Selasa, 07 Juli 2020

Tiga Tahun

Aisyah, putriku.

Hari ini genap usiamu beranjak tiga tahun. Tiga tahun yang penuh suka dan riang. Engkau semakin lincah dan gesit untuk mengimbangi Mas Alde.

Tiga tahun, Aisyah. Sudah waktunya mengenal dunia, sedikit-sedikit saja. Bapak tahu, Ais mulai senang belajar bernyanyi.  Walau masih dengan terbata, tapi Bapak tetap suka. 

Aisyah, manisku.

Semoga tahun ini Aisyah mulai bisa mengenal a ba ta tsa dan a be ce de. Kami yakin Aisyah mampu dan bisa. Maafkan kalau kami sering kekurangan waktu untuk menemanimu belajar.

Agaknya, pandemi tahun ini jadi pelajaran besar buat setiap orangtua. Entah mungkin ini adalah jalan Tuhan untuk mengganti setiap detik kebersamaan yang hilang. Kami minta maaf, Nak. Bila belum mampu punya kesabaran yang tinggi untuk menghadapi setiap kelincahanmu.

Aisyah, sayang.

Bapak masih ingat tanggal 2 Juli tahun lalu. Waktu itu, Uti menjalani operasi mata. Bapak menuliskan sesuatu untukmu dari halaman parkir RS Mata Cicendo dengan segenap bayangan dan kenangan tentangmu. Hari ini, Bapak menulis lagi ketika pandemi belum akan usai.

Aisyah,

Kami selalu berdoa agar engkau selalu mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT. Tak henti-hentinya kami menasbihkan namamu agar selalu dalam penjagaan dan lindungan-Nya. Kiranya, tidak berlebihan pinta kami. Semoga Aisyah selalu sehat.

Cipayung, 2 Juli 2020.

Senin, 23 Desember 2019

Helen dan Sukanta

Sumber: www.goodreads.com

Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

 
Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Judul            : Helen dan Sukanta
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit       : The Panasdalam Publishing
Tahun          : 2019
Tebal           : 364 hal.
Genre           : Novel-Sejarah
 
Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.

Kamis, 28 November 2019

Selamat Ulang Tahun, Aldebaran


Aldebaran sayang,

Empat tahun sudah usiamu kini. Empat tahun menyadarkan Bapak bahwa engkau adalah anugerah istimewa yang sangat tak pantas kami kecewakan. Maafkan Bapak dan Ibu bila sering marah-marah.

Teristimewa tahun ini karena Alde sudah mau ikut belajar di Bimba. Alde sudah bisa mengikuti pelajaran disana. Calistung ala Bimba. Kami InsyaAllah tidak akan menuntut Alde untuk bisa ini-itu.

Alde juga sudah mulai mau untuk mengaji. Alhamdulillah, lagi-lagi kami tidak akan menuntut Alde untuk bisa bacaam dan hafalan ini-itu.

Aldebaran sayangku, maafkan Bapak dan Ibu bila hanya bisa membelikanmu kue ulang tahun seperti yang biasa kita beli. Mainan Alde sudah banyak, sayang. Nanti Bapak coba keluarkan satu per satu supaya Alde tidak bosan.

Maafkan Bapak, Nak, bila Bapak sering meninggalkanmu bila panggilan tugas tiba. Sejatinya Bapak ingin selalu berada di dekat Alde, Aisyah, dan Ibu. Maafkan Bapak lagi, Nak, bila tulisan ini terlalu lama dipublish.

Sehat selalu Aldebaran.

Jakarta- Hong Kong - Beijing
9-28 November 2019

Selasa, 02 Juli 2019

Selamat Ulang Tahun (Kedua)

Aisyah Putri Bapak tercinta,

Bapak senang dan bersyukur bisa tiba sampai hari ini. Walau Bapak tidak bisa mendampingi bersama melewatinya. Selamat ulang tahun, Aisyah.

Hari ulang tahun keduamu ini membuat Bapak senang sekaligus bersedih. Bapak senang, itu sudah pasti. Aisyah sehat, riang, dan selalu menghibur Bapak dan Ibu. Namun, Bapak sedih karena Uti harus masuk Rumah Sakit. Uti harus dioperasi besok di RS Mata Nasional di Bandung.

Harusnya, Bapak ajak serta Ibu, Mas Alde dan Aisyah. Kita bersama mendampingi Uti. Tapi begitulah nasib berkata. Bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Sudah biar Bapak sendiri saja. Mas Alde sudah mulai senang mengaji kembali dan belajar di Bimba.

Aisyah sayangku,

Tidak ada perayaan untukmu hari ini. Tidak ada balon alfabet mengeja huruf demi huruf namamu. Namun, itu tidak mengurangi luapan kebahagiaan di hati Ibu dan Bapak beserta Uti, Nti, Kakek, dan Nenek. Adalah doa dan harapan yang selalu kami panjatkan ke Illahi Robbi. Kelak agar engkau tumbuh seperti yang sudah diamanatkan.

Aisyah manisku,

Terimalah catatan kecil ini. Sebagai penanda singkat bahwa Bapak kelak kan mengenang hari ini. Selamat ulang tahun. Teruslah menjadi surga kecil kami.

Bandung, 2 Juli 2019.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...