Selasa, 11 Agustus 2026

Doraemon #5 versi Japanese Binding

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Komik Doraemon adalah komik favorit sepanjang masa. Ceritanya sederhana dan singkat. Sangat mudah dinikmati dan habis dibaca sekali duduk. Bersama dengan Dragon Ball Z dan Shoot, komik Doraemon menemani masa kecil saya. Dulu, saya tidak perlu membeli. Cukup datang ke rumah seorang teman dan biasanya kami membaca bersama-sama dan bergiliran. Ah, masa-masa itu.

Komik Doraemon ini diterbitkan kembali dalam edisi Japanese Binding. Barangkali, itu sebabnya saya mengalami kesulitan dalam membaca panel komik ini. Agak aneh rasanya karena tidak seperti komik  Doraemon yang biasa. Saya baru sadar ketika mengambil gambar sampul komik ini menggunakan ponsel. Ada notifikasi yang saya lewatkan. Tulisan kecil Edisi Japanese Binding.

Sebetulnya, sebagai mahasiswa komik-mahasiswa yang lulus dengan skripsi tentang komik-saya tidak terlalu kaget dengan hal ini. Memang ada beberapa kaidah dalam pembuatan komik, terutama panel cerita. Kaidah pembuatan panel komik yang dijelaskan dalam buku Understanding Comics dari Scott McCloud juga sudah jelas membahas bagaimana perbedaannya. Namun, ya begitulah. Kadang saya lupa sesuatu yang sudah pernah pahami sebelumnya. Wajar lah. Manusiawi. :))))

Justru dengan penggunaan kaidah Japanese Binding, saya dapat merasakan kesan klasik dari komik bernomor seri 5 ini. Cerita-cerita Fujiko menampilkan latar belakang Jepang pada suatu masa yang lalu, kemudian gambar-gambarnya mendapatkan sentuhan modern sehingga terasa begitu indah dan megah saat menyelami masa lalu setiap hari Minggu pagi. IMHO. Please do not CMIIW. 

Judul           : Doraemon #5
Penulis        : Fujiko F. Fujio
Penerbit       : Elex Media Komputindo
Tahun          : 2011
Tebal           : 189 hal.
Genre          : Komik Jepang-Kartun
 

Ciputat, 11 Agustus 2026 

Kamis, 23 Juli 2026

Ringkasan De Java Oorlog

Sumber Gambar: www.goodreads.com

 
Berawal dari satu podcast yang menampilkan Ustadz Salim A. Fillah sebagai bintang tamunya, saya merasa penasaran dengan sosok seorang Pangeran Diponegoro. Beliau mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro rajin menulis yang di kemudian hari menjadi catatan sejarah. Waktu itu saya belum tahu bahwa Babad Diponegoro adalah hasil tulisan Pangeran Diponegoro sendiri. Pardon me!

Ust. Salim sedikit menyinggung tentang kisah Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang dalam buku-buku sejarah ditulis berlangsung sejak tahun 1825 hingga 1830 silam. Dulu, waktu sekolah saya pikir perang itu hanya perang biasa saja yang kebetulan menghabiskan pundi keuangan VOC. Namun, in this economy dan setelah menyimak penjelasan Ust. Salim pandangan saya berubah. Saya sedikit mendapat gambaran mengapa VOC bisa habis banyak saat itu.

Saya berharap buku ini dapat memberi sedikit tambahan gambaran tentang buku "De Java Oorlog" yang aslinya ditulis seorang Belanda. Alhasil, sepanjang pembacaan setengah buku saya belum mendapatkannya. I still didn't get the point. Setengah buku masih membahas latar belakang Pangeran Diponegoro beserta kronik-kronik dan polemik yang terjadi di Keraton Ngayogyakarto.

Konflik meninggi di bagian setengah kedua, dengan Pangeran Diponegoro yang mulai menjalankan siasat perang melawan Belanda. Tensi mereda ketika Sang Pangeran mulai ditinggalkan oleh pengikutnya. Ada banyak teori yang dapat menjelaskan penyebabnya. Entah karena Sang Pangeran punya keinginan untuk mendirikan Kraton Diponegoro dan melenceng dari tujuan utama perjuangannya yang jihad fi sabilillah atau karena tekanan Belanda terhadap perjuangan perlawanan.

Memang buku ini belum dapat memberi gambaran bagaimana dahsyatnya perlawanan Sang Pangeran. Namun, setidaknya pembaca dapat memahami latar belakang kejadian seputar peperangan. Walaupun begitu, akhir dari perjuangan Sang Pangeran sesuai dengan yang diceritakan oleh banyak buku sejarah. Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan ketika bersedia melakukan perundingan dengan Belanda. Persis dengan dua lukisan yang menggambarkan peristiwa tersebut. Satu versi pelukis Belanda dan satu lagi versi pelukis Jawa.

Personally, saya mendapatkan gambaran "devide et impera" yang lebih nyata sepanjang pembacaan buku ini. Belanda memecah belah segala aspek sosial kemasyarakatan yang sudah ada. Imbasnya, jangan heran apabila ternyata sesama kita juga yang menjadi penindas sesama. Saya berharap pembaca tidak berhenti disini. 

Buku ini belum mampu menjawab rasa penasaran saya tentang bagaimana perang ini dapat membuat kondisi keuangan Belanda menjadi goyah. Perlu pembacaan lebih lanjut terhadap daftar pustaka yang saling berhubungan seperti "De Java Oorlog", "Babad Diponegoro", dan "Kuasa Ramalan". Harapannya, supaya memori sejarah bangsa tetap terjaga dan menjadi nilai yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Judul         : De Java Oorlog: Rangkuman Kronik Perang Jawa 1825-1830
Penulis      : Abdul Rohim
Penerbit    : Anak Hebat Indonesia
Tahun        : 2022
Tebal         : 182 hal.
Genre        : Sejarah-Indonesia
 

Ciputat-Benda, 23 Juli 2026

Selasa, 21 Juli 2026

Tough Choices

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Carly Fiorina? Siapa? Saya tidak pernah tahu tentangnya. Pun, apa pentingnya dia bagi dunia hingga harus ada buku yang ditulis mengenai perempuan ini.

Buku ini mencuri perhatian saya ketika saya masih menjadi Pustakawan di satu sekolah di bilangan Kelapa Gading medio 2009 silam. Ada seorang siswa yang meminjam buku ini dan mengembalikannya dua hari kemudian. Sangat cepat sekali untuk ukuran buku berbahasa Inggris setebal 336 halaman. Itu hanya perasaan saya saja, mungkin karena saya terlalu lambat untuk membaca buku mancanegara.

Sebelum menyimpan ke dalam rak, saya membaca sekilas buku ini. Berkisah tentang seorang CEO Hewlett-Packard dan segala problematikanya dalam industri teknologi informasi yang saat itu masih male-dominated field. Menarik karena Carly Fiorina tidak tumbuh dalam ekosistem bidang tersebut. Ia tidak lulus dari Jurusan Hukum pada usia 23 tahun dan tiba-tiba 22 tahun kemudian dinobatkan sebagai "The Most Powerful Woman in Business" dan direkrut oleh Hewlett-Packard atau yang biasa kita kenal sebagai HP. Ia perempuan pertama yang berhasil menjadi CEO di Fortune 20 Company-sebuah daftar prestis.

Carly tiba di HP dengan segala problematika bisnis yang dihadapi saat itu. HP memiliki banyak lini produk. Setiap lini produk memiliki sistemnya masing-masing: produksi, customer service, maintenance, sales. Hal pertama yang dapat diidentifikasi Carly dengan cepat dan menjadi prioritasnya untuk menggabungkan berbagai lini produk ini agar terintegrasi, sistematis, dan efisien.

The next big thing yang ia lakukan adalah melepas lini bisnis yang tidak lagi mendukung bisnis utama perusahaan dan melakukan akuisisi bisnis lain yang strategis. Carly tidak ingin HP kalah lagi dari seteru utamanya, IBM dan Dell. Carly ingin HP kembali great again! Tentu dengan caranya sendiri yang jadi satu bab sendiri dalam buku ini: The Journey, Not the Destination. Singkatnya, Carly percaya pada proses yang dikerjakan timnya sehingga dia dapat melihat dimana posisi HP pada lima tahun mendatang.

Saya sangat menikmati pembacaan buku ini walau senpat beberapa kali putus sambung karena berbagai alasan. Saya mendapatkan banyak insight bagaimana menjalankan sebuah korporasi dengan berbagai lini produk dan bisnis, serta jangan lupakan juga bagaimana cara untuk mengatur dan mengelola sekian banyak pekerja yang telah berkontribusi pada perusahaan. Dari pengamatan terbatas, Carly berusaha melakukan seperti apa yang diajarkan dalam naskah-naskah buku manajemen modern. Carly menerapkan Prinsip 3C, yaitu: Character, Capability, dan Collaboration. Hal itu selalu diulangnya dalam menghadapi tantangan bisnis yang dikelolanya.

Gugatan besar Carly Fiorina dalam buku ini adalah tentang pemecatannya. Selama menjabat di HP, Carly sudah sering menjadi subjek debat dan spekulasi yang tak pernah berakhir. Ia tidak pernah berbicara kepada publik tentang bagaimana menghadapi hal-hal krusial di HP secara detail. Namun, ketika berita pemecatannya beredar Carly tidak pernah mendapatkan penjelasan tentang alasan-alasan pemberhentiannya.

Secara garis besar, buku ini tidak hanya sekedar menampilkan potret karikatur dari seorang CEO perempuan dalam dunia bisnis. Lebih dari itu, buku ini menceritakan bagaimana Carly Fiorina menghadapi berbagai "Tough Choices" dalam setiap aspek kehidupannya.

Sebagai penutup, saya selalu suka bagian dari prolog buku ini. Sebagai pengingat langkah-langkah yang telah diambil.

"I felt all these things, but after a lifetime of fears i was not afraid. I had done what i thought was right. I had given everything i had to something i believed in. I had made mistakes, but i had made a difference. I was at peace with my choices and their consequences. My soul was still my own." 

Dibuang Sayang

Saya mulai membaca buku ini sejak masih menggunakan Blackberry 9790 hingga akhirnya pembacaan selesai dan sudah berganti ponsel menjadi Blackberry Q10. Mengetik merupakan sesuatu yang menyenangkan dilakukan dengan Blackberry. Tak lepas ketika saya menemukan quotes yang bagus dari buku ini. Saya beruntung masih bisa menemukan catatan dari ponsel lama itu dan menuliskannya kesini.

...life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what make us who we are... (Page 85).


Sometimes the riskier choice gives you a better opportunity to prove yourself to others, and you'll always prove something important to yourself. You'll know yourself and those you work either. (Page 58)
 

All triumphs are made of the same stuff: the right support, the right team, the determination to achieve the goal, lots of really hard work. And all triumphs are much more about choice than they are about chance. (Page 79)

Judul         : Tough Choices: A Memoir
Penulis      : Carly Fiorina
Penerbit    : Portfolio Hardcover
Tahun        : 2006
Tebal         : 336 hal.
Genre        : Biografi-Memoar


Ciputat, 21 Juli 2026.

 

 

Kamis, 16 Juli 2026

Layar Kata Sebagai Pengingat Sejarah

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Layar Kata. Sebuah judul buku yang saya kenal lewat sebuah siaran radio. Waktu itu, ba'da Isya di sebuah acara berjudul "Sky Book Club" dan kalau tidak salah pada siaran perdananya. Saya menyimak karena si penulis Layar Kata adalah Seno Gumira Ajidarma. Seorang penulis yang berhasil membuat saya terpesona dengan Sepotong Senja Untuk Pacarku. Namun, Layar Kata ini saya baru tahu dan tiba-tiba saja sudah dinyatakan sebagai buku langka. Ya, saat itu sudah tidak ada lagi buku barunya di Palasari.

Seorang teman kuliah pernah bertanya kepada saya tentang buku referensi tentang perfilman Indonesia. Saya dengan pasti menjawab "Layar Kata, aja. Tapi, udah nggak ada barunya. Cari aja di perpus atau pinjam punya siapa gitu...". Satu hal yang akhirnya membuat dia berterima kasih kepada saya usai skripsinya selesai dan lulus. Saya mendapatkan buku ini dari marketplace dalam kondisi bekas tetapi masih sangat acceptable dengan beberapa coretan dari pemilik sebelumnya. Mungkin, pemilik lamanya juga sedang menulis skripsi. Minimal, membuat tugas tentang perfilman Indonesia.

Mau tidak mau, memang Layar Kata dapat dijadikan referensi perfilman Indonesia. Mungkin ada lebih banyak buku lainnya. Terlebih, pembaca bisa sekalian belajar tentang penulisan skenario sekaligus analisis substansi maupun tekstual. Bukan hanya itu saja. Pembaca mendapatkan "bonus" penggalan 20 skenario Pemenang Piala Citra Festival Film Indonesa dari tahun 1973 hingga tahun 1992, which is, really great! Setidaknya, pembaca jadi tahu sebab judul-judul film yang pernah berjaya di masanya serta beberapa sutradara terkenal macam Arifin C. Noer, Teguh Karya, dan Putu Wijaya. Ini sangat penting untuk kelangsungan sejarah Republik Indonesia. Utamanya, dalam bidang perfilman.

Saya sendiri dapat membaca dan menemukan bagaimana perkembangan film Indonesia dalam rentang waktu tersebut. Rentang waktu yang cukup panjang. Sama panjangnya dengan riwayat film Indonesia yang comeback dengan rilisnya "Ada Apa Dengan Cinta". I will say that buku ini adalah sebuah kombinasi yang menarik. Sebuah kombinasi antara analisis penulisan skenario dalam perbincangan akademis yang ditulis dengan selera sastra. Layar Kata awalnya adalah sebuah skripsi yang ditulis mengikuti kaidah akademis mampu bertransformasi menjadi sebuah buku dinamis yang dapat dinikmati khalayak ramai secara lebih luas. 

 

Judul        : Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Piala Citra 
                   Festival Film Indonesia 1973-1992
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Yayasan Bentang Budaya
Tahun        : 2000
Tebal        : 268 hal.
Genre        : Film
 
Ciputat, 8 Mei 2026 

 

Jumat, 08 Mei 2026

Saya Tidak Menyangka Bahwa Andrea Pirlo Bisa Menulis Buku!

Saya sangat senang mendapati buku dari pemain sepakbola favorit saya. Andrea Pirlo pemilik nomor punggung 21 yang begitu masyhur di masanya bersama AC Milan. Seorang maestro yang bermain di lini tengah, yang selalu membuat pertandingan menjadi begitu hidup dan menarik. Seolah taktik Ancelotti hanya berlaku pada saat team talk saja.


 
Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Ada banyak momen yang diceritakan Pirlo dalam buku ini. Kesehariannya, tentu saja tanding Playstation bersama Nesta, bermain untuk Brescia, Internazionale, AC Milan, dan Juventus. Tak kelewatan ketika merasakan trofi Piala Dunia pada tahun 2006 serta bagaimana  mendukung seorang Balotelli yang ucap kali terkena sindiran rasis dari penonton. 

Buku ini merangkum  Andrea Pirlo sebagai sebuah pribadi yang utuh. Seorang manusia yang tidak hanya piawai mengolah bola di lapangan hijau. Memoar pribadinya mengangkat kisah-kisah unik sepanjang perjalanan kariernya. Tentang tawaran-tawaran dari berbagai klub yang menginginkannya hingga rasa sedih yang sering dirasakannya.

Melalui memoar semacam ini, kita harus pandai menempatkan diri. Entah menjadi seorang penonton sepakbola dan fans yang baik atau sekedar menjadi pembaca yang mencoba memahami isi buku. Barangkali, saya harus membaca buku aslinya (dalam bahasa Italia) supaya saya benar-benar paham kalau memoar singkat ini tidak hanya selalu tentang sepakbola-utamanya hidup.

Judul        : I Think Therefore I Play (Penso Quindi Gioco)
Penulis     : Andrea Pirlo, Alessandro Alciato
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun        : 2016
Tebal        : 173 hal.
Genre        : Biografi-Memoar
 
Ciputat, 8 Mei 2026 




Selasa, 02 September 2025

Kisah Komikus Legendaris Dunia

Sumber gambar: Koleksi Pribadi

Awalnya, saya merasa harus ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Menagapa? Jarang sekali penulis Indonesia menulis tentang komik, baik mengenai profil komikusnya ataupun reviu atau telaah kritis terhadap karya komik. Buku ini, IMHO, menambah khazanah dunia perkomikan di Indonesia. Saya harus akui itu karena saya merasakan sendiri kesulitan ketika mencari referensi lokal menyangkut komik dan profil pembuat komik. Ya, skripsi saya juga tentang komik!

Menyenangkan rasanya membaca daftar isi buku yang tidak hanya melulu soal komikus dari mancanegara. Penulis menyisipkan dua nama legendaris dalam dunia perkomikan Indonesia. Ada R.A. Kosasih dan Ganes TH. Keduanya tampil namun mengapa ditempatkan di halaman belakang sesudah kita membaca bagaimana kelahiran kartun Popeye The Sailorman dan meriahnya komik Mickey Mouse karya Walt Disney.

Lainnya, saya harus menyampaikan bahwa pembacaan profil dari komikus mancanegara ini rasanya sama dengan membaca halaman Wikipedia yang diterjemahkan. Saya setuju bila penulisnya menyadur kemudian menuliskan kembali hal tersebut itu sah-sah saja. Penulisnya pun sudah menyampaikan bahwa buku ini disusun dengan menggali berbagai sumber daring maupun luring.

Andai saja, penulisnya dapat memberikan daftar pustaka untuk sumber rujukannya tentu buku ini akan lebih "garang". Ditambah lagi, tidak adanya keterangan hak cipta pada gambar-gambar yang disisipkan dalam setiap judul pembahasan. Walaupun, gambar-gambar itu adalah hasil karya komikusnya sendiri namun alangkah lebih baiknya bila sumber hak ciptanya disebutkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Anyway, apapun itu, saya turut menikmati buku ini sebagai satu karya yang turut mengisi dan memperkaya khazanah perkomikan di Indonesia. Harapannya, supaya siapapun yang ingin meneliti atau membuat telaahan mengenai komik tidak kesulitan lagi dalam mencari referensi. Semoga.

Judul        : Kisah Komikus Legendaris Dunia
Penulis     : Anton W.P.
Penerbit    : Penerbit Katta
Tahun        : 2010
Tebal        : 128 hal.
Genre        : Komik-Biografi

Ciputat, 2 September 2025
Hari Ulang Tahun Bapak. 

Rabu, 06 Agustus 2025

Hampir Sebuah Subversi

Sumber gambar: www.goodreads.com

Sejujurnya, buku ini belum pernah saya tamatkan pembacaannya. Saya tertarik karena judulnya pernah saya baca entah dimana. Saya sudah lupa. Entah itu dalam sebuah kumpulan cerpen atau novel yang pernah saya baca. Entahlah, saya benar-benar lupa.


‘Hampir Sebuah Subversi’ saya temukan dalam jejeran buku dalam rak pajangan di Tobucil, toko buku kecil yang turut mempelopori gerakan literasi lokal medio 2000-an di Bandung. Dulu, letaknya di Jalan Kyai Gede Utama No. 8. Buku ini saya dapatkan ketika Tobucil sudah pindah ke bilangan Jalan Aceh, menempati sebuah paviliun.


Cerpen yang pertama saya baca adalah ‘Hampir Sebuah Subversi’ itu sendiri, yang dijadikan judul buku. Kemudian, ‘Laki-Laki yang Kawin dengan Peri’. Mengapa? Karena kedua cerpen itulah yang pernah disitir dalam bacaan yang pernah saya baca sebelumnya. Selebihnya, saya mengalami ‘masalah’ dalam menamatkan pembacaan cerpen-cerpen lainnya. 


Saya merasa banyak hambatan dalam memulai dan memahami keseluruhan cerita. Padahal, aslinya tidak panjang-panjang amat. Cukuplah memang disebut sebagai sebuah cerita pendek yang habis dibaca sekali duduk. Namun begitu, rupanya buku ini memuat dua puluh tujuh cerita pendek, cukup panjang bukan?

Saya memulai kembali pembacaan ketika Ibu saya merapikan buku-buku yang tercecer sejak pindahan rumah ke dalam lemari yang Istri saya beli. Buku ini ditempatkan bertumpuk dengan buku-buku Emha Ainun Nadjib sehingga cukup menarik perhatian. Saya mulai membaca lagi dari cerpen “Mata Anak Turki”. Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, saya tidak ingin memulai pembacaan dari “Hampir Sebuah Subversi”. Saya teruskan hingga cerpen terakhir berjudul “Jangan Diperabukan”. Setelah selesai, baru mulai lagi dari cerpen pembuka ‘Kuda Itu seperti Manusia Juga’, “Ada Pencuri di Dalam Rumah’, “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, Mata”, Lurah”, ‘Da’i”, dan “Persekongkolan Ahli Makrifat”.

Kesan pertama yang saya dapat adalah cara Kuntowijoyo bercerita mirip dengan tulisan-tulisan Budi Darma dalam “Orang-Orang Bloomington” dan Umar Kayam dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”. Latar cerita yang beragam, mulai dari Amsterdam, Amerika, hingga pinggiran kota Jogja, menggambarkan betapa luasnya dinamika kehidupan manusia dengan segala pola interaksi dengan lingkungannya. Barangkali, pengalaman penulisnya ketika menimba ilmu di barat sana turut menambah dalamnya field of experience dan betapa kayanya frame of reference dari penulisnya.

Agaknya memang tidak terlalu berlebihan bila cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam buku ini mirip dengan buku-buku dari penulis yang telah saya sebutkan sebelumnya. Saya merasa sedikit menyesal karena kenapa tidak menamatkan buku ini sejak tahun 2011 silam. Saya jadi ingat lagi beberapa hambatan yang membuat saya tidak pernah bisa menamatkan buku ini saat itu. Entah, apa mungkin karena saya sedang getol-getolnya membaca “chic literature” yang sedang happening saat itu? Sehingga pikiran saya tidak bisa beradaptasi dengan berbagai latar kehidupan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo. 

Sungguh pun demikian, hal ini turut membuka kesadaran kembali bahwa pengalaman membaca membutuhkan jam terbang juga. Saya tentunya jadi kebingungan sendiri bila harus mengingat dan kembali ke saat itu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran saya bahwa ternyata buku ini cukup sederhana dan tidak sulit untuk memahaminya.

Mungkin itulah kenapa, wahyu pertama dari Tuhan adalah perintah membaca. Bacalah. Ya. Bacalah.


Judul           : Hampir Sebuah Subversi
Penulis        : Kuntowijoyo
Penerbit      : Grasindo
Tahun         : 1999
Tebal          : 188 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Cipayung, 4 Agustus 2025.
 

Senin, 23 September 2024

Been There, Done That!

Medio 2012 silam, saya dibuat penasaran oleh sebuah buku dengan warna yang atraktif, warna Valentino Rossi-begitu saya menyebutnya. Kalau di sepatu Nike yang pernah saya punya warnanya disebut “Volt”. Saat itu, masih jarang buku self-help dengan warna yang mencolok, sepengalaman saya. Kalaupun ada yang berwarna kuning yaitu 23 Episentrum dari Adenita dan bukunya Billy Boen, Young on Top.

Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini sempat menjadi satu contoh tentang bagaimana sebuah ide dituangkan menjadi buku dalam workshop berjudul “Creative Writing” yang diselenggarakan oleh PlotPoint pada tahun 2012 itu juga. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop tersebut sebagai hadiah dari kuis yang saya menangkan di linimasa Twitter. Dulu, dulu sekali sebelum Twitter jadi X!

Kembali ke Been There Done That Got The T-Shirt (BTDTGTTS), saya pikir tadinya buku ini adalah buku self-help biasa dengan tampilan isi yang atraktif dan memudahkan pembacanya untuk mengubah sesuatu dalam hidup mereka. Tadinya! Waktu saya hanya mampir sebentar membuka sedikit halamannya di toko buku dan tidak pernah memasukkan buku ini dalam keranjang belanja.

Saya teringat akan waktu silam itu, maka saya memutuskan untuk membaca dan memiliki BTDTGTTS. Saya menurunkan ego saya kali ini untuk membeli buku bekasnya. Agak sulit memang untuk mendapatkan buku ini dalam kondisi baru. Entah saya saja yang malas untuk browsing di marketplace, I don’t care. I need this book, now!

Apa yang saya dapat setelah berhasil menamatkan BTDTGTTS? Well, I have to say that I’m a little bit sorry for myself. It’s a little bit late for me to know that I have to live your life secara meriah! Saya selalu terpaku pada idiom “Been There, Done That!”. Saya terpana ketika melihat kembali dan berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana saya merasa cukup dengan semua itu. Saya pernah siaran radio (walau hanya acara talkshow berdurasi 2 jam), saya pernah merangkap jadi sutradara film-aktor-editor untuk tugas mata pelajaran Sejarah, saya pernah jadi crew untuk event Konser Siti Nurhaliza, saya pernah ini, saya pernah itu, and so on. Padahal, kalau saja saya tidak berhenti dan terpana, mungkin saya sudah menjalani hidup saya to the fullest.

BTDTGTTS bukanlah sebuah textbook tentang bagaimana hidup berjalan seperti ini dan seperti itu. Ia juga bukan sebuah guide untuk menjalani hari-hari ke depan dengan penuh motivasi dan semangat membara. BTDTGTTS adalah sebuah activity book yang tidak terlalu tebal namun butuh usaha untuk memahaminya. BTDTGTTS menuntut pembacanya untuk berpikir kembali seraya mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada didalamnya. Saya sendiri kewalahan untuk menemukan the truest answer untuk semua pertanyaan itu. So, wajar saja mengapa Mbak Gina S. Noer menyarankan buku ini sebagai satu buku yang ‘wajib’ dibaca pada workshop menulis yang sudah saya sebutkan tadi.

BTDTGTTS adalah buku yang ringan namun tidak menghibur. Ia mempertanyakan kembali tentang bagaimana pembaca akan menjalani hidup di masa depan. BTDTGTTS bisa dibaca dari bab manapun. Bila dibaca dari awal, tentu akan lebih baik karena lebih runut. Kalaupun dibaca dari tengah, tidak masalah. BTDTGTTS bukan sebuah kitab yang menuntut selesainya pembacaan bab demi bab. Dibaca dari halaman belakang, juga tidak apa. Bukankah sebuah akhir akan mebawa pada awal yang baru?

Saya tidak pernah bosan untuk membuka kembali buku ini walaupun sudah menamatkannya. Rasanya selalu tepat untuk membuka halaman mana saja. Terlalu banyak kejutan dalam buku ini. Saran saya, tandai bab favoritmu dengan pembatas buku. Penomoran halamannya unik seperti buku BIA dari Yoris Sebastian. Mudah-mudahan tidak terlalu terlambat untuk mengatakan bahwa buku ini keren!

Judul       : Been There Done That Got The T-Shirt (B.T.D.T.G.T.T.S)
Penulis     : Risyiana Muthia, visual oleh Emeralda
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal       : 124 hal.
Genre       : Motivasi, Self-help

Cipayung, 20 September 2024.

Jumat, 20 September 2024

101 Creative Notes and The "3i"

Buku ini sudah lama masuk dalam wishlist saya. Apalagi pada saat Twitter sedang enak-enaknya dipakai di Blackberry device. Entah mengapa, buku ini terlupakan. Lama sekali. Hingga kemarin saya memutuskan untuk mulai membaca lagi. Pilihannya jatuh pada beberapa buku Yoris Sebastian yang sudah lama ingin saya tamatkan. Satu dari mereka ada lah 101 Creative Notes ini.

Courtesy: www.goodreads.com

Seperti kata Yoris, try to avoid your routine. Maka, saya memulai pembacaan buku ini dari notes nomor 55. Lanjut hingga notes paling akhir. Lalu memulai lagi pembacaan dari halaman pembuka hingga bertemu lagi dengan notes nomor 55. Circling. Ya, i am try to avoid reader's habit. Mencoba mengamalkan satu dari sekian jurus kreatif ala Yoris.

IMO, tidak terlalu banyak teks dalam buku ini. Pembacaan terasa ringan dan bisa tamat baca sekali duduk dalam perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya. Mungkin, Itulah mengapa judulnya hanya sebatas "notes" saja. Small message but the impact is huge! Memang penataan dan tata letaknya menampilkan sisi kreatif dari sang penulis dan rekan-rekannya yang berkolaborasi. Baik itu berupa gambar, quotes, ataupun screenshot yang dibuat dengan sebuah tablet keluaran well-known and reputable company.

At least, pada pembacaan kali ini, saya mendapatkan insight tentang "3i". Intuisi-Impact-Innovation. Yoris menekankan bahwa intuisi adalah ciptaan Tuhan sedangkan hitungan adalah ciptaan manusia, jadi rasanya tidak terlalu salah untuk percaya pada intuisi. Impact, adalah suatu efek yang diakibatkan dari segala tindakan kreatif kita. Ini perlu dipikirkan dalam ekonomi kreatif. Small efforts with big impacts. Terakhir, innovation. Barangkali saya masih terngiang-ngiang dengan pembacaan buku Yoris lainnya tentang Black Innovation Award (BIA). We have to innovate to embrace the unknown. Semuanya, adalah hal-hal yang perlu saya review kembali untuk menata ulang mindset saya yang sudah kadung rada kusut belakangan ini. #curhat

 

Judul           : 101 Creative Notes
Penulis        : Yoris Sebastian
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2013
Tebal           : 200 hal.
Genre          : Motivasi


Pajang, 20 September 2024

Senin, 09 September 2024

(Saya Tidak Pernah Bosan) Mengintip Jakarta

Saya membaca komik untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Tentunya, si komik ini haruslah pula bisa jadi bahan tertawaan buat diri kita sendiri. Seperti komik ini, komik kompilasi dari tiga orang seniman komik yang memiliki ciri khas masing-masing.

Courtesy: www.goodreads.com


Tidak ada yang baru dengan tema seputar Jakarta. Jakarta masih selalu seperti itu. Masih dengan hiruk-pikuknya di hari kerja dari hari-hari lainnya yang tidak pernah sepi. Agaknya, ketiga komikus ini dapat menangkap eh mengintip Jakarta dari sisi lain yang tentu saja seputar kehidupan yang mereka jalani. Di Jakarta, tentunya!

Komik ini terbit pertama kali pada tahun 2014, lalu naik cetak kembali pada tahun 2015 dan 2016. Tahun-tahun dimana Komik Indonesia banyak bermunculan dari beragam penerbit lokal juga yang berusaha memfasilitasi komikus-komikus berbakat untuk berkarya. Sebuah fenomena yang menarik karena mereka dapat mengangkat tema yang relate dengan kehidupan sehari-hari pada tahun-tahun mendatang.

Isu yang diangkat komik ini masih sangat relate dengan keseharian warga Jakarta. Saya sendiri sampai kadang tertawa sendiri setiap mengulang pembacaan. Maklum, beberapa tahun lalu saya sempat mengalami beberapa sketsa yang diintip oleh para komikus penulisnya. Tak heran, saya tidak pernah bosan.

Judul           : Mengintip Metropolitan
Penulis        : Haryadhi, Sheila Rooswitha, "Mice" Misrad
Penerbit       : Octopus Garden
Tahun          : 2014
Tebal           : 144 hal.
Genre          : Komik Urban

 

Cipayung, 8 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Jumat, 30 Agustus 2024

Satu Dekade KLa Project


 
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Album “Dekade: 1988-1998” adalah album Kla Project pertama yang saya dengarkan secara penuh full album. Alasannya mudah saja, dalam album ini ada banyak lagu-lagu popular Kla Project dan menjadi hits pada masanya. Jadi, rasanya sangat menyenangkan. Satu album penuh yang diisi dengan lagu-lagu hits dan bisa saya ikut nyanyikan. Saya meminjam album ini dalam bentuk kaset pita dari Paman. Saya tidak punya pretensi apa-apa, hanya saja saya butuh sesuatu untuk saya dengarkan selain radio dan kaset-kaset lainnya. Waktu itu, menjelang ujian SPMB. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Album ini menemani saya dalam menjalani hari-hari persiapan ujian.

Hari-hari itu adalah masa yang tak pernah mudah. Saya hanya punya waktu sebulan penuh untuk persiapan dan latihan soal. Saya mulai jam 07.00 di pagi hari dan selesai setiap jam 17.00. Istirahat hanya pada saat butuh ke kamar kecil dan waktu shalat saja. Selebihnya, saya berada di meja belajar berkutat dengan buku-buku persiapan ujian. Saya tidak melakukan kegiatan belajar di malam hari. Kalaupun ada hanyalah sekedar membaca-baca pelajaran yang bisa dibaca dalam rumpun Ilmu Sosial. Maklum, saya yang murid IPA ini mengikuti ujian SPMB IPS. Bukan IPC, agar saya fokus. Sebuah Keputusan yang saya anggap tidaklah terlalu salah.

Album ini menemani malam-malam saya. Semakin lama saya dengarkan, saya semakin menikmati musikalitas Kla Project. Ada beberapa lagu dari sesi KLakustik yang disisipkan dalam album ini. Kalau tidak salah, “Yogyakarta” yang selalu membuat rindu kembali ke Yogyakarta, “Waktu Tersisa”, “Salamku Sahabat”, “Tentang Kita”, dan “Semoga”. “Semoga” ini cukup baru untuk telinga saya. Sehingga lagu ini kemudian jadi favorit saya Bersama dengan “Belahan Jiwa”. Apalagi nuansa yang dihadirkannya adalah suasana konser KLakustik di Taman Ismail Marzuki tahun 1995 silam. Sebuah pertunjukan yang megah untuk sebuah band yang berumur 7 tahun.

Dulu, akses internet tidak semudah saat ini. Jadi, saya tidak pernah tahu seperti apa gambaran visual konsernya. Yang jelas, saya hanya bisa berharap untuk dapat memiliki kaset KLakustik yang terbagi jadi dua keping kaset. Saya baru bisa mendapatkan album KLakustik pada tahun 2023 lalu dalam bentuk CD di sebuah toko music terkenal di bilangan Sabang, Jakarta Pusat, dengan harga yang sangat menyenangkan pula.

Kembali ke Dekade. Album bersampul dominan warna hitam ini seperti menyimpan unsur magis yang dapat menyihir setiap pendengarnya. Apalagi bila sudah sampai pada “Takluk” di side B. Anyway, this album is fantastic. Sebuah pencapaian bagi sebuah band yang tidak pernah mudah. Seingat saya, pada tahun 1997, setahun sebelum album ini dirilis, Lilo mengeluarkan single pertama dari albumnya yang cukup viral juga saat itu dengan lagu andalan “Sandra”. Sandra oh Sandra, waktu merambat menjelang senja. Katon juga sempat merilis album “Harmoni Menyentuh” pada tahun yang sama dengan singlenya “Meniti Hutan Cemara”. Jenuhku adalah beban, yang tak boleh terulang. Seakan dua pertanda itu menegaskan terjadinya sesuatu dalam Kla Project. 

Anyway, saya kini menikmati kembali album ini dalam bentuk yang lain. Kalau dulu dalam bentuk kaset, sekarang saya bisa menikmatinya dalam bentuk digital music streaming yang mengharuskan kita berlangganan. Sebut saja Oknum “S” hahahaha. Juga, saya mendapatkan keping CD album ini yang berisi dua keping CD dan bonus sebuah booklet yang berisi lirik lagu-lagu dalam album serta ucapan salutation dari Kla Project.
Album ini dinaungi label Prosound dan hadir dalam dua keping CD serta kaset pita ini adalah bukti bahwa Kla Project belum usai pada usianya yang satu dekade itu. Setahun sesudah “Dekade”, kemudian lahir album “Sintesa” pada tahun 1998 dengan hits andalannya “Sudi Turun ke Bumi”. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai album “Sintesa”. Menyusul setahun sesudahnya, album bertajuk “Klasik” dengan hitsnya yang popular yaitu “Menjemput Impian”. Kekasih aku pulang, menjemput Impian. Lalu, “Kidung Mesra”. Ingin masuki puri dihatimu, hangatkan ruangnya dengan cinta. Aaahhh, cinta.

To conclude this post, album ini is simply amazing. Merangkum sepuluh tahun perjalanan band legendaris dengan lirik-lirik nan puitis. 

Meski tlah jauh, aku akan tetap menulis tentang kita
Walaupun aku bahagia tanpamu, aku akan selalu merindukan gerimis
Pada belahan jiwa, yang membuatku takluk
Aku takkan lepaskan, semoga 
Kita selalu satu kayuh berdua


Cipayung, 28 Agustus 2024

7, The Magnificent


Aisyah sayang,

Beranjak tujuh tahun umurmu kini. 7 tahun, beberapa dari mereka sering bilang Magnificent 7. Mungkin karena mereka hanya tahu bahwa banyak keajaiban dari pemilik nomor 7. Entah David Beckham, Ronaldo Portugal, atau tujuh yang lainnya. Apapun itu, selamat! Bapak senang bisa melihat Aisyah tumbuh menjadi anak yang riang dan bersemangat.
 
Aisyah harus jadi lebih baik lagi, Nak. Semakin rajin sholatnya, semakin rajin belajarnya, dan semakin berbakti pada orang tua. Doa kami selalu menyertaimu, Nak. Masih terbayang di benak Bapak, waktu Aisyah baru belajar jalan. Masih tertatih namun selalu ingin terus berjalan walau kadang jauh. Namun, selalu bangkit lagi. 
 
Aisyah sekarang sudah bisa naik sepeda ke sekolah. Bapak salut dengan keberanian Ais. Pertahankan itu, Nak. Dunia butuh orang yang berani. Berani berbuat baik dan benar serta berani mengakui kesalahan. Aisyah, harus lebih baik lagi ya, Nak.
 
Peluk sayang dari Bapak dan Ibu.
 
 
Cipayung, 2 Juli 2024.

Rabu, 26 Juni 2024

Someday

Jakarta is a strange place which i am still trying to comprehend. On the one side there is a grit, the grime and the in-your-face poverty, on the upper side the glamorous, cosmopolitan Jakarta. As part of the upper-middle class, one gains automatic access to the hippest bars, the fanciest parties and the most fashionable events. Trendy restaurants provide modern Western cuisine targeted towards sucker like me, who suffer from bouts of nostalgia and are willing to pay a premium to cure their cravings.

You can walk into a bar and feel like you're back in Sydney or New York ar any other international city. In Jakarta, you can live the same lifestyle as you had while you overseas, or sometimes even better.

But in the end, life is not about all that. It is about the people you surround yourself with. To love where you live, you must be with the ones that make you feel belong.

At the end of the day, wherever you are. when you are surrounded by friends and loved ones, even the worst day can turn to the best.


 
 
Disadur dari tulisan berjudul "Coming Home" by Tessa Wijaya. The Jakarta Post Weekender. Juli 2009
 
Ditulis kembali sebagai pindahan dari Notes di Facebook

Kenapa

Kenapa kita tidak pernah bisa setia pada satu hati saja?
Tapi,aku masih tetap merindumu...

Pegangsaan Dua, 21 Februari 2009 

diedit pada 14 Maret 2021 

Senin, 08 Januari 2024

Membunuh Perasaan

Kau mintakan aku bercerita padamu tentang bagaimana caranya agar aku tidak selalu rindu pada rumahku. Baik, begini ceritanya.

Waktu itu setelah kelulusan. Aku masih menikmati saat-saat itu. Suatu waktu dimana tiap detiknya masih sama seperti saat cerita ini aku buat. Sama sepertimu. Aku hanya ingin menikmati hari-hari setelah kelulusan dengan biasa saja. Aku tahu aku harus mencari pekerjaan. Aku tahu itu dan aku rasa aku akan memulainya nanti.

Aku memulai beberapa pekerjaan kecil yang memang sering aku lakukan. Kembali menghubungi kawan-kawan lama dan ya begitu-begitu saja. Pernah juga aku kerja tak dibayar. Aku pernah mengalaminya. Dan percayalah, kau pasti tidak akan mau merasakannya. Jangan. Jangan pernah.

Begitulah, sampai suatu saat aku merasa harus segera meninggalkan kotaku itu. Aku selalu merasa harus pergi dari kota yang telah membesarkanku. Padahal, situasinya tidak terlalu parah. Aku masih punya penawaran untuk sebuah pekerjaan lagi. Tapi, karena begitu kuatnya dorongan itu, aku memilih berhenti saja supaya aku bisa lebih leluasa. Klasik. Padahal itu cuma jadi pembenaran saja kalau aku masih merasa harus pergi menuju kota impian.

Perasaan itu terus menghimpitku. Maka yang bisa kulakukan hanyalah menikmati hari-hari secara berbeda. Aku harus menjalani hari-hariku dengan apa yang kuinginkan. Aku tidak pernah akan tahu kapan hari terakhirku di kota itu. Aku hanya bisa melakukan apa yang biasa kulakukan. Mendengarkan radio, selonjoran sampai tengah malam, atau malah merokok di keheningan malam juga aku lakukan. Aku harus mempersiapkan segalanya. Semuanya. Agar kelak bila memang aku meninggalkan kota ini aku benar-benar tidak harus berpikir apa-apa lagi dan yang pasti tidak akan ada penyesalan.

Suatu hari, aku harus pergi ke kota tujuanku. Kotaku yang sekarang ini. Aku harus mengikuti suatu ujian. Aku berangkat dengan semangat. Semangat, siapa tahu aku ditakdirkan untuk menaklukkan kota itu.

Esok harinya aku telah kembali bersama hujan di kota asalku. Aku kembali lagi dengan harapan akan kembali. Perasaan itu masih ada. Aku masih merasakan getarannya yang sangat kuat. Aku harus pergi. Aku harus pergi. Sampai saatnya benar-benar tiba. Aku mendapatkan pekerjaan. Entah, tanpa pertanda tanpa firasat, perpisahan itu terjadi pula. Kutinggalkan kedua orang tuaku dan juga adikku yang beranjak dewasa. Semua itu terjadi begitu saja. Begitu saja.

***

Aku jalani hidupku yang sekarang ini. Aku masih menyimpan kerinduan untuk sekedar pulang menengok rumah sebentar. Apakah akan masih kutemui senyuman rindu Ibunda dan hangatnya tatapan Bapak, belum lagi tawa riang si Adik melihat Kakaknya pulang? Akankah semua itu menyambut pulangnya si anak ini?

Perlu kau tahu, aku menulis cerita ini sambil berurai air mata ditemani Barry Gibbs yang menyanyikan lagu I Started a Joke.

Aku masih menyimpan kerinduan itu. Dengan penghasilanku sekarang sebenarnya aku bisa pulang setiap minggu. Persis seperti cerita Bapak ketika bekerja dikota ini. Namun, entahlah aku hanya bisa pulang seminggu sekali. Rasanya lelah sekali dan setiap weekend hanya kuhabiskan untuk beristirahat saja.

Bilamana rasa rindu menyerang, ada beberapa hal yang aku lakukan. Aku sering pergi ke Stasiun Jatinegara dan berlama-lama disana setiap hari Jum'at. Aku merasakan sebuah perasaan yang dahsyat kala melihat orang-orang berlarian menghampiri Argo Gede. Mereka-mereka itulah yang masih punya kehidupan di Bandung, sama sepertiku. AKu melihat kerinduan dari mata mereka. Maka yang bisa kulakukan hanyalah melihat itu semua terjadi. Dengan itupun aku merasa lega. Aku titipkan kerinduan ini pada setiap rangkaian gerbong Argo Gede.

Kalaupun tak sempat, aku hanya berdiri saja sambil berpura-pura  menunggu bis di depan pool travel itu. Aku lihat mobil yang setiap jamnya berangkat. Aku lihat lagi wajah-wajah penuh rindu. Maka aku pun tenang setelahnya. Sama seperti tadi.

Aku masih akan berada disini untuk waktu yang tak tentu. Aku masih akan disini dulu. Ada yang masih harus kucari. Ada yang harus kuselesaikan. Disini.



8 Januari 2009

* Tulisan lama di Facebook, terbit ulang di blog ini dengan alasan dokumentasi.

Jumat, 22 Desember 2023

Cerita dari Pangandaran - Part 3 (habis)

Hari ini adalah pelepasan bagi 2 sahabat kami. Dua anak manusia yang cintanya dipertemukan oleh takdir. Apakah Tuhan sengaja membiarkan mereka mendapatkan takdirnya masing-masing? Bukan karena kebetulan semata?


Seorang dari kami tampak mengenakan busana warna putih dengan peci warna putih juga, berbalut kalungan bunga melati. Dialah sahabat kami itu yang mengundang kami dating ke pantai ini. Dari sorot matanya yang ada hanya ketenangan.Tidak terlihat adanya beban. Hari inilah yang akan jadi awal dari segalanya di fase hidupnya yang baru. Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga yang Insya Allah berada dalam naunganNya. Insya Allah, satu kayuh berdua*).


Kami mengantarkan mereka hingga dihadapan penghulu. Do’a-do’a dan lantunan ayat suci selesai dibacakan. Tibalah saatnya mengucap ikrar yang taruhannya dunia akhirat. Rupanya ada yang terlewat. Dia mencobanya sekali lagi. Sah? Sah! Sah! Sah! Alhamdulillah.


Tangis haru mewarnai pagi yang belum terlalu panas itu. Kami menyaksikan dua sahabat kami mengikat janji mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Entah, apa yang terpikir di kepala kami? Apakah ada diantara kami ini yang sedang membayangkan rasanya seperti mereka berdua? Atau hanya berpikir: Setelah ini siapa lagi yah?


Tembang Rhoma Irama dari Grup Qasidahan menemani kami menyantap hidangan yang disuguhkan. Lalu berganti dengan grup Nasyid dimana sahabat kami juga ada disana ikut menyanyi. Ada yang harus segera berakhir. Kami naik panggung. Foto. Jeprat jepret. Pamit pulang.


Bukan liburan kalau langsung pulang. Masih juga sempat mampir di pantai barat menyeberang ke pasir putih. Yang tersisa hanya aku, Mamank, dan Herman. Kami bertiga hanya memandangi perahu yang semakin menjauh. Kami bisa lihat mereka semua selamat sampai tujuan.


Kami hanya melamun, membuat lubang, merokok, lalu berlalu untuk sholat. Selepas shalat di mushola yang panas itu, kami mendinginkan hati dan pikiran dengan kelapa muda. This is life!


Nggak belanja, bukan liburan! Sepertinya inilah yang ada di benak para pelancong perempuan ini. Karena terlalu lama, kami putuskan supaya orang Jakarta (orang besoknya kerja, di Jakarta lagi…) untuk berangka duluan. Aku disana ikut mereka.


Aku minta diantar ke terminal, just want to ask, Budiman ke Jakarta berangkat jam berapa, namun entah mengapa, aku memutuskan untuk terbang ke Bekasi. Ini adalah keputusan yang sulit. Aku meninggalkan teman-teman. Tapi, justru inilah inti dari perjalanan ini. AKu memilih naik Budiman Pangandaran-Bekasi.


Akhir sebuah perjalanan


Perjalanan ini sangat berarti untukku.  Perjalanan menempuh  kesendirian. Bukan sekedar perjalanan biasa. Perjalanan ini adalah untuk sebuah keinginan yang baru saat ini terpikirkan kembali. Kenapa harus selalu menunggu untuk memulai sebuah perjalanan? Kenapa tidak memulainya saja sendirian? Sendirian sampai tempat tujuan.


Perjalanan ini adalah suatu pertanda bahwa kadang dalam kehidupan banyak sekali variabelnya yang berubah-rubah. Hidup ini seperti rumus fisika atau kimia yang mengandung ketetapan didalamnya walau variabelnya berubah atau diganti. Perjalanan mengajarkanku untuk meraih tujuan dengan caraku sendiri. Dan betapa kadang dalam perjalanan juga semuanya bisa berubah walau masih dengan tujuan yang sama.



*) sebuah judul lagu dari Kla Project


Pegangsaan Dua, 22 December 2008, 15.54 

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.

Cerita dari Pangandaran - Part 2



Sore di Pangandaran adalah sisa-sisa kerinduan. Dibawah langit yang mendung dan jalanan basah. Para wisatawan segera bersiap menyambut datangnya malam. Malam belum menjelang. Senja pun belum turun. Betapa bahagianya kami dapat berjumpa kembali sahabat seperjuangan dengan plat D. Tak lama setelah melepas rindu dan laporan sama yang punya hajat, kami segera menjelajah pantai.


Senja mulai turun dan gelap. Angin semakin kencang. Kami masih di pantai. Bermain-main dengan ombak yang saling berkejaran. Blitz dari kamera digital yang bagai petir itu menandai kami yang rada-rada narsis ini. Hujan kembali turun. Hujan mengusir kami kembali ke madrasah.


Selepas waktu Isya, rasanya perut ini mulai berteriak minta diisi. Betul saja, cacing-cacingnya sudah minta makan. Mereka teriak ingin makan seafood atau sekedar ikan baker. Tak hanya itu saja, mereka juga berteriak ingin makan di restoran yang ada TV-nya supaya mereka (lagi-lagi) bisa berteriak mendukung Firman Utina Cs yang sedang menjaga skor tetap 1-0.


Selama babak kedua itulah waktu makan kami. Indonesia kalah 2-1. Perut kenyang. Udang terkulai. Kerapu terbakar. Asap rokok mengepul. Heuaay. Pulang. Cari duren. Duren menyapa dihadapan kami. Sengaja kami menghadap pantai timur dalam gelap yang semakin pekat. Kacang rebus dan kamera masih jadi teman kami.


Tak lama, tiga orang sahabat menyusul kami. Semakin lengkap rasanya malam minggu ini. Sahabat, kopi hitam, kopi susu, kacang rebus, dan sepenggal kisah.


Ada kejadian yang membosankan ketika harus menemukan penginapan tempat para perempuan akan menginap. Sudah 3 kali keliling tapi tetap hasilnya 0 besar. Untung, Tuhan masih menitipkan tanda-tanda kekuasaanNya hingga kami pun tahu harus menuju kemana.


Kami, para lelaki, tiba di penginapan dan langsung membuka apapun yang kami bawa. Buka baju. Buka celana. Buka mulut (nguap tandanya ngantuk). Buka tas. Buka seleting (mau pipis…). Buka minum. Buka laptop nonton bokep (yeahhh..) Buka mata sampai jam 2 pagi. Sayangnya, DJ_arot sudah terkulai duluan. Perlahan disusul Christ, Mamank, Angga and Kubil.


Malam yang semakin dingin dan sedikit gerimis menutup cerita malam itu.

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Cerita dari Pangandaran - Part 1

Perjalanan malam hari ini diawali hampir dengan sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang akan merusak irama perjalanan. 3 jam lamanya menunggu busway sampai Kampung Rambutan hampir saja berakhir ditangan Perkasa Jaya. Dibutuhkan sedikit keberanian dan kenekatan untuk melakukan perjalanan ini. Akhirnya, Budiman: Banjar –Jakarta Executive.

****

Menyusuri pagi hari sepanjang Banjar-Pangandaran adalah kehilangan. Kabut sepanjang perjalanan hanyalah teman. Hamparan sawah yang masih menghijau adalah kerinduan. Aku lihat kembali kehidupan yang biasa. Anak-anak pergi sekolah berjalan kaki. Petani ke sawah dengan sepeda tuanya. Para Pedagang pasar membawa dagangannya ke dalam bis.

Aku bisa menyaksikan itu semua setelah tertidur sejauh 30 km. Hujan yang turun di pagi itu membawa suasana basah dalam resah. Titik-titik hujan yang menempa kaca depan bus menghujam bagai perasaan di minggu sore. Perjalanan masih jauh. Aku coba untuk tertidur kembali namun aku tak bisa. Aku hanya bisa memandang keluar dengan sebuah harapan.

Aku tiba di Terminal Pangandaran tepat setengah tujuh pagi. Aku melihat lagi kehidupan yang biasa. Hujan gerimis belum mau reda. Bau basah pasir pantai mulai tercium. Ombak semakin kencang. Aku bisa dengar dari hembusannya. Hujan gerimis semakin besar. Pantai masih sepi. Barangkali, nanti siang aku akan kesana.

Ima menyambutku, begitu juga keluarganya. Aku memutuskan untuk tidak berangkat bersama teman-teman dari Jatinangor. Aku tiba disana bersama kakaknya yang menjemputku. Tiba-tiba aja aku bercerita banyak sekali pada Ima. Tentang pekerjaan (I hate to told it on the holiday), rezeki, cerita teman-teman., dan lain sebagainya. Aku bercerita dalam hujan yang semakin deras. Untungnya, Ima masih mau mengobrol denganku.

Siang ini, setelah tertidur lagi 2 jam, aku ingin ke Pantai. Sendirian saja. Ketika gerimis masih enggan untuk pergi aku kesana, Menyusuri sepanjang pantai barat sampai seorang kawan menelpon.

Siang pun segera membawa matahari dan membuka awan mendung. Langit tampak berawan. Kami berdua menyusuri pantai timur sampai akhirnya berhenti disebuah warung baso di Pasar dekat Terminal. Sesudahnya kami berdua masih saja berputar-putar di Pangandaran yang Cuma segitu-segitu saja. Sampai akhirnya kawan-kawan dari Bandung akan segera tiba.

**** end of part.1

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Titip Rindu buat Ibu*)

Rembulan merah mengambang

Langit Cikampek malam hari

Angin kemarau mengalun terbang

Hantarkan hasrat mimpi kembali

 

Debur rindu bawa kelam

Sejuta rindu bawa mimpi

Desiran ingin bakar malam

Jatiluhur terpatri sepi

 

Ibu... Si Anak meradang

Dalam sedu gemuruh hati

Ibu... anakmu pulang

Remuk redam hati terobati

 

Jakarta, 12 Agustus 2009

*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu

ditulis kembali mengenang perjalanan Jakarta-Bandung via Purwakarta sekaligus menyambut Hari Ibu 2010, diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk diterbitkan di blog ini.

 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...