Jumat, 21 Mei 2010

Fragmen Lirik

Hujan turun pada hati yang mengembun
Dingin, basah
Kelak lamunan terus mengalir
Diantara ringkih tawa Nurfitri
dan senyum getir Han Deo Mi
kadang terlintas tatapan nanar Bong Dal Hee

Ingin selalu terbang tinggi
Jauh tinggi
Selalu begitu katamu, selalu
Setelah mendengar Sophia Latjuba*

Lain lagi ketika kudendangkan Koes Plus**
Mulanya, kau ingin menyelamiku lebih dalam
Lebih dalam dari laut, lebih dalam dari perasaan

Seketika kepalamu tengadah
Menantang langit yang berarak kelam

Masih pada lagu Koes Plus
Aku tak ingin terbang seperti elang,
Aku ingin terbang tinggi sejauh lamunan

Flying high to the mountain high***
Selalu begitu katamu, sebelum meninggalkanku
Sejenak kau mampir, bukan karena kiriman angin malam dari Broery
Hanya sekedar berseru
I wasn’t the one who said goodbye****
I wasn’t the one who dissappear in the night


*


Lama setelah aku buat tulisan ini, yang entah puisi atau prosa, hujan masih turun. Semakin deras dan semakin menghadirkan perasaan rawan. Kalau sudah begini, aku jadi ingat ketika kami masih duduk di bangku SD. Berjalan kaki pulang dan pergi. Kadang kalau hujan begitu, daun pisang dari kebun Pak Haji di belakang sekolah selalu jadi peneduh.

Kelak, ia menjadi perempuan yang mencintai hujan. Ia mencintai hujan seperti mencintai dirinya sendiri. Hujan adalah kehidupan baginya. Kehidupan yang hanya ada dalam basah dan mendung yang pekat. Kehidupan dalam setiap butiran kecil yang tak berarti tetapi selalu menjadi pertanda. Kadang ia bertanya, kenapa Tuhan menciptakan hujan dalam bentuk yang seperti itu, rasanya seperti Tuhan sedang meneteskan air lewat tanganNya. Lain waktu, ia juga pernah bertanya, kenapa hujan tidak membawa kerusakan di muka bumi, padahal dengan hitungan laju percepatan dan gravitasi kecepatan butiran hujan seharusnya bisa menyebabkan malapetaka bagi manusia. Itu dulu waktu kami baru masuk SMP dan entah siapa yang mengajarkannya. Yang pasti, itu benar-benar terjadi ketika ia baru belajar Fisika. Aku yang tetap bodoh sampai sekarang tidak pernah sekalipun bisa menjawab pertanyaannya.

Sekali waktu, pernah ia datang ke rumahku sendirian selepas hujan angin yang bercampur es batu. Aku yang masih kedinginan karena membetulkan genting yang bocor terpaksa harus menemuinya. Ia tidak mengajukan pertanyaan seperti biasanya. Dengan matanya yang lentik dan wajah sayu, ia bertanya tentang sebuah lagu. Lagu yang tentunya selalu membuatku terkenang kembali pada masa SD. Aku sedikit heran namun langsung kujawab. Tentu saja, Keinginan yang dinyanyikan oleh duet Indra Lesmana dan Sophia Latjuba.


“Mengapa lagu itu?”

“Karena aku selalu ingat masa-masa dulu dengan lagu itu?”

“Apakah ada yang mengekangmu?”

“Maksudmu?”

“Janganlah berpura-pura padaku.”

“Tidak. Aku hanya ingin terbang tinggi.”




Sepertinya ia sendiri sudah tahu lagu itu. Makanya, setelah percakapan tadi, ia berlalu meninggalkanku dan pamit pada Ibu. Dari jauh aku bisa lihat perempuan yang rambutnya yang tergerai basah itu berjalan menghindari becek dengan kedua tangannya di kepala, mencoba menghalangi hujan. Ingin aku membasuh tangannya lalu menyisir rambutnya dan kubuat ikatan buntut kuda seperti Deo Mi.

**

Sabtu malam aku sendiri, dan memang selalu begitu. Aku mainkan gitar tua yang kudapat dari hasil merengek pada Ibu. Aku merasa harus bisa memainkan gitar seperti anak-anak SMP lainnya. Aku malu pada teman-teman di kelas karena hanya aku saja yang tidak bisa bermain gitar. Makanya, aku merengek sampai mengancam akan bunuh diri bila keinginanku tidak dipenuhi. Entah darimana, sore itu Ibu membawakanku gitar yang kelihatannya sudah tua namun suaranya masih bagus alias tidak fals. Ibu hanya berpesan agar kelak aku bisa memainkan lagu-lagu yang Ibu suka seperti Kisah Sedih di Hari Minggu yang selalu kunyanyikan di loteng setiap malam minggu.

Aku menyanyikan lagu itu sambil mencuri pandang pada loteng tetanggaku yang lain. Ya, aku sedang menarik perhatian seorang gadis anak tetangga yang juga seumuran denganku, A Mei namanya. A Mei sekolah agak jauh di luar kota dan tinggal dengan bibinya. Setiap hari Sabtu, A Mei selalu pulang dan itulah waktuku untuk menikmatinya. Ba’da Isya, aku sudah siap dengan gitarku. Tak lama kemudian, A Mei muncul juga di teras lotengnya sambil membawa lampion merah untuk dipasangkan. Aku mengalihkan pandanganku pada A Mei. Ajaib. A Mei tersenyum kearahku, dan sambil menunduk malu-malu A Mei masuk ke kamarnya. Hatiku yang senang bukan kepalang kembali meradang karena A Mei segera menghilang. Namun, dari kejauhan aku bisa lihat kalau A Mei masih mengintip lewat tirai jendela kamarnya.

Plak! Sebuah benda yang rasanya seperti sandal jepit menghantam pipiku. Aku kaget sekali. Aku teringat lagi pada cerpen di Majalah Hai, Seperti Janjiku Pada Ima, dimana si aku yang sedang melamun di loteng dihantam lemparan sendal jepit temannya. Kejadiannya persis dengan yang terjadi padaku. Aku pikir Ibu atau Kakakku yang memang selalu terganggu dengan acara malam mingguku, tetapi dugaanku salah. Perempuan yang mencintai hujan itu yang melakukannya, melempar sendal jepit bututnya yang penuh dengan tanah merah basah sisa hujan sore tadi. Setahun sudah kami tak pernah bertemu. Keadaan rupanya telah memisahkan kami. Ia diterima di SMA favorit di kota, sedangkan aku hanya masuk SMA biasa di dekat kampung kami. Tak lama ia menyusulku ke loteng.


“Mainkan untukku sebuah lagu?”

“Lagu apa?”

“Lagu cinta atau lagu apa saja yang kau bisa. Bagaimana kalau tentang negeri di awan?”

“Katon, tidak! Terlalu sulit.”

“Ayolah, malam minggu begini jangan lagunya Koes Plus melulu. Sabtu malam ku sendiri...”

“Terserah aku dong!”

“Kecuali kalau kamu memang mengharapkan gadis di seberang itu.”

“Maksudmu A Mei?”

“Siapa lagi? Walaupun laut-laut itu dalam, lebih dalam lagi perasaan. Tidakkah kamu ingat itu?”

“Kok kamu masih ingat?”

“Bukankah Bapakmu yang selalu memintamu memainkan lagu itu dengan gitar bututmu?”

“Darimana kau tahu?”

“Itu bukan urusanmu. Tapi, aku masih ingin terbang tinggi, lebih tinggi dari lamunan.”

“Lalu elangnya?”

“Betapa tinggi elang akan terbang, lebih jauh lagi tinggi lamunan. Masih ada horison yang membatasi jejak langkah sang elang.”


Malam ini hujan tidak turun. Ia merebahkan tubuhnya menghadap gelap malam yang kian pekat. Aku lihat lampion merah di kamar A Mei sudah mati, mungkin A Mei sudah tidur. Perempuan itu menatap ketiadaan dalam horison tanpa batas, jagad tanpa sekat.


“Apakah kau masih mencintai hujan?”

“Aku sudah tidak lagi mencintainya.”

“Apakah hujan membuatmu kecewa karena mengizinkan kemarau terlalu panjang?”

“Tidak. Aku mencintai langit, aku lebih mencintai kebebasan. Flying high to the mountain high....”


Perempuan itu bersenandung dalam warna malam yang pekat. Bong Dal Hee jatuh dalam pelukan dr. Ahn. Deo Mi menangis dalam dekapan Dong Young. SBY rapat dengan kabinetnya bahas pengganti Sri Mulyani. Tapi malam tetaplah malam dengan segala misteri dan keangkuhannya.


“Apakah betul kau mencintai A Mei?”

“Hmm... Aku belum mengenalnya.”

“Cintailah dia semampumu. Kelak kau takkan menyesal”

“Aku belum tahu.”

“Apakah kau mencintaiku?”

“Aku memang mencintaimu sejak dulu, sejak daun-daun pisang itu menutupi rambutmu yang basah. Sejak kau bilang mencintai hujan.”

“Apakah sekarang kau masih mencintaiku?”

“Aku tidak tahu.”

“No Me Ames. Kelak, aku minta kau jangan sekalipun mencintaiku.”

“Kenapa?”

“I wasn’t the one who said goodbye. I wasn’t the one who disappear in the night.”


***

Sampai saat cerita ini ditulis aku belum pernah bertemu dengannya lagi. Ibunya pun tidak pernah mendapat kabar darinya. Hanya saja, sekarang ia sudah lulus sekolah, sama sepertiku. Aku rasa aku tahu dimana dia berada. Perempuan yang pernah melemparku dengan sendal jepit butut itu kini pasti sedang berada dalam pengembaraannya menuju jagad tanpa sekat. Ia pasti sedang terbang tinggi. Sejauh lamunan, itulah yang sedang diinginkannya saat ini. Terbang jauh tinggi, mencapai segala impian yang mampu disodorkan oleh kehidupan. Aku hanya ingin mengirimkan pesan padanya supaya jangan sampai tersesat dan menghilang di kegelapan malam. Mungkin besok, aku kirim surat untuknya.




Paninggilan, 16 Mei 2010. 21.51


*dengan ingatan pada lagu “Keinginan” dipopulerkan oleh Indra Lesmana dan Sophia Latjuba

**dengan ingatan pada lagu “Perasaan” dinyanyikan oleh Koes Plus

***dengan ingatan pada lirik lagu “Better Than Love” dari Sherina, album Sendiri (2007)

****dengan ingatan pada lirik lagu “I Wasn’t the One (Who Said Goodbye)” dinyanyikan oleh Agnetha Faltskog dan Peter Cetera


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Il semble que vous soyez un expert dans ce domaine, vos remarques sont tres interessantes, merci.

- Daniel

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...