Minggu, 30 April 2017

The Tide Turns: Pendaratan Bersejarah di Normandia

Sumber gambar: www.amazon.com
Pada 6 Juni 1944, Operasi Overlord dimulai. Sekutu mengerahkan sejuta prajurit untuk merebut Pantai Normandia, Perancis dari cengkeraman NAZI Jerman. Serbuan sekutu ini menjadi titik balik medan laga di Perang Eropa selama masa Perang Dunia II karena sesudahnya mengubah posisi NAZI Jerman yang semula gigih menyerang menjadi bertahan, sebelum akhirnya berangsur-angsur mundur dan kalah usai Battlle of The Bulge.

Invasi ke Normandia menandai dibukanya garis depan pertempuran yang kedua di Eropa. Serangan ini merupakan bencana terbesar bagi Hitler dan Angkatan Bersenjata Jerman. Selain bertujuan menghadirkan tentara sekutu di wilayah Eropa daratan, serangan ini juga memutus akses Jerman dengan pelabuhan-pelabuhan Atlantik di Perancis. Dengan begitu, pertempuran yang dilakukan oleh kapal selam Jerman, U-Boat juga dipastikan dapat berakhir.

Lepasnya Normandia juga berpengaruh besar bagi sistem peringatan dini Angkatan Udara Jerman, Luftwaffe. Hilangnya sistem radar berarti Jerman menjadi vulnerable terhadap serangan udara dari Sekutu. Hilangnya Luftwaffe di langit Eropa menandai kesuksesan pesawat pembom Sekutu untuk melakukan pemboman dan mendukung pergerakan pasukan.

Komik ini berusaha menghimpun semua yang berserakan dari invasi yang lebih dikenal dengan istilah 'D-Day'. Doug Murray berhasil menampilkan episode-episode penting kejatuhan NAZI Jerman dalam ruang bingkai yang terbatas. Tentu, tidak perlu ada pergulatan wacana mengenai sudut pandang yang digunakan sang komikus dalam karyanya ini. Sudah tentu, sang pemenang peranglah yang berhak menentukan sejarah atas pencatatan tragedi runtuhnya Third Reich.

Judul           : The Tide Turns: D-Day Invasion
Penulis        : Doug Murray
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun          : 2008
Tebal           : 48 hal.
Genre          : Sejarah-Komik
 

Cipayung, 30 April 2017.

Biografi Grafis Che Guevara

Sumber gambar: www.goodreads.com
Memang belum ada batasan mengenai biografi grafis dengan komik. Apakah komik boleh mewakili sebuah bentuk biografi yang diulas secara grafis atau sebaliknya, biografi grafis yang dibuat menjadi sebuah komik. Yang jelas, apapun penjelasannya, sebuah biografi grafis berisi komik ini dapat dengan mudah mengisahkan kepada pembaca biografi singkat tokoh revolusioner, Ernesto 'Che' Guevara.

Siapa yang tidak kenal Che Guevara. Seorang ikon dan figur dengan citra yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak kematiannya, Che telah menjadi legenda abadi. Ia terpampang dimana-mana: kaos, topi, pin, spanduk, kotak rokok, sampul kaset, dan lain-lain. Lelaki kelahiran Rosario, Argentina tanggal 14 Juni 1948 ini tersohor sebagai ikon revolusi.

Buku ini menyoroti perjalanan kehidupan Che Guevara yang kemudian membentuk karakternya. Mulai dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, kelak difilmkan dengan judul "The Motorcycle Diaries"; saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalanannya ke Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.

Sebagai sebuah karya terjemahan, buku ini menjadi mewah dengan esai penutup dari Sarah Seidman dan Paul Buhle, yang mengangkat tema "Che Guevara, Antara Gambar dan Realita". Dalam esai disebutkan bahwa Che Guevara telak menjadi ikon bagi sebuah perubahan atau revolusi. Ikonisasi Che seperti itu dengan cepat mewabah dan menjadi kodifikasi dalam pergulatan wacana sebuah organisasi. Che dieksploitasi menjadi asosiasi dari wacana revolusioner. Namanya kerap digunakan anasir tertentu untuk mengidentikan dirinya dengan sesuatu atau hal yang berbau revolusioner.

Adanya esai pada buku biografi semacam ini turut berkontribusi memberikan wawasan bagi kaum muda yang lahir pasca Revolusi Kuba. Esai ini turut memperkaya khazanah pengetahuan mengenai sosok seorang pejuang humanis yang ditangkap rezim penguasa Bolivia pada 8 Oktober 1967. Dengan begitu, Che tidak hanya akan hidup bersama pembaca melalui gambar komik, tetapi pembaca akan mendapat gambaran utuh tentang pengaruh Che yang lebih jauh pasca kematiannya.

Judul           : Che: Sebuah Biografi Grafis
Penulis        : Spain Rodriguez
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2008
Tebal           : 108 hal.
Genre          : Biografi-Komik
 

Cipayung, 28 April 2017.

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

Bagaimana caranya menertibkan imajinasi?
 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini mau tidak mau harus dianggap sebagai satu dari sekian masterpiece Seno Gumira Ajidarma. Bukan karena muatan isinya ataupun permainan antara fiksi dan fakta seperti di Trilogi Insiden. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah sebuah kumpulan cerita pendek ringan nan menghibur. Menurut catatan pembuka penulisnya, ia mendapatkan inspirasi dari judul sebuah komposisi musik berjudul 'Jangan Bertepuk dalam Toilet' karya Franki Raden dekade 80-an. 

"Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" diterbitkan kembali sebagai Edisi Kedua, artinya terdapat perubahan dan tambahan, yaitu sebuah prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Dalam buku ini, pembaca disuguhi dua cerita "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Pertama, prosa yang selesai tahun 2005. Kedua, cerita asli dari tahun 1990 pada penerbitan pertamanya. 

Ceritanya masih sama. Tentang Sophie yang senang bernyanyi di kamar mandi dan membuat geger sebuah perkampungan di Jakarta. Tentu saja tidak ada yang salah dengan Sophie ketika ia memutuskan untuk indekost di kampung itu. Namun, justru imajinasi pada Bapak-bapak penghuni kampung ditambah kekhawatiran tidak beralasan dari para istri mereka membuat cerita ini semakin asyik diikuti. Konteks kehidupan sehari-hari di gang yang kumuh dengan segenap problematika khas kaum pinggiran Jakarta jadi bumbu yang menarik sebagai pelengkap cerita.

Lebih jauh, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang keabsahan sebuah kebenaran. Suatu hal bisa dianggap sebagai kebenaran bila diakui oleh banyak orang. Artinya, sesuatu hal yang belum tentu benar bisa menjadi sebuah kebenaran tak terbantahkan hanya bila sudah jadi kehendak umum, bukan melalui hipotesis yang teruji.  Kebenaran para istri yang merasa suaminya semakin dingin setelah kedatangan Sophie yang sering menyanyi  di kamar mandi itu kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk 'pengusiran' Sophie. 

Realitas seperti inilah yang justru akhir-akhir ini sering kita alami. Betapa nasib kita seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Kalau menyanyi di kamar mandi saja yang notabene ruang privat kita sudah dilarang lalu bagaimana dengan hak-hak kita yang lain? Perlukah juga dibatasi oleh sebuah kehendak umum?

Cerpen lain yang dimuat dalam buku ini masih tergolong dalam cerita yang ringan dan kadang absurd. Tentang seorang kakek yang duduk di tepi sungai bersama cucunya, tentang Sukab yang dipipinya ada jejak bibir yang merah basah, cerita satir soal urusan hari seperti dimuat dalam 'Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh'. Absurditas Seno nampak dalam cerpen 'Kriiiiiiiinngngngng!', 'Lambada', Guru Sufi Lewat', dan 'Segi Tiga Emas' yang lebih terlihat sebagai cerita pewayangan. Cerpen yang justru agak realis adalah 'Duduk di Depan Jendela', 'Midnight Express', dan ' Seorang Wanita di Sebuah Loteng'.

Judul        : Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2006
Tebal        : 220 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen

 
Cipayung, 25 April 2017.

Jazz, Parfum, & Insiden: sebuah catatan

Barangkali ideologi memang belum mati. Namun kalau masih hidup pun sebaiknya ideologi dibunuh saja. Terlalu banyak omong kosong dalam perbincangan ideologis - yang kita perlukan adalah kebahagiaan yang konkret... - Hal. 170 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Barangkali, pembaca sudah maklum bahwa buku ini adalah bagian dari Trilogi Insiden. Barangkali juga pembaca sudah mafhum bahwa tidak ada hubungan antara Jazz, Parfum, dan Insiden. Barangkali saja. Namun, di tangan Seno Gumira Ajidarma, Jazz telah berubah bukan hanya menjadi sekedar aliran musik belaka. Jazz adalah sebuah romantisme bagi sebuah roman metropolitan.

Perlu diakui bahwa karya monumental kesekian ini memperlihatkan sisi kehidupan jurnalistik SGA. SGA menempuh jalannya sendiri dalam menyuarakan ketidakadilan dan represivitas Orde Baru. SGA membalut romantisme ala metropolitan dengan unsur musik jazz dan parfum sebagai sebuah metafora untuk sensualitas kaum perempuan.

Seperti telah dapat dibaca pada "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara", pada roman metropolitan ini ada pertentangan antara fakta dengan fiksi. Pengemasan keduanya dalam cerpen dan roman telah menghadirkan perbedaan yang signifikan. Betapa tuntutan mengenai fakta dalam fiksi akan lebih tinggi dalam sebuah cerita pendek. 

Berbeda dengan apa yang terjadi pada dua unsur tersebut (fakta dan fiksi) dalam sebuah roman. Pertama, pembaca bisa menganggap bahwa apa yang disebutkan fakta dalam fiksi di sebuah roman adalah sebagai tulisan/bualan penulisnya supaya romannya bisa punya cerita yang panjang. Kedua, kalaupun ada fakta dalam fiksi sebuah roman, maka itu bisa saja sebuah kebetulan supaya cerita antar bab bisa saling berhubungan menuju sebuah ending.

Tentu saja, kedua pendapat diatas masih terlalu subjektif dan lahir hanya dari seorang penulis dadakan sekelas saya. Pada proses pembacaan kumpulan cerpen 'Saksi Mata' (terbit kembali di Trilogi Insiden) saya sebagai pembaca awam cenderung menuntut keabsahan dari catatan-catatan jurnalistik yang dimuatnya. Hal ini tentu berbeda ketika saya menghadapi 'Jazz, Parfum, & Insiden' dimana banyak sekali catatan jurnalistik yang dimuat dari berbagai sumber. Saya cenderung masa bodoh dengan catatan mana yang benar-benar bisa dipercaya maupun dengan catatan mana yang isinya hanya kibul belaka.

Namun, siapapun yang mulai membaca roman ini agaknya tidaklah perlu mengkaitkan antara parfum dengan bau mayat-mayat yang bergelimpangan usai terdengar suara tembakan. Tidak ada kaitannya sama sekali atau malah jalan pikiran saya saja yang menghubungkan mereka. Setidaknya, pembaca tidak akan kehilangan ketokohan Sukab maupun Alina. Pembaca punya banyak alternatif jalan cerita tentang peran Sukab dan Alina dalam roman ini. Sukab sudah jelas disebut dalam cerita, namun Alina hanya muncul utuh dalam ending cerita: sebuah surat. Untuk itu, sila pembaca yang budiman menakar sendiri roman ini secara utuh, tentang seseorang yang selalu mengenakan Walkman, tenggelam dalam jazz dan harum parfum, dan membaca insiden yang berdarah.

Judul           : Jazz, Parfum, & Insiden
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit      : Bentang
Tahun          : 2004
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Roman

Cipayung, 27 April 2017.

Sabtu, 29 April 2017

Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (2)

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya, bahwa tulisan saya dibaca orang. Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar – Hal. 133

Ini adalah tulisan kedua tentang buku ini. Tulisan pertama di blog ini terbit pada bulan November 2015. Saya merasa perlu menulis tentang buku ini sekali lagi. Untuk keperluan penjelasan antara fakta dan fiksi yang menurut saya belum diulas pada tulisan pertama.

‘Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara’ adalah Trilogi Insiden bersama ‘Saksi Mata’ (kumpulan cerpen) dan ‘Jazz, Parfum, dan Insiden’ (roman). Ketiganya memuat fakta seputar Insiden Dili yang ditabukan media massa semasa Orde Baru. Selanjutnya, pertarungan antara fiksi dan fakta atau fakta dalam fiksi akan menjadi pertarungan yang dibahas penulisnya. Ketiga buku terbit dimasa kekuasaan Orde Baru sehingga ketiganya tidak dapat menghindar untuk tidak terlibat dalam persoalan politik kekuasaan, secara praktis dan konkret.

Buku ini banyak bercerita tentang pergulatan SGA dengan perjalanan jurnalismenya. Terutama ketika meliput tentang Insiden Dili. Sebagai penulis fiksi, SGA tidak bermaksud menulis fakta-fakta tentang fiksinya sendiri untuk memperkuat fiksi tersebut. Bahkan juka kemudian ada pembacaan intertekstual antara fakta dan fiksi yang ditulisnya, maka itu semua adalah diluar kekuasaan SGA.

SGA menulis tentang bagaimana ia memposisikan cerpen dalam sastra Indonesia. Pun, dihubungkan dengan konteks realitas di Indonesia. SGA menjelaskan banyak hal dalam ikhtiar proses memadukan unsur fiksi, jurnalisme, dan sejarah menjadi satu produk yang utuh. SGA mengolah fakta menjadi fiksi dengan menulis apa yang dilihatnya, kemudian mengolahnya menjadi bahasa yang dapat diterima sebagai sebuah karya fiksi. Dengan begitu, kiranya sah pernyataan judul buku ini: Ketika Jurnalisme Dibungkam (maka) Sastra Harus Bicara.

Saya pribadi terkesan dengan sebuah bab berjudul “Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca”. Kutipan diatas saya ambil dari tulisan yang disampaikan SGA dalam Pidato Penerimaan Penghargaan South East Asia Writing Award tahun 1997. Tanpa mengesampingkan tulisan-tulisan lainnya, saya menganggap buku ini adalah satu catatan tersendiri untuk satu Bab dalam perjalanan sejarah Republik tercinta.
 
Edisi pertama buku ini terbit pada tahun 1997, tidak lama sebelum Rezim Orde Baru turun tahta. Edisi Kedua lahir kembali pada tahun 2005. Pada masa reformasi ini, buku ini kembali diterbitkan kembali untuk memenuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan. Dengan judul Trilogi Insiden yang membuat tiga judul buku secara utuh. Pembaca dipersilahkan untuk menilai sendiri relevansi antara keduanya, dilihat dari tahun penerbitan dimana pers sudah dianggap bebas sejak Reformasi 1998. 

Judul                     : Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Penulis                  : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit                : Bentang Pustaka
Tahun                    : 2005
Tebal                     : 243 hal.
Genre                    : Sastra Indonesia


Cipayung, 21 April 2017

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin


Sumber gambar: www.goodreads.com

Berawal dari sebuah promo di twitter, saya mendapatkan buku ini dengan harga yang lumayan murah. Diatas rata-rata diskon toko buku online. Sebagai bagian dari kelas menengah (cieee...)-mengacu pada kriteria yang disebutkan dalam buku ini- saya ingin tahu bagaimana perencanaan keuangan yang baik. Terlebih, penulisnya sendiri adalah seorang financial planner berpengalaman, Ligwina Hananto @mrshananto, yang pernah mempunyai acara radio khusus untuk subjek financial planning. Belakangan, @mrshananto juga pernah muncul juga di televisi membawakan acara dengan tema serupa.

Saya rasa penting bagi kita untuk mulai “menyelamatkan” keuangan pribadi. Kondisi ekonomi di Indonesia yang sering tidak menentu namun ddidorong pula oleh “kekuatan” kelas menengah yang konsumtif, maka asumsi investasi bukan lagi hal yang tabu dan menakutkan untuk dijalani secara pribadi. Niscaya, buku ini menjadi panduan awal tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi. 

@mrshananto menyediakan guidance atau clue dengan tajuk 100 hal yang perlu dilakukan untuk tidak miskin. Dengan kata lain, petunjuk-petunjuk itu adalah bagaimana menjadi kelas menengah yang berdaya. Terutama dari sisi finansial. Dimuat dalam flipcard yang mudah untuk dibawa, memudahkan siapapun untuk membawanya kemana saja untuk jadi pengingat tentang 100 hal tersebut.

Walaupun penghasilan pas-pasan, tapi yang namanya perencanaan keuangan itu tetap diperlukan. Somehow, refer to term 'kelas menengah' or middle-class, buku ini adalah guidance material untuk melakukan perencanaan keuangan sebaik mungkin. Termasuk cara menjalani siklus keuangan seperti yang telah direncanakan.

Kekuatan kelas menengah yang sanggup mempertahankan Indonesia dari goncangan krisis ekonomi adalah pertanda sebuah kekuatan lain yang muncul di Indonesia. Fenomena yang berdampak langsung pada sektor keuangan ini secara tidak langsung ikut mempengaruhi sisi kehidupan lainnya. Dengan demikian, bila golongan kelas menengah ini mampu mempertahankan dirinya sendiri maka secara tidak langsung juga berimbas pada sekala ekonomi yang lebih luas. Patut dibaca, oleh kita para kelas menengah ini, biar #kelasmenengahngehe sekalipun.

Saya tidak menganggap buku ini seperti novel yang harus dibaca tamat dari awal sampai akhir. Karena sifatnya yang guidance material, maka saya membaca subjek-subjek tertentu saja. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa buku ini belum saya pahami sepenuhnya. Oleh karena itu, hingga tulisan ini naik cetak saya masih terus membacanya, sekedar meyakinkan bahwa dari 100 hal itu ada satu atau beberapa hal yang benar-benar saya lakukan. Selamat belajar.

Judul          : Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
Penulis       : Ligwina Hananto
Penerbit     : Literati
Tahun        : 2010
Tebal         : 240 hal.
Genre        : Perencanaan Keuangan


Cipayung, 19 April 2017.

Jumat, 31 Maret 2017

Excuse-Moi: Sebuah Pergulatan Identitas

Sumber gambar: www.goodreads.com

SARA: Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan adalah topik yang seringkali dianggap tabu, sensitif, dan harus ditangani dengan penuh kehati-hatian. Apalagi situasi macam sekarang ini. Namun, saya menemukan sebuah buku dengan tulisan yang apa adanya, diselingi canda, namun tetap melayangkan gugatan: perbedaan apakah yang membuat kita berbeda.

Margareta Astaman membagikan celotehannya kembali melalui buku setebal 137 halaman ini. Margie, begitu ia akrab disapa, terlihat sangat concern terhadap identitasnya sebagai warga negara asing dan warga negara Indonesia sendiri. Identitas rasialnya membuat Margie tidak mudah untuk menentukan pilihan-pilihan yang bagi sebagian orang adalah hal yang lumrah. 

Margie yang melanjutkan kuliahnya di NTU Singapura ini merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang keturunan Cina asal Indonesia. Ada banyak kejadian yang membuatnya berpikir kembali tentang jati dirinya. Margie berhasil merangkum gugatan-gugatannya dalam buku ini.

Margie membagi buku ini menjadi tiga bab besar. Bab pertama, Margie menggugat jati dirinya secara gamblang dengan judul "Siapa Saya". Sebuah pertanyaan kecil namun membutuhkan analisis mendalam untuk menjawabnya. Bila perlu, disertai dengan riset tidak terbantahkan mengenai asal-usul nenek moyangnya yang dari Utara itu.

Bab kedua, diberi judul "Sekali Beda Tetap Beda". Maksudnya, dengan identitas kultural yang ia miliki, masyarakat umum tetap saja memandangnya dengan berbeda. Perbedaan etnisitas antara warga keturunan dan pribumi selalu menimbulkan celah sehingga berlaku suatu sistem tata nilai yang tidak selalu sama antara keduanya.

Terakhir, masalah 'perbedaan' ini akan semakin tajam ketika urusan hati sudah mulai terlibat. Margie terlihat serius dalam menggugat cinta antara sepasang anak manusia yang dilahirkan dalam keadaan berbeda (etnis, budaya, dll). Disini, Margie juga membuktikan bahwa ada sesuatu yang bernama PPBA-BS alias Persatuan Pacaran Beda Agama-Backstreet dan Durhaka Anonymous (DA). Kelompok pertama, mencoba meyakinkan dunia bahwa apa yang terjadi diantara sepasang kekasih yang berbeda haruslah diterima sebagai sebuah kenyataan. Sedangkan, yang terakhir lebih kepada memberi hiburan dan penguatan kepada mereka yang telah memilih jalan mereka (bisa saja sebagai kelanjutan dari PPBA-BS) supaya bisa tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepada orang tua mereka.

Seperti buku-buku Margie lainnya, celotehan ringan dan khas mewarnai sepanjang pembacaan buku ini. Saya pribadi lebih menikmatinya seperti membaca tulisan-tulisan dalam blog. Pendek namun sarat makna. Membuat kita berpikir lagi: about difference, how different we are, how we differentiate others, and how we react upon difference.

Judul      : Excuse-Moi
Penulis   : Margareta Astaman
Penerbit  : Penerbit Buku Kompas
Tahun     : 2011
Tebal      : 137 hal.
Genre     : Sosial-Budaya


Cipayung, 31 Maret 2017.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...