 30 November 2014.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...