Selasa, 16 Januari 2018

Selamat Jalan, Habib

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Umat Islam kembali berduka dengan meninggalnya Habib Abdurrahman Muhammad yang merupakan cucu Habib Ali Kwitang meninggal dunia kemarin (Senin, 15/01) di Pondok Gede. Almarhum meninggal dunia selepas Isya di Rumah Sakit Haji Pondok Gede.

Habib Abdurrahman merupakan penerus dakwah dan pimpinan Majelis Ta'lim Habib Ali Al Habsyi di Kwitang. Ia wafat di usia 75 tahun. Almarhum adalah putra kedua dari tujuh bersaudara. Beliau dimakamkan di Pemakaman Keluarga di Masjid Al Riyadh.

Mendengar kabar meninggalnya Habib Kwitang membuat saya tiba-tiba teringat pada satu Hadits Rasulullah SAW. Sungguh bahwasanya Allah SWT menggenggam ilmu dengan mewafatkan para Ulama. Dalam pikiran selintas, meninggalnya Habib Abdurrahman ini jadi penanda. Sebuah tanda bahwa zaman semakin tua. Allah SWT telah menunjukkan tanda-tanda kuasaNya.

Semoga Habib ditempatkan bersama orang-orang saleh di surga Allah SWT. Semoga dilapangkan alam kuburnya. Semoga jamaah yang ditinggalkan senantiasa bersabar dan mengamalkan ajaran-ajaran beliau.

Cipayung, 16 Januari 2018.

RIP Dolores



Awal tahun 2018 ini dunia musik internasional kembali kehilangan seorang frontman. Dunia panggung kehilangan Dolores O'Riordan, vokalis band The Cranberries. Perempuan asal Irlandia itu meninggal dalam usia 46 tahun di London. Rencananya, ia akan berada disana dalam rangka sesi rekaman pendek.

Pelantun hits terkenal seperti 'Dreams', 'Zombie', 'Salvation', 'Linger', 'Promises', dan 'Just My Imagination' ini merupakan seorang panutan bagi setiap penggemarnya. Dolores juga adalah sosok inspirasional bagi band-band yang memiliki vokalis perempuannya. Menurut kantor berita Reuters seperti dikutip Rolling Stone, penyebab kematiannya masih belum dapat diketahui dan masih dalam status 'unexplained'.

Dolores berkiprah bersama The Cranberries sejak tahun 1989 silam. Dengan segala prestasi yang mereka capai majalah Rolling Stone sempat menamai mereka 'Ireland's Biggest Musical Export since U2'. Tidak berlebihan rasanya mengingat perjalanan mereka hingga saat ini Dolores tidak lagi bersama.

Saya turut merasakan sendiri bagaimana sulitnya memilih lagu apabila membentuk 'band dadakan' dengan vokalis perempuan semasa sekolah dulu. Mau ikut The Corrs rasanya terlalu sulit dan kompleks. Jarang ada anak perempuan mau menyumbangkan suaranya untuk mengimbangi vokal Andrea Corrs. Jadi, memainkan satu dari sekian hits The Cranberries adalah pilihan yang paling masuk akal. Penonton tidak akan terlalu peduli apakah vokalnya fals atau terlalu rendah. They will still hear the band playing.

Anyway, si anak tunggal dari tujuh bersaudara ini telah tiada. Namun, jejak langkahnya telah memberikan energi dan inspirasi. Goodbye, Dolores. You are now free from their tanks and their bombs.

Jurangmangu, 16 Januari 2018.

Sabtu, 06 Januari 2018

Selamat Jalan, Om Yon

Sumber gambar: musixmatch.com
Jum'at pagi ini saya seakan tidak percaya ketika membaca running text sebuah stasiun televisi. Isi berita nan singkat itu ibarat sebuah pesan telegram: Yon Koeswoyo meninggal dunia.

Tulisan ini dibuat pada Jum'at malam saat acara "Mengenang Yon Koeswoyo" disiarkan Lembaga Penyiaran Publik tercinta kita. Sebuah pentas kecil yang mengulang kembali kejayaan Koes Plus dengan menampilkan generasi kedua mereka. Acara yang juga menandai perjalanan 30 tahun Koes Plus berkarya. Om Yon terlihat masih segar.

Saya mulai akrab dengan karya Koes Plus lewat album 'Pantun Berkait' yang sering diputar Bapak selepas adzan Isya. Lirik lagu 'Perasaank begitu mengena pada saya. Pun, 'Tangis Dihatiku'. Suara Om Yon selalu terngiang-ngiang setiap ingat lagu-lagu itu.

Saya belum paham betul sebab meninggalnya Om Yon. Saya belum membaca berita apapun mengenai kabar duka ini. Apapun itu, Om Yon kini meninggalkan kita dan telah beristirahat bersama dengan Om Tonny dan Om Murry.

Om Yon telah pergi, entah dengan menitipkan tangis dihatinya atau tidak. Namun, beban hidupnya kini tak lagi berat karena betapa megah hidupnya kau bilang, dalam tidurmu semua akan hilang. 


Medan Merdeka Barat, 5 Januari 2018.



Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 Desember 2017

Selamat Tahun Baru 2018


Sumber gambar: saboronthebay.com

Ya Tuhan kami, jadikan tahun ini tahun yang kami isi penuh dengan kebaikan dan kami hias dengan penuh keindahan. 

Ya Tuhan kami, jadikan tahun ini sebagai tahun yang bertabur ilmu, utamanya bagi anak-anak kami, pemimpin-pemimpin kami.

Ya Tuhan kami, jadikan tahun ini senantiasa penuh keberkahan, kabulkan doa kami dan bimbinglah kami dalam hidayah-Mu.


Cipayung, 1 Januari 2018

Bola-Bola Nasib

Will be posted here soon.

AKU: Sesudah

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Terus terang, saya tidak mengharapkan sebuah kejutan nan eksplosif dalam buku ini. Sebagai sebuah skenario mengenai (sebagian) perjalanan hidup Chairil Anwar tentulah ada beberapa hal yang bisa saja hilang karena pembermaknaan yang berbeda. Tentang bagaimana narasi dan teks skenario dipahami secara tekstual ataupun melalui imajinasi visual. Namun, saya tentulah merasa sangat bahagia karena melalui pemahaman tekstual pada buku ini saya dapat membuat imajinasi buatan saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Chairil yang tiba-tiba saja masuk ke rumah Oomnya, Syahrir, yang dulu Perdana Menteri itu semasa zaman Republik. Pun, ketika Chairil nyelonong begitu saja ketika ikut naik kereta rombongan Perdana Menteri ke Yogyakarta. 

Lewat buku ini, setidaknya pembaca bisa dibuat paham mengenai suasana apa yang membuat sajak-sajak Chairil Anwar menjadi begitu menggelora, kadang-kadang syahdu, dan tiba-tiba mengandung kepasrahan yang total pada Si Penciptanya.

Setidaknya saya mendapatkan jawaban tentang latar suasana yang mebuat sajak ‘Aku’ menjadi legenda sepanjang masa. Tentang mengapa ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ bisa menjadi begitu syahdu, ketika Chairil termenung di pinggir pantai. Juga, penggalan syair ‘...Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu...’ yang pernah saya baca dalam satu cerpen milik Seno Gumira Ajidarma, yang tercipta semasa Agresi Militer Belanda I.

Khusus untuk timeline Agresi Militer Belanda I, tercipta pula sebuah sajak perjuangan yang selalu dikenang warga Bekasi-Krawang, ‘Antara Krawang-Bekasi’. Maklum, Chairil diceritakan telah menikah dengan seorang gadis dari Karawang bernama Hapsah, Dari Hapsah pula Chairil memiliki seorang putri yang dinamainya, Evawani.

Memasuki bagian akhir, saya merasakan aroma kehilangan yang semakin menguat. Chairil agaknya tidak kuasa menahan penyakitnya hingga ia harus menyendiri di sebuah kamar yang dicarikan khusus untuknya. Perkawinannya dengan Hapsah pun harus berakhir, ia digugat cerai. Sebuah adegan yang membuat saya bergetar kala Chairil Anwar menggendong Evawani sebentar sebelum Ibunya datang. Ah, tokoh kita ini juga seorang manusia.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, rupanya Chairil Anwar sudah mampu meramal kematiannya sendiri. Ia sudah merasakan maut itu datang sebelum Malaikat Maut benar-benar melaksanakan tugasnya. Ia sudah menulis ‘...rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang)...’. Chairil Anwar sudah tahu ia akan berpulang kemana. Masalahnya hanya soal waktu saja, entah kapan.

Tidak diragukan lagi bahwa Chairil Anwar-terlepas dari segala kontroversinya soal sajak-sajak saduran dan terjemahan-adalah seorang pionir sastra Indonesia. Chairil Anwar menandai tonggak lini masa sastra Indonesia dengan menamai angkatannya sebagai ‘Angkatan 45’. Chairil masih berseru: “Revolusi!”, menjelang akhir-akhir masa hidupnya. Sebuah pernyataan yang tabah dan berani seakan-akan ia masih akan hidup seribu tahun lagi.

Judul           : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis        : Sjuman Djaya
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2017
Tebal           : 155 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Skenario

Cipayung, 29 Desember 2017.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...