Jumat, 22 Desember 2023

Cerita dari Pangandaran - Part 3 (habis)

Hari ini adalah pelepasan bagi 2 sahabat kami. Dua anak manusia yang cintanya dipertemukan oleh takdir. Apakah Tuhan sengaja membiarkan mereka mendapatkan takdirnya masing-masing? Bukan karena kebetulan semata?


Seorang dari kami tampak mengenakan busana warna putih dengan peci warna putih juga, berbalut kalungan bunga melati. Dialah sahabat kami itu yang mengundang kami dating ke pantai ini. Dari sorot matanya yang ada hanya ketenangan.Tidak terlihat adanya beban. Hari inilah yang akan jadi awal dari segalanya di fase hidupnya yang baru. Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga yang Insya Allah berada dalam naunganNya. Insya Allah, satu kayuh berdua*).


Kami mengantarkan mereka hingga dihadapan penghulu. Do’a-do’a dan lantunan ayat suci selesai dibacakan. Tibalah saatnya mengucap ikrar yang taruhannya dunia akhirat. Rupanya ada yang terlewat. Dia mencobanya sekali lagi. Sah? Sah! Sah! Sah! Alhamdulillah.


Tangis haru mewarnai pagi yang belum terlalu panas itu. Kami menyaksikan dua sahabat kami mengikat janji mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Entah, apa yang terpikir di kepala kami? Apakah ada diantara kami ini yang sedang membayangkan rasanya seperti mereka berdua? Atau hanya berpikir: Setelah ini siapa lagi yah?


Tembang Rhoma Irama dari Grup Qasidahan menemani kami menyantap hidangan yang disuguhkan. Lalu berganti dengan grup Nasyid dimana sahabat kami juga ada disana ikut menyanyi. Ada yang harus segera berakhir. Kami naik panggung. Foto. Jeprat jepret. Pamit pulang.


Bukan liburan kalau langsung pulang. Masih juga sempat mampir di pantai barat menyeberang ke pasir putih. Yang tersisa hanya aku, Mamank, dan Herman. Kami bertiga hanya memandangi perahu yang semakin menjauh. Kami bisa lihat mereka semua selamat sampai tujuan.


Kami hanya melamun, membuat lubang, merokok, lalu berlalu untuk sholat. Selepas shalat di mushola yang panas itu, kami mendinginkan hati dan pikiran dengan kelapa muda. This is life!


Nggak belanja, bukan liburan! Sepertinya inilah yang ada di benak para pelancong perempuan ini. Karena terlalu lama, kami putuskan supaya orang Jakarta (orang besoknya kerja, di Jakarta lagi…) untuk berangka duluan. Aku disana ikut mereka.


Aku minta diantar ke terminal, just want to ask, Budiman ke Jakarta berangkat jam berapa, namun entah mengapa, aku memutuskan untuk terbang ke Bekasi. Ini adalah keputusan yang sulit. Aku meninggalkan teman-teman. Tapi, justru inilah inti dari perjalanan ini. AKu memilih naik Budiman Pangandaran-Bekasi.


Akhir sebuah perjalanan


Perjalanan ini sangat berarti untukku.  Perjalanan menempuh  kesendirian. Bukan sekedar perjalanan biasa. Perjalanan ini adalah untuk sebuah keinginan yang baru saat ini terpikirkan kembali. Kenapa harus selalu menunggu untuk memulai sebuah perjalanan? Kenapa tidak memulainya saja sendirian? Sendirian sampai tempat tujuan.


Perjalanan ini adalah suatu pertanda bahwa kadang dalam kehidupan banyak sekali variabelnya yang berubah-rubah. Hidup ini seperti rumus fisika atau kimia yang mengandung ketetapan didalamnya walau variabelnya berubah atau diganti. Perjalanan mengajarkanku untuk meraih tujuan dengan caraku sendiri. Dan betapa kadang dalam perjalanan juga semuanya bisa berubah walau masih dengan tujuan yang sama.



*) sebuah judul lagu dari Kla Project


Pegangsaan Dua, 22 December 2008, 15.54 

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.

Cerita dari Pangandaran - Part 2



Sore di Pangandaran adalah sisa-sisa kerinduan. Dibawah langit yang mendung dan jalanan basah. Para wisatawan segera bersiap menyambut datangnya malam. Malam belum menjelang. Senja pun belum turun. Betapa bahagianya kami dapat berjumpa kembali sahabat seperjuangan dengan plat D. Tak lama setelah melepas rindu dan laporan sama yang punya hajat, kami segera menjelajah pantai.


Senja mulai turun dan gelap. Angin semakin kencang. Kami masih di pantai. Bermain-main dengan ombak yang saling berkejaran. Blitz dari kamera digital yang bagai petir itu menandai kami yang rada-rada narsis ini. Hujan kembali turun. Hujan mengusir kami kembali ke madrasah.


Selepas waktu Isya, rasanya perut ini mulai berteriak minta diisi. Betul saja, cacing-cacingnya sudah minta makan. Mereka teriak ingin makan seafood atau sekedar ikan baker. Tak hanya itu saja, mereka juga berteriak ingin makan di restoran yang ada TV-nya supaya mereka (lagi-lagi) bisa berteriak mendukung Firman Utina Cs yang sedang menjaga skor tetap 1-0.


Selama babak kedua itulah waktu makan kami. Indonesia kalah 2-1. Perut kenyang. Udang terkulai. Kerapu terbakar. Asap rokok mengepul. Heuaay. Pulang. Cari duren. Duren menyapa dihadapan kami. Sengaja kami menghadap pantai timur dalam gelap yang semakin pekat. Kacang rebus dan kamera masih jadi teman kami.


Tak lama, tiga orang sahabat menyusul kami. Semakin lengkap rasanya malam minggu ini. Sahabat, kopi hitam, kopi susu, kacang rebus, dan sepenggal kisah.


Ada kejadian yang membosankan ketika harus menemukan penginapan tempat para perempuan akan menginap. Sudah 3 kali keliling tapi tetap hasilnya 0 besar. Untung, Tuhan masih menitipkan tanda-tanda kekuasaanNya hingga kami pun tahu harus menuju kemana.


Kami, para lelaki, tiba di penginapan dan langsung membuka apapun yang kami bawa. Buka baju. Buka celana. Buka mulut (nguap tandanya ngantuk). Buka tas. Buka seleting (mau pipis…). Buka minum. Buka laptop nonton bokep (yeahhh..) Buka mata sampai jam 2 pagi. Sayangnya, DJ_arot sudah terkulai duluan. Perlahan disusul Christ, Mamank, Angga and Kubil.


Malam yang semakin dingin dan sedikit gerimis menutup cerita malam itu.

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Cerita dari Pangandaran - Part 1

Perjalanan malam hari ini diawali hampir dengan sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang akan merusak irama perjalanan. 3 jam lamanya menunggu busway sampai Kampung Rambutan hampir saja berakhir ditangan Perkasa Jaya. Dibutuhkan sedikit keberanian dan kenekatan untuk melakukan perjalanan ini. Akhirnya, Budiman: Banjar –Jakarta Executive.

****

Menyusuri pagi hari sepanjang Banjar-Pangandaran adalah kehilangan. Kabut sepanjang perjalanan hanyalah teman. Hamparan sawah yang masih menghijau adalah kerinduan. Aku lihat kembali kehidupan yang biasa. Anak-anak pergi sekolah berjalan kaki. Petani ke sawah dengan sepeda tuanya. Para Pedagang pasar membawa dagangannya ke dalam bis.

Aku bisa menyaksikan itu semua setelah tertidur sejauh 30 km. Hujan yang turun di pagi itu membawa suasana basah dalam resah. Titik-titik hujan yang menempa kaca depan bus menghujam bagai perasaan di minggu sore. Perjalanan masih jauh. Aku coba untuk tertidur kembali namun aku tak bisa. Aku hanya bisa memandang keluar dengan sebuah harapan.

Aku tiba di Terminal Pangandaran tepat setengah tujuh pagi. Aku melihat lagi kehidupan yang biasa. Hujan gerimis belum mau reda. Bau basah pasir pantai mulai tercium. Ombak semakin kencang. Aku bisa dengar dari hembusannya. Hujan gerimis semakin besar. Pantai masih sepi. Barangkali, nanti siang aku akan kesana.

Ima menyambutku, begitu juga keluarganya. Aku memutuskan untuk tidak berangkat bersama teman-teman dari Jatinangor. Aku tiba disana bersama kakaknya yang menjemputku. Tiba-tiba aja aku bercerita banyak sekali pada Ima. Tentang pekerjaan (I hate to told it on the holiday), rezeki, cerita teman-teman., dan lain sebagainya. Aku bercerita dalam hujan yang semakin deras. Untungnya, Ima masih mau mengobrol denganku.

Siang ini, setelah tertidur lagi 2 jam, aku ingin ke Pantai. Sendirian saja. Ketika gerimis masih enggan untuk pergi aku kesana, Menyusuri sepanjang pantai barat sampai seorang kawan menelpon.

Siang pun segera membawa matahari dan membuka awan mendung. Langit tampak berawan. Kami berdua menyusuri pantai timur sampai akhirnya berhenti disebuah warung baso di Pasar dekat Terminal. Sesudahnya kami berdua masih saja berputar-putar di Pangandaran yang Cuma segitu-segitu saja. Sampai akhirnya kawan-kawan dari Bandung akan segera tiba.

**** end of part.1

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Titip Rindu buat Ibu*)

Rembulan merah mengambang

Langit Cikampek malam hari

Angin kemarau mengalun terbang

Hantarkan hasrat mimpi kembali

 

Debur rindu bawa kelam

Sejuta rindu bawa mimpi

Desiran ingin bakar malam

Jatiluhur terpatri sepi

 

Ibu... Si Anak meradang

Dalam sedu gemuruh hati

Ibu... anakmu pulang

Remuk redam hati terobati

 

Jakarta, 12 Agustus 2009

*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu

ditulis kembali mengenang perjalanan Jakarta-Bandung via Purwakarta sekaligus menyambut Hari Ibu 2010, diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk diterbitkan di blog ini.

 

Sesah Hilapna - A Commemorate to Unforgetfulness

Asa-asa urang teh nembean tepang, aya keureuteug hate dugdeg sur ser sesah hilapna...

Geuing beut sungkan papisah... Deuh... Sesah hilapna...

Kantenan urang teh nembean tepang aya nu eunteup gerets kadeudeuh sesah hilapna...

Nyanding asih dina ati... Deuh... sungkan patebih...*)

 

Rhein.. Carrarhein... Hanya itu saja yang ku tahu tentang dia. Hanya namanya saja. Pertemuan ini berlalu begitu saja. Tidak lebih cepat dari 1 lap balapan Formula 1. Juga, tidak lebih lambat dari Fastest Lap Kimi Raikonnen. Kau boleh bilang sepintas lalu saja. Ya, memang seperti itu. Untung saja, aku masih ingat namanya. Namanya yang selalu akan jadi bagian cerita hidupku ini.

Tidak perlu lagi kuceritakan bagaimana aku tahu namanya. Tidak juga kau perlu tahu mengapa sulit untuk melupakannya. Toh, pertemuan kami tidak disengaja. Aku tidak berkuasa apa-apa atas kejadian ini. Aku hanya tahu kalau aku sedang menjalani kemestian.

Aku sedang berada di dalam perjalanan. Perjalanan yang akan membawaku kepada diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa punya kekuatan dan harapan yang kuat untuk melakukan suatu perjalanan, sendirian. Perjalanan ini bukan dalam misi bisnis, dagang, bekerja, tapi lebih pada silaturahmi. Silaturahmi pada kenangan-kenangan yang berceceran di sepanjang jalan menuju tujuan. Silaturahmi dengan suasana baru yang kuharap dapat mengantarkanku pada diriku sendiri.

 

Whatever tomorrow brings i'll be there...**)

.

Aku masih berada dalam perjalanan sambil berpikir akan pergi kemana lagi setelah ini. Ada banyak kemungkinan. Aku masih bisa pergi lagi ke Magelang untuk mengambil kembali kenangan tentangnya. Kenangan yang tertinggal dalam kabut Merbabu. Belum lagi yang tercecer dan menyatu dalam butiran air di kolam renang Sukotjo. Benar-benar sebuah napak tilas yang mungkin bakal berkesan. Aku ingin sekali lagi ke Magelang atau, sekedar main ke Yogyakarta. Meretas mimpi yang mungkin terobati. Aku masih menatap gelap diluar jendela sana. Bus masih melaju kencang. Sepi. Sendirian melintas jalan sunyi. Sendiri. Seperti aku. Menuju kesana. Kesana.


Pegangsaan Dua, 19 Desember 2008

*)Sesah Hilapna, dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang

**) Drive, lagunya Incubus. Di Indonesia malah ditiru jadi nama Band.

diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini

Selasa, 12 Desember 2023

Thinkplus T50: Masih Bagus Buat Lari

Saat ini, ada banyak perlengkapan olahraga lari. Mulai dari yang utama dan berpengaruh pada performa, seperti sepatu dan outfit. Hingga, secondary items yang bisa menambah kegantengan atau sekedar untuk mengikuti tren biar bisa dibilang eksis. Untuk alasan yang kedua ini barangkali sering menjadi alasan para pelari untuk melengkapi eksistensinya di dunia perlarian.

Rasanya tidak lengkap berlari tanpa mendengarkan musik. Saya jadi ingat sepuluh tahun lalu, saya masih rutin berlari keliling Monas dengan mendengarkan musik dari lagu-lagu yang ada di ponsel melalui headset berkabel. Saat itu, sudah mulai ada device headset dengan koneksi bluetooth, namun saya tidak mampu membelinya, Hehehe. Saat ini, sudah banyak sekali wireless bluetooth headset dengan berbagai rentang harga di marketplace daring. Mulai dari yang klasik on-ear hingga yang paling kekinian open-ear/air  conduction yang sama-sama menggunakan koneksi bluetooth.

Saya belum tahu rasanya seperti apa headset open ear itu namun saya mulai merasa perlu untuk mengganti headset yang selama ini saya pakai untuk berlari. Headset TWS on-ear harus selalu rutin ditekan agar posisinya tidak mudah goyang karena getaran dari gerakan lari. Sementara, yang bermodel mengalungi leher cukup membuat lecet kulit leher, imbas gesekan karet dengan kulit leher.


Akhirnya, saya menjatuhkan pilihan pada Thinkplus T50 earphone. TWS ini memiliki gantungan yang melingkar untuk menggantung pada daun telinga. Ini mengingatkan saya pada medio 2010 dimana banyak juga model headset dari brand besar yang dipalsukan menggunakaan dudukan semacam ini. Old school never dies, Baby!

Kualitas suara yang saya dapatkan dari TWS ini pun saya bisa beri nilai 80 dari 100. Suara musik dari jasa penyedia musik streaming atau podcast di Youtube selalu bisa saya nikmati. Mid-range dan bassnya lumayan walaupun tidak sekuat TWS yang pernah saya review sebelumnya, Nakamichi TWS1XS. Kapasitas baterainya pun lebih besar dari TWS1XS, 300 mAh dan bisa saya gunakan lebih dari 5 jam berturut untuk sekedar mendengarkan musik.

So far, penggunaannya cukup nyaman baik untuk kerja (online meeting), telepon, berolahraga (sepeda, lari, dan gym). Bahan gantungannya cukup lembut dan terbuat dari karet lentur sehingga mengurangi resiko lecet saat berkeringat. Karet telinganya juga empuk serta diberi pilihan 3 ukuran dalam paket pembeliannya. Koneksi charger sudah menggunakan USB Type-C, jangan khawatir karena Thinkplus juga menyertakan kabel charging dalam paket bawaannya.

Anyway, sebagai alternatif dari TWS headset open-ear yang harganya fantastis itu, rasanya Thinkplus T50 masih dapat diandalkan. Perbandingannya tidak head-to-head memang, tapi bila mungkin ada pembaca disini yang juga pelari, T50 bukanlah gadget/device yang dapat memberi kepuasan serupa, namun tidaklah salah bila T50 bisa jadi satu 'obat ganteng' anda saat berlari. Barangkali, kalau satu waktu anda perlu naik MRT, T50 masih boleh lah...!

Brand : Thinkplus Lenovo
Model : T50 True Wireless Bluetooth Earphone Sport TWS 5.2
Sensitivity : 105 dB +/- 3 dB
Play time : 5 hours
Harga  : Rp. 108.000 (Oktober 2023)


Cipayung, 10 Desember 2023

Senin, 04 Desember 2023

Why? Science Standards, Memahami Standar Lewat Komik

Sumber gambar: www.gramedia.com


Sejatinya, komik serial Why? ini adalah komik edukasi untuk anak-anak dengan rentang umur sekolah dasar. Tujuannya, agar mempermudah proses pembelajaran anak dalam pelajaran yang berkaitan dengan sains atau ilmu pengetahuan alam. Sepanjang pembacaan, andaikan buku ini ada saat saya masih sekolah dulu, mungkin hidup akan jadi lebih mudah. Halaah. Andaipun begitu, saya beleum tentu punya uang untuk membelinya.

Membaca komik ini membawa ingatan saya kembali pada masa awal sekolah menengah pertama. Saya kembali mengingat pelajaran Fisika, terutama tentang satuan-satuan yang digunakan dalam Sistem Internasional. Lewat pembacaan, saya merefresh kembali memori tentang beberapa satuan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya, dengan komik ini pembaca dibuat paham tentang mengapa harus ada satuan atau ukuran pengukuran yang sama melalui cerita Paman dan Komji yang kembali ke Zaman Babilonia dimana Kerajaan Assyria (Asiria) berusaha memperluas pengaruhnya.

Komik ini juga memberi penekanan bahwa standar adalah ‘akar dari sains’. Standardisasi  memiliki peranan yang besar terhadap kemajuan sains. Bagaimana pentingnya? Penjelasan dalam cerita petualangan Komji dapat membantu pembaca untuk setidaknya memahami mengapa asal mula keseragaman pengukuran dan bagaimana pengaruhnya terhadap kemajuan dunia dan ilmu pengetahuan.

Komik serial ini memiliki banyak judul yang tentu saja masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Buku ini lebih dulu saya tamatkan karena judulnya ‘agak saintifik’ untuk saya yang medioker ini. Saya masih ada dua buku Why? lagi untuk ditamatkan. Anyway, saya sangat menikmati pembacaan komik ini. Sedikit membuat dahi berkenyit tapi ya sudahlah...!

Judul           : Why? Science Standards, Standar Pengukuran
Penulis        : Yea Rim Dang
Penerbit       : Elex Media Komputindo
Tahun          : 2019
Tebal           : 160 hal.
Genre          : Komik Sains



Pajang, 4 Desember 2023


Senin, 27 November 2023

Kepiting Bercapit Emas: Membaca Kembali Tintin

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Membaca lagi Tintin berarti mengulang kembali kisah baca saya puluhan tahun yang lalu. Saya harus mampir ke rumah saudara untuk meminjamnya. Buku komik semacam serial Petualangan Tintin ini habis dibaca sekali duduk. Juga karena ini bukan kali pertama jadi saya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk menamatkannya.

Kisah rekaan dengan intrik-intrik spionase ini tentu sangat melatih pemahaman saya waktu kecil. Dulu, saya harus membaca berulang kali untuk dapat memahami cerita Tintin. Tentang bagaimana clue, kode, atau petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan alat investigasi yang menuntun pada pembuktian dan pemecahan sebuah kasus.

Anyway, saya menikmati sekali pembacaan kembali Tintin. Tentu saja terima kasih saya ucapkan pada Istri saya yang masih mau membeli komik Tintin. Barangkali, kami berdua sedang butuh jiwa petualang untuk kembali berlayar satu kayuh berdua. Semoga.
 
 
Judul           : Petualangan Tintin: Kepiting Bercapit Emas
Penulis        : Herge
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2015
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Komik-Petualangan


Pajang, 27 November 2023.


Jumat, 04 Agustus 2023

Rest in Peace, My Beloved Script

 

Hari ini, saya nyatakan bahwa script ini telah dideaktivasi. Entah karena si burung kecil sudah berganti logo atau ada hal lainnya, saya tidak tahu.

Kamis, 03 Agustus 2023

Tough Choices: Sebuah Pembukaan

“... life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what makes us who we are...” hal. 85


Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya pertama kali berkenalan dengan buku ini di suatu perpustakaan sekolah medio 2009. Kebetulan, saat itu seorang siswi sedang membaca sekilas kemudian meminjamnya. Penasaran, akhirnya ketika buku itu dikembalikan, saya lantas mulai membaca sedikit halaman pembuka. Sampulnya menarik dan cukup simple. Sebuah potret seorang perempuan yang nampak masih “perkasa” dengan sisa-sisa kejayaannya. Judulnya pun langsung menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard (HP). Menarik untuk mengetahui cerita mengenai seorang perempuan yang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan besar berskala internasional. Untuk tahu bagaimana latar belakangnya sedari kecil, kisah-kisah dan pergolakan di masa beranjak dewasa, hingga berbagai keputusan yang diambil dalam menjalani serangkaian peristiwa dalam hidupnya.

2013 lalu, pernah sekali waktu saya menemukan buku ini di sebuah toko buku import di bilangan Senayan. Waktu itu, saya tidak punya cukup keinginan untuk menuntaskan pembacaan buku ini. Saya masih punya buku-buku yang belum dibaca dan itu banyak sekali. Keinginan itu muncul kembali ketika saya mulai mengumpulkan daftar wishlist buku yang ingin saya baca di Goodreads, pasca mereka menghapus My Stories di halaman mereka. Saya pun memberanikan diri untuk membeli buku-buku bekas di platform marketplace online shopping, dimulai dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ dan ‘Adam Makrifat’ yang pembaca tentu saja sudah lebih dulu membacanya sebelum tulisan ini.

Saya membeli memoar ini bersamaan dengan buku dari Tina Fey ‘Bossypants’, sebuah memoar yang penuh dengan humor. Saya sengaja menunda ‘Bossypants’ agar dapat fokus menamatkan ‘Tough Choices’ terlebih dahulu. Saya mendapatkan buku ini sebagai buku bekas yang pernah berada dalam rak toko buku yang tahun 2013 lalu saya kunjungi dan harganya tidak dalam kurs rupiah, merupakan pada harga aslinya USD 24,99. Warna kertasnya sudah menguning, kertas sampulnya masih dalam keadaan baik, tidak ada halaman yang rusan ataupun sobek, dan yang paling penting: tidak ada penanda apapun dari pemilik sebelumnya. Anggap saja ini buku baru yang halamannya sudah menua. Hahaha.

Saya selalu menyukai apa yang ditulis Carly Fiorina dalam halaman-halaman awal. I do what i thought was right... My soul still on my own... Kata-katanya seakan menguatkan dan memberi harapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil pertimbangan kita sendiri dengan segenap pengalaman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Sepanjang pembacaan sampai halaman 98, ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan motivasi. Tentang bagaimana menghadapi situasi penuh pilihan, tentang bagaimana mengambil resiko, juga tentang bagaimana berhadapan dengan banyak orang dalam konteks bisnis internasional. Saya merasa mendapatkan banyak insight dari perjalanan yang bahkan belum seperempat buku. Setidaknya, dalam hidup saya yang mulai membosankan ini ada sesuatu yang bisa membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal.

Anyway, saya masih harus menamatkan buku ini. Saya selalu merasa harus menamatkan buku ini sejak menemukannya kembali. Saya tidak terlalu tahu sepak terjang dan jejak karir dari si penulisnya. Namun, saya selalu punya alasan untuk belajar memahami kembali bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Pajang, 3 Agustus 2023.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...