Rabu, 31 Agustus 2016

Catatan Pembuka untuk Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.

Cipayung, 29 Agustus 2016.

Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita

Courtesy: www.kmediabookstore.com

Usia 1-3 tahun adalah masa keemasan ketika seorang anak mengalami proses tumbuh-kembang yang sangat pesat. Berbagai tingkat kepandaian fisik dan psikologis dicapai dalam kurun waktu tersebut. Selama rentang waktu tersebut, orang tua disarankan untuk mendampingi anak, guna mengamati perkembangan si buah hati. 

Para orang tua pun kerap bertanya mengenai kondisi-kondisi ideal terhadap perkembangan si buah hatinya. Buku ini merangkum 100 pertanyaan tersebut, mungkin tidak semua tetapi jawaban-jawaban buku bermodel FAQ (Frequently Asked Question) ini bersumber dari seorang pakar dibidangnya.

Meskipun sudah seringkali dinyatakan bahwa kecepatan perkembangan dan pertumbuhan setiap anak berbeda secara individual, ada yang rata-rata atau normal, ada yang lebih cepat, ada pula yang lebih lambat, para orang tua kerap dicemaskan dengan keterlambatan atau ketidaksamaan perkembangan buah hatinya. 

Memang ada baiknya untuk para orang tua agar mengetahui tahap-tahap perkembangan normal anak yang berlaku secara umum. Dengan patokan normal ini, para orang tua diharapkan mampu menilai seberapa jauh perkembangan buah hatinya. Lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Petunjuk-petunjuk dalam buku ini membantu memberikan saya wawasan yang cukup sebagai indikator pertumbuhan anak. Tentu saja, kita tidak perlu untuk memaksakan sesuatu yang belum mampu dicapai anak. Buku ini berfungsi sebagai alat deteksi dini apabila ada suatu kecenderungan pada anak, tentunya menurut hasil pengamatan orang tuanya. Dilengkapi dengan berbagai tips seputar tumbuh kembang anak, rasanya buku ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Judul        : Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita
Penulis        : Mayke S. Tedjasaputra
Penerbit    : Penerbit Erlangga
Tahun        : 2012
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 27 Agustus 2016.

Screaming-Free Parenting

Courtesy: www.goodreads.com
  
Terus terang, saya kagum pada judul buku ini. Catchy dan membuat penasaran. Saya berharap buku ini dapat menjawab keluhan dan tantangan para orang tua yang membesarkan anakanya ditengah pusaran zaman yang kian cepat ini.

Buku ini setidaknya memberikan gambaran pada setiap orang tua atau calon orang tua tentang metode atau cara-cara praktis dalam pengasuhan anak dengan menggunakan energi dan emosi yang positif. Peran orang tua menentukan bagaimana anak akan membangun masa depannya. Orang tua dituntut untuk lebih perhatian, lebih kreatif, penuh kasih sayang, tanpa teriakan dan memasang raut muka yang tidak menyenangkan.

Untuk mencapainya diperlukan segenap usaha. Mulai dari mengubah paradigma orang tua-anak, belajar memberikan pujian dan memuliakan anak, berlatih menjadi teman, hingga manajemen marah. Bab favorit saya. IMHO, buku ini lebih tepat diaplikasikan pada anak usia 5 tahun lebih, dalam rangka menanamkan sifat dan membangun karakter-karakter positif anak.

Judul        : Screaming-Free Parenting
Penulis      : Teguh Iman Perdana
Penerbit    : Penerbit Kaifa
Tahun        : 2012
Tebal        : 148 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

Cipayung, 26 Agustus 2016.

Selasa, 30 Agustus 2016

Parent's Stories: A Quick Guide for Parents

"Kita ingin anak kita berdaya dalam menghadapi dan mengatasi sendiri rintangan di zamannya. Dan masa lalu kita, bisa jadi tidak selalu sama dengan masa depan mereka."

Saya menjadi fans Adhitya Mulya sejak membaca novel "Jomblo" dan berlanjut hingga mengikuti personal blognya. Dari sekedar membaca sebuah kisah fiksi hingga membaca serius cerpen-cerpen terbaru miliknya yang belum diterbitkan penerbit manapun. Dari membaca refleksi pengalaman kesehariannya hingga nasihat-nasihat dan anjurannya dalam menjadi orang tua. 

Courtesy: www.goodreads.com
Beberapa tulisan dalam blog suamigila.com memang sempat naik cetak menjadi sebuah buku bercover kuning "Catatan Mahasiswa Ganteng Gila". Saya bersyukur bahwa ada penerbit yang kembali mau menerbitkan tulisan-tulisan beliau (lagi-lagi) yang bersumber dari pengalamannya dan dibagikan ke blog. Dengan demikian, ide-ide seputar pengasuhan anak versi Adhitya Mulya telah menjadi resmi setingkat dengan buku-buku parenting lainnya.

Saya dapat membaca kekhawatiran dalam benak penulis, bahwa tantangan dalam membesarkan anak kini menjadi semakin besar. Tuntutan dan ekspektasi orang tua terhadap anak semakin tinggi. Hingga anak-anak masa kini tidak lagi tumbuh sebagaimana mereka harus tumbuh sesuai kemampuannya. Agaknya, hal inilah yang membuat banyak orang tua lupa bahwa anak-anak memiliki takdirnya sendiri.

Saya sendiri merasa sepaham dengan ide-ide parenting versi Adhitya Mulya dan Ninit Yunita karena pengalaman mereka di zaman hiperteknologi belakangan ini. Ada beberapa cara lama yang harus ditinggalkan untuk kemudian diganti dengan pendekatan yang lebih holistik terhadap anak. Referensi yang disertakan penulis dalam artikel-artikel dalam buku ini sangat membantu, apabila orang tua ingin membaca lebih lanjut. Implikasi lain, Adhitya Mulya tidak menawarkan sesuatu yang belum benar teruji keabsahannya. Adhitya Mulya berhasil memadukan teori pengasuhan anak dengan sintesa pengalamannya.

Semua orang tua pasti ingin punya akan dengan berbagai kualitas yang dapat membuat mereka berdaya di masa depan. Dengan buku ini, para orang tua dibantu dengan mendapatkan berbagai tips dan trik yang nyata dan menarik. A must read for all parents and parents wannabe.

Judul        : Parent's Stories: Membesarkan Anak yang Berdaya
Penulis        : Adhitya Mulya
Penerbit    : Penerbit PandaMedia
Tahun        : 2016
Tebal        : 166 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 25 Agustus 2016.

Kode Untuk Republik

"Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara."

Impresi pertama saya atas buku ini adalah buku ini harus saya miliki karena bicara tentang sejarah republik. Menilik judulnya, "Kode Untuk Republik" tentunya bicara soal peran kode-kode yang dihandle oleh sebuah Dinas perkodean pada masa perang kemerdekaan. Dinas perkodean tersebut selanjutnya dinamakan Dinas Kode. Kini, Dinas Kode telah berevolusi menjadi sebuah badan otonom dibawah komando Presiden yaitu Lembaga Sandi Negara.
 
Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini terhitung memiliki cakupan yang lengkap. Artinya, selain menggunakan sitasi referensi yang valid dan meyakinkan, penulisnya terampil untuk memasukkan sejarah penciptaan sandi. Tentunya, hal ini berguna bagi pembaca awam sebagai penyelaras konteks sebelum pembacaan detail mengenai peran kode dalam perang kemerdekaan. Awalnya, bagi sebagian pembaca mungkin terasa membosankan namun bisa tulisan tersebut diabaikan agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan pada bab-bab berikutnya.

Penulis mengambil alur sejarah mulai dari Perang Dunia Kedua, dimana sebuah mesin bernama 'Enigma' menjadi sebuah kartu as bagi Pasukan Jerman dalam menaklukkan daerah-daerah incarannya. Dari Perang Dunia itu, imbas yang terasa pada Indonesia adalah drama kekalahan Jepang. Rencana operasi militer Jepang dapat diketahui Sekutu melalui mesin-mesin pemecah kode sehingga mereka bisa menyiapkan serangan untuk menghalau aksi Jepang.

"Perang Kode" antara pemerintahan Republik melawan pemerintahan Hindia Belanda yang berupaya untuk menduduki kembali Indonesia terjadi secara terbuka. Dinas Intelijen Militer Hindia Belanda, NEFIS, yang selama pendudukan Jepang hijrah ke Australia kembali ke Indonesia usai perjanjian-perjanjian antara Republik dengan Hindia Belanda. 

Dinas Kode mulai mendapati peran pentingnya ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II. Dengan siasat gerilya kolaboratif, petugas-petugas sandi setidaknya berhasil menyampaikan beberapa pesan penting, untuk membuktikan bahwa Republik benar-benar masih ada. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang kemerdekaan yang sayangnya kini tidak banyak dikenal. Bersyukur sekali, buku ini mampu menghadirkan kembali kenangan atas mereka sebagai usaha apresiasi atas segala daya upaya dan usaha mereka untuk Republik.

Dinas Kode sendiri mengalami beberapa perubahan nomenklatur sejak berada di Djawatan Sandi Angkatan Perang, Djawatan Sandi, hingga menjadi Lembaga Sandi Negara yang berurusan dengan segala macam tetek bengek kriptografi untuk kepentingan pemerintah NKRI.

Saya tidak kesulitan menamatkan buku ini. Buku ini menyitir kembali buku-buku yang telah saya tamatkan yaitu "Doorstoot naar Djokdja" karya Julius Pour dan biografi Jenderal Spoor karya J. A. de Moor. Buku ini ditulis dengan sistematis dan memiliki daftar pustaka sebagaimana layaknya buku-buku sejarah. Untuk saya, hal ini adalah sangat penting. Agar "Kode Untuk Republik" tidak hanya menjadi penghias di perpustakaan Lembaga Sandi Negara semata. Tetapi juga, menjadi lentera bagi republik.

Judul        : Kode Untuk Republik
Penulis        : Pratama D. Prasadha
Penerbit    : PT. Marawa Tiga Warna
Tahun        : 2015
Tebal        : 237 hal.
Genre        : Sejarah Indonesia

 
Cipayung, 23 Agustus 2016.

Kelakar #TanpaBatas

"Saya nggak ada masalah sama alay. Tapi, mereka itu ateis, nggak percaya sama Tuhan... Mereka percayanya sama: 7uh4N."

Melirik statement dari judul, buku semi-biografi milik Sammy @notaslimboy ini agaknya sengaja memprovokasi pembaca. Provokasi semacam ini tentunya sudah sangat lumrah bagi pembaca awam: untuk menaikan oplah atau supaya buku jadi best seller dan dicetak ulang berkali-kali. Namun, dalam bukunya ini Sammy tidak menempatkan dirinya ke arah itu. Sammy Si Anak Kolong ini memprovokasi pikiran pembaca supaya benar-benar tanpa batas, dalam memahami konteks stand-up comedy dalam arti luas.

Courtesy: www.goodreads.com

Sammy tidak hanya menulis hal-hal tentang dirinya saja. ia menulis juga keresahan-keresahannya di jagad perstand-upcomedy-an. Sammy membagi tiga cerita besar. Pertama, mengenai Curhat Sosial. Sebuah otokritik tentang sebuah sistem sosial kemasyarakatan yang sangat lekat dengan keseharian kita. Kedua, Politik Menggelitik. Sammy secara gamblang dan tanpa batas melontarkan ocehannya yang      IMHO menampar para politisi di ujung sana. 

Terakhir, Sammy bicara soal Komedi. Sammy bercerita beberapa detail kehidupannya setelah menjadi Comic, yang kini menjadi banyak dikenal orang. Sammy juga menceritakan pengalamannya selama merancang dan mengeksekusi show tunggal pertamanya. Event itu diberi judul sama, #TanpaBatas. 

Anyway, saya menikmati betul buku ini. Tulisan Sammy membuat saya betah dan tidak bosan untuk terus mengulang pembacaan. Saya sendiri merasa seperti sedang membaca script yang ditampilkan Sammy di panggung. Sesekali nyengir sendirian sambil membaca celoteh Sammy memang bisa jadi sebuah rekreasi, demi menghilangkan kejenuhan khas pekerja ibukota. 

Dengan demikian, #TanpaBatas memang harus dimaknai dengan cara yang tidak terlalu serius namun harus dipahami secara serius bahwa ini semua hanyalah sebuah kelakar. Kelakar yang tanpa batas.

Judul        : Kelakar #TanpaBatas: Cuap-cuap Menggelitik Seorang Comic
Penulis     : Sammy @notaslimboy
Penerbit    : Penerbit GagasMedia
Tahun       : 2013
Tebal        : 176 hal.
Genre       : Komedi

Cipayung, 21 Agustus 2016.

Sabtu, 30 Juli 2016

Catatan untuk Buku Baru Emha: Refotnasi

Image Courtesy: www.goodreads.com
Belum selesai pembacaan buku kumpulan puisi Cak Nun, ‘Seribu Masjid, Satu Jumlahnya: Catatan Tahajud Cinta Seorang Hamba’, saya segera menghampiri toko buku langganan untuk mendapatkan edisi terbaru ‘Mati Ketawa ala Refotnasi: Menyorong Rembulan’. Terus terang, saya tidak ingin ketinggalan satu pun edisi terbaru dari buku-buku Emha. Saya tidak ingin menyesal dan terus penasaran dengan jalan pikiran Cak Nun yang selalu mendekonstruksi cara pikir saya sebelumnya.

To be honest, sebelum benar-benar bisa membaca buku ini, saya masih menduga bahwa buku ini adalah kelanjutan tulisan Emha setelah ‘2,5 Jam di Istana’. Benar saja, ada statement bahwa buku ini merupakan semacam lanjutan dari buku itu. Emha benar-benar turun dan menemani kaum yang dilemahkan dan terpinggirkan untuk senantiasa memperbarui segenap ikhtiar untuk menyikapi keadaan bangsa di era awal reformasi.

Saya jadi teringat pada syair dari lagu “Shalli Wassalim” yang ada di album Emha Ainun Nadjib berjudul “Berhijrah dari Kegelapan”.

Sayang, sayang, sayang, orang hebat tinggi hati...
Omong demokrasi, pidato berapi-api...
Ternyata karena menginginkan kursi...
Sementara rakyat, kerepotan cari nasi...

Entah ada hubungannya atau tidak, antara reformasi dan repot nasi, saya anggap buku ini adalah kesaksian Emha pada suatu masa di republik tercinta ini. Satu kesaksian agar kita mampu berkaca, untuk senantiasa istirahat sejenak, menatap ke dalam diri demi menjawab satu, ribuan, atau bahkan jutaan pertanyaan yang belum selesai. Tentang bagaimana reformasi melanda bangsa ini. Pun, kenapa bangsa yang katanya bangsa yang besar ini jadi kerepotan cari nasi.

*tulisan ini dibuat setelah membeli buku Cak Nun yang terbaru “Mati Ketawa ala Refotnasi” dan membaca artikel dengan judul sama di bagian akhir buku. 

Pharmindo, 30 Juli 2016.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...