Minggu, 27 November 2022

Nakamichi TWS1XS: A Review


Finally, pencarian saya untuk sebuah earphone TWS (true wireless stereo) berakhir pada Nakamichi TWS1XS. Padahal, ada banyak pilihan yang sudah masuk dalam keranjang belanja di marketplace Toko Ijo. Pilihan lainnya adalah beberapa seri dari Lenovo Thinkplus yang berada dalam range harga under 200ribuan.

Pengalaman sebelumnya dengan TWS KW berlabel JBL cukup membuat saya berhati-hati dalam spending budget, apalagi ini menyangkut soal kenyamanan telinga. Percayalah, produk KW dari sebuah brand besar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Kecuali, memang anda para pembaca yang budiman sengaja memilih produk KW tersebut agar tetap dilihat keren dan tidak ketinggalan zaman.

Saya juga pernah mencoba TWS dari brand lainnya yaitu Mi Fa, harganya diatas 200 ribu, tentu saja membuat saya urung membelinya walau kualitas suara yang dihasilkan sudah bagus untuk sekedar meeting di luar ruangan.

Pilihan jatuh ke Nakamichi karena ini adalah known brand untuk high-end audio di bidang otomotif. Saya jadi ingat waktu ganti head unit audio mobil, Sang Juragan Toko menawarkan head unit single din Nakamichi dengan harga yang reasonable, tidak sampai satu juta rupiah! Katanya, Nakamichi sedang reposisi market sehingga banyak pilihan harganya. Entah, mungkin karena hal itu pula Nakamichi menghadirkan banyak juga pilihan untuk TWS pada rentang harga di bawah 200 ribu.

Secara build quality, TWS1XS lumayan mewah, berbentuk bulat dengan ornamen transparan di bagian tutup flipnya. TWS ini dibekali baterai 200 mAh, dengan kekuatan 3.7 V, 0.74 Wh. Baterainya kuat dipakai lebih dari dua jam. Pastinya berapa? Belum saya coba karena saya belum menggunakan TWS1XS selama tiga jam lebih.

Saya sudah coba earphone ini  untuk menemani sepedaan selama 1 jam 20 menit dan tidak ada masalah berarti dalam penggunaannya, walau yang dipakai hanya yang sebelah kiri. Saya tetap harus waspada dalam berlalu lintas. Untuk dipakai online meeting, earphone ini masih bagus. Memang tidak terlalu kedap karena belum dibekali fitur pengedap suara dari luar. Tidak seperti saudaranya, TW110NC yang punya banyak fitur. Harganya pun tentu saja berbeda.

Yang paling berkesan dari earphone ini adalah suara yang dihasilkannya ketika menonton high quality video di Youtube atau mendengarkan high quality audio di Spotify. Suara bassnya bagus dan seimbang dengan treble yang dihasilkan. Pengalaman mendengarkan musik dengan TWS1XS menjadi lebih menyenangkan! Pun, ketika digunakan untuk mendengarkan pelajaran bahasa di Duolingo.

Akhirul kalam, saya tidak akan bercerita banyak lagi. Sila berselancar di Youtube untuk detail dan review-review lainnya. I would recommend this TWS earphone to you who love quality at a low price.
 

Cipayung, 27 November 2022.

Rabu, 26 Oktober 2022

This Notebook is My Bitch: 10 Tahun Kemudian

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Saya mendapatkan buku ini usai menamatkan pembacaan "Antologi Rasa" medio 2012, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Ika Natassa agaknya sengaja menerbitkan buku ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana menulis sebuah kisah, lebih jauh sebuah buku.

Bentuk buku ini juga tidak seperti buku tips penulisan praktis lainnya. Penulisnya memberi ruang yang cukup untuk menuliskan ide-ide cerita. Ini akan memudahkan siapapun yang ingin menulis karena diberikan panduan dan juga sekalian ruang tulisnya.

Pada saat buku ini diterbitkan, tidak ada banyak 'protes' tentang isinya yang bahasa Inggris semua. Saya, jujur saja, sangat menikmatinya. Pembaca Ika Natassa lainnya pun saya rasa setuju adanya. Berbeda dengan situasi belakangan ini, dimana pembaca baru Ika Natassa tidak banyak tahu atau membaca situasi sebelumnya, misalnya tentang mengapa Ika Natassa menulis cerita yang sedemikian rupa itu dalam karya-karyanya dan mengapa Ika Natassa menggunakan pilihan bahasa yang seperti itu. Alih-alih malah terdikotomi 'anak SCBD' dan "Bahasa Anak Selatan'. C'mon, wake up!

Saya selalu membaca buku ini ketika perlu inspirasi untuk menulis cerita pendek, terutama untuk mengingat kembali poin-poin dalam membangun konflik dan menguatkan karakter. Sudah lama sekali saya tidak menulis cerita dan membuat karakter tokoh pengisi cerita. Saya perlu membaca buku ini lagi!


Pajang, 26 Oktober 2022.

Jumat, 16 September 2022

Surat Cinta dari Fuzhou (lagi)

Cintaku,

Hari ini aku kembali ke Fuzhou. Seharusnya aku sudah berada disampingmu, saat ini. Seharusnya aku sudah menghapus peluhmu, Mencium keningmu dengan segenap perasaan. Penuh cinta dan romansa. Sayang sekali, kita tidak pernah bisa memilih takdir. Seperti saat kita menuang segelas bir.

Aku kembali pada suara gemuruh ombak yang sama. Entah berapa juta hari yang lalu. Aku kembali pada angin yang sama. Angin yang terbawa topan Muifa dari arah ShangHai sana. Aku kembali pada aroma yang sama. Aroma perpisahan yang selalu tidak pernah menyenangkan.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi. Apakah kembalinya aku ini meninggalkan jejak pada dia dan dirinya. Aku tidak pernah tahu apakah ini adil untuk mereka. Siapa bilang hidup ini begitu "fair" soal asmara dan membagi hati.

Manisku,

Sudah terlalu banyak perasaan di dunia ini. Setiap saat, setiap waktu, kita menciptakannya. Aku, engkau, kita, mereka, dan entah siapa lagi. Aku kembali menatap lampu-lampu jembatan yang masih sama warnanya seperti saat kutinggalkan. Gemerlap, serupa kilau auramu yang takkan pernah mudah untuk kulupakan.

Sayangku,

Agaknya, kali ini perasaaanku sedikit lega. Aku tahu akan menuju kemana. Aku akan pulang padamu. Kembali lagi padamu. Kembali seperti dulu. Saat desah nafasmu begitu dekat, dan engkau kupeluk erat.

Terimalah salam sayangku yang kesekian juta kalinya. Entah engkau masih mau apa tidak. Aku hanya tahu satu hal. Aku mencintaimu.


dari tempat paling sepi di dunia.
Teluk Haiying, Fuzhou. 14 September 2022

Surat Cinta dari ShangHai

Cintaku,

Akhirnya, aku tiba juga di ShangHai. Sebuah kota yang hanya pernah kita bayangkan. Sebuah nama yang hanya kita kenal lewat film-film Jacky Chan dan Andy Lau. Sebuah nama yang tidak pernah terlintas akan menjadi goresan dalam catatan kecil perjalanan kita. Aku merasakan denyut kota yang sama. Denyut kota yang pernah kita rasakan ketika mengitari Bundaran HI kala itu. Saat senyummu masih selalu menumbuhkan keraguanku.

Begitulah, cintaku. Aku memulai perjalanan yang kesekian kalinya ini di Hari Kemerdekaan Republik tercinta. Aku terdampar di pinggiran kota, namanya Minhang District, mungkin daerahnya seluas kecamatan. Aku akan memulai hari-hariku yang hanya seperti ini untuk entah berapa lama.

Aku teringat pesan darimu dulu. Engkau selalu bilang padaku untuk tidak pernah mengacaukan hari pertama. Hari pertama apapun itu. Aku berusaha memenuhi janjiku padamu itu. Aku jalani hari-hariku dengan selancar-lancarnya.

Manisku,

Hari-hariku disini kemudian adalah hari-hari penuh rindu. Hari-hari dimana suara-suara gemuruh kota selalu membawa ingatan ini kepadamu. Aku titipkan rindu pada angin. Aku titipkan rindu pada gelombang. Namun, mereka semua tidak pernah sampai kepadamu. Katanya, mereka dihantam badai topan di Laut Cina Selatan.

Aku pernah mencoba hilangkan sepi. Aku pergi menuju keramaian kota. Aku menuju pusat cahaya. Aku hanya mampu terdiam dan takjub. Aku takjub pada takdir yang membawaku kemari. Hanya untuk mengingat namamu dan mendoakanmu seraya memohon pada Tuhan untuk jangan hilangkan perasaan ini kepadamu.

Aku berada di tepian sungai terbesar disini. Dengan segala temaram dan gemerlap cahaya kota. Aku hanya merasakan kesepian. Engkau tidak disini bersamaku.

Sayangku,

Sisa perjalananku selanjutnya adalah hari-hari berselimut rindu. Aku menghitung hari. Menit demi menit. Detik demi detik. Tanpa terasa ada satu dan dua hati mengisi hariku. Menemani hari-hari sepi tanpa dirimu. Melewati malam dengan lagu-lagu galau kesukaanmu hingga akhirnya merasukiku. Cukup dalam, namun belum sedalam perasaanku padamu.

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kesalahan. Semakin aku coba untuk sembunyi hasilnya percuma saja: Aku tersiksa lagi. Mungkin, kesalahan ini semakin terasa indahnya.

Pada suatu malam, ketika hujan badai telah reda dan malam semakin meninggi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup semua angin malam yang pernah ada dalam lirik lagu Broery Marantika. Aku hirup semuanya hanya untuk menyuruh mereka agar mau membuka kembali jala-jala kenangan bersamamu. Hasilnya sama saja: Aku galau!

 

Minhang, ShangHai. 10-12 Sept 2022

Surat Cinta dari Fuzhou

Cintaku,

Apakah perlu aku ceritakan tentang mimpi-mimpiku selama disini? Kadang-kadang aku mengalami mimpi yang buruk. Sampai malam tadi pun aku belum pernah bermimpi tentangmu, tentang kita. Tentang apple tree yang just grow for you and me.

Aku selalu bersyukur bahwa aku terbangun pada pagi hari buta disini. Lengkap dengan debur ombak yang berkejaran, di bawah bulan setengah, Teluk Haiying. Tiba-tiba aku rindu pada Bapakku. Entah, tiba-tiba aja. Setiba-tiba waktu aku katakan aku mencintaimu di depan lift itu.
 
Manisku, kau tahu apa yang selalu mengantarkanku pada Bapak ketika aku rindu? Motor tua warna merah itu? Tidak. Motor itu masih ada yang punya dan sudah lima tahun tidak bayar pajak. Apa kira-kira menurutmu? Bee Gees? Ya, kau benar, sayang. Aku selalu membayangkan Barry Gibbs tahun 70-an itu adalah Bapak. Entah kenapa, mungkin karena foto-foto Bapak tahun itu mengikuti gaya rambut 'The Last Bee Gees' itu.

Setelah makan siang, aku mencoba mengulang kembali konser "One Night Only" tahun 1997. Aku pernah menyaksikan konser itu lewat DVD yang dibeli di Pasar Kembang. Pasar bajakan terlengkap sedunia hahaha. Agak sedikit repot memang karena Youtube tidak ada disini. Untung saja, ada satu website yang cukup lengkap. Agaknya, orang-orang China mulai terbuka. Bagaimana tidak? Ada satu orang yang mengunggah video konser berdurasi 110 menit ini.

Aroma nostalgia mewabah dan mengisi ruangan kamarku. Ingatanku mengembara jauh. Jauh ke tahun-tahun dimana Bapak masih menyetel Bee Gees lewat pemutar kaset dan speaker besarnya. Engkau dimana waktu itu, sayang?

Aku jadi teringat kembali padamu. Pada janjiku yang tidak pernah bisa aku tepati. Janji yang tidak jadi bukti how deep is your love-ku padamu. Kau tentu ingat, bagaimana aku berjanji akan menuliskan lirik lagu itu untukmu dan mengirimkannya ke rumahmu. Itu adalah kesalahan. Kesalahan yang aku selalu kenang dan tidak akan pernah aku buat lagi.

Cintaku, manisku, sayangku.

Aroma musim panas disini sangat terasa. Malam begitu hangat. Kadang, kalau sedang melamun aku bicara sendiri pada rembulan yang menggantung di atas sana. Aku tanyakan kabarmu padanya. Aku tanyakan bagaimana harimu padanya. Padahal aku tahu, harusnya aku biarkan bulan bicara sendiri. Seperti kata Broery. Namun, begitulah hatiku. Aku hanya sanggup menelan kerinduan saja setiap malam.

Malam semakin meninggi. Bulan mulai naik perlahan. Deburan ombak berdesir tenang. Lampu kota berkilapan. Lampu suar warna hijau seperti dalam film 'The Great Gatsby' melirik dengan genit. Aku pendam rinduku padamu bersama kata-kata yang entah kapan akan sampai kepadamu dari tempat paling sunyi di dunia.

Peluk dan cium,
 
Teluk Haiying, Fuzhou. 8 Agustus 2022

Minggu, 31 Juli 2022

Surat untuk Aisyah

Aisyah,

Segala puji Bapak dan Ibu panjatkan pada Allah SWT karena pada bulan Juli ini engkau genap berusia lima tahun. Usia yang sudah bukan anak kecil lagi. Aisyah sekarang naik ke Kelas B. Tidak hanya itu saja, bulan ini juga Kakakmu, Alde, mulai sekolah SD. Betapa saat ini sejak Ais dan Alde mulai sekolah, WFH Bapak mulai terasa agak sepi saat pagi hingga siang.

Begitulah Aisyah, rasanya semuanya terjadi begitu saja. Waktu yang terlalui sudah jadi kenangan. Hari-hari di depan adalah tantangan.

Aisyah,

Semoga engkau selalu sehat, Nak. Bermainlah sepuasnya di sekolah. Puaskan dahaga ingin tahumu. Ada Ibu Guru yang siap membantumu di sekolah. Jadilah matahari kami, jadilah sinar pagi pembawa cahaya dari timur. 

 

Cipayung, 2 Juli 2022

Surat untuk Aldebaran

Aldebaran,

Akhirnya, sampai juga waktu Bapak untuk melihatmu masuk Sekolah Dasar setelah Akhirussanah TK yang sempat membuat air mata ini kembali mengalir. Akhirnya, Bapak dapat merasakan hal yang mungkin dirasakan oleh Akung dahulu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa haru, ada rasa bahagia, dan ada juga banyak kekhawatiran. Untuk yang terakhir ini, sering Bapak titipkan pada Allah saja. Mudah-mudahan, Ia mau membantu Bapak memanage segala macam rasa khawatir ini.

Bapak dan Ibu tentunya berharap Alde akan cepat beradaptasi dengan segala kegiatan di masa SD ini yang kami rasa sangat tidak mudah. Alde sudah mengalami masa sekolah di zaman pandemi, kemudian mulai tatap muka kembali-dengan segala pembatasan. Tiba-tiba, Alde harus menjalani sekolah hari penuh. Alde harus bangun pagi dan segera bersiap pergi ke sekolah, lalu pulang sebelum adzan Ashar berkumandang. 

Ah, rasanya tidak adil bila membandingkan sekolah SD zaman Bapak dan Ibu dulu. Entah bagaimana Bapak harus menjelaskan padamu soal konsep merdeka belajar dari Pak Menteri yang sekarang ini. Pun, ketika Bapak menyadari bahwa buku-buku pelajaran sekolahmu ukurannya lebih besar dari zaman kami dulu. Semoga engkau memiliki tubuh dan badan yang kuat untuk menjalani hari-harimu nanti.

Aldebaran,

Selamat menjalani hari-hari ke depan, Nak. Bapak dan Ibu selalu mendoakan engkau dan adikmu agar kelak dapat mengamalkan setiap ilmu dan pelajaran yang telah didapat. Kiranya, Allah SWT membantu, memudahkan, dan mencurahkan berkah-Nya. Jadilah anak yang kuat dan berani. Menirukan Iwan Fals, "..tinjulah congkaknya dunia, Buah Hatiku. Doa kami di nadimu...".

 

Cipayung, 22 Juli 2022

Jumat, 01 Juli 2022

Adam Makrifat

Sumber gambar: www.goodreads.com


Pertama kali mengenal judul ini lewat sebuah pertanyaan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Indonesia zaman duduk di bangku sekolah. Sebagai siswa yang tidak pernah membaca buku ini tentu saja saat itu saya kebingungan karena tidak tahu isi ceritanya. Paling banter sampai kelas 1 SMA, hanya kumpulan cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku” saja yang pernah saya tamatkan.
 
Kekaguman pada karya Alm. Danarto muncul kembali ketika membaca buku “Kitab Omong Kosong” karya Seno Gumira Ajidarma, dimana sampul bukunya merupakan hasil karya gambar Alm. Danarto. Buku Alm. Danarto yang pernah saya baca sebelum Adam Makrifat adalah “Orang Jawa Naik Haji” dan saat ini sedang berusaha menamatkan “Godlob”.
 
Hasrat untuk membaca “Adam Makrifat” datang tiba-tiba saja pada suatu malam. Saya tertarik untuk memilih buku bekas dengan karakter gambar sampul aslinya. Rupanya, kondisinya masih acceptable dan merupakan edisi cetakan pertama. Pernah dijadikan koleksi sebuah kelompok teater juga. 
 
Rupanya, hanya ada enam cerpen dalam buku ini. Tidak banyak memang tetapi saya rasa ada maksudnya. Entah karena saat itu format kumpulan cerita pendek seperti ini memang punya daya tarik tersendiri bagi pembaca maupun penerbit atau memang penulisnya sengaja hanya memberikan enam cerita pendeknya saja untuk dibukukan. Saya kembali teringat pada buku “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” karya Umar Kayam yang hanya menampilkan cerita pendek dengan jumlah yang sama.
 
Ada banyak kejutan sepanjang pembacaan buku ini. Kejutan itu dimulai tidak saja ketika dalam pembacaan ceritanya. Tetapi juga, dalam kata pengantar dalam kolom. Alm. Danarto benar-benar membuat sastra meriah dan merangsang pembaca untuk ikut mengomentari hasil karya penulis. Saya merasa kagum pada Alm. Danarto karena pada tahun-tahun tersebut sudah berani merangsang pembacanya untuk benar-benar memberikan kritik yang pantas pada sastra.
 
Saya merasakan sebuah karya yang meriah. Penuh dengan sensasi, fantasi, dan kebebasan bercerita. Lepas dari pakem-pakem teoritis. Fantastis rasanya, mengingat karya ini ditulis pada rentang tahun 1975-1981, pada masa-masa pembangunan Orde Baru. Entah, saya sulit menemukan kaitan atau hubungan antara keenam cerita pendek itu dengan kejadian-kejadian selama Orde Baru. Rasanya, keenam cerita pendek ini adalah hasil cipta karya rasa dan karsa dari seorang Alm. Danarto yang membuat cerita-cerita itu tidak hanya hidup dalam sekedar teks belaka. Ada sebuah petualangan fantasi dan imajinatif dari kisah-kisah yang seakan nyata ini.
 
Adam Makrifat sendiri diambil dari satu judul cerpen dalam buku ini yang terbit pada tanggal 3 September 1975, sehari setelah ulang tahun Bapak saya yang ke-20. Judul-judul lainnya adalah “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” (11 Maret 1975), “Megatruh” (28 Maret 1978), “Lahirnya Sebuah Kota Suci” (17 September 1980), “Bedoyo Robot Membelot” (7 April 1981), dan sebuah cerpen yang sangat unik, tidak ada judulnya dan hanya diberi gambar not balok dengan tanda bunyi ‘ngung-ngung’ dan ‘cak-cak’cak’ mirip pada sebuah tarian dari Bali.

Judul           : Adam Makrifat
Penulis        : Danarto
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1982
Tebal           : 72 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek
 

Pajang, 1 Juli 2022

Senin, 28 Maret 2022

Si Juki #BeraniBeda

Buku ini adalah buku Si Juki kedua yang pernah saya baca. Nuansa humornya dapet banget. Mirip ketika menamatkan pembacaan buku lainnya, yaitu #BeraniGagal. 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Dalam cerita ini, Pembaca disuguhkan awal mula dan asal usul Si Juki. Agaknya hal inilah yang menjadi nilai tambah untuk dapat memasuki dunia Si Juki. Andaikan saya membaca buku ini lebih awal, mungkin saya juga akan terinspirasi untuk mengajukan diri menjadi Presiden hahaha.

Pada edisi ini juga, saya disadarkan bahwa jomblo pun dapat menjadi suatu hal yang harus diperjuangkan. Saya menemukan bahwa jomblo harus tetap dapat menjadi entitas yang membanggakan. Tidak salah rasanya bila Si Juki membuat "Front Pembela Jomblo". Suatu hal yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.

Akhirul kata, saya membaca buku ini jauh setelah terbitnya (medio Juni 2014). Namun, tidak mengurangi esensi dari keseruan dan kelucuan dari seorang Muhamad Marzuki a.k.a Si Juki.

Judul       : #BeraniBeda: Juki Untuk Indonesia Satu
Penulis    : Faza Meonk,Yahya Muhaimin, et. al.
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2014
Tebal       : 152 hal.
Genre     : Komik Indonesia
 


Pajang, 28 Maret 2022

Kamis, 10 Maret 2022

Rabu, 12 Januari 2022

By The River Piedra, I Sat Down and Wept: Pembacaan Kedua

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Buku ini adalah buku kedua dari Paulo Coelho yang saya baca setelah 'The Alchemist' atau 'Sang Alkemis'. Pertama kali dibaca pada Oktober 2009 dan selesai sebulan setelahnya. Terus terang, buku ini punya judul yang menarik untuk dibaca. "By The River Piedra, I Sat Down and Wept", bisa dimaknai bermacam-macam. Entah itu menangis sedih atau tangis bahagia, rasanya membuat penasaran. Apalagi gambar sampulnya juga mendukung imaji atas pembacaan teks didalamnya.

Bertema cinta, buku ini menceritakan perjalanan cinta dua manusia, Pilar dan sang lelaki teman masa kecilnya yang akhirnya menyatakan cintanya setelah menjalani kehidupan spiritual yang mendalam. Mereka berdua akhirnya dipertemukan oleh takdir. Mereka pun mengadakan perjalanan dengan segala lika-likunya. Termasuk segenap perjalanan yang dipenuhi pergulatan dan karunia Tuhan.

Jujurly, saya sudah lupa dengan kesan pembacaan pertama atas buku ini setelah satu dekade lebih. Saya menghabiskan waktu sebulan untuk menamatkannya. Namun, pada pembacaan yang kedua ini rasanya lebih mengalir dan ringan saja. Mungkin karena pengalaman dan jam terbang saya dengan novel lain sehingga membuatnya lebih mudah.

Saya masih ingat bahwa saya mengharapkan sebuah kejutan pada buku ini, terutama karena judulnya. Saya harap pembaca maklum adanya, karena ternyata buku ini tidak memiliki banyak kejutan. Ada sedikit intens menjelang akhir cerita, ketika mereka berdua telah sampai pada Biara di sekitar Sungai Piedra. Namun, lagi-lagi disana hanya ada sebuah akhir yang bahagia. Cinta telah menemukan jalannya sendiri.

Judul           : Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis
Penulis        : Paulo Coelho
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2005
Tebal           : 224 hal.
Genre          : Novel


Pajang, 12 Januari 2022

Selasa, 04 Januari 2022

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Pertama kali membaca judul ini saya membayangkan bahwa benar ada seribu kupu-kupu yang bertebaran di sekitaran kota Manhattan di New York sana. Mungkin, mereka sedang menikmati malam dan sekalian bersedekah dengan turut menerangi Central Park. Entahlah, memang rasanya tidak mungkin karena saya belum pernah melihat kunang-kunang di Central Park pada sitkom “How I Met Your Mother”. Kemudian, bayang itu beralih menjadi nyala lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran disana. Nah, yang ini rasanya masuk akal. Barangkali, waktu buku ini diterbitkan pada tahun 1972 sudah banyak gedung-gedung tinggi di Manhattan.


Dengan ingatan yang terbatas, saya sudah pernah menawar buku ini dua kali pada kesempatan book fair di Istora. Harga yang ditawarkan penjualnya tidak tanggung-tanggung memang. Seratus ribu rupiah, dan tidak bisa nego turun harga. Saya anggap terlalu mahal sehingga saya urung membelinya. Padahal, memang buku ini sudah jarang untuk terbitan terbaru tahun 2007. Sesuatu yang saya sesali kemudian.

Baru-baru ini, saya mendapatkan buku ini lewat sebuah platform marketplace. Suatu hal yang membuat kesempatan untuk hunting buku-buku lama menjadi kembali terbuka setelah puasa book fair sekian lama, anyway. Kondisi buku yang saya terima masih dalam keadaan acceptable (according to Goodreads), kondisi kertas masih baik, softcover, terbitan Badan Penerbit Pustaka Jaya, cetakan pertama tahun 1972. Tahun dimana saya pun belum lahir.

Buku cetakan pertama ini masih menggunakan ejaan lama. Sesuatu yang sangat saya nikmati karena memberikan pengalaman pembacaan yang berbeda dari biasanya. Hal ini tidak berpengaruh banyak karena buku setebal 64 halaman ini hanya berisi 6 cerita pendek. Kalaupun ada yang lebih luar biasa adalah ukurannya. Buku ini serupa dengan buku saku seukuran 20 x 12 cm, tentu bisa dibayangkan sebesar apa huruf yang digunakannya. Agaknya, tentu dibutuhkan hal lebih agar membuatnya nyaman dibaca, seperti mulai menggunakan kacamata.

Cerpen pertama diberi judul sama dengan judul bukunya. Mengisahkan tentang kehidupan romansa sepasang kekasih di Manhattan. Saya menikmati cerpen ini karena bisa diimajinasikan sebagai sebuah rentetan scene dalam film. Diikuti oleh cerpen “Istriku, Madame Schlitz dan Sang-Raksasa” yang menceritakan kehidupan aku dan istrinya beserta tetangga yang bernama Madame Schlitz. Saya dikejutkan dengan punch line untuk ending yang menggantung. Saya suka.

Cerpen ketiga berjudul “Sybil” ini agaknya mencerminkan fragmen kehidupan keseharian di kota besar. Bagaimana seorang single mother berupaya sekuat tenaga untuk bisa membesarkan anak dengan tetap bekerja. Permasalahan kemudian muncul ketika Sybil bermain dengan Susan, tetangganya. Kalimat terakhir dalam cerpen ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma, dalam kumpulan “Atas Nama Malam”.

“Setjangkir Kopi dan Sepotong Donat” berkisah tentang kehidupan dalam sebuah kedai kopi, dimana orang-orang datang dan pergi untuk sarapan atau brunch menjelang siang, lengkap beserta gairah romansanya. “Chief Sitting Bull” menceritakan kehidupan para lansia yang mulai ketergantungan dengan jatah pemberian rutin dari anaknya dan menjalani rutinitas bersama kolega di taman kota. Saya suka detail dari cerpen ini karena sang tokoh utama dapat menaklukkan hati seorang anak kecil.

Sementara cerpen terakhir, “There Goes Tatum” mengisahkan seorang lelaki yang menjadi korban perampokan dalam usahanya menuju tempat tujuan. Cerpen ini menampilkan sisi lain dari wajah ‘The Big Apple’, satu hal yang umumnya terjadi di kota besar dimana ketimpangan antara the have dan kaum miskin sangat besar.

Kumpulan cerita pendek pertama dari Pak Umar Kayam ini adalah satu dari sekian tonggak karya sastra Indonesia yang patut dijadikan monumen. Betapa karyanya ini turut mewarnai khazanah kebudayaan modern Indonesia pasca tahun 1965. Dengan aktivitasnya dalam bidang kesenian sejak masih mahasiswa, ia mampu memberikan kesan filmis pada cerita-cerita pendeknya. Tema keseharian yang dipilihnya pun memberikan kesan bahwa banyak hal-hal yang menakjubkan dari sebuah kesederhanaan.

Judul           : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan: enam tjerita pendek oleh Umar Kayam
Penulis        : Umar Kayam
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun          : 1972
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Pajang, 4 Januari 2022
Pada ulang tahun Nenek yang ke-86

Senin, 03 Januari 2022

Daun dan Hati yang Jatuh

Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin.
Begitu pun hatiku, berkali kau buat jatuh, tak pernah sekalipun aku membencimu.

Cengkareng, 29 Desember 2021

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...