Rabu, 13 Desember 2017

Elegi Senja Pertama

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada



Tidak ada matahari pagi ini. Langit masih mendung sisa hujan semalam. Ibu masih terbaring diam di ranjang.

"Aku tinggal dulu. Kamu baik-baik ya. Jangan lupa makan."

Bagas membangunkanku pelan dengan kata-katanya. Aku tidak tahu kalau dia ikut menginap denganku disini, disamping Ibu. Ah, aku pasti lelah usai menempuh perjalanan panjang semalam. Amsterdam-Jakarta-Bandung ternyata tidak sejengkal jari manisku di bola dunia. Perjalanan pulang yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

Sumber gambar: www.hipwee.com

*

"Kamu pergi sekolah sendirian bisa? Ibu nggak bisa antar kamu pagi ini. Ibu harus mengantar pesanan."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nita bisa pergi sendiri. Siapa tahu Selly masih di rumah, jadi bisa bareng ke sekolah."
"Ini uang jajan kamu. Kunci rumah Ibu simpan di tempat biasa."

Aku masih ingat percakapan dengan Ibu di satu pagi yang sudah lama sekali. Aku masih SD waktu itu. Entah kenapa ingatanku pagi ini kembali ke masa itu. Satu waktu dimana aku mulai menyadari bahwa Ibu adalah seorang Ibu yang luar biasa kuat, tabah, dan tegar. Satu titik dimana aku mulai merasakan ketulusan Ibu, yang takkan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini.

Aku terlahir tanpa mengenal siapa ayahku. Kata Nenek, ayah sudah lama meninggal sebelum aku lahir. Ayahku seorang ahli biologi molekuler yang juga seorang dosen. Determinasi dan ketekunannya membuat Ayah punya reputasi yang baik di kalangan akademisi dan peneliti. Sayang, hal itu pula yang perlahan menggerogoti tubuh Ayah. Ayah meninggal karena gangguan fungsi liver. Selebihnya, aku tidak tahu lagi soal Ayah. Tepatnya, belum mencari tahu.

Aku tumbuh dibimbing Ibu seorang diri. Kami tinggal berdua di rumah peninggalan Ayah. Sebenarnya, Ibu bisa saja menjual rumah itu dan kami tinggal bersama Nenek. Waktu aku tanya begitu, Ibu selalu bilang bahwa rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Ibu dan Ayah. Lagipula, ada campur tangan Kakek yang turut mendesain facade rumah itu, maklum ia seorang arsitek.

"Bukankah kenangan itu ada untuk dilupakan, Bu?"
"Begitu, ya. Kamu lagi baca buku apa?"
"Nggak sih. Tapi, banyak orang memilih kenangan mereka sendiri dan berusaha melupakannya."
"Sayang, suatu saat nanti kamu akan tahu, kenapa kenangan diciptakan dan mengapa beberapa dari mereka tinggal di hati kita."

Aku memang tidak pernah bisa sedekat itu dengan Ibu. Aku sangat jarang bisa bicara atau sekedar mengobrol ringan dengannya. Aku mulai mau dekat dengan Ibu usai menstruasi pertamaku. Aku terlalu takut menghadapi gerbang dimulainya masa remajaku. Kata orang, aku juga akan mengalami masa puber. Dari majalah remaja yang aku sering pinjam dari Kak Sheila, kakaknya Selly, aku menemukan banyak hal soal bagaimana menjadi seorang remaja. Termasuk tahapan-tahapan yang akan aku lalui nantinya. Kak Sheila sering berkata padaku bahwa tak lama lagi aku akan segera merayakan "Goodbye Miniset". Terus terang semua itumembuatku takut. Aku butuh seseorang untuk menguatkanku, mengantarku dengan perasaan gembira menuju gerbang itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi, selain Ibu tentunya.

Ibu dengan setia menemaniku, ketika aku memilih dan membeli pembalut wanita pertamaku. Aku melihat api cinta yang dahsyat dimatanya. Barangkali, Ibu tidak pernah menyangka bahwa ia benar-benar ada disisiku, selalu ada disampingku, hingga aku menjalani masa remajaku. Ibu juga yang membantu menjelaskan soal perubahan fisik yang terjadi pada tubuhku. Ibu juga tak henti-hentinya memperhatikanku. Mulai dari penampilan, gaya bahasa, tutur bicara, segalanya tak luput dari perhatian Ibu. Aku semakin sadar bahwa aku akan tumbuh jadi perempuan dewasa, tak lama lagi. Aku jadi semakin takut.

Satu kali, aku mulai tahu rasanya jatuh cinta. Seperti anak SMP lainnya, aku terkagum-kagum pada kakak kelas yang jago main basket. Setiap pulang sekolah hari Rabu, aku dan Selly selalu punya alasan untuk pulang telat. Aku biasa berkilah pada Ibu bahwa kami harus pergi ke rumah teman lain untuk kerja kelompok. Padahal, aku dan Selly hanya duduk di pinggir lapangan sekolah melihat Arya dan Bimo latihan basket.

Aku dan Selly berhadapan dengan seorang bintang lapangan yang tentunya juga idola semua perempuan di sekolah ini. Kami tidak pernah bisa mengalihkan atensi Arya dan Bimo. Sampai suatu saat, mereka mengajak kami minum jus di kantin sekolah usai latihan. Mereka heran karena kami selalu jadi penonton setia latihan mereka. Aku dan Selly tentu senang merasa diperhatikan seperti itu. Ternyata mereka tahu kehadiran kami setiap latihan. Namun, rasa senang yang terlanjur melambung itu hanya sesaat saja. Arya dan Bimo sudah punya pacar di sekolah lain. Damn!

Lain waktu, aku jatuh cinta lagi pada guru pelajaran Seni Musik. Aku tidak tahu apakah Ibu pernah mengalami hal yang sama denganku. Aku suka memanggilnya Mas Daniel, karena ia masih cukup muda dan juga jadi anggota The Symphony 8, sebuah grup orkestra klasik yang cukup terkenal di kotaku. Aku mulai rajin latihan biola, alat musik yang aku pilih dengan asal hanya karena ingin jadi seperti seorang Sharon Corrs. Aku memainkan melodi 'Toss The Feathers' saat pertunjukan yang jadi ujian akhir pelajaran. Aku berhasil mendapat nilai sempurna dan standing ovation dari Kepala Sekolah serta Mas Daniel. Lagi-lagi, aku dibuat kecewa ketika tiket spesial pertunjukan The Symphony 8 pemberian Mas Daniel hanya untuk sekedar melihatnya menerima pelukan mesra dari seseorang yang mengaku sebagai kekasihnya.

Seakan bisa membaca perasaanku, Ibu mulai mengajakku bicara sejak kejadian malam itu. Ibu melihat perubahan yang tidak biasa akhir-akhir ini. Aku tidak lagi bergairah memainkan biola ketika Ibu memintanya. Tiba-tiba aku tersadar saat aku sudah berada di pelukan Ibu, dengan derai mata yang masih hangat. Aku masih ingat kata Ibu.

"Gagal memiliki bukan berarti gagal mencintai, sayang."

*

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku masih bersama Anita hingga saat ini. Menemaninya pergi membeli pembalut wanita pertamanya hingga menjelaskannya soal perubahan fisik yang terjadi padanya. Sepuluh tahun berlalu sejak ia bisa memanggilku Ibu dengan sempurna. Kini, malah aku yang tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak perempuanku yang belum pernah bertemu ayahnya itu kini sudah jadi gadis remaja. Tak lama lagi, seorang laki-laki akan jatuh cinta padanya. Atau malah ia yang jatuh hati duluan, pada Guru Musiknya barangkali. Seperti aku dulu.

Aku jadi malu bila mengingat lagi masa itu lagi. Aku tidak akan pernah lupa Bagus yang gila kerja itu berani bertemu Bapak dan mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Padahal, saat itu aku masih jadi kekasih Daniel, seorang guru piano yang sengaja Bapak pilih untuk mengajariku memainkan melodi lagu kesukaannya, "Memories Of Youth" dari Richard Clayderman.

Sayangnya, Daniel tidak punya cukup nyali untuk melamarku. Ia terlalu takut menghadapi Bapak karena tidak mau jadi orang yang tidak tahu diri. Aku berkali-kali meyakinkannya bahwa cinta kami tidak akan pernah gagal hanya karena ia 'berhutang' pada Bapak. Bapak sangat menghargai kejujuran dan keberanian. Bagus tahu itu, maka dengan sepeda kumbangnya ia datang ke rumahku dan menyampaikan niatnya.

Aku mendapat restu kedua orangtuaku untuk menikah dengan Bagus. Dia sudah jadi dosen muda waktu itu. Aku cukup realistis untuk memulai hidupku bersama Bagus karena gaji dosen waktu itu tidaklah terlalu besar. Banyak pria lain yang patah hati karena aku lebih memilih Bagus. Bahkan, Handi, arsitek handal tangan kanan Bapak pun ikut merasakannya.

Aku kaget ketika Bagus membawaku ke konservatorium milik sahabatnya. Tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan kami, Bagus memainkan lagu kesukaan Bapak "Memories of Youth" dan "Ballade pour Adeline" kesukaanku. Aku tidak menyangka bahwa Bagus bermain piano lebih baik daripada aku yang sengaja dikursuskan oleh Bapak. Sejak itu, Bagus tidak pernah berhenti memberiku kejutan.

Aku jadi anak perempuan pertama yang memberi cucu untuk Bapak dan Ibu. Anita Diandra Febrina, begitu kami menamainya. Lahir tanggal 14 Februari, dimana Bagus masih berada di Australia untuk hari seminar pertamanya. This mommy little girl will never see his father karena Bagus meninggal tak lama setelah kepulangannya. Kataku, sambil menggendong Anita di peristirahatan terakhir lelaki pemain melodi terindah sepanjang hidupku.

Aku masih menulis buku harianku ketika Anita menerima telepon pertama dari anak lelaki yang sedang mendekatinya. Anita mulai mengambil jarak denganku, aku bisa rasakan hal itu. Aku rasa inilah waktu untuk memberinya ruang privasi. Peranku berubah, aku harus menjadi seorang teman sekaligus sahabat untuknya.

Aku cukup tahu bagaimana Anita bermain dengan perasaannya. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Naluri Ibu manapun di dunia ini pasti bisa merasakan getarannya. Apapun itu, aku harus tetap bertahan dan selalu ada untuknya. Aku tahu ketakutan terbesarku. Akhirnya, aku harus akui kalau aku sangat takut untuk tidak selalu mampu menemaninya, selalu disisinya. Melewati prom night pertamanya, kelulusan SMA yang selalu penuh cerita, hari-harinya di universitas, hingga mendengarkan cerita soal wawancara kerja pertamanya.


*

Tanpamu... semua tak berarti... cinta sudah lewat...


Pada senja pertamaku di Tanah Air, aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Aku mendadak merasa jadi orang paling kejam di dunia. Aku meninggalkan Ibu seorang diri di rumah demi sebuah pekerjaan di Belanda sana. Aku meninggalkan Ibu beserta segenap cinta kasih yang pernah ia sematkan dalam setiap hela nafasku. Aku masih bisa merasakan semua kasih sayang yang telah Ibu berikan sepenuhnya. Aku yakin, cinta tidak pernah gagal membuat Ibu mengerti. Hingga saat ini, saat aku memandangi pusaranya.


Jakarta-Bandung, 14 Februari 2014.


* Ditulis untuk kompilasi 'Love Never Fails 1" presented by @NulisBuku. Diterbitkan sebagai satu cerpen di buku ke-5 kompilasi "Love Never Fails".

Selasa, 12 Desember 2017

Yamaha NMax

Sebenarnya, agak malu juga untuk menulis sebuah catatan tentang sepeda motor yang sedang mengalami masa kekiniannya. Apalagi ketika sepeda motor sudah menjadi menu sehari-hari bagi para reviewer ataupun pengulik modifikasi. Tantangan itu semakin berasa karena tidak ada pembanding yang sejenis. Mohon pembaca maklum adanya bila nanti si penulis malah membandingkan Yamaha NMax Non-ABS lansiran 2017 dengan Honda BeAT 2014.

Sumber gambar: www.otomonesia.com

Sepeda motor matic memang sedang berada pada masa kejayaannya. Keefektifan dan kepraktisannya menjadi nilai jual yang utama untuk menjalani aktivitas sehari-hari terutama di daerah sekitar Ibu Kota. Sesuai tuntutan zaman dan juga ekspektasi pengguna lahirlah sebuah inovasi baru. Inovasi untuk menyandingkan sepeda motor matic dengan badan yang lebih besar. Generasi selanjutnya dari sepeda motor matic kemudian sering dinamai skuter maksi (maxi scooter). Setidaknya begitulah namanya pada papan informasi stasiun pencucian motor.

Yamaha NMax hadir sebagai sebuah gebrakan. Model yang dinamis dan ergonomis seketika memikat konsumen yang sudah terbiasa dengan skuter matic biasa. Badannya yang tergolong besar adalah sebuah bentuk yang tidak umum, walaupun sudah lebih didahului oleh Honda PCX. Barangkali memang begitu, NMax dihadirkan untuk melawan dominasi Honda PCX di kelas skuter matic besar.

Sepeda motor ini menggunakan teknologi Blue Core pada mesin berkapasitas 155 cc dengan VVA, Variable Valve Actuator. Mirip skema VVT-i pada mobil-mobil Jepang. Teknologi ini diklaim mampu menghemat bahan bakar, bertenaga, dan handal. Suara mesin memang terdengar agak kasar  dalam kondisi masih brand new. Tenaga yang dikeluarkan rasanya cukup besar untuk rute Bandara Soekarno-Hatta - Ciputat. Seiring penggunaan, getaran mesin berubah agak lebih halus setelah menempuh jarak 700 KM.

Teknologi pengereman masih menggunakan sistem cakram ganda, pada rem depan dan rem belakang. Masih sebatas cakram dan piston tanpa disematkan fitur ABS (Anti-lock Breaking System). Pendinginan mesin menggunakan sistem pendingin radiator. Urusan tapak, NMax menggunakan tapak ban lebar tubeless berukuran 110/70 pada bagian depan dan 130/70 pada bagian belakang dengan ukuran velg 13 untuk menjamin kenyamanan berkendara.

Yang perlu dicermati adalah soal kenyamanan. NMax memiliki nilai kenyamanan yang jauh diatas Honda BeAT yang selama ini penulis gunakan. (Ya iya lahhhh). Dimensi badan yang lebih tinggi kemudian posisi stang yang ergonomis ditambah dengan footstep yang luas menjanjikan sebuah pengalaman untuk kenyamanan berkendara. 

Namun, perlu diperhatikan sistem peredam kejut/suspensi bagian belakang bawaan pabrik terasa keras walaupun cukup stabil. Kalau boleh dinilai, sedikit dibawah Suzuki SkyWave. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian untuk pengembangan produk menyongsong tahun 2018. Semoga ada perbaikan.

Untuk urusan perawatan, hal ini agaknya harus menjadi perhatian. Ada beberapa hal yang menurut penulis bisa dikerjakan sendiri, misalnya ganti oli (jangan lupa reset counter di speedometer), ganti busi, dan ganti air radiator. Memang ada beberapa juga yang menuntut keahlian khusus sehingga bila pemilik khawatir tidak bisa mengerjakan sendiri lebih baik dikerjakan oleh bengkel resmi saja. Selebihnya, itu menjadi pilihan, untuk mengerjakan sendiri atau melalui bengkel resmi. Asalkan tetap sesuai dengan petunjuk perawatan berkala yang ada dalam buku panduan.

Berkendara dengan NMax memang menjadi satu kenikmatan dan kenyamanan sendiri dalam sebuah perjalanan berkendara. Pastikan anda selalu tahu apa yang anda kendarai dan tetap mengemudi dengan aman. Keluarga menanti di rumah!

Spesifikasi detail Yamaha NMax (sumber: laman website YIMM)

Mesin
 
Tipe Mesin Liquid cooled 4-stroke, SOHC
Jumlah/Posisi Silinder Single Cylinder
Kapasitas Mesin 155cc
Diameter x Langkah 58,0 mm x 58.7 mm
Perbandingan Kompresi 10,5 : 1
Daya Maksimum 11.1 kW / 8000 rpm
Torsi Maksimum 14.4 Nm / 6000 rpm
Sistem Starter Electric Starter
Sistem Pelumasan Basah
Kapasitas Oli Mesin Total – 1,00 L ; Berkala 0,90 L
Sistem Bahan Bakar FI (Fuel Injection)
Tipe Kopling Kering, Centrifugal Automatic
Tipe Transmisi V-belt Automatic  
 
Dimensi
 
P x L x T 1.955mm x 740mm x 1.115mm
Jarak sumbu roda 1.350mm
Jarak terendah ke tanah 135mm
Tinggi tempat duduk 765 mm
Berat isi 127 kg
Kapasitas tangki bensin 6,6 L
 
Rangka
 
Tipe Rangka Underbone
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Unit Swing
Ban Depan 110/70 - 13 M/C 48P
Ban Belakang 130/70 - 13 M/C 63P
Rem Depan Single Disc Brake
Rem Belakang Single Disc Brake
 
Kelistrikan
 
Sistem   pengapian  TCI
Battery   YTZ7V
Tipe Busi  NGK/CPR8EA-9                                                                


Cipayung, 30 November 2017.


Maknyus!

Sumber gambar: www.klikdokter.com
Siapa yang tidak kenal dengan istilah "Maknyus!" a la Bondan Winarno, saat membawakan acara kuliner di sebuah program televisi swasta. Tak heran, ungkapan kenikmatan itu menjadi trendsetter dan menandai dimulainya era acara perkulineran di layar kaca. Pria bernama lengkap Bondan Haryo Winarno ini menjadi sebuah ikon untuk cita rasa. Tidaklah berlebihan karena pemirsa selalu menunggu kemana ia akan pergi menyantap hidangan.

Perjalanan Bondan Winarno dimulai dengan menjadi seorang jurnalis. Naluri kewartawanannya menjadi bekal istimewa sehingga membuat penonton menggemari petualangan kuliner. Jauh sebelum terkenal sebagai pembawa acara, mendiang memang sudah merintis sebuah komunitas bernama Jalansutra sebuah wahana bagi penikmat wisata boga di Indonesia. Mendiang pun turut berkontribusi pada dunia sastra. Beberapa tulisannya muncul dalam kompilasi/kumpulan cerita dan novel.

Saya masih menjadi follower @PakBondan di Twitter dan saya melewatkan bagian-bagian terakhir hidupnya. Saya tidak tahu apa yang dicuitkannya. Berita duka yang tiba di penghujung November seakan menjadi penegas bagi 'November Rain' yang turun deras saat itu. Ikon kuliner itu meninggalkan kita semua karena penyakit vaskular (aneurisma) yang dideritanya. 

Selamat jalan, Pak Bondan. Terima kasih telah meninggalkan warisan kepada kami untuk terus mencintai kuliner lokal. 


Cipayung, 29 November 2017.


 

Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

@TentangAnak

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sudah berkali-kali menulis catatan, review, atau resensi soal twit yang dibukukan. Kali ini saya melakukannya lagi. Oops, I did it again.

Twitter bagi saya adalah sebuah old glory. Saya sudah jarang membuka Twitter sejak zaman Android mulai meraja menghapus kejayaan era Blackberry. Saya tidak sempat mengikuti twit-twit soal pengasuhan anak. Kalaupun ada, itu hanya soal pranikah. Saya lupa untuk menyiapkan episode setelah nikah.

Well, saya harus bersyukur karena ada seorang ayah yang mau berbagi. Tolong dicatat, bahwa sosok ayah ini bukan seorang ahli atau praktisi dalam pengasuhan anak. Untuk itu, adalah sebuah penghargaan baginya karena dapat memberi sedikit tetesan ilmu untuk para orang tua.

Buku ini adalah buku santai. Artinya, pembaca tidak usah harus terlalu serius. Namun, untuk informasi atau pengetahuan lebih lanjut pembaca bisa menelusurinya secara mandiri. Walaupun buku ini bersumber dari kicauan penulisnya, dalam bagian akhir buku disertakan pula referensi yang digunakan penulis.

Parenting should be fun. Buku ini mengajak pembaca untuk menikmati dan berproses sebagai orang tua yang dianugerahi sebuah amanah yang tidak terkira besarnya, yaitu anak. Tidak hanya seputar anak, penulis juga mengingatkan agar para suami juga fokus dengan para bu ebu (ibu-ibu). Ya, penulis berhasil membuat saya merasa bersalah pada istri saya.

Satu catatan lagi yaitu bahwa penulis tidak sungkan untuk mengangkat isu parents vs parents dalam bab Mertua vs Menantu. Setidaknya, ada hal-hal positif yang perlu kita amati dari sudut pandang orang tua kita. Sejalan anak yang tumbuh besar kita kadang lupa bahwa mereka pun ikut menua.

Anyway, buku ini sangat layak dibaca oleh para orang tua baru atau parents wannabe. Sebagai bahan belajar buku ini cukup variatif dan membahas isu-isu penting seputar pengasuhan anak di zaman now seperti sekarang ini. Semoga pembaca dapat menyiapkan bekal untuk menempuh perjalanan panjang tak terlupakan bersama anak-anak. Selamat menikmati.

Judul           : @TentangAnak
Penulis        : Joko Dwinanto
Penerbit      : Noura Books
Tahun          : 2014
Tebal          : 248 hal.
Genre         : Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 21 November 2017

Selasa, 31 Oktober 2017

Daur I: Sebuah Pembukaan

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya patut bersyukur karena Alhamdulillah, atas izin Allah SWT Emha Ainun Nadjib masih diberikan nikmat sehat dan Islam sehingga mampu menulis kembali. Adapun, tulisan beliau yang benar-benar baru senantiasa saya peroleh lewat laman www.caknun.com. Saya mengamati bahwa laman tersebut pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Perubahan itu, setidaknya untuk saya pribadi, saya amati mulai dari rubrik-rubrik tambahan yang dihiasi catatan-catatan Cak Nun.

Begitupun dengan Daur. Saya sempat dibuat tidak paham maksudnya, namun hanya mampu turut memaknai pesan Cak Nun: "...untuk anak cucu..". Tulisan Cak Nun dalam Daur adalah sesuatu yang benar-benar baru tak terkecuali tokoh idola bernama Kiai Sudrun dan Cak Markesot.

Dilihat dari perspektif manfaat dan jariah ilmu, "Daur" sendiri adalah bentuk istikomah pemikiran, perenungan, dan analisis hingga formula-formula kultural lain dari Cak Nun yang mampu memberikan manfaat dalam konteks sosial.

"Daur" adalah sebuah bentuk tulisan Cak Nun yang sudah tidak lagi siap saji dan siap antap. Pembaca diajak untuk menelusuri pembelajaran hidup yang meningkat lagi levelnya. Bisa saja dari satu tulisan pembaca berhenti pada satu kesimpulan, namun tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk menelusuri kembali ketersambungan dengan tulisan lainnya.

Dengan jumlah pembaca mencapai kurang lebih 1.100-an pembaca setiap hari (lihat halaman xiv) tentu saja "Daur" menjadi sebuah ruang bagi pembaca Cak Nun maupun Jamaah Maiyah untuk senantiasa rehat sejenak dan menemukan jawaban atas clue pemahaman hidup. Sebagaimana dapat dijumpai pada rubrik 'Tadabbur Daur'.

Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisan "Daur" adalah upaya untuk mengembalikan "mata" kita dari keterjeratan pada materialisme dimana materi menjadi variabel dan faktor utama. Akibatnya, kita semua hanya melihat berdasarkan materi dan transaksi sehingga melihat dan membayangkan Tuhan dengan cara berpikir materi.

Semoga dengan dibukukannya "Daur" edisi pembuka hingga edisi ke-65 kita dapat menemukan mata air yang mengalirkan ilmu kehidupan. Semoga terus berlahiran generasi-generasi baru yang mau belajar agar kehidupan dapat berlanjut secara berkesinambungan pada masa depan dengan nilai peradaban yang lebih tinggi. Semoga.

Judul        : Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2017
Tebal        : 394 hal.
Genre       : Sosial Budaya

Cipayung, 29 Oktober 2017.


Bola Di Balik Bulan

“We are red, we are white, we are Danish dynamit.”

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sepakbola secara filosofis dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Nasib itu sendiri, entah menang atau kalah tidak terbaca dalam suatu pergulatan dalam rentang waktu yang lama, tetapi tiba-tiba terjadi dalam peristiwa tidak terduga.

Sepakbola adalah hidup. Sepakbola tidak hanya berarti sebagai olahraga belaka. Setidaknya, kesimpulan yang demikian dapat diperoleh usai membaca tulisan-tulisan Sindhunata dalam buku ini. ‘Bola Di Balik Bulan’ adalah satu bagian dari trilogi sepakbola Sindhunata. Bersama ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’.

Tidak jelas memang mana buku yang pertama, kedua, dan ketiga. Namun, kalau boleh saya menempatkan ‘Bola Di Balik Bulan’ sebagai buku pertama disusul dengan ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’ sebagai pamungkas. Ini hanya hasil pengamatan sepintas dari pengalaman saya belaka. ‘Bola Di Balik Bulan’ menampilkan suatu suguhan bahwa sepakbola adalah sebuah gairah kehidupan, kemudian usai gairah itu hadirlah sebuah “Air Mata Bola” dimana sepakbola banyak menyajikan drama (yang tidak sedangkal opera sabun) yang menguras air mata. Sehingga kemudian kesemuanya bermuara pada satu keniscayaan bahwa sepakbola itu ibarat kehidupan yang memiliki nasibnya sendiri-sendiri.

‘Bola Di Balik Bulan’ sendiri merupakan sebuah pengandaian dari gegap gempita Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sebuah sajian sepakbola dunia di negeri yang hanya kenal permainan bola tangan. Namun demikian, Amerika Serikat saat itu mampu lolos dari fase grup dan berhadapan dengan Brazil di babak per delapan final. Tim Sepakbola Amerika Serikat pun ‘memakan’ korban bernama Andres Escobar yang membuat gol bunuh diri sehingga Kolombia harus kalah di tangan tuan rumah. Begitu besar harapan publik Amerika Serikat saat itu sehingga mereka dianggap telah berhasil menemukan bola di bulan. Ya, mereka memang telah menemukan bulan, namun sepakbola masih saja tetap tidak populer disana.

Lewat buku ini saya jadi tahu bahwa Seorang Rinus Michels tidak melatih dan memberi instruksi dengan menyebut nama pemainnya melainkan nomor punggung mereka. Bagi khalayak luas, Sindhunata seakan membawa kita pada gegap gempita jagad persepakbolaan dekade 80-90an. Nama-nama besar saat itu juga tidak lepas dari catatan Sindhunata. Sebut saja macam Van Basten, Gullit, Garrincha, Pele, Maradona, Platini, Papin, Roberto Baggio, Rinus Michels, dan Franz Beckenbauer. Tidak hanya sekedar nama, Sindhunata pun dengan piawai menuliskan kisah-kisah yang melingkupi nama-nama besar tersebut. Sehingga seluruh aspeknya terangkum utuh dalam sebuah kisah.

Catatan Sindhunata ini tadinya hanyalah sebuah tulisan kolom pada harian Kompas dan selalu terbit di halaman awal. Tidak heran bila kemudian banyak pembaca yang menginginkan agar catatan-catatan tersebut dibukukan agar tidak tercecer begitu saja. Saya turut menikmati setiap cerita dalam buku ini. Saya seakan dibuat turut mengalami sendiri kejadian-kejadian yang dicatat Sindhunata. Agaknya, Sindhunata telah berhasil mengangkat kisah dan refleksi sepakbola menjadi sebuah catatan humanis yang universal.

Judul           : Bola Di Balik Bulan
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 296 hal.
Genre          : Sosial-Budaya

 
Cipayung, 26 Oktober 2017

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...