Selasa, 31 Januari 2017

AADC #2: Kamu Jahat!

Musim berganti, tapi hati tetap sama rindu
 
Sumber gambar: www.liputan6.com

AADC. Ada Apa Dengan Cinta: (n); film yang hits pada medio 2002-an lalu, sekaligus menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. 

Akhirnya, sekuel hits itu dirilis juga. Semua pecinta film tentu senang dengan kembalinya Cinta dan Rangga. Ya, Cinta kembali diperankan oleh Dian Sastro dan Rangga masih oleh Nicolas Saputra. Yang jelas, kembalinya mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan selama ratusan purnama. Rangga ngapain aja sih di USA? Cinta udah pacaran lagi belum ya? Hah, sama siapa?
 
Well, harus diakui AADC #2 berhasil menuntaskan dendam dan rindu para penggemarnya. Kita jadi tahu apa saja yang dialami oleh Rangga dan Cinta. Kita juga menyaksikan penjelasan seorang Rangga kepada Cinta. Sekaligus, menikmati keindahan Yogyakarta yang tidak akan pernah usai. Jadi, semua ini adalah soal cinta lama yang bersemi kembali. CLBK.
 
Lupakan segala pertentangan kultur antara dua anak muda ini pada filmnya yang pertama. Tentang bagaimana puitisnya Rangga dan quote yang heboh itu: Salah gue? Salah temen-temen gue? AADC #2 sejatinya adalah kembalinya pertautan dua hati yang hanya milik Cinta dan Rangga saja. Entah karena dirilis pada zaman baper menjadi hits sehingga alur ceritanya pun seperti mengalir dan mudah ditebak: mereka kembali bersama setelah sekian lama berpisah. A truly madly happy ending for both.
 
Sayang sekali, saya tidak melihat adanya benang merah antara promosi prekuel AADC #2 yang disponsori oleh satu aplikasi media sosial itu dengan film sekuelnya. Kecuali, Rangga yang bekerja di USA dan Cinta yang masih berkumpul hangat dengan para sahabatnya termasuk Ladya Cheryl, karena Ladya Cheryl a.k.a Alya tidak ada di sekuel. Barangkali, dengan alasan tidak mau terbawa alur teaser itu Miles Production membuat AADC #2 menjadi sedemikian rupa sehingga dunia ini rasanya hanya milik Cinta dan Rangga. Halah. :D
 
Anyway, AADC #2 tidak dapat dipungkiri lagi sebagai penuntas rindu sekaligus mengobati rasa penasaran kita semua akan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Jangan lupakan juga Yogyakarta yang selalu menghadirkan perasaan ingin kembali kesana. Semua ramuan nostalgia itu diramu dengan apik sehingga penonton terbuai, baper, dan terbayang-bayang quote lain dari Cinta yang sama hebohnya: Yang kamu lakukan ke saya itu: JAHAT!
 
Judul           : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara    : Riri Riza
Pemain       : Nicolas Saputra, Dian Sastro, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, 
                     Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscilla
Produksi    : Miles Productions
Tahun        : 2016
Genre        : Drama Romantis
 

Bumi Asri, 1 Januari 2017.

Jack Reacher: Never Go Back

Sumber gambar: www.imdb.com (reproduced)
  
Yeah. Jack Reacher is back. Tom Cruise still playing as him. Film ini masih mengangkat kisah Jack Reacher, dengan cerita baru tentunya. Seperti film-film James Bond dan filmnya yang pertama, Tom Cruise kini ditemani oleh seorang aktris, Cobie Smulders. Yeap. She’s the one from that romcom “How I Met Your Mother”. Bedanya, disini ia tampil dengan lebih maskulin. Tidak seperti dalam HIMYM. Skip.
 
Lagi-lagi, Jack dihadapkan pada situasi sulit. Ada kasus yang harus ia pecahkan hingga ia harus bergabung kembali ke korps Polisi Militer hanya untuk dipenjara. Jack harus mengungkap kebenaran atas fitnah yang menimpa Mayor Susan Turner (Cobie Smulders). Untuk itu, Jack harus melepaskan Susan dari penjara dan melarikan diri bersama. Dalam pelariannya, Jack mendapati fakta bahwa seseorang telah menuntutnya dan mengakui telah memiliki seorang anak darinya, Samantha. Khawatir Samantha akan menjadi umpan baginya, Jack dan Susan pun akhirnya melarikan diri bersama Samantha.
 
Dalam pelarian, mereka terus diikuti oleh pembunuh bayaran yang juga bekas Polisi Militer. Jack dan Turner harus dilenyapkan agar operasi mereka tidak diketahui Pemerintah. Kerugian akibat kontrak perjanjian dengan militer USA harus mereka tutupi dengan operasi penjualan senjata di pasar gelap. Seperti layaknya film Hollywood, akhir cerita sudah bisa ditebak. Apalagi untuk pembaca yang mengikuti karya-karya Lee Child.
 
Sebagai sebuah film action, ‘Never Go Back’ punya aksi laga yang lumayan menghibur. Kita bisa nikmati aksi Jack Reacher menghabisi musuh-musuhnya dengan one-to-one fight. Banyak adegan-adegan perkelahian sederhana tanpa menggunakan senjata. Tidak selalu melulu dar-der-dor yang selalu dianggap petasan oleh Sugali. Ups.

Judul        : Jack Reacher: Never Go Back
Sutradara    : Edward Zwick
Pemain        : Tom Cruise, Cobie Smulders, Danika Yarosh, Patrick Heusinger
Produksi    : Paramount Pictures
Tahun        : 2016
Genre        : Action Drama
 

Cipayung, 17 Januari 2017.

Catatan Singkat Untuk Antologi Cerpen A. A. NAvis

Sumber gambar: www.goodreads.com

Keistimewaan buku ini untuk saya bukan terletak pada seberapa banyak cerpen karya A.A Navis telah terkumpul dan juga terdokumentasi dengan baik dalam buku ini. Juga bukan pada cerpen legendarisnya seperti Robohnya Surau Kami. Pada bagian pengantar telah diceritakan soal bagaimana usaha-usaha pengumpulan kembali tulisan-tulisan A.A Navis. Mulai dari pencarian dan penelusuran kembali karya-karya beliau yang tececer pada beberapa publikasi.

Dalam tulisan pembuka itu dapat ditarik sebuah konklusi bahwa kita sebagai bangsa tidak pernah punya sistem dokumentasi yang baik untuk karya sastra. Bahkan, Pusat Dokumentasi HB Jassin sekalipun. Peran perpustakaan Nasional pun tidak ada sama sekali dalam membantu penyusunan antologi ini. 

Beberapa persoalan diatas adalah sebuah kritik atas ditemukannya satu karya A.A Navis dalam sebuah mikrofilm di Perpustakaan Nasional Australia. Dengan demikian, terkumpul sudah semua cerpen karya A.A Navis. Tentu hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk berkaca soal kedaulatan negeri ini atas karya-karya sastranya sendiri.

Pharmindo, 23 Januari 2013.

Locked Out

Sumber gambar: www.goodreads.com

Seingat saya, tulisan ini adalah catatan pertama saya untuk sebuah buku asing dengan bahasa asing pula. Buku ini saya dapatkan dari toko buku Reading Lights, toko buku yang (pernah) menjual buku-buku baru maupun secondhand. Saya memilih buku ini karena judulnya yang (agak) sentimental: Stories Far From Home. Seperti saya yang baru saja mengawali perjalanan penghidupan di Jakarta.

Kumpulan cerpen ini bercerita tentang banyak hal. Cinta, harapan, dan hidup itu sendiri. Ditulis oleh Alison ketika ia sedang jauh dari rumah. Tepatnya ketika ia sedang mengikuti suaminya yang seorang ekspatriat dan berbisnis di bidang pariwisata. 

Ada satu cerpen yang mengambil latar Pulau Bintan. Pulau dimana rupiah tidak bertuan rumah. Menarik sekali untuk mengamati bisnis pariwisata disana dari sudut pandang seorang warga negara asing. Dalam bentuk cerpen, tentunya.

Judul       : Locked Out
Penulis    : Alison Jean Lester
Penerbit   : Monsoon Books Pte. Ltd.
Tahun      : 2006
Tebal       : 204 hal.
Genre      : Sastra-Kumpulan Cerpen

Pharmindo, 13 Januari 2013.

Trilogi Otobiografi Mohammad Hatta #1: Bukittinggi - Rotterdam Lewat Betawi

Kita manusia dan segala yang hidup diatas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikan. Ada awal, ada akhirnya.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Membaca buku pertama serial trilogy ‘Untuk Negeriku’ karya Bung Hatta ini menimbulkan semacam perasaan yang sentimental. Terasa betul bahwa buku ini ditulis dengan sentuhan personal Bung Hatta. Catatan personal yang lengkap dengan segala latar belakang emosionalnya.

Mohammad Hatta kecil dibesarkan dengan latar belakang agama yang kuat. Bung Hatta adalah seorang cucu dari ulama besar, Datuk Abdul Rahman, yang terkemuka dan memiliki banyak murid di Batuhampar. Ia sudah mulai dididik dengan ajaran Islam yang ketat sedari kecil. Hatta kecil sudah diperkenalkan dengan prinsip-prinsip keislaman dan jalan tarekat menuju Tuhan. Kelak, hal ini pula yang akan membentuk kepribadiannya. 

Tidak banyak orang yang mengira bahwa Mohammad Hatta besar tidak sebagai alim ulama. Sebagaimana ia pernah ditahbiskan dahulu pada masa kecilnya. Ia melanjutkan pendidikan menengah MULO di Padang. Disinilah ia mulai belajar berorganisasi melalui klub sepakbola Swallod dan organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Takdir pun membawanya hingga ke Betawi. Hatta pun bersekolah di Prins Hendrik School.

Lulus dari PHS, ia diimingi jabatan dengan fasilitas yang lumayan. Dengan tekad belajarnya yang tinggi, Hatta memutuskan untuk meneruskan sekolah. Saya bisa ikut merasakan pergulatan pada pikiran dan jiwa Hatta pada fase hidupnya yang kesekian ini. Kecintaannya pada Indonesia hingga keinginan dan impiannya yang tinggi mendorong Mohammad Hatta untuk meneruskan sekolah di negeri Belanda. Ketertarikannya yang tinggi terhadap bidang ekonomi menuntunnya belajar di Handelshogeschool di Rotterdam pada usia 19 tahun.

Kiprah Bung Hatta di negerinya Van Der Vaart sana seperti sudah kita baca di buku sejarah. Hatta tidak hanya terus belajar dan belajar. Bung Hatta juga rajin membangun jaringan dengan sesama pelajar Indonesia disana dengan membentuk Perhimpunan Indonesia (PI). PI terlibat aktif dalam gerakan anti kolonialisme dan imperialism internasional. Ia sempat ditangkap dan diadili karena aktivitas pergerakannya. Justru di pengadilan itulah memoar pembelaan Bung Hatta menjadi sebuah masterpiece berjudul “Indonesia Merdeka”.

Membaca buku pertama ini pembaca diajak untuk memahami ihwal mengenai identitas Mohammad Hatta. Bagaimana pembentukan karakternya dan siapa saja yang berperan dalam fase-fase hidupnya. Pembaca juga turut diajak mengembara dengan episode-episode hidup Bung Hatta yang terasa betul gairahnya untuk Indonesia Merdeka. 

Judul                    : Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi (Untuk Negeriku, #1)
Penulis                 : Mohammad Hatta
Penerbit                : Penerbit Buku Kompas
Tahun                   : 2011
Tebal                    : 324 hal.
Genre                   : Biografi-Memoar


Cipayung, 26 Januari 2017.

Melihat Indonesia dari Sepeda

Courtesy: www.goodreads.com

Saya mungkin satu dari sekian pembaca yang merasa bakal mendapatkan satu pemandangan Indonesia yang indah dari sebuah sepeda. Tentang bagaimana sendi-sendi kehidupan nusantara terjalin mesra di daerah-daerah, misalnya. Saya tidak mendapatkan pemandangan yang demikian, meski saya tidak memungkiri tulisan terakhir dalam buku ini yang bercerita soal pengalaman personal bersepeda Surabaya-Jakarta dalam rangka perayaan 45 Tahun Kompas.

Menarik sekali untuk membuat beberapa hipotesa dadakan mengenai boomingnya sepeda di kota-kota besar tempat bermukimnya para kelas menengah. Entah itu sebagai imbas yang kekinian atau kontekstual atau malah hanya sebagai mode yang sementara saja. Untuk tujuan idealis, hanya segelintir saja pelakunya yang betul-betul konsekuen dengan apa yang telah diawalinya.

Sejarah sepeda di Indonesia ini jejaknya masih samar. Awal mula kedatangannya hingga siapa importer pertamanya saja belum dapat ditelusuri. Namun, sebagai sebuah produk budaya kedatangan sepeda di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sisi historis pendudukan Belanda. Kabar baiknya, evolusi sepeda di Indonesia dan sejarah awalnya disajikan dalam buku ini.

Ada anggapan bahwa dari judulnya buku ini harus menampilkan perspektif tentang Indonesia, dalam arti sempit maupun arti yang luas. Saya sendiri cenderung menempatkan buku ini dalam konteks yang lebih kekinian. Sesuai zaman yang dipotretnya. Saya perkirakan pada sekitar tahun 2005 hingga medio 2010-an. Walaupun, hanya berupa kumpulan beberapa tulisan yang pernah naik cetak harian Kompas. Buku ini sendiri bervariasi, menampilkan artikel mengenai sejarah sepeda hingga perkembangan teknologi. Dari mulai sekedar kendaraan priyayi hingga menjadi pujaan para kolektor.

Ekspektasi saya terpenuhi dengan buku ini. Setidaknya, ada beberapa pustaka referensi dalam penyusunannya. Perpaduan antara artikel dan memoar perjalanan didalamnya membuat buku ini menjadi semakin enak dibaca sambil bersantai. Tetapi, yang jelas, buku ini berhasil menjadi ‘racun’ untuk saya karena saya pun akhirnya menginginkan sebuah sepeda onthel.

Judul            : Jelajah Sepeda Kompas: Melihat Indonesia dari Sepeda
Penulis         : Ahmad Arif
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2010
Tebal            : 196 hal.
Genre           : Sosial-Budaya


Cipayung, 25 Januari 2017.

Jumat, 30 Desember 2016

Membaca Karya-karya SGA versi Andy Fuller

Courtesy: www.balairungpress.com

Kalau saya ditanya mengenai satu buku tentang Seno (Gumira Ajidarma) yang paling sulit dibaca buku inilah jawabannya. Buku ini memang begitu tipis. Tidak sampai 150 halaman. Bentuknya pun seperti buku kumpulan cerpen Seno pada umumnya.  Isinya membahas karya-karya Seno yang sudah saya baca seperti Trilogi Penembak Misterius, Alina, Clara, Wisanggeni Sang Buronan, hingga yang terbaru; Negeri Senja.

Bagi saya tetap saja sulit memahami isi buku ini. Apalagi bila dikaitkan dengan soal filsafat dalam karya sastra. Teori filsafat posmodernisme pernah sesekali mampir di telinga saya ketika kawan-kawan di kampus belajar soal Budaya Populer, Komunikasi Massa, dan Filsafat Komunikasi. Tetap saja, saya tidak begitu paham menggunakannya. Saya sendiri tidak tahu apakah betul Seno hanya menulis saja karya-karyanya tanpa mempertimbangkan mikronarasi atau sastra posmodern.

Karya-karya Seno meliputi laporan jurnalistik, cerpen, kritik film, puisi, dan novel. Tema dan gayanya beragam dan kompleks, kerap menggabungkan genre-genre yang secara tradisional terpisah. Bertukar-tukar antara realisme, fantasi, dan reportase. Pengetahuan atas elemen-elemen yang menatukan hasil karya Seno yang beragam akan menyediakan sebuah kerangka berpikir yang lebih luas guna memahami karya sastranya secara keseluruhan. Barangkali, demikian Andy ingin mencoba hipotesisnya.

Saya rasa tidak ada salahnya apabila anda seorang pembaca yang awam akan filsafat turut membaca buku ini. Secara tidak langsung, anda tentu akan belajar mengenai posmodernisme hanya lewat buku yang setebal 118 halaman ini. That’s a good idea. Lebih jauh, anda akan diajak lebih jauh dalam menganalisis politik kebudayaan Orde Baru. Ya, Seno adalah seorang kritikus Orde Baru, seorang oposan. Maka, ketika karya-karyanya yang terbit sepanjang Orde baru dianalisis, anda tentu akan mendapatkan gambaran Orde Fiksi yang ada dalam dunia Seno sehingga anda perlu atau tidak sengaja mengait-ngaitkan dengan relita di zaman Orde Baru.

Ada istilah lain yang baru saya dengar, yaitu metafiksi dan metanarasi. Selama ini kita hanya disuguhkan metabolisme, metafisika, dan metallica (ups..). Namanya juga peneliti, Andy Fuller menulis juga soal metafiksi dan kaitannya dengan budaya populer. Ada banyak karya Seno yang dianalisis melalui topik ini. Anda mungkin sudah membaca beberapa diantaranya, yaitu Alina Si Pendengar, Bandana, Wisanggeni Sang Buronan, Clara, dan Negeri Senja. Adanya hubungan dengan budaya populer turut menghilangkan kekakuan bentuk budaya tinggi. Dengan cara inilah Seno turut memperluas jangkauan sastra posmodern Indonesia.

Anyway, penelitian Andy Fuller yang luas dan mendalam mengenai karya-karya Seno ini merupakan salah satu pintu masuk untuk berada ‘di dalam’ Indonesia. Indonesia memiliki modal fiksi yang besar dalam pendayagunaan kekerasan dan korupsi, begitu kata testimoni Afrizal Malna. Secara akademis, buku ini membuka peluang diskusi lebih lanjut sebagaimana buku Seno lainnya yaitu “Layar Kata”, yang selalu dicari untuk dijadikan referensi penelitian film Indonesia. Kita bisa membahas relevansi gaya posmodern karya sastra Indonesia dalam konteks pasca-reformasi, misalnya.

Judul        : Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma
Penulis        : Andy Fuller
Penerbit    : INSIST Press
Tahun        : 2011
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Sastra Indonesia

 
Cipayung, 27 Desember 2016.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...