Rabu, 25 Juli 2012

Perahu Kertas: sebuah pengalaman

I

Sangat disayangkan kenapa saya baru tertarik untuk membaca Perahu Kertas menjelang akhir bulan kemarin. Padahal, kalau dihitung-hitung sudah jauh ketinggalan dari tanggal terbitan pertama. Helow, kemana aja loe? 

Saya bukan tipikal pembaca yang selalu harus jadi first reader buku-buku bestseller ataupun buku-buku terbitan baru. Saya bukan tipikal pembaca yang harus menelan empat jilid Laskar Pelangi atau Trilogi The Hunger Games, usai diterbitkan.




Tetapi, memang saya harus mengalami dulu hal yang seperti ini. Baru setelah mendapat kabar angin bahwa Perahu Kertas jadi difilmkan, terbukti dengan keterangan tambahan pada cetakan baru: Segera Difilmkan, barulah saya punya keinginan untuk membaca Perahu Kertas. Alasannya, saya harus tahu dulu cerita dalam buku sebelum membandingkannya dengan cerita dalam film. Sudah jelas, karena durasi yang terbatas sangat tidak memungkinkan untuk merekam seluruh alur cerita dalam buku.

Sambil terus berusaha menamatkan pembacaan cerita, saya menyalakan pemutar musik seperti biasa. Playlist diputar dalam posisi random. Saya tidak pernah bisa menebak lagu-lagu yang akan diputarkan.

Membaca Perahu Kertaas berarti terombang-ambing dalam lautan tanya yang membentang tanpa batas. Keenan dan Kugy, dua orang anak manusia yang harus mengitari jalan takdir masing-masing sebelum menemukan diri mereka sendiri. Perjalanan menuju pencarian diri masing-masing adalah perjalanan yang menarik. Dibutuhkan lebih dari sekedar air mata untuk menemukan sesuatu yang mereka sebut kebahagiaan.

Perahu Kertas sendiri banyak bercerita tentang mimpi. Mimpi adalah hidup itu sendiri. Yang senantiasa berusaha untuk diwujudkan. Walau kadang tak sejalan dengan lingkungan keseharian kita. Keenan dan Kugy berusaha menemukan impian dalam hidup yang mereka jalani. Kehidupan mereka pun semakin berwarna kala takdir ikut andil didalamnya. Persinggunggan takdir mereka dengan Wanda, Remi, dan Luhde, ikut menghidupkan berbagai realitas dalam cerita. Utamanya, mimpi, cinta, dan persahabatan.

II

#np Against All Odds – Phil Collins ; Sail Over Seven Seas – Gina T ; Heart of Mine – Bobby Caldwell ; I Have Nothing – Charice (cover version)

Memasuki bab belasan, semua lagu ini mengalun. Mengiringi pembacaan cerita dimana Kugy, Keenan, dan Wanda mulai menemukan diri mereka masing-masing. Kugy semakin sadar dirinya jatuh dalam alunan pesona Keenan. Keenan semakin menemukan kebebasannya. Lalu, Wanda menemukan tambatan hatinya, kemana ia akan melabuhkan cintanya.

#np Lembayung Bali – Saras Dewi

Kugy dan Keenan bertemu di Sekolah Alit. Mereka berdua saling membuka hati. Mereka saling membagi kisah tentang bagaimana mengaliri cawan hidup masing-masing.

#np If You’re Not Here – Menudo

Kugy melepas tiga perahu kertas. Kugy melengkapi pelepasan perahu kertas itu dengan segenap rasa penyesalan. Kugy menyesal karena selama ini ia hanya terjebak dalam impiannya sendiri. Keenan tidak seperti apa yang ia bayangkan.

#np The Winner Takes It All – Susan Wong (Cover Version) 

Keenan pamit ke ibunya. Keenan merasa berhak untuk segera meraih mimpinya. Surat itu, surat yang memberitahukan bahwa lukisannya terjual melengkapi panggilan jiwanya untuk segera pulang ke Ubud. Keenan merasa harus segera memenuhi impiannya. Kedekatannya dengan Wanda telah mebuka jalan pikirannya untuk berani mengambil keputusan dan menjalani mimpinya.

#np Why – Annie Lennox

Konon, lagu ini jadi satu dari sekian lagu yang mengilhami lahirnya sebuah novel Divortiare (Ika Natassa, Gramedia Pustaka Utama, 2008). Saat lagu ini diputar, saya tiba pada cerita ketika Kugy pindah kostan dan bertemu dengan Eko yang heran melihat kejadian itu. Why? Mungkin itu juga yang ada dalam benak Eko. Ribuan tanya membentang seketika.

#np I Won’t Forget You – Princessa 

Luhde menulis dengan sepenuh jiwanya. Ketika Pak Wayan mengingatkan untuk tidak jatuh sekaligus, pelan-pelan. Pak Wayan juga mengingatkan Luhde untuk tidak jadi bayang-bayang dibalik bayang-bayang Kugy yang masih selalu menyelimuti Keenan. Luhde harus menunggu sampai luka Keenan sembuh.

III

Saat lagu terakhir diputar, saya sudah mengantuk. Saya masih jauh dari selesai. Namun, setidaknya ada yang bisa saya cermati dari hubungan lagu-lagu diatas dengan bab-bab yang dibaca.

Entah disadari atau tidak, lirik-lirik dari lagu diatas benar-benar mewakili cerita yang dibaca saat itu. Bayangkan perasaan Keenan saat berhasil meyakinkan Ibunya untuk benar-benar menjalani impiannya sebagai pelukis. Diiringi dengan petikan lirik dari lagu ABBA: the winner takes it all, the loser standing small.

Saya tidak tahu apakah itu semua hanya kebetulan semata. Yang jelas, saya mencoba menikmati pembacaan Perahu Kertas diiringi random playlist. Memang demikian adanya, barangkali persinggungan takdir telah membawa saya pada pengalaman baru dalam membaca suatu karya monumental.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 25 Juli 2012.

1 komentar:

EGITH MARSHEL mengatakan...

Hidup memang sudah ditakdirkan oleh Nya, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh sedemikian rupa oleh Sang Maha Pencipta

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...