Minggu, 29 Maret 2015

Indonesia 1998: Penggalan Sejarah dalam Kartun

Pada satu wawancara di televisi, Muhammad “Mice” Misrad menyebutkan bahwa ia sudah mulai berkarya membuat kartun saat Indonesia mengalami periode runtuhnya Orde Baru. Ia juga menyebutkan satu judul karyanya ini yang terbit pada tahun 1998. Saya mulai penasaran dan mencari judul yang dimaksud. Maklum, selama ini saya secara terbatas mengenal Mice melalui kartun-kartunnya yang popular, seperti serial Lagak Jakarta dan Tiga Manula. Kartun Komentator Sepakbola kemudian masuk ke rak buku saya sebagai karya Mice pertama yang saya miliki.

 
Buku ini terbit kembali sebagai remake dari buku yang terbit tahun 1999 lalu dengan judul “Rony: Bagimu Mal-mu, Bagiku Pasar-ku”. Walaupun lahir kembali dengan kemasan yang baru namun muatan dan esensi yang dibawa pendahulunya tidak lantas luntur. Lihat saja bagaimana buku ini tampil dengan warna sampul merah dan teks putih serupa bendera kebangsaan Indonesia. 

Pergolakan yang terjadi selama periode kelahiran Orde Reformasi adalah taman bermain yang memacu kreativitas para kartunis. Lembaran-lembaran harian ibukota mulai ramai kembali dengan kolom-kolom gambar kartun. Mereka berbicara mengenai situasi dan isu-isu terkini yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Dengan demikian, kartun telah menjadi media yang memuat pesan masyarakat.



Mice mengangkat berbagai fenomena yang dialami masyarakat Indonesia saat itu. Mulai dari awal terjadinya krisis ekonomi hingga euforia kebebasan dimaknai sedemikian rupa oleh mereka yang lepas dari kekangan. Kebebasan berekspresi dan bermedia pun turut berperan besar dalam “mendidik” masyarakat dalam rangka pelajaran demokrasi reformasi. 

Masyarakat dihadapkan pada era keterbukaan, bahkan cenderung kebablasan. Mice menggambarkan situasi demonstrasi yang waktu itu menjadi trending topic. Pergerakan mahasiswa pun tak luput dari pandangan mata Mice. Apa saja yang tidak disetujui, maka masyarakat segera menggelar demonstrasi. Satu hal yang mustahil terjadi di masa Orde Baru.

Ada beberapa hal yang menggelitik saya dalam kumpulan kartun ini. Mice sangat jeli sekali menangkap hal-hal parsial yang tidak biasa. Mice mengingatkan kembali pada model bingkai kacamata yang tebal dan potongan rambut Ira Koesno yang juga jadi tren pada masa itu. Ingat, acara berita yang dibawakannya punya rating bagus saat itu.

Testimonial Seno Gumira Ajidarma dan Wimar Witoelar pada menambah nilai tersendiri dalam muatan dan kemasan pada edisi remake ini. SGA memberikan pandangan filosofis tentang bagaimana makna sejarah akan diterapkan dengan penerbitan kembali kartun ini. Sedangkan, Wimar Witoelar, yang memandu talkshow Perspektif Politik dan dibredel pada tahun 1995, berpesan bahwa kartun ini adalah cerita yang lucu dan efektif untuk menggambarkan kondisi Indonesia pada masa awal reformasi walaupun dibaca hari ini.

Picture fade away, but memory is forever. Satu gambar bisa bicara beribu makna. Agaknya, Mice telah membuat kesaksiannya tentang bagaimana roda sejarah bangsa berputar.
 

Judul        : Mice Cartoon: Indonesia 1998
Penulis     : Muhammad Misrad
Penerbit    : Octopus Garden
Tebal        : 125 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Kartun-Sejarah

Dharmawangsa, 29 Maret 2015.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...