Jumat, 16 April 2010

She Wasn’ t The One (Who Made Me Promise)

“Kenapa teh hitam?”

“Teh hijau mahal.”

“Tapi kan khasiatnya beda.”

“Kata siapa? Sama saja.”

(Aneh sekali. Baru kali ini perempuan itu bicara dengan gayanya yang seperti ini. Apalagi, mengajak berdebat tentang suatu hal yang remeh. Apakah yang sedang dipikirkannya? Apakah ia hanya sedang ingin membuat cair suasana? Aku rasa tidak. Seperti ada sesuatu yang harus ia katakan.)

“Masih ngerokok?”

“Seperti yang kamu lihat, kenapa?”

“Haram.”

“Haram versinya siapa? Rokok itu haram untuk yang gak mampu beli!”

“Tetap saja haram!”

(Sampai disini, perempuan itu kelihatan agak kesal. Ia membuang tatapannya keluar dan tidak menatapku lagi. Tapi justru itulah yang membuatnya terlihat semakin mengagumkan. Lesung pipinya dan lentik bulu mata dengan kacamata frameless tampak lebih indah dari biasanya dalam buaian matahari senja.)

“Kalau sampai rokok itu haram, haramkan juga petai dan jengkol sekalian.”

“Lho, itu kan beda. Gak bisa gitu dong!”

“Harusnya sih begitu.”

“Rokok kan beda dengan petai dan jengkol.”

“Mereka semua sama. Sama-sama memberikan kenikmatan bahkan kebahagiaan bagi yang menyukainya.”

“Itu pembenaran kamu saja.”

“Tapi kamu masih suka jengkol kan?”

“Itu bukan urusanmu. Lagipula, belum ada fatwa jengkol itu haram!”

“Memang belum ada, tapi tetap masih suka jengkol kan?”

“Sudah. Jangan tanya lagi. Kamu setia?”

(Aku tidak senang dengan situasi seperti ini. Tanpa undangan tiba-tiba ia tanyakan itu padaku. Apa yang sempat aku khawatirkan memang benar terjadi. Perempuan itu bertanya tentang kesetiaanku. Satu hal yang pernah aku coba untuk buktikan namun aku tetap tidak tahu apakah aku berhasil untuk membuktikannya. Dan sekarang ia menanyakannya. Aku tahu ini pasti terjadi. Sialan.)

“Kenapa diam?”

“................................”

(Aku memang belum bisa menjawabnya. Rasanya seperti menghadapi soal Ujian Nasional matematika SMA. Aku memang pernah mempelajarinya tapi tetap tidak tahu jawabannya.)

“Kalau kamu mau tahu artinya setia, tanya saja sama Del Piero, kenapa dia tidak mau pindah dari Juventus"

“Itu bukan jawaban.”

(Hanya itu jawaban yang terlintas di pikiranku. Aku rasa dia mulai tahu dan mengendus sesuatu dari diamku tadi.)

“Kenapa kamu baru pulang sekarang?”

“Karena aku baru bisa pulang sekarang. Selain itu juga karena aku ingat kamu.”

“Gombal. Jangan coba untuk merayuku.”

“Aku tidak sedang menggombal.”

“Bohong. Kelihatannya itu biasa, hanya untuk menutupi salahmu.”

“.....................................................”

(Apakah aku memang bersalah? Berlalu meninggalkannya tanpa pesan untuk sebuah alasan. Aku memang merasa bersalah tetapi aku tidak tahu dimana kesalahanku. Kalau kepergianku yang jadi masalah seharusnya aku sudah tahu. Tetapi, aku rasa bukan itu.)

“Aku pulang karena aku merasa harus ketemu kamu.”

“Hanya untuk itu saja? Bertemu untuk berlalu?”

“Mungkin....”

“Tentu saja, karena Mbakmu itu! Kenapa selalu harus Mbakmu itu yang datang kepadaku?”

“Karena aku percaya padanya. Lagipula, kamu kenal dia juga kan?”

“Kamu nggak ngerti. Kamu nggak ngerti.”

(Ada nada kecewa dari suaranya. Aku semakin bingung. Kalau begitu, berarti aku telah membuatnya kecewa. Masalahnya sekarang, sumber penyebab kekecewaan itu belum kutemukan. Aku semakin merasa bersalah karena ia mulai menangis. Damn, it’s a puzzling situation.)

“Kenapa harus Mbak? Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kamu?”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Kenapa harus Mbak yang selalu datang. Dia yang selalu cerita tentang kamu.”

“Kamu cemburu?”

“Cemburu menguras hati.”

“Vidi Aldiano. Aku rasa bukan itu, bagaimana kalau cinta dua hati?”

“Itu Afghan.”

“Kamu cemburu?”

“Aku nggak cemburu. Aku pikir hanya aku saja yang punya perasaan. Hanya aku saja.”

“.................................................”

“Aku pikir tadinya akulah Komako.”

(Sialan. Rupanya ia juga membaca Kawabata dan ia pikir akulah yang jadi Shimamura, yang tidak pernah peduli dengan perasaan Komako. Hebat sekali. Ia bisa menempatkanku sebagai Shimamura. ia pikir dirinya Komako yang punya keteguhan untuk tetap mencintai Shimamura walau cinta mereka telah gagal sejak pertama bertemu.)

“Kamu memang nggak pernah peduli.”

“Kalau dalam posisi Shimamura, aku memang tidak pernah peduli.”

“Kamu masih nggak ngerti?”

“Tentang perasaanmu?”

“..............................................”

(Melihat diamnya, aku ingin sekali meneriakkan kalimat yang pernah ditulis Wan Anwar dalam cerpennya. Ingin aku teriakkan kalimat ini, “Aku memang tak pernah bisa memahamimu, tetapi jangan sekali-kali kau tuduh aku tak pernah mencintaimu.” Sekali saja tepat didepan matanya. Tetapi, aku sadar aku tidak akan pernah melakukannya.)

“Aku memang tidak pernah tahu perasaanmu.”

“Ya, tentu saja. Mudah bagimu untuk mengatakannya begitu saja padahal kamu tidak pernah tahu betapa sakitnya aku.”

“..............................................”

“Kamu mencintainya?”

(Kenapa harus pertanyaan itu lagi? Sudah dua kali aku menghadapi situasi dengan pertanyaan seperti itu. Dengannya kali ini adalah yang kedua. Sedang yang pertama, waktu itu Mbak yang bertanya. Bagaimana perasaanku waktu itu? Sama-sama tidak menyenangkan. Jawabanku waktu itu? Aku sudah lupa. Ia mulai menangis lagi.)

“Kamu mencintainya?”

“........................................”

“Katakan, apakah kamu mencintainya juga?”

“.... Aku tidak tahu. Lagipula,...”

“Katakan, kamu mencintainya?”

“...........................................”

“Kamu mencintainya?”

“Tidak. Aku tidak mencin...”

“Kamu mencintaiku?”

(Apa lagi ini?. Ia menginginkan sebuah kepastian atau hanya pengakuan saja. Aku memang mencintainya dan anehnya aku masih tidak mau mengakuinya. Sekarang, ia menginginkan jawabanku. Sedang aku sendiri masih belum mau mengatakannya. Aku pikir situasinya tidak akan begini. Perempuan itu terus menatapku. Aku kira dia akan mengancamku sambil menodongkan pisau ke mukaku. Lalu, bermain-main dengannya kearah leherku. Tapi, ia hanya diam saja. Menatapku dalam-dalam seakan tahu semuanya.)

“Kamu mencintaiku?”

“........................................”

“Kamu cinta padaku?”

“Ya, aku...”

“Katakan, kamu mencintaiku?”

“Aku memang mencintaimu.”

(Mendengar jawabanku, ia kembali menangis. Aku coba untuk membantu melepaskan kacamatanya namun ia menolak. Ia menangis. Benar-benar menangis. Aku tidak tahan dengan situasi seperti ini. Aku pikir tidak akan pernah ada perempuan yang menangis hanya gara-gara seorang lelaki sepertiku. Nyatanya, perempuan itu menangis terus dihadapanku. Aku semakin bingung. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk membuatnya berhenti menangis. Aku tatapi dirinya. Entah sudah berapa lama akhirnya ia berhenti juga. Setelah menenangkan dirinya dan membetulkan letak kacamatanya aku coba untuk mengusap air matanya dengan selendang merah yang sengaja ia kenakan. Tetap saja, ia menolaknya. Masih terisak, ia seperti ingin berkata sesuatu.)

“Kamu sama saja dengan teko air.”

“Teko air?”

“Teko air yang isinya berceceran kemana-mana tapi tetap tekonya akan kembali ke dapur.”

(Setelah menyamakan aku dengan Shimamura kini ia membuat perumpamaan lainnya. Seperti yang sudah kau baca, ia menganggapku sama dengan teko air yang isinya boleh berceceran kemana-mana namun tetap kembali ke dapur juga. Aku tidak merasa dihina oleh perlakuannya. Aku rasa itu wajar saja. Lagipula, dalam keadaannya yang seperti itu ia masih punya selera humor.)

“Teko air, aku tidak mengerti.”

“Kamu tidak harus mengerti. Itu bukan untuk dimengerti”

“..............................................”

“Kalau begitu, jangan pergi dariku lagi.”

(Setelahnya, ia pegang kedua tanganku. Kami saling berhadapan. Kepalaku pusing karena terlalu banyak ingatan yang tidak seragam. Memori dan kenangan saling berpacu. Aku, dia, dan dirinya. Aku tatapi juga wajahnya yang masih mengagumkan walau habis menangis. Ia masih menatapku dengan tajam. Seakan memintaku untuk berjanji. Menjelang senja penghabisan, lagu Rida Sita Dewi mengalun dikepalaku, “Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin engkau jauh dari diriku...”)



Paninggilan, 16 April 2010, 17.37

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...