Senin, 30 Januari 2012

Melodrama Senja



“Tidak bisakah kita berbahagia dengan apa yang sudah kita miliki saja?”
“........................................”
“Bukankah kita sudah bahagia dengan apa yang sudah kita miliki?”
“Menurutmu?”
“Aku rasa kita sudah. Mencapai kebahagiaan dengan sederhana. Aku mencintaimu. Itu saja.”
“........................................”
“Aku tahu kau mengingkarinya, hanya untuk memberiku waktu untuk pergi.”
“Maksudmu?”
“Tanya hatimu, benar itu yang kau mau?”
“........................................”

Hanya itu saja yang kuingat. Percakapan terakhir dengan perempuan itu saat senja belum tiba. Mendung pun bukan pertanda akan segera turun hujan namun resahnya sengaja mewakili pikiranku. Dalam kegamangan seperti ini, apa yang bisa aku lakukan hanya untuk meyakinkannya bahwa aku pun sama mencintainya. Tak ada yang bisa kulakukan. Dia pergi. Selesai.
*

Pekerjaan yang menumpuk kadang sama seksinya dengan wanita yang paling menggairahkan sekalipun. Setidaknya untukku. Saat ini. Membuatku nafasku semakin memburu untuk segera menuntaskannya satu per satu. Sebelum terlibat dalam pergulatan lainnya.

Aku tidak bersemangat membaca koran hari ini. Isinya hanya seputar catatan akhir tahun redaksi yang selalu meninggalkan wacana. Lagipula, propaganda pemerintah di akhir tahun ini lebih banyak menemui jalan buntu. Korupsi milyaran masih dihukum lima tahun penjara, sengketa komoditas pangan impor, dan segala provokasi atas nama perubahan membuatku muak. Jadi, tidak ada pentingnya sama sekali. Apa peduliku?

Belakangan, aku merasa sangat kelelahan. Aku sudah coba rajin lari pagi setiap weekend. Itu tidak membantu. Minum suplemen, tidak ada efeknya. Hingga suatu saat aku menemukan jawaban atas masalah ini. Aku melarikan diri dari kenyataan. Kadang itu jadi pilihan terbaik, tapi tetap saja tidak menyelesaikan masalah.

Seperti rumus fisika Bab Tekanan. Penampang milikku tidak cukup besar untuk menerima tekanan permukaan yang selalu lebih besar. Sehingga, ada imbalance disana. Masalahnya, aku bukan Airbus yang cukup dengan sekali tekan tombol overhead panel masalah imbalance bisa selesai. Aku hanya manusia dengan segala problematika yang membelenggu.

Aku mulai berpikir untuk berdamai dengan diri sendiri. Entah dalam hal apa. Pokoknya aku merasa harus seperti itu. Seperti biasa, masalah mulai timbul ketika aku mencoba mencari penyebabnya. Aku belum berdamai dengan perasaanku sendiri. Aku tahu, perasaan itu sering menipu. Maka, aku pikir mungkin ini akar dari semua masalah dan tekanan yang sedang mendera.

Aku masih belum mengakuinya. Bahwa aku menyimpan rasa, itu pasti. Bahwa aku terlalu takut untuk mengalami kegagalan, itu jelas. Aku semakin tidak tahu aku berada dimana. Aku serasa berada dalam ketidakpastian dan sangat takut untuk menghadapinya.

Aku tahu, cepat atau lambat aku akan mengatakan hal itu padanya. Bahwa aku sangat menginginkannya kembali. Entah kapan. Yang aku tahu, gerimis telah turun mengiringi senja di kota yang tak pernah mati ini. Segera aku nyalakan media player.

"bila senja telah tiba.... hatiku tambah sengsara..."*)


Paninggilan, 30 Januari 2011


*) dari lirik lagu "Hidup yang Sepi" dinyanyikan oleh Koes Plus.


Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...