Selasa, 10 Juli 2012

Istoria da Paz: Mengungkap Persinggungan Takdir

Memang tidak mudah bagi Damai Priscillia untuk meninggalkan Jakarta. Segala kenangan bersama kekasihnya kian menggebu dan semakin tidak bersahabat dengan hatinya yang dirundung kegalauan. Perjalanan menuju Sekolah Damai di Nusa Tenggara Timur pun dilakukannya demi tugas. Barangkali disana Damai akan menemukan kedamaian bagi hatinya.

I

Semua berawal ketika Damai mengerjakan editing buku untuk Arimbi. Penulis muda yang memiliki pandangan berbeda dengan sudut pandang Damai. Damai harus meyakinkan Arimbi berkali-kali agar tulisannya tidak terlalu frontal dalam mengungkapkan kenyataan. Berawal dari ketidaksenangan tanpa terasa perasaan itu kian membuncah menjadi rasa benci. Tidak hanya konflik itu saja. Kedekatan Jambrong a.k.a Enrico, kekasih Damai, dengan Arimbi kian menyulut naluri Damai bahwa kedekatan itu bukan sekedar relasi pertemanan biasa. Suatu ketika, Damai mendapati kekasihnya itu bercinta dengan Arimbi di rumah mereka. Kontan, Arimbi merasa dikhianati. Tetapi, Arimbi tetap masih belum sanggup kehilangan Jambrong.




Kenyamanan dalam hubungan dengan Jambrong telah membuat Damai merasa serba salah. Satu sisi, kini dia begitu membenci Jambrong karena telah bercinta dengan Arimbi, penulis yang tidak pernah disukainya. Namun, di sisi lain, Damai terlalu takut ketika Jambrong akan meninggalkannya. Lalu, memang Jambrong akhirnya meninggalkan Damai. Entah kemana, yang jelas Jambrong tidak mau menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka berdua. Jambrong akan pergi mencari sesuatu yang dia harap sebagai kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Jambrong telah pergi dan tinggal Damai sendiri. Hidupnya menjadi berantakan, tipikal orang patah hati. Segala kenangan yang dulu dilewati bersama dengan Jambrong kian menyeruak. Damai tidak mampu berdamai dengan semua kenangan itu. Sampai suatu hari, datang penugasan untuk meliput Sekolah Damai di Nusa Tenggara Timur. Sebuah kesempatan untuk melupakan patah hati nun jauh disana.

Kedatangan Damai di Sekolah Damai mengundang banyak tanya. Suatu sambutan selamat datang yang tidak akan pernah terlupakan ketika akhirnya Abitu berhasil mengerjai Damai dengan cacing ditangannya. Itu baru awalnya sebelum Damai benar-benar jatuh cinta dengan kehidupan di Sekolah Damai. Perjalanan ini memang masih terasa berat. Bayang-bayang Jambrong masing ada dibenaknya. Waktu jugalah yang akhirnya memutuskan bahwa Damai terus melaju dengan keputusannya untuk menjalani hidupnya lagi-tanpa Jambrong.

Berhari-hari di Sekolah Damai mengajarkan Damai untuk benar-benar berdamai dengan kenyataan hidup yang telah dilaluinya. Semua kejadian yang dialaminya disana benar-benar mengubah cara pandangnya dalam memaknai hidup, tentang kebahahagiaan misalnya. Persinggungan garis takdir Damai dengan dunia barunya itu memberikan suatu kekuatan baginya untuk menata hatinya kembali.


II 

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Tidak mudah bagi seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya. apalagi kalau terselip bumbu kenangan didalamnya. Entah, itu akan jadi bumbu atau malah racun yang membunuh secara perlahan. Tidak mudah pula bila ketika akhirnya harus memutuskan untuk lepas dari jerat yang membelenggu. Dibutuhkan lebih dari sekedar hentakan peristiwa untuk membuat kita sadar untuk melakukannya.

Istoria da Paz menceritakan pada kita bahwa akhirnya hidup ini merupakan sebuah pilihan. Seperti apa yang ditulis Arimbi dalam tokohnya. Bahwa tidak menikah dan tidak mengikuti pendapat umum adalah sebuah pilihan juga. Dan itu sah. Karena hidup ini adalah pilihan maka ia akan bersinggungan dengan garis takdir. Jalan hidup yang ditempuh Damai telah membawanya ke Sekolah Damai. Sekolah beratap langit, beralas tanah, dan berdinding angin. Terletak di kamp pengungsi ex-Timor Leste. Jalan takdir pula yang mempertemukannya dengan sahabat baru, Dionysius serta murid-muridnya, Abitu dan Arbelia.

Perempuan dalam perjalanan ini pun mengajari kita, bahwa waktu akan menjawab segalanya. Benarlah sebuah pendapat yang bilang "Waktu dan jarak adalah penyembuh luka yang paling baik." Kehilangan bukanlah suatu tragedi. Justru, ia hadir karena akan membawa kita pada suatu penemuan baru. Suatu penjelajahan baru untuk rasa dan jiwa. Perjalanan Damai pun menjadi lebih berarti, karena ia telah mengungkap makna. Mengasihi bukan berarti melakukan apa yang dipikir baik oleh diri sendiri, tetapi melakukan apa yang terbaik untuk orang yang dikasihi. Sekalipun, harus meninggakan segala kenangan dengan yang pernah dikasihi. Time will tell, time will prove.

Personal Note

Istoria da Paz adalah novel pertama Okke @sepatumerah yang saya baca. Saya dibuat tertarik dengan tagline Perempuan dalam Perjalanan. Dari catatan singkat di bagian belakang buku, saya mendapat gambaran bahwa perempuan bernama Damai ini melakukan perjalanan untuk melupakan patah hatinya. Itu yang pertama ada di benak saya. Pun, ketika saya membayangkan (dan sedikit berharap) bahwa konteks "√Źndonesia Timur" yang ada di dalamnya akan semenarik Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (FX Rudy Gunawan, GagasMedia, 2005). Karena sudah terlanjur dibuat berdebar dengan suasana Papua yang sedang mengenang Theys Hiyo Eluay, saya penasaran apakah Okke akan menampilkan suatu fragmen kehidupan di kamp pengungsian ex-Timor Leste dengan segala problematikanya.

Setelah pembacaan selesai, hasilnya memang tidak sedetail suasana Papua. Namun, detail tentang bagaimana suasana kehidupan di dua tempat yang pernah mengalami konflik itu terekam begitu hidup dan nyata. Perjuangan bagaimana saudara sebangsa menjalani keseharian mereka justru dalam segala ketiadaan, membuat cerita ini memiliki arti lebih. Tidak hanya sekedar karya yang mengungkapkan isi kepala penulisnya tetapi juga mengangkat konteks sejarah bangsa.

Jadi, pengalaman membaca ini sekaligus juga memutar ingatan kepada beberapa peristiwa yang entah (mungkin sengaja) terlupakan. Tabir sejarah yang dulu pernah tersingkap seakan menjadi luka yang harus ditutupi. Termasuk dengan menguburnya dalam-dalam. Istoria da Paz, mengingatkan kita bahwa pada suatu masa pernah terjadi hal yang demikian di Bumi Pertiwi. Bukan untuk disangkal, tetapi apakah kita mau belajar darinya?


Judul  : Istoria da Paz
Penulis : Okke Sepatumerah
Penerbit : GagasMedia
Tahun: 2007
Tebal: 218 hal.
Genre: Novel


Medan Merdeka Barat, 10 Juli 2012.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...