Selasa, 31 Desember 2013

Pengumuman Song Of The Year 2013

Tiba saat mengerti jerit suara hati...
Letih meski mencoba...
Melabuhkan rasa yang ada...

2013 menyisakan beberapa jam saja. Deretan daftar panjang resolusi dan pencapaian berseliweran. Entah di linimasamu, sesukamu menaruhnya saja.

Well, menjelang pergantian tahun baru ini saya masih disibukkan untuk memilih satu lagu untuk Song Of The Year 2013. Baiklah, saya sudah sebutkan semua nominasi tahun ini pada beberapa post sebelumnya. Tahun ini, saya menambah satu kategori tambahan, Outstanding Newcomer.

Memang tidak mudah untuk sampai pada kesimpulan satu lagu yang betul-betul mewakili segenap perjalanan dan pencapaian tahun ini. Satu sisi, saya ingin Song Of The Year tahun ini benar-benar mewakili suara hati saya tahun ini. Sedangkan, di sisi lain saya malah ingin lagu itu jadi satu remarkable note dari sekian highlights tahun ini. Agak membingungkan memang but that's how the story goes.

Tidak perlu bertele-tele, lagu tahun ini, Song Of The Year, tahun ini adalah .........

(Iklan minuman energi)
(Iklan pemutih kulit)
(Iklan Aburizal Bakrie) *lempar botol*

Donna Donna, Sita Nursanti, soundtrack film 'Gie'.

Lagu ini kembali saya sering mainkan sejak bulan Februari. Beberapa peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan tahun ini sudah saya kumpulkan di kuartal pertama ini. Ada satu momen ketika saya harus menerima kenyataan, membenci, dan memberontak sekaligus. Saya merasa saat itu adalah sedang berada di titik terbawah hidup saya. Saya akan ceritakan kalau nanti Tuhan sudah berikan saya penjelasan soal keputusanNya saat itu.

Stop complaining, said the farmer
Who told you a calf to be
But whoever treasures freedom
Like a swallow has learn to fly

Sekali lagi,

But whoever treasures freedom
Like a swallow has learn to fly

Kiranya, penggalan lirik diatas sudah cukup menjelaskan.

Anyway, Donna Donna terpilih karena dua lagu nominasi tiga besar, Just Give Me A Reason dan Stereo Love berada dalam satu garis linimasa yang sama. Singkatnya, mereka hanya mampu merepresentasikan satu waktu kejadian yang sama. Tahun ini, Song Of The Year kembali ke lagu Indonesia.

Outstanding Newcomer

Pilihan Outstanding Newcomer tahun ini sekaligus yang pertama sepanjang sejarah Song Of The Year adalah.....

Baby Baby Baby, JKT48.

I Love you baby baby baby, kau idola diriku
Kehadiranmu bersinar dengan terangnya
Keajaiban bertemu denganmu
Ku jadi tahu arti dari hidup

Saya langsung jatuh cinta pada lagu ini saat mendengarkan full album Heavy Rotation milik JKT48. Lagu ini punya nuansa ceria yang selalu bisa membuat mood naik lagi. Apalagi sambil membayangkan lari di pinggir pantai, berkeringat bersama @melodyJKT48.

That's a wrap for this year. See you in Song Of The Year 2014.


Paninggilan, 31 Desember 2014.


Senin, 30 Desember 2013

ICAO/COSCAPs HIRA Workshop 2013 (2-tamat)

3 Desember 2013 - Day 2


Pagi ini, saya berencana untuk lari pagi atau sekedar jalan kaki biasa. Tidak ada masalah dengan jam tidur karena Bangkok dan Jakarta tidak punya perbedaan zona waktu. Saya sudah bersiap-siap dan pemanasan kecil-kecilan dalam kamar. Iseng menonton berita, mereka bilang akan ada pergerakan massal. Wah, apakah peringatan dari briefing kemarin itu akan benar-benar terjadi? Saya tertegun di ujung tempat tidur. Sebelum tiba di Bangkok rasanya semua akan baik-baik saja. Saya tidak khawatir soal keamanan kota. Nyatanya, setelah mengalami sendiri tensi disini saya malah batal untuk menikmati lari pagi pertama saya di Bangkok.

Pergulatan sepanjang pagi ini membuat perut saya mulai berontak. Saya meilih menu sarapan yang berbeda dari kemarin. Saya ingin mencoba pilihan menu lain dari ‘jatah’ menu sarapan di restoran hotel ini. Saya memilih omelet telur, sosis ayam, bacon dan roti. Saya tidak khawatir menu pilihan saya mengandung pork or ibab or whatever you name it. Saya campur semuanya ala burger. Lumayan mengenyangkan sampai coffee break pertama jam 10.15 nanti.

Materi workshop hari ini adalah Risk Evaluation, Risk Assessment, dan Risk Control Measures. Materi ini diharapkan dapat menanamkan konsep dasar dari Risk Management. Untung saja, penyampaian materi tidak berlangsung lama. Kemarin, instruktur sudah menugaskan kami untuk membuat daftar hazard yang paling beresiko menimbulkan bahaya. Kami sudah membuat daftarnya, ada sepuluh poin hazard yang menurut analisa kami sering terjadi di Indonesia. Siang ini, Capt. Andy menjelaskan sebuah tool hasil modifikasinya untuk melakukan analisa terhadap hazard probability and severity. Tool sederhana itu dibuat dalam satu file Microsoft Excel, lengkap dengan panduan pengisian modul.


Kami diminta membuat analisis dari satu contoh hazard yang jadi top priority. Kami bekerja menggunakan tool tersebut. Saya sedikit-sedikit paham cara mengerjakan hal yang seperti ini. Huge thanks to Pak Bambang yang selalu mengajak saya mendampinginya mengajar kelas SMS awal tahun kemarin. Kami semua juga sudah pernah mengikuti training SMS, jadi sudah familiar dengan istilah-istilah dan metode analisa resiko. Usai makan siang nanti, perwakilan setiap negara peserta diminta untuk melakukan presentasi. Sebenarnya, instruktur hanya meminta tiga negara saja. Namun, karena waktu dinilai masih cukup maka keputusan itu diralat.

Presentasi Pertama di Luar Negeri

Bersama Singapura dan Macau, Indonesia jadi tiga negara terakhir yang maju untuk presentasi hasil analisis masing-masing. Dari delegasi Indonesia saya ditunjuk jadi presenter. Saya harus maju dan tampil di depan forum. Maklum, saya adalah yang paling junior dari semua anggota delegasi. Pak Bambang sudah terlalu expert untuk konteks SMS, dua senior saya pun begitu.

Saya tidak keberatan untuk maju walau kemampuan bahasa Inggris masih pas-pasan. Hanya saja, saya selalu didera deg-degan yang selalu seperti itu setiap sebelum ‘mentas’. Saya ambil baiknya saja, saya ingin sebuah pengalaman. Saya sudah pernah tampil ‘mengajar’ di kelas training ICAO Developing Countries Training Program dua kali. Lagipula, bukan tanpa alasan seorang expert sesenior Pak Bambang menugaskan saya si junior ikut dalam workshop ini.

Presentasi Delegasi Indonesia
Saya melakukan presentasi sebagaimana mestinya. Tidak ada kekhawatiran bahwa saya akan gugup dan kehilangan kata-kata di depan forum. Entah nanti di depan penghulu. Saya percaya bahwa pengalaman adalah guru yang paling hebat. Setiap tampil membawakan materi, saya tidak pernah terpaku pada materi yang ada dalam handout/laptop di hadapan saya. Saya selalu berusaha untuk menjelaskan sambil tetap menjaga kontak mata dengan forum.

Trik itu berhasil walau tidak sampai mengundang pertanyaan dari delegasi negara lain. Namun, saya cukup senang ketika Capt. Andy melakukan sedikit koreksi terhadap materi yang saya sampaikan. Artinya, beliau menaruh perhatian pada apa yang saya sampaikan. Saya mengucapkan terima kasih atas hal tersebut. Komentarnya sangat berguna untuk pemahaman kami nantinya. Ketika turun panggung, saya melihat Capt. Kim tersenyum kepada saya. Kami sudah sering makan siang bersama di Jakarta. Tak lupa, Pak Bambang menyalami saya, beliau mengucapkan selamat atas keberanian saya maju ke depan forum. Walau sudah sering saya mendampingi beliau, jabat tangan hari ini terasa betul bedanya.

Pratunam Market

Workshop hari ini berakhir lebih cepat setengah jam dari waktu normal. Cuaca cukup cerah. Kami bertiga berniat pergi ke Pratunam Market, pasar tradisional yang masuk to-do-list-when-you-in-Bangkok. Kami berpisah dengan Pak Bambang di stasiun Petchaburi. Menurut Bangkok City Map yang saya dapat dari lobi hotel, jarak dari stasiun Petchaburi menuju Pratunam Market tidaklah terlalu jauh. Itu kata peta. Ketika kami keluar stasiun, eng ing eng. Damn, masih jauh ternyata. Kami terpaksa naik taksi dan membayar 60 THB. Jalanan sore di Bangkok sama saja dengan Jakarta, padat merayap. Masih ada sisa setengah jam sebelum pasar tutup jam 6 petang.

Kami biarkan satu-satunya perempuan dalam delegasi kami menghabiskan baht di Pratunam ini, siapa tahu dia memang mendapatkan apa yang dia cari. Saya berdua hanya mengelilingi pasar dan membeli beberapa potong kaos lagi untuk menambah stok persediaan. Sedia payung sebelum hujan memang ada benarnya. Kita tidak pernah tahu siapa lagi yang akan datang dalamn hidup kita.

Malam mulai turun. Pasar mulai sepi. Jika anda masih belum puas, toko-toko di pelataran dekat Pratunam Market masih banyak yang buka hingga pukul 10 malam. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan mampir sebentar di Starbucks Mall Platinum yang tepat berada di seberang Pratunam. Kami lanjut menuju mall Central World yang ternyata cukup dekat untuk dijangkau dengan jalan kaki.


Suasana malam di pelataran mall dipenuhi ornamen Natal. Ada beberapa pohon cemara yang sengaja ditempatkan dan dihias begitu rupa untuk menyambut keceriaan Natal. Yeah, Christmas is coming. I’m gonna sing my favourite Christmas song, Last Christmas. Hari Kamis lusa, 5 Desember adalah hari ulang tahun Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej. Semboyan ‘Long Live The King’ ada di setiap baligo atau banner yang dipajang di stasiun. Beberapa mall juga saya lihat membuat altar penghormatan terhadap Raja berusia 81 tahun ini yang sedang dirundung sakit.

Kami bertiga bergantian saling mengambil foto di area pelataran mall. Naluri eksistensial kami diuji disitu. Kami baru memutuskan untuk pulang ketika rasa lapar mulai melanda. Kami kembali ke Sukhumvit dengan naik Skytrain dari stasiun Chitlom ke stasiun Nana. Sepanjang perjalanan menuju Chitlom, kami bergantian berfoto lagi.

Makan malam hari ini kami rayakan di restoran India yang kami pilih pada malam pertama kemarin. Kami tentu tidak memilih menu yang sama. Pelayan menawarkan kami pilihan menu one-for-all, nasi dengan berbagai macam pilihan lauk.

Saya bersyukur atas semua yang saya dapat hari ini. Suatu saat nanti, saya yakin pengalaman-pengalaman hari ini akan membawa saya ke tempat lain.

4 Desember 2013 - Day 3


Sarapan pagi ini adalah kejutan. Saya memesan menu yang sama dengan kemarin. Saya terkejut ketika pelayan restoran memberi tahu bahwa dalam menu itu terdapat pork. Yeap, saya makan babi kemarin dan saya baru tahu hari ini. Semoga Tuhan mengampuni. Andai saya seorang Ali, tentu akan saya keluarkan isi kerongkongan saya seketika itu juga. Akhirnya, saya makan babi juga.

Hari terakhir ini kami masih punya materi risk management implementation. Kami harus berhadapan kembali dengan teori-teori. Sempat terjadi diskusi panjang antara delegasi India dengan instruktur. Dari diskusi itu berkembang menjadi satu forum yang lebih besar. Kami ikut menyimak jalannya diskusi. Terakhir, sebagai jalan tengah instruktur kembali membuka beberapa referensi yang membuat diskusi berakhir dengan fair. 

Officially Certified
Workshop ini resmi ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada semua peserta. Saya bersyukur karena saya bisa menyelesaikan workshop ini dengan baik. Sertifikat yang saya terima barangkali adalah bukti bahwa apa yang telah saya lakukan tidaklah terlalu salah. This is the end beautiful friend.

Shop Till You Drop

Kami selesai lebih cepat satu jam hari ini. Kami punya waktu untuk selonjoran selama sejam sebelum kembali menghabiskan sisa baht di MBK. Saya langsung menuju Toys Studio untuk memastikan barang incaran saya masih ada. Saya mencoba melihat lagi koleksi toko ini, ternyata mereka punya miniatur ATR72-500 HOP for Air France skala 1:100 buatan Herpa Jerman. Kabar buruknya, ini adalah stok terakhir mereka. Saya langsung membayar 1.150 THB untuk ATR72 itu. program saya untuk punya miniatur pesawat bermesin turboprop pun tuntas disini. 


Tidak hanya itu, saya juga menemukan miniatur Boeing 787 Dreamliner Thai Airways skala 1: 200 seharga 750 THB. 787 itu menandai habisnya uang baht saya. Kecuali, 5200 THB untuk bayar hotel besok sebelum check-out. Untuk berjaga-jaga supaya tidak sampai kelaparan dan masih bisa jalan-jalan besok pagi, saya akhirnya mengambil lagi uang 1.000 THB di ATM milik Bangkok Bank. Untuk transaksi itu, saya dikenai charge sebesar 180 THB. Tapi tetap saja yang keluar di ATM hanyalah selembar 1.000 THB. Dengan demikian, 1.180 THB akan dibebankan ke rekening BNI saya, tentu dengan kurs atas.
Never Trust Strangers

Judul ini kelihatannya agak berlebihan, tapi percayalah anda kini sedang berada di negeri asing dan orang asing belum tentu selalu menyenangkan. Sebelum berangkat, saya sudah membaca artikel, blog dan beberapa diskusi di forum backpackers. Banyak tulisan soal pertemuan dengan orang asing berperilaku aneh. Semua itu cukup membuat saya berhati-hati bila bertemu orang asing terutama di Bangkok.

Petang ini, dalam perjalanan menuju MBK, teman saya tiba-tiba diajak kenalan dengan seorang pria yang mengaku dari Arab Saudi. Orang Arab yang entah benar atau gadungan itu tahu kami berasal dari Indonesia. Ketika turun dari Skytrain, ia mendekati saya dan bertanya berapa nilai rupiah untuk 1 USD. Saya jawab 11.000 IDR. Ia terus mendesak saya dan menunjukkan isi USD di dompetnya sambil berkata bahwa ia ingin melihat uang rupiah.

Ingatan saya langsung melayang pada artikel yang saya baca. Modus seperti itu sudah sering dilakukan para penjahat di Bangkok. Dalam artikel itu, si penulis bertemu dengan orang dari Afrika. Saya segera menjauh darinya dan mengajak teman saya keluar dari pintu yang berbeda. Si Arab itu berteriak-teriak seperti orang yang tidak percaya bahwa seseorang telah mencurigainya sebagai bukan orang baik. Saya langsung jelaskan bahwa perkenalan semacam itu tadi adalah modusnya untuk mencuri atau lebih parah menghipnotis kita.

Teman saya heran karena saya bisa tahu hal semacam itu. Mereka jelas kaget karena tidak menduga akan mengalami hal yang demikian. Saya juga lupa tidak memberi tahu mereka soal itu. saya juga tidak mengira bahwa saya benar-benar akan mengalami hal yang demikian. Mungkin itulah kenapa Tuhan membiarkan saya membaca artikel-artikel itu.

Sekali lagi, saat sedang melihat-lihat obral pakaian di lantai dasar MBK, seseorang menunjuk ke arah saya sambil memegangi polo shirt yang saya kenakan. Ia berteriak pada temannya bahwa kaos seperti inilah yang ia cari. Ia segera mengajak saya belanja bersama dan bilang bahwa saya dari Indonesia. Ia juga bilang kita sesama Muslim jadi tidak perlu khawatir. Nggak perlu khawatir pala loe peang! Saya segera menjauhinya dan bergegas pergi.

Dari awal masuk ke toko itu saya sudah curiga padanya. Perawakannya tidak lebih tinggi dari saya. Dari mukanya saya segera bisa mengenali bahwa ia berasal dari keturunan Timur Tengah. Hanya saja, ia berbelanja dengan seorang anak muda seumurnya dan seorang Ibu berusia kurang lebih 50 tahun dan tidak ada rupa turunan Timur Tengah.

Tidak ada salahnya berhati-hati dengan orang asing. Walau kadang keterasingan membawa kita pada pengalaman tertentu dan lain dari biasanya. Waspadalah!

Malam ini segera berakhir ketika kami mulai mengaku tidak ada jatah baht lagi untuk malam ini. Kami segera kembali ke hotel dan tidur. Besok, kami masih punya waktu sedikit untuk menikmati pagi di Bangkok. Saya ingin ke Chao Phraya besok. Semoga waktu mengizinkan.

5 Desember 2013 – Last Day in Bangkok

Good Morning, Chao Phraya


Pagi ini saya bangun terlambat. Tentunya usai shalat Subuh pukul 5 pagi. AC yang lupa dimatikan sudah cukup membuat saya kedinginan lalu terbangun. Saya bangun kembali jam 6.30 dan segera membangunkan teman saya untuk sarapan. Saya bersikeras ingin ke Chao Phraya sebelum pulang.

Dari Sukhumvit, kami menuju stasiun Nana dan naik Skytrain menuju Siam untuk transit dan pindah kereta ke arah Saphan Taksin. Dari situ, tinggal jalan kaki menuju pinggir sungai Chao Phraya. Terima kasih, Tuhan. Saya kini berada di tepi sungai Chao Phraya. Kami langsung disambut para penyedia jasa tur Chao Phraya. Ada paket yang full day, half day, atau short trip. Untuk paket paling singkat, trip selama 1,5 jam dikenai biaya 140 THB. Ada banyak paket pilihan lokasi sesuai keinginan pengunjung. 


Saya tidak mengambil paket apapun. Kami pasti akan ketinggalan pesawat bila ikut tur disini. At least, saya sudah menepi ke Chao Phraya, menuntaskan satu keinginan terpendam.Kami hanya berfoto saja di sekitar pelabuhan. Sebagai bukti bahwa kami pernah berada disini.

Sebelum episode pagi di Chao Phraya ini berakhir, teman saya mengajak untuk pergi ke sebuah taman dekat Central Chidlom. Ide yang bagus mengingat waktu kami semakin sempit.

Long Live The King
Kami segera naik ke stasiun Saphan Taksin. Sial, kami salah naik kereta. Harusnya kami naik Skytrain ke arah Siam. Namun, kami naik kereta menuju Wongwian Yai. Kami pun segera turun di stasiun pertama, Krung Thon Buri. Ajaibnya, stasiun itu terletak di bagian seberang Chao Phraya. Tuhan telah mengizinkan saya untuk menyeberangi Chao Phraya dengan caraNya, walau tidak dengan perahu.

Untitled Park


Setelah berganti kereta, kami segera menuju Chit Lom. Kami turun di stasiun itu dan segera menuju Central Chidlom untuk turun. Kami juga sempat melihat beberapa barang branded yang masih sale. Kebetulan, 5 Desember atau hari ulang tahun Raja ini adalah hari terakhir sale. Sayang, tidak ada ukuran sepatu yang cocok untuk kaki kami.


Saya tidak tahu nama taman ini. Melihat banyaknya orang beraktivitas pagi disini, saya yakin taman ini memang cukup nyaman. Letaknya yang dikelilingi bangunan tinggi membuatnya tetap teduh. Saya jatuh cinta dengan taman ini. Kenapa saya tidak ke taman ini saja untuk olahraga pagi. Saya agak menyesal juga.

Puas berfoto, kami menuju ke KFC untuk makan siang. Saya yakin kami tidak akan punya waktu lagi untuk makan siang di Suvarnabhumi. Pesawat kami akan terbang pukul 17.20. Usai makan siang kami harus segera berangkat ke airport. Kami pun tidak sempat bertemu lagi dengan Pak Bambang beserta istri dan putrinya karena sudah pulang dengan pesawat jam 10 pagi tadi.

Tadinya kami akan naik kereta seperti hari kedatangan. Namun, melihat barang bawaan yang beranak pinak kami putuskan saja untuk naik taksi. Kebetulan sedang ada taksi yang menganggur di depan hotel. Usai membayar, saya segera tanya harga taksi menuju bandara pada petugas hotel. 400 THB. Harga yang cukup murah untuk dishare bertiga.

Perjalanan menuju bandara naik taksi dari kota memakan waktu sekitar 30 menit. Kami segera menuju counter check-in hanya untuk mendapat pemberitahuan bahwa counter akan dibuka pukul 3.15. masih satu setengah jam lagi. Oke, kami harus menunggu.

Satu Hati, Satu Indonesia

Kontingen Jambore Pramuka Internasioal dari Indonesia
 Tiba-tiba, antrian check-in penuh dengan rombongan berseragam pramuka. Mereka akan satu pesawat dengan kami. Ternyata, mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang baru saja mengikuti jambore internasional di Bangkok. Mereka terdiri dari putra-putri murid SMP di seluruh Indonesia, begitu pula dengan pembimbingnya. 

Melihat mereka membuat saya melihat kembali diri saya tiga belas tahun lalu. Rasanya, ada rasa bangga tersendiri melihat putra-putri terbaik negeri mewakili bangsanya. Saya berdoa untuk mereka, semoga suatu saat nanti mereka bisa mewakili Indonesia di tingkat yang lebih tinggi.

Kami menghabiskan waktu dengan berfoto dan kelalang-keliling. Saya pun membeli majalah Playboy Thailand untuk membunuh waktu. Anyway, Playboy disini dijual murah, cukup dengan 180 THB saja. Asal mau tahan karena tidak bisa membaca aksara Thailand, itu sudah lebih dari cukup. Saya tentu berharap rombongan anak-anak SMP itu tidak seperti saya kelak hehehe :D.

Counter Check-in pun dibuka. Kami segera mengurus bagasi dan masuk menuju pemeriksaan imigrasi. Masih ada waktu satu jam sebelum boarding. Kami habiskan satu jam terakhir kami dengan mengelilingi semua duty free shop di terminal internasional Suvarnabhumi. Hingga akhirnya pengumuman boarding menghentikan langkah kami. Saya pun belum sempat mengaktifkan ID untuk mengakses free wifi disini. Kelak, saya akan menikmatinya saat menunggu pesawat menuju Chiang Mai. Semoga.

Bangkok, 5 Desember 2013.

ICAO/COSCAPs HIRA Workshop 2013 (1)

Prelude

Thailand. Kata Ibu Guru Sejarah waktu SD adalah negara yang belum pernah dijajah. Saya tidak pernah tahu seperti apa Thailand sampai menonton sebuah film, 'Crazy Little Thing Called Love'. Itu pengalaman pertama saya menonton film Thailand sekaligus mengamati sisi kehidupan disana. Film itu pula yang berhasil memecah kebisuan antara saya dengan seorang peserta training di Medan tahun lalu.

Kesan lain soal Thailand, sudah tentu soal Sepakbola dan otomotif. Saya lupa kapan terakhir kalinya timnas sepakbola Indonesia menang dari Thailand. Saya bahkan masih ingat seorang Kiattisuk Senamuang, penyerang Thailand yang kini jadi pelatih timnas Thailand U-23. Soal otomotif, sudah jelas banyak produk otomotif yang beredar di Indonesia berasal dari Thailand, dan sebaliknya. Mengamati jalanan di Bangkok tak ubahnya dengan di Jakarta.

Sebenarnya, keinginan untuk pergi ke Thailand sudah ada sejak Chiang Mai menjadi Tuan Rumah SEA Games 1997. Ditambah lagi pembacaan atas satu cerpen dari Seno Gumira Ajidarma 'Negeri Kabut' yang ditulisnya dari sana. Terakhir, dalam buku 'Nagabumi I & II', SGA juga menceritakan pengembaraan seorang Pendekar Tanpa Nama ke Thailand yang disebutnya sebagai Negeri Atap Langit.Saya berniat untuk mengunjungi Chiang Mai dan menyebrangi Chao Phraya suatu saat nanti.

Menuju Bangkok

Penantian itu akhirnya terwujud awal bulan ini. Ada sebuah undangan untuk mengikuti sebuah workshop di ICAO Regional Office, Bangkok. Usai bolak-balik Jakarta-Kuala Lumpur selama dua minggu berturut-turut, saya mendapat penugasan kembali untuk menghadiri workshop tersebut bersama tiga orang rekan kerja lainnya. Termasuk, Pak Bos pemimpin kelompok kerja yang membawa istri dan putrinya.

Workshop berjudul 'Hazard Identification and Risk Mitigation (HIRA)' ini mengharuskan kami melakukan identifikasi hazard dan membuat mitigasi resiko terkait hazard tersebut. Tentu dalam batasan konteks keselamatan penerbangan di Indonesia.



Kami berangkat hari Minggu, 1 Desember dengan pesawat Garuda Indonesia menuju Suvarnabhumi International Airport. Perjalanan ditempuh selama 3 jam 20 menit. Kami tiba di Suvarnabhumi pukul 5 sore WIB (Waktu Internasional Bangkok). Kebetulan, menurut informasi yang sudah saya dapat sebelumnya, akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk Bangkok Shopping Experience. Chatuchak (baca: Jatujak) Weekend Market, sesuai namanya hanya buka pada akhir pekan.

Minggu ini, tensi soal demonstrasi anti pemerintah di Bangkok semakin meninggi. Demonstran semakin gencar dan berencana akan terus bertahan di kawasan pemerintahan untuk memperjuangkan tujuannya. Kami pun sempat khawatir karena lewat siaran berita dan pengalaman sebelumnya, demonstrasi di Bangkok selalu berujung dengan bentrokan antara simpatisan pemerintah, Polisi, dan demonstran anti pemerintah.


Kekhawatiran itu tidaklah terlalu membebani kami karena menjelang landing tidak ada warning apapun soal situasi terakhir di Bangkok. Pun, tidak ada peringatan apa-apa dari Kantor Sekretariat Negara maupun Kedutaan Besar Thailand. Kami hanya dibagikan arrival card dari Imigrasi Thailand yang berguna sebagai kontrol bagi turis/wisatawan/pendatang.

Sawasdee!
 


Rupanya, Thailand punya cara sendiri dalam 'melindungi' negaranya. Sepintas mirip Singapura. Setiap pendatang harus sudah punya tempat tujuan/hotel dan yang lebih penting adalah tiket kembali dari Thailand menuju negara asal. Hal itu sudah dibuktikan oleh Mbak Nadia, putri Pak Bos yang kebetulan sedang libur dari AirAsia Training Center, yang juga ikut bersama kami untuk tujuan berbeda tentunya. Ia ditolak oleh agen perjalanan ketika akan membeli tiket sekali jalan.

Pemeriksaan imigrasi kami lalui dengan lancar. Kami mengantri bersama wisatawan lain yang kebanyakan berasal dari Jepang. Melihat kenyataan seperti ini, saya membuat kesimpulan awal bahwa Bangkok ini adalah kota yang ramah bagi wisatawan. Buktinya, sekalipun demonstrasi massal berlangsung sektor pariwisata tidak ikut terpengaruh. Situasi yang tentunya berbanding terbalik dengan Jakarta. Sekali buruh demo, imbasnya bisa mempengaruhi sendi bisnis lain.


Kami meneruskan perjalanan dengan kereta ekspres dari Suvarnabhumi menuju Bangkok. Jaraknya tidak sejauh KLIA-Kuala Lumpur. Kami membayar 30 THB sekali jalan dan hanya butuh waktu 20 menit saja untuk tiba di stasiun transit Phaya Thai. Dari Phaya Thai untuk menuju hotel kami di daerah Sukhumvit Road, kami harus naik BTS Skytrain ke stasiun Nana.

Pengalaman naik monorel di Kuala Lumpur cukup membantu. Kami hanya mengalami kesulitan ketika membaca instruksi di mesin tiket. Sedangkan, loket penukaran uang koin selalu tersedia, tanpa harus berinteraksi langsung petugas sudah tahu maksud kami untuk menukar uang receh.

Satu pelajaran, saya lupa belajar bahasa Thailand, untuk beberapa percakapan biasa seperti terima kasih, selamat pagi, permisi, dll. Saya rupanya terlalu exciting dengan penugasan ini. Jika memang pembaca pandai membaca aksara sansekerta, niscaya itu juga akan sangat berguna disini.


Tiket BTS Skytrain menuju Nana seharga 28 THB. Penumpang tidak perlu repot karena terdapat petunjuk stasiun tujuan lengkap dengan tarifnya. Tinggal masukkan uang koin sejumlah tarif maka tiket perjalanan sekali jalan akan segera keluar. Sekedar tips, bila memang akan tinggal lama di Bangkok lebih baik membeli Kartu Langganan, mirip punya KRL PT. KAI. Ada yang harian, mingguan, dan bulanan. Jalanan Bangkok sama penuhnya dengan Jakarta.

Kami tiba di stasiun Nana dan segera menuju hotel Grand Business Inn yang terletak di Sukhumvit Soi 11. Cukup dengan 5 menit jalan kaki. Saya sudah booking hotel 3 minggu sebelum tanggal kedatangan dan diberi rate spesial 1300 THB/night karena kami delegasi untuk acara ICAO.

Sukhumvit Road adalah kawasan yang meriah. Banyak turis asing menginap di sekitar sini. Pedagang kaki lima pun tak kalah banyaknya. Apapun bisa ditemukan disini, makanan, obat kuat, pakaian, perlatan elektronik, dan souvenir, semua ada. Tidak perlu khawatir soal bahasa, bahasa kalkulator berlaku disini. Kecuali untuk tukang buah-buahan yang sudah melabeli dagangannya.

Saya dan dua teman sudah bersiap menuju Chatuchak Weekend Market ketika waktu makan malam tiba. Rencananya, usai makan malam kami lanjut jalan kesana. Makan malam pertama saya di Bangkok adalah paket menu nasi dari sebuah restoran India. Tidak mudah menemukan menu halal disini. Kalaupun ada, biasanya di restoran khas Timur Tengah atau India. Harganya bisa tiga kali lipat dari harga menu standar.

Usai makan malam, kami mendapat informasi dari rekan kami yang terakhir kemari beberapa bulan lalu bahwa Chatuchak Weekend Market pun buka pada hari kerja. Kami terlanjur percaya sehingga menghabiskan malam dengan jalan-jalan di sekitaran Sukhumvit.


Untuk alasan komunikasi, karena paket roaming Blackberry cukup mahal,75000 IDR per hari, maka kami pun segera membeli SIM card di 7Eleven dekat hotel. Kami langsung diberi Happy SIM Tourist dari operator DTAC. Ada dua pilihan Happy Card. Harganya 49 THB dan 299 THB. Bedanya, yang murah tidak preloaded pulsa dan paket datanya terbatas. Sedangkan, yang mahal sudah terisi pulsa dengan kuota paket data unlimited dengan masa pakai 1 minggu. Cocok untuk kami. Kartu ini tidak aktif secara otomatis sebagaimana dijanjikan di websitenya. Pengguna tetap harus menghubungi Call Center untuk aktivasi. Untungnya, mereka bisa bahasa Inggris.

Malam pertama di Bangkok pun saya lewati dengan menghabiskan jambu air dan nangka yang saya beli di tukang buah kaki lima dalam perjalanan kembali ke hotel usai makan malam.

Bangkok sudah terlanjur terkenal dengan wisata belanjanya. Most Indonesian told me that. Dua orang teman saya sudah pernah datang kemari jadi saya tidak perlu khawatir soal itu. Besok pun kami masih punya waktu untuk keliling Bangkok.

2 Desember 2013 - Day 1

Saya terbangun dengan kesadaran sepenuhnya bahwa saya berada 2.200 kilometer lebih jauhnya dari Jakarta. Saya tidak perlu merasa berat untuk bangun dan memikirkan jalanan Senin yang selalu semerawut. Sarana transportasi umum disini tergolong layak dan ramah bagi kaum difabel. Mungkin itu sebabnya Bangkok terpilih menjadi No. 1 Destination in Asia versi TripAdvisor.


Usai disibukkan dengan urusan memilih menu sarapan, kami segera berangkat menuju kantor ICAO Bangkok. ICAO adalah badan dunia/PBB yang mengurusi penerbangan sipil. Kantor perwakilan untuk Asia-Pasifik terletak di Bangkok ini. Sedangkan kantor pusat ada di Montreal, Canada. Menghadiri seminar/konferensi/workshop di kantor ICAO atau bahkan hanya sekedar berkunjung adalah cita-cita saya dan teman-teman seangkatan. Entah itu Regional atau Headquarter sekalipun.

Kantor ICAO Bangkok terletak di Vibhavadi Road, dekat dengan Chatuchak Weekend Market. Dari Sukhumvit Road kami hanya perlu naik MRT (subway) dari stasiun Sukhumvit menuju Phahon Yothin dengan tarif 40 THB sekali jalan. Kami masih harus jalan kaki +/- 500 meter dari stasiun sebelum sampai di gerbang kantor ICAO. Satu impian saya terwujud ketika saya benar-benar melintasi pintu masuk dan diberi seminar kit oleh panitia. Never stop dreaming, mumpung gratis.

Kami masuk ke ruangan konferensi dan menempati tempat yang sudah disediakan. Lengkap dengan papan penunjuk bertuliskan 'INDONESIA'. Oh my goodness, kami menjadi perwakilan Republik lagi. Anggap saja ini kontribusi kami untuk negeri. Masih ingat quote dari JFK soal padamu negeri kan?

Peserta workshop lainnya datang dari berbagai negara anggota ICAO (contracting states). Ada Singapura, Malaysia, India, Vietnam, Thailand, Myanmar, Laos, Bangladesh, Pakistan, Filipina, Hong Kong, Macau, dan Vanuatu.

Instruktur workshop kali ini, Capt. Andreas 'Andy' Meyer, datang langsung dari ICAO Montreal. Beliau bertugas di Safety Management Section. Saya juga bertemu lagi dengan Capt. Kim Trethewey, Technical Advisor COSCAP-SEA (cooperative group dalam bidang kelaikan dan operasi pesawat udara se-Asia Tenggara), yang sudah berkali-kali datang ke kantor kami di Jakarta. Workshop ini juga difasilitasi oleh COSCAP-SEA dan didukung oleh Airbus dan Boeing.


Seperti acara yang saya hadiri sebelumnya, sesi foto bersama selalu jadi menu pembuka setelah welcoming speech dari pemimpin ICAO Regional Office dan COSCAP-SEA. Coffee break menandai materi pertama akan segera dimulai.

Sebelum instruktur naik mimbar, panitia memberikan short briefing mengenai situasi terakhir keamanan kota. Demonstran mulai memecah konsentrasi. Mereka mulai menyebar hingga ke arah Kantor Polisi di depan mall Central World. Sukhumvit Road pun masuk dalam zonasi peringatan. Banyak demonstran dari luar kota yang menginap disana.

Berlanjut ke acara utama, materi workshop masih seputar topik yang merujuk ke Safety Management Manual (SMM)  ICAO (DOC 9859) dan Annex 19: Safety Management System (SMS). Banyak wawasan baru yang saya dapat karena pemahaman saya masih sebatas slide training SMS dan SMM yang belum tamat dibaca. Sesuai jadwal, hari terakhir nanti setiap delegasi akan menyampaikan analisis HIRA menggunakan tools yang baru diajarkan besok. Konklusi hari ini, kami mereview kembali konsep-konsep dasar Safety Management


Kegiatan hari ini selesai pukul 4 sore. Cuaca di Bangkok cerah dengan udara yang tidak terlalu lembab. Sangat nyaman untuk berjalan kaki karena tidak akan terlalu berkeringat. Kami pun segera menuju Chatuchak Weekend Market yang tidak jauh dari Kantor ICAO. Sayangnya, tidak ada aktivitas apa-apa disana alias tutup. Kami tidak terlalu kecewa. Konon, barang dagangan disana tidak jauh berbeda dengan di tempat lain. Nanti malam kami masih punya waktu untuk jalan-jalan ke MBK.

Shopping Time

Malamnya, kami segera menuju MBK. Kami naik Skytrain dari Nana ke Siam untuk transit pindah jalur kereta ke Silom Line dengan tujuan stasiun National Stadium. Ada sedikit yang berbeda malam ini. Banyak pedagang kaki lima yang tidak jualan. Termasuk si tukang buah. Barangkali benar briefing siang tadi. Komentar lain justru datang dari istri dan putri Pak Bos yang sesiangan tadi jalan-jalan ke Central World. kata mereka tidak ada keramaian apapun disana. Well, do at your own risk kembali berlaku disini.

FYI, MBK adalah pusat perbelanjaan besar, mirip ITC (Jakarta) dan Pasar Baru Bandung. Suasana belanja cukup nyaman dengan kualitas barang yang lumayan. Saya menjumpai banyak turis yang menggiring koper, mereka sepertinya baru tiba di Bangkok dan langsung belanja disini. Beberapa juga mendorong kereta bayi. Sekali lagi, Bangkok membuktikan kenyamanan fasilitas publik untuk siapapun.

Dash-8 Q400 N354NG. Courtesy: www.toysstudiobkk.com
Saya menghabiskan baht disini dengan membeli kaos dan sebuah miniatur pesawat. Saya berhasil menemukan miniatur United Express Bombardier Dash-8 Q400 series skala 1:400 di Toko Toys Studio Bangkok (www.toysstudiobkk.com). Q400 ini adalah cinta pada pandangan pertama saya sewaktu mampir ke website Gemini Jets, perusahaan pembuat miniatur pesawat. Saya tidak keberatan menghabiskan 1.100 THB untuk pesawat mini ini. Saya puas dengan detailnya, bahkan nomor registrasi pesawat pun cukup jelas, N354NG.

Sesi belanja malam ini ditutup dengan makan malam di KFC. Itupun setelah kami kembali ke hotel untuk menyimpan belanjaan. Kami tidak terlalu fanatik dengan makanan halal. Kami sedang berada dalam keadaan darurat. Kami tentu sudah sering bolak-balik ke Solaria yang belum dapat sertifikat halal dari MUI. So, why bother? Kecuali, bila kami memang ragu. Hadits Rasulullah pun mengajari kami: tinggalkanlah yang membuat kalian ragu.


Saya lagi-lagi dibuat terkesan oleh Bangkok. Restoran cepat saji macam KFC ini pun mempekerjakan pekerja difabel. Untuk mempermudah komunikasi, terdapat beberapa papan petunjuk baik di meja maupun di order counter.

Saya tidak bisa tidur hingga tengah malam. Rupanya, saya masih kepikiran soal diskon 50% di toko miniatur tadi. Ada miniatur pesawat Airbus A320 seharga 650 THB yang batal saya beli. Kalau ada kesempatan main lagi kesana, tentu saya tidak akan melewatkannya.

Malam ini pun kami ditemani dengan streaming dari Gen FM Jakarta. Teman sekamar saya sekarang adalah teman sekamar waktu seminar di Kuala Lumpur kemarin. Jadi, kami sudah saling pengertian. Gracias, buenos noches.


Bangkok, 2 Desember 2013.

Jumat, 27 Desember 2013

COBIT 5 Foundation Training (4-tamat)

27 November 201 - D-Day

Saya teringat sebuah kisah, entah benar atau tidak, bahwa setiap orang yang belajar ke luar negeri atas biaya negara pada zaman kemerdekaan harus berhasil menempuh masa pendidikannya. Bila tidak, mereka akan dicap sebagai pengkhianat negara. Saya pun tidak yakin bila hal itu adalah fakta yang benar-benar terjadi. Hal ini cukup membuat saya terpacu. Saya tidak datang kesini untuk gagal.

Kami datang benar-benar terlambat. Kami tidak menyangka bahwa lalu lintas akan sedemikian macetnya pagi ini. Kami terlihat begitu terburu-buru ketika masuk kelas. Mr. DLJ pun hanya tertawa sambil bergurau. Look at them, they must be had a great party last night. Gurauan itu berhasil membuat seisi kelas tertawa. Saya mengelak dan meyakinkan teman-teman bahwa kami memang belajar semalaman hingga terlambat bangun. Namun, akibat peer pressure akhirnya saya katakan pada mereka bahwa we had a great night in Zouk.

Materi hari terakhir ini hanya mereview sekilas dan memantapkan prinsip-prinsip dasar COBIT 5. Kami diberi beberapa clue mengenai hal-hal yang akan ditanyakan dalam ujian. Kami pun diberi waktu setengah jam untuk mengerjakan soal yang diberikan. Kami masih punya waktu 90 menit setelah istirahat makan siang untuk melakukan persiapan sebelum ujian.

Saya menghabiskan 30 menit pertama di meja makan saja. Kami mengobrol dengan beberapa rekan dari Malaysia. 30 menit berikutnya saya kembali ke kelas dan membaca modul. Saya tidak yakin hal ini akan berhasil sepenuhnya. Saya ingat cerita Bu Winda, guru Fisika SMP, yang menghabiskan malamnya dengan istirahat penuh supaya bisa mengerjakan ujian dengan fisik yang prima. Atau cerita Sandra, yang setiap mau ujian selalu minum Calpico soda sambil berjalan-jalan di sekitar komplek.

Saya menghabiskan waktu yang diberikan hanya untuk menghilangkan ketegangan. Saya kirim pesan lewat BBM pada Bapak dan Ibu, minta didoakan supaya bisa mengerjakan soal dengan lancar. Intinya, saya ingin mereka mendoakan saya supaya lulus. Empat batang rokok pun menemani saya membunuh waktu. Saya merasa siap untuk ujian siang ini. Saya akan lulus dan melapor pada Direktur bahwa kami berhasil menempuh sertifikasi ini.

The Exam

 
Sebelum mulai mengerjakan soal dan mengisi lembar jawaban, kami mengisi lembar aplikasi ujian terlebih dahulu. Mirip yang dilakukan para calon pilot itu di kantor kami. Saya sepenuhnya sadar bahwa kegagalan hari ini akan dibayar dengan harga yang mahal. Sekali lagi, saya ingin pulang dengan kepala tegak.

Saya mengerjakan 50 soal dengan hati-hati. Itu pun tidak cukup karena waktu yang hanya 40 menit. Saya pelan-pelan mengedurkan tekanan agar tidak mengganggu konsentrasi. Biasanya, masalah akan mulai terjadi pada memori/ingatan. Saya berhasil melaluinya hingga Mr. DLJ mengingatkan sisa waktu tinggal 10 menit. Saya merasa mantap dengan jawaban saya. Hingga akhirnya saya menemukan 10 soal yang belum saya isi. Alamak! 1 menit untuk 1 soal. Saya dipaksa berpikir cepat hingga isyarat tanda ujian berakhir. Saya yakin mampu lulus dari ujian ini  dengan passing grade minimal.

Kami diberi waktu jeda 20 menit. Kami saling bertukar cerita dengan teman-teman sekelas. Saya hanya ingin tertawa mengingat persiapan saya semalam. Ah, kalau Tuhan memang mau kasih, Tuhan pasti kasih lulus. Selama waktu itu, Mr. DLJ memeriksa lembar jawaban kami semua dan akan mengumumkan hasilnya.

Kami pun dipanggil masuk kelas untuk pengumuman hasil ujian. Mr. DLJ mengucapkan terima kasih karena baru pada sesi training kali ini ia mendapatkan skor rata-rata peserta yang cukup baik. Ia telah memegang daftar nilai masing-masing peserta. Ia pun segera berkeliling mendatangi peserta satu per satu sambil menunjukkan skor. Kami dilarang memberi tahu hasil satu sama lain sebelum ia selesai berkeliling.

Saya kaget karena hasil ujian saya diluar ekspektasi sebelumnya. Keberuntungan pemula, meniru kata Paulo Coelho. Saya mendapat skor 32 atau passing grade 64%. Sementara, dua kawan lain 52% dan 70%. Artinya, saya tidak terlalu salah kali ini. Saya bersyukur saya mampu melewati ujian ini. Saya berterima kasih pada teman, kolega, dan orang tua yang telah mendoakan.

Anyway, hasil ujian tertinggi diraih Martin Tomanek, seorang business analyst  yang bekerja untuk DHL Asia Pacific di Selangor. Martin ini berasal dari negerinya Pavel Nedved. Kami mulai mengobrol akrab sejak dia tahu bahwa saya user LinkedIn. Some people prefer LinkedIn rather than Facebook. Martin bercerita bahwa dia tidak akan lama lagi berada di Malaysia. Martin akan kembali bekerja untuk DHL di Czech. Saya janji akan menemuinya bila suatu saat nanti punya kesempatan mengunjungi negaranya Vaclav Havel itu.

This is The End Beautiful Friend

Kelas ditutup dengan sesi foto bersama. Kami saling bertukar kontak. Saya merencanakan sesuatu malam ini. Zouk mungkin bukanlah pilihan yang terlalu salah. Saya bertanya apakah ada rekan Indonesia yang ingin ikut. Rupanya, kolega dari BEJ mulai memberi kode. Yeah, baby i’m a single man so do you, let’s have a party, let’s celebrate this day!

Alumni COBIT 5 Foundation Course - ALC KL 2013

Saya pun membuat janji dengannya. Entah siapa dulu yang akan menghubungi yang jelas kalau memang dia mau saya akan menemaninya. Rabu malam adalah malam yang sempurna untuk party, kata seorang kawan dari Telecom Malaysia.

Kami masih punya banyak waktu sebelum malam turun. Lagipula, saya masih harus pergi ke bengkel Perodua di Keramat untuk mengambil urusan pesanan fog lamp. Saya berpisah dengan kawan-kawan yang ingin pergi jalan-jalan ke Pasar Seni (Central Market).

Episode Terakhir Mencari Fog Lamp di KL

The traffic was too crowd saat saya keluar dari Double Tree. Kemacetan terjadi dimana-mana. Tidak ada taksi yang mau jalan. Saya pun harus berjalan 2 kilometer lebih sebelum menemukan taksi yang searah dengan tujuan saya. Rupanya, rumah si supir taksi memang berdekatan dengan lokasi bengkel Perodua. Dia pun tidak keberatan untuk menunggu.

Saya menemui sales yang mengurus pesanan kemarin. Saya membayar sisa tunggakan sebesar 255 RM. Akhirnya, saya berhasil mendapatkan target buruan utama di Kuala Lumpur ini. Paman saya pasti akan senang sekali. Saya berharap bahwa besok fog lamp ini tidak akan jadi masalah di imigrasi.

By the way, ada alasan lain dibalik kenapa saya harus mendapatkan fog lamp ini di KL. Selain memang pabriknya disini, ternyata teknisi bengkel resmi Daihatsu pun mendapatkan barang yang sama disini. Konsumen harus membayar harga berkali-kali lipat untuk mendapatkan sepasang fog lamp tipe ini. Itu pun kalau tidak inden. Makanya, si teknisi rela pulang-pergi Jakarta-KL untuk mendapatkan barang aslinya disini dengan uang yang dibayar konsumen tadi. Hello, that’s my money!

Saya merasa lega karena dua target utama benar-benar saya capai. Lulus ujian dan berhasil mendapatkan oleh-oleh fog lamp. Saya pun naik taksi yang sudah menunggu menuju Stasiun Keramat. Dari situ saya akan menuju Stasiun Central Market dimana dua kawan saya sudah menunggu di Central Market (Pasar Seni KL).

Saya membayar 2 RM untuk tiket Keramat-Central Market. Semakin jauh tujuan anda, maka harga tiket akan semakin murah.

Kami belanja oleh-oleh seperti kaos dan souvenir di Central Market ini. Penduduk lokal menyebutnya Pasar Seni. Letaknya dekat Jalan Petaling atau Chinatown. Kami hanya sejam disana karena sudah malam dan banyak toko yang tutup. Saya membeli beberapa potong kaos dan 3 CD bekas seharga 10 RM. Saya namai mereka The Heroes from 90s.

Savage Garden, Meja, and Annie Lennox
Malam makin meninggi dan saya belum mendapat kabar dari Ms. D ketika kembali ke hotel. Pun, saya tidak bisa menghubunginya karena kami tidak tahu nomor ponsel kami masing-masing. Yes, pesta malam ini pun batal karena sebuah alasan yang konyol. Padahal, saya masih punya kesempatan untuk muncul tiba-tiba di depan kamarnya. Seperti biasa, saya membuat penyangkalan bahwa saya terlalu lelah seharian ini.

Saya dan Andre pun menghabiskan makan malam terakhir di Nasi Kandar Penang. Rasanya, kami akan merindukan menu-menu disitu.

Before and After

28 November 2013: Back to Indonesia


Kamis ini kami dijadwalkan terbang pukul 14.50 waktu bagian Kuala Lumpur. Saya ingat bahwa seorang kawan menitip kaos yang ada tulisannya ‘Sepang Formula 1 Circuit’. Saya tidak mungkin pergi ke Sepang, karena itu saya mencoba pergi ke Kuala Lumpur Tower dimana terdapat merchandise shop dan simulator F1. Pengunjung cukup membayar 40 RM untuk merasakan sensasi balapan F1. Pada waktu tertentu, diadakan juga balapan bersama.

View from KL Tower Lobby
Sepagian ini saya menghabiskan rasa penasaran dengan berjalan-jalan ke KL Tower. KL Tower ini adalah bangunan telekomunikasi milik Celcom. Banyak atraksi wisata lainnya di kawasan KL Tower. Ada Bird Park, Horse Riding (mirip di D’Ranch Lembang), atau naik dan makan di restoran yang ada di puncak KL Tower.

Saya hanya menunggu F1 Shop ini buka. Saya menunggu hanya untuk sebuah jawaban nihil. Penjaga toko menyarankan saya untuk pergi ke Sepang Circuit. FYI, KL Tower ini unik. Untuk mencapai lobi dan turun-naik, pengunjung harus naik bis shuttle gratis yang disediakan setiap 15 menit. Disini juga turis bisa mendaftar untuk mengikuti one day tour KL. Kalau tidak salah, tur ini akan mengunjungi 23 tempat wisata di KL dengan tarif 140 RM. Bila anda first timer di KL, tidak ada salahnya mencoba paket tur ini.



Saya segera kembali ke hotel dan pergi ke KLIA tepat jam 10.30. Kami naik taksi tembak yang meminta tarif 90 RM sudah termasuk tol. Kami pun setuju tanpa menawar lagi. Itu sudah harga yang murah. Tarif taksi argo pun biasanya bisa mencapai 140 RM.

Saya sempat cemas karena fog lamp yang saya bawa ini. saya menegaskan bahwa bila ada sesuatu yang terjadi pada saya, just in case saya ditahan imigrasi, saya persilahkan kawan saya untuk meninggalkan saya. Saya akan menyusul pulang  setelah urusan saya beres. Do It At Your Own Risk, saya selalu pegang paham itu karena saya cukup sadar bahwa mungkin saja barang bawaan saya menjadi masalah.

Finally, saya pun lolos. Imigrasi tidak menaruh curiga. Saya menaruh fog lamp itu dalam dus aslinya beserta oleh-oleh makanan dan kaos. Semoga lolos lagi di scanner kedua sebelum naik pesawat. Menjelang pintu keberangkatan, saya kaget karena antrian sudah memanjang. Saya tidak tahu ada apa, apakah musim liburan sudah dimulai? Ternyata, kami satu pesawat dengan rombongan kru tur keliling dunia Alicia Keys yang kebagian tampil di Jakarta besok Jum’at.

Kami pun boarding. Tak lama pesawat meninggalkan KLIA tepat pada waktunya. Samar-samar kebun sawit itu menjauh, menghijau, hingga akhirnya lenyap bagai titik embun di pagi hari. *halah

This is the end beautiful friend.


Kuala Lumpur – Jakarta, 28 November 2013.

COBIT 5 Foundation Training (3)

26 November 2013 - Day 2

Hari kedua. Kami telat 5 menit dari jadwal kelas. Kami tiba dengan level kesegaran yang berbeda dari kemarin. Dalam benak kami semua mulai tertanam satu tekad: lulus ujian. Itulah barangkali yang membuat kami cukup semangat menempuh hari kedua ini. Hari yang biasanya penuh dengan substansi utama dari training.

Rupanya, sang instruktur sudah menyiapkan beberapa kuis untuk review hasil training kemarin. Saya terus terang tidak siap karena memang tidak membuka modul semalam. Alhasil, saya pasrah saja bila diberi kesempatan untuk menjawab soal. Benar saja, beberapa soal sempat diarahkan kepada saya. Saya hanya mampu mengintip-intip modul. Saya melihat peserta lainnya, juga dua orang kawan sepekerjaan lebih siap menghadapi kejutan ini. Setengah jam berlalu hanya untuk mengingat kembali materi hari kemarin.

Kami kembali mempelajari modul selanjutnya. Beberapa basic principles pun ditekankan berulang-ulang. Saya mulai jenuh. Saya berharap kawan lain pun merasa hal yang sama. Kami pun dipecah menjadi tiga kelompok besar dengan sebuah tugas mengenai analisis pekerjaan IT. Kami diberi kartu remi (playing cards) dengan animasi unik. Beberapa tugas diberikan dan kami harus memilih kartu pilihan yang sesuai dengan jawaban kami. 


Sesiangan hingga kursus selesai kami kembali diarahkan untuk fokus pada beberapa bab materi training. Jujur, inilah hal yang terberat saat ini. Saya memang tidak pengetahuan apa-apa. Saya hanya punya kemampuan untuk belajar. Lebih baik mati-matian berusaha daripada punya kemampuan tapi tidak melakukan apa-apa, kata Bruce McLaren (founder McLaren F1 Team).

Malam ini saya akan belajar dan mereview modul yang sudah dipelajari selama dua hari ini. Saya tidak ingin ketinggalan dan tidak mampu menjawab kuis esok hari. Saya merasa jadi murid sekolahan yang akan menghadapi ujian. Saya tidak ingin investasi yang negara keluarkan tidak berarti apa-apa.

Atas permintaan seorang teman, kami berjalan menuju Tune. Kawan saya ini rupanya ingin punya pengalaman menikmati Kuala Lumpur. Dan itu hanya bisa didapatkannya dengan berjalan kaki. Saya setuju saja, karena minggu lalu pun begitu. Kami kembali berfoto di KLCC sambil melanjutkan perjalanan. Kami pun langsung menuju rumah makan langganan karena sudah masuk waktu makan malam. Akhirnya, makan malam kali ini kami akhiri dengan singkat. Kami merasa ada yang harus kami pelajari malam ini.

Belajar Untuk Ujian

Sebelum berangkat, kami sudah diberi jadwal short course bahwa akan ada ujian pada hari terakhir kursus. Ujian ini adalah ujian sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat COBIT 5 Foundation yang kelak akan berguna sebagai prasyarat naik ke level berikutnya.

Saya sudah lupa kapan terakhir kalinya saya belajar untuk ujian. Mungkin bulan Maret kemarin waktu akan mengikuti seleksi calon penerbang. Tapi itu hanya ujian fisik dan kesehatan saja. Well, saya benar-benar harus fokus untuk ujian besok. Biasanya, saya selalu membaca ‘buku wajib’ berjudul “Bagaimana Lulus Ujian”. Satu buku dari zaman kelas 2 SMA.

Saya Googling soal-soal latihan untuk COBIT examination. Saya mengunjungi sebuah website corporate training provider lalu mengerjakan 100 soal yang ada. Saya mengerjakan soal campuran dengan materi tambahan Network Security. Saya mendapat passing grade 44%. Artinya, saya hanya punya 44 jawaban benar dari 100 soal.

Kemudian, saya mengerjakan soal exam preparation yang ada dalam modul. Isinya hanya 50 soal. Saya mencoba mengerjakan dalam waktu 40 menit, sama dengan waktu yang akan diberikan untuk ujian sebenarnya besok. Lagi-lagi, saya tidak mencapai target. Passing grade saya hanya 44%. Saya gagal mencapai nilai minimal 50%.

Saya agak sedikit khawatir. Saya tidak ingin gagal pada ujian besok. Saya tidak jauh-jauh datang kemari hanya untuk gagal. Saya malu sekali bila Twin Tower ikut menertawakan kegagalan saya. Saya pun kembali membulak-balik modul. Menghapalkan beberapa prinsip dasar serta bagan-bagan proses.

Saya dilanda ketegangan yang teramat kuat. Saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terus memacu supaya bisa lulus besok. Tomorrow remains a mystery. Que sera sera. Saya kembali menyalakan radio dan mencoba untuk tidur. Barangkali, menjelang pukul 2 dini hari saya baru bisa memasuki alam mimpi.


Kuala Lumpur, 27 November 2013.

COBIT 5 Foundation Training (2)

Day 1

Senin, 25 November 2013 ini adalah hari pertama dimulainya COBIT 5 Foundation Training. Training ini diadakan oleg ALC Consulting, sebuah firma yang berbasis di Singapura dan mengambil COBIT 5 sebagai menu utama pilihannya. Lokasi training berada di Double Tree Hotel, yang berafiliasi dengan Hilton.

Perjalanan menuju Double Tree ditempuh sekitar 15-20 menit dengan taksi tergantung kepadatan lalu lintas. Kemacetan pada jam sibuk dimana pun sama saja. Kami sengaja naik taksi menuju Double Tree dengan tarif 15 RM (argo) dan 20 RM (argo tembak).

The Session


Materi hari pertama ini adalah Introduction to COBIT 5. Sebelum itu, kami saling memperkenalkan diri. Saya kaget karena peserta lainnya sudah punya basic knowledge soal Prince2 atau TOGAF. Saya tidak punya pengetahuan tentang itu. Saya hanya mampu menerka bahwa mereka itu adalah metode lain untuk membuat asesmen terhadap sebuah sistem IT. Saya dibuat kaget lagi karena banyak peserta yang seumuran dan sudah menjabat posisi penting di perusahaannya, beberapa diantaranya sudah menjadi manajer bahkan asisten direktur. Mereka datang dari beberapa perusahaan swasta dan Bank Nasional Malaysia. Indonesia punya kami bertiga, ditambah dua orang dari Bagian Perencanaan Ditjen Hubud, dan dua orang dari BEJ. Wow. It’s gonna be something.

Actually, this is something i didn't ever expect. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan duduk dalam sebuah training IT. Saya tidak punya basic knowledge, itu adalah masalah utama. Saya hanya tahu bahwa IT itu hanya seputar komputer dan teman-temannya. Bahkan, waktu kuliah dulu seorang kawan mengira hidup saya penuh dengan belitan kabel.

Suasana coffee break cukup nyaman. Kami bisa saling berkenalan dengan peserta lain sebelum mulai serius dengan COBIT 5. Saya semakin yakin bahwa tidak ada kompetisi disini. Yang ada hanyalah pertarungan dengan diri sendiri. Pertarungan yang berakhir pada dua jawaban pasti. Pass or Failed.

Instruktur kami bernama David Llewelyn Jones, biasa disingkat DLJ. Ia tampak sudah sangat berpengalaman dalam implementasi COBIT. Kami pun memulai introductory session dengan beberapa substansi dasar yang menjawab letak perbedaan antara COBIT, Prince2, dan TOGAF. Sempat terjadi diskusi dengan beberapa peserta yang sudah berpengalaman dengan Prince2 dan TOGAF. Sementara yang lain memperhatikan, saya hanya bisa mencatat beberapa hal untuk saya cari di internet. Pikiran saya malah tidak fokus kesana. Saya merasa harus mendapatkan fog lamp itu secepatnya supaya konsentrasi tidak buyar saat ujian lusa nanti.


Hari pertama ini juga kami mencoba satu sensasi lain dari hotel bintang lima. Hal itu bisa ditemukan dengan mudah saat makan siang. Maklum, hotel ini satu grup dengan Hilton, jadi kami dibuat puas dengan suguhan makan siang yang lengkap. Ada makanan tradisional India, Melayu, dan juga masakan rendang Padang. Usai makan siang, kelas mulai terasa membosankan walaupun materinya termasuk beberapa hal prinsipil. Untung saja instruktur memberikan beberapa individual tasks untuk dikerjakan. Lumayan sebagai obat penghalang kantuk.

Urusan Dinas ke KBRI

Karena ini adalah hari pertama sekaligus hari Senin, maka kami manfaatkan untuk pergi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia. Itupun atas persetujuan Instruktur. Sang instruktur maklum karena kami adalah perwakilan pemerintah. Kami pergi setelah makan siang. Kami harus melapor perihal kedatangan kami dan meminta tanda tangan serta stempel KBRI Malaysia untuk surat perjalanan dinas. Kami menunggu selama 20 menit sebelum pintu dibuka.

Petugas sempat menyuruh kami mengantri bersama dengan tamu lainnya. Kami sempat bertemu dan bertegur sapa dengan beberapa orang TKI. Kami menemui petugas kembali dan menyampaikan tujuan kedatangan kami. Setelah itu, barulah kami diizinkan masuk melalui pintu yang berbeda dan menunggu di ruang tunggu yang ber-AC. Kuala Lumpur cukup panas, kurang lebih sama seperti Jakarta.

Urusan di KBRI memakan waktu kurang lebih 50 menit. Kami segera kembali ke Double Tree dan masuk kelas. Another luck for us, instruktur sedang memberikan beberapa pertanyaan mengenai modul yang dipelajari sebelum istirahat makan siang. Kami pun mengikuti sesi selanjutnya hingga materi kursus hari ini berakhir.



KBRI Kuala Lumpur buka sejak pukul 9 pagi dan tutup pada pukul 5 sore dengan jam istirahat pukul 13-14 siang. Hari kerja mulai Senin hingga Jum'at. Sabtu dan Ahad libur.

Training hari ini selesai dengan pesan sponsor supaya mempelajari modul-modul selanjutnya. Waktu short course yang hanya 3 hari membuat kami harus belajar mandiri dan mengajukan pertanyaan mengenai hal yang belum dipahami besok. Ya, malam ini kami harus belajar.

Episode Mencari Fog Lamp di KL (2)


Saya langsung menuju sebuah alamat bengkel Perodua di Jalan Keramat. Alamatnya saya dapat hasil Googling semalam. Saya tidak yakin tapi apa salahnya mencoba kesana. Letak service center ini agak ke pinggiran KL. Tapi dari kejauhan Twin Tower masih terlihat berdiri tegak. Saya membawa dua teman saya kesana. Kami naik taksi saja karena gerimis dan jalanan mulai macet. Maklum, pukul 5 adalah waktu bubaran kantor.

Saya tiba di bengkel jam 5.55 sore, 10 menit usai jam operasi resmi bengkel. Saya masih dilayani meski harus membuat penjelasan singkat. Sistem pemesanan spare part di Malaysia berbeda dengan di Indonesia. Order spare part harus menyertakan plat nomor registrasi kendaraan serta nama pemilik. Karena hal itulah, email saya tidak pernah lagi dibalas oleh Perodua.

Saya segera bertemu seorang sales representative yang mau membantu proses order. Houston, we have a problem. Ketika sedang memproses pesanan, sebuah order lain masuk ke sistem database order sehingga order saya tidak dapat diproses. Ada satu mobil mengalami kecelakaan dan meminta order fog lamp yang sama dengan saya. Saya tidak punya banyak waktu, saya minta dia mengusahakannya. Beruntung, mobil miliknya setipe dengan fog lamp yang saya cari. Saya dijanjikan untuk mengambil fog lamp hari Rabu jam 10 pagi setelah membayar uang muka sebesar 255 RM.

Saaya merasa satu target sudah setengah selesai. Saya berharap hari Rabu nanti semuanya bisa tercapai dan selesai. Saya harus mendapat passing grade lebih dari 50% untuk bisa lulus sertifikasi COBIT foundation sekaligus menyelesaikan order fog lamp. Saat-saat seperti inilah saya menyadari bahwa saya selalu membutuhkan Tuhan. Saya butuh kuasaNya untuk melakukan segala hal yang memang dimungkinkan oleh takdir.

Kami segera menuju KLCC. Maklum, ini kunjungan pertama dua orang kawan saya ke KL. Saya menemani mereka jalan-jalan di Suria KLCC dan menikmati water dancing attraction. Tak lupa, membantu mengambil foto mereka di depan Twin Tower. Kami kembali ke hotel setelah makan malam di rumah makan Nasi Kandar Penang. Kami mulai jatuh cinta pada restoran ini.

Saya tidak menghabiskan malam ini dengan membuka modul. Saya hanya berbaring sambil menonton acara TV. Seorang teman menemani saya, mau belajar dia rupanya. Saya kemudian tertidur tanpa tahu dia keluar jam berapa. Beberapa orang menginginkan hal terbaik terjadi pada hidup mereka. Mungkin, dia adalah salah satunya.

Seperti kemarin, saya menghabiskan malam berteman streaming radio @RadioB_956FMBdg.

Dan, upayaku tahu diri tak selamanya berhasil...
‘pabila, kau muncul terus begini...
Tanpa pernah kita bisa bersama...
Pergilah... Menghilang sajalah lagi...

Kuala Lumpur, 25 November 2013

Kamis, 26 Desember 2013

COBIT 5 Foundation Training (1)

24 November 2013

Saya kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk sebuah training. Kali ini, saya bersama dua orang teman satu Divisi. Hanya saja, saya berangkat sebagai Safety Database Administrator State Safety Programme. Saya merasa beruntung bahwa jadwal training ini tidak bentrok dengan jadwal seminar minggu lalu dan workshop minggu depan.

Kami mengikuti sebuah foundation training untuk COBIT 5. Apa itu, saya juga belum pernah tahu dan mendengarnya sekalipun. Target kami cukup jelas. Ikut kursus singkat tiga hari, ikut ujian, dan lulus dengan sertifikat (get certified). Kami sengaja memilih lokasi training di Kuala Lumpur dari pilihan lokasi lainnya yaitu, Singapura, Selandia Baru, dan Australia. Kelak, sertifikat itu berguna untuk angka kredit fungsional dua partner saya.

Saya tidak tahu alasan mengapa saya bisa berada di Kuala Lumpur dua minggu berturut-turut. Mungkin, karena episode mencari fog lamp di KL belum berhasil saya tamatkan. Barangkali juga Tuhan sedang berbaik hati dan membiarkan saya menyelesaikan episode yang tertunda itu.

Flight MH0726


Kami harus bersiap lebih pagi dari biasanya. Pesawat Malaysia Airlines (MH) yang kami naiki berangkat paling pagi dari Soekarno-Hatta (CGK). First flight in the morning. Kami harus berhadapan dengan segala macam urusan sejak pukul 2.30 dini hari. Pesawat dijadwalkan terbang pukul 4.20 tak lama setelah adzan subuh berkumandang.

Pintu keberangkatan baru dibuka pukul 3.00, kami segera check in dan menuju antrian imigrasi. Poor you, pihak Imigrasi hanya membuka dua jalur antrian dengan dua orang petugas. Sudah jelas antrian segera mengular. Seandainya, sosialiasi tentang e-Passport sudah kami terima, mungkin kami akan segera mengurusnya agar tidak perlu menghadapi hal semacam ini.

Pengalaman pertama kami naik national flag carrier milik Malaysia ini sudah lebih dari cukup. Saya jadi tahu kenapa bukan mereka yang dianugerahi penghargaan Best Regional Airline. Dengan hanya membandingkan beberapa hal dengan maskapai nasional kita, Garuda Indonesia (GA), saya sudah tahu kenapa para assesor lebih memilih Garuda.

Satu contoh saja, saya kurang nyaman dengan headset yang baru dibagikan beberapa menit setelah take-off. Lalu, saya juga tidak suka cara mereka membungkus inflight meal. MH lebih memilih untuk membungkus kotak menu dengan alumunium foil yang menutupi seluruh bagian kotak. Tidak seperti yang biasa kami terima dengan GA. Mungkin untuk alasan seperti itulah GA merekrut William Wongso untuk mengurus menu makanan penumpang.

Pukul 7.40 pagi, kami landing di KLIA. Pesawat berhenti di terminal kedatangan domestik. Artinya, kami bakal turun di terminal utama. Bukan terminal kedatangan internasional yang mengharuskan kami naik AeroTrain. Padahal, saya sudah terlanjur bilang pada dua kawan saya bahwa kita akan naik kereta menuju pintu keluar KLIA.

Tune Hotels

Kami belum membooking hotel tempat kami menginap nanti. Kami tidak punya tujuan. Saya sudah mempunyai daftar hotel yang akan kami datangi. Semoga saja masih ada kamar kosong. Kami tidak menemui halangan apa-apa di Imigrasi. Kami sudah sepakat untuk bilang pada petugas Imigrasi bahwa kami akan menginap di Tune Hotels (AirAsia Group) tak jauh dari SIKL. Rupanya, petugas yang menanyai saya curiga dengan kedatangan saya kembali. Tak puas menanyakan hotel, dia pun bertanya mengenai tujuan dan lokasi training besok. Tenanglah, Cik. Saya pun tak mau jadi TKI dimari.

Kami segera naik taksi menuju kota. Kami langsung menuju Tune Hotels untuk memastikan bahwa kami punya tempat tinggal disini. Sebenarnya, Tune Hotels agak jauh dari Double Tree. Kami tidak mendapatkan harga yang cocok di hotel sekitaran Double Tree. Lagipula, sepengalaman saya, tidak masalah lokasi hotel inap jauh dari tempat training. Transportasi umum disini cukup lumayan.

Tune Hotels punya cara yang unik dalam menjalankan usahanya. Sepintas, rasanya mirip naik maskapai AirAsia. All costumized. Pengunjung bisa memilih sendiri paket yang mereka inginkan. Paket sarapan, Wifi, toiletries, AC, dan TV bisa disesuaikan dengan preferensi pengunjung. Untuk setiap service ada harganya, 10 RM/malam. Paket hemat (AC, TV, dan toiletries) ditawarkan 25 RM/malam. Sedang paket full convenience (AC, TV, Wifi, Toiletries, dan sarapan) ditawarkan 40 RM/malam. Saya memilih paket full untuk 4 malam. Saya butuh wifi untuk melanjutkan episode fog lamp yang tertunda. Ditambah lagi, untuk mencari referensi soal COBIT, karena hari Rabu siang kami harus ujian sertifikasi.

Usai mendaftar, kami tidak bisa langsung masuk kamar. Kami akan dikenakan charge 10 RM untuk early check-in. Saya dan kawan-kawan tidak masalah asalkan kami bisa menitipkan koper kami di Tune. Kami dicharge 2 RM per koper untuk penitipan ini. Saya kembali ke Sheraton untuk mengurus beberapa hal yang belum selesai soal ponsel yang hilang. Saya akan membuat laporan ke Polisi sementara kawan saya menunggu di lobi Sheraton. Simak cerita saya sebelum post ini untuk kelanjutan ceritanya.

Usai dari Sheraton, kami makan siang di sebuah restoran masakan Padang tak jauh dari lokasi hotel, Jalan Tunku Abdul Rahman. Konon, restoran Sari Ratu itu masuk daftar rekomendasi dari orang-orang Indonesia yang sudah pernah melancong kesini. Menu disini tidak jauh berbeda dari restoran Padang umumnya. Hanya saja, menu-menu di restoran ini kurang berani dalam bumbu. Harganya pun standar. Saya membayar 38 RM untuk 5 piring nasi dan lauk-lauk macam ayam, ikan, dan daging.

Makan Padang di Negeri Orang
Kami kembali ke Tune Hotels pada waktu check-in sudah dibuka. Kami segera mengambil kamar masing-masing dan menyelesaikan kantuk yang tertunda. Saya tidak bisa tidur sesiangan ini. saya coba dengan browsing mencari service center Perodua. Ada dua lokasi yang saya tandai. Semoga saya berhasil kali ini.

Menjelang sore, saya pergi keluar. Berjalan-jalan menuju Chow Kit dan Jalan Ipoh. Kata seorang pemandu wisata di bus yang saya tumpangi pada Airport Visit minggu lalu, Jalan Ipoh adalah lokasi para pedagang spare part. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Tune Hotels. Saya pun segeraberjalan kaki kesana. Menikmati matahari sore sebelum senja.

Chow Kit adalah kawasan yang cukup ramai. Penduduk lokal menamainya pasar basah. Banyak hal bisa ditemukan disini. Ada pasar basah yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, ada pula pasar yang menjual produk kosmetik. Saya menyusuri Jalan Ipoh dan sebuah jalan kecil tak jauh dari jalan raya. Memang banyak pedagang spare part otomotif disitu. Karena hari ini adalah hari Ahad, mereka tutup. Most of business turned off in Ahad.

Saya akan kembali kesini esok hari, semoga saja mereka belum tutup besok sore. Saya pun kembali berjalan dan membeli SIM Card karena layanan gratis roaming 3 hari dari XL sudah tidak berlaku. Saya dipilihkan kartu dari U Mobile seharga 15 RM yang sudah terisi 15 RM. Si penjual sudah tahu bahwa saya ini turis sehingga merekomendasikan pilihan ini. Dia segera mengaktifkan paket Blackberry mingguan seharga 5,5 RM. Sebenarnya, tidak perlu khawatir soal demikian di KL. Hampir semua toko/gerai waralaba menjual SIM Card untuk para pelancong.

Saya mampir di sebuah toko grosir dekat hotel. Saya membeli dua kotak susu kedelai seharga total 3,8 RM. Lebih murah dari toko waralaba dan Jakarta sekalipun. Saya kembali ke hotel dan menunggu dua kawan itu bangun dan mulai lapar.

Menjelang pukul 7 malam, kami turun untuk makan malam. Saya menawarkan warung kali lima tempat dinner malam terakhir minggu lalu yang kebetulan berada di seberang. Namun, teman saya lebih memilih untuk melihat-lihat keadaan di sekitar situ. Ada sebuah mall namun terlihat sepi karena hari Ahad. Kami pun mencoba sebuah restoran seberang mall. Judulnya, Nasi Kandar Penang. Dari luar, pilihan menunya banyak mirip warteg.


Pilihan kami tidak salah. Soal rasa khas Melayu, restoran ini punya taste. Kami memilih bermacam menu dengan lauk kari kambing. Pilihan nasinya ada dua, nasi putih biasa dan nasi briyani. Saya memesan roti cane juga lengkap dengan kuah kari kambing. Kesan pertama kami disini begitu melekat hingga seorang kawan memutuskan untuk selalu makan malam disini. Saya pun terlanjur jatuh cinta dengan roti cane disini. Soal harga, restoran ini murah dan highly recommended untuk para budget traveler. Restoran ini buka 24 jam. Restoran ini berada di lantai dasar Hotel Lotus, just in case pembaca ingin mencicipi menu yang disajikan disana.

Kami kembali ke Tune sekitar pukul 11 malam. Kami akan menghadapi hari yang panjang. Training akan segera dimulai besok. Semoga malam ini kami bisa beristirahat dan menghadapi hari pertama training dengan segar.

Saya belum bisa tidur hingga tengah malam. Kebisingan dari jalan raya membuat saya semakin terjaga. Raungan knalpot dari anak-anak geng motor lokal sangat mengganggu telinga saya. Saya menghabiskan malam dengan streaming radio fm Bandung. Still feels like home, even you’re far away from your hometown.

After tonight, i’ll never be the same again...
Just hold me tight and i’ll be alright...
After tonight...

Kuala Lumpur, 25 November 2013.

Bonus Track: Tips Hari Ini

Imigrasi

Beberapa negara mengharuskan anda sudah punya tujuan begitu tiba di negara yang dituju. Bila anda terlanjur go-show, sebut saja hotel yang akan anda tuju pada petugas imigrasi. Bersikaplah seolah anda sudah confirm untuk menginap disana. Sebutkan juga maksud kedatangan anda. Petugas pun biasanya akan maklum dan segera mengecap paspor anda.

Komunikasi

Tidak perlu khawatir soal komunikasi di KL, terlebih bila anda belum mengaktifkan layanan roaming. Harga kartu SIM disini lumayan mahal namun biasanya sudah preloaded (terisi) pulsa yang bisa langsung digunakan. Itu sudah termasuk Blackberry ready dan paket data yang bisa dipilih pada saat aktivasi. Bila tidak mampu menemukan toko ponsel, gerai waralaba pun menyediakan SIM card. It’s easy to find and use.

Minggu, 22 Desember 2013

Never Lost Your Phone in KL

courtesy: www.gizmodo.com
Satu hal yang membuat perjalanan pertama ke Kuala Lumpur tidak berkesan adalah saya kehilangan ponsel. I lost my phone in my first day in KL, damn. Ponsel yang saya simpan dalam koper bukan sekedar hilang tapi dicuri. Si pencurinya sengaja meninggalkan jejak, sarung ponsel ia selipkan dalam saku kemeja teman saya.

Saya segera melapor pada manajer yang bertugas dan berjanji segera melakukan investigasi usai mengacak-acak kamar. Saya belum mau lapor polisi karena saya ingin melihat reaksi manajemen hotel. Mereka berjanji akan segera menghubungi saya.

Selama berlangsungnya seminar mereka tidak pernah menghubungi saya. Pada malam terakhir, saya menegur mereka karena tidak kunjung memberikan kabar. Mereka membantah bahwa telah mencoba menghubungi kamar saya. Saya memang tidak ada di kamar dan tidak pernah menerima teepon mereka. Saya marah karena mereka tidak meninggalkan pesan tertulis. Entah itu disimpan di kamar atau diteruskan lewat panitia seminar.

Saya tidak menyangka bahwa hotel bintang lima sekelas Sheraton bisa melakukan hal sebodoh itu. sudah jelas saya jadi tamu mereka dan mereka tahu kapan dan dimana bisa menemui saya, tetapi mereka tidak melakukannya. Sentimen emosi saya mulai merasa ada hal yang tidak wajar. Saya yang orang Indonesia ini, yang sudah bayar cash untuk menginap disitu, hanya dilayani sebisanya saja.

Baru Kamis pagi, sebelum berangkat ke KLIA, Manajer Security menemui saya dan menjelaskan duduk perkaranya. Mereka telah mencurigai beberapa nama dari hasil analisa rekaman CCTV, log pintu kamar, dll. Pembersih kamar pun memberikan keterangan bahwa pintu luggage room selalu tertutup. Bohong besar!!! 4 malam kami disana, kami tidak pernah menutup luggage room sekalipun! Sayangnya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau saja mereka menghubungi saya lebih awal tentu saya bisa melanjutkan laporan ke polisi.

Saya merasa bahwa pelayanan manajemen hotel memang tidak tanggap dengan hal yang demikian. Mereka lepas tangan begitu saja karena tidak bisa menghubungi saya. Kalau mereka mau, mereka bisa kirim satu orang untuk menemui saya pada saat coffee break atau makan siang. Pelayanan macam ini jarang saya temukan di hotel-hotel Indonesia, bahkan yang bintangnya kurang sekalipun.

Saya tidak menyesalkan ponsel yang hilang. Saya hanya menyesalkan kebodohan saya untuk meninggalkan barang berharga di kamar. Pun, saya kecewa dengan tanggung jawab pihak hotel yang seakan-akan berkata: ok, kita mengaku salah, tidak memberitahu dan menemui anda. Maaf, sekali lagi maaf. As* bongkrek!

Akhirnya, saya membuat laporan ke polisi hari Minggu, 24 November 2013. Saya dan seorang petugas SIKL menuju kantor Polisi Pariwisata. Sialnya, mereka tidak menyediakan fasilitas mobil. Kami harus naik taksi dan harap dicatat: saya yang bayar! Soal service, Indonesia memang nomor satu. SIKL ini tidak ada apa-apanya.

Setibanya disana, sang inspektur polisi marah-marah karena saya baru melapor hari ini. Dia juga menyalahkan saya karena tidak punya travel insurance. Saya balas dengan nada suara yang tinggi juga. Jangan mentang-mentang saya ini orang Indonesia. Lalu dia bertanya soal pekerjaan saya. Saya jawab, saya adalah Government Official, Flight Safety Inspector. Baru setelah mendengar jawaban saya dia mau melunak dan mengajak saya ke ruangannya.

Lagi-lagi, mereka memberi jawaban yang sama dengan pihak hotel. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena kalau kami salah tuduh malah kami yang bisa dipenjara. Begitu katanya. Kami pun pergi ke SIKL untuk bertemu beberapa petugas keamanan disana. Seorang Service Manager menemui kami. Rupanya, ia kawan dekat si inspektur polisi ini dan memang punya ketidakcocokan dengan si Security Manager.

Ia lantas mengucap beribu-ribu maaf. Saya menegaskan lagi kepadanya, dimana tanggungjawab hotel untuk hal ini? Apakah hotel akan mengganti kerugian saya? Apakah hotel ini akan terus mempekerjakan petugas yang sudah keluar-masuk kamar saya dan sekalian mengambil ponsel saya? Ia hanya diam ketika saya tanya.

Anyway, perjalanan business trip ini memberi saya banyak pelajaran. Sekaligus membuktikan bahwa prinsip-prinsip dasar itu selalu benar. Saya juga kemudian tahu bahwa kejadian ini bukan yang pertama kalinya di SIKL. Lewat Tripadvisor, saya juga tahu seorang bule pernah mengalaminya tanpa penjelasan yang cukup dari pihak hotel.

Tips Bepergian ke Luar Negeri (utamanya KL)


Pesan hotel sebelum kedatangan


Beberapa petugas imigrasi akan bertanya soal tujuan anda dan akomodasi selama di negara tujuan. Pastikan anda sudah mendapat tempat tinggal selama di negara tujuan. Pemesanan lewat internet bisa menghemat waktu dan uang anda.

Bawa selalu barang pribadi (paspor, ponsel, kamera, etc.)

Anda tentu tidak ingin mengalami hal yang sama dengan saya. Amankan setiap barang pribadi anda. Bawa tas yang cukup menampung semua barang pribadi anda kemana saja anda pergi. Bahkan, sarapan sekalipun. Sedikit saran, di Kuala Lumpur banyak imigran gelap mengincar paspor turis. Jadi, usahakan anda mengamankan paspor di tempat yang tepat.

Bila terjadi kehilangan segera lapor polisi turis
Pastikan, anda tahu kemana harus melapor bila kehilangan barang pribadi. Saya melapor bersama seorang Indonesia lain yang kehilangan paspornya ketika berbelanja di daerah Bukit Bintang. Untungnya, dia segera melapor ke polisi turis (tourism police) lewat bantuan tour guide.

Selalu tahu jam operasional Kedutaan Besar

Sebelum berangkat ke negara tujuan, pastikan juga anda tahu alamat kantor Kedutaan Besar/Konsulat/Perwakilan Republik Indonesia. Anda bisa mengeceknya lewat Google atau Kementerian Luar Negeri. Bila memang mereka punya laman web, anda bisa sekalian mengecek jam operasionalnya.

Bila dirasa perlu, beli travel insurance

Ibarat sedia payung sebelum hujan, travel insurance memberikan rasa aman bagi anda apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, kecelakaan, pembatalan tiket, dan asuransi kehilangan barang pribadi (dibuktikan lewat laporan polisi). Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk jasa ini, anda bisa mengeceknya via laman web mereka atau Googling.

Have a nice and safe trip!


Paninggilan, 22 Desember 2013.

Regional Runway Safety Seminar (3-tamat)

Rangkaian kegiatan seminar akan segera berakhir. Agenda hari terakhir ini akan kami habiskan dengan sebuah workshop singkat mengenai Hazard Identification dan Airport Visit ke KLIA. I thought it will be a long day.

Kami dibagi dalam kelompok kecil berisi 7-8 orang. Panitia sengaja mengacak peserta agar tidak kebagian sekelompok dengan rekan senegara. Benar saja, tidak ada All Indonesian Final untuk workshop pagi ini. saya sekelompok dengan Air Traffic Controller dari Maladewa, Bangladesh, dan Nepal, Aerodrome Safety Officer dari Korea, Narita Jepang dan Changi Singapura, dan seorang Pilot dari Boeing.

Usai menonton video simulasi serious incident yang bersumber dari FAA, kami harus membuat studi kasus mengenai potential hazard. Kami harus mengamati video berulang-ulang. Narasi dari laporan investigasi FAA pun disertakan. Bagi saya, studi kasus semacam ini selalu menarik. Sebelum saya duduk di seminar ini, saya sudah familiar dengan identifikasi hazard. Baik dalam training maupun slide presentasi yang saya jadikan bahan ajar. Namun, bedanya disini saya harus bertukar pikiran dengan rekan kerja sekelompok dan mengambil konklusi.


Saya kagum dengan kecepatan berpikir rekan dari Korea. Dengan cepat, ia segera memetakan masalah yang terjadi dan membuat beberapa precautionary description. Kelompok kami pun segera membahasnya. Beberapa perbedaan pandangan sempat terjadi hanya karena perbedaan istilah, bukan substansi masalah. Saya sempat bertukar pandangan dengan Capt. Sam Goodwill dari Boeing mengenai hazard dan probabilitas risiko. Kami punya pandangan yang sama. Saya tertawa kecil dalam hati. Saya tidak heran akan hal itu karena kami mengambil sudut pandang dari sisi Flight Operations dan Airworthiness.

Setelah konklusi dicapai, giliran presentasi. Semua kelompok harus mempresentasikan hasil kerjanya. Rekan Korea saya segera mengambil inisiatif mempresentasikan hasil kerja kami. Kami semua mendapat apresiasi dari instruktur workshop karena melihat proses kerja selama diskusi berlangsung. Usai sesi, kami semua berjabat tangan sebagai salam terakhir. Panitia pun meresmikan penutupan acara sebelum makan siang.

Anyway, saya membuat catatan kecil soal rekan dari Korea tadi. Saya jelas kagum dengan cara kerjanya. Tak heran bila dengan kemampuannya yang demikian itu, ia sudah menjadi Assistant Director di Korea Office of Civil Aviation. Lebih jauh, saya melihat bagaimana Korea membangun sumber daya manusianya dengan percepatan yang kurang lebih sedikit dibawah Jepang. Korea masih dilanda perang saudara tahun 1950-1955, yang juga melibatkan dua kekuatan besar dunia, AS dan Rusia. Saat Korea merdeka, Indonesia sudah sukses menggelar pemilihan umum pertamanya. Namun, rasanya WAGN. We Are Going Nowhere. Semoga lekas sembuh.

KLIA Airport Visit

Usai makan siang, kami segera meluncur ke KLIA. Dua bis membawa rombongan peserta seminar untuk melihat langsung kondisi lapangan. Saya membayangkan bahwa kami akan berjalan kaki di apron, merasakan langsung aspal dan PCN KLIA. Ternyata, otoritas KLIA hanya mengizinkan kami untuk tetap berada di dalam bus. Sebuah mobil pandu mengawal kami menjelajahi KLIA airside dan groundside sections.


Cuaca cerah siang ini. Tidak ada masalah pada jarak pandang. Saya melihat sendiri si bongsor Airbus A380 melakukan taxi hingga berhenti sempurna di terminal kedatangan. Amazing.

Kami mengelilingi semua bagian KLIA, tak terkecuali LCCT (Low Cost Carrier Terminal) yang tahun depan akan dipindah ke KLIA 2. Kami hanya bisa melihat dari jauh KLIA 2 yang sedang dalam tahap pengerjaan dan diperkirakan tahun depan akan selesai. KLIA 2 mempunyai sebuah Skybridge yang akan menghubungkan dua terminal dan dibawahnya ada dua lajur yang akan bisa dilewati oleh pesawat ukuran narrow body (Airbus A320 & Boeing 737). Khusus untuk Skybridge KLIA 2 ini adalah yang pertama di Asia dan ketiga di dunia.


Kami pun diajak mengunjungi Tower 3 (Traffic Controller) KLIA. Tower ini baru selesai dibangun. Tower 3 ini menjadi tower cadangan apabila Tower 1 & 2 mengalami gangguan. Sebelum naik, kami harus dibriefing terlebih dahulu untuk memastikan beberapa hal soal safety dan larangan untuk mengambil foto. Dengan selesainya tower ini, diharapkan KLIA mampu menghandle hingga 120 pergerakan pesawat setiap jamnya.

Dari ketinggian tower, kami dapat melihat dengan jelas pergerakan pesawat. Pergerakan di taxiway dan landing and take off runway. Kami melihat sendiri bagaimana cara Malaysia Airport (BUMN penyelenggara jasa kebandarudaraan) melakukan hazard identification dan risk mitigation. Sebuah insight kami dapatkan disini. Mereka bisa memastikan operasional bandar udara tidak akan terganggu meskipun sedang dibangun terminal baru, KLIA 2. Faktor-faktor yang secara tidak langsung berkaitan dengan keselamatan penerbangan tidak luput dari perhatian. By the way, i can see Sepang Circuit from here.

Last Night in KL

Kunjungan singkat ini berlangsung sekitar dua jam saja. Perjalanan kembali ke hotel diwarnai kemacetan menjelang pintu keluar Lebuh Raya. Maklum saja, rush hour di kota mana pun sama. Butuh dua jam untuk keluar dari kemacetan menuju hotel. Kami tiba di hotel sekitar pukul 19.30. Saya segera kembali ke kamar, ganti baju, dan segera bergegas untuk menikmati malam terakhir di Kuala Lumpur. Saya ingin jalan-jalan ke daerah Bukit Bintang sambil mencari hotel untuk kunjungan minggu depan.

Kami berjalan menuju Sungei Wang dan menemukan banyak pedagang bersiap menutup tokonya. Inilah yang membuat kami agak kaget. Walaupun jam tutup resmi adalah jam 10 malam, namun banyak toko sudah tutup. Mungkin inilah bedanya negara maju. It’s not Australia anyway. Akhirnya, kami menikmati malam yang belum tinggi ini di Starbucks.

Kami melanjutkan perjalanan ke Corus Hotel dekat KLCC. Saya sudah memilih hotel ini untuk kunjungan minggu depan. Hotel ini tidak jauh dari lokasi training di Double Tree. Hanya dalam jarak jalan kaki saja. Eng ing eng. Saya segera booking dan seal the deal. Namun, seorang manajer hotel mengatakan bahwa lebih baik bila saya melakukan booking via web atau agoda.com saja. Harganya akan lebih jauh berbeda. Bukan masalah booking via internet. Apakah mereka tidak bisa menerima booking langsung ditempat seperti yang sedang saya lakukan? Saya tidak percaya bahwa hal ini bisa saja terjadi. Saya pun segera meninggalkan hotel ini dengan kecewa.

Kami berjalan kaki menuju KLCC (lagi). Sudah jam sepuluh lebih. KLCC masih saja ramai. Kami berdua duduk di depan sebuah taman kecil. Menikmati langit malam Kuala Lumpur. Terbayang, betapa jauhnya kami berada kini dari kampung. Sambil beristirahat mengatur nafas, kami mencoba untuk narsis dan mengambil foto selfie lewat fitur ten seconds yang ada di ponsel.

Sayangi Kuala Lumpur
Kami berjalan kaki lagi menyusuri jalanan menuju hotel. Kami lewati lagi Zouk yang mulai ramai. Kami lewati juga stasiun monorel yang sudah tutup. Malam terakhir ini kami rayakan dengan berjalan kaki. Kami pun menjumpai petugas kebersihan kota yang sedang menyirami trotoar. Sementara petugas lainnya menyemprotkan cairan disinfektan setelah jalur pedestrian itu disiram. Rupanya begitu cara mereka mencintai kota ini.

Tiba di hotel, kami hanya menyimpan beberapa belanjaan kemudian turun lagi mencari makan malam. Tak jauh dari SIKL, di perempatan jalan Tunku Abdul Rahman dan Jalan Sultan Ismail tepatnya di depan Tune Hotels, ada warung kaki lima yang sepertinya buka sampai dini hari. Kami makan disitu. 10 RM saja untuk satu porsi Ayam Penyet (khas Melaise) dan segelas teh tarik.


Suasana di warung kaki lima ini cukup meriah. Selain pilihan menu yang beragam, mostly traditional Malay dishes, ada panggung kecil yang ikut menghibur pengunjung. Beberapa menyanyikan lagu lawas slow rock barat, lagu melayu, hingga Broery Pesolima. Mana pernah kutahu.... Jatuh cinta padamu....

Saya cukup menikmati tempat ini. Memang kota sudah sepi, namun pengunjung warung ini semakin ramai. Karena dekat dengan perempatan, kami sempat dibuat kaget dengan decitan ban dari dua mobil yang sedang beradu kecepatan. Mirip adegan di film Fast & Furious. Yeah, this is life!

Kami kembali ke kamar jam setengah dua. Kami benar-benar kelelahan. Usai workshop sepagian, ngesot di KLIA, sitting duck in traffic for 2 hours, dan jalan kaki dari KLCC-SIKL. Hidup terasa sangat panjang. Life is very long.

21 November 2013

 
Hari ini akhirnya datang juga. Hari kepulangan saya ke tanah air setelah kunjungan pertama saya ke negeri tetangga. Saya bisa bangun siang untuk pertama kalinya disini (setelah shalat subuh tentunya).  Saya sudah janjian dengan Mbak Dini untuk pulang bersama karena kebetulan kami satu pesawat. Kami meninggalkan hotel jam 08.30 dan langsung menuju KLIA. 

Tadinya, kami bertiga pilih naik taksi saja, namun petugas taksi di lobi SIKL mengatakan tarifnya 140 RM (argo). Kami merasa kemahalan sehingga naik taksi hingga Stasiun KL Central saja dan lanjut ke KLIA dengan kereta KL Express. Di perjalanan, supir taksinya bilang bahwa tarif taksi menuju KLIA biasanya 120 RM. Kami pun setuju dan merubah rencana. Kami bisa tidur nyenyak (lagi).

Saya tidak bisa memejamkan mata lagi. Saya terjaga sepanjang jalan. Itu pun demi melihat kawasan Putrajaya, area pusat pemerintahan kerajaan yang letaknya agak minggir dari KL. Saya memecah kebuntuan dengan beberapa obrolan kecil dengan teman perempuan saya ini. My boss choose to sit in front so he can sleep all the way.

Kami tiba di KLIA sebelum jam 10. Antrian untuk check-in belum dibuka. Kami menunggu 20 menit lalu check-in. Kami dijadwalkan naik pesawat jam 12.50. It means we need to killing time. Untungnya, KLIA ini dibuat seperti mall. Jadi, sambil menunggu kami bisa menghabiskan waktu untuk sekedar window shopping atau bahkan menghabiskan ringgit disini.


Dengan alasan lupa membeli mainan untuk anaknya, kawan lelaki saya segera menghilang menuju toko mainan dan meninggalkan saya berdua. Kami menghabiskan waktu berdua berjalan-jalan sepanjang koridor KLIA keluar-masuk beberapa toko disana. Tak lupa juga seraya memesan secangkir coklat panas di Starbucks. Saya benar-benar menikmatinya. Ingatan soal rasa bersalah kemarin sudah lunas rasanya.

Boarding gate sudah dibuka. Kami segera masuk pesawat dan kembali duduk bersebelahan. Tidak banyak yang kami obrolkan di pesawat. Mungkin, masing-masing dari kami sudah membayangkan berjumpa dengan orang-orang terkasih. Melepas rindu yang amat besar. Barangkali. Kami pun berpisah di arrival gate Soekarno-Hatta.

Until next time we meet, senorita

Kuala Lumpur – Jakarta, 21 November 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...