Rabu, 18 Maret 2015

5 w 6 d


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqon: 74)


Kebayoran Baru, 16 Maret 2015.

Senin, 09 Maret 2015

Asterix Series: Sang Penghasut

Asterix lagi-lagi berhasil menggagalkan penyerbuan Romawi ke Galia kendati Julius Caesar telah mengutus seorang penghasut. Si Penghasut ditugaskan untuk merusak tatanan masyarakat Galia dengan taktik adu domba. Si Penghasut berhasil menjalankan tugasnya. Bahkan Asterix dan Obelix sendiri hampir menjadi korbannya kalau bukan karena keakraban mereka.



Dengan keadaan kacau balau di Galia, pasukan Romawi akhirnya menyerbu. apalagi setelah Si Penghasut berhasil meyakinkan Panglima Romawi bahwa ia telah menemukan ramuan jamu ajaib buatan dukun Galia. Menyadari kelengahannya, Galia kembali bersatu. Mereka tidak akan membiarkan pasukan Romawi mengacak-acak mereka.

Benar saja, pasukan Romawi mengalami kekalahan telak. Kontra intelejen yang dilakukan Asterix dan Obelix ke kamp pasukan Romawi menghasilkan strategi pertahanan yang bagus. Setelah kalah telak, Si Penghasut kembali dipenjara. Kali ini, dengan kesalahan yang berlipat: menyebabkan kekalahan Romawi.

Catatan Kecil

It's funny how to see Asterix kickin' Caesar troops. Barangkali, seperti ini juga keadaan bangsa kita yang mudah terprovokasi hingga saling curiga sesama, melonggarkan persatuan hingga saling bermusuhan. Perbedaan pendapat bukan sekedar perbedaan belaka. Satu perbedaan kecil sudah seperti perbedaan ideologis yang mendasar. Saling hantam dengan sesama sudah biasa.

Sang Penghasut tidak hanya mampu menampakkan dirinya sebagai wujud utuh seorang manusia. Seringkali, hal-hal yang luput dari keseharian kita malah jadi penyebabnya.


Dharmawangsa, 8 Maret 2015.

Minggu, 08 Maret 2015

Arus Bawah

Setiap kekuasaan itu cenderung menumpas dirinya sendiri. Rakyat itu sendiri tak bergantung kepada kekuasaan. Hanya kekuasaan yang sangat bergantung kepada rakyat. Seperti kesementaraan bergantung kepada keabadian. (Hal. 111)



Arus Bawah pertama kali terbit dalam wujud buku dengan judul “Gerakan Punakawan atawa Arus Bawah” pada tahun 1994. Dengan mengalami sedikit perubahan (entah penyesuaian) judul, buku ini hadir kembali setelah dua dasawarsa. ‘Arus Bawah’ mengangkat persoalan kebangsaan yang masih erat kaitannya dengan Bangsa Indonesia. Penulis sepertinya sengaja menyisipkan para punakawan sebagai tokoh utama dalam cerita.

Pembaca barangkali sudah tidak asing lagi dengan punakawan yang diwakili Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar dikisahkan sebagai penjaga keseimbangan , Gareng adalah rakyat biasa yang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, ia adalah filsuf desa. Petruk merepresentasikan dirinya sebagai pengamat, ia tidak terlalu serius dalam menanggapi ocehan Gareng, namun ia juga tak kalah kritis dibanding kakaknya itu. Bagong, sebagai representasi Semar yang lahir dari bayangan Semar menjadi kebalikan dari Sang Ismaya Badranaya.

Kehadiran punakawan dalam pementasan pewayangan seringkali diawali oleh ‘goro-goro’ yaitu keteika cerita dalam konflik telah mencapai klimaksnya. Novel karya Emha Ainun Nadjib ini mengisahkan tentang hilangnya Kiai Semar ditengah-tengah masyarakat Karang Kedempel. Karang Kedempel mengalami dekadensi dan kekacauan dalam segala bidang akibat penguasa yang terlalu lama berkuasa. Struktur masyarakat Karang Kedempel tidak lagi menjunjung demokrasi sebagai pengejawantahan lima azas Karang Kedempel.

Menghilangnya Kiai Semar ini mendatangkan sekian ribu teka-teki bagi warga desa Karang Kedempel. Banyak tafsir atas kejadian ini. Terutama dari Gareng, yang tak henti-hentinya meyakinkan Petruk, Bagong, dan warga desa untuk ikut mencari Kiai Semar. Padahal, sebenarnya Kiai Semar tidak benar-benar menghilang. Semar selalu jadi bagian warga desa.

Kiai Semar selalu hadir sebagai penyeimbang. Bahwa ke-punakawan-an adalah tugas menemani dan menggembalakan kaum penguasa menuju sesuatu yang benar. Ke-punakawan-an, dengan demikian, berarti semacam kontrol sosial, bukan loyalitas buta, bukan sikap membiarkan ketidakbenaran, apapun akibatnya. Kiai Semar agaknya memberi kesempatan warga desa Karang Kedempel untuk mengintrospeksi diri mereka sendiri atas segenap kejadian yang mereka alami. Lebih jauh, Kiai Semar mengajak warga desa untuk berkuasa atas nasib mereka sendiri.

Tidak banyak buku di tahun 90-an yang menampilkan dirinya sebagai kritik bagi pemerintah. Terlebih dengan segala batasan yang diterapkan Orde Baru pada waktu itu. Emha Ainun Nadjib menemukan cara yang apik untuk mengkritisi keadaan bangsa dan tata pemerintahannya. Dominasi pakem Mahabarata yang kental menjadi bahan bakar yang tepat bagi Emha untuk mengadaptasi realitas dalam bentuk kisah pewayangan. Hal ini menjadi pintu masuk yang tepat karena analogi budaya yang dilakukan Emha mampu menyentuh segala lapisan masyarakat.

Buku ini seakan menggambarkan keadaan Indonesia kontemporer. Bahwa keadaan dalam sebuah cerita fiksi menjadi sebuah representasi realitas yang benar-benar berlangsung. Relevansinya dengan kondisi Indonesia kekinian adalah alasan yang tepat untuk terbitnya kembali buku ini. Dengan demikian, kita disadarkan kembali untuk senantiasa berkaca dan berkontemplasi atas segenap kejadian yang menimpa bangsa ini. Demi menjadi manusia yang seutuhnya.

Judul        : Arus Bawah
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 240 Hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Novel


Dharmawangsa, 8 Maret 2015.

Sabtu, 28 Februari 2015

Sepotong Hati Yang Baru

Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna
(Sepotong Hati Yang Baru, hal. 51)


Awalnya

Sudah lama saya tahu bahwa Tere Liye adalah seorang penulis yang cukup produktif. Saya sendiri tidak begitu tahu persis kapan Tere Liye merilis karyanya yang pertama. Yang jelas, hingga saya menamatkan pembacaan buku ini, kesannya sebagai penulis produktif belum berubah dalam imaji saya.

“Sepotong Hati Yang Baru” adalah perkenalan saya yang pertama dengan sosok kepenulisan Tere Liye. Terima kasih kepada istri saya yang mengantarkan saya pada karya-karya Tere Liye. Ada beberapa buku yang judulnya saya cukup kenal menghiasi rak di kamarnya. Akhirnya, akhir bulan ini saya putuskan untuk mulai membaca buku-buku itu satu per satu. Dimulai dari yang paling tipis.

Edisi Perkenalan

Kumpulan cerpen ini berisi delapan cerita pendek yang lumayan panjang. Maksudnya, tanpa mengurangi takdir cerpen yang hanya habis dibaca sekali duduk, beberapa cerita didalamnya punya alur yang sangat detail dan dinamis. Saya kagum pada kekuatan penceritaan dan gaya bahasa sang penulis. Dengan begitu padu, menjadikan buku ini tidak sekedar kumpulan cerpen biasa.

Cerpen pertama “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” berkisah tentang kisah muda-mudi yang berada di ambang kegalauan masa mudanya. Tere Liye berhasil mengangkat sebuah fenomena kecil menjadi objek cerita yang ringan namun nyata dan ada dalam keseharian kita. Terlebih dengan boomingnya media sosial, terutama Facebook, membuat cerita ini begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang sebuah perasaan bernama GR alias gede rasa.

“Kisah Sie Sie”
adalah cerpen yang menurut saya cukup dinamis dan lugas dalam penceritaan. Dengan alurnya yang demikian, saya merasa seperti membaca sebuah kisah nyata di tabloid khusus perempuan. Penulis mengangkat satu fenomena yang telah terjadi berulang-ulang di Singkawang, Kalimantan Barat. Soal pernikahan WNI keturunan/peranakan Tionghoa dengan WNA yang sengaja datang kesana. Alasan ekonomi seringkali menjadi faktor yang menyebabkan para perempuan muda disana rela untuk diperistri orang asing dan dibawa ke negaranya. Saya kagum dengan tokoh Sie Sie yang menepati janjinya untuk mencintai suaminya apa adanya walau harus mengalami berbagai penolakan dan siksaan.

“Sepotong Hati Yang Baru” kiranya mewakili seluruh penjiwaan atas penulisan buku ini. Banyak alasan yang menyebabkan seseorang patah hati. Tak terkecuali, satu keputusan yang diambil menjelang hari pernikahan yang menghancurkan semua imaji tentang cinta dan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimanapun susahnya, si Aku dalam cerita ini berhasil menumbuhkan sepotong hati yang baru untuk mengganti sepotong lainnya yang terlanjur dibawa pergi sang mantan kekasih. Dengan potongan hatinya yang baru ini, ia berhasil menolak si mantan untuk kembali mengikat janji. Sebuah pembalasan yang setimpal. Siapa menabur, maka dia akan menuai.

Legenda Sam Pek dan Eng Tay yang tersohor itu kini diceritakan kembali dalam “Mimpi-Mimpi Sampek Engtay”. Tere Liye menulis kembali cerita ini dengan detail yang cukup istimewa. Saya teringat kembali sebuah yel yel wajib di kalangan mahasiswa, “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Khusus untuk Sam Pek dan Eng Tay berlaku “Dua Cinta Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” walau kadang maut akhirnya memisahkan. Moral dari cerita tentang ketulusan adalah hal yang selalu menarik untuk diceritakan kembali, apapun bentuknya.

“Itje Noerbaja & Kang Djalil” adalah cerpen yang unik. Saya kembali teringat pada kalimat-kalimat pengantar cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dimana terdapat kalimat dengan ejaan lama. Hal ini saya temukan kembali pada cerpen ini. Cerpen yang berkisah tentang usaha pergerakan dari para babu dan centeng di zaman kolonial Belanda. Kisah romantis dan heroik ini seakan mengingatkan kita kembali pada sejarah yang tak tercatat.

“Kalau Semua Wanita Jelek” adalah cerita yang berbau feminin. Seorang perempuan tentu mendambakan tubuh ideal yang diterjemahkan dalam bahasa umum sebagai langsing atau kurus. Terkadang, hal yang demikian itu menyesatkan. Bahwa sesungguhnya kecantikan itu relatif. Mungkin benar adanya pepatah lama itu, kecantikan sesungguhnya terpancar dari hati.

Seperti halnya legenda Sam Pek dan Eng Tay, kisah Sri Rama dan Shinta tidak pernah selalu kadaluwarsa untuk diceritakan kembali. “Percayakah Kau Padaku?” adalah gugatan untuk Rama. Ketulusan cinta rama pada Shinta diuji disini. Personally, kisah Rama-Shinta sejatinya adalah kisah romantis karena mereka saling mencintai. Namun, belakangan ini saya memang meragukan ketulusan Rama pada Shinta. Bisa jadi Rahwana lah yang benar-benar mencintai Shinta dengan tulus. Kalau Rama masih cinta pada Shinta , mengapa ia mesti meragu pada Shinta yang telah diculik dan diselamatkannya dari api cinta Rahwana?

“Buat Apa Disesali...”
adalah sebuah kisah cinta klasik (entah juga klise) yang menimpa Hesty dan Tigor. Bagian terbaik cerita ini adalah sisipan lirik lagu yang dinyanyikan sepenuh jiwa oleh Rita Effendy, ‘Selamat Jalan Kekasih”.

Konklusi

Secara keseluruhan, saya menikmati pembacaan perkenalan saya dengan Tere Liye. Buku ini adalah buku sekuel dari serial ‘Berjuta Rasanya’. Tak harus membaca edisi pertama untuk memahami edisi sekuel ini. Tulisannya tidak hanya mengalir dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis pun piawai dalam memainkan karakter sekaligus menyertakan beberapa pelajaran dan makna yang hidup ini sediakan.

Judul        : Sepotong Hati Yang Baru
Penulis     : Tere Liye
Penerbit    : Mahaka Publishing
Tahun       : 2012
Tebal        : 206 hal.
Genre       : Kumpulan Cerpen



Dharmawangsa, 28 Februari 2015.

Kisah Tiga Negeri (5)

Message in the Bottle

Sudah jadi kebiasaan saya mengoleksi botol minum sejak mulai aktif mengikuti berbagai lomba lari. Kebiasaan itu juga yang mendorong saya untuk mengoleksi botol minum dari sebuah jaringan kedai kopi internasional. Sebut saja Sbux! (you’re very fond of it!).

Cukup sederhana memang, botol minum mereka bentuknya masih begitu-begitu saja namun perbedaannya cukup signifikan dari satu negara ke negara lainnya. They put a name of their city (or country) on the bottle. Satu alasan yang cukup untuk sebuah eksistensi.

Saya belum punya tumbler dari negerinya Lee Kuan Yew ini, maka satu target saya sepanjang perjalanan ini adalah mendapatkan botol minum dari kedai di Singapura ini. Kebetulan, di Vivo City ada outletnya. Saya membeli satu botol berwarna oranye seharga SGD 20 yang sudah termasuk satu large chocolate/tea/coffee pilihan. Saya memilih coklat panas dan langsung berlari menuju area check-in ferry Batam Fast.

Bad luck for us. Kami tidak mendapatkan jadwal ferry jam 3 sehingga harus menunggu satu jam lagi untuk ferry selanjutnya. Oke, sampai disini kami belum panik. Bahkan kami masih bisa menyeruput habis coklat panas dan sebotol air mineral.

Jam empat lebih kami naik ferry. Kami berdoa supaya tidak ada aral melintang dalam penyeberangan kami. Pesawat Garuda ke Bandung akan take-off pukul 17.30 WIB. Tak lama, kami pun tertidur dan terbangun ketika ferry akan merapat ke Batam Center. Sudah pukul 17.00 ketika ferry bersandar. Kepanikan mulai terasa ketika kami mengantri lagi di lajur imigrasi kedatangan. Entah berapa menit yang kami habiskan, kami pun segera mencari taksi menuju Bandara Hang Nadim. Oh ya, itu pun sudah pukul 17.30.

Kami tidak menemukan taksi resmi menuju bandara. Sehingga kami mau saja ketika seorang supir menawari kami. Tak banyak pikir, kami pun segera mengiyakan tawarannya. Harga taksi dari pelabuhan Batam Center menuju bandara Hang Nadim adalah Rp. 90.000,-. Kami mencoba menawar namun si supir bilang kalau itu harga resmi dari Koperasi Taksi disana.

The Delay

Supir taksi memang tahu kami terlambat dan ia segera mengebut. Saya tidak tahu apa yang ada di benak Ella. Ada guratan lelah diwajahnya. Untuk saya sendiri, seandainya memang kami terlambat check-in, saya rela menghabiskan semalam lagi di Batam. Tiket pesawat tidak hangus dan mudah-mudahan bisa dapat flight. Walau tentunya hal itu akan berdampak pada jadwal kami keesokan harinya di Bandung.

17.50 WIB kami sampai di Hang Nadim. Selesai bayar taksi, kami bergegas menuju counter Garuda Indonesia. Petugas disana bilang kalau kami sudah terlambat. Itupun ditandai dengan anggukan teman di petugas tadi yang menandakan bahwa kami sudah tidak bisa check-in. Oke, saya tidak akan mengalah walau terlihat mengemis untuk kebaikan mereka. 

Akhirnya, saya tanya status pesawat tujuan Bandung itu, apa sudah pushback, taxi, atau take-off. Si petugas nampak terdiam dan rekannya yang tadi itu mengangguk. Saya diperingatkan untuk tidak terlambat lagi pada penerbangan-penerbangan saya selanjutnya. Who cares, now where is your airplane? Boarding pass pun issued, artinya pesawat memang masih belum berangkat ke Bandung. Alhamdulillah.

Setengah berlari menuju boarding room. Eng ing eng. Now, there’s the airplane. Standing still on the apron. Kami tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pertanda Yang Maha Kuasa masih mendengar doa kami. Belum sempat kami duduk di ruang tunggu, sudah ada panggilan naik ke pesawat. Yeah! We are going home!

Jam 18.15 pesawat masih tidak bergerak kendati penumpang sudah mulai duduk rapi dan permen sudah dibagikan oleh pramugari. Tak lama, mesin pesawat dinyalakan. Saya sempat bertanya pada seorang pramugari yang bertugas. Memang di musim liburan tahun baru ini semua jadwal penerbangan GA mengalami efek domino dari delay pada penerbangan sebelumnya. Pesawat yang kami naiki pun bernasib sama setelah sebelumnya menerbangi rute Denpasar-Bandung, Bandung-Batam, dan kini Batam-Bandung.

18.30 pesawat berhenti sempurna di ujung runway Hang Nadim. Menunggu clearance dari ATC Officer untuk mengangkasa. Saya cukup lega. Begitu pun Ella yang melamun menghadap jendela kabin.

Life is Very Long



Satu hari ini terasa sangat panjang bagi kami. Sejak sarapan nasi goreng di hotel, jalan-jalan ke Masjid Sultan Abu Bakar, mengantri di Woodlands, lunch di Bugis, ketinggalan ferry di Harbourfront, hingga telat check-in di Hang Nadim. Time management is a must on your travel line. Itu pelajaran utama kami. Selanjutnya, choose the option for your convenient. Tentukan kenyamananmu sendiri. Seperti ketika kami membeli daily pass dan tiket ferry pulang-pergi di Hang Nadim.

Kami melewati langit yang sama seperti kemarin sementara pencarian QZ8501 masih diteruskan. Guncangan terasa di beberapa titik. Perjalanan ini tak lama lagi segera berakhir. Ketika akhirnya kami landing di Husein Sastranegara, tak ada kata selain ucapan syukur. Kami pun sudah terlalu lelah untuk berfoto wefie. Keluar bandara, kami pun berjalan kaki santai menuju tempat pemberhentian angkot.

Saya bersyukur karena dengan selamat sentosa berhasil menyelesaikan perjalanan 'Satu Hari, Tiga Negeri' bersama Istri tercinta. Masih ada perjalanan lain yang akan kami tempuh. The story has to ends where it’s begins. Menyisakan cerita pada ingatan yang tak lekang. Au revoir.

Bandung, 2 Januari 2015.

Kisah Tiga Negeri (4)

Menikmati Johor

Ada banyak tujuan yang ingin kami nikmati selama di Johor ini. Sebut saja Lego Land atau Hello Kitty Town. Namun, karena memang lokasi keduanya sangat jauh dan waktu tinggal kami yang cuma semalam, saya dan Ella urung pergi kesana. Barangkali nanti kami harus menyediakan waktu lebih banyak.

Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru

Tujuan kami hari ini sebelum pulang adalah Masjid Sultan Abu Bakar. Kebetulan hari ini adalah hari Jum’at barangkali ada sedikit keramaian menjelang shalat Jum’at, perhaps. Selebihnya, karena memang tidak ada lagi objek wisata terdekat dari penginapan kami. Saya sendiri tidak mencari tahu lebih dahulu mengenai sejarah Masjid ini. Hanya beberapa review yang saya baca mensyaratkan kami supaya mampir kesana.

Kami pun segera melaju dengan taksi usai check-out. Suasana pagi yang saya kenal. Bedanya, disini lebih sepi sehingga menghadirkan perasaan tenteram. Tidak seperti di Kuala Lumpur dimana kita harus menyesuaikan diri dengan derap langkah khas ibukota. Kami membayar taksi seharga RM 7 untuk sampai ke Masjid.



Masjid Sultan Abu Bakar terletak tepat di tepi Selat Johor. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain. Diantaranya adalah Mahad dan sekolah. Pemandangan sekitarnya cukup menyenangkan dan melegakan. Hamparan lautan biru beradu dengan daratan Singapura di tapal batas horison.



Saya segera mencari posisi yang tepat untuk mengambil foto. Kebetulan matahari bersinar terik di langit Johor. Kami berfoto di sisi Masjid yang menghadap ke laut. Kami hanya punya waktu setengah jam disini. Kami tidak ingin terlalu lama lagi berada disini sehingga terlambat menyeberang ke Singapura dan Batam.



Sesi foto selesai. Kami telah mengemas kenangan di Masjid ini. Waktunya kembali ke JB Sentral di pusat kota. Rupanya, Johor tidak hanya memberi kenangan sebatas gambar. Kami masih harus menunggu 15 menit untuk dapat taksi yang mamu mengangkut kami ke JB Sentral. Kami menunggu di tepi jalan yang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas setiap lima menit. Beruntung, ada taksi yang searah dengan kami.



Setibanya di JB Sentral, kami segera naik bis tujuan Singapura. Kami menuju Bangunan Sultan Iskandar dimana terdapat kantor imigrasi Johor Bahru. Kami hanya perlu lima menit untuk urusan cap paspor. Saya dan Ella naik bis tujuan Kranji dengan tarif RM 1 atau SGD 1. Terserah mau pake mata uang yang mana.

Menuju Singapura

Menjelang pukul sepuluh pagi, rupanya jalan tol menuju Woodlands dilanda kemacetan. Mungkin saja, hal ini disebabkan usainya liburan tahun baru sehingga terjadi arus balik dari Johor menuju Singapura. Sebelum tiba di Woodlands, kami sudah turun dari bis dan berjalan kaki menuju kantor imigrasi Singapura.

Kejutan belum berhenti. Setelah mengisi form imigrasi, kami menghadapi antrian lagi. Antrian yang baru mencapai giliran kami satu jam kemudian. Masih ada lelah di wajah kami berdua. Kami memang ingin segera beristirahat. Maksudnya, segera tiba di Singapura, makan siang, lalu pergi menyeberang ke Batam. Well said, kami menghabiskan satu jam ini dengan mengantri sambil mengobrol.

Jam sebelas waktu kami naik bis ke Kranji. Tidak ada yang berubah disana. Warung nasi yang menjual makanan seharga SGD 2 masih tetap buka dan antrian penumpang KRT masih sama seperti kemarin-kemarin. Kami salah naik kereta. Kami naik ke arah Woodlands sehingga harus menunggu kereta selanjutnya. Perjalanan pun terasa lambat. Setengah satu siang kami tiba di Dhoby Ghaut. Kami Ella masuk antrian untuk menukarkan 2 kartu daily pass yang kami beli kemarin lusa demi mendapatkan deposit SGD 40. Lima belas menit saja dan itu cukup membuat kami kalang kabut menuju Stasiun MRT Bugis untuk membeli oleh-oleh di Bugis Market.

Lunch at Bugis

Dengan alasan waktu yang merambat, saya menganjurkan Ella untuk tidak mengelilingi pasar. Cukup beli di kios yang dulu pernah saya sambangi. Urusan oleh-oleh selesai. Sudah jam satu lebih dan kami harus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Perut kami sudah minta diisi sejak mengantri di Woodlands.



Kami makan di food court seberang Bugis Market. Kami memesan nasi rames ala Singapura. Menunya cukup lengkap untuk harga SGD 3. Untuk minum, saya membeli dua gelas jus buah yang segelasnya berharga SGD 1 di Pasar Bugis. Beberapa warga dan anak sekolahan duduk di meja sekeliling kami. Yang mengagetkan, tempat makan ini menyediakan menu tambahan yaitu petai!
Perjalanan berlanjut. Kami kembali ke stasiun MRT Bugis untuk segera meluncur ke Harbourfront MRT Station.


Bandung, 2 Januari 2015.

Minggu, 22 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (3)

1 Januari 2015 dimulai dengan sarapan pagi buatan istri tercinta. Sepasang roti bakar srikaya dan secangkir kopi hitam manis cukup untuk menghangatkan badan sehabis mandi. Awal yang bagus untuk memulai hari yang mendung ini. Diluar nampak gerimis. Belum banyak toko-toko yang buka di sekitar Hamilton Road. Kalaupun ada hanya sebuah pujasera di pojokan jalan. Itu pun sepi sekali, hanya ada dua orang tua yang nampak sedang mengobrol. 



Kami segera berkemas dan check-out dengan membayar sewa kamar seharga SGD 24, lebih murah sedikit dibandingkan Lofi Inn yang berharga SGD 28 per malam. Kami berjalan kaki menuju stasiun MRT Ferrer Park. Tujuan kami selanjutnya adalah Singapore Zoo yang berada di Mandai Lake Road. Kami segera menuju stasiun Ang Mo Kio untuk transit dan meneruskan ke Zoo naik bis 138.

Sarapan Cinta

Kami tiba di Ang Mo Kio dengan perut yang keroncongan minta diisi. Usai mencari loket pemberangkatan bis 138, kami pun mampir di Subway untuk membeli paket sandwich seharga SGD 5 sebagai bekal untuk nanti di Zoo. Kami juga membeli paket nasi lemak seharga SGD 2. Lumayan untuk sarapan. Isinya cukup lengkap. Nasi lemak plus sambal goreng ikan teri, sambal goreng kentang, dan sambal cabai.

Personally, sarapan nasi lemak ini adalah yang berkesan sepanjang usia pernikahan kami. Saya membagi dua sebungkus nasi ini dan kami saling menyuapi. Sebuah romantisme lokal dalam keramaian stasiun MRT. Kami sengaja membeli satu bungkus saja karena sudah punya bekal untuk di kebun binatang nanti.

Sepenggal Doa Nenek

Selesai sarapan datanglah sebuah keajaiban. Seorang nenek yang sedari tadi duduk disamping saya memberikan sebuah paket makanan. Katanya, ia sedang menunggu temannya namun teman yang ditunggu tidak datang. Paket makanan itu tadi sudah disiapkan untuk temannya. Daripada mubazir, ia memberikan paket itu kepada kami.

Kami terus terang kaget namun mengerti alasan Nenek itu. Ia juga seorang muslim dan tinggal di apartemen seberang stasiun Ang Mo Kio. Ia minta didoakan supaya panjang umur dan terus sehat. Kami pun minta didoakan supaya selamat sampai tujuan hingga kembali ke Bandung. Tidak ada hambatan dalam berkomunikasi karena kami berbicara dalam bahasa Melayu. Nenek tadi pun pergi.

Saya mengecek paket makanan itu. Kurang lebih seperti lumpia goreng berisi seafood (udang dan kerang). Lumayan, kalaupun tidak sempat kami makan bisa jadi untuk oleh-oleh saja sekalian, pikir saya. Saya dan Ella cukup menyadari bahwa paket pemberian Nenek tadi menambah beban dalam perjalanan kami. Kami berharap bisa menemukan solusi untuk paket makanan ini. Entah kami habiskan nanti di hotel setibanya di Johor atau malah kami bawa pulang.

Singapore Zoo

Kami pun segera naik bis 138 bertarif SGD 2,1 per penumpang. Perjalanan dari Ang Mo Kio menuju Singapore Zoo ditempuh selama 20 menit. Pemandangan sepanjang jalan pun cukup menyenangkan. Kita jadi tahu bagaimana Singapura begitu serius dalam mengurus perairan negaranya. Terbukti dari banyaknya dam dan reservoir penampung air. Singapore Zoo sendiri juga terletak di pinggir Mandai Road Lake, sebuah danau.

Gerimis menyambut kami di pelataran Singapore Zoo. Saya dan Ella heran mengapa kami begitu penasaran dengan kebun binatang di negeri orang sedangkan kami pun belum pernah lagi kembali mengunjungi kebun binatang Bandung sejak masuk kuliah.



Singapore Zoo menamai dirinya sebagai ‘The World’s Best Rainforest Zoo’. Oh cmon, you’re kidding me. Yes! Kebun binatang ini adalah taman buatan. Bedanya dengan kebun binatang Bandung yang lebih alami adalah bahwa Singapura sangat serius dalam menyiapkan kebun binatang miliknya. Sepintas, bisa dilihat dari bagaimana mereka mengorganisir paket perjalanan maupun pembelian tiket via laman web mereka. Belum soal desain landscape dan penempatan satwa.



Kami membeli tiket masuk  seharga SGD 37 plus tiket Parkhopper SGD 4 sehingga kami membayar masing-masing SGD 41. Saya jadi semakin penasaran dengan fasilitas Singapore Zoo dengan harga tiket sebesar itu.

Well, sisi artifisial dari kebun binatang ini ada di hampir tiap sudutnya. Saya kagum dengan desain kebun binatang disini. Saya yakin mereka juga pasti sangat serius dalam mengurus satwa-satwa yang mendiaminya. Jadwal feeding setiap satwa terlihat jelas di papan informasi sebelum kita masuk kandang mereka.



Cotton-top Tamarin adalah hewan pertama yang kami jumpai. Saya menyempatkan memotret hewan ini. Kami pun berjalan lagi menuju Rainforest Walk sebelum singgah sebentar di kandang Proboscis Monkey. Lima menit lagi adalah jadwal feeding mereka. Saya dan Ella pun menunggu waktu pembagian makan itu. Lima menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda feeding maka kami pun berjalan lagi menuju Tiger Trek untuk menjumpai seekor Harimau Putih yang sedang bersantai. Kami juga menjumpai Pygmy Hippo yang sedang berendam.



Australian Outback jadi tujuan selanjutnya. Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana Australia, saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi lokasi ini. Satwa liar khas Australia ada disini seperti Kangguru Abu-abu dan Wallaby. Satu yang aneh disini bagi saya adalah adanya Burung Kasuari disini. Barangkali, sebelum patahan benua Australia memisahkan diri dari pulau Irian memang habitat kasuari sudah lebih dulu ada disana.



Kami cukup menikmati perjalanan ini. Dari peta yang dibagikan, ada sebuah picnic site tak jauh dari lokasi kami sekarang, Great Rift Valley of Ethiopia dimana tinggal Hamadryas Baboon, Nubuan Ibex, dan Banded Mongoose. Jalanan yang menanjak membuat kami cukup kelelahan. Saya dan Ella pun bergegas menuju Pavilion by The Lake dimana terdapat zona istirahat (picnic site). 



Pemandangan disana cukup menyenangkan. Angin berhembus pelan dari danau yang mengelilingi kebun binatang. Danau itu adalah bagian dari Upper Seletar Reservoir. Sebuah dam yang dibuat pemerintah Singapura untuk urusan pengairan dalam negeri. Kami menikmati bekal kami disini.

Sepotong sandwich saya potong jadi dua bagian. Lumayan untuk mengisi perut kami hingga waktu makan siang nanti. Kami harus pandai menghemat air minum karena disini sangat mahal. Rata-rata SGD 1 per satu botol 500 ml. Ada beberapa tempat yang airnya bisa langsung diminum, namun saya tidak mau kompromi dengan urusan higienitas. Saya khawatir akan berpengaruh pada kesehatan selama kami di perjalanan.

Singapore Zoo's Parkhopper

Karena sudah membeli tiket Parkhopper, kami pun mengantri di stasiun 4 dekat tempat piknik. Kami akan menikmati lokasi-lokasi lain dengan kendaraan kereta tarik ini. Saya akui kalau kami sangat kelelahan bila harus mengelilingi kebun binatang dengan berjalan kaki. Kami pun harus menyimpan tenaga karena kami masih harus tiba di Johor sore ini. 



Dengan Parkhopper, kami melihat wahana-wahana lainnya. Ada Free Ranging Orang Utan Island yang dipenuhi sekelompok Orang Utan, Wild Africa; yang berisi satwa-satwa liar khas gurun Afrika, ada juga Cat Country, Snake House, Fragile Forest dan area main anak-anak Rainforest Kidzworld. Saya berniat mampir lagi kemari kelak bila anak kami lahir. 




Selepas turun dari Parkhopper, lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah Frozen Tundra yang jadi tempat tinggal Beruang Kutub, Racoon Dog, dan Wolverine. Yang jelas bukan Wolverine seperti yang diperankan Hugh Jackman. Kami menikmati kelakuan si Polar Bear yang menggemaskan. Ia menceburkan dirinya kedalam kolam yang temperaturnya dibuat sama dengan habitat aslinya di kutub selatan sana.



Puas dengan segala sajian Singapore Zoo,kami pun segera menuju pintu keluar dari menunggu bis 138 lagi yang akan membawa kami kembali ke Ang Mo Kio. Sebenarnya, ada shuttle bus gratis menuju ke Ang Mo Kio namun baru tersedia pukul 13.30. artinya, kami harus menunggu setengah jam lagi. Kami pun akhirnya naik bis 138 yang datang tak lama kemudian.



Kami kembali ke Ang Mo Kio saat waktu makan siang tiba. Saat kami masih bingung mau makan apa, rupanya kios nasi lemak tadi pagi masih buka. Kami pun membeli lagi dua bungkus nasi lemak dan dua botol air mineral. Walaupun kami makan makanan yang sama dengan sarapan, kami merasa lega karena mendapatkan menu dengan harga yang bersahabat.

Kami makan di halaman luar stasiun. Kami  tidak sendirian, ada beberapa orang juga yang makan sambil menunggu kereta. Ada juga yang merokok. Kami makan siang ditemani udara siang yang tidak begitu panas karena agak sedikit mendung. Kami menikmati sekali menu makan siang kami di hari pembuka 2015 ini.

Usai makan siang kami segera membeli tiket MRT menuju stasiun Kranji. Mirip dengan nama satu stasiun di daerah Bekasi Barat. Dari Kranji nanti kami akan naik bis tujuan Johor Bahru Sentral (JB Sentral), stasiun kereta antar kota di Johor sana.

Johor Bahru

Setibanya di Kranji, kami langsung menuju tempat pemberhentian bis ke Johor. Tiket bus menuju JB Sentral seharga SGD 1 atau RM 1. Terserah penumpang mau membayar menggunakan mata uang yang mana. Dari Kranji bis melewati Woodlands, yaitu gedung imigrasi Pemerintah Singapura.

Semua penumpang harus turun untuk urusan imigrasi ini. Kunjungan ke Woodlands ini menandai berakhirnya petualangan kami di Singapura hari ini. Kami pun resmi meninggalkan negeri yang telah membesarkan Lee Kuan Yew. Setelah beres urusan cap paspor, kami menunggu bis  di lajur pemberangkatan. Saran saya: Jangan lupa nomor trayek bis yang anda naiki. Agar tidak lupa, cek lagi tiket yang diberikan saat keberangkatan di Kranji. Pengemudi bis akan mengecek kembali tiket anda dan anda tidak akan membayar lagi hingga sampai ke JB Sentral.

Johor Bahru-Singapura dihubungan melalui sebuah jalan tol diatas Selat Johor. Perjalanan dari Woodlands menuju JB Sentral hanya memakan waktu 15 menit. Apabila macet, kadang bisa mencapai 1 jam. Johor menjadi salah satu alternatif bagi warga Singapura selain Batam.

Kami pun tiba dengan selamat sentosa di Johor Bahru Sentral. Saya merasakan suatu perbedaan yang cukup signifikan dengan di Singapura. Barangkali, itu cuma perasaan saja. Namun, saya mendapati perasaan yang sama seperti ketika berkunjung ke Kuala Lumpur dua kali tahun lalu.

Ella sudah membooking hotel di Johor ini. Kami sempat berdebat untuk memilih jalan menuju ke Zen Zeng Hotel. Perdebatan mereda di Starbucks JB Sentral (iya, kami perlu wifi gratis!) ketika kami menyimpulkan bahwa jalan dari JB Sentral menuju hotel lumayan jauh (3 km) dan agak ribet. Kami harus naik taksi.

Kami pun naik taksi dan membayar RM 7. Hari sudah mulai senja ketika kami check-in. Hotel yang kami tempati berada di wilayah perniagaan. Artinya, tetangga sebelah kami adalah ruko-ruko dan ada beberapa restoran. Letaknya juga di pinggir rel kereta antar kota. Mungkin, jika tadi kami berjalan kaki mengikuti rel dari JB Sentral, kami akan mudah menemukan hotel ini.

Kami mendapatkan kamar yang lumayan luas untuk ukuran hotel backpacker seharga RM 72 semalam ini (Rp. 250.000,-). Ada jendela mengarah ke bagian belakang hotel dimana terdapat rel kereta. Kamar mandinya pun lumayan, ada shower dan air panas. Tapi, pihak hotel tidak menyediakan air minum di dalam kamar. Pengunjung cukup membawa teko plastik yang disediakan di kamar untuk diisi di lantai 2. Not bad.

Setelah cukup mengistirahatkan diri dan shalat, saya dan Ella pun mencari makan malam. Ada dua restoran khas India di seberang hotel. Satu bernuansa masakan kambing dan satu lagi lebih variatif, Village Restaurant namanya. Ternyata satu grup dengan restoran kambing tadi. Kami memesan dua ayam tandoori berbumbu hijau dan satu lagi ayam spicy.



Kami menghabiskan RM 47 untuk makan malam ini. Artinya, makan malam tadi cukup mahal bila dibandingkan dengan restoran Nasi Kandar Penang langganan saya di Kuala Lumpur dulu. But, it’s absolutely acceptable. Sajian restoran india ini memang tasty. Mungkin itu juga sebabnya kenapa ada stiker Tripadvisor di pintu masuk restoran.

Malam kian meninggi. Suara kereta api terakhir terdengar di JB Sentral. Sementara acara televisi masih membahas soal kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami hanya bisa menunggu mata kami terpejam seraya membayangkan apa yang sudah kami lalui sejak di Singapura hingga tiba di Johor Bahru. Sometimes, life left us unanswered, but then life will lead you into something you never imagined before.

Bandung, 2 Januari 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...