Sabtu, 31 Desember 2011

Catatan Tak Terselesaikan: Test Pack


 
Judul: Test Pack
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia
Tahun: 2005
Tebal: 230 hal.
Genre: Novel
Delivery date: Desember 2010

Sama seperti Empat Musim Cinta, buku ini juga ditandatangani oleh penulisnya langsung. Betapa bangganya saya saat menerima kiriman paket dua buku ini. Karena selain membantu meningkatkan penghasilan dan penjualan dari pasangan Suami Gila dan Istri Bawel ini saya juga punya sesuatu untuk dibanggakan: tanda tangan penulis. Sama rasanya ketika Prof. Budi Darma dan DR. Seno Gumira Ajidarma sudi menandatangani buku mereka yang saya punyai.
 
Test pack, sebuah novel metropolitan, ringan dan menghibur. Namun, makna yang dikandung novel ini sangatlah besar. Tidak sesederhana memaknai komitmen antar dua manusia demi janji setia yang telah terucap. Pembaca harus mampu sesensitif mungkin untuk merasakan perjuangan demi mempertahankan komitmen diluar semua pretensi, praduga, dan prasangka yang senantiasa lekat menghampiri. Cerita yang dikemas rapi ini adalah wujud representasi kehidupan manusia modern dengan segala kompleksitasnya sehingga fiksi ini dianggap mewakili suatu realitas kenyataan yang benar-benar dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
 
Sepanjang tahun ini, saya belum mampu juga untuk membuat resensi buku ini karena yang ada di pikiran saya saat itu adalah kebingungan yang sangat.* Saya tidak ingin lantas menjadi orang yang sok tahu dengan hanya menafsir sebuah novel yang membahas kehidupan rumah tangga. Padahal, saya hanya perlu membaca makna dan pertanda akan arti sebuah kesetiaan dalam komitmen berumah tangga. Beberapa pertanyaan yang sepertinya sengaja diselipkan dalam cerita rasanya sayang bila dilewatkan begitu saja. Barangkali, pembaca harus lebih dari siap untuk jujur pada diri sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut.

 

Pharmindo, 31 Desember 2011.

*cerita ini selesai ditulis hanya beberapa jam menjelang pergantian tahun 2011.

Catatan Tak Terselesaikan: Empat Musim Cinta

Judul: Empat Musim Cinta: tentang aku, kamu, dan rasa
Penulis: Adhitya Mulya and friends
Penerbit: GagasMedia
Tahun: 2010
Tebal: vi + 174 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen
Delivery date: December 2010


Ada yang selalu dinanti dari setiap karya penulis. Apalagi kalau penulis itu sudah pernah berhasil membangun reputasi dengan meraih predikat “Best Seller”. Entah itu kekhasan rasa dalam setiap tulisan yang dihasilkan atau hanya sekedar perasaan kangen untuk membaca karya selanjutnya. Semenjak saya mulai follow Adhitya Mulya di twitter (@adhityamulya) saya mendapat banyak informasi yang lebih bersifat personal. Sehingga, saya bisa tahu juga bahwa penulis ini menjual sendiri karyanya. Bedanya dengan di toko buku, setiap pembeli akan mendapat tanda tangan asli dari penulisnya. Sebuah kebanggan yang tak terhingga bagi seorang penggemar. Mungkin 100 tahun lagi buku bertandatangan asli ini akan jadi barang langka, antik, unik dan mahal harganya.

Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. Empat musim cinta. Selama ini kita hanya mengenal empat musim cuaca. Bukan cinta. Namun, saya kira cuaca pun masih ada hubungan dengan cinta. Cuaca layaknya cinta adalah sesuatu yang bisa diprediksi sebelumnya tetapi membutuhkan pengalaman tersendiri untuk merasakan keadaan yang sebenarnya. Itu menurut tafsir saya karena selama ini saya pun belum tahu alasan dibalik pemilihan judul buku ini.
 
Sayangnya, saya belum mampu menuliskan sepatah dua patah kata untuk sekedar menerjemahkan isi buku ini menurut tafsir saya. Saya dilanda ketakutan luar biasa apabila ternyata salah dalam mendefinisikan makna Empat Musim Cinta. Ketakutan yang semakin saya sadari semakin tidak beralasan.
 
Ya tabe kahayu. Aishiteru. Ti amo. Wo ai ni. Mi aime jou. Volim te. Ik hou van jou. Ek hef jou lief. Mi amas vin je. Ich liebe dich. Te dua ai.  Begitulah cinta menyebut namanya dalam berbagai bahasa.
 
Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, apalagi buku ini termasuk makanan ringan bagi penikmat sastra cerpen. Cerpen dengan rasa dan bumbu cinta didalamnya. Fenomena cinta yang disajikan para penulis ditafsirkan dalam makna yang lebih general. Tidak sebatas percintaan dan kasih sayang dua manusia semata. Cinta bisa dimaknai secara luas karena pada hakikatnya cinta ada dalam setiap jejak langkah manusia.
 
Aura cinta sudah terasa sebelum membaca dan merasakan cerita cinta dari setiap cerpenis. Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta memiliki bahasanya sendiri.  Bagai empat musim yang selalu berganti begitu pula cinta. Cinta memiliki musimnya sendiri. Ia bisa hadir setiap hari dalam setiap jiwa yang merindukannya. Pengalaman cinta yang berbeda dari masing-masing penulis membuat kumpulan tulisan ini terasa lebih hidup dan semarak. Perasaan kehilangan dan bahagia menyublim dalam rasa.



Pharmindo, 31 Desember 2011.

Kamis, 22 Desember 2011

Surat Cinta untuk Aninda: Episode Hari Ibu


Aninda sayang, akhirnya aku bisa menyisihkan waktu sejenak untuk menarik nafas dan mengirim surat padamu. Ah, satu alasan klise yang sudah terlalu sering jadi alasan untuk segenap kebodohanku. Entah untuk keberapakalinya, maafkan aku, Aninda.


Aninda tercinta, Desember sudah mendekati akhir. Begitu juga setiap cerita, selalu memiliki akhir. Aku selalu ingat bulan Desember. Satu waktu dimana cinta kita mulai bersemi.

Aninda, tentu kau masih ingat saat itu. Kau pun pasti belum lupa lembutnya tiramisu di kedai coklat itu. Ah, rasanya itu seperti baru kemarin kita alami. Kau pun tahu selanjutnya ketika aku tutupi kedua daun kupingku usai kunyatakan cintaku padamu. Ada rona bahagia di wajahmu, Aninda. Wajahmu memerah. Aku tersipu. Biar bintang tak datang menerangi malam aku tahu kau terima cintaku.

Sambil menunjuk satu bintang di langit kelam kau bisikkan padaku cita dan harapmu. Berdua kita kan terbang menuju kesana walau hanya berkain cinta dan kita juga kan menyanyikan lagu itu. Lagu yang Kimberly selalu nyanyikan pada setiap Choir Grand Prix. A whole new world... A new horizon to pursue... Layaknya Aladdin dan Putri Jasmin.

Dalam diam aku pun membayangkan kita akan beranak pinak kelak. Aku akan selalu berada disisimu saat anak-anak kita lahir nanti. Mengumandangkan adzan ditelinga mereka seraya mengucap doa-doa yang terbaik. Aku juga bayangkan saat-saat mereka mulai sekolah. Kau akan menyiapkan bekal dan aku akan setia mengantar pergi ke sekolah. Tak lupa, dengan ciuman di kening  sebelum mereka masuk kelas. Ah, kebahagiaan itu sederhana rupanya.

Kau juga bisikkan padaku, apakah aku akan selalu mencintaimu. Tiba-tiba aku harus menatap dalam pada dua matamu. Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin engkau jauh dariku. Aku pun memelukmu sambil bisikkan janji untuk selalu menjaga bunga-bunga yang ada di ladang cinta kita.

Kau pun tersenyum waktu itu. Senyum yang selalu kurindukan dan selalu membuatku ingin pulang. Pulang kemana cinta kita kan beradu. Pada hati yang terpilih. Hatimu.

Selamat Hari Ibu. Aku yakin engkau lebih dari mampu untuk jadi seorang Ibu yang seutuhnya mengasihi.
 
Peluk hangat dan cium,

Kekasihmu di ujung dunia

 

Paninggilan, 21 Desember 2011.

Rabu, 14 Desember 2011

Senja di Jakarta

"Senja di Jakarta tetap dalam kesuraman, dan mereka yang jujur tetap tersisih." *

Terkisahkan dalam cerita bagaimana nasib anak-anak manusia membawa takdir berlari menuju suratan masing-masing. Saimun dan Itam sebagai potret rakyat kecil dengan dinamika kehidupan yang sebegitu rupa selalu bergulat dengan perut yang lapar. Raden Kaslan, seorang pengusaha yang kemudian menjadi mesin uang bagi Partai. Husin Limbara, tokoh sentral partai penguasa yang terlalu hebat kuasanya dalam mengatur segala urusan demi kemajuan partai yang dipimpinnya. Suryono, anak Raden Kaslan yang memutuskan untuk berhenti jadi pegawai negeri lalu ikut jadi pengusaha seperti ayahnya-dan membantu partai.


Ada lagi, Sugeng. Pegawai negeri yang jujur namun karena satu bisikan kemudian berhenti jadi pegawai dan membuka usahanya sendiri. Tokoh-tokoh pemuda yang saat itu ikut berperan dalam permainan wacana kanan-kiri pun tak lupa disebutkan. Macam Akhmad dan Yasrin yang berhaluan kiri. Sedangkan, Pranoto dan Murhalim adalah pengikut setia paham demos-cratein (baca: demokrasi). Ditambah Iesye, seorang religius-nasionalis yang percaya dinamika Islam akan mampu memecahkan jalan buntu yang dihadapi bangsanya.

Semua kisah itu pada awalnya muncul sebagai fragmen-fragmen dengan alurnya sendiri. Seiring cerita berjalan, entah kebetulan atau tidak, benang merah kusut itu semakin menemukan jalinannya. Kaitan antara fragmen yang satu dengan fragmen yang lain terasa lebih hidup dan meninggalkan perasaan sesal pada pembaca bila melewatkannya.

Seandainya dibaca dengan seksama, Senja di Jakarta melukiskan juga berbagai kekuatan yang mempengaruhi, membentuk, dan kehidupan mereka yang kaya, miskin, kaum politik dan kriminal, kaum intelektual, dan juga mereka yang berpindah dari desa ke kota besar. Fenomena yang sudah sering terjadi dalam negeri-negeri yang belum lama merdeka.

Catatan Seorang Nasionalis Dadakan

Bila dikaji, kita akan menemukan realitas fiktif dimana telah terkutuknya dunia bisnis, politik, dan kekuasaan bila itu digabungkan dalam suatu kesatuan. Tak jelas lagi mana kepentingan rakyat dan mana kepentingan saku pribadi. Tetapi, kemudian pembaca barangkali akan menyadari bahwa realitas fiktif yang sengaja dibangun oleh Mochtar Lubis ada benarnya. Betapa penguasa telah mengkhianati mandat dengan memperkosa hak-hak yang seharusnya rakyat terima.

Contoh sederhana untuk saat ini, coba perhatikan isi berita media-media kaum oposan. Bandingkan dengan tendensi media corong penguasa. Perang opini publik adalah perang yang abadi. Sungguh satu hal yang selalu berulang. Sejak zaman pasca kemerdekaan hingga kini. Seperti menandakan peran absurd media yang membela kepentingan-kepentingan tertentu demi satu tujuan: oplah. Semakin tinggi oplah, semakin banyak uang didapat. Tidak peduli lagi rakyat dibuat cerdas atau sengsara oleh pemberitaannya.

Senja di Jakarta adalah bukan tentang keindahan senja di langit Jakarta. Bukan asosiasi pemaknaan senja tentang romantisme cinta yang melankolis. Senja di Jakarta adalah tentang arus kemiskinan, korupsi dan kejahatan (kriminal dan intelektual) yang mengalir deras di bawah permukaan kehidupan kolong lagit Jakarta.

Membaca novel yang terbit pertama kali pada tahun 1970 ini sama saja dengan menyimak keadaan kehidupan berbangsa saat ini. Betapa demokrasi yang selama ini diagung-agungkan telah membawa rakyat bangsa ini kedalam berbagai situasi. Entah yang paling menyenangkan atau paling tidak menyenangkan sekalipun. Pertentangan ideologi yang begitu terasa menjelang pemilu terlihat begitu mencolok. Sistem demokrasi parlementer saat itu tidak mampu menahan berbagai gejolak.

Rakyat kehilangan kepercayaan pada pemerintah. Partai-partai penguasa sibuk berbagi jatah. Kaum Oposan bersiap diri bila suatu saat kabinet jatuh. Pergerakan kaum kiri semakin aktif di tengah-tengah rakyat yang dianggapnya proletar itu. Penyimpangan dimana-mana. Birokrat sudah tidak malu lagi menenggak uang rakyat. Padahal, cari beras pun susahnya minta ampun.

Senja di Jakarta memberi gambaran bagaimana kekuatan unsur bisnis, politik, dan media turut berperan dalam membangun kehidupan berbangsa. Kolusi, Korupsi, Nepotisme, Kongkalikong, Katebelece sudah jadi makanan sehari-hari yang semakin menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa. Praktek yang demikian itu sudah sebegitu lumrahnya bagi kalangan oportunis yang berkicau didalamnya. Sehingga, bangsa ini terancam karam.

Saya yakin bahwa kenyataan seperti itu akan kembali berulang. Apalagi nanti menjelang pemilu 2014. Partai penguasa tentu akan butuh dana besar untuk memenangkan figur jagoannya. Itu pun kalau tidak terlanjur kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Ditambah bila skandal-skandal besar yang melibatkan partai penguasa ini dapat dituntaskan. Jujur, saya ngero untuk membayangkannya.

Nilai aktualitas novel ini semakin menekankan relevansinya dengan wajah Indonesia saat ini. Korupsi merajalela tanpa jelas siapa dalangnya, hukum dianggap main-main belaka, koruptor teriak maling sambil makan siang nikmat di sebuah mall-padahal statusnya masih tersangka dan dipenjara, partai penguasa tersangkut berbagai skandal besar hingga pergolakan opini di media massa antara kaum oposan dan kaum pro-pemerintah. Gambaran realitas masa lalu yang seakan dihadirkan kembali pada masa sekarang ini.

Semua keadaan itu menghadirkan sebuah konektivitas sejarah dalam percaturan politik. Hanya saja, waktu yang membedakan. Zaman dipimpin oleh pemerintahan parlementer tahuh 1950-an dan kini demokrasi modern yang berlandas pada semangat reformasi. Entah masihkah ada pentingnya demokrasi Pancasila dimasa suram seperti ini.

Lebih dari itu, Mochtar Lubis sangat sangat berhasil mengantar pembacanya pada permainan fiksi dan fakta. Dimana fiksi mengambil fakta sebagai latar cerita yang tentu memiliki keterikatan langsung dengan realitas pembaca. Ditambah lagi dengan aktualitas dan relevansi realitas fiksi yang seakan hidup dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Senja di Jakarta seakan mengingatkan kita bahwa suatu masa akan tetap berulang. Dan hidup tidak akan pernah lagi sama. Demi menjadi manusia Indonesia seutuhnya.
 
Judul: Senja di Jakarta
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun: 2009
Tebal: 405 hal.
Genre: Novel
 

 Medan Merdeka Barat-Tomang-Paninggilan, 10 Desember 2011.

* petikan halaman 192 dari buku "Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern" ditulis oleh Maman S. Mahayana, Oyon Sofyan dan Achmad Dian. Grasindo, 2007

Selasa, 06 Desember 2011

Oleh-oleh Marguerite dari Timur



"Bersabarlah wahai ketidaksempurnaan, berkat engkaulah kesempurnaan menyadari dirinya." (hal. 119)

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Pertama kali muncul keinginan untuk membaca buku ini usai membaca Rashomon karya Ryonosuke Akutagawa (KPG, 2007). Entah dibagian akhir buku atau dimana saya melihat deskripsi buku Cerita-cerita Timur ini dan tiba-tiba merasa harus membacanya.

Selang waktu berjalan saya pun lupa tentang hal ini. Baru teringatkan kembali ketika mendapat katalog dari penerbit Yayasan Obor Indonesia di Pesta Buku Jakarta medio 2011. Kemudian, seperti biasa terlupakan kembali. Baru ketika Pesta Buku Bandung kemarin saya menemukan buku ini. Rasanya seperti menemukan permata yang hilang (sok dramatis). Hebatnya, saya dapatkan buku edisi cetakan pertama yang semakin membuat buku ini terasa lebih berkesan karena kejadulannya.

Walaupun cerita-cerita dalam buku ini adalah cerita yang diceritakan kembali dari bentuk cerita asalnya tetap tidak mengurangi esensi, hakikat dan pemaknaan kembali semua kisahnya. Terlebih, Marguerite Yourcenar cukup cerdas untuk memainkan rona bahasa. Sehingga tercermin dalam pilihan kata yang mampu menghidupkan isi cerita secara detil.

Buku dengan judul asli Nouvelles Orientales yang terbit tahun 1938 ini ditulis saat Marguerite Yourcenar berumur 35 tahun. Marguerite adalah seorang pengembara. Sehingga, karyanya merefleksikan kekayaan pengalaman dari pengembaraan selama hidupnya. Terutama di Yunani, Turki, India, dan Jepang. Dimana tempat-tempat tersebut memberi kesan latar yang cukup kuat pada cerita.

Istilah "Timur" dalam judul kumpulan isi sangat relatif, yaitu sebelah timur Perancis, membentang dari daerah Balkan dan Yunani sampai ke Cina dan Jepang. Dari segi lain, tidak adanya cerita yang berlatar Asia Tengah, India, atau Asia Tenggara menunjukkan bahwa Marguerite tidak bertujuan memberi gambaran menyeluruh tentang Tradisi "Timur" itu secara sistematis.

Kisah-kisah dalam kumpulan ini diangkat dari dongeng timur tradisional dan diceritakan kembali oleh Marguerite Yourcenar dengan gaya bahasa yang sangat puitis, sarat kiasan dan metafor, sekaligus mengandung unsur perasaan dan emosi yang intens dan kental.

Simak cerita tentang seorang Ibu yang menjadi tumbal atas pekerjaan suaminya dan tetap berusaha menyusui anaknya hingga air matanya kering. Lalu, kisah tentang rasanya jadi orang yang terlupakan pada cerita berjudul Cinta Terakhir Pangeran Genji.

Kemudian, rasakan juga pengalaman seorang laki-laki yang mencintai peri. Khusus untuk ini, mengingatkan saya pada suatu judul yang entah karya siapa, entah novel, roman, atau cerpen yang bernada sama: Laki-Laki yang Bercinta Dengan Peri.

Kisah-kisah tersebut sejatinya bercerita tentang hidup, cinta, gairah, seni, dan kematian ini tidak terikat pada suatu masa dan suatu negeri saja tetapi menyangkut nilai-nilai universalitas kemanusiaan yang berlaku sepanjang masa.

Judul: Cerita-cerita Timur
Penulis: Marguerite Yourcenar
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun: 1999
Tebal: 133 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen
 

Medan Merdeka Barat-Pharmindo, 6 Desember 2011.

Senin, 05 Desember 2011

Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia



Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Perjumpaan saya dengan karya Agus Noor dimulai dengan kumpulan cerpen Potongan Cerita di Kartu Pos. Secara tak sengaja, saya dibuat penasaran dengan judulnya Pengalaman pertama saya itu dilatarbelakangi oleh suatu rasa penasaran. Kenapa seorang Agus Noor menjadi begitu penting hingga Alina merasa harus menulis surat untuknya dalam kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku milik Seno Gumira Ajidarma (SGA).

Dalam karyanya yang kesekian ini, Agus Noor mengeksplorasi cerita hingga membuat setiap kisah yang ditulisnya menjadi penuh pukau. Cinta, sensualitas, sampai memori kekejaman politik dan religiositas, terasa subtil dalam bahasanya yang puitis dan sering kali mengejutkan.

Bila diperhatikan sepintas, gaya menulis yang dimiliki Agus Noor sedikit banyak dipengaruhi oleh SGA. Pun ketika saya menemukan bahwa ada beberapa potongan cerita dari karya SGA yang disisipkan ke dalam cerita gubahan Agus Noor. Sebagai orang awam, saya melihat bahwa hal itu sah-sah saja dan bukan merupakan suatu plagiatisme. Karena Agus Noor justru mampu menciptakan suatu imaji karya yang baru dengan menyisipkan "bumbu" milik penulis lain.

Barangkali, kalau ada yang tidak berkenan dengan hal seperti ini adalah pembaca yang baru mengenal karya-karya Agus Noor dan bukan pembaca karya SGA. Sehingga memungkinkan adanya missing link dalam pemaknaan konteks cerita yang diadaptasi Agus Noor dari SGA.

Sebagai pembaca SGA, saya tentu hanya bisa "nyengir" melihat hal seperti ini. Agus Noor telah membantu saya untuk recurrent cerita-cerita SGA yang telah saya baca. Saya menganggap bahwa Agus Noor telah mampu membawa suatu pemaknaan baru terhadap karyanya sendiri walau dengan menyertakan potongan cerita-cerita dari SGA. Utamanya dengan bumbu cerita khas metropolitan: cinta dan perselingkuhan, yang lebih kuat.

Tentu ini sangat baik sebagai tanda hidupnya imajinasi dari seorang penulis yang berujung pada munculnya karya baru yang lebih segar dengan pencitraan imaji yang semakin kreatif dan imajinatif.

Judul: Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia
Penulis: Agus Noor
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun: 2010
Tebal: 166 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen

 
Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 5 Desember 2011

Rabu, 30 November 2011

Catatan Mahasiswa Gila: Bacaan Wajib Menuju Indonesia Cerdas 2020

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Membaca catatan mahasiswa seganteng Adhitya Mulya rasanya Seperti membaca kembali buku Kejar Jakarta (2005) dan Travelers Tale (2007). Nuansa komedi dramatis mulai terasa dari cover buku yang cukup konyol. Sepertinya mudah saja untuk menebak isi buku ini. Namun, jangan salah. Don't judge a book by its cover sangat berlaku untuk Catatan bapaknya Aldebaran dan Arzachel ini.


Diambil dari catatan blog dalam rentang waktu 2002-2005 yang sebagian masih bisa dibaca kembali di situs aslinya, www.suamigila.com. Walaupun terkesan ringan tetapi buku yang habis dibaca sekali duduk ini menyimpan banyak hikmah. Belum lagi, semua tulisan didalamnya dibuat berseri dengan judul Seri Penelitian Ilmiah dari seorang Profesor yang nampak tidak bersahabat dengan nasib.

Yang mengesankan adalah fakta bahwa mahasiswa ganteng (baca: gila) ini mampu menghadirkan suasana santai penuh kelucuan sambil memberi kita banyak pelajaran. Misalnya, pada saat akan membuat tiang pancang untuk domba kurban. Sungguh suatu pelajaran hidup yang sepele namun kadang terlupakan.

Simak cerita tentang pertemuan si ganteng dengan kawan lamanya, Hendar. Apakah pembaca setuju bila si ganteng ini berhasil membantu Hendar maka akan menambah kegantengannya? Belum lagi kisah dengan Wiwin, Titin, Mimin, Dimsen, cerita PKL di Batam dan masih banyak kejanggalan semasa kuliah yang berkorelasi dengan menurunnya IP (indeks prestasi).

Favorit saya adalah catatan yang berjudul "Life Happens". Saya sempat membacanya di suamigila.com. Bahkan sampai mengulang beberapa kali. Kalau boleh, dari sekian catatan, saya nobatkan tulisan ini sebagai tulisan paling bermakna untuk saya.

Momen favorit lainnya adalah ketika pemeran Jusuf di Travelers Tale ini bertualang seharian hanya untuk mencari Majalah Pria terbitan Maret 1999 dengan Nyla Bernadette sebagai covernya. Untung saja, Adithya* masih waras untuk tidak meniru gaya Nyla dalam bukunya ini. Salut untuk Dimsen yang rela meninggalkan kelas kuliah demi menemani sahabat gilanya ini.

Masa kuliah adalah masa pengukuhan jati diri. Masa dimana hidup akan ditentukan. Saya rasa, tidak ada salahnya untuk tidak terlalu serius dalam menggarap kuliah. Toh, mahasiswa semacam Aditya* dan Dimsen mampu melakukan reverse engineering untuk meyakinkan dosen pembimbing mereka bahwa mereka layak mendapatkan nilai A tanpa presentasi. Ada momen-momen tertentu yang mengharuskan kita untuk fokus. Namun, ada kalanya hidup tidak melulu serius. Toh, mereka juga akhirnya bisa lulus.

Memasuki akhir buku ini, penulis mengajarkan kita bahwa kuliah itu tidak hanya untuk sekedar kuliah. Ada sesuatu yang harus kita pelajari ditempat lain dengan cara yang lain pula. Ada pergeseran dari nuansa komedi ke nuansa yang lebih kontemplatif. Life is so fantastic. Fortunes available anywhere and it's inevitable.

Judul: Catatan Mahasiswa Gila
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Mahaka Publishing
Tahun: 2011
Tebal: x + 181 hal.
Genre: Memoar

 
 Paninggilan, 29 November 2011.

* Sengaja disalah-salahin, pengen tau kenapa? Baca aja bukunya. Tapi harus beli lho ya supaya bisa jadi Best Seller lagi.

Selasa, 29 November 2011

Surat Cinta buat Ninda

Saat bersamamu...
Sederhana dan indah tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata...
Perasaan yang ada...
Hilang lebur bersama...
Saat engkau menjelang bahagia... Dengannya...*)


Selamat pagi, siang, sore dan malam. Kapanpun engkau terima suratku ini, Ninda. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu. Sebelum waktu itu benar-benar datang dan kita akan segera berpisah jarak dan waktu. Mungkin nanti kau tidak akan mengenaliku lagi atau malah pura-pura tidak kenal. Seperti yang engkau tunjukkan saat ini. Setiap tatapan kita saling berpandangan. Aku tahu hari bahagiamu akan segera menjelang. Waktu kan segera menuai usia kita. Dan pula dalam hitungan hari engkau akan segera tidak berada disini lagi. Berkantor di ruangan pojok itu. Sebuah "ruang sakral" sebelum aku tahu engkau ada pemiliknya.

Engkau mungkin masih merasa terkejut kala tahu suratku ini benar-benar tertuju padamu. Suratku ini bukan lukisan luka di hati. Tak perlu kau hempas meski tak ingin kau sentuh. Entah, tiba-tiba saja aku ingin menulis surat untukmu. Kuterimakan kekalahanku untuk memenangi hatimu. Sebelum aku tahu engkau benar-benar tidak disini, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu. Bukan untuk meyakinkanmu seolah aku ini makhluk paling benar di kolong langit. Bukan juga karena aku meragukan keputusanmu. Hanya untuk mengingatkan saja.

Ninda, apakah calon suamimu itu mampu mengimami sholatmu? Apakah calon suamimu itu mampu mengeja ayat-ayat cinta dalam surat Al Fatihah? Apakah engkau akan menerima begitu saja ketika ia minta engkau membimbingnya membaca Al Fatihah sambil terbata? Apakah calon suamimu itu tahu makna Shirottal Mustaqqim didalamnya? Apakah engkau sudah siap dan sanggup untuk bersabar kala membangunkannya di subuh hari? Belum lagi ketika anak pertama kalian lahir kelak. Apakah calon suamimu itu sudah lebih dari mampu untuk mengumandangkan adzan ditelinganya?

Memang tidak ada larangan dalam Al Qur'an untuk menikahi seorang ekspatriat asal negerinya Hiroko. Selama calon suami yang kekasihmu itu mampu mengucap dua kalimat syahadat dan benar-benar bisa mengamalkannya. Aku hanya sekedar mengingatkan saja bahwa kadang kebahagiaan itu bisa datang dari mana saja. Bahkan dari hal-hal kecil sekalipun. Misalnya, saat suamimu itu mengimamimu dan kau mencium tangannya usai Attahiyat akhir dan engkau berdua mengucap doa penuh harap agar tidak menggantung di kaki langit sana. Betapa sederhananya hidup ini bila kita memang menginginkannya.


Aku tahu setiap pertemuan kita adalah luka. Luka yang hanya waktu saja yang mampu sembuhkan. Cepat atau lambat. Ingatlah oh Ninda, bahwa aku katakan ini bukan karena kebencianku setiap kau tak membalas senyumku. Bukan. Aku hanya ingin jadi temanmu saja, yang selalu mengingatkanmu pada hal-hal yang mungkin saja sempat tak terpikirkan olehmu.

Anggap aku ini termasuk dalam golongan kaum yang cemburu. Tapi aku tidak akan pernah rela bila harus melihatmu berjuang untuk sesuatu yang demikian. Walau aku tahu kau akan sanggup menghadapi seribu satu konsekuensi karenanya.

Ninda, aku pun tahu engkau mungkin tidak akan pernah menghiraukan suratku ini. Aku tahu engkau sudah muak dengan salam-salam yang sering kutitipkan. Aku tahu engkau selalu mengharapkan kenyataan bukan salam semata. Ninda, maafkanlah aku. Aku yang tak pernah bisa adil pada cinta kau dan dia. Padahal, ada kau dan dia itu pun bukan aku yang mau. Biar Tuhan saja yang menolongku. Membantuku untuk sedikit melupakanmu. Itu pun kalau Dia tidak keberatan.

Salam rindu penuh cinta,


diatas bis jemputan, 29 November 2011.


*) dari lirik lagu "Jatuh" dinyanyikan oleh She Band (formasi tahun 2000).

Selasa, 22 November 2011

Lagu untuk Cinta: The Power of Love

Selamat pagi Cinta,

Kalau ada inovasi yang paling menyenangkan dari dunia penerbangan nasional adalah in-flight entertainment. Satu hal yang menarik dari hal ini adalah mereka menyediakan musik untuk dimainkan via Jukebox. Sayangnya, semua album dalam sistem itu pre-loaded dan hanya menampilkan karya-karya terbaik atau yang sedang in saat ini.

Untungnya, selera maskapai penerbangan plat merah ini cukup lumayan. Ada beberapa kumpulan album terbaik dari Ella Fitzgerald hingga Rhoma Irama termasuk Celine Dion. Menghadirkan sejuta romansa apalagi di ketinggian 31.000 kaki tentu sangat berbeda dengan mendengarkan via radio di tengah malam buta. Betapa kesunyian dan kesepian begitu terasa kala menatap hamparan langit luas tak berbatas.

Saya sendiri cenderung lebih memilih versi The Power of Love dari Air Supply. Kenapa? Untuk alasan gender semata. Cause you're my lady, and i am your man. Tetapi, yang patut diperhatikan adalah karakter vokal dari Celine Dion. Walaupun dimainkan dalam tempo lambat lagu ini tetap mampu mengeksplorasi kekuatan vokal Celine Dion.

Putus cinta memang selalu tidak menyenangkan. Mengubur seribu harap sangatlah menyakitkan. The feeling that i can't go on, is let you someway. Entah kenapa Tuhan simpan lagu ini dalam playlist penyiar malam itu, Maret 2001. Hanya menambah kegalauan dan kerisauan pada jiwa meresah.

Peluk hangat dan cium mesra,
 

Biak Numfor, 19 November 2011

Minggu, 20 November 2011

Surat Cinta dari Biak

Aninda tercinta, kutulis surat ini dari Biak. Dari sebuah tempat dimana senja terlihat sangat mengagumkan di ufuk sebelah barat. Sebuah tempat yang sangat menakjubkan untuk merindukanmu. Pada gelak tawa dan senyum manis yang selalu melekat di pelangi rupamu. Serupa hamparan batu karang di pantai sebelah belakang kamar hotel yang kutempati. Bersyukurlah pada Tuhan yang telah mencipta semua keindahan ini.



Aninda, kehidupan disini sama saja seperti di Sungai Pinang. Aroma tanah semerbak sisa hujan semalam masih bisa kurasakan menembus lubang pintu. Anak-anak sekolah berduyun berjalan bersama. Semua berjalan biasa saja menjadi satu paduan harmonis kehidupan. Bagai debur ombak yang berkejaran menuju pantai.

Tidak ada petani yang berlari terburu-buru hanya untuk segera menggarap kebun mirip orang kantoran di Kuningan atau Sudirman itu. Yang selalu merasa "harus" terikat dengan rutinitas pekerjaan. Tidak. Disini tidak seperti di kotamu, Aninda. Betapa hidup bisa lebih menyenangkan jika kita memang menghendakinya.

Sejak kau yakinkan aku untuk pergi, aku masih tak yakin dengan apa yang akan kulakukan nanti. Aku tidak pernah tahu bahwa engkau pun sesungguhnya berat untuk melepasku. Aku hanya pergi untuk sementara saja. Tak pernah ku berpaling hanya untuk meninggalkanmu selamanya. Esok aku akan kembali. Meretas harapan saat lambaian tangan mulai terasa pilu di dada.

Aninda tersayang, sungguh pun demikian. Aku sangat berterimakasih untuk setiap butir air mata yang mengalir di pipimu. Entah kenapa aku tiba-tiba merinding. Aku sangat tak layak untuk kau tangisi. Ada yang lebih pantas untuk kau tangisi dan itu bukan kepergianku. Yakinlah, aku akan kembali padamu dan semua akan baik-baik saja. Bila indah yang ada, kan kubiarkan semua hanya untukmu.


Peluk hangat dan cium,


Biak, 19 November 2011

Selasa, 15 November 2011

Potret Bangsa dari Empat Musim Presiden

Agak telat rasanya bila harus membandingkan kumpulan kartun yang terbit di empat zaman presiden dan mewarnai harian Kontan ini dengan kartun lain sebut saja Benny & Mice misalkan. Namun, disadari atau tidak, kehadiran kartun semacam itu telah menjadi suatu penanda zaman atas berbagai macam peristiwa dan fenomena yang mewarnai kehidupan masyarakat (utamanya kelas bawah).

Karya lain dari Benny Rachmadi ini agaknya lebih banyak bercerita dalam konteks ekonomi kebangsaan. Maksudnya, keadaan ekonomi yang berimbas pada seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa. Berbagai fenomena yang diangkat adalah tema yang dekat dengan keseharian rakyat kecil.

Walaupun secara "ideologis", harian Kontan ditujukan untuk segmen menengah atas yang bisa saja tidak tersentuh oleh beberapa fenomena tersebut. Tema-tema seputar langkanya BBM, gas 3kg, melemahnya rupiah, aksi spekulan hingga isu impor bahan pokok pangan adalah isu-isu yang sangat dekat dengan keseharian kita. Isu-isu ekonomi yang diangkat merupakan cerminan keadaan sosial masyarakat di negeri ini selama kurun waktu 2000-2009.

Kartun yang habis dibaca sekali duduk ini tidak menampilkan visualisasi grafis melalui panel-panel mirip komik. Hanya cukup dengan satu panel per halaman kartun itu seakan sudah bercerita sendiri tentang masalah kehidupan yang diangkatnya. Sometimes, a whisper louder than The Offspring*.

Konon, bisa menertawakan diri sendiri adalah hal yang luar biasa. Benny Rachmadi mengajak kita untuk melakukannya sekaligus berkaca dan mentafakkuri bahwa permasalahan yang demikian itu tidaklah seharusnya terjadi di negeri yang (katanya) gemah ripah loh jinawi.

Judul: Dari Presiden ke Presiden: Karut Marut Ekonomi (Buku 2)
Penulis: Benny Rachmadi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2009
Tebal: x + 267 hal.
Genre: Kartun

Paninggilan, 15 November 2011.

* dari lirik lagu "Life is Free" dinyanyikan oleh Arkarna

Rabu, 09 November 2011

Suatu Malam di Sudut Kota

suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok busway
menatap hampa pada ruang kota

suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok Gramedia Melawai
membingkai makna senyum semata

di antara nada-nada galau
malam mengalun lembut





Sudirman-Melawai, 19 Oktober 2011.

Jumat, 28 Oktober 2011

Sunday Morning Call: Story of a Song

Barangkali, bila musik bisa jadi suatu terapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi satu terapi bagi saya. Semoga lekas sembuh.

*

Dekade lalu, sekitar tahun 2000, Oasis kembali meluncurkan album terbaru mereka saat itu: Standing in the Shoulder of a Giants dengan merilis single terbaru dari album tersebut yaitu Go Let It Out dan Sunday Morning Call. Waktu itu saya masih SMP dan memang sedang menggandrungi band-band beraliran alternative. Apalagi, teman sekelas banyak juga yang ngefans dengan band-band Britpop seperti Blur dan Oasis.

Ada beberapa momen yang entah secara sengaja atau tidak malah terasosiasikan dengan lagu Sunday Morning Call. Pertama kali nonton video klip Sunday Morning Call, saya sudah jatuh cinta dengan liriknya. Itu terjadi dalam masa peralihan sekitar tengah tahun 2001, ketika saya lulus SMP dan secara resmi dipanggil anak SMA!

Karena belum terbiasa dengan lingkungan pergaulan di SMA yang masih SMP-sentris, maksudnya hanya berteman dengan teman yang satu SMP, maka saya pun masih melakukan hal yang sama dengan sering main ke rumah seorang sahabat. Biar sekolah kami berbeda namun rumahnya dekat dengan sekolah saya sehingga setiap hari Jumat saya selalu mampir. Seperti biasa, sambil bermain komputer dan ngulik gitar saya selalu request lagu Sunday Morning Call, apalagi sahabat saya ini punya versi akustiknya. Hail The Gallagher's!

Selanjutnya, ada dua momen (seingat saya) yang soundtracknya adalah Sunday Morning Call. Pertama, pada hari dimana Masa Orientasi Siswa (MOS) berakhir. Entah kenapa kok saya jadi terngiang-ngiang lagu ini padahal waktu penutupan sempet naik panggung full band dengan memainkan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki setelah batal bawain lagu I Will Survive. Sembari berjalan pulang saya hanya memainkan lagu itu saja dalam kepala yang jengah ini. Saya merasa akan kehilangan suatu perasaan. Perasaan kagum yang entah apa namanya pada tutor kelompok kami. Do you feel what you're not supposed to feel?

Kedua, sekitar awal tahun 2002 dimana saya mengalami hari yang "sangat buruk" dengan Guru Matematika yang dengan suksesnya menempatkan angka 4 di kolom nilai Matematika. Mirip dengan nomor rumah saya. Setelah kejadian itu (kebetulan malam minggu) saya hanya bisa melamun galau menatap dinding kosong sambil bertanya-tanya: "Mengapa ini terjadi pada saya?". Saya datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan sesuatu. Then, i was realized that i'm coming for nothing! Lagu itu mengalun pelan. ...Slip your shoes on and then out you crawl.... into the day that couldn't give you more.

*
Oasis - Sunday Morning Call

Here's another sunday morning call
You hear yer head-a-banging on the door
Slip your shoes on and then out you crawl
Into the day that couldn't give you more
But what for?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you don't get it for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever work out right
But it's ok, it's all right

When you're lonely and you start to hear
The little voices in your head at night
You will only sniff away the tears
So you can dance until the morning light
But at what price?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you can't get all for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
And I'm not sure if it'll ever work out right
If it'll ever, ever, ever works out right
Cos it never, never, never works out right

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you won't get help for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever, ever, ever work out right
if it will ever, ever, ever work out right
will it ever, ever, ever work out right




Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 28 Oktober 2011.


* Oasis's lyric provided by LetsSingIt

Kamis, 27 Oktober 2011

Orang-orang Bloomington


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan 
Kumpulan cerpen ini banyak bercerita tentang mereka yang hidup keterasingan dan perasaan teralienasi dari lingkungan sekitarnya, sementara tokoh si aku menjadi tokoh yang sangat manusiawi. Kadang punya empati walau kebanyakan selalu bertingkah sebagai tokoh yang bermain melawan arus.

Detail adalah bagian penting dari suatu karya. Dalam kumpulan cerpen ini, pembaca tentu akan merasakan suatu pengalaman tentang detail cerita. Orang-orang Bloomington bisa saja dibuat sebagai kumpulan cerpen singkat. Namun, barangkali karena seorang maestro yang menulisnya maka pembaca tidak akan dibiarkan begitu saja. Pembaca harus mengalami dahulu detail baru akan memahami keseluruhan jalan cerita.

Saya tidak akan membahas cerpen-cerpen didalamnya satu persatu. Secara keseluruhan, semua cerpen terangkum dalam suatu dunia. Dunia yang dipenuhi prasangka dan diwarnai keterasingan dan perasaan teralienasi dari tokoh saya. Entah benar atau tidak, Budi Darma berhasil menggambarkan pengalaman-pengalaman itu ke dalam suatu cerita yang utuh dengan detail yang mengagumkan. Sehingga, karya monumental yang satu ini menjadi tonggak penting dalam sejarah percerpenan di Indonesia.


Medan Merdeka Barat, 27 Oktober 2011

Senin, 17 Oktober 2011

Living in Harmony

Awalnya saya cenderung skeptis ketika melihat buku terbaru karya Fariz RM berjudul Rekayasa Fiksi. Kalau tidak salah, buku itu diterbitkan untuk menandai kiprah Fariz RM di jagad permusikan Indonesia. Saya tidak menyangka bahwa seorang musisi sekelas Fariz RM mampu membuat tulisan yang kemudian dikumpulkan dalam satu bentuk buku.


Belakangan, skeptisitas saya itu semakin tidak beralasan. Kelak, saya semakin sadar bahwa buku ini adalah 'prelude' untuk Rekayasa Fiksi. Saya tahu itu ketika perlahan membaca halaman demi halaman dari buku pertama Fariz RM ini: Living in Harmony. Terbagi dalam tiga bab, berisi tentang pengalaman-pengalaman Fariz RM selama menggeluti dunia musik. Mulai dari jadi seorang center of attention hingga memainkan peran sebagai musisi belakang layar.

Fariz RM seorang musisi yang piawai memainkan berbagai instrumen ini pandai juga dalam mengutarakan hal-hal yang menjadi kegelisahan musisi seperti dirinya. Sejatinya demi eksistensi dan kontinuitas karya yang dihasilkan. Maka, jangan heran bila beliau pun sanggup memberi kritik untuk musisi pendatang baru yang kerap berkarya hanya demi setumpuk rupiah belaka. Hanya jadi one-hit-maker lalu jual Ring Back Tone, selesai urusan!

Buku ini menguak lebih dalam sisi kehidupan Fariz RM. Bisa dikatakan, jadi semacam memoar atau catatan pinggir ala Goenawan Muhammad. Hitam dan putih kehidupan  dunia yang digeluti Fariz RM (termasuk kasus kepemilikan narkoba) agaknya membuat beliau harus memberikan sesuatu untuk dunia musik Indonesia. Tidak melulu dengan karya dan konser spektakuler. Melainkan dengan pemikiran out-of-the-box agar kita mampu berkaca dan semakin mengasah pemahaman.

Tak salah kiranya bila musisi yang menciptakan lagu "Barcelona" ini sendirian mendapat predikat sebagai Maestro. Pengalaman demi pengalaman telah membawa Fariz RM menjadi sosok jenius dan kreatif dalam bermusik (baca: berkarya).

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Akhir-akhir ini, saat dan setelah membaca buku ini saya jadi doyan nonton/streaming konser musisi (dalam dan luar negeri). Sekedar iseng (entah karena  posesivisme) saya convert video hasil streaming menjadi mp3. Dari dalam negeri, saya tentu penasaran dengan aksi panggung Fariz RM sendiri. Kebetulan, di Java Jazz 2011 kemarin beliau membawakan medley lagu Sakura dan Barcelona.

Sungguh suatu penampilan dan totalitas yang sempurna. Tidak hanya dalam kata-kata yang beliau sendiri tulis dalam buku tetapi benar-benar dibuktikan lewat aksi panggung yang menawan lengkap dengan gubahan aransemen yang segar.

Dari luar negeri, saya simak penampilan Linkin Park, Limp Bizkit, Matchbox 20 (termasuk episode Storyteller VH1), Muse, Oasis, Radiohead, dan Alanis Morisette. Aksi panggung mereka memang sudah tidak diragukan lagi. Saya melihat penonton yang hadir dalam konser-konser mereka tidak hanya mampu larut dalam suasana fanatisme yang lazim. Mereka bahkan menjiwai setiap lirik lagu yang dibawakan artis pujaannya tersebut.

Ada beberapa hal yang menarik bahwa totalitas berkarya itu sangat nyata selain aksi panggung/performance. Berbekal pengalaman sebagai arranger, composer, produser, dan player yang terlibat dalam penciptaan 159 album. Begitu makna yang saya tangkap dari cerita-cerita beliau dalam buku. Bahwa kejujuran dan totalitas dalam berkarya tentu semakin menampakkan jatidiri, identitas, dan kualitas karya seorang musisi.

Sungguh semua itu harus jadi pelajaran bagi musisi muda Indonesia bila masih ingin dikenang sebagai musisi papan atas at least lima tahun ke depan. Bukan hanya sekedar jadi penggembira yang punya banyak album dan sering tampil di panggung off air yang berlabel acara TV tertentu saja.

Kondisi ini sangat faktual. Betapa banyak lagu-lagu lawas kemudian direcycle dan dinyanyikan kembali oleh penyanyi pendatang baru sebagai jalan pintas menuju popularitas. Maka benarlah kata Superman Is Dead: nyanyikan lagu orang lain dan kau akan terkenal!* 

Belajar dari Fariz RM, artinya kita dihadapkan pada problematika untuk tetap mempunyai jatidiri yang semakin terasah dengan ketekunan dalam berkarya tetapi lantas tetap selaras dengan norma-norma di sekitar kita. Sehingga, karya-karya yang dihasilkan akan tetap abadi dan masih akan tetap dinyanyikan orang. Bukan hanya sekedar dikenang dan jadi bagian sejarah semata.

Judul: Living in Harmony: Jatidiri, Ketekunan, dan Norma. Catatan Ringan Fariz RM.
Penulis: Fariz RM
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: 2009
Tebal: 312 hal.
Genre: Musik-Memoar


Medan Merdeka Barat-Paninggilan-Pharmindo, 2-17 Oktober 2011.

* dari penggalan lirik lagu Superman Is Dead, "Punk Hari Ini"

Senin, 10 Oktober 2011

Kematian Donny Osmond


Kehidupan remaja adalah kehidupan dengan wahana yang sangat luas dan dinamis. Selalu menjadi tema yang tidak ada habisnya. Dunia remaja adalah suatu dunia dimana jatidiri ditentukan. Pencarian identitas demi satu citra jatidiri menjadikan para remaja rela melakukan usaha apapun untuk mewujudkannya. Kadang demi alasan eksistensial.

Berbeda dengan karya lainnya, Kematian Donny Osmond agaknya ditujukan untuk pembaca remaja. Cerita yang disajikan pun berkisar tentang cita-cita dan sekelumit pergaulan anak-anak remaja dalam mencari jati diri dan makna eksistensial mereka di tengah lingkungannya.

Diangkat dari berbagai fenomena sosial yang menimpa kalangan remaja, mulai dari kisah percintaan, perjuangan, pergaulan, hingga tawuran yang kerap kali menimbulkan korban jiwa. Semua kisah ini menjadi semakin remaja karena diterbitkan kembali dari beberapa karya Seno di majalah/tabloid remaja. Tidak hanya itu saja, menarik untuk menemukan alasan dibalik adanya sisipan resep otak-otak dan efek dari film Basic Instinct terhadap anak remaja. Belum lagi kenapa bandana Gabriella Sabatini bisa menjadi sesuatu yang benar-benar membawa kehilangan bagi pemiliknya.

Bukan tanpa alasan bila kumpulan cerpen ini disajikan tidak melulu dengan teks. Asnar Zacky yang digandeng Seno untuk menggarap efek visual cari semua judul cerita mampu menangkap kesan imaji visual yang sengaja ingin dihadirkan oleh Seno sebagai penulis cerita. Dengan adanya sisipan efek visual berupa komik tersebut maka membuat suatu pengalaman tersendiri seperti membaca Graphic Novel. Kelak, Zacky pun berkolaborasi kembali dengan Seno untuk penerbitan komik Sukab Intel Melayu.


Judul : Kematian Donny Osmond
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2001
Tebal : 159 hal.
Genre : Komik-Remaja




Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 2-8 Oktober 2011.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Pamali (bukan suami Bu Mali)

 
  
Pamali. Suatu istilah untuk mengartikan pantangan adalah produk atau hasil dari kebudayaan asli yang sengaja ditinggalkan oleh leluhur kita. Pamali lahir dari suatu hasil pemikiran yang berkembang pada suatu zaman sebagai tindakan preventif (bersifat mencegah). Pamali bisa dianggap sebagai 'local wisdom' yang tumbuh dalam suatu lingkungan masyarakat. Pamali pada prinsipnya berusaha menyelaraskan nilai-nilai kehidupan sosial dalam interaksi sesama manusia. Dengan demikian, pamali di satu tempat akan berbeda dengan di tempat lainnya.

Namun, kemajuan zaman yang berimbas pada pola pikir masyarakat di abad modern ini cenderung mengganggap pamali ini sebagai hal yang sudah tidak relevan. Pamali sudah tidak dikaitkan lagi dengan logika umum sehingga masyarakat dengan pemikiran yang maju dan logis hanya menganggap pamali itu sebagai mitos atau Misteri anu atos-atos (misteri yang sudah-sudah)*.


Komik ini mengangkat beberapa pamali yang hidup dan umum dijumpai di Tanah Sunda. Temukan alasan-alasan tentang mengapa anak perawan tidak boleh makan dari cobek, tidak boleh membaca nisan di pemakaman, dan mengapa-mengapa lainnya. Dikemas dengan sketsa komik yang segar dengan tokoh berhidung enam dan tidak melulu menggunakan Manga Style membuat komik ini terasa berbeda dari komik-komik kebanyakan. Tentu saja, ini merupakan berita baik untuk perkembangan Komik Indonesia yang kini mulai menggeliat kembali dibawah penerbit-penerbit lokal dan independen.

Dalam menyikapi beberapa pamali dalam komik ini kita tidak selalu harus serius. Pamali yang dikemas dalam bentuk komik ini tentu menyuguhkan cara pandang lain dalam menyikapi nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Beberapa mungkin sudah tidak relevan dan tidak logis. Tapi, bukankah pamali itu juga merupakan warisan nenek moyang kita yang mengandung pesan dan makna tertentu. Sudah tentu, pembaca dihadapkan pada situasi untuk memilah-milah dan mengambil nilai positif dari pamali tersebut.


Judul : Pamali: Segerombolan Komik tentang Mitos dan Pantangan
Penulis : Norvan Pecandupagi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2009
Tebal : 120 hal.
Genre : Komik-Budaya



Paninggilan, 8 Oktober 2011

* Menirukan istilah seorang sahabat

Selasa, 04 Oktober 2011

Playlist Cinta

Barangkali aku sedang jenuh, maka akan kucoba untuk menulis surat pada Aninda. Sudah lama, aku tidak mengirim kabar padanya. Entah, seperti apa rupanya saat ini aku tidak tahu. Apakah dia akan membaca suratku? Aku juga tidak pernah tahu.

*

Dear Aninda,

Sudah lama rasanya aku tidak menjumpaimu lewat tulisan. Ya, tulisan yang hanya sekedar tulisan pelipur lara saat jauh darimu. Ah, aku jadi malu. Aku tidak pernah setidakpercayadiri seperti ini untuk menulis sepatah-duapatah kata untukmu. Aku malu kalau ingat bahwa inilah tulisan pertama sejak engkau memutuskan untuk tidak hidup bersamaku di kota yang memang telah penuh sesak dengan manusia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana engkau bisa menjalani ritme kehidupan di kota ini yang memang terlanjur serba cepat. Bahkan hampir meninggalkanku dengan segala dinamika artifisial. Aku tetap hormati keputusanmu karena ibaratnya jarak, waktu, dan ruang hanyalah relativitas ilusi belaka. Engkau tentu masih ingat pelajaran Ibu Guru kan?

Apalagi yang harus aku ceritakan? Tentang hidup? Tentu kau sudah bosan mendengar cerita kehidupan. Kau tentu tahu aku sendiri masih tidak yakin bahwa yang kujalani sekarang ini adalah sesuatu yang dinamakan hidup. Terserah mereka mau re-shuffle kabinet, menggembosi KPK, atau mau bubarkan DPR sekalian, aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin semua itu menambah beban hidup kita yang memang semakin hari semakin bertambah. Sayangnya, malah tidak jadi lebih baik.
 
Anindaku sayang,

Bagaimana keadaanmu disana? Sudah tentu masih kau rasakan wangi tanah sisa hujan semalam. Musim penghujan mulai tiba, nyaris tanpa pesan. Apakah masih dia bawakan kenangan kita yang telah lama hilang? Barangkali, aku perlu tanya sendiri nanti kalau aku pulang ke kotamu. Aku selalu ingat betapa hujan selalu membawa lagu-lagu itu. Seakan jadi penanda atas jalinan hati kita. Mengalun pelan, membelai rambutmu, menapaki seluruh buluh rinduku.

Aninda, engkau tentu masih meneruskan kebiasaanmu mendengarkan radio kan? Engkau tentu masih setia untuk menunggu penyiar pujaan mulai mengudara dengan lembut suaranya. Engkau pun tentu masih setia menunggu barangkali saja aku mengirim salam lewat sebuah lagu padamu. Baru saja kubuat sebuah playlist berisi 10 lagu tentang kita. Sepuluh lagu yang selalu jadi penanda masa yang telah kita lewati bersama. Sepuluh lagu yang kususun dengan detak jantungmu yang menyatu dalam aliran darahku. Sepuluh lagu tentang kisah problematika dua manusia yang terentang jarak, ruang, dan waktu. Niscaya, engkau memintaku untuk bercerita kembali tentang kisah kita dalam lagu-lagu itu, aku tentu selalu sanggup memenuhinya. Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali memori. Memori dalam melodi.

 

Aninda tercinta,

Semuanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba setelah daftar lagu itu selesai, aku merasa harus menulis sesuatu padamu. Pernahkah kau merasa rindu datang tiba-tiba? Saat lagu itu mengalun pelan. 

Back to you... I'm coming back to you *

Begitulah kira-kira Aninda. Aku akan selalu kembali padamu. Menempuh jarak rindu yang hanya sehempas sinar matahari senja. Menelusuri lubang waktu menuju keabadian kasihmu. Menambat harap pada ruang hatimu. Senja sudah lama berlalu. Malam masih terlalu pagi, masihkah kutemui bayangmu?

Peluk dan cium hangat,


Faithfully yours



Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 4 Oktober 2011.


* dari lirik lagu "Back to You" dinyanyikan oleh Bobby Caldwell.




Jumat, 30 September 2011

Potret Bangsa 1967-2007



40 Tahun Oom Pasikom: 
Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007  


Membaca kembali berbagai catatan peristiwa tentang sejarah bangsa rupanya sudah biasa. Sejarah yang tertuang dalam bentuk teks hanya menghasilkan generasi yang mulai melupakan akar sejarah bangsa sendiri. Namun, bagaimana bila episode yang terlewati itu dituangkan dan diekspresikan melalui bentuk gambar kartun yang biasa kita baca sehari-hari di media cetak? Rasanya tentu akan lebih mengena dan kontekstual serta memudahkan pembaca yang awam akan suatu peristiwa tertentu.

Walaupun tidak semua peristiwa dapat disajikan setidaknya ada beberapa peristiwa dan polemik tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang dirangkum menjadi sebuah komposisi mengagumkan. Kumpulan gambar yang banyak berbicara dari sudut pandang kaum marjinal (baca: rakyat biasa) menjadi suatu "corong" kritik pada masanya.

Rasanya kita semua perlu tahu bahwa pada tahun 70-an Indonesia melalui Pemerintahnya sudah mulai sadar akan adanya praktek korupsi dari aparat negara yang berkolusi dengan pengusaha. Terbukti dengan dibentuknya TPK (Tim Pemberantas Korupsi. Mungkin entitas inilah yang mengilhami lahirnya KPK. Selain itu, sejalan dengan timeline dimunculkan pula rentetan peristiwa-peristiwa lainnya yang mengiringi Repelita, Pelita, Runtuhnya Orde Baru, hingga Orde Pasca-Reformasi (2007).

Banyak kejadian dan peristiwa lain yang terjadi sepanjang kurun waktu 40 tahun tersebut. Kehadiran buku ini tentu jadi penanda zaman. Sebagai dokumentasi perjalanan sejarah bangsa dimana kita diwajibkan untuk mengambil nilai-nilai positif darinya. Buku ini seakan menjadi kaleidoskop yang merangkum itu semua dengan cara yang tentu saja sangat menghibur.

Judul : 40 Tahun Oom Pasikom: Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007
Penulis : GM Sudharta
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2007
Tebal : 296 hal.
Genre : Kartun


Paninggilan, 30 September 2011.


Sabtu, 24 September 2011

Proven Signs She's Interested

Top 10: Proven Signs She's Interested.


 People's first impressions of one another depend heavily on non-verbal information. With regard to our communication, 55% is non-verbal, 38% is based on speaking signals and only 7% has anything to do with what you actually say, according to the Social Issues Research Center. It stands to reason, then, that if you want to know whether or not a woman is interested in you, you should zero in on her non-verbal signals. Here we highlight 10 proven ways that women consciously and unconsciously let you know that they're into you. Learn them, and your dating life will never be the same again.

No.10 Touching or flicking hair

For more than 40 years, researchers have been cataloging the non-verbal behaviors women use to let men know they're interested (and vice versa). One important category of flirting is referred to as kinetic gestures, and it includes the oldest trick in the book: hair tossing. But while a casual, seductive toss or brief stroke of the hair can be her way of letting you know that she enjoys your company, continually toying with her tresses may suggest she's nervous or uncertain about you.

No.9 Lip licking

Another kinetic gesture that women often unconsciously engage in in order to show their interest is licking their lips. This behavior serves to draw your attention to her lips and indicate that a kiss could be in the cards. You should exercise caution in interpreting this behavior, however, to avoid committing an embarrassing social gaff. Occasional licking may mean she's into you, but frequent licking may simply indicate a bad habit. So before you swoop in for a smooch, take stock of whether the rest of her behavior matches up with her lips.

No.8 Teasing

When you were a kid, your number one way of showing a girl that you were smitten with her was likely by stuffing some sand in her mouth. Consider teasing to be the adult version of this behavior. Both men and women use teasing as a way to let another person know they're crushing on them. For women, teasing has also been a way of testing your intentions. So don't be too sensitive here -- she might just be trying to assess your true level of interest

No.7 She gets close

Merely being physically close to another person appears to increase how much we like them. Moreover, in opposite sex pairings, physical proximity appears to augment attraction between two people. When a woman deliberately moves closer towards you, she may therefore be luring you into liking her more. Let her make this move first before you reciprocate, however, as a sudden invasion of personal space may be worrisome to her if you read her signals wrong.

No.6 She shares back

Once you've got the ball rolling in the conversation department, try taking things to the next level by sharing something about yourself with her. The less you know her, the more positive and less personal the information should be, or you risk scaring her off. A reciprocal response where she offers up a similar level of information about herself is a hint that she has a favorable view of you, since both women and men tend to disclose personal details to people they like. Also, though you might think it's superficial to bond over a mutual love of barbecue chips, sharing serves to increase the feeling of intimacy between two people, meaning she'll like you even more.

No.5 Friendly response to your chat-up

Forget all the pickup lines you've ever rehearsed. When it comes to gauging her interest in you, the wittiness of your remarks appears to be much less important than how she responds. A monosyllabic answer, particularly when delivered in a clipped tone, is her way of shutting you down. A smiling, friendly response, however, is a green light to follow up with further conversation. To minimize the amount of time at your next social event that you spend speaking to women who simply aren't interested, open with questions that can be responded to simply. That way, if she's not interested, she can exit the conversation quickly. And if she is, you'll know right away.

No.4 Open postures

Both men and women send important signals to others simply by changing the orientation and postures of their bodies. A woman who has her body turned away from yours, particularly if it's at a 90-degree angle, is non-verbally blocking your attempts at getting to know her. Crossing her arms and leaning away from you are two other stances that indicate that a conversation will be a non-starter. Poses that suggest she's receptive to further communication with you are much more open. For example, she'll turn her body to face yours, her arms will be uncrossed and she'll lean in toward you.

No.3 Mirroring gestures

There's a reason they say imitation is the most sincere form of flattery. It turns out that when a woman digs you, or wants to sell you a new suit, she'll copy your moves. For example, she'll touch her face, reach for her glass or adjust her body a few seconds after you do. It's not just women, however, who can use this information to their advantage. When you mirror her gestures, she'll feel more at ease around you. She'll also get the impression that you two are alike, which will increase her opinion of you, given that humans tend to have warmer feelings toward people they believe to be like themselves. Just remember to avoid being obvious -- overt mimicking will leave her with the impression that you're making fun of her.

No.2 Head tilt and smile

Another flirty gesture that's been amply described and investigated by scientists interested in non-verbal behavior is what is referred to as head canting. Essentially, head canting is simply a fancy name for when a person tilts their head to one side. In women, when this tilt is accompanied by exposing the neck and a small smile, it sometimes means that you've caught her attention. Paired with eye play, this combination can be devastatingly attractive to men.

No.1 Eye play

Eye contact is a powerful mode of communication among humans, and repeated or prolonged eye contact usually serves two main purposes: to convey interest or hostility. When it comes to the former, ethologist  Irenaus Eibl-Eibesfeldt was the first to describe how women the world over from New York to New Delhi let their eyes do the talking. To figure out whether she wants to talk to you, watch out for a glance that catches your eye, breaks eye contact and then catches your eye again shortly afterward. If you notice that she looks at you once but doesn't look back, she's not interested. Also, don't worry that you have to catch this signal the first time it's made. Research has determined that women will continue to send it to you when you've piqued their curiosity, possibly because it takes men a while to process receiving it,  as well as harness the courage to strike up a conversation.

taken from here


Paninggilan, 24 September 2011.

Senin, 19 September 2011

Pelajaran Sejarah: 18 "Penjahat" Paling Dimusuhi dalam Sejarah Piala Dunia


Judul : Football Villains: Kisah Seru 18 "Penjahat" Paling Dimusuhi dalam Sejarah Piala Dunia
Penulis : Owen A. McBall
Penerbit : B-first
Tahun : 2010
Tebal : 202 hal.
Genre : Olahraga-Sepakbola

Sepakbola adalah suatu wahana kehidupan. Entah benar atau tidak, tetapi sepakbola telah menjelma menjadi satu entitas yang akan selalu hidup dalam benak dan sanubari penggemarnya. Adalah sepakbola juga yang menggambarkan berbagai realita kehidupan. Sejatinya adalah tentang betapa tipisnya sekat pemisah antara kemenangan-kekalahan, pahlawan-pecundang, kerja keras-keberuntungan dan beberapa hal menarik lainnya yang mampu disajikan oleh hidup ini.

Simak saja beberapa penjelasan tentang siapa yang mengusulkan adanya asisten wasit yang berlari kesana-kemari seperti setrika, atau siapa pula yang berinisiatif mengadakan hukuman dengan kartu merah dan kartu kuning. Tidak hanya itu, buku ini juga menyajikan cerita-cerita tentang tokoh sepakbola pada zamannya. Ditulis dengan memperhatikan timeline, maka pembaca tidak akan terlalu sulit untuk membayangkan lorong waktu dalam cerita beserta tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya.

Semua tokoh itu tampil dengan sensasinya masing-masing. Eropasentris Sir Stanley Rous, Maradona dengan ke"dewa"annya, glamorisme David Ginola, kebodohan David Beckham, kedipan maut Cristiano Ronaldo, tangan Thierry Henry yang bukan Tangan Tuhan, hingga anomali kesalahan terhadap Marco Materazzi. Temukan juga alasan lain selain Battle of Tiera del Fuego, tentang mengapa pertandingan Inggris VS Argentina selalu jadi "perang suci" bagi kedua tim.

Semua kisah mengajarkan pada kita bahwa sepakbola pun tak ubahnya seperti hidup yang biasa kita jalani. Semua ingin menuju puncak kejayaannya, entah bagaimana caranya, yang pasti kita semua selalu ingin jadi pemenang. Walau kadang, (seperti sudah ditulis diatas) batas antara pemenang dan pecundang, sangatlah tipis.


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 September 2011.

Jumat, 16 September 2011

Trilogi Insiden: Perjuangan Melawan Lupa


Judul : Trilogi Insiden
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2010
Tebal : 454 hal.
Genre : Sastra-Kumpulan Cerpen

Membaca kembali kumpulan cerpen Seno tentang Insiden Timor Timur memang menghadirkan kembali segala kenangan pahit dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Disukai atau tidak, karya Seno ini setidaknya telah dianggap sebagai suatu realita, fakta, dan kenyataan atas kejadian yang benar-benar terjadi. Padahal, semua tulisan Seno itu tersaji dalam bentuk cerpen (baca kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius) dan Novel (Jazz, Parfum, dan Insiden) yang jelas-jelas adalah fiksi rekaan.

Bukan hanya sekali ini saja, karya Seno lainnya-kumpulan cerpen Penembak Misterius- juga mengalami hal yang sama terkait dengan Peristiwa Petrus sepanjang medio 80-an. Masalahnya, sejauh mana batas antara fiksi dan non-fiksi bila keduanya saling mempengaruhi? Agaknya, hal ini merupakan isu utama yang diangkat Seno untuk kebutuhan saling mengingatkan.

Trilogi Insiden terdiri atas 3 karya Seno yang pernah diterbitkan sebelumnya. Kumpulan cerpen Saksi Mata menjadi pembuka atas keseluruhan cerita. Beruntung, kumpulan cerpen ini kembali mengalami cetak ulang untuk memenuhi kebutuhan pembaca yang (mungkin saja) hanya sempat membaca “Jazz, Parfum, dan Insiden” dan atau “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”.

Kumpulan cerpen Saksi Mata, rasanya pantas bila disebut sebagai reaksi penulis atas tidak lengkapnya pemberitaan media mengenai hal-hal yang terjadi sepanjang konflik Timor-Timur. Seno berhasil mendeskripsikan bagaimana teror terjadi di seluruh pelosok Timor. Entah melalui telinga seorang pemberontak yang dikirimkan pada kekasihnya (baca cerpen Telinga) atau kepala yang tertancap di pagar rumah (baca cerpen Kepala di Pagar Rumah Da Silva).


Jazz, Parfum, dan Insiden sejatinya adalah sebuah novel namun Seno menginginkannya menjadi sebuah roman metropolitan (tercatat di halaman pembuka) yang bercerita tentang seorang wartawan yang mengikuti terus perkembangan berita dari insiden Timor. Mungkin, karena penulisnya tidak ingin novel ini menjadi monoton dan mencekam dengan segala pemberitaan media tentang insiden itu maka untuk mengaburkannya Seno sengaja menambah bumbu-bumbu lain dalam karya yang satu ini: Jazz, Perempuan, dan Parfum.

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara adalah catatan kepenulisan Seno tentang dua karya sebelumnya yang menyangkut Insiden Dili: “Saksi Mata” dan “Jazz, Parfum, dan Insiden”. Disini Seno menjelaskan bagaimana reaksi media yang tiarap begitu saja ketika diancam oleh kepentingan tertentu dan juga bagaimana reaksi Seno ketika menghadapi pembungkaman dari institusi tempatnya bekerja. Catatan lain yang menarik adalah satu tulisan berjudul “Penulis di Tengah Masyarakat yang Tidak Membaca” yang merupakan pidato Seno dalam Pemberian Anugerah SEA Writing Award di Thailand.

Trilogi Insiden secara keseluruhan menampilkan permainan fiksi dan fakta sangat kental sehingga sulit sekali untuk membedakan keduanya. Boleh dibilang, Seno memadukan keduanya menjadi sesuatu hal yang bias dimana fiksi bisa dianggap sebagai fakta maupun sebaliknya. Sejumlah konflik dan pertentangan dalam cerita-cerita yang disajikan semain menambah kesulitan bagi mereka yang terbiasa hidup di dalam dunia yang hitam putih.


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Untuk saya pribadi, dua bagian dalam Trilogi Insiden yaitu “Jazz, Parfum, dan Insiden” dan “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” sudah saya nikmati sebelumnya. Terlebih ketika saya menemukan edisi berbahasa Inggris dari “Jazz, Parfum, dan Insiden” terbitan Lontar Foundation. Namun, tetap terasa kurang lengkap karena banyak catatan dalam “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” berbicara dan merujuk pada cerita-cerita didalam Saksi Mata. Maka, dengan alasan melengkapi referensi dan juga untuk bisa mengalami sendiri kesan dari Saksi Mata maka tidak salah bila akhirnya Trilogi Insiden berjajar dengan saudara tuanya di rak buku.

Yang menarik dari Saksi Mata sepanjang pengamatan saya adalah rentang waktu penerbitan cerpen-cerpen yang berdekatan sehingga seakan-akan membentuk suatu sekuen. Mungkin saja, Seno merasa harus segera mengutarakan isi kepalanya agar fakta-fakta tentang insiden tersebut tidak hilang begitu saja dan segera direkam sejarah.

Kesan yang saya tangkap dari Saksi Mata, sebagai entitas pembuka dalam Trilogi Insiden ini sangat kuat. Bahwa fiksi pun bisa mewakili suatu yang dianggap fakta dan malah kadang dianggap sebagai kebenaran sebagai sesuatu yang pernah terjadi dan benar-benar berlangsung. Berbeda dengan “Jazz, Parfum, dan Insiden” yang dikemas begitu apik sebagai novel dengan bumbu-bumbu khas metropolitan: Perempuan dan parfumnya, maupun “Ketika Jurnalisme Dibungkan, Sastra Harus Bicara” yang penuh dengan catatan pribadi penulis tentang proses kreatif hingga proses ‘pembungkaman’ yang dilakukan oleh pemangku kepentingan tertentu.

Ya, kadang kita tidak perlu berjuang hingga berdarah-darah untuk menyuarakan kebenaran. Melalui Trilogi Insiden, kiranya tidak berlebihan bila karya Seno ini adalah sebagai catatan sejarah dan bukti perjuangan. Catatan sejarah karena Trilogi Insiden menyuguhkan suatu rentetan peristiwa pada waktu tertentu dan menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sungguh pun demikian, Trilogi Insiden juga layak disebut sebagai catatan perjuangan pribadi Seno pada khususnya untuk mengingatkan kita semua terhadap sesuatu. Perjuangan melawan lupa.


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 16 September 2011.

Selasa, 06 September 2011

Laki-laki Lain Dalam Secarik Surat

Buku yang pernah diterbitkan dengan judul Kritikus Adinan ini merupakan perwujudan dari obsesi kepengarangan seorang Budi Darma. Melalui cerita-cerita terbaiknya dalam buku ini, Budi Darma seolah ingin mengajak kita menelusuri kisah-kisah tentang problematika manusia modern saat berinteraksi dengan dunia luar maupun dirinya sendiri.



Kesan maskulinitas menjadi dominan dan agaknya menjadi nilai tambah tersendiri. Lihat saja judul-judul dalam buku ini, entah memang disengaja seperti itu untuk menyesuaikan dengan judul buku atau memang karena cerita-cerita terbaik Budi Darma adalah yang seperti itu.

Melalui tokoh-tokohnya, Budi Darma menampilkan sosok manusia yang ganjil, keji, dan cenderung asosial. Namun, disisi lain, mereka bisa menjadi begitu naif, baik hati, dan jujur. Sebagai penulis fiksi, karya Budi Darma telah mencapai suatu tingkat pencapaian yang tinggi. Berbagai cerita dalam buku ini telah menggambarkannya. Terkadang ada penyelesaian di akhir cerita, walau tak sedikit juga yang meninggalkan tanya dan jawab di benak pembaca.

Tidak terlalu salah apabila buku ini dinamai cerita-cerita terbaik. Ciri khas tulisan Budi Darma yang mengalir lembut tetapi penuh kejutan seperti di novel Olenka ataupun kumpulan cerpen lainnya, Orang-orang Bloomington masih tetap terasa orisinil. Semua cerita yang terangkum apik membawa pembaca pada perenungan mendalam tentang manusia dan kemanusiaan.

Judul : Laki-laki Lain dalam Secarik Surat: Cerita-cerita Terbaik
Penulis : Budi Darma
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2008
Tebal : 268 hal.
Genre : Sastra- Kumpulan Cerpen


Medan Merdeka Barat, 6 September 2011

Senin, 05 September 2011

Komik Anak Sekolah Gokil - Bacaan Wajib Menuju Indonesia Cerdas 2015

Rutinitas keseharian dunia pendidikan memang selalu mengasyikkan untuk dijadikan bahan ejekan. Selalu ada saja yang bisa ditertawakan. Mulai dari kelakuan murid dan guru yang tidak pernah bisa akur hingga tindak-tanduk sesama murid yang punya keunikan masing-masing.


Lihat saja aktor utama dalam komik ini, Vannes & Aditas, duet maut geng iseng yang selalu ribut di sekolah. Mereka berdua selalu punya sejuta jurus ampuh buat mengakali Pak Kepsek dan Pak Noodle, Sang Guru Killer yang sangat menyebalkan. Nggak ketinggalan anggota geng lainnya. Si Kosong, yang didiagnosis berpenyakit selalu-dapat-nilai-nol. Si Bebop, gudang jerawat yang bermimpi punya pacar cantik kayak Miss Universe. Xena, si Cewek Kuda Nil--gebetan Anthony si Superkeren, tapi dia malah mupeng dan superngebet sama Vannes.

Komik karya komikus Malaysia ini mengadopsi bentuk komik strip empat panel dengan dua cerita pada satu muka halaman. Bentuk seperti ini mengingatkan kita pada komik strip Garfield yang tampil dengan tiga panel.

Walaupun komik ini diterbitkan pertama kali di Malaysia, tetapi tidak mengurangi esensi dari humor khas anak sekolah. Tidak terlalu berlebihan pula bila kita pada akhirnya bisa menyimpulkan bahwa selera humor orang Malaysia itu tidak jauh berbeda dengan kita orang Indonesia.

Judul : Komik Sekolah Anak Gokil
Penulis : Michael C. Keith
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun : 2010
Tebal : 116 hal.
Genre : Komik


Medan Merdeka Barat, 5 September 2011.

Kamis, 25 Agustus 2011

Beasiswa Erasmus Mundus: The Stories Behind

Mampu menyelesaikan sekolah hingga perguruan tinggi adalah salah satu dari sekian pencapaian yang luar biasa. Namun, bagaimana bila semua itu terjadi justru bukan di negeri sendiri. Eropa, benua yang selalu menebar kekaguman para penikmat sepakbola di seantero jagad. Benua yang pernah mengalami periode pasang surut dalam sejarah keilmuan. Disana pula masih terdapat peninggalan sisa-sisa kejayaan abad pertengahan.

Pendidikan adalah satu faktor utama dalam kehidupan masyarakat Eropa. Maka tak berlebihan bila beberapa negara mampu memberi peluang beasiswa untuk mahasiswa asing dengan jumlah yang cukup besar. Peluang untuk mendapatkan beasiswa di Eropa dapat diperoleh dengan menghubungi perwakilan negara tersebut. Selain itu, ada juga konsorsium dari beberapa negara anggota Uni-Eropa yang mengurusi masalah beasiswa ini yaitu Erasmus Mundus.

Erasmus Mundus diluncurkan pada tahun 2004 dengan cakupan yang lebih luas, termasuk mahasiswa dan akademisi di seluruh dunia. Tujuannya, agar mereka dapat berpartisipasi untuk menempuh studi dan melakukan kegiatan akademis di benua Eropa. Program ini merupakan salah satu kerjasama pendidikan yang digagas Uni Eropa untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di benua Eropa dan mempromosikannya ke berbagai negara di luar Eropa-termasuk Indonesia. Yang menarik dari program ini adalah setiap peserta berkesempatan untuk setidaknya merasakan perkuliahan di dua negara yang berbeda.

Melalui buku ini, pembaca tidak hanya disuguhkan pengalaman-pengalaman alumni Erasmus Mundus dalam menjalani masa-masa perkuliahan saja. Pembaca juga dapat menyimak cerita-cerita lainnya tentang bagaimana perjuangan mencari peluang-peluang beasiswa ke luar negeri, beradaptasi dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat di negara-negara Eropa merasakan pengalaman kuliner di Eropa, lalu tentang tercapainya keinginan seorang ‘wong ndeso’ untuk bertemu bule, perasaan cemburu untuk mendapat beasiswa, kemudian pengalaman menjelajah Eropa seperti Ferdinand Magellan, hingga menemukan filosofi kehidupan dalam segelas jus jeruk.

Semua itu terangkum menjadi satu dalam buku ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari suka-duka masa perkuliahan di Eropa. Cara-cara untuk beradaptasi dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat yang selalu berbeda di setiap negara. Buku ini sangat bermanfaat bagi mereka yang berniat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Buku ini akan mengajarkan beberapa hal penting yang akan membantu mewujudkan impian. Utamanya, impian besar hanya dapat diraih hanya dengan ketekunan dan semangat tidak pernah menyerah.


Judul : Beasiswa Erasmus Mundus: The Stories Behind
Penulis : Dina Mardiana (ed.)
Penerbit : Kurniesa Publishing
Tahun : 2011
Tebal : 193 hal.
Genre : Memoar, Pendidikan


Medan Merdeka Barat, 25 Agustus 2011.

Life as We Know It - not as we ever wanted...

Have you ever wondering to have a child without getting married?



Holly Berenson (Katherine Heigl) dan Eric Messer (Josh Duhamel) dipertemukan ketika sahabat mereka yang sudah menikah dan mempunyai seorang anak, Peter dan Allison merencanakan sebuah “blind date” untuk mereka. Tanpa disangka, Peter dan Allison mengalami sebuah kecelakaan. Inilah awal mimpi buruk bagi Holly dan Messer. Usai pemakaman, mereka harus menerima kenyataan bahwa Sophie dalam tanggungan mereka. Mereka tinggal berdua di rumah yang ditinggalkan mendiang dan berusaha menghormati keputusan mendiang. Sampai disini, Messer dan Holly harus menerima kenyataan (lagi) bahwa membesarkan anak itu bukanlah yang mudah. Kesibukan masing-masing membuat mereka harus berbagi jadwal asuh.

Berbagai cara harus mereka lakukan demi menjadi orangtua dadakan. Belajar memasang pampers, memandikan bayi, hingga menemukan dokter yang tepat. Masalah lain timbul ketika mereka ternyata saling menyukai walau pada awalnya saling membenci dan menyangkal. Terbukti ketika mereka memutuskan untuk kembali jadi diri mereka masing-masing walaupun tinggal satu atap dan punya titipan bayi kecil. Messer bisa kencan dengan gadis lain dan Holly pun kebalikannya-berkencan dengan Sam si Dokter Anak.

Benarkah mereka saling mencintai? Menjelang akhir cerita, Messer mendapatkan pekerjaan impiannya di Phoenix. Suatu dilema karena ia juga tak ingin melepaskan tanggungjawab kepada Sophie dan Holly. Holly merasa keputusan itu tidak fair bagi mereka. Mungkin karena Holly mulai jatuh hati pada sosok Messer. Dan seperti sudah bisa ditebak,cerita berakhir ketika mereka benar-benar saling mencintai dan merindukan kebersamaan yang sempat hilang. Mirip ending The Love of The Game yang dibintangi Kevin Costner.



Catatan Akhir Seorang Kritikus Dadakan

Memiliki anak tanpa harus melalui suatu ikatan pernikahan bisa jadi hal yang mudah atau malah sangat berat untuk dijalani. Terlepas dari perasaan sayang dan posesif terhadap si buah hati. Menikmati film ini sama juga dengan membayangkan hal seperti itu terjadi. Entah bagaimana, tiba-tiba sahabat kita menitipkan anaknya kepada kita hanya karena kita adalah sahabat dekatnya. Cukup beralasan. Mau tidak mau, sahabat bukanlah orang yang harus dikecewakan. Terpaksa atau tidak, kita akan menerimanya dan mulai menjalani peran baru itu. Masalahnya, apakah anda akan tetap menjalani semua itu sebagai diri anda sendiri atau orang lain? Itulah tema sederhana yang diangkat dalam film berdurasi 90 menit ini.

Agaknya, film ini terlihat sebagai drama keluarga namun tidak terlalu salah juga bisa digolongkan ke dalam genre komedi romantis. Beberapa scene memang menghadirkan gurauan-gurauan khas young-not-married people. Anyway, saya suka adegan ketika Messer menidurkan Sophie dengan alunan lagu Creep. Everybody loves Radiohead!

Menjalani kehidupan dengan peran ganda sebagai orang tua angkat dan juga sebagai pribadi yang utuh tentu menimbulkan banyak gesekan. Entah dengan siklus hidup pribadi maupun dengan rutinitas harian. Belum lagi dengan menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak menjalin hubungan dalam suatu ikatan pernikahan. Tetapi, rasanya pepatah tidak penah salah: alah bisa karena biasa. Cinta datang karena terbiasa. Perlahan tapi pasti, salah satu dari mereka akhirnya mengakui. I love that part, when Messer (finally) admit that he’s really loves Holly. Akhirnya, film ini menghadapkan kita pada situasi dimana kebersamaan dalam keluarga adalah suatu hal besar yang akan membuat seseorang merindukan yang lainnya. Lainnya, kita tetap bisa mencapai tujuan pribadi masing-masing tanpa harus menjadi orang lain.

Judul : Life as We Know It
Sutradara : Greg Berlanti
Tahun : 2010
Produksi : Warner Bros Pictures
Genre : Drama, Komedi Romantis
Pemain : Katherine Heigl, Josh Duhamel, Josh Lucas, Brooke Clagett


Medan Merdeka Barat, 25 Agustus 2011.

*Photo reproduced from here

Senin, 15 Agustus 2011

Receiver Lailatul Qadar

Yang sepenuhnya harus kita urus dalam ‘menyambut’ Lailatul Qadar adalah Receiver Spiritual kita sendiri untuk mungkin menerima Lailatul-Qadar. Kesiapan Diri kita. Kebersihan Jiwa kita. Kejernihan Ruh kita. Kepenuhan Iman kita. Totalitas iman dan kepasrahan kita. Itulah yang harus kita maksimalkan.

Kalau lampumu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api.

Kalau gelasmu retak, jangan mimpi menuangkan minuman.

Kalau mentalmu rapuh, jangan rindukan rasukan tenaga dalam.

Kalau kaca jiwamu masih kumuh oleh kotoran-kotoran dunia, jangan minta cahaya akan memancarkan dengan jernih atasmu.


Jadi, bertapalah dengan puasamu, bersunyilah dengan i’tikafmu, mengendaplah dengan lapar dan hausmu. Membeninglah dengan rukuk dan sujudmu. Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spiritualitas. Puasa menanggalkan barang-barang pemberat pundak, nafsu-nafsu pengotor hati, serta pemilikan-pemilikan penjerat kaki kesorgaanmu.


Emha Ainun Nadjib, 2 September 2010.

Dikutip dari Official Website Kenduri Cinta

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...