Kamis, November 26, 2009

Kemenangan Guru, Kemenangan Pendidikan?

Selamat malam, Bung? Apa kabar anda hari ini? Apakah kopi yang anda hirup pagi ini masih sama dengan ketika di warung kopi dulu? Saya harap anda dapat menikmati bagian-bagian hidup anda bahkan yang terkecil sekalipun. Sudah lama sekali saya tidak menjumpai anda lewat tulisan saya. Anda tentu menganggap itu ada hubungannya dengan pensiunnya saya dari sekolah sialan itu kan? Ada benarnya namun itu kita bahas nanti saja di warung kopi langganan kita di pojok jalan itu.

Begini, Bung. Menjelang malam tadi sebuah berita masuk ke ruang dengar saya. Satu berita tentang dimenangkannya gugatan terhadao Ujian Nasional (UN) oleh Persatuan Guru Independen Indonesia (PGII) dan Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI). Saya tahu itu karena yang diwawancara adalah gembongnya yang ternyata guru SMA saya. Namanya Pak Iwan. Kami dulu mengenalnya sebagai sosok Guru Sosiologi yang paling sensasional dan revolusioner. Saat perhatian semua guru masih berkutat pada masalah kesejahteraan Pak Iwan sudah melepaskan semua hal itu dengan berpartisipasi di FAGI yang kurang lebih seperti KAMI-nya gerakan mahasiswa.

Dulu, kami selalu melihatnya mengenakan topi hitam bertuliskan FAGI lengkap dengan kacamata hitam mirip Don Johnson di Miami Vice, kumis mirip Antasari Azhar dan motor Honda Supercup 700. Sayang, saya belum pernah diajar olehnya. Saya hanya sering mendengar ceritanya dari kawan-kawan di kelas IPS. Beberapa dari kami sempat bercanda dengan menambahkan dua huruf “N” dan “A” pada topi kebanggaannya itu.

*****

Saya belum paham detail dari berita itu. Saya hanya mendengar berita sepintas saja. Diberitakan bahwa mereka mengadakan syukuran untuk kemenangan yang disahkan melalui putusan Mahkamah Agung. Bisa saya bayangkan bahwa sorak-sorai perasaan gembira para guru yang menggugat sama riuhnya dengan nyanyian kawan-kawan Imparsial pasca Pidato Presiden SBY menanggapi kasus kriminalisasi KPK dan aliran dana Century.

Agaknya, keadaan sistem pendidikan nasional masih (dan selalu) mengalami transformasi tanpa hasil akhir yang maksimal, rasional, dan memuaskan. Tujuan pendidikan nasional pun yang bermuara pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya belum dapat dicapai. Ibarat kata masih amburadul. Belum ada satu sistem pendidikan nasional yang ajeg dan menyeluruh. Amanat UUD 1945 belum tunai.

Ajeg berarti statis, tegak. Artinya sistem pendidikan nasional harus mampu berdiri tegak sebagai satu sistem yang padu dan tidak mudah untuk dibongkar pasang oleh kekuatan apapun-termasuk kekuatan ekonomi. Menyeluruh artinya sistem itu juga harus mampu memberikan esensi-esensi dari pendidikan secara merata dan mendalam pada setiap jenjang pendidikan.

Sistem pendidikan nasional itu harus tercermin melalui penyelenggaraan ujian yang lebih menekankan pada kemampuan dan kompetensi peserta didik. Saya kurang setuju kalau UN dihapuskan. Bukan karena rasanya tidak pantas kalau Negara menguji calon generasi penerusnya tetapi lebih kepada pertimbangan kuantitatif terhadap kompetensi peserta didik.

Saya melihat dengan dihapuskannya UN maka penilaian terhadap kemampuan dan kompetensi akan mempertimbangkan pada hal-hal yang bersifat kualitatif. Penilaian tersebut tentu akan melibatkan semua hal yang berbau subyektif. Kalau ada murid yang selalu dapat ranking 1 dengan nilai-nilai yang memuaskan setiap ujian sumatif/formatif lalu kemudian ia gagal di UN maka jangan lantas menyalahkan UN sebagai biang keroknya. Perlu dilihat pula faktor-faktor lainnya. Faktor mental, psikis, dan kognitif bisa menjadi sumber masalah lainnya yang belum sempat terdeteksi. Dalam kasus yang demikian banyaknya, terdapat banyak hal yang bersifat emosional dalam pengambilan keputusan. UN hanyalah satu tolak ukur sejauh mana pemahaman peserta didik melalui ujian dengan kualitas soal standar kurikulum yang berlaku.

Perlu diakui juga bahwa masih terdapat kesenjangan yang sangat jauh antara proses pendidikan di kota-kota besar dengan di daerah-daerah terpencil. Itu bukan alasan untuk sebuah penolakan atas satu grand design bernama UN. Kesenjangan itu dapat diatasi dengan semakin banyaknya forum-forum dan media sosialisasi guru. Sehingga aksesibilitas seharusnya tidak lagi jadi alasan untuk sebuah kegagalan.

Jadi jangan heran generasi mendatang akan semakin menganggap enteng gampang proses pendidikan. Asalkan nilai rata-rata harian tidak terlalu jelek dan selalu berperilaku menyenangkan maka sudah cukup kriteria untuk dinyatakan lulus. Malu rasanya mendengar setiap berita dari kondisi pendidikan bangsa ini yang tak kunjung habisnya bagai perkara korupsi yang masih melilit negeri ini. Pendidikan bagaikan permainan politik kaum birokrat yang selalu berubah dalam jangka waktu tertentu. Pendidikan hanya jadi prioritas yang kesekian saja walau dengan alokasi penyerap anggaran Negara terbesar.

Serius sekali ya, Bung. Lagi-lagi saya berpikir bahwa anda sedang membaca tulisan saya ini sambil tersenyum. Entah tersenyum kagum atau sinis karena tulisan ini ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi objek pendidikan dalam karir kependidikannya dan kebetulan pernah bekerja di satu institusi pendidikan swasta penganut mazhab Cambridge aliran Singapura. Apapun reaksi dari anda saya hargai itu dan saya anggap sebagai partisipasi anda dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.



Salam dari Pharmindo,


Cimahi, 25 November 2009


NB: Kalau Bung nanti buka sekolah internasional, masih mau ngikutin sistemnya Diknas?

Pembangunan dan Perubahan

“Time goes on, people touch and they’re gone…” *)

Bung, masih sadarkah anda bahwa zaman pembangunan masih berlangsung kendati sudah bukan zaman orde baru? Masih sadarkah anda bahwa proses pembangunan secara fisik masih berlangsung di depan mata kita sehari-hari? Masih sadarkah anda bahwa kita tidak bisa lepas dari makhluk yang namanya pembangunan?

Saya baru sadar kemarin, ketika melihat truk molen pengaduk pasir beton hilir mudik keluar masuk komplek. Oh ya, saya lupa kasih tahu Bung kalau saya tinggal di sebuah komplek perumahan di pinggiran kota. Kebetulan dibelakang komplek ini telah dibangun sebuah megaproyek untuk ukuran kota Cimahi. Lahan yang dulunya adalah persawahan dengan hasil yang lumayan kini telah berganti dengan deretan gedung. Tentu bukan deretan gedung seperti di ruas Jalan Thamrin-Sudirman, Jakarta.

Entah sebuah proyek ambisius atau memang program pemerintah proyek ini dinamakan Rusunami. Kurang lebih singkatan dari Rumah Susun untuk Warga Miskin. Walaupun begitu, saya lebih suka menyebutnya dengan sebutan apartemen bukan rusun atawa rumah susun. Saya masih belum bisa membedakan antara rumah susun dengan apartemen seperti yang sedang anda tempati saat ini. Apa karena status peruntukannya lantas rusunami versi pemerintah tidak boleh disejajarkan minimal disamakan penamaannya dengan apartemen megah buatan Agung Podomoro Group? Lain kali kita bahas.

Begitulah Bung. Setiap harinya 3-4 unit truk molen mengantri menunggu giliran untuk melaksanakann tugasnya: menumpahkan adukan semen dan pasir. Pemandangan serupa tentu bukan yang pertama kali saya lihat. Sudah ratusan mungkin ribuan kali saya berpapasan dengan truk molen dengan label perusahaan yang berbeda. Yang membuatnya terasa berbeda kali ini adalah bahwa truk-truk itu kini beroperasi di dekat rumah saya tinggal lalu saya merasa bahwa telah terjadi banyak perubahan. Terutama dalam waktu setahun terakhir ini.

Saya melihat bahwa pembangunan yang kini semakin mendekat dan nampak jelas di mata saya telah membawa dampak yang besar bagi sebagian penduduk di komplek saya. Saya bisa merasakan gairah perekonomian yang akan segera menggeliat dan menuju klimaksnya. Semua terasa lebih dinamis. Berbeda jauh dengan kondisi beberapa tahun ke belakang dimana suasana komplek cenderung lebih statis dan monoton. Pembangunan rusunami itu akan membuka akses yang lebih luas dengan komplek kami sebagai sentral dari pertumbuhannya.

Sementara pembangunan masih terus berlangsung saya mengamati perubahan-perubahan lainnya. Orang tua kami mulai memasuki masa pensiunnya. Sebagian dari mereka ada yang menghabiskan uang pensiunnya dengan naik haji ke Tanah Haram. Ada yang membeli mobil untuk disewakan kembali. Ada yang membeli rumah untuk dikontrakkan kembali. Ada yang membuka warung di teras rumahnya. Ada yang mencari aktivitas rutin di Masjid. Ada yang senang di rumah saja barangkali sambil menghitung jumlah uang pensiun yang masih tersisa.

Kemudian, kami yang seumuran dengan saya dan dengan Bung juga mulai memasuki usia produktif menurut angkatan kerja. Beragam pekerjaan kami jalani. Ada yang jadi kru event organizer, ada yang merantau ke luar kota, ada yang jadi pekerja part-time, ada yang kerja di bank dan gajian setiap tanggal 25, ada yang jadi guru olahraga, ada yang jadi guru TK, ada yang jadi staf marketing dealer motor, ada yang kerjanya di rumah saja-seperti saya ini.

Perubahan lainnya yang bisa dibilang cukup drastis adalah kaum remajanya. Entah karena pengaruh zaman yang semakin maju dengan pembangunannya kini mereka tidak seperti kami ketika remaja dulu. Dengan arus information superhighway membuat mereka lebih cepat belajar dan terbuka terhadap suatu hal. Jangan heran bila Bung menemukan anak SD yang bertanya siapa Miyabi itu. Semuanya jadi antitesis kami dahulu.

Begitulah, generasi-generasi baru terus dilahirkan dan membuat semarak dunia ini. Sama halnya dengan pembangunan yang akan terus jadi tanda perubahan. Tidak ada yang abadi. Perubahan itulah yang abadi.


Salam dari Pharmindo,

Cimahi, 25 November 2009


*) David Foster & Olivia Newton John, “For Just a Moment”, OST. St. Elmo’s Fire

Kamis, Oktober 29, 2009

Potongan E-mail dan Sumpah Pemuda

"Memang Cikeas, beberapa Menteri dan Panitia Harkitnas pusat tidak kenal wacana apapun kecuali 'merekrut' mereka: kaum muda yg bertekad meneguhkan kebangkitan generasi muda mandiri itu. Bisa dipahami kenapa tak pernah lahir manusia baru Indonesia, setiap yg tumbuh selalu diletakkan sebagai ekor dari generasi sebelumnya.

Sebenarnya eksekusi movement mereka bisa dengan mudah dilaksanakan andaikan mereka mau jadi 'boneka industri', karena ratusan perusahaan siap mensponsori mereka. Tapi jadi batal 'dzat'nya, pilihan watak kemandirian hidupnya.

Tapi saya percaya itu tak akan lantas kalah oleh tantangan dan halangan, mereka tak akan menjebak diri menjadi benih2 murni nasionalisme yang balik ke mainstream untuk hanya menjadi penempuh2 karier pribadi yg egosentris dan primordial.

Thanks dan salam"

*****

Satu email dari seorang sahabat yang juga 'orang dalam' di lingkungan rumah tangga kepresidenan cukup mengejutkan. Ditengah situasi politik saat ini yang membuat siapapun mau merapat lebih dekat dengan kekuasaan tiba-tiba saja ia agak berontak. Mungkin ia sudah waras dan mulai paham serta sadar posisinya. Ia mungkin sudah sadar bahwa yang ada disekelilingnya hanyalah omong kosong belaka adanya. Budaya birokrasi yang terlanjur mengakar kuat tanpa terasa telah menjerat semua urusan yang ada disana.

Pesan itu lebih cocok tendensinya kalau lagi musimnya bahas wacana kebangkitan nasional yang selalu diperingati pada bulan Mei. Tapi, aku pikir ini masih ada hubungannya dengan Sumpah Pemuda yang gegap gempitanya hilang begitu saja hari ini oleh gemuruh yang selalu datang di akhir bulan, apalagi kalau bukan gajian. Sumpah pemuda yang tak lagi muda. 81 tahun sudah setelah para pemuda dari seluruh negeri berikrar untuk Indonesia yang merdeka.

Sejak periode kebangkitan nasional, pemuda telah menjadi motor yang menggerakkan seluruh perangkat mesin kebangsaan untuk sama-sama bercita-cita merdeka. Maka tak heran bila kemudian mereka berkumpul untuk mendeklarasikan cita-cita yang selalu diidamkan. Merdeka dari penjajahan. Sumpah pemuda hanyalah sebuah peretas menuju jalan perjuangan memperebutkan kemerdekaan.

Sumpah Pemuda mengandung makna tekad, upaya, dan ikhtiar pemuda dalam meraih cita-cita kebangsaan melalui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bangsa ini memulai suatu pergerakan baru menuju Indonesia merdeka setelah diawali dengan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Kondisi pasca kemerdekaan di zaman modern seperti saat ini, Sumpah Pemuda hanyalah tinggal jadi satu penanda setiap tahunnya tanpa benar-benar ada waktu khusus untuk menghayati kembali maknanya. Kita hanya tahu 28 Oktober itu adalah harinya Sumpah Pemuda. That’s all. Kita mungkin telah lupa juga kalau hari itu pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan.

Kaum muda selayaknya jadi generasi mandiri yang lahir menjadi manusia baru Indonesia. Sayangnya, setiap mereka yang tumbuh selalu dijadikan ekor dari generasi sebelumnya. Mereka sengaja diposisikan seperti itu oleh bermacam-macam alasan dan kepentingan agar mindsetnya mentok Cuma sebatas ekor atau pengikut saja tanpa ada breakthrough. Mereka hanya akan mengikuti siapa yang lebih menguntungkan. Menguntungkan untuk karir pribadi-pribadi yang sangat egosentris dan primordial.

Karena itu mereka telah menjadi ‘makhluk industri’ yang movementnya bisa dieksekusi setiap saat. Tidak butuh waktu lama karena ratusan perusahaan siap mensponsori mereka. Imbas dari perebutan kepentingan itu akibatnya mengorbankan sikap-sikap dan pola pikir mandiri. Hasilnya, konsumerisme di level kaum muda meningkat dan itu adalah ekspektasi kaum kapitalis.

Kalau sudah begitu itu berarti tanda bahaya untuk nasionalisme. Nasionalisme yang terjalin utuh sejak Indonesia merdeka akan lebih kehilangan esensinya. Nasionalisme bangsa ini naik turun. Kalau dicubit Malaysia baru teriak “Ganyang Malaysia…”. Belum ada satu kejadian yang menyadarkan masyarakat secara massal untuk menggelorakan nasionalisme sejati. Bukan nasionalisme semu, bukan nasionalisme kesukuan. Nasionalisme Indonesia: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.


Kelapa Gading, 29 Oktober 2009

Jumat, Oktober 23, 2009

Cinta Dalam Sepotong Artikel

From : Cinta (cinta@kantorberita.net.id)
To :bedul@kempos.com
Title : Article

Here's an article as you requested for your essay.
Hope to see your writing soon.
Love U.

Cinta

*****

Email yang datang sore ini sungguh mengejutkanku. Bagaimana tidak, ternyata ia menganggap serius semua yang kami bahas kemarin malam. Dalam pertemuan yang singkat itu tidak terlalu banyak yang kami bahas. Aku hanya bercerita padanya kalau mungkin aku akan mulai menulis essay seputar konflik internasional. Aku menemukan kembali passion untuk menulis terutama setelah menyadari bahwa keadaan demokrasi di Afghanistan tidak jauh berbeda dengan demokrasi di Indonesia pasca reformasi.

Ia hanya mengangguk saja dan tidak banyak bicara. Sorot matanya tajam seakan ia tahu betul apa yang ada di pikiranku. Pun ketika akhirnya waktu pertemuan kami habis ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum sambil mempersilakanku keluar ruangan.

Rasanya pertemuan itu begitu hambar. Aku lanjutkan membaca artikel yang dikirimnya.

A government-appointed commission in Afghanistan has ordered a run-off vote to decide the country's divisive presidential election. But as two experts told DW, it won't be easy to resolve the battle for power. Afghanistan's Independent Election Commission (IEC) ruled on Tuesday that incumbent President Hamid Karzai and his closest rival, former Foreign Minister Abdullah Abdullah, should face off directly against one another in a second vote on Nov. 7.

In the first round of voting this August, which featured dozens of candidates, Karzai initially got 54 percent of the ballots. But that election was marred by fraud - with the UN-run Electoral Complaints Commision saying that up to 90 percent of ballots cast at some polling stations shouldn't have counted.

Karzai and Adbullah have both said they welcome the IEC's ruling, while world leaders, including US President Barack Obama and UN Sercretary General Ban Ki Moon, also hailed the decision to hold second vote.

The German Foreign Ministry said Berlin was pleased that a way forward had been found.

"It is important for all those involved to show responsibility, calm and moderation during the current situation and ensure there is a credible continuation of the electoral process," the ministry said in an official statement.

But Afghans living in Germany are skeptical about how credible any election results can be.*)


*****

Demokrasi di Indonesia baru bisa dikatakan berjalan pasca reformasi. Semua bidang dan sendi-sendi kehidupan mulai mengenal apa itu namanya demokrasi. Asalkan ada demokrasinya pasti laku. Kebebasan media dianggap sebagai penyebar virus buatan kaum intelektual Barat itu.

Kalau dihitung, Indonesia sudah menjalankan demokrasi yang betulan ini 11 tahun lamanya. Tidak jauh berbeda dengan Afghanistan. Afghanistan mulai melek demokrasi semenjak menjadi pesakitan koboi bernama George W. Bush yang menjadikan tanah Mujahidin sebagai ladang pembantaian massal atas nama perang terhadap terorisme pada 2001. Dengan dalih mencari biang kerok teroris pengebom WTC, Osama bin Laden, penghancuran massal pun dilakukan.

Selain upaya untuk menangkap dalang teroris rupanya imperialis modern tidak lagi menggunakan gold, gospel, dan glory dalam melaksanakan misinya. Sudah tentu, demokrasi kini menjadi bawaan wajib. Keadaan itu telah menguras otak penduduk Afghanistan. Mereka yang dulunya konservatif dibawah pimpinan rezim Taliban telah membuka matanya bahwa Taliban pun bisa diruntuhkan.

Invasi yang dilancarkan AS ternyata membuahkan hasil yang sepadan. Rakyat Afghanistan mulai terbuka terhadap virus yang sengaja mereka sebarkan. Buktinya, Hamid Karzai, terpilih sebagai presiden pada tahun 2004. Terpilihnya Hamid pun bukan tanpa kontroversi karena ia lebih dianggap sebagai boneka titipan asing. Sebagaimana yang sedang terjadi di Indonesia. Penunjukkan Endang Rahayu sebagai Menteri Kesehatan pun dinilai sebagai titipan asing alias AS.

8 tahun sudah demokrasi dilangsungkan di Afghanistan. Namun, belum ada perubahan yang signifikan dalam tata kehidupan bernegara masyarakat Afghanistan. Konflik horizontal antar etnis masih berlangsung. Taliban juga masih menjadi momok yang menakutkan bagi pasukan pendudukan yang bertugas di Afghanistan.

Rupanya, Hamid Karzai tidak bisa menyatukan seluruh masyarakat Afghanistan. Karzai kurang bisa menyatu dan menyublim dalam hati masyarakat yang dipimpinnya. Sempat beredar dugaan bahwa kemenangannya di Pemilu kemarin itu hanyalah omong kosong yang dikarangnya sendiri. Untung dia masih sedikit legowo untuk menerima keputusan KPU-nya Afghanistan untuk melaksanakan pemilu ulang.

Hamid Karzai tentu masih dibayangi kekhawatiran mengenai kekalahannya. Karzai tidak bisa menghindari fakta bahwa bila seandainya bila pemilu yang terlanjur dibatalkan hasilnya kemarin itu bisa jadi klimaks dari karir politiknya. Bila pemilu kemarin berlangsung secara jujur dan terbuka, menurut analis-analis Afghanistan di Jerman sana tidak akan mencapai 10%. Itu artinya ia akan kalah maka ia segera lakukan tindakan preventif dengan penggelembungan suara.

Agaknya, Afghanistan mesti belajar banyak dari Indonesia tentang bagaimana mengelola demokrasi terutama dalam mempertahan kekuasaan melalui cara yang demokratis. Cara-cara yang digunakan dalam pemilu di Indonesia pun masih punya banyak celah untuk dilanggar. Ini adalah masalah demokrasi di negara-negara berkembang.


*****

hitam dan putih akan kutempuh bahagia,
kututup mata rapat seperti berdoa,
rasa sepi kembali mengalir,
kesepian ini abadi **)

Otong Koil masih berteriak ketika aku tak tahu apalagi yang harus kutulis. Aku cek email yang masuk sejak aku mulai menulis tadi. Beberapa komentar atas tulisan sebelumnya, undangan pernikahan seorang sahabat, undangan pembukaan pameran, dan informasi lomba karya tulis, semua jadi satu di tumpukan berkas email.

Aku baca kembali email darinya yang entah untuk keberapa kalinya. Aku berhenti pada kalimat terakhir. Aku baru menyadarinya kalau ada sesuatu yang aneh disitu. Aku menahan nafas sejenak. Mengucek mata barangkali ada yang salah dengan mataku. Namun, semuanya semakin jelas. Aku belum sampai membaca kembali tulisanku. Aku masih terhenti pada email darinya Aku menatap pesannya semakin dalam. Mencari arti dalam cinta yang ia titipkan dalam potongan artikel itu.


Kelapa Gading, 23 Oktober 2009


*) berita dikutip dari www.dw-world.de
**) lirik lagu Koil, "Kesepian Ini Abadi"


Rabu, Oktober 21, 2009

Kita Ini

Sambil bergegas menuju lift Bedul berkata, “Mau diakui atau tidak, kita ini terlalu sibuk untuk menulis dan bercerita. Ternyata kita lebih senang mengomentari status facebook kawan-kawan kita sambil mengcopy-paste tulisan orang lain untuk kemudian diklaim sebagai buah pikiran kita. Tanpa disadari kita sudah jadi seperti Malaysia yang asal caplok sesuka hatinya. Kita ini terlalu sibuk untuk menyuarakan gagasan. Kita selalu punya sesuatu untuk dibahas walau intinya masih itu-itu juga. Gempa Padang dan Jambi, Pelantikan Mewah Anggota DPR, Penggembosan KPK, Skandal Bank Century, Uji coba rudal Iran, Soto Mie Bogor, Blackpepper KFC, Pelantikan SBY, Taufik Kiemas lidahnya keseleo, dan masih banyak lainnya.”

Sambil terus melangkah keluar lift Bedul masih terus mengoceh, “Kita ini hanya menang status saja. Dianggap pekerja kantoran di ruangan yang berAC. Berangkat pagi, pulang sore. Pakai kameja rapi bahkan kadang-kadang berdasi dan menenteng BB (yang pasti bukan Batu Bata). Pakai parfum bermerek HB yang tentunya bukan singkatan dari Hamengkubuwono dan belinya di tempat refill pula. Juga memakai sepatu hitam mengkilat yang ada labelnya “YK” alias Yongki Komarudin. Kita ini cuma menang status sebagai orang kantoran yang kerjanya duduk menghadap layar LCD padahal hanya untuk buka facebook, YM, email sambil sesekali ‘cuci mata’. Kau paham maksudku, kan?”

Sampai di halte bis, Bedul belum juga berhenti. Ia nyalakan sebatang rokok lalu meneruskan cerita yang tiba-tiba tumpah dari kepalanya. “Kita ini cuma disibukkan menjelang akhir bulan oleh jadwal deadline laporan, analisis, dan konklusi dari semua yang telah dikerjakan. Semangat kita berkobar setidaknya sampai pertengahan bulan dimana kadang kita perlu mengambil nafas sejenak sembari menghitung kembali pengeluaran. Saat-saat seperti itu rasanya bagaikan berada dibawah matahari yang membakar ubun-ubun kepala. Terkadang ikat pinggang kita pun bisa lebih kencang daripada ikatan tali sepatu. Harapan itu muncul kembali setiap tanggalan menunjukkan angka diatas 20. Semakin dekat waktu gajian. Bayangan untuk melampiaskan nafsu yang tertahan semakin tinggi. Alokasi anggaran pun jadi semakin rumit karena kita tidak pernah tahu yang mana kebutuhan yang mana keinginan.”

“Kita ini disibukkan cuma untuk mengisi waktu sebelum tanggal gajian. Percayalah, bahwa kita tidak pernah menginginkan semua ini. Kalau bisa kita hanya ingin gajiannya saja tanpa perlu mengerjakan apa-apa sekalipun. Persetan dengan motivasi, performance indicator, appraisal dan jargon-jargon sialan lainnya. Kita mengenal semua omong kosong itu hanya karena kebetulan saja pekerjaan memilih kita, padahal kita belum tentu atau malah tidak menginginkannya sama sekali. Kita tidak pernah tahu alasan mengapa kita terlibat didalamnya tetapi malah semakin menginginkannya supaya atasan tahu kalau kita ini benar-benar kerja.”

Pun ketika akhirnya kami berdua duduk di bangku pojok PPD, Bedul makin menjadi-jadi. “Kita ini terlalu sibuk untuk beribadah hingga larut dalam segala omong kosong pekerjaan. Tidak ada lagi waktu untuk sekedar membaca Al Fatihah, Alif laamiim, atau Ayat Kursi. Bila pun waktunya sempat kita pamerkan di status Facebook. Ramadhan yang telah berlalu pun itu jadi semacam kursus singkat untuk berpikir tentang akhirat. Kita masih terlalu sibuk untuk memikirkan hal itu seakan semua itu telah jadi kebiasaan atau malah pembenaran atas segala macam bentuk ibadah yang sudah ditunaikan.”

*****

Sambil pamit duluan, aku hanya tersenyum saja padanya seakan aku membenarkan semua yang telah dikatakannya. Setelah aku turun dari bis, aku tersenyum simpul sambil berkata dalam hati, “Kita? Loe aja kali….!”


Kelapa Gading, 21 Oktober 2009




Senin, Oktober 12, 2009

Golkar dan Kekuasaan

"Bargaining Golkar Sudah Lemah." - Tifatul Sembiring, Harian Republika 9 Oktober 2009

Kemenangan Aburizal Bakrie (AB) dalam memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Golkar adalah satu pertanda bahwa Gokar masih akan berada dalam lingkaran kekuasaan negeri ini. Golkar adalah bagian dari sejarah kekuasaan sehingga sulit sekali bagi mereka untuk melihat Golkar yang berada diluar kekuasaan.

Golkar selalu berada dalam kekuasaan dan para elitenya pun menghendaki pula hal yang demikian. Terlepas dari perdebatan siapa yang jadi presidennya. Alasannya sederhana, partai ini dibuat dan dikembangbiakkan untuk meraih, mendapatkan, dan mempertahankan kekuasaan.Situasi sekarang tidaklah mudah. Golkar bukan lagi partai pemenang pemilu yang menguasai kursi di DPR. Terpilihnya Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR pun ikut melemahkan power Golkar.

Maka, ketika muncul wacana untuk jadi oposisi beberapa kadernya mulai bereaksi dengan menggulirkan isu munas dengan tujuan untuk mengambil langkah nyata dan sikap Golkar dalam pemerintahan SBY 2.0. Opsi untuk jadi oposisi hanya akan semakin menjauhkan Golkar dari kekuasaan.

Pernyataan sikap Golkar yang menegaskan bahwa Golkar tidak koalisi dan tidak oposisi mengindikasikan keinginan Golkar untuk masih berada dibawah ketiak kekuasaan negeri ini. "Jika kebijakan pemerintah memperbaiki rakyat, kita dukung. Bila tidak, Golkar akan mengkritik.", begitu kata Aburizal Bakrie. Dan bila Presiden meminta kader Golkar masuk kabinet, Golkar tidak keberatan, tambahnya.

Sikap yang demikian adalah wajar untuk negara dengan sistem kabinet presidensial seperti Indonesia. Partai politik tidak perlu untuk menampakkan wajahnya secara terang-terangan. Punya dua muka pun bukan hal yang salah. Tentu akan berbeda bila sistem kabinet yang digunakan adalah kabinet parlementer. Disitu diperlukan adanya dua sisi yang berbeda. Hitam dan putih. Koalisi dan oposisi. Moderat dan konservatif.

Yang perlu diwaspadai oleh Golkar adalah pelaksanaan dari pernyataan sikapnya itu tadi. Jangan sampai apapun keputusan pemerintah baik yang mensejahterakan rakyat atau yang mengebiri hak-hak hidup rakyat diamini begitu saja tanpa ada perlawanan. Seolah Golkar lupa janjinya untuk jadi tukang kritik. Lantas, jangan juga Golkar hanya bisa cuci tangan bila keputusan pemerintah tersebut tidak berimplikasi apa-apa pada kualitas hidup rakyat.

Sebelum Golkar kembali ke puncak kekuasaan negeri ini alagkah baiknya bila Golkar terlebih dahulu mengambil langkah retrospektif dalam menganalisa dirinya sendiri. Golkar perlu menguatkan dirinya dahulu dari dalam sebelum comeback ke arena. Perseteruan antar faksi yang menyeruak dalam Munas kemarin mutlak perlu diselesaikan demi membangun Golkar yang dewasa dan solid.

Bila Golkar benar-benar menginginkan kembali pada puncak kekuasaan hendaknya Golkar melaksanakan sikapnya dengan penuh tanggung jawab. Golkar harus memperjuangkan sikapnya ini untuk menghargai konstituen yang mereka wakili sebagai satu instrumen politik di negeri ini. Golkar juga harus mengoptimalkan fungsi kontrol serta check and balance agar kekuasaan yang sedang dilangsungkan oleh pemerintahan saat ini berjalan dengan baik, lancar, dan semestinya. Golkar harus tetap kritis atau hanya akan jadi penggembira saja.


Kelapa Gading, 12 Oktober 2009


Jumat, Oktober 09, 2009

Cintaku Kandas di Tapal Batas Ambalat


Pada suatu ketika, perang telah berlangsung di blok Ambalat. Perang ini konon disebabkan oleh Tentara Laut Diraja Malaysia yang selalu menerobos perbatasan wilayah laut Indonesia tanpa izin. Awalnya, kedua negara yang bersengketa, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk menghindari perang. Indonesia tidak punya dana yang cukup untuk berperang. Belum lagi alat tempur yang semuanya sudah uzur. Meskipun di level prajurit mereka sudah siap untuk mengibarkan Merah Putih di tanah Ambalat.

Malaysia pun demikian. Mereka tidak ingin berperang dengan saudara tuanya. Mereka ingin pemecahan dan solusi lewat jalur diplomasi. Tentu dalam hal ini mereka telah berpengalaman ketika akhirnya mendapatkan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang telah lebih dulu mereka jadikan tempat wisata. Mereka tentu akan mendapat dukungan dari negara persekutuan Commonwealth. Namun, mentoknya diplomasi dari Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri kedua belah pihak seakan jadi pembenaran untuk perang ini.

Negara-negara anggota Commonwealth menyatakan netral dan menganggap apa yang terjadi di blok Ambalat adalah urusan resmi dua negara yang bersengketa jadi mereka merasa tidak ada gunanya untuk terjun berperang. Yang diuntungkan dari keputusan itu adalah pihak Indonesia karena mendapat jaminan bahwa RAAF (Royal Australian Air Force-angkatan udaranya Australia) tidak akan mengeluarkan bomber dan mengirimkan pasukannya untuk menginfiltrasi Indonesia melalui Pulau Irian.

Begitupun pulau Sumatra tidak akan menjadi sasaran serangan karena TNI AD dan TNI AL sudah lebih dari berpengalaman untuk menguasai teritori sekitarnya. Sukhoi-Sukhoi yang dibeli dengan beras itu menjadi faktor utama penentu kemenangan Republik Indonesia. Pilot-pilot terbaik lulusan Akabri Udara berhasil menjadi bintang dalam pertempuran itu. Mereka tidak perlu khawatir untuk gugur diatas peti mati tua yang bisa terbang*). Dua pilot yang biasa menerbangkan F-16 yang ikut mengusir 3 unit F-18 milik USAF (United States Air Force-angkatan udaranya AS) yang menyusup melalui Samudera Hindia ikut pula dalam pertempuran udara itu.

Begitulah seterusnya. Perang terjadi juga. Rudal-rudal dari Sukhoi yang menghantam F5Tiger dan F16E Malaysia bagaikan kembang api di langit Ambalat sana. Rasanya bagai sedang berlangsung pesta kembang api besar. Pecahannya bagaikan seribu kunang-kunang di Manhattan**). KRI-KRI yang berkeliaran di sepanjang batas territorial perbatasan bagaikan semut-semut hitam***) bila dilihat dari angkasa sana. Mereka siap dengan meriam dan long-range missiles buatan Lockheed Engineering-perusahaan yang juga membuat F16 Eagle. Sekali rudal jelajah itu melesat ia siap merontokkan apa pun termasuk kapal-kapal perang Malaysia yang akhirnya kandas di perairan sebelah barat daya Tarakan. Operasi kapal selam pun berhasil dipatahkan TNI AL. Torpedo-torpedo berhulu ledak nuklir telah lebih dahulu menghancurkan pangkalan Tentara Laut Diraja Malaysia.

*****

Pemenang perang berhak atas blok Ambalat yang katanya punya banyak cadangan minyak. Sudah puluhan perusahaan minyak beserta kontraktor-kontraktor pengeborannya datang dibawah koordinasi BP MIGAS. Ada rombongan Chevron Pacific Indonesia, disusul kontingennya Schlumberger. Ada juga Pertamina yang menggandeng Halliburton sebagai rekanan. Belum lagi Petrobras, British Petroleum, CNOOC, ExxonMobil, Santander, Petrol Ofisi , Total EP, dan tak ketinggalan beberapa perusahaan lokal seperti Indika Energy, Medco EP serta beberapa dari Timur Tengah. Tentu saja Petronas merasa kecewa dengan hasil perang ini. Investasi yang sudah direncanakan kini tidak lagi berarti.

Minyak yang dihasilkan di blok Ambalat sudah lebih dari cukup untuk menjaga stok BBM nasional 150 tahun kedepan. Industri otomotif nasional kembali bergairah dengan dibelinya beberapa anak perusahaan General Motors yang menyatakan kebangkrutannya pada bulan Juni 2009. PT. Timor Putra Nasional kembali bangkit dengan membeli Chevrolet. Konsorsium bentukan Toyota-Daihatsu membeli GMC, Buick, dan Saturn yang kolaps bersama dengan GM (bukan Gunawan Muhammad tentunya). Gaikindo pun turun dengan membentuk perusahaan yang mengambil alih SAAB. Kejadian ini menyebabkan Indonesia menempati urutan teratas dalam jumlah produksi kendaraan bermotor.

Bahkan bukan itu saja. Kelebihan uang dari penjualan minyak ini telah dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur industri militer nasional. PT.DI yang pernah berjaya dibawah nama IPTN kini telah menjadi pusat riset kendaraan tempur termasuk pesawat terbang. PT. Pindad yang menjadi perusahaan supplier untuk TNI kini lebih disegani dalam kancah industri militer dan pertahanan secara global. Departemen riset Pindad telah mengembangkan berbagai macam rudal jelajah dan beberapa torpedo berhulu ledak nuklir. Pemerintah tidak pernah khawatir lagi oleh embargo senjata dari Amerika Serikat walaupun untuk pesawat jet tempurnya masih disuplai oleh Rusia melalui program “Rice for Sukhoi”.

Swasembada beras yang telah berlangsung selama beberapa periode kepemimpinan telah menyebabkan BULOG tidak mempunyai gudang persediaan yang cukup lagi. Beberapa diantaranya sudah diekspor ke luar negeri. Ada yang juga yang dihibahkan untuk korban bencana alam di luar negeri sana. Maka dari itu, kalaulah kelebihan beras ini sudah cukup untuk ditukar dengan satu pesawat tempur Sukhoi 27 Flanker atau Sukhoi 30 Mk II itu artinya pengadaan pesawat tempur tidak lagi membebani APBN. Dengan ide yang dilontarkan oleh Menteri Pertanian itu pemerintah dapat mengalihkan biaya pengadaan alutsista untuk dialokasikan pada sektor pendidikan.

Rencana pemerintah untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat sudah didepan mata. Pada setiap kota yang telah memiliki RSBI (Rintisan Sekolah Berbasis Internasional) akan dikembangkan menjadi sekolah internasional untuk masyarakat Indonesia-bukan ekspatriat. Kurikulum dan sistem pendidikan disesuaikan dengan menggunakan GCSE-CIPAT yang Cambridge-based dan iB atau International Baccalaureate untuk mengejar ketertinggalan pendidikan.

Menteri Pendidikan Nasional melalui siaran persnya tidak pernah berhenti meyakinkan khalayak bahwa sekolah semacam itu tidak akan membebani semua siswanya. Pemerintah menjamin ketersediaan dana bagi berlangsungnya pendidikan yang benar-benar murah, terjangkau, dan berkualitas. Peningkatan kualitas guru pun menjadi satu program tersendiri yang ditargetkan untuk menghasilkan guru-guru yang berkompetensi global. Konon, anggaran untuk peningkatan kualitas guru dan sekolah itu tidak terbatas.


*****

Perang telah usai dan semua telah kembali pada keadaan semula. Aku rindukan kekasihku yang jauh di Ambalat sana. Kandas di tapal batas. Sukhoi yang diterbangkannya jatuh ditembak Tentara Darat Diraja Malaysia. Kata teman-temannya, sebenarnya kerusakan pesawatnya tidak terlalu parah dan masih bisa terbang kembali ke pangkalan namun ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan pilot-pilot Jepang pada waktu Perang Dunia II, harakiri. Aku tidak pernah tahu sejak kapan TNI-AU mulai membiasakan diri dengan hal itu.

Kekasihku menabrakkan pesawatnya pada satu gudang yang diketahui sebagai gudang logistik pasukan perang Malaysia. Akurasi data intelejen memang tidak pernah salah. Kejadian itu mengakibatkan pecahnya konsentrasi perang pasukan Malaysia. Antara menyelamatkan logistik atau mempertahankan garis depan.

Perang memang telah usai namun badai masih menggulung hatiku. Aku masih menatap matahari senja yang berkilauan. Aku harap ini bukan senja yang terakhir. Bukan juga senja penghabisan. Aku menantap matahari yang bagaikan bola emas raksasa. Sinarnya belum juga redakan badai hati ini.

Kekasihku, seorang pilot berpangkat kapten yang punya mata setajam elang itu kini mungkin sudah sampai di pintu surga. Tuhan pernah menjanjikan siapapun yang berangkat menunaikan tugas mempertahankan kedaulatan bangsanya akan dimasukkan ke dalam golongan penghuni surga. Aku tahu bahwa kekasihku melakukan sesuatu yang benar. Untuk negaranya, Untuk cintanya-bukan padaku.


Kelapa Gading, 9 Oktober 2009


*) Peti mati tua yang bisa terbang, istilah ini popular setelah terjadi kecelakaan pesawat terbang Hercules C-130 milik TNI AU di Magetan, Jawa Timur bulan Mei 2008.
**) Seribu Kunang-kunang di Manhattan, sebuah judul kumpulan cerpen Umar Kayam.
***) Semut Hitam, judul lagu God Bless