Kamis, 31 Desember 2020

Surat Akhir Tahun

Assalammualaikum, Bapak.

Entah dimana Bapak berada saat ini. Kami selalu berharap bahwa Bapak berada dalam lindungan Allah SWT. Apakah Bapak sudah bertemu dengan para sesepuh kita? Apakah Bapak diberi tahu Eyang Kung, kalau saya bulan September tahun lalu mengunjunginya ke Jombang? Terlalu banyak yang saya ingin tanyakan, Pak. Namun, rasanya itu semua itu tidak mungkin. Biar hari-hari penuh rindu ini hanya saya rasakan begini saja. Boleh lah Bapak mampir dalam mimpi barang sejenak. Biar saya merasakan kehadiran Bapak, walau hanya sementara saja.

Pak,

Alde sudah 5 tahun dan sudah disunat. Cucu pertama Bapak itu sekarang juga sudah jadi murid TK. Dulu, Bapak selalu berharap kesampaian untuk mengantar jagoan kami itu untuk sekolah TK. Namun, kenyataan kadang tidak seperti pesanan kita di restoran. Selalu datang sesuai pesanan. Allah punya rencana lain. 

Saya tidak tahu harus bagaimana dalam menghadapi persoalan sunatan kemarin. Saya rasa, Mas belum waktunya disunat, namun gatalnya sudah mulai mengganggu. Saya mau istikharah tapi waktunya semakin dekat dengan liburan. Jadi, ya sudah saya putuskan untuk disunat saja tanggal 13 kemarin. Saya akhirnya lega karena Mas sudah menghadapi momen 'sakral' itu. Momen yang saya dulu tidak bisa hadapi di umur yang baru 5 tahun.

Pak,

Belum usai dengan Corona, dunia hari ini rasanya semakin dijauhkan dari Tuhan. Saya tidak tahu bagaimana Bapak dan sesepuh disana melihat tingkah laku kami disini. Tidak ada yang bisa kami percaya benar selain Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kami mohon maaf, Pak. Kami belum sempat naik bukit Sariwangi untuk menengok Bapak. Hati saya tidak enak betul menjelang akhir tahun ini. Mungkin bawaan tahun sebelumnya dimana hujan yang tak kunjung reda membawa petaka bagi sebagian kami. 

Al-Fatihah, untuk Bapak.

Wassalam.

Cipayung, 30 Desember 2020

Sunatan

Nak,
 
Baru genap 5 tahun umurmu, namun Bapak harus berani mengambil sebuah keputusan besar. Ya, apalagi kalau bukan sunatan atau khitanan. Sebuah momen 'sakral' untuk anak laki-lak. Bapak harap keputusan kali ini adalah yang terbaik.
 
Ingatan Bapak melayang pada suatu waktu dimana Bapak sempat menjadi Panitia Sunatan Massal. Waktu itu Bapak bertugas sebagai penjaga kaki anak-anak yang akan disunat. Maksudnya, Bapak menjadi orang yang memegang kaki anak-anak itu bila mereka meronta kesakitan. Lumayan, bapak harus menghadapi 30-an anak dengan segala macam kondisinya. Sampai Bapak tak mampu makan sate barang seminggu.

Bapak sanggup melihat bagaimana anak-anak itu disunat. Namun, hati Bapak rasanya sama teriris saat melihatmu disunat. Bapak tidak sekuat itu, Nak. Kamu harus lebih kuat dari Bapak, kelak.

Teknologi persunatan rupanya sudah mengalami banyak kemajuan. Bila waktu itu, dengan sunat metode laser anak-anak bisa bermain kembali dalam waktu sekitar 3 hari, kini dengan metode klem, kamu bisa jalan tenang mondar-mandir setelah sunat. Mungkin, baru mulai merasa sakit ketika efek obat penghilang nyeri hilang. Kami dulu lebih payah, walau hanya untuk sekedar berjalan ke kamar mandi.

Nak,

Sungguh Bapak akui keberanianmu. Untuk anak lima tahunan, kamu sudah terlatih menghadapi rasa sakit. Bapak salut karena Bapak pun tidak seberani itu dulu tahun 1996. Sayangnya, Akung dan Uti tidak sedang bersama kita disini. Mendampingimu di momen sakralnya anak laki-laki.

Bagaimanapun itu, tentu Bapak dan Ibu berharap kebaikan selalu bersamamu. Hari ini, esok, dan seterusnya. Jadilah matahari kami yang paling bersinar!


Cipayung, 13 Desember 2020.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...