Jumat, 30 Desember 2016

Membaca Karya-karya SGA versi Andy Fuller

Courtesy: www.balairungpress.com

Kalau saya ditanya mengenai satu buku tentang Seno (Gumira Ajidarma) yang paling sulit dibaca buku inilah jawabannya. Buku ini memang begitu tipis. Tidak sampai 150 halaman. Bentuknya pun seperti buku kumpulan cerpen Seno pada umumnya.  Isinya membahas karya-karya Seno yang sudah saya baca seperti Trilogi Penembak Misterius, Alina, Clara, Wisanggeni Sang Buronan, hingga yang terbaru; Negeri Senja.

Bagi saya tetap saja sulit memahami isi buku ini. Apalagi bila dikaitkan dengan soal filsafat dalam karya sastra. Teori filsafat posmodernisme pernah sesekali mampir di telinga saya ketika kawan-kawan di kampus belajar soal Budaya Populer, Komunikasi Massa, dan Filsafat Komunikasi. Tetap saja, saya tidak begitu paham menggunakannya. Saya sendiri tidak tahu apakah betul Seno hanya menulis saja karya-karyanya tanpa mempertimbangkan mikronarasi atau sastra posmodern.

Karya-karya Seno meliputi laporan jurnalistik, cerpen, kritik film, puisi, dan novel. Tema dan gayanya beragam dan kompleks, kerap menggabungkan genre-genre yang secara tradisional terpisah. Bertukar-tukar antara realisme, fantasi, dan reportase. Pengetahuan atas elemen-elemen yang menatukan hasil karya Seno yang beragam akan menyediakan sebuah kerangka berpikir yang lebih luas guna memahami karya sastranya secara keseluruhan. Barangkali, demikian Andy ingin mencoba hipotesisnya.

Saya rasa tidak ada salahnya apabila anda seorang pembaca yang awam akan filsafat turut membaca buku ini. Secara tidak langsung, anda tentu akan belajar mengenai posmodernisme hanya lewat buku yang setebal 118 halaman ini. That’s a good idea. Lebih jauh, anda akan diajak lebih jauh dalam menganalisis politik kebudayaan Orde Baru. Ya, Seno adalah seorang kritikus Orde Baru, seorang oposan. Maka, ketika karya-karyanya yang terbit sepanjang Orde baru dianalisis, anda tentu akan mendapatkan gambaran Orde Fiksi yang ada dalam dunia Seno sehingga anda perlu atau tidak sengaja mengait-ngaitkan dengan relita di zaman Orde Baru.

Ada istilah lain yang baru saya dengar, yaitu metafiksi dan metanarasi. Selama ini kita hanya disuguhkan metabolisme, metafisika, dan metallica (ups..). Namanya juga peneliti, Andy Fuller menulis juga soal metafiksi dan kaitannya dengan budaya populer. Ada banyak karya Seno yang dianalisis melalui topik ini. Anda mungkin sudah membaca beberapa diantaranya, yaitu Alina Si Pendengar, Bandana, Wisanggeni Sang Buronan, Clara, dan Negeri Senja. Adanya hubungan dengan budaya populer turut menghilangkan kekakuan bentuk budaya tinggi. Dengan cara inilah Seno turut memperluas jangkauan sastra posmodern Indonesia.

Anyway, penelitian Andy Fuller yang luas dan mendalam mengenai karya-karya Seno ini merupakan salah satu pintu masuk untuk berada ‘di dalam’ Indonesia. Indonesia memiliki modal fiksi yang besar dalam pendayagunaan kekerasan dan korupsi, begitu kata testimoni Afrizal Malna. Secara akademis, buku ini membuka peluang diskusi lebih lanjut sebagaimana buku Seno lainnya yaitu “Layar Kata”, yang selalu dicari untuk dijadikan referensi penelitian film Indonesia. Kita bisa membahas relevansi gaya posmodern karya sastra Indonesia dalam konteks pasca-reformasi, misalnya.

Judul        : Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma
Penulis        : Andy Fuller
Penerbit    : INSIST Press
Tahun        : 2011
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Sastra Indonesia

 
Cipayung, 27 Desember 2016.

Komik Perang Gaya Amerika

Courtesy: www.goodreads.com
 
Saya pikir pada awalnya buku ini hanyalah komik biasa yang bercerita soal pertempuran-pertempuran yang sudah dilalui oleh militer Amerika Serikat (USA). Saya yakin akan ada banyak cerita tentang kejayaan negeri Paman Sam di setiap kancah pertempuran yang dihadapinya. Namun, saya ternyata salah. Komik ini menjadi semacam anti-hipotesis dan kritik bagi seluruh pembenaran militer USA dalam setiap keterlibatan mereka dalam beberapa konflik bersenjata.
 
Serangan 11 September 2001 hanyalah gerbang lain dari sifat kecanduan pemerintah USA terhadap perang. Sifat yang sudah bertahan sejak dua abad lebih, dimulai dari perang Indian hingga pendudukan terhadap Afghanistan. Buku ini diawali dengan pengungkapan tentang ‘Manifest Destiny’, sebuah paham yang menjadi dasar penaklukan dan penguasaan. 

Fakta-fakta lain kemudian bergulir. Militer USA turut berperan dalam konflik bersenjata di beberapa negara kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Perang Dingin dengan Rusia pun menjadi agenda besar yang mau tidak mau harus dimenangkan demi sebuah tatanan dunia baru. Terorisme adalah isu baru yang menjadi pembenaran bagi mereka untuk ‘mengamankan’ dunia. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah masih belum akan menemukan solusi. 

Kembali ke awal, sebenarnya keterlibatan militer dalam setiap urusan USA adalah tidak murni didorong oleh urusan militer itu sendiri. Umpamanya, ancaman dari pihak luar. Namun, kepentingan pemodal yang didorong modal besar dan nafsu kepemilikan pasar turut menjadi faktor utama yang jadi latar belakang utama keterlibatan militer. Belum lagi, kepemilikan pemodal atas media juga turut menentukan  wacana yang berkembang di seantero negeri. Propaganda militer menjadi lebih terarah seiring dengan opini yang berkembang di masyarakat mereka. Sempurna!

Komik ini setidaknya menjadi obat pelawan lupa bagi mereka yang masih ‘sadar’ akan kemanusiaan. Gejolak perlawanan muncul juga dalam masyarakat Amerika Serikat. Namun, gaungnya tidak sebesar propaganda penguasa. Melalui komik ini, kita sebagai warga negara Indonesia wajib merenungi imbas dari propaganda dan kampanye global tersebut. Apakah bangsa kita ini sedang dijadikan the next target atau malah sudah dan sedang menjalani ‘perang’ yang dimaksud?

Saya sendiri mencermati beberapa hal selain yang sudah disebutkan diatas. Bahwa, untuk USA cara mereka untuk menguasai satu wilayah; entah negara atau bangsa, adalah melalui perang. Tentu penguasaan satu wilayah tersebut akan relatif lebih mudah bila semua isinya sudah dihabisi. Kalau sudah begitu, tinggal menjalankan apa yang sudah digariskan dan jadi tujuan. Eksplorasi sumber daya alam, sebut saja minyak, misalnya. Sebuah pola pikir barbar yang sayangnya masih bertahan hingga saat ini.

Anyway, menarik juga untuk membaca beberapa testimoni yang menghiasi komik ini. Saya tidak menyangka bahwa Martin Sheen, aktor dalam film Hot Shot, parodi dari Top Gun, ikut berkomentar dalam testimoninya disini. Bagaimanapun, penolakan terhadap perang akan selalu ada. Sebagaimana desingan peluru di Timur Tengah. Hingga batu bicara, barangkali.

Judul           : Nafsu Perang: Sejarah Militerisme Amerika di Dunia
Penulis        : Joel Andreas
Penerbit      : Profetik
Tahun          : 2004
Tebal          : 82 hal.
Genre          : Sejarah-Amerika Serikat
 

Cipayung, 28 Desember 2016.

Rabu, 28 Desember 2016

Stalking Indonesia with Margie!

"Mendidik satu desa penduduk tempat daerah wisata tentunya jauh lebih mudah dibandingkan mendidik 1.000 turis tengil sok tahu asal berbagai kota besar di Indonesia." 
("Tuh Lumba-lumba", hal. 79)

Courtesy: www.goodreads.com
  
Istilah "stalking" menjadi populer belakangan ini ketika media sosial semakin populer dan aksesibel pada semua lapisan masyarakat. Lengkap satu paket dengan pelakunya yang biasa disebut sebagai "stalker". Stalking bukan hanya berarti sekedar aktivitas melihat-lihat saja. Tetapi juga, mengetahui lebih banyak mengenai satu objek tertentu. Stalking Indonesia tentunya tidak lepas dari latar tersebut.

Stalking Indonesia bukanlah local guide semacam Lonely Planet dan buku-buku lain yang sejenisnya. Stalking Indonesia bukan juga buku panduan tentang bagaimana caranya berwisata di berbagai daerah tujuan wisata di Tanah Air. Stalking Indonesia bukan juga catatan perjalanan biasa. Ia adalah buku traveling eksepsional. Ia lahir dari keraguan penulisnya karena tulisan-tulisannya tidak seperti yang biasa dijumpai di travel blog. Ia justru mampu mengungkap lebih jauh secara mendalam tentang suatu objek wisata.

Ia ditulis oleh seorang penggila jalan-jalan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar dimana secara obsesif penulisnya selalu ingin ngulik, mengintip, dan melacak semua seluk beluk setiap objek atau tujuan wisata yang dikunjunginya. Akibatnya, informasi yang sampai pada pembaca tergali habis, mulai dari hal-hal yang sepele hingga yang lebay-lebay.

Agaknya, bila kita mau menarik benang merah dari semua catatan Margie dalam buku ini, kita dapat menemukan problem yang sama; repetitive problem di hampir semua objek wisata Tanah Air. Kita tentu menyayangkan mengapa biaya untuk menginap di Raja Ampat begitu mahal. Tetapi, kita juga mafhum bila ternyata harga yang dipatok terlalu mahal itu ternyata demi kelestarian alam sekitar Raja Ampat juga, misalnya. 

Margie yang bangga dengan kebiasaan stalkingnya ini setidaknya membuat kita para pembaca menjadi 'lebih tahu dari tahu'. Bukan hanya sekedar tahu cara ikut melihat pemandangan luar biasa di Bumi Ibu Pertiwi ini, tapi juga melihat sisi-sisi lain dibaliknya, tentang isu dan konflik yang terkadang ikut menyusunnnya. Sebagai bonus, Margie juga memberi kita pilihan. Mau pilih perjalanan pangkal kaya atau perjalanan penuh gengsi. It's up to you. Happy traveling and happy stalking!

Judul                   : Stalking Indonesia
Penulis               : Margareta Astaman
Penerbit             : Penerbit Buku Kompas
Tahun                 : 2014
Tebal                  : 198 hal.
Genre                 : Sosial-Budaya


Cipayung, 26 Desember 2016.

George Michael RIP

Courtesy: directlyrics.com
Tidak banyak yang saya tahu soal George Michael selain WHAM! dan Careless Whisper. Last Christmas, i gave you my heart, but the very next day, you gave it away. I'm never gonna dance again, guilty feet have got no rhythm. Itu saja. 

Saya tidak terkejut mendengar kabar duka yang datang di hari Natal kemarin. Hanya saja, tahun 2016 ini sudah banyak penyanyi pop dunia yang meninggal dunia. George Michael yang bernama asli Georgios Kyriacos Panayiotou menambah catatan musik dunia setelah meninggalnya Prince dan David Bowie.

Penyanyi dan penulis lagu ini meninggal dunia pada usia 53 tahun. Pada tanggal yang sama dengan tanggal lahirnya. 25. Penyanyi dengan catatan penjualan 80 juta album semasa hidupnya adalah seorang yang berbakat. Lepas dari Wham! ia memulai solo career dan meraih kesuksesan yang sama. His name is a brand for his music.

Hari Natal tahun ini adalah hari natal terakhirnya. Last Christmas, as he ever sang.

Tonight the music seems so loud. I wish that we could lose this crowd. Rest in peace, George. You're losing the crowd now.


Cipayung, 26 Desember 2016. 

Cinta Miund, Kolom Curhat yang Well-documented

Courtesy: twicsy.com

Bukan tanpa alasan bila sebuah kolom curhat dikompilasikan kembali menjadi sebuah buku. Seperti layaknya talkshow 'Kick Andy' atau 'Just Alvin', kolom Cinta Miund yang tayang di kanal Kompas Female pada portal kompas.com turut meramaikan remake ini. Bedanya, Miund a.k.a Asmara Letizia Wreksono ini mengangkat kisah klasik yang tidak akan pernah ada habisnya: Cinta.

Penerbitan buku ini tentu sangat berguna bagi para penikmat kolom web. Dengan buku ini, anda tidak perlu akses internet untuk kembali memahami persoalan klasik sepanjang zaman. Entah itu pada diri anda, teman, pacar, kekasih, pasangan, selingkuhan, or whatever you may say. Artikel didalamnya tentu sudah melalui proses editing dimana ada penyesuaian untuk repetitive problem sehingga buku ini nantinya akan selalu jadi referensi pembaca.

Untuk menghilangkan kesan 'terlalu feminin' karena penulis dan pengasuh kolomnya adalah seorang perempuan, Miund punya cara jitu untuk mengatasi hal ini. Pada beberapa kolom, ia menambahkan komentar dari laki-laki dengan tajuk 'Kata Lelaki'. Selain sebagai pendapat penyeimbang, cara ini sangat baik untuk para perempuan dalam memahami isi otak lelaki.

Jangan bayangkan buku ini seperti buku serial 'Chicken Soup' yang fenomenal itu. Tulisan-tulisan Miund justru tampil dengan gaya santai nan elegan yang bisa habis dibaca sekali duduk. Cinta Miund bisa jadi penambah wawasan pembaca dengan segenap problema cinta mulai dari pendekatan alias PDKT, menanggapi curhat berujung sayang, HTS, Office Romance, #kapankawin, how to deal with jealousy, masa lalu dan CLBK, tips singkat menghadapi putus cinta, hingga menafsirkan lagu-lagu cengeng tahun 80-90an (bab favorit saya v^_^v).

Saya beruntung menamatkan buku ini setelah melalui periode Orde Twitter dimana saat itu belum populer istilah 'baper'. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya lika-liku problema hati dan perasaan saya bila saya membaca buku ini saat itu. Urusan soal hati mungkin bisa jadi tambah pelik. Thank God!

Judul        : Cinta Miund
Penulis        : Asmara Letizia Wreksono (Miund)
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2012
Tebal        : 294 hal.
Genre        : Humaniora-Romansa
 

Cipayung, 25 Desember 2016.

Pak Harto, Pak Nas, dan Saya

Courtesy: www.goodreads.com


Catatan pengalaman seorang dokter kepresidenan ini adalah sebuah memoar autobiografi dengan cara penulisan yang sederhana namun mengesankan. Mengandalkan kekuatan memori, dr. Frits August Kakiailatu membagi kisah-kisahnya. Tidak hanya terbatas pada tugasnya sebagai dokter kepresidenan tetapi juga banyak cerita lainnya, semisal kisah masa kecilnya, masa sekolah di Universitas Indonesia, panggilan masuk kemiliteran, semuanya dengan runut diceritakan. Gaya semacam ini mengingatkan saya pada serial 'Petite Histoire' karya Rosihan Anwar.

Pembacaan buku ini begitu mengalir dalam episode-episode penting kehidupan dr. Frits. Ia seakan menulis sembari membayangkan dirinya berbicara langsung pada pembacanya. Tentang bagaimana opininya dalam menganalisa kasus pasien anonim yang ternyata Pak Harto, bagaimana mula 'perselisihan' dirinya dengan tim dokter dari RSCM kala menangani kembali Pak Harto, pun cerita tentang pengalaman kedinasannya di TNI AL hingga mampu meraih beasiswa untuk belajar Urologi di negeri Belanda.

Saya tertarik pada buku ini karena judulnya. Tidak main-main, seorang dokter menjadi saksi hidup dalam keterlibatannya dengan dua tokoh penting dalam sejarah republik. Pak Soeharto dan Pak Abdul Haris Nasution, keduanya adalah Jenderal Besar TNI. Tentu, ada muatan yang ingin disampaikan dari dokter yang juga anggota Sosietat Urolog Internasional ini mengingat persentuhannya dengan kedua tokoh tersebut. dr. Frits memberikan segalanya dalam buku ini. Agaknya tidak berlebihan, karena beliau menulis juga pengalaman-pengalaman lain soal kemanusiaan selama ia bertugas menjadi urolog. Ia pun tidak melupakan almamaternya dengan mengangkat Paguyuban EGA yang selalu menjadi bagian dari dirinya.

Memoar singkat dokter kelahiran Magelang, 17 Juli 1936 ini mendedikasikan karyanya sebagai kisah bukti perjuangan untuk maju dan menceritakan jerih payah dalam pengalaman; sebagai contoh pembelajaran bagi kita semua. Memoar sederhana ini juga menepis mitos bahwa seorang dokter adalah manusia penting dan maha tahu yang dapat menentukan hidup-mati pasiennya. dr. Frits mengajarkan kita semuanya, tanpa basa-basi.

Judul           : Pak Harto, Pak Nas, dan Saya
Penulis        : Frits August Kakiailatu
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2014
Tebal           : 156 hal.
Genre          : Biografi-Memoar


Cipayung, 25 Desember 2016

Rabu, 30 November 2016

Dewa 19: Sebuah Flashback

Menonton video konser Dewa ini mengingatkan saya pada konser mereka bertajuk A Mild Live Dewa Live in Bandung, medio tahun 2000 lalu. Waktu itu mereka naik panggung di Dago Tea House. Harga tiket hanya IDR 15000 plus sebungkus rokok isi 12 batang. Ari Lasso memang sudah tidak ada di line-up. Pun, ada gitaris additional. Saya lupa namanya.


Malam itu begitu meriah. Album 'Bintang Lima' yang baru dirilis itu seakan menjadi penanda kebangkitan kembali Sang Dewa dari tidur panjangnya. Hanya saja, tidak adanya Ari Lasso cukup mengganggu kenangan-kenangan di lagu-lagu lama mereka.

Saya tidak mendapatkan lagi vokal khas Ari Lasso pada lagu 'Cukup Siti Nurbaya', 'Elang', 'Kirana', dan 'Kamulah Satu-satunya'. Selebihnya, untuk lagu-lagu di album baru itu sudah 'Once banget'.

Video yang diambil pada Soundrenaline 2015 Dewa feat. Ari Lasso ini menangkap sebuah set nostalgia yang mampu menghidupkan kembali kenangan tentang masa keemasan mereka. Ari Lasso kembali menjadi frontman yang memimpin dengan penuh energi.

Saya setuju dengan usul Felix Dass, sang narator dari SFTC. Janganlah membuat karya baru. Tetaplah jadi masa lalu yang bisa ditengok sekali-kali. Rasanya adil; penggemar dapat perjalanan ke belakang, dan Dewa mendapat kompensasi finansial yang baik. Win-win solution. Karya baru, hanya akan memberikan warna gelap yang merusak benang merah sejarah. Bukan apa-apa, Ahmad Dhani bukan lagi penulis lagu yang keren sekarang. And that's the problem.


Halim Perdanakusuma, 30 November 2016.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...