Sabtu, 30 September 2017

(untitled)

Will be posting soon.

Sesobek Buku Harian Indonesia

Pemimpin kami amat pintar
membendung segala tidak
dari mulut kami
yang dibilang pengkhianat

 (Belajar Tidak - Hal. 23)

Sumber gambar: www.goodreads.com
Tidaklah salah bila catatan buku ini mengibaratkan Emha Ainun Nadjib sebagai seorang musafir yang telah menjelajahi seluruh Indonesia, mencicipi ribuan pengalaman didalamnya, dan memanggul ribuan beban dari apa yang telah dirasakannya. Emha memang menempuh jalan sunyinya sendiri dalam menemukan Indonesia. Indonesia hanyalah bagian dari desa semesta Emha. Maka, apabila Emha melakukan sesuatu untuk Indonesia itu hanya bagian dari sedekahnya untuk negeri yang telah ia tinggali untuk sekian lamanya.

Saya terkesan lewat kata pengantar yang ditulis untuk edisi dan cetakan baru ini. Bahwa di era 1970-an, Emha belajar memanggul beban. Era 1980-an gagah dan sombong memanggul beban. Tahun 1990-an mulai kewalahan menanggung beban. Tahun 2000-an hampir putus asa oleh beban. Tahun 2010-an mempertanyakan kenapa memanggul beban dan siapa sebenarnya petugas pemanggul beban.

Edisi pertama buku ini terbit medio 1993, tahun-tahun dimana perekonomian bangsa Indonesia disebut bakal menjadi Macan Asia. Puisi-puisi dalam buku ini setidaknya mengulang ingatan kita pada apa-apa yang terjadi di masa itu. Emha mengumpulkan segenap impresi dan ekspresinya terhadap Indonesia pada tahun-tahun dimana ia mulai kewalahan menanggung beban. Pembaca boleh menentukan sendiri pembermaknaan atas segenap puisi Emha didalamnya.

Relevansi? Jelas puisi-puisi Emha ini masih relevan dengan keadaan berbangsa dan bernegara belakangan ini. Dimana harapan hidup semakin tidak jelas namun dibuat seolah-olah menuju jalan terang. Absennya nilai-nilai keadilan, kemanusiaan yang semakin 'tidak' beradab, kesenjangan hak asasi, kesenjangan sosial yang semakin berjarak masih dapat kita jumpai di pinggir-pinggir jalan negeri tercinta ini.

Puisi-puisi Emha setidaknya hadir untuk membawa satu sudut pandang baru dimana puisi telah kehilangan eksistensinya pada zaman yang semakin serba cepat. Puisi-puisi Emha hadir untuk menemani kita-kaum yang dilemahkan untuk terus berjalan melalui jalan sunyi kita masing-masing. Puisi-puisi Emha yang disembunykan dalam sesobek buku harian Indonesia adalah sebuah catatan, tentang realitas, cita-cita, atau bahkan 'sobek'nya sebuah entitas bernama Indonesia.

Judul       : Sesobek Buku Harian Indonesia
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit  : Bentang Pustaka
Tahun      : 2017
Tebal       : 124 hal.
Genre      : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi


Cipayung, 20 September 2017.

Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Karena Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memberikan rezeki dan kesehatan kepada Emha Ainun Nadjib, sehingga dengan ridho-Nya pula Mbah Nun dapat menuliskan buku terbarunya ini. Teruntuk penerbit Noura Books saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih sedalam-dalamnya karena mau untuk menerbitkan segala pemikiran Emha Ainun Nadjib sehingga pembaca dapat membacanya berulang-ulang agar semakin paham.

Sebagaimana dikabarkan dalam catatan pembuka, buku Mbah Nun ini menyampaikan kabar langit dengan bahasa yang membumi. Memang benar begitu adanya. Mbah Nun membuka intisari yang lengkap tentang bagaimana kita harus menyikapi apa-apa yang terjadi belakangan ini dengan cara pikir yang berbeda. Mbah Nun mengantarkan sebuah dialektika berpikir yang sederhana namun tetap tidak terlepas dari pangkuan Ibu Al-Quran.

Terlalu banyak quotes yang bisa diambil dari buku ini. Kalaupun sempat, akan saya rangkumkan quotes versi saya dalam tulisan lain. Yang terpenting, saya menemukan kembali sebuah konsistensi. Saya tidak perlu menemukan kembali relasi antara konteks kekinian dengan relevansi materi buku ini. Saya perlu sebuah sikap dan pernyataan tegas bahwa apa yang disampaikan oleh Mbah Nun lewat forum lingkar Maiyah dapat ditemukan dan ditelusuri kembali dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sudah akrab dengan ceramah dan tulisan-tulisan Mbah Nun, tentu proses identifikasi keselarasan sikap dan ucapan itu akan menjadi sangat mudah. Lain halnya bagi pembaca yang baru berusaha memahami Emha. Akan berlangsung segenap pengalaman jiwa dan raga untuk melepaskan diri dari ikatan mainstream untuk kemudian menjernihkan hati dan pikiran untuk menerima rentetan pesan Mbah Nun.

InsyaAllah, buku ini akan menjadi media belajar bagi siapapun. Media pembelajaran bagi kita semua untuk selalu mawas diri, untuk selalu sadar bahwa ada kalanya hidup itu tidak selalu harus ngegas. Ada waktunya hidup mempersilakan kita untuk ngerem, untuk menahan. Supaya kita sampai tujuan dengan selamat. Selamat di dunia dan selamat di akhirat. InsyaAllah.

Judul        : Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Noura Books
Tahun       : 2016
Tebal        : 230 hal.
Genre       : Sosial Budaya


Cipayung, 21 September 2017.

Nagabumi II


Sumber Gambar: www.goodreads.com
Ada semacam perasaan haru dan bahagia ketika menyelesaikan pembacaan Nagabumi jilid kedua ini. Pun, ada semacam rasa penasaran yang tidak terlampiaskan kala membaca kata: "BERSAMBUNG" di akhir halaman. 

Ada pula semacam perasaan sedih membayangkan bila suatu masa entah kapan nanti Nagabumi jilid ketiga tidak kunjung terbit melanjutkan perjalanan Golok Karat dan Pendekar Tanpa Nama menuju Shangri-la menemui Maha Guru Kupu-Kupu Hitam.

Sebuah pembacaan panjang yang menghabiskan setengah dekade. Saya sendiri bingung entah mengapa baru bisa menamatkan Nagabumi II selama itu. Padahal, Nagabumi I cukup hanya butuh 4 bulan saja. Itu pun termasuk lama karena saya hanya membacanya setiap pulang ke Cimahi. Nagabumi II ini pada bulan April 2012 dipesan di Medan Merdeka Barat, dikirim ke Ciledug, dipindah ke Cimahi, berangkat lagi ke Ciputat. Perjalanan yang panjang dan tak kunjung selesai.

Saya mengikuti kembali pembacaan yang masih sempat ditandai sejak awal. Hanya beberapa halaman pembuka dan untung masih ada pembatas buku disana. Saya menutup pembacaan pertama pada halaman-halaman awal maka saya lanjutkan kembali dengan mudah.

Pengembaraan Pendekar Tanpa Nama berlanjut. Perjalanan mempertemukannya dengan Amrita, putri cantik pemimpin kaum pemberontak. Ia terlibat dalam sebuah pusaran pemberontakan yang berasal dari dendam yang telah mengakar. Petualangannya bersama Amrita kemudian mengantarkannya kepada Harimau Perang.

Perjalanan mengejar Harimau Perang ini menghabiskan lebih dari setengah halaman buku. Pendekar Tanpa Nama harus berurusan dengan para bhiksu Shaolin untuk sebuah kepastian bernama Harimau Perang. Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia dipaksa oleh Kupu-Kupu Hitam untuk pergi ke Shangri-la, mencuri sebuah kitab silat.

Cerita berhenti tanpa sebuah kepastian apakah Pendekar Tanpa Nama berhasil mencuri kitab silat dalam kurun waktu 30 hari. Memang rasanya tidak menyenangkan ketika cerita harus berhenti tanpa ada kepastian, minimal hingga ada kelanjutan cerita sedikit tentang bagaimana nasib Pendekar Tanpa nama selanjutnya. Tapi, bukankah ini adalah sebuah cara agar Nagabumi III segera hadir? Semoga.

Penggalan demi penggalan bab dalam Nagabumi (baik I dan II) mengingatkan saya pada kumpulan cerita silat Kho Ping Hoo yang bisa terbit dengan puluhan buku untuk satu judul. Untuk itu, agaknya Nagabumi masih lebih baik karena cerita dan riawayat perjalanan Pendekar tanpa Nama terangkum utuh dalam satu buku. Ilustrasi isi dari Beng Rahadian turut memberi nilai visual pada Nagabumi. Setidaknya, pembaca bisa diajak berimajinasi tentang tempat-tempat yang dijelajahi oleh Pendekar Tanpa Nama.

Saya berharap Nagabumi akan masih berlanjut. Bagaimana pun, sebuah perjalanan membutuhkan sebuah akhir.

Cahaya Maha Cahaya

Kumpulan puisi Emha yang terbit pada tahun 2004 silam ini barangkali menjadi kumpulan puisi tipis yang paling susah saya tamatkan. Mulai dari membaca di rumah, di mobil jemputan, di pesawat menuju Manado, dalam gerbong KA Parahyangan, tak kunjung selesai juga pembacaan.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri belakangan ini memang mengalami ‘kemunduran’ dalam membaca. Satu bulan paling habis satu atau dua judul saja. Lantas, saya tidak bisa menambah koleksi bacaan disebabkan kemajuan bacaan yang sangat lambat itu.

Terus terang, memahami ‘Cahaya Maha Cahaya’ lebih sulit dibandingkan dengan ’99 untuk Tuhanku’, misalnya. Kemesraan antara Emha dengan Tuhannya itu memang agak sulit untuk dijabarkan lewat cara pandang biasa. 

Kemesraan Emha dengan Tuhannya nampak dalam “Ajari Aku Tidur”. Emha bermesraan macam seorang anak yang minta dikeloni oleh ibunya. Lebih baik ia tidur saja usai didera segala urusan dunia.
Ajari Aku Tidur
 
tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik,
              dan kebodohan
bisaku cuma tertidur
tertidur


Emha tidak menulis kritik sosial yang tajam dalam setiap syairnya. Emha memposisikan diri sebagai seorang hamba yang berusaha menuju cahaya setelah dihampas gelombang kehidupan yang tak henti-hentinya membutakan mata, hati, jiwa, dan pikiran.

Saya mencatat beberapa syair yang rasanya perlu saya pahami. Adakah sebuah tendensi atau hanyalah sebuah imaji semata. Misal, pada bait puisi berjudul “Satu Kekasihku”.

Satu Kekasihku

mati hidup satu kekasihku
takkan kubikin ia cemburu
kurahasiakan dari anak istri
kulindungi dari politik dan kia
i

Siapakah politik dan kiai yang dimaksud Emha? Mengapa sesuatu itu takkan ia buat cemburu hingga mesti dirahasiakan dari anak istri hingga sangat perlu dilindungi dari politik dan kiai? Wallahu’alam. Mungkin perlu satu buku lagi untuk menjelaskan hubungan antara politik dan kiai sehingga jelaslah hubungan keduanya.

Emha sebagai subordinat dari mereka yang terkalahkan mengadu pada Tuhannya. Dalam “Lempari Aku”, Emha seakan menunjukkan pada Tuhan bahwa ia masih ada.

dengan sembahyang mungkin kau menerimaku
tapi dengan sakit tak bisa kau elakkan hadirku

Cahaya Maha Cahaya memang hanya sebuah buku kumpulan puisi yang tipis namun justru dalam ketipisannya itulah terkuak kebesaran dan keluasan dunia seorang Emha. Emha sebagai penyair menuliskan segala keresahannya; tentang manusia dan kepastian kuasa Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Cipayung, 18 September 2017.

Judul        : Cahaya Maha Cahaya
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Pustaka Firdaus
Tahun        : 2004
Tebal        : 71 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi

Baracas

Saya tidak tahu bahwa Barisan Anti Cinta Asmara ini sempat difilmkan. Kalaupun memang begitu tentulah tampilan grafis visual tentu lebih memuaskan dari sisi cerita karena penonton bisa mengetahui jalan cerita secara utuh.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri lebih suka Baracas versi buku karena lebih sederhana dan to the point. Tampilan visual tokoh komik juga bagus, penempatan teks dan pemilihan huruf yang minimalis dan memudahkan pembacaan sehingga membuat perasaan nyaman, nyaman di mata dan nyaman di hati.

Buku ini merupakan adaptasi resmi dari film berjudul sama yang diproduksi oleh thepanasdalammovie dan Max Pictures. Buku ini semakin berkesan dengan penggalan lirik lagu The Panas Dalam, 'Tenang Saja'... Apabila setelahnya kita saling lupa.

Cipayung, 10 September 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Negara 1/2 Gila

Sumber gambar: www.goodreads.com
Keseharian dan tingkah laku orang Indonesia memang terkadang patut ditertawakan. Sekaligus menjadi bahan perenungan bahwa bangsa yang katanya bangsa besar ini rakyatnya masih memiliki perilaku dan sikap tidak peduli. Kemunculan para seniman komik masa kini sebenarnya sudah sering mengangkat tema ini. Dengan ragam dan ciri khas keunikan visual masing-masing.

Agaknya, itu pula yang membuat Trio Komikus di Negara Setengah Gila ini turut hadir ‘menertawakan’ bangsanya sendiri. Rumrum, Dody, dan Mujix, merepresentasikan sebuah ide tentang perilaku-perilaku yang ‘Indonesia Banget’. Tentunya, menggiring tawa namun penuh makna, apakah hal ini akan terus kita biarkan sehingga menjadi sesuatu yang selalu melekat dan tak mungkin lepas?

Terlepas dari kenyataan itu dimana terjadi pertarungan wacana antara kenyataan dan imaji kreatif, komik ini sangat menghibur. Kita tidak bisa mengelak dari satu fungsi komik sebagai bahan bacaan rekreatif. Ketiga seniman komik berhasil melahirkan kembali ide lama menjadi sebuah karya dengan tampilan visual yang unik.

Judul       : Negara 1/2 Gila
Penulis    : Dody-Mujix-Rumrum
Penerbit  : MediaKita
Tahun      : 2013
Tebal      : 92 hal.
Genre      : Komik Indonesia


Cipayung, 28 Agustus 2017

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...