Kamis, 26 Juli 2012

Fresh Graduate Boss: Cara Cepat Menuju Pensiun Dini

Write your own success story with job that you like, and be a boss in your life (hal. 89)


Membaca semua tulisan Margie dalam FGB ini sungguh menghadirkan suatu perasaan yang tak karuan. Kalau tidak mau dibilang galau. Saya rasa ini adalah reaksi yang wajar mengingat jarak umur saya dengan si penulis tidak jauh beda. Namun, perbedaan itu semakin jelas kala melihat pencapaian Margie. Dalam usianya yang kesekian itu, Margie telah mengalami suatu pengalaman yang tidak dirasakan oleh kebanyakan kita. Pekerja kelas menengah yang setiap hari setia berkutat dengan segala pelik kehidupan Jakarta.

FGB dibuka dengan sebuah tulisan tentang pensiun dini. Margie secara blak-blakan menceritakan bagaimana ia terinspirasi dari jawaban wawancara seorang temannya. Dengan visi yang jelas, Margie berusaha menguatkan mental pembaca bahwa tidak perlu menunggu tua terlebih dahulu untuk menjadi seorang bos. Margie menguraikan strategi untuk menakar kemampuan diri agar kita mampu menjadi bos sedini mungkin sehingga bisa pensiun dini lebih awal. Tentunya, di usia yang masih muda dan tidak terlalu tua.



Generally, FGB dibagi kedalam 3 bagian. Beat Yourself, Conquer The Office, dan If I Were A Boss. Gabungan ketiganya menghasilkan suatu runutan cerita yang memiliki benang merah satu sama lain. Dimulai dari bagaimana memaksimalkan potensi diri dengan lebih melihat kedalam diri sendiri. Lalu, mengembangkan segenap kemampuan dan attitude untuk ‘conquer the office’. Kemudian, bersiap-siap untuk menjadi seorang bos.

Penuturan Margie yang cerdas, lugas, dan jujur namun santai membuat pembacaan buku ini ibarat sebuah cerita perjalanan. Saya kagum  karena Margie tidak malu untuk menceritakan semua pengalamannya, sejak mulai jadi pejuang karir level bawah hingga menjadi seorang pekerja di level top management. Ditambah, ilustrasi yang mengingatkan pembaca pada desain khas komik menjadikan FGB tidak seperti buku-buku motivasional lainnya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari FGB. Niscaya, pembaca akan tahu mengapa anak-anak Laskar Pelangi bisa lebih sukses dibandingkan anak-anak lain yang hidup di kota besar, lengkap dengan segala akses dan fasilitas yang memadai. Margie juga menuliskan kegalauannya ketika harus memilih dalam sejarah perkariran miliknya. Bagaimana Margie memilih sebuah pekerjaan ketika dihadapkan dengan kebahagiaan yang muncul dari pekerjaannya itu.

For once in my life, can’t i make decision that pleases me? Although it’s not what everyone is expecting? Although it’s out of norm, out of mind, out of sanity? For once, just for this once, can i not care about how people feel and think more about what i feel? Can i not sacrifice my most happiness and negotiate for something lesser? Can’t i be selfish JUST FOR ONCE? (License To Be Selfish)

Untuk para fresh graduate, FGB sangat membantu. Setidaknya, untuk mereka yang belum paham apa itu ‘office politics’ atau ‘office romance’. Atau malah bagi mereka yang belum paham mengapa bos yang berasal dari Eropa tidak pernah datang terlalu pagi dan lembur usai jam kerja. Lalu, mengapa sistem ‘eropa’ yang demikian itu tidak berhasil di Asia yang memiliki gaya sendiri. Dengan gayanya yang lincah, Margie juga menuangkan pengalamannya dalam subjek tersebut.

Bagi mereka yang membaca buku ini saat kini sedang meniti karir, saya rasa FGB bukanlah pilihan yang salah untuk menghabiskan waktu anda. Kita bisa belajar untuk lebih cerdas dan bijak dalam bertindak. Terutama dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masa depan kita. Hal-hal kecil pun tidak luput dari perhatian Margie. Bagaimana memilih kolega yang benar-benar sevisi, tata cara berpakaian yang santun, hingga bercerita tentang sekelompok anak magang.

Yang tidak terlupakan, adalah Margie juga menuliskan aturan baku yang berlaku bagi setiap bos. Aturan pertama, The Boss is always right. Aturan kedua, If The Boss is wrong, please refer to rule #1. Ternyata, aturan ini juga dialami oleh sebagian besar kaum pekerja. Entah kebetulan atau tidak, kedua aturan itu juga akan kita gunakan seandainya kita sudah menjadi seorang bos.

Sebagai penutup, Margie juga menyarankan pembaca untuk mulai berinvestasi sedikit demi sedikit. Bagaimanapun, investasi adalah satu modal berharga agar kita bisa mencapai usia pensiun sedini mungkin.


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Awalnya, saya tidak cukup kuat melanjutkan pembacaan FGB. Saya malu karena saya tidak memiliki semua kekuatan yang Margie ceritakan. Saya tidak punya visi yang jelas sehingga malah terombang-ambing dan pernah jadi pengangguran tetap. Katakan saya iri pada pencapaian Margie. Memang begitu adanya. Namun, setiap orang punya ceritanya masing-masing. Saya juga cukup bersyukur dengan segala pencapaian yang saya raih sampai saat ini.

Andaikan saya baca buku ini 8 tahun yang lalu atau setidaknya pada saat saya memulai perjalanan masa kuliah, saya mampu membuat visi yang jelas tentang apa yang saya inginkan dalam hidup yang cuma sekali ini. FGB mengajari saya untuk terus memacu diri, pushing through the limit. Sekalipun dalam environment yang tidak mendukung. Untuk hal ini, saya selalu terkenang cerita-cerita Margie di buku After Orchard. Saya masih terus berusaha untuk punya attitude kerja dan mental kiasu seperti the Singaporean.

Personally, 29 cerita dalam FGB membuat ingatan saya kembali pada masa-masa awal meniti karir. Saya telah mengalami hampir semua yang dituliskan Margie. Hanya tinggal bab Inverstor Relations saja yang belum saya praktekkan.

FGB menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan buku-buku motivasional lainnya. Tulisan-tulisan Margie berhasil memikat dengan pengalamannya serta kejadian-kejadian nyata yang terjadi di sekelilingnya. Kedekatan antara keseharian yang dialami Margie adalah contoh realitas sehari-hari yang mampu memberikan banyak pelajaran demi mencapai kesuksesan dalam memanjat tangga karir.

Sebagai penutup, berikut saya berikan contoh pencapaian Margie dengan seorang Anggi:

Versi Margie:
"Tapi di usia 25 gue bisa berbangga hati punya sebuah mobil keluaran terbaru, properti bergengsi, beberapa barang berharga, tabungan di atas angka rata-rata, tas berbungkus cokelat, dan mampu membeli beberapa tiket penerbangan terbaik ke Eropa."

Versi Gue:
"Tapi di usia 25 gue bisa berbangga hati untuk belum punya sebuah kendaraan bermotor, kontrakan di pinggiran Jakarta, beberapa barang berharga (baca: buku), tabungan (selalu) di bawah angka rata-rata, tas berbungkus raincoat, dan hanya mampu membeli beberapa tiket penerbangan kelas low cost carrier."

Sudah kelihatan bedanya?


Judul               : Fresh Graduate Boss: 29 Cerita Memanjat Tangga Karier
Penulis             : Margareta Astaman
Penerbit           : Penerbit Buku Kompas
Tahun              : 2012
Tebal               : 245 hal.
Genre              : Memoar-Motivasi


Medan Merdeka Barat, 26 Juli 2012.

Primer Amor I dan Sebuah Catatan

It’s my first love, what i dreaming of, when i go to bed, when i lay my head upon my pillow... (First Love, Nikka Costa)


Primer Amor I 


Cinta pertama bisa dibilang suatu anugerah yang tak terkira. Suatu masa dimana cinta hadir dalam bentuk rupa paling sempurna. dalam kesempurnaannya itu cinta mewujud dalam keseharian. Menambatkan rasa pada satu yang terkasih. Cinta takkan pernah salah. Cinta tahu kemana ia membawa hati berlabuh. Walau kadang, cinta harus tunduk pada kenyataan hingga luruh dalam samudra kenangan.

12 kisah cinta pertama ini mengantarkan kita pada suatu pemaknaan cinta pertama menurut pengalaman 12 orang penulis. Cinta tetaplah cinta. Bagaimanapun rasa itu terpendam, cinta akan mampu mengungkapkannya. Begitu dalamnya kisah cinta pertama, maka selalu akan terkenang. Romansa berbalut ketulusan mencinta takkan terlupa begitu saja. Primer Amor I, setidaknya berhasil mendokumentasikan perasaan 12 anak manusia atas nama cinta.


 

Sebuah Catatan



Membaca kembali Primer Amor 1 rasanya saya harus terbang kembali ke masa silam dua belas tahun yang lalu. Suatu masa dimana segalanya berjalan begitu saja. Saya harus menelisik kembali jala-jala memori. Menelusuri satu per satu jalan kenangan yang terbentang luas dan tersimpan dalam rongga ingatan.

Benar saya menulis tentang Andhita. Seseorang yang pernah begitu merajai hati ini, waktu itu. Seseorang yang memberi rasa berbeda. Sebuah nama yang turut melukis kisah-kisah indah di masa yang lalu. Sebuah nama yang ikut mengukir hari-hari sepi dalam lamunan angan.

Well, saya hanya bisa tertawa ketika Tika menanggapi tulisan saya dengan sepenggal quote yang diambil dari cerita pendek milik saya.
“Andhita”, sebuah cerita persembahan dari Anggi Hafiz Al Hakam membuat pembaca terpukau dengan sajian kalimat yang tertata begitu indah, diselingi kiasan dan metafor yang terajut begitu halus dan menarik. Sejak awal hingga akhir cerita, pembaca akan dibombardir dengan peluru kata-kata, hingga tertepikan pada sebuah pemaknaan, “Cintaku takkan berhenti jadi sajak walau senja tiba di langit kota yang tak pernah tua”.

Ini bukan kali pertama. Sudah dua kali saya mengalami hal yang demikian. Pertama, pada cerpen "Sepenggal Tanya di Halte Busway" di Antologi #JakartaBanget. Kedua, pada cerpen “Andhita” di Primer Amor 1 ini. Saya sendiri tidak pernah tahu bagian kalimat mana yang bisa dijadikan quote dari tulisan saya. Nyatanya, seseorang berhasil merangkum hal tersebut. Terima kasih karena telah membantu saya.

Saya tergelitik sekali membaca review dari @tikasylviautami diatas. Apakah betul saya telah menembakkan peluru kata-kata dalam cerpen 'Andhita' itu, lengkap dengan segala kiasan dan rajutan metafor yang halus. Sehingga, cerita tentang cinta pertama saya itu terkesan ditulis dengan serius. Padahal, betapa tersiksanya saya dalam proses penulisannya. Betapa repotnya mengingat kembali pertemuan dua bola mata yang saling bersinggungan dalam jalan takdir.

Saya tertawa sejadi-jadinya. Bukan menertawakan review tadi, melainkan diri saya sendiri. Saya menertawai diri sendiri karena membuat cerpen yang seperti itu. Sebuah cerpen yang diangkat dari kejadian nyata dan memiliki quote yang bisa selalu diingat.



Saya juga tertawa karena hal lainnya. Saya menertawai diri saya juga karena pernah jatuh cinta sedalam kisah yang saya tulis itu. Saya tertawa pada segenap kebodohan saya untuk mencintai Andhita dengan membabi-buta. Saya semakin menertawakan diri sendiri ketika akhirnya saya berkaca: sebegitu cintanya saya sama Andhita ya?
 

Judul           : Primer Amor I
Penulis        : Curious Media and Friends
Penerbit     : Curious Media Publisher
Tahun         : 2012
Tebal         : 154 hal.
Genre        : Kumpulan Cerpen

For review or order please visit:  http://nulisbuku.com/books/view/primer-amor-1


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 26 Juli 2012.

Rabu, 25 Juli 2012

Perahu Kertas: sebuah pengalaman

I

Sangat disayangkan kenapa saya baru tertarik untuk membaca Perahu Kertas menjelang akhir bulan kemarin. Padahal, kalau dihitung-hitung sudah jauh ketinggalan dari tanggal terbitan pertama. Helow, kemana aja loe? 

Saya bukan tipikal pembaca yang selalu harus jadi first reader buku-buku bestseller ataupun buku-buku terbitan baru. Saya bukan tipikal pembaca yang harus menelan empat jilid Laskar Pelangi atau Trilogi The Hunger Games, usai diterbitkan.




Tetapi, memang saya harus mengalami dulu hal yang seperti ini. Baru setelah mendapat kabar angin bahwa Perahu Kertas jadi difilmkan, terbukti dengan keterangan tambahan pada cetakan baru: Segera Difilmkan, barulah saya punya keinginan untuk membaca Perahu Kertas. Alasannya, saya harus tahu dulu cerita dalam buku sebelum membandingkannya dengan cerita dalam film. Sudah jelas, karena durasi yang terbatas sangat tidak memungkinkan untuk merekam seluruh alur cerita dalam buku.

Sambil terus berusaha menamatkan pembacaan cerita, saya menyalakan pemutar musik seperti biasa. Playlist diputar dalam posisi random. Saya tidak pernah bisa menebak lagu-lagu yang akan diputarkan.

Membaca Perahu Kertaas berarti terombang-ambing dalam lautan tanya yang membentang tanpa batas. Keenan dan Kugy, dua orang anak manusia yang harus mengitari jalan takdir masing-masing sebelum menemukan diri mereka sendiri. Perjalanan menuju pencarian diri masing-masing adalah perjalanan yang menarik. Dibutuhkan lebih dari sekedar air mata untuk menemukan sesuatu yang mereka sebut kebahagiaan.

Perahu Kertas sendiri banyak bercerita tentang mimpi. Mimpi adalah hidup itu sendiri. Yang senantiasa berusaha untuk diwujudkan. Walau kadang tak sejalan dengan lingkungan keseharian kita. Keenan dan Kugy berusaha menemukan impian dalam hidup yang mereka jalani. Kehidupan mereka pun semakin berwarna kala takdir ikut andil didalamnya. Persinggunggan takdir mereka dengan Wanda, Remi, dan Luhde, ikut menghidupkan berbagai realitas dalam cerita. Utamanya, mimpi, cinta, dan persahabatan.

II

#np Against All Odds – Phil Collins ; Sail Over Seven Seas – Gina T ; Heart of Mine – Bobby Caldwell ; I Have Nothing – Charice (cover version)

Memasuki bab belasan, semua lagu ini mengalun. Mengiringi pembacaan cerita dimana Kugy, Keenan, dan Wanda mulai menemukan diri mereka masing-masing. Kugy semakin sadar dirinya jatuh dalam alunan pesona Keenan. Keenan semakin menemukan kebebasannya. Lalu, Wanda menemukan tambatan hatinya, kemana ia akan melabuhkan cintanya.

#np Lembayung Bali – Saras Dewi

Kugy dan Keenan bertemu di Sekolah Alit. Mereka berdua saling membuka hati. Mereka saling membagi kisah tentang bagaimana mengaliri cawan hidup masing-masing.

#np If You’re Not Here – Menudo

Kugy melepas tiga perahu kertas. Kugy melengkapi pelepasan perahu kertas itu dengan segenap rasa penyesalan. Kugy menyesal karena selama ini ia hanya terjebak dalam impiannya sendiri. Keenan tidak seperti apa yang ia bayangkan.

#np The Winner Takes It All – Susan Wong (Cover Version) 

Keenan pamit ke ibunya. Keenan merasa berhak untuk segera meraih mimpinya. Surat itu, surat yang memberitahukan bahwa lukisannya terjual melengkapi panggilan jiwanya untuk segera pulang ke Ubud. Keenan merasa harus segera memenuhi impiannya. Kedekatannya dengan Wanda telah mebuka jalan pikirannya untuk berani mengambil keputusan dan menjalani mimpinya.

#np Why – Annie Lennox

Konon, lagu ini jadi satu dari sekian lagu yang mengilhami lahirnya sebuah novel Divortiare (Ika Natassa, Gramedia Pustaka Utama, 2008). Saat lagu ini diputar, saya tiba pada cerita ketika Kugy pindah kostan dan bertemu dengan Eko yang heran melihat kejadian itu. Why? Mungkin itu juga yang ada dalam benak Eko. Ribuan tanya membentang seketika.

#np I Won’t Forget You – Princessa 

Luhde menulis dengan sepenuh jiwanya. Ketika Pak Wayan mengingatkan untuk tidak jatuh sekaligus, pelan-pelan. Pak Wayan juga mengingatkan Luhde untuk tidak jadi bayang-bayang dibalik bayang-bayang Kugy yang masih selalu menyelimuti Keenan. Luhde harus menunggu sampai luka Keenan sembuh.

III

Saat lagu terakhir diputar, saya sudah mengantuk. Saya masih jauh dari selesai. Namun, setidaknya ada yang bisa saya cermati dari hubungan lagu-lagu diatas dengan bab-bab yang dibaca.

Entah disadari atau tidak, lirik-lirik dari lagu diatas benar-benar mewakili cerita yang dibaca saat itu. Bayangkan perasaan Keenan saat berhasil meyakinkan Ibunya untuk benar-benar menjalani impiannya sebagai pelukis. Diiringi dengan petikan lirik dari lagu ABBA: the winner takes it all, the loser standing small.

Saya tidak tahu apakah itu semua hanya kebetulan semata. Yang jelas, saya mencoba menikmati pembacaan Perahu Kertas diiringi random playlist. Memang demikian adanya, barangkali persinggungan takdir telah membawa saya pada pengalaman baru dalam membaca suatu karya monumental.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 25 Juli 2012.

Selasa, 10 Juli 2012

Istoria da Paz: Mengungkap Persinggungan Takdir

Memang tidak mudah bagi Damai Priscillia untuk meninggalkan Jakarta. Segala kenangan bersama kekasihnya kian menggebu dan semakin tidak bersahabat dengan hatinya yang dirundung kegalauan. Perjalanan menuju Sekolah Damai di Nusa Tenggara Timur pun dilakukannya demi tugas. Barangkali disana Damai akan menemukan kedamaian bagi hatinya.

I

Semua berawal ketika Damai mengerjakan editing buku untuk Arimbi. Penulis muda yang memiliki pandangan berbeda dengan sudut pandang Damai. Damai harus meyakinkan Arimbi berkali-kali agar tulisannya tidak terlalu frontal dalam mengungkapkan kenyataan. Berawal dari ketidaksenangan tanpa terasa perasaan itu kian membuncah menjadi rasa benci. Tidak hanya konflik itu saja. Kedekatan Jambrong a.k.a Enrico, kekasih Damai, dengan Arimbi kian menyulut naluri Damai bahwa kedekatan itu bukan sekedar relasi pertemanan biasa. Suatu ketika, Damai mendapati kekasihnya itu bercinta dengan Arimbi di rumah mereka. Kontan, Arimbi merasa dikhianati. Tetapi, Arimbi tetap masih belum sanggup kehilangan Jambrong.




Kenyamanan dalam hubungan dengan Jambrong telah membuat Damai merasa serba salah. Satu sisi, kini dia begitu membenci Jambrong karena telah bercinta dengan Arimbi, penulis yang tidak pernah disukainya. Namun, di sisi lain, Damai terlalu takut ketika Jambrong akan meninggalkannya. Lalu, memang Jambrong akhirnya meninggalkan Damai. Entah kemana, yang jelas Jambrong tidak mau menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka berdua. Jambrong akan pergi mencari sesuatu yang dia harap sebagai kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Jambrong telah pergi dan tinggal Damai sendiri. Hidupnya menjadi berantakan, tipikal orang patah hati. Segala kenangan yang dulu dilewati bersama dengan Jambrong kian menyeruak. Damai tidak mampu berdamai dengan semua kenangan itu. Sampai suatu hari, datang penugasan untuk meliput Sekolah Damai di Nusa Tenggara Timur. Sebuah kesempatan untuk melupakan patah hati nun jauh disana.

Kedatangan Damai di Sekolah Damai mengundang banyak tanya. Suatu sambutan selamat datang yang tidak akan pernah terlupakan ketika akhirnya Abitu berhasil mengerjai Damai dengan cacing ditangannya. Itu baru awalnya sebelum Damai benar-benar jatuh cinta dengan kehidupan di Sekolah Damai. Perjalanan ini memang masih terasa berat. Bayang-bayang Jambrong masing ada dibenaknya. Waktu jugalah yang akhirnya memutuskan bahwa Damai terus melaju dengan keputusannya untuk menjalani hidupnya lagi-tanpa Jambrong.

Berhari-hari di Sekolah Damai mengajarkan Damai untuk benar-benar berdamai dengan kenyataan hidup yang telah dilaluinya. Semua kejadian yang dialaminya disana benar-benar mengubah cara pandangnya dalam memaknai hidup, tentang kebahahagiaan misalnya. Persinggungan garis takdir Damai dengan dunia barunya itu memberikan suatu kekuatan baginya untuk menata hatinya kembali.


II 

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Tidak mudah bagi seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya. apalagi kalau terselip bumbu kenangan didalamnya. Entah, itu akan jadi bumbu atau malah racun yang membunuh secara perlahan. Tidak mudah pula bila ketika akhirnya harus memutuskan untuk lepas dari jerat yang membelenggu. Dibutuhkan lebih dari sekedar hentakan peristiwa untuk membuat kita sadar untuk melakukannya.

Istoria da Paz menceritakan pada kita bahwa akhirnya hidup ini merupakan sebuah pilihan. Seperti apa yang ditulis Arimbi dalam tokohnya. Bahwa tidak menikah dan tidak mengikuti pendapat umum adalah sebuah pilihan juga. Dan itu sah. Karena hidup ini adalah pilihan maka ia akan bersinggungan dengan garis takdir. Jalan hidup yang ditempuh Damai telah membawanya ke Sekolah Damai. Sekolah beratap langit, beralas tanah, dan berdinding angin. Terletak di kamp pengungsi ex-Timor Leste. Jalan takdir pula yang mempertemukannya dengan sahabat baru, Dionysius serta murid-muridnya, Abitu dan Arbelia.

Perempuan dalam perjalanan ini pun mengajari kita, bahwa waktu akan menjawab segalanya. Benarlah sebuah pendapat yang bilang "Waktu dan jarak adalah penyembuh luka yang paling baik." Kehilangan bukanlah suatu tragedi. Justru, ia hadir karena akan membawa kita pada suatu penemuan baru. Suatu penjelajahan baru untuk rasa dan jiwa. Perjalanan Damai pun menjadi lebih berarti, karena ia telah mengungkap makna. Mengasihi bukan berarti melakukan apa yang dipikir baik oleh diri sendiri, tetapi melakukan apa yang terbaik untuk orang yang dikasihi. Sekalipun, harus meninggakan segala kenangan dengan yang pernah dikasihi. Time will tell, time will prove.

Personal Note

Istoria da Paz adalah novel pertama Okke @sepatumerah yang saya baca. Saya dibuat tertarik dengan tagline Perempuan dalam Perjalanan. Dari catatan singkat di bagian belakang buku, saya mendapat gambaran bahwa perempuan bernama Damai ini melakukan perjalanan untuk melupakan patah hatinya. Itu yang pertama ada di benak saya. Pun, ketika saya membayangkan (dan sedikit berharap) bahwa konteks "√Źndonesia Timur" yang ada di dalamnya akan semenarik Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (FX Rudy Gunawan, GagasMedia, 2005). Karena sudah terlanjur dibuat berdebar dengan suasana Papua yang sedang mengenang Theys Hiyo Eluay, saya penasaran apakah Okke akan menampilkan suatu fragmen kehidupan di kamp pengungsian ex-Timor Leste dengan segala problematikanya.

Setelah pembacaan selesai, hasilnya memang tidak sedetail suasana Papua. Namun, detail tentang bagaimana suasana kehidupan di dua tempat yang pernah mengalami konflik itu terekam begitu hidup dan nyata. Perjuangan bagaimana saudara sebangsa menjalani keseharian mereka justru dalam segala ketiadaan, membuat cerita ini memiliki arti lebih. Tidak hanya sekedar karya yang mengungkapkan isi kepala penulisnya tetapi juga mengangkat konteks sejarah bangsa.

Jadi, pengalaman membaca ini sekaligus juga memutar ingatan kepada beberapa peristiwa yang entah (mungkin sengaja) terlupakan. Tabir sejarah yang dulu pernah tersingkap seakan menjadi luka yang harus ditutupi. Termasuk dengan menguburnya dalam-dalam. Istoria da Paz, mengingatkan kita bahwa pada suatu masa pernah terjadi hal yang demikian di Bumi Pertiwi. Bukan untuk disangkal, tetapi apakah kita mau belajar darinya?


Judul  : Istoria da Paz
Penulis : Okke Sepatumerah
Penerbit : GagasMedia
Tahun: 2007
Tebal: 218 hal.
Genre: Novel


Medan Merdeka Barat, 10 Juli 2012.

Kamis, 05 Juli 2012

Lewat Djam Malam: Sejarah Bangsa yang Terlupakan

Seingat saya, pertama kali tahu mengenai penayangan kembali film “Lewat Djam Malam” ini melalui twitter. Setelah sempat menandai twit itu sebagai favorite tidak lama kemudian saya segera lupa. Saya teringat kembali pada film itu saat iseng melihat jadwal film bioskop di sebuah harian ibukota. Pun ketika @ginaSnoer dan @hikmatdarmawan mengganti profile picture mereka dengan poster film ini. Saya khawatir takut melewatkan film Lewat Djam Malam ini karena hanya tayang satu-satunya di Plaza Senayan XXI. Semangat untuk menonton kembali meninggi tapi harus saya redam karena saat itu juga saya ditugaskan ke Bandung. Terus terang saya memang penasaran pada film ini. Entah, film ini menarik karena saya juga ingin melihat bagaimana hasil restorasi film yang dirilis pada tahun 1954 ini dan ditampilkan pula di Cannes Film Festival 2012.

Bila dirunut lagi ke belakang, ketertarikan atas film ini juga didasari pembacaan buku memoar kasih sayang Rosihan Anwar & Zuraida Sanawi yang ditulis oleh Rosihan Anwar sendiri. Memang tidak ada bab khusus yang membahas tentang hal ini. Namun, ada beberapa kali Rosihan Anwar menceritakan soal Sinematek dan perfilman Indonesia saat itu, medio 1950-an. Hal ini lumrah mengingat sutradara “Lewat Djam Malam”, Alm. H. Usmar Ismail sendiri adalah kakak ipar Rosihan Anwar. Kemudian, dalam majalah Horison edisi Juni 2012 kemarin membahas sosok seorang Alm. Misbach Yusa Biran, yang tetap bertahan dengan Sinematek. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya serta pertentangan status Sinematek dari tahun ke tahun setiap DKI Jakarta ganti Gubernur.


Poster Asli Film "Lewat Djam Malam" . Courtesy: Google Images

Lewat Djam Malam sendiri bercerita sesuai dengan latar masanya. Mengambil setting kota Bandung di pertengahan tahun 1950-an tepat saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan republik sedang gencar-gencarnya. Iskandar, seorang tentara republik turun gunung dan pulang ke rumah kekasihnya, Norma. Entry scene sudah menampilkan pelanggaran jam malam oleh Iskandar. Ia sempat dikejar oleh polisi yang jaga malam. Beruntung, Iskandar segera menemukan rumah kekasihnya. Kehadiran Iskandar di lingkungan keluarga Norma menghadirkan banyak tanya. Meski sudah bertunangan, terlihat sekali keraguan di mata ayah Norma. Iskandar sendiri tidak terlalu suka dengan keluarga tunangannya. Iskandar menganggap mereka hanyalah pribumi yang menikmati hasil perang kemerdekaan dan tidak pernah mengalami sulitnya jadi pejuang. Walaupun begitu, Iskandar dibuat sedikit beruntung karena ayah Norma segera mencarikan pekerjaan untuknya di kantor Gubernuran.

Iskandar tidak kerasan dengan pekerjaan barunya. Ia membutuhkan lebih dari sekedar adaptasi dengan lingkungan barunya ini. Revolusi kemerdekaan masih bercokol di kepalanya. Bayang-bayang perjuangan di hutan pegunungan masih terlalu membekas padanya. Ia tidak mampu menahan itu semua hingga akhirnya kehilangan pekerjaan yang belum genap sehari dijalaninya itu. Ia merasa disitu bukan tempatnya. Iskandar pun lalu menemui kawan-kawan seperjuangannya yang telah lebih dulu turun gunung. Iskandar sadar betul bahwa ia belum bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya.

Ditemuinya Gofar pertama kali. Sesama teman perjuangan yang jadi pemborong. Pertemuan itu justru mengantarkannya pada Gunawan, mantan komandannya. Pertemuan dengan Gunawan bukan malah membuat hidup Iskandar jadi lebih baik. Ia terlibat dalam konflik batin yang menggumul dalam dirinya. Bayangan pembunuhan atas perintah Gunawan terus menghantuinya. Iskandar semakin kesal dengan Gunawan ketika mengetahui cerita-cerita tentang Gunawan dari Gofar dan Pujo, mantan anak buahnya dulu.

Semakin mengetahui keculasan yang dilakukan Gunawan semasa perang dahulu membuat pikiran Iskandar berkecamuk. Harta yang dirampas dari korban-korban yang dibunuhnya atas perintah Gunawan dulu ternyata digunakan untuk kepentingan pribadi Gunawan. Memang Gunawan mendirikan perusahaan dengan harta rampasan itu. Iskandar merasa dikhianati karena Gunawan selalu mengatasnamakan perjuangan dan revolusi yang belum berakhir untuk urusan perutnya sendiri. Sebagai seorang patriot, Iskandar tidak bisa menerima hal itu.

Scene pembantaian yang dilakukan Iskandar dan Pujo. Courtesy: Google Images

Entah bagaimana caranya, ia harus segera membuat perhitungan dengan Gunawan. Ia harus menuntut tanggung jawab Gunawan atas apa yang telah diperintahkannya. Atas bantuan Pujo, Iskandar pun menemui Gunawan. Gofar telah meyakinkannya bahwa kelak ia akan menemui kesiaan semata. Iskandar tetap bersikukuh dengan kehendaknya. Lalu, terjadilah peristiwa itu. Iskandar berhasil kabur dari pesta yang digelar Norma untuk menyambut kepulangannya. Gunawan tewas di tangan Iskandar. Memori pembunuhan itu agaknya terlalu menyeruak dalam batin Iskandar. Setelah itu, semua kawannya menjauh. Pujo, mendadak jadi seorang pengecut paling agung. Gofar pun tidak bisa berbuat apa-apa. Gofar telah mengingatkannya untuk kembali realistis dan menatap masa depan.

Iskandar mencoba untuk terus berlari. Ia memang sempat kembali ke rumah Norma. Namun, ketakutannya sendirilah yang justru mengantarkannya kepada malapetaka itu. Ia sempat lari dan tertangkap oleh Polisi Militer yang sedang berjaga. Beruntung lagi bagi Iskandar, komandan Polisi Militer mengenalinya dan bersedia mengantar Iskandar untuk pulang. Tidak selesai sampai disitu, Iskandar pun melarikan diri dari pos jaga Polisi Militer ketika diketahuinya berita kematian Gunawan telah menyebar seisi kota. Dengan segenap daya dan upaya terakhirnya, Iskandar mencoba lari sejauh dan secepat mungkin.

Iskandar cukup sadar bahwa tidak ada yang bisa melindunginya. Ia terbayang pada Norma yang selalu menerima dirinya apa adanya. Menyadari hal itu, Iskandar berlari sekuat tenaga untuk pulang. Sayang, sudah terlambat. Jam malam sudah diberlakukan. Iskandar tidak peduli dan terus berlari seraya berusaha kabur dari intaian Polisi Militer. Iskandar terus berlari walau beberapa tembakan telah mengenai kakinya.

Sementara di rumah, Norma sudah khawatir akan keberadaan Iskandar. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Iskandar tertembak di dekat rumah Norma. Untuk kesekian kalinya, Iskandar berhasil diselamatkan (kembali).


Sebuah Kritik

Film ini menggambarkan resistensi anak muda zaman perjuangan kemerdekaan. Sebagai seorang pejuang Iskandar heran melihat orang-orang di kota yang menikmati kemerdekaan begitu saja tanpa pernah memperhitungkan mereka yang gugur demi tegaknya Republik Indonesia tercinta. Suara hati Iskandar agaknya mirip dengan pesan terakhir Syafruddin Prawiranegara yang dikatakan menjelang ajalnya kepada Rosihan Anwar, “Lebih sakit dijajah oleh bangsa sendiri.” Maklum, waktu itu Pemerintah terlalu represif kepada pers dan Syafruddin Prawiranegara agaknya menyesali kejadian itu. Tidak jauh berbeda dengan kegalauan dan kegundahan hati seorang Iskandar.

Apa yang terjadi dengan bangsa ini? Kelak, bangsa ini akan kehilangan segalanya. Termasuk sejarah bangsanya sendiri. Perlahan-lahan, dari hari ke hari, semuanya seakan tampak nyata. Demikian pula yang terjadi pada karya-karya otentik anak bangsa, seperti film “Lewat Djam Malam” ini. Pertanyaan saya sejak awal film ini adalah mengapa tidak ada inisiatif Pemerintah dalam usaha restorasi film ini? Benar-benar menusuk hati. Restorasi fim ini melibatkan banyak pihak asing, seperti National Museum of Singapore, Yayasan Konfiden, Sinematek Indonesia, dan dikerjakan oleh Studio L'Immagine Ritrovata, Bologna, Italia.

Poster "Lewat Djam Malam" edisi pasca restorasi. Courtesy: Google Images

Lalu, dimana Pemerintah kita? Apa hanya selalu jadi wakil dalam setiap sambutan pembukaan semata sembari mengklaim bantuan yang telah diberikan? Dimana dukungan pemerintah terhadap hasil budaya bangsanya sendiri? Kenapa mesti ada campur tangan asing? Apa sudah sebegitu susahnya bagi kita untuk maju? Jangan heran bila kejadian zaman penjajahan terulang kembali. Kita semua tentu tidak ingin kehilangan sejarah bangsa kita sendiri. Masih lekat dalam benak kita mengenai koleksi peninggalan purbakala Indonesia yang terawat dengan apik di Leiden University. Jangan heran, bila beberapa tahun ke depan kita harus pergi ke Singapura untuk menonton film-film tempo doeloe karya bangsa sendiri.

Melalui berhasilnya program restorasi ini saya berharap bangsa ini tidak kehilangan jejak sejarahnya sendiri. Sejarah adalah sesuatu yang selalu berulang dan kita memang diharuskan mengambil pelajaran darinya. Seharusnya, warisan seperti ini tetap dipelihara. Daripada membuat film-film kontroversial “gak jelas” yang bertema komedi, misteri, dan seks lebih baik dananya dikumpulkan untuk restorasi film-film serupa. Bayangkan, berapa generasi bisa ikut menikmati sejarah bangsanya sendiri tanpa harus kehilangan identitas dan jati dirinya masing-masing.

Secara pribadi, saya cukup menikmati suasana kota Bandung zaman dulu. Sungai Cikapundung yang mengalir dibawah Jembatan Viaduct, panorama Gedung Sate, berpadu dengan lagu-lagu nasional macam Rasa Sayange, yang sempat ingin “diculik” oleh Malaysia, Potong Bebek Angsa, dan Halo-halo Bandung. Semua itu menghadirkan suatu romansa tersendiri. Romansa yang terjalin dalam harmoni sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Merdeka!


Judul : Lewat Djam Malam
Produser: Usmar Ismail, Djamaluddin Malik
Sutradara: Usmar Ismail
Pemeran: AN Alcaff, Netty Herawati, Dhalia, Bambang Hermanto, Rd Ismail, Awaludin, Titien Sumarni, Aedy Moward, Astaman, A Hadi, Wahid Chan, S Taharnunu, Lukman Jusuf
Tahun Rilis: 1954
Genre : Drama


Medan Merdeka Barat, 5 Juli 2012.

Rabu, 04 Juli 2012

Apakah Laga Eropamu Berakhir Duka atau Ceria?

Begitu pertanyaan dari sebuah portal situs berita. Pertanyaan seperti itu justru sangat layak ditanyakan pada Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, atau Rafael van der Vaart. Mengapa? Wayne Rooney adalah produk Premiership yang tempatnya hampir tidak tergantikan di line up striker The Three Lions. Pun, ketika Premiership menjelma sebagai liga sepakbola terbaik di dunia. Namun, bukan jaminan bagi Inggris untuk meraih kesuksesan di gelaran Piala Eropa tahun ini. Inggris hancur lebur di tangan Italia setelah drama adu penalti.

Tanyakan pula pada Cristiano Ronaldo, kenapa seorang pemain terbaik dan termahal di dunia gagal menjadi inspirasi bagi negaranya yang belum pernah sekalipun menikmati trofi penguasa sepakbola Eropa? Begitu juga kepada van der Vaart, mengapa Belanda yang bertabur pemain bintang yang bertaburan di seantero klub besar Eropa gagal menyumblim dalam permainan khas der Oranje? Barangkali, kalau mau menyebutkan masalah mereka tanpa harus memberikan pretensi, mungkin sebabnya adalah egoisme sentris. Sehingga, Portugal dan Belanda tampil tidak sebagai tim, tetapi hanya sebagai kumpulan individu yang bermain secara berkelompok.



Buat saya, 4-0 untuk Spanyol atau Italia sekalipun tidak menjadi soal. Final sesungguhnya di Piala Eropa tahun ini sudah selesai sebelum Italia bertemu dengan Spanyol. Laga Italia versus Inggris dan Italia versus Jerman adalah dua partai “final” yang menurut saya lebih krusial dibandingkan pertarungan Iberian Warriors melawan Roman Knights.



Italia, yang tahun ini kembali digoyang isu skandal Calciopolli Jilid 2, menggantungkan asa pada kenangan 6 tahun lalu saat mereka menjuarai Piala Dunia 2006. Waktu itu, meski dibayangi skandal Calciopolli, Italia mampu tampil prima, mengalahkan tuan rumah Jerman, dan masuk final melawan Prancis, lalu menang di adu penalti.

Kisah serupa hampir terulang andai saja Spanyol tidak lebih fit dari Italia. Italia kembali bertemu Jerman di semifinal, mengulang kenangan itu, dan Italia kembali menang. 2-0. Dibayar kontan dengan dua gol yang diborong Si Bengal Balotelli. Inilah final sesungguhnya buat saya. Sudah tidak diragukan lagi reputasi keduanya sebagai tim turnamen. Jerman tampil dengan kekuatan talenta mudanya. 



Reformasi sistem sepakbola timnas Jerman memang mengubah Jerman menjadi tim yang penuh semangat dan haus kemenangan. Sebuah potret yang sempurna untuk melawan Italia, dengan kekuatan yang hampir seadanya karena regenerasi yang lambat. Namun, siapa sangka agresivitas Jerman mendadak tidak berkutik saat menghadapi Italia yang seadanya.

Final melawan Spanyol, Italia kembali melambungkan asa untuk kembali merengkuh mahkota seperti enam tahun lalu. Begitulah, sepakbola telah menampilkan dirinya sebagai sebuah tragedi sekaligus kebahagiaan. Sudah banyak tragedi terjadi di Ukraina-Polandia kemarin. Kemenangan Spanyol sebagai juara Eropa dua kali berturut-turut adalah bagai menemukan bola dibalik bulan. Dibutuhkan lebih dari sekedar sejarah dan tiki-taka untuk menemukannya. Bola-bola nasib pun tidak kalah berperan ketika Italia terpaksa harus turun dengan sepuluh orang pemain, usai Thiago Motta mengalami cedera.


Spanyol telah mengukir sejarah baru di jagad persepakbolaan Eropa. Spanyol telah membuktikan kendati Liga BBVA bukan liga terbaik tetapi kualitas pemain timnas tetap terjaga. Spanyol tidak kehilangan talenta meski David Villa tidak bisa tampil. Bukan mustahil bila hal itu menimpa Xavi atau Torres sekalipun Spanyol akan tetap tampil impresif. Hala Espana. La Roja is all in!

Medan Merdeka Barat, 4 Juli 2012.

* images are reproduced from UEFA website, www.uefa.com/uefaeuro

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...