Jumat, 10 Maret 2017

Kaldu Ikan

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak tahu mengapa karya yang cukup bersejarah ini dinamai ‘kaldu ikan’. Entah karena memang dalam konteks perayaan setengah abad hubungan bilateral Indonesia-Jepang sehingga untuk menghormati kebiasaan makan ikan orang Jepang dipilihlah judul itu. Sejatinya, kaldu adalah hasil turunan dari produk protein hewani. Maka dari itu, untuk mengambil simpulan yang lebih sederhana kita anggap saja kalau kaldu ikan ini adalah hasil turunan dari dialog dan dialektika kebudayaan dua negara sahabat, Indonesia – Jepang. Ada pendapat lain? Silakan. 

Komik yang bertajuk ‘Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang’ adalah sebuah karya kolaboratif. Proyek ini digagas oleh Takahashi Mizuki dan Ade Darmawan untuk menerbitkan buku kompilasi komik di Indonesia yang merupakan karya seniman Indonesia dan Jepang. Komik ini diterbitkan sebagai bagian dari “KITA!!: Japanese Artists Meet Indonesia” yang diselenggarakan untuk merayakan 50 tahun hubungan diplomatic bilateral Indonesia-Jepang. Pameran itu juga diikuti oleh 50 seniman yang aktif dan giat berkespresi di berbagai bidang, mulai dari seni, desain, manga, hingga tata boga.

Menariknya, komik ini juga bisa didapatkan secara gratis di berbagai lokasi pameran di Jakarta (The Japan Foundation, ruangrupa), Bandung (Selasar Sunaryo Art Space), dan Yogyakarta (Museum Nasional Yogya, Rumah Seni Cemeti, Lembaga Indonesia Perancis, Ruang Mes 56). Selain itu, anda bisa mendapatkan komik ini langsung dari komikusnya. Walaupun gratis, komik ini hanya dicetak 3000 eksemplar saja. Saya beruntung jadi satu dari 3000 orang pemilik komik ini.

Ide komik ini digagas oleh Ade Darmawan (curator ruangrupa) dan Takahashi Mizuki yang seorang seniman asal Jepang. Takahashi, menyinggung soal komik Jepang yang tidak diimpor oleh Indonesia. Komik buatan seniman Jepang dalam ‘Kaldu Ikan’ ini bukan diciptakan atas dasar strategi untuk mengincar kesuksesan eksplosif secara komersial. Oleh karenanya, tidak mudah untuk diekspor dan impor. Selain itu, identitas gaya ekspresi yang khas dan tetap memiliki jalur akses pada sastra, kesenian, desain, dan sebagainya itulah yang menjadikan keempat komikus ini mendapat tempat di perayaan ulang tahun bilateral Indonesia-Jepang.

Sementara, Ade Darmawan menganggap terbitnya komik kolaborasi ini sebagai energy baru dari sebuah pertukaran gagasan interdisiplin yang intens sehingga pengkayaan gagasan dari disiplin lain terjadi. Komik harus mempunyai keluasan wawasan dan kontekstualitas. Kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya seperti sastra, social-politik, sejarah, arsitektur, filsafat dan lainnya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya komik yang kaya akan gagasan lain selain “menggambar”. 

Pilihan keempat komikus Indonesia dalam komik ini adalah karena masing-masing dari mereka memperlihatkan keberagaman pendekatan yang sangat kuat dalam bertutur melalui gambar yang telah secara intens mereka lakukan dalam waktu yang cukup lama. Gambar hanya sebuah pintu awal yang atraktif dalam mengundang kita ke lapisan-lapisan gagasan lainnya. Bila anda menginginkan sebuah nama besar, Beng Rahadian ada dalam deretan komikus “Kaldu Ikan”.

Untuk saya pribadi, komik ini justru terbit usai selesainya skripsi komik saya. Sehingga, saya tidak bisa menambahkan dimensi lain dari seni komik Jepang (manga) dan perkembangan komik yang lebih actual di Indonesia. Komik favorit saya adalah komik karya Dwinita Larasati yang berjudul “Prajab 12 Desember 2007”. Barangkali, ini terkesan subjektif karena saya mengalami juga yang namanya Diklat Prajab pada Maret 2011. Namun, jauh sebelum Diklat Prajab, saya sudah menyenangi bahasa gambar buatannya. Storyline yang berurut serta ilustrasi yang mengingatkan akan kenikmatan kuliner khas kota Bandung (yang ini alasan subjektif).


Judul           : Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang
Penulis        : Takahashi Mizuki, Ade Darmawan (ed.)
Penerbit       : The Japan Foundation
Tahun          : 2008
Tebal          : 126 hal.
Genre          : Komik

Medan Merdeka Barat, 9 Maret 2017.

Kamis, 09 Maret 2017

RIP Tommy Page

Sumber gambar: Wikipedia


Saya tidak pernah akrab dengan Tommy Page kecuali saat begitu menikmati single "A Shoulder To Cry On" medio 2005. Lagu yang begitu mendayu-dayu soal urusan hati. Dan itu hanya berlangsung pada saat itu saja. Selebihnya, saya hanya tahu bahwa Tommy Page ini pernah berkolaborasi dengan New Kids On The Block, satu dari sekian Kings of Pop tahun 1990-an.

Tommy Page lahir pada tanggal 24 Mei 1970 dan meninggal dunia tanggal 3 Maret 2017 kemarin. Teka-teki masih menyelimuti kematiannya. Dugaan overdosis masih belum bisa dibuktikan dan menunggu hasil investigasi lebih lanjut. Sekilas, mengingatkan kita pada kematian Michael Jackson dan Whitney Houston.

Life is full of lots up and down, once you said. Now, you've found it was all over. Thank you, Tommy. You are the shoulder to cry on for the ones who still loves you.

Medan Merdeka Barat, 5 Maret 2017.

Selasa, 28 Februari 2017

Thought of the Day

A repost from Adhitya Mulya's personal blog. Just to remind me something.

A new virtue in life. Worth living for.

When we …………………. (all below options apply) one person, there’s something wrong with him/her.
When we …………………. (all below options apply) alot f people, there’s something wrong with us.

1. do something bad to
2. over-critical to
3. are condescending to
4. are bitchy to
5. cannot understand


Cipayung, 27 Februari 2017.

Secangkir Kopi Jon Pakir

Siapa bilang anak orang kaya pasti pintar dan anak orang miskin pasti goblok. Memangnya Tuhan bodoh! Kok bikin aturan begitu! (Si Kembar Bodoh Pintar, hal. 21-22)
 
Sumber gambar: Goodreads
 
Seumur saya membaca Emha saya baru tahu kalau beliau ini pandai meracik kopi. Tidak pernah ada guyonan dalam video-video yang saya tonton lewat YouTube bahwa Cak Nun mampu meracik kopi. Kalau memang begitu, barangkali saya yang terlalu mendenotasikan arti kopi, sehingga kopi yang dimaksud adalah kopi yang biasa kita nikmati. Kopi seduh kental encer manis atau pahit.
 
Kopi racikan Mbah Nun dalam buku keempatnya yang diterbitkan oleh Mizan ini misalnya, tentu bukanlah kopi sebagaimana yang lazimnya kita nikmati sembari menghirup udara pagi. Kopi racikan Jon Pakir ini adalah kopi yang digiling dengan persoalan-persoalan hidup masyarakat kelas bawah yang diungkapkan lewat bahasa jelata, sederhana, dan jenaka.

Jon Pakir adalah nama yang dipilih sendiri olehnya. Sang Ayah, Masa Kini, membiarkannya untuk menentukan pilihan sendiri. Suatu hal yang tidak umum karena negara sebesar ini pun ternyata tidak mampu memilih jalannya sendiri. Sila pembaca menafsir sendiri arti dari Jon Pakir, apakah ada kaitannya dengan 'fakir' yang asli bahasa Arab itu atau hanya nama serapan belaka yang dilafalkan oleh orang Sunda. Silakan. Yang jelas, pembaca tidak akan pernah tahu apa hubungan Jon Pakir dengan Cak Markesot.

Keterlibatan Emha yang intens dengan mereka itulah yang membuat esai-esainya tampak hidup, bergairah, dan mewakili perasaan kita yang sesama kelas masyarakat yang terpinggirkan. Emha tampak asyik membuat si Jon Pakir menertawakan dirinya sendiri maupun dalam menghadapi surat-surat pembaca yang memberi kritik padanya.

Kumpulan esai santai ini adalah tulisan-tulisan Emha yang diterbitkan oleh 'Masa Kini', sebuah surat kabar daerah di Yogyakarta. Buku ini menghimpun segenap ide Emha pada rentang waktu 17 Juni 1987 hingga 22 Juli 1988. Maka dari itu, kiranya pembaca yang budiman mungkin akan mengalami kesulitan tatkala menerka-nerka subjek apakah yang menjadi pembahasan Emha. Namun, tidak menutup kemungkinan lain bahwa hal-hal yang sudah usang menjelang usainya dekade 80-an tetap aktual hingga saat ini. Hingga saat buku ini diterbitkan kembali dengan format yang baru.

Untuk itu, apabila pembaca yang budiman ingin menarik simpulan atau hipotesis sementara mengenai keadaan masyarakat negeri ini pada akhir dekade 1980-an dan menjelang akhir dekade 2010-an, buku ini membuka peluang ke arah sana. Sila pembaca menafsirkan sendiri pola-pola yang digunakan penguasa untuk memantapkan kekuasaannya.

Saya mencatat satu kutipan dari satu artikel Jon Pakir:
 
Silakan berbuat jahat, korupsi, mentang-mentang, ber-adigang adigung adiguna, tetapi begitu kita makin terseret ke dekat liang kubur: kita cenderung makin religius. Makin tahu apa yang asli pada hidup ini, apa yang inti dan yang paling kita butuhkan. (Grup Tahlilan Sewaan, hal. 219-220)
 
Kutipan diatas seakan ingin menegaskan bahwa kita ini memang tidak pernah tahu apa yang kita tuju dalam hidup ini. Sehingga kadang segala macam tindak tanduk kita tidak pernah sesuai dengan kemauan Tuhan. Padahal Tuhan sudah bermurah hati dengan membiarkan kita menghirup oksigen setiap pagi. Gratis!

Saya sangat menikmati kumpulan tulisan Emha yang kesekian ini. Tulisannya mudah dicerna, maknanya jelas, dan tidak perlu repot-repot berpikir soal konteks atau lain-lainnya. Aktualitas buku ini masih terasa benar dengan kondisi Republik yang semakin buta mana utara mana selatan. Sementara itu, silakan nikmati Kopi Jawa, Kopi Brasil, Kopi Sekuler, Kopi Masa Kini, Kopi bikinan Jon Pakir....

Judul           : Secangkir Kopi Jon Pakir
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Mizan Pustaka
Tahun          : 2016
Tebal           : 348 hal.
Genre           : Esai-Sosial Budaya
 
 
Cipayung, 23 Februari 2017.

Base Jam Reunion

Sumber gambar: www.joox.com
 
 
Awalnya
 
Saya tidak pernah tahu bahkan dapat kabar sekalipun tentang album reuni Base Jam ini. Entah karena saya memang nggak update atau memang hanya menaruh perhatian pada reuni The Groove. Entahlah, yang jelas saat album 'Base jam Reunion' ini tercantum dalam daftar album di in-flight entertainment GA110, saya merasa ada sesuatu yang terlewatkan.
 
The Album

Album ini memang bukan sesuatu yang baru. Tapi bila mengartikan judulnya, maka jelaslah bahwa album baru hasil reuni ini didedikasikan bagi fans mereka. Kemunculan Base Jam di acara Musicpedia Trans7 juga semakin menguatkan anggapan bahwa album reuni ini bakal terlaksana seperti sekarang.

Tidak ada materi yang baru dari lagu-lagu dalam album ini. Dua lagu recycle yaitu "Jatuh Cinta" dan "Rindu" pun hanya mengalami aransemen ulang ditambah dengan lantunan vokalis baru mereka. Keduanya terdengar lebih soft dan ringan. 

Untuk fans Base Jam generasi 90-an yang mengalami masa emas mereka, tentu hal ini sangat menyenangkan namun sekaligus juga agak 'mengganggu'. Menyenangkan karena kreativitas mereka masih ada namun 'mengganggu' karena ekspektasi/harapan subjektif setiap fans, seperti saya.

Album ini sendiri menurut saya sudah berhasil merangkum segalanya tentang Base Jam. Kumpulan lagunya pun berhasil menceritakan perjalanan karir band yang terbentuk pada 15 Januari 1994 ini. Lagu-lagu hits seperti Bermimpi (1996); Rindu, Jatuh Cinta (1997); Bukan Pujangga (1998); Menanti Bintang Jatuh (2000); Takkan Berpaling Cinta, Maaf Ku Tetap Mencintaimu (2001); Hujan Tanpa Awan, Denganmu Tanpamu (2002); dan Sayang (2010).

Saya sangat menikmati album ini. Apalagi, kehadiran Base Jam sejak awal sudah menarik perhatian dengan formasi dua vokalis dan seorang bassist perempuan. Suatu hal yang tidak biasa pada zaman itu. Andaipun boleh memberi komentar, daripada membuat versi recycle "Jatuh Cinta" dan "Rindu", lebih baik menambahkan lagu lain seperti "Bukan Yang Terindah" yang lebih kekinian, "Adik Kecil" atau "Radio". Walaupun nantinya tracklist album ketiga mereka 't3ga'  jadi lebih banyak.

Anyhoo, Base Jam is back. Selamat menikmati!

Cipayung, 20 Februari 2017.

Senin, 27 Februari 2017

Petikan (2)

.....

Lima
 

Orang dungu dan orang pandai
Mengarang tubuhnya sendiri-sendiri
Diramu berdasar sangkaan dan keinginan
Yang tak diuji dan tak dijernihkan
 

Ramuan tuhan-tuhanan dijadikan gincu
Dioleskan ke bibir
Dijajakan ke sana-kemari
Agar laris dagangan duniawi
 

Tuhan dijadikan suku cadang
Untuk membuat peluru dan senapan
Dibubuhkan namanya di surat-surat keputusan
Dikurung dalam kandang kambing-kambing hitam

 

Enam
 

Orang lain berteku-tekun sembahyang
Sambil merendahkan orang lain dan menajiskan
Tuhan dimonopoli
Diakui sebagai miliknya sendiri

Orang yang sembahyangnya gagal sembahyang
Tak menemu kesejatian
Orang yang sembahyangnya berhala
Syari'at-lah tuhannya

 

Tujuh
 

Yang bukan tuhan dituhankan
Yang tuhan tak dijadikan sesembahan
Orang mabuk di putaran gelombang
Terseret dari salah paham ke salah paham

Kekuasaan dan kemegahan
Uang dan segala bentuk kekerdilan
Berfungsi tuhan
Karena dinomorsatukan

 

Delapan
 

Tuhan disederhanakan
Menjadi kayu pagar berbaris
Terbuntu jalanan ke cakrawala
Langit ditutupi awan jelaga

Jiwa lapar umat
Dicekoki penafsiran dusta
Hati mereka yang dahaga
Dijawab dengan paham syari'at yang buta

Sampai tiba suatu hari
Engaku ditanya oleh dirimu sendiri
Siapakah Tuhan hidupmu, ya shahibi?
Kau jawab: Umara dan Ulama, tak ragu lagi

 

Sembilan
 

Tuhan sudah sangat populer
Sudah dijadikan komoditas yang amat sekuler
Diiklankan dengan indahnya
Disebut dan dimanfaatkan di mana-mana

Allah yang sebenarnya
Mahasuci Dia
Dari ludah segala jenis Fir'aun
Yang merasuki tulang sumsum




Petikan dari puisi "Tuhan Sudah Sangat Populer", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 107-109, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 16 Februari 2017

Petikan (1)

Gusti
Kami pasrah sepasrah-pasrahnya
Kami telanjang setelanjang-telanjangnya
Kami syukuri apa pun
Sebab rahasia-Mu agung
Tak ada apa-apa yang penting
Dalam hidup yang cuma sejenak ini
Kecuali berlomba lari
Untuk melihat telapak kaki siapa
Yang paling dulu menginjak
Halaman rumah-Mu

Gusti
Lihatlah
Mulut kami fasih
Otak kami secerdik setan
Jiwa kami luwes
Bersujud bagai para malaikat-Mu
Namun saksikan
Adakah hidup kami mampu begitu?
Langkah kami yang mantap dan dungu
Hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
Arah mata kami yang bingung dan tertipu
Akan sanggupkah melunasi hutang kami
Kepada kasih cinta penciptaan-Mu?

Gusti
Masa depan kami sendiri kami bakar
Namun betapa Engkau bijaksana
Kelakuan kami semakin nakal
Namun kebesaran-Mu Mahakekal
Nafsu kami semakin rakus
Tapi betapa rahmat-Mu tak putus-putus
Kemanusiaan kami semakin dangkal
Sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

Gusti
Kamilah pesakitan
Di penjara yang kami bangun sendiri
Kamilah narapidana
Yang tak berwajah lagi
Kaki dan tangan ini
Kami ikat sendiri
Maka hukumlah atau ampuni kami
Dan jangan biarkan terlalu lama menanti



Petikan dari puisi "Doa Pesakitan", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 100-101, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 15 Februari 2017.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...