Minggu, 22 Desember 2013

Never Lost Your Phone in KL

courtesy: www.gizmodo.com
Satu hal yang membuat perjalanan pertama ke Kuala Lumpur tidak berkesan adalah saya kehilangan ponsel. I lost my phone in my first day in KL, damn. Ponsel yang saya simpan dalam koper bukan sekedar hilang tapi dicuri. Si pencurinya sengaja meninggalkan jejak, sarung ponsel ia selipkan dalam saku kemeja teman saya.

Saya segera melapor pada manajer yang bertugas dan berjanji segera melakukan investigasi usai mengacak-acak kamar. Saya belum mau lapor polisi karena saya ingin melihat reaksi manajemen hotel. Mereka berjanji akan segera menghubungi saya.

Selama berlangsungnya seminar mereka tidak pernah menghubungi saya. Pada malam terakhir, saya menegur mereka karena tidak kunjung memberikan kabar. Mereka membantah bahwa telah mencoba menghubungi kamar saya. Saya memang tidak ada di kamar dan tidak pernah menerima teepon mereka. Saya marah karena mereka tidak meninggalkan pesan tertulis. Entah itu disimpan di kamar atau diteruskan lewat panitia seminar.

Saya tidak menyangka bahwa hotel bintang lima sekelas Sheraton bisa melakukan hal sebodoh itu. sudah jelas saya jadi tamu mereka dan mereka tahu kapan dan dimana bisa menemui saya, tetapi mereka tidak melakukannya. Sentimen emosi saya mulai merasa ada hal yang tidak wajar. Saya yang orang Indonesia ini, yang sudah bayar cash untuk menginap disitu, hanya dilayani sebisanya saja.

Baru Kamis pagi, sebelum berangkat ke KLIA, Manajer Security menemui saya dan menjelaskan duduk perkaranya. Mereka telah mencurigai beberapa nama dari hasil analisa rekaman CCTV, log pintu kamar, dll. Pembersih kamar pun memberikan keterangan bahwa pintu luggage room selalu tertutup. Bohong besar!!! 4 malam kami disana, kami tidak pernah menutup luggage room sekalipun! Sayangnya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau saja mereka menghubungi saya lebih awal tentu saya bisa melanjutkan laporan ke polisi.

Saya merasa bahwa pelayanan manajemen hotel memang tidak tanggap dengan hal yang demikian. Mereka lepas tangan begitu saja karena tidak bisa menghubungi saya. Kalau mereka mau, mereka bisa kirim satu orang untuk menemui saya pada saat coffee break atau makan siang. Pelayanan macam ini jarang saya temukan di hotel-hotel Indonesia, bahkan yang bintangnya kurang sekalipun.

Saya tidak menyesalkan ponsel yang hilang. Saya hanya menyesalkan kebodohan saya untuk meninggalkan barang berharga di kamar. Pun, saya kecewa dengan tanggung jawab pihak hotel yang seakan-akan berkata: ok, kita mengaku salah, tidak memberitahu dan menemui anda. Maaf, sekali lagi maaf. As* bongkrek!

Akhirnya, saya membuat laporan ke polisi hari Minggu, 24 November 2013. Saya dan seorang petugas SIKL menuju kantor Polisi Pariwisata. Sialnya, mereka tidak menyediakan fasilitas mobil. Kami harus naik taksi dan harap dicatat: saya yang bayar! Soal service, Indonesia memang nomor satu. SIKL ini tidak ada apa-apanya.

Setibanya disana, sang inspektur polisi marah-marah karena saya baru melapor hari ini. Dia juga menyalahkan saya karena tidak punya travel insurance. Saya balas dengan nada suara yang tinggi juga. Jangan mentang-mentang saya ini orang Indonesia. Lalu dia bertanya soal pekerjaan saya. Saya jawab, saya adalah Government Official, Flight Safety Inspector. Baru setelah mendengar jawaban saya dia mau melunak dan mengajak saya ke ruangannya.

Lagi-lagi, mereka memberi jawaban yang sama dengan pihak hotel. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena kalau kami salah tuduh malah kami yang bisa dipenjara. Begitu katanya. Kami pun pergi ke SIKL untuk bertemu beberapa petugas keamanan disana. Seorang Service Manager menemui kami. Rupanya, ia kawan dekat si inspektur polisi ini dan memang punya ketidakcocokan dengan si Security Manager.

Ia lantas mengucap beribu-ribu maaf. Saya menegaskan lagi kepadanya, dimana tanggungjawab hotel untuk hal ini? Apakah hotel akan mengganti kerugian saya? Apakah hotel ini akan terus mempekerjakan petugas yang sudah keluar-masuk kamar saya dan sekalian mengambil ponsel saya? Ia hanya diam ketika saya tanya.

Anyway, perjalanan business trip ini memberi saya banyak pelajaran. Sekaligus membuktikan bahwa prinsip-prinsip dasar itu selalu benar. Saya juga kemudian tahu bahwa kejadian ini bukan yang pertama kalinya di SIKL. Lewat Tripadvisor, saya juga tahu seorang bule pernah mengalaminya tanpa penjelasan yang cukup dari pihak hotel.

Tips Bepergian ke Luar Negeri (utamanya KL)


Pesan hotel sebelum kedatangan


Beberapa petugas imigrasi akan bertanya soal tujuan anda dan akomodasi selama di negara tujuan. Pastikan anda sudah mendapat tempat tinggal selama di negara tujuan. Pemesanan lewat internet bisa menghemat waktu dan uang anda.

Bawa selalu barang pribadi (paspor, ponsel, kamera, etc.)

Anda tentu tidak ingin mengalami hal yang sama dengan saya. Amankan setiap barang pribadi anda. Bawa tas yang cukup menampung semua barang pribadi anda kemana saja anda pergi. Bahkan, sarapan sekalipun. Sedikit saran, di Kuala Lumpur banyak imigran gelap mengincar paspor turis. Jadi, usahakan anda mengamankan paspor di tempat yang tepat.

Bila terjadi kehilangan segera lapor polisi turis
Pastikan, anda tahu kemana harus melapor bila kehilangan barang pribadi. Saya melapor bersama seorang Indonesia lain yang kehilangan paspornya ketika berbelanja di daerah Bukit Bintang. Untungnya, dia segera melapor ke polisi turis (tourism police) lewat bantuan tour guide.

Selalu tahu jam operasional Kedutaan Besar

Sebelum berangkat ke negara tujuan, pastikan juga anda tahu alamat kantor Kedutaan Besar/Konsulat/Perwakilan Republik Indonesia. Anda bisa mengeceknya lewat Google atau Kementerian Luar Negeri. Bila memang mereka punya laman web, anda bisa sekalian mengecek jam operasionalnya.

Bila dirasa perlu, beli travel insurance

Ibarat sedia payung sebelum hujan, travel insurance memberikan rasa aman bagi anda apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, kecelakaan, pembatalan tiket, dan asuransi kehilangan barang pribadi (dibuktikan lewat laporan polisi). Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk jasa ini, anda bisa mengeceknya via laman web mereka atau Googling.

Have a nice and safe trip!


Paninggilan, 22 Desember 2013.

Regional Runway Safety Seminar (3-tamat)

Rangkaian kegiatan seminar akan segera berakhir. Agenda hari terakhir ini akan kami habiskan dengan sebuah workshop singkat mengenai Hazard Identification dan Airport Visit ke KLIA. I thought it will be a long day.

Kami dibagi dalam kelompok kecil berisi 7-8 orang. Panitia sengaja mengacak peserta agar tidak kebagian sekelompok dengan rekan senegara. Benar saja, tidak ada All Indonesian Final untuk workshop pagi ini. saya sekelompok dengan Air Traffic Controller dari Maladewa, Bangladesh, dan Nepal, Aerodrome Safety Officer dari Korea, Narita Jepang dan Changi Singapura, dan seorang Pilot dari Boeing.

Usai menonton video simulasi serious incident yang bersumber dari FAA, kami harus membuat studi kasus mengenai potential hazard. Kami harus mengamati video berulang-ulang. Narasi dari laporan investigasi FAA pun disertakan. Bagi saya, studi kasus semacam ini selalu menarik. Sebelum saya duduk di seminar ini, saya sudah familiar dengan identifikasi hazard. Baik dalam training maupun slide presentasi yang saya jadikan bahan ajar. Namun, bedanya disini saya harus bertukar pikiran dengan rekan kerja sekelompok dan mengambil konklusi.


Saya kagum dengan kecepatan berpikir rekan dari Korea. Dengan cepat, ia segera memetakan masalah yang terjadi dan membuat beberapa precautionary description. Kelompok kami pun segera membahasnya. Beberapa perbedaan pandangan sempat terjadi hanya karena perbedaan istilah, bukan substansi masalah. Saya sempat bertukar pandangan dengan Capt. Sam Goodwill dari Boeing mengenai hazard dan probabilitas risiko. Kami punya pandangan yang sama. Saya tertawa kecil dalam hati. Saya tidak heran akan hal itu karena kami mengambil sudut pandang dari sisi Flight Operations dan Airworthiness.

Setelah konklusi dicapai, giliran presentasi. Semua kelompok harus mempresentasikan hasil kerjanya. Rekan Korea saya segera mengambil inisiatif mempresentasikan hasil kerja kami. Kami semua mendapat apresiasi dari instruktur workshop karena melihat proses kerja selama diskusi berlangsung. Usai sesi, kami semua berjabat tangan sebagai salam terakhir. Panitia pun meresmikan penutupan acara sebelum makan siang.

Anyway, saya membuat catatan kecil soal rekan dari Korea tadi. Saya jelas kagum dengan cara kerjanya. Tak heran bila dengan kemampuannya yang demikian itu, ia sudah menjadi Assistant Director di Korea Office of Civil Aviation. Lebih jauh, saya melihat bagaimana Korea membangun sumber daya manusianya dengan percepatan yang kurang lebih sedikit dibawah Jepang. Korea masih dilanda perang saudara tahun 1950-1955, yang juga melibatkan dua kekuatan besar dunia, AS dan Rusia. Saat Korea merdeka, Indonesia sudah sukses menggelar pemilihan umum pertamanya. Namun, rasanya WAGN. We Are Going Nowhere. Semoga lekas sembuh.

KLIA Airport Visit

Usai makan siang, kami segera meluncur ke KLIA. Dua bis membawa rombongan peserta seminar untuk melihat langsung kondisi lapangan. Saya membayangkan bahwa kami akan berjalan kaki di apron, merasakan langsung aspal dan PCN KLIA. Ternyata, otoritas KLIA hanya mengizinkan kami untuk tetap berada di dalam bus. Sebuah mobil pandu mengawal kami menjelajahi KLIA airside dan groundside sections.


Cuaca cerah siang ini. Tidak ada masalah pada jarak pandang. Saya melihat sendiri si bongsor Airbus A380 melakukan taxi hingga berhenti sempurna di terminal kedatangan. Amazing.

Kami mengelilingi semua bagian KLIA, tak terkecuali LCCT (Low Cost Carrier Terminal) yang tahun depan akan dipindah ke KLIA 2. Kami hanya bisa melihat dari jauh KLIA 2 yang sedang dalam tahap pengerjaan dan diperkirakan tahun depan akan selesai. KLIA 2 mempunyai sebuah Skybridge yang akan menghubungkan dua terminal dan dibawahnya ada dua lajur yang akan bisa dilewati oleh pesawat ukuran narrow body (Airbus A320 & Boeing 737). Khusus untuk Skybridge KLIA 2 ini adalah yang pertama di Asia dan ketiga di dunia.


Kami pun diajak mengunjungi Tower 3 (Traffic Controller) KLIA. Tower ini baru selesai dibangun. Tower 3 ini menjadi tower cadangan apabila Tower 1 & 2 mengalami gangguan. Sebelum naik, kami harus dibriefing terlebih dahulu untuk memastikan beberapa hal soal safety dan larangan untuk mengambil foto. Dengan selesainya tower ini, diharapkan KLIA mampu menghandle hingga 120 pergerakan pesawat setiap jamnya.

Dari ketinggian tower, kami dapat melihat dengan jelas pergerakan pesawat. Pergerakan di taxiway dan landing and take off runway. Kami melihat sendiri bagaimana cara Malaysia Airport (BUMN penyelenggara jasa kebandarudaraan) melakukan hazard identification dan risk mitigation. Sebuah insight kami dapatkan disini. Mereka bisa memastikan operasional bandar udara tidak akan terganggu meskipun sedang dibangun terminal baru, KLIA 2. Faktor-faktor yang secara tidak langsung berkaitan dengan keselamatan penerbangan tidak luput dari perhatian. By the way, i can see Sepang Circuit from here.

Last Night in KL

Kunjungan singkat ini berlangsung sekitar dua jam saja. Perjalanan kembali ke hotel diwarnai kemacetan menjelang pintu keluar Lebuh Raya. Maklum saja, rush hour di kota mana pun sama. Butuh dua jam untuk keluar dari kemacetan menuju hotel. Kami tiba di hotel sekitar pukul 19.30. Saya segera kembali ke kamar, ganti baju, dan segera bergegas untuk menikmati malam terakhir di Kuala Lumpur. Saya ingin jalan-jalan ke daerah Bukit Bintang sambil mencari hotel untuk kunjungan minggu depan.

Kami berjalan menuju Sungei Wang dan menemukan banyak pedagang bersiap menutup tokonya. Inilah yang membuat kami agak kaget. Walaupun jam tutup resmi adalah jam 10 malam, namun banyak toko sudah tutup. Mungkin inilah bedanya negara maju. It’s not Australia anyway. Akhirnya, kami menikmati malam yang belum tinggi ini di Starbucks.

Kami melanjutkan perjalanan ke Corus Hotel dekat KLCC. Saya sudah memilih hotel ini untuk kunjungan minggu depan. Hotel ini tidak jauh dari lokasi training di Double Tree. Hanya dalam jarak jalan kaki saja. Eng ing eng. Saya segera booking dan seal the deal. Namun, seorang manajer hotel mengatakan bahwa lebih baik bila saya melakukan booking via web atau agoda.com saja. Harganya akan lebih jauh berbeda. Bukan masalah booking via internet. Apakah mereka tidak bisa menerima booking langsung ditempat seperti yang sedang saya lakukan? Saya tidak percaya bahwa hal ini bisa saja terjadi. Saya pun segera meninggalkan hotel ini dengan kecewa.

Kami berjalan kaki menuju KLCC (lagi). Sudah jam sepuluh lebih. KLCC masih saja ramai. Kami berdua duduk di depan sebuah taman kecil. Menikmati langit malam Kuala Lumpur. Terbayang, betapa jauhnya kami berada kini dari kampung. Sambil beristirahat mengatur nafas, kami mencoba untuk narsis dan mengambil foto selfie lewat fitur ten seconds yang ada di ponsel.

Sayangi Kuala Lumpur
Kami berjalan kaki lagi menyusuri jalanan menuju hotel. Kami lewati lagi Zouk yang mulai ramai. Kami lewati juga stasiun monorel yang sudah tutup. Malam terakhir ini kami rayakan dengan berjalan kaki. Kami pun menjumpai petugas kebersihan kota yang sedang menyirami trotoar. Sementara petugas lainnya menyemprotkan cairan disinfektan setelah jalur pedestrian itu disiram. Rupanya begitu cara mereka mencintai kota ini.

Tiba di hotel, kami hanya menyimpan beberapa belanjaan kemudian turun lagi mencari makan malam. Tak jauh dari SIKL, di perempatan jalan Tunku Abdul Rahman dan Jalan Sultan Ismail tepatnya di depan Tune Hotels, ada warung kaki lima yang sepertinya buka sampai dini hari. Kami makan disitu. 10 RM saja untuk satu porsi Ayam Penyet (khas Melaise) dan segelas teh tarik.


Suasana di warung kaki lima ini cukup meriah. Selain pilihan menu yang beragam, mostly traditional Malay dishes, ada panggung kecil yang ikut menghibur pengunjung. Beberapa menyanyikan lagu lawas slow rock barat, lagu melayu, hingga Broery Pesolima. Mana pernah kutahu.... Jatuh cinta padamu....

Saya cukup menikmati tempat ini. Memang kota sudah sepi, namun pengunjung warung ini semakin ramai. Karena dekat dengan perempatan, kami sempat dibuat kaget dengan decitan ban dari dua mobil yang sedang beradu kecepatan. Mirip adegan di film Fast & Furious. Yeah, this is life!

Kami kembali ke kamar jam setengah dua. Kami benar-benar kelelahan. Usai workshop sepagian, ngesot di KLIA, sitting duck in traffic for 2 hours, dan jalan kaki dari KLCC-SIKL. Hidup terasa sangat panjang. Life is very long.

21 November 2013

 
Hari ini akhirnya datang juga. Hari kepulangan saya ke tanah air setelah kunjungan pertama saya ke negeri tetangga. Saya bisa bangun siang untuk pertama kalinya disini (setelah shalat subuh tentunya).  Saya sudah janjian dengan Mbak Dini untuk pulang bersama karena kebetulan kami satu pesawat. Kami meninggalkan hotel jam 08.30 dan langsung menuju KLIA. 

Tadinya, kami bertiga pilih naik taksi saja, namun petugas taksi di lobi SIKL mengatakan tarifnya 140 RM (argo). Kami merasa kemahalan sehingga naik taksi hingga Stasiun KL Central saja dan lanjut ke KLIA dengan kereta KL Express. Di perjalanan, supir taksinya bilang bahwa tarif taksi menuju KLIA biasanya 120 RM. Kami pun setuju dan merubah rencana. Kami bisa tidur nyenyak (lagi).

Saya tidak bisa memejamkan mata lagi. Saya terjaga sepanjang jalan. Itu pun demi melihat kawasan Putrajaya, area pusat pemerintahan kerajaan yang letaknya agak minggir dari KL. Saya memecah kebuntuan dengan beberapa obrolan kecil dengan teman perempuan saya ini. My boss choose to sit in front so he can sleep all the way.

Kami tiba di KLIA sebelum jam 10. Antrian untuk check-in belum dibuka. Kami menunggu 20 menit lalu check-in. Kami dijadwalkan naik pesawat jam 12.50. It means we need to killing time. Untungnya, KLIA ini dibuat seperti mall. Jadi, sambil menunggu kami bisa menghabiskan waktu untuk sekedar window shopping atau bahkan menghabiskan ringgit disini.


Dengan alasan lupa membeli mainan untuk anaknya, kawan lelaki saya segera menghilang menuju toko mainan dan meninggalkan saya berdua. Kami menghabiskan waktu berdua berjalan-jalan sepanjang koridor KLIA keluar-masuk beberapa toko disana. Tak lupa juga seraya memesan secangkir coklat panas di Starbucks. Saya benar-benar menikmatinya. Ingatan soal rasa bersalah kemarin sudah lunas rasanya.

Boarding gate sudah dibuka. Kami segera masuk pesawat dan kembali duduk bersebelahan. Tidak banyak yang kami obrolkan di pesawat. Mungkin, masing-masing dari kami sudah membayangkan berjumpa dengan orang-orang terkasih. Melepas rindu yang amat besar. Barangkali. Kami pun berpisah di arrival gate Soekarno-Hatta.

Until next time we meet, senorita

Kuala Lumpur – Jakarta, 21 November 2013.

Sabtu, 21 Desember 2013

The Nominees: Prelude to Song of the Year

Setelah Java Jive (Menikah) dan Phil Collins (Do You Remember?) jadi Song of The Year 2011 dan 2012 berurutan, kini saatnya saya memilih lagu jawara musim 2013 ini. Kriteria lagu-lagu yang masuk daftar nominasi tahun ini diambil berdasarkan intensitas #nowplaying, entah di perjalanan kantor-rumah atau sambil menemani saya menghadapi setrikaan yang menumpuk. Yang jelas, mereka jadi pengingat saat saya menghadapi beberapa momen 'spesial' tahun ini. 

Kebanyakan mereka adalah lagu lama yang sering saya putar kembali. Beberapa tergolong lagu lama 'banget' yang hanya saya dengar di acara tengah malam radio. Sedang beberapa lainnya berasal dari soundtrack film. Mereka masuk nominasi bukan karena intensitas semata, mirip list Tangga Lagu populer di radio-radio. Konektivitas antara konteks dan konten lagu yang secara tidak langsung membuat sebuah ikatan memori ikut jadi kriteria penentu.

Khusus untuk tahun ini saya menambah kategori Outstanding Newcomers. Kategori ini belum pernah ada pada tahun-tahun sebelumnya. Kategori ini dibuat untuk artis/penyanyi/grup yang baru saya senangi dan belum pernah masuk list #nowplaying sebelumnya. Singkat kata, mereka baru ada di playlist mobile device/music player tahun ini. 

The Nominees Are...

1. Donna Donna (Sita Nursanti)


Repackaging lagu ini termasuk salah satu yang terbaik dari versi-versi sebelumnya. Sayang, hanya diedarkan di Indonesia. Lagu yang sejatinya berasal dari folksong Yahudi ini pernah juga dinyanyikan oleh Joan Baez. Perdebatan mengenainya, bisa disimak dalam beberapa forum diskusi di internet. Penggalan lirik yang saya suka dari lagu ini adalah: ...but whoever treasures freedom...like a swallow has learn to fly...

2. Kecewa (Bunga Citra Lestari @bclsinclair)

Lagu ini muncul di album kedua BCL, tahun 2009 silam. Saya sering mendengar ulang lagu ini di night show sebuah radio. Ada beberapa momen tahun ini dimana lagu ini seketika mengisi kepala saya. Personally, BCL mulai menemukan stepping yang bagus untuk kualitas vokalnya.

3. Stereo Love (Edward Maya feat. Vika Jigulina)

Saya belum pernah menyenangi lagu dugem semacam ini sebelumnya. Khusus untuk lagu ini, saya membuat pengecualian. Beberapa momen personal begitu lekat dengan lagu ini. Komposisi musik dan liriknya pun saya suka. Vika Jigulina, anyone? *asa teu nyambung euy*

4. Aku Ada (Dewi Lestari feat. Arina Mocca)

Barangkali, saya memang terlambat menggandrungi Recto Verso dari @deelestari. Saya ingat, tahun 2008 pun bukunya terbit bersama sebuah album musik. Anyhoo, dari semua soundtrack film RectoVerso yang dirilis tahun ini (akhirnya...) saya jatuh cinta pada lagu ini. Bukan berarti saya melewatkan 'Malaikat Juga Tahu' yang sejak 2008 selalu jadi favorit, namun untuk konteks tahun ini saya lebih memilih 'Aku Ada'. Satu atau dua momen saya lewati bersamanya.

5. Tahu Diri (Maudy Ayunda)

Saya baru tahu bahwa lagu ini jadi pengisi soundtrack film 'Perahu Kertas'. Mungkin, karena saya memang tidak menonton filmnya secara utuh. Belakangan, lagu ini juga jadi sering diputar di radio-radio favorit saya. Satu-dua malam di Kuala Lumpur saya habiskan memutar ulang lagu ini.

6. Just Give Me A Reason (Pink feat. Nate Ruess)

 
Kalau boleh kasih bocoran, lagu ini adalah kandidat kuat untuk menang tahun ini. Bukan karena awards untuk lagunya dan albumnya (The Truth About Love). Terlebih karena satu momen yang bisa dibilang jadi special remarks tahun ini. Ya, saya jatuh cinta dan lagu ini menemani perjalanan kisah saya waktu itu (*agak sedikit curcol*). IMHO, Pink has never been so great before this album released. Another excitement from her following succeeded 'Don't Let Me Get Me' and 'Just Like a Pill'.

7. The Man Who Cant Be Moved (The Script)

Siapa yang tidak lupa akan magic dibalik lagu ini. 'How can i move on when i'm still in love with you' terdengar seperti sebuah pembenaran bagi Komunitas Gagal Move-on. Yes, this song happened to me once. If she ever comeback to the place we first met, then she'd know that i'd be waiting for her.

8. Membaca Hati (Alika @alikaislamadina)

Lagu ini ada di album perdana Alika, My Secret Room, yang saya beli awal tahun 2012 lalu. Sebenarnya, lagu ini didedikasikan bagi siswa/i dan mahasiswa/i yang mencintai guru/dosen mereka. For me, the lyrics quite simple yet meaningful. Aku bingung...tak bisa membaca hati...

9. She (Charles Aznavour)

Ini adalah satu lagu lama yang berani-beraninya masuk daftar nominasi tahun ini. Konon, lagu ini sudah ada sejak 1974 silam. Tahun dimana Beckenbauer mengangkat trofi Piala Dunia untuk Jerman Barat. Lagu ini meninggalkan kesan yang begitu kuat usai saya menonton kembali film lama Julia Roberts dan Hugh Grant, Notting Hill.

10. Leonie (Arjan Brass)

Satu lagi lagu lama yang masuk daftar nominee. Ada satu momen ketika saya terbangun tengah malam dengan lagu ini. Some things makes me stay along the night with this song. Please, dont kill me softly with this song.

11. Payphone (Jayeslee cover version)

 
All those fairy tales are full of s*it, one more f*cking love i'll be sick. I think this explains all that matters. Hanya saja, versi cover dari Jayeslee ini terdengar lebih lembut, sweet, dan feminin.

12. Bisikan Hati (Andien)

Lagu ini menandai kiprah Andien di jagat musik Indonesia. Karakter vokal jazzy miliknya sudah terasa kuat sejak lagu ini dirilis untuk khalayak. Judulnya saja sudah mengingatkan saya untuk mendengar bisikan hati. Follow your heart, let your love make through the darkness, kata Il Divo. If i may add.

13. Firasat (Raisa @raisa6690)

Ada tingkat kegalauan yang berbeda sejak Raisa menyanyikan lagu ini. Barangkali, ikatan emosi antara lagu ini dengan filmnya (RectoVerso) punya pertalian rasa yang kuat. Saya tidak menolak seandainya Raisa mendedikasikan lagu ini untuk saya. Firastku ingin kau tuk cepat pulang...pulang...yeiyeh....
 
14. A Whiter Shade of Pale (Procol Harum)

Lagu ini melengkapi deretan lagu tua yang masuk nominasi. Kesan galau dari lagu ini terasa lebih kuat dibanding versi punya Annie Lennox. Walau begitu, lagu ini masuk juga dalam daftar playlist lagu rock di satu radio. Sama seperti Leonie, lagu ini pernah membuat saya melamun sampai dini hari.

15. Out of Reach (Gabrielle)

Saya sudah suka lagu ini sejak 2001 silam ketika jadi soundtrack film 'Bridget Jones's Diary'. Ingatan baru kembali dibuat ketika bulan April kemarin saya menonton ulang film itu. I was stupid for a while... Was i ever loved by you? I never have your heart.

16. Regret (New Order)
Entah lagu ini sejatinya bercerita soal apa. Yang jelas, lagu ini jadi soundtrack of the month dua kali berturut-turut. Wake up everyday, that would be a start. I would not complain with my wounded heart.

17. Beautiful in White (Shane Ward)

Yeap, lagu ini sepertinya jadi lagu wajib di setiap pernikahan yang saya datangi sepanjang tahun ini. 'You look so beautiful in white' sounds better than '..she looks so happy in her wedding dress..'. I guess...

18. InsyaAllah (Maher Zain feat. Fadly)

Lagu ini terasa menusuk betul saat Ramadhan lalu. Momen penyucian jiwa ini saya lewati sepanjang hari dengan lagu ini. Ada beberapa momen dimana saya merasa kehilangan harapan. Maher Zain dan Fadli setidaknya berhasil mengajari saya untuk tidak pernah kehilangan harapan. Don't despair and never lose hope. 'Cause Allah is always by your side.

19. Cinta Butuh Waktu (Vierratale)

Pernah punya pengalaman ditolak dengan alasan: kita baru kenalan satu minggu saja ? Couldn't tell you more. You tell me.

Oustanding newcomers

Give Your Heart a Break (Demi Lovato)

Saya tidak pernah tahu musik apa yang dimainkan Demi Lovato. Others may say pop but i never listen to her songs. Until one day i found this song, duet with Darren Criss or Nick Jonas (saya lupa) or neither both. Sometimes, you just need to give your heart a break if there were too many mistakes.

Baby Baby Baby (JKT48)


Jujur saja, lagu ini adalah lagu yang membuat saya jatuh cinta pada JKT48. Thanks to @rizkirr_kiki for introducing me to them. Lagu ini juga jadi iklan sebuah brand produk elektronik asal Jepang. Saya menangkap energi kegembiraan masa muda darinya.

Is This The Best It Gets (Budapest)

Lagu ini adalah lagu lama yang baru saya temukan judulnya medio Oktober lalu. Perlu 12 tahun lebih untuk mencarinya karena saya jarang dengar lagu ini di radio. Pun, saya kesulitan setiap mau mencatat potongan liriknya. Lagu ini mengingatkan saya pada masa-masa sekolah SMP dulu, menjelang ujian akhir nasional.

Father and Son (Cat Stevens/Yusuf Muslim)

Versi lain dari lagu ini pernah dibawakan pula oleh Boyzone. Ronan Keating cs. mencoba mengembalikan pesan lagu ini. Personally, lagu ini membuat saya berkaca tentang hubungan dengan Bapak. Ada beberapa alasan dimana seorang ayah mengambil keputusan terhadap anaknya. Find a girl, settle down. If you want you can marry. Look at me, i am old but i'm happy.

Epilog

Saya menerima masukan dari pembaca bila ingin ikut memilih. Bila memang ada satu lagu yang kebetulan pernah mewakili momen dan perasaan, sila tinggalkan komentar atau mention ke @anggihafiz. Song of The Year akan diumumkan sebelum malam pergantian tahun baru 2014. Let's have a good times then. Hasta la vista.


Paninggilan, 21 Desember 2013.

2 Savage Garden and A Matchbox 20

What really made my Friday is 2 Savage Garden and a Matchbox Twenty. Dua album pertama Savage Garden, Savage Garden dan Affirmation, adalah album yang selalu saya ingin saya miliki. Saya besar bersama lagu-lagu mereka. Thanks God for your MTV!

Saya tidak pernah bisa memiliki kedua album itu. Sejak pertama masuk SMP hingga hati terakhirnSMA. Entah, tabungan saya tidak pernah mengarahkan saya untuk pergi ke Disc Tarra dan membeli kedua album itu. Kini, ketika Savage Garden sudah dinyatakan bubar dan Darren Hayes diisukan menjadi seorang gay, saya baru bisa menikmati lagi sepenggal kenangan yang tersisa.

Saya langsung suka begitu Savage Garden merilis single pertama, Truly Madly Deeply. Begitupun dengan hits lainnya seperti To The Moon And Back dan Break Me, Shake Me. Momen itu terus berlanjut hingga pada tahun 1999, Savage Garden kembali merilis albim terbaru mereka, Affirmation. Hits dari album tersebut adalah I Knew I Loved You, Crash and Burn, dan The Animal Song yang juga jadi soundtrack film The Other Sister.

Lebih dari satu dekade kemudian saya baru mampu menuntaskan kerinduan pada dua album hebat itu. Ditambah satu CD Truly Madly Deeply mini album yang saya temukan di Central Market (Pasar Seni) Kuala Lumpur, rasanya seperti mengalami periode mesin waktu kembali ke waktu-waktu jadi anak nongkrong. It feels like living in a dream, anyway



Matchbox 20

Perkenalan pertama dengan Matchbox Twenty adalah ketika saya menonton video klip Bent di MTV medio tahun 2000. Bent adalah hits pertama untuk album kedua Matchbox 20, Mad Season. Padahal, saya sudah lebih dulu mendengar lagu Push dari album pertama mereka yang dirilis tahun 1996, Yourself or Someone Like You, via kaset latihan band paman saya. Selanjutnya, saya hanya tahu lagu-lagu hits mereka saja. Termasuk, Unwell dan Disease untuk album ketiga More Than You Think You Are.

Untuk sebuah alasan emosional, saya iseng mencari video klip asli Push. Hasil pencarian di Youtube memang memberi banyak pilihan. Perhatian saya kemudian teralihkan pada video Push yang menampilkan Matchbox 20 dalam satu sesi live recording. Yes, it was VH1 Storyteller session. Saya sudah bisa menebak penampilan apa yang akan mereka buat karena sebelumnya saya sudah menonton juga Storyteller edisi Bee Gees.

Sesi VH1 ini adalah pembuktian bagi siapapun yang diundang tampil disana. Matchbox 20 harus bisa membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekedar Rob Thomas dan teman-temannya memainkan lagu dari album-album mereka di depan audiens. Lebih dari itu, mereka harus bisa menampilkan sesuatu yang lain dari musik mereka. Matchbox 20 berhasil melewati sesi ini dengan sukses. Penampilan mereka malam itu berhasil membuktikan diri sebagai band yang utuh, bukan sekedar sekelompok anak muda yang memainkan alat musik.

Saya merasa beruntung sekali ketika mendapatkan DVD VH1 Storyteller mereka. Walaupun isinya adalah penampilan mereka lebih dari satu dekade lalu. Excitement itu ditambah lagi dengan bonus track Push versi country. Satu hal yang kemudian membuat Matchbox 20 diperhitungkan di kancah musik USA.

She said, I don't know if I've ever been good enough...


Paninggilan, 21 Desember 2013

Kamis, 19 Desember 2013

Regional Runway Safety Seminar (2)

Hari kedua. Kurang lebih acara hari ini masih sama seperti kemarin. Sitting in the same place and listen to their presentations, as usual. Maybe there’s some matter to be discussed according today’s flightplan. Runway Safety Team dan Runway Safety Issues, ditambah Collaborative Approach dalam implementasinya di lapangan.


Anyway, hari ini saya lebih banyak berinteraksi dengan peserta lain. Saya bertemu seorang manajer IATA, bertanya soal training plan untuk tahun depan. Barangkali saja bisa diajukan untuk program tahun depan. Rasanya, tiada yang berbeda usai gala dinner semalam. Kecuali, saya menangkap aura awkward ketika bertemu Mrs. Kim. We just laughing freely last night and getting awkward now. Feels like nothing ever happened between us. :))))


Mencoba Serius
Sore ini saya berencana untuk berjalan-jalan ke KLCC. Entah bagaimana, yang jelas arus mainstream terlanjur membawa saya kesana. Rasanya tidak sah kalau belum ambil foto di Twin Tower Petronas yang terlanjur mendunia itu. Barangkali, itulah lambang eksistensi masa kini supaya orang bisa berkata: wow, you’ve been there.

Kami bertiga yang orang Indonesia ini berjalan kaki menuju KLCC. Menyusuri Jalan Sultan Ismail hingga perempatan Jalan Dang Wangi lalu belok ke Jalan.... Sore ini KLCC tidak begitu ramai. Tampak beberapa turis asing mengambil gambar secara sporadis. Saya juga tidak ketinggalan untuk mengambil foto berlatar lambang supremasi kejayaan ekonomi Negeri Jiran.

Tiis Jaya Runner @ Twin Tower
Puas berfoto, kami masuk ke Suria KLCC, mall 5 lantai yang jadi bagian dasar Petronas Tower. Tadinya, saya ingin naik dan menyebrang di bridge penghubung dua menara kembar ini. somehow, karena kalah suara saya pun urung naik. Dua orang teman sudah lebih dahulu mencobanya dan hanya berkomentar: gak usah lah, mahal.

Sebelum lupa, alasan saya memilih untuk berjalan kaki menuju KLCC adalah agar bisa lihat Zouk lebih dekat. Saya mengalami zaman anak nongkrong MTV yang bermimpi untuk bisa party di Zouk Kuala Lumpur. Malam belum turun, tapi saya sudah menunaikan satu keinginan saya.


Akhirnya, kami menuju toko buku Kinokuniya di lantai paling atas. Saya langsung mencari pembatas buku dan kartu pos lalu ke Comic section. Saya membeli sebuah buku ilustrasi karakter komik dan beberapa pembatas buku. Satu diantaranya aseli made in Jerman dan hanya tinggal satu-satunya. 

Kami melanjutkan acara sore ini dengan melihat toko peralatan olahraga. Bisa dibilang harga apparel disini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Sepintas, potongan dan diskon yang diberikan terlihat cukup menggoda. Namun, bila dihitung dengan kurs rupiah, tentu saja harganya kurang lebih sama. Bedanya, kalau sudah terlanjur disini pasti beli, kalau sudah di Indonesia pasti tidak akan jadi beli. Begitu kata Mas Iwan, seorang kawan dari ConocoPhillips.

Diam-diam saya naksir sepatu CATerpillar yang diskon setengah harga. Saya suka pada modelnya. Namun, niat itu urung terlaksana karena saya ingat ini belum waktunya untuk mengganti ‘ban’. Godaan dari kawan-kawan sempat membuat saya goyah. Karena saya masih akan kembali ke KL minggu depan maka saya putuskan untuk menunda. Mudah-mudahan masih kena diskon setengah harga. \^_^/

Sebenarnya masih ada satu barang incaran: CD album cinta gue, Olivia Ong. Saya tidak berhasil menemukan toko musik di Singapura bulan September lalu karena kehabisan waktu. Maklum, hanya one-day-tour. Padahal, Olivia Ong menjadikan Singapura sebagai homebasenya. Alhasil, tak lama usai memendam keinginan di toko sepatu, saya segera menuju Video Ezy.

Saya langsung bertanya to-the-point apakah mereka menjual album Olivia Ong. Ya, mereka menjualnya. Album A Girl Meets Bossanova 1 & 2 yang lebih dulu saya unduh dari internet. Saya penasaran karena mungkin saja mereka menyimpan album lainnya. Voila! Saya mendapatkan album Live Olivia Ong dual edition CD + DVD dengan harga 39,90 RM. It’s really worth! Saya pun bisa melepas rindu pada live performance Olivia Ong yang jarang ada di Youtube.

Olivia: LIVE

Lelah berjalan-jalan, kami menjajal foodcourt Suria KLCC yang ada di lantai 2 yang sore ini penuh dengan orang kantoran yang baru pulang kerja. Sekilas, saya dapat menyimpulkan bahwa tingkat penghasilan rata-rata kelas menengah disini sudah lebih dari cukup untuk menghabiskan pendapatan dengan makan tiga kali sehari di tempat semacam ini.

Pilihan menunya variatif. Bila ingin mencicipi makanan lokal dengan cita rasa fastfood, disinilah tempatnya. Roti, cane, teh tarik, kari kambing, dan ragam pilihan lainnya sungguh menggoda lidah. Namun, pilihan kami jatuh pada restoran teriyaki. Sesekali mencoba penganan khas Jepun (sebutan orang Malaysia untuk Jepang) di negeri orang. Harga makanan disini rata-rata berkisar antara 10-50 RM, tergantung kelas restoran yang dipilih. Yang terpenting, mostly halal.

Water Dancing Attraction - Suria KLCC

Hari mulai gelap. Tidak terasa sudah pukul 7 waktu bagian Kuala Lumpur. Kami melanjutkan perjalanan ke bagian belakang Suria dimana terdapat sebuah danau buatan. Disitu ada pagelaran Water Dancing setiap malam. Air mancur ditata sedemikian rupa dengan tampilan warna pelangi yang menarik. Melihat penampilan air mancur yang bisa menari semacam itu saya jadi membayangkan bila air mancur di Bundaran HI bisa melakukan tarian yang lebih dari Water Dancing KLCC. Goyang ngebor atau gergaji, misalnya.

Gerimis pertama saya di Kuala Lumpur pun turun perlahan. Kebetulan kami sudah lelah dan ingin beristirahat. Mungkin tadi kami terlalu serius di ruang seminar. Sehingga belum genap pukul 9 malam, kami semua sudah menguap pertanda kantuk mulai menguasai.

Gerimis berubah segera menjadi hujan. Kami segera mencegat taksi di pelataran lobi Tower 2. Kami naik Executive Taxi menuju hotel. Jalanan mulai sepi. Namun, kerumunan muda-mudi di Zouk yang kami lewati menandakan bahwa malam masih terlalu pagi.

Episode Mencari Fog Lamp di Negeri Jiran (1)

Tiba di hotel, saya tidak bisa langsung pergi ke kamar. Titipan Paman belum berhasil saya dapatkan. Saya sempat kaget ketika Paman saya menitip dibelikan fog lamp untuk Sirion miliknya. Saya baru tahu ternyata Daihatsu Sirion yang beredar di Indonesia adalah CBU asal Malaysia. Dibuat oleh pabrik mobil bernama Perodua (baca: Produa ; ya mirip saluran radio milik RRI). Sejatinya, dinamai Perodua Myvi. Daihatsu Sirion 2010 facelift milik Paman saya serupa dengan Perodua Myvi 2008 disini. Pantas saja, sepanjang perjalanan dari KLIA ke hotel saya menemukan banyak mobil yang serupa.

Perodua Myvi a.k.a Daihatsu Sirion 2011 Facelift
Saya masih berada di lobi hotel dan mulai browsing toko-toko aksesoris mobil. Saya berusaha mendapatkan fog lamp versi original dari pabrikan. Setengah jam, saya hanya mendapat fog lamp third party (bukan aseli pabrik) di portal forum.lelong.my (mirip kaskus) dan forum.lowyat.net . saya pun sudah mendapat referensi langsung dari Sirion versi asli Perodua. Saya sengaja mengambil foto fog lamp yang terpasang dari setiap Perodua Myvi yang saya jumpai di tempat parkir umum.

Saya tidak berhasil menghubungi penjualnya. Saya pun hanya meninggalkan email berisi inquiry soal barang yang saya carai. Semoga besok ada jawaban dan saya bisa bawa pulang hari Kamis. Saya pun tidak cukup dapat informasi soal daerah/pasar yang menjual onderdil mobil. Beberapa staf hotel dan supir taksi yang saya tanyai pun tidak dapat memberikan informasi yang saya minta.

Saya merasa mulai ada beban. Saya harus segera menemukan fog lamp original itu. Entah bagaimana caranya. Saya ingin kunjungan saya minggu depan tidak direpotkan dengan urusan ‘Mencari Fog Lamp di Negeri Jiran’.

Saya kembali ke kamar dan langsung memutar DVD konser Olivia Ong. Ah, malam ini memang seharusnya menyenangkan. Tiba-tiba saya ingat rasa bersalah karena tidak mengajak seorang kawan perempuan yang juga dari Indonesia untuk ikut jalan ke KLCC. Saya jadi ingat lagi kejadian di meja All Indonesian Final malam kemarin. Diam-diam, saya berniat akan menghabiskan banyak waktu dengannya sebelum kembali ke Indonesia.

Yang jelas, malam ini saya menikmati kembali manis lembut vokal Olivia Ong yang menyanyikan lagu favoritnya, Bittersweet, di urutan kelima. My favourite number. Lantas, apa hubungannya?


Kuala Lumpur, 20 November 2013.

Minggu, 15 Desember 2013

Regional Runway Safety Seminar (1)

Selama ini saya hanya tahu seperti apa di Malaysia lewat Om yang bekerja di daerah Sepang. Om baru saja berhenti awal tahun kemarin karena tidak memperpanjang kontrak kerja di sebuah bengkel pesawat. Selebihnya, saya hanya bisa mengira-ngira maksud dalam lagu Bimbo, ‘Semalam di Malaysia’.

Rasa penasaran itu akhirnya bisa saya tuntaskan sendiri. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menghadiri sebuah seminar dan training. Saya mendapat kesempatan dua minggu berturut-turut untuk merasakan Kuala Lumpur. Bukan untuk tujuan liburan atau vakasi. Kunjungan pertama saya ini murni business purpose. Saya akan menghadiri sebuah seminar regional sekaligus penugasan luar negeri pertama saya.


17 November 2013

Untuk pertama kalinya saya landing di airport luar negeri (maksudnya, di luar Indonesia). Pesawat Garuda yang kami naiki mendarat sekitar pukul 8 malam di terminal Internasional Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Hari sudah gelap, saya tidak bisa melihat jelas seperti apa suasana di sekitar airport. Saya hanya melihat pesawat-pesawat milik Malaysia Airlines. Saya sudah merasa airport ini luas sekali. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai apron dari taxiway lumayan lama sekitar 20 menit. Dengan traffic yang mencapai 78 pesawat perjam, KLIA seperti tidak pernah kehabisan tempat parkir.

Ketakjuban saya semakin bertambah ketika tahu bahwa KLIA punya kereta komuter antar terminal intra airport. Saya kaget karena terhenti di ‘stasiun’ ketika akan mengambil bagasi. Rupanya, pengambilan bagasi berada di terminal berbeda sehingga kami harus naik kereta monorel hingga ke terminal utama. Kereta ini tersedia dengan interval 2,5 hingga 5 menit, tergantung jam operasi yang bisa dilihat di papan informasi.

Saya tidak menemukan kendala apa-apa selama pengambilan bagasi. Papan penunjuk informasi bagasi pun segera memberi tahu antrian bagasi saya. Disini kita tidak perlu khawatir bagasi tertukar. Setelah habis bagasi dari satu penerbangan akan ada petugas yang menyusun setiap bagasi yang belum diambil. Hal ini dilakukan karena rel bagasi akan digunakan untuk penerbangan lainnya. Jadi, kita harus teliti untuk memastikan bagasi kita sendiri.

Tadinya, saya berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dengan kereta api ekspres. Namun, teman saya sudah mencari informasi bahwa stasiun kereta KL Central agak jauh dari lokasi hotel kami dan mengharuskan kami naik taksi lagi, apalagi hari memang sudah malam.  Jadi, kami memutuskan untuk naik taksi saja dari Level 2, satu tingkat dibawah jalur kereta api.

Antrian Taksi di KLIA
Kami harus membayar 2 RM untuk passenger service lalu mengantri untuk memilih taksi. Tidak perlu khawatir, disini semua taksinya menggunakan argometer resmi. Ada dua pilihan, ada taksi regular (warna merah) dan taksi eksekutif (warna biru) dengan kendaraan sedan (Proton) atau minibus (Kijang Innova dan Proton Exora). Kebetulan kami mendapat giliran taksi reguler Proton Exora yang cukup luas dan nyaman untuk melepas penat sebelum masuk Kuala Lumpur.

Perjalanan dari KLIA menuju Kuala Lumpur lewat tol ditempuh sekitar 45-60 menit, tergantung seberapa cepat kecepatan taksi anda. Jalan tol ini mengingatkan saya pada Jalan Tol Cipularang, hanya saja disini lebih lebar bisa memuat 4 lajur. Deretan komplek perumahan dan pabrik menjadi pemandangan sepanjang perjalanan menuju hotel. Kami menghabiskan 4,5 RM untuk membayar tol dan 120 RM untuk taksi. Cukup mahal sebenarnya. Kota sudah mulai sepi,saya meminta driver taksi untuk menunjukkan Hotel Double Tree by Hilton yang akan saya kunjungi minggu depan, tak lupa juga saya memintanya untuk melintasi Twin Tower Petronas dan Zouk (*pernah jadi anak nongkrong MTV 90-an*). Kami tiba di Sheraton Imperial KL (SIKL) tepat pukul 21.30 Waktu Indonesia Bagian KL.Semoga tidak terlalu terlambat untuk check-in.

Malam ini adalah pengalaman pertama saya menginap di hotel bintang lima di negeri orang. Beruntung, kami sudah melakukan reservasi seminggu sebelum seminar digelar. Selain mendapat rate diskon, kami pun diberi kemudahan untuk check-in, kalau bukan karena kartu kredit teman saya yang sudah mencapai limit. Kami sempat tegang karena kartu kredit lainnya juga diblokir. Akhirnya, saya menggunakan kartu debit untuk membayar hotel. Full paid empat malam, no deposit. Yang jelas, kami mengikuti saran Pak Bos sebelum mengizinkan kami berangkat: jangan sengsara di negeri orang.

Malam ini juga kami tidak keluar mencari makan malam.Pun memesan dinner via room service. Kami masih terlalu kenyang sehingga welcome drink dari hotel pun sudah kami anggap cukup. Dari lantai 29, kami bisa melihat Kuala Lumpur dengan jelas. Genting Highland terlihat berbinar dari kamar kami. Fasilitas kamar di SIKL terhitung baik, saya suka tata ruangnya. Kamar mandinya pun cukup luas.

Sebelum tidur, saya tidak henti berterima kasih pada Tuhan dalam hati, karena atas perkenanNya kami berdua bisa berangkat melaksanakan tugas disini dan menginap di hotel yang layak, if i may add.

18 November 2013

The journey begins. Maksud saya, hari ini adalah hari pertama seminar bertajuk “Asia-Pacific Regional Runway Safety Seminar” yang digelar oleh Department of Civil Aviation Malaysia sebagai penyelenggara didukung oleh Boeing Company, Airbus SAS, dan Flight Safety Foundation sebagai sponsor utama. Saya bangga bisa menjadi satu perwakilan Republik Indonesia dalam salah satu hajatan besar dalam komunitas penerbangan regional. 


Acara dimulai dengan welcoming speech dari Deputi Menteri Transportasi Malaysia dilanjutkan oleh Direktur Jenderal Penerbangan Sipil Malaysia. Tak lama, kami mengambil foto bersama sebagai bukti eksistensi. Sayang, lokasinya terlalu sempit sehingga komposisi peserta foto tidak seimbang. It’s just the opening anyway.

Rundown acara sudah tersusun rapi. Daftar pembicara lengkap dengan materi presentasi sudah ada di meja kami satu per satu. Selagi coffee break, kami menemui sesama peserta dari Indonesia. Ada perwakilan dari PT. Garuda Indonesia, PT. Angkasa Pura I & II, ConocoPhillips, dan Ditjen Perhubungan Udara (yang juga rekan kami sepekerjaan :D). Perlu dicatat, disini saya dan teman saya meninggalkan identitas kami sebagai Airworthiness Officer. Kami datang sebagai utusan dari State Safety Programme, sebuah program yang mengurus keselamatan penerbangan nasional yang dibentuk oleh Dirjen Perhubungan Udara.

All Indonesian Participants
Kami pun berkesempatan mengenal peserta lain yang mewakili negaranya masing-masing. Saya berkenalan dengan Mr. David dari CAA Philippines (otoritas penerbangan sipil Filipina). Obrolan kami masih seputar belasungkawa atas tragedi topan Haiyan yang menerpa Filipina dan merenggut banyak korban. Saya menyampaikan simpati karena Indonesia pernah mengalami hal yag sama ketika bencana tsunami melanda Aceh akhir tahun 2004 lalu. Ketika rekannya Marlene ikut dalam percakapan kami, mereka berbagi cerita mengenai pengalaman mereka mengatur lalu lintas udara untuk bantuan internasional dalam kondisi tower ATC yang hancur lebur. Percakapan kami berakhir dengan saling bertukar kartu nama.

Acara demi acara terus berlangsung. Saya tidak merasa bosan karena semua narasumber disini memang berpengalaman di bidangnya. Apa yang mereka sampaikan adalah pengalaman dari keseharian mereka. Ditambah, Dirjen mereka pun ikut menjadi moderator. Saya belum melihat hal yang sama terjadi di Indonesia.

Acara hari ini pun berakhir dengan sebuah invitasi untuk menghadiri makan malam bersama Datuk Deputi Menteri dan Datuk Dirjen  yang tadi pagi membuka acara. Tadinya, saya sudah berencana untuk tidak hadir karena itu hanya seremonial belaka. Hanya saja, sesorean ini kami berpikir bahwa seandainya Dirjen kami yang mengundang tentu tidaklah sopan bila kami tidak datang ke undangannya. Kami memutuskan untuk hadir di acara jamuan makan malam dengan niat menghargai niat tulus Datuk Deputi Menteri.

Kami datang agak telat. Semua meja telah terisi. Kami tidak punya pilihan selain membuka meja sendiri. Tampak semua peserta sudah mulai membaur. Saya melihat perwakilan Republik Korea bersama delegasi dari Singapura dan Filipina. Sementara, di meja kami terjadi All Indonesian Final. Tak lama kemudian, Mrs. Kim dari Incheon Airport bergabung di meja kami. Ia memang terlambat dan tidak punya pilihan lain selain menjadi ‘wasit’ di All Indonesian Final ini :).

All Indonesian Final feat. Mrs. Kim
Saya senang Mrs. Kim bergabung dengan meja kami. Kami yang orang Indonesia ini bisa mencairkan suasana dengan bertanya soal Korean Invasion yang melanda negara-negara di Asia Tenggara. Saya dengan leluasa bercerita padanya soal dua artis Korea favorit saya: Lee Yo Won pemeran Bong Dal Hee dan Shin Min Ah, cinta gue pemeran Gumiho.

Mrs. Kim heran karena saya bisa begitu mengenal kedua artis itu. Ia semakin kaget karena saya menyimpan foto mereka berdua dalam ponsel lengkap dengan daftar film mereka. Saya juga bercerita bagaimana Wonder Girls dan Girls Generation menghipnotis penonton Indonesia. Ia juga kaget ketika saya beritahu bahwa tiket VVIP konser Girls Generation habis hanya dalam waktu dua jam saja. Mrs. Kim selalu tertawa setiap mendengar cerita saya soal awal mula kesukaan saya pada drama seri Korea. Mungkin aneh untuknya karena ia belum pernah bertemu orang seperti saya. Atau memang saya yang benar-benar aneh.

Makan malam ini rasanya terlalu berlebihan. Terlalu banyak menu yang disajikan. Tentu saja saya khawatir program #MenujuLangsing2015 akan kembali berantakan. Kami yang orang Indonesia pun sama bingungnya dengan Mrs. Kim karena banyak hidangan yang asing bagi kami. Kecuali seafood alias udang dan cumi.

Saya menikmati jamuan makan malam ini. Panitia pun menyuguhkan band yang memainkan lagu-lagu pop dan tradisional Malaysia diselingin tari-tarian tradisional Melayu. Satu dua lagu yang saya kenal, saya pun ikut bernyanyi. Saya bisa melihat atmosfir kegembiraan di wajah rekan-rekan Indonesia. Akhirnya, Mrs. Kim ‘dipaksa’ untuk ikut menari ke atas panggung oleh seorang penari. Sekembalinya dari panggung, ia kemudian memaksa saya untuk naik juga. Saya mengajukan syarat padanya, seandainya nona itu yang mengajak maka saya akan naik panggung dengan sukarela (sambil menunjuk ke arah seorang panitia). 


Teman-teman Indonesia saya tertawa lalu ia bertanya dengan penuh rasa heran. Saya hanya menjawab bahwa perempuan itu mirip dengan seseorang yang membuat saya gagal move-on. Literally, i added ‘my ex’ and said it to her. Ia hanya tersenyum. Rona mukanya sedikit berubah.

Sebelum makan malam selesai, saya bergurau bahwa kalau saya mengunjungi Korea, saya akan menemuinya (Mrs. Kim) supaya bisa diantar bertemu dengan Yo Won dan Min Ah. Tawa lebar Mrs. Kim menyertainya seraya kami bertukar kartu nama. Saya tidak akan pernah lupa pesan terakhirnya: Thank you for entertaining me tonight. (heueuh weh da saya teh badut hahaha :)))) )

Sepanjang jalan menuju kamar, saya memikirkan apa maksud dibalik pesan Mrs. Kim tadi. Entertaining me tonight. Who did that? Apakah saya cukup menghibur anda malam ini? Kepala saya sungguh dipenuhi tanya. Satu alasan yang membuat saya cukup pantas dibully oleh teman sekamar.

Saya menutup malam ini dengan kesan yang luar biasa, walau di hari pertama ini saya mendapat sebuah masalah. Apakah itu? Just keep on reading my travelogue.


Kuala Lumpur, 20 November 2013.

Hasta La Vista, Chao Phraya

Aku lelah. Aku lelah. Aku lelah. Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang. Aku menggerutu dalam hati. Aku merasa lelah. Dan memang seharusnya begitu. Perusahaan ini sudah membayarku begitu besar agar aku mampu mengeluarkan semua kemampuan yang aku punya. Kelak, mereka akan menguasai pasar dan begitu aku kehabisan tenaga mereka bisa menemukan penggantiku dengan cepat. That’s the rule.
 
Aku belum menikmati benar hari istirahatku. Jum’at ini aku terpaksa masuk kantor. Ada rapat besar yang harus aku ikuti. Siapa tahu keberuntunganku disitu. Hari ini seharusnya aku berbaring seharian saja. Tanpa harus memikirkan hal lain dan bersiap menyambut akhir pekan yang sudah lama aku tidak nikmati. Bahkan, aku tidak sempat berlari pagi lagi sejak pekerjaan ini mulai menyita seluruh waktuku. You can run but you can’t hide.

Aku percaya bahwa dalam hidup ini ada yang namanya life stepping. Ada suatu kondisi dimana Tuhan dan tanganNya bekerja dengan caranya sendiri untuk membuatmu percaya bahwa engkau akan mengalami imbas dari hal-hal yang telah engkau lakukan sebelumnya. Mungkin kedengarannya rumit. Memang begitulah adanya. Barangsiapa menanam angin bersiaplah menuai badai. Aku percaya bahwa apa yang aku hadapi hari ini adalah hasil dari apa yang aku tanam sebelumnya.

Aku memang belum menuai badai itu. aku hanya tahu aku sudah sampai pada masa itu. masa dimana angin akan berhembus kencang. Barangkali juga engkau pernah dengar peribahasa: semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya. Bila memang begitu, aku akan mencoba menikmatinya saja. Goin’ where the wind blow, kata Mr. BIG.

Aku masih melamun di meja kerjaku. Aku masih menatap lekat pada surat penugasan bersampul coklat ini. Aku akan berada di Negeri Atap Langit minggu depan.  Hujan mengguyur kota ini seharian. Langit nampak murung, sementara jalanan mulai bergaris merah. This is Jakarta, baby. The place where you can find yourself going nowhere for hours. Aku merasa aku harus pulang.

Aku menyusuri jalanan berteman gerimis. Aku mampir di sebuah kedai kopi tak jauh dari kantor. Aku memilih duduk di tempat yang sama dengan pilihan Dania. Ini adalah tempat favoritku. Aku bisa melihat romantika kota sehabis hujan mereda.

10 hari yang lalu, aku dan Dania duduk di tempat ini juga. Kami merayakan ulang tahunku berdua saja. Dania memberiku buku terbaru Lauren Weisberger, Revenge Wears Prada. Dania tahu bahwa aku mengalami saat-saat yang luar biasa dengan Anne Hathaway di film ‘The Devil Wears Prada’. Aku jatuh cinta saat itu juga pada Anne Hathaway dan ia rupanya memperhatikanku. Makanya, ia sengaja memberi buku itu agar aku bisa bermain dengan imajinasiku.

Aku masih ingat Dania malam itu. Ia mengenakan kupluk warna krem yang ia rajut sendiri. Aku hanya memilihkan warna benangnya saja. Beberapa hari kemudian, kupuluk itu sudah jadi dan selalu jadi mahkota kebanggaanya. Aku juga masih ingat percakapan kami waktu itu.

“Seberangi Chao Phraya untukku.”
“Maksud kamu?”
“Stop acting like that! Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi untuk kamu. Jadi, kamu boleh anggap itu permintaan terakhirku.”
“Dania. Aku..”
“Bim, i may not be your best. But, you will be mine.”

Dania kemudian pergi meninggalkanku sendiri. Aku tidak bisa menahannya lagi. Sudah terlalu banyak rintangan menghadang diantara kami berdua. Dania memilih untuk menjauh ketika aku sudah terlalu lelah untuk menggapainya.

Aku masih belum mengerti maksud Dania untuk menyeberangi Chao Phraya. Aku tahu Dania sempat merencanakan sebuah perjalanan untuk kami berdua kesana. Perjalanan yang gagal karena Dania menikah seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Malam itulah malam terakhir aku bertemu dengannya. Aku tidak menahannya untuk tinggal lebih lama bersamaku. Aku melihatnya menghilang, membaur, menyublim dalam deru kota.

*


Aku terkejut ketika pramugari membangunkanku. Pesawat akan segera mendarat di Suvarnabhumi. Danita tersenyum melihat keterkejutanku. Aku selalu suka melihat tatapan istriku itu. Aku melihat cinta di sayu matanya. Aku mengalihkan pandangan ke jendela. Aku akan tiba di Bangkok sebentar lagi. Dengan istriku, tentu saja. Cuaca cerah sudah menyambut kami. Katakan ini bulan madu pertama karena aku dan Danita tidak pernah punya banyak waktu berdua usai pernikahan seminggu lalu.

Danita masih menggenggam erat tanganku. Aku tidak tahu apakah Danita mampu merasakan gelisah di pikiranku. Danita memutuskan untuk cuti lalu ikut denganku. Padahal, aku sudah bilang aku tidak akan bisa menemaninya seharian penuh.

“Dari hotel nanti mau kemana lagi?”
“Terserah kamu. Aku ikut aja.”
“Lho, bukannya kamu udah bikin list mau kemana aja?”
“Ini hari Minggu, sayang. Aku mau lihat kota ini seperti apa adanya.”
“Besok aku kan kerja?”
“Nggak apa-apa. Aku bisa nyebrang Chao Phraya sendirian.”

Kami terdiam hingga keluar dari pesawat. Aku menemui Ratcha yang sudah menungguku di pintu kedatangan. Aku bertemu dengannya pada sebuah sesi training di Medan. Aku berjanji akan menemuinya bila berkunjung ke Bangkok. Kebetulan, Ratcha bekerja di otoritas Suvarnabhumi Airport. Jadi mudah saja bagiku untuk menemuinya. Kami hanya bertukar kabar singkat saja. Aku pun segera menemui Danita lalu bergegas menuju pintu keluar.

Danita tidak berkomentar apapun sepanjang perjalanan kereta menuju hotel. Aku tidak pernah bisa tahu apa yang ada di pikirannya. Dalam diam, pikiran kami saling beradu. Mencoba menafsir apa yang ada di dalamnya.

Kami meneruskan perjalanan menuju stasiun Nana di daerah Sukhumvit dimana hotel kami berada. Kami berjalan kaki tidak jauh. Aku mampir di kios 7Eleven membeli minum untuk Danita. Ia hanya tersenyum.

Kami segera masuk hotel dan beristirahat. Danita masih diam.

“What’s the matter, darl?” tanyaku sambil merapikan lemari.
“Aku nggak nyangka kita beneran bisa kesini.”
“Kamu sendiri yang cerita pengen banget kesini kan?”
“Makasih ya, udah kasih izin aku untuk ikut.”
“Danita...”

Tak lama kemudian Danita sudah tenggelam dalam pelukku. Aku merasakan hangat mengalir ke sekujur tubuhku. Malam sudah turun, kami segera mencari makan malam.

Kami berjalan menyusuri trotoar sepanjang Sukhumvit Road. Aku melihat malam yang bergairah. Gadis malam mulai menunggu teman kencan, pedagang kaki lima yang bergurau dengan sesamanya, beberapa turis asing yang menawar barang, semua tak ada bedanya dengan Jakarta.

Aku tahu Danita menikmati malam ini. Beberapa obrolan kami diselingi manis senyumnya. Seakan kami lupa bahwa negeri ini masih diguncang prahara. Demonstran kaus kuning belum mau menurunkan tensi untuk menurunkan Yingluck. Untuk pertama kalinya, kami menghabiskan waktu berdua terlama sejak pernikahan kami. Termasuk malam penuh cinta pertama kami di Bangkok.

Aku harus bekerja hari ini. Aku harus menghadiri simposium di kantor regional yang terletak di Vibhavadi Road, dekat Chatuchak Weekend Market. Beruntung, Danita tidak gila belanja sehingga kami tidak perlu pergi ke pasar itu. Aku baru sadar bahwa lokasinya lumayan jauh dari Sukhumvit.

“Kamu pergi aja, Bim. Aku bisa sendiri kok.”

Aku meninggalkan Danita dengan keyakinan penuh bahwa ia lebih dari mampu untuk mengisi waktunya disini. Aku mencium keningnya dan segera berangkat.

*

Bimo sudah pergi. Aku kini sendiri.  Aku bisa saja menghubungi Nadia, temanku yang juga bekerja disini. Aku tidak ingin Bimo khawatir. Aku pun memang sempat khawatir dengan keadaan Bangkok akhir-akhir ini. Tapi aku tahu bahwa kota ini adalah kota yang ramah untuk wisatawan. Kalau tidak percaya, sila kau lihat sendiri stiker di pos pariwisata yang ada sepanjang Sukhumvit. Tertulis kota ini adalah  pilihan pertama destinasi wisata Asia 2013 versi Tripadvisor. Masih tidak percaya?

Aku berjalan-jalan menikmati pagi di kota ini. Aku membawa peta rute BTS Skytrain dan travel map yang tersedia di lobi hotel. Aku kembali ke stasiun Nana. Aku mencari rute kereta menuju Chao Phraya. Entah mengapa sejak Dania bercerita soal keinginannya menyusuri sungai itu, aku jadi tertarik.

Kini, semua orang bisa pergi ke tempat yang mereka inginkan dengan mudah. Banyak tiket pesawat murah. Lagipula, backpacking kini sudah jadi trending topic yang mengglobal. Hanya saja, aku tidak pernah bermimpi bisa melihat belahan dunia lain. Barangkali, karena aku dibesarkan di kampung yang jauh dari hirup pikuk kota.

Kini, aku sudah berdiri di depan pelabuhan kecil Chao Phraya. Banyak yang menawarkan jasa tur perahu. Ada banyak pilihan paket tur. Aku hanya mengamati saja sambil mengambil foto. Banyak turis asal Jepang dan Korea yang mengantri. Aku rasa tidak salah bisa kota ini jadi pilihan untuk menikmati hidup.

Aku berjalan-jalan di sekitar pelabuhan kecil itu saja. Hari mulai meninggi. Bimo masih sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin dia jadi presentasi hari ini. Foto profilnya sudah diganti dengan foto saat dia sedang berdiri di depan mimbar. Hanya saja, dia belum balas pesan singkatku.

Aku belum lapar hingga memutuskan untuk kembali naik ke stasiun Saphan Taksin lalu menuju kota. Aku melihat berita di televisi, demonstran memulai lagi aksi protes dan bergerak menuju kawasan perkantoran pemerintah. Apa peduliku? Aku bergegas menuju Central World.

“Nit, kamu lagi jalan kemana? Aku tadi dapet briefing soal keamanan kota. Aku kirim map.”

Aku selalu suka cara Bimo mengkhawatirkanku. Aku selalu senang saat tahu Bimo selalu ada untukku. Aku tersenyum sendiri dalam Skytrain yang tidak terlalu penuh. Aku sedikit ragu dengan keputusanku untuk pergi ke Central World karena diseberangnya ada Kantor Polisi Negara yang akan jadi tujuan demonstrasi hari ini. Seumur hidup aku belum pernah mengalami langsung aksi demonstrasi. Mungkin, ini akan jadi pengalaman pertamaku.

Omong-omong, sepertinya beberapa waktu lagi Raja akan berulang tahun, atau akan ada perayaan untuk Raja, apalah itu aku belum tahu. Aku melihat begitu banyak foto raja di gedung-gedung perkantoran maupun papan reklame. Kalau benar Raja akan merayakan harinya, berarti intensitas demo akan sedikit berkurang, pikirku.

Benar saja, tidak ada demonstrasi di kantor polisi. Aku pun bisa berjalan tenang dan duduk di pelataran Central World. Andai saja Bimo ada disini.

Seharian ini aku jalan-jalan ke mall besar disini. Rasanya tidak berbeda dengan di Jakarta. Lebih baik aku kembali ke hotel. Aku belum mau menghubungi Nadia. Aku tidak ingin punya jadwal yang tersusun rapi disini. Aku hanya ingin menikmati diriku saja, walau sebatas berbaring nyaman di hotel.

*

Aku pulang lebih cepat dari jadwal. Presentasiku sudah selesai sehingga sepertiga urusanku disini otomatis lancar begitu saja. Aku ingin segera bertemu Danita. Aku pulang bersama beberapa orang temanku yang juga ekspatriat disini. Mereka tidak perlu khawatir dengan keamanan kota ini. Lihat saja, biarpun demonstrasi berjalan tetapi life goes on, kata mereka. Betul juga, tidak seperti di Jakarta. Demonstrasi disini tidak mengganggu sendi kehidupan lainnya, terutama bisnis.

Skytrain yang kunaiki melintasi lokasi demonstrasi. Aku bisa melihat wajah-wajah yang optimis. Aku bisa melihat mereka merindukan perubahan. Binar mata mereka menyiratkan bahwa perjuangan ini akan belum akan berakhir. Ah, aku rindu masa-masa jadi pendemo rektor.

Aku baru saja turun dari kereta ketika sebuah pesan masuk di ponselku.

Dear Sir,

Due to security reason, we urged to relocating you. Your flight will be ready within 2 hours.

Security Dept.
McGill Associate


Bangkok, 5 Desember 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...