Senin, 31 Juli 2017

Surat untuk Aisyah

Anakku,

Catatan ini ditulis menjelang sebulan usiamu. Pada hari Senin, dua hari sebelum imunisasimu yang pertama. Kehadiranmu adalah pelengkap bagi kebahagiaan kami. Bapak dan Ibu sudah menantimu dan sangat bersyukur. 

Nak, karena perbedaan jarak antara Mas Aldebaran denganmu belum genap dua tahun maka satu-satunya jalan untuk kelahiranmu adalah melalui operasi sectio caesaria, sama seperti Mas Alde. 

Hari kelahiranmu adalah sebuah perdebatan. Antara jarak lahir normal dengan cuti sebelum lebaran. Begitulah yang Bapak tangkap dan akhirnya Bapak putuskan untuk membawa Ibu segera ke Bandung untuk mendapat second  opinion dari Dokter. 2 Juli adalah tanggal yang sudah ditentukan. Bisa lebih cepat, tidak boleh lebih lambat. Bahkan, tadinya tanggal lahirmu adalah 1 Syawal 1438 H.

Pada hari kelahiranmu, semua berjalan sangat lambat. Kota Bandung masih tidur menunggu esok. Bapak dan Ibu juga sangat berat untuk meninggalkan Mas Alde sendirian. Ibu sudah siap di ruang operasi ketika sang dokter baru saja tiba siang itu.

14.36 Waktu Indonesia bagian Bandung Utara, engkau dinyatakan secara resmi lahir menatap dunia, lepas dari rahim Ibu. Saat yang menegangkan ketika menunggumu hingga jam 4 sore dan belum ada kabar. Tak lama, engkau dibawa untuk dibersihkan.Berat badanmu 3,2 kg dengan panjang 48 cm.  Bapak dan Ibu kini punya seorang putri untuk menemani Mas Aldebaran.

Mengadzani dan megiqamahimu adalah saat yang Bapak tunggu. Hati Bapak bergetar melihat senyummu. Adzan kedua setelah Mas Aldebaran dua tahun lalu. Seperti Mas Aldebaran, engkau pun langsung menerima Vitamin K pertamamu. Oh ya, Bapak senang mendengar kabar bahwa engkau langsung mendapatkan ASI dari Ibu. Jarak waktu yang lama dari kelahiran hingga ke ruang pembersihan adalah karena engkau sedang menerima ASI lewat Inisiasi Menyusui Dini.

Sayangku,

Bapak senang karena bisa menungguimu sepanjang hari. Penat memang terasa, tapi itu selalu tergantikan dengan kiriman foto Mas Aldebaran yang main bersama Eyangnya dan juga oleh tangisanmu.

Ibu pulih agak lebih lambat dibanding sebelumnya. Bapak lihat betul kepayahan Ibu usai operasi. Bapak dan Ibu dibuat kembali sedih ketika engkau seharusnya sudah diizinkan pulang namun kadar bilirubinmu masih 13. Artinya, engkau harus menginap dua malam lagi. Itulah saat yang berat karena Ibu sudah ingin membawamu pulang-apapun yang terjadi. Namun, pada satu sisi, Bapak juga tidak sanggup membiarkanmu dalam keadaan gawat begitu.

Setelah melalui pergulatan selama berjam-jam, kami putuskan untuk meninggalkanmu di ruang perawatan. Sedih rasanya. Namun, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setidaknya, itulah ikhtiar kami untuk kesehatanmu. Walau kami sudah pernah mengalaminya bersama Mas Aldebaran tetap saja terasa berat.

Aisyah, manisku,

Pergulatan kembali Bapak rasakan saat akan memberimu nama. Mas Aldebaran harus menunggu sampai tujuh hari. Bapak tidak ingin engkau lebih lama darinya, tapi akhirnya pada hari ke-13 engkau baru diberi nama. Itupun harus segera karena sudah ditunggu oleh Tukang Aqiqah. Maka kami bersepakat menamaimu Aisyah Farhanah Aurora. 

Ada cerita lain tentang namamu, tadinya ingin Bapak tambahkan Achernar dan diakhiri oleh Alhakam. Achernar adalah nama bintang paling terang di konstelasi Eridani, atau Alpha Eri. Seperti Aldebaran yang juga Alpha Tauri. Bapak bukan Ahli Astronomi ataupun berkecimpung disitu hanya saja ide akan bintang paling bersinar di lautan jagat semesta tanpa batas selalu membuat Bapak kagum.

Aisyah, anakku. Jadilah selalu pribadi yang menyenangkan, taat pada Tuhan dan orang tua.


Bandung-Jakarta, 31 Juli 2017.

Jumat, 28 Juli 2017

RIP Chester Bennington

Captured from Linkin Park's Faint on Youtube
Kabar duka yang datang di Jumat (21/7) pagi sempat membuat bulu kuduk saya merinding. Saya merasa bahwa maut kian dekat, semakin dekat setelah kepergian Chester Bennington. Vokalis Linkin Park ini bukanlah teman satu sekolah saya. Namun, penampilan Chester selalu jadi trendsetter untuk anak muda di zaman saya sekolah. Rambut zigzag spiky menjadi ciri khas yang booming saat itu sejak kemunculan album pertama mereka 'Hybrid Theory'.

Berbeda dengan Mike Shinoda dan DJ Hahn yang memiliki beberapa side project, saya belum pernah mendengar kabar Chester Bennington membentuk satu project lain di luar Linkin Park. Pernah sekali saya menonton video live di Youtube dimana Chester sendirian memainkan keyboard membawakan 'Pushing Me Away'. Ternyata, itu adalah bagian dari konser Live in London.

Chester Bennington meninggal dunia setelah menggantung dirinya sendiri. Entah seolah ingin meninggalkan pesan, banyak beredar kabar tentang posting terakhirnya di media sosial adalah terkait dengan tindakan suicidal yang diambilnya. Mengingatkan saya pada kematian Kurt Cobain (I hate myself and I want to die) dan Chris Cornell.

Chester Bennington ternyata ditengarai memiliki masalah yang sama dengan sahabatnya, Chris Cornell yang lebih dulu meninggal dunia. Ketergantungan pada obat-obatan terlarang dan alkohol telah membuat mereka kembali ke masa lalunya, merasakan apa yang tertinggal, dan mencari jalan keluar dengan mengakhiri hidup.

The fate had finally found you, Chester.
I don't know whose voice you've heard.

Once you've said: "...give me reason to prove me wrong...*)"
I don't even know what makes you wrong.

Rest in peace, Chester. You will always be remembered.


Jurangmangu, 21 Juli 2017.

*) penggalan lirik 'New Divide' from OST Transformers 2

Saucy Crab and a Despacito

 
Sepengalaman saya berkunjung ke Balikpapan, baru kali ini saya makan di sebuah restoran kepiting khas setempat. Restoran Dandito namanya. Terletak di Jalan Marsma Iswahyudi, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Mahmud Sulaiman, Sepinggan, sekitar 2 KM ke arah kota. Kebetulan, kami tinggal di hotel yang berbatasan dengan tembok pembatas bandara. Sehingga, satu arah menuju kesana.

Well, saya bukan seorang penggemar seafood apalagi kepiting. Namun, saya semakin penasaran karena kini keipitng tidak hanya disajikan sebagai masakan seafood belaka. Kepiting kini memasuki era sejarah baru dengan adanya Bonting (Abon Kepiting) dan keripik kepiting. Saya juga tidak punya referensi kuliner yang cukup di Balikpapan jadi saya ikuti saja kemana angin berhembus. Kami berempat pun akhirnya sepakat kesana.

Suasana makan malam di restoran ini cukup meriah. Ada live band akustik membawakan lagu-lagu terkini, termasuk lagu 'Despacito' yang sangat mengganggu telinga saya. Tak lama, menu pesanan pun tiba. Kepiting Soka Asam Manis dan Kepiting Goreng Saus Lada Hitam.

Harga kepiting disini sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Kepitingnya besar dan kepiting gorengnya tidak amis dan empuk. Ada kesegaran didalamnya. Termasuk bumbu saus lada hitam dan saus asam manis yang disajikan. Sebagai pelengkap, kami menambah Cah Kangkung untuk menemani syahdunya Senin malam di Sepinggan. Lidah kami digoyang kenikmatan.

Keesokan harinya, saya jogging pagi lewat restoran itu lagi. Terlihat pemandangan karyawan yang sedang melakukan bongkar muat kepiting. Saya melihat sendiri bagaimana cara mereka menangani menu utama mereka yang paling kesohor. Setidaknya, ada alasan mengapa kita bersedia untuk memberi lebih demi sajian kepiting.

Saya merekomendasikan restoran ini untuk sebuah sajian kepiting yang mengesankan.Walaupun agak mahal, namun sebanding dengan kelezatannya.


Balikpapan-Tangerang Selatan,  24 Juli 2017.



Curtiss P-40B Tomahawk

 
Setelah Stuka yang legendaris, saya menambah koleksi pesawat tempur bersejarah lainnya keluaran Academy Model Aircraft. Model kit berskala 1/72 ini adalah replika dari Curtiss P-40B Tomahawk, pesawat tempur bermesin tunggal yang mulai bertugas pada tahun 1938. Pesawat tempur ini berlaga dalam sejumlah pertempuran di Perang Dunia II. 

P-40B Tomahawk adalah derivatif dari P-40A Warhawk. Saya menyukai versi Flying Tigers milik 1st American Volunteer Group. Saya juga tidak kecewa mendapati ukuran model kit yang memiliki panjang sekitar 16 cm dengan rentang sayap 17 cm. Saya sempat juga memiliki F16, MiG-23 Flogger, MiG-29 Fulcrum, F-16 Fighting Falcon, dan F-14 Tomcat dengan skala yang sama. Rasanya lebih puas dengan P-40B Tomahawk ini. Ukuran pesawat sebenarnya yang memang lebih kecil dibanding pesawat jet tempur modern membuat ukuran 1/72 masih memiliki besar yang tidak terlalu kecil.

Saya melakukan finishing dengan pengecatan badan pesawat menggunakan cat semprot warna silver dari merk P*lox (N*ppon Paint). Sementara, bagian kaca (windshield) saya beri spidol warna hitam untuk menandai pilar-pilarnya. Bagian roda saya beri warna silver juga dan warna spidol hitam pada ban. Ada dua opsi untuk merakit pesawat ini. Versi flying (unmounted landing gear) atau dengan landing gear. Saya memilih opsi kedua, karena Stuka tampak lebih nyata dengan terpasangnya landing gear.

Saya sengaja tidak memberi warna asli yang disarankan dalam kemasan model kit maupun gambar skuadron Hell's Angels (bisa dilihat di Wikipedia). Saya memberi warna silver untuk menandai bahwa pesawat ini adalah buatan Amerika Serikat. Seperti pesawat tempur lainnya saat Perang Dunia II yang berwarna perak.

Tidak ada masalah yang berarti dalam pemasangan decal. Rupanya, warna silver pilihan saya itu membuat daya rekat decal tidak maksimal pada ornamen bagian sayap. Saya perlu beberapa kali memasang kembali ornamen sayap itu. Tandanya harus segera dilakukan pengecatan finsihing dengan warna clear.

Overall, tingkat kesulitan pengerjaan pesawat ini adalah 2/5. Tidak terlalu banyak part yang detail dan harus terpasang pada pesawat. Pesawat ini dirakit pada tanggal 2 Juli 2017 untuk menandai kelahiran putri kedua saya. Jika pada kelahiran saya dan adik saya, Bapak membuatkan masing-masing CN235 dan N250, maka kiranya saya cukupkan tradisi itu.


Bandung, 8 Juli 2017.


Daging Asap 12 Jam

Saya tertarik untuk mendatangi Marty's Smokehouse sejak menyaksikan liputan mereka di sebuah saluran televisi. Dalam rubrik kuliner yang hanya tayang 5 menit itu, tidak terasa bahwa air liur mulai mengalir deras dan membuat saya penasaran untuk segera mencicipinya. Saya harus segera pulang ke Bandung. 


Keinginan itu baru terwujud awal bulan ini ketika saya dan istri benar-benar menyempatkan waktu untuk makan siang disana. Tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi restoran yang menyajikan menu daging yang telah diasapi selama 12 jam. Letaknya, tidak jauh dari Gedung Sate dan bersebelahan dengan sebuah hotel.

Saya awalnya berniat untuk memesan daging sapi asap, seperti apa yang ada dalam liputan lalu. Tetapi, saya menemukan pilihan lain yaitu Combo Platter yang berisikan Beef Brisket, Jerk Chicken, Cocktail Sausages dan Fries (kentang goreng). Disajikan dengan saus khas racikan mereka: Caramel Glaze, Peri Peri, dan Origin BBQ. IMHO, ini adalah pilihan terbaik untuk first comer. Anda akan punya pilihan untuk lebih menikmati daging sapi atau daging ayam. Satu menu ini masih cukup untuk 3 orang. 

Sensasi yang dihasilkan beef brisket memang luar biasa. A juicy taste filled our mouth. Kami menemukan sensasi yang berbeda ketika mencoba daging ayamnya. Crunchy! dan yang jelas: Enak! Ngeunah pisan, euy!

Saya suka ambien restoran yang buka jam 11.00 WIB dan tutup jam 23.00 WIB ini. Anda bisa memilih outdoor atau indoor. Ada berbagai macam menu pilihan lain untuk menemani santapan khas daging asap mereka. Pun dengan pilihan beverages yang beragam. Cocok untuk penyuka menu daging-dagingan. Harga menu-menu mereka tergolong middle-to-high, tetapi sebanding dengan pengalaman dan sensasi yang dirasakan.

Akhirul kalam, anda bisa makan apapun selama anda menyukainya, tetapi jangan lupa pesan Rasulullah Muhammad SAW: berhentilah sebelum kenyang. 


Bandung, 6 Juli 2017.

Bburago Ferrari F-14T

Ferrari is synonymous with success in Formula One 
- Christian Horner

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan memiliki sebuah diecast mobil Formula 1 dari tim Kuda Merah, Scuderia Ferrari. Tadinya saya berharap suatu hari nanti untuk memiliki sebuah miniatur dari McLaren Formula 1, bisa MP4-15 yang dinobatkan jadi Car of The Year tahun 2000 oleh majalah F1 Racing atau malah McLaren-Honda milik Ayrton Senna atau Alain Prost.

Well, kadang nasib tidak selalu berpihak pada waktu. Saya mendapatkan sebuah penawaran untuk miniatur diecast Ferrari F1 milik Kimi Raikkonen, eks driver McLaren Mercedes. Saya bukan seorang fans berat Ferrari. Tetapi, saya mengagumi cara mereka menangani kedua pembalapnya di lintasan balap sejak zaman duet Ross Brawn dan Jean Todt.

Mobil F-14T ini mengingatkan saya pada suatu masa dimana Formula 1 tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Adopsi teknologi dan batasan regulasi menyebabkan balapan jet darat akhir-akhir ini menjadi monoton. Sama ketika Michael Schumacher merajai Formula 1. 

Anyway, walaupun saya bukan seorang fans Ferrari (lagi-lagi) tapi saya menikmati hasil karya tim yang bermarkas di Maranello ini. Bburago sebagai brand yang telah bertahun-tahun menjadi official licensed partner tim kuda jingkrak berhasil membawa spirit kemenangan mereka. Balutan warna merah yang khas ditambah dengan detail yang mengagumkan membuat diecast berukuran 1:43 ini memiliki pesonanya tersendiri. 


Cipayung, 19 Juli 2017.

Jumat, 30 Juni 2017

Selamat Tinggal, Jupe

10 Juni 2017, Julia Perez meninggal dunia. Perempuan bernama asli Yulia Rachmawati itu menghembuskan nafas terakhirnya di RSCM. Penyakitnya telah membuat Jupe semakin lemah hingga akhirnya wafat.

Jupe sendiri sudah malang melintang di dunia hiburan tanah air untuk waktu yang cukup lama. Saya sendiri lebih mengenang Jupe ketika ia menjadi satu dari sekian pemain sinetron malam, 'Konak' alias Komedi Nakal, medio 2003 lalu. Segenap kontroversi kerap menghinggapinya.

Sang pemilik tembang 'Belah Duren' kini telah tiada. Namun, torehan rasa yang ia tinggalkan akan tetap diingat. Selamat jalan dan selamat tinggal, Jupe.


Cipayung, 12 Juni 2017.


Catatan Hikmah (5)

Puasa yang dilakukan dengan benar dan intensif dalam dimensi badaniah, spiritual, intelektual dan mental, menghasilkan kemenangan-kemenangan kepribadian. Idul Fitri disebut Hari Raya Kemenangan karena sesudah 30 hari berjuang, manusia menemukan kemenang­an atas dirinya sendiri. Melalui pendadaran ibadah puasa, manusia dibina untuk sanggup mempang­limai dirinya sendiri, sanggup melakukan pilihan-pilihan terbaik menurut pandangan Allah, baik dalam dalam soal-soal konsumsi hidup, karier, atau apa pun.


Bandung, 26 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Idul Fitri: Kemenangan Personal di 'Tengah Kekalahan Struktural'" dalam buku "Tuhan Pun 'Berpuasa'", Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Catatan Hikmah (4)

Kalau menjalani Idulfitri dan mudik ke Tuhan, satu-satunya jalan ya memakai cara pandang Tuhan. Materi, kekayaan, tumpukan modal, citra, hamparan uang, pangkat, jabatan dua periode, semua yang tampak mata, adalah mata uang yang tidak laku di dalam pola berpikir Idulfitri, yakni di hadapan Allah. Kita ini hidup di hadapan Allah: emang ada tempat selain itu untuk hidup?”.


Bandung, 25 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Mudik ke Rumah Fitri", dipublikasikan di www.caknun.com, diakses pada 25 Juni 2017.

Jumat, 09 Juni 2017

Catatan Hikmah (3)

Kita semua perlu belajar kepada Cak Nun bagaimana seharusnya memahami semua itu menurut al-Quran
Sumber gambar: caknun.com
Yang membedakan Islam dengan kebudayaan, Islam dengan industri, Islam dengan selera pribadi, Islam dengan kepentingan politik, Islam dengan segala macam acual nilai ciptaan manusia adalah akar dan sumber pertimbangan dari kemaslahatan dan kemudaratan itu. Bagi Islam, maslahat dan mudarat itu didasarkan pada nilai Allah. Pada yang lain, dasarnya adalah sumber-sumber kepentingan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan sunnatullah dan iradatullah.
Jakarta, 9 Juni 2017

Penggalan artikel “Matriks-Lima dan Asas Maslahat-Mudarat” dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Senin, 05 Juni 2017

Catatan Hikmah (2): Perlunya Ilmu Kematian

Kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. Perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar; dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Sumber gambar: caknun.com

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bias mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi –katakanlah-kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.


Jakarta, 5 Juni 2017.

Potongan dari artikel "Perlunya Ilmu Kematian” dalam buku, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Jumat, 02 Juni 2017

Catatan Hikmah (1)

Karena tanda orang kaya adalah ‘merasa cukup’ dan tanda miskin adalah ‘merasa belum cukup’? Maka puasa hadir ke dalam kepalamu tatkala pikiranmu bertanya:

“Benarkah aku perlu makan di restoran semahal itu?”
“Benarkah ada sesuatu yang prinsipil yang mengharuskanku membeli barang ini?”
“Benarkah ada padaku kewajaran nilai yang mewajibkanku merebut pemilikan saham-saham itu?”

Sumber gambar: caknun.com
Maka puasa merasuk ke dalam dadamu ketika mulutmu berbisik ke telinga nuranimu sendiri.

“Apakah memang aku harus mengambil political decision yang sedahsyat ini, yang dampaknya adalah kesensaraan sekian banyak rakyatku sendiri?”
“Apakah aku memang wajib mempertahankan kekuasaan ini demi sesuatu yang mendasar dan berorientasi kepada kepentingan mayoritas rakyatku?”
“Sampai kapan aku akan mendalangi semua itu dengan keyakinan bahwa ini semua adalah yang terbaik bagi masa depanku sendiri serta masa depan keluargaku sendiri?”
 

Jakarta, 2 Juni 2017.
 
Potongan dari artikel ‘Puasa dan “Tarikat Wajib” dalam Kebudayaan’ dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.


Rabu, 31 Mei 2017

Angry Birds The Movie

Anger is not always the answer! 
- Judge Peckinpah

Sumber gambar: www.imdb.com
Angry Birds, game populer di masa kejayaan smartphone ini menarik developernya untuk membuat film. Cara ini memang sudah biasa terlebih ketika game Angry Birds sudah dirilis dalam berbagai serial. Saya sendiri hanya memainkan Angry Birds dan Angry Birds Season saja. Barangkali, kalau bukan karena Aldebaran yang menyebut "...berds...berds..." setiap melihat tablet phone, saya belum akan mau menonton film ini.

Film ini adalah semacam penjelasan kenapa para flightless birds menjadi marah lalu bermusuhan dengan kaum babi. Juga, pengungkapan atas identitas Mighty Eagle dan riwayat asal usul Mighty Red.

Dari sisi cerita, film ini punya ide yang sederhana dengan pesan moral yang mudah dicerna untuk kalangan anak-anak. Bahwa berbuat baik kepada tamu yang datang jauh-jauh adalah baik. Tetapi, jangan sampai tidak menghiraukan pesan peringatan dari sesama kawan.

Anyway, animasi rekaan Rovio Studio ini dibuat semirip mungkin dengan karakter pada gamenya. Para karakter burung yang biasa kita lempar dari katapel pun tampil lebih hidup dan dinamis. Film animasi berdurasi 97 menit ini menghabiskan biaya produksi sekitar 73 juta dolar dan pada minggu pertama penayangannya meraup penghasilan kurang lebih 38 juta dolar.

Judul           : Angry Birds
Sutradara    : Clay Kaytis, Fergal Reilly
Pemain       : Jason Sudeikis, Josh Gad, Danny McBride
Produksi     : Rovio Mobile & Columbia Pictures
Tahun         : 2016
Genre         : Komedi Animasi

 
Jakarta, 30 Mei 2017.

Selasa, 30 Mei 2017

RIP Leo Kristi

Leo Kristi atau yang bernama asli Leo Imam Sukarno menghembuskan nafas terakhirnya di Bandung pada 21 Mei 2017 lalu. Beliau terkenal dengan karir musiknya sebagai seorang pengelana. Pernah bergabung bersama Gombloh dan Franky Sahilatua dalam grup bernama Lemon Tree’s. Leo Kristi dikenal karena ciri khas balada dari hampir seluruh karya ciptaannya.
 
Sama seperti Pak Haji Cahyono, saya juga tidak punya kesan apa-apa dengan beliau. Hanya saja sebuah video yang diunggah channel Caknun.com di Youtube mengingatkan saya pada kepergian seorang legenda musik tanah air.


Jakarta, 29 Mei 2017
 

RIP Cahyono

Sumber Gambar: selipan.com
Kabar duka kembali datang dari dunia lawak tanah air. Setelah kepergian Eko DJ, 25 Mei 2017 lalu pelawak senior dari grup lawak Jayakarta, Cahyono, menghembuskan nafas terakhirnya. Pelawak yang sepanjang karir lawaknya di Jayakarta ini tergabung bersama Jojon, Esther, dan Uuk. Cahyono lahir pada tanggal 26 Desember 1951 di Banyuwangi. Belakangan memang beliau sempat mengalami stroke dan diabetes.

Saya sendiri tidak punya memori yang khas tentang Pak Haji yang satu ini. Hanya saja, semasa SD dulu ada seorang senior yang kerap memanggil nama saya Cahyono. Katanya, saya memang mirip Cahyono. Hal itu berlangsung selama kurang lebih dua tahun sampai akhirnya senior itu lulus SD.

Selamat jalan, Pak Haji.

 
Jakarta, 26 Mei 2017

RIP Roger Moore

Sumber gambar: www.imdb.com
Dalam satu perjalanan menuju tempat kerja, terdengar satu kabar dari Roger Moore, mantan pemeran agen rahasia 007 yang meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 2017 kemarin. Sebagai tribute, radio itu memutarkan lagu soundtrack dari satu film yang pernah dibintanginya, A View To A Kill dari Duran Duran.

Roger Moore yang bernama lengkap Sir Roger George Moore lahir pada tanggal 14 Oktober 1927 di Stockwell, Inggris dan wafat dalam usia 89 tahun di Crans-Montana, Swiss dengan penyebab sakit kanker. Roger Moore menggantikan peran Sean Connery sebagai James Bond sejak tahun 1972. 

Film James Bond pertamanya adalah “Live and Let Die” yang rilis tahun 1973. Beberapa judul James Bond yang dimainkannya adalah “The Man with the Golden Gun”, “The Spy Who Loved Me”, “Moonraker”, “For Your Eyes Only”, “Octopussy”, dan “A View to a Kill”. Roger Moore juga sempat menjadi pembawa acara pada perayaan 25 tahun James Bond pada tahun 1987.

Now, The Man with The Golden Gun has gone and leave his legacy. Goodbye, Roger. Rest in peace.

 
Jakarta, 24 Mei 2017.

RIP Nicky Hayden

Sumber gambar: theguardian.com
Saya mengenal Nicky Hayden dari sebuah ulasan rubrik Otomotif. Nicky hayden digadang-gadang akan menjadi The Next Valentino Rossi setelah bergabung dengan tim MotoGP Repsol Honda dan diproyeksikan akan menggantikan Valentino Rossi yang pindah ke Yamaha.

Pembalap yang dikenal sebagai The Kentucky Kid ini berhasil menjadi juara dunia MotoGP pada tahun 2006. Saya ingat betul saat itu, Nicky Hayden tidak memenangkan banyak race namun ia cukup konsisten untuk finish di podium sehingga perolehan poinnya mampu mendongkrak namanya ke urutan teratas di kelas para raja.

Nicky Hayden yang menggunakan nomor 69 di motornya itu pindah ke Superbike sejak tahun 2016 lalu. Pembalap berusia 35 tahun itu tertabrak sebuah mobil pada saat sedang berlatih dan menggunakan sepeda. Ia menderita beberapa cedera di kepala dan dada. Pembalap bernama lengkap Nicholas Patrick Hayden ini menjalani perawatan medis sejak 17 Mei dan dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2017 di Italia.

You reached the chequered flag in finish line, Nicky. Rest in peace.

 
Jakarta, 24 Mei 2017.

RIP Chris Cornell

Sumber gambar: Audioslave VEVO on Youtube
Saya tidak menyangka bahwa kabar kepergian vokalis Soundgarden dan Audioslaves, Chris Cornell akan berakhir di tali gantungan. Chris Cornell ditemukan meninggal dunia di Detroit tidak lama setelah Soundgarden tampil disana. Kematiannya digambarkan sebagai “sudden and unexpected”.

Vokalis yang lahir pada tanggal 20 Juli 1964 ini jejaknya masih ditemukan aktif di media sosial sebelum dijemput malaikat maut. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia mengaku bahwa ia sudah menjadi pengguna narkotika sejak umur 13 tahun dan berhenti pada saat usianya 14 tahun. Setelah bubarnya Soundgarden pada tahun 1997, ia kembali menjadi pengguna narkotika. Ia mengakui sendiri telah menjadi pionir untuk penyalahgunaan zat oxycontin sehingga mengharuskannya memasuki rehabilitasi.

Agaknya, Chris Cornell telah menjadi ikon grunge bersama Eddie Vedder dari Pearl Jam dan Kurt Cobain dari Nirvana. Ketiganya bersama Layne Staley dari Alice in Chains telah mengangkat Seattle’s sound ke pentas nasional pada akhir 1980an.

Saya sendiri mulai mengenalnya ketika hits Audioslaves, “Like a Stone” meledak di pasaran. It was always nice to hear his typical voice. Selamat jalan, Chris Cornell. Somebody’s waiting you there, like a stone.


Jakarta, 19 Mei 2017.

Minggu, 30 April 2017

The Tide Turns: Pendaratan Bersejarah di Normandia

Sumber gambar: www.amazon.com
Pada 6 Juni 1944, Operasi Overlord dimulai. Sekutu mengerahkan sejuta prajurit untuk merebut Pantai Normandia, Perancis dari cengkeraman NAZI Jerman. Serbuan sekutu ini menjadi titik balik medan laga di Perang Eropa selama masa Perang Dunia II karena sesudahnya mengubah posisi NAZI Jerman yang semula gigih menyerang menjadi bertahan, sebelum akhirnya berangsur-angsur mundur dan kalah usai Battlle of The Bulge.

Invasi ke Normandia menandai dibukanya garis depan pertempuran yang kedua di Eropa. Serangan ini merupakan bencana terbesar bagi Hitler dan Angkatan Bersenjata Jerman. Selain bertujuan menghadirkan tentara sekutu di wilayah Eropa daratan, serangan ini juga memutus akses Jerman dengan pelabuhan-pelabuhan Atlantik di Perancis. Dengan begitu, pertempuran yang dilakukan oleh kapal selam Jerman, U-Boat juga dipastikan dapat berakhir.

Lepasnya Normandia juga berpengaruh besar bagi sistem peringatan dini Angkatan Udara Jerman, Luftwaffe. Hilangnya sistem radar berarti Jerman menjadi vulnerable terhadap serangan udara dari Sekutu. Hilangnya Luftwaffe di langit Eropa menandai kesuksesan pesawat pembom Sekutu untuk melakukan pemboman dan mendukung pergerakan pasukan.

Komik ini berusaha menghimpun semua yang berserakan dari invasi yang lebih dikenal dengan istilah 'D-Day'. Doug Murray berhasil menampilkan episode-episode penting kejatuhan NAZI Jerman dalam ruang bingkai yang terbatas. Tentu, tidak perlu ada pergulatan wacana mengenai sudut pandang yang digunakan sang komikus dalam karyanya ini. Sudah tentu, sang pemenang peranglah yang berhak menentukan sejarah atas pencatatan tragedi runtuhnya Third Reich.

Judul           : The Tide Turns: D-Day Invasion
Penulis        : Doug Murray
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun          : 2008
Tebal           : 48 hal.
Genre          : Sejarah-Komik
 

Cipayung, 30 April 2017.

Biografi Grafis Che Guevara

Sumber gambar: www.goodreads.com
Memang belum ada batasan mengenai biografi grafis dengan komik. Apakah komik boleh mewakili sebuah bentuk biografi yang diulas secara grafis atau sebaliknya, biografi grafis yang dibuat menjadi sebuah komik. Yang jelas, apapun penjelasannya, sebuah biografi grafis berisi komik ini dapat dengan mudah mengisahkan kepada pembaca biografi singkat tokoh revolusioner, Ernesto 'Che' Guevara.

Siapa yang tidak kenal Che Guevara. Seorang ikon dan figur dengan citra yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak kematiannya, Che telah menjadi legenda abadi. Ia terpampang dimana-mana: kaos, topi, pin, spanduk, kotak rokok, sampul kaset, dan lain-lain. Lelaki kelahiran Rosario, Argentina tanggal 14 Juni 1948 ini tersohor sebagai ikon revolusi.

Buku ini menyoroti perjalanan kehidupan Che Guevara yang kemudian membentuk karakternya. Mulai dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, kelak difilmkan dengan judul "The Motorcycle Diaries"; saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalanannya ke Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.

Sebagai sebuah karya terjemahan, buku ini menjadi mewah dengan esai penutup dari Sarah Seidman dan Paul Buhle, yang mengangkat tema "Che Guevara, Antara Gambar dan Realita". Dalam esai disebutkan bahwa Che Guevara telak menjadi ikon bagi sebuah perubahan atau revolusi. Ikonisasi Che seperti itu dengan cepat mewabah dan menjadi kodifikasi dalam pergulatan wacana sebuah organisasi. Che dieksploitasi menjadi asosiasi dari wacana revolusioner. Namanya kerap digunakan anasir tertentu untuk mengidentikan dirinya dengan sesuatu atau hal yang berbau revolusioner.

Adanya esai pada buku biografi semacam ini turut berkontribusi memberikan wawasan bagi kaum muda yang lahir pasca Revolusi Kuba. Esai ini turut memperkaya khazanah pengetahuan mengenai sosok seorang pejuang humanis yang ditangkap rezim penguasa Bolivia pada 8 Oktober 1967. Dengan begitu, Che tidak hanya akan hidup bersama pembaca melalui gambar komik, tetapi pembaca akan mendapat gambaran utuh tentang pengaruh Che yang lebih jauh pasca kematiannya.

Judul           : Che: Sebuah Biografi Grafis
Penulis        : Spain Rodriguez
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2008
Tebal           : 108 hal.
Genre          : Biografi-Komik
 

Cipayung, 28 April 2017.

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

Bagaimana caranya menertibkan imajinasi?
 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini mau tidak mau harus dianggap sebagai satu dari sekian masterpiece Seno Gumira Ajidarma. Bukan karena muatan isinya ataupun permainan antara fiksi dan fakta seperti di Trilogi Insiden. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah sebuah kumpulan cerita pendek ringan nan menghibur. Menurut catatan pembuka penulisnya, ia mendapatkan inspirasi dari judul sebuah komposisi musik berjudul 'Jangan Bertepuk dalam Toilet' karya Franki Raden dekade 80-an. 

"Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" diterbitkan kembali sebagai Edisi Kedua, artinya terdapat perubahan dan tambahan, yaitu sebuah prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Dalam buku ini, pembaca disuguhi dua cerita "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Pertama, prosa yang selesai tahun 2005. Kedua, cerita asli dari tahun 1990 pada penerbitan pertamanya. 

Ceritanya masih sama. Tentang Sophie yang senang bernyanyi di kamar mandi dan membuat geger sebuah perkampungan di Jakarta. Tentu saja tidak ada yang salah dengan Sophie ketika ia memutuskan untuk indekost di kampung itu. Namun, justru imajinasi pada Bapak-bapak penghuni kampung ditambah kekhawatiran tidak beralasan dari para istri mereka membuat cerita ini semakin asyik diikuti. Konteks kehidupan sehari-hari di gang yang kumuh dengan segenap problematika khas kaum pinggiran Jakarta jadi bumbu yang menarik sebagai pelengkap cerita.

Lebih jauh, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang keabsahan sebuah kebenaran. Suatu hal bisa dianggap sebagai kebenaran bila diakui oleh banyak orang. Artinya, sesuatu hal yang belum tentu benar bisa menjadi sebuah kebenaran tak terbantahkan hanya bila sudah jadi kehendak umum, bukan melalui hipotesis yang teruji.  Kebenaran para istri yang merasa suaminya semakin dingin setelah kedatangan Sophie yang sering menyanyi  di kamar mandi itu kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk 'pengusiran' Sophie. 

Realitas seperti inilah yang justru akhir-akhir ini sering kita alami. Betapa nasib kita seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Kalau menyanyi di kamar mandi saja yang notabene ruang privat kita sudah dilarang lalu bagaimana dengan hak-hak kita yang lain? Perlukah juga dibatasi oleh sebuah kehendak umum?

Cerpen lain yang dimuat dalam buku ini masih tergolong dalam cerita yang ringan dan kadang absurd. Tentang seorang kakek yang duduk di tepi sungai bersama cucunya, tentang Sukab yang dipipinya ada jejak bibir yang merah basah, cerita satir soal urusan hari seperti dimuat dalam 'Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh'. Absurditas Seno nampak dalam cerpen 'Kriiiiiiiinngngngng!', 'Lambada', Guru Sufi Lewat', dan 'Segi Tiga Emas' yang lebih terlihat sebagai cerita pewayangan. Cerpen yang justru agak realis adalah 'Duduk di Depan Jendela', 'Midnight Express', dan ' Seorang Wanita di Sebuah Loteng'.

Judul        : Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2006
Tebal        : 220 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen

 
Cipayung, 25 April 2017.

Jazz, Parfum, & Insiden: sebuah catatan

Barangkali ideologi memang belum mati. Namun kalau masih hidup pun sebaiknya ideologi dibunuh saja. Terlalu banyak omong kosong dalam perbincangan ideologis - yang kita perlukan adalah kebahagiaan yang konkret... - Hal. 170 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Barangkali, pembaca sudah maklum bahwa buku ini adalah bagian dari Trilogi Insiden. Barangkali juga pembaca sudah mafhum bahwa tidak ada hubungan antara Jazz, Parfum, dan Insiden. Barangkali saja. Namun, di tangan Seno Gumira Ajidarma, Jazz telah berubah bukan hanya menjadi sekedar aliran musik belaka. Jazz adalah sebuah romantisme bagi sebuah roman metropolitan.

Perlu diakui bahwa karya monumental kesekian ini memperlihatkan sisi kehidupan jurnalistik SGA. SGA menempuh jalannya sendiri dalam menyuarakan ketidakadilan dan represivitas Orde Baru. SGA membalut romantisme ala metropolitan dengan unsur musik jazz dan parfum sebagai sebuah metafora untuk sensualitas kaum perempuan.

Seperti telah dapat dibaca pada "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara", pada roman metropolitan ini ada pertentangan antara fakta dengan fiksi. Pengemasan keduanya dalam cerpen dan roman telah menghadirkan perbedaan yang signifikan. Betapa tuntutan mengenai fakta dalam fiksi akan lebih tinggi dalam sebuah cerita pendek. 

Berbeda dengan apa yang terjadi pada dua unsur tersebut (fakta dan fiksi) dalam sebuah roman. Pertama, pembaca bisa menganggap bahwa apa yang disebutkan fakta dalam fiksi di sebuah roman adalah sebagai tulisan/bualan penulisnya supaya romannya bisa punya cerita yang panjang. Kedua, kalaupun ada fakta dalam fiksi sebuah roman, maka itu bisa saja sebuah kebetulan supaya cerita antar bab bisa saling berhubungan menuju sebuah ending.

Tentu saja, kedua pendapat diatas masih terlalu subjektif dan lahir hanya dari seorang penulis dadakan sekelas saya. Pada proses pembacaan kumpulan cerpen 'Saksi Mata' (terbit kembali di Trilogi Insiden) saya sebagai pembaca awam cenderung menuntut keabsahan dari catatan-catatan jurnalistik yang dimuatnya. Hal ini tentu berbeda ketika saya menghadapi 'Jazz, Parfum, & Insiden' dimana banyak sekali catatan jurnalistik yang dimuat dari berbagai sumber. Saya cenderung masa bodoh dengan catatan mana yang benar-benar bisa dipercaya maupun dengan catatan mana yang isinya hanya kibul belaka.

Namun, siapapun yang mulai membaca roman ini agaknya tidaklah perlu mengkaitkan antara parfum dengan bau mayat-mayat yang bergelimpangan usai terdengar suara tembakan. Tidak ada kaitannya sama sekali atau malah jalan pikiran saya saja yang menghubungkan mereka. Setidaknya, pembaca tidak akan kehilangan ketokohan Sukab maupun Alina. Pembaca punya banyak alternatif jalan cerita tentang peran Sukab dan Alina dalam roman ini. Sukab sudah jelas disebut dalam cerita, namun Alina hanya muncul utuh dalam ending cerita: sebuah surat. Untuk itu, sila pembaca yang budiman menakar sendiri roman ini secara utuh, tentang seseorang yang selalu mengenakan Walkman, tenggelam dalam jazz dan harum parfum, dan membaca insiden yang berdarah.

Judul           : Jazz, Parfum, & Insiden
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit      : Bentang
Tahun          : 2004
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Roman

Cipayung, 27 April 2017.

Sabtu, 29 April 2017

Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (2)

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya, bahwa tulisan saya dibaca orang. Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar – Hal. 133

Ini adalah tulisan kedua tentang buku ini. Tulisan pertama di blog ini terbit pada bulan November 2015. Saya merasa perlu menulis tentang buku ini sekali lagi. Untuk keperluan penjelasan antara fakta dan fiksi yang menurut saya belum diulas pada tulisan pertama.

‘Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara’ adalah Trilogi Insiden bersama ‘Saksi Mata’ (kumpulan cerpen) dan ‘Jazz, Parfum, dan Insiden’ (roman). Ketiganya memuat fakta seputar Insiden Dili yang ditabukan media massa semasa Orde Baru. Selanjutnya, pertarungan antara fiksi dan fakta atau fakta dalam fiksi akan menjadi pertarungan yang dibahas penulisnya. Ketiga buku terbit dimasa kekuasaan Orde Baru sehingga ketiganya tidak dapat menghindar untuk tidak terlibat dalam persoalan politik kekuasaan, secara praktis dan konkret.

Buku ini banyak bercerita tentang pergulatan SGA dengan perjalanan jurnalismenya. Terutama ketika meliput tentang Insiden Dili. Sebagai penulis fiksi, SGA tidak bermaksud menulis fakta-fakta tentang fiksinya sendiri untuk memperkuat fiksi tersebut. Bahkan juka kemudian ada pembacaan intertekstual antara fakta dan fiksi yang ditulisnya, maka itu semua adalah diluar kekuasaan SGA.

SGA menulis tentang bagaimana ia memposisikan cerpen dalam sastra Indonesia. Pun, dihubungkan dengan konteks realitas di Indonesia. SGA menjelaskan banyak hal dalam ikhtiar proses memadukan unsur fiksi, jurnalisme, dan sejarah menjadi satu produk yang utuh. SGA mengolah fakta menjadi fiksi dengan menulis apa yang dilihatnya, kemudian mengolahnya menjadi bahasa yang dapat diterima sebagai sebuah karya fiksi. Dengan begitu, kiranya sah pernyataan judul buku ini: Ketika Jurnalisme Dibungkam (maka) Sastra Harus Bicara.

Saya pribadi terkesan dengan sebuah bab berjudul “Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca”. Kutipan diatas saya ambil dari tulisan yang disampaikan SGA dalam Pidato Penerimaan Penghargaan South East Asia Writing Award tahun 1997. Tanpa mengesampingkan tulisan-tulisan lainnya, saya menganggap buku ini adalah satu catatan tersendiri untuk satu Bab dalam perjalanan sejarah Republik tercinta.
 
Edisi pertama buku ini terbit pada tahun 1997, tidak lama sebelum Rezim Orde Baru turun tahta. Edisi Kedua lahir kembali pada tahun 2005. Pada masa reformasi ini, buku ini kembali diterbitkan kembali untuk memenuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan. Dengan judul Trilogi Insiden yang membuat tiga judul buku secara utuh. Pembaca dipersilahkan untuk menilai sendiri relevansi antara keduanya, dilihat dari tahun penerbitan dimana pers sudah dianggap bebas sejak Reformasi 1998. 

Judul                     : Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Penulis                  : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit                : Bentang Pustaka
Tahun                    : 2005
Tebal                     : 243 hal.
Genre                    : Sastra Indonesia


Cipayung, 21 April 2017

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin


Sumber gambar: www.goodreads.com

Berawal dari sebuah promo di twitter, saya mendapatkan buku ini dengan harga yang lumayan murah. Diatas rata-rata diskon toko buku online. Sebagai bagian dari kelas menengah (cieee...)-mengacu pada kriteria yang disebutkan dalam buku ini- saya ingin tahu bagaimana perencanaan keuangan yang baik. Terlebih, penulisnya sendiri adalah seorang financial planner berpengalaman, Ligwina Hananto @mrshananto, yang pernah mempunyai acara radio khusus untuk subjek financial planning. Belakangan, @mrshananto juga pernah muncul juga di televisi membawakan acara dengan tema serupa.

Saya rasa penting bagi kita untuk mulai “menyelamatkan” keuangan pribadi. Kondisi ekonomi di Indonesia yang sering tidak menentu namun ddidorong pula oleh “kekuatan” kelas menengah yang konsumtif, maka asumsi investasi bukan lagi hal yang tabu dan menakutkan untuk dijalani secara pribadi. Niscaya, buku ini menjadi panduan awal tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi. 

@mrshananto menyediakan guidance atau clue dengan tajuk 100 hal yang perlu dilakukan untuk tidak miskin. Dengan kata lain, petunjuk-petunjuk itu adalah bagaimana menjadi kelas menengah yang berdaya. Terutama dari sisi finansial. Dimuat dalam flipcard yang mudah untuk dibawa, memudahkan siapapun untuk membawanya kemana saja untuk jadi pengingat tentang 100 hal tersebut.

Walaupun penghasilan pas-pasan, tapi yang namanya perencanaan keuangan itu tetap diperlukan. Somehow, refer to term 'kelas menengah' or middle-class, buku ini adalah guidance material untuk melakukan perencanaan keuangan sebaik mungkin. Termasuk cara menjalani siklus keuangan seperti yang telah direncanakan.

Kekuatan kelas menengah yang sanggup mempertahankan Indonesia dari goncangan krisis ekonomi adalah pertanda sebuah kekuatan lain yang muncul di Indonesia. Fenomena yang berdampak langsung pada sektor keuangan ini secara tidak langsung ikut mempengaruhi sisi kehidupan lainnya. Dengan demikian, bila golongan kelas menengah ini mampu mempertahankan dirinya sendiri maka secara tidak langsung juga berimbas pada sekala ekonomi yang lebih luas. Patut dibaca, oleh kita para kelas menengah ini, biar #kelasmenengahngehe sekalipun.

Saya tidak menganggap buku ini seperti novel yang harus dibaca tamat dari awal sampai akhir. Karena sifatnya yang guidance material, maka saya membaca subjek-subjek tertentu saja. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa buku ini belum saya pahami sepenuhnya. Oleh karena itu, hingga tulisan ini naik cetak saya masih terus membacanya, sekedar meyakinkan bahwa dari 100 hal itu ada satu atau beberapa hal yang benar-benar saya lakukan. Selamat belajar.

Judul          : Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
Penulis       : Ligwina Hananto
Penerbit     : Literati
Tahun        : 2010
Tebal         : 240 hal.
Genre        : Perencanaan Keuangan


Cipayung, 19 April 2017.

Jumat, 31 Maret 2017

Excuse-Moi: Sebuah Pergulatan Identitas

Sumber gambar: www.goodreads.com

SARA: Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan adalah topik yang seringkali dianggap tabu, sensitif, dan harus ditangani dengan penuh kehati-hatian. Apalagi situasi macam sekarang ini. Namun, saya menemukan sebuah buku dengan tulisan yang apa adanya, diselingi canda, namun tetap melayangkan gugatan: perbedaan apakah yang membuat kita berbeda.

Margareta Astaman membagikan celotehannya kembali melalui buku setebal 137 halaman ini. Margie, begitu ia akrab disapa, terlihat sangat concern terhadap identitasnya sebagai warga negara asing dan warga negara Indonesia sendiri. Identitas rasialnya membuat Margie tidak mudah untuk menentukan pilihan-pilihan yang bagi sebagian orang adalah hal yang lumrah. 

Margie yang melanjutkan kuliahnya di NTU Singapura ini merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang keturunan Cina asal Indonesia. Ada banyak kejadian yang membuatnya berpikir kembali tentang jati dirinya. Margie berhasil merangkum gugatan-gugatannya dalam buku ini.

Margie membagi buku ini menjadi tiga bab besar. Bab pertama, Margie menggugat jati dirinya secara gamblang dengan judul "Siapa Saya". Sebuah pertanyaan kecil namun membutuhkan analisis mendalam untuk menjawabnya. Bila perlu, disertai dengan riset tidak terbantahkan mengenai asal-usul nenek moyangnya yang dari Utara itu.

Bab kedua, diberi judul "Sekali Beda Tetap Beda". Maksudnya, dengan identitas kultural yang ia miliki, masyarakat umum tetap saja memandangnya dengan berbeda. Perbedaan etnisitas antara warga keturunan dan pribumi selalu menimbulkan celah sehingga berlaku suatu sistem tata nilai yang tidak selalu sama antara keduanya.

Terakhir, masalah 'perbedaan' ini akan semakin tajam ketika urusan hati sudah mulai terlibat. Margie terlihat serius dalam menggugat cinta antara sepasang anak manusia yang dilahirkan dalam keadaan berbeda (etnis, budaya, dll). Disini, Margie juga membuktikan bahwa ada sesuatu yang bernama PPBA-BS alias Persatuan Pacaran Beda Agama-Backstreet dan Durhaka Anonymous (DA). Kelompok pertama, mencoba meyakinkan dunia bahwa apa yang terjadi diantara sepasang kekasih yang berbeda haruslah diterima sebagai sebuah kenyataan. Sedangkan, yang terakhir lebih kepada memberi hiburan dan penguatan kepada mereka yang telah memilih jalan mereka (bisa saja sebagai kelanjutan dari PPBA-BS) supaya bisa tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepada orang tua mereka.

Seperti buku-buku Margie lainnya, celotehan ringan dan khas mewarnai sepanjang pembacaan buku ini. Saya pribadi lebih menikmatinya seperti membaca tulisan-tulisan dalam blog. Pendek namun sarat makna. Membuat kita berpikir lagi: about difference, how different we are, how we differentiate others, and how we react upon difference.

Judul      : Excuse-Moi
Penulis   : Margareta Astaman
Penerbit  : Penerbit Buku Kompas
Tahun     : 2011
Tebal      : 137 hal.
Genre     : Sosial-Budaya


Cipayung, 31 Maret 2017.


Outliers


Outliers menarik perhatian saya dalam sebuah wawancara di radio medio 2009 lalu. Acara itu dilangsungkan dalam rangka penerbitan buku sekaligus promosi. Banyak cerita yang menggugah kesadaran saya. Bahwa orang sukses itu memang sudah diciptakan dari sananya. Ada beberapa analisis yang bisa membuktikan hal itu. Pada bab-bab awal, Malcolm Gladwell menjelaskan pembuktian saintifiknya.

Buku ini menceritakan bagaimana para “Outliers” membentuk diri mereka. Malcolm Gladwell ingin pertanyaan inti dari buku ini: “what makes high-achievers different?”. Dia menjawab bahwa kita terlalu menyimpan perhatian penuh pada kebiasaan atau bagaimana menjadi orang yang sukses. Kita lupa untuk melihat hal-hal lain dibelakang kesuksesan dan keberhasilan para “Outliers”. Misalnya saja, pada darimana mereka berasal, bagaimana kultur dan kebiasaan mereka, keadaan keluarga mereka, soal keturunan, dan lain-lain. Sebagai contoh, Gladwell memberi penjelasan tentang bagaimana menjadi seorang pemain sepakbola terbaik, mengapa orang Asia hebat dalam bidang matematika, dan mengapa The Beatles menjadi band terbaik sepanjang masa.

Selain latihan yang intens, kultur, dan kebiasaan, ada satu hal lain yang coba dikuak oleh Outliers ini. Satu hal itu adalah kesempatan. Ada banyak contoh tentang mengapa generasi yang lahir pada tahun tertentu memiliki penghidupan yang lebih baik di masa pasca depresi di Amerika Serikat.
Ada beberapa catatan khusus tentang bagaimana Bill Gates dan The Beatles menjadi masterpiece abad ke-20. Selama ini, kita hanya tahu bahwa Bill Gates adalah seorang mahasiswa yang tidak menyelesaikan kuliahnya dan kemudian mendirikan Microsoft. Selama ini kita dibuai dengan kisah bahwa kesuksesan tidak hanya melulu dari bangku kuliah. Saya tidak meragukan pendapat itu hanya saja perlu dicermati bahwa Bill Gates sudah melakukan apa yang dipelajarinya di masa kuliah selama 10.000 jam pada masa sekolahnya.
Semasa sekolah, Bill Gates muda sering menghabiskan waktunya dengan komputer yang bisa dipinjamnya seusai sekolah bahkan hingga larut malam. Selama itu, ia lebih banyak bereksperimen dengan membuat berbagai program komputer. Maka, ketika ia kuliah dan melihat apa yang ditawarkan oleh kampusnya adalah sesuatu yang sudah dikerjakannya selama kurang lebih 10.000 jam lamanya kemudian ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tidak mungkin Microsoft akan menjadi perusahaan besar tanpa skill Bill Gates yang sudah terlatih bahkan sebelum kuliah.
Sekali lagi, kita selalu dibuai oleh mimpi Bill Gates, bahwa tidak selalu anak kuliahan yang akan meraih kesuksesan. Tetapi, alangkah baiknya bila kita melihat kembali apa yang sudah Bill Gates lakukan sehingga ia mengambil keputusan yang berani untuk meninggalkan kampusnya. Seringkali kita generasi muda ini terjebak hanya pada hasilnya, bukan pada proses 10.000 jam yang membentuk Bill Gates menjadi pribadi yang utuh di bisnis pemrograman komputer.

Tentang The Beatles, band asal Liverpool, Inggris ini telah mengalami hal yang serupa dengan Bill Gates. The Beatles mendapatkan pengalaman 10.000 jamnya di Hamburg, Jerman. Tampil dari satu klub ke klub lainnya selama 8 jam semalam telah membentuk mereka menjadi band legendaris dunia. Melalui masa-masa panggung di Hamburg, The Beatles berlatih dan menempa diri mereka untuk memikat pengunjung. Mereka harus memainkan musik mereka di hadapan audiens yang belum paham benar tentang musik yang mereka bawakan. Dengan jam terbang yang semakin tinggi, The Beatles berhasil memikat banyak orang di Hamburg dan ketika akhirnya mereka mendaki kesuksesan
di berbagai belahan dunia, mereka sudah memiliki bekal untuk itu: pengalaman panggung 10.000 jam.

Simak pula tentang bagaimana Korean Air (dahulu Korean Air Lines) membuat transformasi pada sisi operasinya dengan mengandalkan warisan kebudayaan mereka. Tentang bagaimana budaya hormat dan budaya kerja menjadi salah satu transformasi yang penting bagi kelangsungan usaha mereka. Perlu dicatat, mereka melakukan semua itu setelah mengalami krisis keselamatan.

Last but not least, Malcolm Gladwell turut memberi contoh kecil tentang bagaimana seorang Outliers itu. Ia adalah produk kesempatan, takdir, warisan, dan berbagai hal yang kelihatannya natural dimiliki oleh seseorang. Ia mencontohkan dirinya sendiri sebagai keturunan dari nenek moyangnya yang punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan menikah dengan orang yang pantas pada kurun waktu yang menguntungkan.
Buku ini baru saya baca tiga tahun setelah acara radio itu tayang dan baru menamatkannya bulan ini. Saya rasa tidak ada istilah terlambat. Karena bagaimanapun isi buku ini tidak berubah atau mengalami revisi. Malcolm Gladwell menulis buku lainnya guna melengkapi Outliers, seperti The Tipping Point, Blink, What the Dog Saw. Gladwell mengajak pembacanya pada suatu pengalaman yang baru untuk melakukan self-motivation tanpa harus menggurui.

Judul      : Outliers
Penulis   : Malcolm Gladwell
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2011
Tebal      : 339 hal.
Genre     : Psikologi Sosial


Cipayung, 31 Maret 2017.
Ditulis kembali dengan penambahan dari tulisan tanggal 13 Januari 2013.

Kosmik: Harapan Untuk Komik Indonesia

Sumber gambar: Captured from Kosmik.id

Perkembangan komik Indonesia (komik buatan komikus Indonesia) pasca terbitnya skripsi komik saya di tahun 2008 cukup mengagumkan. Kemajuan ini ditandai dengan munculnya berbagai media penerbitan, mulai dari konvensional dan digital. Macam ojek dan taksi saja. 

Saya tidak akan memberi penilaian khusus pada tampilan komik karya komikus Indonesia yang banyak dipengaruhi gaya manga asal Jepang. Saya juga tidak akan memberi judgement mengenai bagaimana seharusnya komik dikemas sebagai sebuah budaya dan produk ekonomi. 

Ada banyak cara di jaman information superhighway ini untuk membaca komik. Banyak website bermunculan yang menampilkan produk komik populer. Namun, khusus untuk komik Indonesia saya akan memberi catatan untuk Kosmik. Sebuah website untuk membaca komik secara online yang bisa diakses di www.kosmik.id. Kosmik juga hadir di platform Android.

Untuk membaca komik, pembaca bisa melakukan registrasi. Karena dikemas sebagai online marketplace juga, maka pembaca akan memiliki akun sebagaimana layaknya online shop untuk membeli produk-produk yang ada di Kosmik. OK, ada ekonomi yang berjalan disini. 

Kosmik hadir untuk menampilkan komik bagus kepada pembacanya. Kosmik juga berusaha  membantu penerbitan komik secara editorial, pemasaran, distribusi serta edukasi komik supaya lebih banyak lagi komik bagus yang lahir dan tersebar di bumi. 

Saya setuju. Kami pembaca komik memang butuh komik bagus. Tidak hanya bagus secara visual tetapi juga punya cerita yang bagus dan alangkah lebih bagus lagi bila cerita itu memang dekat dengan keseharian kita sehingga kita bisa lebih paham bila hidup ini dipandang dari sisi sebuah komik.

Serpong, 30 Maret 2017.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...